Gourmet Meal 483
tw // mention of domestic abuse , emotional manipulation , emotional and physical abuse , toxic parenting , self-labeling .
author's warning: chapter ini lumayan heavy karena kalian bakal nyelam ke pola pikir tae tentang dirinya sendiri, jadi kalo kalian punya sejarah child abuse selama kecil dan itu affecting lumayan besar ke adulthood, diskip aja yaa
tae's way seeing himself is kinda disrespectful. take care of yourself. ire, xo
Jeongguk menatap kekasihnya dengan perasaan tidak karuan. Apakah dia mendengarnya dengan benar? Taehyung mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal untuknya.
Taehyung menyulitkan, benar. Taehyung terkadang membuatnya sangat kewalahan dan kelelahan beradaptasi dengan cuaca di hutannya yang begitu ekstrim, benar. Taehyung membuatnya mempertanyakan tentang emosinya sendiri, benar. Taehyung mendominasinya dan dia tidak nyaman tentang itu, benar.
Namun Taehyung seorang... monster?
“Tidak.” Katanya, tidak mengenali suaranya sendiri saat mengulurkan tangan ke arah Taehyung yang menggigil di ranjang mereka—wajahnya merah padam mulai menangis, menekuk lututnya dan membenamkan wajahnya di sana. “Tidak, tidak.” Bisik Jeongguk pecah saat dia merangkak ke sisi Taehyung dan memeluknya. “Kau bukan monster, Sayang.”
Taehyung seketika meresponsnya dengan menggeleng panik, nyaris kasar hingga Jeongguk harus menggenggamnya agar tidak menyakiti dirinya sendiri. “Aku membuatmu menderita,” isak Taehyung, nyaris tidak bisa dipahami jika Jeongguk tidak begitu lama bersamanya. “Maaf, maaf.” Isaknya tersedu-sedu hingga napasnya tercekat. “Kau selalu membuatku bahagia, tapi aku...” Dia tersengal, asmanya beriak ke permukaan dan Jeongguk terserang kepanikan.
Dia bergegas melepaskan Taehyung, meluncur ke tas selempang kecil Taehyung dan merogohnya—dia tahu kekasihnya selalu menyimpan obatnya di sana. Dia menemukan botol reliever inhaler biru Taehyung dan melompat kembali ke ranjang. Jeongguk membuka tutupnya sementara Taehyung tercekat-cekat di ranjangnya—seperti seekor ikan yang dibawa ke permukaan dengan napas yang berdenging nyaring, menusuk telinga Jeongguk dengan kepedihan. Dia mengocok tabung mungil itu lalu merengkuh Taehyung—menyelipkan lengannya ke bawah lengan Taehyung dan menariknya duduk tegak.
“Sayang, Sayang tegakkan dudukmu.” Gumamnya dengan jantung bertalu-talu di telinganya sendiri—dia merasa pening. “Sayang.” Bisiknya lagi mendesak, berusaha menahan kepala Taehyung tegak. “Sayang tolong,” mohonnya, jantungnya dingin oleh rasa panik.
Pemuda itu meresponsnya, dia meraih tangan Jeongguk dan jemarinya berusaha menekan inhaler yang dimasukkan Jeongguk ke mulutnya sambil menyandarkan tubuh Taehyung ke dadanya agar lehernya tegak. Jeongguk membantunya.
“Gigit dan tutup mulutmu.” Bisiknya dan Taehyung melakukannya, tersengal-sengal dengan menyedihkan. Jemarinya yang gemetar bergerak di atas jemari Jeongguk, berusaha menekan inhaler. Jeongguk menekannya, terdengar suara mendesis keras ketika obat dilepaskan inhaler ke mulut Taehyung yang seketika secara naluriah menarik napas dalam-dalam.
Dia terkulai ke ranjang, nampak seperti sayuran layu sementara Jeongguk menutup kembali obatnya dan meletakkannya dalam jangkauan sehingga dia bisa langsung menyambarnya jika butuh. Dia kemudian merangkak ke sisi Taehyung dan membelainya—menunggu obat bereaksi sekitar 5-10 menit. Jeongguk membelai rambutnya, mendengarkan desing napas Taehyung yang perlahan mereda dan rileks.
