Gourmet Meal 408
tw // excess thought , self-esteem issue , insecurity , doubt , passive behavior , implied homophobia .
cw // bottom on top .
ps. this is not the sex scene you want <3 pss. please excuse the typo im tired huhu x
“Wigung.”
Nada memperingatkan lembut, itu baru.
Taehyung menoleh, menggenggam ponsel Jeongguk di tangannya sementara kekasihnya terjepit di bawah tubuhnya lalu mengulaskan senyuman lebar. Taehyung berbaring di atas tubuh Jeongguk dengan punggungnya, menikmati pelukan Jeongguk dan kecupan lembut di bahunya yang telanjang—menikmati hidup saat ponsel Jeongguk yang berada di dalam kantung celana jinsnya yang ada di lantai berbunyi. Mereka kemudian menghabiskan beberapa menit saling berebut ponsel untuk bergantian membalas pesan Mirah dan Taehyung nyatanya menikmati waktunya membuat Jeongguk jengkel karena pemuda itu nyaris mustahil dibuat jengkel.
Sekarang dia duduk di atas perut Jeongguk yang mendesah, setengah jengkel dan selebihnya geli sementara Taehyung mengetik balasan untuk Mirah. Dia berdecak, mencibir ke layar ponsel Jeongguk.
“Dia selalu mengucapkan 'I love you' seagresif ini padamu, ya?” Katanya mengerutkan alis dan Jeongguk mengusap tubuhnya lembut, mengecupi telapak tangannya dengan bibirnya yang empuk dan lembab.
Mereka berhasil bicara, membuat kesepakatan bahwa jika mereka memutuskan sesuatu yang akan menyakiti satu sama lain, mereka harus menjelaskan. Tidak boleh didahului dengan maaf atau ngambek, seperti yang digunakan Taehyung tadi. Harus mengirimkan penjelasan selengkap-lengkapnya sebagai dasar kompromi. Setelah setuju, Taehyung langsung berguling menindih Jeongguk dan mengajaknya bercinta.
“Aku sudah jadi anak baik dengan menurut, mendengarkanmu. Maka aku layak dapat hadiah.” Gerutunya pada Jeongguk yang terkekeh di bawahnya lalu meraih tengkuknya—memaksanya merunduk dan menciumnya.
“Baiklah,” katanya dalam dan parau hingga seluruh tubuh Taehyung meremang oleh suaranya yang merayap di atas kulitnya seperti seekor laba-laba. “Aku akan memberimu hadiah.” Dan sungguh memberikan seks luar biasa pada Taehyung hingga dia sungguh mendengkur keras saat orgasme.
Tadi sembari menunggunya pulang, Taehyung menghabiskan waktu bersama ayah Jeongguk dan Jeongguk menemukannya sedang mendengarkan ayahnya menceritakan sejarah dua burung kakak tua yang mereka pelihara lalu menyelamatkan Taehyung dari kebosanan. Setelah mengalahkan Yugyeom dalam tiga permainan di Playstation, mereka akhirnya mendapatkan waktu pribadi berdua dengan pintu terkunci.
“Begitulah.” Sahut Jeongguk, melipat satu lengannya di bawah kepalanya dan mengamati Taehyung yang memicingkan mata membaca riwayat obrolannya dengan Mirah. “Aku biasanya mengabaikannya saja atau membalasnya dengan emoji.”
Taehyung mengangguk, matanya terpancang ke layar. “Ya, aku bisa lihat itu.” Gumamnya lalu kemudian mengedikkan bahu dan melempar ponselnya ke ranjang sebelum merunduk—menumpukan kedua lengannya di sisi kepala Jeongguk yang tersenyum, setengah mengantuk.
“Tapi aku tidak peduli,” Taehyung mengecup ujung hidung Jeongguk. “Dia bisa melemparkan semua kata cinta padamu, tapi tidak bisa menikmati seks luar biasa ini.”
Jeongguk terkekeh parau, membelai rambut Taehyung sayang. “Kau tahu tidak,” gumamnya lalu mendesah panjang saat Taehyung mengecup titik di balik cuping telingannya. “Perubahan suasana hatimu membuatku ngeri.”
“Sungguh?” Tanya Taehyung di atas kulitnya dan tersenyum puas saat Jeongguk mendesah. “Kupikir mudah sekali kok, menebaknya. Beri saja aku seks, maka aku akan jadi semanis anak anjing. Aku ini 90% hormon untukmu.”
