Gourmet Meal 452

cw // psychology counseling .

tw // anxiety , passive behavior , toxic relationship , internalized homophobia , suicidal thoughts .

ps. based on my personal experience. kalian mungkin bisa beda karena 'seni' seorang konselor menghadapi klien tentu beda-beda <3 jangan takut konseling! it helps A LOT! <3 pss. please refer to 'Guidance' for better explanation <3


“Jadi, Jeongguk,”

Jeongguk mengerjap, duduk dengan gelisah di atas sofa yang berhadapan secara simetris dengan tempat duduk Thia. Konselornya nampak nyaman dengan rambut panjang beruban yang diikat rendah di atas tengkuknya, kemeja sederhana dan celana jins nyaman—duduk bersandar dengan tenang di sofanya, menatap Jeongguk menunggunya bercerita.

Sementara kliennya di sisi lain, duduk di ujung kursinya—seperti seekor binatang yang siap kabur dari sana kapan saja dia merasa terancam. Dia menautkan kedua tangannya dengan cemas di atas pangkuannya, tidak yakin bagaimana harus bersikap berada di ruangan ini. Di hadapannya ada sebotol mini air mineral yang diberikan Thia untuknya serta sekotak tisu.

Ruangannya nyaman, dengan jendela tinggi yang menghadap ke halaman belakang yang penuh tanaman. Dedaunannya bergoyang karena semilir angin dan sejenak membuat saraf Jeongguk rileks; bagimana caranya memulai semua ini ketika Jeongguk bahkan tidak tahu sama sekali apa yang mengganggunya?

“Sebelum saya bertanya,” katanya kemudian, masih tersenyum pada Jeongguk yang mengerjap—kebingungan. “Saya di sini untuk membantumu, saya akan mendengarkan ceritamu dan tidak akan menilai tindakanmu. Tidak akan mendiktemu tentang apa yang benar dan salah. Saya akan menjadi teman diskusimu.

“Tetapi,” Thia tersenyum lembut. “Saya hanya akan bisa membantumu, jika kau mengizinkan dirimu sendiri untuk dibantu. Akankah kau mengizinkan dirimu untuk dibantu?”

Jeongguk diam. Sejenak memikirkan kalimat itu; dia mengizinkan dirinya sendiri? Mengapa Thia melakukannya seolah ada dua orang di tubuh Jeongguk saat ini dan bukan satu orang? Siapa yang harus diizinkan Jeongguk? Namun karena dia di sini demi Taehyung dan demi mereka yang cukup perhatian padanya hingga memberikannya seorang konselor, maka Jeongguk mengangguk.

Thia tersenyum, menyadari keraguan Jeongguk. “Mari kita membuat kesepakatan. Mudah.” Dia meletakkan catatannya di atas pangkuannya. “Setiap sesi, dengan anggapan kau akan mengambil sesi berkelanjutan hingga merasa lebih baik, saya akan menanyakan kabarmu. Dan kau dilarang menjawab 'saya baik-baik saja'.”

Jeongguk mengerjap. “Lalu bagaimana jika saya memang baik-baik saja?”

Thia tersenyum. “Kau dipersilakan menjawab dengan: 'saya senang', 'saya tenang', 'saya lelah', 'saya bingung', dan sebagainya. Mari kita mulai dengan mendefinisikan emosimu, ya? Mengenali emosi-emosimu alih-alih menimbunnya dengan 'saya baik-baik saja'.”

Jeongguk menatapnya, tidak yakin bagaimana melakukannya. Apa yang dirasakannya sekarang? Dia sama sekali tidak tahu. Jauh lebih mudah untuk mengatakan 'baik-baik saja' daripada mencoba menjelaskan isi kepalanya. “Bagaimana jika...” Dia menelan ludah. “Kompleks?”

“Maka kita akan mencoba untuk menjelaskannya.” Thia menatapnya, terdengar sangat hangat dan optimis hingga Jeongguk merasa tertular emosi positifnya yang menyenangkan. “Sekompleks apa pun itu, tidak masalah. Kita punya sepanjang hari.”

Dia berdeham, tidak yakin bagaimana melakukannya. Dia takut, bingung, dan gelisah. Merasa mungkin dia salah dengan datang ke tempat ini, mungkin dia sebenarnya baik-baik saja dan dia sedang menciptakan masalahnya sendiri. Atau sedang mencari perhatian dari orang-orang? Apakah Jeongguk benar-benar membutuhkan pertolongan ini atau tidak?

