Gourmet Meal 506
cw // drinking scene . ps. aku SUKA BGT karakter jimin <3
“Ayo sarapan,”
Jeongguk berdiri di depan pintu kamarnya dengan pakaian santai menunggu Taehyung yang sedang mengunci kamar sementara Jimin berdiri di jalan setapak, menunggu mereka dengan dompet panjangnya yang diselipkan di ketiaknya. Dia mengenakan kaus oblong polos bermerek dengan celana khaki pendek, sandal jepit dan kacamata hitam lain di hidungnya—sedang mengetik sesuatu di ponselnya, alisnya berkerut. Katanya dia sedang mengecek jadwal terbangnya bulan depan.
Taehyung bergabung dengan mereka, dia juga mengenakan celana pendek dan kemeja longgar sementara Jeongguk mengenakan celana panjang katun dengan kaus tanpa lengan dan kemeja luaran. Jimin masih berdiri di jalan setapak, mengerutkan alis pada ponselnya saat mereka bergabung ke sisinya. Jeongguk menarik napas, tersenyum saat mencium aroma parfum Jimin yang menenangkan—feminim dan memabukkan.
“Kita akan sarapan di hotel atau keluar?” Tanya Jimin, masih menunduk di ponselnya dan Taehyung secara insting berdiri di sisinya, menghalangi sinar matahari dari tubuh sahabatnya. “Aku ingin makan nasi babi.” Desahnya.
Jeongguk terkekeh, “Ini pukul sebelas pagi dan kau ingin nasi babi?”
Jimin menghela napas, menoleh jengkel ke Jeongguk seolah pemuda itu baru saja membunuh kucingnya atau apa. “Aku hidup tanpa nasi babi seenak ini di luar sana, Jeongguk. Jadi sebaiknya berikan saja apa yang kuinginkan.” Dia lalu menoleh ke Taehyung, berubah merajuk. “Kita makan nasi babi, ya, Om?”
Taehyung mengusap kepalanya; Jeongguk suka bagaimana dia nampak lebih lembut ketika berada di sekitar Jimin. Baik untuk saraf-sarafnya yang malang. “Baiklah, kita ke Selingsing.” Katanya setuju. “Aku saja yang mengemudi.”
Jeongguk mendesah, tersenyum kecil. “Haruskah aku mulai cemas pada kecenderunganmu menggoda dan merajuk pada kekasihku?” Tanyanya saat Jimin menyelipkan tangannya ke lengan Taehyung—mengayunkannya ceria seperti anak Taman Kanak-Kanak dengan guru favoritnya.
“Sudah kubilang,” Jimin melambaikan tangan pada Jeongguk yang menyusul mereka. “Aku sudah mencoba menggodanya sejak tamat kuliah, tapi dia tidak juga tergoda padaku. Jadi posisimu aman.” Dia memberikan jempol pada Jeongguk yang tertawa—rileks.
Mereka mengemudi ke Kediri, Badung ke tempat nasi babi kesukaan Jimin. Taehyung mengemudi dengan Jeongguk di sisinya sementara Jimin berbaring di kursi belakang—menelepon seseorang dan membicarakan sesuatu yang tidak dipahami Jeongguk. Taehyung melirik spion tengah saat mobil melambat di lampu APILL yang menyala kuning.
“Dia memang begitu,” katanya meremas tangan Jeongguk setelah memindahkan persneling ke Netral untuk berhenti. “Sibuk menelepon dan mengurus anak buahnya ketika libur, tapi tidak lama kok.” Dia melemparkan senyuman ke Jeongguk yang balas tersenyum.
“Aku tidak masalah kok.” Katanya kalem karena faktanya, saat mereka menunggu makanan kemudian di warung babi guling yang ramai dengan pelanggan dan ojek daring, ketiganya menunduk ke ponsel.
