Gourmet Meal 476

tw // manipulation , trauma , passive behavior , session , insecurity , fear , anger , guilt-tripping , dissociation .


“Bagaimana jika... tidak bisa?”

Thia menatap Jeongguk, “Tidak bisa...?” Tanyanya lembut, nyaris terdengar seperti mempertanyakan kewarasan Jeongguk. “Gung, dia memanipulasimu, mengontrol emosimu, secara konstan membuatmu merasa bersalah atas dirimu sendiri, membuatmu mempertanyakan harga dirimu—”

“Dia satu-satunya orang yang saya butuhkan di dunia ini. Tidak,” Jeongguk menggeleng, gemetar. “Tidak ada yang lain lagi.” Dia lalu menmbahkan dengan sedikit panik. “Ada waktu ketika dia benar-benar baik dan manis, dewasa dan menenangkan. Dia tidak bersikap...” Jeongguk menelan ludah, melirik ke sekitar lagi sebelum menambahkan. “Begitu sepanjang waktu, hanya ketika dia marah.”

“Jeongguk,” tegur Thia lembut. “Berhenti memberikan dia alasan, berhenti membenarkan sikapnya yang salah. Jangan memanipulasi dirimu sendiri.” Dia menatap Jeongguk yang tidak membalas tatapannya, menunduk menatap lantai setelah tadi bicara sebentar pada Jimin mengenai Taehyung yang sudah tahu kebohongannya.

Dia kembali merasa terjebak, kembali merasa kecil seolah seseorang sedang menjejalkan Jeongguk ke dalam kardus yang jauh lebih kecil dari ukuran tubuhnya. Dipaksa dengan cara yang tidak manusiawi hingga Jeongguk tersengal—terserang rasa takut dan gelisah yang tidak disukainya. Bagaimana jika Taehyung marah?

“Jeongguk, tarik napas. Tenang, dia tidak ada di sini. Dia tidak bisa mendengarmu.” Bisik Thia lembut, mencondongkan tubuhnya seolah ikut merasakan ketakutan Jeongguk namun tetap menjaga batasnya sebagai konselor. Jeongguk menghargai itu karena dia tidak suka disentuh.

Jeongguk memejamkan matanya, menghela napas dalam-dalam—mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar kacau balau. Dia menyentuh dadanya, merasakan debarannya yang kuat dengan gelisah. Sejak kapan dia sangat ketakutan pada Taehyung? Bukankah dia mencintai Taehyung? Taehyung juga mencintainya, kenapa mereka bisa saling menyakiti?

“Kau memberi terlalu banyak, dia menerima terlalu banyak.” Kata Thia lembut. “Hubungan apa pun itu—entah keluarga, pertemanan, percintaan itu sebaiknya saling. Seimbang. Saling memberi, saling menerima. Sebaiknya tidak ada yang lebih: lebih mencintai, lebih dicintai.

“Dari kasusmu ini, dan bagaimana sikapmu tentang itu,” Thia menghela napas dan menatap Jeongguk. “Kau lebih baik meninggalkannya saja, melangkah pergi dari hubungan itu. Hormati dirimu sendiri, Jeongguk. Jangan terus berada di dalam hubungan yang mencekikmu.”

“Bagaimana...” Bisik Jeongguk, menggenggam tangannya dengan gelisah. “Bagaimana jika aku.... Berusaha membicarakan ini dengannya? Manusia bisa berubah, 'kan? Bagaimana jika aku... menolongnya berubah?”

Thia menatapnya, sejenak kaget namun bergegas mengendalikan ekspresinya. Dia menatap Jeongguk lekat-lekat, nampak cemas. “Gung,” panggilnya lembut. “Bahkan profesional seperti saya, tidak berani menolong siapa pun berubah jika memang dia tidak ingin berubah.”

“Mbak,” sahut Jeongguk. Untuk yang kali ini, dia keras kepala. Bagaimana bisa dia meminta Jeongguk meninggalkan Taehyung begitu saja ketika Jeongguk satu-satunya pelampung penyelamat Taehyung di tengah lautan dingin yang hendak melahap mereka hidup-hidup?

Tidak, Jeongguk tidak sudi. “Tidak.” Katanya, tegas.

Thia menatapnya, sejenak diam—memikirkan solusi apa yang sebaiknya diberikannya pada Jeongguk yang tidak mau melangkah pergi dari hubungan yang selama ini merusaknya. Hubungan yang membuatnya pasif dan tidak berdaya, melepaskan diri dari lelaki yang memanipulasi emosinya dan menyakitinya secara konstan. Lelaki yang ditoleransinya, diterima sikapnya, dibenarkan.