“Jadi, bagaimana kabarmu hari ini?” Thia membawa catatan di tangannya namun meminta Jeongguk untuk mengabaikannya saja—itu sesuatu yang digunakannya untuk kepentingannya sendiri. Mencatat progres Jeongguk.

Jeongguk diam sejenak: apa yang dirasakannya? Takut? Gelisah? Tegang? Cemas? Dia membuka mulutnya, mengabaikan segala emosi yang berkecamuk di kepalanya dan merasa dia baik-baik saja. Tidak ada yang salah, dia hanya sedang terjebak dalam pola pikirnya sendiri; seperti kata Taehyung.

“Coba tanyakan kepada dirimu sendiri, apa yang kaurasakan hari ini?” Tanya Thia lagi dengan lembut, sabar, dan tenang. “Dipikirkan dengan perlahan sebelum kau memutuskan apa yang kaurasakan.”

Jeongguk menahan napasnya, tidak terlalu suka diminta memutuskan sesuatu kecuali hal-hal diluar dirinya sendiri; aliran tamu masuk meningkat, makanan menipis, apa yang harus dilakukan? Hari H dan satu protein lupa dipesan Akunting, bagaimana mengatasinya? Hal-hal semacam itu, hal-hal yang sudah jelas sebab dan akibatnya. Sama sekali bukan emosinya.

Selebihnya, Jeongguk merasa kosong. Kelelahan. Secara harfiah merasa seolah kehidupan dihisap habis darinya entah oleh siapa. Melakukan hal-hal sederhana terasa sangat kompleks dan menyiksa, menghabiskan seluruh cadangan tenaganya hingga dia tidak memiliki tenaga lain untuk dirinya sendiri.

“Kosong?” Cobanya, berdebar karena ini pertama kalinya dia benar-benar membicarakan perasaannya kepada seseorang yang mendengarkan.

Jika jawaban Jeongguk salah, Thia sama sekali tidak menunjukkannya. Dia mempertahankan ekspresinya yang hangat saat menjawab. “Dan sudah berapa lama kau merasa kosong? Menurutmu, kira-kira mengapa kau merasa kosong?”

Jeongguk bernapas dengan cepat, menarik tubuhnya semakin ke ujung sofa karena dia benar-benar cemas dengan pertanyaan-pertanyaan ini. Kenapa masih ada pertanyaan setelah jawabannya tadi?

“Apakah ada sesuatu yang membuatmu merasa kosong? Entah sesuatu atau seseorang? Kejadian yang membuatmu sangat berat?” Tanya Thia lagi saat Jeongguk tidak juga menjawab.

Secara tidak sadar, nama Taehyung menyala di kepala Jeongguk. Begitu saja seolah memperingatinya. Jeongguk menahan napas, kenapa Taehyung? Haruskah dia menceritakannya? Dia membuka mulutnya, hendak menceritakan hubungannya dengan Taehyung sebelum dia berhenti: memberi tahu orang lain tentang orientasi seksualnya terasa tidak nyaman. Namun dia ingin melepaskan emosi ini.

“Teman saya,” katanya kering kemudian dengan jantung berdebar keras. “Kami bersahabat dekat.” Dia memainkan jemarinya, mengusapkan jemarinya ke tangan satunya dan Thia melirik gerakan itu. “Nyaris seperti saudara.” Suaranya memelan, seolah takut Taehyung akan mendengarnya sekarang.

“Saya sayang sekali padanya,” bisiknya dan merasakan ledakan rasa hangat di hatinya karena betapa benarnya itu terasa di hatinya. “Seperti saudara.” Tambahnya kemudian, terbata. “Namun beberapa kali, dia terasa....” Jeongguk melirik sekitarnya, seolah takut entah bagaimana caranya—Taehyung mendengarnya dan terluka karena itu.

Jeongguk benci menyakiti Taehyung, dia sudah terlalu banyak disakiti dan Jeongguk tidak ingin menambahkan sakit padanya. Tidak mau membuatnya semakin menderita, Jeongguk akan membenci dirinya sendiri jika dia menyebabkan Taehyung menangis.

“Melelahkan.” Bisik Jeongguk, melepaskan kata itu dengan suara keras setelah selama ini hanya selalu memikirkannya dan mengetiknya tanpa benar-benar berani mengirimkannya ke Taehyung.

