Gourmet Meal 393


Dia sudah merindukan Taehyung.

Jeongguk mendesah, menarik rem tangan di halaman rumah Mirah yang sudah semarak oleh hiasan dari janur untuk persiapan hari raya besok. Panji-panji dan payung pelinggih sudah dipasang, lengkap dengan aroma dupa pekat yang sudah menggantung rendah di udara—aroma kenanga, melati, dan cempaka. Cendana yang dibakar, bebungaan segar. Jeongguk selalu menyukai aroma itu; dia suka ketika pulang berdoa dari pura yang ramai dengan aroma dupa menempel di helaian pakaiannya. Membuat tidurnya nyenyak dan perasaannya tenang.

Malam ini akan jadi malam yang panjang; Jeongguk pasti harus menemani ayah Mirah mengobrol malam sebelum bisa beranjak tidur karena tidak pantas tamu tidur mendahului tuan rumah. Belum lagi kesibukan para perempuan mempersiapkan sesaji untuk besok yang biasanya sangat memakan waktu. Jeongguk berharap mereka sudah selesai sekarang sehingga waktu istirahat Jeongguk tidak terpotong banyak.

“Ayo, Bli Gung. Makan lalu istirahat.” Mirah di sisinya bergegas bangkit dan membuka pintu mobil, aroma dupa semakin kuat tercium dan dia menghela napas dalam-dalam.

Jeongguk bergegas menyusulnya, membantu gadis itu mengeluarkan kantung belanja mereka yang besar dan penuh dari bagasi mobilnya. Jeongguk lelah sekali, seharian dia tidak sempat beristirahat karena bekerja dan besok pagi dia harus langsung membantu orang tua Mirah pagi-pagi sekali. Tidak yakin apakah dia menyukai keputusannya untuk membantu Mirah atau tidak.

Jeongguk membawa belanjaan mereka, menyeret kakinya ke arah rumah utama yang terbuka dengan suara obrolan dari dalam. Dia menghela napas, mendorong semua kelelahannya menjauh sebelum memasang senyuman di wajahnya. Di dalam rumah, orang tua Mirah sedang menerima tamu dan Jeongguk langsung tersenyum ramah dengan dua tas belanja besar di tangannya.

Swastyastu, Ajik, Biang.” Sapanya ramah, membungkuk sopan kepada orang-orang di dalam ruang tamu.

“Oh, ini dia ini.” Kata ayah Mirah dalam bahasa Bali halus lalu berdiri dan membantu Jeongguk sebelum menepuk bahunya sayang serta bangga—dia tidak punya anak lelaki dan selama ini selalu memperlakukan Jeongguk jauh lebih hangat dari yang ayah kandungnya bisa berikan.

Jeongguk nyaris merasa bersalah karena dia tidak seperti apa yang diharapkan ayah Mirah untuk anaknya sama sekali. Dia diperkenalkan kepada semua orang yang membantu persiapan hari esok sebagai 'calon suami Mirah' dan disombongkan dengan cara yang membuat Jeongguk terenyuh.

Beginikah perasaan Taehyung tiap kali dia menerima pujian dari ayah Jeongguk? Perasaan senang, puas namun juga ketakutan dan gelisah. Bahagia, penuh dan utuh namun juga bersalah karena merasa tidak layak menerimanya. Kompleks sekali hingga Jeongguk kebingungan.

“Oh, puri Karangasem.” Kata seseorang, tersenyum lebar dan ramah. Jeongguk berusaha keras membalas senyumannya dengan sama bersemangatnya. “Cocok dengan Mirah, ya? Anaknya tampan, sopan dan baik. Memang jodoh itu adalah cerminan diri, ya?”

Jeongguk membalas jabatan tangan hangat teman-teman ayah Mirah, tersenyum palsu hingga hatinya lelah sebelum kemudian diajak makan malam sebelum mempersiapkan bahan-bahan untuk mereka membuat lawar besok. Jeongguk diberi ruang di kamar tamu, dia meletakkan tasnya di lantai dan mendesah—aroma parfum binatu tercium lembut dan nyaman hingga dia mengantuk. Sejenak dia merasa ingin pulang dan tidur di kamarnya sendiri karena kelelahan.

