Gourmet Meal 324


Jeongguk merasa sedikit pening dalam pakaiannya sekarang.

Udeng di kepalanya diikat terlalu kencang dan selendang yang diikatkan di pinggangnya untuk menahan kainnya juga terasa terlalu kencang. Dia menghela napas, merasa sudah berada di sana nyaris selamanya namun tamu-tamu tidak juga berhenti datang. Suara alunan musik lembut mengalun dari pengeras suara di empat penjuru tenda raksasa yang mereka gunakan, suara obrolan tamu mengiasi suara-suara rekaman itu. Denting alat makan yang disiapkan katering dan juga dengung kipas angin raksasa yang meniupkan secercah angin sejuk ke ketandusan Taman Soekasada.

Dia dan Mirah sudah berkeliling nyaris lima kali dalam tiga jam—menyeimbangkan dirinya di atas heels 7 senti yang membuat Jeongguk mendesah keras, menyapa tamu-tamu istimewa ayah-ayah mereka dalam balutan pakaian tidak nyaman di bawah udara panas dan kering pesisir pantai Taman Soekasada, Ujung. Jeongguk tidak habis pikir bagaimana dia bisa setuju dengan pemilihan tempat ini dan setuju pada pertunangan melelahkan yang mengalahkan acara pernikahan ini.

Tenda-tenda raksasa didirikan di halaman taman istana itu, alih-alih mengurangi panas, atapnya malah membiaskan cahaya matahari dengan cara yang membuat Jeongguk pening. Dia duduk di sisi Mirah yang nampak kelelahan dengan bunga emas berat di atas kepalanya. Acara tukar cincin mereka sudah berlangsung pukul sepuluh tadi, hanya memakan waktu tidak sampai lima menit namun mereka masih harus duduk tersenyum di sana pada semua orang yang tidak mereka kenal sama sekali. Sementara beberapa wartawan datang meliput dan masyarakat yang penasaran mengintip dari jalan yang lebih tinggi dari Taman Soekasada, nampak berbahagia bersama mereka walaupun tidak diundang secara langsung.

Jeongguk memandang para tamu, mencari Taehyung secara naluriah. Dia datang cukup pagi tadi—mengambil cuti dari pekerjaannya mewakili ayahnya, sekitar pukul sembilan bersama Devy serta Lakshmi dan kekasihnya, Wisnu. Langsung menyalami Jeongguk dengan sangat hangat dan tersenyum ramah—senyuman terbaik yang pernah dilihatnya. Membawa aroma keringatnya yang khas hingga sejenak pusing yang mendera Jeongguk karena ikat kepalanya, membaik. Dia mengenakan kain yang sama persis dengan milik Devy serta warna pakaian yang senada.

Aroma parfumnya membuat Jeongguk mendadak merindukannya, ingin memeluknya. Namun dia hanya puas dengan mengusap punggung tangan Taehyung dengan ibu jarinya saat mereka bersalaman. Bertukar pandangan sejenak—berusaha mengungkapkan betapa Jeongguk merindukannya tidak peduli selama apa mereka saling menelepon atau mengirim pesan setiap hari. Rindu yang hanya akan lenyap saat mereka bertatapan dan bersentuhan.

Taehyung nampak sangat rapi, licin dan menarik. Aura bangsawannya yang sejak awal membuat Jeongguk kagum nampak menetes. Dia nampak seperti pejabat dengan pakaian rapi dan udeng yang diikat rapi di kepalanya. Beberapa orang menyapanya karena mengenal dia dan ayahnya, Taehyung tersenyum ramah—menakupkan kedua tangannya di depan dada sebagai gestur menyapa yang sopan. Dia melangkah ke panggung, bersinar seperti bintang utama acara hari itu. Rambutnya disisir naik dengan rapi, diikat oleh udeng-nya.

“Dia,” kata Taehyung kemudian, tersenyum pada Mirah di sisinya—nampak jauh lebih pendek dari Taehyung seraya melirik Jeongguk yang tersenyum. “Akan menjagamu baik-baik. Dan membahagiakanmu.” Dia menjabat tangan Mirah, melemparkan tatapan penuh arti pada Jeongguk yang membalas senyumannya.

