Gourmet Meal 455

tw // mention of physical and verbal abuse , toxic parenting , father issue , suicidal thoughts .


Jeongguk menarik rem tangan mobilnya yang berhenti di depan gerbang Puri Taehyung, merogoh sakunya hendak menghubungi kekasihnya bahwa dia sudah menunggu di sana. Yugyeom di belakang, berbaring dengan kepala di atas tumpukan pakaian Jeongguk bermain game di ponselnya. Dia mengeluarkan ponselnya, menunduk menatap layarnya dan bergegas menyentuh 'Telepon' dan menekan angka 2, speed dial Taehyung di ponselnya persis saat Yugyeom tiba-tiba berseru dari belakang.

“Oh.” Kata Yugyeom, menempelkan wajahnya ke jendela mencoba melihat siapa yang mendekat ke mobil mereka. “Wiktu, ada yang datang!”

Jeongguk melirik adiknya dari spion tengah sebelum menoleh ke Puri Taehyung, menemukan figur langsing Lakshmi bergegas menghampiri mobil Jeongguk, nampak gelisah dan perut Jeongguk langsung mulas. Dia melempar ponselnya ke kursi penumpang sebelum bergegas melepas sabuk pengamannya dan keluar dari kursi pengemudi. Dia berlari mengitari kepala mobil untuk menghampiri Lakshmi.

“Turah,” sapa perempuan itu, matanya sedikit liar dan Jeongguk cemas setengah mati.

Mbok Gek,” sahut Jeongguk tegang—mulai mencemaskan Taehyung. Tadi selepas berjanji akan menjemputnya, Jeongguk mentraktir Yugyeom dan kekasihnya makan sebelum melepas gadis itu pulang. Jeongguk tidak mendengar dari Taehyung lagi. “Wigung kenapa?” Tanyanya.

Lakshmi melirik ke Puri gelisah. “Turah, tolong.” Bisiknya rendah. “Jika Tugung keluar, tolong jangan bereaksi pada wajahnya. Tolong.”

Hati Jeongguk mencelos, apa yang terjadi pada wajah Taehyung? “Apakah dia....?”

Lakshmi mendongak, menatap Jeongguk tepat di matanya dengan wajah berkerut yang membuat Jeongguk seketika paham apa yang terjadi. Dia menggertakkan rahangnya—bersumpah akan memperlakukan Taehyung selembut mungkin malam ini. Lakshmi membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu namun sudut mata Jeongguk menangkap Taehyung yang menuruni undakan ke arah mereka dengan tas tersampir di bahunya. Dia memberi tanda Lakshmi untuk berhenti dan perempuan itu menoleh, menemukan adiknya. Apa pun yang hendak dikatakannya tadi, dia urung.

Terlalu remang dan jauh untuk melihat wajahnya namun Jeongguk menunggunya, melangkah ke sisi Lakshmi untuk menyambut kekasihnya yang melangkah ke arahnya dengan langkahnya yang selalu diingat Jeongguk; panjang, tegas, dan keras. Jeongguk menahan napas, berusaha agar tidak kelepasan memasang ekspresi apa pun yang membuat Taehyung tidak nyaman namun toh ketika pemuda itu berhenti di depannya Jeongguk menghela napas berat.

Ada memar besar di wajahnya, ada jejak darah kering di bibirnya yang bengkak dan Jeongguk merasa hatinya diremas—diperas hingga dia kehabisan napas. Dia mengulurkan tangan, hendak menyentuh wajah Taehyung namun tangan pemuda itu lebih cepat. Dia refleks menepis tangan Jeongguk dengan suara plak! keras yang memukul Jeongguk mundur. Hatinya terluka; namun persentasenya lebih besar karena dia melihat memar di wajah Taehyung daripada telapak tangannya yang berdenyut oleh pukulan Taehyung.

Mereka bertatapan dalam diam dan Jeongguk menghela napas—hatinya berdenyut nyeri, terus menerus hingga dia pusing.

