eclairedelange

i write.

Sizzling Romance #47

Taehyung mulai takut dia mungkin saja tersesat.

Jadi dia memutuskan untuk berhenti untuk mengecek ponselnya karena sekarang dia sedang berada di antah-berantah.

Di sekitarnya hanya ada tanah lapang kering tandus yang membuatnya takut dia mungkin salah mengambil belokan entah di mana. Namun dia menghela napas saat menemukan titiknya masih di jalan yang sesuai dengan Google Maps yang sejak tadi membimbingnya dari Benoa ke arah Banyan Tree Bali.

Maka dia melanjutkan perjalanannya dan bersyukur dia berangkat jauh lebih pagi dari biasanya karena dia tidak mau terlambat di hari pertamanya bekerja karena tersesat di jalan. Alasan klise saat banyak teknologi yang bisa membantunya menemukan jalan efektif.

Setelah merasa yakin, dia kembali menaikkan kakinya dan mengendarai motor sewaannya menuju resor yang akan menjadi tempatnya bekerja kedepannya. Saat dia bekerja di Bintan, dia tinggal di mess bersama anak buahnya dan ada shuttle bus yang menjemputnya setiap pukul tujuh pagi dan mengantarnya pulang setiap jam lima sore, maka Taehyung sangat tidak memikirkan kendaraan atau apa.

Namun sekarang dia harus memulai memikirkannya, atau mungkin dia akan bertanya ke HRD apakah dia bisa mendapatkan fasilitas antar-jemput karyawan juga karena mengendarai motor sendirian di tanah yang asing membuatnya benar-benar anxious.

Sudah lama sejak terakhir Taehyung mengendarai motor, dia harus meminta Hoseok mengajarinya lagi kemarin dan syukurlah ternyata dia masih bisa melakukannya. Namun dia ragu dia masih ingat satu-dua hal tentang mengemudi karena terlalu lama dimanjakan fasilitas antar-jemput karyawan di Bintan.

Dia menyatat di kepalanya jika ada waktu dia akan mulai mengasah keterampilannya mengemudi lagi saat mengendarai motornya melewati jalanan panjang yang membuatnya sedikit anxious—benarkah jalan ini menuju tempat kerjanya?

Saat berkendara melalui jalanan yang gersang dan sepi, Taehyung mulai berpikir mungkin dia seharusnya berangkat bersama Jeongguk saja tadi.

Dia menghela napas; tidak, dia tidak mau merepotkan atasannya lagi.

Bersyukurlah karena kemudian dia menemukan jalan masuk dengan pualam dan paving block rapi yang mengarah ke sebuah resor mewah dan Google Maps di earphone-nya meneriaki Taehyung bahwa tujuannya berada di sana.

Seorang Security bergegas menghampirinya saat menyadari Taehyung yang kebingungn dan ingin sekali dicium Taehyung saking senangnya dia ternyata menemukan jalan yang tepat.

“Selamat pagi, Pak.” Sapa Security itu ramah dan hangat saat melihat Taehyung yang kebingungan, menghampirinya dengan walkie-talkie yang bekeresak di tangannya. “Ada yang bisa saya bantu?”

Taehyung mengangguk balas tersenyum ramah, baru akan menjawab saat suara derum lembut mobil terdengar di belakang Taehyung dan keduanya menoleh, menemukan Rubicon abu-metalik yang meluncur perlahan memasuki pintu masuk Banyan Tree, mobil itu berhenti di belakang Taehyung dan jendela pengemudinya turun.

Jeongguk menyunggingkan senyuman tipis kecil pada keduanya.

Dia nampak segar, dengan rambut setengah basah yang diikat longgar di tengkuknya. Wajahnya merona sehat dan ada ruam kemerahan di dagunya setelah bercukur. Jeongguk menyandarkan lengannya di jendela yang terbuka untuk menatap orang-orang di luar dengan lebih jelas—aroma kopi menguar dari dalam mobilnya dan Taehyung menghirup udara dengan sedih, dia belum mendapatkan kopi paginya karena terlalu tegang akan berangkat sendirian.

“Halo, Chef! Selamat pagi!” Sapa Security itu ramah, tersenyum lebar dan menakupkan kedua tangannya di depan dadanya. “Hari ini datang pagi sekali, ada yang harus dicek, Chef?”

“Pagi juga, Pak.” Balas Jeongguk dengan suara empuk dan logat Bali-nya yang menggemaskan—setidaknya menurut Taehyung. “Kenalkan. Dia Pastry Chef baru, Taehyung.” Kata Jeongguk pada Security yang menatap Taehyung yang nampak sedikit kikuk di atas sepeda motor matic dengan helm agak kebesaran di kepalanya.

“Ooh.” Security itu mengangguk, sekarang nampak jauh lebih hangat saat menatap Taehyung. “Silakan, Chef. Ikut Chef Jeongguk saja ke bagian karyawan nanti langsung diantar teman saya di sana ke HRD.” Dia tersenyum ramah; jenis senyuman kebapakan ramah yang membuat Taehyung seketinya nyaman dan diterima.

Jeongguk menatapnya. “Ke arah sana saja. Saya ikuti dari belakang.” Dia menunjuk pintu masuk untuk karyawan dan Taehyung mengangguk.

Dia bergegas mengendarai motornya lagi ke arah yang ditunjukkan Jeongguk dengan lambaian ramah dari Security yang tadi membantunya. Dia merasa sedikit tegang karena derum Rubicon mengikutinya dengan perlahan ke arah parkiran karyawan yang berlum terlalu ramai. Jeongguk mengklaksonnya lembut sebelum berpisah ke arah tempat parkir mobil dan Taehyung meluncur masuk ke tempat parkir motor.

Setelah memarkir dan mengunci motornya, Taehyung meraih tasnya yang terisi dua safety shoes yang satunya akan disimpannya di loker sebagai cadangan dan seragam cadangan jika ternyata Banyan Tree Bali belum menyiapkan seragamnya. Dia kemudian menyugar rambutnya setelah menggunakan helm, menyabut kunci motornya dan melangkah keluar, langsung bertemu dengan Jeongguk yang menunggunya.

Chef bugar itu menggunakan celana pendek dan kaus hitam polos tipis. Dia membawa tas di pundaknya, rambutnya digerai lepas menggantung lemas di tengkuknya dan Taehyung mengumpat dalam hati dosa apa yang telah dilakukannya sehingga Tuhan merasa dia layak mendapatkan hukuman seperti ini di hari pertamanya bekerja.

“Selamat pagi, Chef.” Sapa Taehyung berdiri di sisinya dan mereka beranjak ke arah pintu masuk karyawan. “Anda memang selalu tiba sepagi ini?”

Jeongguk menggeleng. “Tidak juga, tapi saya harus mengecek breakfast jadi saya memutuskan untuk berangkat lebih pagi.” Dia melirik jam tangannya. “Sekalian saya bisa membantumu menemukan HRD untuk mengurus kelengkapanmu karena setelah morning briefing nanti, Bapak GM ingin bertemu denganmu.”

Taehyung mengangguk. “Inilah kenapa saya tidak terlalu suka pindah bekerja.” Desahnya saat mereka melangkah ke arah pintu masuk dan disapa Security lain yang kenal dengan Jeongguk.

“Saya malas melakukan perkenalan. Ikut general orientation dan mengingat nama orang-orang.” Dia meringis, melemparkan senyuman pada Jeongguk saat akhirnya mereka memasuki wilayah karyawan yang sejuk dan rapi.

Jeongguk tidak menjawab, hanya mengangguk kaku dan Taehyung mendesah, usahanya untuk membangun percakapan sia-sia sudah. Jadi dia memilih melakukan hal yang sama dengan diam seraya mengekor Jeongguk memasuki resor. Beberapa Security menyapa Jeongguk ramah dan Jeongguk mengangguk sopan pada mereka.

Mereka melangkah ke arah Uniform untuk mengambil seragam. Jeongguk menekan bel memanggil salah satu Housekeeping yang bertugas menjaga tempat seragam.

“Pagi, Chef!” Sapa housekeeper itu sebelum bergegas menghambilkan seragam Jeongguk yang dilabeli Executive Head Chef di bagian hanger-nya sementara chef itu menempelkan ibu jarinya di mesin finger print yang menyatat jam pengambilan seragamnya secara otomatis.

“Trims.” Kata Jeongguk, menerima seragamnya yang harum dan diseterika rapi lalu menoleh pada Taehyung yang berdiri di sisinya, mengamati sistem pengambilan seragam itu.

“Apakah HRD sudah meminta seragam Pastry Chef disiapkan hari ini?” Tanya Jeongguk kembali menoleh ke Housekeeper yang berada di ruangan seragam dan anak itu mengangguk.

“Sudah, Chef.” Dia lalu menoleh ke Taehyung, mengamati tubuhnya dengan sopan. “Tapi mungkin butuh sedikit fitting karena Chef Taehyung kelihatan jauh lebih langsing dari yang kami kira. Apakah akan dipakai sekarang atau menunggu dengan HRD?”

Taehyung tersenyum. “Saya bawa seragam lama saya, jadi mungkin tunggu HRD saja.” Katanya ramah pada anak Housekeeping yang balas tersenyum itu.

Jeongguk mengangguk. “Anda ingin berganti baju dulu?” Tawarnya.

“Boleh.” Kata Taehyung kemudian dan Jeongguk memimpinnya ke loker karyawan yang masih sepi.

“Kau bisa taruh pakaianmu di loker saya dulu sebelum mendapat loker karena HRD akan menemuimu pukul delapan nanti. Kau sudah kontak Jessica?” Tanya Jeongguk sementara dia tanpa malu-malu meraih sudut pakaiannya dan menariknya lepas melewati kepalanya.

Dan.

Taehyung.

Sama.

Sekali.

Tidak.

Siap.

Tidak.

Siap.

Namun begitulah....

Sekarang Jeongguk berdiri di hadapannya dengan celana pendek yang menggantung rendah di tulang pinggulnya dengan garis V yang menukik tersembunyi di balik karet celananya dengan bagian atas tubuhnya terpapar udara.

Dia memiliki otot-otot halus yang membentuk enam pack samar yang membuat Taehyung gatal ingin membelainya dengan punggung tangan, merasakan teksturnya di kulitnya.

Bahunya lebar dan bidang, dengan otot-otot panjang sehat yang terlatih. Taehyung suka bentuk badannya—tidak terlalu berotot namun juga tidak terlalu lembek.

Dia meraih seragam chef-nya dan mulai membuka kancingnya, nampak sama sekali tidak terganggu dengan fakta bahwa dia sedang berdiri di loker bersama Taehyung dalam keadaan setengah telanjang.

Taehyung tidak bisa tidak mengamati garis rambut tipis samar yg dimulai dari bagian bawah pusarnya yang turun....

Jeongguk berhenti, menoleh pada Taehyung yang masih berdiri kikuk di depan pintu masuk loker. Alisnya berkerut bingung, “Kau tidak mengganti bajumu? Kau bawa seragam, 'kan?”

Taehyung mengerjap, berusaha keras mengalihkan pandangan dari bentuk tubuh Jeongguk dan bergegas mengangguk. “Ya, saya bawa.” Katanya kering sebelum meletakkan tasnya di lantai loker lalu mengeluarkan seragamnya.

Tidakkah dia menyadari apa yang sedang dilakukannya?

SUNGGUH?

Dia memunggungi Jeongguk saat melepaskan kemeja yang digunakannya tadi, terlalu kikuk untuk melakukannya sesantai Jeongguk dan mereka berdua mengganti pakaian mereka dengan seragam chef putih. Milik Jeongguk memiliki bordiran mungil lambang pohon Banyan Tree di bagian dada dan dia memasang name tag-nya di dada kiri.

Jeongguk memakai safety shoes-nya sebelum mempersilakan Taehyung menyimpan pakaiannya di dalam loker Jeongguk. Dia menguncinya lalu menyelipkan kuncinya di saku celana seragamnya.

“Nanti sepulang bekerja kau bisa menunggu saya untuk kuncinya.” Dia kemudian melirik jam tangannya. “Baru pukul tujuh, kau mau ikut dengan saya mengecek breakfast sebelum bertemu HRD?”

Taehyung melirik jam tangannya juga. “Saya tidak menggunakan seragam resmi, apa tidak apa-apa keluar ke public area?” Tanyanya.

Jeongguk menggeleng. “Tidak apa-apa.” Katanya lalu keduanya menoleh saat pintu loker terbuka dengan suara derit berat dan Namjoon berdiri di sana dengan seragam tersampir di lengannya.

Mereka berpandangan dan Namjoon terlambat menyembunyikan kekagetan yang terpampang di wajahnya karena menemukan Jeongguk dan Taehyung di loker yang sepi.

“Wah. Halo, selamat pagi, Chef.” Sapanya hangat setelah berhasil mengendalikan diri. “Tumben Anda datang sepagi ini?” Tanyanya tersenyum pada Jeongguk yang mengangguk, sekali lagi mengabaikan pertanyaan yang sama tentang jam kedatangannya.

“Selamat pagi, Chef Taehyung.” Dia kemudian melangkah ke lokernya yang ada di seberang loker Jeongguk.

“Pagi, Namjoon.” Sapa Taehyung ramah. “Saya pikir saya tersesat tadi saat melewati jalan menuju tempat ini, tapi syukurlah ternyata Google Maps tidak mengerjai saya hari ini.”

“Tips dengan Google Maps adalah jangan memilih rute dengan sepeda motor, pilihlah mobil, Chef. Maka Anda akan mendapatkan jalan luas yang lebih aman.” Namjoon tertawa serak, dia melepas bajunya dan mengenakan kaus dalaman di baliknya sebelum menyelipkan lengannya ke dalam seragamnya.

“Omong-omong, saya membawakan Chef dua pot sukulen hari ini. Saya titipkan di Security tadi, nanti sepulang kerja Anda bisa mengambilnya. Bilang saja titipan untuk Taehyung dari Namjoon.”

Taehyung tersenyum lebar, merasa senang. “Sungguh? Terima kasih banyak.” Katanya ceria. “Saya tidak menyangka kau benar-benar akan membawakannya.”

Namjoon terkekeh. “I'm a man with words.” Dia tersenyum lebar, mengancingkan seragamnya sebelum menyelipkan kakinya ke dalam celana seragamnya. “Anda berangkat dengan Chef Jeongguk?” Tanyanya ringan.

“Tidak.” Taehyung tersenyum. “Saya berangkat sendiri naik motor dan berpapasan dengan Chef di pintu masuk.”

Namjoon diam sejenak lalu mengangguk-angguk paham dengan perlahan.

“Siapa yang in-charge nanti malam?” Tanya Jeongguk pada Namjoon saat chef muda itu menyelipkan name tag di bagian kiri dadanya.

“Wonwoo, Chef.” Sahut Namjoon, melicinkan seragamnya sebelum merunduk untuk menggunakan safety shoes-nya dan berdiri. “Anda ingin mengecek breakfast?” Tanyanya.

Jeongguk mengangguk, meraih topi putih chef-nya setelah memasang harnet di kepalanya agar rambutnya tidak berhamburan. “Sekalian mengantar Taehyung ke HRD. Kita bertemu jam delapan di Main Kitchen.” Katanya sebelum mendorong pintu loker terbuka seraya menggunakan topinya dan Taehyung bergegas mengikutinya.

Namjoon menatap kedua chef yang berlalu menuju arah public area itu dengan senyuman bermain di bibirnya.

*

Bamboo Restaurant belum terlalu ramai pukul sekian saat Taehyung dan Jeongguk tiba.

Menu buffet breakfast dibawa naik dari Main Kitchen yang berada di dekat restoran. Aroma hangat makanan berempah yang lezat dan baru matang membuat Taehyung mendesah karena dia belum sarapan sama sekali. Sementara Jeongguk langsung meluncur ke arah menu makanan untuk quality checking, Taehyung beranjak ke bakery section.

Dia mengamati setiap potongan croissant, tiap potongan bagel dan roti yang dipanjangnya dengan mata yang sudah jeli dengan kualitas makanan melalui tatapan sekilas. Setiap cinnamon rolls dan danish pastry. Dia mengecek konsistensi kualitasnya dan menemukan beberapa croissant nampak terlalu soggy dan kempes sementara yang lainnya nampak gendut dan menggoda.

Dia mendesah, menyadari bahwa dia harus melakukan sesuatu dengan standar di dapurnya setelah ini.

Sepertinya entah oven atau croissant base-nya tidak dikerjakan dengan baik. Dia menelusuri bagian bakery dengan perlahan, mengecek setiap potongan makanan dan mengecek standarnya—mencari hal yang harus dibenahi karena kosongnya posisi pastry chef selama ini.

“Menemukan hal yang ganjil?”

Taehyung terlompat kaget karena suara Jeongguk persis di tengkuknya (dan tidak ada yang bertanya, tapi tengkuk adalah titik paling sensitif Taehyung dan dia benci sekali saat seseorang bernapas di sana—khususnya Jeongguk) dan dia langsung refleks menoleh.

“Ya.” Katanya dengan jantung berdebar begitu nyaring hingga dia takut Jeongguk bisa mendengarnya bertalu-talu berusaha meretakkan tulang rusuknya.

“Kualitas croissant-nya tidak konsisten. Beberapa kurang mengembang dan beberapa nampak keriput seperti kulit nenek-nenek.” Dia meraih penjepit makanan lalu meraih croissant paling gendut yang berkilauan.

“Inilah croissant yang benar.” Katanya dengan alis berkerut, mulai mengkalkulasi hal-hal yang bisa dia lakukan sebagai langkah awal menetapkan standarnya di dapur yang baru. “Saya ingin semua croissant nampak semontok ini.” Dia meletakkan kembali croissant itu di atas nampan sebelum berdecak.

“Setuju.” Jeongguk mengangguk. “Saya serahkan kepadamu.”

Di sekitar mereka, para FB Service sedang mondar-mandir mempersiapkan sarapan. Piring-piring putih bersih yang sudah dipoles kering dibawa naik dari Steward dengan ratusan pasang sendok, garpu dan pisau. Gelas-gelas jus dalam nampan dibawa naik dan dijejerkan dengan rapi di sisi jus dalam beberapa rasa. Semuanya berdenting-denting lembut ditingkahi suara obrolan rendah dan juga suara FB Captain yang mengatur anak buahnya—suara yang begitu akrab dengan keseluruhan saraf Taehyung.

Dia sudah berada di dunia ini bertahun-tahun; aroma pastry renyah yang baru matang, mentega leleh, cokelat dan vanila adalah aroma tubuhnya. Suara-suara ini, kesibukan ini dan semuanya terasa begitu benar di permukaan kulitnya.

Setelahnya, Jeongguk mengantarnya kembali turun ke HRD lalu berdiri di sana, di depan pintu dengan kikuk sebelum berdeham.

“Saya tunggu di Main Kitchen untuk bergabung di morning briefing.” Katanya. “Minta saja Jessica mengantarmu ke Main Kitchen bertemu saya.”

Taehyung mengangguk dan menatap chef muda itu yang sekarang melangkah menjauh dari HRD tanpa menoleh lagi.

Apakah Taehyung hanya membayangkannya saja atau Jeongguk sungguh baru saja bersikap salah tingkah di depannya?

Atau memang begitulah sikapnya yang sebenarnya?

Tidak ada pertanyaannya yang terjawab karena pintu HRD terbuka dan seorang gadis berambut panjang dengan aksen Bali kental menyapanya ramah.

“Chef Taehyung.” Dia tersenyum, menampakkan geligi rapinya yang seperti biji mentimun. “Mari silakan masuk.”

Taehyung menghabiskan paginya untuk menginput sidik jarinya untuk presensi, mengukur seragam barunya, mendengarkan penjelasan tentang kesepakatan kerja karyawan dan tata tertib karyawan, menandatangani kontrak baru dengan HR Manager sebelum akhirnya diberikan name tag sementara dan diantar ke Main Kitchen tempat Jeongguk menuggu.

Mereka pergi ke sana menaiki mobil golf diantar salah seorang concierge dan saat mereka tiba, Jeongguk sedang berdiri di depan ruangannya dengan Namjoon, Yugyeom dan Jackson membicarakan sesuatu sementara di sekitar mereka, dapur sedang bergerak mempersiapkan makan siang.

Dia berdiri dengan bahu terbuka yang tegak, kedua tangannya di belakang dan nampak sangat tegas. Dia mendengarkan laporan Jackson dengan serius, wajahnya berkerut dingin dan bibirnya membentuk garis tipis yang disadari Taehyung selalu terjadi saat dia sedang memfokuskan dirinya pada sesuatu.

Jessica menunggu hingga Jeongguk selesai bicara sebelum mengetuk pintunya. “Maaf menyela, Chef. Chef Taehyung sudah siap.” Katanya sebelum mundur, membiarkan Taehyung memasuki ruangan (sekarang dengan lebih percaya diri karena dia menggunakan seragam Banyan Tree yang walaupun agak kebesaran setidaknya lebih baik dari seragam lamanya).

Jeongguk menatapnya sejenak sebelum berdeham. “Oh. Halo, Chef.” Dia menatap Taehyung sebelum beralih ke Yugyeom yang mengangguk. “Tolong setelah ini dibantu dan di-overhand beberapa pekerjaannya.”

“Siap, Chef.” Kata Yugyeom dengan tenang—nampak sangat berbeda dengan Yugyeom yang ditemui Taehyung di Beachwalk kemarin. Dia nampak sangat menghormati Jeongguk seolah mereka rekan kerja biasa dan bukannya sahabat kecil—dia mengagumi etos kerja itu.

Nada bicaranya bahkan berbeda sekali dan Taehyung salut pada bagaimana Jeongguk bisa melakukan itu dalam pekerjaan dengan temannya.

“Jangan lupa juga melaporkan progres persiapan wedding cake kemarin.” Kata Jeongguk memberi tanda pada Taehyung untuk berdiri di sisi kirinya dan Namjoon tersenyum padanya.

“Nanti saat team briefing jam 3, saya akan memperkenalkanmu ke semua tim.” Kata Jeongguk pada Taehyung yang mengangguk, dia mengamati seragam Taehyung sejenak dan nampak tidak menyukainya.

“Berapa lama sampai seragamnya siap?” Tanyanya pada Jessica yang masih berdiri di pintu menunggu dipersilakan pergi.

“Saya usahakan besok, Chef.” Katanya.

“Tolong, ya.”

“Siap, Chef.” Jessica mengangguk. “Saya tinggal dulu, ya, Chef?”

“Oke. Trims, Jessica.”

“My pleasure, Chef.”

Kemudian Jeongguk kembali fokus ke wakil-wakilnya. “Biasanya kami membagi sous chef menjadi dua pagi, dua sore. Namun karena hari ini Yugyeom harus membantumu beradaptasi, kita melakukan pengecualian.” Katanya pada Taehyung yang mengangguk.

“Tadi saya sudah mengajak Taehyung untuk mengecek breakfast dan nampaknya dia punya beberapa umpan balik untuk kualitas pastry kalian jadi saya harap tim bisa menerima masukan dari Taehyung tentang ini.” Tambahnya.

Yugyeom mengangguk. “Siap, Chef.”

Jeongguk mengangguk. “Untuk KPI sudah dikirim ke email saya, ya?” Tanyanya pada Namjoon yang mengangguk.

“Sudah, Chef.” Katanya.

Dan Jeongguk mengangguk, dia mengecek jam tangannya. “Baiklah, saya harus morning briefing.” Katanya. “Ada yang ingin disampaikan lagi sebelum saya akhiri?”

“Cukup, Chef.” Kata Namjoon setelah menatap rekan-rekannya satu per satu.

Jeongguk mengangguk lalu menoleh ke Taehyung, menatap langsung ke matanya tanpa ragu.

Dan Taehyung menyadari hal ini sangat menganggunya. Bagaimana mata gelap itu menembus hingga ke jantungnya, seolah menelanjangi Taehyung tanpa ampun—tatapan dingin, tegas dan mendominasi nyaris seperti binatang buas.

Jeongguk selalu melakukannya, seolah sedang menatap langsung ke jiwa siapa saja yang diajaknya bicara dan dia selalu menatap tanpa berkedip. Selalu menghargai siapa saja yang sedang bicara dengan fokus mendengarkan dan menatapnya.

Taehyung suka dan juga tidak suka tatapan itu.

Membuatnya merasa kecil, telanjang dan gemetar. Ekspresi dingin dan serius Jeongguk selalu membuatnya merasa sedikit takut; takut jika dia tidak sengaja melakukan kesalahan yang akan membuat Jeongguk tidak suka. Perasaan aneh ingin membuat Jeongguk bahagia, ingin membuatnya tersenyum dan memujinya.

Perasaan asing yang membuat Taehyung bingung dengan dirinya sendiri.

“Selamat bekerja dan selamat bergabung di tim saya, Chef.” Katanya tegas, sudut bibirnya naik sebelah dan mengenal Jeongguk selama tiga hari, Taehyung paham itulah hal paling mendekati senyuman yang pernah dilakukan Jeongguk.

Kecuali satu senyuman lebarnya di hari pertama mereka bertemu.

“Semoga betah.” Tambahnya. “Saya harus morning briefing dulu, nanti saya akan telepon ke Pastry jika Bapak sudah siap untuk bertemu denganmu dan minta CDP atau commis mengantarmu ke back office.” Dia mengerling Yugyeom yang mengangguk menyanggupi sebelum melangkah keluar dari Main Kitchen.

Taehyung menatap punggung Jeongguk yang lenyap di balik pintu dalam langkah panjangnya yang tegas, terbalut seragam chef yang bersih sebelum kemudian menoleh pada Yugyeom yang tersenyum.

“Ayo, Chef. Saya perkenalkan dengan tim dan mari kita tangani croissant yang tidak Anda sukai itu.”

Taehyung merasa hatinya mengembang seperti sepotong pain au chocolat di dalam oven—dia akan menyelam ke dunianya, melupakan Jeongguk untuk sementara. Dikelilingi aroma mentega cair, ekstrak vanila dan cokelat. Dinginnya ruang cokelat dan atmosfir yang sangat berbeda dari hot kitchen yang serba terburu-buru dan berisik.

