Gourmet Meal 342

Part 1


tw // inferiority , passive personality , self-doubt , toxic relationship .

cw // taekook interaction with woman , skin-ships .

ps. tolong. jaga. komentar. kalian.


Jeongguk berpikir suasana di dalam mobil akan sangat kikuk karena inilah pertama kalinya dia dan Taehyung membawa kedua perempuan itu ke dalam perjalanan mereka. Bukan ide yang disukai Jeongguk sama sekali, sungguh. Namun Taehyung nampak sama sekali tidak keberatan dengan itu sama sekali dan Devy sangat bisa diandalkan untuk membangun suasana ceria dan positif.

Mereka semua berada di Yaris Jeongguk, Taehyung di sisinya sementara para perempuan di belakang tertawa ceria sambil menunduk ke layar ponsel mereka membicarakan akun gosip yang membuat kepala Jeongguk agak pening karena dia sungguh tidak tertarik membicarakan kehidupan orang lain. Namun keduanya nampak sangat bahagia maka dia mengabaikannya.

Hari Sabtu yang cerah dengan langit sebiru permen dan awan tipis menggantung rendah di beberapa tempat. Taehyung tiba di Puri pukul sembilan pagi bersamaan dengan Mirah yang dijemputnya dari Griya neneknya membawa keranjang terisi makanan yang beraroma lezat bumbu. Mereka langsung berangkat setelah Taehyung menerima pujian dan tepukan hangat penuh rindu dari ayahnya—meminta pemuda itu datang menginap lagi dan walaupun hatinya nyeri karena ayahnya sangat menyukai Taehyung dengan cara yang seharusnya dilakukannya pada anak kandungnya, Jeongguk senang.

Mereka memiliki 'izin' ayahnya untuk menginap di Puri dan akses masuk tak terbatas untuk Taehyung yang membuat keduanya bertukar pandang diam-diam. Yugyeom melirik keduanya seraya menyeruput cokelat yang dibuatnya sendiri dari kamarnya; tahu apa yang akan dilakukan kakaknya jika 'kekasih'nya datang ke Puri dan memilih diam. Jeongguk suka adiknya, sangat menyukainya. Dia memang menyukai adiknya namun setelah penerimaannya yang luar biasa pada orientasi seksualnya, dia merasakan ledakan rasa sayang lain yang lebih hebat.

Melihatnya berinteraksi dengan Taehyung membuat hati Jeongguk hangat.

Makanan di bagasi belakang tercium lezat sekali; Mirah memasak ayam dan ikan dari aromanya, dengan sambal kecombrang yang harum menggugah selera. Dia juga sepertinya memasak serombotan untuk Taehyung karena Jeongguk mendengar keduanya mendiskusikan itu. Dia tersentuh pada bagaimana keduanya sangat memerhatikan hal-hal kecil tentangnya dan Taehyung hingga titik dia merasa tidak enak hati karena tidak bisa membalas perasaan tulus itu.

Kedua tangannya berada di roda kemudi, mengenakan kedua cincinnya agar tidak ada yang marah padanya.

Namun entah bagaimana cincin di tangan kirinya terasa sangat berat dan janggal sementara kekasihnya duduk di kursi penumpang, menumpukan sikunya di jendela yang terbuka—rambutnya terbang meriap di atas tengkuknya oleh angin. Nampak berada di suasana hati yang baik setelah bertukar high five dengan Yugyeom—dia suka melihat interaksi Taehyung dengan adiknya, tidak keberatan sama sekali berbagi saudara dengan Taehyung.

“Aku sudah menghubungi temanku di Amed,” kata Jeongguk saat mereka meluncur ke arah Abang, ke Tirta Gangga—lokasi pertama mereka hari itu. “Mereka sudah menyiapkan segalanya untuk kita lalu aku juga sudah memesan meja di restoran di dekat sana, tempat terbaik untuk sunset.” Tambahnya saat memasang sein dan membelok.

