Sizzling Romance #29


Taehyung berdiri di depan Solaria bagian Kedatangan Domestik Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai yang sudah semakin lenggang karena jam sudah menunjukkan waktu pukul sembilan lebih.

Dia melangkah melewati lorong panjang kedatangan, menyeberang ke arah terminal penjemputan dengan kaki yang terasa kaku setelah sekian lama ditekuk agar muat dalam kabin pesawat yang sempit.

Dia mengutuk penerbangannya yang sempat tidak bisa mendarat tadi dan menghabiskan satu jam untuk berputar di atas udara menunggu giliran untuk mendarat karena runway yang basah dan licin. Dia lelah dan ingin mandi air hangat lalu berbaring karena punggungnya terasa nyeri akibat duduk membungkuk terlalu lama di dalam pesawat yang kecil.

Menyebrangi jalanan kecil ke lokasi penjemputan, Taehyung mendesah kelelahan. Dia meletakkan kopernya di lantai dan duduk di atasnya. Barang-barangnya menyusul dengan kargo udara dan akan tiba keesokan harinya. Dia sudah menelepon Hoseok kemarin, meminta bantuannya untuk mengambil barang dan menata kamar barunya.

Taehyung benci berpergian jauh dalam waktu singkat. Dua minggu menurutnya terlalu terburu-buru untuk mempersiapkan kepindahannya ke tempat baru yang benar-benar asing. Dan dia sangat mengandalkan jemputan dari Banyan Tree Bali namun ternyata saat dia keluar tidak ada concierge yang menunggunya.

Kekesalan dan kelelahannya berlipat ganda, he feels so irritated right now.

Dia menatap layar ponselnya, mendesah panjang dengan agak jengkel apa yang membuat Head Chef-nya begitu lama. Dia berpikir apakah dia sebaiknya mencari taksi saja daripada harus menunggu di situ seperti orang bodoh?

Taehyung melirik jam tangan di tangan kirinya, mendesah saat jarum panjang bergerak ke angka enam. Sudah jam setengah sepuluh malam dan Taehyung benar-benar lapar, lelah dan penat. Dia butuh berbaring, atau setidaknya berikan dia kopi.

Apakah dia harus kembali ke Starbucks yang dilewatinya tadi? Tapi dia terlalu lelah dan malas, bagaimana jika Jeongguk tiba saat dia mengantri? Dia tidak ingin membuat atasannya menunggu.

Orang-orang di sekitarnya yang tadi satu pesawat dengannya mulai perlahan dijemput oleh keluarga dan supir pribadi. Nampak senang bertemu kembali dengan wajah yang akrab dengannya. Suara percakapan akrab mereka dalam bahasa Bali berlogat kental membuat Taehyung sedikit-banyak terhibur.

Dia duduk di sana, di area penjemputan tanpa parkir dengan tubuh letih dan rasa lapar menjalar di perutnya. Sudah putus asa, akan beranjak ke Solaria untuk makan jika mereka masih menerima order saat dia akhirnya melihat mobil perak yang dimaksud Yugyeom.

Taehyung memicingkan mata, mencoba melihat plat nomor yang tertera di sana dan berdebar saat menyadari platnya sesuai dengan yang dikatakan Yugyeom. Mobil itu menderum halus, kemudian berhenti di depannya.

Taehyung masih diam, duduk di atas kopernya sebelum perlahan jendela di bagian penumpang turun. Dari dalam, dengan cahaya temaram dari terminal bandara, Taehyung bisa melihat bentuk wajah seseorang di balik kemudi.

Garis rahangnya tajam dan panjang, hidungnya bangir dengan rambut basah yang disisir ke belakang memamerkan keningnya yang tinggi. Terlalu gelap bagi Taehyung untuk mengamati ekspresi atau bentuk wajahnya, namun tidak lama karena kemudian pengemudi itu mendesah, cukup keras untuk didengar Taehyung, menjulurkan tubuhnya ke kursi penumpang dan membukanya dari dalam.

Pintu terayun terbuka dan lampu kabin mobil menyala merespon sensor pintu yang dibuka.

Dan Taehyung bertatapan dengannya.

Hal pertama yang disadarinya adalah ekspresi wajah yang seperti serigala terganggu.