Mereka mengecek grup koordinasi masing-masing, mengoreksi jadwal dan menerima laporan terakhir dari anak buah masing-masing. Di sekitar mereka, orang-orang bergerak untuk makan dengan aroma masakan Bali yang tajam dan kaya oleh rempah. Aroma babi guling yang berlemak dan harum, obrolan orang-orang di sekitar, dan denting alat makan. Jeongguk mengerutkan alisnya: mereka memiliki VIP Arrival besok minggu dan mereka belum menerima form request dari Front Office tentang VIP Class Treatment yang harus diberikan Kitchen.
Jeongguk mendongak, menemukan kedua teman makannya juga mengerutkan alis ke ponselnya dan terkekeh. “Aku permisi sebentar.” Katanya dan keduanya menggumamkan jawaban tidak jelas yang mengundang senyuman di bibir Jeongguk.
Dia bangkit, keluar dari hiruk-pikuk warung makan dan menekan nomor FO Manager untuk mengonfirmasi kedatangan VIP. Saat Jeongguk kembali ke dalam, makanan mereka sudah terhidang dengan tiga gelas es jeruk yang mereka pesan. Dia mendesah, senang menemukan makanan lezat. Taehyung dan Jimin juga sudah menyingkirkan ponsel mereka: ini berarti liburan mereka resmi dimulai.
Mereka makan sambil mengobrol, banyak hal ringan mengenai pekerjaan dan keseharian Jimin. Teman-teman kerja, kejadian-kejadian lucu: semua hal yang Jimin belum ketahui. Termasuk perseteruan panas antara Taehyung dan keluarga Devy di antara piring-piring kosong mereka sementara Jimin menambah ekstra sate babi untuk cemilan mendengarkan Taehyung.
“Memang sejak awal,” dia mendelik pada Taehyung dengan kacamata dinaikkan ke atas kepalanya, menggunakan tusuk satenya untuk menunjuk Taehyung. “Aku sudah bilang padamu, jangan memercayainya. Dia terlalu palsu, entah kenapa aku benci sekali padanya.”
Taehyung mendesah, “Kupikir hanya karena dia akan jadi calon istriku suatu hari nanti dan kau benci fakta itu.”
Jimin menarik sepotong daging lepas dari tusuk satenya dulu sebelum mengangguk, “Itu juga!” Dia meletakkan tusuk sate yang kosong lalu mengambil sate lainnya. “Aku juga yakin sekali dialah yang menyebabkan hidupmu dan Mbok Gek menderita, aku bertaruh!”
“Dan masalah dia tidak tahu menahu tentang pernikahan kalian yang dipercepat,” Jimin menurunkan kacamatanya lagi saat mereka melangkah menuju mobil setelah dia membawa makan siang mereka bertiga. “Aku yakin dia tahu sesuatu. Omong kosong dia tidak terlibat dengan segala tingkah menyebalkannya saat berusaha menarik perhatianmu.”
Taehyung dan Jeongguk bertukar pandangan: apakah mereka memang terlalu memercayai kedua perempuan yang berada di kehidupan mereka hanya karena mereka baik? Ataukah mereka sebenarnya hanya baik karena mereka membutuhkan sesuatu dari Jeongguk dan Taehyung?
Jeongguk tidak bisa mengenyahkan pikiran itu dari kepalanya saat mereka berkendara berkeliling Denpasar. Mampir ke Starbucks Reserve Dewata untuk membeli kopi dan duduk mengobrol dengan lebih nyaman. Jimin memesan minuman untuk mereka bertiga—kali ini Taehyung berhasil memenangkan pertarungan sehingga Jimin membawa dompetnya ke kasir. Dia tidak mau salah satu dari Taehyung dan Jeongguk yang bangkit.
“Kalian tidak punya banyak waktu berduaan, 'kan? Maka manfaatkanlah waktu ini.” Katanya, mendelik saat Jeongguk hendak bangkit untuk memesan minum mereka.
Jimin memesan Caramel Macchiato untuk dirinya sendiri, Hot Asian Dolce Latte untuk Jeongguk serta Cold Brew untuk Taehyung. Mereka duduk di meja bertiga di dekat jendela, menghadap jalanan Sunset Road yang ramai dengan wisatawan dengan limpahan cahaya matahari. Jimin duduk di seberang mereka, seperti pewawancara dengan kaki disilangkan dan bersandar dalam ke sofanya yang empuk.