Jeongguk menatap Taehyung setengah geli dan menghela napas—di saat seperti ini, ketika dia bersikap sangat manis mudah sekali bagi Jeongguk untuk mencintainya. Merasa seperti ada beban berat yang terangkat dari bahunya, membuat sakit yang mencengkeram kepala belakangnya melonggar dan lenyap. Namun berharap Taehyung bisa menjadi manis setiap hari mungkin mustahil. Dia mengulurkan tangan, menyisir rambut Taehyung dengan jemarinya.
Dia begitu mencintai Taehyung hingga dia sendiri takut pada kekuatan perasaan itu. Namun dia juga begitu lelah—terhimpit oleh begitu banyak ekspektasi yang diberikan orang padanya. Semua tanggung jawab yang dibebankan keluarganya untuknya; nama, Puri, martabat keluarga. Penikahan dengan Mirah. Pekerjaannya yang semakin memusingkan. Lalu sekarang Taehyung.
Jeongguk yang memilih Taehyung, dia sangat menyadari ini. Dialah yang mencintai Taehyung dan memperjuangkan kepercayaan Taehyung untuknya—menjadikan Taehyung miliknya. Mungkin terdengar sangat kurang ajar jika kemudian dia yang lelah dan ingin menyerah. Namun semakin dia berusaha memikirkan hubungan mereka, semakin buntu semuanya terasa.
Hal-hal yang membuat Jeongguk berpikir—apakah ini memang layak diperjuangkan?
Dia memejamkan mata, mendesah kecil saat Taehyung menggigit lehernya lembut dengan kepala berputar dengan begitu banyak pikiran lain. Termasuk kedua desakan pernikahan yang mereka terima; dengan desakan itu, lingkungan mereka sedang menekankan betapa tidak ada ruang untuk orientasi seksual baru mereka. Jeongguk mendesis lembut saat Taehyung menjilat turun.
Tidak dapat dipungkiri bahwa bom pertamanya adalah desakan kedua orang tua Devy atas pernikahan mereka. Keraguan merangkak masuk ke dalam tubuh Jeongguk dengan perlahan, menjerat semua organnya lalu menguasai otaknya. Dia sangat ketakutan. Layakkah dia mendapatkan pengorbanan Taehyung? Lelaki itu siap melepaskan kastanya, melepaskan Puri-nya, melepaskan segalanya demi Jeongguk dan apakah dia layak mendapatkan ini?
Bisakah Jeongguk membahagiakan Taehyung nantinya? Membuat segala pengorbanannya layak dengan bahagia yang berkelimpahan? Jeongguk mendadak tidak percaya diri sama sekali; besarnya harga yang dibayar Taehyung demi mereka membuatnya gelisah dan takut. Bisakah dia sungguh membahagiakan Taehyung? Membeli rumah tepi pantai dan mengadopsi lima ekor anjing ras mungkin bukan masalah sama sekali—Jeongguk yakin secara materi, mereka lebih dari mampu.
Emosilah yang dikhawatirkan Jeongguk. Selama ini dia selalu membuat Taehyung jengkel, membuatnya lelah, membuatnya marah; apakah dia bisa berhenti membuat Taehyung jengkel, lelah, dan marah jika akhirnya mereka bersama? Bagaimana jika nantinya, setelah mereka menjalani waktu bersama Taehyung tiba di titik di mana dia mengatakan:
“Aku menyesal membuang semuanya demi kau, demi hubungan sampah ini.”
Jeongguk bergidik dan sama sekali bukan karena kepala Taehyung yang berada di antara kedua kakinya. Dia ketakutan, sungguh ketakutan. Dia mendesah tertahan, tubuhnya yang malang kebingungan merespons begitu banyak rangsangan dengan kepala yang penuh. Lelaki yang memiliki grafik libido yang melonjak tinggi dengan cepat tidak akan mudah dialihkan isi kepalanya jika sudah menyangkut seks; Taehyung contohnya. Dia mudah sekali dialihkan dengan seks atau hormon.
Namun belakangan ini isi kepala Jeongguk mulai melahapnya hingga dia tidak lagi menikmati kesehariannya, seks dengan Taehyung terasa membingungkan sekarang—bahkan tidak waktunya di dapur.