“Baiklah,” bisik Thia kemudian—tidak yakin bagaimana, namun dia bisa mencoba sesuatu. Walaupun ini berarti dia mengambil risiko membiarkan kliennya terpapar kepada seuatu yang merusaknya terus.

Dia menatap Jeongguk, untuk pertama kali nampak tegas dan serius tentang pilihannya. Sayangnya, dia yakin dan tegas pada pilihan yang keliru. Apakah dia yakin dia bisa melakukan itu? Namun dari sorot matanya, nampaknya Thia tidak bisa mengatakan atau melakukan apa pun untuk mengubah pendapatnya.

“Jika begitu, kau bisa mencoba...”


“Tugung, ada Turah.”

Taehyung menoleh, dia berdiri di depan pintu kamar mandi sedang mengeringkan rambutnya dengan celana pendek menggantung rendah di pinggulnya, bertelanjang dada saat Lakshmi mengetuk pintunya, berbisik dengan terburu-buru. Jika Jeongguk datang, mereka harus bergegas menyelundupkannya ke kamar Taehyung sebelum orang Puri melihatnya. Sebenarnya jika dia melangkah biasa saja pun tidak akan ada yang peduli, namun Taehyung sedang tidak ingin meladeni ayahnya.

Sudah beberapa hari ini mereka berhasil tidak bersinggungan, hanya sekadar bertemu mata. Taehyung mengangguk kemudian pergi dari hadapan ayahnya. Dia tidak pernah bertemu dengan Devy setelah kejadian pemukulan kemarin, bahkan tidak saling mengirim pesan karena pesan terakhir yang dia kirimkan ke Devy diketik oleh Jeongguk yang tidak terima. Setelahnya, mereka tidak saling kontak sama sekali.

Taehyung sudah berjanji pada Jeongguk, dia tahu. Namun dia benar-benar belum bisa membawa dirinya sendiri bersikap biasa saja pada Devy setelah kejadian fatal kemarin. Dia bukan Jeongguk yang bisa menelan begitu saja sakit hatinya dan bersikap biasa saja pada semua orang. Taehyung merasa jika dia melihat Devy di hadapannya sekarang, dia bisa melakukan apa saja yang mungkin akan disesalinya. Bohong jika dia bilang dia tidak merindukan hubungan mereka yang baik-baik saja dulu—dia berisik, tapi setidaknya lumayan menghibur.

Dia terluka karena Devy ternyata tidak sebaik apa yang dipikirkannya, menyesal karena telah percaya padanya. Taehyung menghela napas, menyimpan masalah itu untuk dikhawatirkan nanti.

Taehyung bergegas menghampiri pintu, membuka selotnya dan menarik daun pintunya membuka. Melihat Jeongguk berdiri di depan pintu, tersenyum lembut dan hangat dengan Lakshmi yang sudah siap kabur. Maka dia bergegas menyingkir dari pintu, membiarkan Jeongguk memasuki ruangan sebelum Lakshmi bergegas pergi dengan nampan setelah berdoa; memberi tanda untuk memberi tahunya jika Jeongguk akan pulang. Taehyung mengunci pintunya kembali setelah mengangguk, berbalik melihat Jeongguk berdiri di tengah kamarnya.

Dia mengenakan kemeja biru muda dengan garis-garis putih berlengan pendek, dua kancing teratasnya terbuka dan dia membawa kantung plastik beraroma tajam bumbu. Taehyung mendesah, menyadari Jeongguk membelikannya nasi goreng kesukaannya. Dia melirik jendela yang tertutup karena dia mandi sebelum melangkah ke Jeongguk.

“Hai,” sapa pemuda itu lembut sebelum meletakkan kantung plastik di kasur dan membuka kedua lengannya. “Kemarilah.”

Taehyung membenamkan dirinya ke pelukan Jeongguk, menghirup aroma pengharum mobilnya yang sudah sangat dikenalnya. Dia mengaitkan jemarinya ke balik punggung Jeongguk yang menciumi lehernya. Dia marah dan terluka, yakin Jeongguk sedang membohonginya namun tidak tahu apa motif lelaki itu membohonginya. Namun dia juga merindukannya, membutuhkannya agar napasnya lega dan jantungnya berdebar dengan damai.

“Kau marah?” Tanya Jeongguk lembut. “Karena aku terlambat?”

