Gourmet Meal 345
Part 2
tw // obsessive and abusive behavior , overprotective .
cw // toxic self-love , dom Taehyung , Taekook interaction with women , skin-ship .
ps. toxic self-love adalah keadaan di mana kamu menyangkal suatu keadaan yg dapat merugikanmu karena sudah terlalu nyaman dengan kondisi yg sekarang. pss. nulis part ini agak melelahkan karena emosi Taehyung bikin gak nyaman banget jadi pelan2 ya bacanya, take care of yourself <3
Taehyung mengerutkan alisnya saat mengamati bagaimana Mirah membantu Jeongguk mengambil makanannya persis sebagaimana Taehyung ingin diperlakukan; dia hanya mendekatkan makanan ke arah Jeongguk dan mengizinkannya mengambil sendiri alih-alih mengambilkannya seperti yang dilakukan Devy pada Taehyung.
Dia ingin diperlakukan seperti itu, bukan bayi yang harus dilayani dan tidak bisa mengambil makanannya sendiri. Mirah memberikan ruang yang cukup untuk Jeongguk mengurus dirinya sendiri tanpa kehilangan kesan hormat pada Jeongguk. Kenapa dia harus sangat sempurna?
Setelah bermain, mereka memutuskan untuk menggelar tikar di tempat landai di ujung taman, di bawah pohon bunga Desember yang belum berbunga dan mulai membuka makanan yang mereka bawa. Semuanya nampak lezat walaupun sudah agak dingin; Mirah memasak makanan cukup untuk mereka berempat dan Taehyung sendiri mengakui bahwa masakannya lezat. Jeongguk duduk di seberangnya, sedang makan dengan Mirah di sisinya yang mengobrol dengan Devy.
Taehyung tadi menyadari bagaimana mereka duduk berdua di dekat restoran dan mengobrol. Juga melihat saat Jeongguk menepuk kepalanya lembut dan mengusap sisi wajahnya dengan gestur yang sangat menyejukkan—mustahil untuk tidak jatuh cinta pada perlakuan lembutnya, pada matanya yang dalam dan teduh, pada tutur kata Jeongguk yang sopan dan hangat.
Itulah yang membuat Taehyung sendiri jatuh cinta. Jeongguk selalu bersikap lembut, penyabar, dan mengalah; sosok yang tidak pernah ada di hidupnya.
Ketika semua orang di sekitarnya memaksa Taehyung menjadi apa yang mereka inginkan, Jeongguk menerimanya. Ketika semua orang menegurnya saat bersikap tidak sesuai dengan kemauan mereka, Jeongguk mengalah. Dia bahkan tidak pernah menaikkan suaranya saat bersama Taehyung. Sesuatu yang sangat asing dan anyar di kehidupan Taehyung. Kelembutan yang baru pernah Taehyung rasakan selama dia hidup.
Maka tidak salah, 'kan, jika dia bersikap sangat overprotektif pada Jeongguk?
“Masakanmu lezat.” Puji Jeongguk tulus, tersenyum pada Mirah saat mereka membereskan tempat-tempat kosong makanan mereka dan membuka plastik. Dia membantu tunangannya membereskan tikar mereka.
Taehyung menatapnya, melirik kedua tangannya yang bekerja—kedua cincinnya terpasang erat di jemarinya. Satu cincin emas pertunangannya dan satu cincin Tiffany mereka. Teringat pertanyaan Mirah tentang kedekatannya dengan Jeongguk tempo waktu dan sejenak berpikir bahwa gadis ini terlalu ikut campur dengan kehidupan pribadi Jeongguk.
Memang apa urusannya dengan Mirah jika mereka dekat? Taehyung mungkin sedang merajuk, tapi memangnya kenapa? Dia berhak merajuk karena Jeongguk miliknya. Dan Mirah sedang bersikap tidak sopan pada miliknya, mendesakkan dirinya seolah dia memiliki Jeongguk.
“Terima kasih, Bli Gung.” Sahut gadis itu, tersenyum lebar—nampak dua kali lebih bahagia daripada pagi tadi dan Taehyung menggertakkan gigi. Pasti karena Jeongguk bersikap baik padanya tadi. Kenapa Jeongguk tidak bisa bersikap biasa saja padanya?
