eclairedelange

i write.

Sizzling Romance #155

Taehyung duduk di salah satu kursi meja makan yang terisi lima kursi dengan makanan rumahan tersaji di hadapannya dengan perasaan campur-aduk.

Dia meminta izin pada Jeongguk untuk tidur sepanjang perjalanan menuju tempat makan mereka sehingga saat mobil berhenti dia sama sekali tidak memiliki persiapan mental apa pun untuk bertemu perempuan paruh baya ramah yang menyambutnya di depan pintu rumah.

Dan dipanggil Jeongguk dengan “Mama”.

Dia sudah curiga saat terbangun dan mendapati mobil berhenti di depan sebuah rumah yang lapang dengan dinding tinggi, gerbangnya tertutup rapat dengan suara anjing menyalak dari dalam.

Dia berpikir, mungkin Jeongguk mampir ke rumah seseorang.

Namun sebelum dia sempat bicara, seseorang membukakan pintu untuk Jeongguk dan dia memasukkan mobilnya ke dalam halaman luas yang berumput rapi dengan taman rindang dan ada kebun hidroponik dengan pakchoi subur di sudut ruangan.

Ada seekor anjing pomeranian putih salju yang berlari keluar dari dalam rumah, menyalak ke arah mobil Jeongguk entah marah atau senang karena Taehyung tidak paham bahasa anjing.

Dan Taehyung yang sedang mengerjap, setengah mengantuk dan disorientasi saat kemudian dikejutkan oleh kemunculan seorang perempuan paruh baya yang keluar menyusul anjing yang mengonggong dan tersenyum cerah.

Jeongguk menolak menatapnya saat dia menarik rem tangan dan menyabut kunci dari lubangnya, “So, yeah.” Katanya serak, masih cukup beradab untuk nampak malu. “Welcome to my house.”

Taehyung terenyak di kursinya, selama satu menit penuh. Dia bahkan belum pernah mengunjungi rumah Jeongguk di Kuta dan sekarang mereka pergi ke rumah kelahirannya?

Jeongguk pasti sudah sinting!

Namun dia terjebak, sehingga dia sekarang harus duduk di sebelah ibu Jeongguk yang ramah, menarik dan gemar tersenyum. Meladeni tiap celotehannya sementara Jeongguk duduk di seberangnya, bersebelahan dengan ayahnya yang ternyata seorang blasteran Amerika-Korea yang tinggi, agak tambun dengan kepala plontos.

Kelihatan galak, namun saat bicara dia terdengar sangat ramah dengan suara empuk.

“You know I don't eat meat.” Kata Jeongguk saat ibunya menyajikan belut berbumbu Bali yang Taehyung tidak bisa bohong, aromanya begitu eksotis dan menakjubkan.

Dia belum pernah makan belut, tapi dia tidak keberatan untuk mencoba.

“One exception won't hurt.” Sahut ayahnya dengan suara empuknya yang ramah, menyendok belut untuk dirinya sendiri. “Then, if you don't want the eel, then why you come?”

Taehyung mengerjap, baru ingat jika Jeongguk seorang vegetarian. Lalu kenapa dia mengajak Taehyung makan belut?

Kenapa dia tidak melihatnya sejak awal padahal semuanya terpampang nyata? Jika saja otak Taehyung tidak lambat berpikir, dia tentu saja tahu ada yang janggal dari ajakan Jeongguk tadi.

“Kau... tertarik makan belut?”

Why on Earth would a vegetarian eat eel, Taehyung? Why?

Bodoh! Bodohbodohbodoh! kutuk Taehyung pada dirinya sendiri seraya mempertahankan senyuman ceria di bibirnya agar orangtua Jeongguk tidak curiga.

“Because Mom asked me to.” Jeongguk menjawab, sekarang saat dia duduk di sisi ayahnya, dia nampak seperti anak lima tahun yang merajuk dan Taehyung harus mengigit bagian dalam pipinya kuat-kuat agar tidak nyengir melihatnya.

“And you know how manipulative she can be to get what she wants.” Dia mendengus, menyendok sayuran di dalam mangkuk. Tetap menolak memakan belut lezat yang tersaji di hadapannya.

“Yes, I know.” Balas ayahnya kalem. “And I wonder who inherited that trait.” Sebelum dia kemudian menoleh ke Taehyung, “Taehyung,” katanya dengan nada yang tebal oleh aksen Amerika yang agak kasar.

“Kau makan belut?” Tanyanya pada Taehyung.

“Belum pernah, Om.” Sahutnya, melirik Jeongguk dengan putus asa. Dia mungkin akan membuat perhitungan juga dengan Jeongguk nanti masalah ini.

“Wah.” Sambar ibu Jeongguk dengan ramah, menuang makanan ke atas piring Taehyung dengan bersemangat. “Berarti ini saatnya kau menentukan apakah kau menyukainya atau tidak.”

Taehyung tersenyum, memasang senyuman terbaiknya sejak detik pertama dia menyalami kedua orangtua Jeongguk di halaman depan tadi. Jantungnya berdebar dan kepalanya pening.

“Kita... berteman, 'kan?” Begitu katanya lalu dia membawa Taehyung ke rumah orangtuanya.

Taehyung sepertinya sedang tersesat dalam perjalanannya menjelajahi Jeongguk karena dia sungguh tidak tahu lagi arah mana yang harus ditempuhnya demi memahami isi hati Jeongguk.

Semuanya berkabut begitu tebal hingga Taehyung bahkan tidak bisa melihat jarak satu meter di hadapannya, dia harus berhenti sebentar jika tidak ingin terjatuh.

Tidak menemukan pilihan lain, dia meraih sendoknya dan mulai menyuap makanan setelah ayah Jeongguk menyuap makanannya sementara Jeongguk duduk di kursinya, merajuk.

“Don't want the eel?” Tanya ibunya melirik makanan Jeongguk.

“How many times should I remind you that I'm a vegetarian since last year?” Jeongguk mengeluh. Mungkin saja terdengar galak namun saat ini dengan ekspresi wajahnya, dia lebih terdengar seperti merengek.

“Oops, I'm sorry.” Sahut ibunya tanpa nada menyesal sama sekali, menyuap makanannya; persis seperti anak lelakinya. “Then why did you come?”

Jeongguk menatap ibunya. “Because you asked me to come.”

“Yes, and I said I cooked you the eel you like. You used to like.” Ibunya menjawab dan Taehyung sekarang paham dari mana sifat Jeongguk yang itu berasal. Persis sama. “And you didn't come around telling me you're a vegetarian.”

He didn't tell me either. Taehyung ingin menjawab namun dia lebih memilih menjejalkan nasi dan belut ke mulutnya dan mendesah karena rasanya begitu enak.

Belutnya tidak amis seperti yang diduga Taehyung karena merupakan olahan air tawar. Aromanya pas, dengan rempah yang kuat menyamarkan bau amisnya; ada kunyit dan rempah-rempah lain yang sangat khas Bali. Dimasak dengan begitu terampil hingga Taehyung ingin menghabiskan semuanya.

Sayang sekali jika Jeongguk vegetarian dan melewatkan ini.

Sebelum Jeongguk menjawab, ibunya menoleh ke Taehyung yang sedang memindahkan belut ke mulutnya dengan khidmat karena rasanya begitu lezat dan dia begitu kikuk berada di tengah keluarga atasannya.

“Tell, Taehyung,” kata ibu Jeongguk tiba-tiba membuat Taehyung nyaris tersedak makanannya saat menoleh kaget. “What did he tell you to bring you here? From your expression when I first saw you outside, I believe he didn't tell you right away about being into his parents' house.”

Taehyung mengerjap, melirik Jeongguk yang menolak menatapnya. Haruskah dia jujur? Haruskah dia berbohong?

“He asked me...” Dia memulai perlahan, bertukar pandangan dengan Jeongguk yang sama sekali tidak berekspresi, “If I would like to try some eel, in his favorite place.”

“I just asked him whether he like to try some eel,” sambar Jeongguk, setengah defensif dan membuat Taehyung semakin ingin tertawa karena dia sekarang sungguh terlihat seperti anak kecil yang merengek ke orangtuanya.

“I didn't tell him I'm going to eat them too!”

“And I totally forgot that you're a vegetarian, my bad.” Tambah Taehyung perlahan, tidak bisa menahan dirinya sendiri.

So I should've known it was a trick. Tambahnya dalam hati, bergegas menjejalkan makanan ke mulutnya sebelum dia kelepasan mengatakannya pada Jeongguk.

Tapi, kenapa Jeongguk susah-payah menipunya untuk mengajaknya ke rumah orangtuanya?

Itu dia pertanyaan sejuta dolarnya.

“Alright, alright,” kata ayahnya kalem dan setengah geli mendengar pertengkaran istri dan anak sulungnya.

“Calm down, Tiger.” Katanya, menyuap makanannya dan mengunyah dengan perlahan. “Simpan cakar dan taringmu, lanjutkan makannya.”

Namun akhirnya Jeongguk mengambil sepotong belut dan menyuapnya, masih dengan ekspresi keras yang nyaris menghibur.

“It's tasty, that's all I can say.” Katanya, masih terlalu penuh harga diri untuk mengakui bahwa seberapa vegetariannya pun dia, dia tetap tergoda pada masakan ibunya.

“You need that protein.” Ayahnya setuju, menyelesaikan makannya dan mendorong piringnya menjauh dengan senang. “It won't hurt you to make an exception someday.”

Ibunya melemparkan ekspresi mengejek pada Taehyung yang tersenyum. “He always does that, doesn't he?” Tanyanya pada Taehyung dengan gelagat berbisik namun suara yang bisa didengar Jeongguk. “Being all pridey and stuffs.”

“I heard that, Mom.” Katanya.

“Of course you do.” Balas ibunya kalem. “Unless you're deaf.”

Taehyung mengulum bibirnya, menjejalkan lebih banyak makanan agar tidak tertawa karena menemukan seseorang yang bisa meladeni kepala besar dan sikap keras kepala Jeongguk dengan sangat terampil. Membuatnya kehabisan kata-kata.

Dia nampak jauh lebih manusiawi saat berada di sekitar orangtuanya, di rumahnya yang beraroma lembut pengharum ruangan dan ditata dengan rapi. Langit-langitnnya tinggi dengan jendela-jendela raksasa yang membiarkan sinar matahari membanjiri ruangan. Ada bunga-bunga segar di beberapa sudut rumah, foto keluarga mereka tergantung di belakang televisi.

Jeongguk nampak beberapa tahun lebih muda di sana, berdiri di sebelah ibunya yang duduk berdampingan dengan Jeonggi di sofa. Ayahnya merangkul Jeongguk dengan akrab, matanya berkilau oleh rasa bangga yang diabadikan lewat lensa.

Setelah makan (Jeongguk menyuap dua-tiga belut lain sebelum benar-benar berhenti), ayah Jeongguk mengajaknya untuk pergi menemaninya mencari sesuatu ke kota dan Jeongguk mengerang.

“Really, Dad?” Keluhnya. “Aku datang dengan temanku. Mana mungkin aku meninggalkannya di sini sendirian.”

Ayah Jeongguk menatap Taehyung yang duduk di sofa dengan secangkir teh dan banyak kue kering buatan ibu Jeongguk tersaji di hadapannya, televisi menyala menampilkan salah satu episode Criminal Mind.

“Apakah kau keberatan jika menunggu sebentar, Taehyung?” Tanya ayah Jeongguk ramah. “Kami tidak akan lama. Saya tahu besok kalian harus bekerja.”

Tidak punya pilihan lain, Taehyung menggeleng. “Tidak apa-apa, Om.” Katanya ramah.

Jeongguk menatap Taehyung, seperti seekor bayi singa yang terluka dan hati Taehyung kembali berdesir ingin memeluknya dan mengatakan: “That's okay, I don't mind.” sambil menepuk-nepuk kepalanya.

Alih-alih, dia tersenyum. Mengendikkan cangkir di tangannya. “Silakan. Take your time.” Katanya dan Jeongguk menghela napas sebelum bergegas menyusul ayahnya yang sudah lebih dulu meninggalkannya.

Taehyung belum pernah merasa kikuk jika berhadapan dengan orang baru malah dia selalu merasa dirinya adalah orang yang mudah bergaul. Cepat akrab dengan orang-orang baru. Namun karena perempuan di sisinya adalah ibu atasannya, Taehyung merasa tegang dan bingung.

Apakah dia salah dengan membiarkan Jeongguk pergi?

“Jeongguk itu unik, 'kan?” Tanya ibunya tiba-tiba dan Taehyung nyaris tersedak teh chai yang sedang disesapnya perlahan. “Kau pasti kesulitan mencoba memahaminya.” Dia melanjutkan lalu bergegas menambahkan, “Tentu saja sebagai teman.”

“Dia tidak punya banyak teman, Jeongguk itu.” Ibunya melanjutkan bahkan tanpa menunggu reaksi Taehyung sama sekali, maka Taehyung memutuskan untuk diam. “Hanya Yugyeom yang bertahan bersamanya karena dia gila.” Ibunya terkekeh lembut.

“Kau tahu, 'kan, satu-satunya hubungan yang akan berhasil hanyalah hubungan antara satu orang membosankan dan satu orang gila. Itulah Jeongguk dan Yugyeom. Selebihnya, dia tidak pernah mengenalkan teman mana pun kepada kami.” Dia meletakkan cangkirnya di atas meja.

“Ayo, dicoba kuenya.” Ibunya membuka toples kaca dan menawarkan kue kering pada Taehyung yang mengambilnya demi sopan santun.

Dan ternyata lezat sekali; perpaduan antara kuning telur dan tepung, renyah di permukaannya dan lembut di bagian dalamnya.

“Kalian teman kerja, ya?” Tanya ibunya lagi.

“Iya, Tante.” Sahut Taehyung setelah menelan kunyahannya, tergoda untuk meraih segenggam lagi. “Saya bawahan Jeongguk.”

Ibunya mengangguk-angguk paham. “Berarti kau juga chef, ya?”

Taehyung mengangguk. “Saya berkonsentrasi di pastry, Tante.” Dia akhirnya memutuskan untuk menelan semua rasa gengsinya, meraih ke toples dan menyuap kue kering lagi.

Rasanya lezat sekali. Mungkin itu turunan dari ibunya juga bakat chef yang dimiliki Jeongguk sekarang, atau setidaknya membuatnya tertarik menjadi juru masak karena dilimpahi makanan-makanan lezat seperti ini.

“Wah, pastry, ya?” Ibu Jeongguk tersenyum bersemangat. “Kue Tante dicicipin chef ahli dong, ya? Enak, gak?”

Taehyung mengerang dan ibu Jeongguk tertawa dengan suara renyah yang menenangkan. “Enak, Tante.” Katanya tulus. “Dipanggangnya di suhu yang pas, adonannya pas, manisnya pas.”

Ibu Jeongguk tersenyum lebar, senang. “Nanti dibawa saja beberapa, ya, untuk Taehyung nyemil.” Katanya ramah dan Taehyung tidak lagi memikirkan sopan santun atau gengsi karena dia langsung mengangguk, senang.

“Lalu,” ibu Jeongguk memulai lagi saat Taehyung meletakkan toples di meja dan menyesap tehnya lagi. “Hubungan kalian bagaimana? Teman bekerja saja, ya?”

Taehyung menelan ludah. “Iya, begitu, Tante.” Katanya meletakkan cangkir yang berdenting di meja. “Saya baru di Bali, jadi saya minta tolong Jeongguk untuk mengantar berkeliling.”

Ibunya mengangguk sopan dan tertarik. “Sudah ketemu Jeonggi juga, ya?”

“Sudah, Tante.” Taehyung tersenyum. “Kemarin sempat mampir juga ke rumah Sanur menemani Jeonggi karena sendirian di rumah.”

Alis ibu Jeongguk naik sejenak sebelum tersenyum. “Wah, malah merepotkan Taehyung, ya, anak-anak Tante.” Katanya. “Terima kasih, ya?”

“Tidak masalah kok, Tante.” Taehyung tersenyum ramah.