Jeongguk melirik Jimin sesekali, teringat pembicaraan mereka tentang mengorbankan Lakshmi agar mereka berdua bisa kabur. Karena jika menunggu ayah Taehyung melepaskan Lakshmi, mereka hanya akan berakhir dengan Taehyung menjadi suami Devy dan pewaris Puri. Semakin sulit untuk Taehyung bernapas dan melarikan diri setelah terjerat dalam Puri.
“Kalian sebaiknya kabur sebelum dia menjadi pewaris.” Jimin mengangguk serius dari balik tepian gelas anggurnya malam itu. “Selama ayahnya masih hidup dan memegang kendali: hanya dengan itulah semuanya bisa aman. Mungkin akan terjadi gejolak besar, tapi semua akan reda sendiri. Biarkan ayah Taehyung menghadapi kekacauannya sendiri. Pastikan kalian pergi sangat jauh dari Bali karena ayah Taehyung pasti akan menemukan kalian jika kalian masih berada di Bali.”
“Semua kendaraan Taehyung atas namanya sendiri, maka akan semakin sulit melacak keberadaannya. Pastikan kalian membawa semuanya. Atau jual salah satu punya Taehyung.” Kata Jimin, terdengar praktis dan ringkas. Sudah berpengalaman melarikan diri dari keluarganya dan terbukti tidak ditemukan hingga saat ini kecuali dia sendiri yang pulang.
Jeongguk memijat pelipisnya, memikirkan rencana kabur membuatnya merasa pusing. Saat dia dan Taehyung setuju untuk kabur, Jeongguk merasa sangat percaya diri. Yakin dia akan menemukan jalan keluar secepatnya setelah mereka menyatukan suara. Namun sekarang, dia bisa merasakan kepercayaan dirinya mulai meluntur kembali karena tidak ada jalan keluar.
Dia melirik Taehyung yang tersenyum karena guyonan Jimin dan hatinya menghangat: dia berjuang untuk mereka berdua. Dia berjuang untuk kebahagiaan mereka. Mereka berdua sekarang, bukan lagi Jeongguk sendirian maka mereka akan jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Mereka menghabiskan seharian untuk bertukar cerita, mendengarkan Jimin sebagian besar tentang pekerjaannya dan karena ini kali pertama Jeongguk duduk bersama Jimin, dia juga memamerkan negara-negara yang sudah pernah diinjaknya. Memamerkan foto-foto yang diambilnya di setiap landmark negara itu dengan bangga.
“Aku sengaja memilih penerbangan internasional dan berencana melamar pekerjaan di maskapai luar negeri,” dia menyugar rambut gelapnya dan menyilangkan kakinya. “Aku tidak mau dekat-dekat Indonesia, tidak ingin jika suatu hari nanti mendadak aku menjadi attendant di penerbangan yang dinaiki keluargaku. Aku menghindari peluang-peluang itu.”
“Dan jika nanti kalian sudah kabur jauh dari Bali, maka semakin baik.” Jimin menatap Taehyung sayang. “Karena itu berarti aku tidak harus kembali ke pulau ini lagi. Aku kembali hanya untuk Taehyung.” Dia mengulurkan tangan, menepuk telapak tangan Taehyung hangat. “Aku senang jika tidak harus kembali ke sini.”
Jeongguk mengencangkan otot perutnya saat Jimin melemparkan kata kabur itu dan melirik Taehyung yang dengan kalem menyesap minumannya—tidak terganggu oleh kalimat itu. Dia nampak positif dan optimis hingga Jeongguk menggertakkan rahangnya, tidak yakin harus melakukan apa sejak Jimin melemparkan opsi mengorbankan kakak perempuan Taehyung. Mungkinkah jika dia bisa mengajak Wisnu bekerja sama dengan mengajak Lakshmi kawin lari?