“Kau oke?” Bisiknya lembut ketika napas Taehyung kembali normal—tidak senormal manusia biasa karena suaranya terdengar tersengal-sengal seperti seekor kuda yang kelelahan, namun itulah napas normal Taehyung sebagai penderita asma. Suara denging itu.
Taehyung mengangguk, “Maaf.” Bisiknya lirih dan Jeongguk mengecup pelipisnya. “Dimaafkan.” Sahutnya lembut.
“Kau bukan monster,” bisiknya lagi dan Taehyung berjengit—Jeongguk mengeratkan pelukannya, menjaganya tetap utuh. “Kau sama sekali bukan apa pun yang kaupikirkan adalah dirimu. Kau Taehyung, kau kekasihku, dan aku mencintaimu.”
Taehyung mengerjap, lalu mendongak menatap Jeongguk yang berbaring di sisinya—rambutnya tergerai di sisi wajahnya seperti tirai lengket yang lembab. Dia berbalik, mendekatkan dirinya ke Jeongguk yang merengkuhnya hangat dan sayang—mendekapnya erat ke dadanya, bernapas di rambutnya yang lembab.
“Ada masa di mana aku merasa lelah sekali menghadapimu,” bisik Jeongguk lembut—perlahan memilih kata-katanya agar tidak menyakiti perasaan Taehyung yang rapuh. “Namun aku bertahan. Kupikir jika aku mengabaikannya, semua akan baik-baik saja. Tapi ternyata, semakin aku mengabaikannya semakin aku merasa kelelahan. Seperti... tenagaku dihisap habis.”
Tubuh Taehyung menegang dalam pelukannya dan Jeongguk bergegas membelainya, mendekapnya hangat—menenangkannya. “Aku hanya sedang membicarakan perasaanku, aku tidak...” Jeongguk menelan dengan sulit.
“Hal yang menyulitkan tentang pribadi yang agresif adalah mereka jarang mau mendengarkan. Mereka memilih untuk mengabaikan perasaan lawan bicara karena mereka merasa pendapat merekalah yang benar.” Kata-kata Thia kembali terngiang di telinganya, mendengung seperti lebah. “Mereka tidak terbiasa dengan mendegarkan. Jadi kau harus memilih kata-katamu dengan baik jika tidak ingin menimbulkan gesekan dengan mereka. Mereka bisa saja berbalik menyerangmu untuk membenarkan argumentasi mereka, tidak peduli bagaimana pun kau berusaha menjelaskan posisimu.”
“Berusahalah agar kau tidak terdengar seolah sedang menyerangnya.”
“Aku tidak berusaha menyerangmu.” Bisik Jeongguk di rambutnya. “Aku sedang mengevaluasi servis kita: menjelaskan padamu di bagian mana kau salah memasak makanan kita sehingga hasilnya tidak sesuai seperti apa yang kita harapkan.”
Terdengar lebih teknis, jauh dari pembicaraan hati ke hati yang dibayangkan Jeongguk namun setidaknya dengan begini mereka memiliki gambaran apa yang akan mereka bicarakan. Bagaimana sebaiknya Taehyung menyikapi pembicaraan ini.
“Lalu,” dia menjalin rambut Taehyung di jemarinya lalu menciumnya. “Kita akan mencari cara untuk membenahi cara kerja kita agar hasil servis menjadi memuaskan. Bagaimana?” Dia menyelipkan jemarinya ke jemari Taehyung, menggenggamnya erat.
“Beri tahu aku cara untuk mencintaimu, cara yang membuatmu nyaman dan dibutuhkan. Beri tahu aku cara mencintaimu dengan benar, Wigung.” Dia mengecup telapak tangan Taehyung, memejamkan matanya sementara bibirnya bergerak—mengusap kulit Taehyung yang lembab dan lembut setelah mandi.
“Beri tahu aku cara mencintaimu dengan benar.”
Taehyung tidak paham.
Bagaimana cara mencintainya dengan benar? Bagaimana cara mencintai Jeongguk dengan benar?
