Gourmet Meal 464
tw // mention of physical abuse , favoritism .
Taehyung berbaring di ranjangnya, menghela napas panjang ketika rasa kosong tidak nyaman itu mulai merambat di hatinya.
Dia menatap langit-langit kamarnya, setelah Jeongguk menurunkannya di halaman dia mulai merasa kelelahan dan tidak ingin kembali ke rumahnya. Dia ingin tetap di sana, di atas ranjang Jeongguk dan dalam pelukannya—tidak ingin menghadapi dunia nyata. Ingin menghindari semua orang, tidur dalam pelukan Jeongguk selamanya. Selalu ingin Jeongguk berada di sisinya, menenangkannya dan memeluknya. Membisikinya bahwa segalanya akan baik-baik saja.
Namun toh dia tetap harus kembali. Dia menyugar rambutnya, menyentuh memar di wajahnya yang akan menjadi pertanyaan besok saat bekerja. Taehyung bercermin tadi, begitu memasuki kamarnya dan menghela napas melihat warna ungu kebiruan yang menyebar di atas tulang pipinya. Dia akan menutupinya dengan masker besok daripada harus menjawab pertanyaan. Luka di bibirnya membuat Taehyung sedikit kesulitan membuka mulutnya karena sudah mulai mengering, tetapi tidak masalah.
Semoga besok tidak ada manusia menyebalkan yang memaksanya berteriak.
Jeongguk memanjakannya sejak membuka mata tadi pagi; menyuapinya makanan dengan sayang, memeluknya hingga lelap, dan membantunya mandi. Dia duduk di sisi Taehyung yang bersandar di kepala ranjang, memangku sepiring makanan yang ditiupinya dengan telaten sebelum dengan lembut menyuapi Taehyung. Tidak mengeluh, tidak memasang wajah terganggu sama sekali. Dia melakukannya dengan begitu tulus hingga Taehyung merasa hatinya menghangat. Jeongguk juga mengobati lukanya sekali lagi, membalutnya sebelum menyelundupkannya ke garasi dan mengantarnya pulang.
“Aku akan membicarakan pada Ajung masalah membantumu nanti saat makan malam.” Katanya ketika mengemudi ke arah Klungkung, ke Puri Taehyung yang bersandar di tempat duduk penumpang dengan sekarton susu cokelat kesukaannya yang dibelikan Jeongguk.
“Aku juga akan bicara dengan Jikgung setelah kau bicara.” Sahut Taehyung saat mobil melambat karena lampu lalu lintas menyala kuning—dia suka kebiasaan Jeongguk yang ini, selalu melambat ketika lampu lalu lintas menyala kuning alih-alih menambah kecepatan. Dia berkendara dengan aman dan Taehyung sangat mengapresiasinya.
“Yep. Boleh.” Jeongguk menatapnya sayang dan Taehyung menggenggam tangannya yang berada di atas persneling, mengusapnya sayang. “Bolehkah aku meminta tolong untuk jangan melakukan apa pun yang mungkin membuat ayahmu marah sementara? Aku tidak mau terjadi sesuatu pada Wigung.”
Taehyung membuka mulut, hendak membantah karena dia benar-benar benci menuruti ayahnya. Dia ingin kabur dari rumah itu, begitu kuatnya hingga dia ingin menangis. Taehyung jarang menangis, dia tidak terbiasa menangis sejak menginjak kanak-kanak karena jika dia menangis ayahnya akan memukulnya semakin keras. Maka dia kemudian belajar untuk berhenti menangis tidak peduli seberapa sakit dirinya. Namun Jeongguk.
Jeongguk melelehkannya seperti lilin, mengikisnya seperti ombak. Sikap lembutnya membuat Taehyung terbuai dan dia belum pernah merasa ingin kabur dari Puri, meninggalkan ibu dan kakaknya sekuat ini. Dia tidak pernah egois, tidak ada ruang untuk egoisme di hidupnya ini namun untuk Jeongguk, dia rela bersikap egois. Dia ingin bersikap egois. Tapi dia juga tahu dia tidak bisa.
“Ya, baiklah.” Katanya akhirnya, nyaris dengan nada menyerah yang memilukan hingga Jeongguk meremas jemarinya—mengangkatnya lalu mengecupnya lembut, memejamkan matanya seolah mencium tangan Taehyung adalah hal paling menakjubkan dalam hidupnya.
