Gourmet Meal 482
tw // anxiety , father issue , mention of domestic abuse , excessive thoughts , self-blaming , self-labelling , dissociation . cw // dub-con , humping , bathroom implicit sex .
note.
Dissociation is a disconnection between a person's sensory experience, thoughts, sense of self, or personal history. People may feel a sense of unreality and lose their connection to time, place, and identity.
Depersonalization and derealization are often responses to overwhelming traumatic events that cannot be escaped, such as child abuse and war trauma. They arise in order for the person to keep on functioning at the moment of being severely traumatized.
Taehyung tegang.
Dia merasa gelisah saat menunggu Jeongguk menjemputnya di balai rumahnya yang terdekat dengan pintu keluar. Ayah dan ibunya hari ini pergi ke rumah keluarga mereka di Denpasar, hanya ada dia dan Lakshmi di rumah. Tuniang juga di rumah, selalu di rumah namun Taehyung selalu menganggapnya tidak pernah ada. Jauh lebih mudah untuk mereka berdua karena mereka selalu berakhir bertengkar tiap kali bertemu—Tuniang yang tidak pernah paham bahwa cucunya sudah dewasa dan tidak perlu dicekoki nasihat serta Taehyung yang tidak mau mendengarkan.
Taehyung melirik jam tangannya, memikirkan apakah lalu lintas ke Klungkung ramai karena Jeongguk tiba lebih lama dari biasanya. Dia tadi sudah menghubungi rekan mereka di lodge langganan mereka—memesan satu kamar untuk hari ini, early check in. Taehyung ingin tempat yang lebih personal sehingga mereka bisa bicara dengan lebih leluasa.
Kemarin saat meneleponnya, Jimin menjelaskan pada Taehyung apa yang bisa dilakukannya jika mereka bicara sebagai sepasang kekasih. Jimin memintanya menjelaskan ketakutannya, jelaskan pada Jeongguk apa yang dirasakannya tentang Mirah dan bagaimana sebaiknya Jeongguk menghormati perasaan itu.
“Aku dulu setuju tentang pertunangan itu,” gumam Taehyung mentap cincin Tiffany mereka yang melingkar di jari manisnya; teringat hari pertunangan Jeongguk dua bulan lalu, betapa surealnya hari itu karena dia bahagia.
Dia memiliki Jeongguk, Mirah bisa berusaha namun hati Jeongguk miliknya. Teringat obrolan kecil mereka di meja makan, bagaimana Taehyung bisa bersikap begitu berbesar hati tentang acara itu. Dia tertawa, percaya diri, dan tenang; tidak sedikit pun merasa terancam oleh keberadaan Mirah.
Sejak kapan percaya dirinya terjun bebas ke lantai? Oh. Sejak mereka melakukan kencan ganda, sejak Taehyung menyaksikan sendiri betapa serasinya interaksi mereka berdua. Interaksi kecil mereka yang mengganggunya, sentuhan-sentuhan sopan Jeongguk pada Mirah dan bagaimana dia mengusap rambut Mirah hari itu di Tirta Gangga.
Taehyung menghela napas.
“Dan kau berubah pikiran tentang pertunangan itu,” sahut Jimin dari seberang sana dengan tenang—Taehyung mendengar suara dengung obrolan lain di kejauhan serta debur air pantai, menyadari sahabatnya sedang menikmati waktunya dengan Yoongi di vila berlibur Yoongi yang berada di tepi pantai.
Taehyung tersengat rasa iri: ingin memiliki hidup sesederhana Jimin. Tidak memiliki keluarga dan nama yang mengikatnya, mencekiknya berusaha membunuhnya hidup-hidup. Dia pergi ke mana saja dia ingin, bercinta dengan siapa saja yang dia mau, menikmati hidupnya.
“Itu normal. Manusia berubah, pendapat dan cara pandangmu berubah setelah mendapatkan lebih banyak bahan pertimbangan.”
“Itulah mengapa kau harus membicarakannya pada Jeongguk, bahwa kau tidak menyukai interaksinya dengan Mirah. Lalu kalian bisa mendiskusikan apa yang sebaiknya dilakukan sehingga kedua belah pihak nyaman tentang—,” Jimin sejenak berhenti lalu mengerang dan mengatakan ke seseorang di sisinya dengan nada rendah, 'Yooms, tolong aku sedang menelepon. Nanti aku kembali.' sebelum kembali ke Taehyung.