Dia mendapat pukulan pertamanya ketika dia berusia lima tahun. Ayahnya melayangkan tamparan ke wajahnya karena dia tidak sengaja menjawab saat dimarahi ayahnya. Dia hanya berusaha menjelaskan duduk perkaranya, dia berusaha menjelaskan bahwa dia tidak 100% bersalah; dia memiliki alasan. Namun setelah pukulan pertama itu, dia belajar bahwa tidak baik menyela ketika ayahnya bicara.
Setelah pukulan ketiga di usianya yang ke-15 tahun, Taehyung paham bahwa dia tidak boleh menjawab dan tidak ada ruang untuknya menjelaskan. Dia hanya harus diam, menerimanya. Jauh lebih cepat dan mudah begitu. Ayahnya akan cepat bosan ketika dia diam, mendengarkannya mengomel dan menerima saja pukulan itu. Dia bisa segera pergi dari sana, tidak menatap wajah ayahnya yang membuatnya mual. Dia akan mencari Lakshmi, menerima permen karena telah bersikap ‘baik’ ketika ayah mereka ‘menasihatinya’.
“Aku memberikanmu rumah untuk bernaung, aku membesarkanmu. Aku menyekolahkanmu. Jika kau sayang orang tuamu, maka kau harus mendengarkanku!” Begitu kata ayahnya, berkali-kali hingga Taehyung akhirnya mati rasa.
Memangnya Taehyung memilih untuk dilahirkan? Memangnya Taehyung memohon pada ayahnya untuk dilahirkan di keluarga itu? Menjadi Taehyung? Menjadi anaknya? Jika dia bisa memilih, maka Taehyung yakin dia lebih suka berada di Surga dengan semua leluhurnya dan tidak memilih untuk dilahirkan kembali*. Menjadi manusia sangat melelahkan.
“Cara Ajung mencintai, berbeda dengan cara Ibu mencintai Atu.” Begitu kata ibunya saat dia mengobati luka Taehyung yang hatinya tidak lagi berdenyut oleh sakit; dia berhenti merasakan, dia berhenti berharap pada manusia.
“Cara Tuniang mencintai Atu juga berbeda.” Tambah ibunya ketika Taehyung meneriaki neneknya yang membuatnya tersinggung, lalu mendapatkan pukulan dari ayahnya karena “melawan orang tua”.
“Beri tahu aku cara mencintaimu dengan benar.”
Taehyung tidak paham bahwa ada cara mencintai yang benar: setahunya, orang-orang melakukan apa saja yang mereka inginkan lalu membenarkan diri dengan mengatakan mereka melakukannya karena mereka mencintainya, karena mereka menyayanginya. Mereka memukul Taehyung, lalu berlindung di balik kata mencintai. Mereka mengasingkan Taehyung, mematikan emosinya, mengabaikan kebutuhannya lalu melabelinya dengan cinta.
Dia tumbuh besar berpikir bahwa itulah satu-satunya cara untuk dicintai dan mencintai.
Memaksa dirinya menelan fakta pahit bahwa cara mencintai setiap orang berbeda dan bahkan jika itu tidak cocok dengannya, dia harus menerimanya karena itulah cara mereka mengekspresikannya.
Dia tidak tahu bahwa dia bisa meminta seseorang mencintainya dengan cara yang akan membuatnya nyaman, utuh, dan damai. Mencintainya sesuai dengan apa yang dia inginkan. Mencintai Taehyung sesuai kebutuhan Taehyung alih-alih memanipulasi cinta untuk mengambil keuntungan mereka sendiri.
Hingga akhirnya dia bertemu Jeongguk. Berkenalan dengan chef muda berbakat yang tenang, seperti permukaan air danau yang jernih memantulkan langit di atasnya dan memamerkan betapa indah bagian dasar danau itu; bebatuan bersih, pasir, ikan-ikan yang menari, tumbuhan air yang beriak oleh ombak kecilnya. Nampak dangkal, namun ketika dia tersandung, jatuh ke dalamnya; Taehyung tenggelam.
Lelaki itu mencintainya dengan cara yang sangat berbeda dari apa yang selalu diterimanya selama ini. Dia mendengarkan Taehyung, dia menanyakan pendapat Taehyung, dia menghormati Taehyung, dia mengapresiasi keberadaan Taehyung: dia membuat Taehyung merasa untuk pertama kalinya, keberadaannya dibutuhkan.
