Gourmet Meal 511

SOUP – Second Appetizer 1/?

tw // existential anxiety , toxic parenting , mention of domestic abuse . ps. tolong dibaca pelan-pelan, alur maju-mundur. there's a lot going on this narration. trims, xo


“Kau juga bertemu Wisnu hari ini?”

Jimin menoleh kaget saat Jeongguk memberi tahunya perubahan rencana mereka hari itu. Taehyung tidak menjawab, dia nampak tidak dalam suasana hati yang baik sehingga Jimin menutup mulutnya dan menoleh ke Jeongguk yang menggeleng lembut.

Semalam, Taehyung menangis. Jeongguk sudah pernah melihatnya menangis, mereka sudah pernah berbagi duka dalam hubungan ini: menghadapi cobaan dan ujian yang tidak juga berbaik hati pada mereka.

Namun tangisan Taehyung semalam meremas hati Jeongguk seperti perasan jeruk nipis di atas lukanya. Dia menemukan Taehyung di sudut resor, tanah landai yang menghadap ke lautan yang remang-remang dalam keadaan setengah menangis—kelelahan dan emosional karena kehidupannya. Jeongguk berlutut di sisinya dan memeluknya, mengubur wajah Taehyung ke dadanya dan merasakan air matanya merebes ke dalam pakaian Jeongguk. Mereka diam sejenak di sana, dalam keremangan dan desir angin lautan yang lembab dan asin dalam balutan pakaian yang minim—meresapi segala kelelahan, kesedihan, dan amarah mereka yang tidak bisa tersampaikan kepada siapa pun.

Karena mereka tidak yakin pada siapa atau apa kemarahan ini harus ditujukan.

Ke keluarga mereka karena menghadirkan mereka? Karena menjadikan mereka seperti sekarang ini? Kehidupan karena membuat mereka hidup di tempat yang mereka tidak inginkan? Atau bahkan diri mereka sendiri karena tidak mampu menyelamatkan diri ketika sangat membutuhkannya?

Jimin menghampiri sahabatnya, memeluknya erat. Bernapas di bahunya dan Taehyung berdiri di sana, kedua lengannya menempel di tubuhnya, tidak bereaksi pada pelukan Jimin sama sekali. Jeongguk berdiri di dekat mereka—berduka entah karena kematian siapa.

“Bagaimana jika Wisnu menolak ide kita?” Tanya Taehyung malam itu, gemetar di tengah keremangan semalam dan sejujurnya, Jeongguk sama sekali tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

Kalimat “kita korbankan Lakshmi” sudah berada di ujung lidahnya, Jeongguk nyaris bisa merasakan getir kalimat itu di permukaan lidahnya namun dia menelannya kembali. Membenamkan wajahnya di rambut Taehyung, bernapas keras di sana sementara kekasihnya gemetar oleh isak tangis dan ketakutan. Bahagia yang bagi orang lain bukanlah hal sulit, bagi mereka adalah sesuatu yang sangat mahal. Harga yang mereka harus bayarkan untuk rasa bahagia itu nyaris mustahil diuangkan: keluarga, garis darah, leluhur, adat, agama....

Jeongguk belum siap melemparkan bomnya pada Taehyung, memaksanya untuk bersikap sangat egois untuk pertama kalinya. Meninggalkan satu-satunya orang yang tidak ingin ditinggalkannya dan mengingat bagaimana Lakshmi sangat mengharapkan Taehyung untuk menyelamatkannya, mau tidak mau Jeongguk juga merasa mual. Lakshmi berada dalam kondisi tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri: dia seorang Astra, calon suaminya seorang Brahmana, mereka adalah kombinasi pasangan yang akan membuat seluruh keluarga besar Brahmana suaminya mencibir. Mengundang banyak decak bingung masyarakat: kombinasi yang sangat mustahil.

Bahkan Taehyung sendiri meragukan hubungan mereka, tidak yakin bahwa Wisnu mampu melindungi kakaknya dari keluarganya sendiri nantinya. Itulah mengapa dia mau mewarisi Purinya, demi memberikan tempat untuk kakaknya pulang suatu hari nanti.

“Jika kita di Kepulauan Riau,” katanya gemetar dan Jeongguk memejamkan mata—tidak tega sama sekali memikirkannya. “Ke mana kakakku akan pulang ketika keluarga Wisnu mencampakkannya?”

