Gourmet Meal 496

tw // mention of bullying and homophobia , toxic masculinity .

ps. i enjoy creating jiji's chara! imma sucker of feminine man! <3 pss. why am i so exhausted????? semoga gak busux :(


Jeongguk mungkin harus mulai membiasakan diri tentang ini.

Mereka berdiri di balik pembatas penjemput kedatangan domestik bandara Ngurah Rai, menunggu Jimin yang sedang menarik kopernya dari ban berjalan. Taehyung melangkah ke dekat pagar, nampak bersemangat menyambut sahabatnya yang langsung melambai ceria dengan senyuman lebar di bibirnya ketika menangkap wajah Taehyung dari seberang ruangan.

Jimin bergegas menyeret kopernya dari ruang baggage claim, mengenakan kacamata hitam yang membuatnya nampak sangat menarik dengan rambut gelap yang berkibar di kepalanya saat dia berjalan cepat melewati proses pemeriksaan bagasi dan nomor bagasi di boarding pass-nya. Dia tersenyum semakin lebar saat melihat Taehyung yang berdiri di balik pagar pembatas penjemput, bergegas berlari ke arahnya dan melemparkan diri secara dramatis ke dalam kedua lengan Taehyung yang siap menangkapnya. Jeongguk mengejang, siap menangkap Taehyung jika dia terpeleset namun kedua kaki Taehyung menjejak dengan kuat.

Dia tidak peduli apakah mereka berada di ruang terbuka yang ramai saat mengecup kedua pipi Taehyung yang mengernyit, meletakkan tangannya di kepala Jimin lalu mendorongnya. “Sudah kubilang kurangi bersikap dramatis,” gerutu Taehyung namun tak ayal, tersenyum tipis.

Jimin juga memberikan satu ciuman di pipi Jeongguk walaupun Jeongguk bersikeras menolak ciumannya. Jimin bersikeras, mengecupnya ceria lalu tersenyum—dia beraroma lembut vanila dan wewangian lembut lainnya. Feminim dan menyenangkan; Jeongguk baru menyadarinya. Rambutnya beraroma seperti beri liar, mint, dan citrus. Bertemu Jimin, bahkan ketika Jeongguk sudah mandi di hotel sebelum menjemput Taehyung di Alila membuatnya berkecil hati, merasa kotor dan bau.

Dia adalah lelaki yang menarik, tubuhnya langsing dengan kesan mungil walaupun tingginya dan Taehyung nyaris sama, dan nampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya. Beraroma lembut parfum feminim yang memabukkan, pakaiannya licin dan rapi. Terawat. Jenis lelaki yang tidak dibayangkan Jeongguk akan berdiri di sisi Taehyung yang tinggi, berisi, cuek, dan berambut gondrong. Mereka sangat berlawanan dan Jimin juga manja—dia suka bergelayut di lengan Taehyung saat berjalan.

“Hai, Ganteng!” Sapanya ceria pada Jeongguk, tersenyum lebar seraya menaikkan kacamatanya, menjadikannya bandeau di kepalanya—mendorong anak rambut dari keningnya. Matanya berkilau ceria dengan wajah merah padam oleh adrenalin. “Minumanku?” Tanyanya dengan suara empuknya, mendelik pada Jeongguk yang terkekeh.

“Silakan, Yang Mulia. Green tea latte dengan liquid brown sugar.” Jeongguk menyerahkan gelas minuman Jimin yang berwarna hijau kecokelatan, di tangannya yang lain dia menggenggam kantung kertas terisi minumannya dan Taehyung.

Jimin menerimanya dengan senang, langsung menyesapnya bahagia. “Ah, terima kasih, Sayang.” Dia tersenyum setelah meneguk minumannya lalu menatap Taehyung. “Kita ke hotel sekarang?” Tanyanya mengulurkan tangan dan menepuk pipi Taehyung sayang. “Aku kangen.”

“Yoongi?” Tanya Taehyung saat mereka beriringan melangkah ke parkiran, menuju mobil Jeongguk melewati lorong panjang yang ramai oleh para penumpang pesawat yang juga baru mendarat di Ngurah Rai. “Kau tidak mengajaknya sekalian?”

