Sizzling Romance #47
Taehyung mulai takut dia mungkin saja tersesat.
Jadi dia memutuskan untuk berhenti untuk mengecek ponselnya karena sekarang dia sedang berada di antah-berantah.
Di sekitarnya hanya ada tanah lapang kering tandus yang membuatnya takut dia mungkin salah mengambil belokan entah di mana. Namun dia menghela napas saat menemukan titiknya masih di jalan yang sesuai dengan Google Maps yang sejak tadi membimbingnya dari Benoa ke arah Banyan Tree Bali.
Maka dia melanjutkan perjalanannya dan bersyukur dia berangkat jauh lebih pagi dari biasanya karena dia tidak mau terlambat di hari pertamanya bekerja karena tersesat di jalan. Alasan klise saat banyak teknologi yang bisa membantunya menemukan jalan efektif.
Setelah merasa yakin, dia kembali menaikkan kakinya dan mengendarai motor sewaannya menuju resor yang akan menjadi tempatnya bekerja kedepannya. Saat dia bekerja di Bintan, dia tinggal di mess bersama anak buahnya dan ada shuttle bus yang menjemputnya setiap pukul tujuh pagi dan mengantarnya pulang setiap jam lima sore, maka Taehyung sangat tidak memikirkan kendaraan atau apa.
Namun sekarang dia harus memulai memikirkannya, atau mungkin dia akan bertanya ke HRD apakah dia bisa mendapatkan fasilitas antar-jemput karyawan juga karena mengendarai motor sendirian di tanah yang asing membuatnya benar-benar anxious.
Sudah lama sejak terakhir Taehyung mengendarai motor, dia harus meminta Hoseok mengajarinya lagi kemarin dan syukurlah ternyata dia masih bisa melakukannya. Namun dia ragu dia masih ingat satu-dua hal tentang mengemudi karena terlalu lama dimanjakan fasilitas antar-jemput karyawan di Bintan.
Dia menyatat di kepalanya jika ada waktu dia akan mulai mengasah keterampilannya mengemudi lagi saat mengendarai motornya melewati jalanan panjang yang membuatnya sedikit anxious—benarkah jalan ini menuju tempat kerjanya?
Saat berkendara melalui jalanan yang gersang dan sepi, Taehyung mulai berpikir mungkin dia seharusnya berangkat bersama Jeongguk saja tadi.
Dia menghela napas; tidak, dia tidak mau merepotkan atasannya lagi.
Bersyukurlah karena kemudian dia menemukan jalan masuk dengan pualam dan paving block rapi yang mengarah ke sebuah resor mewah dan Google Maps di earphone-nya meneriaki Taehyung bahwa tujuannya berada di sana.
Seorang Security bergegas menghampirinya saat menyadari Taehyung yang kebingungn dan ingin sekali dicium Taehyung saking senangnya dia ternyata menemukan jalan yang tepat.
“Selamat pagi, Pak.” Sapa Security itu ramah dan hangat saat melihat Taehyung yang kebingungan, menghampirinya dengan walkie-talkie yang bekeresak di tangannya. “Ada yang bisa saya bantu?”
Taehyung mengangguk balas tersenyum ramah, baru akan menjawab saat suara derum lembut mobil terdengar di belakang Taehyung dan keduanya menoleh, menemukan Rubicon abu-metalik yang meluncur perlahan memasuki pintu masuk Banyan Tree, mobil itu berhenti di belakang Taehyung dan jendela pengemudinya turun.
Jeongguk menyunggingkan senyuman tipis kecil pada keduanya.
Dia nampak segar, dengan rambut setengah basah yang diikat longgar di tengkuknya. Wajahnya merona sehat dan ada ruam kemerahan di dagunya setelah bercukur. Jeongguk menyandarkan lengannya di jendela yang terbuka untuk menatap orang-orang di luar dengan lebih jelas—aroma kopi menguar dari dalam mobilnya dan Taehyung menghirup udara dengan sedih, dia belum mendapatkan kopi paginya karena terlalu tegang akan berangkat sendirian.
