Gourmet Meal 313
tw // toxic masculinity , favoritism , insulting .
cw // humping , bottom on top , hand-job .
Taehyung melepas helmnya setelah memarkir motornya di garasi rumah Jeongguk dan menoleh ke pintu garasi yang mengarah ke halaman Puri Jeongguk, menemukan kekasihnya berdiri di sana dalam balutan kaus longgar dan celana pendek yang menarik. Dia tersenyum, menurunkan buff yang digunakannya berkendara lalu meletakkan helmnya di atas tangki motornya.
“Hai.” Sapanya pelan dan Jeongguk tersenyum, nampak senang melihatnya akhirnya tiba.
Taehyung berhasil kabur dari Devy yang mendadak harus ke Sanglah mengurus berkas koasnya sehingga dia akhirnya meminta gadis itu untuk bohong ke ayahnya bahwa mereka keluar dan Devy setuju. Maka Taehyung langsung menyambar ponselnya, memberi tahu Jeongguk dia akan berangkat ke Karangasem, bertemu dengannya dan adiknya. Taehyung turun dari motornya, melepaskan jaketnya sebelum melangkah ke arah Jeongguk setelah mencabut kunci motornya. Dia ingin sekali memeluknya, namun mereka berada di ruang terbuka maka dia terpaksa mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya—menahan dirinya.
Ajaib bagaimana berbaikan dengan Jeongguk serta menerima perasaan yang mati-matian coba Taehyung tolak belakangan ini membuatnya merasa jauh lebih bugar dan segar belakangan ini. Seolah dia bisa memindahkan gunung dengan tenaga yang membuncah di pembuluh darahnya sekarang—dia benar-benar senang dan dia belum pernah merasakan bahagia ini. Dia bisa menyelesaikan fine dining 150 pax sendirian sekarang—dia yakin dengan adrenalin dan tenaga sebanyak ini, dia mampu.
Hatinya penuh, merekah indah seperti sekuntum mawar gendut yang cantik. Tiap kelopaknya basah oleh keceriaan, kebahagiaan murni berdenyut di putiknya. Dia merasa utuh, penuh, dan sempurna—walaupun setitik bagian di belakang kepalanya dicengkeram rasa takut secara konstan, Taehyung memutuskan untuk menikmati saja saat ini dan memikirkan semuanya nanti.
Sebagai bonus dari hubungannya dengan Jeongguk, dia juga mendapatkan adik lelaki yang selama ini diinginkannya. Yugyeom anak yang manis, dia mirip sekali dengan Jeongguk di beberapa bagian termasuk suara tawa dan senyuman lebarnya. Taehyung yang selama ini menjadi lelaki sendirian, menerima semua gemblengan tidak sehat itu merasa sangat beruntung bisa menganggap Yugyeom sebagai adiknya—tidak bosan menghujaninya dengan kasih sayang hingga Jeongguk seringkali memutar bola matanya geli tiap Taehyung menitipkan makanan di Security Amankila untuk Yugyeom.
“Macet?” Tanya Jeongguk, berdiri di pintu dengan tubuhnya yang tinggi menutupi nyaris seluruh pintu dan tangannya menyentuh jemari Taehyung—dia nyaris tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencium Jeongguk sekarang.
Aroma keringat Jeongguk begitu khas dan pekat hingga Taehyung nyaris mabuk—dia merindukan lelaki ini bahkan ketika dia berada di hadapan Taehyung. Dia baru pertama kali merasakan perasaan ini, perasaan membutuhkan yang sangat kuat hingga dia kewalahan. Jeongguk-nya yang lembut, pengertian, penyayang, sabar, dan sangat baik—nyaris terlalu sempurna untuk Taehyung.
“Tidak.” Sahutnya, tersenyum. “Dan kau luar biasa.”
