Apollo #222

“Sini.”

Radit menatap kekasihnya yang baru saja menyampirkan handuk di kursi meja belajarnya. Dia berbaring di kasur dengan separo ruang disisakan untuk Natan.

Natan beranjak ke sisinya lalu membaringkan diri di atas lengan Radit lalu menyusup ke pelukannya dengan wajah menghadap ke leher Radit, tepat di denyutan nadinya.

Radit mendesah lalu memeluknya, mendekap tubuh Natan yang dingin setelah mandi ke tubuhnya yang hangat. Dia mencium puncak kepala Natan dan menghirup aroma rambutnya yang harum.

“Kita cukupkan sedihnya untuk hari ini, ya?” Katanya membuai Natan lembut dalam pelukannya.

“Aku tidak ingin nampak sok tahu dengan posisimu sekarang. Sok tahu tentang perasaanmu dan hatimu ketika aku benar-benar tidak tahu.

“Tapi aku berharap,” Radit membelai punggung Natan dengan lembut, membuat pola melingkar yang membuat Natan mendengkur lembut seperti kucing. “Kau cukup kuat untuk menghadapi ini semua.”

Radit mengistirahatkan kepalanya di atas kepala Natan, menariknya lebih dekat lagi seolah hal itu memungkinkan. Kaki Natan mengerut, dia menyelipkan sebelah kakinya ke kaki Radit dan membelit kaki mereka dengan erat seperti gurita.

Tadi saat Natan muncul di kontrakan setelah menghabiskan waktu berjalan-jalan dengan Radit untuk mengalihkan perhatiannya, Dirga menggoda Natan untuk pindah saja di kontrakan bersama mereka.

Ada satu kamar kosong di sudut yang mereka gunakan untuk menyimpan rongsokan dan mereka tidak keberatan membagi uang tahunan kontrakan itu berempat.

“Akan lebih murah jika ditanggung berempat.” Kata Dirga meyakinkannya seraya berbaring di lantai menonton televisi sambil mengunyah keripik singkong kiloan yang dibelinya di toko kelontong depan. “Kau juga tidak akan kesepian.”

Dan Natan mempertimbangkannya, sungguh.

“Kau sudah berusaha dan berjuang sangat kuat belakangan ini, kau berhak beristirahat sejenak.” Radit menimangnya lembut.

“Omong-omong,” katanya kemudian, Natan mendongak dengan wajah mengantuk.

“Kau tahu tidak Zeus menghukum Hera?”

Alis Natan naik sebelah. “Karena?”

“Mengirimkan Kampe padamu.” Radit nyengir, nampak sangat puas dengan berita itu. “Menurut sumber terpecaya yaitu daily vlog Ares di kanal Youtube-nya, Zeus mengirim Hera ke antah-berantah untuk,”

Radit membentuk tanda kutip dengan tangannya yang bebas, “'Merenungkan kesalahannya.'” Dia nyengir.

Murkanya langit.” Tambahnya. “Ternyata bukan ditujukan padamu, tapi pada Hera.”

Natan tidak menjawab, alih-alih mengeratkan pelukannya ke Radit dan menyusupkan wajahnya semakin dalam ke cerukan leher Radit seperti bayi koala.

“Sayangku.” Desah Radit lembut, memeluknya erat. “Kau sudah melakukan yang terbaik. Sungguh. Sekarang, mari beristirahat.”

Radit memejamkan mata, menggumamkan nada-nada acak yang menenangkan dengan suaranya yang berat.

“Sayang?” Panggil Natan serak kemudian.

“Hm?”

“Cium aku.”

Radit mendenguskan senyuman lalu membuka matanya, menoleh dan menemukan Natan sedang menatapnya. Dia merunduk, menyapukan bibirnya dengan lembut di permukaan bibir Natan.

Memberinya kecupan mendebarkan.

“Kau ingin tidur sekarang?” Tanyanya membelai kening Natan dengan lengannya yang digunakan Natan sebagai bantalan tidur.

Natan menatapnya, lalu menjulurkan lehernya untuk meraih bibir Radit dalam ciuman panjang dan menuntut. Bibirnya mengigit bibir bawah Radit dengan lembut lalu menariknya dengan sensual.

Lalu menarik wajahnya.

Radit menatapnya, bibirnya terkuak geli dan nampak sangat terhibur. “Wow. Apa itu?” Tanyanya parau, membelai wajah Natan dengan punggung tangannya.

“Kau ingin?”

Natan menatapnya, mengangguk. “Selalu menginginkanmu.” Balasnya serak lalu berguling, mengangkangi Radit yang terkekeh serak di bawahnya.

“Baiklah.” Sahut Radit dengan mata berkilat, menyentuh pinggul Natan dengan kedua tangannya lalu mengerang keras saat Natan menggerakkan pinggulnya untuk menggodanya.

“Berhenti menyerangku.” Keluh Radit, terhibur seraya menatap Natan yang merunduk dengan ikal rambut menjuntai di wajahnya.

Radit mengulurkan tangan, meraih sejumput rambut Natan—menyisirkan jemarinya di helai rambut Natan dan membelai pipinya.

“Aku mencintaimu.” Bisik Radit lembut. “Siapa pun kau, bagaimana pun latar belakangmu; itu tidak penting.” Dia tersenyum, menyapukan tatapan ke seluruh wajah indah Natan.

Your past is your problems. But your future is my priviledge.” Dia kemudian meraih wajah Natan merunduk dan mencium bibirnya.

Bercinta dengannya seraya membisikkan nama Natan di setiap inci kulitnya, menghembuskan cinta ke setiap bagian yang dikecupnya, memberitahu Natan betapa berharganya dia dalam setiap hembusan napas.

Karena Natan mungkin saja merasa dirinya cacat dan tidak sempurna, namun bagi Radit, Natan selalu jauh dari kata sempurna.

Mungkin bertemu dengan Radit tidak selalu tentang yang terbaik. Natan menghadapi banyak hal selama dia mengenal Radit, membuka pintu yang membongkar dua puluh tahun kebohongan solid yang menyakitkan.

Namun menurut Radit, rasa sakit ini setara dengan kenyataan yang didapatkan Natan.

Setidaknya setelah ini, Natan bisa hidup dengan identitas barunya.

Identitas aslinya.

Sebagai putra Zeus, sang Dewa Langit dan Raja Para Dewa.

Dan pulang ke Perkemahan, sebagai salah satu dari anggota keluarga—bukan lagi tamu. Bergabung dengan saudara-saudaranya di Kabin Zeus.

Natan akan memiliki keluarga baru.

Radit berharap, kehidupan baru ini bisa membuat Natan lebih bahagia.

Karena Natan layak mendapatkan kebahagiaan yang setara dengan bahagia yang selalu diberikannya ke orang-orang tanpa lelah.

Dan Radit akan memastikan itu.

*