“Maaf,” gumamnya lalu melanjutkan sementara Taehyung menggeleng, tidak masalah. Dia yang meminta maaf karena mengganggu liburan Jimin. “Kedua belah pihak nyaman tentang hubungan. Kau berada dalam hubungan itu berdua, menyatukan dua kepala. Kalian harus berkomunikasi secara reguler.”
“Manfaatkan kesempatan ini, oke?” Kata Jimin sebelum mengakhiri telepon mereka. “Kau layak bahagia dan mendapatkan apa yang kauinginkan dalam hidup, berhenti memikirkan orang lain; sekali saja. Pikirkan bahagiamu dan Jeongguk.”
Taehyung memainkan cincin Tiffany-nya dengan jemari, gelisah menatap ke kejauhan menunggu Jeongguk tiba di Puri-nya. Apa dan bagaimana caranya memulai pembicaraan? Apakah Jeongguk akan marah lagi jika dia membicarakan Mirah? Wajah Jeongguk yang merah padam, tatapannya yang menusuk, serta nada suaranya yang tinggi masih membayangi Taehyung—membuatnya gelisah semalaman, berbaring menatap langit-langit kamarnya nyalang.
Dia tidak nafsu makan, Lakshmi mengamankan nasi goreng dari Jeongguk dan menghangatkannya tadi pagi namun makanan itu terlanjur basi sehingga Lakshmi membuangnya. Sayang sekali padahal Taehyung suka makanan itu. Teringat amarah Jeongguk semalam, teringat semua kata-kata yang diteriakkannya pada Taehyung. Taehyung menunduk, apakah dia selama ini bersikap keras kepada Jeongguk?
Apakah dia selama ini bersikap... seperti ayahnya?
Dingin menjalar dari kakinya, naik ke jantungnya—meremasnya seperti tikaman belati es yang membuatnya sesak. Dia menatap tangannya yang terserang tremor kecil dan napasnya yang memberat; dia bersikap seperti ayahnya? Dia merusak Jeongguk? Sebagaimana ayahnya merusak Taehyung?
Dia ketakutan. Rasa dingin meleleh di sepanjang tulang punggungnya, membuatnya bergidik oleh rasa ngeri yang mencekam. Sepanjang hidupnya, dia membenci ayahnya—mengutuknya karena menghadirkan Taehyung ke dunia ini, mengutuknya karena melimpahkan hukuman atas sikap tidak bertanggung jawabnya pada posisi sosial Lakshmi sebagai seorang Astra, karena menjadikan Taehyung manusia rusak, mendominasi hidupnya, dan tidak pernah memberikan figur ayah yang dibutuhkannya hingga Taehyung terpaksa dewasa sebelum waktunya demi memberikan figur kepala keluarga demi kakak dan ibunya.
Dan sekarang, dia berubah menjadi monster seperti ayahnya. Sejak kapan?
Kakinya dingin sekali hingga dia menggigil karena ketakutan yang bergumul di dasar perutnya, seperti sedang berendam di dalam ember raksasa terisi air dingin dan es batu. Napas Taehyung memburu; berdesing dari hidungnya yang pedih, mendenging di telinganya.
Dia adalah monster seperti ayahnya.
Taehyung membuka mulutnya, bernapas dari sana karena hidungnya tidak mampu lagi menghirup napas. Otot diafragmanya bekerja menggantikan fungsi paru-parunya yang mengerut seperti cabai kering—tidak mampu mengembang untuk menjalankan fungsinya. Dia menyentuh dadanya, mulai merasa sesak. Dia merogoh tasnya, menemukan cadangan inhaler yang selalu ditaruhnya di sana untuk keadaan genting dan menghirupnya—berusaha mempertahankan kepalanya tetap waras.
Dan dalam keadaan seperti itulah Jeongguk kemudian menemukannya. Dia bergegas menuruni Yaris-nya yang bahkan belum berhenti sempurna, berlari dengan kaki panjangnya ke arah Taehyung yang bersandar di saka balai rumahnya dan meraihnya—menahan diri agar tidak memeluknya.
