Gourmet Meal 449


Jeongguk menghela napas dalam-dalam saat adiknya menyelip masuk ke kursi penumpang dengan ponsel di tangannya—sudah diatur dengan peta digital ke rumah Thia. Dia mengenakan kaus pendek dua kali ukuran tubuhnya dan celana jins skinny yang menegaskan tubuh langsingnya.

Jeongguk merasa tegang, tidak hanya karena dia sedang berbohong pada Taehyung dan sangat takut pada konsekuensinya. Juga karena dia sama sekali tidak tahu apa yang harus dikatakannya kepada Thia. Apa yang harus diceritakannya? Bagaimana caranya memulai? Apakah dia sungguh bisa membantu Jeongguk? Bagaimana dia membantu Jeongguk? Apakah ada yang salah padanya?

“Tidak apa-apa,” Yugyeom menepuk lengan atasnya lalu meremasnya hangat. “Wiktu akan baik-baik saja. Tidak seburuk pergi ke dokter gigi kok.” Dia nyengir dan Jeongguk mau tidak mau balas tersenyum—dia beruntung setidaknya adiknya mendukung keputusannya ini.

“Wigung tidak akan tahu.” Tambahnya saat Jeongguk mengemudi dengan mulus keluar dari wilayah Puri-nya, menuju jalan bypass Denpasar. “Kita hanya jalan-jalan berdua tanpa Migek.”

Jeongguk menghela napas, menoleh ke adiknya sejenak saat mengganti persneling dan menatap jalanan lagi. Dia mengenakan turtleneck abu-abu nyaman dan celana jins, pakaian yang membuatnya merasa percaya diri. Turtleneck-nya memeluk tubuh Jeongguk, melindunginya seperti lapisan rahim. Dia merasa seperti janin yang meringkuk di perut ibunya, tidak siap dilahirkan. Ingin tetap bersembunyi di sana dan membiarkan orang lain menyelamatkan dunia; atau menyelamatkannya.

Dia ingin merangkak ke sisi Taehyung, ingin berbaring di sisinya—mencari perlindungan dari aura hangat Taehyung yang keras dan tegas. Membutuhkan Taehyung nyaris seperti kompas, membantunya menemukan arah. Jeongguk selama ini mungkin telah menggantungkan bahagianya pada Taehyung; menggantungkan hidupnya di sana. Tahu Taehyung tidak akan membuat mereka berdua tersesat.

Dan berbohong pada Taehyung membuatnya sama sekali tidak nyaman.

Hati-hati di jalan dan selamat bersenang-senang. Aku mencintaimu. Begitu kata Taehyung tadi, disertai gambar blakas yang akan digunakannya untuk ngayah di Banjar hari ini.

Jeongguk berpikir membelikannya sesuatu, mampir ke Puri sebelum pulang nanti—hanya agar hatinya merasa lebih baik setelah berbohong pada Taehyung. Dia menginjak gas sedikit lebih dalam, menambah kecepatan sementara di sisinya Yugyeom memutar musik di audio mobilnya. Sudah lama sejak terakhir kali dia menikmati waktu bersama Yugyeom, mereka biasanya melakukannya secara rutin namun sejak bersama Taehyung; mereka lebih suka bersama di Puri saja.

Dia mencatat di kepalanya akan mengajak keduanya pergi ke tempat rekreasi suatu hari nanti. Menyadari sepenuhnya betapa Taehyung mengapresiasi waktunya bersama Yugyeom selama ini. Jeongguk selalu menyadari betapa rileks dan lepas tawa Taehyung, bagaimana bahunya turun dan kerutan di keningnya mengendur saat dia berada di sekitar Yugyeom. Dan Jeongguk sangat menyukainya; bagaimana bahagia nampak sangat indah di wajah Taehyung.

