Apollo #232
Att: Alur maju-mundur.
*
Radit bergegas memarkir motornya di parkiran basemen auditorium kampus sebelum berlari melompati dua-dua anak tangga naik ke lobi depan auditorium yang digunakan untuk hari pertama inisiasi. Dia menyapa beberapa temannya yang menjadi panitia sebelum berlari menyeberangi parkiran gedung pusat dan menaiki tangga menuju lift dan menekan tombol naik.
Dia merapikan kemejanya dan mengusap tulang ekornya yang berdenyut karena dia terpeleset di lantai kamar mandi karena terburu-buru. Dan itu sakit sekali namun Radit tidak punya waktu untuk menelepon Natan dan merengek padanya karena dia harus segera berangkat.
Dia akan minta Natan mengeceknya nanti setelah dia pulang kelas.
Radit memasuki lift dan menekan tombol tiga. Dia melirik jam dan merasa tidak enak karena Arjuna mengurus semuanya sendiri padahal dia ketuanya. Kemarin dekan mereka meminta Radit dan Arjuna untuk bertemu dengan Wakil Rektor 3 untuk urusan kemahasiswaan tentang pencairan dana karena ada peraturan dan proses baru dari Wakil Rektor 2 bagian keuangan mengenai dana inisiasi.
Lift berhenti, pintunya terbuka dan Radit bergegas keluar, dia menoleh ke utara dan menemukan Arjuna masih duduk di meja tempat para mahasiswa biasa menunggu giliran konsultasi dengan bagian WR3 sedang membaca buku yang digunakannya sebagai objek penelitian skripsinya.
Di belakangnya ada jendela raksasa gedung pusat kampus mereka, memamerkan langit Yogyakarta yang cerah dan siluet Gunung Merapi yang setengahnya tertutup gedung perpustakaan.
“Jun.” Katanya terengah saat tiba di sisi Arjuna, bergegas merapikan rambutnya yang terasa berantakan. Apakah dia sempat menyemprotkan parfum tadi? Sial. “Maaf, maaf.” Dia menghela napas dalam-dalam. “Kau seharusnya membangunkanku.”
Arjuna mendongak, menutup bukunya. “Hei, R.” Dia meringis, nampak benar-benar bersalah. “Aku juga sungguh tidak terpikir untuk membangunkanmu. Aku lupa.”
Radit menatapnya dengan mata memicing. “Bagaimana jika kita bertukar posisi saja? Kau yang ketua, aku yang wakil.”
“Yah, jangan begitu dong.”
“Aku tahu kau malas berurusan dengan Sekretariat jika jadi ketua, 'kan.”
“Ketahuan, deh.”
Radit memutar bola matanya lalu mendudukkan dirinya di sisi Arjuna, menunggu giliran mereka karena biasanya konsultasi dengan WR3 bisa memakan waktu seharian. Banyak dokumen dan wejangan yang biasanya diberikan Romo pada mereka semua untuk menimplementasikan Pendagogi Ignasian pada sistem insiasi mahasiswa baru.
Radit menoleh ke jendela raksasa di belakang tubuhnya, menunduk ke bawah dan tersenyum saat melihat mahasiswa-mahasiswa baru sedang berbaris untuk sirkulasi pindah ke kampus satu sebagai bagian dari rangkaian insiasi universitas—tur kampus. Mereka menggunakan kemeja dan celana jins dengan sepatu tertutup, mengenakan name tag berwarna-warni.
Radit kemudian teringat hari itu, pertama kali dia bertemu Natan dan bagaimana pemuda itu menjungkirbalikkan dunianya....
*
Walkie-talkie Radit berkeresak, dia mengecilkan volumenya sementara dia berdiri di bagian belakang barisan mahasiswa baru yang sedang duduk di atas alas duduk mereka yang dibuat sendiri di lapangan Kampus 3 menghadap panggung menunggu pengisi acara duduk di podium.
Kipas angin raksasa yang meniupkan angin dan air rintik-rintik agar udara sedikit lebih sejuk mendengung di sisi Radit, dia berdiri di sebelah anak-anak paramedis yang bersiaga jika ada mahasiswa yang kepanasan karena cuaca Yogyakarta tidak pernah bersahabat panasnya di pertengahan tahun.