“Halo, Chef! Selamat pagi!” Sapa Security itu ramah, tersenyum lebar dan menakupkan kedua tangannya di depan dadanya. “Hari ini datang pagi sekali, ada yang harus dicek, Chef?”
“Pagi juga, Pak.” Balas Jeongguk dengan suara empuk dan logat Bali-nya yang menggemaskan—setidaknya menurut Taehyung. “Kenalkan. Dia Pastry Chef baru, Taehyung.” Kata Jeongguk pada Security yang menatap Taehyung yang nampak sedikit kikuk di atas sepeda motor matic dengan helm agak kebesaran di kepalanya.
“Ooh.” Security itu mengangguk, sekarang nampak jauh lebih hangat saat menatap Taehyung. “Silakan, Chef. Ikut Chef Jeongguk saja ke bagian karyawan nanti langsung diantar teman saya di sana ke HRD.” Dia tersenyum ramah; jenis senyuman kebapakan ramah yang membuat Taehyung seketinya nyaman dan diterima.
Jeongguk menatapnya. “Ke arah sana saja. Saya ikuti dari belakang.” Dia menunjuk pintu masuk untuk karyawan dan Taehyung mengangguk.
Dia bergegas mengendarai motornya lagi ke arah yang ditunjukkan Jeongguk dengan lambaian ramah dari Security yang tadi membantunya. Dia merasa sedikit tegang karena derum Rubicon mengikutinya dengan perlahan ke arah parkiran karyawan yang berlum terlalu ramai. Jeongguk mengklaksonnya lembut sebelum berpisah ke arah tempat parkir mobil dan Taehyung meluncur masuk ke tempat parkir motor.
Setelah memarkir dan mengunci motornya, Taehyung meraih tasnya yang terisi dua safety shoes yang satunya akan disimpannya di loker sebagai cadangan dan seragam cadangan jika ternyata Banyan Tree Bali belum menyiapkan seragamnya. Dia kemudian menyugar rambutnya setelah menggunakan helm, menyabut kunci motornya dan melangkah keluar, langsung bertemu dengan Jeongguk yang menunggunya.
Chef bugar itu menggunakan celana pendek dan kaus hitam polos tipis. Dia membawa tas di pundaknya, rambutnya digerai lepas menggantung lemas di tengkuknya dan Taehyung mengumpat dalam hati dosa apa yang telah dilakukannya sehingga Tuhan merasa dia layak mendapatkan hukuman seperti ini di hari pertamanya bekerja.
“Selamat pagi, Chef.” Sapa Taehyung berdiri di sisinya dan mereka beranjak ke arah pintu masuk karyawan. “Anda memang selalu tiba sepagi ini?”
Jeongguk menggeleng. “Tidak juga, tapi saya harus mengecek breakfast jadi saya memutuskan untuk berangkat lebih pagi.” Dia melirik jam tangannya. “Sekalian saya bisa membantumu menemukan HRD untuk mengurus kelengkapanmu karena setelah morning briefing nanti, Bapak GM ingin bertemu denganmu.”
Taehyung mengangguk. “Inilah kenapa saya tidak terlalu suka pindah bekerja.” Desahnya saat mereka melangkah ke arah pintu masuk dan disapa Security lain yang kenal dengan Jeongguk.
“Saya malas melakukan perkenalan. Ikut general orientation dan mengingat nama orang-orang.” Dia meringis, melemparkan senyuman pada Jeongguk saat akhirnya mereka memasuki wilayah karyawan yang sejuk dan rapi.
Jeongguk tidak menjawab, hanya mengangguk kaku dan Taehyung mendesah, usahanya untuk membangun percakapan sia-sia sudah. Jadi dia memilih melakukan hal yang sama dengan diam seraya mengekor Jeongguk memasuki resor. Beberapa Security menyapa Jeongguk ramah dan Jeongguk mengangguk sopan pada mereka.