Taehyung menghela napas, terganggu. “Apa yang dilakukan Yugyeom sekarang hingga kau terlambat?” Tanyanya, menggertakkan rahangnya—dia tahu Jeongguk akan berbohong, namun dia tetap memancing kebohongan itu.

Jeongguk diam sejenak, tubuhnya menegang. Itulah taktik yang selalu digunakan Taehyung tiap kali menentukan apakah Jeongguk berbohong atau tidak. Menyentuhnya saat bertanya, merasakan perubahan fisik dan organnya saat dia berbohong karena pemuda itu benar-benar pembohong yang payah. Taehyung merasakan debaran jantungnya yang mulai naik dan menghela napas, menyadari Jeongguk akan berbohong.

“Aku hari ini tidak pergi dengan Yugyeom.”

Taehyung membeku di pelukannya—tubuhnya mendadak dingin. Rasa itu menjalar dari kakinya, perlahan naik meringkus tubuhnya dengan perasaan takut yang melumpuhkan. Dia menahan napasnya, dia tidak pergi dengan Yugyeom? Jantungnya melonjak, menonjok rusuknya dengan begitu kuat hingga terasa nyeri. Asam lambung bergolak di dasar perutnya, merespons stres yang dirasakan otaknya ketika memikirkan dengan siapa Jeongguk mungkin menghabiskan hari itu.

Dia hendak mendorong Jeongguk, hendak menatapnya untuk memastikan siapa yang diajak Jeongguk saat pemuda itu meresponsnya dengan memeluknya semakin erat.

“Kau harus berjanji tidak akan marah padaku sebelum aku menjelaskan.” Bisik Jeongguk, mendekapnya begitu erat hingga tulang Taehyung nyeri—dia terjebak dalam pelukan Jeongguk.

Tubuhnya dingin sekali sekarang, rasa mual mulai bergulung naik. Tiap tarikan napasnya menyengat pangkal hidungnya dan paru-parunya mengerut berusaha bernapas. Tubuhnya bereaksi terhadap stres dengan cara yang sangat menggelisahkan.

“Mirah.” Bisik Taehyung, melepaskan satu-satunya sumber segala ketakutan dan kecemasannya. “Kau dengan Mirah.” Dia takut Jeongguk berubah pikiran tentang perjodohannya, takut Jeongguk ternyata merasa hubungannya dengan Taehyung adalah kesalahan, takut Jeongguk meninggalkannya.

Takut, takut. Takut.

Jeongguk terkesiap, dia mendorong Taehyung untuk menatap wajahnya dan gurat kaget di wajah Jeongguk membuat perasaan Taehyung sejenak lebih baik. Ekspresi Jeongguk mengatakan dengan jelas bahwa dugaan Taehyung salah. Paru-parunya kembali mengembang dengan perlahan.

“Tidak.” Katanya, nyaris marah dan Taehyung berjengit oleh nada itu. Kali pertama Jeongguk meninggikan nadanya pada Taehyung—dia terdengar frustrasi dan kecewa sekarang. “Kau memikirkan itu?” Tanyanya dengan suara pecah. “Kau berpikir selama ini aku pergi dengan Mirah? Padahal aku sudah memberi tahumu, bahkan meneleponmu menunjukkan padamu orang-orang yang kuajak keluar—kau tetap tidak memercayaiku?”

Jeongguk terdengar... marah.

Dan Taehyung terdiam. Jeongguk tidak pernah marah padanya, dia tidak pernah marah bahkan kepada siapa pun di hidupnya. Dan dia sekarang marah pada Taehyung; emosi itu nampak aneh di wajahnya, membuatnya terlihat seperti orang asing. Wajahnya memerah dengan cara yang Taehyung tidak sukai. Dia membuka mulutnya, hendak membela diri.

Bagaimana caranya dia percaya jika Jeongguk terus berbohong padanya? Menutupi kebohongan itu dengan kebohongan-kebohongan kecil yang terus menerus dicekokannya ke mulut Taehyung? Apakah dia berharap Taehyung akan menelannya begitu saja tanpa kecurigaan sama sekali? Memangnya Taehyung bayi?

Namun Jeongguk menyelanya, kali ini meledak.

“Kau selalu begitu.” Jeongguk menggeram dan Taehyung seketika bergidik kaget. “Kau selalu begitu padaku, tidak pernah memercayai apa pun yang kukatakan padamu. Tidak pernah menghargai emosiku, segala hal hanya tentangmu!” Dia mencengkeram pergelangan tangan Taehyung, menatapnya begitu tajam dan dipenuhi rasa amarah yang membuat Taehyung gelisah.