Jimin menyesap minumannya, melangkah di sisi Taehyung dengan lengan terjalin dengan Taehyung—nampak sangat menggemaskan. Jeongguk mengamati bagaimana mereka berdua adalah representasi dua sahabat: satu nampak seperti ayah satu anak dengan kehidupan stabil sementara yang lain nampak seperti anak SMA pemberontak yang mencintai kebebasan. Mereka nampak seperti kombinasi aneh dua anjing: mungkin seperti German Great Danes dan Pomeranian.

Jimin memiliki pembawaan yang indah dan misterius, pembawaan itulah yang membuat orang-orang penasaran padanya. Dia nampak menarik, seperti keturunan Aphrodite yang akan membuat siapa saja bertekuk lutut di kakinya. Bersih, rapi, harum, dan sangat high maintenance. Tidak ada sedikit pun rambut di wajahnya yang keluar dari garisnya: tidak ada kumis, tidak ada jenggot, alisnya rapi, dan rambutnya dicukur presisi. Dia mengenakan make up tipis, pelembab bibir (atau mungkin bibirnya memang plumped alami), dan mengenakan hand-cream kapan saja dia sempat.

“Aku selalu tidak paham bagaimana kau bisa bersahabat dengan Jimin,” begitu komentar Jeongguk dengan gemas karena kedua sahabat itu benar-benar berlawanan: Taehyung sering lupa bercukur dan tidak pernah terganggu dengan rambut di wajahnya, gondrong, berkulit sewarna zaitun dan beraroma keringat khasnya yang membuat Jeongguk nyaman.

“Dia memang begitu sejak SMA, jika itu maksudmu.” Taehyung tersenyum dalam pelukan Jeongguk sebelum menerawang, nampak jengkel dan sedih. “Anak-anak sering membulinya karena menggunakan produk perawatan perempuan. Mereka mengatainya dengan begitu banyak nama dan sempat menyerangku juga. Tidak ada yang mau berteman dengan kami: mereka bilang kami homo dan harus dijauhi. Aku mendampinginya, melindunginya karena Jiji selalu melindungiku: kabur dari Puri ketika ayahku menyebalkan dan dia mengizinkanku tidur di kamarnya. Berdesakan seperti ikan.” Taehyung menerawang mengingat masa SMA mereka.

“Sekarang, dia sudah berdiri sendiri. Mandiri dan kuat, tapi kurasa, dia masih membutuhkan his scary dog untuk mendampinginya.” Taehyung mendongak dan tersenyum, Jeongguk mengecup puncak kepalanya—terkekeh. “Scary dog,” sahutnya setuju, membayangkan Taehyung yang masam berdiri di sisi Jimin yang ceria yang berkilauan.

Great Danes hitam masam dengan telinga runcing dan Pomeranian menggemaskan yang menyalak ceria.

“Mungkin memang sebenarnya aku adalah homoseksual sejak awal karena,” Taehyung memainkan jemari Jeongguk yang menggenggam tangannya—mensejajarkan jemari mereka dan memainkan kuku-kuku pendek Jeongguk yang bulat. “Aku tidak pernah terganggu dengan label homoseksual itu. Aku tidak pernah terganggu pada orientasi seksual Jiji, tidak juga terganggu ketika dia menggodaiku. Atau menciumku, atau memelukku. Aku hanya...,”

Taehyung menatap Jeongguk yang balas menatapnya. Tangannya terangkat dan mengusap wajah Jeongguk sayang. “Aku hanya sayang dan sangat overprotektif pada Jiji.” Bisiknya rendah. “Bagaimana dia harus menghadapi semua kebencian hanya karena memiliki selera yang berbeda: hanya karena dia merawat dirinya, hanya karena dia lebih menyukai aroma yang lembut dan feminim.”

“Aku paham,” sahut Jeongguk lembut lalu mengecup kening Taehyung sayang. “Aku paham. Dan tidak masalah bagiku bagaimana hubunganmu dengan Jiji, sungguh. Jika itu adalah masalah untukku, aku pasti akan memberi tahumu.”