Namun jika Lakshmi kemudian hamil, Jeongguk tidak ingin membayangkan nasib anaknya yang menjadi Astra. Mengulang garis darah Lakshmi.
Sepanjang sisa hari, Jimin tidak lagi melemparkan kata-kata kabur dan mereka menikmati hari itu dengan ceria. Berjalan-jalan di Kuta, mampir ke pantai untuk membeli lumpia karena Jimin ingin mengenang masa mudanya, membeli donat dan banyak sekali makanan yang Jeongguk tidak yakin akan mereka habiskan, sebelum kembali ke hotel.
“Sampai ketemu di bar!” Seru Jimin melambai bersemangat dan berlari kecil ke kamarnya dengan selusin donat di genggamannya, berencana memakannya sambil berendam sebelum bertemu di bar pukul sembilan malam.
“Kau senang?” Tanya Jeongguk saat mereka memasuki kamar.
Taehyung mengangguk, tersenyum. “Sudah lama sejak aku ingin keluar bersamamu seperti itu: berjalan-jalan, duduk santai, menikmati hari tanpa dikejar-kejar. Rasanya luar biasa.” Dia mengulurkan tangan, meraih Jeongguk ke dalam pelukannya.
Jeongguk terkekeh, mengecup sisi wajahnya dan memeluk pinggangnya. “Maaf aku tidak sering membawamu berkencan.” Dia mengecupi wajah Taehyung sayang hingga pemuda itu terkekeh parau—beraroma kopi dan sirup karamel. “Mau pergi ke Bali Safari kapan-kapan?”
Taehyung mendongak, tersenyum lebar. “Memangnya aku anak SD??”
“Tapi kau mau, 'kan?”
“Tentu saja!”
Jeongguk tertawa serak, mengeratkan pelukannya ke Taehyung—mendekapnya dan mengecup puncak kepalanya. Dia melirik jam tangannya, mereka punya setidaknya empat jam sebelum bertemu Jimin. “Mau bercinta?” Tanyanya, mengecupi telinga Taehyung.
“Aku baru saja akan mengatakan itu,” Taehyung mengusap pantat Jeongguk dari balik celananya. “Ayo, bercinta sebelum bertemu Jimin lagi.” Dia menarik wajahnya dan Jeongguk menciumnya—mengusap bibir Taehyung lembut dengan bibirnya.
“Jangan sedih,” kata Taehyung kemudian di tengah ciuman mereka dan Jeongguk berhenti di leher Taehyung, sedang menciumi denyut nadi di balik telinganya.
Jeongguk menegakkan tubuhnya untuk menatap Taehyung, “Maksudmu?” Tanyanya.
Taehyung menangkup wajah Jeongguk lalu menumpukan keningnya di kening Jeongguk, matanya terpejam dan Jeongguk ikut memejamkan mata sebagai responsnya. “Jangan sedih dan merasa bersalah karena kau belum menemukan jalan keluar untuk masalah kita,” bisiknya dan jantung Jeongguk mencelos.
Dia terkejut karena Taehyung yang selama ini dikenalnya tidak akan pernah mengatakan itu, dia tidak peduli pada perasaan orang lain selama perasaannya sendiri terpenuhi. Dia manipulatif dan egois, perubahan sedrastis ini mengejutkan Jeongguk hingga dia menarik napas tajam—apa yang terjadi pada Taehyung?
“Itu bukan tanggung jawabmu sendirian sejak awal.” Taehyung menatapnya, rahangnya kencang. “Itu tanggung jawab kita berdua, karena ini hubungan kita.”
Jeongguk terpana, menatapnya dengan mata berkilauan oleh rasa kaget—tangannya meremas pinggang Taehyung. Dia tidak menyangka kekasihnya akan mengatakan sesuatu seperti itu, meringankan beban tak kasat mata di bahu Jeongguk. Membuatnya merasa... lebih baik.
Dia menelan ludah, tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Tidak terbiasa menerima pujian, maka yang lolos dari bibirnya adalah: “Apakah nasi babi tadi beracun?”
