Sizzling Romance #155
Taehyung duduk di salah satu kursi meja makan yang terisi lima kursi dengan makanan rumahan tersaji di hadapannya dengan perasaan campur-aduk.
Dia meminta izin pada Jeongguk untuk tidur sepanjang perjalanan menuju tempat makan mereka sehingga saat mobil berhenti dia sama sekali tidak memiliki persiapan mental apa pun untuk bertemu perempuan paruh baya ramah yang menyambutnya di depan pintu rumah.
Dan dipanggil Jeongguk dengan “Mama”.
Dia sudah curiga saat terbangun dan mendapati mobil berhenti di depan sebuah rumah yang lapang dengan dinding tinggi, gerbangnya tertutup rapat dengan suara anjing menyalak dari dalam.
Dia berpikir, mungkin Jeongguk mampir ke rumah seseorang.
Namun sebelum dia sempat bicara, seseorang membukakan pintu untuk Jeongguk dan dia memasukkan mobilnya ke dalam halaman luas yang berumput rapi dengan taman rindang dan ada kebun hidroponik dengan pakchoi subur di sudut ruangan.
Ada seekor anjing pomeranian putih salju yang berlari keluar dari dalam rumah, menyalak ke arah mobil Jeongguk entah marah atau senang karena Taehyung tidak paham bahasa anjing.
Dan Taehyung yang sedang mengerjap, setengah mengantuk dan disorientasi saat kemudian dikejutkan oleh kemunculan seorang perempuan paruh baya yang keluar menyusul anjing yang mengonggong dan tersenyum cerah.
Jeongguk menolak menatapnya saat dia menarik rem tangan dan menyabut kunci dari lubangnya, “So, yeah.” Katanya serak, masih cukup beradab untuk nampak malu. “Welcome to my house.”
Taehyung terenyak di kursinya, selama satu menit penuh. Dia bahkan belum pernah mengunjungi rumah Jeongguk di Kuta dan sekarang mereka pergi ke rumah kelahirannya?
Jeongguk pasti sudah sinting!
Namun dia terjebak, sehingga dia sekarang harus duduk di sebelah ibu Jeongguk yang ramah, menarik dan gemar tersenyum. Meladeni tiap celotehannya sementara Jeongguk duduk di seberangnya, bersebelahan dengan ayahnya yang ternyata seorang blasteran Amerika-Korea yang tinggi, agak tambun dengan kepala plontos.
Kelihatan galak, namun saat bicara dia terdengar sangat ramah dengan suara empuk.
“You know I don't eat meat.” Kata Jeongguk saat ibunya menyajikan belut berbumbu Bali yang Taehyung tidak bisa bohong, aromanya begitu eksotis dan menakjubkan.
Dia belum pernah makan belut, tapi dia tidak keberatan untuk mencoba.
“One exception won't hurt.” Sahut ayahnya dengan suara empuknya yang ramah, menyendok belut untuk dirinya sendiri. “Then, if you don't want the eel, then why you come?”
Taehyung mengerjap, baru ingat jika Jeongguk seorang vegetarian. Lalu kenapa dia mengajak Taehyung makan belut?
Kenapa dia tidak melihatnya sejak awal padahal semuanya terpampang nyata? Jika saja otak Taehyung tidak lambat berpikir, dia tentu saja tahu ada yang janggal dari ajakan Jeongguk tadi.
“Kau... tertarik makan belut?”
Why on Earth would a vegetarian eat eel, Taehyung? Why?
Bodoh! Bodohbodohbodoh! kutuk Taehyung pada dirinya sendiri seraya mempertahankan senyuman ceria di bibirnya agar orangtua Jeongguk tidak curiga.
“Because Mom asked me to.” Jeongguk menjawab, sekarang saat dia duduk di sisi ayahnya, dia nampak seperti anak lima tahun yang merajuk dan Taehyung harus mengigit bagian dalam pipinya kuat-kuat agar tidak nyengir melihatnya.
“And you know how manipulative she can be to get what she wants.” Dia mendengus, menyendok sayuran di dalam mangkuk. Tetap menolak memakan belut lezat yang tersaji di hadapannya.