Taehyung menatapnya dan menempelkan kening mereka berdua, mendesah panjang. “Aku sungguh jatuh cinta padamu, semakin dan semakin dalam setiap hari hingga aku takut aku akan mati karena cinta yang berdenyut di hatiku untukmu.”

“Jangan mati,” Jeongguk tersenyum. “Jangan mati untukku.” Dia mengusap wajah Taehyung sayang dan mengecup hidungnya. “Aku juga mencintaimu, lebih dari apa yang kata 'cinta' itu sendiri bisa jelaskan.”

“Dia ada penerbangan,” Jimin di sisi Taehyung melirik Rolex di tangannya lalu mendesah dramatis sambil menyesap minumannya. Jeongguk mengerjap, kembali ke masa sekarang—dia menoleh ke dua sahabat di sisinya dan tersenyum melihat ekspresi Jimin.

“Itulah mengapa aku berangkat ke Bali, aku tidak mau kesepian di vila sendiri.” Dia memutar bola matanya, menyesap minumannya.

Mereka menyeberangi lorong panjang yang berakhir di jalan kecil yang harus mereka seberangi. Jeongguk merogoh sakunya, mengeluarkan kunci mobil. Semua barang di mobilnya dia keluarkan pagi tadi sebelum berangkat bekerja: syukurlah ayahnya pergi ke Jembrana hari ini sehingga dia memiliki waktu bersiap-siap yang tenang. Dia memberi cukup ruang untuk Jimin dan barangnya di mobilnya.

“Jadi kau sudah pacaran dengannya?” Tanya Taehyung yang duduk di sisi Jeongguk, di kursi penumpang sementara Jimin duduk berselojor di kursi belakang dengan minumannya.

Jeongguk melirik spion tengah seraya memasang sabuk pengaman dan menyalakan mesin, mengulum senyuman saat Jimin melemparkan tatapan jengkel ke sahabatnya yang tidak bereaksi sama sekali—wajah Taehyung tenang dan steril. Dia memasukkan persneling, merogoh kompartemen di sisi pintu dan meraih uang receh serta karcis parkir mereka.

“Apa, sih, masalahmu?” Tanya Jimin gusar, menyesap minumannya dengan kaki disilangkan. “Kenapa kau berisik sekali bertanya tentang pacaran, pacaran.” Dia mendelik pada Taehyung yang bersandar kalem di kursinya. “Karena kau sudah punya pacar, jadi semua orang juga harus punya pacar?”

“Kau sudah bersamanya lebih dari delapan bulan,” Taehyung menambahkan, nampak tenang seolah sedang memarahi anaknya yang pulang dengan rapor merah dan Jimin memang nampak seperti anak SMA begundal.

Mereka memperdebatkan Yoongi, tentang bagaimana Jimin mungkin siap dengan hubungan dan Jimin secara konstan meneriaki Taehyung 'fuck you!' dan 'i love you, fuck!' seraya Jeongguk berkendara ke hotel yang dipesan Jimin. Sedikit terlalu mewah, resor di kawaran Jimbaran dengan pemandangan lautan yang menakjubkan. Tapi Jeongguk tidak keberatan karena yang membayar Jimin sendiri, menyalak galak saat Jeongguk menawarkan diri membayar kamarnya dan Taehyung. Maka dia memutuskan untuk diam dan menerimanya saja.

Mereka berhenti di lobi, membiarkan Bell Boy membantu mereka menurunkan isi bagasi yang tidak terlalu banyak kecuali Jimin yang membawa koper raksasa yang membuat Taehyung menggeleng dan Valet membantu Jeongguk memarkirkan mobilnya. Mereka memasuki hotel yang lapang dan harum dengan Jimin di depan setelah memaksa mereka menyerahkan KTP untuk keperluan check in.

Jimin meluncur di lobi, menghampiri Resepsionis yang menyapanya ramah. “Hai,” sapanya tersenyum ceria lalu menunjukkan ponselnya. “Dua vila atas nama Jimin?” Tambahnya sementara Front Office di hadapannya mengecek sistem. “Saya menelepon kemarin, meminta agar vila diletakkan berdekatan. Duty Manager kalian bilang saya mendapat kamar bersebelahan.”