“Wigung?” Tanyanya, mengguncang tubuh kekasihnya lembut sementara kepala Taehyung berdenging oleh peringatan: seberapa besar kerusakan yang sudah dilakukannya pada Jeongguk? Akankah Jeongguk memaafkannya?
“Wiktu?” Balas Taehyung pelan—dia udah kembali menjadi 'Wigung' sekarang? Bukan lagi 'Taehyung' dengan nada tajam seperti semalam? Dia mencengkeram bagian depan kerah kemeja Jeongguk hingga buku jemarinya memutih. “Aku memesan kamar,” katanya kering. “Agar leluasa.”
Kepalanya terasa melayang, dia seperti melepaskan diri dari tubuhnya dan menyaksikan dari luar tubuhnya ketika Jeongguk membantunya naik ke Yaris-nya yang masih menderum dan beraroma pekat seperti parfumnya. Melihat Jeongguk memasangkan sabuk pengaman untuknya sebelum berlari mengitari bagian depan mobilnya untuk memasuki sisi penumpang.
“Pejamkan saja matamu,” kata Jeongguk meremas tangannya—menyadari betapa dinginnya telapak tangan Taehyung. Taehyung mengerjap, berusaha melawan selaput jeli yang melingkupinya—suara Jeongguk terdengar mendengung dan pandangannya mengabur. Dia pusing sekali, lelah dan bingung. “Nanti akan kubangunkan jika kita tiba.”
Maka Taehyung memejamkan matanya, mendapatkan kenyamanan dalam kegelapan bagian dalam kelopak matanyanya sendiri sementara di kepalanya; ketakutannya diteriakkan keras-keras tentang bagaimana dia berubah menjadi monster. Dia monster—persis ayahnya. Dia gagal, beban orang lain.
Dia monster.
Taehyung bergidik, dia seorang monster.
Jeongguk duduk di hadapan Taehyung yang menatap kosong ke kejauhan, matanya tidak fokus ke titik mana pun.
Mereka tiba di lodge langganan mereka beberapa menit lalu, pemilik yang adalah teman mereka—dia seorang ally, langsung bergegas membantu Jeongguk memapah Taehyung ke dalam kamarnya dan mengambil kunci kamar mereka. Selama perjalanan, Taehyung diam dan tidak bicara. Matanya kosong. Karena itu, mereka terpaksa menuju ke kamar melewati lorong khusus karyawan dan pemilik berjanji akan membantu mereka check in nanti setelah Taehyung cukup baik untuk ditinggal.
“Sayang?” Bisik Jeongguk lembut, meraih tangannya dan meremasnya—merasakan betapa dinginnya tangan Taehyung lalu membawanya ke mulutnya, meniupkan kehangatan ke sana.
Dia sudah menanyakan ini ke Thia tadi dan beliau menjelaskan kondisi itu mungkin adalah disosiasi. Tidak terlalu yakin karena dia tidak menangani kasus Taehyung dan tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang latar belakang yang mungkin menyebabkan itu. Disosiasi adalah kondisi di mana penderita merasa 'lepas' dari tubuhnya sendiri, kehilangan kontrol atas indra-indranya. Biasanya karena kegagalan penderita untuk bangkit dari kondisi trauma hebat dan gejala awal munculnya gangguan penyakit klinis lainnya seperti BPD, OCD, dan PTSD*.
“Ajak bicara perlahan, temani hingga dia kembali,” kata Thia dan Jeongguk menahan napas; apa yang dipikirkan Taehyung sebelum dia tiba? Karena dia nampak sepucat seprai saat Jeongguk menemukannya. “Dia pasti kembali.”
Jeongguk melirik jam dinding, sudah dua puluh menit dan dia mulai terserang kecemasan. Di sudut kamar, tas mereka diletakkan oleh Bell Boy setelah Valet membantu mereka memarkirkan mobil Jeongguk. Mereka akan berangkat bekerja dari hotel. Haruskah dia melakukan sesuatu sekarang? Dia harus memanggil dokter? Membawa Taehyung ke rumah sakit? Apakah dia akan baik-baik saja jika Jeongguk membawanya pergi? Berapa lama biasanya orang terdisosiasi?