Mirah mengangguk, merona di bawah riasan wajahnya—dia nampak sangat bahagia hari itu. Banyak tersenyum dan tertawa, dia menjabat semua tamu keluarga mereka, meladeni tiap obrolan remeh mereka tanpa lelah sambil mengipasi dirinya dengan kipas properti yang dipinjamkan make up artist mereka.

“Terima kasih, Bli Tjok.” Sahutnya dengan nada terengah karena adrenalin yang membuncah. “Pasti, pasti membahagiakan.”

Jeongguk menghela napas, apa yang harus dilakukannya pada gadis ini?

Taehyung melirik Jeongguk, sudut bibirnya terangkat dan Jeongguk tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak membalas senyumannya. Dia bersumpah Taehyung benar-benar membuatnya sangat menderita dengan cara yang disukainya. Dia kemudian melepaskan tangan Mirah, mata Jeongguk melirik tangannya sebelum dia beranjak menuruni panggung bergabung dengan para tamu yang nampak sudah tidak sabar mengobrol dengannya.

Cincin Tiffany mereka berkilauan di jari manis tangan kanan mereka.

Obsesi Taehyung-lah yang kemudian memaksa Jimin mengirimkan perhiasan itu ke Bali persis setelah dia mendarat di Indonesia selepas penerbangan terakhirnya minggu itu ke London. Cincinnya tiba persis sehari sebelum acara pertunangan Jeongguk dan Taehyung seketika memaksanya mengenakannya—menerornya agar Jeongguk mengambil cincin itu ke Alila setelah dia pulang bekerja. Jeongguk tidak keberatan karena malamnya, dia mendapat phone call sex paling luar biasa sebagai imbalannya.

Ibunya tadi mendesak Jeongguk melepas cincin itu namun Jeongguk menolaknya.

“Tidak akan mengganggu apa pun, Biang.” Katanya, memastikan ayahnya tidak mendengar perdebatan kecil di kamar berhiasnya dengan Mirah itu. Calon tunangannya duduk di depan meja hias yang diberi lampu, bibirnya pucat belum dibubuhi pewarna—menyaksikan dengan penasaran. “Cincin tunangan, 'kan, dikenakan di kiri.”

Singkat kata, dia memenangkan pertengkaran itu. Lakshmi yang menyalaminya tidak lagi nampak bingung seperti pertama kali mendapat undangannya—memainkan perannya dengan sempurna dan Jeongguk mengapresiasi itu. Teringat bagaimana dia kemarin datang ke Puri hanya untuk menjelaskan kepada Lakshmi segala hal yang terjadi di antara mereka semalaman—termasuk acara pertunangan mereka. Lakshmi tidak mengapresiasi tindakan mereka sama sekali—memperlama keberadaan Mirah di hidup Jeongguk ketika mereka tahu Jeongguk akan mencampakkannya detik Jeongguk bisa, namun terpaksa setuju bahwa itulah satu-satunya cara yang nampak 'benar' saat ini.

Dia nampak luar biasa dengan kebaya brokat berwarna merah yang memamerkan bahu langsingnya, memeluk pinggang tingginya yang indah. Rambutnya digelung, disisipi setangkai anggrek bulan raksasa yang mengedip ceria pada Jeongguk sementara di sisinya Wisnu nampak gagah dan tinggi mengenakan bros keluarganya yang berkilauan.

“Saya tunggu menyusulnya, Bli Gus.” Gurau Jeongguk saat menyalami calon kakak ipar Taehyung yang tertawa serak.

“Santai saja.” Katanya geli menepuk bahu Jeongguk hangat, keduanya paham bahwa hari Wisnu menikah ditentukan oleh pernikahan Taehyung. Dan jika memikirkannya lagi sekarang, mungkin tidak akan datang dalam waktu dekat. “Tidak ada tenggat waktunya, kita semua menemukan bahagia di waktu masing-masing, benar?” Dia kemudian menyalami Mirah dan meletakkan tangannya di pinggang Lakshmi saat menuruni undakan, menyusul Taehyung.