Perasaan lega membanjirinya ditemani perasaan cemas baru, takut Taehyung mendengarnya dan merasa ada yang kurang dari dirinya sendiri karena Jeongguk ternyata lelah dengannya.

“Dia melelahkan sekali,” bisiknya lagi—mengetes kata itu di lidahnya. Tidak menyukai kombinasi perasaan aneh yang dirasakannya. “Dia membuat saya sering kali ingin menghindarinya. Berhenti dan menjauh namun dia sahabat saya. Tidak mungkin saya menjauhinya, saya sayang padanya namun juga lelah sekali dengannya.” Jeongguk menatap Thia, untuk pertama kalinya—memohon pertolongan.

“Apakah itu normal?”

Thia menatapnya, meletakkan tangannya di atas pangkuannya. “Jangan melupakan fakta bahwa kau adalah manusia, merasa kontradiktif itu sangat normal. Dalam hubungan, apa pun bentuknya—wajar ketika manusia merasa lelah. Tidak harus selalu pelangi dan langit cerah. Sekarang hanya bagaimana kalian mengomunikasikan perasaan itu dan bekerja sama untuk menanggulanginya.”

“Maaf, ini remeh sekali.” Gumam Jeongguk, masih belum bisa duduk dengan nyaman di atas sofa yang sekarang terasa panas dan keras. Dia ingin kabur—merasa ini sia-sia dan tidak berguna, seperti kata Taehyung.

“Tidak ada yang remeh.” Thia menggeleng, nadanya tegas dan lembut. “Jika itu mengganggumu, maka itu sesuatu yang serius. Mari kita bicarakan dengan perlahan perasaan itu, saya akan membantumu. Saya tidak akan mendiktemu salah dan benar.”

Jeongguk menatapnya—merasa malu karena orang-orang mungkin datang ke konselor membawa permasalahan kompleks tentang keluarga dan depresi atau tentang dirinya sendiri namun Jeongguk malah datang membawa masalah percintaan yang sama sekali tidak penting.

“Ada saat ketika...” Jeongguk menghela napas. “Ketika saya membicarakan perasaan saya tentang ucapannya, maksud saya bagaimana dia membuat saya merasa dengan tindakannya, dia malah balik marah pada saya. Hal-hal semacam itu hingga akhirnya saya merasa sebaiknya saya diam tentang perasaan saya daripada kami bertengkar.

Terlalu banyak, Jeongguk langsung menutup mulutnya—takut Thia mengambil kesimpulan dari ceritanya barusan. Membuat identitasnya ketahuan. Namun Thia tetap tenang, mencatat sesuatu dan itu membuat Jeongguk gelisah; apa yang dicatatnya di sana? Apakah ada sesuatu yang Jeongguk salah sebutkan?

“Dan menurutmu,” tanya Thia lagi dengan tenang. “Apakah ada seseorang lain yang membuatmu merasa begitu? Seperti tidak berdaya, kosong, lelah, dan kebingungan?”

Jeongguk diam. Orang tuanya, khususnya ayahnya. Sejak Jeongguk bisa mengingat, ayahnya sudah bersikap begitu sepanjang waktu. Membuatnya merasa bersalah karena dia menangis, karena dia sakit, karena dia belum menikah. Bagaimana ayahnya nampak puas dan sangat bangga saat melihat Taehyung untuk pertama kalinya: Taehyung yang tinggi, kulit sewarna zaitun yang menarik, ekspresi keras dan tegas yang sama sekali tidak dimiliki Jeongguk.

“Ayah saya.” Bisik Jeongguk, mulai merasa lebih rileks mengatakan semuanya.

Thia menatapnya sejenak lalu mencatat sesuatu sebelum kembali menatapnya. “Jika tidak keberatan,” desaknya lembut. “Maukah kau menceritakan bagaimana ayahmu membuatmu merasa begitu?”

Jeongguk membuka mulutnya, merasakan amarahnya yang selama bertahun-tahun ini terpendam untuk ayahnya menggelegak naik—seperti buih yang mulai naik dan terus naik hingga menyentuh pangkal tenggorokannya. Menggenang di mulutnya seperti asam lambung yang menyengat lidahnya sebelum dia akhirnya tidak tahan lagi dan meludahkannya.