Jeongguk tersenyum. “Kau ingin kucium, ya?” Balasnya berbisik dan suaranya nyaris membuat akal sehat Taehyung terjungkal. Bisakah mereka langsung ke kamar sehingga Taehyung bisa mengangkangi perutnya dan menciumnya rakus? Sudah seminggu mereka tidak saling menyentuh, satu hari lagi dan Taehyung bisa gila karenanya.
“Tolong.” Balas Taehyung, menantang dan Jeongguk tersenyum lebar—menggertakkan giginya gemas.
“Ayo masuk, sudah ditunggu Ajung.” Katanya, sejenak mengulurkan tangan dan menyusupkan jemarinya ke rambut di tengkuk Taehyung—menggaruknya sayang sekali sebelum menurunkan tangan dan menyelipkannya ke saku celana, agar tidak meraih Taehyung.
“Bagaimana makan malam kemarin dengan keluarga Mirah?” Tanya Taehyung saat Jeongguk menutup pintu ke arah garasi.
“Biasa.” Jeongguk mengedikkan bahu seolah hal itu sama sekali tidak penting. “Hanya obrolan tentang acara perjodohan, seragam, cincin dan segala tetek-bengeknya. Aku hanya tersenyum dan mengangguk sepanjang acara—bosan setengah mati.”
Taehyung terkekeh. “Setidaknya bersikaplah yang sopan pada calon mertuamu.”
Jeongguk melemparkan tatapan jengkel pada Taehyung yang tersenyum lebar—menggoda kekasihnya yang dia tahu tidak akan pernah marah pada Taehyung, tidak peduli apa pun yang dilakukannya. Dia beruntung memiliki Jeongguk yang begitu sabar menghadapi tingkah dan emosinya yang tidak karuan.
Mereka melangkah memasuki Puri yang asri beraroma kamboja yang sedang mekar dengan cantik. Burung-burung peliharaan almarhum kakek Jeongguk bernyanyi dari kandang-kandang mereka yang sedang dijemur, berisik sekali namun suaranya menenangkan. Puri Jeongguk lebih luas dari Puri-nya sendiri; ada banyak sekali pohon-pohon kamboja tua raksasa di halamannya yang rapi. Mereka punya pagar dari palem-palem raksasa yang tinggi menjulang, berdesir saat tertiup angin.
Tempat itu terasa sejuk, ramah, dan menyenangkan. Pintu menuju gerbang depan terkunci—jarang digunakan karena mereka memiliki pintu samping yang jauh lebih dekat ke rumah utama di sebelah garasi. Kamar Jeongguk berada di sisi Barat, terdekat dengan pintu samping karena dia sering pulang malam dan mempermudah Taehyung menyelundupkan diri ke kamarnya. Terbesar juga karena dibanding kamar Yugyeom, kamar Jeongguk terasa lebih lapang.
Mereka memasuki halaman utama Puri, melewati sebatang kamboja putih yang berbunga lebat. Beberapa kuntum bunganya yang rontok berserakan di bawah batangnya, Taehyung sengaja menendang beberapa dan Jeongguk mengerutkan alis geli padanya. Taehyung tersenyum—merasa amat bahagia hingga dia kebingungan. Emosi positif yang membuncah tiap kali melihat Jeongguk, merasakan dan mencium aromanya di sekitarnya.
Dia lalu melihat Yugyeom di seberang halaman, menjemur handuk di depan kamarnya. Anak itu mendongak, rambutnya basah setelah mandi dan langsung berseri-seri saat Taehyung melambai padanya.
“Wigung!” Serunya ceria, seperti anjing kecil yang menyalak ceria. Dia menggemaskan sekali, persis kakaknya ketika merajuk menginginkan sesuatu dari Taehyung.
Taehyung tertawa, “Hai.” Sapanya tersenyum lalu mengangkat kantung plastik di tangannya, yang langsung membuat Yugyeom tersenyum semakin lebar. Lakshmi membungkuskan makanan dan berlari mengejar Taehyung persis sebelum dia berangkat ke Karangasem tadi.