Jeongguk masih tidak paham bagaimana Brahmana sekelas Wisnu memilih Lakshmi sebagai kekasihnya—caranya memandang gadis itu benar-benar membuatnya malu seolah melihat adegan yang sangat intim. Dia benar-benar menyayangi Lakshmi dengan cara yang tidak pernah dilakukan orang lain di hidup Lakshmi; sikapnya yang lembut dan ksatria, senyumannya yang tulus, pandangannya yang hangat. Jika Jeongguk adalah adik kandung Lakshmi, dia tentu akan melepaskan Lakshmi untuk lelaki itu.

Namun masalahnya, bukan Wisnu yang tidak mereka percayai. Melainkan keluarga besarnya. Taehyung masih sering memikirkan ini, sering gelisah melepaskan kakaknya menikah menjadi Jro di griya berpengaruh di Bali dengan kondisi kastanya yang tidak baik.

Mata Jeongguk menemukan kekasihnya, duduk di sudut tenda dengan Devy di sisinya—sedang mengunyah makanan bersama Lakshmi sementara Taehyung membicarakan sesuatu dengan Wisnu yang nampak menggebu-gebu. Taehyung tertawa dan walaupun mereka terpisahkan jarak lebih dari dua ratus meter, Jeongguk nyaris bisa mendengar suara tawa itu seolah Taehyung berada di sisinya. Kancing teratas pakaiannya sudah berpisah, dia memang tidak pernah betah mengenakan pakaian rapi dan lengan bajunya digulung hingga ke sikunya.

Merasakan tatapannya, Taehyung mendongak dari makanan di pangkuannya dan mata mereka bertemu. Taehyung membalas tatapannya, lama sekali hingga hati Jeongguk berdesir karenanya—tidak sabar untuk segera pulang sehingga dia bisa bergegas menelepon Taehyung. Memuji betapa dia nampak luar biasa hari itu. Tatapan Taehyung cukup untuk membuat Jeongguk merasa panas di bawah lapisan pakaiannya dan itu sama sekali bukan karena cuaca. Taehyung mengangkat sebelah alisnya lalu dengan sengaja menyodokkan lidahnya ke pipinya dan membuat Jeongguk seketika bergidik karenanya—membayangkan yang tidak-tidak.

Dia menggeram kecil, akan melakukan sesuatu pada pemuda itu nanti.

”... Makan?”

Jeongguk mengerjap, pandangannya dengan Taehyung terpisahkan karena Taehyung bergegas mengalihkan pandangan saat menyadari Mirah menatap Jeongguk. Dia menoleh ke Mirah yang menatapnya seraya menepuk-nepuk wajahnya dengan sehelai tisu, menyerap keringat yang meleleh di atas hiasan wajahnya.

“Kau mau makan?” Tanyanya lalu berdiri, mengaitkan ujung kainnya ke lekukan lengannya sebelum mengulurkan tangan membantu Mirah berdiri dari tempat duduknya. “Ayo, makan.” Tambahnya saat membimbing gadis itu ke meja prasmanan.

“Lho? Lho? Kenapa?” Ibu Jeongguk bergegas menghampiri mereka, nampak cemas dan meraih Mirah. “Pusing? Berat, ya, bunganya?” Dia langsung merangkul Mirah dengan lembut.

“Hanya kelaparan.” Sahut Jeongguk menenangkan ibunya dan dia sendiri merasa bisa mengunyah tenda sewaan itu saking laparnya; nampaknya dia harus menahan diri sedikit lagi. “Sebentar, Gung Wah ambilkan minum.” Katanya melepaskan Mirah ke dalam genggaman ibunya sebelum menghampiri meja prasmana dan mengambil air mineral kemasan.