Dia menceritakan semuanya: atau setidaknya begitulah yang dirasakannya. Bagaimana ayahnya secara terang-terangan bersikap pilih kasih dengan adiknya. Koreksi atas setiap sikapnya karena kurang 'lelaki'. Kesukaan instan ayahnya pada Taehyung yang nampak jauh lebih jantan dari Jeongguk. Sikap dinginnya pada Jeongguk seolah dia hanya ada demi melanjutkan warisan dan sama sekali bukan sebagai manusia.

Kemarahan yang sudah ditahan Jeongguk selama tiga puluh lima tahun sekarang meledak di dalam dirinya, muncrat ke seluruh ruangan. Jeongguk tidak berhenti bicara setidaknya selama satu jam menjelaskan secara detail betapa dia membenci ayahnya namun juga menyayanginya. Betapa dia kadang ingin sekali memukul ayahnya, kabur dari rumah, atau bahkan mengakhiri hidupnya sendiri.

“Saya paham kau marah sekali pada orang tuamu, tetapi mari saling berkompromi.” Thia tersenyum. “Mulai dengan komunikasikan kebutuhanmu pada mereka, bagaimana kau ingin dihormati. Bagaimana sebaiknya mereka bicara padamu, kau layak merasa sakit hati ketika ucapan mereka menyinggungmu dan layak mendapatkan permintaan maaf. Namun, sering kali mereka tidak menyadarinya.

“Maka mari kita belajar memaafkan mereka.” Thia kembali menambahkan dan Jeongguk mengerutkan alisnya—dia baru saja menjelaskan betapa bencinya dia pada orang tuanya dan sekarang dia harus memaafkan mereka? Begitu saja??

“Saya paham itu berat dan aneh,” Thia menenangkan saat melihat ekspresi Jeongguk. “Namun, tidak ada sekolah menjadi orang tua. Kita semua belajar menjalani posisi kita, benar? Kau belajar menjadi seorang anak dan suami nantinya, juga orang tua jika kau memutuskan untuk memiliki anak. Dan orang tuamu juga sedang belajar.

“Memaafkan bukan karena apa-apa, tetapi karena hatimu,” Thia menyentuh dadanya sendiri—mengusapnya lembut hingga Jeongguk tanpa sadar menirunya, merasakan debar jantungnya sendiri. “Hatimu layak mendapatkan kedamaian. Memaafkan mereka bukan berarti membenarkan perlakuan mereka, malah menyadari bahwa mereka salah lalu memutuskan untuk menutupnya karena kau layak mendapatkan kehidupan yang damai.

“Memelihara amarah, memelihara dendam akan membuatmu lelah sekali, Jeongguk. Hatimu akan terasa berat sepanjang waktu, busuk dimakan dendammu sendiri. Energimu terkuras untuk memikirkan betapa marahnya kau, menyimpan dendam yang seharusnya dibuang. Mari kita belajar mengolah emosi negatif itu, membuang sampah-sampah itu dengan benar.

“Karena mereka tidak akan meminta maaf.” Thia menatap Jeongguk lembut. “Mereka tidak akan menyadari mereka salah dan meminta maaf. Maka mari maafkan mereka yang tidak meminta maaf padamu. Bukan untuk mereka, namun untuk dirimu sendiri. Kedamaian hidupmu.

“Dendammu nanti, karena tidak bisa disalurkan ke ayahmu akan membuatmu merasa kau memiliki hak untuk melakukan hal yang sama pada anakmu. Lingkaran itu tidak akan putus, pola yang sama diwariskan terus menerus. Dengan kau menyadari bahwa itu salah,” Thia menatapnya dan Jeongguk menahan napasnya.

“Kau bisa memutus pola asuh itu, memberikan masa depan yang jauh lebih baik kepada anakmu kelak. Menghindarkannya dari keadaan psikis yang sama seperti yang kaurasakan sekarang.”

Jeongguk diam. Dia tidak ingin memiliki anak, karena dia tidak mau meletakkan siapa pun di posisi yang sama dengannya. Dunia ini terlalu kejam untuk makhluk hidup mana pun dan mereka mahal sekali. Jeongguk takut dia tidak bisa menjadi orang tua yang baik dan hanya akan meletakkan anaknya sama seperti yang dilakukan ayahnya padanya. Membuat anaknya tidak nyaman dengan dirinya sendiri, tumbuh dewasa membencinya.

Jeongguk tidak menyukai bayangan itu. Namun memikirkan peluang bahwa dia mungkin bisa mendidik anaknya dengan cara berbeda, membuatnya sedikit rileks. Dia bisa menjadi lebih baik dari ayahnya—jauh lebih baik dari ayahnya.

