Gourmet Meal 249
ps. irrelevant but i was listening to 5 Seconds of Summer – Amnesia while writing this one, x
Jeongguk menutup pintu mobilnya saat menyadari mobil lain terparkir di garasi, dia mengenali mobil itu. Tetapi bersumpah dia tidak memiliki tenaga untuk meladeni mereka karena hari ini dia digempur reservasi intimate private dinner dengan seven course meals yang tidak baik hati sama sekali.
Hal terakhir yang ingin dilakukannya adalah berakting ramah pada orang lain.
Jeongguk mendesah berat, menoleh ke adiknya di dalam Yaris-nya yang mengedikkan bahu. Dia lupa belakangan ini rumahnya ramai karena keluarga Mirah selalu datang untuk mempersiapkan acara mereka; Jeongguk sudah mencicipi setidaknya ratusan contoh menu katering, mencoba ratusan jenis warna kain, dan mengecek sampel puluhan corak kartu undangan yang sebenarnya sama sekali tidak dipedulikannya.
Dia berhasil menolak mentah-mentah keinginan ibunya untuk melaksanakan pra-wedding karena Jeongguk merasa tidak masuk akal melaksanakan pemotretan hanya untuk acara pertunangan. Walaupun ibunya nampak sangat kecewa, dia menerima argumen Jeongguk dan membatalkan semuanya.
Jeongguk sedikit bersyukur ayahnya setuju dengan ide pertunangan alih-alih langsung menikahkan mereka secepatnya; dia bisa menunda pernikahan karena Mirah nampak sedikit terobsesi pada karir sebelum memulai keluarga. Dia akan mengizinkan Mirah melakukan apa pun dalam hidupnya sebelum membuang kebebasan lajangnya untuk membangun keluarga yang sayangnya tidak akan seperti keluarga yang diharapkannya.
Karena Jeongguk akan melakukannya dengan cara yang sangat tradisional seperti almarhum Tukakiang. Dia hanya akan naik ke ranjang istrinya saat ingin bercinta (Jeongguk tidak akan pernah ingin bercinta) dan selebihnya, mereka akan tidur bahkan tinggal di ranjang yang terpisah. Jelas, bukan jenis keluarga yang diimpikan perempuan moderen mana pun.
Jeongguk hanya akan melakukannya sekali; satu kali bercinta sudah cukup untuk membuatnya ketakutan seumur hidup. Ayahnya tidak sekuno itu, dia tidur dengan istrinya—bahagia dalam pernikahan mereka. Namun Jeongguk tidak harus mencontoh ayahnya, 'kan? Dia akan memaksa dirinya naik ke ranjang bersama Mirah sekali lalu sudah. Dia akan tidur di kamar lajangnya dan Mirah bisa menggunakan kamar utama.
Terdengar seperti ide yang luar biasa, itulah yang akan dilakukan Jeongguk.
“Hari ini mencoba apa lagi?” Tanya Yugyeom seraya membanting pintu lalu bergegas menyusul kakaknya yang beranjak ke dalam terbalut celana jins longgar dan kaus polos setelah bekerja. “Udeng seragam?”
Sejak diantar-jemput Yugyeom, Jeongguk selalu mandi sebelum pulang sehingga dia bisa langsung menjatuhkan diri ke ranjang dan tidur saat tiba di rumah. Dia sungguh harus mulai mengemudi sendiri karena ayahnya sudah terus-menerus menyindirnya tentang ini.
Namun dia juga tidak ingin mengambil risiko kehilangan fokus di jalan apalagi melalui jalanan Sang Hyang Ambu yang mengerikan, berkelok mengikuti bentuk bukit. Dan Yugyeom yang tinggal menunggu yudisium dan wisuda sama sekali tidak keberatan, apalagi jika selalu diberi uang jajan untuk jalan-jalan tiap menunggu kakaknya pulang bekerja.
Jeongguk memasuki halaman Puri yang asri dengan palem-palem raksasa tinggi yang membentuk pagar di sekitar tembok Puri yang pudar, dedaunan melambai oleh angin senjakala yang dingin. Koleksi bonsai ayah dan Tukakiang berjejer di halaman tengah, semuanya terawat dan sehat. Jika ayahnya tidak sedang menyebalkan, dia akan merawat tanaman itu—menggunting dedaunannya dan membentuknya dengan kawat.