“Maka kita akan mengirimkannya tiket untuk pergi ke Kepri dan tinggal bersama kita.” Sahut Jeongguk dengan mulut sepat oleh asam lambung. “Kita akan menyembunyikan kasta kita, hidup sebagai manusia biasa tanpa ikatan pada keluarga mana pun. Kakakmu akan selalu diterima di mana pun kau berada bersamaku.”

Taehyung belum menerima konsep itu sepenuhnya namun, cukup untuk membuatnya tenang dan berkenan dibawa kembali. Mereka kemudian tidur berpelukan di atas ranjang, Jeongguk membelai rambutnya hingga terlelap dan tidak melepaskannya hingga dia bangun keesokan harinya.

“Ayo,” bisik Jimin setelah melepaskan pelukan mereka—menyadari betapa tegang aura di sekitar mereka. Dia meremas tangan Taehyung yang dingin, merasa berduka dan bersimpati untuk mereka berdua karena harus menghadapi hal semacam ini. “Level tiga puluh tujuh.” Bisik Jimin lembut ke Taehyung yang menatap lurus dengan mata setengah menutup, nampak kelelahan. “Kau pasti bisa melewatinya.”

Taehyung membalas remasan tangannya lemah, nampak sama sekali tidak optimis. Jimin melirik Jeongguk di belakang mereka, terlihat sama tidak nyamannya. Mereka akan menghadapi masalah mereka masing-masing hari ini. Mereka sudah memesan dua ruang privat di salah satu restoran Jepang di wilayah Petitenget, Kerobokan: satu akan digunakan Jeongguk dan satu akan digunakan Taehyung sementara Jimin menunggu di luar. Siapa saja yang keluar duluan akan disambut Jimin, ditenangkan atau diberikan apa saja yang akan membuat mereka lebih baik.

Mirah sudah menelepon Jeongguk tadi, memastikan mereka akan bertemu di jam makan siang karena Jeongguk ingin menghabiskan sisa hari memeluk Taehyung jika pembicaraan mereka tidak berakhir baik. Jimin sudah memesankan mereka berdua makan malam yang akan diantar ke kamar, untuk menghibur mereka diam-diam tadi sebelum mandi. Meminta kamar mereka dibereskan dan diberi bunga segar, disiapkan air mandi dengan bunga yang akan membuat Taehyung rileks sebelum menghadapi dunia lagi hari Senin.

Wisnu juga mengatakan pada Taehyung dia sudah menuju lokasi dan mereka akan berangkat sekarang. Jimin yang mengemudi, syukurlah mereka membawa Yaris Jeongguk karena jika mereka menggunakan Hard Top Taehyung, Jimin mungkin tidak akan bisa mengemudi. Taehyung duduk di sisinya, nampak tegang dan kencang sementara Jeongguk di belakang.

Jimin melirik mereka melalui spion tengah, keduanya diam dan menatap jalanan. Dia menghela napas, ingin mengorbankan atau membayar berapa saja agar keduanya bisa bahagia tanpa perlu melakukan ini. Dia mengemudi dengan tenang, menjaga kecepatannya agar tidak mengganggu keduanya, berusaha mengulur waktu dan memberikan mereka kesempatan untuk menenangkan diri.

Namun seberapa pelan pun Jimin berkendara, mereka tetap tiba di lokasi tujuan mereka. Restoran itu lumayan ramai, ada beberapa mobil diparkir di halaman parkirnya yang tidak terlalu luas dan Jimin mengenali mobil Wisnu yang terparkir di sudut—setengah badannya berada di jalan raya karena kekurangan lahan parkir mobil.

Dia memakir mobilnya, menoleh ke kedua temannya. “Kalian siap?” Tanyanya, berisik—entah kenapa takut mengeraskan suaranya dalam keadaan seperti ini, dengan kedua temannya bersikap sangat diam.

Jeongguk menghela napas, “Tidak bisa dihindari.” Gumamnya lalu membuka pintu di sisinya, menarik dirinya keluar dari sana dan Taehyung memijat pangkal hidungnya sebelum menyusul kekasihnya.

Jimin bergegas menyusul keduanya, mengunci mobil Jeongguk dan bergegas berlari ke sisi mobil di mana kedua temannya berdiri mengecek ponselnya. Wajah mereka pucat dan Jimin merasa hatinya diremas-remas; dia tidak tega keduanya menghadapi ini namun mereka sungguh tidak memiliki pilihan lain saat ini.

“Wisnu sudah di dalam.” Kata Taehyung kering dan Jeongguk mengangguk, “Mirah juga sudah.”