Jeongguk tidak tahu. Dia ingin menjerit frustrasi, dia ingin mengguncangkan Taehyung dengn keras—bahkan menamparnya. Apa saja agar dia kembali. Tepat ketika dia berdiri, hendak memanggil seseorang untuk membantu Jeongguk membawa Taehyung ke rumah sakit, Taehyung mengerjap dan menatapnya—dia kembali. Nampak linglung dan kebingungan.
Jantung Jeongguk mencelos.
“Hei?” Sapanya ke Jeongguk yang setengah berdiri di hadapannya. “Hei?” Ulangnya dan kemudian terkesiap saat Jeongguk merengkuhnya ke dalam pelukannya—membelitnya dengan kedua lengannya yang kuat hingga dia mengeluarkan suara seperti seekor binatang yang tercekik.
“Kau tidak akan memahami,” geram Jeongguk merasa lega luar biasa ketika kekasihnya akhirnya kembali menatapnya—matanya kembali fokus dan ada warna yang terbit di wajahnya. “Betapa leganya aku.” Dia membenamkan wajahnya di rambut Taehyung yang beraroma pekat bantal tidurnya—aroma keringat Taehyung.
“Aku melamun,” gumam Taehyung dalam pelukan Jeongguk. “Maaf.”
Alis Jeongguk mengerut, “Melamun?” Tanyanya, mendorong lembut tubuh Taehyung menjauhinya untuk menatap wajahnya. “Sayang, kau melakukannya lebih dari dua puluh menit. Apa yang kaupikirkan?” Bisiknya, kental oleh rasa cemas sebelum kembali memeluknya. “Jangan pergi dariku lagi.” Tambahnya, merasakan ketakutannya sendiri merayap—bagaimana jika Taehyung tidak kembali padanya tadi?
“Aku...,” bisik Taehyung, terdengar gelisah dan tidak nyaman. Dia meremas pakaian Jeongguk, mengeratkan pelukannya dan gemetar dalam pelukan Jeongguk. “Aku memikirkan...” Dia berhenti lagi, berusaha keras membuat dirinya bicara.
Jeongguk mengusap tubuhnya, membelainya dengan telapak tangannya yang hangat—membuat Taehyung nyaman. “Ya?” Bisiknya lalu memutuskan untuk sejenak mengalihkan isi kepala Taehyung, takut dia kembali tenggelam dalam traumanya. “Apakah kau mau makan dulu sebelum kita bicara? Akan kupesankan makanan dan bir.”
Taehyung menghela napas, nampak senang mendengarnya. “Ya,” bisiknya lega. “Ya, boleh kita makan dulu?”
Jeongguk mengangguk, mengecup puncak kepalanya dalam—menghirup aroma Taehyung sebelum menghubungi restoran untuk memesan in room dining. Seraya menunggunya, dia membantu Taehyung mengganti bajunya—Jeongguk tidak tahan untuk tidak menyentuhnya, memastikan Taehyung tidak tenggelam lagi dalam keadaan disosiasinya tadi. Dia terus mengajaknya bicara, menanyakan hal-hal remeh dan mendesak Taehyung bicara. Jeongguk sungguh tidak sudi berada dalam ketakutan itu lagi.
Makanan mereka tiba, Jeongguk mengajak Taehyung makan di ruang tamu—mengajaknya mengobrol selama makan, tidak mengizinkannya diam sedikit pun. Mereka lalu berendam bersama, Taehyung duduk di pangkuannya di dalam bathtub, Jeongguk mendengarkannya bercerita sambil memeluk pinggangnya dan menciumi bahunya yang telanjang. Mereka berciuman, saling mengecup satu sama lain dan memeluk dengan hangat dalam air berbusa lembut yang membelai kulit mereka.
“Dengar,” bisik Jeongguk lembut pada Taehyung yang duduk di atas pangkuannya, menatapnya dengan rambut basah yang mengikal. Kedua tangannya berada di kanan kiri Jeongguk sebagai tumpuan, tubuh mereka bertemu di bawah air. Jeongguk menyekanya dengan jemarinya yang basah. “Kita tidak akan putus, kau dengar aku?” Bisiknya parau, menangkup wajah Taehyung dengan kedua telapak tangannya.