Mereka melangkah ke arah Uniform untuk mengambil seragam. Jeongguk menekan bel memanggil salah satu Housekeeping yang bertugas menjaga tempat seragam.
“Pagi, Chef!” Sapa housekeeper itu sebelum bergegas menghambilkan seragam Jeongguk yang dilabeli Executive Head Chef di bagian hanger-nya sementara chef itu menempelkan ibu jarinya di mesin finger print yang menyatat jam pengambilan seragamnya secara otomatis.
“Trims.” Kata Jeongguk, menerima seragamnya yang harum dan diseterika rapi lalu menoleh pada Taehyung yang berdiri di sisinya, mengamati sistem pengambilan seragam itu.
“Apakah HRD sudah meminta seragam Pastry Chef disiapkan hari ini?” Tanya Jeongguk kembali menoleh ke Housekeeper yang berada di ruangan seragam dan anak itu mengangguk.
“Sudah, Chef.” Dia lalu menoleh ke Taehyung, mengamati tubuhnya dengan sopan. “Tapi mungkin butuh sedikit fitting karena Chef Taehyung kelihatan jauh lebih langsing dari yang kami kira. Apakah akan dipakai sekarang atau menunggu dengan HRD?”
Taehyung tersenyum. “Saya bawa seragam lama saya, jadi mungkin tunggu HRD saja.” Katanya ramah pada anak Housekeeping yang balas tersenyum itu.
Jeongguk mengangguk. “Anda ingin berganti baju dulu?” Tawarnya.
“Boleh.” Kata Taehyung kemudian dan Jeongguk memimpinnya ke loker karyawan yang masih sepi.
“Kau bisa taruh pakaianmu di loker saya dulu sebelum mendapat loker karena HRD akan menemuimu pukul delapan nanti. Kau sudah kontak Jessica?” Tanya Jeongguk sementara dia tanpa malu-malu meraih sudut pakaiannya dan menariknya lepas melewati kepalanya.
Dan.
Taehyung.
Sama.
Sekali.
Tidak.
Siap.
Tidak.
Siap.
Namun begitulah....
Sekarang Jeongguk berdiri di hadapannya dengan celana pendek yang menggantung rendah di tulang pinggulnya dengan garis V yang menukik tersembunyi di balik karet celananya dengan bagian atas tubuhnya terpapar udara.
Dia memiliki otot-otot halus yang membentuk enam pack samar yang membuat Taehyung gatal ingin membelainya dengan punggung tangan, merasakan teksturnya di kulitnya.
Bahunya lebar dan bidang, dengan otot-otot panjang sehat yang terlatih. Taehyung suka bentuk badannya—tidak terlalu berotot namun juga tidak terlalu lembek.
Dia meraih seragam chef-nya dan mulai membuka kancingnya, nampak sama sekali tidak terganggu dengan fakta bahwa dia sedang berdiri di loker bersama Taehyung dalam keadaan setengah telanjang.
Taehyung tidak bisa tidak mengamati garis rambut tipis samar yg dimulai dari bagian bawah pusarnya yang turun....
Jeongguk berhenti, menoleh pada Taehyung yang masih berdiri kikuk di depan pintu masuk loker. Alisnya berkerut bingung, “Kau tidak mengganti bajumu? Kau bawa seragam, 'kan?”
Taehyung mengerjap, berusaha keras mengalihkan pandangan dari bentuk tubuh Jeongguk dan bergegas mengangguk. “Ya, saya bawa.” Katanya kering sebelum meletakkan tasnya di lantai loker lalu mengeluarkan seragamnya.
Tidakkah dia menyadari apa yang sedang dilakukannya?
SUNGGUH?
Dia memunggungi Jeongguk saat melepaskan kemeja yang digunakannya tadi, terlalu kikuk untuk melakukannya sesantai Jeongguk dan mereka berdua mengganti pakaian mereka dengan seragam chef putih. Milik Jeongguk memiliki bordiran mungil lambang pohon Banyan Tree di bagian dada dan dia memasang name tag-nya di dada kiri.