Dia meraih ponselnya, mengetik pesan untuk Taehyung: Wigung, Wiktu sudah di rumah Mirah, ya lalu menekan kirim.

Jeongguk kemudian mendudukkan diri di kasurnya, menghela napas berat dan berbaring sejenak. Dia sudah mandi tadi di loker karyawan, sudah mengganti bajunya sebelum berkendara ke Denpasar menjemput Mirah yang ternyata sudah menunggunya dengan banyak belanjaan. Jeongguk mengantuk sekali namun berusaha keras mempertahankan kesadarannya saat berkendara ke Gianyar. Sekarang, kelelahan meleleh di belulangnya membuat sendi-sendinya ngilu dan dia ingin sekali tidur.

Dalam keadaan setengah sadar dan tidak, dia mendengar pintu kamar terbuka dan Jeongguk merasa dirinya membuka mata—melihat Mirah di depan pintu dengan piyama dan rambut diikat naik. Gadis itu tersenyum dan Jeongguk bergegas mendorong rasa kantuknya menjauh lalu duduk di kasur yang berderit—sejenak limbung oleh serangan pusing.

“Maaf, aku ketiduran.” Gumamnya, mengerjapkan matanya kuat-kuat beberapa kali agar kantuknya lenyap.

“Mandi dulu, Bli Gung. Setelahnya tidur saja tidak apa-apa kok. Besok saja membantunya.” Mirah berdiri di ambang pintu nampak sangat lembut dan pengertian hingga hati Jeongguk nyeri mengingatnya. “Ajik sibuk sendiri, biarkan saja. Bli Gung lelah seharian bekerja.”

“Tidak, tidak.” Jeongguk secara refleks meraih ponselnya, mengecek balasan dari Taehyung dan tersenyum kecil membacanya: Selamat menjalankan tugas negara. Aku merindukanmu.

Dia merasakan semangat baru disuntikkan ke pembuluh darahnya saat dia bangkit dan mendongak menatap Mirah yang tersenyum. “Aku belum mengantuk,” katanya tegas lalu bergegas mengetikan jawaban untuk Taehyung dan melempar ponselnya ke ranjang lalu berdiri, siap membantu keluarga Mirah—melaksanakan tugas negaranya.

Aku jauh lebih merindukanmu. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Selamat istirahat, aku mencintaimu.

“Aku akan membantu Ajik sekarang.” Dia tersenyum pada Mirah sebelum beranjak keluar dari kamar, melewati Mirah menuju teras belakang di mana ayah Mirah sedang memilah rempah-rempah untuk pekerjaan mereka besok.

Mirah berdiri di sana, di depan pintu kamar menatap ponsel Jeongguk yang masih menyala sebelum layarnya mati dan menghela napas. Dia beranjak dari sana, menutup pintunya dan menyusul Jeongguk yang sudah berjongkok di hadapan ayahnya—siap memilah rempah untuk dikerjakan keesokan harinya.


Jeongguk sudah membungkuk ke atas potongan bulat kayu besar tebal yang digunakan sebagai talenan setidaknya seharian dengan blakas mencincang dan merajang bumbu yang tidak habis-habis.

Halaman belakang rumah Mirah sekarang penuh dengan wadah-wadah terisi bahan-bahan membuat lawar dan pelengkapnya, ayah Mirah ingin membuat lawar putih, lawar nangka dan lawar merah. Jeongguk sudah mengaduk daging ayam dan babi untuk tum sejak pagi bersama ibu Mirah. Mencincang bumbu Bali dan daging tanpa henti di atas balai tempat mereka bekerja dalam balutan kain longgar serta kaus; aroma tubuhnya sekarang campuran antara serai, bawang putih, bawang merah, jahe, dan lengkuas. Dia beraroma tajam rempah dan keringat, seluruh tubuhnya lengket dan tulang punggungnya lelah.