Rumput halaman selalu dijaga rapi dan bersih setiap hari oleh satu tukang kebun yang sudah menjadi bagian mereka sejak Jeongguk masih kanak-kanak. Menjaganya tetap seragam dan empuk sehingga terkadang jika anak-anak dari sepupunya datang mereka sering bermain di sana seharian karena bersih dan nyaman.
Sekarang di teras rumah yang mulai redup oleh senja, ada ibu Mirah dan ibunya dengan setumpuk katalog kain. Mereka sedang mengobrol dan tertawa, bertukar senyuman dan membicarakan hal-hal yang sama sekali tidak dipahami Jeongguk. Mereka akan bertunangan, bukan menikah. Jeongguk ngeri saat membayangkan akan seheboh apa Puri ini jika dia menikah nanti.
Apa lagi ini, pikir Jeongguk nelangsa. Mereka hanya akan bertukar cincin, berpesta sedikit lalu pulang. Namun kedua keluarga mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk menggelar pesta megah yang sama sekali tidak perlu.
Tapi melihat betapa semangatnya Mirah mengerjakan semuanya, Jeongguk memilih diam. Setidaknya gadis itu senang dalam proses persiapannya, maka Jeongguk memutuskan untuk tidak merusak hari bahagia gadis itu.
Besok Sabtu mereka akan mengambil cincin pertunangan mereka di Denpasar bersama Yugyeom sebagai supir pribadi. Walaupun Jeongguk sempat menolaknya karena ayah mereka benar-benar jengkel dengan kebiasaan ini sekarang; mengatakan sesuatu tentang Jeongguk bersikap lembek dan manja serta berdaya juang kecil—tidak mau bangkit dari kesedihan.
“Aku akan menemani Wiktu.” Begitu kata adiknya saat mereka duduk di kamar Yugyeom, menikmati semangkuk mie berdua seperti biasa, menggeleng pada Jeongguk yang berpikir dia akan mulai mengemudi sendiri besok. “Ini pilihan bunuh diri Wiktu yang aku tidak paham sama sekali motifnya, maka aku akan menemani Wiktu.”
Jeongguk menghela napas dalam-dalam sebelum melangkah memasuki rumah, ke arah halaman depan. Kamarnya nampak dari rumah utama, tidak ada cara untuk mencapai kamarnya tanpa melewati teras rumah utama. Maka dia tersenyum lebar pada keduanya saat mereka menoleh, menyadari Jeongguk pulang dan adiknya bergegas kabur dari sana.
Seandainya dia juga bisa kabur seperti adiknya.
“Gung,” panggil ibunya, mendongak dari katalog mereka dan tersenyum padanya.
Jeongguk memukul mundur kelelahan dan rasa jengkelnya sebelum memasang wajah ceria, “Biang, Biang Gung.” Dia beranjak ke teras rumah utama lalu menyalami ibu Mirah yang menatapnya sayang—tatapan bangga karena memiliki seorang menantu dari Puri besar Karangasem dan memiliki pekerjaan mapan.
“Sudah lama, ya?” Tanyanya basa-basi ke ibu Mirah.
Anaknya akan aman bersama Jeongguk walaupun dia tidak menyukai perempuan, dia menghormati Mirah sebagai perempuan dan dia tidak akan melakukan apa pun yang akan menyakiti gadis itu. Mereka bisa memiliki pernikahan praktis kuno seperti Tukakiang, Jeongguk yakin. Dia akan melimpahi Mirah dengan uang untuk digunakannya membahagiakan dirinya sendiri; tidak akan ada masalah.
“Baru pulang, ya?” Tanya ibu Mirah, tersenyum senang dan menatapnya kagum. Tidak pernah berhenti memuji betapa tampannya Jeongguk sejak pertama kali bertemu dan betapa beruntungnya mereka mendapatkan menantu seperti Jeongguk. “Besok Sabtu jadi ke Denpasar dengan Ogek?”
Jeongguk mengangguk. “Mengambil cincin. Jadi.” Sahutnya tersenyum—mengulaskan senyuman terbaiknya pada keduanya.
Lalu tetap memasang senyuman itu sementara kedua ibu di hadapannya mendesah, membicarakan betapa mengurus pernikahan sangat melelahkan namun juga menyenangkan. Ibu Mirah merangkul Jeongguk yang duduk di undakan teras—menepuk bahunya hangat dan bangga, mengatakan sesuatu tentang anaknya mendapatkan jodoh yang luar biasa.