“Untuk Turah,” katanya terengah, menjejalkan bungkusan itu ke tangan Taehyung—nampak sangat senang karena adiknya berbahagia. Maka Taehyung membawanya untuk Jeongguk dan Yugyeom.
“Sebentar!” Seru Yugyeom kemudian, melompat dan bergegas memasuki kamarnya untuk berganti baju.
Jeongguk mengamati plastik itu lalu mendesah, meraihnya dari tangan Taehyung; merasakan bobotnya yang lumayan berat dan aroma legit yang menguar dari celahnya. “Kau memanjakannya.” Bisiknya dan Taehyung tertawa kecil.
“Tidak apa-apa. Aku suka memanjakan kalian berdua.” Dia mengedikkan bahu lalu membuka mulut hendak bicara saat seseorang menyela mereka dari rumah pertama.
“Oh, Tjok. Swastyastu.”
Keduanya menoleh, menemukan ayah Jeongguk bergegas menuruni tangga dengan senyuman cerah di bibirnya. Dia menghampiri Taehyung yang seketika membungkuk ramah, tersenyum mengulurkan tangan untuk menyalami ayah Jeongguk yang menepuk bahunya hangat. Dia menatap Taehyung yang lebih tinggi darinya, nampak sangat bangga—pandangan yang seharusnya diberikan ayah Taehyung untuknya, bukan ayah Jeongguk.
“Swastyastu, Jikgung.” Sahut Taehyung ramah, mengangguk sopan dan tersenyum.
Dia menahan diri agar tidak melirik kekasihnya saat ayah Jeongguk meremas bahunya setelah mengguncang tangannya. “Sudah makan?” Tanyanya senang. “Ayo, makan dulu. Sudah ditunggu Ogik dari tadi, katanya akan datang jadi Ajung minta Biang memasakkan sesuatu untuk makan siang.”
Taehyung tersenyum sopan, terbiasa menghadapi basa-basi semacam ini. Sebagian hatinya berharap, jika saja ayahnya bisa bersikap sehangat ini padanya; apakah dia akan tumbuh menjadi lelaki yang sedikit lebih hangat seperti Jeongguk? Bagaimana rasanya jika ayahnya menatapnya bangga hanya karena Taehyung bernapas? Melakukan hal yang sama sekali sederhana seperti yang dilakukan ayah Jeongguk?
Jika dia mau egois, dia bisa saja memonopoli perasaan dari ayah Jeongguk—menyembuhkan lukanya sendiri yang dipahat oleh ayah kandungnya. Namun dia tidak bisa melakukannya, tidak saat dia melihat sakit yang berkilau di mata Jeongguk—sekilas sebelum dia bergegas menyembunyikannya. Tidak peduli apa pun yang dikatakan Jeongguk tentang 'tidak masalah' pada sikap ayahnya, Taehyung yakin di dalam sana dia pasti tersinggung walau berusaha keras bersikap biasa saja.
“Nggih, Jikgung. Nanti saya makan, sekarang belum dulu. Sudah sarapan tadi.” Dia mengangguk dan ayah Jeongguk nampak sangat puas seolah Taehyung baru saja menemukan cara untuk menyembuhkan kanker. Atau mendamaikan Korea Selatan dan Korea Utara.
Dia nampak sangat bangga pada Taehyung hingga batas yang tidak wajar. Taehyung suka—dia sangat menyukai pandangan hangat dan pujian-pujian itu, nyaris menikmatinya karena dia tidak pernah mendapatkan hal yang sama dari ayahnya—sama sekali. Namun jika teringat bahwa Jeongguk tidak mendapatkan itu dari ayahnya, hatinya merasa diremas-remas.
“Ditulari, ya, Gung Wah-nya.” Kata ayahnya, tersenyum lebar pada Taehyung—menepuk bahunya beberapa kali. “Dia itu cengeng sekali, sakit-sakitan. Susah.” Dia melirik anak sulungnya di belakang Taehyung dengan pandangan mencela yang membuat Taehyung menahan napas. Tidak berani melirik kekasihnya yang menegang di sisinya.