Dia yakin dia bisa menyelesaikan hari ini dengan baik.

“Kau bisa mulai memberitahu saya tentang wedding cake dan siapa yang bertanggung jawab atas itu.” Kata Taehyung seraya melangkah dibimbing Yugyeom ke arah Pastry Section.

*

Public Area: Area tamu hotel.

Tidak semua dan selalu karyawan hotel diizinkan untuk pergi ke bagian public area selain yang berkepentingan seperti: Housekeeping bagian Public Area, Duty Manager dan Frontliners (FO, concierge dan security), Department Head (tidak selalu), Sales dan anak FB service.

Anak Kitchen jelas dibatasi untuk pergi ke public area selain untuk mengantar makanan yang dilakukan sebelum jam makan dibuka untuk tamu dan head chef untuk mengecek kualitas makanan yang juga dilakukan sebelum jam makan dibuka.

Sizzling Romance #38

“Perempuan.”

Taehyung mendongak dari makanan di hadapannya ke arah Jimin yang berbaring di kasurnya dengan kepala melewati kasur dan kaki disandarkan ke dinding.

Mereka bertiga sedang di kamar Taehyung yang luas dengan pemadangan ke arah belakang kosan; Hoseok hari itu juga kebetulan libur sehingga mereka bertiga bisa berkumpul seperti dahulu sebelum berpencar.

Ketiganya bersekolah di sekolah kulinari yang sama; Hoseok kakak tingkat mereka yang dengan sabar selalu menoleransi kehebohan Jimin dan Taehyung semasa sekolah. Dia selalu membantu Jimin dan Taehyung untuk menghubungi kakak tingkat saat mereka butuh bantuan dan bahkan membantu mereka saat tugas akhir.

Setelah tamat, mereka semua berpisah.

Hoseok berangkat ke Marriott Dubai dan Jimin langsung diterima di Four Seasons Bali sebagai commis sedangkan Taehyung berpetualang dari satu resor ke resor lainnya—berkeliling Indonesia meniti karirnya perlahan-lahan. Sampai akhirnya dia mendapatkan posisi terakhirnya sebagai pastry chef di Amanwana sebelum pindah ke Banyan Tree Bintan.

Hoseok pindah ke Bali satu setengah tahun melalui transfer kerja ke sesama properti Marriott International bergabung dengan Jimin dan akhirnya, Taehyung juga dipaksa untuk ikut pindah ke Bali, bertemu dengan teman-teman lamanya.

Namun setelah duduk bertiga di lantai kamar kosannya dengan televisi menyala yang sama sekali tidak ditonton, junk food dan soda bersama teman-teman lamanya, Taehyung mulai merasa jika pindah ke Bali tidak terlalu buruk.

Mungkin sedikit karena dia benar-benar harus menyesuaikan diri dari atasan yang ramah dan penyayang seperti Yoongi, ke binatang buas dingin seperti Jeongguk. Dia punya firasat jika ada kesalahan setitik saja pada servis, Jeongguk akan mengaum seperti singa.

Dan Taehyung tidak mau logat Bali sial itu dilemparkan ke arahnya lagi dengan wajah tampannya yang nampak misterius dan begitu menggoda saat terganggu.

Singkat kata, Taehyung tidak mau meninggal karena penyempitan pembuluh darah.

Tadi saat akhirnya Jimin tiba di kosannya (Taehyung sekarang paham betapa besarnya pulau Bali karena Jimin menghabiskan nyaris satu jam lebih yang tidak disangka Taehyung sama sekali untuk tiba di Kuta Selatan dari Ubud. “Hanya karena pulau ini nampak mungil di peta, kau pikir semua tempat di sini dekat?” Kata Jimin setengah mendelik saat Taehyung mengomentari lamanya perjalanannya), mereka lalu berteriak heboh dan berpelukan erat seperti sepasang Teletubbies.

Sudah lama sejak Taehyung berhasil mendapatkan cuti untuk datang mengunjungi Jimin di Bali—mereka biasanya hanya berhubungan melalui video call dan telepon.

Jadi sekarang dia sangat senang karena dia bisa mengenggam teman-temannya dalam kedua lengannya, begitu dekat dengan jantungnya.

Kosannya juga cukup menyenangkan; bersih, terang dan berfasilitas nyaman. Mahasiswa yang dibicarakan Hoseok tidak terlalu menganggu karena mereka lebih banyak membawa keributan ke luar kosan dengan dugem hingga pagi sebelum pulang dengan mabuk.

Semalam saat Jeongguk menurunkan Taehyung di pintu depan kosannya, serombongan anak muda turun dari taksi daring yang mengantar mereka pulang dari bar terdekat. Ada satu mahasiswa yang nampak sangat mabuk dan saat melihat mereka berdua berdiri di sisi mobil Jeongguk yang masih menyala (apalagi pakaian Jeongguk sangat... mengundang), dia tersenyum lebar.

“Nice catch!” Pujinya pada Taehyung, mengacungkan jempolnya seraya berdeguk dan wajahnya merah padam. “Bet he's a damn beast on bed!”

Jeongguk menatap pemuda itu dengan wajah berkerut, nampak sama sekali tidak tersanjung atas pujian itu.

“Fuck off.” Katanya dingin dengan aksen Amerika-nya yang tebal dan kasar, para mahasiswa itu tertawa lalu beranjak masuk dengan tawa liar dan cegukan keras.

Taehyung mendesah, dia harus tinggal dengan mereka dan mulai meratapi nasibnya saat Jeongguk berdeham.

“Saya tinggal dulu.” Katanya lalu berbalik ke mobilnya setelah menurunkan koper Taehyung. “Sampai jumpa hari Senin.” Dia memanjat naik ke kursi pengemudi lalu menutup pintunya dengan keras sebelum mengklakson lembut dan menginjak gas.

Taehyung menatap mobilnya hingga lenyap dan mendesah, menyiapkan diri mendengarkan suara gerombolan babon mabuk di kamarnya malam ini. Namun toh akhirnya ketika Hoseok datang ke kamarnya, tidak ada keributan yang berarti dari anak-anak itu. Mereka pasti langsung muntah dan tidur.

“Adiknya?” Sahut Taehyung, mengunyah sepotong pizza di tangannya. “Dia punya adik perempuan?”

Jimin mengangguk, menjejalkan makanan ke mulutnya dan mengunyah dengan serius. “Bukankah dia kembar, Kak?” Tanyanya ke Hoseok yang sejak tadi menunduk ke ponselnya, berkoordinasi dengan tim di grup Whatsapp.

“Siapa?” Tanya Hoseok, tidak benar-benar mengikuti pembicaraan kedua adik kelasnya.

“Jeongguk.”

“Oh.” Hoseok kemudian menyimpan ponselnya, akhirnya fokus pada pembicaraan mereka. “Kembar, yap.” Dia mengangguk.

“Tapi bukan kembar identik kurasa. Malah nampak sedikit terlalu berbeda untuk dikategorikan sebagai kembar. Adiknya Jeonggi atau Anggi, PPAT di Sanur sana. Setahuku selisih lahirnya 15 menit, Jeongguk duluan. Menikah tiga tahun lalu. Baru hamil.”

Hoseok kemudian mengendikkan bahu. “Setidaknya begitu yang kuketahui dari Namjoon.”

“Sudah menikah tiga tahun.” Ulang Taehyung agak kaget mendengar fakta itu, menyisihkan pinggiran pizza-nya yang dimakan Jimin karena tidak seperti kebanyakan orang, Jimin suka pinggiran pizza dan pinggiran roti.

Mulai membayangkan jika ketampanan, kharisma dan daya pesona Jeongguk ada dua dan satunya adalah perempuan.

“Memangnya berapa umur mereka?”

Hoseok nampak berpikir saat meraih sepotong pizza. “Entahlah. Tiga puluh enam? Tiga puluh lima?” Dia kemudian menoleh ke Jimin. “Berapa umur Seokjin?”

“Tiga delapan.” Kata Jimin tanpa ragu. “Kami baru membuatkannya kue tahun lalu dan angkanya 38.”

Hoseok mengangguk. “Berarti benar, tiga puluh enam.” Dia kemudian menyuap pizza-nya dan mengunyahnya. “Mungkin hanya berbeda beberapa bulan darimu.” Katanya pada Taehyung.

Taehyung berusaha mengulik lebih banyak informasi tentang calon atasannya dari orang-orang sekitarnya agar dia tahu bagaimana harus bersikap jika berada di sekitar Jeongguk. Untuk mencari tahu bagaimana sistem kerjanya dan bagaimana dia ingin anak-anak buahnya bekerja.

Mungkin kesempatan bertemu para sous chef Jeongguk besok bisa menjadi kesempatan yang pas.

“Memangnya kenapa kau sampai penasaran dengan adiknya?” Tanya Jimin kemudian. “Kau ingin tahu calon iparmu nanti?”

“Ngawur!” Balas Taehyung seketika, defensif nyaris tersedak pizza yang sedang dikunyahnya. “Aku hanya penasaran. Kau sendiri yang menyebutkan adiknya, aku hanya bertanya dia orangnya seperti apa. Jadi salah siapa?”

Jimin mengerlingnya dengan ekspresi menggoda yang menyebalkan di wajahnya. “Tidak apa-apa, tidak perlu malu. Naksir Chef Jeongguk itu mungkin adalah proses pendewasaan diri yang harus dilalui semua chef di Bali. Kau tahu: lahir, bayi, kanak-kanak, remaja, naksir Chef Jeongguk, dewasa.”

“Aku tidak.” Tukas Hoseok terkekeh serak dan Jimin mendelik padanya karena merusak analoginya yang membuat Taehyung mendengus keras. “Itu hanya kau.”

Jimin berguling menelungkup di ranjang Taehyung, memutar bola mata sebal. “Baiklah, baiklah. Itu aku.” Katanya setengah merajuk, mengulurkan tangan meraih potongan pizza lain dan memakan pinggirannya terlebih dahulu.

“Tapi kita membicarakan Jeongguk di sini.” Tukasnya lagi dengan mulut setengah penuh, masih berusaha mempertahankan argumennya dan Taehyung mendesah dengan senyuman lebar, sudah terbiasa dengan drama Jimin.

“Tentu saja naksir itu adalah reaksi paling normal yang bisa dilakukan manusia sehat secara seksual. He's the whole 5 course fine dining meal! Maksudku, siapa yang tidak naksir dia?”

“Aku.” Sahut Hoseok sekali lagi lalu menjeritkan tawa serak saat Jimin dengan cekatan dan cepat, berguling di ranjang, membelitkan kedua kakinya di leher Hoseok yang tersedak tawa lalu berpura-pura akan menyekik lalu mematahkan lehernya dengan belitan kakinya.

“Ampun! Ampuni aku!” Seru Hoseok tertawa liar bersamaan dengan suara tawa serak Taehyung yang terhibur menonton pertunjukan teman-temannya. “Tapi aku memang tidak naksir dia!”

“Diam saja, oke?” Kata Jimin masih membelitkan kedua kakinya di leher Hoseok, mengancam, dia juga membelitkan kedua tangannya di leher Hoseok sebagai bonus, seperti ular. “Diam!”

“Baiklah, baiklaaah!” Seru Hoseok geli dan setelah Jimin menguraikan simpul kaki di lehernya dan bergegas menjauhinya seperti menjauhi virus. “Dasar ular piton!”

“Aku sedang berusaha membuat Taehyung mengakui padaku bahwa dia jatuh cinta pada Jeongguk dan kau terus saja menggagalkannya!” Delik Jimin, sekarang merosot turun dari kasur yang berderit langsung di depan boks pizza yang terbuka dan meraih pizza selanjutnya.

Taehyung tersedak, “Maaf, siapa?” Tanyanya dengan mata disipitkan. “Siapa yang ingin kau buat mengaku jatuh cinta pada siapa?”

Jimin menyuap pizza-nya dalam gigitan besar. “Kau.” Dia tersenyum kalem dan centil. “Kau jatuh cinta pada Jeongguk.” Lalu mulai bernyanyi dengan suara melengking,

“Jeongguk and Taehyung sitting under the tree, k-i-s-s-i-n-g...”

Dan entah bagaimana, lagu itulah yang menempel di kepala Taehyung keesokan harinya saat dia duduk bersama semua sous chef Jeongguk di Starbucks Beachwalk, tidak bisa diabaikan.

Suara Jimin terasa menempel di bagian belakang kepalanya, semakin Taehyung berusaha mengabaikannya semakin keras suara itu mendengung dalam kepalanya yang malang.

Namjoon adalah pemuda menarik yang nampak cerdas, tenang dan praktis. Tidak neko-neko dan cepat. Dia mungkin satu-satunya chef yang Taehyung kenal yang bisa bersikap tenang dan kalem, dia yakin butuh cobaan yang jauh lebih kuat untuk membuat Namjoon menaikkan suaranya.

Pakaiannya nampak nyaman dan rapi dengan warna-warna tanah yang hangat, mencerminkan keseluruhan kepribadiannya yang rendah hati dan sekarang sedang membicarakan hobinya mengurus bonsai dan sukulen.

Sementara di sisinya, Jackson nampak seperti playboy kelas kakap (tipe chef pada umumnya) dengan rambut dipangkas rapi, pakaian harum yang menarik. Dia nampak dandy, senyumannya menyihir dan Taehyung yakin jika tidak menjadi chef dia pasti akan sukses menjadi financial consultant atau banker.

Wonwoo di lain sisi, nampak sangat playful. Tidak bisa diam, tertawa paling keras dan melemparkan guyonan paling kencang. Dia mengenakan kaus polos dan celana jins dengan sepatu kets ala anak muda.

Yugyeom yang akhirnya bertatap wajah dengan Taehyung, ternyata merupakan pemuda manis yang senyumannya selalu membuat Taehyung mau tidak mau ikut tersenyum karena menular dengan cepat.

Dan dia menyadari seberapa akrab tim itu saat bersama, mereka mengenal satu sama lain dengan baik, itu membuat Taehyung yakin komunikasi mereka dalam tim pasti bagus sekali.

Taehyung bersyukur Jeongguk ternyata tidak muncul karena dia mungkin akan berakhir melakukan hal bodoh karena terngiang-ngiang lagu Jimin yang menyebalkan kemarin.

Kemarin dia, Hoseok dan Jimin menghabiskan seharian untuk berjalan-jalan setelahnya, ke sekitar kosan Taehyung saja karena mereka tidak punya banyak waktu lalu melepas Jimin pulang setelah berjanji akan mampir ke Ubud bersama Hoseok suatu hari nanti.

Taehyung kemudian berbaring di ranjangnya malam itu, memikirkan kembaran Jeongguk dan berakhir bermimpi bertemu dengan Jeongguk versi perempuan yang menatapnya judes.

Dia bersandar dalam-dalam ke kursinya, mengenyahkan mimpi di kepalanya dan fokus kembali ke hal yang dibicarakan Namjoon.

Mereka memilih untuk duduk di bagian smoking area yang menghadap ke parkiran dan pantai Kuta yang ramai oleh turis bahkan selepas senja.

Taehyung mendengarkan Namjoon yang sedang menjelaskan tanaman-tanamannya pada semua orang yang nampaknya cukup menghormatinya dan mendengarkan dengan sopan (walaupun Taehyung sungguh tidak paham tentang tanaman sama sekali).

“Kau sudah lama memelihara tanaman?” Tanya Taehyung kemudian, merasa tidak enak jika tidak bertanya dan membuat dirinya sendiri nampak tertarik pada tanaman Namjoon.

“Sejak remaja.” Dia tersenyum cemerlang dan Taehyung mulai menyadari sikapnya yang tenang ini pasti menjadi penyeimbang yang sempurna untuk Jeongguk, dia juga cerdas dalam membawa pembicaraan. “Chef suka tanaman?” Tanyanya.

“Mungkin kaktus dan sukulen yang mudah dipelihara.” Sahut Taehyung mengendikkan bahu. “Tidak pernah punya cukup waktu untuk mengurus peliharaan dan aku payah sekali.” Tambahnya meringis. “Saya pernah memelihara kucing yang mati di bulan pertama karena harus overtime seminggu penuh dan tidak ada yang mengurusnya.

“Terlalu sedih untuk diingat sehingga saya memutuskan untuk tidak memelihara apa pun yang hidup lagi.” Taehyung merinding oleh kesedihan, teringat kucing kecilnya yang malang dan tidak tahu apa-apa, meninggal karena kelalaian Taehyung sendiri.

“Kenapa tidak dititipkan ke pet shop saja saat Anda harus overtime, Chef?” Tanya Wonwoo kemudian, dia duduk di sisi Taehyung dengan kaki disilangkan, bersandar dalam ke sofanya dengan wajah tampan yang menarik.

Taehyung mengerjap. Benar juga. “Benar juga.” Katanya dengan polos dan semua chef di sekitarnya tertawa serak. “Saya benar-benar tidak memikirkannya!” Lalu menimpali tawa mereka. “Mungkin suatu hari nanti saya harus mencoba memelihara sesuatu lagi.”

Namjoon langsung mengangguk penuh semangat. “Saya bisa memberikan Anda satu-dua kaktus untuk menemani Anda di kosan. Tidak sulit dipelihara kok, letakkan saja di tempa yang terkena banyak cahaya.”

Taehyung memikirkan kosannya. “Boleh.” Katanya kemudian. Dia bisa meletakkannya di depan kamar, dekat rak sepatu. Tempat itu selalu disinari cahaya matahari redup dari atas. “Saya akan mencoba mengurus tanamannya.”

Dan Taehyung menyadari bahwa itu adalah jawaban yang baik karena Namjoon nampak sangat senang karena Taehyung mau menerima hadiahnya.

“Sebelum Anda di Banyan Tree,” tanya Yugyeom setelah Taehyung menandaskan isi gelasnya dan menyuap potongan terakhir espresso brownie-nya. “Anda bekerja di mana saja, Chef?”

Taehyung mengelap tangannya yang basah dengan tisu. “Di Aman.” Katanya dan mendapatkan tatapan kagum dari semua orang. “Terlalu melelahkan. Occupancy-nya selalu seratus persen. Tidak ada jeda, tidak ada istirahat karena kamarnya memang sedikit dan selalu full-booked setidaknya satu bulan sebelumnya.”

Dia kemudian mengendikkan bahu. “Saya tidak ingin mati muda karena sibuk bekerja jadi saya mencari tempat baru dan Banyan Tree Bintan adalah pilihan pertama. Dan saya senang memiliki atasan seperti Chef Yoongi.”

Dia kemudian menatap Namjoon. “Kau kenal Chef Yoongi?”

Namjoon mengangguk. “Kami bertemu beberapa kali saat pertemuan regional Banyan Tree.” Dia meraih gelas minumannya, menyesapnya sejenak sebelum melanjutkan.

“Menarik. Tegas dan lumayan ramah. First impression saya, dia mungkin seperti Chef Jeongguk yang serius dan pendiam, tapi ternyata lumayan ramah.”

Taehyung mendesah, merindukan head chef-nya. “Itulah kenapa saya betah bekerja dengannya.”

“Tapi Chef Jeongguk juga tidak seburuk itu, kok.” Kata Jackson, melirik Yugyeom yang memutar bola matanya dan gestur itu membuat Taehyung tertarik.

“Saya sungguh penasaran.” Taehyung menyambarnya seketika itu juga. “Apa hubunganmu dengan Chef?”

“Lho, Chef belum tahu?” Tanya Wonwoo dengan gelas melayang di udara dalam setengah perjalanan menuju bibirnya. “Mereka, 'kan, sejenis sahabat bagai kepompong. Teman sejak kecil. Teman main layangan.”

Jackson mengangguk. “Tapi Yugyeom yang pertama meniti karir di Banyan Tree Bali sebelum Chef Jeongguk mungkin bergabung.... dua tahun lalu menjadi head.”

“Yang menandai kesialan seumur hidupku.” Tandas Yugyeom merana dan semuanya tertawa menyabutnya.

Taehyung menatapnya dengan mata memicing, “Itulah alasan kenapa kau hafal plat nomor kendaraan keluarganya. Kini aku paham.”

Yugyeom meringis. “Maaf, Chef. Jika saya katakan saya akrab dengannya Chef mungkin tidak mau berurusan dengan saya.”

“Konyol.” Taehyung tersenyum lebar. “Mana mungkin saya tidak mau berurusan dengan second layer saya sendiri.” Dia meraih gelas minumnya dan menyesap isinya lagi.

“Tapi sebenarnya pun mereka tetap profesional.” Namjoon berkata kemudian. “Chef Jeongguk tidak pernah menyampur-adukkan urusan pekerjaan dengan pribadi. Dia lumayan kolot masalah etos kerja. Dia akan menatap Yugyeom sebagai bawahannya di dalam dapur dan merangkulnya akrab sepulang kerja—garis yang digambarnya tentang hal itu tebal sekali.”

“Maka akan sangat aneh jika dia memutuskan bergabung hari ini.” Jackson menambahkan dengan setuju, dia menyugar rambutnya. “Karena dia tidak pernah melakukan hal-hal semacam ini—nongkrong di luar jam kerja. This is not a Chef Jeongguk's thing.”

“Dia di mana hari ini?” Tanya Wonwoo pada Yugyeom.

“Di rumah adiknya di Sanur, seperti biasa jika akhir pekan.” Sahutnya. “Aku baru saja pamit dari sana setelah sepulang kerja tadi mampir.”

Taehyung menaikkan alisnya. “Kau kenal juga dengan adiknya?”

Yugyeom mengangguk. “Tentu, Chef. Jeonggi, akrabnya Anggi. Tapi Jeongguk memanggilnya Ongek.” Katanya memberi sedikit terlalu banyak informasi menurut Taehyung, tapi toh dia tidak keberatan.

“Memangnya ada apa, Chef?”

Taehyung menggeleng, membatalkan pertanyaannya karena merasa mungkin hal itu terlalu pribadi untuk ditanyakan. “Tidak apa-apa, hanya bertanya.” Dia mengulaskan senyuman lebar.

“Mereka kembar, Chef.” Tambah Jackson sekali lagi tanpa Taehyung bertanya. “Jika Anda ingin tahu wajahnya, bayangkan saja Chef Jeongguk dengan rambut hitam panjang tebal dan tiga tahi lalat di bawah mata kanannya.”

Wonwoo mengerutkan alis. “Menurutku tidak semirip itu.” Katanya mendebat Jackson. “Bentuk wajah Anggi lebih tajam. Tulang pipinya lebih tinggi.” Dia menggunakan kedua tangannya mencoba menggambarkan bentuk wajah Jeonggi. “Bentuk matanya lebih runcing juga, bibirnya lebih tipis.”

“Kau mengamati dengan serius, ya?” Komentar Namjoon sementara Yugyeom tertawa di kursinya tanpa suara. “Jangan lupa. Itu istri orang, Wonwoo.”

Wonwoo merona. “Yah, mau bagaimana lagi, Chef. Cantik.”

Mereka tertawa dan Taehyung mendapati dirinya sendiri tertawa bersama mereka.

Malam semakin larut, air laut pantai Kuta semakin pasang dengan suara debur ombak yang keras. Beachwalk semakin ramai namun kelimanya tidak juga ingin beranjak, Namjoon dan Wonwoo bahkan memesan minuman lagi.

Taehyung melirik jam tangannya, “Kalian mau makan tidak?” Tawarnya. “Saya yang traktir, hitung-hitung perkenalan.” Dia tersenyum.

“Tidak perlu begitu, Chef.” Tolak Namjoon seketika dengan sopan dan Taehyung mendengus mendengarnya. “Kami bayar sendiri-sendiri saja.”

“Kalian memang diajari begitu, ya, oleh Head Chef kalian?” Taehyung berdiri, menepuk celananya dan merapikan diri. “Saya tidak terima penolakan. Ayo, beritahu saya makanan yang enak dan kita makan.” Dia menatap keempat sous chef-nya tersenyum lebar.

Akhirnya keempat chef itu berdiri, menerima ajakan Taehyung dan melangkah ke dalam Beachwalk yang ramai karena hari itu malam Minggu.

“Chef mau makanan Bali atau Barat?” Tawar Namjoon yang berjalan di sisinya.

“Tentu saja makanan Bali.” Taehyung menjawab mantap. “Saya tidak jauh-jauh pergi ke Bali untuk makanan Italia atau Jepang.” Dia melirik Sushi Tei dengan wajah datar.

Namjoon tertawa serak. “Baiklah, mungkin Mr. Wayan atau Bebek Tepi Sawah?”

“Bebek Tepi Sawah.” Taehyung langsung tersenyum, senang menemukan nama yang familiar sehingga dia tidak perlu melakukan blind gambling dengan makanannya.

Mereka melangkah ke eskalator, menuju lantai di mana restoran itu berada saat telepon Namjoon berdering. Pemuda itu menggumamkan permisi lalu merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya yang menjerit dan menatap nama yang tertera di layar.

Dia bergegas mengangkatnya dengan urgensi yang berbeda. “Halo, malam, Chef. Ada apa?” Tanyanya seketika dan Taehyung meliriknya sambil melangkah, apakah itu Chef Jeongguk?

Taehyung menarik Namjoon yang hampir menabrak pengunjung lain karena terlalu fokus pada teleponnya dan pemuda itu nampak sangat senang dengan bantuan itu sebelum kembali fokus ke ponselnya.

“Kami?” Tanyanya, nampak benar-benar heran hingga Taehyung menoleh. Namjoon membalas tatapannya, alisnya berkerut kebingungan. “Kami di Beachwalk, Chef. Baru saja akan makan malam di Bebek Tepi Sawah.”

Hati Taehyung berdebar. Apakah ini seperti yang dibayangkannya akan terjadi?

“Oh.” Namjoon mengerjap, menatap Taehyung yang berjalan di sisinya menuju restoran tempat mereka akan makan. “Baik, Chef. Tidak apa-apa, tentu saja. Baik. Oke. Kami tunggu di Bebek Tepi Sawah.”

Jantung Taehyung mencelos. Damn.

Namun dia berusaha keras mempertahankan ketenangannya saat bertanya, “Chef akan bergabung?” Pada Namjoon yang menyelipkan ponselnya kembali ke sakunya dengan wajah kebingungan.