Dia jelas-jelas jatuh cinta pada Jeongguk, kenapa dia tidak memberikan batas pada Mirah sekarang? Kenapa membiarkannya berharap? Matanya melirik cincin emas mereka dengan resah; apakah karena mereka sudah bertunangan sekarang maka Jeongguk berpikir dia akan membuka hatinya untuk Mirah? Lalu melupakan Taehyung?
Dia menggeleng, tidak, tidak. Jeongguk sangat mencintainya, dia tidak bisa hidup tanpa Taehyung. Taehyung sudah melihatnya sendiri dengan mata kepalanya betapa hancurnya Jeongguk saat Taehyung meninggalkannya, dia tidak mungkin melepaskan Taehyung. Dia tidak akan pernah meninggalkan Taehyung—tidak akan pernah.
“Setelah ini kita berangkat ke Amed?” Tanyanya sedikit terlalu ketus, tapi peduli setan. Dia menyela obrolan Jeongguk dengan Mirah dan tatapan sayang Mirah pada Jeongguk—tidak bisakah gadis itu sedikit menyembunyikan perasaannya? Kenapa dia merasa seluruh dunia harus tahu?
Jeongguk menatapnya, kaget dan bingung berkilat di matanya yang teduh saat menyadari nada ketus Taehyung. “Ya,” dia mengangguk, memperhalus suaranya. “Kau sudah ingin ke sana sekarang?” Mendengar permintaan maaf tersirat kental Jeongguk di suaranya yang lembut.
Taehyung diam-diam mendengus senang dan puas saat Jeongguk menaruh perhatian sepenuhnya padanya dan melirik Mirah yang membereskan tempat makan mereka. Berharap gadis itu menyadari posisinya dan jangan main-main pada milik Taehyung.
“Ini baru pukul dua siang,” sahut Devy yang masih mengunyah potongan melon manis sambil membantu Mirah mengunci rantang makanan mereka. “Kita bisa menyelam sebentar lalu menunggu sunset sambil minum bir, benar?”
Alis Taehyung mengerut. “Kau minum bir?” Tanyanya pada Devy, melemparkan tatapan tidak setuju yang membuat gadis itu mengedikkan sebelah bahunya ringan lalu meringis.
“Jika Wigung tidak mengizinkan,” katanya kemudian, melemparkan senyuman simpul pada Taehyung yang memicingkan mata, tidak suka. “Maka aku tidak minum.”
Taehyung mengangguk. “Memang tidak.” Katanya tegas lalu meraih botol minumnya dan meneguk isinya setengah. “Demi kebaikanmu sendiri, kau besok harus dinas pagi, 'kan? Bagaimana jika kau mabuk lalu terlambat bangun?”
Devy berpikir sejenak lalu mengangguk. “Baiklah.” Katanya kemudian, kalem. “Aku ikut kata Wigung saja.”
“Pintar.” Sahut Taehyung seketika, puas saat Devy menuruti keinginannya—puas dengan perasaan dihargai saat seseorang mendengarkan kata-katanya karena Taehyung tidak ingin mendengar gadis itu merajuk besok jika dia terlambat koas.
Mirah mendadak berhenti lalu menatapnya sejenak, mengerutkan alis sebelum bergegas tersenyum dan kembali membereskan tempat makanan mereka sementara Taehyung mengerutkan alis padanya—apa masalah gadis itu padanya sekarang?
Salahkan Taehyung karena selalu bersikap getir pada Mirah. Dia benar-benar membuat Taehyung gelisah kadang kala, belum lagi bayangan bagaimana Jeongguk menggenggam tangannya tadi dan mengusap kepalanya—menatapnya sendu dan dalam.
Tidak ada seorang pun, Taehyung bersumpah, tidak ada seorang pun yang tidak akan jatuh cinta pada tatapan itu. Dan Mirah bukan pengecualian sama sekali apalagi dengan cincin emas melingkar di jemari tangan kiri mereka—mengumumkan komitmen mereka yang walaupun adalah kepura-puraan bagi Jeongguk, namun untuk Mirah dan kedua keluarga besar mereka itu adalah kenyataan.