“Kita akan bekerja sama untuk memperkuat hubungan ini,” Jeongguk mengusap bibir bawah Taehyung dengan ibu jarinya—merasakan deru napas Taehyung di kulitnya dan merasa bergairah. Namun dia harus menyelesaikan ini sebelum bercinta. Cukup sudah kebiasaan mereka yang selalu mengalihkan perhatian dengan bercinta.
“Maka aku butuh bantuanmu,” tambahnya lalu mendesah saat Taehyung menjulurkan lidah dan menjilat ibu jarinya. “Dengarkan aku dulu, Anak Nakal.” Gumamnya sayang dan Taehyung meringis, maka Jeongguk menghadiahinya kecupan di sudut bibirnya.
“Aku butuh bantuanmu untuk mendengarkanku dan memberi tahuku segala perasaanmu selama bersamaku, oke? Kita akan melakukan evaluasi seperti bagaimana kita melakukannya dengan tim kita setelah servis panjang.” Jeongguk menyisir rambut basah Taehyung dengan jemarinya—berdebar karena inilah pertama kalinya dia menyetir sebuah pembicaraan dengan Taehyung. Mengambil alih kendali hubungan dari Taehyung.
“Berkomunikasilah,” begitu kata Thia kemarin. “Anggap saja kalian sedang mengevaluasi hasil kerja kalian. Seperti di dapur; apa masalah yang dihadapi rekan kerja kalian sehingga pekerjaannya menurun? Apa yang bisa kalian lakukan untuk menaggulanginya? Hubungan sama halnya seperti kerja tim: kalian harus saling memberikan umpan balik tentang satu sama lain. Beri tahu dia bagaimana perasaanmu selama bersamanya, lalu cari tahu apa yang kalian bisa lakukan untuk memperbaikinya.”
Maka itulah yang coba dilakukan Jeongguk, menggunakan kepemimpinannya dalam dapur untuk menanggulangi hubungannya yang retak dalam genggamannya. Dia memikirkan kasus tersulit dalam karirnya: mencoba memposisikan Taehyung sebagai sous chef-nya untuk mendiskusikan langkah pemulihan apa yang bisa mereka lakukan demi tamu yang puas.
Ini pertama kalinya Jeongguk mengambil alih pembicaraan selain di dapur dan ketika di banjar sebagai wakil kelian adat. Khususnya di depan orang yang dicintainya. Dia takut Taehyung akan marah padanya, namun kata-kata Thia tentang melepaskan hubungan membuatnya berani: dia harus mencoba menyelesaikan masalah internal hubungan mereka. Mencoba membantu Taehyung, berharap mungkin kekasihnya juga akan berubah pikiran tentang menghubungi psikolog.
“Bisakah kau membantuku?” Tanyanya pada Taehyung.
Taehyung menatapnya, mengerjap. Membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu dengan alis berkerut, nampak akan memprotes kata-kata Jeongguk namun sesuatu menghentikannya. Darah surut dari wajahnya saat dia mengangguk, sedikit panik. Jeongguk secara naluriah menggenggamnya semakin erat saat menyadari perubahan drastis itu; apa yang dipikirkan kekasihnya?
“Ya, oke.” Katanya kemudian dan tubuhnya gemetar dalam pelukan Jeongguk.
Maka dia memeluknya, membaringkan Taehyung di dadanya sementara air bathtub bergolak saat Taehyung membaringkan tubuhnya di atas Jeongguk, bibirnya tenggelam di air namun dia tidak masalah. Kaki mereka saling membelit di dalam air, Jeongguk merasakan telapak kaki Taehyung yang dingin. Dia ketakutan, entah karena apa. Jeongguk teringat perubahan ekspresinya tadi dan takut dia akan kembali disosisasi.
“Kau ingin bercinta?” Bisiknya, mereka punya sedikit waktu untuk kemewahan sebelum membongkar hubungan mereka. Taehyung sudah setuju untuk bicara. Dan dia tidak ingin Taehyung memikirkan apa pun itu yang membuatnya pucat dan terdisosiasi.
Bercinta mungkin akan membuat mereka lebih rileks sebelum bicara dari hati ke hati. Dan kali ini, Jeongguk tidak akan membiarkan Taehyung meloloskan diri dari pembicaraan mereka. Pilihan putus tidak akan pernah masuk ke dalam kepala Jeongguk; mereka bisa memperbaiki ini.