Apakah Taehyung telah mengambil terlalu banyak dari apa yang dibutuhkannya? Bersikap rakus atas cinta yang diberikan Jeongguk padanya? Bagaimana cara mengembalikan semua yang diambilnya? Bagaimana cara Taehyung memberikan kembali apa yang telah....
Bagaimana caranya berhenti menjadi seorang monster?
“Cara mencintai?” Bisik Taehyung, menatap Jeongguk yang balas menatapnya—tatapannya teduh, dalam, dan menyejukkan. Dia mengangkat tangannya, menyentuh wajah Jeongguk yang memejamkan mata di bawah sentuhannya: Jeongguk selalu begitu indah.
Jeongguk begitu menenangkan, secara naluriah. Dia seperti hembusan angin sejuk di musim panas, seperti sinar matahari di tengah musim dingin. Menggigit dengan cara yang menyenangkan hingga siapa saja secara naluriah datang untuk mengambil lagi dan lagi. Seperti morfim, dia menghapus sakit dan nyeri Taehyung hanya dengan kehadirannya. Jemari Taehyung menyentuh wajah Jeongguk, menarik garis lembut ke sepanjang garis rahangnya yang tajam dan tegas.
“Ya.” Kata Jeongguk, bibirnya bergerak di bawah jemari Taehyung. Napasnya yang hangat menggelitik kulit Taehyung. “Beri tahu aku cara mencintaimu, apa yang membuatmu nyaman dan tidak nyaman.”
Taehyung mengerjap, menatap Jeongguk yang memejamkan mata di bawah sentuhannya—kulitnya lembut, lembab, beraroma lembut keringatnya yang akrab dengan paru-paru Taehyung. Aroma yang oleh otaknya disandingkan dengan 'rumah', 'kenyamanan', dan 'aman'.
“Lalu, aku akan memberi tahumu cara mencintaiku dengan benar.” Tambah Jeongguk, mengecup ibu jari Taehyung yang beristirahat di atas bibirnya dengan lembut dan hangat; geli, tetapi Taehyung menyukainya.
“Kau sudah memberikanku cara mencintai yang asing dan baru,” sahut Taehyung perlahan; memikirkan semua kata orang di sekitarnya tentang cara mencintai yang selalu melibatkan teriakan, pukulan dan manipulasi emosi.
Namun Jeongguk.
Jeongguk berbeda. Dia seperti permen kapas yang meleleh, larut bersama liur Taehyung. Meledak di rongga mulutnya dengan rasa manis artifisial yang palsu, terlalu kuat. Namun cukup untuk membuat lidahnya mencari-cari di sela geliginya, mencari sisa ledakan rasa itu. Jeongguk membuatnya aman; untuk pertama kali dalam hidupnya.
Mungkin itulah mengapa Taehyung selalu berlari darinya: perasaan nyaman yang asing dengan keseluruhan hidupnya. “Aku ini binatang.” Katanya kering, merasakan gumpalan pahit di pangkal tenggorokannya dan merasakan Jeongguk mengejang saat mendengar pemilihan kata yang digunakannya. “Aku terbiasa dipukuli, dihukum untuk melakukan apa yang manusia ingin kulakukan. Mereka memukulku ketika aku salah, tidak memberiku makan untuk mengajariku sopan santun. Mengabaikanku, mengurungku: mengikatku dengan tali dan brangus agar aku diam. Aku terbiasa dengan cara itu.”
Mata Jeongguk terbuka, nampak kaget pada perbandingan yang digunakan Taehyung untuk dirinya sendiri. Namun Taehyung tidak berhenti. Dia menatap wajah Jeongguk—mengamati bekas luka di pipinya, tahi lalat di bawah bibirnya, bentuk bibirnya yang lembut. Jeongguk sangat berbeda dari segala hal yang dimilikinya di dunianya: berbeda dari semua duri, sudut tajam, dan benda keras yang mengelilinginya. Dia begitu lembut, mendayu-dayu, memabukkan.