Tahun itu, insiasi masih dilakukan di lapangan. Universitas mereka belum memiliki auditorium berkapasitas 1,000 orang berpenyejuk yang nyaman. Mahasiswa baru harus duduk lesehan di tanah beralaskan alas duduk yang mereka buat sendiri dari plastik bekas.
Anak-anak divisi Konsumsi sedang menyiapkan makan siang yang akan dibagikan ke pendamping kelompok mahasiswa baru pada jam makan siang. Radit membantu beberapa perempuan yang nampak kerepotan menyeret kantung-kantung plastik merah yang terisi nasi bungkus yang beraroma tajam makanan.
Karena belakangan ini para Paman Dewata-nya tidak bertingkah, Radit meminta izin pada Apollo untuk menjadi panitia inisiasi universitas dan meminta ayahnya bersumpah pada Sungai Styx (Apollo sungguh melakukannya) agar tidak mengontaknya lalu memerintahkan Radit terbang ke New York sewaktu-waktu selama enam bulan dia berdinamika dengan teman-teman panitianya.
“Lama sekali!” Keluh Apollo saat Radit memintanya diam selama enam bulan.
“Peduli amat.” Sahut Radit saat itu dan langsung mendaftarkan diri sebagai panitia sebagai divisi Keamanan sebelum salah satu keluarga Dewata-nya sempat memikirkan tugas remeh untuk menghibur diri.
“R, tolong!”
Radit menoleh dan menemukan satu anak Konsumsi yang sedang membawa sekardus makanan di kedua tangannya sementara satu plastik merah tergantung mengerikan di lengannya, jika dia salah melangkah sedikit saja maka dia akan tersandung kaki kikuknya sendiri dan terjerembab dengan sekitar lima puluh nasi bungkus. Maka dia bergegas menghampiri perempuan itu dan mengambil alih kardus di tangannya.
“Kebiasaan.” Guraunya membawa makanan itu ke tempat Konsumsi.
“Aku pikir aku mampu.” Keluh anak Konsumsi, melangkah di sisinya. “Terima kasih.”
“Sama-sama.” Balas Radit tersenyum lalu meletakkan kardus makanan itu di atas meja dan mendesah, dia mulai lapar. Tadi pagi dia hanya makan setangkup roti dan susu, seharian dia berlari-lari mengurus sirkulasi mahasiswa baru dari kelas ke panggung dan sebaliknya.
Sekarang dia lelah, kepanasan dan kelaparan. Sangat menyedihkan.
Radit meraih botol minumnya, meneguk isinya agar perutnya kembung dan tidak berisik. Dia baru saja akan duduk kembali saat seorang pendamping kelompok berdiri dan menoleh ke sana kemari mencari Keamanan. Radit langsung berdiri lagi, meletakkan botol minumnya dan bergegas menghampirinya.
“R!” Seru pendamping itu dengan lega saat melihat Radit berlari kecil ke arahnya dalam balutan celana jins longgar dan kaus panitia. “Tolong, anakku ada yang harus ke toilet.”
Radit mengangguk. “Oke, ayo.” Katanya menatap anak-anak kelompok itu dan bertemu mata dengannya.
Mungkin berlebihan sekali jika Radit merasa seluruh dunia berhenti saat itu juga. Mata itu berbinar, indah sekali. Dia menggunakan kemeja merah pudar polos dengan celana jins, melilitkan tali name tag-nya di kepala seperti bando, robekan kertas menempel di atas bibirnya dan wajah-wajah geli di sekitarnya sudah menunjukkan betapa dia adalah badutnya kelompok itu.
Ekspresinya mengundang senyuman kecil di bibir Radit, begitu saja.
Saat matanya bertemu dengan Radit, dia langsung tersenyum lebar—ramah dan hangat. Radit belum pernah mendapati seseorang tersenyum sehangat dan seramah itu pada orang yang pertama kali dikenalnya.
Bagaimana bisa dia tidak melihat anak ini di hari pertama? Dia sungguh bersinar dan mustahil untuk diabaikan dengan segala keindahan ragawinya dan juga senyuman yang nampak tidak pernah meninggalkan bibirnya.
“Ayo, Natan.” Kata pendamping itu dan untuk menghadiahi Radit, dia melambaikan tangan pada pemuda itu yang sekarang berdiri, menepuk-nepuk remah rumput kering dari celanannya dan bergegas menghampiri pendamping kelompoknya. “Diantar Kak R, ya.”