“Ya.” Namjoon mengangguk. “Ini pertama kalinya dia ikut bergabung dengan kami.” Dia menoleh ke teman-temannya. “Ya, 'kan?”

“Sekali saat kita makan di Mozzaic.” Koreksi Jackson saat mereka memasuki restoran yang beraroma rempah Bali yang hangat. “Waktu itu dia membawa adiknya, 'kan. Pertama kali kita berkenalan dengan Anggi.”

“Ya.” Wonwoo mengangguk setuju. “Tapi itu setidaknya satu tahun yang lalu. Setelahnya, dia tidak pernah bergabung.”

Taehyung menatap rekan-rekannya sejenak sebelum memalingkan wajah menatap pelayan yang menyambut mereka.

“Tolong untuk enam orang atas nama Taehyung.” Katanya tersenyum ramah. “Satu lagi akan menyusul, sedang dalam perjalanan.”

Pelayan mengangguk dan memimpin mereka ke arah meja makan. Taehyung melangkah di sisinya, meninggalkan sous chef-nya beberapa meter di belakang.

“Dia sedang di Sanur.” Ulang Namjoon, merendahkan suaranya namun Taehyung masih bisa mendengarnya dengan jelas bahkan tawa Yugyeom yang terdengar begitu usil.

“Menurutmu,” bisik Yugyeom nyaris tenggelam dalam riuh-rendah pengunjung restoran sementara pelayan mengantar mereka ke meja sehingga Taehyung harus menajamkan pendengarannya.

“Siapa lagi yang bisa membuatnya tiba-tiba berangkat dari ujung ke ujung? Kita? Dia tentu saja sudah muak melihat kita.”

Keempatnya terdiam.

Lalu mendenguskan tawa serentak yang membuat Taehyung tidak bisa menahan diri untuk tidak memutar bola matanya. Sudah lewat masa remaja pun nampaknya keinginan mereka untuk bergosip masih besar.

“Dasar biang gosip,” pikir Taehyung saat mereka akhirnya dipersilakan duduk di meja mereka.

Semuanya bergegas memilih tempat duduk dengan sangat diperhitungkan sehingga menyisakan satu kursi kosong di sebelah kanan Taehyung. Dan Yugyeom bahkan tidak menyembunyikan senyuman lebarnya yang membuat Taehyung pening.

Apakah mereka sedang berusaha menjodohkannya dengan Jeongguk? Jika ya, mungkin Taehyung bisa melakukan sesuatu dengan KPI Yugyeom karena ini.

Lalu Taehyung menyadari bahwa hal ini di luar pekerjaan dan Taehyung jelas tidak memiliki kuasa atas tindakan Yugyeom di luar jam kerja.

Menyebalkan.

Mereka memesan dan memutuskan untuk membiarkan Jeongguk memesan sendiri saat dia tiba. Setelah mengembalikan buku menu dan menerima air putih sambil menunggu pesanan mereka, Yugyeom berdeham.

“Jadi, Chef.” Kata Yugyeom dan Taehyung mendongak dari ponselnya.

“Ya?” Tanyanya.

Yugyeom melirik Wonwoo yang berusaha keras menahan senyuman lebarnya. “Bagaimana Chef Jeongguk menurut Anda?”

Taehyung mengerjap, sudah menduga pertanyaan ini tapi toh tetap saja terkejut saat akhirnya mendengarnya.

Dia tertawa serak. “Sebagai atasan?” Tanyanya kalem, menyetir keadaan. “Tentu belum ada kesan karena kami belum bekerja bersama.”

“Mungkin sebagai teman? Atau sebagai seseorang yang pertama kali bertemu dengannya?” Tanya Jackson kemudian. “Maksud saya, jika menurut Anda dia bajingan yang selalu berwajah seperti orang sembelit,” Wonwoo mulai tertawa. “Maka saya akan memastikan Yugyeom tidak akan membocorkan info itu pada sahabatnya.”

Yugyeom mengangguk, melakukan gerakan mengunci mulut lalu melempar kuncinya jauh-jauh yang mengundang senyuman terhibur dari Taehyung.

“Hmm...” Kata Taehyung, berpikir. “Sebenarnya saya merasa belum pantas memberikan kesan saya pada Chef karena kami hanya bertemu satu kali saat dia menjemput saya di bandara—”

“Maaf menyela, Chef. Apa?” Sambar Wonwoo, kaget. Begitu pula Jackson dan Namjoon di sisinya dan membuat Taehyung semakin bingung.

“Saya minta tolong untuk dijemput di bandara di hari saya tiba di Bali karena saya tidak dipesankan concierge.” Jelas Taehyung dengan wajah kebingungan. “Memangnya ada apa?”

Ketiganya memasang wajah heran yang nyaris identik. Hanya Yugyeom yang nampak terhibur di mejanya, karena dia tahu kejadiannya dengan lengkap dan Taehyung sekarang mulai menyesal kenapa tidak berpikir untuk memita bantuan Yugyeom saja kemarin.

“Saya tidak bisa naik taksi.” Kata Taehyung menambahkan, mengulaskan senyuman kecil. “Trauma masa kecil.” Tambahnya dengan suara jernih, berusaha menguasai dirinya agar trauma itu tidak kembali ke otaknya.

“Saya pernah nyaris diculik supir taksi dan kejadian itu membuat saya klaustrofobia dan takut hingga sekarang. Jadi sebisa mungkin, saya menghindari menggunakan kendaraan umum jika pergi ke mana-mana.” Jelasnya.

Keempatnya menatapnya, nampak bersimpati dan Taehyung tersenyum. “Kejadiannya sudah lama, tidak apa-apa.” Dia menjelaskan. “Kemarin saya juga sudah menyewa kendaraan sendiri dibantu Hoseok jadi saya rasa berangkat kerja tidak akan masalah.”

“Anda bisa berangkat dengan saya, Chef. Senin saya masuk pagi. Jadi Anda bisa menghafalkan jalannya dulu sebelum berangkat sendiri.” Sela Wonwoo dan Taehyung menatapnya penuh terima kasih.

“Sempurna.” Katanya tulus. “Terima kasih, Wonwoo.”

Dan saat itulah seorang pelayan datang mengantarkan Jeongguk.

Taehyung mendongak dan bertemu mata dengan chef itu—untuk kedua kalinya.

Dia mengenakan kemeja hitam polos yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, dia berjalan dengan langkah panjang yang tegas seraya menggulung lengan kemejanya dan mengancingkannya di siku—memamerkan sleeve tattoo-nya. Kakinya yang sempurna terbalut celana jins pudar yang ketat.

Dan sialnya, hari ini dia menguncir rambutnya membentuk man-bun. Beberapa anak rambut yang terlalu pendek, menjuntai di sisi-sisi wajahnya seperti tirai ikal yang magis.

Matanya begitu tajam, jernih dan luar biasa menyihir. Dia berjalan melintasi ruangan luas menuju meja mereka, membawa aura mendominasi yang memabukkan dengan mata terkunci pada Taehyung.

“Jeongguk and Taehyung sitting under the tree, k-i-s-s-i-n-g...”

Taehyung menggeram karena suara melengking menyebalkan Jimin terngiang kembali di kepalanya tepat saat Jeongguk sudah tiba di meja mereka. Taehyung menggelengkan kepalanya, mengenyahkan suara itu sekuat tenaga.

“Halo.” Sapanya saat tiba di meja dengan aroma parfum maskulin yang nyaris membuat Taehyung mengerang. “Maaf saya lama. Kuta selalu macet.” Dia langsung mendudukkan diri di kursi yang tersisa, yang adalah kursi di sisi Taehyung.

Detik dia mendaratkan diri di kursi, aroma tubuhnya menguar dan menginvasi udara di sekitar Taehyung. Secercah aroma sabun mandi, secercah aroma keringatnya yang lebih menyenangkan kali ini dan juga parfum.

Pengharum pakaian, pengharum mobilnya.....

Taehyung menghela napas dalam-dalam.

“Dimaafkan, Chef.” Kata Namjoon seketika. “Tapi kami sudah memesan, Chef. Maaf.”

Jeongguk menggeleng, dia menerima buku menu dari pelayan di sisinya dan mulai membalik-baliknya. “Tidak masalah.” Katanya pada Namjoon. Dia mengamati halaman buku menu, tidak menemukan hal yang menarik dia kemudian menutup benda itu.

“I'll have the Chef's recommendation for vegetarian. If there isn't any, I'm fine having the recommendation without the meat.” Dia mengembalikan buku menu ke pelayan yang bergegas melanjutkan pesananya ke dapur sementara Jeongguk langsung meraih gelasnya yang baru saja selesai diisi pelayan dan meneguknya hingga habis.

“Anda memutuskan untuk bergabung akhirnya.” Komentar Namjoon, menjulurkan tubuh untuk menatap Jeongguk yang meletakkan gelasnya di meja dan membiarkan pelayan mengisinya kembali.

Jeongguk mengangguk. “Adik saya pergi ke dokter kandungan untuk cek rutin dengan suaminya dan saya sendirian di rumah, jadi saya memutuskan untuk bergabung sekalian pulang.” Katanya. “Mungkin bisa jadi kesempatan yang bagus juga untuk berkenalan dengan tim baru sebelum bekerja sama besok.”

“Apakah Anda selalu berangkat bekerja dari Sanur, Chef?” Tanya Taehyung kemudian, berusaha memulai pembicaraan.

“Tidak.” Sahut Jeongguk dan Taehyung menyadari dia melembutkan suaranya, tidak lagi sekasar hari pertama dia bertemu Taehyung—sepertinya dia menyikapi ketidaksukaan Taehyung dengan sikap kasarnya dengan baik.

“Rumah saya Perum Nusa Dua Hill.” Dia berdeham, nampak kikuk tanpa alasan dan Yugyeom berdeham keras yang anehnya terdengar seperti tawa sementara Taehyung tidak memahami apa pun.

Taehyung mengangguk-angguk sopan walaupun sebenarnya dia tidak paham di mana Perum Nusa Dua Hill itu berada dan bahkan tidak tahu tepatnya Sanur berada di mana.

Namun kebingungan Taehyung tidak lama karena kemudian Yugyeom membantunya dengan menjelaskan tanpa diminta dan nampak sangat senang bisa menjelaskan itu.

“Delapan menit dari kosan Anda, Chef.” Tambah Yugyeom kemudian lalu meringis keras sebelum mendelik pada Jeongguk yang menatapnya dengan mata berkilat kesal.

Taehyung mengerjap, “Maaf?” Tanyanya, kebingungan.

“Perumahan itu,” Namjoon berdeham sementara di sisinya Jeongguk menghela napas dan memejamkan mata, nampak tertekan. “Ada di Jalan Dharmawangsa, Benoa. Mungkin hanya beberapa meter dari kosan Anda. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki.”

“Lupakan maps-nya, saya tahu jalannya. Itu di kawasan Benoa, 'kan?”

Sekarang Taehyung paham kenapa Jeongguk nampak begitu familiar dengan jalan menuju kosan Taehyung. Dia pikir itu karena Jeongguk orang Bali sehingga dia hafal semua seluk-beluk jalanan Bali.

Siapa sangka ternyata kediamannya hanya delapan menit dari kosan Taehyung. Bahkan jauh lebih dekat dari Wonwoo yang menempuh dua puluh menit untuk menjemputnya tadi.

Taehyung tidak yakin bagaimana dia harus menyikapi informasi itu namun syukurlah makanan mereka datang sehingga sejenak percakapan tentang perumahan itu terlupakan dan Taehyung bisa merasakan bahasa tubuh Jeongguk yang lebih rileks setelah percakapan dibelokkan darinya.

Sepanjang sisa malam, mereka membicarakan tentang tim mereka kedepannya. Yugyeom menginfokan ke Taehyung tentang para commis dan helper-nya di dapur yang akan dikenalkan kepadanya besok Senin serta mendapatkan laporan perkembangan tentang kue pernikahan yang sedang dikerjakan.

Taehyung menyatat semua prioritas pekerjaannya di sepotong tisu dengan pulpen yang selalu terselip di saku celananya, mengangguk-angguk mendengarkan Yugyeom yang duduk di hadapannya.

“Senin kita Morning Briefing, ya.” Kata Jeongguk saat mereka berdiri, akan berpisah untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. “Saya harus memperkenalkan Taehyung pada semua tim dan juga bertemu dengan Bapak GM dulu.” Dia menatap Taehyung yang mengangguk.

Mereka beranjak ke tempat parkir saat Yugyeom kemudian berdeham. “Gguk,” katanya dan perasaan Taehyung mulai tidak enak. “Kau akan pulang ke rumahmu, 'kan?”

Jeongguk yang melangkah ke arah mobilnya berhenti, menoleh ke rekan-rekan kerjanya dan bertemu pandang lagi dengan Taehyung.

Ini tidak sehat.

Bertemu pandang dengan Jeongguk membuat jantung Taehyung terasa nyeri dan berdebar tidak nyaman. Dia terlalu memesona, terlalu tampan dan nyaris mustahil dia adalah manusia biasa. Auranya terlalu mendominasi, dia terlalu diam.

Terlalu... menyebalkan.

“Oh.” Katanya kemudian, menyadari sesuatu. “Kau bisa ikut dengan saya.” Tambahnya pada Taehyung. “Daripada Wonwoo harus memutar mengantarmu.”

Taehyung tidak yakin apakah dia membenci Yugyeom atau malah berterima kasih padanya.

Namun toh dia tetap melangkah ke Rubicon Jeongguk yang sudah akrab dengannya, memanjat naik dan berpamitan pada rekan-rekan kerjanya sebelum mobil berlalu.

Meninggalkan empat sous chef yang bertukar high-five keras.

*

Notaris dan PPAT: Penjabat Pembuat Akta Tanah.

Occupancy: persentase daya tampung hotel.


Taehyung berdiri di depan Solaria bagian Kedatangan Domestik Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang sudah semakin lenggang karena jam sudah menunjukkan waktu pukul sembilan lebih.

Dia melangkah melewati lorong panjang kedatangan, menyeberang ke arah terminal penjemputan dengan kaki yang terasa kaku setelah sekian lama ditekuk agar muat dalam kabin pesawat yang sempit.

Dia mengutuk penerbangannya yang sempat tidak bisa mendarat tadi dan menghabiskan satu jam untuk berputar di atas udara menunggu giliran untuk mendarat karena runway yang basah dan licin. Dia lelah dan ingin mandi air hangat lalu berbaring karena punggungnya terasa nyeri akibat duduk membungkuk terlalu lama di dalam pesawat yang kecil.

Menyebrangi jalanan kecil ke lokasi penjemputan, Taehyung mendesah kelelahan. Dia meletakkan kopernya di lantai dan duduk di atasnya. Barang-barangnya menyusul dengan kargo udara dan akan tiba keesokan harinya. Dia sudah menelepon Hoseok kemarin, meminta bantuannya untuk mengambil barang dan menata kamar barunya.

Taehyung benci berpergian jauh dalam waktu singkat. Dua minggu menurutnya terlalu terburu-buru untuk mempersiapkan kepindahannya ke tempat baru yang benar-benar asing. Dan dia sangat mengandalkan jemputan dari Banyan Tree Bali namun ternyata saat dia keluar tidak ada concierge yang menunggunya.

Kekesalan dan kelelahannya berlipat ganda, he feels so irritated right now.

Dia menatap layar ponselnya, mendesah panjang dengan agak jengkel apa yang membuat Head Chef-nya begitu lama. Dia berpikir apakah dia sebaiknya mencari taksi saja daripada harus menunggu di situ seperti orang bodoh?

Taehyung melirik jam tangan di tangan kirinya, mendesah saat jarum panjang bergerak ke angka enam. Sudah jam setengah sepuluh malam dan Taehyung benar-benar lapar, lelah dan penat. Dia butuh berbaring, atau setidaknya berikan dia kopi.

Apakah dia harus kembali ke Starbucks yang dilewatinya tadi? Tapi dia terlalu lelah dan malas, bagaimana jika Jeongguk tiba saat dia mengantri? Dia tidak ingin membuat atasannya menunggu.

Orang-orang di sekitarnya yang tadi satu pesawat dengannya mulai perlahan dijemput oleh keluarga dan supir pribadi. Nampak senang bertemu kembali dengan wajah yang akrab dengannya. Suara percakapan akrab mereka dalam bahasa Bali berlogat kental membuat Taehyung sedikit-banyak terhibur.

Dia duduk di sana, di area penjemputan tanpa parkir dengan tubuh letih dan rasa lapar menjalar di perutnya. Sudah putus asa, akan beranjak ke Solaria untuk makan jika mereka masih menerima order saat dia akhirnya melihat mobil perak yang dimaksud Yugyeom.

Taehyung memicingkan mata, mencoba melihat plat nomor yang tertera di sana dan berdebar saat menyadari platnya sesuai dengan yang dikatakan Yugyeom. Mobil itu menderum halus, kemudian berhenti di depannya.

Taehyung masih diam, duduk di atas kopernya sebelum perlahan jendela di bagian penumpang turun. Dari dalam, dengan cahaya temaram dari terminal bandara, Taehyung bisa melihat bentuk wajah seseorang di balik kemudi.

Garis rahangnya tajam dan panjang, hidungnya bangir dengan rambut basah yang disisir ke belakang memamerkan keningnya yang tinggi. Terlalu gelap bagi Taehyung untuk mengamati ekspresi atau bentuk wajahnya, namun tidak lama karena kemudian pengemudi itu mendesah, cukup keras untuk didengar Taehyung, menjulurkan tubuhnya ke kursi penumpang dan membukanya dari dalam.

Pintu terayun terbuka dan lampu kabin mobil menyala merespon sensor pintu yang dibuka.

Dan Taehyung bertatapan dengannya.

Hal pertama yang disadarinya adalah ekspresi wajah yang seperti serigala terganggu.

Dingin dan serius. Bibirnya membentuk garis tipis, matanya menatap Taehyung dengan steril—tanpa emosi sama sekali kecuali terganggu seolah Taehyung baru saja membunuh kucingnya atau apa. Selapis keringat berkilau di keningnya, rambutnya basah dan alisnya tebal—singkat kata, wajahnya sempurna sekali.

Jimin tidak melebih-lebihkan saat dia mengatakan Jeongguk sangat tampan karena kata tampan sekali pun terdengar terlalu remeh digunakan untuk menjelaskan keindahan ragawinya.

Dia nampak seperti model kelas internasional yang bisa saja mengisi sampul majalah terkenal jika saja dia tidak bewajah masam sepanjang waktu seperti penderita wasir.

Setelah berhasil melepaskan tatapan dari wajahnya yang luar biasa, Taehyung menyadari masalah lainnya.

Pakaiannya.

Dia mengenakan setelan olahraga. Celana pendek yang memamerkan pahanya yang padat dan sempurna, sepatu dan kaus tanpa lengan yang menempel di tubuhnya seolah benda itu adalah kulit keduanya. Lengket oleh keringat. Ada hand-band di kedua pergelangan tangannya yang sekarang ditumpukan di atas roda kemudi.

Taehyung pasti duduk di sana, melongo karena ketampanan dan pesona nyaris surgawi head chef barunya cukup lama karena kemudian alis tebalnya mengerut dan bibirnya berdecak.

“Taehyung?” Tanyanya.

Oh.

Taehyung mengerjap. Suara dan logatnya....

“Ya.” Katanya, terpesona. Dengan suara seberat itu, dia pasti bisa menguasai satu ruangan begitu saja tanpa perlu berusaha.

Dia hanya perlu sedikit saja tersenyum.

“Naiklah.” Tambahnya, “Atau kau berencana tidur di sana malam ini?”

Taehyung bergegas berdiri, merasa bodoh dan menarik kopernya menuruni tangga dan menghampiri Rubicon perak yang berhenti di jalan. Roda kopernya berderit saat bergulir di atas aspal dan Jeongguk menekan tombol kunci di sisi kendali.

Dalam hati mengutuk seluruh suku Bali dan logat mereka yang mendebarkan. Apalagi di lidah dan suara empuk pemuda setampan Jeongguk.

“Naikkan saja ke kursi penumpang.” Kata Jeongguk dari depan dan Taehyung membuka pintu penumpang.

Dia mengangkat kopernya yang lumayan berat dan meletakkanya di atas kursi yang lembut dan bersih. Di sana ada tas olahraga Jeongguk dan aroma keringat yang pekat membuat Taehyung sejenak mabuk—aroma keringat yang berusaha disamarkan dengan parfum maskulin dan tercampur dengan pengharum mobil.

Namun malah membuatnya tercium semakin memualkan.

Tidak terlalu menyenangkan apalagi setelah Taehyung melewati satu jam berputar di udara di dalam kabin pesawat.

Dia menutup pintu penumpang sebelum melangkah ke kursi penumpang dan memanjat naik. Jeongguk menatap ke depan, rahangnya keras sebelum melirik saat Taehyung menutup pintu penumpang dan memasang sabuk pengamannya.

“Halo.” Sapa Jeongguk saat Taehyung mulai menyerah, mengharapkan sapaan ramah dari chef di sisinya.

“Jeongguk.” Dia mengulurkan tangan kanannya yang dipenuhi tato, dia menggunakan jam tangan di pergelangan tangannya dengan tiga benang mungil yang diikat berwarna merah-hitam-putih pudar.

Taehyung menyambutnya, tersenyum ramah. “Taehyung, Chef.” Katanya. “Maaf merepotkan Anda untuk menjemput saya.” Dia menjabat tangan Jeongguk yang agak lembab dengan hangat dan kuat.

Sudut bibir Jeongguk naik sedikit. “Tidak apa-apa.” Katanya kemudian melepaskan tangannya dan kembali memegang roda kemudi. “Maaf jika terlalu lama. Saya berangkat dari gym dan terjebak macet karena terpaksa melewati jalan konvensional ke bandara. Saya lupa membawa E-Toll.”

Taehyung mengangguk, mengarahkan penyejuk udara ke wajahnya. “Tidak apa-apa, Chef. Saya yang menyusahkan.” Katanya.

“Maaf juga, mungkin agak bau. Saya belum mandi. Takut kau menunggu terlalu lama.” Jeongguk kemudian melirik spion kanannya, memasukkan perseneling dan menginjak gas. Mobilnya berderum, melaju perlahan di jalanan bandara menuju pintu keluar. “Jadi saya langsung berangkat setelah selesai olahraga.”

“Dimaafkan.” Taehyung tersenyum. Mengamati dengan diam-diam interior mobil yang bersih dan rapi itu sebelum diam-diam melirik Jeongguk yang sekarang merogoh ceruk mungil di dekat pintu pengemudi—mengeluarkan receh dan karcis parkir saat mereka mulai mendekat ke pintu keluar.

Dia nampak luar biasa. Muda, sehat dan vital. Dia tidak mungkin berusia lebih dari tiga puluh lima tahun sama seperti Taehyung dengan bentuk tubuh sehat yang keras dan kuat yang pasti didapatkannya dari olahraga dan mengayunkan frying pan. Tidak seperti tubuh Taehyung dengan otot-otot muda halus yang panjang karena terlalu sering tempering cokelat.

“Anda sering olahraga?” Mulai Taehyung sopan saat mobil meluncur keluar dari gerbang bandara.

“Dua-tiga kali seminggu.” Sahut Jeongguk, matanya terpancang ke jalanan nampak tidak terlalu nyaman dengan obrolan ringan yang coba dibangun Taehyung. “Alamat kosanmu?” Tanyanya kemudian.

Taehyung bergegas meraih ponselnya untuk mengecek alamatnya, kemudian mendadak teringat sesuatu yang penting.

Jeongguk menyadari perubahan bahasa tubuh Taehyung yang tegang dengan ponsel di tangannya, wajah kosong dan realisasi terlambat yang menyala di wajahnya seperti lampu neon dan dia menghela napas.

“Kau belum punya alamatnya.” Katanya begitu saja.

Taehyung meringis. Bodoh, bodoh! “Saya telepon Ibu Kos saya dulu.” Katanya, bergegas meraih ponselnya dan menekan nomor pemilik kos yang diberikan Hoseok beberapa waktu lalu sementara Jeongguk di sisinya nampak semakin jengkel.

Membuat Taehyung semakin sebal kenapa dia harus menerima permintaan Taehyung jika akhirnya dia malah bersikap jengkel sepanjang waktu? Taehyung tidak suka. Jika memang dia tidak ikhlas, lebih baik tidak usah sekalian.

Dan Taehyung bukan tipe yang diam saat harga dirinya disentil.

“Chef.”

“Ya?”

“Jika Anda memang sangat keberatan menjemput saya, kenapa Anda harus melakukannya? Saya sudah mengatakan pada Anda, saya akan mencari alternatif kendaraan lain jika Anda sibuk.”

Jeongguk menoleh, kaget karena kata-kata Taehyung yang duduk di kursi menempelkan ponsel ke telinganya menunggu ibu kosnya mengangkat teleponnya dengan wajah keras dan terganggu.

“Karena jujur saja, saya tidak nyaman dengan ekspresi Anda. Jika Anda keberatan, saya bisa cari kendaraan sendiri. Tidak apa-apa, Chef. Sungguh.”

Jeongguk menatap ke jalan, tangannya menggenggam kemudi dengan lebih kuat dari sebelumnya karena buku-bukunya memutih, untuk pertama kalinya sejak Taehyung bertemu dengannya ekspresi menghinggapi wajahnya—ekspresi sedikit malu dan tidak enak.

Dan Taehyung, dengan rasa jengkel di hatinya pun tidak bisa mengalihkan pandangan dari pembuluh darah sialnya yang menyembul.

“Stupid veins.” Umpatnya di dalam kepala seraya menunggu teleponnya di angkat.

“Maaf.” Kata Jeongguk kemudian. “Saya tidak terlalu sering berinteraksi dengan orang lain selain untuk pekerjaan. Tidak pernah berinteraksi dengan orang asing di luar jam bekerja, jadi mungkin saya kelepasan.”