Taehyung mengangkat wajahnya sedikit, “Bolehkah?” Tanyanya dan Jeongguk berdebar.
Taehyung selalu mengambil apa saja yang diinginkannya, mendominasi hubungan mereka selama ini. Jika dia ingin bercinta, maka dia akan bercinta. Memanipulasi Jeongguk hingga setuju dan bercinta. Sehingga ketika Taehyung menatapnya dengan tatapan ragu dan bertanya, 'boleh?' seperti anak kecil yang meminta izin untuk makan permen, Jeongguk merasakan ledakan rasa sayang yang membuatnya sesak.
Dia memeluk Taehyung, perubahan signifikan yang membuatnya kaget dan bingung. Apa yang terjadi pada Taehyung? Apakah amarahnya semalam memberikan efek yang diinginkannya? Tetapi seberapa parah efek itu menguasai Taehyung? Akankah itu merusaknya?
“Tentu saja.” Bisik Jeongguk, “Tentu saja boleh. Selalu boleh.” Dia mengusap rambut basah Taehyung lalu menyentuh dagunya—memintanya mendongak lalu menciumnya. “Oh, Sayang.”
Jeongguk mendesah panjang, menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Taehyung yang melenguh kecil—gemetar dalam sentuhannya. Tangan licin Taehyung meluncur ke tubuhnya, membelainya hingga Jeongguk menggeram. Pinggulnya bergerak di atas tubuh Jeongguk ditemani suara riak air yang bergolak merespons gerakan itu.
Dia terpaksa meninggalkan Taehyung menggigil di dalam bathtub untuk berlari ke tasnya mengambil lubrikan dan kondom. Air menetes dari tubuhnya ke lantai namun Jeongguk tidak terlalu memerhatikannya. Dia kembali ke Taehyung, hendak membiarkannya naik kembali ke atas tubuhnya—posisi yang selalu disukainya saat pemuda itu menggeleng.
“Aku...,” dia menatap Jeongguk dari balik bulu matanya yang basah dan Jeongguk bersumpah jantungnya berhenti karena Taehyung tidak berhenti bersikap manis dan menggemaskan hari ini; membuatnya senang namun juga waspada, dia harus tetap memerhatikan Taehyung agar tidak tenggelam dalam pikirannya sendiri lagi.
“Aku di bawah.” Bisiknya dan Jeongguk membeku, dengan satu kaki di dalam bathtub dan kaki lainnya di luar, menatap kekasihnya yang bersila di dalam air—busa sudah mulai menyusut lenyap, nyaris tidak bisa lagi menutupi tubuh Taehyung. “Aku ingin di bawah.”
Jeongguk menatapnya, mengerjap bingung. Ke mana semua sikap mendominasi Taehyung? “Maaf, Sayang,” katanya. “Apa?”
Taehyung mendongak lalu membaringkan dirinya di bathtub, mengusap semua busa dari permukaan air di atasnya hingga Jeongguk menatap tubuhnya dari balik permukaan air yang sedikit keruh. “Aku di bawah hari ini,” katanya lalu mengulurkan tangan dan menekuk lututnya, membuka kakinya hingga Jeongguk menarik napas tajam.
Karena Jeongguk masih berdiri di sana, dengan satu kaki di luar bathtub, Taehyung merona—warna merah cantik yang menyebar di atas pipinya yang membuat hati Jeongguk terasa di remas-remas. Apa yang terjadi pada kekasihnya? Apakah Jeongguk baru saja mengoreksinya dengan memarahinya atau malah semakin merusaknya?
“Kau... keberatan?” Tanya Taehyung, terdengar bingung dan malu—Jeongguk bergidik. Taehyung nampak seperti kali pertama mereka bercinta; malu-malu, tidak tahu apa yang diinginkannya sehingga Jeongguk harus membimbingnya perlahan dan hati-hati, memberi tahunya segala hal tentang tubuhnya sendiri.
Itu kali pertama dan terakhir mereka bercinta dengan gaya misionaris.