“Siap, Kak.” Balas pemuda itu, ceria.
Radit melirik name tag-nya, “Jonathan.” Ulangnya dalam hati dan mendapati anak itu satu jurusan dengannya, Sastra Inggris dengan hati berdebar terlalu bersemangat—di luar apa yang direncanakannya.
Syukurlah, berarti Radit tidak perlu bersusah payah untuk bertemu dengannya lagi setelah inisiasi berakhir. Walaupun dia tidak yakin apa yang bisa dilakukannya dengan anak itu. Dia berdiri di sisi anak itu, Jonathan yang sekarang melepaskan tali namanya dari kepala karena ditegur pendamping kelompoknya dan mengalungkannya di lehernya dengan benar.
Radit berdeham, gugup. “Ayo.” Ajaknya dan meraih walkie-talkie-nya untuk bicara ke para Keamanan dan koordinatornya. “Anak Kelompok Dua, satu orang. Toilet. Raditya.”
“Copy.” Sahut koordinator divisi Keamanan di ujung Selatan panggung, melambaikan tangan pada Radit tanda dia menerima pesan Radit dan mempersilakan mereka pergi.
Radit memimpin mereka ke arah toilet yang menyeberang halaman luas kampus 3, ke gedung utama. Anak itu menyejajari langkahnya dengan ceria. Radit berpikir anak itu pasti tidak pernah merasa sedih atau terluka sepanjang hidupnya, bahagia dan positivitas pasti selalu memberkatinya. Seperti gelembung yang memeluknya, memastikan tidak ada kesedihan yang menghampirinya.
“Kak, namanya siapa?” Tanyanya ringan, memulai pembicaraan dengan lugas dan mudah. Sangat bertolak belakang dengan Radit yang selalu merasa keheningan jauh lebih membuatnya nyaman walaupun kemudian dia akan merasa tidak enak karena terlihat seperti orang menyedihkan dan membosankan.
Kenapa Apollo memberkatinya dengan segalanya kecuali keahliannya bersikap humoris dan banyak bicara? Radit akan bicara pada Apollo setelah ini.
Radit menoleh, tersenyum kikuk. “Raditya.” Katanya, mengecilkan volume walkie-talkie di tangannya, dia menunjukkan callcard panitia di dadanya: Raditya, Keamanan.
Jonathan menatap call-card itu, membacanya tanpa suara lalu mengangguk. “Oh, halo, Kak Raditya!” Sapanya kemudian. “Kakak jurusan apa? Semester berapa?”
Lugas sekali, pikir Radit. “Sastra Inggris, semester 3.” Sahutnya, menaiki tangga menuju gedung utama dan mahasiswa baru di sisinya, Jonathan mengikuti langkahnya dengan menandak-nandak seperti rusa jinak yang menyenangkan.
“Wah, satu jurusan, dong!” Dia tersenyum lebar. “Nanti aku boleh tanya-tanya ke Kak Radit, ya?”
Radit mendapati dirinya ikut tersenyum lebar karena bagaimana pun keceriaan Jonathan menular dengan cepat, seperti virus. Membuatnya otomatis merasa hidupnya lebih baik, merasa hangat dan diterima. Auranya yang begitu hangat dan menyenangkan membuai Radit dengan cara yang begitu asing di dirinya selama ini.
“Boleh, dong.” Sahutnya lalu berhenti di depan toilet. Merasa seketika nyaman dengan interaksi mereka—hal yang tidak biasa karena Radit selalu kesulitan merasa nyaman dengan orang-orang baru.
Dia selalu merasa dirinya seorang introvert, tidak suka berada di bawah lampu sorot. Tipe yang jika berada di dalam grup percakapan, akan berakhir menjadi seorang silent reader, tidak menemukan hal menarik untuk dibicarakan.
Namun Jonathan berhasil membuatnya tersenyum, berhasil membuatnya merasa nyaman untuk membalas obrolannya dengan tenang dan membuat Radit untuk pertama kalinya merasa dia ingin mengobrol dengan seseorang.
Dengan Jonathan.
“Nah, sana. Ke toilet dulu,” dia melirik jam tangannya. “Sebentar lagi sesi kedua dimulai.”