Dia kemudian diam dan Taehyung juga diam, mendadak merasa tidak enak hati karena telah mengucapkan ketidaksukaannya dengan begitu gamblang setelah orang yang dikatainya bersikap baik dengan repot-repot buru-buru menjemputnya dari gym dengan setelan basah dan tubuh berkeringat.

“Saya melakukannya karena saya ingin membantu. Tenang saja.” Dia kemudian menoleh dan membuat Taehyung nyaris saja mati terkena serangan jantung karena dia melemparkan senyuman ke arahnya—begitu saja tanpa peringatan.

Senyuman tipis dan ringan, namun mengubah keseluruhan ekspresinya menjadi jauh lebih memesona daripada wajah dinginnya yang galak.

Namun senyuman itu lenyap secepat kemunculannya.

Dia kembali memasang wajah sterilnya yang jernih dan fokus ke jalanan yang padat di hadapannya. Dan telepon Taehyung diangkat.

“Halo?” Sapa Taehyung ramah, bergegas memerintahkan otaknya yang berkabut karena pesona senyuman Jeongguk yang tidak mungkin lebih dari lima detik untuk fokus ke teleponnya. “Ibu, maaf saya menganggu malam-malam. Saya lupa menanyakan alamat kosan.”

Dia diam saat mendengarkan ibu itu menjelaskan alamatnya. “Saya sedang bersama teman saya, ya, dia orang Bali. Oh... Baiklah. Baik.” Dia tersenyum. “Baik, terima kasih, Ibu. Kamar saya sudah dirapikan, ya? Wah, baik. Terima kasih.”

Dia lalu menutup teleponnya.

“Alamatnya?” Tanya Jeongguk, kali ini terdengar lebih ramah dari sebelumnya dan Taehyung tersenyum dalam hati—dia mencoba.

Dan Taehyung menghargai itu.

“Katanya, masukkan saja 'Bali Easy Keker' di maps.” Kata Taehyung, mengutak-atik ponselnya, membuka maps dan mengetikkan nama itu di sana.

“Keker.” Koreksi Jeongguk.

“Keker.” Ulang Taehyung menurut.

Dan Jeongguk mendenguskan tawa pelan samar di bawah napasnya.

“Lupakan maps-nya, saya tahu jalannya. Itu di wilayah Benoa, 'kan?” Tanya Jeongguk, bergabung ke dalam lalu-lintas Denpasar yang mulai ramai.

Lampu-lampu kota berkelip, wilayah di sekitar bandara masih nampak ramai dengan bar-bar, kafe dan mini market yang menyala menerima pengunjung. Beberapa tamu asing berjalan dengan santai di atas trotoar atau mengendarai sepeda motor dengan helm yang tidak dikaitkan dengan baik.

Taehyung menyandarkan diri di kursi, menatap ke luar jendela, menikmati perjalanannya di Bali untuk pertama kalinya mencoba dengan kuat mengabaikan kehadiran Jeongguk yang secara harfiah memenuhi seluruh ruang di dalam mobilnya.

Aroma keringatnya membuat Taehyung sinting.

Dan hal lain yang disukainya, Jeongguk mengemudi dengan terampil.

Banyak orang yang bisa mengemudi, namun keterampilan yang sesungguhnya langka dimiliki. Bagaimana dia bisa mengendalikan roda kemudi dengan lembut dan membuat penumpang nyaman berada dalam mobil yang dikemudikannya.

Ada banyak kualitas diri yang baik di Jeongguk (kecuali ekspresinya yang masam dan sepat sepanjang waktu) yang bisa diapresiasi Taehyung. Khususnya bagaimana dia berkenan menjemput Taehyung begitu saja bahkan sebelum mengenalnya.

“Barang-barangmu tidak banyak.” Kata Jeongguk kemudian saat mobil berhenti perlahan di depan lampu merah (Taehyung juga sangat mengapresiasi itu karena dia memperlambat mobilnya saat lampu kuning menyala alih-alih menginjak gas).

“Sisanya dikirim dengan lewat kargo.” Taehyung tersenyum. “Saya tidak ingin membawa banyak barang seperti keledai pengankut barang.”

Sudut bibir Jeongguk naik sedikit saat dia menarik rem tangan dan mengangguk, paham. Dia menjulurkan tubuhnya ke depan, menumpukan sikunya di roda kemudi dan lampu jalanan yang menyusup melalui jendela depan membias di wajahnya—membentuk bayangan panjang yang mempertegas bentuk hidung dan rahangnya.

Taehyung otomatis menahan napas.

Kacau sekali jika Taehyung jatuh cinta dalam empat jam pertamanya resmi menginjakkan kaki di Bali.

Tidak, tidak. Coret kata jatuh cinta.

Taehyung mungkin hanya sedang kagum pada bentuk fisiknya yang sempurna karena Taehyung tidak pernah jatuh cinta dengan mudah (memangnya kenapa lagi dia jomblo?)—ada banyak pertimbangan yang akan dilakukannya.

Termasuk sikap.

Dan Jeongguk yang sejak tadi bersikap seperti bajingan tengik mungkin bukan taruhan terbaiknya saat ini.

“Praktis juga.” Komentar Jeongguk kalem, mengangguk lalu menurunkan rem tangan sebelum memasukkan perseneling dan kembali menginjak gas. Mobil bergulir maju dengan lembut.

“Saya dengar Anda vegan?” Mulainya kemudian perlahan, menilai pakaian yang digunakan Jeongguk mungkin mereka harus menunda rencana makan malamnya ke kemudian hari.

“Vegetarian.” Koreksi Jeongguk. “Dan dari siapa?”

“Oh, maaf.” Taehyung meringis. “Dari Yugyeom. Saya berencana mengajak Anda makan karena sudah repot-repot menjemput Anda. Restoran mana saja yang Anda inginkan, my treat.”

Jeongguk diam sejenak sebelum bibirnya membentuk garis tipis, nampak rikuh sejenak sebelum menjilat bibirnya. “Saya rasa tidak malam ini.” Tolaknya lembut. “Tubuh saya lengket dan sudah malam. Saya yakin kau lebih butuh mandi dan tidur daripada duduk-duduk di restoran membicarakan pekerjaan.

“Kita akan berkerja sama ke depannya, masih banyak kesempatan lain.” Katanya sopan namun berjarak, memberi garis profesionalitas di antara mereka yang memukul mundur Taehyung dari usahanya untuk berteman lebih dari sekadar rekan kerja. “Tapi jika kau mau, kita bisa mampir membeli makanan.”

Taehyung langsung menggeleng dengan senyuman di bibirnya. “Tidak perlu makanan.” Katanya. “Starbucks saja, saya butuh sedikit kafein dan panini.”

“Baiklah.” Jeongguk mengangguk, melirik ke spionnya sebelum menambah kecepatan dengan lembut.

Dia membelok Starbucks pertama yang mereka temui dan mempersilakan Taehyung untuk memesan karena mereka tidak memiliki fasilitas drive-thru.

“Anda minum kopi?”

“Tidak perlu repot-repot.”

“Oh. Tolong biarkan saya membelikan Anda sesuatu.”

“Baiklah.” Jeongguk mendesah. “Chai tea latte hangat saja kalau begitu. Dengan sirup vanila saja.”

Taehyung tersenyum, senang bisa melakukan sesuatu untuk Jeongguk dengan uangnya. “Susu soya?” Tebaknya.

“Yap. Trims.”

Taehyung bergegas melepas sabuk pengamannya, melompat turun dan berjalan cepat ke arah gerai kopi itu. Mendorong pintunya terbuka dengan satu tangan, merogoh dompet dari saku belakangnya dengan tangan lainnya sementara barista di balik mesin kasir menyapanya dengan ramah.

Taehyung bersandar ke konter. “Tolong chai tea latte ukuran venti dengan vanilla syrup dua pump saja dan susu soya. Omit the simple syrup.” Katanya mengingat bahwa Jeongguk dengan vegetarian dan pola hidup sehat tentu akan mengapresiasi minuman less sugar sementara barista muda di hadapannya menginput pesananya ke mesin kasir.

“Lalu satu lagi, venti Signature Hot Chocolate dengan ekstra satu decaf shot. Jangan pakai simple syrup dan tolong yang panas. Jangan hangat, steam susunya lebih lama.”

Dia membuka dompetnya. “Keduanya atas nama Taehyung.” Katanya, menyerahkan Starbucks Card-nya kepada barista di hadapannya yang nampak sedikit kewalahan menerima ordernya yang jelas.

Terbisa memberi arahan pada anak buah membuat Taehyung selalu memesan minuman atau makanan yang diinginkannya dengan begitu detail. Tanpa berpikir terlalu lama sehingga pelayan atau barista terkadang kewalahan untuk menangkap detail ordernya.

Barista mengulang pesanannya dengan tekun lalu menambahkan, “Ada tambahan lain, Pak?”

Taehyung mengangguk, menjulurkan tubuhnya ke belakang untuk menatap show case mereka. “Tolong satu espresso brownie, satu smoked beef quiche dan satu peanut butter panini semuanya dihangatkan. Kemas di paper bag berbeda.” Dia kembali menegakkan tubuhnya dan barista di hadapannya menginput pesanannya.

Dia memproses kartu Taehyung, menyetak struk belanja dan menyerahkan kartu itu kembali ke Taehyung yang langsung menyelipkannya kembali ke dompetnya dan menyimpan benda itu ke saku belakang celanannya sebelum menghampiri salah satu meja dan duduk di sana, menunggu.

Dia meraih ponselnya, mengecek Jimin dan Hoseok yang belum membalas pesannya. Mungkin sedang ramai untuk dinner, pikirnya mengecek jam tangan. Sebentar lagi harusnya Hoseok sudah pulang shift sore.

Dia mengetik pesan untuk Jimin, berharap temannya akan meneleponnya sebelum tidur nanti setibanya di kosannya. Dia juga mengirimi pesan pada Jeongguk, meminta maaf karena harus menunggu makanannya dikerjakan.

“No probs.” Hanya itu balasan Jeongguk.

Minuman Taehyung jadi. Dia berdiri, menghampiri konter dan berhadapan dengan barista yang tersenyum ramah, menyerahkan dua paper bag yang terisi minuman dan makanan. Seperti biasa, dia membuka keduanya. Mengecek pesanannya dan meraih minumannya sendiri.

Dia menyentuh gelasnya, merasakan suhunya dan tersenyum. “Trims.” Katanya sebelum menggenggam gelas itu di tangannya dan meraih tali paper bag Starbucks di meja lalu melangkah keluar.

Taehyung berlari kecil menghampiri Rubicon Jeongguk yang terparkir di halaman Starbucks dan bergegas menaiki kursi penumpang. Dia meletakkan minuman Jeongguk di ruang antara mereka. Saat dia masuk, Jeongguk sedang mengecek ponselnya dengan serius—alisnya berkerut dalam dan dia nampak fokus.

Semakin menegaskan garis wajahnya yang tajam. Benar kata Jimin, Tuhan Maha Adil karena manusia dengan kualitas wajah se-dewata Jeongguk dianugerahi sifat yang tidak terlalu menyenangkan.

“Satu chai tea latte tanpa gula hanya sirup vanila dengan susu soya.” Dia tersenyum, mengumumkan kedatangannya dan Jeongguk mengangguk setelah mendongak dari ponselnya. “Maaf lama.” Katanya lalu memasang sabuk pengaman dengan satu tangan.

“Anda mau panini?” Tawarnya kemudian. “Saya lapar sekali. Saya boleh makan di dalam mobil?” Tanyanya membenahi tas kertas di pangkuannya yang beraroma hangat makanan dan lambungnya nyaris melompat keluar dari perutnya untuk meraih makanan itu.

“Tidak, silakan makan.” Jeongguk memundurkan mobilnya di halaman parkir, memutar kepalanya menghadap ke depan dan bergabung kembali ke lalu-lintas. “Kita tidak akan mampir ke mana-mana lagi?”

“Tidak, terima kasih.” Taehyung meringis dengan quiche di tangnnya, siap disuap karena lambungnya sekarang menangis meminta makanan dan Taehyung akan kolaps jika tidak mulai menjejalkan makanan ke perutnya. “Maaf merepotkan, Chef, tapi saya lapar sekali.”

“Tidak apa-apa.” Jeongguk tersenyum kecil, nyaris sama sekali tidak nampak jika Taehyung tidak memicingkan mata dari balik gelas cokelatnya dalam cahaya remang kendaraan sebelum menginjak gas, membelah jalanan menuju Kuta Selatan.

*

Beda vegan dan vegetarian: vegan tidak makan produk hewani sama sekali, sementara vegetarian tidak mengkonsumsi hewan, tetapi tetap mengonsumsi produk yang berasal dari hewan seperti susu dan telur.

Apollo 1-3

*

Natan duduk di kursi di sisi Radit dengan kaki ditumpangkan ke atas dasbor, menikmati perjalanan panjang mereka meninggalkan hiruk-pikuk kota Yogyakarta menuju arah Gunung Kidul yang mulai agak padat karena mengawali akhir pekan sebagai jalan akses satu-satunya Gunung Kidul-Yogyakarta.

Musik diputar dengan keras di mobil sewaan mereka karena begitu mengetahui ke mana mereka akan pergi, Natan sendiri yang memutuskan mereka harus menyewa mobil yang lebih ringkas daripada sedannya yang rendah dan panjang.

Radit duduk di kursi pengemudi, dengan tangan di roda kemudi menikmati perjalanan panjang mereka melepaskan diri dari kota yang melelahkan. Jalanan panjang Gunung Kidul yang perlahan mulai semakin sepi oleh perumahan penduduk yang padat, hingga akhirnya diapit oleh pepohonan rindang yang menenangkan.

Radit tidak butuh Google Maps, dia sudah pergi ke tempat ini berkali-kali sepanjang hidupnya bersama teman-temannya jadi dia sudah hafal jalanan itu dengan baik. Di jok belakang, matras dan tenda sewaan mereka sudah ditumpuk dengan rapi bersama sekantung plastik makanan ringan dan instan yang dibeli Natan, kompor dan alat-alat masak.

Tas mereka dijejalkan di bagasi belakang yang kecil, hanya terisi sedikit baju yang terpenting hanyalah pakaian dalam dan handuk.

Radit sengaja memilih berangkat hari Kamis sore dan membolos di hari Jumat daripada harus berangkat di hari Jumat lalu berebut tempat kemah dengan orang lain yang juga berpikiran sama ingin menghabiskan akhir pekan mereka di pantai. Dia juga mempertimbangkan fasilitas toilet; berangkat Senin, maka semua toilet akan tutup dan membuat mereka kesulitan untuk makan dan mandi.

Namun hari Kamis, dengan pertimbangan sebentar lagi akhir pekan, beberapa pedagang pasti sudah kembali untuk mempersiapkan diri menyambut akhir pekan.

Sepi namun tetap praktis.

Setidaknya begitulah Radit berharap sementara mobil meluncur di jalanan mulus sekarang mulai memasuki kota Wonosari yang agak padat. Natan menikmati perjalanan mereka sembari bernyanyi mengikuti musik yang mengalun di audio, sesekali menganggu Radit yang mengemudi hingga akhirnya mereka tiba di tujuan mereka.

Pantai Jungwok.

Bukan pantai terbaik yang pernah didatangi Radit, dia punya daftar panjang pantai-pantai lain yang lebih cantik dan tersembunyi, jauh dari jamahan pariwisata namun untuk kemah mereka kali ini Radit memilih pantai landai yang terkenal.

Alasan keamanan.

Radit memarkir mobilnya di tempat yang aman, di bawah pohon rindang yang akan meneduhkan mobil mereka jika hujan sebelum akhirnya menoleh ke kekasihnya yang sekarang nampak seperti bocah taman kanak-kanak yang mendapatkan lilin mainan baru.

Mereka berdua keluar dari mobil, langsung merasakan angin laut yang kuat, lengket dan asin di kulit mereka. Natan mengenakan kaus tanpa lengan di bawah kemejanya yang sekarang diikatkan di pinggang, rambutnya meriap di tengkuknya dengan kacamata bertengger di hidungnya yang indah.

Kulitnya yang putih pucat terpapar sinar matahari dan Radit tersenyum melihat senyuman lebar di bibirnya.

“Ayo, turunkan barang-barangnya.” Ajak Radit menutup pintu mobil dengan tangannya.

Natan menghela napas dalam-dalam dengan tangan terentang dan mata terpejam sebelum berbalik, melempar senyuman paling cerah yang membuat hati Radit tersentuh lalu berlari ke arahnya.

Mereka membawa barang-barang mereka dalam satu kali angkut. Tenda, matras dan tas-tas dibawa Radit sementara camilan dan alat masak dibawa Natan.

Kemudian mereka memilih untuk mendirikan tenda di tanah landai di bawah pohon. Radit membersihkan sekitarnya agar tidak ada benjolan di matras mereka nanti lalu mendirikan tenda dibantu Natan.

Setelah tenda berdiri, hari masih terang jadi Natan memutuskan untuk membuat kopi untuk mereka berdua seraya duduk di pintu tenda yang dibuka menatap ke lautan lepas.

“Tidak ada sinyal.” Natan menjatuhkan ponselnya ke dalam tenda, ke atas matras mereka yang disandarkan ke dinding tenda dengan tas.

“Itulah tujuannya.” Radit menjawab. “Melepaskan diri dari internet.”

Natan duduk di sisinya, menumpukan dagunya di kedua lututnya yang ditekuk seraya menunggu air panas mereka.

Angin pantai berhembus lumayan kencang sehingga dia harus membangun benteng kecil dari kertas di sekitar sisi kompor kecil mereka dan menjaga api tetap kecil agar gas tidak cepat habis.

“Sudah lama sejak terakhir kali aku menikmati hari di alam. Tidak ada ponsel, tidak ada perkotaan. Langit malam yang cerah. Besok pagi kita naik ke sana,” Radit menunjuk bukit di arah Barat mereka.

“Mataharinya nampak menakjubkan dari sana.” Dia tersenyum lebar.

Natan mengangguk.

Kopi mereka jadi dan Natan menyerahkan gelas stainless satunya untuk Radit yang menerimanya seraya menggumamkan terima kasih.

Mereka duduk di atas pasir yang hangat dan lembut, menatap lepas ke lautan yang tenang. Beberapa warga lokal sedang memancing di pinggiran laut, membawa joran dan tempat untuk ikan dan gurita yang mereka dapatkan.

Aroma air laut yang asin serta ikan-ikan amis menempel di cuping hidung Natan seketika itu juga tapi dia tidak keberatan.

Dia menjulurkan tangan, meraih rumput laut kering yang terbawa hingga ke tempatnya dan mengamatinya.

“Kau pernah pergi kemah sebelumnya?” Tanya Radit menikmati kopinya.

Natan menggeleng. “Belum.” Dia tersenyum lebar, menyentuh tubuhnya yang terbuka dan merasa lengket. “Ini pertama kalinya. Dan aku merasa tidak sabar.”

Radit tersenyum. “Aku senang jika kau senang.” Dia mengulurkan tangan, menyisir rambut ikal Natan dan melilitkan jemarinya ke helai rambut Natan. Menjambaknya lembut.

Natan menatapnya, matanya mengerling sebelum tersenyum simpul.

Memikirkan bahwa nanti malam mereka tidur di dalam tenda kecil berdua saja tanpa penerangan dan di alam bebas yang tenang.

Natan sangat bersemangat.

“Bagaimana perasaanmu belakangan ini?” Tanya Radit perlahan, menjulurkan kaki mengikuti Natan yang sekarang kakinya digoyang-goyangkan dengan ceria di atas pasir.

“Baik.” Natan tersenyum, menyesap kopinya yang manis. “Terkadang saat aku tidak bisa tidur, aku minta Ayah datang.”

Radit mendesah. Dia sudah dua kali berpapasan dengan Zeus di lorong kamar mandi setelah meninabobokan anaknya dan kembali ke Olympus.

“Kenapa dia tidak kautemani saja?” Kata Zeus nyaris mengeluh seperti anak kecil pada Radit yang terkekeh.

“Pelukan seorang ayah dan pacar tentu saja berbeda.” Sahutnya kalem dan Zeus nampaknya paham karena dia mendesah sebelum mengangguk dan lenyap.

Dan biasanya jika Natan terbangun ketika Zeus sudah lenyap, dia akan masuk ke kamar Radit, menyusup ke dalam pelukan Radit yang terlelap sebelum kembali nyenyak.

Radit sudah sering mendapatinya begitu sehingga di kejadian kedua atau ketiga, Radit sama sekali tidak membuka mata dan hanya merentangkan lengannya, memberi ruang untuk Natan menyusup ke dalam pelukannya sebelum mengecup keningnya dan kembali lelap.

Aroma tubuh Natan sudah terasa seperti aroma tubuhnya sendiri. Pakaian mereka di laundri bersama, mereka berbagi parfum, berbagi losion—terkadang Radit mendongak karena berpikir dia baru saja mencium aroma tubuh Natan namun ternyata itu aroma tubuhnya sendiri.

“Maksudku, secara perasaanmu.” Radit meraih tangan Natan dan meremasnya. “Aku selalu tahu kau baik-baik saja, tapi apakah kau akhirnya sudah baik dengan fakta tentang kehidupan barumu? Tentang jati dirimu sebagai demigod.”

Natan menatapnya. “Oh. Itu.” Bisiknya lalu menatap ke tebing di tengah laut yang dihantam ombak terus-menerus, menggerus sisi pinggirnya hingga compang-camping.

Dia menatap terus, mengamati bagaimana ombak merontokkan karang yang tegak dan kuat itu. Tidak kuat, namun konsisten dan berkelanjutan. Bahkan batu sekeras itu pun kalah oleh lautan.

Hestia memberitahu Natan jika dia ingin mampir ke rumah, dia harus memberi pesan pada Hestia dulu sehari sebelumnya jadi dia bisa meminta harpy untuk membereskan rumah dan dia memasakkan sesuatu untuk Natan.

Natan nampak senang dengan pengaturan itu namun entah bagaimana Radit masih merasa bahwa Natan masih berdebat dengan dirinya sendiri entah tentang apa. Dia tahu ada sesuatu yang menganggu Natan.

“Ada yang menganggumu?” Tanya Radit. “Tanyakan saja, siapa tahu aku bisa memberikanmu jawaban.”

Natan menatap lautan lepas sekali lagi sebelum mendesah, menunduk menatap kakinya sendiri. “Menurutmu...” Bisiknya.

“Ya?”

“Kenapa ibuku tidak menginginkanku?”

Radit diam. Natan juga diam.

Cahaya matahari dihembuskan bersama angin laut yang lembab, membuat wajah Radit terasa lengket dan tebal oleh percikan air yang terbawa angin. Dia menarik kakinya ke bawah atap tenda, mengusap permukaannya yang terasa panas.

Matahari mulai turun ke arah Barat, sinarnya tidak lagi terik namun karena mereka ada di pantai, hawanya tetap terasa tidak nyaman. Radit juga berencana membeli potongan kayu nanti, mereka akan membuat api unggun di depan tenda mereka—menyempurnakan pengalaman pertama Natan.

“Yang jelas, itu bukan salahmu.” Kata Radit kemudian, mengenggam tangannya semakin erat seperti berusaha menahan agar Natan tidak lebur bersama sakit di hatinya. “Terkadang, tidak semuanya berasal dari kesalahanmu sendiri. Dia menolakmu, itu tidak menunjukkan kualitasmu sebagai manusia tapi lebih ke kualitasnya sebagai orangtua.”

Natan diam.

“Dia meninggalkanmu begitu saja itu bukan berarti ada yang salah denganmu.” Radit memulai kembali dengan hati-hati. “Ada yang salah dengannya karena bersikap tidak hati-hati dengan dirinya sendiri dan menghadirkanmu lalu takut karena tidak siap.

“Sungguh, menurutku itu hanya menunjukkan siapa dia alih-alih siapa dirimu.”

Natan menatapnya, tersenyum kecil. “Mungkinkah.... Suatu hari nanti dia datang mencariku?”

Radit tersentuh.

Menyadari bahwa Natan ternyata masih berharap ibunya menginginkannya suatu hari nanti. Berharap ibunya akan menyesal telah membuangnya. Akan kembali untuk berbaikan dan Natan bisa memiliki konsep keluarga rapuh yang selama ini diam-diam terus diharapkannya.

Tidak bisa menahan dirinya, Radit merengkuh Natan dalam pelukannya. Memeluknya begitu erat, berharap luka berdarah di hatinya dapat Radit bantu tangguhkan sehingga tidak membunuh Natan. Tangannya membelai punggungnya sementara Natan menumpukan dagunya di bahu Radit, memejamkan mata dan mengaitkan jemarinya di belakang punggung Radit.

“Kau punya aku. Kau punya Zeus.” Bisik Radit di rambutnya yang harum. “Kau tidak sendirian lagi. Kau punya Hestia. Kami semua sayang padamu. Jika pun dia tidak kembali, kau tidak akan kesepian.”

Radit bisa merasakan senyuman Natan di bahunya, dia mengeratkan pelukannya pada Radit dan membenamkan wajahnya di bahu Radit sebelum menghela napas dalam-dalam dan tersenyum. Dia melepaskan diri dari pelukan Radit.

“Tidak boleh sedih, kita kemari untuk berlibur!”

Radit menatapnya, mengulurkan tangan dan menyentuh pipinya lalu mencubitnya lembut. “Aku sayang sekali padamu.”

Natan nyengir. “Aku lebih sayang padamu.”

*

Apollo #248

*

Radit membawa bantal dan selimutnya pindah ke kamar tamu di seberang kamar Natan beberapa saat kemudian karena Natan memutuskan untuk bersikap sangat clingy pada ayahnya.

Dia meminta (baca: memaksa) Zeus untuk tinggal semalam, tidur bersamanya dan membacakan dongeng.

Zeus seperti baru saja terkena penyempitan pembuluh darah mendengarnya. “Memangnya kau ini berapa? 5 tahun???” Kata Zeus saat Natan memberikannya buku cerita.

Natan balas mendelik, “Buatlah diri Ayah keren seperti ayah-ayah lain. Cepat!”