Taehyung tergelak, memukul kepala Jeongguk main-main. “Jimin yang memberiku pandangan baru. Memberi tahuku bahwa hubungan ini bukan tanggung jawabmu sendirian dan aku harus berkontribusi juga di dalamnya.” Dia menatap Jeongguk yang terpana—kaget pada perubahan kekasihnya.
“Maka, mari bekerja sama.”
Jeongguk mengerjap, sejenak diam mencoba memproses kata-kata Taehyung sebelm merengkuhnya dengan kedua lengannya dan memangut bibirnya keras hingga Taehyung mengerang. Dia mengangkat Taehyung, mengalungkan kedua tungkai Taehyung ke pinggangnya seraya menciumnya—hatinya berdebar, merasa luar biasa oleh cinta yang dirasakannya untuk Taehyung.
Dia mencintai Taehyung seperti orang gila ketika dia bersikap agresif, manipulatif, dan penuh curiga. Dan sekarang, ketika dia hangat dan penuh dukungan, hati Jeongguk terasa sesak—membengkak oleh rasa cinta yang tumpah ruah untuknya. Jeongguk menghela napas keras di sela ciuman mereka, tidak ingin melepaskannya sama sekali walaupun Taehyung tersengal dan tertawa dari dalam tenggorokkannya.
“Aku sangat mencintaimu, kau boleh menggerusku di tanganmu. Hancurkan dan remukkan aku.” Geramnya di kulit Taehyung yang merangkul lehernya, tersenyum senang—mereka berdua mabuk oleh kehadiran masing-masing. “Terima kasih banyak, Sayang. Terima kasih.”
Taehyung menggeleng, “Tidak.” Dia mengusap wajah Jeongguk. “Terima kasih, karena telah meyakinkanku. Bersabar denganku. Dan tidak pernah menyerah tentangku.” Dia mengecup kedua kelopak mata Jeongguk lalu tersenyum.
“Ke ranjang?” Tanyanya.
Jeongguk terkekeh parau lalu mengecupnya sekali lagi, mengerang dalam ciumannya. “Ke ranjang.” Sahutnya setuju.
“Kalian habis bercinta, ya?”
Jimin memicingkan mata, menatap kedua temannya yang berwajah cerah ceria di hadapannya. “Oh, jangan repot-repot menjelaskan.” Gerutunya sebelum salah satu dari temannya sempat membuka mulut. “Aku tahu kapan seseorang baru saja mendapatkan,” dia bersiul panjang. “A good dicking.”
“Yah,” sahut Taehyung kalem dengan wajah datar. “Apa lagi yang kaulakukan untuk membunuh waktu?”
Jimin menatapnya dengan wajah mengerut jijik yang dibuat-buat sebelum mereka bertiga melangkah ke bar resor yang mereka inapi. Bar malam itu tidak terlalu ramai, namun juga tidak lenggang. Beberapa tamu menikmati minuman dan finger food di beberapa kursi dan Jimin langsung menghampiri bar untuk memesan cocktail.
“Hai!” Sapanya ceria pada bartender ramah di balik meja bar. “Tolong yang klasik saja. Cosmopolitan untukku.” Dia tersenyum dan bartender itu mengangguk, meraih alat-alatnya dan mulai mengerjakan pesanan Jimin.
“Vodka double dengan irisan jeruk untukku,” kata Taehyung duduk di sisi Jimin lalu menoleh ke Jeongguk. “Kau ingin sesuatu?” Tanyanya pada Jeongguk yang sejenak berpikir karena dia tidak terlalu suka alkohol luar.
“Bisakah kalian memberiku mojito tapi ganti rum-nya dengan vodka atau arak Bali?” Tanyanya kemudian, berdiri di sisi Taehyung dengan siku bersandar di bar.
Taehyung terkekeh, “Dasar orang Karangasem,” dia menepuk paha Jeongguk sementara bartender terkekeh bersamanya. “Kau harus selalu minum hasil bumi kabupatenmu, ya?”