Ayah Jeongguk kembali menatapnya dan ekspresinya berubah seratus delapan puluh derajat—dia tersenyum ramah, kebapakan. Hangat sekali. “Semoga berteman dengan Tjok dia bisa jadi lebih jantan.”
Taehyung tersenyum pedih, menggertakkan giginya—berusaha menahan sakit hati di hatinya mendengarkan ini. Sejahat apa pun ayahnya, dia jarang melakukan ini di depan seseorang—dia biasanya memanggil Taehyung ke kamarnya lalu mengata-ngatainya sebebas maunya. Taehyung tidak masalah, dia sudah biasa. Namun mendengar Jeongguk disindir di depan orang yang bisa dibilang sangat asing di rumahnya—Taehyung baru bertemu ayahnya dua kali, adalah hal yang luar biasa meresahkan.
Belum lagi fakta bahwa Jeongguk sering diperlakukan begitu. Taehyung tidak ingin membayangkan berapa kali dia dibandingkan dengan lelaki lain hanya karena dia memiliki hati yang lebih besar dari sebagian besar orang untuk bersimpati dan bersikap lembut. Karena dia memiliki emosi yang lebih kuat dari orang lain, empati yang hebat.
Jeongguk-lah yang mengajari Taehyung caranya menjadi 'manusia' belakangan ini. Mengajari Taehyung tentang hati dan emosinya sendiri, membimbing Taehyung mengenali tiap naik-turun emosinya karena dia sangat peka dengan itu. Menurut Taehyung, itu bukanlah kekurangan—itu malah kelebihan Jeongguk, kelebihan yang tidak semua orang miliki. Hati Jeongguk begitu lembut dan kuat, dia hebat dengan kelebihan ini—mencintai dengan sangat luar biasa.
“Jika kau marah, hitung hingga sepuluh. Jika kau sangat marah, hitung hingga seratus.”
Jika saja dia tumbuh di lingkungan yang tidak menjunjung tinggi toxic masculinity di atas identitas patriarkinya.
“Ya, siap, Jikgung.” Sahut Taehyung, apa saja agar dia segera pergi dari sana dan tidak mengganggu Jeongguk lagi.
Syukurlah kemudian Yugyeom datang.
Dia berlari keluar dari kamarnya, nampak bersemangat dan ayah Jeongguk melihatnya. Dia mengulurkan tangan, mengusap kepala Yugyeom—gestur yang sama sekali tidak pernah dilakukannya pada Jeongguk. Dan Taehyung yakin itu bukan karena Jeongguk jauh lebih tinggi darinya. Taehyung ingin meraih Jeongguk, memeluk dan menenangkannya sekarang karena menyaksikan ini. Hal yang membuat hatinya sendiri pedih, apalagi Jeongguk yang jelas merupakan kakak kandung Yugyeom.
Ayah Jeongguk bersikap pilih kasih dan dia sama sekali tidak berusaha menyembunyikannya.
“Ya, sudah.” Katanya tersenyum pada Taehyung dan Yugyeom. “Selamat bermain, jangan lupa makan siang.” Dia menurunkan tangannya dari bahu Yugyeom—Taehyung berani bertaruh dia berharap Taehyung-lah anak sulungnya alih-alih Jeongguk.
Sebelum dia mengatakan apa pun lagi, Taehyung bergegas menggiring kedua saudara itu menjauh dari sana. Jika dia mendengar ayah Jeongguk mengatakan hal kurang ajar pada anaknya sekali lagi, maka dia mungkin akan benar-benar menonjoknya tidak peduli seberapa senangnya dia pada perlakuan hangat yang tidak diterimanya dari ayah kandungnya sendiri.
Begitu pintu kamar ditutup sedikit, Taehyung langsung menatap Jeongguk yang balas menatapnya, menggigiti bibir bawahnya kalem—alisnya naik sebelah. “Apa?” Tanyanya pada Taehyung, tersenyum lembut.