Dia sering menderita pusing yang menyiksa namun saat pergi ke klinik sepulang kerja, dokter selalu meyakinkannya bahwa fisiknya sehat. Dan Jeongguk selalu pulang dalam keadaan sangat kelelahan hingga beberapa hari ini dia tidak lagi menyempatkan waktu untuk menemani Yugyeom membuat mie instan malam-malam karena dia selalu ketiduran di ranjangnya detik kepalanya menyentuh bantal.
Jeongguk menggeram saat orgasme mendadak membuncah di perutnya. Kepalanya melesak ke bantal, dia meremas rambut Taehyung dan menggeram saat tubuhnya berdenyut—sedikit lagi menuju orgasme. Setelah Taehyung melepas kondomnya yang penuh lalu mengikat dan membuangnya.
“Berhenti menyerangku,” katanya parau saat Taehyung merangkak ceria ke atasnya dan dia membelai wajah Taehyung—rambutnya kusut, menjuntai membentuk tirai di sisi wajahnya yang sewarna zaitun berkilau oleh keringat dalam keremangan lampu tidur Jeongguk.
Dia begitu mencintai Taehyung hingga hatinya nyeri. Dia menangkup wajah Taehyung lalu menciumnya—mengerutkan wajahnya dalam ciumannya saat rasa cinta dan takut kehilangan menyeruak seperti racun yang menyebar di sistem tubuhnya. Langsung melumpuhkan seluruh organ vitalnya. Jantungnya berdebar kuat dan lambat, seolah dia sedang bekerja dalam jeli yang mengurungnya.
Pekerjaannya sedikit kacau, dia berusaha keras mempertahankan ritme bekerjanya. Namun selalu gagal entah karena sengatan rasa sakit mendadak di kepalanya yang membuat dia terkesiap keras lalu membungkuk, ambruk ke lantai dapur dan tersengal atau karena kelelahan ekstrim yang membuat tubuhnya seperti jeli. Namjoon bersikap sangat membantu dengan selalu mengatur jadwal hingga mereka berdua stand by tidak lagi pagi Jeongguk, sore Namjoon karena seringnya Jeongguk harus duduk beristirahat.
Jeongguk mendesah keras, sejenak teralihkan oleh gerakan pinggul Taehyung di tubuhnya. Kedua tangannya mencengkeram pinggul Taehyung, instingnya mendadak mengambil alih pemikiran kacaunya dan menggerakkan Taehyung sesuai apa yang diinginkannya. Dia sama sekali tidak menyadari saat Taehyung memakaikannya kondom dan membalurinya dengan lubrikan; dia bahkan tidak menyadari saat dia mempersiapkan Taehyung.
Sejenak dia tersentak, otaknya kosong. Atau dia melakukannya sendiri? Oh, sialan. Apa yang dilakukannya saat Taehyung mempersiapkan seks mereka? Jeongguk berharap dia tidak termangu-mangu kosong. Namun dari desahan Taehyung, sepertinya Jeongguk tidak nampak menyedihkan.
Maka dia menggerakkan pinggul Taehyung, mempercepatnya hingga Taehyung nyaris melolong karenanya. Jeongguk begitu mencintai Taehyung hingga air mata menyengat matanya.
“Oh.” Bisik Taehyung kemudian dan seketika menghentikan gerakannya. Jeongguk terlambat menyembunyikan air matanya; dia merasakan jejak hangat dan asin air mata di pipinya.
Taehyung menyentuh sudut mata Jeongguk. “Kenapa kau menangis?” Tanyanya lembut, meletakkan kepalanya di atas kepala Jeongguk yang seketika memeluknya erat—menciumi puncak kepalanya, merasakan air mata kembali memeleh dari sudut matanya.
Bodoh, rutuknya pada dirinya sendiri saat air mata meluruh semakin deras. Dia malah merusak seks mereka, merusak malam mereka yang mahal dan langka. Dia berharap Taehyung tidak marah karena dia menangis dan merusak suasana yang menyenangkan.
“Maaf,” katanya parau, berulang-ulang—merasakan sengatan lain di dadanya saat mengatakan maaf. Mulai takut orang-orang tidak lagi menganggap kata maafnya sebagai perkataan yang tulus karena betapa sering dia mengatakannya. Dia takut orang-orang tidak lagi menganggapnya serius meminta maaf padahal dia benar-benar serius.