“Maaf,” bisiknya lembut, menenangkan dirinya yang terkejut karena reaksi Taehyung yang agresif padanya. “Kau sudah siap? Ayo,” dia menatap Taehyung yang berwajah keras di hadapannya—matanya berkilat penuh amarah yang tidak bisa disalurkan.

“Ayo pulang.” Bisiknya mengulurkan tangan, meraih tali tas Taehyung dengan lembut sebelum menyentuh bahunya. Sejenak berhati-hati agar Taehyung tidak merasa terancam oleh sentuhannya sebelum membimbingnya ke kursi penumpang.

Jeongguk melemparkan tatapan frustrasi pada Lakshmi yang menggeleng lembut sebelum mengangguk dan bergegas menghampiri kursi pengemudi. Dia memasuki kursi pengemudi, memasang sabuk pengamannya dan melirik Yugyeom yang mengerjap—kebingungan dengan atmosfer mencekam Taehyung. Jeongguk mendesah, ini pertama kali Yugyeom bertemu sisi Taehyung yang ini. Dia biasanya bersikap sangat manis di sekitar Yugyeom, kali ini dia benar-benar mengeluarkan sisinya yang pahit dan getir. Taehyung duduk di kursi penumpang, bertopang dagu dan menatap ke luar jendela—mengabaikan semua orang di dalam mobil.

Jeongguk menyalakan mobil, mengklakson Lakshmi yang melambai sekali sebelum menginjak gas. Perjalanan menuju Karangasem diisi keheningan yang menyiksa, Jeongguk beberapa kali melirik kekasihnya yang masih diam. Ketika melewati lampu jalanan, Jeongguk harus menahan napasnya agar tidak terkesiap karena memar di wajahnya begitu menyiksa. Di Candidasa, dia menepi di sebuah mini market.

“Kau mau sesuatu, Ogik?” Tanyanya pada adiknya menatapnya, nampak rikuh menyuarakan keinginannya maka Jeongguk tersenyum. “Wiktu belikan yang biasa, oke?”

Yugyeom bergegas mengangguk, tidak berani bahkan bernapas dengan keras di sekitar Taehyung. Jeongguk secara pribadi memahami ketakutan Yugyeom karena dia sendiri pun butuh waktu yang lama hingga terbiasa dengan sisi Taehyung yang ini. Dia begitu diam, misterius, dan tidak segan memukul siapa saja—melampiaskan amarahnya pada ayahnya ke siapa saja yang cukup sial berpapasan dengannya. Mungkin bukan sifat terbaik yang dimiliki Taehyung, namun Jeongguk tidak menemukan cara untuk membicarakan ini dengannya.

Jeongguk memasuki mini market, mengambil selusin susu cokelat kesukaan Taehyung dan snack kesukaan Yugyeom sebelum membayarnya di kasir. Menoleh cemas ke mobilnya, sejenak takut meninggalkan adiknya sendirian di sana bersama Taehyung yang sedang tidak baik namun dia yakin Taehyung tidak akan melampiaskannya pada Yugyeom. Taehyung menyayangi Yugyeom, dia takkan melakukannya.

Matanya menatap jendela gelap mobilnya, mendadak cemas. Memikirkan memar besar yang menyebar dari tulang pipi hingga sudut bibir Taehyung. Dia pasti meludahkan darah setelah pukulan itu, Jeongguk akan mengecek gusi dan giginya nanti jika Taehyung sudah tenang. Apa yang terjadi? Kenapa ayahnya mendadak mengamuk lagi?

Jeongguk menghela napas dengan tangan penuh belanjaan, tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana pada keluarga Taehyung. Dan sayangnya pemuda itu harus terjebak dalam lingkaran setan itu selamanya; tidak memiliki jalan keluar, setidaknya belum. Dia meletakkan semua di meja kasir, menambahkan kondom ke dalamnya karena miliknya habis. Taehyung mungkin sedang jengkel, tetapi tidak ada salahnya berjaga-jaga. Pemuda itu membutuhkan seks untuk mengalihkan pikirannya.