“Baik, Bapak, saya cek sebentar.” Sahut gadis di balik konter dengan senyuman ramah di bibirnya.

Mungkin panggilan otomatis saja, karena Jimin adalah lelaki. Namun Jimin benci panggilan itu, sangat benci. Taehyung langsung meringis mendengar sebutan itu lalu bergegas menghampiri konter—berdiri di sisinya seperti anjing penjaga dengan tangan menyentuh bahunya lembut. Gestur protektif yang mengundang senyuman di bibir Jeongguk: mengingat apa yang mereka lalui bersama di saat remaja mereka, mungkin itulah hal yang Taehyung lakukan setiap saat. Berdiri di sisi Jimin kapan pun dia merasa Jimin 'terancam'.

“Tolong Jimin saja,” koreksi Jimin dengan wajah berkerut tidak suka dan gadis itu mengerjap, kaget bukan kepalang karena nada suara Jimin. “Saya benci dipanggi Bapak. Leave alone my sex.” Dia mendelik dan gadis itu bergegas meminta maaf, berkali-kali.

“Sudah, tidak apa-apa.” Kata Taehyung parau dan gadis itu malah semakin takut pada pembawaan masam Taehyung yang mengatakan itu tanpa sedikit pun nada ramah. “Lain kali, perhatikan kebutuhan tamu dengan lebih baik, ya.”

Gadis itu pucat di bawah lapisan hiasan wajahnya dan Jeongguk bergegas melerai mereka. Dia menghampiri konter dan menyentuh Taehyung yang setegang kawat. “Bagaimana jika kalian duduk di longue saja? Biar aku yang selesaikan.” Dia tersenyum ramah pada gadis di balik konter dan menoleh pada dua sahabat di sisinya.

Jeongguk tidak memiliki isu sensitif dengan gender dan dia punya pembawaan yang hangat: jadi sepertinya ini adalah bagiannya, mempermudah gadis malang itu.

“Pergilah ke sana, tenangkan Jimin.” Bisik Jeongguk pada Taehyung yang mengangguk.

Taehyung menatap Jeongguk yang mengangguk sebelum membimbing Jimin menjauh dari sana—menyesap sisa minumannya dengan tampang tidak suka hingga gadis di balik konter bergerak gelisah. Jimin menyerahkan ketiga KTP mereka ke Jeongguk, serta ponselnya di mana detail pemesanan kamarnya terpampang.

“Saya akan mengirimkan permintaan maaf setelah ini,” kata gadis itu dan Jeongguk tersenyum, meletakkan KTP mereka di meja dengan tenang untuk di proses.

“Tidak apa-apa,” kata Jeongguk hangat dan gadis itu mengangguk—masih nampak tegang lalu berterima kasih. Nada Jeongguk jauh lebih menenangkan daripada Taehyung. “Saya paham kau tidak tahu.” Tambahnya sementara gadis itu memproses pesanan Jimin di sistem lalu memberikan kunci kamar setelah mengecek KTP mereka.

“Berikut kunci kamar...,” dia berhenti sejenak dan Jeongguk tersenyum, mengulurkan tangan menerima kuncinya. “Bapak tidak apa-apa,” sahutnya dan gadis itu nampak lega.

“Berikut kunci kamar, Bapak.” Ulangnya kemudian kembali ke nada profesionalnya, tersenyum ramah sementara seorang Bell Boy menghampiri Jeongguk untuk membantunya. “Kamar Bapak terletak bersebelahan, namun tetap memiliki jarak yang lumayan antara satu sama lain. Bell Boy kami akan mengantar Bapak ke kamar.” Dia tersenyum pada Jeongguk lalu menakupkan kedua telapak tangannya di dada saat Jeongguk mengangguk, berterima kasih.