Begitu banyak ketakutan dan keresahan yang sekarang menyengat kepala Jeongguk, membuatnya pusing. Dia ingin sekali melepas kepalanya, meletakkannya sejenak agar dia tidak berpikir sama sekali. Mematikan fungsi berpikir di otaknya agar dia bisa tidur nyenyak tanpa dibayangi mimpi buruk.
Taehyung menghela napas lembut, mengusap air matanya lalu perlahan turun dari atas tubuhnya dan duduk di sisi kepalanya. Dengan lembut, memindahkan kepala Jeongguk ke pangkuannya. Sikap lembutnya membuat Jeongguk semakin ketakutan; dihantui rasa insecure bahwa dia mungkin tidak akan pernah bisa membahagiakan Taehyung dan dia akan menyesali pengorbanannya.
“Hei, hei,” bisik Taehyung lembut saat tangisan Jeongguk semakin keras. “Apakah aku membuatmu sedih?”
Kebalikannya, Jeongguk ingin mengerang namun malah isakan kecil yang terbit dari bibirnya. Taehyung membuatnya sangat bahagia hingga titik dia ketakutan pada perasaan itu.
“Maaf,” katanya tersendat dan Taehyung terkekeh lembut, mengecup keningnya sayang dan memeluknya semakin erat di pangkuannya.
“Berhenti meminta maaf,” bisiknya di kulit Jeongguk. “Kau tidak melakukan kesalahan apa pun.” Dia mengecup Jeongguk yang memejamkan mata perih—tidak setuju.
Dia punya banyak sekali kesalahan, banyak sekali kekeliruan yang dimaafkan Taehyung dengan sangat murah hati. Banyak sekali saat di mana Jeongguk membuatnya marah dan tersinggung yang dimaafkan. Jeongguk tidak layak mendapatkan Taehyung.
Taehyung benar, dia tidak seharusnya memperjuangkan mereka. Tidak. Jeongguk ketakutan sekali.
Dia kemudian terlelap, dengan jejak air mata dan mata yang panas kelelahan menangis dalam pelukan Taehyung yang mengusap tubuhnya lembut hingga tidur, membisikkan kata-kata menenangkan yang membuat Jeongguk merasa lebih baik. Dia terlelap kelelahan oleh segala emosi dan pikirannya sendiri dalam pelukan satu-satunya manusia yang dicintainya di dunia ini.
Taehyung mendesah, menatap Jeongguk yang lelap di lengannya dengan lega.
Dia tidak tahu apa yang terjadi, mereka sedang melakukan seks hingga tiba-tiba kekasihnya menangis begitu saja. Taehyung nyaris terkena serangan jantung karena kaget—Jeongguk memang sering emosional, namun menangis tersedu-sedu adalah hal baru. Saat wajahnya merah padam dan dia nampak serapuh kelopak lily, barulah Taehyung menyadari betapa kisutnya Jeongguk.
Dia nampak seperti bunga yang melayu dimakan sinar matahari. Kantung matanya begitu gelap, kontras dengan kulit pucatnya. Dia nampak kelelahan, sering kali mendadak termangu-mangu dan kehilangan fokus. Taehyung cemas ada yang salah dengan kekasihnya. Dia kehilangan sinarnya yang biasa selalu membuat Taehyung merasa aman dan nyaman. Jeongguk kehilangan ketenangannya, dia sekarang hanya nampak seperti pekerja kelelahan yang hanya butuh tidur.
Taehyung melirik meja di sisi ranjang yang terisi piring setengah kosong. Jeongguk menolak makan, menurut Yugyeom sudah seminggu sekarang dan tadi Taehyung mencekokinya dengan makanan—memaksanya makan hingga Jeongguk berhasil memasukkan setidaknya setengah isi piring ke perutnya. Dia berpikir jika dia memberikan Jeongguk seks, dia akan merasa lebih baik—karena cara itu selalu berhasil untuk Taehyung. Kekuatan endorfim.