Jonathan mengangguk, “Sebentar, ya, Kak!” Dia bergegas memasuki toilet dan Radit berdiri di depan pintu, mencoba mengatur jantungnya yang berdebar kacau-balau.
Dia menatap refleksi dirinya sendiri di pintu lift lalu tanpa sadar mengangkat tangannya, dengan kikuk menyugar dan menyisir rambutnya. Berusaha merapikannya dan mendesah karena dia nampak seperti baru saja mendaki gunung di bawah terik matahari. Rambutnya berminyak karena keringat, wajahnya kusam karena debu lapangan dan dia benar-benar butuh deodoran.
Kesan pertama: minus.
Lalu dia berhenti, menatap bayangannya dengan jengkel. Kenapa pula dia harus berusaha nampak tampan dan keren di depan mahasiswa baru ini secara spesifik? Memangnya prospek apa yang Radit inginkan?
Dia menurunkan tangannya, menatap benda itu jengkel karena melakukan hal-hal yang tidak diperintahkannya. Dia kemudian bersandar di dinding, menunggu Jonathan keluar dari toilet. Terdengar suara urinal yang disiram dan Radit mendorong tubuhnya, menegakkan diri.
Tetap saja saat Jonathan keluar, dia bergegas menyugar rambutnya terburu-buru sebelum menoleh.
“Sudah, Kak.” Dia tersenyum dan Radit membalas senyumnya—tidak bisa tidak. “Ayo, kembali.”
Radit mengangguk, “Ayo.” Katanya dengan jantung yang menonjok tenggorokannya.
Benar jika perasaan ini dinamakan jatuh cinta karena hal itu terjadi di luar kekuasaan Radit sama sekali. Radit jatuh tanpa benr-benar menyadari apa yang terjadi atau bahkan memikirkannya.
Dia mendapati dia sering bertemu Jonathan di lorong kampus, atau berpapasan saat pergantian kelas. Atau bahkan dalam satu kelas yang diulang Radit. Jonathan selalu memancarkan cahayanya sendiri—hangat dan ramah. Mengamati Jonathan yang selalu duduk di bagian depan kelas, mendengarkan dosen dengan serius dari sudut, tempat para kakak tingkat yang mengulang kelas berada.
Berharap mungkin Radit punya kemampuan untuk setidaknya bergabung dengan dia dan teman-teman Jonathan. Atau setidaknya menyapa Jonathan saat mereka tidak sengaja berdiri bersebelahan di kantin yang penuh sesak.
Aroma tubuh Jonathan luar biasa. Dia berdiri begitu dekat dengan Radit saat itu, separo bahunya bersandar di tubuh Radit dan rambutnya menggesek rambut Radit—menghamparkan aroma sampo segar yang membuat Radit nyaris sakaw. Dia membeli makanan, sibuk mencoba menarik perhatian penjaga kantin dengan galak alih-alih menyadari pada siapa dia bersandar.
“Mas! Berapaaaaaa?!” Serunya di telinga Radit seraya melambaikan plastik terisi tahu bakso dengan sebal. “Ayo, Mas! Saya mau kelaaasss!”
Radit tidak bisa tidak tertawa mendengarnya. Dia bertahan di sana, di sisi Natan terdorong dan terhimpit rombongan mahasiswa yang belanja padahal dia sudah menyelesaikan transaksinya hanya agar Natan terus bersandar padanya.
Syukurlah pemuda itu agak tidak peka dengan sekitarnya sehingga dia benar-benar tidak repot untuk sekadar mendongak pada siapa dia bersandar. Dan Radit sama sekali tidak keberatan. Dia akan berdiri di sana satu jam untuk menjadi sandaran Natan jika perlu.
Dan saat Radit keluar dari kantin, aroma parfum Natan menempel di pakaiannya.
Namun dia sama sekali tidak ingat Radit. Tentu saja.
Mereka hanya berinteraksi kurang dari sepuluh menit dan tentu saja kecil kemungkinan Jonathan benar-benar mengingatnya. Dia mungkin hanya mengobrol dengannya sebagai sopan-santun karena mereka berjalan bersebelahan, mengisi kekosongan. Bukan karena benar-benar tertarik pada Radit.
Dan sekarang dia merasa sangat malu.