Taehyung merasa gelisah terbit di dasar perutnya, mendorong perasaan untuk meraih Jeongguk dan meremas tangannya—memastikan lelaki itu masih miliknya, masih mencintainya, masih rela mati untuknya dan belum berpaling ke komitmen baru. Jalan lurus tanpa hambatan ke kehidupan yang lebih mudah dengan menikahi Mirah.
Mereka kemudian bersiap ke Amed yang berjarak sekitar empat puluh menit dari Tirta Gangga setelah Jeongguk menelepon temannya dan memastikan peralatan menyelam mereka sudah disiapkan. Dia berjalan di sisi Taehyung, membiarkan Mirah dan Devy melangkah di depan—nampak sedikit bersalah dan Taehyung puas dengan itu. Sudah seharusnya dia merasa bersalah.
“Kau marah?” Bisiknya saat mereka melangkahi jalan setapak menuju pintu keluar dan Taehyung mendengus di bawah napasnya. “Karena apa?”
Taehyung meliriknya, merasa semakin jengkel. Bagaimana bisa dia bertanya karena apa? “Memangnya kau tidak bisa sedikit lebih biasa saja pada Mirah?” Desisnya dan Jeongguk mengerjap, melirik Mirah di depan mereka—bagian bawah dress-nya berdesir oleh angin.
“Gadis itu jatuh cinta padamu, jika kau terlalu buta untuk melihatnya.” Gerutu Taehyung, menggertakkan giginya berusaha agar tidak membentak karena mereka sedang di tempat umum. “Dan kau malah memberikannya perhatian dan harapan bahwa kalian....” Dia berhenti bicara, menghela napas dalam-dalam. Menenangkan dirinya.
“Punya kesempatan.” Katanya akhirnya setelah menghitung hingga sepuluh lalu menatap Jeongguk, memicingkan matanya dengan jantung berdebar begitu kuat—penuh oleh rasa anxious yang beracun. “Atau... kau memang sengaja melakukannya karena dia punya kesempatan denganmu?”
Jeongguk berhenti melangkah, nampak seperti baru saja ditonjok tepat di ulu hati. Wajahnya pias saat menatap Taehyung yang berhenti beberapa meter di depannya, menatapnya jengkel namun puas karena Jeongguk menyadari apa yang coba dikatakannya.
“Taehyung,” bisiknya lembut—nyaris dikalahkan suara angin dan teriakan anak-anak yang berenang di kolam renang. “Wigung.” Ulangnya, lembut nyaris memohon.
Taehyung mengangkat tangannya, memberi tanda pada Jeongguk untuk berhenti bicara. “Aku tidak mau membicarakannya sekarang. Kita di tempat umum.” Katanya dengan nada tegas lalu melangkah meninggalkan Jeongguk, perasaan puas dan berkuasa mekar di dadanya—membuat adrenalinnya membuncah dan perasaan bahagia aneh mengalir di pembuluh darahnya.
Dia tidak menoleh untuk menyadari Jeongguk menyusulnya beberapa detik kemudian dan rahangnya kencang. Mereka bersidiam selama melangkah ke tempat parkir dan Taehyung mengemudi. Dia masuk ke kursi pengemudi, mengatur kursinya agar sesuai dengan postur tubuhnya saat Jeongguk membuka pintu penumpang di sebelahnya.
“Dayu,” katanya tanpa menoleh, memasang sabuk pengamannya. “Duduk di depan.” Tambahnya lalu memundurkan sedikit kursi pengemudi, tanpa sedikit pun melirik Jeongguk yang membeku di posisinya sebelum dia mengayunkan pintu terbuka, membantu Devy memasuki kursi penumpang.
“Terima kasih, Bli Gung!” Katanya ceria saat menyelipkan dirinya masuk, ekor kuda lembabnya bergoyang saat dia menutup pintunya.
Jeongguk harus tahu Taehyung sedang merajuk. Melihatnya merasa bersalah membuat Taehyung merasa jauh lebih baik.