“Yes, I know.” Balas ayahnya kalem. “And I wonder who inherited that trait.” Sebelum dia kemudian menoleh ke Taehyung, “Taehyung,” katanya dengan nada yang tebal oleh aksen Amerika yang agak kasar.
“Kau makan belut?” Tanyanya pada Taehyung.
“Belum pernah, Om.” Sahutnya, melirik Jeongguk dengan putus asa. Dia mungkin akan membuat perhitungan juga dengan Jeongguk nanti masalah ini.
“Wah.” Sambar ibu Jeongguk dengan ramah, menuang makanan ke atas piring Taehyung dengan bersemangat. “Berarti ini saatnya kau menentukan apakah kau menyukainya atau tidak.”
Taehyung tersenyum, memasang senyuman terbaiknya sejak detik pertama dia menyalami kedua orangtua Jeongguk di halaman depan tadi. Jantungnya berdebar dan kepalanya pening.
“Kita... berteman, 'kan?” Begitu katanya lalu dia membawa Taehyung ke rumah orangtuanya.
Taehyung sepertinya sedang tersesat dalam perjalanannya menjelajahi Jeongguk karena dia sungguh tidak tahu lagi arah mana yang harus ditempuhnya demi memahami isi hati Jeongguk.
Semuanya berkabut begitu tebal hingga Taehyung bahkan tidak bisa melihat jarak satu meter di hadapannya, dia harus berhenti sebentar jika tidak ingin terjatuh.
Tidak menemukan pilihan lain, dia meraih sendoknya dan mulai menyuap makanan setelah ayah Jeongguk menyuap makanannya sementara Jeongguk duduk di kursinya, merajuk.
“Don't want the eel?” Tanya ibunya melirik makanan Jeongguk.
“How many times should I remind you that I'm a vegetarian since last year?” Jeongguk mengeluh. Mungkin saja terdengar galak namun saat ini dengan ekspresi wajahnya, dia lebih terdengar seperti merengek.
“Oops, I'm sorry.” Sahut ibunya tanpa nada menyesal sama sekali, menyuap makanannya; persis seperti anak lelakinya. “Then why did you come?”
Jeongguk menatap ibunya. “Because you asked me to come.”
“Yes, and I said I cooked you the eel you like. You used to like.” Ibunya menjawab dan Taehyung sekarang paham dari mana sifat Jeongguk yang itu berasal. Persis sama. “And you didn't come around telling me you're a vegetarian.”
He didn't tell me either. Taehyung ingin menjawab namun dia lebih memilih menjejalkan nasi dan belut ke mulutnya dan mendesah karena rasanya begitu enak.
Belutnya tidak amis seperti yang diduga Taehyung karena merupakan olahan air tawar. Aromanya pas, dengan rempah yang kuat menyamarkan bau amisnya; ada kunyit dan rempah-rempah lain yang sangat khas Bali. Dimasak dengan begitu terampil hingga Taehyung ingin menghabiskan semuanya.
Sayang sekali jika Jeongguk vegetarian dan melewatkan ini.
Sebelum Jeongguk menjawab, ibunya menoleh ke Taehyung yang sedang memindahkan belut ke mulutnya dengan khidmat karena rasanya begitu lezat dan dia begitu kikuk berada di tengah keluarga atasannya.
“Tell, Taehyung,” kata ibu Jeongguk tiba-tiba membuat Taehyung nyaris tersedak makanannya saat menoleh kaget. “What did he tell you to bring you here? From your expression when I first saw you outside, I believe he didn't tell you right away about being into his parents' house.”
Taehyung mengerjap, melirik Jeongguk yang menolak menatapnya. Haruskah dia jujur? Haruskah dia berbohong?
“He asked me...” Dia memulai perlahan, bertukar pandangan dengan Jeongguk yang sama sekali tidak berekspresi, “If I would like to try some eel, in his favorite place.”
“I just asked him whether he like to try some eel,” sambar Jeongguk, setengah defensif dan membuat Taehyung semakin ingin tertawa karena dia sekarang sungguh terlihat seperti anak kecil yang merengek ke orangtuanya.
“I didn't tell him I'm going to eat them too!”