“Jeongguk itu memang overprotektif sekali pada Jeonggi.” Desah ibu Jeongguk kemudian, memelankan volumen televisi yang menayangkan film aksi mendebarkan yang tidak ditonton siapa pun.

“Karena dulu ketika mereka berdua baru taman kanak-kanak, Jeonggi sempat hanyut tenggelam di sungai karena Jeongguk, nyaris tidak selamat.”

Duduk Taehyung langsung tegak, telinganya awas saat menoleh ke ibu Jeongguk yang menatap televisi; nampak menerawang. Dan saat melakukannya, dia nampak persis seperti Jeongguk.

“Dulu mereka suka bermain ke sungai bersama teman-teman mereka. Tante izinkan karena biasanya ada satu orang dewasa yang bersama mereka, tapi mungkin sial saja, ya, hari itu.” Ibunya mendesah saat menyeritakan semua kepanikan yang dialaminya hanya dalam beberapa kalimat.

“Mereka pulang berdua, berpisah dari teman-temannya lewat jalan pintas. Hanya di belakang sana kok, kau bisa lihat nanti jika mau.

“Jeongguk hanya menghindari tawon, sederhana sekali. Dia hendak melindungi adiknya agar tidak menabrak tawon. Dan mereka jalan berdampingan di pematang yang sempit—selalu begitu, Jeonggi tidak mau berjalan di belakang atau di depan kakaknya, harus berdampingan dan bergandengan tangan.

“Dia tidak sengaja mendorong Jeonggi hingga terpeleset ke sungai. Dia terlambat menyambar tangan adiknya dan arusnya sedang besar karena semalam turun hujan. Jeonggi tercebur dan langsung terseret. Jeongguk masih kecil, tidak bisa berenang. Dia menangis sambil mengejar adiknya hingga seseorang akhirnya melihatnya.

”'Tolong! Adik saya!' Begitu kata Jeongguk dan petani yang melihatnya langsung melompat menyelamatkan Jeonggi.”

Ibu Jeongguk mendesah, sekarang wajahnya nampak sedikit lebih pucat dan matanya berkaca-kaca. Walaupun Taehyung tidak paham kenapa dia menyeritakan ini pada Taehyung, dia menghormatinya dengan mendengarkan.

Dan hanya dengan beberapa kalimat sederhana itu, Taehyung bisa merasakan trauma dan ketakutannya. Bagaimana kepanikan mereka, takutnya Jeongguk yang masih kecil karena adiknya hanyut di sungai dan dia tidak bisa melakukan apa pun untuk menyelamatkannya.

Taehyung teringat tatapan Jeongguk pada adiknya; seolah adiknya adalah permata mahal langka yang harus dilindungi. Kasih dan sayang absolut yang membuat Taehyung berdesir iri, ingin dicintai seperti itu.

Sekarang dia paham.

“Kami sudah nyaris kehilangan Jeonggi karena dia terlalu banyak menelan air sungai. Tapi dia selamat, ajaib sekali. Jeongguk menolak meninggalkan sisinya selama adiknya dirawat di rumah sakit dan menyalahkan diri atas kejadian itu.

“Dan Tante yakin,” dia berbisik rendah. “Jeongguk masih menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian itu hingga sekarang, menilai dari betapa overprotektifnya dia pada Jeonggi. Nyaris seperti obsesi.”

Taehyung mengerjap.

Semua pertanyaan yang berputar di kepalanya terjawab; bagaimana Jeongguk yang selalu bergerak mengikuti adiknya, bagaimana dia merelakan kebahagiaannya sendiri demi menjaga adiknya, bagaimana dia tetap bertahan melajang dan direpotkan adiknya hingga usia sekian.

Bagaimana dia selalu berusaha menyediakan waktu untuk Jeonggi. Selalu bersikap penuh tanggung jawab nyaris seperti orang sinting pada Jeonggi. Bagaimana dia menatap Jeonggi seolah adiknya itu adalah hal paling berharga di hidupnya.

Dia memvonis dirinya sendiri dengan hukuman seumur hidup atas kesalahan itu.

“Tante cerita ini ke Taehyung,” tambah ibu Jeongguk menarik Taehyung kembali ke masa kini. “Hanya agar kau memahami bahwa Jeongguk itu sebenarnya anak baik, namun dia sulit sekali berkomunikasi. Terlalu banyak mengambil tanggung jawab yang bukan tanggung jawabnya sama sekali. Senang menghukum dirinya berlebihan.”

Dia kemudian menambahkan dengan lembut, nyaris seperti memohon pada Taehyung: “Tolong, berteman dengan Jeongguk, ya? Dia pasti kesepian tapi tidak pernah mau mengatakannya pada siapa pun. Tegur dia kalau salah, koreksi dia. Tapi jangan ditinggalkan.

“Mungkin Tante meminta sesuatu yang mustahil darimu,” dia bergegas menambahkan, sekarang air mata mulai terbit di sudut matanya dan hati Taehyung terasa diremas-remas melihatnya sehingga dia meraih tangan ibunya dan meremasnya lembut.

Telapak tangan ibu Jeongguk terasa dingin.

“Tapi, Tante berharap sekali, Taehyung bisa setidaknya berdamai dengan sikapnya. Mencoba memahami bahwa Jeongguk sebenarnya baik dan ramah, hanya tidak tahu caranya mengekspresikan emosinya.

“Tidak ada paksaan, jika akhirnya pun kau merasa tidak sanggup menghadapi sifatnya yang serba tidak jelas, tidak apa-apa, Tante tidak masalah.” Dia tersenyum, balas meremas tangan Taehyung.

“Tapi setidaknya, maukah Taehyung berusaha?”

Dan kalimat itu terngiang-ngiang di belakang kepala Taehyung selama perjalanan kembali ke Kuta yang kemalaman karena orangtua Jeongguk memaksa mereka tinggal untuk makan malam, menitipkan banyak makanan untuk Jeonggi sebelum membiarkan mereka pulang.

Taehyung juga diberikan kesempatan untuk membantu ibu Jeongguk memanen sayurannya yang subur dan nampak menyenangkan dilakukan sehingga Taehyung menambahkan di daftar tak kasat matanya dia ingin punya kebun hidroponik di rumah masa depannya nanti.

Jeongguk membawa beberapa sayuran hasil panen juga pulang ke Kuta. Bagasi mobilnya penuh dengan makanan segar sekarang. Selama perjalanan pulang, Taehyung memejamkan matanya, berpura-pura tidur agar tidak mengatakan hal-hal yang akan disesalinya dan Jeongguk membiarkannya; nampak mengapresiasi keheningan itu.

Taehyung mencoba memproses segala hal yang terjadi hari ini.

Bagaimana Jeongguk semacam menjebaknya untuk pergi ke rumah orangtuanya yang menghasilkan banyak sudut pandang baru bagi Taehyung dalam menjelajahi Jeongguk seperti mendapatkan peta baru, menemukan arah baru ke mana dia harus pergi.

Bukannya Taehyung keberatan, dia sama sekali tidak keberatan jika ingin dipikirkan baik-baik hanya saja mungkin dia terkejut. Jika saja Jeongguk memberikannya waktu untuk berpikir, mungkin akan terasa lebih nyaman baginya.

Seperti merebus katak, Jeongguk meletakkan Taehyung di dalam panci dan memanaskan airnya perlahan alih-alih melempar Taehyung ke dalam air mendidih sehingga terlambat bagi Taehyung untuk melompat.

“Jeongguk masih menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian itu hingga sekarang .... Nyaris seperti obsesi.”

Taehyung mengerutkan alisnya, mencoba menahan rasa sakit yang menyeruak di dadanya. Memunculkan rasa panas aneh yang menyesakkan, di suatu tempat di belakang paru-parunya.

Jeongguk memvonis dirinya sendiri dengan hukuman seumur hidup.

Lalu semua ingatannya tentang hal itu mendengung di otak Taehyung, menyengatnya seperti seekor lebah; terus-menerus, berkali-kali hingga dia merasa otaknya kram oleh banjir bah kesadaran.

“Dia yakin dia tidak berhak bahagia.”

“Adiknya menikah tiga tahun lalu dan sedang hamil.”

“Adiknya sudah menikah tiga tahun dan Jeongguk masih lajang??”

“Dia... sangat overprotektif pada adiknya.”

“Dia menangis sambil mengejar adiknya hingga seseorang melihatnya; “'Tolong! Adik saya!'”

“Yah, banyak yang terjadi saat kau masih kanak-kanak, ya, 'kan.”

” ... Taehyung?”

Mata Taehyung langsung terbuka, lebih karena kaget dan menyadari matanya panas disengat air mata yang entah terbit sejak kapan. Dia bergegas menyeka air matanya sebelum Jeongguk menyadarinya dan membersit, suaranya parau.

“Ya?” Tanyanya lalu menoleh dan menyadari mereka sudah tiba di kosannya. “Oh, sudah sampai.” Dia bergegas meraih barang-barangnya. “Maaf aku tertidur.”

Jeongguk menggeleng dalam kegelapan dan redupnya lampu jalanan. “Tidak apa-apa, kau pasti lelah.” Katanya sebelum berdeham dan menambahkan, “Aku minta maaf.”

Taehyung berhenti bergerak, menatapnya dalam gelap. Bahkan dalam cahaya redup sekali pun dia tidak gagal menemukan kerlip di mata Jeongguk yang entah sejak kapan terasa familiar dan akrab.

“Untuk?” Balas Taehyung parau.

“Karena... tidak memberitahumu yang sebenarnya ke mana kita akan pergi.” Dia berbisik. “Aku tidak ingin membawamu ke sana, tapi... Mama bisa sangat menuntut jika beliau mau. Dan aku tidak bisa menolak keinginan beliau.”

Tidak bisa menolak keinginan beliau.

“Dia menggantungkan bahagianya pada orang lain: jika aku bahagia, maka dia bahagia. Tidak pernah dari dirinya sendiri.”

“Tidak apa-apa.” Tukas Taehyung ceria, ingin meringankan rasa bersalah di hati Jeongguk karena dia sungguh tidak masalah.

“Aku senang pergi ke sana. Mamamu baik dan punya kebun sayur yang keren.” Dia mengulaskan senyuman lebarnya. “Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, ya? Aku menikmatinya, kok.”

Jeongguk menatapnya, hening dan tenang. Tidak ada sedikit pun emosi yang berkilau di matanya yang steril.

“Hari ini luar biasa.” Tambah Taehyung masih dengan nada ceria yang dia harap, bisa mengurangi rasa bersalah Jeongguk. “Aku senang sekali. Terima kasih karena telah merelakan hari liburmu untuk menemaniku berjalan-jalan.”

Keheningan kembali jatuh di antara mereka namun kali ini, terasa lebih menyesakkan hingga Taehyung merasa bingung. Dia nyaris tegang dan jengah di bawah tatapan Jeongguk yang bisa menjadi sangat diam jika dia mau; merasa ditelanjangi dan terintimidasi.

Taehyung memutuskan dia sebaiknya turun dari mobil sebelum keadaan semakin kikuk, maka dia melepaskan sabuk pengamannya dengan suara nyaring di tengah keheningan mereka lalu menoleh.

“Baiklah. Aku tidak akan menahanmu lebih lama lagi. Kita berdua butuh istirahat karena besok kita harus bekerja.” Dia tersenyum pada Jeongguk yang masih sediam batu di sisinya. “Bisakah kau membuka bagasi mobilmu? Aku harus mengambil belanjaanku.”

“Taehyung.”

Taehyung berhenti bergerak, dia menoleh ke Jeongguk yang sekarang memasang ekspresi itu lagi; menerawang jauh seolah sedang memikirkan hal yang membuatnya gelisah.

“Ya?” Tanya Taehyung, mengerjap. “Kau sakit?”

Jeongguk menjilat bibirnya sebelum matanya bergulir ke mata Taehyung, menguncinya dengan telak hingga perut Taehyung terasa ditonjok karena pandangan itu nampak... berbeda.

“Bolehkah...?”

“Ya?” Bisik Taehyung, di dasar perutnya sekarang ada seekor ikan yang menggelepar, membuatnya mual oleh sensasi ketegangan yang ditarik perlahan menuju mulutnya.

Apakah ini seperti yang dipikirkannya...?

Jeongguk mengerjap sekali lagi, bibirnya membuka lalu menutup. Dia ragu sejenak namun akhirnya mengencangkan rahangnya dan berbisik rendah;

“Bolehkah aku menciummu?”

*

Sizzling Romance #152

Taehyung sungguh takjub pada betapa intens dan semaraknya semua warna yang ditemuinya hari ini. Semua tempat memiliki warnanya sendiri: merah, kuning, jingga dan selebihnya hijau zambrud yang menakjubkan.

Matanya dimanjakan pemandangan yang meneduhkan, warna-warni bebungaan dan suasana sejuk yang menenangkan. Lokasinya tidak jauh dari Kebun Raya, hingga Taehyung kaget saat mobil berhenti dan Jeongguk menyatakan mereka sudah sampai. Dia baru saja akan memejamkan mata untuk tidur sejenak, namun gagal.

Tempat itu ramai oleh wisatawan dan karena Jeongguk menang suit, Taehyung mau tidak mau menatap dengan jengkel tiap kali chef senior itu merogoh saku dan membayar tiket masuk mereka. Dan dia nampak sangat bangga atas kemenangan konyolnya itu, membuat Taehyung merasa hatinya lemah.

Jeongguk kemudian membimbing Taehyung melewati candi masuk dan bergabung dalam lautan manusia di dalam wilayah danau itu.

Pepohonan di tempat ini tumbuh dalam jarak-jarak yang lebih longgar, ada jalan setapak dari batu sikat yang rapi, tepian danau mengintip dari sudut yang langsung tertangkap mata Taehyung. Taman-tamannya lebih lapang dan terbuka, lebih rapi dan terawat—jenis taman yang mendapatkan sentuhan manusia secara konsisten tidak seperti kebun raya.

Ada pohon bunga merah muda yang menggantung seperti lonceng-lonceng kecil di sekitar pintu masuk, jemari Taehyung tidak tahan untuk tidak menyentuhnya, membuat kelopaknya menari dalam sentuhannya.

Jeongguk memasuki tempat itu, menghela napas dan nampak rileks. Suara-suara menggema dari seluruh ruang yang ada, anak-anak kecil berlarian (mereka selalu berlarian di mana saja), kursi-kursi beton yang diletakkan di beberapa tempat terisi wisatawan yang sedang duduk mengobrol atau makan.

“Ayo ke sana.” Jeongguk mengedikkan dagunya ke arah danau dan Taehyung mengikutinya. Mereka melangkah di jalan setapak yang dipagari pohon-pohon tinggi kurus yang berdesir oleh angin.

“Oh.” Kata Taehyung kemudian saat mereka tiba di lapangan luas dengan lebih banyak lagi bebungaan dalam berbagai warna yang semarak membentuk pagar rapi, sebagai pembatas ke arah danau.

“Kenapa?” Tanya Jeongguk, berhenti di sisi Taehyung menatap ke Pura Ulun Danu Beratan yang berdiri megah di hadapan mereka. “Kau sering melihat gambarnya, 'kan?” Jeongguk mengerling Taehyung yang mengangkat ponselnya, mengambil gambar.

“Ya.” Desahnya, terpana. “Baru kali ini aku melihatnya secara langsung. Kupikir itu hanya gambar digital hasil editing yang jago sekali. Maksudku, nyaris tidak nyata.” Dia mengambil gambar dengan ceria, akan pamer pada Yoongi nanti.

“Sentuhan editing digital berkontribusi pada betapa tidak nyatanya tempat itu terlihat.” Jeongguk berdiri, membiarkan Taehyung menjelajah beberapa meter mendekati tembok yang membatasi danau dan halaman pura.

“Tapi inilah aslinya.” Dia menyugar rambutnya, membiarkannya tergerai di tengkuknya sementara karet hitam mungilnya dilingkarkan di pergelangan tangannya. Rambutnya meriap saat terkena angin danau yang lumayan kencang.

“Tidak kalah cantik, kok.” Taehyung menoleh, tersenyum lebar. Dia sekarang berdiri di dekat pembatas, dekat dengan pura hanya terpisahkan danau dan tanaman rambat yang berbunga kuning mungil-mungil.