Dan Radit mengangguk pada Zeus, “Berikan saja apa maunya.” Begitu dia mencoba untuk memberitahu Zeus tentang sifat anaknya yang berubah jadi begitu keras kepala jika menginginkan sesuatu.

Sulit karena keduanya adalah tipe keras kepala yang tidak pernah mengekspresikan kasih sayang sehingga pada kesempatan langka saat Natan melakukannya, keduanya nampak sama-sama rikuh dengan emosi baru itu.

Namun akhirnya Zeus setuju. Dia berbaring di sisi Natan di atas ranjang yang berderit dengan Natan menyusup dalam pelukannya, mendengarkan lelucon-lelucon terbaik “Zeus: The Greatest Puns” yang menjadi langkah awal karir gemilang Zeus sebagai Raja Para Dewa jutaan tahun lalu.

Dan Radit memutuskan mereka berhak mendapatkan waktu untuk bersama setelah Natan berhasil mencerna cerita Hestia tadi dan menerima Zeus sebagai ayahnya.

Radit tahu, Natan tidak bisa tidur bukan hanya karena dia lapar. Tapi dia memikirkan segala hal yang dilakukan Zeus untuknya.

Radit pun secara pribadi takjub bagaimana seorang dewa bisa bersikap begitu personal pada demigod yang biasanya tidak pernah mereka pedulikan hingga suatu hari mereka butuh pesuruh fana untuk melakukan tugas remeh mereka.

Annabeth jelas telah melakukan perubahan signifikan dengan meminta semua dewa bersumpah untuk mengklaim anak-anak mereka.

Dan Zeus pun sepertinya paham betapa kuatnya demigod Tiga Dewa Besar dan terlalu menyayangi Natan karena fakta ibu fananya membuangnya begitu saja (mungkin juga masalah dengan harga dirinya karena seseorang ternyata benar-benar menolak bayi dari Zeus dan dia mungkin mulai berpikir dia tidak sekeren itu) hingga melakukan segalanya untuk menyembunyikannya dari Hera.

Dia berbaring di ranjang yang bersih dan harum, sudah akan kembali lelap dengan perut kekenyangan saat pintu terbuka. Radit menoleh dengan sedikit kaget.

Hestia menyembulkan kepalanya ke dalam kamar, tersenyum meminta maaf. “Raditya? Kau sudah akan tidur?”

Radit bergegas menegakkan tubuh. “Dewi Hestia.” Sapanya. “Tidak, tidak. Ada yang bisa saya bantu?”

Dia melirik tempat tidurnya lalu meringis. “Natan ingin dongeng dari Zeus jadi aku mengungsi untuk memberikan mereka privasi.”

Hestia menghampirinya dan duduk di sisi ranjang Radit, membuat demigod muda itu bergegas membenahi duduknya agar sopan.

“Aku dengar Zeus datang.” Hestia tersenyum dan mengangguk. “Dan aku senang akhirnya Natan bisa menerima bahwa dia punya ayah yang sayang padanya dan bahwa dia tidak sendirian di dunia ini.”

Dia menatap kakinya sendiri dengan sendu, senyuman kecil bermain di bibirnya. “Mungkin inilah akhirnya.” Katanya kemudian.

Radit menoleh. “Maksud Anda?”

Hestia mendesah lalu perlahan tubuhnya bersinar selembut cahaya rembulan sebelum merekah dari dalam pakaian sederhananya menjadi seorang dewi muda yang segar seperti kelopak mawar dalam balutan tunik Yunani.

“Aku tidak bisa selamanya menjadi nenek Natan, benar?” Dia menyeka rambut panjangnya yang tebal. “Karena sekarang Natan sudah menerima kehadiran Zeus dan identitasnya sebagai seorang demigod, saatnya dia pulang ke Perkemahan. Tidak lagi ke rumah ini.”

Hestia memandang rumah itu dengan sedih, seolah sedang mengingat tiap memori yang dilukisnya di setiap sudut rumah bersama Natan. Dia bahkan membiarkan beberapa dinding yang penuh coretan Natan saat pertama kali mengenal krayon.

“Berat melepaskan ini. Tapi setidaknya sekarang,” Hestia mendesah berat. “Natan punya keluarga besar yang akan menerimanya dan sayang padanya. Dia punya kakak perempuannya sendiri, Thalia. Dan punya seluruh Perkemahan yang adalah saudaranya.”

Radit diam dan memandang jendela di hadapannya yang tertutup gorden sederhana berwarna biru pudar.

Tentu saja sekarang Natan akan ikut Radit setiap kali dia pulang ke Perkemahan. Dia akan ikut Tangkap Bendera dan seluruh acara-acara Perkemahan.

Radit boleh membawa “pacarnya” ke Perkemahan. Mereka boleh pacaran di Perkemahan. Dan Pak D tidak akan bisa bersikap menyebalkan lagi pada Natan karena dia penghuni kabin Zeus.

Dia memiliki hak tinggal di Perkemahan sama besarnya dengan pekemah lain dan jika dia keberatan, Pak D bisa memanggil orangtua Natan ke Perkemahan.

Itu juga jika Pak D berani.

Fakta kecil bodoh itu membuat senyuman terkembang di bibirnya.

Natan tidak sendirian lagi. Dia punya ayah, dia punya Thalia dan dia punya seisi Perkemahan sebagai saudaranya.

Natan tidak perlu menghadapi apa pun sendirian lagi karena semua orang di Perkemahan saling melindungi (tentu saja ini termasuk Kabin Ares).

“Aku akan meminta Zeus untuk melenyapkan rumah ini.” Hestia membelai kasur di bawahnya dengan lembut seolah berusaha menyerap semua memori yang ada di sana untuk dikenang selama hidup abadinya.

“Menurut saya tidak perlu.” Radit tersenyum. “Natan dan saya masih bisa kembali ke rumah ini suatu hari nanti. Dan Anda pun bisa.

“Tidak perlu terlalu keras pada diri Anda sendiri. Zeus pasti akan mengizinkan Anda menyimpan satu-dua cinderamata dari kerja keras Anda selama 20 tahun mengasuh Natan.”

Hestia tertawa serak. “Kau benar juga.” Bisiknya. “Dipikir-pikir lagi, aku juga tidak ingin juga rumah ini lenyap. Semua kenangan kami di sini. Segala sudut tempat ini memiliki kenangan.”

Dia menatap ke seluruh ruangan dan mendesah sendu, sedang tenggelam dalam kubangan kenangan bahagianya bersama Natan mungil.

“Saat Natan pertama kali belajar naik sepeda lalu dia menabrak dinding dan membuat bekas luka di pipinya itu.” Hestia tertawa. “Dia menolak masuk sekolah karena perban di pipinya membuat dia nampak, 'jelek seperti penjahat!'”

Radit mendapati dirinya tertawa bersama Hestia.

“Tapi dia tidak menyerah.” Hestia tersenyum. “Keesokan paginya dia kembali menaiki sepedanya dan mengayuhnya dengan penuh tekad. Alisnya berkerut, wajahnya berlipat-lipat menggemaskan. Dan akhirnya dia berhasil menundukkan sepeda roda tiganya.”

Radit tersenyum lebar; membayangkan Natan kecil dengan wajah penuh tekad menundukkan sepeda roda tiga yang membuatnya terluka.

Natan dan kekeraskepalaan serta tekad kuatnya.

“Maafkan aku.” Desah Hestia kemudian setelah tawanya reda. “Kau harus istirahat dan bicara tentang masa kecil Natan akan membuatmu terjaga hingga pagi.”

Radit menggeleng, mencegah Hestia bangkit. “Saya punya waktu sepanjang malam, Dewi.” Dia tersenyum brilian, secerah Apollo.

“Silakan bicara. Saya akan mendengarkan sepenuh hati.”

Hestia menatapnya, nampak ceria dan bahagia karena diizinkan bicara lalu berdiri dengan lincah. “Aku akan mengambil album foto Jonathan!” Katanya lalu meluncur keluar ruangan.

Radit tertawa.

Pesona Natan telah menyihir seluruh dunia tunduk di kakinya. Tidak lagi heran jika Zeus ternyata adalah ayahnya karena Zeus muda juga selalu punya bakat untuk membuat orang jatuh cinta padanya.

Hestia kembali dengan setumpuk album foto, wajahnya berkilau bersemangat dan Radit tahu malam ini dia akan mendengarkan seluruh aib masa kecil Natan yang bisa digunakannya untuk blackmailing.

Sementara sayup-sayup dari kamar Natan, mereka bisa mendengar suara berat Zeus sedang mengisahkan dongeng untuk Natan.

*

Apollo #245

*

Hestia bisa saja menjerit tapi toh dia membekap mulutnya sendiri menatap siapa yang berdiri di depan apartemen pribadinya di Olympus dengan wajah mendung yang begitu hebat. Dia kemudian berhasil mengendalikan dirinya, menyentuh dadanya yang berdebar kacau karena kaget dan menatap dewa agung yang berdiri di ambang pintu.

Hestia baru saja selesai mandi dan mengeringkan rambutnya saat pintu kamarnya diketuk, saat dia membukanya Zeus berdiri di sana nampak merana. Dengan buntalan kain mungil di tangannya yang kikuk; mata Hestia mengawasi buntalan itu dengan alis berkerut curiga.

“Tuanku, Zeus.” Katanya. “Apa yang membawa Tuan kemari?”

Zeus melirik lorong kamar sebelum menutup pintu kamar Hestia dan membuat dewi itu mundur selangkah dengan ketakutan. Menghabiskan hidup abadinya menjadi rebutan para dewa selalu membuatnya siaga terhadap tipu daya dan muslihat apalagi Zeus. Namun dia percaya Zeus akan melindunginya seperti bagaimana dia menengahi Poseidon dan Apollo yang memperebutkannya jutaan tahun lalu.

Dia menatap Zeus yang nampak muram. Dia jarang kelihatan senang tetapi bukan berarti kesedihan adalah emosi yang wajar terpampang di wajahnya. Maka Hestia mengerjap, memfokuskan dirinya pada pembicaraan mereka karena apa pun yang akan dikatakan Zeus pastilah penting.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” Tanyanya perlahan.

Zeus mendesah, memijat kepalanya dengan jemarinya. “Hestia, maukah kau membantuku?” Tanyanya, matanya berkabung seperti langit sebelum badai besar—gelap, mengancam dan seolah menahan jutaan liter air hujan yang siap jatuh kapan saja.

Zeus sedang terluka dan merana.

Raja Para Dewa tidak akan meminta bantuan jika dia tidak benar-benar terjebak. Dia mampu menghadapi Typhon sendirian, apa kiranya hal yang membuatnya mendatangi dewi seperti Hestia meminta pertolongan?

Hestia mulai merasa dia sebaiknya melakukan sesuatu untuk membantu Raja Para Dewa ini sebagai balasan atas setiap perlindungannya pada Hestia selama ini.

“Apa yang bisa saya bantu untuk Anda, Tuan?” Tanyanya perlahan.

Dan untuk membuatnya kaget, Zeus kemudian menguraikan buntalan kain biru di tangannya dengan lembut dan berhati-hati, yang sulit dilakukannya dengan jemarinya yang besar dan kasar sebagai seorang dewa.

Dan sebelum Hestia sempat bertanya, buntalan itu menangis.

Tidak sulit bagi Hestia untuk menyadari apa bantuan yang diinginkan Zeus dengan bayi yang menangis di tangannya dan dia yang begitu besar serta kikuk untuk mengurus manusia mungil yang lemah.

“Tolong.” Bisik Zeus, membuai buntalan itu di tangannya—nampak rikuh karena buntalan bayi itu bahkan tidak sebesar lengannya.

Benda itu terlihat ringkih dalam genggaman Zeus yang besar dan Hestia langsung merasakan dorongan untuk meraihnya, mengamankannya sehingga Zeus tidak bisa tidak sengaja meremukkan bayi itu.

Bayi itu merengek.

“Itu...?” Bisik Hestia, kebingungan namun kedua lengannya melakukan hal di luar kekuasaannya dengan terjulur untuk meraih buntalan kain lembut berwarna biru muda itu.

Zeus langsung meletakkan benda itu di cerukan lengan Hestia, nampak lega dia tidak harus menggenggam benda lembut itu di tangannya yang besar dan kasar. Dia menunduk, menatap wajah di balik kain lembut yang membungkusnya dengan sendu.

“Ibunya tidak menginginkannya.” Bisik Zeus masih tidak melepaskan tatapan dari bayi itu. “Dan aku tidak mungkin membawanya ke Perkemahan tanpa membuat Hera mengubahnya menjadi rumput.”

Hestia menatap Zeus. Otaknya bekerja dan menyadari bahwa bayi ini adalah demigod—satu dari tiga demigod yang seharusnya tidak lagi boleh dilahirkan. Zeus, Poseidon dan Hades sudah bersumpah mereka tidak akan menyiptakan demigod-demigod yang terlalu kuat.

Tapi mau bagaimana lagi, mereka tidak bersumpah demi sungai Styx. Dan Hestia bahkan ragu Styx bisa melakukan sesuatu pada Zeus.

Hestia melakukan kesalahan dengan menunduk, menatap seraut wajah mungil di dalam balutan kain halus itu dan langsung jatuh cinta. Bayi itu mungkin baru berusia satu bulan dengan kulit yang masih dihiasi ruam-ruam merah, kening yang berbintik dan ubun-ubunnya yang berdenyut lembek. Dia masih butuh perhatian yang luar biasa dari ibunya.

Bagaimana seseorang tega melepaskan diri dari bayi yang masih begitu lemah bahkan untuk mengangkat tangannya sendiri?

Hestia mendesah, hatinya langsung hangat oleh rasa cinta yang membuncah. Dia langsung menimang bayi itu dengan lembut, mengayunkannya dan membuatnya nyaman dalam pelukannya. Dia merunduk, menghirup aroma minyak telon dan bedak bayi yang kuat dari permukaan kulitnya dan tersenyum kecil.

“Lalu apa yang akan Tuan lakukan padanya?” Tanya Hestia, menyeka kain lembut dari wajah bayi itu dan mendongak menatap Zeus yang menunduk menatap bayi di pelukan Hestia—seperti seorang ayah yang merana karena paham dia tidak bisa menyentuh bayi itu tanpa meremukkannya.

Kedua tangan Zeus terkepal di sisinya. Dia menatap Hestia dengan matanya yang terluka. “Aku sudah menyiapkan segalanya untuk Jonathan, tapi aku butuh seseorang untuk membantuku mengurusnya. Karena... dia masih begitu mungil.”

Jonathan.

Hestia menunduk ke bayi di tangannya. “Namanya indah sekali.” Bisiknya lembut, tengah telunjuknya dia membelai pipinya yang tembam dan tersenyum saat bayi itu merespon sentuhannya dengan bibir yang terbuka memamerkan gusinya yang merah jambu.

“Maukah kau...” Zeus menatap Hestia yang masih sibuk mengagumi keindahan fisik bayi di pelukannya. “Maukah kau menjadi neneknya? Menemaninya hingga cukup dewasa untuk hidup sendiri? Agar Hera tidak menemukannya.”

Hestia mendongak dari Jonathan di pelukannya, menatap Zeus yang wajahnya berkerut-kerut hebat oleh kesedihan, patah hati dan penolakan.

Tidak banyak dewa dan makhluk fana yang melihat duka di wajah Zeus yang congkak dan angkuh. Namun Hestia melihatnya; luka yang berdarah. Dan korban yang merengek di pelukannya, bahkan belum bisa membuka matanya dengan sempurna.

Bayi ini akan mati jika tidak ada yang mengurusnya. Dan mengingat sejarah Zeus dan bayi (satunya melibatkan kehamilan di paha dan lainnya melibatkan tengkorak yang dibuka), Hestia memilih untuk setuju.

“Tuanku,” katanya dengan Jonathan menggeliat di pelukannya. “Saya akan melakukannya.”

Dan ekspresi wajah Zeus berubah, seperti langit cerah setelah malam badai—matahari yang terbit, embun-embun yang menetes di dedaunan dan sinar-sinarnya yang menembus awan-awan kelabu.

Senyuman Zeus nyaris seindah sinar itu.

Dan dimulailah petualangan Hestia menjadi seorang nenek bagi demigod paling kuat.

*

Hestia baru saja membaringkan Jonathan di ranjang kecilnya, mendesah karena cinta yang semakin hari semakin tumbuh liar di hatinya. Menjerat organnya seperti tanaman ivy dan membuatnya sesak. Bukan berarti Hestia keberatan; dia merasakan cintanya untuk Jonathan tumbuh dan tumbuh terus setiap hari bersama tiap tarika napas Jonathan, tiap debar jantung mungilnya dan tiap rengekan dan tangisnya yang menyakitkan telinga.

Hestia menikmati perannya sebagai ibu untuk Jonathan. Bayi manis yang lugu, tersenyum lebar memamerkan gigi barunya yang gatal sebelum memasukkan tangan ke mulutnya dan mengunyahnya dengan liur menetes ke mana-mana.

Dia menumpukan kedua lengannya di pinggiran ranjang, menatap Jonathan yang baru saja genap 1 tahun kemarin. Giginya mulai tumbuh dengan menggemaskan, rambutnya memanjang dan dia sehat sekali.

Hestia mengganti ASI yang seharusnya didapatkannya dari ibunya dengan susu kambing seperti bagaimana mereka membesarkan Zeus berjuta tahun lalu dan berharap dengan tulus ibu kandung Jonathan sedang teriksa dengan payudara bengkak dan nyeri karena tidak menyusui putranya di mana pun dia berada karena dia layak mendapatkan rasa sakit itu.

Sekarang Jonathan sudah bisa makan MPASI. Buah-buahan lunak, bubur bayi dan susu formula. Hestia mulai merasa pekerjaannya sedikit meringan, setidaknya dia tidak harus mengurus susu kambing lagi.

Dalam rahasia ini, Zeus sudah menyumpah Hermes menjadi kurir barang-barang ajaib yang mungkin dibutuhkan Jontahan (contoh: susu kambing) dan Hermes melakukan sumpah demi sungai Styx demi menjaga kerahasiaan ini walaupun dia mengeluh karena mencari susu kambing murni itu sulit sekali.

“Harganya mahal sekali!” Keluhnya namun tidak melepaskan Jonathan dari pelukannya, menimangnya dengan ceria. “Kau tahu seberapa sulit aku mendapatkannya, Hestia??”

Hestia memutar bola matanya. “Ya, ya. Terima kasih, Hermes. Tolong letakkan Jonathan, dia tidak suka jika ada orang dewasa yang menaikkan suara di depannya.”

“Oh?” Hermes mengerjap kaget oleh fakta itu, kemudian menunduk pada bayi yang menatapnya penasaran dengan kedua bola matanya yang bulat dan bening. “Maafkan aku, Sayang.” Bisiknya lembut lalu menyapukan hidungnya pada pipi Jonathan yang terkikik ceria. “Demi Styx, dia lucu sekali.”

Zeus memberikan Hestia rumah di sudut Indonesia, rumah mungil yang terpencil dengan jalan raya di hadapannya. Taman yang indah dan akses menuju tempat perbelanjaan yang mudah. Hestia sudah menghabiskan banyak waktu di sini, mengurus Jonathan yang semakin hari semakin cerewet.

Sehat dan menggemaskan, mustahil untuk tidak jatuh cinta pada wajah bulat dan gigi kelincinya.

Hestia sedang mendendangkan lagu lembut, meninabobokan Jonathan mungil di atas ranjang saat ketukan terdengar dari pintu depannya. Dia mendongak, menoleh ke arah ruang tengah dan mendesah. Dia berdiri, menyeka pakaiannya dan mempersiapkan diri.

Jika ini manusia iseng, dia akan mengubahnya menjadi pohon mangga yang berbuah ranum sepanjang tahun.

Dia melangkah ke pintu, mengintip dari jendela di sisinya dan terkesirap melihat siapa yang berdiri di teras rumahnya. Hestia bergegas membuka selot dan kunci ganda pintunya dengan suara gemericing anak kunci. Menyentakkan benda itu terbuka dan berhadapan dengan Zeus.

“Tuanku!” Bisiknya kaget. “Kenapa Anda...?”

“Aku harus melihat putraku.” Sahut Zeus, beraroma tajam seperti awan badai yang beringas hingga reaksi pertama Hestia adalah mundur dari hadapannya dan membiarkan Zeus memasuki ruangan.

“Tapi, Hera...?” Bisik Hestia kemudian, mengunci pintu rumahnya setelah memastikan tidak ada manusia yang melihat Zeus memasuki ruangan. “Anda meletakkan Jonathan dalam bahaya jika Anda muncul di sini, Tuan. Segala usaha kita akan sia—!”

“Hestia, tolong.”

Hestia langsung menutup mulutnya. Zeus di hadapannya menepis kotoran di tubuhnya, mewujud dalam pakaian yang bersih dan lembut sebelum beranjak ke kamar Jonathan. Dewi itu bergegas menyusul Zeus ke kamar Jonathan yang sudah remang-remang karena bayi itu sudah kelelahan setelah belajar berdiri di keretanya yang berbisik dan jatuh tertidur beberapa jam lalu.

Zeus berdiri di sisi ranjang, kehadiran dan auranya begitu agung bahkan dalam wujud manusianya. Dia memenuhi ruangan itu dengan tubuhnya, citranya dan kuasanya sehingga Hestia mundur ke pintu., membiarkan Zeus berdiri di sisi anaknya.

Dia menunduk ke wajah Jonathan yang serupa bulan purnama. Zeus mengulurkan tangannya yang besar, dengan ujung kelingkingnya dia menyentuh pipi lembut Jonathan yang terasa seperti mentega meleleh.

Bayi itu berdecak lalu mengigau, merasakan sentuhan itu dan Zeus tersenyum.

“Dia sehat.” Hestia berbisik, tersenyum menatap permata yang mereka berdua kagumi di atas ranjang. Bersinar nyaris secerah matahari tiap kali dia tersenyum atau tertawa. Mengguncangkan langit seperti badai saat dia menangis.

“Ya.” Zeus menjawab, dia mendudukkan diri di kursi yang tadi digunakan Hestia lalu menumpukan dagunya di pinggiran ranjang. “Dia sehat sekali.” Dia masih menggunakan kelingkingnya untuk menganggu tidur Jonathan.

Bayi itu mengeluh samar, menangkap benda yang menganggunya lalu menggenggamnya erat. Menggenggam kelingking Zeus dalam tangan bayinya yang montok dan merah jambu.

Zeus tersenyum. “Jonathan,” bisiknya dengan nada takzim seolah sedang memuja sesuatu yang lebih hebat darinya. Dia menggoyang-goyangkan jemarinya yang digenggam Jonathan dengan lembut. “You're my world, you're my everything. I won't let anyone hurt you.”

Keheningan menyelimuti mereka, membiarkan keduanya mengagumi keindahan rapuh manusia setengah fana di ranjang yang mereka pandangi dengan napas tertahan seolah suara sekecil apa pun akan membuat Jonathan menguap.

“Hestia?” Bisik Zeus, masih menatap anaknya. Tidak melepaskan tatapannya sama sekali dari wajah Jonathan yang lelap di atas selimutnya.

“Ya, Tuanku?”

“Jika dia mulai berkencan, aku harus tahu siapa pacarnya.”

Hestia tertawa. “Baiklah, Tuan.” Katanya lalu menamahkan dengan iseng, “Tapi tidakkah Anda mengkhawatirkan hal yang 18 tahun terlalu cepat?”

“Waktu itu konsep yang tidak pasti, Hestia.” Zeus menatap Jonathan yang lelap kembali.

“Untuk seseorang seperti kita, satu kedipan matamu mungkin adalah sepuluh tahun Jonathan. Kita akan mendapatinya dewasa sebelum kita bahkan siap.”

*

Zeus benar.

Begitulah yang dipikirkan Hestia saat dia duduk di kursi orangtua di sekolah Jonathan. Menatap pemuda yang bersinar di jajaran wisudawan lulusan SMA negeri favorit yang menjadi pilihannya beberapa tahun silam.

Jonathan tumbuh seperti seorang Zeus muda; bersinar, lincah, jenaka dan tampan. Dia bisa membuat siapa saja jatuh cinta padanya hanya dengan tersenyum, melemparkan guyonan cerdas yang menyihir hati orang-orang. Dia menguasai ruangan dengan auranya yang nyaris seagung ayahnya.

Namun dia tidak tahu.

Hestia selalu memastikan Jonathan jauh dari identitas aslinya sebagai seorang demigod. Dia selalu berhasil menjauhkan Jonathan dari bahaya dan bersinggungan dengan hal-hal berbau Yunani. Hermes juga selalu membantunya untuk meniupkan Kabut lebih tebal bagi Jonathan tiap kali dia mungkin berpapasan dengan hal Yunani.

Seperti perhitungan Zeus, hidup di Indonesia membuat aroma tubuh Jonathan samar. Dia putra Zeus, aroma tubuhnya seharusnya jauh lebih legit bagi para monster namun dengan buruknya sistem pembuangan sampah di negara ini, Jonathan hanya beraroma seperti manusia biasa.

Hestia sendiri sering mengalami kesulitan karena tertipu aroma sampah basah dan menyangka ada monster yang sedang mengintai rumah mereka, sudah memakai wujud abadinya namun ternyata hanya menemukan sekantung sampah busuk yang menyebalkan.

Dia tidak bisa tidak memikirkan fakta bahwa dia tahu ada seorang demigod juga di Indonesia ini (setidaknya yang dia ketahui dan kenal).

Putra Apollo, Raditya. Pemuda menarik yang sopan sekali padanya setiap mereka bertemu di Perkemahan. Dia selalu memanggil Hestia bibi, mempersembahkan sepotong makanan juga untuknya sebelum makan setelah mempersembahkan untuk ayahnya. Dia tangkas, selalu melakukan perintah-perintah Hera dan Aphrodite yang bosan dengan baik.

Jika ada yang bisa menjaga Jonathan, Raditya-lah orangnya.

Tetapi Hestia tidak menyuarakan pikirannya ini pada Zeus. Mengingat seberapa banyak usaha Zeus untuk menjauhkan Jonathan dari kehidupan Yunani-nya, mungkin menjodohkannya dengan demigod bukanlah hal yang sangat diinginkan Zeus.