“And I totally forgot that you're a vegetarian, my bad.” Tambah Taehyung perlahan, tidak bisa menahan dirinya sendiri.
So I should've known it was a trick. Tambahnya dalam hati, bergegas menjejalkan makanan ke mulutnya sebelum dia kelepasan mengatakannya pada Jeongguk.
Tapi, kenapa Jeongguk susah-payah menipunya untuk mengajaknya ke rumah orangtuanya?
Itu dia pertanyaan sejuta dolarnya.
“Alright, alright,” kata ayahnya kalem dan setengah geli mendengar pertengkaran istri dan anak sulungnya.
“Calm down, Tiger.” Katanya, menyuap makanannya dan mengunyah dengan perlahan. “Simpan cakar dan taringmu, lanjutkan makannya.”
Namun akhirnya Jeongguk mengambil sepotong belut dan menyuapnya, masih dengan ekspresi keras yang nyaris menghibur.
“It's tasty, that's all I can say.” Katanya, masih terlalu penuh harga diri untuk mengakui bahwa seberapa vegetariannya pun dia, dia tetap tergoda pada masakan ibunya.
“You need that protein.” Ayahnya setuju, menyelesaikan makannya dan mendorong piringnya menjauh dengan senang. “It won't hurt you to make an exception someday.”
Ibunya melemparkan ekspresi mengejek pada Taehyung yang tersenyum. “He always does that, doesn't he?” Tanyanya pada Taehyung dengan gelagat berbisik namun suara yang bisa didengar Jeongguk. “Being all pridey and stuffs.”
“I heard that, Mom.” Katanya.
“Of course you do.” Balas ibunya kalem. “Unless you're deaf.”
Taehyung mengulum bibirnya, menjejalkan lebih banyak makanan agar tidak tertawa karena menemukan seseorang yang bisa meladeni kepala besar dan sikap keras kepala Jeongguk dengan sangat terampil. Membuatnya kehabisan kata-kata.
Dia nampak jauh lebih manusiawi saat berada di sekitar orangtuanya, di rumahnya yang beraroma lembut pengharum ruangan dan ditata dengan rapi. Langit-langitnnya tinggi dengan jendela-jendela raksasa yang membiarkan sinar matahari membanjiri ruangan. Ada bunga-bunga segar di beberapa sudut rumah, foto keluarga mereka tergantung di belakang televisi.
Jeongguk nampak beberapa tahun lebih muda di sana, berdiri di sebelah ibunya yang duduk berdampingan dengan Jeonggi di sofa. Ayahnya merangkul Jeongguk dengan akrab, matanya berkilau oleh rasa bangga yang diabadikan lewat lensa.
Setelah makan (Jeongguk menyuap dua-tiga belut lain sebelum benar-benar berhenti), ayah Jeongguk mengajaknya untuk pergi menemaninya mencari sesuatu ke kota dan Jeongguk mengerang.
“Really, Dad?” Keluhnya. “Aku datang dengan temanku. Mana mungkin aku meninggalkannya di sini sendirian.”
Ayah Jeongguk menatap Taehyung yang duduk di sofa dengan secangkir teh dan banyak kue kering buatan ibu Jeongguk tersaji di hadapannya, televisi menyala menampilkan salah satu episode Criminal Mind.
“Apakah kau keberatan jika menunggu sebentar, Taehyung?” Tanya ayah Jeongguk ramah. “Kami tidak akan lama. Saya tahu besok kalian harus bekerja.”
Tidak punya pilihan lain, Taehyung menggeleng. “Tidak apa-apa, Om.” Katanya ramah.
Jeongguk menatap Taehyung, seperti seekor bayi singa yang terluka dan hati Taehyung kembali berdesir ingin memeluknya dan mengatakan: “That's okay, I don't mind.” sambil menepuk-nepuk kepalanya.
Alih-alih, dia tersenyum. Mengendikkan cangkir di tangannya. “Silakan. Take your time.” Katanya dan Jeongguk menghela napas sebelum bergegas menyusul ayahnya yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
Taehyung belum pernah merasa kikuk jika berhadapan dengan orang baru malah dia selalu merasa dirinya adalah orang yang mudah bergaul. Cepat akrab dengan orang-orang baru. Namun karena perempuan di sisinya adalah ibu atasannya, Taehyung merasa tegang dan bingung.