Dia membawa tas belanjaannya bergegas kembali ke mobil, mendapati keduanya duduk manis persis seperti saat Jeongguk meninggalkannya. Dia menunggu sejenak hingga lalu lintas sepi sebelum bergegas membuka pintu, menyelipkan dirinya masuk, dan menutup pintunya. Saat lampu kabin menyala, dia menahan dirinya agar tidak menatap Taehyung. Dia menyibukkan dirinya dengan kantung belanjanya, memberikan Taehyung sekotak susu.

“Minumlah.” Bisiknya lembut dan Taehyung menerimanya—menatapnya dan Jeongguk tersenyum. “Kau bisa cerita nanti jika kau mau, jika tidak kita akan melupakannya. Tapi, aku harus mengobatimu, oke? Suka atau tidak.”

Taehyung menatap minuman di tangannya, seperti seekor macan kumbang yang terluka—eksotis, mendebarkan, mengancam namun juga lemah dan butuh dilindungi. Dia menyerigai, menggeram terancam karena tidak bisa melindungi dirinya sendiri sekarang maka Jeongguk harus benar-benar mempertimbangkan langkahnya jika tidak mau macan itu menyerangnya.

Jeongguk menahan napas saat akhirnya Taehyung melepaskan sedotan plastiknya dan menusuk karton susu itu, menyesapnya perlahan dan mengabaikan Jeongguk. Dia menghembuskan napas, menyerahkan belanjaan pada Yugyeom yang bergegas membongkar makanannya sebelum kembali berkendara. Syukurlah mereka tiba lumayan malam sehingga Taehyung tidak perlu bertemu ayah Jeongguk sekarang.

Setelah menyelundupkan kotak P3K dari rumah utama, Yugyeom bergegas kabur ke kamarnya, meninggalkan Jeongguk bersama Taehyung di kamarnya. Jeongguk mengunci pintu sebelum menghela napas dengan kotak P3K di tangannya, dia berbalik menemukan Taehyung bergelung di atas kasurnya—melipat lutut ke dadanya, menyeimbangkan sekotak susu di atas lututnya dan menatap lurus ke televisi yang menayangkan film tengah malam.

Jeongguk mendekat dan duduk di tepi ranjang di sisinya, “Wigung,” bisiknya lembut. “Boleh kuobati?”

Taehyung sejenak diam, menggigiti bibir bawahnya yang sehat dengan cemas sebelum mengangguk. Jeongguk merangkak naik ke kasur dan bersila di hadapan Taehyung sebelum mengulurkan tangan dan menyentuh wajah Taehyung dengan lembut—mengarahkannya dengan lembut hingga menatap Jeongguk dan hatinya sekali lagi tersengat rasa pedih menatap memar di wajah Taehyung.

“Kenapa lagi kali ini?” Bisiknya, meraih kotak P3K dan mencari botol pembersih luka dan kapas. Dia membuka botol kecil kuning itu lalu menutup permukaannya dengan kapas, memiringkannya sehingga cairan kuning beraroma tajam obat membasahi kapas.

Taehyung tidak menjawab, dia meminum susunya dengan mata menerawang sementara Jeongguk dengan lembut menyentuh dagunya—menaikkan wajahnya sedikit lalu menekan-nekan kapas basah ke lukanya. Taehyung meringis, namun diam di bawah telapak tangan Jeongguk yang lembut dan cekatan—telaten dan hangat. Jeongguk menunggu pemuda itu bicara, mengobati sudut bibirnya yang sedikit sobek lalu menutupnya dengan kain kasa terisi obat merah. Dia menempelkannya dengan band-aid.