Jeongguk menghampirinya, mereka berdiri berdampingan di sana. Menatap lepas ke danau yang tenang, perbukitan dengan awan tipis di permukaannya, suara-suara wisatawan dan aroma air tawar yang sedikit amis. Mereka tiba saat matahari sudah mulai turun sehingga suhu jadi agak lebih dingin, namun Taehyung tidak keberatan.

Dia memilih berdiri di bawah matahari yang bersinar temaram karena awan yang menutupinya, menghangatkan diri seperti seekor kucing yang mendengkur senang oleh suhu yang melingkupinya.

Dia menyadari betapa Jeongguk sangat mengapresiasi keheningan, tidak harus memikirkan apa yang mereka obrolkan. Dan Taehyung juga tidak pernah keberatan dengan itu, karena dia juga menikmati keheningan sama seperti Jeongguk.

“Lalu bagaimana caranya jika ingin beribadah ke sana?” Tanya Taehyung, menyeka rambutnya yang menghambur ke wajah karena angin danau, menoleh ke Jeongguk yang berdiri di sisinya.

“Menyeberang dengan perahu.” Jeongguk menunjuk perahu kayu kecil yang ditambatkan di sisi jalan keluar kecil. “Biasanya hanya beberapa orang, tidak semuanya. Sisanya akan berdoa di dalam sana,” Jeongguk menunjuk ke wilayah pura dengan dinding tinggi berlumut yang ditutup untuk wisatawan.

Taehyung menoleh ke bangunan di sisi lain tubuhnya dan mengangguk-angguk paham. Mereka menelusuri jalan setapak perlahan, membicarakan hal-hal remeh yang menarik perhatian mereka hingga akhirnya mereka tiba kembali ke tempat awal mereka memasuki kompleks pura.

Tidak banyak yang ternyata bisa mereka lakukan di sana selain duduk di balai panjang tempat orang-orang berkumpul, menatap lepas ke danau yang berombak lembut karena angin dengan sebotol air mineral dingin dengan kondensasi di permukaannya yang dibelikan Jeongguk (sekali lagi, karena Taehyung kalah suit dan kesempatan itu dimanfaatkan Jeongguk untuk benar-benar menghamburkan uang).

“Hari ini Jeonggi pergi senam ibu hamil.” Kata Taehyung memulai percakapan dengan ringan setelah diam sejenak, membiarkan Jeongguk meneguk habis minumannya karena dia nampak lelah dan haus.

“Ya, diantar suaminya.” Kata Jeongguk, menumpukan kedua sikunya di lututnya dengan kedua tangannya memegang botol minumnya yang sudah separo kosong.

Taehyung ragu sejenak sebelum kembali bersuara, “Kalian kembar beda sel telur, ya? Karena tidak terlalu identik.” Katanya perlahan, menilai Jeongguk yang menatap lurus, menilai ekspresinya saat Taehyung membawa topik personal naik ke permukaan.

Jeongguk mengangguk dan Taehyung menghembuskan napas, setidaknya dia tidak nampak jengkel. “Kami dekat.” Katanya kemudian, membuat Taehyung menoleh.

Matanya menerawang jauh ke danau lepas di hadapannya, ke permukaan air yang bergolak lembut, ke perbukitan hijau seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat dan intim.

“Yah,” dia kemudian menghembuskan napas. “Banyak yang terjadi saat kau masih kanak-kanak, ya, 'kan.” Dia menegakkan tubuh, menoleh ke Taehyung dan tersenyum tipis. “Aku menghabiskan hidupku menjaga Anggi, memastikan tidak ada orang yang menyakitinya.”

Mereka diam. Taehyung membiarkan kekuatan ucapan Jeongguk meresap ke permukaan kulitnya, menyadari seberapa besar arti Jeonggi baginya. Mereka memiliki satu sama lain, dekat dan akrab. Tidak banyak saudara lelaki-perempuan yang bisa sedekat itu.

“Tapi, toh, tetap ada hal-hal diluar kekuasaanku sebagai kakak.” Jeongguk menambahkan perlahan setelah diam lalu mengendikkan bahunya, bersandar di salah satu tiang penyangga balai yang mereka duduki.

“Bagaimana denganmu? Kau punya saudara?” Tanyanya membuat Taehyung sejenak kaget karena Jeongguk akhirnya melemparkan pertanyaan pribadi setelah berjam-jam mereka bersama untuk pertama kalinya.

Sejak tadi, hanya Taehyung yang berusaha membuat pertanyaan-pertanyaan kasual dan memosisikan dirinya sebagai teman yang perhatian alih-alih seseorang yang penasaran tentang hidup Jeongguk.

Namun ini kali pertama Jeongguk menyuarakan pertanyaan itu, persis dengan nada seseorang yang penasaran—bukan lagi pertanyaan sopan basa-basi.

Apakah ini berarti dia juga menghapuskan garis tebal profesionalitas yang digambarnya di hari pertama mereka bertemu?

Taehyung berdebar, namun menekan perasaannya sendiri. Harapan adalah akar dari segala rasa sakit, dia sudah belajar. Maka dia berusaha menekan harapannya sendiri agar tidak terluka karena dirinya sendiri.

“Aku anak tunggal.” Taehyung meringis. “Makanya butuh perjuangan saat aku akhirnya mengakui orientasi seksualku pada kedua orangtuaku. Dan memutuskan berangkat bekerja ke pulau terpencil demi menghindari konflik berkepanjangan dengan keluarga besarku.”

Jeongguk mengangguk perlahan. “Pulau Moyo?” Tebaknya dan Taehyung tersenyum, senang Jeongguk mengingat kisah perjalanan karirnya melewati banyak resor terpencil yang memberikannya keleluasaan bergerak dari pengawasa orangtuanya.

“Amanwana, ya.” Sahut Taehyung, menyeka rambutnya. “Mungkin sebuah tindakan yang tidak bertanggung jawab dengan kabur pergi bekerja ke pulau terpencil begitu tapi aku takut jika aku tetap di rumah berdekatan dengan mereka dalam kondisi konflik, aku akan melakukan hal-hal yang akan kusesali di kemudian hari.”

Jeongguk diam sejenak sebelum kembali mengangguk, “Setuju.” Katanya menerawang, seperti sedang tenggelam dalam kenangannya sendiri yang tidak dipahami Taehyung. “Kadang, kabur sejenak untuk menenangkan pikiran adalah pilihan terbaik dalam menghadapi emosi.”

Kemudian dia mendadak berdiri, hingga Taehyung mendongak kaget. Chef itu menoleh ke arahnya, sejenak nampak menimang-nimang banyak hal sebelum tersenyum kecil.

“Kita... berteman, 'kan?” Tanyanya tiba-tiba membuat Taehyung mengerjap kebingungan.

“Tentu saja.” Sahutnya ragu, apa yang diinginkan Jeongguk? Kenapa dia tiba-tiba memukul mundur Taehyung lagi setelah seharian ini mereka begitu dekat dan akrab?

Lambatlaun, berdinamika dengan Jeongguk membuat Taehyung sedikit kewalahan pada sikapnya.

Dia bisa begitu rileks, namun detik berikutnya begitu tegang dan penuh rahasia. Dia bisa terbuka, namun kemudian menutup semua pintu yang terbuka dan menarik diri dari semua orang.

Taehyung harus sungguh berhati-hati dalam meladeni Jeongguk agar tidak menyinggung tempat sensitif yang membuatnya menarik diri seperti seekor kura-kura yang bersembunyi, membentengi dirinya.

Jadi sekarang, dia benar-benar memikirkan setiap langkah dan ucapan yang akan dikeluarkannya karena Jeongguk nampak sedang kebingungan, ragu pada entah apa yang dipikirkannya sejak tadi setelah membalas pesan di Whatsapp-nya sebelum memasuki Danau Beratan.

“Kau... tertarik makan belut?” Tawarnya kemudian, tawaran yang sama sekali tidak disangka Taehyung.

Apa katanya? “Belut?” Ulangnya, bingung. “Belut air tawar, 'kan? Hidup di sawah? Aku belum pernah mencoba makan olahannya, sih.”

Jeongguk mengangguk, nampak bingung lagi sebelum melanjutkan, “Kau ingin coba makan, mungkin?”

Taehyung mengerjap, ke mana arah pembicaraan ini? “Tentu saja.” Katanya perlahan dan mengangguk, “Kau punya rekomendasi tempat makan belut yang lezat di sekitar sini, I suppose?”

Jeongguk menggaruk pelipisnya, “Sekitar empat puluh menit. Apakah kau keberatan?” Tanyanya, menunduk menatap Taehyung yang masih duduk di balai sementara Jeongguk menjulang di hadapannya, setampan dewa muda.

“Tidak.” Taehyung berdiri, memutuskan untuk mengikuti permainan Jeongguk sebelum dia berubah pikiran. “Kau yang mengemudi, 'kan, aku hanya duduk. Jadi tidak masalah sama sekali. Lagi pula, aku belum terlalu lapar.”

Jeongguk menatapnya, dan seperti biasa tatapannya menelanjangi Taehyung. Terasa menembus setiap lapisan fana yang digunakan Taehyung saat ini; bola matanya gelap, jernih dan berkilau seperti dalamnya lautan.

Jantung Taehyung berdebar, tatapan mata itu tidak pernah tidak melakukan sesuatu pada diri Taehyung. Membuat Taehyung merasa dirinya kecil dan lemah, namun di satu sisi juga nampak begitu rapuh hingga Taehyung merasa ingin merengkuh Jeongguk dalam pelukannya.

Jeongguk adalah orang paling misterius yang tidak tertebak yang pernah Taehyung jumpai, jadi jika Taehyung ingin mempertahankan hubungan mereka senyaman ini, dia harus pintar membaca sikap dan gestur Jeongguk.

Kapan dia harus mundur, kapan dia harus maju. Karena Jeongguk terkadang bahkan mungkin tidak menyadari dia sedang bersikap defensif pada orang atau membentengi diri.

Mengenal Jeongguk terasa seperti menjelajahi tempat eksotis yang belum terjamah. Banyak kejutan, banyak hal-hal baru yang ditemukan Taehyung dalam perjalanannya dalam menyelami Jeongguk. Terkadang matahari bersinar cerah, angin berhembus sejuk namun tidak jarang juga langit berubah mendung dan gerimis turun.

Atau kadang berkabut tebal hingga Taehyung memutuskan untuk berhenti, menanti setidaknya matahari menyembul sebelum kembali melangkah. Kadang Taehyung terpeleset, lupa mengamati ke mana kakinya melangkah dan menyebabkan kakinya terluka. Maka dia berhenti, mengobatinya sebelum menunggu cuaca kembali stabil sebelum melangkah.

Dia tidak bisa bilang dia tidak menikmati perjalanannya.

“Baiklah jika begitu,” Jeongguk berdeham. “Karena tidak banyak yang bisa kita lakukan di sini, jadi mari kita cari makan lalu kembali ke Kuta.”

Taehyung tersenyum. Nampaknya, cuaca sedang cerah di hutan tropis Jeongguk hari ini. “Baiklah, ayo kita makan belut.”

Mereka berjalan berdampingan ke tempat parkir, Jeongguk mengetik sesuatu di ponselnya dengan cepat lalu tersentak kecil dan mengumpat saat ponselnya berdering tanda telepon masuk.

Sebelum Taehyung sempat menoleh, dia sudah mematikan deringnya; mengetik pesan dengan cepat dan mengirimnya. Lalu menyelipkan ponselnya ke saku celana, mengabaikannya.

“Kau suka belut?” Tanya Taehyung saat mereka memasuki mobil Jeongguk yang agak hangat karena sinar matahari sore.

Jeongguk mengangguk. “Khususnya masakan di tempat ini.” Katanya tersenyum kecil. “Kuharap kau juga suka.”

Taehyung tersenyum lebar. “Mari kita lihat.”

*

Sizzling Romance #145

”... Jatuh!”

Taehyung yang sedang menunduk ke layar ponselnya, mendongak ke arah Jeongguk dan menyadari ekspresi chef senior itu nampak kaget dan khawatir, menjulurkan tangan akan meraih Taehyung—ekspresi aneh yang membuat Taehyung terenyuh namun sebelum dia sempat mengapresiasi tatapan atau gestur itu, kakinya terjerumus.

Tubuhnya seketika oleng ke depan karena satu kakinya kehilangan pijakan dan kaki satunya serta otak Taehyung sama sekali tidak siap untuk mengantisipasi momentum itu sehingga alarm di kepalanya berdering: “JATUH!” dengan keras dan seluruh tubuhnya membeku karena kaget.

Namun Jeongguk berseru dalam bahasa Bali, menyambar lengannya dengan kuat persis sebelum Taehyung terjerembab di tanah becek pasar Candi Kuning yang sedang mereka kunjungi. Plastik yang Taehyung genggam (penuh dengan buah-buahan segar dan sayuran serta keripik daun bayam) jatuh ke tanah dengan suara gemeresak keras.

Beberapa orang ikut berseru karena kaget mendengar suara Jeongguk dan Taehyung merasa dirinya ditarik ke arah Jeongguk. Tubuhnya melayang, menubruk tubuh Jeongguk yang bidang dan kuat, tangannya mengenggam tubuh Taehyung kuat. Hidungnya langsung dibanjiri oleh aroma tubuh Jeongguk yang bahkan jauh lebih menyesakkan dari dekat.

“Sudah kubilang.” Kata Jeongguk dengan sedikit jengkel dan khawatir, sedetik kemudian mendorong Taehyung untuk menegakkan tubuh menjauh darinya. “Kau berjalan dengan matamu menempel di ponsel dan tidak melihat lubang di jalan.”

Taehyung yang limbung karena 1) nyaris mempermalukan dirinya sendiri, 2) mematahkan hidungnya karena bersikap bodoh dan 3) baru saja menyandarkan tubuh di tubuh Jeongguk menoleh dengan linglung, mendapati lubang besar di tempatnya tadi berdiri dan hanya untuk membuat dirinya semakin menyedihkan, dia menunduk.

Melihat sepatunya yang kotor oleh air berlumpur yang baunya jelas tidak manusiawi.

Dia mengerang.

Jeongguk mendenguskan senyuman, kejengkelannya luntur. “Sudah kubilang.” Ulangnya dengan menyebalkan dan Taehyung ingin sekali memukul rahangnya atau mencium bibirnya—satu dari dua hal tadi jelas adalah serangan impulsif gila tapi Taehyung tidak terlalu memikirkannya.

“Diam.” Balas Taehyung, mulai merogoh tas selempang kecilnya dan mengeluarkan tisu yang selalu dibawanya. Dia menyambar beberapa lembar lalu mengelap kakinya sementara Jeongguk meraih kantung plastiknya yang berceceran dan membawanya.

Menyadari dia tidak bisa lagi menyelamatkannya, Taehyung mendesah. Melempar tisu yang basah oleh kotoran yang dibentuknya menjadi bola ke tempat sampah sebelum menerima belanjaannya.

“Kita akan ke mana?” Tanyanya saat mereka berjalan menuju mobil mereka yang terparkir di dekat ATM BRI, di sisi gedung ATM ada toko tanaman.

Taehyung lagi-lagi terpana dengan warna-warna bunga itu. Krisan, gerbera, anggrek dan bunga-bunga lain yang tidak dikenalnya namun berwarna cerah semarak membuatnya otomatis tersenyum.

Dia ingin tinggal di sini, dengan halaman penuh bunga yang menyapanya setiap hari dan hawa dingin yang membuatnya malas. Meringkuk di balik selimut dan menyesap thick choud berempah.

Jeongguk menekan tombol kunci terbuka dan mobilnya mengedip meresponnya. “Kita akan naik motor dari sini.” Katanya membuka bagasi belakang yang terisi tikar lembab dan keranjang piknik kosong sisa mereka tadi, membuyarkan imajinasi Taehyung tepat saat dia tiba di bagian sedang membayangkan Jeongguk datang memeluknya dari belakang....

“Taruh saja belanjaanmu di sini.” Tambahnya membantu Taehyung memasukkan belanjaannya ke dalam bagasi mobil.