Jimin tertawa ceria, selalu begitu kapan saja alkohol mulai bergabung dalam obrolan mereka. “Tidak ada yang lupa, kok, Karangasem punya arak terbaik se-Bali.” Dia menepuk bahu Jeongguk yang tersenyum.
“Aku sungguh lebih suka arak daripada vodka,” sahut Jeongguk dan menatap bartender-nya. “Kalian punya arak?”
“Kami punya arak Bali, Pak. Tentu saja.” Katanya ramah mengerjakan pesanan Jimin. “Bisa saya siapkan.”
Mereka duduk di bar, setelah menerima minuman mereka bartender menjauh mengurus pesanan lain di ujung meja memberikan mereka privasi untuk bicara. Jimin melirik Jeongguk sebelum membuka mulutnya, “Masalah kabur,” katanya perlahan—mengecek ekspresi keduanya sebelum melanjutkan. “Kalian sudah tahu akan ke mana?”
Jeongguk mengangguk, “Aku sudah bertanya ke HRD mengenai transfer ke Amandjiwo. Posisi yang kosong executive sous chef, tapi aku tidak masalah turun level.” Dia mengangkat gelasnya, menggoyangkannya sejenak sebelum menyesapnya perlahan—membiarkan panasnya arak membakar tenggorokkannya dengan lambat.
Taehyung menatapnya sejenak sebelum menoleh ke Jimin, “Aku akan berhenti sebentar karena Alila tidak punya properti yang memadai di Jawa Tengah. Lagi pula, sebaiknya aku melepaskan kontakku dengan Alila jika ingin memulai kehidupan baru.” Dia menatap potongan jeruk di dalam gelasnya. “Kami akan bergantung pada tabungan dan pekerjaan Jeongguk sementara sebelum kami memutuskan lagi.”
Jimin menatap mereka, “Kenapa kalian tidak pergi ke tempat yang lebih jauh? Sumatra? Kepulauan Riau?” Dia meraih gelasnya dan menyesap minumannya perlahan. “Jual saja motor atau mobilmu, yang mana saja yang lebih mudah.” Dia mengerling Jeongguk, yakin pemuda itu belum mengatakannya.
“Mobilku saja,” kata Jeongguk, menoleh ke Taehyung yang balas menatapnya. “Malah aku akan memberikannya ke Yugyeom. Kita bisa gunakan mobilmu dan jual motormu. Mempermudah kita berpindah. Jalur darat memang lebih menyiksa tapi lebih sulit dilacak.”
“Setuju.” Jimin mengangguk, mengedikkan gelasnya ke arah Taehyung. “Mobilmu juga lebih mahal dan aku tau kau menabung banyak untuk mobil itu. Jika kau mau, aku punya mantan kapten yang sekarang tinggal di Kepulauan Riau. Dia bisa membantumu.”
“Kalian mungkin bisa mencari identitas palsu juga,” Jimin menambahkan. “Coba kutanyakan temanku. Kalian harus menyembunyikan kasta kalian setidaknya hingga tiba di Jawa. Maaf saja, nama belakang kalian mengumumkan segalanya.” Dia menyugar rambutnya. “Orang Bali mana pun pasti tahu asal kalian hanya dengan membaca nama belakang kalian.”
“Kepulauan Riau,” ulang Jimin kemudian. “Kalian bisa memiliki rumah di tepi pantai, jika cukup kaya. Mereka punya pantai berbatu yang cantik dan banyak resor-resor besar yang bisa kalian sasar. Dengan jabatan Jeongguk, aku yakin tidak akan lama hingga dia mendapatkan posisi.”
Taehyung menghela napas, “Aku tidak ingin merampas posisi Jeongguk di Aman.” Dia tidak mendongak saat mengatakannya. “Dia mungkin bekerja keras untuk bisa masuk Aman Group dan sekarang aku memintanya untuk—”
“Aku memintamu membuang keluargamu.” Sela Jeongguk, alisnya berkerut. “Kita akan membuang keluarga kita, agama, adat, dan segalanya untuk memulai hidup baru yang damai tanpa cekikan tanggung jawab. Dan kau masih memikirkan pekerjaanku?”