Dia sejenak berhenti, mengamati menu makanan yang nampak lezat. Ada ayam, mie, sayuran, dan kesukaannya—daging dan brokoli. Aromanya hangat dan begitu menggugah selera hingga dia merasa perutnya mengeluh di bawah semua pakaiannya. Dia mendesah, merasa sangat lapar. Sarapan paginya tadi sudah menguap semua bersama panas dan tawa palsu yang dipaksakannya nyaris seharian. Maka dia bergegas membawakan air itu ke Mirah, menusukkan sedotannya sebelum menyerahkannya ke gadis yang duduk di sisi ibunya. Sudah akan kabur kembali ke meja prasmanan untuk makan saat ibunya menyela.

“Gung, ambilkan makanan.” Kata ibunya, menatap Jeongguk yang menahan dirinya sendiri agar tidak mendesah kesal karena dia juga lapar dengan tatapan sedikit menegur.

“Ya, Biang.” Sahutnya akhirnya, tidak memiliki pilihan lain. Beranjak kembali ke meja prasmanan dengan sendal selopnya yang mulai licin karena telapak kakinya berkeringat. Dia meraih piring, mengisinya dengan makanan—menatap makanan itu dengan mendamba karena dia harus menahan laparnya sedikit lagi.

“Makanmu seperti burung.” Komentar sebuah suara yang pasti akan dikenali Jeongguk di mana pun dia berada. “Sedikit sekali.”

Taehyung memutuskan menghampirinya ke meja prasmanan dengan dalih meletakkan piring kotor dan meraih potongan buah yang tersedia di sisi air mineral demi berada cukup dekat dengan Jeongguk untuk mengobrol. Dia membawa selapis aroma parfum maskulin lembut, sinar matahari, rumput, dan parfum baju. Jeongguk menoleh, tersenyum pada kekasihnya yang nampak ceria hari ini—pipinya merona dan senyuman tidak meninggalkan bibirnya sama sekali sejak tadi.

“Kau senang hari ini?” Tanya Jeongguk, meraih sendok dan memilihkan lauk untuk Mirah. “Kau nampak senang.”

Taehyung mengedikkan bahunya kalem, menyuap sepotong semangka kuning langsung dari nampan saji. “Tidak ada alasan untuk tidak senang di sebuah pesta, 'kan?” Dia meraih piring baru, mulai mengisinya dengan potongan semangka dan melon ke atasnya. “Kau tidak senang?”

Jeongguk memutar bola matanya. “Jika saja benda keparat ini,” dia melirik udeng-nya. “Tidak mengikat kepalaku terlalu kencang aku mungkin bisa sedikit berbahagia.” Dia menambahkan sayuran ke piring Mirah sementara Taehyung mengekornya sambil menyuap buah dengan tusuk gigi.

“Jangan merengek.” Taehyung terkekeh, menatap kekasihnya geli lalu sedikit merendahkan suaranya—nyaris dikalahkan suara musik gamelan di sekitar mereka. “Kau hanya boleh merengek saat aku memberimu blowjob.”

Jeongguk menoleh, mulutnya terbuka—jantungnya mencelos kaget, namun juga terhibur karena guyonan kotor itu. “Kau benar-benar...” Dia berhenti dan akhirnya tertawa parau. “Sinting! Kau sadar tidak kita berada di ruang terbuka?”

Taehyung nyengir. “Ups.” Gumamnya dan Jeongguk menggeleng tidak habis pikir saat lelaki itu menambahkan, “Itu makanan untukmu?” Tanyanya, mengunyah melon dengan suara renyah basah saat giginya menghancurkan potongan buah segar itu.

Jeongguk menoleh hanya untuk menyesalinya karena Taehyung nampak sangat menggemaskan menatap Jeongguk penasaran dengan kedua bola mata yang berkilauan, pipinya penuh terisi buah dan selapis air berkilauan di bibirnya. Tuhan tahu seberapa kuat Jeongguk berusaha menahan dirinya agar tidak mengecup air itu dari bibir Taehyung. Dia berhenti bergerak, menatap kekasihnya yang balas menatapnya dengan mulut terbuka. Taehyung mengerjap.

“Apa?” Tanyanya, matanya berkilauan—bingung. Tangannya membawa sepotong buah lagi ke mulutnya, mengunyahnya dengan kalem. Tidak menyadari apa yang baru saja dilakukannya kepada Jeongguk—hanya dengan bernapas.