Taehyung mengerjap, kembali ke masa kini dan bergegas memasukkan belanjaan ke dalam bagasi dengan bantuan Jeongguk sebelum pemuda itu meraih pintu bagasi dan menutupnya dengan suara debum keras. Dia mengunci mobilnya kembali lalu merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel dan menekan beberapa tombol.

Lalu, demi Tuhan, berbicara dalam bahasa Bali yang sopan. “Halo, Swastyastu, Pak? Niki tiang sampun ring Pasar Candi Kuning. Nggih, tiang driki ngantos, nggih? Tiang ring malun ATM BRI.” Dia diam sejenak dan mengangguk pada apa yang dikatakan orang di seberang sana.

Nggih, sareng timpal tiang. Nggih, ten bakta tiang helm'e. Oh, kenten? Nggih, nggih. Suksma, Pak, suksma. Swastyastu.” Dia menurunkan ponselnya, mengetik sesuatu lalu menyimpan ponselnya.

“Kau tadi bilang apa?” Tanya Taehyung penasaran dan Jeongguk menyunggingkan senyuman tipisnya yang mahal.

“Aku bilang pada pemilik kebun untuk menjemput kita di sini karena lokasinya hanya bisa dicapai dengan sepeda motor. Meminta mereka membawakan helm juga karena aku tidak bawa.” Dia kemudian menggulung lengan kemejanya, memamerkan tatonya yang memenuhi lengan bawahnya.

Taehyung menatapnya, “Kita akan pergi ke mana?”

“Ke kebun stroberi.” Jeongguk menjawab dengan kalem. “Mereka supplier Banyan, tadi pagi aku menghubungi mereka dan menanyakan apakah aku boleh meminta satu sesi memetik stroberi. Kata mereka tidak apa-apa, kebetulan juga akan panen hari ini.”

“Jadi, kita akan sekalian membantu mereka panen, apakah tidak apa-apa?” Tanyanya kemudian, menatap Taehyung dalam-dalam.

Taehyung tersenyum lebar, selalu begitu tiap kali mata mereka bertemu dan hatinya akan membuncah hangat. Membuat seluruh tubuhnya berdenyar menakjubkan.

“Tentu saja tidak! Malah jauh dari apa yang kuharapkan.” Katanya bersemangat. “Kupikir kita hanya akan pergi ke wisata biasa? Bertemu banyak orang dan sebagainya.”

Jeongguk mengernyit, jelas tidak menyukai gagasan itu sama sekali. “Aku tidak mau.” Tukasnya membuat Taehyung geli karena dia masih sempat bersikap perfeksionis di saat seperti ini. “Terlalu banyak orang dan kualitas stroberi yang jelek, ukurannya kecil-kecil. Tidak, tidak. Aku ingin pengalaman ini berkesan untukmu.”

Aku ingin pengalaman ini berkesan untukmu.

Hati Taehyung kembali berdesir, kesekian kalinya hari ini sejak pagi Jeongguk menjemputnya. Begitu banyak hal yang terjadi hari ini. Begitu banyak obrolan yang mereka lalui saat duduk berdampingan di atas tikar menatap lepas ke langit dan rerumputan di Kebun Raya.

Makan siang mereka sederhana, hanya sandwich buatan Jeongguk, namun cukup. Taehyung merasa senang hanya dengan duduk di sisi Jeongguk, makan bersama dan membicarakan hal random semacam:

“Berapa mantan kekasih?” Taehyung: 1 orang Jeongguk: 0 orang

“Target menikah di usia?” Taehyung: saat dia siap. Jeongguk: saat dia siap.

“Sudah come out ke orangtua tentang homoseksualitas?” Taehyung: sudah. Jeongguk: sudah.

“Kenapa tetap sendirian?” Taehyung: sibuk berkarir. Jeongguk: sibuk berkarir.

Dan Taehyung menyadari dirinya terlalu banyak tertawa hingga kepalanya terasa begitu ringan oleh adrenalin. Jeongguk di sisinya tidak tertawa, namun senyumannya semakin dan semakin rileks, membuatnya nampak seperti manusia yang baru.

Bagaimana senyuman itu merubah keseluruhan bentuk dan ekspresi wajah Jeongguk menjadi lebih mendebarkan dan menenangkan. Dia menikmati waktu mereka dan sekarang, otot-otot wajahnya nampak lebih rileks saat tersenyum.

“Nah, itu dia.” Jeongguk berkata, menyelipkan ponselnya ke saku saat dua orang di atas sepeda motor berbeda menghampiri mereka; satunya adalah sepeda motor bebek tua sementara satunya sepeda motor anak muda yang canggih dan membua Taehyung anxious.

Satunya adalah pria paruh baya yang ramah dan di sisinya ada anaknya yang masih muda. Jeongguk dan keduanya berbicara dengan bahasa Bali halus yang membuat Taehyung harus diam menunggu sebelum Jeongguk menoleh.

“Ayo.” Dia melambaikan kunci di tangannya dan menghampiri motor anak pemilik kebun itu yang adalah Kawasaki KLX yang mengilap, motor yang sejak tadi membuat Taehyung anxious.

Taehyung berhenti bernapas memikirkannya; Jeongguk dalam balutan kemeja, celana jins dan boots akan menaiki motor trail yang tinggi dan membonceng Taehyung?

Hari ini sungguh hari yang magis.

Jeongguk melempar kakinya menaiki motor itu, yang pas sekali dengan tinggi tubuhnya sebelum menyelipkan kunci ke lubang starter sementara si pemuda tadi menaiki motor satunya membonceng ayahnya.

Dia mengenggam motor itu di tangannya dengan mantap, postur tubuhnya yang tinggi dan tegap membuatnya nampak seperti salah satu model iklan rokok, yang dianggap sebagai lambang maskulinitas absolut.

Dengan rambut gondrong yang diikat membentuk ekor mungil di kepalanya, kemeja yang dua kancingnya terbuka dan lengannya tergulung. Sedang mengendarai motor trail yang nyaris nampak seolah diciptakan khusus untuknya.

Jeongguk menyalakan mesin motor sebelum menoleh, “Ayo.” Katanya menyunggingkan senyuman separonya yang tipis.

Taehyung mengerjap dan bergegas menghampiri motor. “Kita tidak pakai helm?” Tanyanya menaiki bagian belakang motor dan berdebar karena betapa sempitnya bagian jok motor model itu sehingga tubuh mereka nyaris menempel.

Tidak yakin, Taehyung meletakkan kedua tangannya di bahu Jeongguk dengan kikuk.

“Tidak.” Kata Jeongguk tanpa menoleh, rileks walaupun kepalanya terpapar angin dan berpotensi bocor saat mereka jatuh. “Kata mereka dekat.”

Dan yang dimaksud dekat adalah tiga puluh menit lamanya perjalanan dengan kepala Jeongguk di depan wajah Taehyung. Anak-anak rambut Jeongguk berkibar saat dia memacu motor di bawah tubuhnya. Jalanan yang mereka lalui adalah jalanan desa yang ramah.

Motor mereka terasa seperti binatang liar, kuda yang mendengus-dengus marah saat dipacu dan Taehyung sangat benci perasaan itu. Maka dia mengenggam bahu Jeongguk jauh lebih erat.

Lebih banyak bebungaan, lebih banyak kebun kopi dan jeruk yang dilihat Taehyung. Lebih banyak lembah dan daun yang hijau merekah seperti zambrud-zambrud mungil yang melambai saat ditiup angin.

Aromanya menakjubkan; secercah bunga kopi, udara sejuk dan dedaunan. Taehyung di belakang Jeongguk, kedua tangannya mengenggam bahu Jeogguk dengan kepala lebih tinggi darinya, menikmati angin yang menampar wajahnya.

Menikmati perjalanan itu dengan jantung yang berdentam-dentam entah oleh adrenalin atau dekatnya posisi tubuhnya dengan Jeongguk yang ajaibnya mengemudikan motor dengan sama terampilnya dengan mobilnya. Dia tidak nampak kikuk dengan motor di bawahnya, mulus dan lancar.

Minusnya menaiki motor, selain segala angin dan warna yang bisa dinikmati Taehyung, mereka harus berteriak saat bicara.

“Masih jauh, tidak?!” Seru Taehyung di sela deru angin dan suara sepeda motor di sekitar mereka.

“Apa?!” Balas Jeongguk, berteriak, melirik Taehyung dari spion kecil motornya.

“Masih jauh, tidak?!” Ulang Taehyung lebih keras lagi, nyaris tertawa histeris karena begitu banyak adrenalin di aliran darahnya saat ini.

Matahari Bedugul menyembul dari balik awan, membuat kulit Taehyung terasa hangat disengat cahayanya namun juga sejuk oleh angin perjalanan mereka. Menyepuh seluruh permukaan dengan warna kuning terang.

Ini pertama kalinya Taehyung berkendara di atas motor trail yang melaju di jalanan desa yang ramah, di tempat yang asing sepenuhnya untuk Taehyung. Rasanya pergi ke bagian dunia lain yang jauh lebih menenangkan, membuat seluruh sarafnya yang lelah dan jenuh kembali bangkit.

Dia jatuh cinta pada Bali.

“Tidak tahu!” Sahut Jeongguk dan Taehyung bisa mendengar senyuman dalam suaranya. “Kenapa?!”

“Pantatku nyeri!” Taehyung mengeluh karena sekarang pantatnya sungguh berdenyut setelah duduk di jok yang kecil dan keras—anak-anak muda dengan kegemaran mereka memodifikasi motor dari nyaman ke menyiksa sungguh membingungkan Taehyung.

Dan seolah menjawab doa Taehyung, motor di depan mereka membelok dan si bapak menoleh ke mereka. Melambai meminta mereka mengikutinya ke gang kecil dari tanah yang membuat Taehyung harus mengencangkan pegangannya pada bahu Jeongguk.

Jalan itu kecil diapit oleh ladang hydrangea yang semarak berbunga dengan pohon-pohon jeruk yang berbuah lebat. Tiap melewati rumah, seekor anjing menyalak pada mereka dan Taehyung tersenyum, berseru: “Halo!” pada mereka dan membuat mereka semakin menyalak.

“Jangan begitu!” Seru Jeongguk geli setelah anjing ketiga menyalak dan nyaris mengejar mereka karena defensif pada sapaan Taehyung yang mungkin dalam bahasa mereka berarti Ayo ribut!. “Kau membuat mereka marah!”

Taehyung membalas dengan tidak terima, “Aku hanya bersikap sopan, oke?!”

Dan sial bagi Taehyung karena saat Jeongguk memutuskan untuk tertawa, Taehyung sedang duduk di belakangnya, berusaha mempertahankan diri agar tidak terlempar dari jok motor sehingga dia hanya bisa merasakan tubuh Jeongguk yang berguncang tanpa bisa melihat ekspresinya.

“Tolong!” Serunya pada Jeongguk setelah tawa pemuda itu reda. Mereka sedang menanjak dengan lembah mengancam di sisi kanan mereka dan Taehyung takut mereka terguling ke jurang.

“Apa?! Kenapa?!”

“Nanti saat kita tiba, ulang tawamu! Aku harus melihatnya sendiri!”

“Tidak mau!”

“Menyebalkan!”

Mereka kemudian tiba di tempatnya. Tanah lapang yang terisi tenda-tenda yang menahan panas matahari di dalamnya, beberapa orang sedang bekerjadi sana; memindahkan keranjang-keranjang kosong yang siap diisi stroberi. Bergerombol di bawah sebuah rumah kecil tanpa dinding, menggunakan pakaian berkebun yang hangat dan nyaman, topi rajutan dan sarung tangan.

Lokasinya di atas pegunungan, dengan rimbun pepohonan dan pemandangan lembah hijauh di sisi kanannya. Kabut terbit walaupun sudah siang hari, mengigit kulit Taehyung yang terbuka namun dia bisa menahannya. Asap putih muncul dari bibir Taehyung saat napasnya menghambur keluar, melayang di hadapannya seolah mereka sedang berada di musim dingin Eropa.

Kabut yang sama melayang di bebukitan di belakang mereka, membentuk selendang tipis yang cantik menyembunyikan wajah-wajah bumi yang berkilau hijau.

Jeongguk meluncur masuk dan memarkir motornya, Taehyung akhirnya mendesah saat dia turun dari motor dan mengusap pantatnya yang terasa nyeri. Jeongguk mengembalikan kunci motor ke anak si pemilik dan menyugar rambutnya, mengikatnya ulang karena berantakan oleh angin tadi.

Beberapa petani menoleh pada mereka, penasaran. Namun si pemilik menjelaskan bahwa mereka ingin bergabung dalam panen mereka dan semuanya langsung tersenyum ramah seolah mereka berdua adalah saudara mereka yang lama hilang.

Mereka berkenalan dengan ramah, Taehyung mendapati mereka sangat terbuka pada Jeongguk dan Taehyung. Nyaris bersemangat untuk bergegas mengajak mereka memetik stroberi.

Lumayan, mungkin begitu pikir mereka. Dua pekerja tambahan gratis.

“Ayo, ayo!” Kata seorang ibu dengan ceria langsung memberikan keranjang kecil pada Taehyung. “Petik yang banyak, ya, jangan malu-malu.” Katanya ramah.

Di dalam tenda stroberi, semua pohonnya sedang berbuah. Stroberi-stroberi besar merah manyala seperti mirah yang melambai ke arah Taehyung; bergoyang lembut seperti hiasan pohon Natal.

Bahkan jauh lebih cantik dari semua stroberi yang dilihat Taehyung di jalan tadi. Semua petani mulai bekerja memetik stroberi sambil bicara dalam bahasa Bali berlogat kental sementara Jeongguk di sisinya menunggu Taehyung.

“Silakan. Petik sesukamu.” Katanya, menyugar rambutnya sekali lagi. “Bawalah sebanyak apa yang keranjangmu cukup.” Dia menambahkan.

“Stroberi mereka yang terbaik.” Dia meraih satu stroberi yang paling dekat dengannya, memetiknya dan menjatuhkannya ke keranjang Taehyung. Lalu tersenyum.

Dan Taehyung mabuk, sangat mabuk.

Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini, terlalu banyak senyuman, terlalu banyak kejutan dan hal-hal yang menyenangkan hingga Taehyung tidak ingin hari ini berakhir. Dia ingin terus di sini, selamanya.

Dalam suasana ini, dalam rasa bahagia ini.

Memetik stroberi ternyata sangat menyenangkan. Taehyung memenuhi keranjangnya dalam waktu singkat, memetik yang tercantik dan terbesar dari setiap pohonnya. Mengambil gambar untuk dipamerkan ke Jimin setelah sinyal kembali, mengagumi keindahan pepohonan dan ranumnya buah-buah itu.

Kemudian dia memutuskan untuk membantu para petani yang ramah menyambut bantuannya. Mereka mengajari banyak hal tentang stroberi ke Taehyung; teknik memetiknya, perawatan tanamannya, bagaimana mereka memulai bisnis ini hingga akhirnya menjadi suplayer hotel-hotel besar.

Taehyung mendapati dirinya tertawa dalam obrolan mereka, tersenyum lebar dan hangat dengan keramahan mereka. Stroberi mereka, persis seperti yang dikatakan Jeongguk, adalah yang terbaik. Mutunya pas dan Taehyung gatal ingin mengolahnya menjadi sesuatu yang lezat.

Mungkin sesuatu untuk Jeongguk sebagai ucapan terima kasih atas hari ini.

Namun untuk itu, dia butuh dapur yang memadai. Dan yang terpikirkan hanyalah dapur Jeonggi dan dia menyatat di kepalanya untuk membuat janji memasak dengan Jeonggi tanpa memberi tahu kakaknya.

Taehyung mengeluarkan ponselnya, akan mengambil gambar segenggam stroberi ranum di telapak tangannya saat sudut matanya menangkap Jeongguk yang bekerja di seberang kebun, terhalang beberapa petak tanaman stroberi yang sudah selesai dipanen.

Dia kemudian tersenyum.