Namun dia menyukai kegiatan itu. Dia selalu bersemangat datang ke banjar untuk ngebat karena dia suka memasak. Jeongguk menikmati waktunya bersila di depan talenan dan merajang bumbu seharian—mendengarkan suara stabil dan cepat tak-tak-tak! pisau daging yang digunakannya bersama ayah Mirah. Sesekali mengobrol tentang politik dan ekonomi, Jeongguk yang sama sekali tidak pernah punya waktu untuk menonton televisi hanya menanggapi dengan sopan—berharap tidak menyinggung perasaan ayah Mirah karena minimnya pengetahuan Jeongguk di bidang itu.

Para perempuan bergerak di sekitar mereka, mempersiapkan sesaji untuk sore nanti karena pedanda yang mereka undang baru bisa datang pukul tiga sore. Banten-banten diangkut dari kamar suci ke Merajan mereka—aroma bunga-bunga segar, janur yang mulai mengering serta dupa mulai perlahan menguar sementara Jeongguk membantu ayah Mirah mengaduk lawar mereka.

Jeongguk baru saja selesai mandi, membilas semua aroma rempah dari tubuhnya saat keluarga Mirah mengajaknya makan siang. Dengan rambut basah, Jeongguk bergabung ke meja makan dengan dua orang perempuan yang membantu mempersiapkan banten. Mirah duduk di sisinya, beraroma pekat bunga dan dupa, membantunya untuk makan dengan lembut serta telaten.

Dia belum sempat mengecek ponselnya sama sekali sejak bangun subuh tadi dan mulai memikirkan Taehyung—apakah semalam dia baik-baik saja? Jeongguk langsung tertidur lelap karena kelelahan detik kepalanya menyentuh bantal semalam. Dia akan melakukannya setelah makan ini, Jeongguk mencuci tangannya lalu duduk di belakang piringnya—mulai menyuap makanan dengan tangannya. Mendesah saat merasakan makanannya sendiri, melirik semua orang untuk memastikan reaksi mereka terhadap makanan buatan Jeongguk.

Dia senang melihat semuanya nampak senang. Maka dia kembali fokus ke piringnya sendiri di sisi Mirah.

“Kamis lalu Bli Gung ke restoran bersama Bli Tjok, 'kan, ya?”

Jeongguk nyaris menyemburkan lawar nangka yang sedang dikunyahnya dengan potongan ayam sambal matah—dia menambahkan seruas jahe di sambal matah-nya untuk menambah aromanya dan mendapat apresiasi positif dari orang tua Mirah yang mencicipinya. Dia bergegas mengendalikan dirinya sebelum menjawab.

“Ya,” katanya perlahan; menata kalimat dan ekspresinya dengan baik. “Kemarin Bli Gung sudah cerita, 'kan? Kami membicarakan pekerjaan dengan Chef Arsa, pemilik Le Gourmet. Semacam kegiatan tahunan, kami biasa melakukannya. Tahun ini Ubud Food Festival.”

Dia melirik Mirah yang makan dengan khidmat, ekspresinya steril dan tidak terbaca selain nampak cantik serta tenang. Tubuhnya yang mungil secara mengejutkan sangat gesit bergerak saat membantu ibunya mempersiapkan sesaji di Merajan. Dia mengenakan kaus dan kain yang membalut kakinya dengan rapi, ibu Jeongguk akan menyukai gadis seperti Mirah. Dia bisa bekerja dengan sigap dan cepat, perempuan yang handal—seperti Lakshmi.

Perempuan yang dibesarkan dalam keluarga patriarki, diharapkan bisa menjadi perempuan Bali yang sempurna—bisa mejejaitan, halus, penurut, dan lembut. Jeongguk tidak akan kaget lagi jika Mirah ternyata pintar menari, maka dia akan menyempurnakan standar perempuan Bali-nya. Dia juga selalu sopan, hormat pada Jeongguk dan tidak pernah membantah dengan cara yang menyebalkan. Dia logis, tenang dan teratur.