Dingin dan serius. Bibirnya membentuk garis tipis, matanya menatap Taehyung dengan steril—tanpa emosi sama sekali kecuali terganggu seolah Taehyung baru saja membunuh kucingnya atau apa. Selapis keringat berkilau di keningnya, rambutnya basah dan alisnya tebal—singkat kata, wajahnya sempurna sekali.

Jimin tidak melebih-lebihkan saat dia mengatakan Jeongguk sangat tampan karena kata tampan sekali pun terdengar terlalu remeh digunakan untuk menjelaskan keindahan ragawinya.

Dia nampak seperti model kelas internasional yang bisa saja mengisi sampul majalah terkenal jika saja dia tidak bewajah masam sepanjang waktu seperti penderita wasir.

Setelah berhasil melepaskan tatapan dari wajahnya yang luar biasa, Taehyung menyadari masalah lainnya.

Pakaiannya.

Dia mengenakan setelan olahraga. Celana pendek yang memamerkan pahanya yang padat dan sempurna, sepatu dan kaus tanpa lengan yang menempel di tubuhnya seolah benda itu adalah kulit keduanya. Lengket oleh keringat. Ada hand-band di kedua pergelangan tangannya yang sekarang ditumpukan di atas roda kemudi.

Taehyung pasti duduk di sana, melongo karena ketampanan dan pesona nyaris surgawi head chef barunya cukup lama karena kemudian alis tebalnya mengerut dan bibirnya berdecak.

“Taehyung?” Tanyanya.

Oh.

Taehyung mengerjap. Suara dan logatnya....

“Ya.” Katanya, terpesona. Dengan suara seberat itu, dia pasti bisa menguasai satu ruangan begitu saja tanpa perlu berusaha.

Dia hanya perlu sedikit saja tersenyum.

“Naiklah.” Tambahnya, “Atau kau berencana tidur di sana malam ini?”

Taehyung bergegas berdiri, merasa bodoh dan menarik kopernya menuruni tangga dan menghampiri Rubicon perak yang berhenti di jalan. Roda kopernya berderit saat bergulir di atas aspal dan Jeongguk menekan tombol kunci di sisi kendali.

Dalam hati mengutuk seluruh suku Bali dan logat mereka yang mendebarkan. Apalagi di lidah dan suara empuk pemuda setampan Jeongguk.

“Naikkan saja ke kursi penumpang.” Kata Jeongguk dari depan dan Taehyung membuka pintu penumpang.

Dia mengangkat kopernya yang lumayan berat dan meletakkanya di atas kursi yang lembut dan bersih. Di sana ada tas olahraga Jeongguk dan aroma keringat yang pekat membuat Taehyung sejenak mabuk—aroma keringat yang berusaha disamarkan dengan parfum maskulin dan tercampur dengan pengharum mobil.

Namun malah membuatnya tercium semakin memualkan.

Tidak terlalu menyenangkan apalagi setelah Taehyung melewati satu jam berputar di udara di dalam kabin pesawat.

Dia menutup pintu penumpang sebelum melangkah ke kursi penumpang dan memanjat naik. Jeongguk menatap ke depan, rahangnya keras sebelum melirik saat Taehyung menutup pintu penumpang dan memasang sabuk pengamannya.

“Halo.” Sapa Jeongguk saat Taehyung mulai menyerah, mengharapkan sapaan ramah dari chef di sisinya.

“Jeongguk.” Dia mengulurkan tangan kanannya yang dipenuhi tato, dia menggunakan jam tangan di pergelangan tangannya dengan tiga benang mungil yang diikat berwarna merah-hitam-putih pudar.

Taehyung menyambutnya, tersenyum ramah. “Taehyung, Chef.” Katanya. “Maaf merepotkan Anda untuk menjemput saya.” Dia menjabat tangan Jeongguk yang agak lembab dengan hangat dan kuat.

Sudut bibir Jeongguk naik sedikit. “Tidak apa-apa.” Katanya kemudian melepaskan tangannya dan kembali memegang roda kemudi. “Maaf jika terlalu lama. Saya berangkat dari gym dan terjebak macet karena terpaksa melewati jalan konvensional ke bandara. Saya lupa membawa E-Toll.”

Taehyung mengangguk, mengarahkan penyejuk udara ke wajahnya. “Tidak apa-apa, Chef. Saya yang menyusahkan.” Katanya.