Memanfaatkan sisa adrenalin dan histeria hari ini yang memompa percaya diri hingga batas maksimal di tubuhnya, dia mengangkat kameranya lalu berseru pada Jeongguk yang memilih buah stroberi.

“Gguk, lihat kemari!”

Jeongguk mengerjap, mendongak dari stroberinya dan menyadari kamera itu lalu dengan ajaib mengulaskan senyuman kikuk yang menggemaskan dan memamerkan stroberi di tangannya. Taehyung bergegas mengabadikan momen itu dan tertawa.

Keduanya bertukar senyuman lebar.

Mereka membawa pulang dua setengah kilo stroberi ranum hasil petikan Taehyung dan Jeongguk, menyerahkan sisanya pada petani yang akan menjualnya sebelum Jeongguk membayarnya karena dia menang suit, permainan yang disarankan Taehyung dan membuatnya kalah.

“Setidaknya sekarang biarkan aku yang bayar.” Keluh Taehyung saat Jeongguk dengan cepat sudah menarik dompetnya keluar.

“Tidak.” Katanya, menarik beberapa lembar uang dari dalamnya.

“Ayo bermain adil!” Cegah Taehyung, menemukan keberanian untuk menepis tangan Jeongguk dari dompetnya. “Kita suit!”

Jeongguk menatapnya seolah sepasang tangan baru saja tumbuh dari leher Taehyung. “Are you 5?” Tanyanya.

“Cepat.” Desak Taehyung, tidak mau kalah. “Yang menang boleh membayar hari ini sampai pulang. Setuju?”

Mata Jeongguk berkilat kompetitif walaupun dia sendiri yang tadi mengatakan kalau suit adalah hal untuk anak kecil.

Taehyung merasa dia mungkin baru saja membangunkan singa tidur saat mengajak bajingan paling kompetitif untuk beradu suit tapi dia harus memenangkan ini.

Petani yang menonton mereka sambil minum kopi tubruk dan makan pisang goreng tersenyum lebar, mendapat hiburan sambil istirahat.

“Kita suit lima kali.” Kata Jeongguk, mulai menanggapi hal ini dengan serius dan Taehyung nyaris terbahak karena tekadnya. “That's how Balinese do it.”

“Oke.” Kata Taehyung, mengambil ancang-ancang.

Jeongguk menatapnya, “Satu, dua, tiga: SUIT!” Serunya.

Ronde satu: Jeongguk: Batu Taehyung: Gunting

Ronde dua: Jeongguk: Gunting Taehyung: Kertas

Ronde tiga:* Jeongguk: Batu Taehyung: Kertas

Ronde empat: Jeongguk: Gunting Taehyung: Gunting

Ronde lima: Jeongguk: Kertas Taehyung: Batu

Ronde tambahan: Jeongguk: Batu Taehyung: Gunting

Dan Taehyung menatap dengan jengkel saat Jeongguk mendengus seolah mengatakan “sudah kubilang aku akan menang” seraya membayar belanjaan mereka dengan hidung terkembang bangga.

Are you 5 katanya, tapi coba lihat siapa yang terobsesi menang?

Kemudian, mereka diantar kembali ke pasar Candi Kuning setelah duduk menikmati secangkir kopi tubruk kental dan pisang goreng yang membuat Taehyung ingin menangis karena terasa begitu sederhana dan lezat.

Perjalanan kembali terasa lebih singkat dari perjalanan menuju ke kebun. Taehyung tahu-tahu saja mendapati mereka sudah tiba di depan mobil Jeongguk dan harus berpisah dengan pemilik kebun yang ramah itu.

Taehyung berjanji akan kembali lagi suatu hari nanti sebelum melambai ceria kepada mereka yang lenyap di pintu keluar pasar sebelum berbalik, ke arah mobil Jeongguk. Mereka memasuki mobil yang sejuk oleh udara di luar dan mendesah, membanting pintu tertutup bersamaan.

“Kau senang?” Tanya Jeongguk seraya membenahi kursi dan tempat duduknya, bersiap untuk mengemudi.

“Sangat!” Kata Taehyung terengah oleh rasa bahagia yang membanjiri seluruh dirinya dan pipinya nyeri oleh senyuman, merona karena adrenalin. “Kau?”

“Senang.” Balas Jeongguk kalem lalu melirik jam tangannya, “Sudah pukul tiga sore. Aku tidak yakin tentang Kintamani dan Trunyan karena itu agak jauh.”

Dia menatap Taehyung. “Bagaimana kalau kita undur ke minggu depan?”

Perjalanan menjelajah Bali lain dengan Jeongguk?

“Tentu saja!” Taehyung tersenyum, jantungnya berdebar antisipatif.

“Jika kau tidak keberatan?” Tambahnya kemudian setelah terdiam, teringat jabatan mereka dan mungkin saja mereka punya reservasi grup hari itu.

Bekerja sebagai hotelier sejak lama membuat keduanya menyadari sepenuhnya bahwa hari libur terkadang adalah sebuah kefanaan yang bisa saja lenyap seketika itu juga jika ada reservasi mendadak dalam pax besar yang harus mereka urus.

Mungkin itu juga alasan kenapa mereka tidak juga memiliki kekasih. Di akhir pekan saat mereka seharusnya mencari kekasih dengan nongkrong menikmati hari libur, mereka harus mengerjakan pesanan tamu. Bergumul di dapur dengan panasnya api dan dinginnya ruangan pastry.

Berlari-lari dengan pesanan, mengecek ratusan makanan; bekerja dan terus bekerja. Lalu terlambat, saat mereka mendongak, mereka sudah berusia tiga puluh tahun lebih.

“Sama sekali tidak.” Jeongguk mengangguk, memasang sabuk pengamannya. “Tolong sabuk pengamanmu.” Katanya, menunggu hingga Taehyung memasangnya sebelum menyalakan mesin mobilnya.

“Ke mana kita sekarang?” Tanya Taehyung ceria, nyaris seperti anak kecil.

“Tujuan terakhir hari ini sebelum kita makan sore dan pulang,” Jeongguk menurunkan jendela seraya memutar roda kemudi memutar mobilnya dan menyerahkan lembar uang ke tukang parkir yang membantunya.

Dia menatap Taehyung, sudut bibirnya ditarik membentuk senyuman tipis: “Danau Beratan.”

*

*Kalo di tempatku, batu ketemu kertas yang menang kertas huhuhu

Sizziling Romance #136 ps. jika ingin melihat perjalanan mereka, silakan setel Gmaps kalian mode satelit dari Kuta Selatan menuju Kebun Raya Bedugul lalu setel Google Earth view di Kebun Raya. It's worthy! ty!

*

“Hai, maaf aku terlambat!”

Jeongguk yang sedang menunduk ke ponselnya mendongak, menarik sudut bibirnya sedikit sebelum menyimpan ponselnya ke saku dan membenahi duduknya.

Aroma mobil pekat seperti aroma tubuh Jeongguk; secercah sabun mandi, parfum maskulin yang tidak mengigit seperti selapis aroma cokelat, aroma parfum mobil yang lembut dan aroma tubuh Jeongguk yang khas. Aroma keringatnya.

Taehyung memanjat naik ke kursi penumpang. Berlari dari kamarnya menuju keluar dan menemukan Rubicon Jeongguk sudah terparkir di sudut parkiran kosan dan mengutuk karena teringat pemuda itu menunggunya nyaris satu jam lebih.

Salah Taehyung juga sebenarnya. Jeongguk sudah tertidur pukul sebelas atau setengah dua belas malam namun Taehyung tidak ingin mematikan sambungan. Alih-alih dia mendengarkan deru napas lembut Jeongguk di seberang sana melalui earphone-nya, tersenyum lebar seperti orang bodoh.

Jeongguk punya kebiasaan menggumam saat tidur, mengeluarkan suara-suara lucu dan Taehyung harus membekap mulutnya keras-keras agar tidak tertawa saat mendengarnya pertama kali. Hanya suara kecil samar, namun begitu menggemaskan hingga hatinya terasa hangat dan sesak.

Jatuh cinta terasa sesinting ini, Taehyung baru tahu.

Hingga akhirnya dia tidak tahan lagi menahan kantuk, menatap tidak ikhlas ke layar ponselnya sebelum mematikan sambungan dan mengirimkan pesan ke Jeongguk. Dia memeluk bantalnya, memejamkan mata dengan senyuman lebar yang menyakiti pipinya.

Sekarang dia nampak segar dengan kemeja cokelat yang menggantung pas di tubuhnya dengan dua kancing teratasnya dibuka, memamerkan tulang belikatnya yang mendebarkan. Wajahnya halus, ada ruam merah di beberapa bagian dan Taehyung menyadari dia baru saja bercukur.

Rambutnya disisir rapi, memamerkan keningnya yang tinggi dan dia terlihat hangat dan lembut. Ekspresi wajahnya rileks, paling rileks sejak sekian lama Taehyung mengenalnya. Dia nampak nyaris... antisipatif dengan perjalanan ini.

“Tidak masalah.” Katanya dengan ringan seolah menunggu selama satu jam bukanlah hal yang sulit baginya, dia memasang sabuk pengaman yang tadi dilepasnya. “Tolong sabuk pengamanmu.”

Taehyung mengangguk dan memasangnya, Jeongguk baru memalingkan wajah darinya saat dia sudah melihat sabuk pengaman Taehyung terpasang dengan suara klik keras.

“Sudah sarapan?” Tanya Taehyung, membenahi duduknya setelah memasang sabuk pengaman. “Aku belum menyuci kotak bekalmu jadi mungkin aku kembalikan besok, oke?”

Jeongguk mengangguk, menyalakan mesin mobilnya yang menggeram lembut di bawah mereka. “Tidak masalah.” Katanya lagi sebelum memasang sein dan bergabung ke jalan raya yang mulai ramai.

Perjalanan mereka melewati bagian tengah pulau Bali (setidaknya begitu yang dibaca Taehyung di peta digitalnya karena Jeongguk menolak membacanya karena dia sudah sering mengambil jalan itu jika pulang ke rumah orangtuanya), Taehyung sangat menyadari saat mereka perlahan meninggalkan perkotaan persis seperti perjalanannya dengan Seokjin.

Saat perlahan pemukiman penduduk semakin jarang dan melonggar, persawahan dengan terasering rapi membentang sejauh mata memandang, itulah saatnya Taehyung menurunkan jendela.

Dia menoleh ke Jeongguk yang mengemudi dengan satu tangan, bersandar dalam di kursinya; menikmati perjalanan. “Aku boleh buka jendela?” Tanyanya.

Jeongguk mengangguk, dia mengulurkan tangannya yang bebas dan mematikan air conditioner mobil dan menekan tombol kendali di pintunya sehingga jendela di sisi Taehyung turun.

Angin langsung menghantam wajah Taehyung dan dia tersenyum. Dia menikmati perjalanan itu semaksimal mungkin, berkendara menjauhi kota tempatnya bekerja berjibaku bersama lalu-lintas yang padat dan aroma bahan bakar, menjauh mencari suasana yang lebih hijau dan sejuk.

Dia menoleh, untuk mengatakan pada Jeongguk apakah dia boleh memutar musik dan seketika menyesalinya.

Jeongguk sedang menumpangkan satu sikunya ke jendela yang terbuka, rambutnya berkibar di sisi wajahnya sementara tangannya yang lain memegang roda kendali dengan rileks. Wajahnya nampak damai dan tenang, matanya berkilau oleh perasaan nyaman yang aneh.

Dia nampak seindah dewa kuno dan Taehyung mustahil mengabaikan keindahan ragawinya apalagi saat mereka duduk di dalam mobil yang membelah jalanan kecil dengan persawahan di sekitarnya.

“Aku sengaja memilih jalan yang agak memutar,” katanya kemudian membuat Taehyung tersentak karena sejak tadi mengamati Jeongguk tanpa berkedip. Jadi dia bergegas memalingkan pandangan. “Pemandangannya lebih menyejukkan daripada jalan utama yang biasa.”

Dia menoleh, melemparkan senyuman tipisnya tanpa aba-aba dan membuat Taehyung nyaris saja mati oleh serangan jantung seraya menambahkan, “Kuharap kau suka?”

Taehyung membalas senyumannya, dengan hati hangat yang membuncah dan membuatnya pening oleh terlalu banyak adrenalin. Rasanya seperti dia baru saja menyelesaikan servis panjang dan adrenalin membanjiri tiap pembuluh darahnya, dia pening.

“Suka, tentu.” Katanya dengan jantung berdebar; berusaha keras nampak tenang dan kalem dengan seluruh organ dalamnya yang sedang terguncang. “Terima kasih sudah sangat perhatian.”

Jeongguk menyeka rambutnya. “Kembali kasih.” Dia kembali menatap jalanan dan Taehyung memalingkan wajah, takut Jeongguk menyadari wajahnya yang terasa panas dan pipinya yang nyeri karena senyumannya.

“Kau mau memutar musik?” Tanya Jeongguk, menjulurkan tubuh ke perangkat audio mobilnya dan menekan beberapa tombol. “Masukkan saja kabel dataku yang ada di dasbor di depanmu atau flash-disk-mu.”

Taehyung langsung menerimanya dengan senang hati. Dia menarik kabel data yang disimpan Jeongguk dan langsung menyambungkan ponselnya ke perangkat itu sementara angin semilir membelai wajahnya yang mulai terasa tebal dan lengket oleh kotoran namun dia tidak keberatan sama sekali.

Dengan lagu dari playlist Spotify Taehyung mengalun, mobil Jeongguk melaju membelah jalanan hingga akhirnya mereka tiba di jalanan yang mulai agak menanjak dan suhu mulai turun walaupun matahari masih terasa mengigit.

Taehyung suka sekali suhu ini. Dingin dan matahari yang panas. Dia mendongak ke langit yang cerah dan tersenyum; menikmati sekali perjalan yang sedang dilewatinya. Jeongguk di sisinya menggumamkan lagu di bawah napasnya, nyaris tidak terdengar dan Taehyung senang mendengarnya; berarti dia juga menikmatinya.

Jalanan menuju Bedugul menanjak dan di kanan-kiri Taehyung sekarang bebungaan tropis mengedip padanya, melambai menyapanya. Pemandangan lembah hijau berkabut lepas memanjakan matanya yang lelah menatap gemerlap perkotaan. Bunga-bunga lonceng berayun di tangkainya terkena angin pegunungan, orang-orang berlalu-lalang dengan jaket dan topi di kepala mereka.

Matahari sudah mulai naik, tapi hawa dingin masih terasa mengigit. Taehyung suka perasaan itu; hawa sejuk yang berhembus sementara matahari bersinar agak terik.

Taehyung agak mengigil oleh perubahan suhu Bedugul dan dalam hati mulai merapalkan kutukan yang melibatkan bisul bernanah dan sembelit berkepanjangan pada Jimin karena menyuruhnya menggunakan kemeja tipis karena akan panas.

Dia punya perhitungan dengan Jimin nanti.

Nanti setelah kencannya hari ini berakhir.

Namun Jeongguk tidak nampak terganggu dengan suhu itu, dia menikmati perjalanan dengan sangat santai walaupun suhu mulai mengigit ujung hidung Taehyung namun cahaya matahari yang menyinari permukaan membuat rasa dingin itu sedikit terobati.

Tanaman-tanaman di sekitar sana tumbuh dengan subur. Daunnya hijau cerah, bunganya berwarna-warni menyolok mata; semuanya nampak indah. Bunga-bunga mawar liar dengan kelopak-kelopak gendut yang merekah sempurna berayun di tangkainya, suara obrolan orang-orang, pohon-pohon jeruk yang berbuah di sisi jalan dengan pohon-pohon pendek bunga marigold besar-besar yang cerah dan gendut sebagai pagarnya.

Pohon-pohon bunga hydrangea biru dan ungu yang merekah ditanam liar hingga Taehyung mendesah. Dulu saat dia bekerja di Bintan, bunga itu mahal sekali per tangkainya. Dan di sini, mereka menanamnya di kebun dan tumbuh subur serta liar. Diinjak-injak anjing liar yang mengonggong ceria bercanda dengan temannya.

Taehyung tersenyum lebar.