“Sayang,” katanya parau lalu bergegas merunduk ke dalam tubuh Taehyung—menempelkan tubuhnya yang menegang pada Taehyung yang seketika mendesah panjang bersama air yang beriak keras menerima Jeongguk. “Sayang, demi Tuhan,” dia mengecupi wajah Taehyung dan lehernya. “Kau membuatku dua kali lipat lebih bergairah.”
“Hmm?” Sahut Taehyung, menelan dengan sulit saat ciuman basah hangat Jeongguk meluncur di lehernya—dia tersengal dan merengek saat Jeongguk menggesekkan tubuh mereka, menempelkan tubuhnya dan tubuh Taehyung lalu memijatnya bersamaan. “Wiktu,” desahnya dengan kepala terdongak saat Jeongguk memanjakannya dengan tangannya.
Jeongguk tidak merekomendasikan bercinta di dalam air karena air menyulitkan lubrikan untuk bekerja. Maka dia meminta Taehyung menempelkan tangannya di dinding kamar mandi dan menungging saat mempersiapkannya. Jeongguk mengecupi punggungnya saat menyelipkan jemarinya ke tubuh Taehyung yang merengek di bawah sentuhannya. Jeongguk mengulum telinganya, menggerakkan jemarinya hingga Taehyung terengah.
Dia memastikan seks mereka lambat dan malas, membelai Taehyung semaksimal mungkin hingga dia orgasme dalam kemewahan. Jeongguk menyentuh semua tubuhnya, memastikan diri meninggalkan jejak sebanyak mungkin. Dia menyelipkan dua jemarinya dengan lembut, memastikan tubuh Taehyung cukup lentur untuknya.
Taehyung yang merona dengan rambut gondrong mengikal basah menempel di kening dan lehernya adalah pemandangan paling magis yang pernah dilihat Jeongguk—dia menyadarinya ketika dia menyelipkan diri masuk ke tubuh Taehyung dan mendengarnya mendesahkan nama Jeongguk penuh kenikmatan. Jeongguk mengecupi tengkuknya, satu tangannya memijat tubuh Taehyung yang menegang sementara dia menggerakkan pinggulnya lembut.
Kaki Taehyung gemetar dan melemah karena sensasinya sehingga Jeongguk membimbingnya ke kamar—air menetes karena mereka tidak repot mengeringkan diri. Dia akan membereskannya nanti. Taehyung berbaring di ranjang, menatapnya dengan tatapan malu-malu itu lagi hingga perut Jeongguk terasa ditonjok sebelum memangut bibirnya.
Kekasihnya mengeluarkan suara tangisan nikmat panjang yang membuat kuduknya meremang oleh rasa nikmat. Tidak peduli seberapa banyak gaya yang mereka pernah coba, misionaris tidak pernah gagal membuat Jeongguk pening oleh gairah. Kaki Taehyung dibelitkan ke lehernya saat Jeongguk bergerak seraya mendesahkan namanya berulang-ulang.
Dan untuk pertama kalinya, mereka orgasme bersama dan terasa begitu luar biasa. Kepuasan karena berhasil mengimbangi satu sama lain dalam seks, saling memberi dan menerima. Jeongguk mengecup kekasihnya yang merona di atas bantal dan tersenyum penuh kasih sayang.
“Terima kasih, Wigung.” Bisiknya, menumpukan keningnya di kening Taehyung yang memeluknya erat—jantung mereka berdebar dalam ritme yang sama. “Terima kasih banyak. Mari bekerja sama, tolong.”
Taehyung mengeratkan pelukannya, isakan meloloskan diri dari bibirnya hingga Jeongguk tersenyum kecil. Seks yang lambat, orgasme bersamaan, semuanya mungkin membuat Taehyung tersentuh hingga menangis. Dia mengusap rambut kekasihnya, menenangkannya.
Namun, Jeongguk sama sekali tidak menyangka kalimat yang diucapkan Taehyung kemudian:
“Maaf karena menjadi seorang monster.”
Glossarium:
Kelian adat: ketua RT adat Hindu, sama seperti dukuh di Jawa.
BPD : Borderline Personality Disorder, OCD : Obsessive, Compulsive Disorder, PTSD: Post-Traumatic Stress Disorder.
Jangan melakukan self-diagnose, teman-teman! Stay safe x