Maka Jeongguk mundur ke belakang, membuka pintu untuk Mirah sebelum berlari kecil melewati bagian belakang mobil dan duduk di sisi Mirah yang menoleh padanya; Taehyung melirik dari spion tengah, menyadari gadis itu membantu Jeongguk melicinkan sabuk pengaman sebelum memasukkannya ke metal pengaman. Memicingkan mata dengan jengkel, dia baru saja memberi tahu Jeongguk agar tidak bersikap baik pada Mirah.
Dan sekarang dia berterima kasih pada Mirah dengan suara lembut dan tatapan meneduhkan yang bisa menenggelamkan siapa saja di matanya yang gelap itu. Taehyung menggertakkan giginya saat menyalakan mesin mobil dan meluncur melewati jalan teduh Abang ke arah Amed yang diapit persawahan serta udara pedesaan yang segar. Mulai menyesal karena meminta Devy duduk di sebelahnya karena berarti Mirah dan Jeongguk mengobrol di belakang dan mereka sengaja merendahkan suara mereka sehingga Taehyung tidak bisa mendengarnya sama sekali.
Jeongguk mengatakan sesuatu dan Mirah tertawa, suara tawanya lembut sekali—berdenting seperti genta angin. Wajahnya merona dengan kebahagiaan murni berkilau di matanya. Dia menatap Jeongguk yang tidak menatapnya dengan pupil mata membesar oleh rasa bahagia, mendengarkan kalimatnya dengan penuh perhatian dan ketertarikan. Taehyung menghela napas dalam-dalam beberapa kali, menginjak gas lebih dalam dari yang seharusnya dilakukannya. Kenapa dia setuju pada ide bodoh kencan ganda ini hanya untuk melihat Jeongguk bermesraan dengan Mirah?
Dia menggenggam kemudinya lebih kencang lagi.
“Wigung,” kata Devy, menyandarkan diri di kursi penumpang. Angin menerbangkan anak rambut di wajahnya, memberikan aroma persawahan segar ke dalam mobil. “Nanti saat menyelam, pegangi Ayu, ya?” Dia menoleh, tersenyum lebar pada Taehyung dan pemuda itu, terlepas dari rasa jengkel yang bercokol di jantungnya, membalas senyumannya.
“Tentu, tentu.” Sahutnya, mengulurkan tangan dan menepuk kepalanya lalu mengusapnya turun—meraih ekor kudanya dan menariknya lembut. Memangnya hanya Jeongguk yang bisa begitu? “Kau sama sekali tidak bisa berenang?”
Devy meringis, mengedikkan bahunya—anak baik Devy itu, Taehyung akan sangat mengapresiasinya jika bisa menjadi adik kandungnya. “Bisa, tapi tidak terlalu lancar. Jadi mungkin harus dibimbing.” Dia menelengkan wajahnya, nyengir dan Taehyung mendenguskan senyuman kecil.
“Baiklah. Tidak masalah sama sekali. Aku akan menjagamu aman.” Katanya, melirik Jeongguk yang menatapnya lewat bayangan di spion tengah mobil.
“Terima kasih, Wigung!”
Dia membalas tatapan Jeongguk sejenak sebelum kembali menatap jalanan di depannya. “Kembali kasih, Ayu.”
Mereka tiba di Amed yang lumayan ramai oleh wisatawan yang juga akan menyelam untuk melihat terumbu karang Amed yang sudah terkenal ke mancanegara. Taehyung memarkir mobilnya, menarik rem tangan sebelum para gadis bergegas keluar dan Jeongguk diam di kursinya, menunggu Taehyung.
“Maafkan aku.” Kata pemuda itu saat Taehyung membuka sabuk pengamannya dan menarik kunci mobil. “Aku tidak tahu apa salahku, tapi maafkan aku. Atas apa pun itu. Tolong, jangan seperti ini.”
Taehyung menghela napas, menolehkan tubuhnya dan menumpukan sikunya di atas sandaran kursi pengemudi. “Aku sudah bilang,” katanya dingin. “Aku tidak mau membicarakan ini di sini sekarang.”