“Maaf juga, mungkin agak bau. Saya belum mandi. Takut kau menunggu terlalu lama.” Jeongguk kemudian melirik spion kanannya, memasukkan perseneling dan menginjak gas. Mobilnya berderum, melaju perlahan di jalanan bandara menuju pintu keluar. “Jadi saya langsung berangkat setelah selesai olahraga.”

“Dimaafkan.” Taehyung tersenyum. Mengamati dengan diam-diam interior mobil yang bersih dan rapi itu sebelum diam-diam melirik Jeongguk yang sekarang merogoh ceruk mungil di dekat pintu pengemudi—mengeluarkan receh dan karcis parkir saat mereka mulai mendekat ke pintu keluar.

Dia nampak luar biasa. Muda, sehat dan vital. Dia tidak mungkin berusia lebih dari tiga puluh lima tahun sama seperti Taehyung dengan bentuk tubuh sehat yang keras dan kuat yang pasti didapatkannya dari olahraga dan mengayunkan frying pan. Tidak seperti tubuh Taehyung dengan otot-otot muda halus yang panjang karena terlalu sering tempering cokelat.

“Anda sering olahraga?” Mulai Taehyung sopan saat mobil meluncur keluar dari gerbang bandara.

“Dua-tiga kali seminggu.” Sahut Jeongguk, matanya terpancang ke jalanan nampak tidak terlalu nyaman dengan obrolan ringan yang coba dibangun Taehyung. “Alamat kosanmu?” Tanyanya kemudian.

Taehyung bergegas meraih ponselnya untuk mengecek alamatnya, kemudian mendadak teringat sesuatu yang penting.

Jeongguk menyadari perubahan bahasa tubuh Taehyung yang tegang dengan ponsel di tangannya, wajah kosong dan realisasi terlambat yang menyala di wajahnya seperti lampu neon dan dia menghela napas.

“Kau belum punya alamatnya.” Katanya begitu saja.

Taehyung meringis. Bodoh, bodoh! “Saya telepon Ibu Kos saya dulu.” Katanya, bergegas meraih ponselnya dan menekan nomor pemilik kos yang diberikan Hoseok beberapa waktu lalu sementara Jeongguk di sisinya nampak semakin jengkel.

Membuat Taehyung semakin sebal kenapa dia harus menerima permintaan Taehyung jika akhirnya dia malah bersikap jengkel sepanjang waktu? Taehyung tidak suka. Jika memang dia tidak ikhlas, lebih baik tidak usah sekalian.

Dan Taehyung bukan tipe yang diam saat harga dirinya disentil.

“Chef.”

“Ya?”

“Jika Anda memang sangat keberatan menjemput saya, kenapa Anda harus melakukannya? Saya sudah mengatakan pada Anda, saya akan mencari alternatif kendaraan lain jika Anda sibuk.”

Jeongguk menoleh, kaget karena kata-kata Taehyung yang duduk di kursi menempelkan ponsel ke telinganya menunggu ibu kosnya mengangkat teleponnya dengan wajah keras dan terganggu.

“Karena jujur saja, saya tidak nyaman dengan ekspresi Anda. Jika Anda keberatan, saya bisa cari kendaraan sendiri. Tidak apa-apa, Chef. Sungguh.”

Jeongguk menatap ke jalan, tangannya menggenggam kemudi dengan lebih kuat dari sebelumnya karena buku-bukunya memutih, untuk pertama kalinya sejak Taehyung bertemu dengannya ekspresi menghinggapi wajahnya—ekspresi sedikit malu dan tidak enak.

Dan Taehyung, dengan rasa jengkel di hatinya pun tidak bisa mengalihkan pandangan dari pembuluh darah sialnya yang menyembul.

“Stupid veins.” Umpatnya di dalam kepala seraya menunggu teleponnya di angkat.

“Maaf.” Kata Jeongguk kemudian. “Saya tidak terlalu sering berinteraksi dengan orang lain selain untuk pekerjaan. Tidak pernah berinteraksi dengan orang asing di luar jam bekerja, jadi mungkin saya kelepasan.”

Dia kemudian diam dan Taehyung juga diam, mendadak merasa tidak enak hati karena telah mengucapkan ketidaksukaannya dengan begitu gamblang setelah orang yang dikatainya bersikap baik dengan repot-repot buru-buru menjemputnya dari gym dengan setelan basah dan tubuh berkeringat.