Taehyung menatapnya, mendesah sebelum meraihnya ke dalam pelukannya, menghirup aroma tubuh Jeongguk dalam-dalam. “Aku benci sekali mendengar ayahmu melakukan itu.” Gumamnya menumpukan dagunya di bahu Jeongguk sementara Yugyeom berdiri di dekat mereka.
Jeongguk terkekeh parau, memeluk Taehyung lalu mengusap punggungnya sayang. “Sudah biasa.” Sahutnya getir dan hati Taehyung terasa diremas-remas mendengarnya. “Tenang saja, aku sudah kebal.” Dia menepuk Taehyung hangat lalu mengecup pelipisnya.
Yugyeom mengerang sebelum bergabung dengan pelukan mereka—memeluk kakaknya yang terkekeh kaget. “Kenapa, sih, kalian ini?” Tanyanya menepuk keduanya sayang. “Cupcup,” kekehnya memeluk adik dan kekasihnya yang melingkarkan kedua lengannya di tubuh Jeongguk.
“Tidak apa-apa,” Jeongguk menumpukan kepalanya di kepala Taehyung. “Ajung, 'kan, memang begitu. Diiyakan saja.” Dia tersenyum saat keduanya mendongak menatap Jeongguk yang geli.
“Sudah, sudah pelukan Teletubbies-nya. Sana temani Ogik bermain game, dia sudah merengek sejak pagi.” Dia kemudian melepaskan Taehyung dan Yugyeom yang nampak cemas, memasang senyuman lebar terbaiknya.
“Itu biasa kok.” Dia mengusap rambut Taehyung sayang. “Tidak masalah.”
Taehyung menatap Jeongguk, mencoba mencari tahu apa yang dirasakan Jeongguk di bawah senyuman itu namun gagal. Dia menghela napas, “Baiklah.” Katanya sebelum menoleh ke Yugyeom. “Ayo, Boy, kita mainkan.”
“Wiktu pernah dikatai lebih kasar dari itu,” gumam Yugyeom beberapa saat kemudian saat Jeongguk keluar untuk membuatkan dia minum dan mengambilkan piring untuk makanan yang dibawa Taehyung—nangka goreng buatan Lakshmi yang beraroma legit dan menggugah.
Taehyung memalingkan wajah sejenak dari layar televisi yang disambungkan ke PlayStation milik keduanya ke Yugyeom yang wajahnya seperti dipilin karena sakit hati. Mungkin karena resah pada perlakukan tidak adil ayahnya yang tanpa tedeng aling-aling sama sekali dan dia menjadi saksinya nyaris setiap hari. Taehyung tidak akan pernah terbiasa dengan sikap itu. Dia mengedikkan bahunya sebelum balas menatap Taehyung.
“Sering sekali bahkan.” Dia menyugar rambutnya. “Biasanya di depan keluarga besar tentang Wiktu yang mudah sakit, mudah kelelahan, atau apa. Semuanya selalu dilabeli 'seperti perempuan', 'cengeng', atau 'tidak jantan'. Aku jengkel mendengarnya, tapi mau bagaimana lagi. Melawan pun tidak ada gunanya.
“Kadang Wiktu menjawabnya, kok.” Yugyeom kemudian memilih menu—mengulang permainan mereka setelah kalah untuk kesekian kalinya dari Taehyung. “Tapi selebihnya dia hanya diam karena lelah. Menjawab hanya membuat kata-kata Ajung semakin pedas. Sering dibanding-bandingkan dengan para sepupu kami yang sudah menikah padahal umurnya jauh lebih muda dari Wiktu, sudah punya anak.”
“Kutebak dia sudah tidak sabar untuk mengusir mereka semua dari Puri setelah dia mewarisi tanah Puri dan berkuasa.” Gerutu Taehyung dan Yugyeom terkekeh serak.