“Wigung sayang,” Jeongguk menghela napas, dia membuka mulutnya dan Taehyung menatapnya—menantang Jeongguk untuk mengatakan apa pun yang ada di kepalanya. Pemuda itu menangkap tatapannya dan menghela napas dalam sekali lagi.
Dan menutup mulutnya, mengalah seketika itu juga.
Dia keluar dari mobil dalam diam dan Taehyung menyusulnya. Mereka melangkah ke arah teman Jeongguk yang sudah menunggu dengan sekeranjang peralatan menyelam serta empat tabung oksigen. Sejenak tidak yakin melepaskan Devy untuk menyelam dan akhirnya setuju saat dia ikut untuk mendampingi jika terjadi sesuatu dengan Devy. Mereka bergegas, menyiapkan diri mengenakan perlengkapan menyelam yang ketat dan membuat risih. Mirah menyelipkan rambutnya ke dalam pakaian menyelamnya, memastikan semua helainya sudah terikat kencang di dalam. Mereka kemudian diberikan arahan, diajari cara untuk menggunakan oksigen mereka agar tidak tersedak dan segala keamanan selama menyelam.
Kemudian, mereka menaiki perahu hingga ke titik menyelam, dibantu untuk mengenakan semua peralatan mereka. Mengecek apakah tabung oksigen mereka bekerja sebelum pemandu mereka terjun dan membantu mereka menceburkan diri. Taehyung menceburkan diri, dengan tabung oksigen menghantam air terlebih dahulu agar cepat tenggelam. Dia menghembuskan sisa napasnya dari hidung agar tubuhnya secara otomatis memberat turun.
Devy sejenak kesulitan menyelam sebelum dia menemukan caranya dan mereka berenang ke dalam air dengan Devy didampingi dua pemandu—Taehyung di sisi kanan dan pemandu di sisi lainnya. Sementara Mirah dan Jeongguk merenang tangkas seperti sepasang duyung—Mirah nampak tangguh berenang mengikuti arus. Taehyung sungguh bertanya-tanya apa yang gadis itu tidak bisa lakukan karena semakin mengenalnya, dia semakin nampak sempurna. Nyaris tidak memiliki kecacatan sedikit saja agar Taehyung bisa membencinya.
Mereka berenang, meluncur ke lingkaran patung penuh terumbu karang karya seniman lokal Karangasem yang dibuat untuk melestarikan terumbu karang. Menikmati pemandangan di dalam sana, berenang bersama ikan-ikan hias yang berhamburan saat mereka mendekat. Anemon-anemon laut bergerak-gerak mengikuti arus air kedalaman. Devy nampak senang dan bersemangat walaupun harus dijaga ketat dengan pemandunya agar tidak naik ke permukaan atau tenggelam. Syukurnya dia bisa sedikit berenang.
Mereka berputar beberapa kali, mengamati terumbu karang dari dekat sebelum berenang kembali ke permukaan. Sudah lumayan sore saat Taehyung selesai membasuh air asin dari tubuhnya, keluar dari kamar mandi umum dengan rambut basah menetes di punggungnya. Jeongguk sedang membantu Mirah memisahkan rambutnya yang kusut sementara Devy di sisinya merekam keadaan sekitar dengan ponselnya. Rasa iri mencengkeram dadanya; teringat bagaimana Jeongguk selalu membantunya memisahkan rambut yang kusut saat rambutnya panjang.
Dan sekarang rambutnya tidak lagi sepanjang itu. Puri terlanjur menginjaknya, selalu memaksanya memotong rambut tiap kali dirasa terlalu panjang. Dia menyentuh rambutnya sendiri, meraih sejumput rambut dan menyadari rambutnya terlalu pendek untuk bisa kusut dengan jengkel. Dia tidak akan mau menerima ajakan kencan ganda mana pun lagi kedepannya.
“Kita makan?” Tanyanya, menyela adegan romantis Jeongguk dan Mirah di depannya dan puas saat Jeongguk bergegas melepaskan rambut Mirah ketika dia mendekat, menjejalkan handuk basah ke tasnya.
“Nanti bau,” keluh Devy pelan lalu bergegas meraihnya, memisahkan handuk basah itu ke kantung plastik terisi pakaian mereka yang basah. “Makan apa kita hari ini?” Tanyanya ceria, mengikat plastik itu.