Jeongguk memakai safety shoes-nya sebelum mempersilakan Taehyung menyimpan pakaiannya di dalam loker Jeongguk. Dia menguncinya lalu menyelipkan kuncinya di saku celana seragamnya.
“Nanti sepulang bekerja kau bisa menunggu saya untuk kuncinya.” Dia kemudian melirik jam tangannya. “Baru pukul tujuh, kau mau ikut dengan saya mengecek breakfast sebelum bertemu HRD?”
Taehyung melirik jam tangannya juga. “Saya tidak menggunakan seragam resmi, apa tidak apa-apa keluar ke public area?” Tanyanya.
Jeongguk menggeleng. “Tidak apa-apa.” Katanya lalu keduanya menoleh saat pintu loker terbuka dengan suara derit berat dan Namjoon berdiri di sana dengan seragam tersampir di lengannya.
Mereka berpandangan dan Namjoon terlambat menyembunyikan kekagetan yang terpampang di wajahnya karena menemukan Jeongguk dan Taehyung di loker yang sepi.
“Wah. Halo, selamat pagi, Chef.” Sapanya hangat setelah berhasil mengendalikan diri. “Tumben Anda datang sepagi ini?” Tanyanya tersenyum pada Jeongguk yang mengangguk, sekali lagi mengabaikan pertanyaan yang sama tentang jam kedatangannya.
“Selamat pagi, Chef Taehyung.” Dia kemudian melangkah ke lokernya yang ada di seberang loker Jeongguk.
“Pagi, Namjoon.” Sapa Taehyung ramah. “Saya pikir saya tersesat tadi saat melewati jalan menuju tempat ini, tapi syukurlah ternyata Google Maps tidak mengerjai saya hari ini.”
“Tips dengan Google Maps adalah jangan memilih rute dengan sepeda motor, pilihlah mobil, Chef. Maka Anda akan mendapatkan jalan luas yang lebih aman.” Namjoon tertawa serak, dia melepas bajunya dan mengenakan kaus dalaman di baliknya sebelum menyelipkan lengannya ke dalam seragamnya.
“Omong-omong, saya membawakan Chef dua pot sukulen hari ini. Saya titipkan di Security tadi, nanti sepulang kerja Anda bisa mengambilnya. Bilang saja titipan untuk Taehyung dari Namjoon.”
Taehyung tersenyum lebar, merasa senang. “Sungguh? Terima kasih banyak.” Katanya ceria. “Saya tidak menyangka kau benar-benar akan membawakannya.”
Namjoon terkekeh. “I'm a man with words.” Dia tersenyum lebar, mengancingkan seragamnya sebelum menyelipkan kakinya ke dalam celana seragamnya. “Anda berangkat dengan Chef Jeongguk?” Tanyanya ringan.
“Tidak.” Taehyung tersenyum. “Saya berangkat sendiri naik motor dan berpapasan dengan Chef di pintu masuk.”
Namjoon diam sejenak lalu mengangguk-angguk paham dengan perlahan.
“Siapa yang in-charge nanti malam?” Tanya Jeongguk pada Namjoon saat chef muda itu menyelipkan name tag di bagian kiri dadanya.
“Wonwoo, Chef.” Sahut Namjoon, melicinkan seragamnya sebelum merunduk untuk menggunakan safety shoes-nya dan berdiri. “Anda ingin mengecek breakfast?” Tanyanya.
Jeongguk mengangguk, meraih topi putih chef-nya setelah memasang harnet di kepalanya agar rambutnya tidak berhamburan. “Sekalian mengantar Taehyung ke HRD. Kita bertemu jam delapan di Main Kitchen.” Katanya sebelum mendorong pintu loker terbuka seraya menggunakan topinya dan Taehyung bergegas mengikutinya.
Namjoon menatap kedua chef yang berlalu menuju arah public area itu dengan senyuman bermain di bibirnya.
*
Bamboo Restaurant belum terlalu ramai pukul sekian saat Taehyung dan Jeongguk tiba.