Dan Jeongguk menyadarinya dari spion tengah mobil, dia juga tersenyum. “Kau suka?”

Taehyung tertawa kecil. “Tentu saja aku suka!” Katanya sedikit terlalu histeris oleh adrenalin di tubuhnya tapi peduli setan, dia senang dan dia akan menunjukkannya. “Ini menakjubkan! Lihat semua bunga-bunga itu, bagaimana mereka bisa tumbuh sesehat itu??”

Jeongguk tersenyum kecil. “Hawa dingin dan sinar matahari.” Sahutnya melirik satu pohon mawar yang berbunga dengan lebat saat mobil memelan karena kemacetan di jalan tanjakan utama yang curam menuju Bedugul.

“Kombinasi yang tidak mungkin didapatkan di kota besar.” Tambahnya pada Taehyung yang sekarang nampak seperti seekor anjing kecil yang menjulurkan kepalanya ke luar jendela, menikmati cahaya matahari yang hangat dan angin yang sejuk.

“Awas kepalamu.” Kata Jeongguk mengingatkan, mengganti tangannya yang berada di roda kemudi dan menarik pakaian Taehyung dengan mata melirik bergantian ke Taehyung dan jalanan di depannya. “Bahaya.”

Taehyung merasakan hentakan itu dan menarik tubuhnya mundur. “Maaf, terlalu senang.” Dia melemparkan senyuman lebar pada Jeongguk, merasa konyol karena bersikap seperti anak kecil di depan Jeongguk.

Pembelaan dirinya? Tidak ada.

Dia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri di titik ini. Semua hal yang dilakukannya, semua perasaan yang dirasakannya, semua reaksi tubuhnya adalah hal baru yang asing untuknya.

Dia bukan lagi Taehyung yang lama, dia merasa seperti baru saja lahir kembali dalam balutan selimut hangat yang harum memabukkan bernama cinta.

Jeongguk mengangguk. “Understanable.” Katanya. “Nanti saat kita tiba di tujuan, akan kubiarkan kau melakukan apa pun yang kauinginkan. Jangan di jalanan.” Dia memasukkan perseneling, menginjak gas untuk melewati tanjakan curam naik.

Mobil berderum saat berusaha menundukkan jalan tanjakan itu dan Taehyung mengagumi keterampilan Jeongguk di balik roda kemudi karena mobil naik dengan mulus tanpa masalah dan saat Taehyung menoleh ke luar jendela, dia tersenyum lebar menikmati pemandangan kota dari ketinggian.

Dia akan berterima kasih pada Seokjin nanti karena telah menyarankan destinasi ini.

Kemudian mereka mulai memasuki jalanan yang dipenuhi dengan penjual buah-buahan yang membuat Taehyung tersenyum lebar. Stroberi-stroberi yang dipajang di atas meja begitu ranum, merah dan besar sehingga dia tergoda untuk berhenti dan membelinya.

“Tidak usah.” Kata Jeongguk seolah bisa membaca pikirannya, masih fokus mengemudi. “Aku sudah revervasi wisata petik stroberi tidak jauh dari sini, kau boleh petik sebanyak apa pun stroberi yang kauinginkan sampai mabuk. Tidak akan ada yang melarangmu.”

Dan itu adalah kalimat paling panjang yang pernah Taehyung dengar diucapkan Jeongguk selain makian karena pesanan terlambat atau kacau.

“Kau boleh petik sebanyak apa pun stroberi yang kauinginkan.”

Taehyung mengigit bagian dalam pipinya sendiri agar tidak tersenyum lebar. Bagaimana caranya dia bersikap tenang dengan hati yang melonjak-lonjak bahagia seperti ini?

Bagaimana caranya manusia di luar sana bertahan dengan kekasih mereka, menikah dan bahagia selamanya dengan perasaan seperti ini di dalam hati mereka? Tidakkah mereka lelah atau meledak karena perasaan ini? Hati Taehyung sekarang terasa begitu penuh dan membuncah, dia takut sekali dia akan meledak karena perasaan ini.

Apakah ini hanya terjadi padanya? Bagaimana cara mereka mengontrol diri?

Mengontrol agar tidak meraih kekasih mereka di mana saja mereka berada hanya untuk meyakinkan diri bahwa mereka nyata? Tidak menatap mereka seperti orang bodoh karena mereka nampak seindah mimpi yang bisa saja lenyap jika suatu saat mereka terbangun?

Tidak menjerit dan tidak tersenyum lebar seperti mesin mainan yang rusak?

Taehyung butuh diajari karena dia sama sekali tidak tahu caranya. Dia hanya ingin meraih Jeongguk, menyentuhnya cukup lama untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa pemuda itu nyata dan memang sudah menawarkan dirinya untuk menemani Taehyung sekarang.

Duduk di sisinya, mengemudi untuknya.

Memesankan tempat untuk menghibur Taehyung.

Menjemput Taehyung dan bahkan tidak menelepon Taehyung terus-menerus saat dia harus menunggu nyaris satu jam lebih lamanya di depan sana.

Apakah salah jika Taehyung mulai berharap Jeongguk juga memiliki perasaan untuknya? Perasaan yang sama?

Mobil kemudian muncul di jalanan yang ramai dan agak macet dengan pasar tumpah-ruah ke jalanan. Pohon bunga lonceng memayungi jalanan dengan bunga-bunga kuning yang bergoyang, aroma lembab yang menyejukkan indra penciuman, seluruh permukaan daun nampak basah oleh kabut yang meleleh dan suara riuh pasar dan warna-warninya yang menyihir Taehyung.

Pedagang menjajakan jualan mereka di pinggir jalan; ada terong-terong ungu mungil yang bertumpuk dalam keranjang kayu, paprika-paprika segar yang merona dan mengilat, berikat-ikat pokchoi yang sehijau zambrud, kol-kol raksasa bulat segar, brokoli, kembang kol, tomat-tomat segar, wortel...

Buah-buahan segar yang sudah dan belum pernah dilihat atau dicicipi Taehyung, pisang bertandan-tandan, keripik-keripik dalam bungkusan plastik bening dan stroberi-stroberi; lebih banyak lagi stroberi yang dikemas dalam kemasan plastik mika.

Mata Taehyung nyaris orgasme saat seluruh warna itu memanjakannya. Dia menatap ke semua arah yang bisa ditatapnya, mencoba mengabadikan semuanya dalam memorinya.

Setiap warna, setiap bentuk, setiap aroma dan rasa.

“Aku harus beli stroberinya.” Cetus Taehyung saat melewati pedagang stroberi ranum yang tersenyum padanya, menawarkan jualannya. “Apa pun katamu. Kita akan mampir ke pasar itu nanti, kau harus menurut padaku karena aku harus membeli buah-buahan itu.”

Jeongguk mendenguskan tawa kecil. “Baiklah, Yang Mulia.” Katanya setuju saat berbelok di pertigaan dengan tugu jagung raksasa Candi Kuning di tengahnya membuat Taehyung menahan napasnya, berusaha kuat tidak menyambar Jeongguk dan menciumnya di bibir saat itu juga.

“Nanti kalau begitu.” Tambahnya.

Jalanan mereka kemudian kecil dengan penjual tanaman di sisi-sisinya. Taehyung menoleh ke luar jendela, menikmati tiap anggrek dan mawar yang melambai ke arahnya, kelinci-kelinci lokal yang menoleh dari dalam kandang mereka.

Lalu mereka memasuki wilayah Kebun Raya yang ramai dengan mobil dan bis. Jeongguk merogoh sakunya, mengeluarkan dompet jauh lebih cepat dari Taehyung dan membayar tiket masuk mereka. Bergegas berjalan sebelum Taehyung sempat memikirkan apa yang terjadi.

“Kau akan selalu melakukannya, 'kan.” Katanya sebal dengan mata memicing.

Jeongguk tersenyum tipis. “Hanya jika aku bisa.” Lalu dia mengerling Taehyung dengan jenaka. “Yang berarti selalu. Karena kau lambat sekali untuk ukuran seorang chef.”

Taehyung kembali tersenyum lebar. Jeongguk melemparkan guyonan padanya? Dia pasti sudah menyelamatkan satu negara di kehidupan sebelumnya sehingga bisa membuat Jeongguk tersenyum seperti itu.

“Kau sudah tahu di mana saja kau harus merogoh dompet dan aku tidak, oke? Jangan bawa Balinese superiority-mu kemari.” Balas Taehyung sementara mobil melaju memasuki Kebun Raya yang ramai.

“Kau hanya lambat.” Sahut Jeongguk. “Dan tidak mau mengakui kekalahanmu.”

“Kau curang.” Balas Taehyung.

Dia hanya mendengus kecil dan Taehyung tersenyum simpul. “Mari kita cari lokasi.” Gumam Jeongguk kemudian, menjalankan mobilnya di jalanan kebun raya yang luas.

Sejauh mata memandang, hanya ada pohon-pohon raksasa yang meneduhkan. Rerumputan hijau dan bersih menghampar di sepanjang ruang kosong. Aromanya sejuk sekali dan Taehyung menghela napas dalam-dalam, menikmati suasana itu.

Bunga-bunga gerbera berwarna pastel ditanam berjajar di pembatas jalan masuk-keluar kebun raya dan Taehyung menatapnya dengan ceria. Ada air mancur di tengah persimpangan jalan dengan patung raksasa dan lebih banyak gerbera berwarna cerah ditanam di sana.

Mobil diparkir berjajar di badan jalan, menyisakan cukup ruang untuk mobil-mobil lain melewati jalanan di sisinya. Tempat itu sejuk, luas dan terbuka. Langit biru cerah membentang di atasnya, hamparan rumput hijau dan pepohonan raksasa di bawahnya.

Sempurna sekali.

Jeongguk membelok, dia mengemudi terus ke atas sebelum berhenti di sisi jalan ke arah tanah lapang yang hangat dengan pemandangan lepas danau. Ada banyak keluarga yang menghamparkan tikar di atas rerumputan, menikmati makan siang dengan keluarga seraya bercengkrama.

Anak-anak bermain di sekitar mereka, menjerit dan berlarian dengan bola di tangan mereka. Tertawa ceria, suaranya menggema dan memantul ke telinga Taehyung.

“Yah.” Keluhnya saat menyadari mereka tidak memiliki persiapan sama sekali. “Seharusnya kita bisa piknik juga hari ini. Aku bangun kesiangan dan kita tidak mampir ke mana pun tadi.” Katanya menatap iri ke keluarga yang sedang menikmati waktunya.

Apakah masih sempat jika mereka mampir di pasar tadi membeli beberapa buah dan makanan?

“Hm.” Begitu jawaban Jeongguk saat dia memasang rem tangan dan menyabut kunci dari lubang starter. “Ayo, turun.” Katanya lalu membuka pintu di sisinya.

Taehyung bergegas menyusulnya, masih sedikit jengkel karena dia tidak tahu dia benar-benar bisa melakukan piknik di sana dan nampak sangat menyenangkan. Tahu begitu dia bisa meminta tikar dan membeli makan di mini market atau pasar yang mereka lewati tadi.

Dia berdiri di sisi jalan bagian dalam yang terdekat dengan tanah lapang. Menatap pemandangan yang membentang di hadapannya, danau di kejauhan nampak tenang dengan bukit rendah membingkainya. Nyaris seperti gambar dari buku cerita anak-anak dengan pepohonan rimbun, udara sejuk dan matahari yang menghangatkan tubuhnya.

Jeongguk membanting pintu bagasi mobilnya menutup dan Taehyung menoleh, hanya untuk mendapati pemuda itu sedang mengepit tikar di bawah ketiak kanannya dan menenteng keranjang piknik di tangannya. Tangan kirinya yang bebas digunakan untuk memijit tombol kunci di remote mobilnya yang berkedip meresponnya.

Taehyung kehabisan kata-kata. Dia baru mengatakan pada Jeongguk dia akan berwisata malam hari sebelum berangkat dan bajingan seksi itu sudah menyiapkan begitu banyak hal.

Memasak makanan piknik mereka, menyiapkan peralatan dan bahkan mereservasi wisata petik stroberi!

Taehyung sungguh tidak tahu lagi harus mengatakan apa selain dia sudah jatuh sangat dan begitu dalam pada perasaan cinta yang tidak bisa ditampungnya lagi.

Jika Jeongguk tidak merasakan hal yang sama, maka Taehyung akan mengajukan pengunduran diri dari Banyan Tree pergi bekerja ke pulau terpencil berusaha melupakan Jeongguk seumur hidupnya, menyoret Bali dari daftar destinasi wisatanya selamanya.

Karena profesionalisme Taehyung pun memiliki batasnya. Dan mantan gebetan sama sekali tidak masuk dalam hal yang bisa ditoleransi profesionalisme apalagi jika Taehyung telah diperlakukan semanis ini.

“Kau mau piknik?” Tanyanya tersenyum dan membuat Taehyung menahan napasnya karena senyuman itu begitu lepas dan rileks, Jeongguk nyaris nampak seperti anak kecil yang terlalu bersemangat.

Rambutnya tergerai, beberapa anak rambut jatuh di keningnya. Dia berdiri di sana, beberapa meter dari Taehyung dengan kemeja halus, celana jins dan sepatu boots tinggi, wajahnya merona oleh udara dingin dan senyuman menakjubkan bermain di bibirnya.

“Maka ayo piknik.”

Taehyung mulai bertanya-tanya, kenapa hatinya yang malang tidak juga meledak oleh perasaan cinta yang melumpuhkan ini? Sebegitu kuatnya-kah hatinya yang lama tidak merasa ini menangguhkan perasaan asing yang sekarang tumpah-ruah ke seluruh sistemnya?

Meracuni tiap sel, tiap saraf dan organ dalamnya. Membuatnya mustahil untuk bersikap tenang dan mengendalikan ekspresinya. Mengendalikan otot-otot wajahnya yang selalu saja tertarik membentuk senyuman lebar bodoh tiap kali dia berdekatan dengan Jeongguk.

Benar kata Yoongi beberapa tahun silam saat Taehyung mengutarakan keinginannya untuk melajang selamanya dan mulai muak pada tekanan keluarganya agar dia segera mencari pasangan hidupnya.

Mengakui diri sebagai seorang homoseksual pada keluarganya tidak membuat tekanan itu melunak, setelah satu tahun yang berat karena Taehyung melemparkan bom ke orangtuanya, akhirnya mereka menerimanya.

Berat dan sulit, tentu saja. Taehyung anak tunggal. Lelaki satu-satunya. Namun sekarang ibunya sudah mulai kembali centil menanyai siapa kekasihnya, setiap kali mereka berkomunikasi melalui video call dan secara harfiah, di setiap kesempatan.

Taehyung akhirnya muak dan memutuskan dia tidak butuh pasangan selama dia memiliki pekerjaan yang mapan dan uang. Dia bisa hidup sendiri, dia mandiri dan kuat. Untuk apa pasangan?

“Suatu hari, kau akan menemukan seseorang yang membuatmu ingin menikah. Ingin memiliki hidup stabil yang menyenangkan. Ingin bertemu dengannya setiap saat, ketika bangun dan sebelum tidur.” Kata Yoongi, tersenyum pada Taehyung seolah mengejek kenaifannya atas hidup.

Dan sekarang, saat dia bertemu mata dengan Jeongguk dia menyadarinya. Seperti dihantam kekuatan tak kasat mata yang membuatnya lemah. Seperti ditonjok di bagian ulu hati dan Taehyung jatuh di atas lututnya, tidak memiliki tenaga untuk bangkit lagi.

Dia jatuh cinta.

Dan dia ingin memiliki hidup stabil yang menyenangkan. Ingin melihat Jeongguk setiap saat; ketika terbangun dan sebelum tidur. Kapan saja matanya berkedip, dia ingin Jeongguk ada dalam pandangannya.

Karena Jeongguk adalah neraka pribadinya dan Taehyung dengan senang hati melompat ke dalamnya, merengkuh kematiannya sendiri.

*

Sizzling Romance #120

“Kenapa tidak diangkat?”

Taehyung mematikan dering ponselnya dan mendorong benda itu menjauh darinya, menyelipkannya ke dalam saku celananya karena Jimin terus-terusan meneleponnya dan membuat Jeongguk mendongak dari set menu dadakan yang harus diceknya.