Apalagi putra Apollo yang selama ini selalu jadi duri dalam daging baginya (“Ayah kau tahu tidak sekarang mereka punya yang namanya celana jins? Kau sangat tidak bergaya.” Dan Hestia yakin hanya butuh beberapa waktu saja sebelum Apollo dilempar ke Bumi seperti Dionysus.)

Belum lagi keadaan Olympus sedang tidak baik belakangan ini karena Kronos yang berusaha bangkit kembali dan kemunculan putra Poseidon, Hades dan Zeus yang lain membuat semua orang merasa dikhianati. Dan menilik usia putra Poseidon yang jauh lebih muda, Hestia yakin Jonathan sebaiknya disembunyikan dari kekacauan itu—dijauhkan dari Ramalan Besar.

Hestia mengusir Jonathan menjauh darinya dengan memintanya bersekolah di luar kabupaten tempat mereka bersembunyi. Berharap hal itu bisa menjauhkan Jonathan dari aroma tubuhnya sebagai dewi dan memberikannya waktu untuk pulang ke Olympus membantu saudara-saudaranya menghadapi amukan Kronos.

Sekarang mereka sedang membenahi diri, Perkemahan sedang membenahi diri dan Zeus disibukkan dengan pembangunan ulang istana untuk memikirkan anaknya. Maka Hestia memutuskan masalah perjodohan mungkin bisa ditunda.

Jonathan menaiki podium, menerima ijazah dan tanda mata kelulusannya dan tersenyum lebar saat namanya dipanggil. Dia menemukan mata Hestia di kerumunan dan tersenyum semakin lebar.

Bayi mungil yang merengek setiap malam, membuat Hestia kurang tidur dan kelelahan (mengejutkan karena dia seorang dewi) kini sudah berdiri di atas kakinya sendiri; muda, vital dan cemerlang. Zeus muda yang tangkas dan menarik. Dia bisa membuat siapa saja berlutut di kakinya karena pesonannya yang menyilaukan.

Hestia melambaikan ciuman ke arahnya dan Jonathan tertawa.

Dia senang dia memutuskan untuk membantu Zeus mengurus anak ini. Karena dia tumbuh menjadi seseorang yang menakjubkan, berhati hangat dan menyenangkan.

Hestia sudah melakukan yang terbaik.

*

“Aku tidak kenal siapa ibumu, maaf. Aku bahkan tidak tahu wajahnya.” Kata Hestia pada Jonathan dewasa yang sekarang duduk di hadapannya, menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

“Zeus tidak memberitahuku siapa dia.”

Suasana rumah hening kecuali suara Radit yang sedang mandi di kamar mandi seraya bernyanyi lembut. Natan mendengarkan cerita Hestia dengan tenang, mencerna semua masa kecilnya yang aneh perlahan.

Memikirkan bagaimana bisa Zeus sungguh meluangkan banyak waktunya untuk mengurusnya, turun ke Bumi untuk menjenguknya. Memberkatinya dengan perlindungan yang membuatnya tetap terjaga dari kesibukan demigod di Perkemahan Blasteran.

Tentu saja tidak ada yang tahu siapa ibunya kecuali Zeus. Dan dia selalu menjaga Natan jauh-jauh dari ibu kandungnya. Natan mendapati dirinya bersyukur Zeus melakukannya karena dia tidak yakin apa yang harus dilakukannya jika bertemu perempuan yang adalah ibu kandungnya dan juga orang yang menyingkirkannya secepat apa yang dia mampu.

Seperti membuang bungkus makanan.

Natan yakin dia tidak ingin bertemu ibunya jika begitu.

“Dia menyayangimu. Zeus.” Hestia meraih tangan Natan, meletakkannya di telapak tangannya lalu meremasnya. “Kau bayi kami.” Dia menatap Natan lembut.

“Kau selalu menangis tiap kali dia pergi padahal kau selalu tidur saat dia datang. Kapan saja dia melangkah keluar dari pintu, kau akan menjerit dengan seluruh udara di paru-parumu yang mungil.”

“Instingmu mungkin sudah menyadarinya sebelum dirimu sendiri.” Hestia tersenyum. “Hera tidak perlu dipikirkan,” tambahnya kemudian. “Zeus sudah memintanya bersumpah untuk tidak menganggu siapa-siapa lagi dan menghukumnya. Jadi kurasa, kuasa Zeus cukup kuat untuk menahannya.

“Dan Ares sudah memiliki video saat kau mengatainya persis di depan mangkuk saladnya dan siap mengunggahnya kapan saja Hera bertingkah. Jadi, kau aman.” Hestia tertawa serak.

“Kenapa?” Bisik Natan kemudian dan Hestia berhenti tertawa.

“Ya, Sayang?” Tanyanya menatap Natan penuh kasih.

“Kenapa Anda... berkenan melakukannya? Menjadi manusia yang terbatas untuk mengurus saya?”

Hestia menatap wajah Natan, menatap setiap lekuk dan gurat usia yang terbit di permukaannya seiring dengan perkembangan Natan menjadi seorang pemuda yang beranjak dewasa.

Separo hatinya tidak ikhlas melihatnya, dia ingin Natan tetap menjadi bayi mungil yang merengek di pelukannya. Di dalam balutan kain biru lembut pertama kali Zeus membawanya ke hadapannya. Jemari mungilnya yang menangkap tangan Hestia lalu mengenggam kelingkingnya dengan erat tiap kali Hestia menyuapinya dengan makanan dan susu.

“Pertama kali Zeus membawamu,” Hestia tersenyum. “Kau sudah mencuri hatiku. Cinta itulah yang membuatku berani, membuatku bahagia dan kuat. Kau membuatku berani, bahagia dan kuat.

“Tidak sulit untuk jatuh cinta padamu,” dia tertawa lalu melirik Radit yang keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepalanya yang basah.

“Kau bisa tanya Raditya.” Kata Hestia.

Radit mendongak, “Anda memanggil saya?” Tanyanya menatap Hestia dan Natan yang duduk berhadapan dengan aura pekat yang menyatakan bahwa mereka baru saja membicarakan hal berat.

“Tidak sulit untuk jatuh cinta pada Jonathan, benar?” Hestia berbisik dengan lembut, dengan nada takzim yang membuat Radit merinding.

Radit tertawa, teringat bagaimana dirinya saat pertama kali bertemu Natan dan langsung terjun bebas dalam pesonanya tanpa report-repot bersikap malu. Bagaimana hatinya memberat saat dia menyadari dia mungkin kehilangan Natan saat pemuda itu jatuh dari cengkraman Kampe mendarat di punggung Chiron dan ketakutan itu membuat punggungnya terasa seperti disiram air dingin.

Tentu saja tidak sulit jatuh cinta pada pemuda seperti Jonthan. Siapa yang bisa menolak kharisma putra Zeus-nya yang menyihir?

“Sama sekali tidak.” Sahutnya setuju.

*

Apollo #243

*

Mereka akhirnya tiba di rumah Natan, di kawasan Manisrenggo yang tidak jauh dari Candi Prambanan. Rumah itu berdiri sendirian di pinggir jalan dengan halaman yang dipenuhi tumbuhan dan bebungaan tropis yang sedang mekar. Udara di kawasan ini terasa jauh lebih ringan dari udara Yogyakarta dan Radit mendapati dirinya menghela napas dalam-dalam saat mereka keluar dari mobil.

Rumah itu kecil memanjang dengan seperangkat meja di teras depan, pohon mangga pendek yang mulai berbunga dan mengundang banyak lebah-lebah mungil di halaman dengan rumput yang dipangkas rapi nyaris seperti karpet empuk yang nyaman.

Mungkin Hestia meminta sedikit berkat Demeter untuk membuat tamannya nampak secantik ini—Hestia, 'kan, kesayangan semua orang.

Natan menutup pintu mobil dengan tangan kirinya yang juga mengenggam tali tas dan ponselnya, sementara tangan kanannya sibuk menjejalkan ubi Cilembu yang dibelinya di jalan ke mulutnya yang belakangan ini seperti mesin penghancur makanan yang selalu bergerak.

Tadi saat mereka melewati titik macet yang sudah mulai terurai di bekas Bandara Adisucipto, Natan sudah mewanti-wanti Radit bahwa dia ingin ubi Cilembu maka Radit menepi di satu-satunya penjual ubi Cilembu di jalan itu dan membelikan putra mahkota keinginannya.

“Kemarikan.” Keluh Radit meraih ponsel dan tas Natan dengan senyuman geli di bibirnya. Pemuda itu kemudian nampak senang karena bisa kembali menggunakan kedua tangannya untuk mengupas kulit ubi dan menyuapnya.

“Oma!” Serunya ke dalam rumah yang pintunya terbuka dengan mulut sibuk mengunyah ubi manis yang legit—Radit pribadi tidak terlalu suka rasanya yang terlalu manis, membuat tenggorokannya sakit tapi Natan sangat menikmatinya.

Radit sejenak menahan napas saat menatap Natan yang membuka sepatu dengan ujung kakinya di depan teras, masih sibuk mengupas ubi yang dimakannya saat pintu terbuka dan Radit memohon menyebut nama Hestia keras-keras di dalam hati agar dia mewujud dalam wujud nenek Natan alih-alih wujud manusianya yang biasa.

Dan benar.

Kekhawatiran Radit ternyata tidak beralasan karena yang keluar dari pintu adalah sosok perempuan tua enerjik yang beraroma lembut bedak bayi. Hestia memilih wujud manusia istimewanya untuk muncul. Natan langsung menghampirinya, mungkin merasa nyaman sekarang karena Hestia mewujud sebagai neneknya, mencium pipinya dan memeluknya.

Kemudian dia mendesah. “Saya memaafkan dewi Hestia hanya karena Anda adalah Oma.” Katanya di rambut Hestia yang tebal dan keperakan.

“Sungguh?” Balas Hestia lembut. “Senangnya.” Dia memeluk Natan lebih erat lagi dan memejamkan matanya, seolah inilah pertama kalinya dia memeluk Natan. Nyaris seperti anaknya sendiri.

Terkadang Radit bingung mengapa Hera yang menjadi dewi pernikahan dan keibuan hal-hal baik hati lainnya sementara dia juga yang bersikap menyebalkan pada semua keturunan Zeus (yang berarti setengah isi mitologi Yunani) sedangkan Hestia dengan segala kelembutannya ini hanya menjadi dewi perapian.

Dialah yang seharusnya menjadi dewi keibuan.

“Dan aku memasakanmu makanan kesukaanmu hari ini. Sayur asem dan ikan.” Hestia melepaskan pelukan mereka nyaris berjuta tahun kemudian, meremas bahu Natan menatapnya dengan penuh sayang hingga Radit merasa malu sedang berdiri di sana seperti seorang penyusup dalam acara intim keluarga.

“Kau lapar? Kenapa kau datang sore sekali?” Tanya Hestia lalu kemudian baru menyadari Radit yang berdiri kikuk beberapa meter dari mereka. “Ah, R. Putra Apollo, maafkan aku.” Bisiknya kemudian mengulurkan tangan, mengubur Radit dalam pelukan yang sama hangat dan menenangkannya.

Seluruh saraf Radit mengendur, merileks dalam sentuhan Hestia yang hangat. Aromanya seperti rumah yang familiar dengan seluruh inderanya, lembut aroma bedak bayi dan juga samponya membuat Radit ingin memeluknya lama-lama, persis seperti Natan.

Namun Hestia juga menguraikan pelukannya. “Ayo makan.” Katanya tersenyum. “Menginaplah di sini, R. Kau bisa gunakan pakaian Natan. Ada banyak.” Dia kemudian beranjak masuk.

Rumah itu beraroma seperti nektar dan ambrosia yang lembut dan nyaris memabukkan. Hestia langsung menghampiri dapur yang beraroma tajam rempah hingga Radit berpikir dari mana dewi itu belajar memasak makanan Indonesia? Namun melirik jajaran foto Natan yang dipajang dalam bingkai dari bayi hingga foto terakhirnya sebelum masuk kuliah, Radit oaham betapa Hestia sangat menyayangi putra Zeus satu ini.

Hingga dia rela melepaskan segala keabadiannya, segala fasilitas yang didapatkannya di Olympus dan hidup sebagai fana mengurus bayi dari usia Natan baru satu tahun.

Apa lagi motifnya jika bukan cinta dan kasih? Bagaimana dia menatap Natan saat pemuda itu menghampirinya seperti seekor anak anjing menggemaskan, meletakkan sisa ubi Cilembu-nya di meja sementara Hestia menyelesaikan masakannya dan bagaimana Natan menempel padanya seperti kucing manja membuat Radit tersentuh.

Dia pernah punya ibu sebelum beliau meninggal, Apollo juga sering mewujudkan diri sebagai ayahnya pada masa kecilnya—memastikan dirinya menjadi sosok ayah yang akan Radit ingat selamanya. Dia pernah memiliki keluarga utuh yang hangat dengan makanan buatan rumah tersaji di atas meja makan dan segalanya.

Namun Natan tidak.

Jadi Radit berpikir, mungkin Hestia pun adalah kemewahan untuk Natan. Jadi seberapa parah pun luka yang disebabkan oleh kebohongan Hestia, Natan tidak bisa melepaskan diri dari ikatan yang telah terjalin selama bertahun-tahun.

Mungkin dia juga sudah tidak terlalu mempermasalahkan bahwa neneknya ternyata seorang dewi abadi yang keibuan dan lembut, paling tidak pernah membuat masalah di kisah Yunani.

Radit menatap jajaran bingkai foto di ruang tengah, tersenyum lebar melihat senyuman Natan yang sudah begitu ikonik sejak dia bayi—termasuk gigi kelincinya yang sekarang tidak lagi terlalu besar seiring pertumbuhannya. Mata Natan bulat dan cemerlang, seperti bintang.

Tidak ada foto orangtua Natan sama sekali di sana—bahkan tidak ibu fananya. Radit menyadari fakta ini dengan sedikit tidak nyaman. Sebegitu tidak diinginkannya-kah Natan hingga bahkan hati manusia pun tidak tersentuh oleh kehadirannya?

Manusia benar-benar menakjubkan. Mereka dan emosi-emosi ajaib mereka. Ketidakpedulian mereka.

Namun Hestia selalu di dalam foto.

Tersenyum pada Natan, tangannya membantu Natan berdiri di langkah pertamanya, menggendong Natan. Ada di sisi Natan di Taman Kanak-Kanak, merasakan kehadirannya di foto Natan dalam balutan seragam SD yang kebesaran dan wajah memberengut sebal dengan bekas luka menganggu di sisi wajahnya yang disadari Radit masih ada hingga sekarang.

Dia juga ada di sana, di foto bersama Natan. Pemuda itu mungkin 14 tahun, duduk di sandaran lengan sofa dengan Hestia di sofa—tersenyum lebar ke kamera dengan tangan Natan di bahunya, digenggam erat.

Ikatan kekeluargaan yang begitu erat itu adalah pisau bermata dua untuk Natan. Sekarang Radit merasakan nyeri di dadanya untuk Natan saat pertama kali menyadari bahwa neneknya adalah Hestia namun juga kebimbangannya harus kehilangan satu-satunya rumah, tempat dia kembali pulang.

“Puas mengamati foto-foto lamaku?”

Radit mengerjap di depan foto wisuda SMA Natan—baik Hestia dan Natan tersenyum lebar ke kamera hingga Radit yakin pipi mereka pasti sakit saat melakukannya.

“Kau memang tampan sejak lahir.” Radit mengangguk-angguk seolah sedang memandangi lukisan kenamaan dengan jemari di dagunya. “Gen Zeus memang tidak main-main.”

Natan yang sekarang mengunyah kerupuk udang nyaris sebesar wajahnya berdecak dengan suara kriuk-kriuk nyaring kerupuknya. “Aku memang tampan. Tidak ada hubungannya dengan orangtuaku.” Gerutunya, menjejalkan kerupuk ke mulutnya.

Baiklaaah.” Sahut Radit geli tentang Natan tidak kunjung juga menerima fakta bahwa dia adalah putra Zeus, dia adalah bagian dari Perkemahan. Namun Radit memberikannya waktu untuk memikirkannya, butuh waktu tentu saja.

“Jangan terlalu banyak mengemil.” Tegur Hestia dan Radit mencium aroma ikan goreng rempah kuning yang lezat dan mendesah.

“Dewi Hestia, masakan Anda nampak lezat sekali.” Pujinya tulus, beranjak ke dapur di belakang rumah dengan Natan di sisinya, memeluk setoples kerupuk dan menjejalkan isinya ke mulut.

“Tolong, Oma saja.” Hestia tersenyum dan menarik tudung saji di meja terbuka—ada semangkuk sayur asam segar yang mengundang saliva, sambal terasi yang harum dan juga tempe-tahu yang hangat.

Radit mendesah panjang. Makanan rumah, kemewahan yang selalu dirindukan setiap mahasiswa rantauan di seluruh dunia. Sentuhan tangan keluarga di makanan itu, aroma rumah, lauk tidak terbatas, nasi sebebasnya dan tidak perlu membayar setelahnya. Di sebelahnya, Natan juga merasakan ledakan emosional yang sama karena dia berhenti mengunyah kerupuknya.

“Anda fasih sekali memasak makanan Indonesia.” Puji Radit lagi, meraih sepotong tempe dan menyuapnya—mendesah saat merasakan ledakan aroma harum dan gurih bawang putih di bumbu rendamannya.

“Aku mengurus Jonathan nyaris dua puluh satu tahun sekarang, tentu saja aku fasih.” Hestia tersenyum ke ikan yang sedang digorengnya dengan tekun. “Bahasa Indonesiaku jauh lebih keren dari ayahmu, 'kan?”

Radit mengangguk serius. “Manusia mana yang masih menggunakan kata 'dikau' di tahun 2020.”

Hestia tertawa. “Apollo hanya gemar membuat dirinya terdengar puitis.” Dia mengangkat ikan di wajan lalu meniriskan sisa minyaknya di mangkuk di sisi kompor.

“Berhenti makan kerupuk.” Deliknya pada Natan yang langsung meletakkan stoplesnya di meja dan menutupnya. “Cuci tanganmu lalu mari makan. Setelahnya kau boleh mandi dan kita bicara.”

Radit bangkit dari kursinya dengan mulut penuh tempe goreng dan mencuci tangannya di kran tempat cuci piring bersebelahan dengan Natan yang juga masih mengunyah kerupuk dengan suara kriuk-kriuk nyaringnya.

Hestia berdiri di belakang mereka, tersenyum. “Kalian seperti bayi besar.” Desahnya lalu duduk di kepala meja, mulai membuka rice cooker di meja dan mulai mengisi piring yang diletakkannya di depan Natan yang tersenyum lebar.

“Terima kasih, Oma.” Dia tersenyum dan membenahi duduknya, menerima nasi dan juga Hestia yang bergegas mengambilkan potongan ikan terbaiknya untuk diletakkan di piring Natan.

Radit tersenyum melihat gestur itu. Seberapa manusianya seorang dewi Yunani bisa menjadi? Hestia.

Dia nampak seolah dia bisa saja menghadapi Typhon sendirian demi menyelamatkan Natan, sungguh. Dewi itu menyendokkan Radit juga.

“Kau makan dengan porsi yang sama dengan Natan?” Tanyanya.

Radit melirik piring Natan dan kekasihnya yang sedang mengunyah ekor ikan goreng—bagian kesukaannya karena paling gurih dan renyah. “Ditambah satu sendok lagi.” Ringisnya dan Hestia melakukannya dengan senyuman keibuan di bibirnya.

“Aku suka memberi makan pemuda-pemuda sehat seperti kalian.” Desahnya lalu meletakkan makanan di depan Radit yang berterima kasih.

Setelah makan, Natan pamit untuk mandi duluan dan menyiapkan baju yang bisa digunakan Radit untuk menginap malam ini di rumahnya dan mereka akan kembali ke Yogyakarta besok pagi jam delapan karena Natan punya kelas jam sebelas.

“Anda sangat menikmati menjadi manusia.” Radit berkata pada Hestia saat mereka berdua duduk di ruang tengah tanpa Natan yang sedang bernyanyi ceria di kamar mandi. “Anda fasih sekali dengan segala kegiatan manusia ini.”

Hestia tertawa renyah. “Tidak juga.” Katanya tersenyum. “Kadang aku hanya menggunakan kedewataanku saja, tapi karena Natan akan pulang aku mengkhususkan hari ini untuk memasak.”

Dia menatap ke sekitar rumah dengan sendu. “Tiap kali Natan berangkat ke Yogyakarta rasanya berat sekali, aku tidak suka sendirian. Maka saat dia berangkat, aku kembali ke Olympus bersama Apollo atau Hermes. Mengawasinya dari sisi perapianku di Olympus dan bergegas pulang tiap kali dia nampak akan pulang.

“Rumah ini adalah Natan.” Dia menatap foto-foto Natan yang tersebar nyaris di semua sudut rumah. “Maka saat dia tidak ada, tidak ada gunanya untuk tetap di sini.” Hestia tersenyum padanya. “Menjalankan peran menjadi perempuan tua tidak sulit kok.”

Radit tertawa. “Aphrodite tidak akan sudi melakukannya.”

Hestia menimpali tawanya.

Tidak heran jika Zeus memilih Hestia menjadi penjaga anaknya. Dia merupakan dewi paling manis, paling hangat dan paling ramah. Tidak pernah terlalu menyolok sehingga saat dia lenyap bertahun-tahun mungkin tidak ada yang menyadarinya. Tidak ada yang bisa melakukan tugas menjadi nenek manusia sebaik Hestia melakukannya.

“Tapi saya penasaran.” Kata Radit kemudian perlahan, memastikan Natan masih sibuk dengan mandinya lalu merendahkan suaranya. “Bagaimana... Hera tahu tentang Natan?”

Hestia menatapnya dan untuk pertama kalinya, nampak marah dan jengkel. Radit mundur dari ekspresi itu, mata Hestia berkilat dengan emosi yang nampak asing sekali di wajahnya hingga Radit mendesah dalam hati—Hera dan bakat luar biasa alaminya untuk dibenci semua perempuan.

Bagaimana bisa dia jadi dewi pernikahan?

“Mungkin itu kesalahanku juga.” Hestia mendesah, menyesap tehnya yang harum dengan campuran nektar. “Aku sedang buru-buru untuk kembali ke rumah, berusaha menghubungi Hermes yang kebetulan sedang di Mesir untuk mengantarku ke Indonesia.”

“Kurasa dia mendengarku. Dia sedang makan Nutela dengan sendok di dapur, bersandar di konter dapur saat aku melewatinya dan dia mendengarku di ponsel dengan Hermes berdebat mengenai lalu-lintas lalu bertanya, 'Apa yang kaulakukan di Indonesia? Berlibur?'

“Aku tidak ingat apa yang kukatakan tapi kemudian aku menyadari dengan terlambat bahwa Hera mengawasi ke mana aku pergi dari Olympus. Dia mengawasiku dan mengetahui bahwa aku menjaga Natan di sini.

“Lalu dalam makan malam kami seminggu kemudian saat aku pulang ke Olympus karena Natan sudah mulai kuliah kembali, dia menjebakku dan Zeus.”

*

“Apollo?” Kata Hera menusuk beberapa sayuran dengan garpunya dan menyuapnya dengan tenang.

Mereka sedang menikmati makan malam damai seperti biasa tiap kali semua orang di rumah yang adalah hal langka mengingat betapa sibuknya Hermes dan betapa segannya Hades berkunjung ke Olympus membawa aura gelapnya yang selalu sedih, membuat semua orang mengernyitkan wajah menjaga jarak darinya.

“Apa?” Tanya Apollo, mendongak dari makanannya menatap Hera di ujung meja makan.

Tidak sering ada dewa yang saling bicara saat makan, semuanya cenderung sibuk dengan makanan atau khusus Ares, sibuk mengecek sosial medianya dan Aphordite yang memandangi refleksi dirinya di cermin mungil yang disandarkannya di piala minumnya.

Dia biasa melakukannya kok. Jika kau punya wajah seindah Aphrodite kau pasti ingin terus menandanginya, memastikan tidak ada setitik noda pun yang merusak keindahannya.

“Anakmu itu...,” Hera memulai dengan perlahan dan Hestia mulai menajamkan pendengarannya, dia berusaha keras untuk mempertahankan ekspresi tenangnya dan menyuap makanannya.

Dia melirik Zeus yang juga menegang di kursinya namun dia jauh lebih natural dalam menyikapi permainan istrinya. Namun bahunya mengencang dan dia sejenak berhenti makan, meneguk airnya dengan kikuk sebelum kembali nampak tenang.

Mungkin karena sudah biasa melakukannya—membohongi Hera maksudnya.

“Tinggal di Indonesia, 'kan?” Hera menyuap potongan buah zaitun di saladnya dan mengunyahnya perlahan, membiarkan kalimatnya barusan melayang di atas meja makan. “Siapa namanya, aku lupa?”

Apollo memutar bola matanya, tidak terlalu menanggapi serius kata-kata Hera. Dia mungkin hanya bersikap sopan, merasa harus bertanya pada orang di meja makan padahal dia bisa saja diam dan makan saja makanan kambingnya yang sehat itu.

“Raditya.” Kata Apollo, menyuap daging kalkunnya yang ranum, mengunyahnya dengan khidmat sebelum menambahkan. “Artinya matahari, nama dari ibunya. Kami semua memanggilnya R.”

Hera mengangguk-angguk ke saladnya, mengaduk-aduknya dengan garpu keemasan di tangannya. “I wonder... Whose children are also in Indonesia.” Katanya kemudian dan Hestia melakukan kesalahan fatal dengan mencicit kaget.

Hera langsung menyambarnya. “Ada apa, Hestia?” Tanyanya semanis madu dan di kepala meja, Zeus berusaha keras mempertahankan poker face terbaiknya, menjejalkan makanan ke mulutnya agar tidak bereaksi pada umpan Hera.