Menu buffet breakfast dibawa naik dari Main Kitchen yang berada di dekat restoran. Aroma hangat makanan berempah yang lezat dan baru matang membuat Taehyung mendesah karena dia belum sarapan sama sekali. Sementara Jeongguk langsung meluncur ke arah menu makanan untuk quality checking, Taehyung beranjak ke bakery section.
Dia mengamati setiap potongan croissant, tiap potongan bagel dan roti yang dipanjangnya dengan mata yang sudah jeli dengan kualitas makanan melalui tatapan sekilas. Setiap cinnamon rolls dan danish pastry. Dia mengecek konsistensi kualitasnya dan menemukan beberapa croissant nampak terlalu soggy dan kempes sementara yang lainnya nampak gendut dan menggoda.
Dia mendesah, menyadari bahwa dia harus melakukan sesuatu dengan standar di dapurnya setelah ini.
Sepertinya entah oven atau croissant base-nya tidak dikerjakan dengan baik. Dia menelusuri bagian bakery dengan perlahan, mengecek setiap potongan makanan dan mengecek standarnya—mencari hal yang harus dibenahi karena kosongnya posisi pastry chef selama ini.
“Menemukan hal yang ganjil?”
Taehyung terlompat kaget karena suara Jeongguk persis di tengkuknya (dan tidak ada yang bertanya, tapi tengkuk adalah titik paling sensitif Taehyung dan dia benci sekali saat seseorang bernapas di sana—khususnya Jeongguk) dan dia langsung refleks menoleh.
“Ya.” Katanya dengan jantung berdebar begitu nyaring hingga dia takut Jeongguk bisa mendengarnya bertalu-talu berusaha meretakkan tulang rusuknya.
“Kualitas croissant-nya tidak konsisten. Beberapa kurang mengembang dan beberapa nampak keriput seperti kulit nenek-nenek.” Dia meraih penjepit makanan lalu meraih croissant paling gendut yang berkilauan.
“Inilah croissant yang benar.” Katanya dengan alis berkerut, mulai mengkalkulasi hal-hal yang bisa dia lakukan sebagai langkah awal menetapkan standarnya di dapur yang baru. “Saya ingin semua croissant nampak semontok ini.” Dia meletakkan kembali croissant itu di atas nampan sebelum berdecak.
“Setuju.” Jeongguk mengangguk. “Saya serahkan kepadamu.”
Di sekitar mereka, para FB Service sedang mondar-mandir mempersiapkan sarapan. Piring-piring putih bersih yang sudah dipoles kering dibawa naik dari Steward dengan ratusan pasang sendok, garpu dan pisau. Gelas-gelas jus dalam nampan dibawa naik dan dijejerkan dengan rapi di sisi jus dalam beberapa rasa. Semuanya berdenting-denting lembut ditingkahi suara obrolan rendah dan juga suara FB Captain yang mengatur anak buahnya—suara yang begitu akrab dengan keseluruhan saraf Taehyung.
Dia sudah berada di dunia ini bertahun-tahun; aroma pastry renyah yang baru matang, mentega leleh, cokelat dan vanila adalah aroma tubuhnya. Suara-suara ini, kesibukan ini dan semuanya terasa begitu benar di permukaan kulitnya.
Setelahnya, Jeongguk mengantarnya kembali turun ke HRD lalu berdiri di sana, di depan pintu dengan kikuk sebelum berdeham.
“Saya tunggu di Main Kitchen untuk bergabung di morning briefing.” Katanya. “Minta saja Jessica mengantarmu ke Main Kitchen bertemu saya.”
Taehyung mengangguk dan menatap chef muda itu yang sekarang melangkah menjauh dari HRD tanpa menoleh lagi.
Apakah Taehyung hanya membayangkannya saja atau Jeongguk sungguh baru saja bersikap salah tingkah di depannya?
Atau memang begitulah sikapnya yang sebenarnya?