“Tidak penting.” Kata Taehyung seketika, meraih kembali sendoknya dan mulai menyuap makanannya—terlalu lapar untuk sekadar merasa malu makan di sisi Jeongguk.

Mereka makan di salah satu bistro kafe di Legian yang cukup ramai. Gemerlap lampu dan neon papan nama membuat Taehyung merasa senang karena akhirnya berjalan-jalan ke tempat yang bukan tempat kerja dan kosannya.

Jeongguk memarkir mobilnya agak jauh dari sana karena macet yang mengular. Dan juga mengajak Taehyung untuk menikmati suasana malam dengan berjalan kaki.

Seolah mereka belum cukup lelah karena seharian mondar-mandir mengurus wedding.

“Jalan-jalan malam untuk meregangkan kaki sedikit. Kau tidak keberatan?”

Tapi, tentu saja tidak.

Apa saja agar bisa lebih lama bersama Jeongguk.

Dan berjalan bersisian dengan Jeongguk di trotoar yang sempit dan ramai ternyata lebih menyenangkan dari apa yang Taehyung pikirkan.

Sesekali, Jeongguk harus mundur berjalan di belakang Taehyung saat mereka berpapasan dengan tamu lain. Atau bahkan turun ke badan jalan.

Dia mengambil posisi yang dekat dengan jalan raya, memosisikan Taehyung di bagian dalam yang aman sebagai gestur kecil melindungi yang membuat Taehyung terenyuh karena dia seorang lelaki sehat dan dewasa yang jelas tahu caranya berjalan di trotoar tanpa perlu dilindungi semacam itu.

Namun, toh, dia menyukainya.

Legian selalu ramai. Semakin malam, semakin ramai. Para wisatawan mulai tumpah ke jalanan dari kamar-kamar penginapan mereka, duduk di bar-bar dan restoran menikmati kehidupan malam Bali yang megah.

Aroma makanan dan bir tercium di udara bersama aroma daging bakar dan juga lalu-lintas.

Taehyung berjalan di atas trotoar dengan Jeongguk di sisinya, di badan jalan sehingga tinggi mereka berbeda beberapa senti.

Malam cerah, bulan bersinar bulat sempurna menggantung di langit seperti mata yang mengawasi mereka. Jalanan di sisi Jeongguk ramai dan di sekitar mereka juga terasa riuh oleh obrolan manusia dan denting alat makan.

Jeongguk memasuki bistro pertama yang menarik perhatiannya dan memesan menu vegetarian sementara Taehyung langsung mencari menu karbohidrat pertama yang ditemukannya dengan sebotol bir karena siapa yang menghabiskan malam di Bali tanpa bir?

Jeongguk.

Karena dia memesan jus kiwi-brokoli yang membuat hidung Taehyung mengeryit.

Mungkin dia harus membiasakan diri dengan makanan Jeongguk yang seperti kelinci; semuanya hijau dan terkadang dalam kombinasi aneh.

Kiwi dan brokoli? Sungguh?

Butuh usaha keras bagi Taehyung untuk menahan diri agar tidak melemparkan gurauan bahwa lelaki vegetarian cenderung memiliki kualitas sperma yang tidak sehat.

Tapi, apa yang dilakukan Jeongguk dengan spermanya jelas bukan urusan Taehyung.

Belum.

“Menelepon terus. Mungkin saja penting.” Jeongguk melirik ponsel Taehyung sebelum menatapnya. “Diangkat saja tidak apa-apa.”

“Sungguh.” Tukas Taehyung, menjejalkan makanan ke mulutnya dan lambungnya menangis menerima makanan padat. “Tidak penting. Itu cuma Jimin.”

“Jimin?” Ulang Jeongguk perlahan. “Temanmu yang di Sayan?”

“Yep.” Taehyung mengangguk, menusukan garpunya ke tomat di sisi makanan dan menyuapnya. Mengunyah sayuran itu dengan senang hati.

“Oh.” Hanya itu yang dikatakan Jeongguk dan dia kemudian kembali menunduk ke kertas yang sedang dikerjakannya sejak tadi

Keduanya diam, menikmati makanan dan atmosfir menyenangkan kehidupan malam Bali. Di hadapan mereka ada kafe yang penuh, tamu-tamu sedang menikmati waktu berkualitas mereka dengan teman-teman terdekat.

Taehyung menjejalkan makanan ke mulutnya, nyaris tidak berhenti untuk bernapas dan baru menyadari bahwa Jeongguk sedang menatapnya setelah suapan terakhir (pamungkas dengan telur mata sapi yang sengaja disisakannya untuk terakhir).

Sendoknya berhenti, dia menatap Jeongguk. “Apa?” Tanyanya.

Sudut bibir Jeongguk tertarik; senyuman tipis mahalnya. “Pesan saja lagi jika kau masih lapar.” Katanya, membereskan kertas di hadapannya. “Kau belum makan sebelum in-charge, ya?”

Taehyung menyuap sisa acar dan irisan mentimunnya seraya menggeleng. “Hanya roti karena buru-buru setelah kau memberitahuku tentang tambahan pax.”

Membicarakan itu membuat kening Jeongguk berkerut tidak suka dan Taehyung menutup mulutnya, menyadari bahwa dia baru saja membawa topik yang salah.

“Hari ini menyebalkan.” Keluh Jeongguk kemudian, menyesap jus anehnya dan mendecap, nampak sangat menyukai rasanya.

“FBM tadi membicarakan tentang revenue yang didapatkan dari wedding-nya.” Taehyung menyelesaikan makannya, mendorong piring menjauh darinya dan meraih botol birnya.

“Siapa yang tidak suka revenue besar? Tapi tidak dengam cara itu.” Jeongguk masih nampak getir dengan penambahan pax tadi yang membuat seluruh dapur kocar-kacir.

Mereka terpaksa meminta commis-commis mereka untuk overtime dan Jeongguk tidak terlalu suka melakukannya; menahan orang yang sudah lelah seharian bekerja untuk bekerja lebih lama.

“Sudah, sudah.” Taehyung tersenyum, membelokkan percakapan mereka dari hal yang membuat Jeongguk kesal. “Sudah berlalu. Kita menyelesaikannya dengan baik, 'kan.” Dia meletakkan botol birnya di atas meja.

Jeongguk meliriknya, menyapukan tatapan ke wajahnya hingga dasar perut Taehyung terasa menggelepar seperti ikan yang diangkat naik ke permukaan.

Setelah kedekatan aneh yang terjalin antara mereka sepulang Taehyung dari Sanur beberapa pekan lalu, Taehyung menyadari banyak hal yang berubah dari Jeongguk.

Dia jadi lebih tenang dan mendebarkan, lebih misterius. Namun terkadang menjadi begitu manis dan menggemaskan dengan tingkah kikuk dan clueless-nya.

Mungkin benar kata Jimin, Jeongguk berubah menjadi ramah pada Taehyung hanya karena Jeonggi suka padanya.

Jeongguk akan menyukai siapa saja yang Jeonggi sukai: semacam beli satu gratis satu.

Saudara kembar itu memiliki selera dan ketertarikan yang sama terhadap benda dan orang.

Mungkin sekarang Jeongguk sedang bersikap ramah padanya hanya agar Taehyung tidak menjauh dan Jeonggi sedih.

Karena jujur saja, Taehyung sama sekali tidak paham apa yang ada di kepala Jeongguk sekarang.

Dia juga tidak memiliki keberanian untuk bertanya pada Jeonggi tanpa dianggap naksir kakaknya dan membawa banyak masalah lagi dalam hubungan mereka yang sekarang terasa seperti sayap kupu-kupu.

Indah, menarik dan menyenangkan. Namun rapuh.

Satu sentuhan yang salah maka hubungan mereka pasti remuk. Dan Taehyung tidak mau itu terjadi, maka dia berusaha keras mengikuti permainan Jeongguk. Mengikuti alur dan keinginannya, tidak mencari tahu lebih dari apa yang Jeongguk tunjukan padanya.

Dia seperti sedang berbaring di atas papan kayu dan mengalir mengikuti arus sungai yang membawanya, entah ke mana.

Arus itu adalah Jeongguk.

Apa saja agar hubungan ini tetap di tangannya, agar Jeongguk tetap menatapnya sebagai teman dan tidak lagi menjauhinya seperti dulu.

“Benar.” Katanya, tersenyum kecil lalu meraih garpunya dan mulai menusuk lembaran sayuran, menyuapnya dan mengunyah dengan suara renyah yang lezat.

“Apa yang kaulakukan besok Minggu?” Tanya Taehyung ringan, meneguk birnya sekali lagi seraya berpikir dia mungkin harus memesan kentang goreng.

“Biasa.” Jeongguk menjawab kalem. “Menemani Anggi di Sanur.”

Lalu menambahkan setelah diam, “Kau ingin ikut?”

Taehyung menggeleng, dia sudah merencanakan diri akan menjelajah Bali. Kemarin dia bertanya antara Hoseok dan Jimin siapa yang libur namun sayangnya keduanya bekerja sehingga Taehyung akhirnya merencakan perjalanannya sendiri.

Perjalanan ke Kintamani kemarin membuatnya penasaran, ingin mengeksplor lebih lagi tempat sejuk itu dan atas saran Seokjin dia akan pergi ke Bedugul.

Dia sudah mengecek peta digitalnya dan mempersiapkan motornya dalam kondisi prima untuk perjalanan jauh.

“Aku akan menjelajah.” Katanya dengan dagu terangkat dan hidung mengembang bangga, tidak sabar ingin segera melaju di jalanan menikmati perjalanannya.

Alis Jeongguk naik sebelah. “Ke mana dan dengan siapa?” Tanyanya.

“Ke Bedugul? Begitukah menyebut namanya? Dan naik motor sendirian.” Dia tersenyum, melambaikan tangan ke pelayan untuk memesan camilan.

“Tolong potato wedges dan sebotol bir lagi, ya. Dalam botol saja jangan dituang ke gelas.” Dia kemudian kembali menatap Jeongguk yang nampak sedang berpikir.

“Ya. Bedugul.” Katanya menerawang, seperti sedang berada di dunia lain. “Ada danau Beratan di sana. Kau bisa mampir ke sana. Lalu ada kebun raya dan pasar sayuran segar.”

“Sungguh?” Taehyung menjawab dengan ceria lalu meraih ponselnya, menutup semua pesan dari Jimin dan mulai menyatat. “Kebun Raya? Dan Danau Beratan?” Katanya sambil menyatat.

“Lalu apa lagi yang bisa kulihat di sana?” Desaknya lagi, mendongak dari ponsel ke Jeongguk yang nampak berpikir.

“Kau bisa piknik di kebun raya. Banyak yang begitu.” Jeongguk mengangguk, menyuap saladnya lagi.

Taehyung menyatatnya dengan senang hati. “Aku akan berangkat pagi untuk menjajal semuanya.” Lalu dia menatap planner wisatanya dengan sangat antisipatif.

“Jika aku berangkat dari sini dan ingin ke Bedugul dan Kintamani, apakah itu jauh?” Tanyanya, menatap Jeongguk yang masih menatap menerawang dengan alis berkerut.

“Jauh.” Jeongguk mengangguk. “Sekitar satu jam lebih dengan kendaraan.”

Taehyung mengangguk. “Tidak jauh kok. Hanya satu jam.” Dia kemudian melingkari Kintamani di ponselnya: dia akan ke sana. “Aku penasaran dengan Desa Trunyan. Mungkin aku bisa mampir ke sana juga jika ada waktu.”

Dia lalu mendesah, “Besok akan jadi luar biasa.” Dia tersenyum pada Jeongguk. “Terima kasih atas informasinya.” Tambahnya.

Jeongguk mengangguk, diam sejenak sebelum meraih ponselnya. “Sebentar.” Katanya dan Taehyung mengangguk.

Jeongguk menunduk ke ponselnya, mengetik sesuatu dengan cepat dan Taehyung menoleh saat pelayan datang dengan pesanannya. Kentang goreng yang dipotong kasar dengan kulit yang masih menempel, seasoning yang pas dan tekstur yang tepat.

Lalu Jeongguk meletakkan ponselnya di meja, menghabiskan makanannya sementara di sisinya Taehyung menikmati suasana malam Legian yang semakin ramai seraya mengunyah karbohidrat keduanya.

Setelah bertengkar siapa yang membayar makanan mereka dan Taehyung kalah karena Jeongguk langsung menangkap tangannya, menjauhkannya dari tagihan dan menyelipkan kartu kreditnya dengan cekatan. Menutupnya dan menyerahkannya pada pelayan yang menatap mereka tertarik hanya dengan satu tangan.

Taehyung menatap tangan Jeongguk yang mencekal tangannya, merasakan hangat dan kasar permukaannya karena telah bertahun-tahun bekerja menjadi juru masak.

Jeongguk menarik tangannya setelah pelayan pergi. “Aku yang mengajak jadi aku yang bayar.” Katanya dengan nada yang tidak bisa didebat.

Taehyung mendengus, sudah menduga harga diri Jeongguk yang mahal akan mengatakan itu.

“Lain kali kita bagi tagihannya agar adil, oke?” Tukas Taehyung saat mereka kembali ke trotoar untuk berjalan kembali ke mobil Jeongguk.

Sekarang setelah kenyang, Taehyung mulai menyesali keputusan mereka untuk parkir agak jauh karena sekarang kelelahan mulai merembes di setiap sendi dan ototnya, membuatnya lemah dan ingin tidur saja.

Kepalanya berdenyut karena lelah dan terlambat makan, dia butuh cepat berbaring tapi mereka masih harus berjalan ke parkiran.

“Oke.” Kata Jeongguk dan dari nadanya, Taehyung tahu dia tidak akan membiarkan itu terjadi.

Namun Taehyung jelas juga tidak akan membiarkan itu tidak terjadi.

Jeongguk can try him.

Jalanan lebih ramai oleh pejalan kaki sekarang, lalu-lalang kendaraan bermotor mulai berkurang dan mereka tiba di mobil Jeongguk lebih cepat dari sebelumnya (syukurlah karena Taehyung takut dia ambruk di jalan karena lelah dan mengantuk).

Taehyung langsung memanjat naik ke kursi penumpang, kelelahan dan mengantuk karena perutnya sudah kenyang.

“Kau lelah.” Kata Jeongguk saat mulai menyalakan mobilnya dan bergabung dalam lalu-lintas menuju pulang.

Dia tidak bertanya, dia tahu Taehyung lelah begitu saja.

“Maaf.” Kata Taehyung bersandar di kursi, menguap tertahan. “Ternyata tidak makan sebelum bekerja membuatmu sangat payah.”

Jeongguk mengangguk dengan mata lurus ke jalan; memacu mobilnya sedikit lebih kencang di jalanan Kuta yang agak ramai. “Memang.” Sahutnya. “Kau harus istirahat jika besok akan berjalan-jalan jauh.”

Taehyung mengangguk, kepalanya berat sekali. Dia tidak akan mandi malam ini. Prioritasnya adalah tidur, peduli setan dengan mandi.

“Akan berangkat lebih siang sedikit.” Kata Taehyung, kembali menguap.

Mereka berhenti di depan kosan Taehyung dan pastry chef itu turun dari mobil Jeongguk. Dia berdiri di depan pintu masuk kosannya dan menatap Rubicon yang jendela pengemudinya turun dan Jeongguk sedang menatapnya.

Nampak berpikir keras seolah Taehyung adalah sederet soal Matematika yang dibencinya namun harus segera diselesaikan.

“Terima kasih hari ini.” Taehyung tersenyum tulus. “Terima kasih sudah mengantar pulang.”

Jeongguk tidak menjawab, dia hanya diam di sana dengan mesin mobil menyala. Matanya masih menerawang dan dia nampak sedang berada dalam dilema yang berat. Membuat Taehyung bertanya-tanya.

“Ada yang ketinggalan?” Tanyanya penasaran karena biasanya Jeongguk akan segera pergi setelah mengantarnya.