Keduanya menatap dan menyunggingkan senyuman tipis yang memilukan. “Good luck.” Mereka bersalaman, Jeongguk meremas tangan Taehyung dan menyunggingkan senyuman menenangkan.

“Kita bertemu lagi setelah ini.” Kata Jeongguk lembut, nyaris seperti bersumpah dengan suara bergetar oleh tekad dan Taehyung mengencangkan rahangnya, mengangguk kaku.

“Kita bertemu setelah ini.” Sahutnya setuju.


“Tjok.”

Taehyung menghela napas dan tersenyum saat memasuki ruangan, menemukan Wisnu duduk di salah satu kursi dengan ponsel di tangannya. Dia pria di akhir tiga puluhan yang nampak menarik—tubuhnya tidak kurus dan tidak juga terlalu berisi, terbalut kaus polo sederhana dan celana jins panjang. Rambutnya dicukur rapi, berwajah manis khas Bali dengan beberapa bekas jerawat di wajahnya. Ada jenggot tipis di dagunya, belum sempat dicukur. Dia berdiri ketika Taehyung memasuki ruangan dan mereka bertukar salaman hangat sebelum pelukan singkat.

“Bli Gus,” sapa Taehyung duduk di hadapannya. “Maaf menunggu.” Katanya lalu meraih buku menu yang berada di depannya. “Sudah memesan? Kita pesan dulu saja belum bicara.” Dia tersenyum, sejenak memikirkan apa yang dilakukan Jeongguk di ruang sebelah dengan Mirah—penasaran apa yang ingin Mirah katakan.

Mereka memesan makanan, Taehyung tidak memesan makanan berat karena merasa terlalu mual dengan pembicaraan mereka. Dia hanya memesan makanan ringan dengan bir sementara Wisnu memesan makanan berat—memberi tahu Taehyung bahwa dia akan pergi ke proyek setelah ini.

“Pekerjaan aman, ya?” Tanya Taehyung, berbasa-basi setelah pelayan menyingkir membawa pesanan mereka. “Banyak proyek?”

Wisnu seorang kontraktor, dia memiliki banyak kontak dengan orang pemerintahan langsung dan memegang kota Denpasar. Tidak ada proyek pembangunan mana pun di Denpasar yang tidak dipegangnya—menjadikannya berpengaruh di bidang yang sangat berbeda dengan kakeknya. Dia tersohor, tampan dan mapan. Itulah mengapa Taehyung selalu tidak memercayainya ketika pertama kali Lakshmi memperkenalkan mereka.

Apa yang diinginkan seorang Brahmana mapan dengan kakaknya?

“Kakakmu cantik,” kata Wisnu ketika Taehyung secara blak-blakan menanyakan alasannya mengencani kakaknya. “Kepribadiannya baik dan menyenangkan. Dia memiliki wajah khas Bali yang membuatku terpesona.”

Taehyung mengerutkan keningnya. “Jadi kau mencintai kakakku karena dia... cantik?” Ulangnya, sama sekali tidak menyukai jawabannya. “Bagaimana jika nanti kakakku tua dan keriput? Kau akan membuangnya begitu saja?”

Wisnu tertawa mendengarnya. “Denganmu, Tjok, semuanya harus sangat harfiah.” Katanya santai. “Ada banyak sekali hal yang menarik dari diri kakakmu dan jika aku memang tidak mencintainya dengan serius,” dia menatap Taehyung—menantangnya. “Mengapa menurutmu aku menunggu selama ini untuk menikahinya? Aku bisa saja bersikap bajingan dengan menghamilinya lalu menolak bertanggung jawab, tidak akan ada yang perduli karena dia Astra.”

Taehyung menghela napas tajam, membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu yang sangat jahat sebagai respons kata-kata bajingan Wisnu namun lelaki itu bergegas menambahkan, “Tapi aku tidak melakukannya.” Katanya dan Taehyung diam.

“Aku memilih menunggu, menikahi dia secara benar dan terhormat karena aku tahu posisinya sebagai Astra tidak memberikan siapa pun keuntungan, Tjok.” Dia menatap Taehyung lalu menghela napas. “Jika itu kurang menunjukkan betapa seriusnya aku dan betapa aku menghormati kakakmu sebagai perempuan, maka aku tidak tahu lagi apa yang bisa membuatmu berubah pikiran.”