Jeongguk menatap Taehyung, nampak terluka. “Kita pergi ke restoran Italia di dekat sini?” Tawarnya, menatap kedua perempuan yang mengangguk.
Restoran Italia yang ditawarkan Jeongguk berada di atas bukit yang memiliki pemandangan lepas ke lautan—menyajikan pemandangan matahari terbenam terbaik di sana. Mereka memesan makanan dan juga wine; Jeongguk dan Taehyung masing-masing memesan piza ukuran besar sementara para perempuan memesan pasta. Aroma makanannya lezat saat tiba, hangat dan tajam oleh oregano. Taehyung bisa melihat pastanya merupakan buatan rumah dari teksturnya saat mereka makan.
Mirah mencondongkan tubuhnya sedikit ke Jeongguk, makan dengan sangat rapi dan tenang. Kecantikannya berkilau oleh sinar matahari tenggelam, dia benar-benar seperti peri yang berdenyar oleh serbuknya. Taehyung tidak bisa membencinya, itulah kenapa dia sangat membencinya. Syukurlah Devy di sisinya mengajaknya mengobrol tentang hal-hal remeh yang mengalihkan isi kepalanya dari Jeongguk yang tertawa parau oleh gurauan Mirah.
Kapan terakhir kali Jeongguk tertawa karena Taehyung? Mereka menghabiskan seminggu ini dengan terlalu banyak bertengkar dan Taehyung lelah sekali.
“Oh, ya.” Kata Taehyung kemudian saat meja mereka hening sesaat. “Kau bekerja di mana, Mirah?”
Mirah mendongak dari pastanya, kaget karena diajak bicara sementara Jeongguk di sisinya menatap Taehyung—sedikit takut. Dia seperti seekor anak anjing yang tertekan, berjengit kaget tiap kali Taehyung bersuara.
“Di sekitar Renon, Bli Tjok.” Sahutnya tersenyum ramah, matanya berkilau. “Di bagian Marketing Communication, fokus di branding.”
Taehyung mengangguk-angguk paham seraya meraih sepotong piza, mengizinkan Devy meraih sepotong juga untuk dirinya sendiri setelah menghabiskan fettuccine-nya. “Kenapa tidak memilih bekerja di Australia?” Tanyanya kemudian saat menyingkirkan pinggiran pizanya.
Jika dia dan Jeongguk makan bersama, pemuda itu yang menghabiskan pinggiran pizanya untuk Taehyung karena tidak seperti kebanyakan orang dia sangat menyukai pinggiran piza dan pinggiran roti, sama seperti dia menerima potongan kulit ayam yang Taehyung tidak makan saat tidak bisa mendapatkan dada lembut tanpa tulang dan kulit.
“Sebenarnya,” Mirah tersenyum dan melirik Jeongguk.
Taehyung menangkap ekspresi horor Jeongguk dan menyadari dengan sangat terlambat dia menanyakan hal yang salah.
Dia membuka mulut hendak mengalihkan pembicaraan, namun terlambat karena Mirah melanjutkan seraya menyentuh tangan kiri Jeongguk di meja makan. Dia memainkan cincin tunangan mereka—sejak kapan dia menjadi sangat berani? Taehyung menatapnya, seperti seseorang baru saja menyurukkan selang ke hidungnya dan mengalirkan air ke sana. Jeongguk di sisi Mirah menegang, kaget dengan sentuhan mendadak itu dan nyaris tidak berhasil menahan dirinya agar tidak bangkit karena kaget.
“Aku malah kembali ke Indonesia karena Bli Gung.” Dia tersenyum, membuat wajahnya yang sebulat bulan purnama berkilauan oleh rasa bahagia dan rona merah menyebar di atasnya. “Ajik menawariku perjodohan lalu memberikanku foto Bli Gung. Aku memutuskan pulang karena aku tertarik pada Bli Gung pada pandangan pertama di fotonya.”
Taehyung duduk di sana, terenyak di kursinya merasakan darah surut dari wajahnya. Mirah terdengar sangat ringan dan penuh percaya diri saat mengatakannya, menggunakan ibu jari dan telunjuknya untuk memutar cincin di jemari Jeongguk—nyaris memamerkan Jeongguk sebagai miliknya.