Dia tetap tersenyum, sesekali tertawa parau mendengarkan keduanya sementara adiknya yang baru selesai mandi menatapnya dari kamarnya beberapa meter dari rumah utama. Melemparkan tatapan simpati yang membuat Jeongguk menggeleng singkat—dia memilih ini, maka dia akan bertanggung jawab atas pilihan ini.
Setelah dilepaskan untuk beristirahat, Jeongguk melangkah ke kamarnya. Menutup pintu kamarnya lalu menyandarkan punggungnya ke pintu yang tertutup lalu menghembuskan napas perlahan—berusaha melepaskan ketegangan yang mengunci bahu dan tengkuknya. Dia tidak tahu lagi bagaimana perasaannya sekarang dengan semuanya sudah dipersiapkan dengan baik.
Jeongguk tahu dia tidak bisa bersikap begini kepada Mirah, dia menyakiti gadis itu karena menerima semuanya padahal hatinya tidak siap. Namun gadis itu sangat baik, penuh hormat dan sopan padanya. Maka Jeongguk berharap jika dia terus berusaha memalsukan perasaannya, suatu hari nanti dia mungkin akan benar-benar jatuh cinta padanya.
Dia menatap kedua tangannya yang dihiasi luka bakar karena tadi bekerja dan tidak cukup hati-hati saat plating sehingga dia menyentuh wajan panas yang digunakan commis-nya tidak hanya sekali. Luka itu terasa panas dan berdenyut sekarang namun dia mengabaikannya karena sakit di hatinya jauh lebih ganas.
Sekarang, Taehyung sudah tidak terlalu menghantui tidurnya—dia mulai menerima bahwa mereka tidak akan pernah bersama. Jeongguk mulai bisa tidur nyenyak—dibantu dengan obat dan terkadang jamu tidak enak ibunya yang nyatanya bisa membuatnya lelap. Yugyeom membelikannya difuser beberapa hari lalu, membelikannya aroma lavender yang membuatnya rileks sebelum tidur.
Semua orang berusaha menyembuhkannya maka Jeongguk membalas mereka dengan berusaha menyembuhkan diri tidak peduli seberapa mustahilnya itu terasa sekarang.
Mungkin memang sejak awal dia dan Taehyung hanya akan melewati hari-hari penuh kegilaan dengan bercinta seperti orang sinting sebelum benar-benar kembali ke kenyataan bahwa mereka berdua adalah pewaris Puri dan harus melaksanakan kewajiban mereka. Jeongguk akan mengenang hari-hari itu sebagai harta dalam hidupnya; bahwa dia pernah berbahagia dalam hidupnya.
Bagaimana pun kedepannya nanti.
Pertunangan mereka akan dilaksanakan di Taman Soekasada Ujung, salah satu warisan Puri mereka. Seharusnya di Puri Mirah, tetapi karena ayah Mirah memutuskan tinggal mandiri setelah menikah, mereka memindahkan acara ke Puri Jeongguk. Jeongguk tidak terlalu bersemangat tentang ini namun seluruh keluarganya serta masyarakat sekitar menantikan acara itu. Maka sebagai pewaris yang baik, Jeongguk diam dan menerimanya.
Semuanya senang, Jeongguk menyadari. Semua orang di Puri, bahkan lingkungan mereka menyambut hari itu dengan semangat. Semua orang nampak bahagia dan antisipatif tentang acara itu. Dan Jeongguk tetap tidak menemukan setitik pun bahagia di dalam hatinya yang meradang.
Dia menyentuh dadanya, meyakinkan dirinya sendiri bahwa jantungnya masih berdetak di dalam sana karena dia merasa hampa dan kosong. Seperti jantungnya tidak lagi berada di sana, mati dan berhenti berdetak sejak lama.
Ada lubang raksasa di sana, lubang yang berdenyut oleh rasa sakit dan kehilangan. Dia merindukan Taehyung—seluruh dirinya merindukan Taehyung namun tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang karena Taehyung sudah mengusirnya. Memintanya melanjutkan kehidupannya sebelum Taehyung datang seolah Jeongguk sungguh mengingat bagaimana rasanya hidup sebelum Taehyung.
Dia berharap, Taehyung sekarang berbahagia dengan pilihannya. Berbahagia karena tidak ada lagi Jeongguk yang membebaninya dengan perasaan cinta yang mungkin bagi semua orang dan bagi dirinya sendiri 'tidak normal'.
Jeongguk senang, setidaknya Taehyung sekarang tidak harus memilih antara dirinya atau keluarganya.