“Dicintai olehmu,” bisik Taehyung merasakan hatinya berdenyut nyeri oleh rasa sakit—menyadari betapa mengungkapkan ini membuatnya takut, namun juga lega di saat yang bersamaan. “Begitu berbeda.”
Dia menatap Jeongguk yang menunggunya bicara. “Kau memperlakukanku seperti manusia.” Dia tersenyum tipis, mengabaikan tikaman rasa sakit di dadanya: terkejut karena ternyata hatinya masih bisa merasakan sakit. “Kau menghargaiku, kau selalu bicara padaku dengan sopan dan tenang.”
“Kau tidak memukulku, kau tidak mengikatku. Tidak mengurungku.” Taehyung menatap jemarinya di wajah Jeongguk. “Mungkin itulah yang membuatku... rakus. Kehilangan kendali dan mengambil terlalu banyak darimu.”
Dia menatap mata Jeongguk, tersenyum dengan cara yang meremas hati Jeongguk karena dia nampak begitu sendu dan sedih.
“Aku tidak menghormatimu dan cintamu untukku.”
“Aku ini binatang.”
Jeongguk menunduk, menatap Taehyung yang terlelap dalam pelukannya. Mereka akhirnya bicara, untuk pertama kalinya setelah sekian lama menjadi kekasih. Taehyung secara ajaib mendengarkan apa yang Jeongguk inginkan: dia mengangguk, menyatakan diri akan mencoba menahan dirinya.
Jeongguk memberi tahunya tentang melibatkan Jeongguk dalam memutuskan untuk hubungan mereka, mendengarkan ketika Jeongguk memiliki sesuatu untuk diungkapkan, mendiskusikan ketika ada hal yang tidak sesuai dalam hubungan mereka alih-alih melarikan diri. Jeongguk meminta Taehyung untuk bersabar dengannya: mendengarkannya, berjalan berdampingan dengannya dan tidak menyeret Jeongguk bersamanya.
Taehyung setuju, meminta Jeongguk untuk membantunya dan mengingatkannya ketika dia keliru. Dia akan berusaha mengendalikan dirinya ketika Jeongguk berpendapat, berusaha tidak bereaksi keliru dan defensif sebelum mendengarkan. Tekad Taehyung ini cukup untuk Jeongguk, bekal untuk mereka berdinamika bersama sebagai tim.
“Aku terbiasa dipukuli, dihukum untuk melakukan apa yang manusia ingin kulakukan.”
Dia memejamkan mata, menempelkan keningnya ke kening Taehyung yang lelap; menangguhkan perih yang menyeruak di dadanya mendengarkan bagaimana pandangan Taehyung terhadap dirinya sendiri selama ini. Dia tidak pernah merasa dia adalah manusia yang layak diperlakukan dengan hormat. Memikirkan bagaimana keluarganyalah yang membentuk Taehyung hingga menjadi dirinya yang sekarang membuat Jeongguk mual. Keluarga mereka sama payahnya, itulah ujian terberat hidup mereka berdua.
“Aku bukan santa,” sahut Jeongguk setelah Taehyung selesai bicara tadi. Dia menggenggam tangan Taehyung erat dan menciumi ujung-ujung jemarinya dengan lembut. “Aku juga punya masalah serius dengan emosiku: ayahku yang menjejaliku dengan toxic masculinity, bagaimana dia bersikap pilih kasih secara terang-terangan.
“Kau adalah satu-satunya hal selain karirku menjadi chef, yang kuperjuangkan dalam hidup ini.” Dia menatap Taehyung yang mentapnya, rona merah jambu menyebar di wajahnya—indah sekali hingga reaksi pertama Jeongguk adalah mengulurkan tangan, berusaha menangkap warna indah itu, menggenggamnya. “Jadi aku berharap, kita benar-benar bisa bekerja sama untuk hubungan ini.” Jeongguk menatap Taehyung yang menelengkan wajahnya, menyandarkan diri di telapak tangan Jeongguk seperti seekor anak anjing menggemaskan.