Jimin mengedikkan gelasnya. “I didn't say a thing.” Dia menyesap Cosmopolitan-nya perlahan dengan ekor mata mengamati Taehyung dan Jeongguk.
Syukurlah musik bar terdengar terlalu berisik hingga tidak banyak tamu yang memerhatikan mereka membicarakan hal sekompleks ini di bar. Bartender mereka juga sepertinya menyadari bahasa tubuh mereka dan memilih menjauh dari mereka—Jimin menghargainya.
“Jika kita akan kabur sekarang, Wigung,” Jeongguk merendahkan suaranya—menatap Taehyung lekat. “Tidak ada jalan kembali sama sekali dan tidak boleh ada ruang untuk keraguan atau rasa bersalah. Lakukan atau tidak sama sekali.”
Taehyung mengencangkan rahangnya. “Tapi kita punya masalah lain,” katanya menatap vodka-nya seolah benda itu sudah melakukan dosa besar padanya. “Kakakku.”
Jimin menahan diri agar tidak mengerang dan melirik Jeongguk yang menegang di sisi Taehyung. Mereka bertukar pandangan—tidak yakin apa yang harus mereka katakan pada Taehyung. Haruskah dia memberi tahu Taehyung? Atau Jeongguk harus menunggu hingga dia bicara dengan Wisnu masalah kawin lari? Dia menggeleng pada Jimin yang mengangguk, menangkap pesannya.
Jeongguk harus mencoba cara lain, sebelum mengeksekusi cara yang akan menyakiti kekasihnya. “Kita akan memikirkan itu,” dia menyentuh bahu Taehyung—ingin memeluknya namun mereka di ruang terbuka dan dia tidak nyaman sekali. Juga tidak ingin Taehyung mendengar debaran jantungnya. “Aku akan membicarakan sesuatu dengan Wisnu dulu sebelum memberi tahumu.”
Alis Taehyung berkerut, “Apa yang akan kaukatakan pada Wisnu?”
Jeongguk melirik Jimin yang mengedikkan bahunya. “Aku ingin, entahlah, mencoba mengajaknya bicara mengenai potensi kawin lari dengan kakakmu.” Katanya perlahan, menatap Taehyung dan menilai ekspresinya.
Taehyung mengangkat gelasnya, menghabiskan vodka-nya dalam satu tegukan lalu meringis kecil sebelum meletakkanya di meja. Dia menatap gelas kosong itu dengan alis berkerut. “Aku tidak yakin....”
“Atau,” Jeongguk menghela napas. “Kau menikahi Devy demi membebaskan kakakmu lalu kabur.” Dia menatap Taehyung, merana dan Jimin mengalihkan pandangannya; tidak tega melihat ekspresi putus asa, frustrasi, dan terluka Jeongguk. “Jika begitu, kau terikat sepenuhnya dengan Puri dan entah rencana busuk apa yang dimiliki keluarga Devy.”
Taehyung memejamkan matanya, rahangnya kencang dan tangannya yang menggenggam gelas bekas minumnya mengencang—buku-buku jemarinya memutih. Mereka bertiga diam, menunggu Taehyung memproses informasi yang didapatkannya. Waktu bergerak lambat sekali hingga Taehyung akhirnya membuka matanya.
“Tolong vodka double.” Katanya parau pada bartender yang bergegas menghampirinya dan menuang vodka untuknya ke gelas baru, menyingkirkan gelas bekas Taehyung.
Dia meneguk minumannya sekaligus sebelum menghembuskan napas dengan keras dan memijat pelipisnya. Nampak sangat membenci ide itu, namun juga menyadari bahwa mereka benar-benar tidak memiliki banyak pilihan sekarang. Dia mendongak, menatap kekasih dan sahabatnya dengan resah.
Tugung minta maaf, Mbok Gek. “Baiklah.” Katanya parau, sesuatu yang pahit menyumbat tenggorokannya. “Aku akan coba bicara dengan Tugus Wisnu.”
*