Dia menelan ludah dengan sulit, menggertakkan giginya. “Untuk Mirah.” Dia berhasil mengatakannya tanpa menggeram saat menambahkan sebutir jeruk ke sisi piring dan juga kerupuk.

“Oh.” Kata Taehyung sopan, melongok ke balik punggung Jeongguk dan mengangguk kalem saat melihat Mirah yang duduk sambil memegangi kepalanya dan wajahnya berkerut—berusaha tetap waras. “Ya, pasanganmu nampak seperti akan pingsan sebentar lagi.”

“Bunga emas asli milik Tuniang.” Sahut Jeongguk seolah itu menjelaskan semuanya dan Taehyung meringis, seketika memahami perhiasan nenek mereka jelas akan menyiksa gadis moderen paling tangguh sekali pun.

Dalam tradisi Hindu, hiasan kepala perempuan sudah dimodifikasi dengan bunga emas yang terbuat dari lempengan besi tipis yang jauh lebih ringan. Dibentuk sedemikian rupa sehingga tidak berpotensi mematahkan leher pengantin perempuan apalagi saat menggunakan hiasan kepala payas agung yang tingginya nyaris setengah meter. Namun mereka bersikeras memakaikan bunga emas model lama yang terbuat dari tembaga asli yang beratnya bukan main warisan dari Tuniang sehingga sejak tadi Mirah harus beberapa kali berhenti dan duduk karena pusing oleh hiasan kepalanya.

“Kembalilah ke sana. Aku akan pamit pulang karena Devy akan dinas malam hari ini.” Kata Taehyung kemudian, meletakkan piringnya yang kosong sebelum tersenyum. “Telepon aku setelah selesai semuanya, oke?”

Jeongguk menatapnya, tersenyum. “Tentu. Aku akan langsung meneleponmu begitu aku memiliki kesempatan.” Dia mengulurkan tangan dan Taehyung menjabatnya—merasakan cincin mereka bergesekan. “Hati-hati di jalan dan terima kasih sudah datang.”

Taehyung menyerigai. “Tentu saja aku datang.” Katanya. “Aku harus menyaksikanmu 'bahagia', 'kan?”

Jeongguk mendenguskan tawa singkat. “Kau memang begundal.” Balasnya dan Taehyung terkekeh.

I keep you entertained that way, aren't I?” Balasnya dan Jeongguk tersenyum sayang padanya.

Always.” Gumamnya dan Taehyung tersenyum lebar.

Dia berpamitan pada semua orang setelahnya, menyalami Mirah persis saat Jeongguk sedang sibuk memindahkan isi piring ke mulutnya—kelaparan seperti sudah berminggu-minggu tidak makan dan kelelahan. Kemudian dia berlalu dengan Devy dalam lengannya, melangkah ke tempat parkir mengeluarkan kunci mobil. Membantu Devy menaiki undakan jembatan menuju tempat parkir sebelum benar-benar lenyap.

Jeongguk akhirnya kembali ke makanannya, menyelesaikan makanannya dan kemudian bergegas berdiri bersama Mirah karena para tamu hendak pamit. Dia berdiri di dekat pintu keluar, menyalami semuanya dan tersenyum ramah sementara Mirah ternyata tidak sanggup lagi berdiri dan duduk dengan kursi di sisinya. Setelahnya, mereka meninggalkan lokasi—membiarkan pihak dekorasi membereskan acaranya karena sungguh, lima menit lagi dengan udeng terkutuk itu maka Jeongguk akan pingsan.

Dia langsung melepasnya sebelum menaiki mobil dan membantu Mirah memanjat naik. Memijat pelipisnya sementara di sisinya, Mirah berusaha melepaskan bunga emasnya. Jeongguk terkekeh melihatnya sementara mobil meluncur dikemudikan salah satu sepupu Jeongguk, beriringan dengan semua keluarga kembali ke Puri mereka.