“Tidak juga,” dia mengedikkan bahunya kalem dan meringis. “Wiktu bukan pendendam, dia hanya akan diam. Menghindari konflik, apalagi dengan keluarga Puri. Terlalu riskan, dia hanya menelan semua cacian mereka dan tersenyum. Syukurlah kami tinggal di Puri yang berbeda—konflik-konflik harian lebih mudah dihindari.”
“Kadang,” Yugyeom mendesah lalu menatap Taehyung—pandangannya sarat permintaan tolong yang dilandasi rasa sayang dan kasihan yang hebat untuk kakaknya. Rasa yang sejujurnya, amat dipahami Taehyung.
“Aku sungguh penasaran seberapa compang-camping hati Wiktu berusaha menelan semuanya dan tidak nampak sedikit pun tersinggung saat mendengarkan kata-kata itu.”
Taehyung terenyak. Dia reaktif, dia nyaris selalu menjawab semua cacian yang diarahkan padanya apalagi dari Tuniang. Dia selalu membalas semua emosi yang dilemparkan orang padanya tanpa lelah, terkadang malah melampiaskannya pada orang lain—khususnya semua anak buahnya di dapur jika dia merasa jengkel pada keluarganya.
Namun memikirkan bagaimana Jeongguk selalu membotolkan perasaannya—menyimpannya sendiri dan terkadang mungkin bertanya-tanya pada dirinya sendiri apakah dia layak merasakan itu? Itu membuatnya sedih. Jeongguk bahkan jarang sekali melampiaskan emosinya pada orang lain, dia benar-benar menelannya utuh.
Jeongguk lelaki hebat dan dia layak mendapatkan kasih sayang.
“Aku sayang sekali padamu,” katanya kemudian saat berbaring di atas dada Jeongguk. Yugyeom memberi mereka waktu berdua—mengendap kembali ke kamarnya tanpa sepengetahuan ayah mereka sehingga keduanya memiliki waktu berdua di kamar dengan pintu tertutup tanpa ketahuan ayahnya.
“Aku juga.” Balas Jeongguk, tersenyum dengan mata terpejam—memeluk Taehyung erat di sisinya. Dia menghela napas berat, terdengar nyaman berbaring dengan Taehyung dipelukannya. “Aku juga sayang sekali padamu.” Dia membuka sebelah matanya dan tersenyum saat melihat Taehyung mendongak menatapnya.
“Kenapa?” Tanyanya, mengusap rambut Taehyung lembut.
“Aku benci ayahmu.” Taehyung mendesah keras. “Tidak bisakah dia, entahlah, tidak terlalu menunjukan betapa dia membencimu? Kau tahu dia tidak menyukaimu, tidak perlu berusaha sekeras itu.”
Jeongguk mengedikkan bahu dan Taehyung bisa mendengar senyuman dalam kalimatnya, “Manusia sering kali memang berusaha membuat orang yang dibencinya tahu bahwa mereka membenci. Ingin emosi negatif itu divalidasi dengan melihat objek kebenciannya menderita dan saat objek mereka tidak menderita, mereka semakin marah. Semakin berusaha untuk menginjak-injak—aku sudah terbiasa. Apalagi tentang Ajung.”
Taehyung mendengus, bangkit dari posisinya—menggeliat dari bawah lengan Jeongguk, dia bangkit di ranjang yang berderit lalu mengangkangi perutnya. Mendudukkan dirinya di perut Jeongguk, dia menumpukan kedua tangannya di sisi kepala Jeongguk dan menciumnya hingga Jeongguk terkekeh. Lelaki itu mengulurkan tangan, membelai wajah Taehyung saat dia menarik wajahnya.
“Kenapa kau marah-marah, sih?” Bisiknya geli dan Taehyung menggertakkan giginya.
“Dia membencimu hanya karena kau memiliki hati yang begitu besar dan hebat untuk mencintai.” Taehyung menunduk, menatap Jeongguk yang tersenyum di bawahnya.