“Saya melakukannya karena saya ingin membantu. Tenang saja.” Dia kemudian menoleh dan membuat Taehyung nyaris saja mati terkena serangan jantung karena dia melemparkan senyuman ke arahnya—begitu saja tanpa peringatan.

Senyuman tipis dan ringan, namun mengubah keseluruhan ekspresinya menjadi jauh lebih memesona daripada wajah dinginnya yang galak.

Namun senyuman itu lenyap secepat kemunculannya.

Dia kembali memasang wajah sterilnya yang jernih dan fokus ke jalanan yang padat di hadapannya. Dan telepon Taehyung diangkat.

“Halo?” Sapa Taehyung ramah, bergegas memerintahkan otaknya yang berkabut karena pesona senyuman Jeongguk yang tidak mungkin lebih dari lima detik untuk fokus ke teleponnya. “Ibu, maaf saya menganggu malam-malam. Saya lupa menanyakan alamat kosan.”

Dia diam saat mendengarkan ibu itu menjelaskan alamatnya. “Saya sedang bersama teman saya, ya, dia orang Bali. Oh... Baiklah. Baik.” Dia tersenyum. “Baik, terima kasih, Ibu. Kamar saya sudah dirapikan, ya? Wah, baik. Terima kasih.”

Dia lalu menutup teleponnya.

“Alamatnya?” Tanya Jeongguk, kali ini terdengar lebih ramah dari sebelumnya dan Taehyung tersenyum dalam hati—dia mencoba.

Dan Taehyung menghargai itu.

“Katanya, masukkan saja 'Bali Easy Keker' di maps.” Kata Taehyung, mengutak-atik ponselnya, membuka maps dan mengetikkan nama itu di sana.

“Keker.” Koreksi Jeongguk.

“Keker.” Ulang Taehyung menurut.

Dan Jeongguk mendenguskan tawa pelan samar di bawah napasnya.

“Lupakan maps-nya, saya tahu jalannya. Itu di wilayah Benoa, 'kan?” Tanya Jeongguk, bergabung ke dalam lalu-lintas Denpasar yang mulai ramai.

Lampu-lampu kota berkelip, wilayah di sekitar bandara masih nampak ramai dengan bar-bar, kafe dan mini market yang menyala menerima pengunjung. Beberapa tamu asing berjalan dengan santai di atas trotoar atau mengendarai sepeda motor dengan helm yang tidak dikaitkan dengan baik.

Taehyung menyandarkan diri di kursi, menatap ke luar jendela, menikmati perjalanannya di Bali untuk pertama kalinya mencoba dengan kuat mengabaikan kehadiran Jeongguk yang secara harfiah memenuhi seluruh ruang di dalam mobilnya.

Aroma keringatnya membuat Taehyung sinting.

Dan hal lain yang disukainya, Jeongguk mengemudi dengan terampil.

Banyak orang yang bisa mengemudi, namun keterampilan yang sesungguhnya langka dimiliki. Bagaimana dia bisa mengendalikan roda kemudi dengan lembut dan membuat penumpang nyaman berada dalam mobil yang dikemudikannya.

Ada banyak kualitas diri yang baik di Jeongguk (kecuali ekspresinya yang masam dan sepat sepanjang waktu) yang bisa diapresiasi Taehyung. Khususnya bagaimana dia berkenan menjemput Taehyung begitu saja bahkan sebelum mengenalnya.

“Barang-barangmu tidak banyak.” Kata Jeongguk kemudian saat mobil berhenti perlahan di depan lampu merah (Taehyung juga sangat mengapresiasi itu karena dia memperlambat mobilnya saat lampu kuning menyala alih-alih menginjak gas).

“Sisanya dikirim dengan lewat kargo.” Taehyung tersenyum. “Saya tidak ingin membawa banyak barang seperti keledai pengankut barang.”

Sudut bibir Jeongguk naik sedikit saat dia menarik rem tangan dan mengangguk, paham. Dia menjulurkan tubuhnya ke depan, menumpukan sikunya di roda kemudi dan lampu jalanan yang menyusup melalui jendela depan membias di wajahnya—membentuk bayangan panjang yang mempertegas bentuk hidung dan rahangnya.