Tidak ada pertanyaannya yang terjawab karena pintu HRD terbuka dan seorang gadis berambut panjang dengan aksen Bali kental menyapanya ramah.
“Chef Taehyung.” Dia tersenyum, menampakkan geligi rapinya yang seperti biji mentimun. “Mari silakan masuk.”
Taehyung menghabiskan paginya untuk menginput sidik jarinya untuk presensi, mengukur seragam barunya, mendengarkan penjelasan tentang kesepakatan kerja karyawan dan tata tertib karyawan, menandatangani kontrak baru dengan HR Manager sebelum akhirnya diberikan name tag sementara dan diantar ke Main Kitchen tempat Jeongguk menuggu.
Mereka pergi ke sana menaiki mobil golf diantar salah seorang concierge dan saat mereka tiba, Jeongguk sedang berdiri di depan ruangannya dengan Namjoon, Yugyeom dan Jackson membicarakan sesuatu sementara di sekitar mereka, dapur sedang bergerak mempersiapkan makan siang.
Dia berdiri dengan bahu terbuka yang tegak, kedua tangannya di belakang dan nampak sangat tegas. Dia mendengarkan laporan Jackson dengan serius, wajahnya berkerut dingin dan bibirnya membentuk garis tipis yang disadari Taehyung selalu terjadi saat dia sedang memfokuskan dirinya pada sesuatu.
Jessica menunggu hingga Jeongguk selesai bicara sebelum mengetuk pintunya. “Maaf menyela, Chef. Chef Taehyung sudah siap.” Katanya sebelum mundur, membiarkan Taehyung memasuki ruangan (sekarang dengan lebih percaya diri karena dia menggunakan seragam Banyan Tree yang walaupun agak kebesaran setidaknya lebih baik dari seragam lamanya).
Jeongguk menatapnya sejenak sebelum berdeham. “Oh. Halo, Chef.” Dia menatap Taehyung sebelum beralih ke Yugyeom yang mengangguk. “Tolong setelah ini dibantu dan di-overhand beberapa pekerjaannya.”
“Siap, Chef.” Kata Yugyeom dengan tenang—nampak sangat berbeda dengan Yugyeom yang ditemui Taehyung di Beachwalk kemarin. Dia nampak sangat menghormati Jeongguk seolah mereka rekan kerja biasa dan bukannya sahabat kecil—dia mengagumi etos kerja itu.
Nada bicaranya bahkan berbeda sekali dan Taehyung salut pada bagaimana Jeongguk bisa melakukan itu dalam pekerjaan dengan temannya.
“Jangan lupa juga melaporkan progres persiapan wedding cake kemarin.” Kata Jeongguk memberi tanda pada Taehyung untuk berdiri di sisi kirinya dan Namjoon tersenyum padanya.
“Nanti saat team briefing jam 3, saya akan memperkenalkanmu ke semua tim.” Kata Jeongguk pada Taehyung yang mengangguk, dia mengamati seragam Taehyung sejenak dan nampak tidak menyukainya.
“Berapa lama sampai seragamnya siap?” Tanyanya pada Jessica yang masih berdiri di pintu menunggu dipersilakan pergi.
“Saya usahakan besok, Chef.” Katanya.
“Tolong, ya.”
“Siap, Chef.” Jessica mengangguk. “Saya tinggal dulu, ya, Chef?”
“Oke. Trims, Jessica.”
“My pleasure, Chef.”
Kemudian Jeongguk kembali fokus ke wakil-wakilnya. “Biasanya kami membagi sous chef menjadi dua pagi, dua sore. Namun karena hari ini Yugyeom harus membantumu beradaptasi, kita melakukan pengecualian.” Katanya pada Taehyung yang mengangguk.
“Tadi saya sudah mengajak Taehyung untuk mengecek breakfast dan nampaknya dia punya beberapa umpan balik untuk kualitas pastry kalian jadi saya harap tim bisa menerima masukan dari Taehyung tentang ini.” Tambahnya.
Yugyeom mengangguk. “Siap, Chef.”