Dia berusaha mengajak Jeongguk bercanda, membuatnya jengkel main-main dengan menggod Mirah namun dia tetap nampak kelelahan. Taehyung mengikat rambutnya, menatap kekasihnya yang lelap di ranjang dengan resah. Apa yang harus dilakukannya? Ini pertama kalinya Jeongguk melonggarkan pertahanan dirinya di depan Taehyung; berhenti bersikap hebat dan superior melindunginya dan sungguh menunjukkan betapa dia hanyalah manusia biasa dengan segala emosinya dan kelemahannya.
“Dia tidur,” kata Yugyeom setelah mereka menyelesaikan permainan Playstation pertama mereka. “Wiktu tidur sepanjang waktu jika tidak bekerja. Mengurung dirinya di kamar dalam keadaan gelap dan kelelahan—selalu kelelahan tidak peduli seberapa lama tidur yang didapatkannya.”
Taehyung membungkuk ke wajah Jeongguk yang damai dan mengusap kulitnya yang lembab dan kenyal setelah menangis dengan jemarinya. Dia mencintai Jeongguk—sangat mencintainya hingga dia siap membuang segalanya detik mereka menemukan celah untuk kabur. Membayangkan bangun dan lelap di sisi Jeongguk selamanya membuatnya mendesah penuh damba—dia menginginkan Jeongguk.
“Wigung,” kata Yugyeom sebelum dia meninggalkan kamar saat Jeongguk mandi. Dia menatap Taehyung cemas, melirik pintu kamar mandi lalu kembali menatap Taehyung. “Tolong Wiktu.” Bisiknya, gemetar. “Selamatkan Wiktu. Buat dia bicara, buat dia... Mengatakan apa pun itu yang ada di kepalanya. Menyiksa sekali melihatnya begini.”
Taehyung menatap Yugyeom, skeptis. Namun menghela napas dan mengangguk. “Akan kucoba.” Katanya, tidak berani menjanjikan apa pun.
Taehyung menyentuh kening Jeongguk—hangat, namun dalam batas normal. Dia kemudian mendesah. Apa yang salah dengan Jeongguk? Dia mengusap rambutnya sayang, menyentuh keningnya dan menempelkan kening mereka—memejamkan mata. Dia kemudian beranjak ke sisinya, memeluk Jeongguk—tidak repot mengenakan pakaiannya karena mereka selalu mengunci pintu dan memeluk Jeongguk di bawah selimut.
“Aku mencintaimu.” Bisiknya lembut, mengecup leher Jeongguk sebelum lelap dalam kungkungan aroma tubuh Jeongguk yang luar biasa.
Dia baru saja terlelap, atau mungkin begitulah otaknya yang linglung memberi tahunya saat suara terkesiap keras disertai seruan namanya dengan lantang membuatnya mendadak terbangun. Dia langsung bertemu mata dengan Jeongguk. Air mata berderai di wajahnya dan dia terguncang—wajahnya sepucat seprai dan matanya bergerak liar saat dia tersedu-sedu. Jantung Taehyung mencelos dan napas seolah disedot habis dari paru-parunya saat melihat ekspresi Jeongguk yang seolah baru saja melihat setan.
“Wigung, Wigung?” Gumamnya berulang-ulang, gemetar dan panik—tubuhnya gemetar hebat, menggigil oleh ketakutan.
“Hei,” Taehyung seketika terjaga, cemas dan panik saat dia meraih Jeongguk ke dalam pelukannya. Merasakan gemetarnya yang hebat dalam kedua lengannya hingga hatinya perih. “Kau mimpi buruk?” Tanyanya lembut.
Napas Jeongguk terdengar memburu. Dia memeluk Taehyung erat hingga sejenak Taehyung tercekik sebelum menciumi wajahnya dengan rakus. Bibirnya kering dan dingin, tubuh Jeongguk dingin. Tangannya menyentuh tubuh Taehyung, membelainya di semua tempat dengan telapak tangannya yang kasar dan dingin—menyengat Taehyung yang kebingungan.
“Ini nyata?” Tanya Jeongguk panik, nyaris seperti baru saja kehilangan kewarasannya hingga Taehyung menahan napas. “Kau nyata? Kita tidak putus, 'kan??”
Hati Taehyung tersengat rasa sakit mendengar kata itu, merasa bersalah karena sempat melemparkan kata itu pada Jeongguk dan dia memeluk Jeongguk yang panik dengan erat di atas kasurnya yang hangat. “Tidak, tidak. Kita baik-baik saja. Sangat baik-baik saja.” Bisiknya lembut, menenangkan Jeongguk yang gemetaran dalam pelukannya. “Selalu baik.”