Apakah dia salah dengan membiarkan Jeongguk pergi?
“Jeongguk itu unik, 'kan?” Tanya ibunya tiba-tiba dan Taehyung nyaris tersedak teh chai yang sedang disesapnya perlahan. “Kau pasti kesulitan mencoba memahaminya.” Dia melanjutkan lalu bergegas menambahkan, “Tentu saja sebagai teman.”
“Dia tidak punya banyak teman, Jeongguk itu.” Ibunya melanjutkan bahkan tanpa menunggu reaksi Taehyung sama sekali, maka Taehyung memutuskan untuk diam. “Hanya Yugyeom yang bertahan bersamanya karena dia gila.” Ibunya terkekeh lembut.
“Kau tahu, 'kan, satu-satunya hubungan yang akan berhasil hanyalah hubungan antara satu orang membosankan dan satu orang gila. Itulah Jeongguk dan Yugyeom. Selebihnya, dia tidak pernah mengenalkan teman mana pun kepada kami.” Dia meletakkan cangkirnya di atas meja.
“Ayo, dicoba kuenya.” Ibunya membuka toples kaca dan menawarkan kue kering pada Taehyung yang mengambilnya demi sopan santun.
Dan ternyata lezat sekali; perpaduan antara kuning telur dan tepung, renyah di permukaannya dan lembut di bagian dalamnya.
“Kalian teman kerja, ya?” Tanya ibunya lagi.
“Iya, Tante.” Sahut Taehyung setelah menelan kunyahannya, tergoda untuk meraih segenggam lagi. “Saya bawahan Jeongguk.”
Ibunya mengangguk-angguk paham. “Berarti kau juga chef, ya?”
Taehyung mengangguk. “Saya berkonsentrasi di pastry, Tante.” Dia akhirnya memutuskan untuk menelan semua rasa gengsinya, meraih ke toples dan menyuap kue kering lagi.
Rasanya lezat sekali. Mungkin itu turunan dari ibunya juga bakat chef yang dimiliki Jeongguk sekarang, atau setidaknya membuatnya tertarik menjadi juru masak karena dilimpahi makanan-makanan lezat seperti ini.
“Wah, pastry, ya?” Ibu Jeongguk tersenyum bersemangat. “Kue Tante dicicipin chef ahli dong, ya? Enak, gak?”
Taehyung mengerang dan ibu Jeongguk tertawa dengan suara renyah yang menenangkan. “Enak, Tante.” Katanya tulus. “Dipanggangnya di suhu yang pas, adonannya pas, manisnya pas.”
Ibu Jeongguk tersenyum lebar, senang. “Nanti dibawa saja beberapa, ya, untuk Taehyung nyemil.” Katanya ramah dan Taehyung tidak lagi memikirkan sopan santun atau gengsi karena dia langsung mengangguk, senang.
“Lalu,” ibu Jeongguk memulai lagi saat Taehyung meletakkan toples di meja dan menyesap tehnya lagi. “Hubungan kalian bagaimana? Teman bekerja saja, ya?”
Taehyung menelan ludah. “Iya, begitu, Tante.” Katanya meletakkan cangkir yang berdenting di meja. “Saya baru di Bali, jadi saya minta tolong Jeongguk untuk mengantar berkeliling.”
Ibunya mengangguk sopan dan tertarik. “Sudah ketemu Jeonggi juga, ya?”
“Sudah, Tante.” Taehyung tersenyum. “Kemarin sempat mampir juga ke rumah Sanur menemani Jeonggi karena sendirian di rumah.”
Alis ibu Jeongguk naik sejenak sebelum tersenyum. “Wah, malah merepotkan Taehyung, ya, anak-anak Tante.” Katanya. “Terima kasih, ya?”
“Tidak masalah kok, Tante.” Taehyung tersenyum ramah.
“Jeongguk itu memang overprotektif sekali pada Jeonggi.” Desah ibu Jeongguk kemudian, memelankan volumen televisi yang menayangkan film aksi mendebarkan yang tidak ditonton siapa pun.