“Maaf, Bli Gung,” Devy menjawab dari belakang dan Jeongguk melirik spion tengah mobilnya untuk melihat ekspresinya. “Tapi saya tidak bisa berenang?”

Jeongguk tersenyum, memfokuskan pandangannya ke jalanan yang berkelok ke arah Abang. “Tenang saja, ada diver pendamping yang akan menemanimu.” Tambahnya sebelum melirik Taehyung, berpikir apakah lelaki itu akan menawarkan diri untuk menemani Devy berenang atau tidak.

“Aku yang menemanimu.” Katanya persis setelah Jeongguk berhenti berpikir dan dia menghela napas—mereka memang harus melakukan peran mereka sendiri-sendiri sebagai 'calon suami' yang baik bagi keduanya. Memastikan para perempuan cukup bahagia dan merasa dicintai sehingga tidak menambah masalah di Puri.

Pertanyaannya hanyalah, sampai kapan mereka harus terus begini?

Jeongguk menatap jalanan di depannya, mendengarkan Taehyung menghibur Devy tentang berenang menyelam tanpa tabung oksigen dan bagaimana itu semua aman tergantung bagaimana dia menahan napasnya. Mendengarkan bagaimana dia akan 'menjaga Devy aman' dan merasakan denyutan aneh di dadanya—apakah seharian ini dia akan menyaksikan Taehyung menyentuh Devy?

Dia tidak pernah memikirkannya, selama ini konsep tentang Devy selalu samar dan abstrak di kepalanya. Nyaris seolah gadis itu hanyalah karakter fiksi yang diciptakan Taehyung, tidak nyata sama sekali. Namun saat akhirnya melihatnya, dan menyadari betapa dia nampak sangat ceria dan penuh percaya diri membuat Jeongguk sejenak merenung. Dan sekarang dia mungkin akan menyaksikan Taehyung menjaga dan mengurus anak itu—seperti seorang calon suami yang baik.

Dia mulai menyesali keputusannya menyetujui kencan ganda ini.

Genggaman Jeongguk di roda kemudi sedikit mengencang, merasa tidak nyaman. Apalagi setelah pertengkaran mereka beberapa hari lalu mengenai cincin—Jeongguk terbelah antara ingin membahagiakan Taehyung, menuruti apa yang diinginkannya, apa saja agar dia tidak marah dan mulai meracau tentang pergi dari hidupnya serta kenyataan bahwa Mirah mulai menyadari satu-dua hal.

Dia gadis cerdas, menghabiskan beberapa tahun di Australia. Jeongguk yakin dia familier dengan LGBTQ di sana, komunitas yang mulai membesar dan berjuang untuk hak mereka. Pertanyaannya tentang seberapa dekatnya Jeongguk dengan Taehyung membuatnya sedikit ketakutan; tidak berani membayangkan jika gadis itu menyadarinya dan membawa masalah itu langsung ke ayah Jeongguk alih-alih ke Jeongguk sendiri.

Dia benar-benar berharap—sungguh berharap Taehyung bisa sejenak berhenti dan mendengarkannya. Tidakkah dia menyadari bahaya apa yang mengintai mereka berdua sekarang dengan kecurigaan Mirah padanya? Pertanyaan menjurus yang membuat Jeongguk mulas dan ketakutan. Atau Taehyung hanya fokus pada keegoisannya sendiri tentang memiliki Jeongguk?

Jeongguk melirik cincin Tiffany mereka yang berkilauan di jari kanannya. Dia tidak pernah mengenakan aksesoris selama ini—mengganggunya saat bekerja dan kedua orang tuanya tahu itu. Maka diam-diam, setiap bertemu keluarganya di meja makan Jeongguk melepas cincin itu. Berharap Taehyung tidak akan pernah tahu karena secinta apa pun dia pada Taehyung, dia belum siap menghadapi keluarganya demi memperjuangkan orientasi seksualnya.