Jeongguk mengecek gusi dan geligi Taehyung, menemukan luka di gusi atasnya namun giginya aman. Luka itu pasti akan menjadi sariawan besok, Jeongguk akan membawanya ke dokter gigi untuk pengecekan menyeluruh.

Sekarang Taehyung nampak lebih manusiawi. Jeongguk menatapnya sebelum mencondongkan tubuh dan mengecup sudut matanya hingga Taehyung berjengit. Jeongguk menarik wajahnya, menempelkan kening mereka—merasakan deru napas Taehyung di wajahnya. Dia membuka mulutnya, hendak mengatakan betapa dia sangat mencintai Taehyung saat pemuda itu juga membuka mulutnya.

“Devy.” Bisiknya parau dan Jeongguk berhenti.

“Ada apa dengannya?” Tanya Jeongguk, menyelipkan jemarinya ke rambut Taehyung dan menyisirnya lembut—sejenak, Taehyung meleleh dalam sentuhannya, rileks seperti sepotong keju yang dipanaskan.

Taehyung mendesah, terdengar sangat kelelahan. “Dia mengadu pada Ajung tentang sikapku selama ini padanya. Semuanya bahkan kebohongan-kebohongan yang dibuatnya untukku.” Taehyung memijat pelipisnya, meringis saat gerakan itu menyakiti luka di sudut bibirnya.

Jeongguk menghela napas, sudah tidak lagi memiliki energi untuk beraksi pada gadis itu. Sejak awal merek berkenalan dan mengetahui kebiasaannya mengadu, Jeongguk merasa perubahan sikapnya yang menjadi baik pada Taehyung sangat mencurigakan. Namun kekasihnya memutuskan untuk menurunkan pertahanan dirinya dan terjebak. Dan Jeongguk tidak berani menyuarakan kecemasannya pada Taehyung.

“Dan Ajung,” Taehyung menghela napas berat dan mengedikkan bahu, seolah itu bukanlah hal yang luar biasa. “Yah. Ajung melampiaskan amarahnya. Seperti biasa.” Dia menyentuh lukanya dan memejamkan mata. “Lalu Setan Cilik itu mengirimku pesan.” Dia merogoh saku celananya, menyerahkan ponselnya pada Jeongguk.

Ponsel mereka bisa dibuka dengan sidik jari satu sama lain, maka Jeongguk menempelkan ibu jarinya ke bagian finger print ponsel Taehyung dan layarnya terbuka. Dia menyentuh aplikasi pesan dan menemukan ruang obrolan Devy persis di bawah ruang obrolannya yang disematkan di paling atas. Jeongguk menggertakkan rahangnya, bergidik saat membaca pesan Devy.

Kau harus merasakan sakit yang kurasakan. Kita akan menikah, suka atau tidak suka.

“Sakit jiwa.” Gumam Jeongguk sebelum meletakkan ponsel Taehyung dan menatap kekasihnya yang mendenguskan tawa lemah.

Jeongguk bisa merasakan mereka berdua amat letih dengan semua ini. Sudah nyaris kehabisan energi untuk menjalani setiap masalah yang menimpa mereka; semua masalah yang nampaknya ingin mereka berpisah. Ingin mencacah mereka jadi ratusan keping. Membakar mereka menjadi abu namun toh, mereka tetap membuktikan pada kehidupan bahwa mereka jauh lebih kuat dari itu.

Dan alih-alih diperingan, kehidupan menaikkan level cobaan mereka.

“Memang.” Sahutnya setuju, menurunkan kotak susu keduanya dan meraih yang ketiga di kantung belanja di lantai. Jeongguk membantunya menyelipkan sedotan sebelum memberikan Taehyung. “Banyak sekali hal yang dikatakan Ajung saat memukuliku,” dia bergidik dan Jeongguk secara refleks meraihnya ke dalam pelukannya—menjaga Taehyung tetap utuh.