“Karena dulu ketika mereka berdua baru taman kanak-kanak, Jeonggi sempat hanyut tenggelam di sungai karena Jeongguk, nyaris tidak selamat.”
Duduk Taehyung langsung tegak, telinganya awas saat menoleh ke ibu Jeongguk yang menatap televisi; nampak menerawang. Dan saat melakukannya, dia nampak persis seperti Jeongguk.
“Dulu mereka suka bermain ke sungai bersama teman-teman mereka. Tante izinkan karena biasanya ada satu orang dewasa yang bersama mereka, tapi mungkin sial saja, ya, hari itu.” Ibunya mendesah saat menyeritakan semua kepanikan yang dialaminya hanya dalam beberapa kalimat.
“Mereka pulang berdua, berpisah dari teman-temannya lewat jalan pintas. Hanya di belakang sana kok, kau bisa lihat nanti jika mau.
“Jeongguk hanya menghindari tawon, sederhana sekali. Dia hendak melindungi adiknya agar tidak menabrak tawon. Dan mereka jalan berdampingan di pematang yang sempit—selalu begitu, Jeonggi tidak mau berjalan di belakang atau di depan kakaknya, harus berdampingan dan bergandengan tangan.
“Dia tidak sengaja mendorong Jeonggi hingga terpeleset ke sungai. Dia terlambat menyambar tangan adiknya dan arusnya sedang besar karena semalam turun hujan. Jeonggi tercebur dan langsung terseret. Jeongguk masih kecil, tidak bisa berenang. Dia menangis sambil mengejar adiknya hingga seseorang akhirnya melihatnya.
”'Tolong! Adik saya!' Begitu kata Jeongguk dan petani yang melihatnya langsung melompat menyelamatkan Jeonggi.”
Ibu Jeongguk mendesah, sekarang wajahnya nampak sedikit lebih pucat dan matanya berkaca-kaca. Walaupun Taehyung tidak paham kenapa dia menyeritakan ini pada Taehyung, dia menghormatinya dengan mendengarkan.
Dan hanya dengan beberapa kalimat sederhana itu, Taehyung bisa merasakan trauma dan ketakutannya. Bagaimana kepanikan mereka, takutnya Jeongguk yang masih kecil karena adiknya hanyut di sungai dan dia tidak bisa melakukan apa pun untuk menyelamatkannya.
Taehyung teringat tatapan Jeongguk pada adiknya; seolah adiknya adalah permata mahal langka yang harus dilindungi. Kasih dan sayang absolut yang membuat Taehyung berdesir iri, ingin dicintai seperti itu.
Sekarang dia paham.
“Kami sudah nyaris kehilangan Jeonggi karena dia terlalu banyak menelan air sungai. Tapi dia selamat, ajaib sekali. Jeongguk menolak meninggalkan sisinya selama adiknya dirawat di rumah sakit dan menyalahkan diri atas kejadian itu.
“Dan Tante yakin,” dia berbisik rendah. “Jeongguk masih menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian itu hingga sekarang, menilai dari betapa overprotektifnya dia pada Jeonggi. Nyaris seperti obsesi.”
Taehyung mengerjap.
Semua pertanyaan yang berputar di kepalanya terjawab; bagaimana Jeongguk yang selalu bergerak mengikuti adiknya, bagaimana dia merelakan kebahagiaannya sendiri demi menjaga adiknya, bagaimana dia tetap bertahan melajang dan direpotkan adiknya hingga usia sekian.
Bagaimana dia selalu berusaha menyediakan waktu untuk Jeonggi. Selalu bersikap penuh tanggung jawab nyaris seperti orang sinting pada Jeonggi. Bagaimana dia menatap Jeonggi seolah adiknya itu adalah hal paling berharga di hidupnya.
Dia memvonis dirinya sendiri dengan hukuman seumur hidup atas kesalahan itu.
“Tante cerita ini ke Taehyung,” tambah ibu Jeongguk menarik Taehyung kembali ke masa kini. “Hanya agar kau memahami bahwa Jeongguk itu sebenarnya anak baik, namun dia sulit sekali berkomunikasi. Terlalu banyak mengambil tanggung jawab yang bukan tanggung jawabnya sama sekali. Senang menghukum dirinya berlebihan.”