Mirah menatapnya—menyapukan tatapan ke wajah Jeongguk lalu menatap lurus ke matanya. Jeongguk sejenak panik, menahan napasnya agar tidak ada binar apa pun di matanya yang mungkin membocorkan rahasianya dan Taehyung. Merasa kecil dan tegang di bawah tatapan Mirah yang sama sekali tidak mengintimidasi—lebih ke tatapan teduh penuh kasih yang meremas-remas hati Jeongguk karena dia tahu dia tidak layak mendapatkan perhatian ini.

“Devy kemarin memberi tahuku bahwa dia akan mengecek kain kebaya untuk pernikahannya.” Kata Mirah kemudian dan Jeongguk sejenak kebingungan dengan perubahan topik pembicaraan mereka yang tiba-tiba.

“Dia ditemani Bli Tjok dan mengajak kita sekalian—siapa tahu butuh refrensi untuk kebaya pernikahan kita nanti juga. Kataku, aku akan bertanya pada Bli Gung dulu.”

Jeongguk mengerjap, jantungnya mencelos dan mendadak mual—dia belum mengecek ponselnya sama sekali dan benda sialan itu di kamarnya karena celana dalamannya tidak memiliki kantung. Apakah Taehyung sudah mengiriminya pesan tentang ini? Apa yang harus dijawabnya ke Mirah sekarang?

“Oh, kebetulan, dong?”

Keduanya mendongak, kaget dan menemukan ibu Mirah yang membuka tum untuk makanannya tersenyum lebar serta ramah. Detik itulah Jeongguk tahu dia akan benar-benar terjebak—dia tidak tahu bagaimana sikap Taehyung mengenai hal ini dan kali terakhir mereka melakukan kencan ganda, mereka berakhir dengan keributan.

Jeongguk yakin jawaban Taehyung adalah tidak, final. Namun jika ibu Mirah memintanya untuk ikut maka Jeongguk sungguh tidak memiliki pilihan lain sama sekali—hatinya mendadak membengkak, terluka oleh rasa tidak enak yang merasuk ke dalam hatinya, membuatnya tidak nyaman. Dia harus menjaga perasaan Taehyung dan keluarga Mirah.

“Sekalian saja kalian pergi bersama mereka, siapa tahu tertular cepat menikah.” Ibu Mirah berdiri di sana, tersenyum lebar dengan piring di tangannya yang isinya baru separuh termakan. “Lihat-lihat kain kebaya, setelan yang bagus—siapa tahu dapat inspirasi, 'kan?”

Jeongguk membuka mulut dan dari sudut matanya, dia juga melihat Mirah membuka mulut namun sebelum keduanya sempat bicara, ayah Mirah memutuskan untuk bergabung sambil menambah lauk ke piringnya.

“Betul itu.” Katanya, menyendok lawar di dekat Jeongguk ke piringnya. “Lagi pula untuk apa menunda-nunda pernikahan? Kalian berdua sudah cukup umur, sudah sama-sama bekerja. Menurut Ajik malah secepatnya saja. Tunggu apa lagi?”

Jeongguk kehilangan nafsu makannya, dia memaksakan tawa kering yang sama sekali tidak natural saat mendorong piring makannya menjauh. Ada gumpalan pahit berduri di tenggorokannya sekarang, tersangkut dan sulit ditelan. Dia meraih gelas minumnya dan meneguk isinya—mengapa semua orang mendadak sangat terobsesi pada pernikahan? Mendesak anak-anak mereka untuk menikah seolah pernikahan sama sekali tidak perlu dilandasi rasa percaya dan cinta yang jelas tidak akan anak mereka dapatkan dari dua bulan perkenalan.

Mereka sungguh ingin anak mereka melompat ke pernikahan begitu saja dengan calon yang sama sekali tidak mereka kenal? Hidup bersamanya seumur hidup ketika mereka yang berpacaran bertahun-tahun saja masih mendapatkan kegagalan?