Taehyung otomatis menahan napas.

Kacau sekali jika Taehyung jatuh cinta dalam empat jam pertamanya resmi menginjakkan kaki di Bali.

Tidak, tidak. Coret kata jatuh cinta.

Taehyung mungkin hanya sedang kagum pada bentuk fisiknya yang sempurna karena Taehyung tidak pernah jatuh cinta dengan mudah (memangnya kenapa lagi dia jomblo?)—ada banyak pertimbangan yang akan dilakukannya.

Termasuk sikap.

Dan Jeongguk yang sejak tadi bersikap seperti bajingan tengik mungkin bukan taruhan terbaiknya saat ini.

“Praktis juga.” Komentar Jeongguk kalem, mengangguk lalu menurunkan rem tangan sebelum memasukkan perseneling dan kembali menginjak gas. Mobil bergulir maju dengan lembut.

“Saya dengar Anda vegan?” Mulainya kemudian perlahan, menilai pakaian yang digunakan Jeongguk mungkin mereka harus menunda rencana makan malamnya ke kemudian hari.

“Vegetarian.” Koreksi Jeongguk. “Dan dari siapa?”

“Oh, maaf.” Taehyung meringis. “Dari Yugyeom. Saya berencana mengajak Anda makan karena sudah repot-repot menjemput Anda. Restoran mana saja yang Anda inginkan, my treat.”

Jeongguk diam sejenak sebelum bibirnya membentuk garis tipis, nampak rikuh sejenak sebelum menjilat bibirnya. “Saya rasa tidak malam ini.” Tolaknya lembut. “Tubuh saya lengket dan sudah malam. Saya yakin kau lebih butuh mandi dan tidur daripada duduk-duduk di restoran membicarakan pekerjaan.

“Kita akan berkerja sama ke depannya, masih banyak kesempatan lain.” Katanya sopan namun berjarak, memberi garis profesionalitas di antara mereka yang memukul mundur Taehyung dari usahanya untuk berteman lebih dari sekadar rekan kerja. “Tapi jika kau mau, kita bisa mampir membeli makanan.”

Taehyung langsung menggeleng dengan senyuman di bibirnya. “Tidak perlu makanan.” Katanya. “Starbucks saja, saya butuh sedikit kafein dan panini.”

“Baiklah.” Jeongguk mengangguk, melirik ke spionnya sebelum menambah kecepatan dengan lembut.

Dia membelok Starbucks pertama yang mereka temui dan mempersilakan Taehyung untuk memesan karena mereka tidak memiliki fasilitas drive-thru.

“Anda minum kopi?”

“Tidak perlu repot-repot.”

“Oh. Tolong biarkan saya membelikan Anda sesuatu.”

“Baiklah.” Jeongguk mendesah. “Chai tea latte hangat saja kalau begitu. Dengan sirup vanila saja.”

Taehyung tersenyum, senang bisa melakukan sesuatu untuk Jeongguk dengan uangnya. “Susu soya?” Tebaknya.

“Yap. Trims.”

Taehyung bergegas melepas sabuk pengamannya, melompat turun dan berjalan cepat ke arah gerai kopi itu. Mendorong pintunya terbuka dengan satu tangan, merogoh dompet dari saku belakangnya dengan tangan lainnya sementara barista di balik mesin kasir menyapanya dengan ramah.

Taehyung bersandar ke konter. “Tolong chai tea latte ukuran venti dengan vanilla syrup dua pump saja dan susu soya. Omit the simple syrup.” Katanya mengingat bahwa Jeongguk dengan vegetarian dan pola hidup sehat tentu akan mengapresiasi minuman less sugar sementara barista muda di hadapannya menginput pesananya ke mesin kasir.

“Lalu satu lagi, venti Signature Hot Chocolate dengan ekstra satu decaf shot. Jangan pakai simple syrup dan tolong yang panas. Jangan hangat, steam susunya lebih lama.”

Dia membuka dompetnya. “Keduanya atas nama Taehyung.” Katanya, menyerahkan Starbucks Card-nya kepada barista di hadapannya yang nampak sedikit kewalahan menerima ordernya yang jelas.