Secara konstan dia merasa dirinya terbelah, menjadi Jeongguk yang diinginkan Purinya; heteroseksual dan penurut. Jeongguk yang diinginkan Taehyung; homoseksual dan penurut, menyayanginya dan memastikan Taehyung mendapat segala hal yang terbaik di dunia ini. Jeongguk yang dibutuhkan adiknya; figur kakak yang baik, mencontohkan pada Yugyeom bagaimana menghadapi kehidupan.

Jeongguk yang diinginkan Mirah; calon suami yang akan membahagiakannya, peran terberat dalam hidupnya sejauh ini karena dia harus memaksakan ketertarikan dan sentuhan fisik saat dia sama sekali tidak nyaman dengan itu.

Nyaris tidak ada ruang untuk dirinya sendiri, Jeongguk yang dirinya sendiri inginkan. Dia bahkan tidak yakin apa yang dirinya sendiri inginkan pada titik ini, dia terbiasa menerima ekspektasi dari orang-orang di sekitarnya. Terbiasa belajar mengikuti permintaan orang tentang bagaimana dia seharusnya bersikap dan nyaman dengan itu. Terbiasa dengan bagaimana orang-orang yang tidak menanyakan apa yang diinginkan Jeongguk, namun memberi tahu Jeongguk apa yang mereka inginkan dari Jeongguk.

Melelahkan, namun dia lebih memilih mengikutinya daripada harus memikirkan apa yang harus dilakukannya sendirian. Setidaknya, dia tidak akan tersesat jika menuruti apa yang orang katakan untuknya, 'kan? Mereka akan selalu memberikan jalan keluar untuk Jeongguk jika segalanya tidak berjalan baik. Jeongguk aman, tidak akan ada satu hal buruk pun yang terjadi jika dia menurut pada keinginan semua orang.

Taman Air Tirta Gangga cukup ramai hari itu, hari Sabtu yang cerah. Mereka turun, beriringan menuju pintu masuk dengan keranjang makanan di tangan Jeongguk dan Mirah di sisinya—nampak cantik dengan vintage flower dress bertali spageti yang memamerkan bahu porselennya yang mungil, menonjolkan bentuk tubuhnya yang menggemaskan dengan rambut diikat tinggi di atas kepalanya. Dia banyak tersenyum hari ini, wajahnya merona di bawah perona pipinya dengan Devy yang tertawa di depan—menyetir keadaan dengan pembawaannya yang riuh.

Devy seperti keceriaan yang hidup dan berjalan, mengenakan setelan katun yang nyaman, memeluk pingang tingginya dengan sempurna. Taehyung di sisinya, tersenyum pada setiap guyonan yang dilemparkan Devy—nyaris tidak berjengit saat gadis itu menyentuh lengannya atau menggenggam tangannya. Nampak sangat natural dalam melakukannya.

Nyaris seperti dia... benar-benar merasakan ketertarikan pada Devy.

Lebih mudah untuknya, 'kan? Karena dia seorang heteroseksual hingga setidaknya tiga-empat bulan lalu?

Jeongguk yang sama sekali tidak nyaman bahkan saat jemarinya dan Mirah bergesekan lembut merasa beban tak kasat mata menghimpit dadanya, merasakan tikaman mengerikan saat Devy menyelipkan jemarinya ke jemari Taehyung, menggenggamnya erat dan mengayunkannya ceria. Persis pasangan bahagia yang normal.

Jeongguk melirik tangan Mirah di sisinya saat Taehyung berhenti di depan loket karcis, hendak membeli tiket. Haruskah dia menggenggamnya? Seperti Taehyung melakukannya ke Devy? Akankah Taehyung marah padanya karena berusaha memainkan perannya sebaik Taehyung melakukannya?

Dia terjebak di kepalanya sendiri, menerawang ke paving block rapi di bawah kaki mereka saat Taehyung menyerukan namanya. Jeongguk tidak mendengarnya, sama sekali hingga akhirnya Mirah menyentuh lengannya dan menunduk—memenuhi pandangannya dengan wajah bulatnya yang kental oleh rasa cemas.