Jeongguk mengangguk. “Untuk KPI sudah dikirim ke email saya, ya?” Tanyanya pada Namjoon yang mengangguk.
“Sudah, Chef.” Katanya.
Dan Jeongguk mengangguk, dia mengecek jam tangannya. “Baiklah, saya harus morning briefing.” Katanya. “Ada yang ingin disampaikan lagi sebelum saya akhiri?”
“Cukup, Chef.” Kata Namjoon setelah menatap rekan-rekannya satu per satu.
Jeongguk mengangguk lalu menoleh ke Taehyung, menatap langsung ke matanya tanpa ragu.
Dan Taehyung menyadari hal ini sangat menganggunya. Bagaimana mata gelap itu menembus hingga ke jantungnya, seolah menelanjangi Taehyung tanpa ampun—tatapan dingin, tegas dan mendominasi nyaris seperti binatang buas.
Jeongguk selalu melakukannya, seolah sedang menatap langsung ke jiwa siapa saja yang diajaknya bicara dan dia selalu menatap tanpa berkedip. Selalu menghargai siapa saja yang sedang bicara dengan fokus mendengarkan dan menatapnya.
Taehyung suka dan juga tidak suka tatapan itu.
Membuatnya merasa kecil, telanjang dan gemetar. Ekspresi dingin dan serius Jeongguk selalu membuatnya merasa sedikit takut; takut jika dia tidak sengaja melakukan kesalahan yang akan membuat Jeongguk tidak suka. Perasaan aneh ingin membuat Jeongguk bahagia, ingin membuatnya tersenyum dan memujinya.
Perasaan asing yang membuat Taehyung bingung dengan dirinya sendiri.
“Selamat bekerja dan selamat bergabung di tim saya, Chef.” Katanya tegas, sudut bibirnya naik sebelah dan mengenal Jeongguk selama tiga hari, Taehyung paham itulah hal paling mendekati senyuman yang pernah dilakukan Jeongguk.
Kecuali satu senyuman lebarnya di hari pertama mereka bertemu.
“Semoga betah.” Tambahnya. “Saya harus morning briefing dulu, nanti saya akan telepon ke Pastry jika Bapak sudah siap untuk bertemu denganmu dan minta CDP atau commis mengantarmu ke back office.” Dia mengerling Yugyeom yang mengangguk menyanggupi sebelum melangkah keluar dari Main Kitchen.
Taehyung menatap punggung Jeongguk yang lenyap di balik pintu dalam langkah panjangnya yang tegas, terbalut seragam chef yang bersih sebelum kemudian menoleh pada Yugyeom yang tersenyum.
“Ayo, Chef. Saya perkenalkan dengan tim dan mari kita tangani croissant yang tidak Anda sukai itu.”
Taehyung merasa hatinya mengembang seperti sepotong pain au chocolat di dalam oven—dia akan menyelam ke dunianya, melupakan Jeongguk untuk sementara. Dikelilingi aroma mentega cair, ekstrak vanila dan cokelat. Dinginnya ruang cokelat dan atmosfir yang sangat berbeda dari hot kitchen yang serba terburu-buru dan berisik.
Dia yakin dia bisa menyelesaikan hari ini dengan baik.
“Kau bisa mulai memberitahu saya tentang wedding cake dan siapa yang bertanggung jawab atas itu.” Kata Taehyung seraya melangkah dibimbing Yugyeom ke arah Pastry Section.
*
Public Area: Area tamu hotel.
Tidak semua dan selalu karyawan hotel diizinkan untuk pergi ke bagian public area selain yang berkepentingan seperti: Housekeeping bagian Public Area, Duty Manager dan Frontliners (FO, concierge dan security), Department Head (tidak selalu), Sales dan anak FB service.
Anak Kitchen jelas dibatasi untuk pergi ke public area selain untuk mengantar makanan yang dilakukan sebelum jam makan dibuka untuk tamu dan head chef untuk mengecek kualitas makanan yang juga dilakukan sebelum jam makan dibuka.