“Terima kasih, Sayang.” Bisik Jeongguk parau, terdengar begitu penuh syukur hingga Taehyung merasa lebih baik karena mengiyakannya.
“Aku tidak mau pulang,” keluhnya kemudian saat mobil Jeongguk berhenti di depan halamannya dan Jeongguk melepas sabuk pengamannya, menggeser duduknya hingga menatap Taehyung sebelum meraih kantung spundbound di kursi belakang.
Dia memasakkan makan malam untuk Taehyung; sederhana sekali, hanya tumis baby buncis dengan sosis dan telur juga ayam pedas manis. Dikemas Jeongguk dengan rapi di dalam kotak makan lengkap dengan nasi karena dia tahu betapa Taehyung tidak ingin bertemu siapa pun.
“Kita bertemu besok, oke?” Bisiknya membujuk seraya meletakkan makanan di pangkuan Taehyung. “Aku akan menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin lalu ke Alila. Kita bisa makan bersama sebelum pulang, bagaimana?”
Taehyung menatapnya—asing sekali dengan bujukan, asing sekali dengan permintaan. Dia hanya pernah memproses perintah dan pernyataan, tidak pernah ada yang bertanya padanya dan mengizinkan Taehyung memikirkan apakah dia menyukai itu atau tidak, mengizinkan Taehyung untuk memikirkan keinginannya sendiri.
“Ya,” katanya, senang. “Boleh. Aku akan memesankan meja di Seasalt.”
Jeongguk tersenyum, “Jangan terlalu romantis, nanti aku mati.” Dia kemudian menempelkan jemarinya di bibirnya sebelum menyentuh kening Taehyung. “Masuklah, akan kutelepon begitu tiba di rumah.”
Dan di sinilah Taehyung sekarang—lima menit setelah menatap Yaris Jeongguk menjauh, sudah sangat merindukannya. Taehyung menutup matanya dengan lengan, bernapas melalui mulutnya yang sedikit kaku. Syukurlah saat dia memasuki rumah tadi, dia tidak bertemu siapa pun—bahkan tidak Lakshmi, mungkin kakaknya sedang keluar dengan Wisnu. Dia sengaja memilih jalan yang terjauh dari kamar ayahnya, tidak yakin bisa menahan dirinya sendiri agar tidak menjawab jika dia sekarang ditegur.
Dia ingin menyenangkan Jeongguk, ingin membuatnya menatap Taehyung bangga karena berhasil menghindari masalah. Dia ingin Jeongguk memujinya karena bersikap tenang, menghindari masalah sesuai permintaan Jeongguk. Maka dia akan mencoba. Dia meraih kotak makanan Jeongguk, duduk di atas kasur masih dengan pakaian yang digunakannya dari Puri Jeongguk tadi dan membongkarnya.
Dia meletakkan tiap bagian kotak makan di dekatnya dan meraih sendok yang juga dibekali Jeongguk untuknya. Dia baru saja menyendok buncisnya, menyuapnya dan meringis karena rasanya yang asin saat ponselnya berdering. Taehyung bergegas meraihnya, menemukan nama Jeongguk berkedip di layarnya dan dia bergegas mengangkatnya.
“Hai,” sapanya, sedikit terlalu bersemangat. “Sudah di rumah?”
Terdengar senyuman Jeongguk dari seberang sana, “Belum, aku masih di bypass tapi aku sudah merindukanmu. Wigung sedang apa?” Tanyanya dan sejenak, terdengar suara gemeresak Jeongguk menyetel ponselnya ke mode handsfree dan meletakkannya di pangkuannya.
“Aku baru saja makan masakanmu,” Taehyung menunduk, menatap makanannya di kasur—Lakshmi tidak akan mengapresiasi ini tapi Taehyung tidak peduli. “Agak terlalu asin.”
Jeongguk terkekeh, “Itu karena kau seharusnya memakannya dengan nasi, Sayang.”