“Mirah.” Kata Taehyung kemudian dan Jeongguk menghela napas—sudah tahu inilah yang akan dibicarakan Taehyung pertama. “Dia nampak begitu natural di sekitarmu, seolah dia... entahlah, dipesan khusus oleh orang tuamu untuk mendampingimu. Aku selalu menolak melihatnya, menolak percaya bahwa kau mungkin bisa jatuh cinta padanya.
“Namun hari itu, saat di Tirta Gangga....” Suara Taehyung memelan lalu lenyap dan Jeongguk menyadarinya: hari ketika segalanya berubah. Hari ketika hubungannya dengan Taehyung mendadak serupa telur di ujung tanduk nyaris setiap hari.
“Kau layak berbahagia.” Dia mengaitkan rambut Mirah di balik telinganya dan mengusap sisi kepalanya dengan lembut. “Kau layak dicintai dan layak dibahagiakan.”
Jeongguk memejamkan matanya: kini menyadari kesalahan fatalnya. Bahwa ketika dia bersikap baik pada seseorang, tidak semua orang memahami itu. Tidak semua orang berpikir dengan pola pikir yang sama dengan Jeongguk: sama sekali tidak. Jika saja dia melakukan ini sejak awal, sebelum mereka rusak lebih parah lagi—akankah hubungan mereka menguat?
Sesuatu tentang Taehyung selalu membuat Jeongguk penasaran. Dia seperti samudra, dalam dan gelap. Mengundang siapa saja untuk menaklukkan kedalamannya, mencari tahu apa yang berada di balik kegelapan itu. Dia begitu misterius, tidak tersentuh, dan menjaga jarak dari semua orang. Jeongguk mungkin bersikap nekat dengan menerjunkan diri ke dalamnya tanpa persiapan sehingga arus air kedalaman menyeretnya, menghantamkannya ke karang dan nyaris membunuh Jeongguk.
Namun lautan yang tenang tidak akan menghasilkan pelaut yang berbakat. Maka Jeongguk bertahan, berusaha menaklukkannya hingga akhirnya dia berhasil menemukan gua yang menyembunyikan Taehyung kecil. Dia menggigil di sudut, ketakutan dengan begitu banyak luka yang carut marut di tubuhnya. Jeongguk mungkin bukan lelaki paling layak untuk mengobati luka Taehyung karena dia sendiri memiliki lukanya yang berdarah.
Setidaknya, Jeongguk bisa berusaha. Dia percaya, hanya mereka yang terluka paham bagaimana caranya menghadapi luka yang sama. Dia menemukan Taehyung, mereka menemukan satu sama lain: sekarang, mereka akan berusaha saling mengobati.
“Aku sudah berkali-kali memintamu untuk berhenti bersikap terlalu baik padanya,” bisik Taehyung pecah dan gemetar. “Kau tidak pernah mendengarkanku.”
Jeongguk menatapnya, menatap Taehyung yang mengalihkan pandangan darinya. “Aku hanya berpikir bahwa aku harus bersikap baik padanya karena aku sudah menyakitinya—bahkan sebelum dia menyadarinya.” Dia mengernyit, menekan rasa bersalah besar yang menghantam dadanya seketika itu juga disertai kilas balik semua hal keliru yang dilakukannya pada Mirah di hadapan Taehyung.
Mirah melanjutkan seraya menyentuh tangan kiri Jeongguk di meja makan. Dia memainkan cincin tunangan mereka. “Aku malah kembali ke Indonesia karena Bli Gung.” Dia tersenyum. “Ajik menawariku perjodohan lalu memberikanku foto Bli Gung. Aku memutuskan pulang karena aku tertarik pada Bli Gung pada pandangan pertama di fotonya.”
Tanpa memikirkan bagaimana Taehyung, makhluk antisosial yang tidak pernah dicintai, bereaksi terhadap sikap yang untuk Jeongguk sama sekali tidak berarti apa pun. Kemarahan Taehyung, sikap dinginnya dan semua caranya untuk mengenyahkan kesempatan Jeongguk untuk bicara, kini terasa masuk akal. Jeongguk memproses emosi Taehyung. Dia memejamkan mata, bersidiam dengan Taehyung yang duduk di hadapnnya.