“Jeongguk.” Katanya kemudian, menatap Jeongguk yang sejenak meremang—mendapat firasat buruk tentang apa yang akan dikatakan Taehyung setelah ini. “Kedepannya, pertemuan kita mungkin tidak akan semudah ini karena aku tidak bisa memanfaatkan bantuan Devy untuk berbohong lagi. Gadis itu juga pasti akan bersikap sangat menyebalkan jadi, kurasa sebaiknya kau memperingati Mirah karena setahuku mereka dekat.”

Taehyung memijat kepalanya dengan resah. “Kenapa aku harus terjebak dengan manusia sialan ini? Kenapa dia sangat terobsesi padaku? Kenapa dia tidak bisa melepaskanku saja padahal sejak awal aku sudah tidak tertarik sama sekali padanya?” Dia menggumam pada dirinya sendiri seraya memijat kepalanya.

Jeongguk menghela napas, tidak yakin dengan apa yang harus dikatakannya. Di titik ini, dia nyaris tidak lagi terkejut pada kesialan apa yang dilemparkan kehidupan pada mereka. Semua datang bertubi-tubi seolah mereka sedang digebuki seligiun tentara tanpa mendapatkan jeda untuk sekadar bernapas. Cobaan mereka tidak datang silih berganti, cobaan mereka datang sekaligus dengan masing-masing tongkat pemukul mereka mencoba memecahkan kepala Jeongguk dan Taehyung.

“Yah, aku tidak peduli.” Tambah kekasihnya kemudian, nampak bertekad. “Aku akan tetap melakukan apa pun yang kuinginkan. Dan dia bisa memukuliku hingga mati. Karena nampaknya, dia sangat mengharapkan kematianku.”

Jeongguk membuka mulut, ingin menukas kata-kata Taehyung karena dia benci betapa mudahnya kata 'kematian' meloloskan diri dari mulut Taehyung. Nyaris seolah dia sudah benar-benar menantikannya. Kemudian dia mengerutkan alis, mengerjap saat dia menyadari sesuatu.

“Kau tahu,” katanya kemudian dengan napas memburu—menyadari satu jalan keluar (akhirnya) yang akan membuat pertemuan mereka aman. Berisiko, namun lebih baik daripada tidak sama sekali.

“Ayahku,” dia menatap Taehyung yang mengerutkan alis, sejenak tidak memahami apa yang dikatakannya. Mereka saling menatap, selama sepuluh detik penuh hingga pemahaman akhirnya melintasi mata Taehyung seperti bintang jatuh.

Senyuman tipis terbit di bibir mereka berdua.

“Ayahku sangat menyayangimu.” Bisik Jeongguk lagi, kali ini bersemangat. “Ingat kata-katanya tentang menginaplah lebih sering, ajari aku menjadi lelaki yang lebih jantan?”

Senyuman tipis terbit di bibir Taehyung sebelum dia memejamkan matanya, meraih Jeongguk ke dalam pelukannya—mengeratkannya hingga sejenak Jeongguk tercekik sebelum terkekeh serak dan mengusap rambutnya. Tidak masalah jika Jeongguk harus menangguhkan kata-kata ayahnya, selama itu berarti dia bisa bertemu Taehyung maka tidak apa-apa.

Lebih baik daripada dia harus melihat memar di wajah Taehyung. Membayangkan apa yang dilakukan ayah Taehyung pada anaknya ketika murka. Mereka mungkin bisa membujuk ayah Jeongguk untuk mengintervensi hubungan Taehyung dengan ayahnya demi menguntungkan hubungan mereka. Jeongguk berpikir jika Taehyung pergi ke Puri Jeongguk berada karena ayah Jeongguk yang memintanya, ayah Taehyung tidak akan mengatakan tidak, 'kan?

“Akan kucoba.” Kata Taehyung kemudian, “Sarapan besok, aku akan meminta tolong ayahmu.”