Terbisa memberi arahan pada anak buah membuat Taehyung selalu memesan minuman atau makanan yang diinginkannya dengan begitu detail. Tanpa berpikir terlalu lama sehingga pelayan atau barista terkadang kewalahan untuk menangkap detail ordernya.

Barista mengulang pesanannya dengan tekun lalu menambahkan, “Ada tambahan lain, Pak?”

Taehyung mengangguk, menjulurkan tubuhnya ke belakang untuk menatap show case mereka. “Tolong satu espresso brownie, satu smoked beef quiche dan satu peanut butter panini semuanya dihangatkan. Kemas di paper bag berbeda.” Dia kembali menegakkan tubuhnya dan barista di hadapannya menginput pesanannya.

Dia memproses kartu Taehyung, menyetak struk belanja dan menyerahkan kartu itu kembali ke Taehyung yang langsung menyelipkannya kembali ke dompetnya dan menyimpan benda itu ke saku belakang celanannya sebelum menghampiri salah satu meja dan duduk di sana, menunggu.

Dia meraih ponselnya, mengecek Jimin dan Hoseok yang belum membalas pesannya. Mungkin sedang ramai untuk dinner, pikirnya mengecek jam tangan. Sebentar lagi harusnya Hoseok sudah pulang shift sore.

Dia mengetik pesan untuk Jimin, berharap temannya akan meneleponnya sebelum tidur nanti setibanya di kosannya. Dia juga mengirimi pesan pada Jeongguk, meminta maaf karena harus menunggu makanannya dikerjakan.

“No probs.” Hanya itu balasan Jeongguk.

Minuman Taehyung jadi. Dia berdiri, menghampiri konter dan berhadapan dengan barista yang tersenyum ramah, menyerahkan dua paper bag yang terisi minuman dan makanan. Seperti biasa, dia membuka keduanya. Mengecek pesanannya dan meraih minumannya sendiri.

Dia menyentuh gelasnya, merasakan suhunya dan tersenyum. “Trims.” Katanya sebelum menggenggam gelas itu di tangannya dan meraih tali paper bag Starbucks di meja lalu melangkah keluar.

Taehyung berlari kecil menghampiri Rubicon Jeongguk yang terparkir di halaman Starbucks dan bergegas menaiki kursi penumpang. Dia meletakkan minuman Jeongguk di ruang antara mereka. Saat dia masuk, Jeongguk sedang mengecek ponselnya dengan serius—alisnya berkerut dalam dan dia nampak fokus.

Semakin menegaskan garis wajahnya yang tajam. Benar kata Jimin, Tuhan Maha Adil karena manusia dengan kualitas wajah se-dewata Jeongguk dianugerahi sifat yang tidak terlalu menyenangkan.

“Satu chai tea latte tanpa gula hanya sirup vanila dengan susu soya.” Dia tersenyum, mengumumkan kedatangannya dan Jeongguk mengangguk setelah mendongak dari ponselnya. “Maaf lama.” Katanya lalu memasang sabuk pengaman dengan satu tangan.

“Anda mau panini?” Tawarnya kemudian. “Saya lapar sekali. Saya boleh makan di dalam mobil?” Tanyanya membenahi tas kertas di pangkuannya yang beraroma hangat makanan dan lambungnya nyaris melompat keluar dari perutnya untuk meraih makanan itu.

“Tidak, silakan makan.” Jeongguk memundurkan mobilnya di halaman parkir, memutar kepalanya menghadap ke depan dan bergabung kembali ke lalu-lintas. “Kita tidak akan mampir ke mana-mana lagi?”

“Tidak, terima kasih.” Taehyung meringis dengan quiche di tangnnya, siap disuap karena lambungnya sekarang menangis meminta makanan dan Taehyung akan kolaps jika tidak mulai menjejalkan makanan ke perutnya. “Maaf merepotkan, Chef, tapi saya lapar sekali.”

“Tidak apa-apa.” Jeongguk tersenyum kecil, nyaris sama sekali tidak nampak jika Taehyung tidak memicingkan mata dari balik gelas cokelatnya dalam cahaya remang kendaraan sebelum menginjak gas, membelah jalanan menuju Kuta Selatan.

*

Beda vegan dan vegetarian: vegan tidak makan produk hewani sama sekali, sementara vegetarian tidak mengkonsumsi hewan, tetapi tetap mengonsumsi produk yang berasal dari hewan seperti susu dan telur.