“Aku sudah melawan keluargaku sendiri dengan meminang seorang Astra, lupakan nenekku yang menyebalkan,” dia terkekeh parau dan Taehyung mengerjap—masih belum nyaman dengan pembicaraan itu. “Aku serius dengannya dan aku tidak akan membiarkan keluargaku menyakitinya.”

Dan Taehyung sekarang menatap Wisnu di hadapannya, beberapa tahun kemudian, berpikir apakah dia bisa memercayai pemuda itu? Benar-benar memercayainya?

“Jadi,” dia tersenyum hangat. “Apa yang akan kaubicarakan denganku?” Tanyanya ringan—mungkin berpikir apa yang akan dibicarakan Taehyung hanyalah hal sesederhana cuaca.

Taehyung menghela napas, tidak yakin bagaimana mengatakannya. Namun dia merasa dialah yang lebih layak membicarakan ini dengan Wisnu dibanding Jeongguk yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan mereka berdua. Dan Taehyung juga tidak yakin bagaimana mengatakan permintaannya ini tanpa menyinggung orientasi seksualnya—kenapa Taehyung kabur? Kenapa dia tidak menikahi Devy saja jika dia memang tidak memiliki kekasih?

Tangannya dingin. “Kau benar,” kata Taehyung kemudian perlahan. “Aku tidak ingin menikahi Devy.”

Dia diam, membiarkan kalimat itu menggantung di udara di antara mereka berdua. Menunggu reaksi Wisnu atas kalimatnya itu, menunggu Wisnu menyadari bahwa jika Taehyung tidak menikah maka dia juga tidak akan menikah. Taehyung menahan napasnya, tidak menatap Wisnu karena tidak ingin melihat ekspresinya. Namun kemudian, pemuda itu terkekeh parau.

“Sudah kuduga,” katanya dengan nada pasrah yang memilukan. Taehyung menoleh, mendapati pemuda itu sedang memijat pelipisnya. “Aku memang sejak awal tidak yakin kau akan menerima perjodohan itu begitu saja. Sangat tidak sesuai dengan karaktermu.”

Dia menatap Taehyung, sejenak nampak kecewa berat namun bergegas mengendalikan ekspresinya dengan baik dan menatap Taehyung tenang. “Dan kenapa, jika kau tidak keberatan?”

Taehyung mengencangkan rahangnya—alasan apa yang harus diberikannya agar tidak membongkar rahasianya dengan Jeongguk? “Aku tidak...,” dia berdeham. “Aku tidak tertarik menikah sama sekali.” Katanya kering: tidak sepenuhnya salah karena bakat ayahnya membina keluarga telah menginspirasinya untuk tidak melakukannya.

Alis Wisnu naik mendengarnya. “Sama sekali?” Tanyanya ragu dan Taehyung mengangguk. “Kau akan menjadi pewaris tanpa menikah? Lalu siapa yang akan mewarisi Puri setelahmu?”

Taehyung sungguh tidak peduli pada Puri sialan itu, tapi dia mendesah. “Kuserahkan pada adik ayahku atau anak pertama adik ayahku. Tidak masalah.” Katanya mengedikkan bahu.

Wisnu mengerjap. “Kau tahu, 'kan, ibumu...?”

Dia menghela napas, ya, ibunya. Siapa yang tidak tahu ibunya? Sudah banyak sekali berita tentangnya sejak dia muda: bagaimana dia sangat terobsesi menjadi seorang Jero, terobsesi dengan keluarga berkasta dan mendapatkan ayah Taehyung yang adalah pewaris Puri yang lumayan tersohor di Klungkung jelas adalah sebuah berkah dari langit. Itulah alasan utama mengapa ibunya bertahan bersama monster sialan itu dan menutup mata atas nasib anak-anaknya. Dia terobsesi memiliki anak yang akan mewarisi Puri itu, berstatus lebih tinggi dari keluarganya sendiri.

“Kupastikan ibuku sudah meninggal saat itu terjadi.” Katanya dingin dan Wisnu berjengit mendengar kalimatnya: Taehyung membicarakan kematian dengan sangat mudah, tidak pernah merasa terganggu sama sekali karena menurutnya apa yang harus ditakuti dari kematian yang akan membebaskannya dari segala sakit dan stres di dunia?

Hiduplah yang melelahkan dan harus ditakuti. Taehyung tidak bisa membayangkan kematian tanpa kedamaian, namun tidak menemukan masalah memikirkan kehidupan yang sama sekali tidak damai.