“Aku tidak sengaja mengunyah butiran garam. Bodohnya aku.” Hestia langsung berbohong dengan mulus, meraih piala di sisinya dan meneguk airnya. Mengutuki mulutnya sendiri dan tersenyum pada Hera setelahnya, mempertahankan pandangan mata mereka selama satu menit penuh.

Hera menatap Hestia lalu melirik suaminya yang sedang mengunyah makanan. Kembali menunduk ke saladnya dan berpikir.

*

“Kurasa malam itulah dia mulai menyadari ada yang aneh dan mulai meminta entah siapa untuk menyelidiki apa yang kulakukan di Indonesia.” Keluh Hestia, antara jengkel dan kecewa dengan dirinya sendiri.

“Zeus memberikan berkat ganda pada Natan, mencoba melindunginya. Namun kurasa itu juga merupakan tindakan gegabah dengan datang ke rumah ini alih-alih meminta Hermes saja untuk menyampaikan berkatnya atau apa saja.

“Hera pasti memasang pelacak di iPhone Zeus karena hal selanjutnya yang kudengar dari Natan adalah malam saat dia melihat Kampe pertama kalinya. Dan aku juga menyadari bahwa dia bertemu denganmu dan ternyata kalian sudah menjadi sepasang kekasih tanpa kuketahui.” Hestia menyandarkan diri di kursinya semakin dalam, nampak kepayahan.

“Dia meneleponmu malam itu.” Radit mengangguk, teringat dia mendengar Natan berbisik di teleponnya saat Radit keluar membuatkannya minuman agar tenang setelah mengemudi gila-gilaan ke kontrakan. “Mengabarimu tentang kejadian itu.”

“Ya.” Hestia mengangguk. “Lalu aku menghubungi Hermes, memintanya mencari tahu apakah ada yang melihat kejadiannya dan dia memberitahuku tentang pertemuan Natan dengan putra Apollo, Moirai serta Kampe.”

“Zeus langsung tahu itu Hera.” Hestia mendesah. “Siapa lagi yang bersikap dramatis mengirimkan sipir Tartarus untuk mengancam anak yang tidak tahu dirinya siapa sama sekali hanya demi membuat suaminya kesal?”

Radit menyandarkan diri ke kursinya, merasa pening juga karena cerita Hestia barusan. Hera sungguh menyebalkan, pikirnya. Bahkan menyebut namanya saja membuat emosi menggelegak di dasar perut Radit—bagaimana dia tega melibatkan anak yang tidak tahu apa pun dalam hal semacam ini.

Dia layak mendapatkan hukumannya.

Semoga mereka hanya memberikannya makanan dengan kadar lemak jenuh tinggi sebagai hukumannya. Amin.

Mereka diam, menikmati malam yang mulai terbit perlahan dan suara lalu-lalang kendaraan yang semakin sepi. Suara jangkrik di tanah kosong di belakang rumah mulai terdengar nyaring bersama suara adzan Maghrib yang berkumandang.

Lalu Natan muncul dengan rambut basah, kaus tanpa lengan yang memamerkan tato lengannya hingga ke pangkal dan aroma sabun yang segar hingga Radit tergoda untuk memeluknya, membenamkan wajahnya di cerukan leher Natan—mengigitnya.

Apakah Hestia akan mengizinkan mereka tidur sekamar malam ini?

“Mandilah.” Kata Natan membersit dan membersihkan telinganya dari air dengan ujung kelingkingnya. “Aku sudah menggantung handuk baru di kamar mandi dan baju untukmu di kamarku.”

Radit bangkit dengan helaan napas keras. “Baiklah.” Dia tersenyum, mengulurkan tangan dan menepuk pipi Natan hangat. “Aku mandi dulu.” Dia menatap Hestia yang tersenyum. “Jangan bertengkar, oke?”

Natan memutar bola mata. “Kami tidak pernah menyelesaikan masalah dengan drama. Benar, 'kan, Oma?”

“Tentu.” Hestia memandang Natan, seperti orang buta yang pertama kali melihat matahari. Cinta dan kasihnya nyaris meleleh seperti cokelat yang dipanaskan, menetes dengan lembut.

Radit mendesah, bersyukur Zeus memilih Hestia dan bukan Athena sebelum beranjak ke kamar mandi untuk membasuh diri, mengizinkan Natan dan neneknya memiliki waktu berkualitas berdua.

*

VKook One-Scene: AUCE Tragedy question mark

*

Taehyung menghembuskan napas jengkel, menatap layar ponselnya dan teman-temannya yang sungguh sangat tidak bisa diandalkan. Bagaimana bisa mereka tidak melihat apa yang sedang Taehyung tawarkan padanya?

All you can eat.

Pay 1 for 2.

PAY ONE FOR TWO!

Di lihat dari mana pun, hal itu sangat menguntungkan. Makan sepuasnya, hanya bayar separo dari harga normal. Untuk dua orang pula. Kenapa bisa-bisanya mereka beralasan sibuk dan kenyang di saat-saat semacam ini??

Taehyung berdiri di depan lorong mall yang ramai, menatap standing banner yang dipasang di depan pintu masuk restoran all you can eat itu dengan sebal. Wajib berdua, begitu syaratnya. Tidak bisa sendiri. Taehyung menggerutu, dia menyugar rambutnya dan menyelipkan ponselnya ke saku.

Tidak bisa lagi mengandalkan teman-temannya. Dia berbalik, berjalan ke arah kedatangannya tadi seraya berpikir. Bagaimana caranya dia bisa makan enak, kenyang dan murah tanpa teman-temannya?

Bukannya Taehyung selalu butuh teman-temannya, sih, peduli setan. Hanya saja tulisan “wajib datang bersama teman atau pasangan” di bawah tulisan “PAY ONE FOR TWO” restoran AUCE itu membuat matanya sakit.

Haruskah Taehyung main Tinder sekarang? Mencari match untuk makan siang lalu menyudahi hubungan mereka? Tapi Taehyung sedang malas sekali merayu orang; dia lelah, jengkel dan lapar. Dia tidak sudi berpikir.

Taehyung melewati bagian depan restoran itu lagi, membaca standing banner itu untuk kesekian kalinya dan kembali mendesah lalu mendekati pelayan yang berdiri di dekat pintu dengan buku menu.

“Mbak, ini berlakunya berapa hari?” Tanyanya merana. Dia ingin sekali tapi tidak memiliki teman untuk makan bersama.

Pelayan itu menatapnya segan, seolah sejak tadi sudah memerhatikan Taehyung yang mondar-mandir di depan restoran seperti orang sembelit tapi tidak juga memutuskan untuk masuk atau tidak.

Mungkin juga menyadari Taehyung yang sejak tadi berusaha menghubungi teman-temannya untuk menemaninya makan AUCE. Namun bagusnya, mereka memutuskan untuk sok sibuk hari ini—saat Taehyung benar-benar butuh.

Hari ini Taehyung hanya berencana untuk pergi ke bioskop, menonton film yang sudah diincarnya sendirian karena tidak ada temannya yang punya selera sama dengannya lalusetelah filmnya berakhir, dia melewati restoran itu dan menemukan harta karun yang tentu saja tidak boleh dilewatkan.

Masalahnya Taehyung itu jomblo dan teman-temannya sibuk. Maka selesai sudah.

“Hari ini dan besok, Kak. Tapi kuotanya terbatas.” Dia tersenyum sopan, menunjuk standing banner itu, menjelaskan dengan ramah dan kesabaran level surga. “Per harinya hanya kami batasi 25 pasangan saja. Jadi, dalam dua hari hanya untuk sekitar 50 pasangan, Kak. Begitu.”

Kepala Taehyung semakin berdenyut. Dia harus segera menemukan pasangan!

Bukan pasangan yang itu, sih, tapi ya sudahlah sama saja.

“Kakak juga harus membawa pacar atau teman jika ingin mengambil promo ini, Kak. Tidak bisa sendirian.” Tambah pelayan itu tersenyum sopan, mengingatkan Taehyung sekali lagi betapa menyedihkannya dia saat ini karena dia lapar tapi sendirian.

“Hari ini baru sepuluh pasangan, Kak. Jadi masih bisa, kok.” Pelayan itu tersenyum. “Kalau semisalnya hari ini kuota 50 pasangannya terpenuhi, maka besok promonya tidak berlaku lagi.”

Terasa bagai petir di siang bolong dan Taehyung harus menahan diri agar tidak mengutuk Jimin dan Hoseok ke neraka jahanam. Bahkan mengutuk dirinya sendiri karena bersikap terlalu anti dengan sosialisasi sehingga teman terdekat yang dimilikinya hanya Jimin dan Hoseok.

“Kau makan saja sendirian, tidak perlu AUCE kenapa, sih?” Kata Jimin tadi di telepon, sebal karena Taehyung merengek padanya untuk datang ke mall menemaninya makan AUCE tidak penting. “Aku sibuk.” Tambah Jimin seperti seorang bajingan tengik dan tulen.

“Jimin! Ini pay 1 for 2! Bagian mana yang tidak kaupahami?” Sahut Taehyung membuat beberapa orang menoleh ke arahnya dengan bingung karena Taehyung mondar-mandir di lorong dengan telepon menempel di telinganya dan marah-marah pada orang di seberang sambungan.

“Aku sibuk.” Sahut Jimin kemudian dengan menyebalkan dan Taehyung berteriak tanpa suara dengan jengkel. “Bagian mana yang tidak kaupahami?”

Dia kemudian memutuskan sambungan teleponnya dan mengumpat jengkel sebelum mencoba menghubungi Hoseok serta mendapatkan hasil yang sama—nihil.

“Iya, ya, Mbak.” Taehyung cengengesan. “Saya kembali besok saja, deh. Belum ada temannya.” Dia kemudian berterima kasih dan berlalu dari sana, menyelipkan kedua tangannya ke saku celana—berpikir keras bagaimana caranya mendapatkan diskon yang diinginkannya.

Dia menatap ke penjuru mall, bersandar di pembatas dan menoleh ke lantai di bawahnya. Berpikir tentang siapa yang bisa diajaknya makan bareng saat ini dan lebih diutamakan bukan Jimin atau Hoseok. Dan itu berarti tidak ada karena Taehyung hanya punya dua teman. Dia menatap mall yang penuh sambil lalu, tidak terlalu fokus.

Matanya memang agak kabur karena tidak mengenakan kacamatanya, namun dia tidak pernah gagal menemukan pemuda manis yang lucu.

Dia mengerjap saat menemukannya; memfokuskan pandangannya, memicingkan mata mencoba menatap lebih jelas saat dia menemukan seorang lelaki sedang berdiri di depan etalase The Executive dengan tas belanja terkait di sikunya dan dia sedang menikmati segelas minuman sambil melakukan window shopping.

Lelaki itu menggunakan celana jins longgar, kaus hitam besar dan rambut yang disisir rapi. Nampak menikmati waktu berkualitasnya dan sama sekali tidak terganggu oleh fakta dia sedang berjalan sendiri. Taehyung suka itu karena dia juga selalu menikmati kesendiriannya dengan baik. Melakukan sesuatu yang menyenangkan dengan dirinya sendiri.

Ganteng juga, pikir Taehyung sambil lalu, mengalihkan pandangannya dari lantai di bawahnya dan kembali memikirkan cara untuk mendapatkan pasangan (untuk makan AUCE, tentu saja).

Saat itulah pemikiran brilian itu menghampiri kepalanya.

Taehyung langsung berbalik begitu saja mengikuti instingnya, berlari ke arah eskalator dan menuruninya setengah berlari. Melompati dua-dua anak tangga yang berjalan, menyelip di antara orang-orang yang berdiri di anak tangganya menunggu hingga tiba ke bawah seraya menggumamkan permisi tanpa benar-benar memaknainya.

Dia mendarat di lantai tiga, lalu berlari ke arah The Executive dan menemukan punggung lelaki itu berjalan menjauh dengan santai, sangat menikmati waktunya sendiri seraya menyesap minuman di tangannya dengan nyaman dan damai.

Kedamaian yang akan dirusak Taehyung, sebentar lagi.

“To kill two birds with a stone.” Pikir Taehyung saat dia mempercepat langkahnya untuk mengejar lelaki itu, menyelip di antara orang-orang yang berdecak kesal karena Taehyung.

“Hei, halo! Kau!” Serunya saat sudah dekat, beberapa orang menoleh karena panggilan itu namun mata Taehyung terkunci pada pemuda yang sekarang berhenti di depan Polo, tidak terganggu oleh panggilan Taehyung.

“Hei, kau! Kau yang ganteng dengan baju hitam kebesaran di depan Polo; haloooo?!” Katanya kemudian membuat beberapa orang mulai terkekeh dan orang lainnya menatapnya terganggu.

Berita baiknya, pemuda itu menoleh.

Wajahnya lebih menakjubkan dari apa yang Taehyung kira. Dari atas sana dengan mata minus Taehyung tanpa kacamata yang tidak suka dipakainya, wajahnya hanya nampak samar-samar. Namun sekarang saat berdiri dua meter darinya—dia nampak luar biasa ganteng.

“Oh. Halo. Saya?” Tanyanya kebingungan dan emosi itu membuat wajahnya yang indah bahkan semakin menakjubkan.

“Oh, wow.” Kata Taehyung tanpa bisa menahan diri, berhenti dua meter darinya dengan napas terengah karena mengejarnya dari jauh. “Wow. Kau jauh lebih ganteng dari dekat.” Pujinya tulus, namun sepertinya bukan kalimat yang cocok diucapkan pada pertemuan pertama.

Karena pemuda itu mengerjap, wajahnya berkerut antara kaget dan takut karena dipuji tampan oleh orang aneh yang berlari-lari dari jauh demi menghampirinya. Dia melirik sekitarnya dengan kikuk, beberapa orang mengamati mereka—tertarik, terhibur dan juga menilai dengan sebal.

Taehyung menghela napas, menenangkan napasnya yang terengah-engah berdiri di depan pemuda asing itu yang sekarang mundur selangkah dengan ragu-ragu karena takut. Matanya melirik ke sekitar, berusaha mencari keamanan untuk membantunya jika Taehyung ternyata berniat macam-macam.

Taehyung kemudian menegakkan tubuhnya, menyugar rambutnya yang terasa kacau karena tadi berlari menembus orang dan menyunggingkan senyuman lebar terbaiknya yang membuat pemuda di hadapannya mengerjap, nampak berubah pikiran.

“Halo, iya. Kau.” Dia maju, mengulurkan tangan dengan penuh percay diri: Demi AUCE, Taehyung. Demi AUCE! “Kenalkan, Taehyung.”

Pemuda itu menatap tangannya, kebingungan sementara beberapa gadis di sekitar mereka mulai cekikikan seraya mengarahkan kamera pada Taehyung dan pemuda asing itu.

Sejenak pemuda itu ragu, sebelum akhirnya menjabat tangan Taehyung namun dengan mata masih melirik mencoba menjadi security. Jabatan tangannya hangat dan kuat walaupun Taehyung orang asing dan dia suka itu—dia suka jabatan tangan yang kuat dan hangat.

“Jeongguk.” Katanya lirih, mengerjap. Sangat berlawanan dengan jabatan tangannya yang hangat, mantap dan kuat. “Maaf, tapi ada kepentingan apa, ya?”

Taehyung tersenyum. “I kind of watching you a bit from upstairs and realizing that you're alone?” Sahutnya dan Jeongguk, pemuda itu mengerutkan alisnya—mungkin sekarang berpikir bahwa Taehyung semacam pengutit tidak tahu diri yang mengamati orang-orang dari kejauhan.

“Yah, begitulah.” Sahut Jeongguk, sekarang nampak positif akan berteriak memanggil keamanan karena ketakutan. “Ada apa, ya?”

“Aku tidak bermaksud buruk, sungguh.” Taehyung memamerkan kedua tangannya di dada, pose menyerah dan Jeongguk menatapnya masih dengan alis berkerut. “Hanya...,” Taehyung menggaruk tengkuknya, sejenak kikuk.

Kemudian teringat standing banner AUCE di atas, teringat ultimantum pelayan yang mengatakan promo bisa saja berakhir hari ini, teringat bahwa dia kelaparan dan membulatkan tekadnya.

Dia menarik napas dan menghembuskannya dengan cepat, tidak mengizinkan dirinya sendiri berpikir: “Kau tertarik makan AUCE bersamaku?”

Jeongguk menatapnya, kaget dengan mulut terbuka—sungguh tidak menyangka pembicaraan mereka akan mengarah ke sana. “... AUCE?” Ulangnya, ragu-ragu dan semakin kebingungan.

Wajah Taehyung merona. “Jadi,” dia tersendat. “Mereka punya promo pay 1 for 2 dan aku tidak punya pasangan karena teman-temanku sibuk semua. Kebetulan aku datang ke sini sendirian dan tadi aku melihatmu dari atas dan berpikir sekilas kau itu...,” dia menelan ludah. “Tipeku.” Bisiknya lirih, malu.

“Jadi, kupikir kenapa tidak mengajakmu makan sekalian. Aku yang bayar, tentu saja. Perut kenyang dan kita punya kenalan baru. Mungkin bisa menjadi teman atau... Apa saja yang mungkin bisa terjadi. Aku sangat terbuka untuk... beberapa kemungkinan.”

Taehyung mulai meracau dan dia akan mempermalukan dirinya sendiri jika terus bicara.

“Yah, begitulah.” Katanya, menghentikan kalimatnya sebelum dia nampak semakin menyedihkan di depan pemuda menarik itu, melirik Jeongguk yang berdiri di depannya dengan wajah kebingungan.

“Sebentar.” Kata pemuda itu, Jeongguk, sekarang mulai geli; emosi itu terbit di wajahnya seperti sekuntum mawar yang merekah, matahari terbit. “Kau berlari dari lantai empat, mengejarku hingga ke sini hanya untuk... mengajakku makan AUCE yang sedang promo?”

Terdengar konyol, sungguh tapi memang begitu. “Kurasa begitu. Ya. Benar.”

Jeongguk menatapnya, senyuman mulai bermain di bibirnya dan mendadak dia kemudian tertawa, serak dan basah. Nampak benar-benar geli pada tingkah Taehyung sebelum menghela napas, menenangkan diri dan menatapnya—wajahnya merah oleh humor dan senyuman lebar bermain di bibirnya.

Ada tahi lalat di bagian bawah bibirnya, Taehyung baru menyadarinya. Ada bekas luka menganggu juga di pipinya. Dan dia punya gigi kelinci samar yang manis.

Wow. Semakin diperhatikan, Jeongguk ini nampak semakin menarik.

Kemudian pemuda itu mengangkat tangan kirinya dan menatap jam tangannya, gestur itu seketika memukul Taehyung mundur. Penolakan yang terasa diteriakkan gestur sederhana itu membuat hati Taehyung nyeri. Dia mungkin menghampiri Jeongguk untuk iseng belaka tapi saat melihatnya dari dekat, Taehyung tidak bisa memungkiri bahwa dia berharap mereka setidaknya bisa bertukar Instagram atau nomor Whatsapp setelah ini.

Namun, ini positif. Dia pasti akan menolak ajakan Taehyung (selamat tinggal AUCE dan calon gebetan, pikir Taehyung merana), Taehyung yakin.

Memangnya orang waras mana yang mau menerima ajakan makan dari orang asing yang tidak jelas? Apalagi dengan wajah sekelas dewa Yunani yang tampan dan semenarik ini, dia pasti akan—

“Aku punya waktu. Dan kebetulan belum makan juga. Jadi, ayo. Kutemani kau makan AUCE.”

—Menolak Taehyung.

APA?!

Taehyung mengerjap, seolah baru saja ditonjok di ulu hati. “Apa?” Tanyanya.

Jeongguk tersenyum hingga pipinya menumpuk di bagian bawah matanya dan kerutan lucu terbit di pangkal hidungnya seperti kelinci—dia menggemaskan sekali hingga Taehyung bersyukur dia sudah berlari untuk mengejarnya tadi.

“Ayo, kita makan AUCE pay 1 for 2 ini.” Katanya ramah. “Sekalian mungkin membahas beberapa prospek hubungan setelah ini yang mungkin... menarik juga untukku.” Senyumannya semakin lebar, memamerkan deretan giginya yang bersih.

Oh.

Wow.

Ini sungguh sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui.

“Kau mau makan denganku?” Ulang Taehyung, disorientasi.

Jeongguk terkekeh. “Kurasa aku baru saja mengatakan itu; ya. Ayo, makan.” Katanya lalu mendekat ke Taehyung, meraih tangannya dengan akrab. Aroma parfumnya meledak di penciuman Taehyung saat pakaiannya bergesekan dengan kulitnya; seperti selapis aroma maskulin, cokelat pekat dan pengharum pakaian yang lembut.

“Tunjukkan padaku di mana restorannya.”

Tuhan pasti sayang sekali pada Taehyung!

*

Apollo #232

Att: Alur maju-mundur.

*

Radit bergegas memarkir motornya di parkiran basemen auditorium kampus sebelum berlari melompati dua-dua anak tangga naik ke lobi depan auditorium yang digunakan untuk hari pertama inisiasi. Dia menyapa beberapa temannya yang menjadi panitia sebelum berlari menyeberangi parkiran gedung pusat dan menaiki tangga menuju lift dan menekan tombol naik.

Dia merapikan kemejanya dan mengusap tulang ekornya yang berdenyut karena dia terpeleset di lantai kamar mandi karena terburu-buru. Dan itu sakit sekali namun Radit tidak punya waktu untuk menelepon Natan dan merengek padanya karena dia harus segera berangkat.

Dia akan minta Natan mengeceknya nanti setelah dia pulang kelas.

Radit memasuki lift dan menekan tombol tiga. Dia melirik jam dan merasa tidak enak karena Arjuna mengurus semuanya sendiri padahal dia ketuanya. Kemarin dekan mereka meminta Radit dan Arjuna untuk bertemu dengan Wakil Rektor 3 untuk urusan kemahasiswaan tentang pencairan dana karena ada peraturan dan proses baru dari Wakil Rektor 2 bagian keuangan mengenai dana inisiasi.

Lift berhenti, pintunya terbuka dan Radit bergegas keluar, dia menoleh ke utara dan menemukan Arjuna masih duduk di meja tempat para mahasiswa biasa menunggu giliran konsultasi dengan bagian WR3 sedang membaca buku yang digunakannya sebagai objek penelitian skripsinya.

Di belakangnya ada jendela raksasa gedung pusat kampus mereka, memamerkan langit Yogyakarta yang cerah dan siluet Gunung Merapi yang setengahnya tertutup gedung perpustakaan.

“Jun.” Katanya terengah saat tiba di sisi Arjuna, bergegas merapikan rambutnya yang terasa berantakan. Apakah dia sempat menyemprotkan parfum tadi? Sial. “Maaf, maaf.” Dia menghela napas dalam-dalam. “Kau seharusnya membangunkanku.”

Arjuna mendongak, menutup bukunya. “Hei, R.” Dia meringis, nampak benar-benar bersalah. “Aku juga sungguh tidak terpikir untuk membangunkanmu. Aku lupa.”

Radit menatapnya dengan mata memicing. “Bagaimana jika kita bertukar posisi saja? Kau yang ketua, aku yang wakil.”

“Yah, jangan begitu dong.”

“Aku tahu kau malas berurusan dengan Sekretariat jika jadi ketua, 'kan.”

“Ketahuan, deh.”

Radit memutar bola matanya lalu mendudukkan dirinya di sisi Arjuna, menunggu giliran mereka karena biasanya konsultasi dengan WR3 bisa memakan waktu seharian. Banyak dokumen dan wejangan yang biasanya diberikan Romo pada mereka semua untuk menimplementasikan Pendagogi Ignasian pada sistem insiasi mahasiswa baru.

Radit menoleh ke jendela raksasa di belakang tubuhnya, menunduk ke bawah dan tersenyum saat melihat mahasiswa-mahasiswa baru sedang berbaris untuk sirkulasi pindah ke kampus satu sebagai bagian dari rangkaian insiasi universitas—tur kampus. Mereka menggunakan kemeja dan celana jins dengan sepatu tertutup, mengenakan name tag berwarna-warni.

Radit kemudian teringat hari itu, pertama kali dia bertemu Natan dan bagaimana pemuda itu menjungkirbalikkan dunianya....

*

Walkie-talkie Radit berkeresak, dia mengecilkan volumenya sementara dia berdiri di bagian belakang barisan mahasiswa baru yang sedang duduk di atas alas duduk mereka yang dibuat sendiri di lapangan Kampus 3 menghadap panggung menunggu pengisi acara duduk di podium.

Kipas angin raksasa yang meniupkan angin dan air rintik-rintik agar udara sedikit lebih sejuk mendengung di sisi Radit, dia berdiri di sebelah anak-anak paramedis yang bersiaga jika ada mahasiswa yang kepanasan karena cuaca Yogyakarta tidak pernah bersahabat panasnya di pertengahan tahun.

Tahun itu, insiasi masih dilakukan di lapangan. Universitas mereka belum memiliki auditorium berkapasitas 1,000 orang berpenyejuk yang nyaman. Mahasiswa baru harus duduk lesehan di tanah beralaskan alas duduk yang mereka buat sendiri dari plastik bekas.

Anak-anak divisi Konsumsi sedang menyiapkan makan siang yang akan dibagikan ke pendamping kelompok mahasiswa baru pada jam makan siang. Radit membantu beberapa perempuan yang nampak kerepotan menyeret kantung-kantung plastik merah yang terisi nasi bungkus yang beraroma tajam makanan.

Karena belakangan ini para Paman Dewata-nya tidak bertingkah, Radit meminta izin pada Apollo untuk menjadi panitia inisiasi universitas dan meminta ayahnya bersumpah pada Sungai Styx (Apollo sungguh melakukannya) agar tidak mengontaknya lalu memerintahkan Radit terbang ke New York sewaktu-waktu selama enam bulan dia berdinamika dengan teman-teman panitianya.

“Lama sekali!” Keluh Apollo saat Radit memintanya diam selama enam bulan.

“Peduli amat.” Sahut Radit saat itu dan langsung mendaftarkan diri sebagai panitia sebagai divisi Keamanan sebelum salah satu keluarga Dewata-nya sempat memikirkan tugas remeh untuk menghibur diri.