Jeongguk menghampiri keduanya, Taehyung mendongak dari Jimin yang menggerutu dan mereka kemudian beranjak ke kamar. Vila yang dipesan Jimin sedikit terlalu mewah dari apa yang dipikirkan Jeongguk—kamar mereka berjarak sekitar 20 meter dihalangi pepohonan rimbun yang menyejukkan. Lampu-lampu kuning membentuk jalur manis di jalan setapak mereka, menjadi bingkai penanda jalan dari pualam putih. Teras kamar mereka menghadap ke pantai lepas dengan kolam renang di masing-masing kamar.

Jeongguk berhenti sejenak di jalan setapak, menatap lautan lepas di hadapannya dan menghela napas dalam-dalam. Kapan terakhir kalinya dia berlibur santai seperti ini?

Dia mengamati sinar bulan purnama yang berkilau di atas permukaan air yang beriak, menghela napas dan Taehyung berhenti di sisinya—tangan mereka bersentuhan dan Jeongguk menoleh, menemukan Taehyung balas menatapnya dan tersenyum. Dia ingin meraih tangan Taehyung, meremasnya dan mengecupnya sayang—perasaan nyaman dan aman ini membuatnya mabuk namun dia menyadari sepenuhnya di mana mereka berada dan mengepalkan tangannya. Menahan diri setidaknya hingga Bell Boy berlalu dari hadapan mereka setelah menunjukkan kamar.

Jimin melambai, menyeret kopernya ke kamarnya sendiri. “Sampai ketemu besok! Kita ke bar!” Dia tersenyum lebar, memasang kembali kacamatanya saat menyusuri jalan setapak ke kamarnya dengan kunci di tangannya. “Pergunakan waktu kalian dengan baik.” Dia melemparkan air kiss pada keduanya sebelum tertawa ceria seolah baru saja melemparkan gurauan paling lucu dan lenyap di balik rimbun tanaman ke arah jalan masuk kamarnya.

Dia memang tidak peduli apa kata orang tentang orientasi seksualnya, namun Jeongguk dan Taehyung peduli. Mereka berpandangan, merona tipis sebelum akhirnya Jeongguk berdeham. Keduanya berdiri di jalan setapak remang-remang yang sepi namun tetap saja merasa rikuh. Dia mengangkat kuncinya, melambaikannya pada Taehyung lalu melangkah ke pintu kamar mereka. Menyelipkannya, dia memutar anak kunci di sana hingga terdengar suara klik ganda dan pintu terbuka. Kamar mereka luas dan lapang, dengan ruang terbuka ke teras belakang yang walaupun terbuka, dilengkapi dengan barisan pepohonan rapat yang melindungi privasi mereka. Semua lampu sontak menyala saat Jeongguk menyelipkan kartu listrik ke dalam soketnya. Menyinari vila yang nampak mewah.

Taehyung memasuki kamar itu dan menghela napas, “Jiji selalu begini, membuang-buang uangnya.” Katanya saat mengamati kamar yang luas, terang dan harum. Ranjang mereka rapi, menghadap teras dan lautan luas, runner dipasang kencang dan linen nampak licin dengan kartu ucapan selamat datang.

Jeongguk menghampiri Taehyung, memeluk pinggangnya dari belakang lalu mengecup lehernya lembut. Seluruh tubuhnya mendesah lega saat Taehyung berada dalam genggamannya—terasa seperti mengisi dayanya. Rasa sayang berdenyar di atas permukaan kulitnya; membuatnya bergidik. “Bukan berarti kau keberatan, 'kan?” Bisiknya parau dan Taehyung terkekeh.

“Kamarnya terlalu besar,” keluhnya sementara Jeongguk menggelayut di tubuhnya—dia mengusap tangan Jeongguk di atas perutnya. “Membuatku merasa terekspos.” Dia mengedikkan bahu, melirik Jeongguk yang menciumi bahunya dari balik kemejanya. “Kita terbiasa di kamar medium yang tertutup, tempat ini membuatku merasakan... Entahlah, kebalikan dari klaustrofobia?”