Di hadapan Taehyung.
Devy tertawa di sisinya, “Menggemaskan sekali!” Dia tersenyum lebar. “Aku juga sebenarnya tidak setuju dengan perjodohannya. Tapi saat bertemu Wigung,” dia menoleh ke Taehyung—tersenyum lebar, menggemaskan seperti seekor anak kucing. “Boom!” Katanya mengusap tangan Taehyung yang masih membeku di meja.
“Dia luar biasa.” Katanya dan Mirah tertawa tanpa suara, menutup bibirnya dengan telapak tangan. “Sayang sekali dia memotong rambutnya, padahal itulah yang membuatnya sangat seksi.”
“Benar.” Sahut Jeongguk seketika, jelas tidak berpikir hingga Mirah menoleh menatapnya dengan raut campuran antara senyuman dan ekspresi yang tidak bisa ditebak—kaget? Bingung?
Devy menatap Jeongguk, mengerjap. “Benar apa, Bli?” Tanyanya kikuk, tersenyum canggung karena dia baru saja memuji Taehyung seksi dan Jeongguk membenarkannya.
Dan di belahan dunia heternormatif dan patriarki tempat mereka hidup ini, tidak ada satu pun lelaki yang memuji lelaki lain dengan kata 'seksi'. Jantung Taehyung mencelos dan Jeongguk mengerjap, menyadari kesalahannya dan langsung tertawa.
Taehyung tersanjung karena Jeongguk berpikir dia seksi—oh sangat tersanjung dan akan meminta pemuda itu memujinya begitu saat dia bergerak di atas selangkangan Jeongguk, namun tidak sekarang ketika kedua perempuan yang dijodohkan dengan mereka bisa mendengarnya.
“Dia luar biasa.” Kata Jeongguk, merevisi. “Dia sangat berbakat.” Dia menambahkan tawa canggung di kalimatnya—nampak panik dan Taehyung menggertakkan rahangnya. “Kau tahu tidak, dia punya tiga resep yang dimasak di semua Alila di seluruh Indonesia dengan namanya berada di plakat?” Dia mengalihkan pembicaraan dengan mulus.
“Itulah kenapa aku belajar sangat banyak dari Wigung. Dia senior dan sangat berbakat, mendidikku banyak hal tentang memimpin dapur dan menjadi kepalanya. Dia luar biasa, ya. Aku setuju.”
Jeongguk mulai meracau panik sekarang dan Taehyung menendang tulang keringnya di bawah meja hingga Jeongguk meringis kaget namun berhasil membuatnya tutup mulut. Namun dia berhasil mengalihkan pandangan kedua perempuan itu ke topik baru.
Devy terkesiap dan menoleh ke Taehyung. “Kenapa Wigung tidak cerita?” Tanyanya.
Taehyug melirik Jeongguk, tegang sebelum tersenyum kaku. “Tidak penting.” Sahutnya dan Devy mengerang.
“Lihat!” Katanya pada Mirah yang menatap keduanya bergantian hingga perut Taehyung terasa mulas—Jeongguk keceplosan dan dia benar-benar meletakkan mereka berdua dalam masalah.
“Semakin hari, dia semakin membuatku jatuh cinta.”
Taehyung seketika menahan napasnya, seolah seseorang baru saja menendang perutnya karena bagaimana ringannya Devy melemparkan kata cinta di meja makan. Taehyung dan Jeongguk bertukar pandangan sementara kedua perempuan mereka tertawa, menceritakan bagaimana pendapat mereka tentang kedua pasangan mereka—memuji pekerjaan mereka dan bagaimana keduanya merasa chef bukan berarti harus selalu memasak.
Jika kedua chef itu heteroseksual, mungkin kedua perempuan itu adalah pasangan paling sempurna. Namun karena mereka adalah seorang homoseksual, pengertian itu sama sekali tidak dibutuhkan.
Taehyung menyadari bahwa mereka mungkin terjebak dalam masalah yang jauh lebih rumit dari apa yang dipikirkannya.
*