Menikahi Devy berarti Taehyung tidak akan membuang siapa pun, tidak memilih siapa dari siapa pun—semua orang senang karena itulah yang harus mereka lakukan. Jeongguk merosot di posisinya, duduk di balik pintu dan membekap wajahnya sendiri saat dia menghela napas dan meledak dalam tangis tanpa suara.
Rasa bersalah yang bercokol di hati tidak lagi dipahaminya; untuk siapa perasaan itu? Taehyung, karena dia memaksa pemuda itu memilih dirinya atau keluarganya saat dia tahu Taehyung jelas akan memilih keluarganya? Keluarganya sendiri, karena memaksa Jeongguk menikahi perempuan terbaik sesuai standar mereka dan Jeongguk tidak bisa melakukannya?
Atau Mirah, karena Jeongguk 'menjebaknya' dalam pernikahan ini—terjun ke dalam pernikahan dengan Mirah yang sangat mencintainya, sangat menghormatinya, sangat sopan padanya, segala hal terbaik yang mungkin dimiliki seorang perempuan?
Atau dirinya sendiri, karena jatuh cinta pada satu-satunya orang yang tidak bisa dimilikinya dan karena melakukan misi bunuh diri dengan menikahi Mirah?
Lantas, untuk siapa rasa bersalah ini? Jeongguk tidak lagi paham.
Dia tidak paham lagi kehidupannya hingga di titik ini karena dia hanya mengikuti alurnya; apa saja yang diinginkan keluarganya, apa saja yang diinginkan keluarga Mirah, apa saja yang diinginkan Mirah sendiri. Jeongguk akan melakukannya karena sungguh, kehilangan Taehyung telah mencabut semua keinginannya dalam hidup.
Dia tidak lagi memiliki hasrat dan bahkan kehidupan.
“Mari kita akhiri.”
Jeongguk menghela napas, tersengal karena berusaha menahan dirinya sendiri agar tidak terisak. Dia begitu kosong, hampa. Menyakitkan sekali perasaan kosong yang tidak bisa disembuhkan ini. Dia bekerja tanpa hasrat—di dapur yang menjadi satu-satunya tempat untuk melarikan diri dari ayahnya pun sudah tidak lagi terasa semenyenangkan dulu. Dia tidak lagi hidup dalam kehidupannya—dia seperti cangkang kosong yang terombang-ambing ombak lautan tidak yakin ke mana dirinya akan berlabuh.
Dia hanya diam, mengikuti semua orang yang memaksanya bergerak.
Mungkin nanti dia akan menemukan bahagianya sendiri, suatu hari nanti dan bukan tentang Taehyung. Mungkin orang lain, mungkin bukan Taehyung sama sekali.
Jeongguk menghela napas, menelan isakannya dan rasa kosong yang menghantuinya beberapa hari belakangan ini. Memaksa dirinya kembali kuat dan tenang karena dia memiliki hidup yang harus dijalaninya. Dia harus bangkit, mencuci wajahnya dan mungkin mencari sesuatu untuk dimakan; dijejalkan ke tubuhnya agar tidak berisik dan membuatnya kembali masuk UGD.
Dia menarik dirinya bangun, hendak melangkah ke kamar mandi untuk membereskan diri saat pintu di belakangnya diketuk.
“Wiktu?”
Yugyeom.
Dia terkesiap kecil, bergegas mengusap air matanya sebelum membuka pintu, membiarkan Yugyeom memasuki ruangan sementara dia beranjak untuk mengganti bajunya. Dia membelakangi adiknya, tidak ingin Yugyeom menyadari air mata di wajahnya saat dia berdeham—berusaha menormalkan suaranya.
“Kita mau makan apa hari ini?” Tanyanya parau saat menarik sudut pakaiannya, melepaskan kaus dari tas kepalanya hendak menggantinya dengan pakaian rumah yang lebih ringan dan sejuk. “Wiktu lapar dan sepertinya bukan mie instan jika kita tidak mau berakhir di UGD lagi.”
Yugyeom menutup pintu sebelum mendesah, “Wiktu akan mengundang dia?” Tanyanya kemudian, tiba-tiba hingga Jeongguk berhenti—dia berdiri di depan pintu kamar mandi kamarnya, bertelanjang dada dengan celana jins menggantung rendah di pinggulnya.
Punggungnya terasa seperti baru saja disiram dengan air dingin. Sudah berapa lama dia memikirkan Taehyung—faktanya dia selalu memikirkan Taehyung setiap saat kapan saja kepalanya mendadak kosong dan butuh sesuatu untuk dipikirkan. Namun mendengar seseorang mengatakannya dengan suara normal memberikan tikaman baru ke hatinya—menggosokkan garam ke lukanya yang berdarah.