“Kau selalu ingin dipahami, diistimewakan, tapi apakah kau pernah berhenti untuk menanyakan perasaanku? Pernahkah kau menanyakan apa yang aku rasakan?? Memahamiku?? Tidak, kau terlalu sibuk memikirkan dirimu sendiri; penderitaanmu sendiri hingga kau tidak menyadari sekitarmu!

“Kau selalu memberikanku silent treatment, tidak menjelaskan apa pun tidak menerima penjelasan apa pun. Kau langsung memotongku, meninggalkanku. Kau selalu begitu, Taehyung. Kau selalu meninggalkanku, kapan saja kau ingin. Kapan saja aku membuatmu tersinggung sedikit saja. Egomu. Egomu selalu lebih besar dari akal sehatmu.

“Aku berusaha membuatmu bahagia!” Jeongguk gemetar semakin kuat sekarang, berusaha keras membuka mulutnya untuk bicara sementara cengkeramannya di pergelangan tangan Taehyung menguat—namun Taehyung terlalu terpana untuk merasakan sakit itu.

“Aku selalu berusaha membuatmu bahagia, Taehyung.” Dia menggeram rendah, geraman itu menjalar di kulit Taehyung—menyengatnya dengan perasaan tidak nyaman. Wajah Jeongguk ketika marah terlihat begitu asing dan aneh, Taehyung nyaris tidak mengenali siapa lelaki di hadapannya.

“Tapi kau tidak,” dia menggertakkan rahangnya, memejamkan matanya berusaha mengendalikan dirinya sendiri. “Kau tidak pernah,” dia gemetar seperti mesin rusak yang akan meledak—dia memejamkan matanya, menghela napas dengan suara berdenging keras.

“Kau tidak pernah menghargaiku.”

Taehyung menatapnya, kaget. Ini pertama kalinya Jeongguk marah dan padanya. Dia bahkan berhenti memanggil Taehyung 'Wigung'. Dia menyebutkan nama Taehyung dengan begitu banyak racun di dalamnya hingga kulit Taehyung mendesis meresponsnya—seperti asam yang dituang ke atas sana, membakarnya hingga ke belulangnya. Ngilu.

“Ketika aku melakukan segalanya untuk membahagiakanmu, memperjuangkan hubungan kita, mencoba semua cara demi membuat hubungan ini berhasil dan kau hanya memikirkan apakah aku berselingkuh darimu?” Tanyanya, terdengar begitu kecewa hingga kesedihan menikam jantung Taehyung.

Dia tidak mau mengecewakan Jeongguk, dia tidak akan bisa menangguhkannya jika dia melihat tatapan kecewa yang sama seperti yang ada di mata ayahnya, kini berada di mata Jeongguk. Dia tidak akan bisa menanggungnya, dia tidak akan pernah....

“Serendah itukah cintaku di matamu?” Bisik Jeongguk sekarang—luka, kecewa, amarah dan semua emosinya larut di dalam suaranya. Terasa pahit dan menyengat seperti vodka. Seperti perasan lemon di atas luka yang basah, berdenyut mengerikan. “Serendah itukah aku di hadapanmu hingga kau selalu berpikir aku akan berselingkuh dan kabur begitu saja ketika hubungan kita terasa sulit? Ketika kau terasa sulit?”

“Apakah kau takut aku melakukannya?” Jeongguk menatapnya—langsung ke matanya. Dan ini kali pertama Taehyung menatap mata itu, tidak menemukan keteduhan serta kedamaian yang selalu dirasakannya.

Jeongguk murka.

Taehyung tidak menyukainya. Dia terbiasa pada amarah; ayahnya sudah mengajarinya banyak tentang emosi itu. Bahkan dengan banyak sekali pertunjukkan bagaimana amarah bisa membuat tangan dan kakinya begitu ringan. Namun amarah di wajah Jeongguk adalah hal baru yang belum pernah dilihat Taehyung. Wajahnya merah padam, menjalar hingga lehernya dengan tatapan menusuk yang membuat Taehyung merasa kecil. Tidak ada manusia di dunia ini yang pernah melihat Jeongguk marah.

Dia bahkan tidak pernah marah di dapur, menegur keras pasti. Tapi marah-marah, membanting barang-barang adalah tugas Taehyung. Jeongguk selalu dikenal sebagai chef bertangan dan kepala dingin; dia tenang, teratur, dan segala yang disentuhnya berbuah. Sangat berlawanan karakternya dengan Taehyung yang selalu mengandalkan amarahnya di atas logikanya. Maka ketika Jeongguk kemudian marah, Taehyung takut.