Jeongguk menatap kekasihnya, tersenyum kecil lalu mengecup keningnya. “Maaf karena bersamaku, semuanya begitu menyulitkan dan mencekikmu. Aku berjanji, di masa depan semuanya akan lebih baik.”

Taehyung mengalungkan kedua tangannya di leher Jeongguk, menariknya lebih dekat. “Kau tidak akan tahu betapa aku menunggu masa depan itu,” katanya dan keduanya sangat menyadari kalimat yang tidak dikatakan Taehyung.

Walaupun saat ini, masa depan itu seolah tidak pernah ada.

“Mau bercinta?” Bisik Jeongguk kemudian, mengusap punggung Taehyung lembut. Butuh mengalihkan pikirannya dari masa depan yang nampak gelap, mengalihkan perhatiannya dari labirin raksasa yang menjebak mereka. “Aku butuh merilekskan sarafku yang malang setelah melihat kekasihku babak belur oleh ayahnya sendiri.”

Taehyung terkekeh. “Aku juga perlu menenangkan sarafku setelah kekasihku hilang tanpa kabar seharian.” Dia kemudian bangkit, duduk di atas pangkuan Jeongguk dan membelitkan kakinya ke pinggang Jeongguk—menggesekkan dirinya pada Jeongguk.

“Maaf, Atu Ngurah,” bisiknya parau saat menjambak rambut Jeongguk yang mendesah—sensitif pada sentuhannya setelah satu minggu tidak bertemu. Taehyung menempelkan kening mereka, bernapas keras di wajah Jeongguk. “Kita tidak bisa berciuman sementara.”

Jeongguk mengecup sudut bibirnya, menggeram karena tidak bisa mencium bibirnya. “Panggil aku begitu sekali lagi,” bisiknya tersengal dengan Taehyung duduk di atasnya, rambutnya meluruh ke satu sisi wajahnya serupa tirai lembut yang mengikal.

“Atu Ngurah?” Bisik Taehyung parau sekali lagi sebelum menarik ciuman malas dari sudut alis Jeongguk turun ke garis wajahnya dan dagunya. “Ingin bercinta dengan saya?”

Perut Jeongguk mengejang. Dia tidak pernah berpikir bahasa Bali halus bisa terdengar sangat kotor di bibir Taehyung. Dia mengerang, menyelipkan tangannya ke dalam pakaian Taehyung dan memilin dadanya hingga Taehyung terkesiap kecil. Dia mengecup bahu Taehyung dari balik kausnya, mabuk oleh aroma tubuh dan kehadiran Taehyung di kamarnya—di hidupnya.

Apa yang Atu Ngurah ingin saya lakukan?” Bisik Taehyung lagi dan Jeongguk menggertakkan giginya saat jemari Taehyung menyelip ke dalam celananya—mengusap tubuh Jeongguk yang menegang.

Jeongguk menggeleng, tersengal saat Taehyung merunduk ke dadanya—mengusapkan bibirnya lembut ke dadanya yang tegang, sedikit kesulitan dengan perban di sudut bibirnya. “Kau akan membunuhku jika terus menggunakan bahasa itu padaku saat bercinta.”

“Yah,” Taehyung menggerakkan pinggulnya di atas selangkangan Jeongguk dan membuat Jeongguk terkesiap keras—menjejalkan kepalan tangan ke mulutnya agar tidak berteriak keras. “Mari kita mati bersama dan reinkarnasi bersama lagi.”

“Aku sungguh mencintaimu.” Jeongguk mengusap sisi wajah Taehyung yang menunduk di atasnya—menyukai bagaimana dia berdebar menatap Taehyung dari bawah. “Sungguh sangat mencintaimu.”

Taehyung tersenyum, seindah mimpi. “Aku juga sangat mencintaimu.” Bisiknya.


ps. tidak mungkin doooonggg yakaaaannn saya nanya ke bapak saya bahasa bali halusnya 'ingin bercinta dengan saya?' soooo THERE WE GO HAHAHAHA :((