Wisnu kemudian menghela napas, sebelum dia sempat bicara makanan mereka datang. Keduanya bersidiam saat pelayan menyajikan makanan mereka. Taehyung hanya memesan nori taco sementara Wisnu memesan truffle mushroom pork chop yang beraroma lezat, lengkap dengan makanan penutup. Mereka menunggu hingga pelayan menutup kembali pintu mereka sebelum Wisnu menatap Taehyung.

“Lalu apa yang akan kautawarkan padaku karena kita berdua tahu,” dia meraih sumpitnya dan mengaduk mayonais yang berada di pinggir piringnya. “Aku tidak akan bisa menikahi kakakmu jika kau tidak menikah. Ayahmu cukup jelas tentang itu.”

Taehyung menatap makanannya, mendadak terlalu mual mencium aroma saus mentai dan rumput laut yang digunakan sebagai cangkang taco makanannya. Dia mendorongnya menjauh, meraih birnya dan meneguknya—dia sudah sempat makan croissant sebelum berangkat sebagai sarapan tadi.

Dia menghela napas, “Kawin larilah dengan kakakku.” Katanya, menjatuhkan bomnya pada Wisnu yang baru saja hendak menyuap potongan daging babinya yang terlihat berminyak dan memualkan.

Wisnu berhenti, dia menurunkan kembali sumpitnya dan menatap Taehyung dengan mata terbelalak. “Tjok,” katanya kaget. “Kau tahu kakakmu tidak mau melakukannya. Kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada anak kami nantinya jika kami kabur seperti itu. Kau sungguh—!” Dia membuang napas keras lalu meletakkan sumpitnya di meja—nampak stres dan kaget.

“Kau sungguh akan membiarkan keponakanmu bernasib sama seperti kakakmu?” Tanyanya lagi, pada titik ini marah pada Taehyung karena menyarankan sesuatu yang salah dan sama sekali tidak mereka inginkan. “Berada di kasta 'buangan'? Karena kau tahu, walaupun aku dan kakakmu tidur di kamar terpisah selama kami kabur, tidak akan ada yang percaya aku belum menyentuhnya.”

Taehyung menghela napas berat, stres menggelegak di dasar perutnya. Dia tahu itu semua, sangat tahu. Maka dari itulah dia benar-benar tidak mau melemparkan ide ini pada Wisnu, dia juga tahu kakaknya tidak mau melakukan ini. Menciptakan konflik antara dua keluarga besar dengan memilih kawin lari, memicu amarah ayahnya.

“Aku akan kabur dari Puri.” Bisik Taehyung saat Wisnu membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu lagi—mungkin melampiaskan kekesalannya karena Taehyung meminta sesuatu yang mustahil darinya atau mungkin kesal karena tidak juga bisa menikahi kakaknya setelah sekian lama bersabar, Taehyung tidak lagi tahu.

Wisnu diam, mulutnya terbuka. Sejenak keduanya tenggelam dalam keheningan sebelum Wisnu berbisik, “Kau... akan kabur?” Tanyanya lirih. “Dan... kenapa?”

Taehyung memijat kepalanya. “Aku muak di sana.” Katanya parau, merasakan nyeri di seluruh tubuhnya dan mual karena membicarakan ini. “Aku muak pada semuanya, hidup ini murni bukan milikku dan aku ingin memiliki hidup di mana aku bisa memutuskan sesuai dengan yang aku inginkan.”

Dia kemudian mendongak menatap Wisnu, “Jika kau kabur dengan kakakku,” katanya—kali ini terdengar lebih tegas dari sebelumnya. “Aku akan kabur bersama kalian. Kita kabur bersama.”

“Hanya bedanya,” dia masih menatap Wisnu yang terpana mendengarkan ide radikalnya yang akan menciptakan tsunami konflik antara keluarga mereka: Taehyung sejujurnya tidak yakin sebesar apa kerusakan yang akan terjadi atau apakah Wisnu akan merahasiakan ini dari kakaknya, tapi Taehyung putus asa.

Dia begitu menginginkan kebebasan, menginginkan kehidupan damai dengan Jeongguk, kehidupan di mana dia bisa memilih dan cukup egois untuk menyingkirkan siapa saja dari jalannya—siapa saja, kecuali kakaknya. Dia sudah berjanji padanya, dan Taehyung tidak sudi menjadi lelaki bajingan seperti ayahnya dengan mengingkarinya. Maka dia menempuh satu-satunya jalan yang tersisa....