Dia menggenggam roda kemudi lebih kuat sekarang, menghela napas. Jika dengan bertemu konselor dia bisa membahagiakan Taehyung lebih lagi, melenyapkan rasa takut tidak beralasan yang menghantuinya belakangan ini tentang betapa takutnya dia menjadi tidak layak untuk Taehyung; maka Jeongguk siap melakukan ini.

Apa saja—apa saja demi Taehyung.

Mungkin suatu hari nanti, setelah mereka berdua bahagia jauh dari semua orang yang memandang mereka sebelah mata, dia akan menceritakan ini pada Taehyung. Karena dia sungguh tidak ingin hidup dalam kebohongan dengan Taehyung. Dia ingin pemuda itu mengetahui segalanya dan Jeongguk takut menghadapi kemarahannya—takut dia akan menggunakan kartu AS pergi dari kehidupan Jeongguk sebagai hukumannya.

“Wiktu, boleh mampir ke McDonald's?” Tanya Yugyeom yang menurunkan sandaran kursinya, menikmati perjalanan.

Jeongguk mengangguk. “Kau tidak mau menggunakan mobil Wiktu untuk jalan dengan Gung Ami?” Tanyanya, menghindari lalu lintas bypass yang padat lancar ke arah Denpasar.

Yugyeom menggeleng. “Dia yang nanti menjemputku di rumah Mbak Thia. Agar Wiktu tidak menunggu lama, jika sesi Wiktu sudah selesai hubungi saja.” Dia menoleh, melemparkan senyuman menyemangati pada Jeongguk.

Dalam hati, dia mendesah. Teringat kekasih adiknya yang samar-samar diingatnya; mereka teman SMA di Karangasem sebelum Ayumi atau Ami sekeluarga pindah ke Denpasar karena ayahnya dipindah tugaskan. Anak baik dan manis, Jeongguk jarang berinteraksi karena saat adiknya SMA Jeongguk sudah sibuk mengejar obsesinya menjadi executive head chef.

Adiknya heteroseksual dan kekasihnya berasal dari kasta yang sama dengan mereka; tidaklah berlebihan saat Jeongguk mengatakan bahwa karpet merah digelar di kaki Yugyeom. Dia mendapatkan segalanya dengan mudah; semua pintu terbuka untuknya. Hanya masalah waktu hingga orang tua mereka mendesak Yugyeom untuk menikah dan itu tidak akan lama lagi.

“Baiklah.” Jeongguk mengulurkan tangan, mengusap kepala adiknya sayang dan tersenyum. Yugyeom anak manis, dia berhak mendapatkan kehidupan yang bahagia.

Menepati janjinya, Jeongguk membelok ke drive thru McDonald's untuk adiknya. Mereka membeli dua kentang ukuran besar, dua chocolate pie dan dua vanila McFlurry—makanan kesukaan mereka. Jeongguk tidak terlalu sering makan fast food, tapi dari McDonald's dia hanya menoleransi dessert dan es krim mereka. Setelah menerima makanan mereka, Jeongguk kembali mengemudi.

“Ke mana arahnya?” Tanya Jeongguk sementara Yugyeom mulai menjejalkan potongan kentang goreng ke mulutnya seraya kemudian menyebutkan arah yang mereka ambil menuju rumah Thia.

Jeongguk kembali tegang.

Belum pernah setegang ini selama hidupnya—mungkin sekali ketika dia menghadapi ayahnya untuk memperjuangkan keinginannya masuk sekolah kulinari dan menjadi chef. Namun yang kali ini, dia takut karena hal yang benar-benar berbeda. Jeongguk mengikuti petunjuk Yugyeom dengan seksama, berdebar karena tegang dan saat mereka akhirnya berhenti di rumah sederhana yang mereka duga adalah rumah Thia—jantung Jeongguk menonjok tenggorokannya hingga dia nyaris muntah.

“Tidak apa-apa, Wiktu bisa melakukannya.” Yugyeom menepuk tangannya dengan lembut dan Jeongguk meraih ponselnya, menghapus pemberitahuan dari Taehyung yang akan dibalasnya nanti.