“Bli Gung?” Tanyanya lembut. “Bli Tjok memanggilmu.”

Jeongguk sejenak tertegun oleh wajah itu sebelum mengerjap dan mendongak, menemukan Taehyung menatapnya dengan alis berkerut—tatapan yang seketika mematik rasa ngeri ke dasar perutnya. Apakah Taehyung marah?

“Ya?” Tanyanya.

Taehyung menatapnya sejenak sebelum melanjutkan, “Kata mereka kita tidak perlu membayar tiket masuk karenamu.”

Jeongguk mengerjap, sejenak kebingungan memproses kalimat Taehyung sebelum menghela napas. Tentu saja tidak perlu membayar, tempat ini secara tidak langsung adalah 'milik Puri-nya' sebagai salah satu peninggalan Raja Karangasem. Sebenarnya yang berhak mewarisi tempat ini adalah salah satu sepupunya, namun kadang kala dia mendapat keistimewaan untuk masuk tanpa membayar juga.

“Oh, ya.” Dia bergegas menghampiri loket dan menunduk agar bisa menatap Pecalang Desa Adat yang berjaga di dalam loket. “Terima kasih, Bapak.” Katanya tersenyum ramah. “Tapi saya bayar saja hari ini.” Dia memindahkan keranjang di tangannya lalu merogoh dompetnya di saku belakang celananya.

“Tidak, tidak, Atu Ngurah.” Kata Pecalang itu, bergegas menggeleng dan menggerakkan tangannya—menolak. “Masuk saja, rarisang.” Silakan. Mereka menggangguk-angguk hormat, tersenyum pada Jeongguk dengan dompet terbuka di tangannya. “Nanti malah kami yang dimarah.”

Jeongguk melirik Taehyung yang mengedikkan bahunya. Dia akhirnya menyimpan dompetnya kembali dan tersenyum. “Suksma jika begitu.” Katanya sebelum memimpi teman-temannya memasuki wilayah Tirta Gangga yang ramai.

Tempat itu megah dan luas dengan kolam-kolam raksasa di sekitarnya, ada pancuran di tengah taman serta satu kolam berenang dengan kedalaman lima meter yang sekarang ramai. Di bagian Utara taman, ada sumber mata air yang disucikan dan tidak pernah surut—sumber air mereka. Mereka melangkah beriringan, melewati jalan utama yang hiruk-pikuk oleh pengunjung. Di ujung jalan, ada tanah lapang luas yang terisi banyak orang yang bersantai menikmati angin semilir dan cuaca cerah.

“Makan dulu atau berenang dulu?” Tanya Taehyung saat mereka berhenti di persimpangan—lurus ke tempat piknik atau berbelok ke kanan ke pintu masuk kolam renang yang diberi pagar tinggi.

“Berenang!” Devy menyuarakan pikirannya. “Setelah bermain air pasti lapar, 'kan?” Dia kemudian meraih tangan Taehyung—rileks dan natural sekali. Taehyung sama sekali tidak berjengit oleh sentuhan itu dan hati Jeongguk yang harus menangguhkan sakitnya.

Dia melirik Mirah, tersenyum pada semangat Devy yang sekarang menyeret Taehyung ke arah pintu masuk kolam renang dan pemuda itu mendenguskan senyuman karena tingkah anak itu. Jeongguk menghela napas, merasakan himpitan di dadanya menguat—terbelah antara takut membuat Taehyung marah dan ingin membahagiakan Mirah.

Maka dia mengulurkan tangan, berharap Taehyung tidak akan marah atas ini karena dia hanya melakukan seperti apa yang dilakukan Taehyung. Dia meraih jemari Mirah yang jauh lebih mungil dari yang diingatnya dan menggenggamnya—merasakan gadis itu tersentak kecil oleh sentuhannya serta tatapan kagetnya di sisi wajah Jeongguk.