Dia kemudian menambahkan dengan lembut, nyaris seperti memohon pada Taehyung: “Tolong, berteman dengan Jeongguk, ya? Dia pasti kesepian tapi tidak pernah mau mengatakannya pada siapa pun. Tegur dia kalau salah, koreksi dia. Tapi jangan ditinggalkan.
“Mungkin Tante meminta sesuatu yang mustahil darimu,” dia bergegas menambahkan, sekarang air mata mulai terbit di sudut matanya dan hati Taehyung terasa diremas-remas melihatnya sehingga dia meraih tangan ibunya dan meremasnya lembut.
Telapak tangan ibu Jeongguk terasa dingin.
“Tapi, Tante berharap sekali, Taehyung bisa setidaknya berdamai dengan sikapnya. Mencoba memahami bahwa Jeongguk sebenarnya baik dan ramah, hanya tidak tahu caranya mengekspresikan emosinya.
“Tidak ada paksaan, jika akhirnya pun kau merasa tidak sanggup menghadapi sifatnya yang serba tidak jelas, tidak apa-apa, Tante tidak masalah.” Dia tersenyum, balas meremas tangan Taehyung.
“Tapi setidaknya, maukah Taehyung berusaha?”
Dan kalimat itu terngiang-ngiang di belakang kepala Taehyung selama perjalanan kembali ke Kuta yang kemalaman karena orangtua Jeongguk memaksa mereka tinggal untuk makan malam, menitipkan banyak makanan untuk Jeonggi sebelum membiarkan mereka pulang.
Taehyung juga diberikan kesempatan untuk membantu ibu Jeongguk memanen sayurannya yang subur dan nampak menyenangkan dilakukan sehingga Taehyung menambahkan di daftar tak kasat matanya dia ingin punya kebun hidroponik di rumah masa depannya nanti.
Jeongguk membawa beberapa sayuran hasil panen juga pulang ke Kuta. Bagasi mobilnya penuh dengan makanan segar sekarang. Selama perjalanan pulang, Taehyung memejamkan matanya, berpura-pura tidur agar tidak mengatakan hal-hal yang akan disesalinya dan Jeongguk membiarkannya; nampak mengapresiasi keheningan itu.
Taehyung mencoba memproses segala hal yang terjadi hari ini.
Bagaimana Jeongguk semacam menjebaknya untuk pergi ke rumah orangtuanya yang menghasilkan banyak sudut pandang baru bagi Taehyung dalam menjelajahi Jeongguk seperti mendapatkan peta baru, menemukan arah baru ke mana dia harus pergi.
Bukannya Taehyung keberatan, dia sama sekali tidak keberatan jika ingin dipikirkan baik-baik hanya saja mungkin dia terkejut. Jika saja Jeongguk memberikannya waktu untuk berpikir, mungkin akan terasa lebih nyaman baginya.
Seperti merebus katak, Jeongguk meletakkan Taehyung di dalam panci dan memanaskan airnya perlahan alih-alih melempar Taehyung ke dalam air mendidih sehingga terlambat bagi Taehyung untuk melompat.
“Jeongguk masih menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian itu hingga sekarang .... Nyaris seperti obsesi.”
Taehyung mengerutkan alisnya, mencoba menahan rasa sakit yang menyeruak di dadanya. Memunculkan rasa panas aneh yang menyesakkan, di suatu tempat di belakang paru-parunya.
Jeongguk memvonis dirinya sendiri dengan hukuman seumur hidup.
Lalu semua ingatannya tentang hal itu mendengung di otak Taehyung, menyengatnya seperti seekor lebah; terus-menerus, berkali-kali hingga dia merasa otaknya kram oleh banjir bah kesadaran.
“Dia yakin dia tidak berhak bahagia.”
“Adiknya menikah tiga tahun lalu dan sedang hamil.”
“Adiknya sudah menikah tiga tahun dan Jeongguk masih lajang??”
“Dia... sangat overprotektif pada adiknya.”
“Dia menangis sambil mengejar adiknya hingga seseorang melihatnya; “'Tolong! Adik saya!'”