Dia menekan tombol panggil di nomor Thia dan menunggu nada sambung. Teleponnya diangkat pada dering keempat dan Jeongguk menahan napasnya.

Halo, Gung?”

Jeongguk menghela napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Dia sudah di sini, sudah terlambat untuk mundur. “Mbak Thia, saya di depan.”


Tak!

“Aduh, becikang, Atu, becikang!” Aduh, hati-hati, Atu.

Taehyung berhenti menggerakkan blakas-nya—pisau berbilah besar sejenis golok di atas bambu yang sedang dibelahnya untuk membuat sanggah caru. Dia menatap tangannya sendiri yang hampir putus karena terkena bilah pisaunya sendiri—perasaannya tidak enak. Sejak beberapa hari lalu. Dia merasa Jeongguk sedang berbohong padanya.

Dia sedang berada di banjar, membantu masyarakat mempersiapkan hari raya dengan memasak makanan serta membangun sarana persembahyangan. Memasang pakaian baru untuk setiap pura dan memasang panji-panji. Dia sudah bekerja setidaknya sepanjang pagi sementara tim lain mengerjakan lawar untuk makan siang mereka nanti.

Banjar sangat riuh hari itu. Beberapa orang mulai berdatangan membawa banten-banten mereka, meletakkannya di meja tinggi baru yang mereka buat dari bambu-bambu. Gamelan Bali diputar di pengeras suara, menemani mereka bekerja dan aroma dupa pekat serta kopi yang diseduh tanpa henti selama mereka bekerja. Riuh-rendah obrolan para anggota yang bekerja membuat Taehyung fokus pada pekerjaannya. Dia sudah merasa lusuh, dengan kemeja denim dan kain yang mulai tidak karuan bentuknya karena sejak pagi digunakan untuk naik turun bekerja serta kepalanya yang lengket karena udeng.

Taehyung menatap bilah-bilah bambu yang dibelahnya tadi, sebentar lagi akan dianyam untuk membentuk sanggah kecil sekali pakai. Alisnya berkerut, dia meletakkan blakas-nya di tanah di sisi kakinya yang bersila dengan tidak nyaman. Sesuatu bergerak di dasar perutnya, seperti seekor binatang yang terganggu—menggeliat dan menggeram, menyadari ada sesuatu yang salah.

Jeongguk tidak pernah berbohong padanya, itulah mengapa ketika dia berbohong Taehyung seketika menyadarinya. Namun dia memilih mengabaikannya, firasat yang menganggunya karena dia tidak ingin memperkeruh suasana dengan Jeongguk. Pemuda itu kelelahan sekali belakangan ini, Taehyung tidak tega menambahkan masalah untuknya.

“Atu?” Tanya seorang anggota banjar, mendekat ke arahnya. “Atu nenten kenapi?” Tidak apa-apa?

Taehyung mendongak, mengerjap—sejenak merasa diorientasi sebelum mengangguk, tersenyum terlambat. “Baik, saya baik. Tidak apa-apa.” Katanya dengan bahasa halus, menghibur pria paruh baya itu. “Dilanjutkan saja, Pak, silakan.”

Dia tersenyum pada para bapak-bapak yang membantunya bekerja lalu membenahi kainnya sebelum meraih kembali batang bambu yang dijatuhkannya tadi. Dia menatap benda itu, meraih blakas kembali dan berpikir—menatapnya seolah benda itu baru saja melakukan hal yang sangat jahat padanya. Haruskah dia bertanya pada Jeongguk?

Atau dia berpura-pura tidak tahu? Menunggu Jeongguk akhirnya jujur padanya?