Inikah yang dirasakan Jeongguk tiap kali menenangkan Taehyung? Perasaan hati yang tercabik luar biasa kuatnya, seperti ada belati panas yang dihujamkan langsung ke jantungnya—perih yang sulit sekali diabaikan. Taehyung mengatur napasnya, jika dia tetap membiarkan sakit itu merebak asmanya bisa kumat. Dia memeluk Jeongguk seperti memeluk kewarasannya sendiri—bernapas di rambut Jeongguk yang kusut dan basah oleh keringat.
“Kau hanya bermimpi. Tenanglah.” Bisik Taehyung lembut, sejenak bayangan kehilangan Jeongguk karena dia mati membuatnya ketakutan. Bagaimana jika dia terbangun suatu hari nanti dan menyadari bahwa Jeongguk tidak lagi bernapas di bumi yang sama dengannya?
“Aku bermimpi,” bisik Jeongguk gemetar—nyaris seperti pertanyaan. “Aku bermimpi aku terbangun dan kau...” Dia bergidik, memeluk Taehyung semakin erat. Napasnya memburu dan dia terengah-engah hingga Taehyung mengernyit karena ketakutan kental yang menetes dari kulit Jeongguk. “Aku menghubungimu. Seperti biasa pagi hari dan kau membalasnya dengan...,” dia tercekat dan gemetar.
“Jangan diingat, jangan.” Gumam Taehyung lembut di rambutnya. “Jangan menyakiti dirimu sendiri.”
“Katamu, 'kau homoseksual? Menjijikkan!'” Jeongguk gemetar hebat, seperti sepotong mesin rusak yang akan meledak dan Taehyung semakin dicengkeram rasa takut. “Lalu aku melihatmu memberikan tatapan... Tatapan itu.”
Taehyung memejamkan mata dan menggertakkan rahangnya. Tahu tatapan apa yang dimaksud Jeongguk dan tidak menyukainya sama sekali. Dia mengusap punggungnya sayang. “Tidak apa-apa, itu hanya mimpi.” Bisiknya lembut. “Aku di dunia nyata sama gay-nya denganmu.” Dia melemparkan guyonan lemah yang payah, tersenyum lemah menghibur Jeongguk.
Setelah guncangan di punggung Jeongguk mereda, Taehyung membaringkannya dengan lembut lalu memeluknya. Menyusupkan kepala Jeongguk ke ceruk lehernya dan mengusap lengan atasnya sayang—membentuk pola-pola yang selalu dilakukan Jeongguk saat menenangkannya. Merasakan betapa menenangkan seseorang merupakan pekerjaan berat yang melelahkan. Dia kagum bagaimana Jeongguk bertahan dengannya, menemaninya dalam setiap tantrum yang dilemparkannya ke Jeongguk—dalam setiap kegilaan suasana hatinya, dalam setiap kebingungan dan tangisnya.
Taehyung memeluknya, menenangkannya dengan lembut mendendangkan nada random yang digunakan Lakshmi saat menenangkannya ketika kecil. Dia memeluk Jeongguk dekat ke tubuhnya, meletakkan tangannya di atas dada Jeongguk—merasakan debar jantungnya dan merasa tenang. Karena selama jantung itu berdebar, Taehyung akan tetap hidup.
Dia memejamkan mata di rambut Jeongguk, menghirup aromanya dalam-dalam dengan hati pedih. Jeongguk lelaki luar biasa, kemampuannya untuk selalu bersikap tenang dan ramah selalu membuat Taehyung kagum. Hingga dia lupa bahwa Jeongguk tetaplah manusia. Dia memiliki ketakutannya sendiri, memiliki kekurangan-kekurangan yang membuatnya manusia—membuatnya hidup.
Jeongguk pemuda berhati besar yang kelelahan karena ukuran hatinya sendiri. Terlalu lapang, terlalu besar hingga semua orang merasa berhak memasuki hatinya dan menggunakannya sebagai keset atau tempat sampah, menginjak-injak emosinya hanya karena dia selalu menunduk dan mengalah lalu pergi seolah Jeongguk layak mendapatkan itu semua.
Jeongguk pemuda berhati besar yang sekarang sedang meruntuh dan butuh diselamatkan.
*