Taehyung tersenyum, menuang sayurannya ke atas nasi lalu mulai memakannya—ledakan rasa terbit di lidahnya dan dia mendesah. Mungkin bukan makanan paling mewah yang pernah dimakannya, dia bisa memasak sesuatu yang lebih rumit dan megah dari ini, namun fakta bahwa Jeongguk menggunakan waktunya yang berharga untuk memikirkan Taehyung lalu memasakkan sesuatu untuknya, membuat makanan itu terasa lebih lezat.
“Aku bisa memasak sesuatu yang lebih rumit, tapi maaf, Biang hanya punya itu di kulkas.” Kata Jeongguk lagi dari seberang seolah mendengar isi kepala Taehyung.
“Tidak apa-apa,” Taehyung menyendok potongan ayam fillet buatan Jeongguk dan menyuapnya—ayamnya empuk dan dibumbui sempurna, nafsu makannya melonjak naik maka dia meraih nasinya lalu mulai makan dengan lahap. “Ini enak, kok.”
“Syukurlah Wigung menyukainya,” Jeongguk menghela napas lega dari seberang sana sementara Taehyung menggasak isi kotak bekalnya, menjejalkan makanan ke mulutnya. “Oh, ya,”
Taehyung berhenti makan, mendengarkan. “Kenapa?” Tanyanya, berhenti mengunyah potongan ayam dengan nasinya yang ternoda kaldu sayuran.
Jeongguk ragu sejenak sebelum mengatakan, “Aku akan memperingati Mirah tentang Devy. Maksudku, mereka dekat. Aku tidak mau melibatkan dia pada urusan kita dan Devy. Dan agar dia menjaga diri juga dari sifat Devy itu. Bagaimana menurut Wigung?”
Taehyung meletakkan sendoknya, memikirkan Mirah membuat nafsu makannya sedikit surut. Belum lagi fakta bahwa Sabtu kemarin, Jeongguk berbohong padanya dan belum mengatakan yang sebenarnya. Mereka malah teralihkan karena ayah Taehyung. Haruskah Taehyung bertanya? Atau haruskah dia membiarkan Jeongguk begitu saja hingga dia mengatakannya?
“... Wigung?”
Taehyung mengerjap, menatap makanannya lalu mendesah. Jeongguk mencintaimu, sangat mencintaimu. Berhenti begitu. Pikirnya jengkel lalu mengatakan, “Baiklah, tidak apa-apa. Kau boleh memberi tahunya, tapi tidak perlu mengatakan terlalu banyak.”
Jeongguk diam lalu mengangguk, “Baiklah, trims, Wigung?”
“Kembali,” sahutnya dan Taehyung kembali meraih sendoknya, sayang sekali makanan yang dibuatkan kekasihnya dengan penuh cinta harus dibuang karena dia jengkel. Maka dia kembali menjejalkan makanan sementara Jeongguk mengemudi.
Jeongguk tiba di Puri kemudian, mereka tetap tersambung hingga Jeongguk tiba di kamarnya—sempat berhenti untuk menyapa ayahnya dan mengatakan dia akan membicarakan sesuatu sehabis makan malam nanti. Jawaban ayahnya yang lolos melalui receiver telepon Jeongguk membuat Taehyung mulas.
“Jika ini bukan tentang pernikahan, maka Ajung tidak punya waktu.”
Jeongguk diam sejenak sebelum mengatakan, “Bli Tjok ingin meminta bantuan Ajung, tapi meminta aku untuk mengatakannya duluan.”
Dan ayahnya setuju. Taehyung menghela napas, mengusap lukanya tanpa sadar sementara memikirkan bagaimana ayah Jeongguk memiliki titik lemah untuk Taehyung begitu saja namun tidak untuk anaknya. Dia teringat betapa hangatnya lelaki paruh baya itu menyambutnya dan menanyakan kabarnya, merangkulnya dan meremas bahunya—menatapnya bangga seolah Taehyung baru saja menemukan obat penyembuh kanker.
Taehyung memiliki perasaan campur aduk mengenai ini: setengah senang karena dia tidak mendapatkan itu dari ayahnya namun juga sedih karena teringat Jeongguk juga tidak mendapatkan itu dari ayahnya. Maka ketika dia bertemu ayah Jeongguk, dia berusaha menekan perasaan damai dan nyaman aneh yang diberikan perhatian ayah Jeongguk karena tahu Jeongguk juga tidak pernah mendapatkan perasaan aman dan nyaman ini dari ayahnya.