Dan dia belum pernah setakut ini sejak dia kecil, dimarahi ayahnya untuk pertama kalinya. Belum pernah setakut ini sejak dia memikirkan potensi Jeongguk mungkin meninggalkannya. Sekarang, dengan amarah mentah Jeongguk melingkupi oksigennya dan membuat paru-parunya mengerut oleh udara yang beracun, Taehyung yakin 'meninggalkannya' bukan lagi ketakutan.

Jeongguk akan meninggalkannya sekarang.

“Karena itulah yang selama ini kaulakukan padaku? Kau selalu kabur, memilih melepaskanku ketika hubungan kita menjadi sulit. Kau selalu pergi dariku, melepaskanku begitu saja detik kau memiliki kesempatan. Itukah kenapa kau takut aku melakukan hal yang sama?”

Pergelangan tangannya berdenyut dalam cengkeraman Jeongguk, mulai kesemutan karena aliran darahnya tertahan namun Taehyung nyaris tidak menyadarinya karena ketakutan di kepalanya. Ini pertama kalinya seseorang selain ayahnya menaikkan suaranya pada Taehyung—memarahinya, menegurnya dengan begitu keras.

Mereka sejenak terdiam dan Taehyung menyesal; dia seharusnya menelan begitu saja kebohongan Jeongguk tadi. Mereka pasti sedang makan bersama di ranjang sekarang, Taehyung dimanjakan dan dipeluk hingga lelap. Bukan ditegur dan dimarahi. Kepalanya sakit oleh penyesalan, dia salah langkah—dia seharusnya tidak menyebut nama Mirah tadi.

Bodoh, pikirnya pilu.

“Lucu,” dia mendenguskan tawa yang membuat Taehyung bergidik—perutnya mengejang, menahan rasa takut yang menjalari tubuhnya. “Lucu bagaimana kau takut disakiti dengan cara yang sama sebagaimana kau menyakitiku—bahkan berkali-kali. Pernahkah kau memikirkan itu, Taehyung? Pernahkah kau memikirkan posisiku? Karena sungguh, dalam hubungan ini tidak hanya kau yang menderita.”

Taehyung menahan napasnya, mengalihkan pandangannya dari tatapan Jeongguk yang menusuk. Dia membuka mulutnya, “Lalu,” katanya pelan dan Jeongguk diam, menunggu. “Jika kau merasa sangat suci dalam hubungan ini, pihak yang selalu tersakiti dan menderita,”

Tutup mulutmu! Seru Taehyung pada dirinya sendiri, namun mulutnya tidak berhenti. “Apakah kau kemudian tidak pernah melakukan sesuatu yang salah? Seperti berbohong padaku selama tiga minggu ini tentang di mana kau menghabiskan Sabtu-mu seharian?”

“Sungguh, Jeongguk,” balasnya, merasa sakit hati karena diteriaki seolah Jeongguk tidak pernah melakukan apa pun yang menyakitinya, seolah Jeongguk seorang... “Kau sendiri bukan seorang santa.”

“Kenapa kau selalu memberi tahuku kau sedang bersama Yugyeom padahal kau tidak sedang bersamanya?” Tanyanya lagi, tidak mengenali suaranya sendiri—seolah tubuhnya bergerak begitu saja diluar kehendaknya. Mulutnya bicara begitu saja di luar kendalinya. “Kenapa kau membohongiku? Dan sekarang datang padaku, meneriakiku tentang rasa percaya?”

Jeongguk menghela napas, memejamkan matanya dengan erat hingga keningnya berkerut. “Kau akan selalu membuat segalanya tentang dirimu, 'kan, Taehyung? Aku baru saja memberi tahumu perasaanku, memberi tahumu semua keluhanku dalam hubungan kita dan hal pertama yang kaukatakan adalah tentang dirimu.”

“Kau memang berbohong padaku,” sahut Taehyung pelan, tidak lagi paham dari mana dia mendapatkan keberanian itu. Dia hanya kebingungan, merasa seolah dia menonton dirinya sendiri meneriaki Jeongguk sekarang; tidak merasakan dirinya, tidak mendengar suaranya sendiri.