Belum lagi fakta bahwa dia adalah seorang demigod. Hidupnya selalu berada diambang bahaya. Kemungkinan untuk mati terhampar luas di hadapannya—salah satu langkah saja, terlambat melepaskan anak panah sedetik saja mungkin hidup Radit akan berakhir.
Dia selalu menjauhkan orang-orang yang disayanginya dari kehidupan lainnya di New York. Dia menjauhkan Dirga dari sana, dia menjauhkan Arjuna dari sana. Dan seorang manusia fana sebagai kekasih mungkin bukanlah hal terbaik yang pernah dilakukan Radit selain mencoba menghadapi Hydra.
Mungkin Radit lebih suka menghadapi Hydra saja daripada mencoba menjalin hubungan dengan primadona Sastra Inggris.
Pilihan pertama nampak jauh lebih tidak berbahaya.
Radit tidak bisa tidak mendengar berita-berita itu, tentu saja. Bagaimana perempuan-perempuan mencoba mendekatkan diri pada Jonathan. Menyapanya di setiap kesempatan, meminjami dia buku-buku yang akan berguna untuk anak-anak semester satu tanpa dia meminta.
Teman-teman nongkrongnya yang adalah jajaran mahasiswa hits dengan mobil mengilap dan dompet tebal—keturunan etnis Cina, Batak dan Dayak yang membuat orang lain minder karena keindahan ragawi mereka. Dan Jonathan di tengahnya, nampak cocok seperti kepingan puzzle yang menemukan temannya.
Jonathan adalah matahari, yang menarik semua orang berotasi mengelilinginya. Menarik begitu banyak kumbang untuk berteman dengannya. Senyumannya menular, selera humornya sehat. Dia mudah bergaul dengan siapa saja, mudah memulai pembicaraan, gemar memberitahu cerita-cerita lucu yang menyihir.
Singkat kata, dia adalah idaman semua orang.
Maka Radit mengendikkan bahu, mundur ke bayang-bayang dan mencoba menyelesaikan studinya tepat waktu sambil meladeni keinginan aneh-aneh Paman Dewata-nya yang rewel. Memikirkan bagaimana jika dia bergabung saja dengan bibi-bibinya, Artemis dan Hestia untuk melajang seumur hidup—apakah Pemburu menerima anggota lelaki?
Dia menghindari Jonathan dan sinarnya yang menyilaukan, berusaha meluruh ke bayang-bayang dan mencoba untuk tidak terbunuh Hydra, Echidna atau tidak mengatakan “Fuck you!” pada Oracle Delphi tiap kali dia membacakan syair ramalan kematian mengerikan untuk Radit.
Hingga suatu hari, Moirai memutuskan untuk memberikannya hadiah setelah berhasil untuk tidak mati setelah melayani keinginan Paman Dewata-nya.
Bayangkan betapa senang, takut namun bersemangatnya dia saat hari itu dipanggil oleh dosen Morphosyntax-nya, Sisca tentang pengulangan kelasnya dan bagaimana Radit sebenarnya mampu untuk mengikuti kelas hanya saja harus berusaha “lebih baik lagi” untuk memenuhi syarat 75% kehadiran untuk lulus lalu dosen muda nyentrik itu menyerahkan selembar kertas.
“Ini kelompokmu, saya pilihkan saat kau bolos kelas terakhir.” Dia menyerahkan secarik kertas dengan nomor telepon di atasnya. “Saya sudah meminta ketua kelompoknya untuk menghubungimu.”
Radit menerima kertas itu, menunduk membacanya dan mendenguskan senyuman kecil; tidak bisa menekan perasaan bahagia yang membuncah di dadanya. Seperti popping boba yang meletus; memberikan rasa asam-manis mengejutkan di indera perasanya. Rasa yang membuat lidahnya kemudian merindu, mendecap-decap dan mencari-cari ke seluruh penjuru mulutnya untuk kembali merasakan rasa yang sama.
Teringat harum parfum Natan yang menempel di pakaiannya dan bagaimana pemuda itu bersandar padanya di kantin yang penuh sesak. Tentu bukan kisah roman picisan paling romantis.
Namun mengingat jumlah kisah cinta yang dimilikinya alias nol besar, kisah ini yang terbaik untuknya.