“Kau ingin ke kamar Jiji setelah berberes? Atau kau bisa ke sana, aku yang membereskan barang bawaanmu.” Jeongguk mengaitkan jemarinya di atas perut Taehyung, menyandarkan kepalanya di bahu Taehyung—memejamkan matanya. Menikmati waktu yang diberikan ruang berdinding dan kesendirian untuk mereka berdua.

Taehyung menunduk menatapnya. “Tidak apa-apa?” Tanyanya. “Aku ingin menanyakan hal-hal teknis semacam... Mengurus kehidupan setelah kabur? Aku menghabiskan hidupku 37 tahun sebagai peliharaan orang tuaku, aku tidak memiliki gambaran apa pun tentang hidup sendirian.”

Jeongguk menegakan tubuhnya lalu berdiri di hadapan Taehyung, membelakangi lautan dan kolam renang mereka. Dia meraih tangan Taehyung lalu meremasnya sebelum mengecup buku jemarinya dengan lembut. “Kau bersamaku.” Bisiknya lembut di kulit Taehyung. “Kita akan menemukan caranya.” Dia kemudian menatap Taehyung yang perlahan tersenyum.

“Kau selalu membuatku merasa nyaman dan aman,” sahut Taehyung kemudian perlahan. “Kau memberiku tenang dan damai, kau selalu nampak... Kau memahami segalanya. Terstruktur dan rapi. Aku mungkin sangat mengandalkanmu.”

Jeongguk menghela napas, dia memang nampak seperti itu. Namun, hatinya juga ketakutan dan kebingungan. Dia sering berpikir, jalan keluar apa yang bisa mereka lakukan demi kebahagiaan mereka semua. Dia hanya terpikir untuk meminta Taehyung menikahi Devy hanya agar Lakshmi terbebas dari Puri sebelum mereka kabur dari sana. Menyelamatkan Lakshmi sebelum membuang semuanya: bahkan pernikahannya dengan Devy.

Jeongguk tidak pernah berani membawa topik itu lagi semenjak pernikahan mereka mulai mendekat: terlalu berisiko. Dan dia tidak mau melemparkan Taehyung seperti umpan ke dalam arena pertarungan.

Dia sudah bicara dengan ayahnya mengenai Taehyung, ayahnya setuju untuk membiarkan Taehyung menginap di Puri ketika dia tidak ingin di rumah atau ketika sedang bersitegang dengan ayahnya. Namun tidak mau ikut campur dengan permasalahan Taehyung.

“Jika ayahnya memukul Taehyung, maka mungkin dia memang layak mendapatkannya.” Begitu kata ayahnya dari balik cangkir kopinya dan Jeongguk menahan diri untuk tidak melayangkan tinju pada ayahnya karena bersikap sangat... abai tentang kekerasan dalam rumah tangga. “Lagi pula, Taehyung sudah tiga puluh tujuh tahun. Dia bukan lagi anak di bawah umur.”

Jawaban itu membuat mereka berdua semakin frustrasi, tidak lagi paham apakah memang ada jalan keluar untuk mereka dari masalah ini? Haruskah mereka.... Mengikhlaskan saja hubungan mereka ini? Melepaskannya saja? Sementara pernikahan Taehyung berada di depan mata mereka dan pertunangan Jeongguk yang mengikat. Mereka terjebak, dalam kardus raksasa yang terisolasi—tidak ada celah bahkan untuk bernapas.

Mereka mendengar kabar tentang seorang tamu lodge mereka yang adalah seorang homoseksual. Namun dia memutuskan untuk menikahi perempuan untuk identitas. Hanya agar masyarakat berhenti merongrongnya lalu menghabiskan sebagian besar waktunya bertemu kekasihnya di lodge. Jeongguk tidak ingin melakukan pilihan itu walaupun untuk saat ini, pilihan itulah satu-satunya penerangan di kardus mereka. Jeongguk tidak cukup berani untuk melakukannya: mengorbankan Mirah di dalamnya, membohongi semua orang.

Tidak. Moral Jeongguk masih cukup besar untuk tidak melakukannya.