“Yah,” Jeongguk terkekeh kalem dan Taehyung sungguh benci ketenangan itu sekarang. “Begitulah hidup. Banyak sekali hard-to-swallow pills yang harus ditelan.” Dia mengulurkan tangannya, menangkup wajah Taehyung sebelum menariknya lembut—mencium bibirnya dan mendesah.
“Tidak masalah,” gumamnya kemudian dengan mata terpejam dengan bibir bersentuhan dengan bibir Taehyung. “Selama kau mencintaiku, aku bisa menghadapi apa pun.”
Taehyung tersenyum simpul, mengecup bibir Jeongguk sekilas sebelum mendorong pinggulnya hingga menyentuh selangkangan Jeongguk—menggesekkannya lembut dan perlahan hingga kekasihnya mendesah tertahan. Taehyung senang melihat Jeongguk senang karena dirinya—menghibur sakit yang ditahannya karena perlakuan tidak adil keluarganya pada Jeongguk. Setidaknya dia bisa membuat pemuda itu sedikit bahagia.
“Aku baru diajari tentang gaya bercinta baru, tertarik mencobanya malam ini, tidak?” Desahnya, sengaja membuat suaranya berat dan parau untuk menggoda Jeongguk.
Mata Jeongguk seketika terbuka; teror berkilau di matanya membuat Taehyung geli. “Apa??” Tanyanya kaget dan Taehyung tergelak karena ekspresinya.
Lakshmi, Devy dan Jimin benar—dia sekarang lebih bahagia. Lebih ceria dan jauh lebih ekspresif. Taehyung menyadari hangat yang berdenyut di dadanya—lubang raksasa dingin yang selama ini membuatnya merasa hampa dan kosong, sekarang perlahan menyembuhkan diri saat Jeongguk mengisinya dengan cinta dan kasih sayang. Mengisinya hingga Taehyung mabuk oleh rasa hangat dan bahagia. Sekarang dia merasa bahagia, hangat dan utuh. Dia mudah tersenyum, mudah tertawa sekarang. Tidak lagi pahit dan getir pada hidupnya sendiri; dia merasa nyaris... penuh semangat saat bangun dari tidurnya, mendapati pesan Jeongguk di ponselnya.
Selamat pagi, Sayangnya Wiktu? Sudah bangun belum?
Dan dia yakin bisa menguras lautan sendirian setelah menerima pesan itu.
Tidak ada yang bisa menyakiti hatinya sekarang, tidak seperti apa yang dilakukan Jeongguk. Mungkin sebenarnya Taehyung sudah begitu mencintai lelaki ini sejak pertama kali mereka berkenalan, semakin dan semakin akrab—hingga akhirnya dia memiliki cukup keberanian untuk meraih bahagia yang berada di depan matanya.
Taehyung tersenyum lebar, bersemangat saat Jeongguk mendesah di bawahnya—wajahnya merah padam saat Taehyung menggesekkan dirinya pada Jeongguk, menggerakkan pinggulnya perlahan. Memastikan tiap gerakan menyiksa Jeongguk dengan kenikmatan. Gesekkan kain celana mereka yang tipis membuat Taehyung begitu bergairah—ada sesuatu dari penghalang tipis yang membuatnya semakin panas.
Tangan Jeongguk menyelip ke kausnya, memilin dadanya hingga Taehyung menggeram nikmat. Dia ingin bercinta sekarang namun ayah Jeongguk belum tidur, mereka belum makan malam bersama dan sesungguhnya dia tidak butuh makan. Dia hanya butuh Jeongguk bercinta dengannya. Mereka selalu melakukan video call sex nyaris setiap hari jika tidak kelelahan setelah bekerja dan Taehyung tidak pernah puas.
Dia ingin disentuh, ingin tangan Jeongguk di tubuhnya karena sekarang tangannya sendiri tidak lagi terasa mendebarkan.
“Aku mencintaimu.” Bisik Taehyung, terengah dengan kening menempel di kening Jeongguk. “Sangat mencintaimu.”