“Tidak harus sekarang, konsep ini pasti mengejutkan sekali untukmu.” Thia tersenyum lagi memahami. “Kita akan banyak belajar kedepannya tentang ini. Jika kau tertarik untuk melanjutkan sesi karena dari ceritamu tadi, saya tidak bisa membantumu hanya dalam satu kali konseling.”

“Satu lagi, Mbak.” Katanya setelah jeda—kini rileks, bersandar di sofanya kelelahan setelah meluapkan segala emosinya yang selama ini dibotolkan. “Saya selalu merasa pusing, kelelahan, dan kebingungan. Setiap kali saya pergi ke dokter, mereka bilang saya baik-baik saja.”

Thia menatapnya, tertarik sebelum mencatat sesuatu. “Bagaimana rasa sakitnya? Apakah munculnya ketika kau merasa cemas dan takut? Marah?”

Jeongguk berpikir sejenak, dia selalu pusing. Nyaris terasa seperti sepanjang waktu namun dia merasakan cengkeraman yang lebih kuat di kepalanya ketika Taehyung di sekitarnya belakangan ini. Ketika dia merasa salah bicara, ketika dia berpikir secara berlebihan—ketika dia cemas.

Dia mengangguk. “Apakah itu reaksi badan saya? Normal?”

“Tergantung,” katanya lembut dan menenangkan. “Jika sudah sangat mengganggu, maka itu tidak normal. Apakah selama ini pusing yang kaurasakan menghalangimu beraktivitas?”

“Beberapa hari ini,” Jeongguk mengangguk—berdebar ingin mengetahui cara melenyapkan pusing itu sehingga dia bisa kembali hidup normal. “Saya sering tidur dalam waktu yang tidak wajar bagi diri saya sendiri. Dan selama apa pun itu, tidak memperingan rasa sakit saya. Malah semakin memperparah.”

“Saya belum bisa memutuskan hanya dari satu kali konseling tentang ini,” kata Thia lembut. “Jika kau mau, kita bisa melanjutkan sesinya sekaligus saya mengawasi perkembangan pusingmu ini. Saya harus mendengarkan progresmu perlahan sekali untuk memutuskan bantuan yang tepat untukmu.”

“Untuk sekarang,” kata Thia saat Jeongguk bangkit setelah mengakhiri sesi mereka hari itu—Thia lebih banyak mendengarkan curahan hati Jeongguk, tidak banyak menanggapi. Ingin membuat Jeongguk nyaman. “Kita akan berlatih mengenali emosi-emosimu, ya? Dimulai dengan 'bagaimana kabarmu hari ini'. Sepakat?”

Jeongguk menghela napas, merasakan efek dari melepaskan dendam ke ayahnya membuat hatinya sedikit lebih ringan walaupun dia masih tidak paham konsep memaafkan ayahnya yang selama bertahun-tahun merusaknya. Dia tidak akan pernah memahami itu. Namun dia tidak bisa berbohong bahwa menceritakan isi hatinya membuatnya merasa lebih baik. Jauh lebih baik.

“Sepakat.” Katanya tersenyum lalu memesan sesi selanjutnya.

Dia keluar dari rumah Thia, merasa sedikit lebih rileks dari sebelumnya dan meraih ponselnya. Tubuhnya seperti melayang; ringan dan lembek seperti jeli setelah memeras semua emosinya di ruangan Thia. Dia menyalakan layarnya, hendak menghubungi Yugyeom bahwa dia akan menjemputnya saat menemukan notifikasi pesan dari Taehyung.

Dia menyadari Yugyeom mengiriminya banyak pesan, meneleponnya berkali-kali namun Jeongguk menonaktifkan dering ponselnya—terlena merasa alasan keluar dengan Yugyeom akan membuat Taehyung diam setidaknya selama dua jam. Namun sesi tadi berjalan lebih dari tiga jam dan Jeongguk sama sekali tidak menyadarinya. Tangannya gemetar dan jantungnya berdebar keras saat dia menyentuh pemberitahuan Taehyung.

Apa yang kaulakukan di toilet selama ini? Kau sedang berbohong padaku?

Dan kedamaian yang dirasakan Jeongguk tadi kemudian pecah berantakan. Jantungnya mencelos hingga dia terkesiap keras oleh rasa kebasnya, terjun bebas ke lantai dan pecah berantakan.

Dia... ketahuan?

*