“Sini,” kata Jeongguk, menggeser duduknya menghadap Mirah lalu membantunya memisahkan satu demi satu bunga emas dari sanggulan rambutnya yang kaku oleh hair spray.

“Kalian sudah berfoto tadi pagi, 'kan?” Tanya sepupunya dari depan, melirik dari spion tengah. “Kenapa riasannya dibongkar?”

Jeongguk mendesah, “Jika tidak dibongkar dia akan pingsan sebentar lagi.” Balas Jeongguk dengan nada tegas—dia jarang menggunakan nada itu untuk keluarganya namun karena Mirah sudah sangat pucat bahkan di bawah lapisan warna merah perona pipi, dia harus menggunakannya. “Kami sudah berfoto tadi sebelum kemari.” Tambahnya, menarik satu bunga emas lagi dari kepala Mirah yang meringis.

Syukurlah karena semua orang lelah, Jeongguk diizinkan memasuki kamarnya setelah melepaskan semua pakaian sewaannya. Dia melipatnya sementara Mirah masih dibantu untuk menyisir rambutnya sebelum bergegas hanya dengan kaus dalam dan celana pendek berpamitan, berlari ke kamarnya sendiri dengan segenggam kapas yang dibasahi dengan baby oil untuk menghapus riasan wajahnya—dia ingin mandi.

Sudah hampir pukul tujuh saat akhirnya Jeongguk memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Setelah mengantar Mirah dan keluarganya pulang ke Puri-nya dan terpaksa harus mengecup kening Mirah sebelum dia pulang hanya untuk memuaskan semua orang hingga Mirah merona hingga ke leher dan batas rambutnya. Menahan diri agar tidak mengusap bibirnya eketika itu juga, dia melambai pada mobil yang melaju pergi dan bergegas kembali ke kamarnya—menggunakan leher bajunya, mengelap rasa aneh tidak nyaman di bibirnya lalu mulai merasakan kecemasan bergolak di dasar perutnya.

Bagaimana caranya nanti 'menyentuh' Mirah jika mereka tidak juga menemukan jalan keluar tentang hubungan mereka dan Jeongguk terpaksa harus menikahi Mirah? Mencium keningnya saja cukup membuatnya gelisah dan mual, apalagi jika dia harus....

Dia meringis dan bergidik, melepaskan cincin pertunangannya lalu meletakkannya di nakas kamarnya sebelum meraih ponselnya. Memainkan cincin Tiffany-nya dengan ibu jari tangan kanan, dia menyentuh ruang obrolan Taehyung. Dia menekan panggil dan menunggu seraya membaringkan dirinya di ranjang—mendesah keras kelelahan setelah seharian bersikap ramah dan tersenyum pada orang-orang yang tidak dikenalnya.

Dia menepuk perutnya, merasa lapar saat panggilannya ke Taehyung tidak dijawab. Jeongguk memilih 'pesan' dan mengetik di sana: Aku makan dulu jika begitu. Kirimi aku pesan jika sudah senggang. lalu mengirim pesan sebelum menyentuh ruang obrolan dengan adiknya.

“Ayo buat mie instan.” Katanya begitu adiknya mengangkat teleponnya.

Ada sisa lauk katering tadi!” Balas adiknya dari seberang, gemerisik saat bangkit dari kasurnya. “Buat sesuatu yang enak, Wiktu.”

Jeongguk mengerang. “Wiktu lelah, kita makan itu saja.” Tukasnya, tidak terlalu menyukai prospek memakan makanan yang sama dalam satu hari namun dia cukup lapar untuk mengabaikannya—dia akan membuat mie instan sebagai teman makannya.

Dia bangkit saat ponselnya berbunyi, pesan dari Taehyung.

Aku sedang di griya. Sebentar, oke? I love you.

Jeongguk tersenyum, hatinya menghangat. Dia akan melakukan apa pun demi Taehyung—apa pun, surga atau neraka tidak akan bisa menghentikannya. Dia menatap layar ponselnya lalu mendesah—baiklah, dia punya waktu untuk makan sebelum menelepon kekasihnya dan mengeluh tentang betapa melelahkannya hari ini.

*