“Aku juga kebingungan dengan kondisi kita sekarang,” akunya dan Taehyung menatapnya—mengerjap. “Sungguh.” Tambah Jeongguk, ibu jarinya mengusap punggung tangan Taehyung dengan lembut. “Tapi aku sudah memperjuangkanmu, memperjuangkan kita hingga sejauh ini.” Dia menatap mata Taehyung yang gelap dan berkilauan—ada sedikit takut, tegang, dan lelah di binarnya. “Aku tidak ingin berhenti. Kita masih bisa berusaha.”

Walaupun sekarang kita terjebak, adalah kalimat yang tidak disuarakan Jeongguk namun keduanya memahami kalimat itu. Saat Taehyung mengulurkan lengan dan memeluk Jeongguk yang seketika membungkusnya erat dalam kedua lengannya—mengecup puncak kepalanya dan memejamkan mata.

“Mari tidak memikirkannya sekarang,” bisik Jeongguk lembut. “Kita bersenang-senang hingga Minggu, oke? Setelahnya kita berjuang lagi.” Dia mengeratkan pelukannya pada Taehyung—merasakan desir darahnya, denyut nadi dan jantungnya, helaan napasnya dan kehidupan yang berdetak di dalam tubuhnya. Merasakan Taehyung, yang sehat dan hidup dalam pelukannya.

Dua bulan lagi, Taehyung akan memulai rangkaian upacara pernikahannya. Dan Jeongguk selalu mulas memikirkannya, mereka belum juga menemukan cara untuk kabur dari Puri tanpa meninggalkan siapa pun di belakang. Khususnya Lakshmi. Jeongguk tidak tahu apa yang harus dilakukannya, bagaimana cara mereka kabur dari takdir yang terus mendesak mereka.

Lautan berdebur lembut di kejauhan, airnya beriak lembut oleh ombak dan air pasang. Bulan semakin pudar saat malam semakin larut dan Jeongguk bersandar di ranjang, bertelanjang dada menunggu Taehyung mandi. Matanya menatap titik di kejauhan, sementara kepalanya berputar—memikirkan mereka berdua. Hubungan mereka. Jalan keluar untuk mereka.

“Wiktu?”

Jeongguk mengerjap, mendongak dari lamunannya menatap lautan yang mulai gelap dan menemukan Taehyung baru saja keluar dari kamar mandi dalam balutan jubah mandi putih yang lembut. “Hai,” sahutnya—entah mengapa berbisik, padahal suasana kamar mereka begitu hening kecuali deburan ombak di kejauhan. “Kemarilah.” Dia menepuk kasur di sisinya.

Taehyung merangkak naik, mereka sengaja membuka pintu balkon mereka. Masih enggan menutup pintu dan tirai mereka, Jimin tidak mengganggu malam mereka dan mengirim pesan agar mereka menjemputnya sarapan besok karena dia kelelahan. Dia ingin tidur dan Taehyung tidak perlu menemaninya malam ini.

“Wiktu?”

“Hm?”

Taehyung menyusup ke dalam pelukan Jeongguk, memejamkan matanya dengan telapak tangan menempel di dada Jeongguk yang telanjang—tangannya terasa hangat dan lembab. “Aku pusing sekali,” bisiknya dan Jeongguk mengeratkan pelukannya. “Ayo bercinta.”

Jeongguk tersenyum: bercinta mulai terasa seperti candu bagi mereka. Membuat mereka terlalu lelah setelahnya hingga terlelap tanpa mimpi, tanpa berpikir. Kapan pun mereka merasa muak dan kelelahan, mereka akan lari ke bercinta. Kegiatan yang membuat otak mereka sejenak mati karena gairah mengambil alih seluruh kontrol tubuh mereka, melepaskan hormon yang membuat mereka nyaman, dan menghabiskan energi mereka.

Dan Jeongguk juga membutuhkan itu sekarang.

“Ayo,” bisik Jeongguk dan menyelipkan tangannya ke jubah mandi Taehyung dan membelai dadanya—memilinnya lembut sementara Taehyung mendesah lalu mendongak, menjambak rambut Jeongguk yang mendaratkan ciuman ke lehernya.

Setidaknya 10 jam ke depan, otak mereka tidak akan berpikir.

*