Jeongguk tersenyum. “Kau tidak akan pernah memahami betapa hebatnya apa yang kata-kata cinta darimu lakukan padaku dan keseluruhan hidupku, Wigung.” Dia mengecup bibir Taehyung—kecil dan berkali-kali hingga Taehyung mengerang.
“Kau tidak akan pernah bisa paham.” Bisiknya, menyelipkan jemari ke rambutnya lalu meremasnya sebelum memangut bibir Taehyung—menyelipkan lidah ke dalam mulutnya.
Taehyung berdeguk—sangat merindukan sentuhan Jeongguk hingga tubuhnya nyeri. Dia mungkin beruntung karena ayah Jeongguk menyukainya, membuka lebar pintu rumah mereka untuk Taehyung—tidak pernah bertanya jika Taehyung tidur bersama Jeongguk di kamarnya dengan pintu terkunci. Menganggap itu hal biasa bagi sesama lelaki tidur di dalam satu kamar.
Tidak tahu bahwa di balik pintu dengan lampu keemasan temaram, Taehyung sedang mendesah tertahan—menjambak rambut Jeongguk yang bergerak di atasnya. Taehyung bisa memanfaatkan sifat pilih kasih ayah Jeongguk itu untuk keuntungan mereka.
“Kita tidur di kamar lamaku malam ini,” kata Jeongguk parau sementara Taehyung di atasnya mabuk oleh gairah setelah menggesekkan dirinya pada Jeongguk sejak tadi—sekarang dia butuh bercinta, namun Yugyeom sudah menelepon mereka. “Kau bisa bebas mendesah karena jauh sekali dari semua rumah.”
Mengingatkan bahwa sebentar lagi pukul tujuh malam dan mereka harus makan malam dengan semua orang sebelum Taehyung bisa ditelanjangi dan bercinta dengan Jeongguk.
“Kita tidak perlu makan.” Keluh Taehyung, merengek saat Jeongguk menjulurkan lehernya dan menjulurkan lidah—menjilat dadanya dan menggigitinya, menariknya lembut hingga Taehyung gemetar.
“Percayalah, Sayangku,” bisik Jeongguk di kulitnya—mengecupnya lembut dan basah, menjilatnya erotis. “Satu-satunya hal yang ingin kumakan saat ini hanya tubuhmu. Kupikir kita berdua tahu itu?”
Jeongguk menyerigai di bawahnya dan Taehyung yakin dia bisa mati sebentar lagi karena gairah yang tidak tersalurkan ini. Karena mereka harus makan malam. Taehyung menatap selangkangannya dengan sedih saat Jeongguk berdiri di hadapannya. Terkekeh, kekasihnya kemudian berlutut di antara selangkangannya dan mengecupnya hingga Taehyung mendesah tertahan—otomatis melingkarkan kedua kakinya di kepala Jeongguk yang mengusap tubuhnya dari luar celananya.
“Tahan, ya?” Gumamnya lembut di atas tubuhnya yang menebal menggelisahkan. “Dua jam lagi.” Dia mengecupnya—berkali-kali dari balik kain celana Taehyung yang tipis hingga kepala Taehyung terasa ingin lepas. “Dua jam lagi.”
Taehyung ingin berteriak frustrasi. Dia tidak mau menunggu. Namun dia akhirnya menyerah dan pergi ke rumah utama untuk makan malam bersama Jeongguk dan Yugyeom. Persis setelah Jeongguk memberikannya hand-job di kamar mandi. Taehyung menumpukan kedua tangannya di dinding karena lututnya terasa lemas, celananya diturunkan hingga lutut sementara Jeongguk menempel di belakang tubuhnya—mengecupi tengkuknya dengan tubuhnya yang menembal menggesek pantatnya seraya memijat selangkangannya.
“Kau indah sekali, kau membuatku sinting.” Bisiknya di telinga Taehyung sepanjang waktu—membuat hati Taehyung berdesir senang.
Tapi, tidak perlu ada yang tahu apa yang terjadi di balik pintu yang terkunci itu, 'kan?
*