Jeongguk mengencangkan otot perutnya saat luka itu berdenyut. Tidak menyangka hatinya akan bereaksi sehebat ini saat seseorang menyebutkan Taehyung—bahkan tidak menyebutkan namanya. Namun hanya mendengar kata ganti yang mereka gunakan dan konteks yang mengikuti kata itu sudah cukup untuk menonjok Jeongguk.
Keras, tepat di ulu hatinya.
“Tentu.” Katanya kering, berdeham dan meraih kaus tidurnya semalam dan mengenakannya melewati kepalanya. “Dia layak datang, 'kan. Ini yang diinginkannya. Kami bahagia masing-masing,”
“Wiktu.” Desah Yugyeom, duduk di ranjangnya yang berderit. “Kenapa masih melakukan ini ketika Wiktu tidak menginginkannya sama sekali?”
Jeongguk menggertakkan giginya, menatap pakaian bekerjanya yang berada di tangannya. “Siapa yang bilang aku tidak menginginkannya sama sekali?” Sahutnya, tidak mengenali suaranya sendiri saat mengatakannya.
“Wiktu.” Ulang Yugyeom, kali ini dengan nada memperingati yang membuat Jeongguk memejamkan matanya—berusaha menahan nyeri dan pedih yang menyeruak di dadanya.
Seperti air yang merebak di atas kain, menyebar perlahan. Membakar hatinya, lalu jantungnya, lalu paru-parunya—membuat tiap tarikan napasnya terasa perih dan panas. Jeongguk sempat berpikir semakin lama dia merasakan sakit ini, dia pasti semakin fasih mengatasinya; namun tidak ada yang mempersiapkannya untuk rasa sakit ini. Datangnya begitu tiba-tiba, seperti sebuah pukulan yang langsung mengenai ulu hatinya, memutus jalur napas dan detak jantungnya.
Dia merindukan Taehyung, mencintai Taehyung hingga seluruh tubuhnya nyeri.
“Lalu,” katanya sengau, tercekat. “Apa lagi yang bisa kulakukan sekarang? Dia tidak menginginkanku lagi dan hanya dia yang kuinginkan di dunia ini. Dan Ajung memaksa Wiktu menikah. Pilihan apa yang kumiliki?”
Di luar dugaan, Yugyeom bangkit dan merengkuh kakaknya ke dalam pelukannya—di mana Jeongguk meleleh, menangis di bahu adiknya yang mengeratkan pelukannya, berusaha menjaga kakaknya yang rapuh agar tetap utuh. Tidak terhitung malam yang dihabiskan Jeongguk untuk menangis bersama adiknya—tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak menyerah pada perasaan sakit yang berkecamuk di hatinya. Merasa bersalah karena tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk adiknya karena dia remuk hanya karena patah hati.
Yugyeom seharusnya melihat sosok yang lebih kuat, sosok yang bisa menjadi panutannya dalam hidup. Namun Jeongguk sudah kehilangan begitu banyak hal dalam hidup, dan kehilangan Taehyung begitu hebatnya hingga dia tidak lagi memikirkan apa pun saat meradang menangisinya.
“Tidak apa-apa.” Bisik adiknya lembut. Menepuk bahunya hangat dan tertawa lirih sementara Jeongguk berusaha keras menahan emosinya agar tidak meledak dalam tangis kacau yang memalukan.
“Bersama Ogik, silakan menangis. Habiskan saja tidak apa-apa. Wiktu berhak menangis walaupun Wiktu lelaki; emosi bukan hal eksklusif milik perempuan—semua orang yang memiliki emosi berhak merasakannya, terlepas dari jenis kelamin mereka.”
Hidup mungkin tidak pernah sederhana; ada banyak cabang dan pilihan yang harus dilakukan. Pengorbanan. Keikhlasan. Perasaan tertolak. Jeongguk merasakan segalanya; perasaan tertolak, lalu mencoba merelakan Taehyung yang sudah tidak membutuhkannya sebelum melompat ke api demi keluarganya.
Menikahi gadis yang tidak diinginkannya dengan potensi hidup dalam kepalsuan selamanya. Berharap suatu hari nanti, dia terbangun dengan perasaan biasa saja tentang Taehyung.
Atau bahkan melupakannya sama sekali.
*