“Kau mengenakan pakaian berenangmu?” Tanyanya, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar—lecutan rasa takut dan bersalah pada Taehyung yang mencengkeram sisi belakang kepalanya, sejenak membuatnya pusing.

Mirah mengangguk, tersenyum lebih ceria sekarang. “Yap.” Katanya dengan suara sedikit kering karena gugup—Jeongguk bisa merasakan denyut nadinya yang kencang di bawah kulitnya. “Tapi aku tidak ingin terlalu banyak berenang, aku hanya akan duduk di pinggir.”

Jeongguk menatapnya, tersenyum. “Baiklah.” Katanya lalu membimbing gadis itu menaiki undakan dan menyusuri jalan setapak yang rindang ke arah pintu masuk kolam renang.

Dia sedang membiarkan Mirah memasuki gerbang yang hanya muat untuk dilewati satu orang terlebih dahulu, tangannya di atas kepala Mirah—menggenggam erat jemarinya saat Mirah menuruni undakan tinggi ke arah kolam renang, bagian lantainya sedikit licin karena lumut. Dia menunduk, menggumamkan 'hati-hati dengan langkahmu' kepada Mirah, sama sekali tidak menyadari Taehyung yang menatap mereka hingga gadis itu mendarat di lantai dengan aman.

Mata mereka bertemu dan jantung Jeongguk mencelos, nyaris panik saat berusaha melepaskan genggaman tangannya pada Mirah namun tidak yakin karena sekarang mereka melangkah di lantai yang lumayan licin dan Mirah benar-benar menumpukan beban tubuhnya ke Jeongguk, jika dia melepaskannya maka Mirah akan terpeleset.

Dia mengumpat dalam hati—yakin melihat kemarahan berkilat di mata Taehyung.

“Jangan marah,” bisiknya saat dia berenang ke ujung kolam, ke arah Taehyung yang sedang menyeka rambut basahnya naik bersandar di dinding kolam yang berlumut sementara kedua perempuan duduk di pinggir kolam, mengobrol dalam balutan kaus dan celana pendek. “Aku hanya membantunya menuruni tangga, tidak ada apa pun.”

Taehyung sama sekali tidak menatapnya, membersit air dari telinganya dengan menutup hidungnya lalu menghembuskan napas. “Tidak masalah.” Katanya kalem dan entah bagaimana, nada tenangnya membuat Jeongguk semakin takut.

Air berubah dingin di sekitarnya saat kengerian merambat di tulang punggungnya, dia merasa kecil dan benar-benar sendirian. Takut pada amarah Taehyung, takut dia akan melemparkan kata-kata 'pergi' lagi padanya—Jeongguk tidak mau menderita lagi, tidak mau kehilangan Taehyung. Tidak mau.

Taehyung kemudian menatapnya, “Kita memerankan calon suami yang baik, 'kan?” Katanya kemudian. “Aku hanya perlu... membiasakan diri dengan itu.”

Jeongguk membuka mulut, hendak mengatakan bahwa dia hanya mencontoh apa yang dilakukan Taehyung pada Devy namun urung karena dia tidak memiliki energi untuk berdebat sekarang—tidak saat kedua tangan dan kakinya terasa dingin oleh ketakutan. Maka dia menelan argumennya dan mengangguk. Merasa kelelahan, amat lelah.

“Maaf.” Bisiknya, selalu merasa lebih mudah mengalah dan meminta maaf daripada mengatakan apa pun isi hatinya karena dia yakin tidak akan ada yang bisa memahaminya sama sekali. Jauh lebih mudah untuk mengakui saja itu kesalahannya.

Taehyung menghela napas, siap kembali berenang. “Dimaafkan.” Katanya lalu menceburkan diri ke air dan Jeongguk berdiri di sana, di sudut kolam terjauh dari kedua perempuan itu—menatap langit dengan perasaan kosong aneh di hatinya.