Taehyung menyelipkan bilah blakas-nya di bambu lalu mulai membelahnya dengan isi kepala berada di tempat lain. Bambu terbelah dengan suara nyaring namun Taehyung sama sekali tidak menyadarinya. Bagaimana jika ternyata Jeongguk keluar bersama Mirah? Dan Yugyeom bekerja sama dengan kakaknya agar tidak mengatakannya pada Taehyung?

Napas Taehyung mulai memburu dan paru-parunya yang malang kepayahan karena perasaan amarah itu. Napasnya memberat, terdengar berdenging dan tersengal-sengal. Bagaimana jika Jeongguk memang pergi bersama Mirah? Sekarang sedang berjalan-jalan menikmati waktu mereka berdua tanpa sepengetahuan Taehyung?

Bagaimana jika—

Ponselnya berdenting dan dia bergegas meletakkan blakas di tangannya sebelum meraihnya dari saku kemejanya. Yugyeom. Alisnya berkerut tidak suka saat dia membuka pesan itu terburu-buru dan mendapati Yugyeom mengirimkannya swafoto di dalam Yaris Jeongguk. Anak itu memegang es krim dengan kentang goreng di mulutnya dengan sudut foto yang menampilkan Jeongguk di kursi kemudi—tersenyum dengan kentang di salah satu tangannya yang mengemudi. Foto itu menunjukkan sudut kursi penumpang di belakang Jeongguk—satu-satunya tempat kosong lain di mobil itu, dan tidak ada siapa pun di sana.

Napas Taehyung merileks walaupun dia masih tidak yakin; mereka bisa saja menjemput Mirah atau bertemu dengan gadis itu di tempat tujuan mereka.

Kami berkencan dulu, ya, Wigung!!!!!! Begitu pesan yang menyertai foto itu dan mau tidak mau, Taehyung tersenyum kecil. Dia akan membawa keduanya pergi ke tempat rekreasi suatu hari nanti, pasti menggemaskan.

Dia baru saja akan menyimpan ponselnya kembali, merasa sedikit lebih rileks saat Yugyeom mengirimkan foto kedua. Ada Jeongguk dan seorang gadis yang jauh lebih pendek darinya—rambutnya panjang hitam, tergerai lembut di atas bahunya. Kurus sekali dan Yugyeom mengetik: Pacarku ikut hari ini!

Taehyung kembali tersenyum. Mulai merasa hatinya ringan; mereka memang menghabiskan waktu bersama dan menyesal tidak bisa ikut. Dia seharusnya bisa berkenalan dengan kekasih Yugyeom, melakukan kencan ganda yang untuk pertama kalinya tidak akan membuatnya jengkel.

Dia mengetik balasan: Kapan-kapan Wigung dikenalkan, ya?

Jawabannya datang seketika: Jelas! Ayo kencan ganda!

Taehyung tersenyum—Yugyeom anak baik dan favorit Taehyung. Memiliki adik lelaki adalah harapan terpendamnya selama ini. Pastilah menyenangkan memiliki adik dengan jenis kelamin sama dan tekanan patriarki yang bisa dibagi. Dia bersyukur Jeongguk memiliki adik, setidaknya dia memiliki jalan keluar untuk mereka. Bayangkan jika mereka berdua merupakan anak lelaki satu-satunya dan pewaris Puri?

Tidak ada Mirah? Tanyanya sekali lagi, mengerutkan alis menatap layar ponselnya—menunggu hingga penanda pesan terkirim menyala biru dan Yugyeom mengetik balasan.

Sama sekali tidak! Hanya kami bertiga <3

Dia menghela napas dan menyimpan kembali ponselnya; masih terasa ada yang mengganjal di hatinya. Yugyeom tidak akan berbohong padanya, 'kan? Dia sayang Taehyung, sama seperti dia menyayangi kakaknya. Dia mungkin hanya bersikap terlalu awas tentang Jeongguk, dia meraih blakas-nya dan kembali bekerja.

Dia akan menunggu Jeongguk jujur padanya tentang hari ini. Berharap lelaki itu sungguh akan jujur padanya.

*