Jeongguk melakukan sesuatu yang membuat Taehyung terkesiap kaget dan berjengit. Dia melepaskan tangan Taehyung, mengibaskannya dengan keras hingga Taehyung mengernyit dan melemparkan kepalannya ke udara kosong di hadapannya kuat-kuat, menekuk sikunya agar pukulannya tidak mengenai Taehyung seraya meneriakkan sesuatu tanpa suara—pembuluh darah di pelipisnya berdenyut.

“Ya Tuhan, Taehyung.” Jeongguk menghela napas tajam dan mengusap wajahnya. Dia melangkah menjauhi Taehyung, menenangkan dirinya sendiri yang tersengat perasaan frustrasi. “Ya Tuhan.” Keluhnya penuh amarah yang tidak bisa dilampiaskannya.

Tangan Taehyung jatuh ke sisi tubuhnya, berdenyut lega karena aliran darah kembali berjalan normal namun dia tidak merasakannya. Dia menatap Jeongguk yang bergerak-gerak di hadapannya, nampak berusaha keras mengontrol emosinya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya keras. Mereka bersidiam, tidak ada yang bersuara sama sekali kecuali suara binatang dan malam di luar sana. Taehyung mendengar suara napasnya sendiri yang berdenging di telinganya—membuatnya sedikit pusing.

“Aku konseling.” Kata Jeongguk kemudian tanpa menoleh, meletakkan satu tangannya di pinggang sementara tangan lainnya di rambutnya. Taehyung mengerjap, menatap punggungnya. “Aku bertemu psikolog secara reguler sudah selama tiga minggu karena aku membutuhkan bantuan dengan emosiku dan kelelahanku.”

Taehyung mengerjap, masih merasa seolah melayang dari tubuhnya dan tidak menjejak tanah. Suara Jeongguk terdengar jauh sekali darinya—seolah dia berada di dalam air. Pandangan matanya buram dan dia kebingungan karena tidak merasakan tubuhnya sendiri. Kepalanya berdenging, menyala dengan ketakutan bahwa Jeongguk akan meninggalkannya.

Dia mengerjap, “Dan kenapa...?” Kepalanya terasa ringan sekali sekarang, dia seperti balon yang melayang naik ke atas dan dia menyaksikan tubuhnya sendiri melayang—dia merasa mengulurkan tangan namun tangannya diam.

Jeongguk menoleh, menatapnya dan menghela napas. Dia nampak kecewa, marah, bingung, dan sedih. Taehyung tersengat rasa bersalah dan takut: dia yang membuat Jeongguk marah. “Aku butuh bantuan.”

Taehyung merasa mabuk dan kebingungan. Dia membuat Jeongguk marah. “Tidak bisakah 'ku membantumu?” Dia menatap Jeongguk, tubuhnya terasa seperti jeli. “Kau akan meninggalkanku?”

Jeongguk menghela napas, “Taehyung,” keluhnya. “Tidakkah kau mendengar semua kata-kataku tadi? Tidakkah kau mendengarkannya? Mengapa segalanya harus tentangmu?” Dia memijat pelipisnya, sebelum menghela napas keras.

“Kau tahu,” katanya kemudian dengan nada final yang membuat Taehyung bergidik ngeri. “Kau pikirkan apa yang kukatakan, tidak ada gunanya bicara sekarang. Kita bicara lagi besok. Aku tidak bisa berada di sekitarmu sekarang, aku sangat marah. Aku tidak mau melakukan sesuatu yang akan menyakitimu dan akan kusesali nanti.”

Sesuatu jatuh di dalam diri Taehyung, pecah berhamburan seperti sebuah vas yang dibanting. Jantungnya sejenak berhenti berdetak, napasnya tercekat dan darah surut dari wajahnya. Jeongguk... pergi? Sekarang? Dia berusaha mengatakan sesuatu, namun tubuhnya tidak meresponsnya sama sekali. Dia melihat Jeongguk dari kejauhan, pandangannya kabur—apakah dia menangis?

Jeongguk mendekat ke arahnya, mengulurkan lengan kanannya dan merengkuhnya dengan separuh badannya. Dia mengecup kening Taehyung dan menghela napas berat sekali lagi. “Istirahatlah,” katanya dengan suara mendengung, rasanya seperti Taehyung sedang tenggelam di dalam air.

Jeongguk... pergi? Pergi darinya?

“Besok aku akan menjemputmu.” Dia mengusap punggung Taehyung lalu melepaskan pelukannya dan melangkah keluar dari kamar Taehyung.

Mereka... putus?

Dan semoga tidak dari hidup Taehyung juga.


ASTAFIRULO CAPE YA NGETIK SCENE MARAH HDEEH enjoy ehe x