“Yah, banyak yang terjadi saat kau masih kanak-kanak, ya, 'kan.”
” ... Taehyung?”
Mata Taehyung langsung terbuka, lebih karena kaget dan menyadari matanya panas disengat air mata yang entah terbit sejak kapan. Dia bergegas menyeka air matanya sebelum Jeongguk menyadarinya dan membersit, suaranya parau.
“Ya?” Tanyanya lalu menoleh dan menyadari mereka sudah tiba di kosannya. “Oh, sudah sampai.” Dia bergegas meraih barang-barangnya. “Maaf aku tertidur.”
Jeongguk menggeleng dalam kegelapan dan redupnya lampu jalanan. “Tidak apa-apa, kau pasti lelah.” Katanya sebelum berdeham dan menambahkan, “Aku minta maaf.”
Taehyung berhenti bergerak, menatapnya dalam gelap. Bahkan dalam cahaya redup sekali pun dia tidak gagal menemukan kerlip di mata Jeongguk yang entah sejak kapan terasa familiar dan akrab.
“Untuk?” Balas Taehyung parau.
“Karena... tidak memberitahumu yang sebenarnya ke mana kita akan pergi.” Dia berbisik. “Aku tidak ingin membawamu ke sana, tapi... Mama bisa sangat menuntut jika beliau mau. Dan aku tidak bisa menolak keinginan beliau.”
Tidak bisa menolak keinginan beliau.
“Dia menggantungkan bahagianya pada orang lain: jika aku bahagia, maka dia bahagia. Tidak pernah dari dirinya sendiri.”
“Tidak apa-apa.” Tukas Taehyung ceria, ingin meringankan rasa bersalah di hati Jeongguk karena dia sungguh tidak masalah.
“Aku senang pergi ke sana. Mamamu baik dan punya kebun sayur yang keren.” Dia mengulaskan senyuman lebarnya. “Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, ya? Aku menikmatinya, kok.”
Jeongguk menatapnya, hening dan tenang. Tidak ada sedikit pun emosi yang berkilau di matanya yang steril.
“Hari ini luar biasa.” Tambah Taehyung masih dengan nada ceria yang dia harap, bisa mengurangi rasa bersalah Jeongguk. “Aku senang sekali. Terima kasih karena telah merelakan hari liburmu untuk menemaniku berjalan-jalan.”
Keheningan kembali jatuh di antara mereka namun kali ini, terasa lebih menyesakkan hingga Taehyung merasa bingung. Dia nyaris tegang dan jengah di bawah tatapan Jeongguk yang bisa menjadi sangat diam jika dia mau; merasa ditelanjangi dan terintimidasi.
Taehyung memutuskan dia sebaiknya turun dari mobil sebelum keadaan semakin kikuk, maka dia melepaskan sabuk pengamannya dengan suara nyaring di tengah keheningan mereka lalu menoleh.
“Baiklah. Aku tidak akan menahanmu lebih lama lagi. Kita berdua butuh istirahat karena besok kita harus bekerja.” Dia tersenyum pada Jeongguk yang masih sediam batu di sisinya. “Bisakah kau membuka bagasi mobilmu? Aku harus mengambil belanjaanku.”
“Taehyung.”
Taehyung berhenti bergerak, dia menoleh ke Jeongguk yang sekarang memasang ekspresi itu lagi; menerawang jauh seolah sedang memikirkan hal yang membuatnya gelisah.
“Ya?” Tanya Taehyung, mengerjap. “Kau sakit?”
Jeongguk menjilat bibirnya sebelum matanya bergulir ke mata Taehyung, menguncinya dengan telak hingga perut Taehyung terasa ditonjok karena pandangan itu nampak... berbeda.
“Bolehkah...?”
“Ya?” Bisik Taehyung, di dasar perutnya sekarang ada seekor ikan yang menggelepar, membuatnya mual oleh sensasi ketegangan yang ditarik perlahan menuju mulutnya.
Apakah ini seperti yang dipikirkannya...?
Jeongguk mengerjap sekali lagi, bibirnya membuka lalu menutup. Dia ragu sejenak namun akhirnya mengencangkan rahangnya dan berbisik rendah;
“Bolehkah aku menciummu?”
*