Perasaan yang menggerogoti hatinya—beban berat yang menggelayut di dadanya, disertai rasa lelah yang tak kunjung hilang tidak peduli seberapa lamanya dia tidur atau beristirahat. Dia memijat kepalanya—dia kelelahan sekali, entah karena apa. Nyaris seolah kehidupan dihisap dari tubuhnya, padahal bahagianya di sini—berdenyut dan sehat. Taehyung.

“Bli Gung?”

Jeongguk menoleh, menatap Mirah yang duduk di sebelahnya—mereka berpisah sejenak setelah menitipkan makanan mereka di salah satu Pecalang yang berjaga, satu lagi hak istimewa Jeongguk sebagai keluarga Puri. Devy yang meminta waktu berpisah, menikmati waktu pribadi mereka. Keduanya sedang menikmati batu lompat di kolam di bawah mereka sementara Jeongguk duduk di salah satu bangku beton di bawah pohon rindang.

Mirah menjulurkan kakinya yang terbalut sendal bertali rumit hingga ke betisnya. “Aku boleh mengatakan sesuatu?” Tanyanya kemudian setelah sejenak ragu.

Jeongguk mengangguk. “Tentu.” Katanya kalem. “Apa itu?”

Mirah menatap kakinya saat melanjutkan. “Aku menyukai Bli Gung.” Ujarnya tegas dan jelas hingga Jeongguk sejenak tertegun pada betapa percaya dirinya dia saat mengatakannya; jernih dan lantang. “Aku menyetujui perjodohan ini karena aku tertarik pada Bli Gung. Aku setuju pulang ke Bali karena perjodohan ini.”

Jeongguk menoleh, menatap Mirah dengan rambut setengah basah yang meriap di punggungnya—menatap lurus ke depannya saat mengutarakan isi hatinya. Gadis itu mengayunkan kakinya, nampak rileks dan nyaman dengan suasana di sekitarnya. Tidak yakin bagaimana dia harus menjawabnya karena dia sama sekali tidak menyetujui perjodohan itu dan hanya.... mengikuti apa saja yang diputuskan orang untuk kehidupannya. Agar mereka semua berhenti merongrong Jeongguk.

Namun dia tidak perlu berusaha karena Mirah melanjutkan, “Mungkin Bli Gung belum tertarik padaku,” dia menatap jemari kakinya sendiri—menggerakkannya. “Tidak apa-apa.” Tambahnya lalu menatap Jeongguk yang terkesiap kecil saat mata bulatnya bersirobok dengan tatapan Jeongguk.

Dia tersenyum, wajahnya yang sebulat bulan purnama bersinar oleh rasa bahagia tulus yang menikamkan rasa sakit baru ke dada Jeongguk. Apa yang harus dilakukannya pada gadis ini?

“Aku akan berjuang, menjadi apa yang mungkin Bli Gung butuhkan dari seorang pendamping.” Tambahnya, tidak melepaskan tatapannya sama sekali dari Jeongguk saat mengutarakannya. “Aku hanya ingin Bli Gung memberikanku kesempatan untuk berdinamika bersama, untuk bertumbuh bersama—mencoba menjadi pasangan yang mungkin tidak sempurna, tapi aku berkenan berusaha.”

Dia membuka mulut lagi, sekarang sedikit merona. “Maaf karena kemarin,” dia mengaitkan rambutnya ke balik telinganya yang dihiasi anting permata yang berkilauan oleh sinar matahari. “Melemparkan kata cinta begitu saja tanpa aba-aba karena aku merasa,” dia menyentuh dadanya sendiri.

“Perasaan yang kumiliki untuk Bli Gung saat ini membuatku sesak sekali.” Dia mengusap dadanya, berusaha meredakan apa pun itu yang bergolak di sana sementara di sisinya Jeongguk membeku—takut dan panik merambat di kakinya, seperti ratusan laba-laba yang merangkak di kulitnya dengan kaki-kaki mungil berbulu mereka.