Ada apa antara generasi orang tua mereka dan pernikahan? Mengapa pernikahan seolah dijadikan standar penilaian betapa bahagia, sempurna, dan bahagianya kehidupan seseorang? Standar keberhasilan mereka sebagai orang tua juga nampaknya.

Maka dia sama sekali tidak menyangka saat Mirah yang menjawab.

“Kami ingin saling mengenal dulu Ajik,” katanya lembut dan menenangkan—nyaris persuasif saat meraih tangan Jeongguk lalu meremasnya. Cincin berlian pertunangan mereka menekan tangan Jeongguk, menyadarkannya atas status yang tidak dikehendakinya ini.

Jeongguk nyaris menyentakkan tangannya dari sentuhan Mirah, syukurlah dia mengendalikan dirinya tepat waktu. Dia menggertakkan rahangnya, menahan diri agar tidak menarik tangannya dari genggaman Mirah. Dia harus berakting dengan maksimal, memainkan perannya sebagai Gung Jeongguk dengan baik hingga hidup takkan pernah berani menantangnya lagi.

“Masih banyak sekali waktu ke depannya, tidak perlu terburu-buru.” Mirah kemudian menatapnya, tatapan itu lagi. Jeongguk bergidik, mendadak gelisah dan takut pada tatapan Mirah.

“Ogek ingin Bli Gung yakin pada segalanya sebelum melangkah.” Katanya dengan tatapan terkunci ke mata Jeongguk yang membalasnya dengan perasaan sedikit gelisah. Lalu dia mendadak mengerjap, seolah baru saja ditampar dan menambahkan.

“Ogek ingin kami berdua yakin sebelum melangkah bersama. Ogek baru mengenal Bli Gung beberapa bulan, tidak perlu terburu-buru.”

Orang tua Mirah berpandangan sebelum menghela napas dan ayahnya nampak sudah menduga jawaban itu dari anaknya. “Kau selalu begitu,” komentarnya tegas namun lembut. “Menunda segalanya demi apa? Ajik tidak tahu.”

“Tapi pergi ke toko kain kebaya tidak terdengar berbahaya sama sekali, 'kan.” Ibu Mirah bergegas menambahkan, mencairkan suasana yang hampir menegang. Nampak bertekad membuat anaknya pergi ke toko itu dan Jeongguk merasa terjebak—sekali lagi merasa tercekik ekspektasi orang-orang padanya.

Maka dia menghela napas, sudahlah. “Ya, Biang.” Katanya kemudian, nyaris dengan nada menyerah karena dia sudah benar-benar kelelahan sekarang—energinya habis, perasaan nyaman dan damai yang didapatkannya tadi karena bekerja sekarang sudah habis tak bersisa.

Dia tidak sanggup menghadapi kekecewaan siapa pun, namun menyadari dia tidak bisa membahagiakan kedua belah pihak sekarang kecuali dia membelah dirinya menjadi dua. Mungkin dia bisa bicara dengan Taehyung? Menjelaskan posisinya dan bagaimana orang tua Mirah tidak mungkin ditolak karena.... mereka orang tua? Jeongguk menghela napas dalam-dalam, merasa pening dan mual. Dia lelah, sungguh sangat lelah hingga dia yakin butuh tidur panjang selama satu tahun untuk membuatnya merasa lebih baik.

“Kami akan pergi ke sana,” dia menatap Mirah yang kedua alisnya terangkat, nampak kaget—tangan mereka masih bertautan di meja dan Jeongguk membenci sensasinya. “Tidak akan ada yang terluka.”

Tidak ada, memang. Setidaknya tidak secara fisik, pikir Jeongguk getir, mempersiapkan dirinya menghadapi amukan Taehyung sekali lagi karena sungguh dia benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.

Jika dia tidak lebur akhir pekan ini, Jeongguk akan sangat bersyukur.


Glosarium