Jonathan / 184214014 / 0878-9291-4486
Sisanya tidak penting karena dia akan satu kelompok dengan Jonathan. Apakah mungkin kesempatan akan datang padanya?
Namun dibanding itu semua, apakah Radit siap membina hubungan?
Dia selalu hilang berminggu-minggu, berbulan-bulan. Karena itulah studinya terbengkalai dan dosen-dosen hingga benar-benar lelah mengingatkannya tentang 75% kehadiran kelas untuk bisa lulus tidak peduli seberapa gemilang hasil UAS dan UTS Radit. Universitas yang dinaungi Vatikan memang selalu menilai banyak hal terlepas dari nilai yang tertera di atas kertas.
Mereka bahkan menunjuk Radit menjadi ketua HMPS tanpa menanyakan kesediaannya hanya untuk membuatnya semakin rajin ke kampus untuk kuliah. Berhasil juga karena kadang dengan alasan ini Radit bisa menghindari tugas-tugas remeh dari Aphordite (“R, bisakah kau mengambilkan krim malamku di Pulau Circe? Aku butuh krim itu untuk menghilangkan kerut.” Dan Radit harus menghadapi Siren dalam perjalanannya—sangat mendebarkan.).
Dan Radit selalu menyadari bahwa kecenderungannya untuk tiba-tiba harus berangkat ke New York akan menjadi sebuah bencana untuk hubungan yang coba dibinanya. Bensin yang menyulut pertikaian.
Memangnya orang biasa akan percaya saat Radit bilang dia anak Apollo? Setengah dewa dengan darah dewata mengalir di pembuluh darahnya dan dia harus hilang pulang ke Perkemahan Blasteran untuk mengambilkan apel emas untuk Hera dan tugas-tugas remeh lainnya.
Mereka pasti akan menatap Radit seolah dia sinting.
Bukannya sombong (kata-kata ini memiliki peluang sebesar 95% untuk diikuti dengan kesombongan murni), Raditya itu putra Apollo.
Dewa yang bisa membuat siapa saja berubah menjadi homoseksual atau biseksual. Dia keturunan dewa, dia separo dewa. Dia bisa saja menggoda Jonathan di hari pertama namun dia tidak melakukannya.
Yah. Bohong.
Radit adalah manusia kikuk dengan kecenderungan untuk menyembunyikan diri—selain karena disleksia ringan dan GPPH (gangguan pemusatan pengliatan dan hiperaktivitas) yang dimilikinya (dan sudah berhasil dikendalikannya agar tidak nampak terlalu aneh), dia juga jarang berhasil menjalin pertemanan karena sifatnya yang lebih suka menjadi bayang-bayang dan menjauh dari lampu sorot.
Dirga dan Arjuna adalah satu-satunya teman yang dimilikinya. Radit tidak pernah ingin menambah nama dalam daftar teman-temannya karena takut membahayakan mereka dengan hidup penuh tantangan yang mendebarkan milik Radit. Dia harus menjauhkan orang-orang dari hidupnya.
Alasannya? Hera suka iseng.
Tapi semuanya berbeda dengan Jonathan.
Maka dia benar-benar tidak menyangka saat pertama kali mereka bertemu, dengan Jonathan yang terengah-engah menaiki tangga Perpustakaan menuju lantai tiga dengan terburu-buru karena terlambat untuk pertemuan mereka, kalimat pertama yang dikatakan pemuda itu:
“Wow.” Matanya berbinar, seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah Natal saat melihat Radit—membuat hatinya berdesir oleh cinta yang terasa hangat dan manis, seperti lelehan cokelat dan marshmallow.
Aroma parfumnya masih sama, aroma samponya tetap sama. Dan keindahan wajahnya masih sama, bahkan jauh lebih mendebarkan dari jarak sedekat ini—terdekat yang pernah Radit rasakan. Dia memancarkan kehangatan yang mengundang, seperti segelas cokelat hangat yang kental beraroma pahit-legit. Sesuatu yang akan disesap perlahan, dirasakan di lidahnya, meleleh dengan lembut dan meninggalkan sisa rasa yang menakjubkan.
“Apakah Kakak anak dewa? Kakak tidak mungkin manusia biasa.”
Seolah Radit tidak menanyakan hal yang sama dalam hati tiap menatap Jonathan yang tertawa.
*