“Maaf.” Bisik Jeongguk, kali ini dia meminta maaf bukan untuk menghindari konflik. Dia meminta maaf karena dia menyadari kesalahannya, menyadari luka yang diguratkannya di hati Taehyung karena ketidak pahamannya sendiri. Dan dia memohon pengampunan dengan tulus.
Taehyung menggeleng, menatapnya. “Maaf.” Balasnya. “Maaf karena tidak membicarakannya padamu, maaf karena bersikap kekanakan padamu. Aku,” dia menyentuh kepalanya. “Aku minta maaf atas segala sikap tidak sopanku padamu yang membuatku....”
Dia berhenti, tidak bisa menyebutkan kata 'monster' itu dan Jeongguk merengkuhnya. “Kau bukan monster.” Bisiknya di telinga Taehyung lembut. “Kau keliru dan itu tidak menjadikanmu cacat atau rusak. Kau sempurna, kau hanya perlu sedikit membantu dirimu sendiri.”
Jeongguk berhenti persis sebelum dia menawarkan sesi terapis kepada Taehyung karena disosiasinya yang sudah parah. Thia menyarankan sesi untuk mengecek seberapa jauh trauma telah melukai Taehyung dan potensi dia memiliki penyakit klinis yang harus ditangani dengan serius. Jeongguk takut dia menyinggung Taehyung; mungkin dia akan mengatakannya kapan-kapan ketika Taehyung sudah lebih tenang.
Tidak, tidak sekarang.
Jeongguk tersenyum lalu memeluknya. “Sayang,” bisiknya di rambut Taehyung. “Mari mencintai dengan benar sekarang.”
Taehyung terkekeh di pelukannya, mengeratkan pelukannya pada tubuh Jeongguk. Tubuhnya hangat sekarang, mereka merasa ringan setelah menjabarkan isi hati masing-masing, membongkar hubungan mereka seperti mengevaluasi tim mereka yang cacat. Apakah mereka seketika mengganti commis mereka ketika satu servis tidak berjalan baik? Tidak. Mereka mengganti cara mereka untuk mengatur anak buah mereka. Maka itulah yang akan mereka lakukan sekarang.
“Mari mencintai dengan benar.” Bisik Taehyung setuju sebelum Jeongguk meraih wajahnya dengan lembut dan mencium bibirnya.
Sekarang, dia terlelap—nampak rileks dan lelap. Jeongguk mendesah. Taehyung melewati begitu banyak fase merusak dalam hidupnya, bagaimana cara Jeongguk memberikannya ide tentang bertemu terapis? Mengendalikan emosinya yang kacau balau? Dia ingin Taehyung sehat dan menikmati hidupnya dengan bahagia: tanpa bayang-bayang trauma yang menghantuinya seperti sosok raksasa gelap tinggi yang siap mencekiknya kapan pun dia lengah.
Jeongguk ingin kekasihnya hidup damai, sama seperti hidup yang sekarang dijalaninya setelah beberapa kali sesi dengan Thia.
“Berbahagialah dengan diri kalian masing-masing, lalu bertemulah untuk berbagi kebahagiaan itu bersama. Tidak ada yang bertanggung jawab untuk kebahagiaanmu kecuali dirimu sendiri: kau bahagia, pasanganmu bahagia. Kalian berbahagia bersama. Bukan saling membahagiakan. Bahagiamu bukan tanggung jawab kekasihmu.”
Jeongguk akan berterima kasih pada Mirah nanti sekaligus memberi tahunya tentang perjodohan mereka. Jimin benar, dia seharusnya melepaskan gadis itu karena dia paham sejak awal tidak ada tempat untuk hubungan itu dalam hidupnya.
Dia menghela napas, dia akan menghadapi ayahnya—sekali lagi, demi memperjuangkan keinginannya seperti ketika dia meminta izin ayahnya mendaftar ke sekolah kulinari.
Jeongguk meremas jemari Taehyung. Dia akan memperjuangkan hubungannya dengan Taehyung, tidak akan ada yang bisa menghentikan mereka.
Bahkan tidak Kehidupan itu sendiri.
“Wiktu?”