Nyaris terasa seperti berdosa, seperti merebut ayah Jeongguk.
Dia sedang melamun, menunggu Jeongguk kembali meraih ponselnya setelah mengganti baju saat pintu kamarnya diketuk. Dia mendesah, hanya ada dua orang yang mungkin menghormati privasinya di rumah ini: ibunya dan Lakshmi. Ayahnya pasti akan langsung membuka pintunya dan marah jika Taehyung mengunci pintunya.
Dan Taehyung tidak ingin bertemu siapa pun. Maka dia diam, berpura-pura tidak mendengarnya. Dia menyumpal telinganya dengan earphone dan berbaring, membelakangi pintu kamarnya. Karena sungguh: semakin hari, semakin dia membenci rumah ini. Semakin menggoda pilihan untuk kabur jika saja hidup ibu dan kakaknya tidak bergantung padanya. Tuhan tahu apa yang bisa dilakukan ayahnya pada ibunya jika Taehyung mengecewakan.
Ketukan terdengar lagi sebelum suara, “Tugung?”
Taehyung mendesah, Lakshmi. Dia tidak ingin bertemu siapa pun, bahkan kakaknya. Maka dia tetap menunggu Jeongguk, mengabaikan panggilan itu. Dia sudah mengunci ganda pintunya tadi, peduli setan jika ayahnya mengamuk.
“Tugung sudah di rumah? Sudah makan? Mbok Gek belikan makanan tadi, Mbok Gek gantung di depan pintu, ya? Diambil nanti.” Kata Lakshmi lembut sebelum diam, menungguk adiknya menjawab.
Taehyung tidak menjawab. Dari seberang sana, dia mendengar suara air mengucur berhenti dan Jeongguk bernyanyi lembut mengeringkan badannya. Dia sebentar lagi akan kembali ke telepon mereka.
Lakshmi akhirnya menyerah, “Dimakan, nggih? Mbok Gek tinggal tidur.” Katanya, namun masih tetap diam di depan pintu sebelum menyerah dan menuruni undakan kamar adiknya—pergi.
Taehyung menunggu, setidaknya 15 menit sebelum dia menghampiri pintu. Membuka selot dan kuncinya, membuka sedikit sekali daun pintu untuk meraih kantung plastik yang digantungkan Lakshmi di gagang pintunya. Taehyung bergegas menutup kembali pintunya, menguncinya sebelum membawa makanan itu ke kasurnya.
Dia membuka makanan itu di kasur, mendapati nasi goreng kesukaannya yang dibeli di langganan mereka dengan banyak potongan jeroan babi dan sayuran di dalamnya. Taehyung meraih sendoknya, mulai makan saat Jeongguk kembali ke ponselnya.
“Oh? Wigung masih makan?” Tanyanya, Taehyung mendengar derit kasur saat dia berbaring dan merindukan aroma kasur Jeongguk. Gatal ingin mengendap kabur dari rumah ke Puri Jeongguk lagi.
Apakah ayah Jeongguk akan mengizinkannya tinggal di sana?
“Mbok Gek membelikanku makanan, jadi kumakan saja.” Kata Taehyung, mendesah saat merasakan ledakan rasa familiar itu di mulutnya. Mereka selalu makan di sana kapan pun Taehyung ingin sedikit kemewahan.
“Makanlah yang banyak,” kata Jeongguk lembut sebelum mengganti sambungan mereka menjadi video. Dia tersenyum, berbaring di ranjangnya menatap Taehyung yang menjejalkan makanan ke mulutnya. “Aku mencintaimu.”
Taehyung menelan makanannya dan tersenyum, merasakan tarikan kecil di lukanya. “Aku juga mencintaimu.”
Dan malam itu, sebelum tidur, dia menerima pesan dari Lakshmi: Selamat makan, Tugung. Selamat istirahat. Maaf, Mbok Gek belum bisa melakukan apa-apa untuk Tugung. Mbok Gek sayang Tugung.
Taehyung mendesah, menatap langit-langit kamarnya yang temaram sebelum mengerang. Apa yang sebenarnya harus dilakukannya dalam hidup untuk bahagia? Karena apa pun yang dicobanya, selalu memberikan efek samping mengerikan.
Taehyung tidak paham lagi, sama sekali tidak.
*