“Kau akan kembali ke rumah bersama Lakshmi, entahlah beri saja jarak satu tahun setelah menikah hingga kalian memiliki anak—agar mereka yakin bahwa anak itu bukan Astra.” Taehyung menatap Wisnu yang masih diam, nampak memikirkan ide Taehyung yang kemungkinan bisa berhasil. Kecuali mungkin akan muncul gujingan tentang Lakshmi yang mandul karena setelah setahun menikah belum juga memiliki anak.

Peduli setan, jika mereka terus memikirkan keinginan lingkungan mereka maka Taehyung akan tergerus hingga menjadi bubuk saat berusaha. Dia tidak sudi lagi melakukannya.

“Dan aku,” dia menggertakkan rahangnya. “Aku tidak akan pernah kembali ke Bali.”

“Tjok,” hanya itulah yang dikatakan Wisnu setelahnya sebelum mereka tenggelam ke dalam keheningan panjang.

Makanan di meja tidak tersentuh, minuman mereka mulai berkondensasi—butir-butir air terbit dari permukaannya, meleleh ke meja dan membentuk kulacino. Dengung pendingin ruangan dan suara obrolan sayup-sayup dari ruangan di luar mereka menjadi satu-satunya suara saat keduanya memikirkan kalimat Taehyung barusan. Wisnu bernapas perlahan, matanya tidak fokus—menandakan betapa dia tenggelam dalam pikirannya sendiri sementara Taehyung memejamkan matanya, merasakan perih di hatinya karena pembicaraan ini.

Dia akan meninggalkan Bali sebentar lagi. Melepaskan kastanya, adatnya, agamanya, keluarganya, dan leluhurnya. Dia akan menjadi manusia lepas yang berbeda, tidak lagi bertanggung jawab atas hal yang sama sekali tidak dikehendakinya dan tidak harus hidup dalam bayang-bayang harapan orang lain. Dia dan Jeongguk akan memulai hidup baru sebagai manusia mandiri—membayangkan rumah kecil mereka dan Jeongguk sebagai pemandangan pertama dan terakhirnya setiap pagi, membuatnya tenang.

Dia memiliki Jeongguk.

Tidak peduli sesinting apa pun kehidupan mereka kedepannya, dia memiliki Jeongguk.

“Tjok,” kata Wisnu sekali lagi, membuang napas dengan keras. “Aku tidak yakin. Tapi izinkan aku membicarakan ini dengan kakakmu. Lalu kami akan memberi tahumu apa keputusan kami. Sudahkah kau memberi tahu kakakmu?”

Taehyung membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu namun ponselnya berdering. Dia menggumamkan maaf lalu bergegas merogoh sakunya, berpikir itu mungkin Jimin atau Jeongguk yang sudah selesai bicara dengan Mirah. Dia berkutat berusaha mengeluarkan ponsel dari kantung celananya lalu membaliknya, hingga menatap layarnya yang berkedip.

Jantungnya mencelos saat melihat nama siapa yang menelepon.

Tubuhnya seketika mendingin dengan cara yang mengerikan: seolah seember air dingin disiramkan ke punggungnya, ketakutan itu membentuk jalur dingin yang melumpuhkan di sepanjang tulang belakangnya. Taehyung gemetar meresponsnya. Tidak peduli berapa pun umurnya dan betapa dia sangat membencinya, dia tetap ketakutan.

Ayahnya meneleponnya, untuk pertama kalinya dalam hidup Taehyung.

“Tjok? Kau oke?” Tanya Wisnu cemas, wajah Taehyung pastilah pucat dan sangat pias sekarang karena tidak menyangka ayahnya akan meneleponnya—dia bahkan tidak yakin ayahnya memiliki nomor ponselnya karena dia selalu meminta ibu Taehyung melakukan tugas kotornya.

“Sebentar.” Kata Taehyung, tidak mengenali suaranya sendiri saat menggeser tombol hijau di layar dan menghela napas, menahannya saat mengatakan, “Swastyastu, Ajung?” Nyaris berbisik.

Suara ayahnya dingin, seperti sepotong bilah es tajam yang menusuk Taehyung bahkan melalui penerima telepon yang berkeresak, “Pulang,” katanya, tidak terbantahkan.

Malam ini kita nyedek ke Griya Dayu. Ajung terlalu lama membiarkanmu bermain-main.”

*

Glosarium:

*

Sampai bertemu di part 2 lusa! luv, ire xo