“Terlalu sesak hingga aku takut dadaku meledak karena menahannya. Aku tidak pernah berekspektasi apa pun tentang lelaki pilihan Ajik karena aku tahu biasanya beliau akan memilih lelaki yang dia sukai alih-alih yang kusukai.” Mirah menyeka rambutnya kembali ke balik bahunya.

“Namun saat bertemu Bli Gung secara langsung dan menyadari bahwa sikap Bli Gung sangat... lembut, aku merasa.... Perjodohan ini mungkin sama sekali tidak buruk.” Dia mendongak, tersenyum pada Jeongguk yang yakin jantungnya berhenti berdetak sama sekali.

“Apa yang ingin kukatakan sekarang adalah tidak masalah jika Bli Gung belum mencintaiku sebesar aku mencintai Bli Gung, selama ada ruang untukku mencoba maka akan kucoba.”

Senyuman Mirah selanjutnya mengirimkan tikaman rasa takut yang luar biasa ke kepala Jeongguk. Dia nampak sangat tulus, sangat berbahagia dan sangat percaya diri dengan perasaannya—nampak sangat cantik dengan wajah yang dilapisi riasan tipis natural. Bahagia memberikan kecantikan anyar yang magis di wajahnya. Dia menatap Jeongguk, tersenyum lebar walaupun pipinya merona karena malu dan Jeongguk menghela napas.

Menyadari, dengan teramat pedih, bahwa sekuat apa pun Mirah berusaha dia tidak akan mendapatkan hal yang dibutuhkannya—tidak dari Jeongguk. Namun dia mengangkat tangannya, menepuk kepala Mirah dengan hati berdenyut pedih dan memaksakan senyuman palsu yang sudah dikuasainya dengan baik. Dia tersenyum, berduka atas cinta yang dia tahu tidak bisa dibalasnya sama sekali.

“Kau gadis yang luar biasa.” Bisiknya, nyaris tidak mengenali suaranya sendiri saat menatap Mirah yang tersenyum. “Kau baik, sopan, pintar, dan mandiri.” Dia merasakan betapa benarnya pujian itu di lidahnya—Mirah memang baik, sopan, pintar dan mandiri.

“Kau layak berbahagia.” Dia mengaitkan rambut Mirah di balik telinganya dan mengusap sisi kepalanya dengan lembut. “Kau layak dicintai dan layak dibahagiakan.” Oleh pemuda yang mencintaimu dan itu bukan aku, sama sekali bukan.

Namun Jeongguk menelan sisa kalimatnya, membiarkan kata-kata itu melayang di antara mereka saat dia menarik tangannya turun dari wajah Mirah dan menghela napas, menahan rasa bersalah getir yang menyeruak di dadanya. Dia kebingungan sekarang—tidak yakin apa yang harus dilakukannya dengan perasaan tercabik yang melelahkan.

Dia menatap Taehyung yang berdiri di tengah kolam, tersenyum lebar pada tingkah konyol Devy di hadapannya.

Di sisinya, ada seorang gadis yang menawarkan hatinya sepenuhnya untuk Jeongguk—siap mencintainya sepenuh hati, mengabdikan diri untuk Jeongguk dan keluarga mereka nanti, jalan pintas yang akan membuat seluruh hidup Jeongguk lancar dan baik-baik saja.

Tetapi hatinya berdenyut oleh cinta lain, yang jauh lebih kuat dan magis. Untuk lelaki yang berdiri beberapa meter di bawahnya, tertawa ceria. Jeongguk hidup untuk tawa itu, untuk senyuman itu, untuk bahagia pemuda itu.

Dia hidup untuk bahagia Taehyung.

“Kau akan bahagia, Mirah.” Katanya lagi, matanya tidak melepaskan diri dari Taehyung yang mengulurkan tangan—menggerutu saat Devy menolak melakukan apa yang diinginkannya.

Dan membiarkan sisa kalimat, “tidak bersamaku.” tetap tak terkatakan karena dia belum siap menyakiti Mirah.

Mungkin tidak akan pernah siap.

*