“R, tolong!”

Radit menoleh dan menemukan satu anak Konsumsi yang sedang membawa sekardus makanan di kedua tangannya sementara satu plastik merah tergantung mengerikan di lengannya, jika dia salah melangkah sedikit saja maka dia akan tersandung kaki kikuknya sendiri dan terjerembab dengan sekitar lima puluh nasi bungkus. Maka dia bergegas menghampiri perempuan itu dan mengambil alih kardus di tangannya.

“Kebiasaan.” Guraunya membawa makanan itu ke tempat Konsumsi.

“Aku pikir aku mampu.” Keluh anak Konsumsi, melangkah di sisinya. “Terima kasih.”

“Sama-sama.” Balas Radit tersenyum lalu meletakkan kardus makanan itu di atas meja dan mendesah, dia mulai lapar. Tadi pagi dia hanya makan setangkup roti dan susu, seharian dia berlari-lari mengurus sirkulasi mahasiswa baru dari kelas ke panggung dan sebaliknya.

Sekarang dia lelah, kepanasan dan kelaparan. Sangat menyedihkan.

Radit meraih botol minumnya, meneguk isinya agar perutnya kembung dan tidak berisik. Dia baru saja akan duduk kembali saat seorang pendamping kelompok berdiri dan menoleh ke sana kemari mencari Keamanan. Radit langsung berdiri lagi, meletakkan botol minumnya dan bergegas menghampirinya.

“R!” Seru pendamping itu dengan lega saat melihat Radit berlari kecil ke arahnya dalam balutan celana jins longgar dan kaus panitia. “Tolong, anakku ada yang harus ke toilet.”

Radit mengangguk. “Oke, ayo.” Katanya menatap anak-anak kelompok itu dan bertemu mata dengannya.

Mungkin berlebihan sekali jika Radit merasa seluruh dunia berhenti saat itu juga. Mata itu berbinar, indah sekali. Dia menggunakan kemeja merah pudar polos dengan celana jins, melilitkan tali name tag-nya di kepala seperti bando, robekan kertas menempel di atas bibirnya dan wajah-wajah geli di sekitarnya sudah menunjukkan betapa dia adalah badutnya kelompok itu.

Ekspresinya mengundang senyuman kecil di bibir Radit, begitu saja.

Saat matanya bertemu dengan Radit, dia langsung tersenyum lebar—ramah dan hangat. Radit belum pernah mendapati seseorang tersenyum sehangat dan seramah itu pada orang yang pertama kali dikenalnya.

Bagaimana bisa dia tidak melihat anak ini di hari pertama? Dia sungguh bersinar dan mustahil untuk diabaikan dengan segala keindahan ragawinya dan juga senyuman yang nampak tidak pernah meninggalkan bibirnya.

“Ayo, Natan.” Kata pendamping itu dan untuk menghadiahi Radit, dia melambaikan tangan pada pemuda itu yang sekarang berdiri, menepuk-nepuk remah rumput kering dari celanannya dan bergegas menghampiri pendamping kelompoknya. “Diantar Kak R, ya.”

“Siap, Kak.” Balas pemuda itu, ceria.

Radit melirik name tag-nya, “Jonathan.” Ulangnya dalam hati dan mendapati anak itu satu jurusan dengannya, Sastra Inggris dengan hati berdebar terlalu bersemangat—di luar apa yang direncanakannya.

Syukurlah, berarti Radit tidak perlu bersusah payah untuk bertemu dengannya lagi setelah inisiasi berakhir. Walaupun dia tidak yakin apa yang bisa dilakukannya dengan anak itu. Dia berdiri di sisi anak itu, Jonathan yang sekarang melepaskan tali namanya dari kepala karena ditegur pendamping kelompoknya dan mengalungkannya di lehernya dengan benar.

Radit berdeham, gugup. “Ayo.” Ajaknya dan meraih walkie-talkie-nya untuk bicara ke para Keamanan dan koordinatornya. “Anak Kelompok Dua, satu orang. Toilet. Raditya.”

Copy.” Sahut koordinator divisi Keamanan di ujung Selatan panggung, melambaikan tangan pada Radit tanda dia menerima pesan Radit dan mempersilakan mereka pergi.

Radit memimpin mereka ke arah toilet yang menyeberang halaman luas kampus 3, ke gedung utama. Anak itu menyejajari langkahnya dengan ceria. Radit berpikir anak itu pasti tidak pernah merasa sedih atau terluka sepanjang hidupnya, bahagia dan positivitas pasti selalu memberkatinya. Seperti gelembung yang memeluknya, memastikan tidak ada kesedihan yang menghampirinya.

“Kak, namanya siapa?” Tanyanya ringan, memulai pembicaraan dengan lugas dan mudah. Sangat bertolak belakang dengan Radit yang selalu merasa keheningan jauh lebih membuatnya nyaman walaupun kemudian dia akan merasa tidak enak karena terlihat seperti orang menyedihkan dan membosankan.

Kenapa Apollo memberkatinya dengan segalanya kecuali keahliannya bersikap humoris dan banyak bicara? Radit akan bicara pada Apollo setelah ini.

Radit menoleh, tersenyum kikuk. “Raditya.” Katanya, mengecilkan volume walkie-talkie di tangannya, dia menunjukkan callcard panitia di dadanya: Raditya, Keamanan.

Jonathan menatap call-card itu, membacanya tanpa suara lalu mengangguk. “Oh, halo, Kak Raditya!” Sapanya kemudian. “Kakak jurusan apa? Semester berapa?”

Lugas sekali, pikir Radit. “Sastra Inggris, semester 3.” Sahutnya, menaiki tangga menuju gedung utama dan mahasiswa baru di sisinya, Jonathan mengikuti langkahnya dengan menandak-nandak seperti rusa jinak yang menyenangkan.

“Wah, satu jurusan, dong!” Dia tersenyum lebar. “Nanti aku boleh tanya-tanya ke Kak Radit, ya?”

Radit mendapati dirinya ikut tersenyum lebar karena bagaimana pun keceriaan Jonathan menular dengan cepat, seperti virus. Membuatnya otomatis merasa hidupnya lebih baik, merasa hangat dan diterima. Auranya yang begitu hangat dan menyenangkan membuai Radit dengan cara yang begitu asing di dirinya selama ini.

“Boleh, dong.” Sahutnya lalu berhenti di depan toilet. Merasa seketika nyaman dengan interaksi mereka—hal yang tidak biasa karena Radit selalu kesulitan merasa nyaman dengan orang-orang baru.

Dia selalu merasa dirinya seorang introvert, tidak suka berada di bawah lampu sorot. Tipe yang jika berada di dalam grup percakapan, akan berakhir menjadi seorang silent reader, tidak menemukan hal menarik untuk dibicarakan.

Namun Jonathan berhasil membuatnya tersenyum, berhasil membuatnya merasa nyaman untuk membalas obrolannya dengan tenang dan membuat Radit untuk pertama kalinya merasa dia ingin mengobrol dengan seseorang.

Dengan Jonathan.

“Nah, sana. Ke toilet dulu,” dia melirik jam tangannya. “Sebentar lagi sesi kedua dimulai.”

Jonathan mengangguk, “Sebentar, ya, Kak!” Dia bergegas memasuki toilet dan Radit berdiri di depan pintu, mencoba mengatur jantungnya yang berdebar kacau-balau.

Dia menatap refleksi dirinya sendiri di pintu lift lalu tanpa sadar mengangkat tangannya, dengan kikuk menyugar dan menyisir rambutnya. Berusaha merapikannya dan mendesah karena dia nampak seperti baru saja mendaki gunung di bawah terik matahari. Rambutnya berminyak karena keringat, wajahnya kusam karena debu lapangan dan dia benar-benar butuh deodoran.

Kesan pertama: minus.

Lalu dia berhenti, menatap bayangannya dengan jengkel. Kenapa pula dia harus berusaha nampak tampan dan keren di depan mahasiswa baru ini secara spesifik? Memangnya prospek apa yang Radit inginkan?

Dia menurunkan tangannya, menatap benda itu jengkel karena melakukan hal-hal yang tidak diperintahkannya. Dia kemudian bersandar di dinding, menunggu Jonathan keluar dari toilet. Terdengar suara urinal yang disiram dan Radit mendorong tubuhnya, menegakkan diri.

Tetap saja saat Jonathan keluar, dia bergegas menyugar rambutnya terburu-buru sebelum menoleh.

“Sudah, Kak.” Dia tersenyum dan Radit membalas senyumnya—tidak bisa tidak. “Ayo, kembali.”

Radit mengangguk, “Ayo.” Katanya dengan jantung yang menonjok tenggorokannya.

Benar jika perasaan ini dinamakan jatuh cinta karena hal itu terjadi di luar kekuasaan Radit sama sekali. Radit jatuh tanpa benr-benar menyadari apa yang terjadi atau bahkan memikirkannya.

Dia mendapati dia sering bertemu Jonathan di lorong kampus, atau berpapasan saat pergantian kelas. Atau bahkan dalam satu kelas yang diulang Radit. Jonathan selalu memancarkan cahayanya sendiri—hangat dan ramah. Mengamati Jonathan yang selalu duduk di bagian depan kelas, mendengarkan dosen dengan serius dari sudut, tempat para kakak tingkat yang mengulang kelas berada.

Berharap mungkin Radit punya kemampuan untuk setidaknya bergabung dengan dia dan teman-teman Jonathan. Atau setidaknya menyapa Jonathan saat mereka tidak sengaja berdiri bersebelahan di kantin yang penuh sesak.

Aroma tubuh Jonathan luar biasa. Dia berdiri begitu dekat dengan Radit saat itu, separo bahunya bersandar di tubuh Radit dan rambutnya menggesek rambut Radit—menghamparkan aroma sampo segar yang membuat Radit nyaris sakaw. Dia membeli makanan, sibuk mencoba menarik perhatian penjaga kantin dengan galak alih-alih menyadari pada siapa dia bersandar.

“Mas! Berapaaaaaa?!” Serunya di telinga Radit seraya melambaikan plastik terisi tahu bakso dengan sebal. “Ayo, Mas! Saya mau kelaaasss!”

Radit tidak bisa tidak tertawa mendengarnya. Dia bertahan di sana, di sisi Natan terdorong dan terhimpit rombongan mahasiswa yang belanja padahal dia sudah menyelesaikan transaksinya hanya agar Natan terus bersandar padanya.

Syukurlah pemuda itu agak tidak peka dengan sekitarnya sehingga dia benar-benar tidak repot untuk sekadar mendongak pada siapa dia bersandar. Dan Radit sama sekali tidak keberatan. Dia akan berdiri di sana satu jam untuk menjadi sandaran Natan jika perlu.

Dan saat Radit keluar dari kantin, aroma parfum Natan menempel di pakaiannya.

Namun dia sama sekali tidak ingat Radit. Tentu saja.

Mereka hanya berinteraksi kurang dari sepuluh menit dan tentu saja kecil kemungkinan Jonathan benar-benar mengingatnya. Dia mungkin hanya mengobrol dengannya sebagai sopan-santun karena mereka berjalan bersebelahan, mengisi kekosongan. Bukan karena benar-benar tertarik pada Radit.

Dan sekarang dia merasa sangat malu.

Belum lagi fakta bahwa dia adalah seorang demigod. Hidupnya selalu berada diambang bahaya. Kemungkinan untuk mati terhampar luas di hadapannya—salah satu langkah saja, terlambat melepaskan anak panah sedetik saja mungkin hidup Radit akan berakhir.

Dia selalu menjauhkan orang-orang yang disayanginya dari kehidupan lainnya di New York. Dia menjauhkan Dirga dari sana, dia menjauhkan Arjuna dari sana. Dan seorang manusia fana sebagai kekasih mungkin bukanlah hal terbaik yang pernah dilakukan Radit selain mencoba menghadapi Hydra.

Mungkin Radit lebih suka menghadapi Hydra saja daripada mencoba menjalin hubungan dengan primadona Sastra Inggris.

Pilihan pertama nampak jauh lebih tidak berbahaya.

Radit tidak bisa tidak mendengar berita-berita itu, tentu saja. Bagaimana perempuan-perempuan mencoba mendekatkan diri pada Jonathan. Menyapanya di setiap kesempatan, meminjami dia buku-buku yang akan berguna untuk anak-anak semester satu tanpa dia meminta.

Teman-teman nongkrongnya yang adalah jajaran mahasiswa hits dengan mobil mengilap dan dompet tebal—keturunan etnis Cina, Batak dan Dayak yang membuat orang lain minder karena keindahan ragawi mereka. Dan Jonathan di tengahnya, nampak cocok seperti kepingan puzzle yang menemukan temannya.

Jonathan adalah matahari, yang menarik semua orang berotasi mengelilinginya. Menarik begitu banyak kumbang untuk berteman dengannya. Senyumannya menular, selera humornya sehat. Dia mudah bergaul dengan siapa saja, mudah memulai pembicaraan, gemar memberitahu cerita-cerita lucu yang menyihir.

Singkat kata, dia adalah idaman semua orang.

Maka Radit mengendikkan bahu, mundur ke bayang-bayang dan mencoba menyelesaikan studinya tepat waktu sambil meladeni keinginan aneh-aneh Paman Dewata-nya yang rewel. Memikirkan bagaimana jika dia bergabung saja dengan bibi-bibinya, Artemis dan Hestia untuk melajang seumur hidup—apakah Pemburu menerima anggota lelaki?

Dia menghindari Jonathan dan sinarnya yang menyilaukan, berusaha meluruh ke bayang-bayang dan mencoba untuk tidak terbunuh Hydra, Echidna atau tidak mengatakan “Fuck you!” pada Oracle Delphi tiap kali dia membacakan syair ramalan kematian mengerikan untuk Radit.

Hingga suatu hari, Moirai memutuskan untuk memberikannya hadiah setelah berhasil untuk tidak mati setelah melayani keinginan Paman Dewata-nya.

Bayangkan betapa senang, takut namun bersemangatnya dia saat hari itu dipanggil oleh dosen Morphosyntax-nya, Sisca tentang pengulangan kelasnya dan bagaimana Radit sebenarnya mampu untuk mengikuti kelas hanya saja harus berusaha “lebih baik lagi” untuk memenuhi syarat 75% kehadiran untuk lulus lalu dosen muda nyentrik itu menyerahkan selembar kertas.

“Ini kelompokmu, saya pilihkan saat kau bolos kelas terakhir.” Dia menyerahkan secarik kertas dengan nomor telepon di atasnya. “Saya sudah meminta ketua kelompoknya untuk menghubungimu.”

Radit menerima kertas itu, menunduk membacanya dan mendenguskan senyuman kecil; tidak bisa menekan perasaan bahagia yang membuncah di dadanya. Seperti popping boba yang meletus; memberikan rasa asam-manis mengejutkan di indera perasanya. Rasa yang membuat lidahnya kemudian merindu, mendecap-decap dan mencari-cari ke seluruh penjuru mulutnya untuk kembali merasakan rasa yang sama.

Teringat harum parfum Natan yang menempel di pakaiannya dan bagaimana pemuda itu bersandar padanya di kantin yang penuh sesak. Tentu bukan kisah roman picisan paling romantis.

Namun mengingat jumlah kisah cinta yang dimilikinya alias nol besar, kisah ini yang terbaik untuknya.

Jonathan / 184214014 / 0878-9291-4486

Sisanya tidak penting karena dia akan satu kelompok dengan Jonathan. Apakah mungkin kesempatan akan datang padanya?

Namun dibanding itu semua, apakah Radit siap membina hubungan?

Dia selalu hilang berminggu-minggu, berbulan-bulan. Karena itulah studinya terbengkalai dan dosen-dosen hingga benar-benar lelah mengingatkannya tentang 75% kehadiran kelas untuk bisa lulus tidak peduli seberapa gemilang hasil UAS dan UTS Radit. Universitas yang dinaungi Vatikan memang selalu menilai banyak hal terlepas dari nilai yang tertera di atas kertas.

Mereka bahkan menunjuk Radit menjadi ketua HMPS tanpa menanyakan kesediaannya hanya untuk membuatnya semakin rajin ke kampus untuk kuliah. Berhasil juga karena kadang dengan alasan ini Radit bisa menghindari tugas-tugas remeh dari Aphordite (“R, bisakah kau mengambilkan krim malamku di Pulau Circe? Aku butuh krim itu untuk menghilangkan kerut.” Dan Radit harus menghadapi Siren dalam perjalanannya—sangat mendebarkan.).

Dan Radit selalu menyadari bahwa kecenderungannya untuk tiba-tiba harus berangkat ke New York akan menjadi sebuah bencana untuk hubungan yang coba dibinanya. Bensin yang menyulut pertikaian.

Memangnya orang biasa akan percaya saat Radit bilang dia anak Apollo? Setengah dewa dengan darah dewata mengalir di pembuluh darahnya dan dia harus hilang pulang ke Perkemahan Blasteran untuk mengambilkan apel emas untuk Hera dan tugas-tugas remeh lainnya.

Mereka pasti akan menatap Radit seolah dia sinting.

Bukannya sombong (kata-kata ini memiliki peluang sebesar 95% untuk diikuti dengan kesombongan murni), Raditya itu putra Apollo.

Dewa yang bisa membuat siapa saja berubah menjadi homoseksual atau biseksual. Dia keturunan dewa, dia separo dewa. Dia bisa saja menggoda Jonathan di hari pertama namun dia tidak melakukannya.

Yah. Bohong.

Radit adalah manusia kikuk dengan kecenderungan untuk menyembunyikan diri—selain karena disleksia ringan dan GPPH (gangguan pemusatan pengliatan dan hiperaktivitas) yang dimilikinya (dan sudah berhasil dikendalikannya agar tidak nampak terlalu aneh), dia juga jarang berhasil menjalin pertemanan karena sifatnya yang lebih suka menjadi bayang-bayang dan menjauh dari lampu sorot.

Dirga dan Arjuna adalah satu-satunya teman yang dimilikinya. Radit tidak pernah ingin menambah nama dalam daftar teman-temannya karena takut membahayakan mereka dengan hidup penuh tantangan yang mendebarkan milik Radit. Dia harus menjauhkan orang-orang dari hidupnya.

Alasannya? Hera suka iseng.

Tapi semuanya berbeda dengan Jonathan.

Maka dia benar-benar tidak menyangka saat pertama kali mereka bertemu, dengan Jonathan yang terengah-engah menaiki tangga Perpustakaan menuju lantai tiga dengan terburu-buru karena terlambat untuk pertemuan mereka, kalimat pertama yang dikatakan pemuda itu:

“Wow.” Matanya berbinar, seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah Natal saat melihat Radit—membuat hatinya berdesir oleh cinta yang terasa hangat dan manis, seperti lelehan cokelat dan marshmallow.

Aroma parfumnya masih sama, aroma samponya tetap sama. Dan keindahan wajahnya masih sama, bahkan jauh lebih mendebarkan dari jarak sedekat ini—terdekat yang pernah Radit rasakan. Dia memancarkan kehangatan yang mengundang, seperti segelas cokelat hangat yang kental beraroma pahit-legit. Sesuatu yang akan disesap perlahan, dirasakan di lidahnya, meleleh dengan lembut dan meninggalkan sisa rasa yang menakjubkan.

“Apakah Kakak anak dewa? Kakak tidak mungkin manusia biasa.”

Seolah Radit tidak menanyakan hal yang sama dalam hati tiap menatap Jonathan yang tertawa.

*

Apollo #222

“Sini.”

Radit menatap kekasihnya yang baru saja menyampirkan handuk di kursi meja belajarnya. Dia berbaring di kasur dengan separo ruang disisakan untuk Natan.

Natan beranjak ke sisinya lalu membaringkan diri di atas lengan Radit lalu menyusup ke pelukannya dengan wajah menghadap ke leher Radit, tepat di denyutan nadinya.

Radit mendesah lalu memeluknya, mendekap tubuh Natan yang dingin setelah mandi ke tubuhnya yang hangat. Dia mencium puncak kepala Natan dan menghirup aroma rambutnya yang harum.

“Kita cukupkan sedihnya untuk hari ini, ya?” Katanya membuai Natan lembut dalam pelukannya.

“Aku tidak ingin nampak sok tahu dengan posisimu sekarang. Sok tahu tentang perasaanmu dan hatimu ketika aku benar-benar tidak tahu.

“Tapi aku berharap,” Radit membelai punggung Natan dengan lembut, membuat pola melingkar yang membuat Natan mendengkur lembut seperti kucing. “Kau cukup kuat untuk menghadapi ini semua.”

Radit mengistirahatkan kepalanya di atas kepala Natan, menariknya lebih dekat lagi seolah hal itu memungkinkan. Kaki Natan mengerut, dia menyelipkan sebelah kakinya ke kaki Radit dan membelit kaki mereka dengan erat seperti gurita.

Tadi saat Natan muncul di kontrakan setelah menghabiskan waktu berjalan-jalan dengan Radit untuk mengalihkan perhatiannya, Dirga menggoda Natan untuk pindah saja di kontrakan bersama mereka.

Ada satu kamar kosong di sudut yang mereka gunakan untuk menyimpan rongsokan dan mereka tidak keberatan membagi uang tahunan kontrakan itu berempat.

“Akan lebih murah jika ditanggung berempat.” Kata Dirga meyakinkannya seraya berbaring di lantai menonton televisi sambil mengunyah keripik singkong kiloan yang dibelinya di toko kelontong depan. “Kau juga tidak akan kesepian.”

Dan Natan mempertimbangkannya, sungguh.

“Kau sudah berusaha dan berjuang sangat kuat belakangan ini, kau berhak beristirahat sejenak.” Radit menimangnya lembut.

“Omong-omong,” katanya kemudian, Natan mendongak dengan wajah mengantuk.

“Kau tahu tidak Zeus menghukum Hera?”

Alis Natan naik sebelah. “Karena?”

“Mengirimkan Kampe padamu.” Radit nyengir, nampak sangat puas dengan berita itu. “Menurut sumber terpecaya yaitu daily vlog Ares di kanal Youtube-nya, Zeus mengirim Hera ke antah-berantah untuk,”

Radit membentuk tanda kutip dengan tangannya yang bebas, “'Merenungkan kesalahannya.'” Dia nyengir.

Murkanya langit.” Tambahnya. “Ternyata bukan ditujukan padamu, tapi pada Hera.”

Natan tidak menjawab, alih-alih mengeratkan pelukannya ke Radit dan menyusupkan wajahnya semakin dalam ke cerukan leher Radit seperti bayi koala.

“Sayangku.” Desah Radit lembut, memeluknya erat. “Kau sudah melakukan yang terbaik. Sungguh. Sekarang, mari beristirahat.”

Radit memejamkan mata, menggumamkan nada-nada acak yang menenangkan dengan suaranya yang berat.

“Sayang?” Panggil Natan serak kemudian.

“Hm?”

“Cium aku.”

Radit mendenguskan senyuman lalu membuka matanya, menoleh dan menemukan Natan sedang menatapnya. Dia merunduk, menyapukan bibirnya dengan lembut di permukaan bibir Natan.

Memberinya kecupan mendebarkan.

“Kau ingin tidur sekarang?” Tanyanya membelai kening Natan dengan lengannya yang digunakan Natan sebagai bantalan tidur.

Natan menatapnya, lalu menjulurkan lehernya untuk meraih bibir Radit dalam ciuman panjang dan menuntut. Bibirnya mengigit bibir bawah Radit dengan lembut lalu menariknya dengan sensual.

Lalu menarik wajahnya.

Radit menatapnya, bibirnya terkuak geli dan nampak sangat terhibur. “Wow. Apa itu?” Tanyanya parau, membelai wajah Natan dengan punggung tangannya.

“Kau ingin?”

Natan menatapnya, mengangguk. “Selalu menginginkanmu.” Balasnya serak lalu berguling, mengangkangi Radit yang terkekeh serak di bawahnya.

“Baiklah.” Sahut Radit dengan mata berkilat, menyentuh pinggul Natan dengan kedua tangannya lalu mengerang keras saat Natan menggerakkan pinggulnya untuk menggodanya.

“Berhenti menyerangku.” Keluh Radit, terhibur seraya menatap Natan yang merunduk dengan ikal rambut menjuntai di wajahnya.

Radit mengulurkan tangan, meraih sejumput rambut Natan—menyisirkan jemarinya di helai rambut Natan dan membelai pipinya.

“Aku mencintaimu.” Bisik Radit lembut. “Siapa pun kau, bagaimana pun latar belakangmu; itu tidak penting.” Dia tersenyum, menyapukan tatapan ke seluruh wajah indah Natan.

Your past is your problems. But your future is my priviledge.” Dia kemudian meraih wajah Natan merunduk dan mencium bibirnya.

Bercinta dengannya seraya membisikkan nama Natan di setiap inci kulitnya, menghembuskan cinta ke setiap bagian yang dikecupnya, memberitahu Natan betapa berharganya dia dalam setiap hembusan napas.

Karena Natan mungkin saja merasa dirinya cacat dan tidak sempurna, namun bagi Radit, Natan selalu jauh dari kata sempurna.

Mungkin bertemu dengan Radit tidak selalu tentang yang terbaik. Natan menghadapi banyak hal selama dia mengenal Radit, membuka pintu yang membongkar dua puluh tahun kebohongan solid yang menyakitkan.

Namun menurut Radit, rasa sakit ini setara dengan kenyataan yang didapatkan Natan.

Setidaknya setelah ini, Natan bisa hidup dengan identitas barunya.

Identitas aslinya.

Sebagai putra Zeus, sang Dewa Langit dan Raja Para Dewa.

Dan pulang ke Perkemahan, sebagai salah satu dari anggota keluarga—bukan lagi tamu. Bergabung dengan saudara-saudaranya di Kabin Zeus.

Natan akan memiliki keluarga baru.

Radit berharap, kehidupan baru ini bisa membuat Natan lebih bahagia.

Karena Natan layak mendapatkan kebahagiaan yang setara dengan bahagia yang selalu diberikannya ke orang-orang tanpa lelah.

Dan Radit akan memastikan itu.

*