Jeongguk mengerjap, menunduk menemukan Taehyung menatapnya dengan wajah mengantuknya. “Hei,” dia merunduk—mengecup ujung hidung Taehyung yang tersenyum senang. “Maaf membangunkanmu.”
Taehyung menggeleng. “Ayo tidur.” Katanya, meraih Jeongguk yang seketika terkekeh lalu membaringkan dirinya di sisi Taehyung. “Atau kau mau bercinta?” Dia mengerling tubuh Jeongguk yang telanjang dengan nakal.
Jeongguk terkekeh lalu mendesis saat Taehyung menekuk lututnya, menggesekkannya ke selangkangan Jeongguk. “Kau anak nakal.” Gumamnya lalu mendesah saat Taehyung mengulum telinganya.
Sekarang ketika mereka sudah bicara, seks terasa jauh lebih mendebarkan. Hubungan mereka terasa jauh lebih ringan dan menyenangkan: Jeongguk tidak lagi terjebak dalam ketakutan yang menghantuinya jika dia tidak sengaja membuat Taehyung marah karena mereka sudah berjanji akan memberi tahu kapan pun mereka membuat satu sama lain tersinggung.
“Komunikasi dua arah.” Begitu kata Jeongguk dan Taehyung setuju.
Jeongguk menyelipkan jemarinya ke pantat Taehyung, membelainya dan Taehyung merengek. Mendongakkan kepalanya hingga Jeongguk menjulurkan lidah, menjilat lehernya. “Kau menggodaku?” Gumamnya di kulit Taehyung. “Maka persiapkan dirimu untukku.”
Mereka bahagia.
Jeongguk menyadarinya saat dia menaungi Taehyung yang merona—selalu nampak seindah mimpi. Dia selalu membuat Jeongguk merasa aman dan nyaman, bahkan ketika dia bersikap tidak sopan pada emosi Jeongguk. Dia sosok kakak yang diinginkan Jeongguk, senior yang membimbingnya selama ini dan sekarang adalah pasangannya.
“Aku mencintaimu.” Bisiknya, mendesah menempelkan kening mereka dan merasakan napas Taehyung di wajahnya. “Sangat mencintaimu.”
Taehyung tersenyum lebar dengan mata terpejam. “Aku juga mencintaimu.” Dia mengalungkan lengannya di leher Jeongguk. “Pastikan kau melakukannya dengan panas dan kasar.” Dia mengangguk serius dan Jeongguk terkekeh.
“Kasar yang bagaimana?” Sahut Jeongguk, menahan senyumannya lalu menyelipkan ujung jemarinya ke tubuh Taehyung—mendapatkan respons desahan kaget karena dia sama sekali belum siap. “Begitu?”
Taehyung mengerang, tersengal lalu terkesiap keras saat Jeongguk menyelipkan jemarinya lebih dalam. “Atau begitu?”
“Sakit!” Gerutu Taehyung menjambak rambut Jeongguk dan dia tertawa.
“Bagaimana jika kita bercinta perlahan...,” bisiknya kemudian, membelai tubuh Taehyung yang menegang dengan jemarinya. “Begitu perlahan hingga ketika kau orgasme, kau merasa meledak menjadi jutaan keping?”
“Sounds better.” Taehyung tersengal. “Please do, Chef.”
Jeongguk tersenyum. Dia jatuh cinta pada Taehyung, lebih dalam dari yang direncanakannya. Tetapi siapa peduli? Jeongguk akan mencintai Taehyung dengan caranya sendiri dan tidak ada yang boleh mengoreksinya.
“Alright, Chef. Here I come.”
- Dalam Hindu, seseorang yang meninggal akan diupacarai. Pertama, mayatnya akan dibakar atau Ngaben. Lalu setelahnya, atma/jiwanya akan disucikan dalam upacara Ngeroras ke gunung dan laut. Setelahnya, atma akan dikembalikan ke keluarga untuk ‘Melinggihang’ atau dilekakkan bersama para leluhur di pura rumah. Penyucian ini harus dilakukan untuk ‘memulangkan’ atma ke surga, bergabung bersama semua leluhur dan nanti akan kembali dilahirkan hingga reinkarnasi ke-7 dan mencapai Moksa—kematian terakhir.