Jeongguk menatapnya, matanya mengunci mata Taehyung dengan erat. Membuat jantungnya berdebar lebih liar dan Taehyung mengutuk tatapan Jeongguk yang selalu melakukan itu pada seluruh tubuh dan organnya.

Dia kemudian berbalik, merogoh sesuatu dari kursi belakang sebelum melompat turun. Melangkah ke arah Taehyung yang masih bingung dan menyerahkan tas spunbound hitam polos pada Taehyung.

Taehyung menatap benda itu, bingung namun tak ayal meraihnya dari tangan Jeongguk yang terulur. Dia membukanya dan menemukan kotak bekal di dalamnya.

Hatinya seketika itu juga berdesir.

“Ingin kuberikan tadi, tapi tidak sempat karena hectic. Sudah dingin jelas, tapi siapa tahu kau lapar nanti malam.” Kata Jeongguk dengan perlahan, menolak menatap Taehyung dan nampak sangat tidak nyaman sekarang.

Taehyung merasakan berat kotak bekal itu di tangannya dan hatinya terasa hangat dan membuncah oleh rasa senang.

Bolehkah dia berharap? Sedikit saja? Bahwa Jeongguk juga menyukainya?

“Dan,” Jeongguk memulai kembali, menggaruk tengkuknya dan Taehyung mendongak dari bekalnya—tidak sabar ingin membukanya dan menyicipi masakan Jeongguk.

“Motormu, 'kan, di hotel karena hari ini kau pulang denganku....”

Seketika gelembung bahagia Taehyung meletus dan meleleh di kakinya saat dia menyadari bahwa dia meninggalkan motornya di hotel dengan bodohnya.

Lalu bagaimana besok dia akan berangkat jalan-jalan?

Bodoh.

Taehyung mengerang dalam hati. Bisakah dia ke hotel dengan ojek daring? Mereka mau mengantar Taehyung walaupun sejauh itu jika Taehyung membayar, 'kan?

Dan di tengah kepanikan otak Taehyung, Jeongguk kembali bersuara—menarik Taehyung kembali ke bumi dari kepalanya yang panik memikirkan solusi agar dia tetap bisa jalan-jalan besok.

Sayang sekali semua rencana yang dibuatnya!

” ... Aku sudah bilang Jeonggi aku tidak akan ke rumah besok,” mulainya perlahan dan Taehyung menahan napas.

Apakah dia akan mengatakan sesuatu seperti apa yang dipikirkan Taehyung?

“Jadi...” Dia menggaruk tengkuknya, nampak tidak nyaman; mungkin inilah kali pertama dia memutuskan bahwa dia menginginkan sesuatu dan merasa asing pada perasaan itu.

“Dia menolak semuanya dan merasa itu adalah tugasnya.”

Begitu kata Jeonggi tentang kunjungan Jeongguk setiap akhir pekan ke rumahnya. Jeonggi tidak akan kenapa-kenapa tanpa kakaknya satu hari, 'kan? Dia bisa mencari sitter atau bahkan mengajak ibunya datang ke rumah.

Ya, 'kan?

Apakah itu yang membuat Jeongguk nampak sedang berdebat hebat dengan dirinya sendiri sejak tadi?

Melepaskan adiknya,

“Apakah kau mau jika kutemani seharian besok?”

Untuk pergi dengan Taehyung?

*

Sizzling Romance #112 ps. tolong dengarkan lagunya sambil membaca: Could I Love You Any More – Renee Dominique. ty! x

*

Chop, chop, chop!”

Taehyung mendesah sedikit frustasi, menatap anak buahnya yang sekarang sibuk menarik loyang-loyang raksasa dari oven dengan belasan mini eclair yang baru matang.

Aroma mentega dan putih telur menyeruak memenuhi pastry section saat loyang ditarik keluar dan membuat Taehyung menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan kepalanya yang pening karena beberapa jam lalu Jeongguk memasuki ruangan dan melempar bom yang meledak; membuat semua section kalang-kabut.

Suasana dapur sedang tidak baik saat ini. Semua orang sedang dipaksa berlari, dipecuti agar bergerak lebih cepat dari apa yang mereka bisa lakukan. Tidak ada yang bicara, semuanya nampak tegang dan terganggu. Kesalahan sedikit saja akan membuat seseorang meledak, bahkan Namjoon yang selama ini setenang Buddha nampak mengerutkan alis dengan ekspresi tegang seperti karet yang akan putus.

Can we push it?” Desaknya sekali lagi, melirik jam dinding di atas pintu masuk Pastry Section dan mulai berdebar, resepsi pernikahan akan dilaksanakan sebentar lagi namun mereka kekurangan eclair karena penambahan jumlah tamu yang tidak disangka-sangka.

Jeongguk mengamuk di hot kitchen karenanya dan memaki Food and Beverage Manager (FBM) serta Wedding Sales yang menerima penambahan itu begitu saja tanpa mengonfirmasi ketersediaan menu di kitchen dalam bahasa Bali yang walaupun Taehyung sama sekali bukan orang Bali, dia tahu betapa murkanya Jeongguk.

Tidak ada yang berani menganggu Jeongguk sekarang, dia di tengah pusaran dapur. Sedang turun tangan mempersiapkan menu sendiri dibantu semua sous chef-nya yang dipaksa masuk satu jam setelah konfirmasi jumlah pax yang ditambah.

Jeongguk nampak seperti seekor singa lapar, alisnya berkerut dan wajahnya sama sekali tidak nampak baik. Mustahil ditenangkan saat kedua tangannya bekerja dengan efisien, dia mungkin sama sekali tidak bernapas saat bekerja karena betapa cepat dan cekatannya dia menggunakan kedua tangannya.

Fokusnya menakjubkan bahkan Taehyung sendiri terpana melihatnya.

Yugyeom mengangguk, “Dia senjata pamungkas kami.” Katanya seraya menyelup eclair-eclair ke dalam cokelat leleh sebelum didinginkan.

“Dia mungkin nampak diam dan tidak mau turun tangan memasak, membuat pekerjaan executive head chef nampak begitu mudah. Namun jika dia melakukannya maka dia melakukan yang terbaik, mengalahkan semua orang.

“Mari katakan saja, dia menjadi kepala dari enam dapur bukan tanpa alasan, 'kan.” Yugyeom melempar senyuman kecil tanpa mendongak ke Taehyung yang sedang menatap Jeongguk yang mengamuk.

“Benar.” Sahut Taehyung setuju setelah melihat bagaimana Jeongguk menyelesaikan pekerjaan nyaris semua orang sendirian dengan makian yang terus keluar dari mulutnya.

Namun amukannya berhasil membuat semua makanan naik dengan tepat waktu, semua protein, semua kondimen dan semua saus naik dengan tepat waktu. Dia mendesak semua orang, membentak semua orang, mengambil alih semua pekerjaan yang dianggapnya terlalu lambat sambil meludahkan racun ke orang-orang.

“Taehyung!” Raung singa itu ke dalam pastry dan membuat Taehyung terlonjak kaget.

“Ya, Chef!?” Balasnya seketika itu juga, refleks dan menoleh ke Jeongguk yang berdiri diambang pintu, menyapukan tatapan ke seluruh pastry dengan jengkel dan terganggu.

Can we push it?!” Tanyanya lagi, matanya berkilau membuat siapa saja yang berpandangan dengannya seketika mundur dari medan pertarungan daripada dicabik-cabik.

Yes, Chef!” Balas Taehyung, mengangguk sebelum menoleh ke anak buahnya yang sekarang mencoba tetap waras dengan tekanan dari segala arah. “Kalian dengar?” Tanyanya ke seluruh ruangan.

“Ya, Chef!” Sahut mereka serentak, kembali memaksa diri mereka bekerja lebih cepat lagi.

Dan itu membuat Taehyung mendesak semua orang di section-nya untuk bergerak lebih cepat lagi seolah hal itu memungkinkan. Dia turun tangan, mengerjakan hal-hal yang juga dianggapnya lambat.

Entah sudah berapa ratus mini eclair yang diceknya, sudah berapa ratus bite-size cake yang dilihatnya, berapa loyang base yang diawasinya dan Taehyung mulai merasakan hentakan adrenalin di dalam darahnya.

Dia menyukai dunia ini, menyukai setiap cambukan yang dilemparkan waktu dan keadaan padanya. Dia menyukai bagaimana dia harus menekan dirinya sendiri, melawan batas diri dan zona nyamannya untuk mewujudkan kemustahilan menjadi ada.

Taehyung bahkan tidak merasa lapar sama sekali setelah terakhir hanya menjejalkan sepotong roti sebelum bergegas mengganti seragamnya di loker siang tadi.

Semua kepala section hari ini seperti digantung di tiang pancung. Sedikit saja kesalahan di section mereka maka mereka akan mendapatkan amukan Jeongguk yang sama sekali tidak segan memaki mereka dengan kata mana pun yang dimilikinya.

Semua pasrty dijejerkan di loyang, dibawa naik oleh anak-anak servis untuk dijejerkan di JU-MA-NA, tempat resepsi akan dilaksanakan.

Pastry yang bisanya lebih kalem dalam food flow sekarang seperti kesetanan, tidak ada anak-anak Taehyung yang sempat bercanda seperti biasanya; mereka semua menunduk ke bagian mereka menyurahkan semua perhatian mereka pada makanan yang mereka kerjakan.

Jeongguk yang membuat semua menu naik dengan sempurna. Mempertahankan food flow mereka dengan sama sempurnanya sebelum bergegas menghambur ke restoran bersama Namjoon yang tergopoh-gopoh mengikutinya untuk mengecek makanan.

Menyadarinya, Taehyung menatap seluruh anak-anaknya dan mengangguk pada Yugyeom yang balas mengangguk—sebuah komunikasi tanpa suara yang sudah mereka bangun sebagai tim sebagai tanda bahwa Yugyeom harus menggantikannya karena Taehyung harus menyusul Jeongguk.

Taehyung kemudian mengejar Jeongguk, jika raja mereka turun maka seluruh menteri tertingginya harus turun. Dia sudah belajar itu setelah satu bulan lebih bekerja dengan Jeongguk.

Karena kali pertama (dan terakhir) Taehyung tidak datang ke restoran saat Jeongguk mengecek makanan, dia berakhir mendapatkan teguran keras yang membuatnya pening.

Maka dia belajar, kapan Jeongguk bergerak dia harus bergerak. Persis seperti Namjoon.

JU-MA-NA terlihat bersih mengilat, cantik dengan makanan-makanan ditata dengan sempurna. Kue-kue buatan dapur berkilauan seperti permata-permata kecil yang berkilauan. Anak-anak servis bergerak dengan anggun dan cekatan, tersenyum ramah pada tamu-tamu yang berdatangan.

Suasana mendayu-dayu dengan lagu lembut diputar sayup-sayup menemani acara. Sangat berbeda dengan umpatan dan makian Jeongguk serta semua section head di belakang sana, di dapur yang mengebul demi mempersiapkan semuanya.

Namun tidak bisa dipungkiri, melihat semua tamu nampak nyaman dan tenang membuat hati Taehyung ringan. Setidaknya ini berarti tidak akan ada GCC negatif, berarti juga tidak akan ada teguran dari General Manager yang berarti tidak ada amukan Jeongguk.

Seperti efek domino.

Jeongguk nampak lebih tenang setelah acara berjalan dengan lancar di pertengahan; bahunya mulai merileks perlahan saat acara bergulir perlahan menuju akhir. Dia berdiri di sudut, mengawasi setiap orang seperti seekor burung hering lapar yang siap menyambar siapa saja yang melakukan kesalahan.

Taehyung menyempatkan diri mengecek makanan setiap kali dia sempat sebelum kembali mundur ke sudut tempatnya mengawasi bersama FBM yang membuatnya jengkel, tapi dia terkenal dengan kemampuannya untuk bersikap palsu sehingga dia tersenyum saat FBM menceritakan betapa besar revenue yang mereka dapatkan dari resepsi ini.

Dia memercayakan section pada Yugyeom karena semua yang vital sudah naik mereka hanya mempersiapkan pastry untuk makan malam di Bambu dan persiapan untuk breakfast besok pagi sehingga bisa diserahkannya pada Yugyeom, CDP dan DCDP-nya.

Kesal mendengarkan FBM mereka yang nampaknya tidak akan berhenti bicara dalam waktu dekat, Taehyung melirik ke tempat Jeongguk dan jantungnya mencelos saat mereka bertemu pandang.

Hubungan mereka sekarang terasa aneh. Seperti fatamorgana; nyata namun tidak nyata. Jeongguk bersikap lembut padanya di luar jam kerja, memanggilnya 'Tae' seperti apa yang dilakukan adiknya. Dan Taehyung belajar untuk memanggilnya 'Jeongguk' seperti apa yang diinginkannya hingga fasih.

Mereka sering bertemu di depan, seraya absensi pulang dan berjalan berbarengan ke tempat parkir. Mengobrol kecil dan Taehyung mendapati hubungan ini jauh lebih menyenangkan daripada perjodohan panas teman-temannya.

Setelah Taehyung meminta mereka berhenti, semuanya diam dan tenang. Tidak ada yang mengulik hubungan mereka lagi, tidak ada yang menggoda Taehyung lagi menanyakan Jeongguk dan segala macamnya.

Membuatnya sangat nyaman.

Dan dia menyadari hal itu juga membuat Jeongguk nyaman.

Taehyung menaikkan alisnya, tersenyum kecil pada Jeongguk yang berwajah masam.

Calm down, Tiger.” Godanya tanpa suara dan dia yakin Jeongguk menangkap kata-katanya karena chef itu menyunggingkan senyuman kecilnya yang mahal.

Jeongguk berdiri di sana, beberapa meter jauhnya dari Taehyung, terpisahkan meja display makanan dan orang-orang yang berlalu lalang.

Dia nampak setenang lautan dalam balutan seragam chef-nya yang bersih dan kencang tanpa noda walaupun setelah mengguncangkan dapur dengan amarah dan kehebatannya dalam memasak, topi di kepalanya menjulang dan ekspresi keras dengan kedua tangan di balik punggungnya.

Namun bahkan dengan jarak sejauh itu, Taehyung bisa merasakan kehadirannya di sisinya, begitu dekat hingga hidungnya yakin dia baru saja menyium aroma parfum Jeongguk.

Taehyung mengangkat tangannya ke dekat wajahnya, melakukan gerakan makan dan mengendikkan dagunya dengan senyuman kecil di bibirnya—hatinya yang berbunga-bunga dan bodoh menolak bersikap tenang tiap kali mereka bertatapan.

“Mau makan setelah ini?” Dia bertanya dengan gesturnya.

Mata Jeongguk mengunci tatapannya, dengan bibir membentuk senyuman tipis yang nyaris tidak terlihat jika saja Taehyung tidak sudah cukup lama belajar mengamati ekspresi di wajahnya.

Dia melambaikan tangannya yang ada di bawah dan Taehyung menangkap gerakan itu, dia menunjukkan telapak tangannya ke Taehyung, sebuah gestur untuk menunda percakapan mereka.

Sebelum kemudian menatap Taehyung sekali lagi, dengan intim dan hangat hingga tubuh Taehyung berdenyar nikmat lalu dia berpaling dan menatap Namjoon yang baru saja menghampirinya, melaporkan sesuatu.

Taehyung juga memalingkan wajah darinya, tersenyum. Merasa seperti gadis SMA yang sedang jatuh cinta pada kakak tingkatnya, menyuri pandang dan bertukar pesan rahasia di bawah meja karena mereka sedang backstreet.

Sunrise, time flies, feels like a dream; being close, inhaling, hard to believe

Lagu resepsi terdengar mendayu-dayu saat kedua mempelai sedang berdansa di tengah ruangan. Saling menatap dengan penuh cinta, senyuman lebar bodoh terpasang di wajah mereka sementara semua orang tertawa di sekitar mereka—melingkupi mereka dengan perasaan bahagia yang abadi.

Aroma bunga-bunga segar yang digunakan sebagai dekorasi tercium lembut; bunga mawar-mawar putih, garbera dan krisan yang sewarna pastel, kelopak-kelopak bakung yang merekah lembut. Tercampur dengan aroma masakan lezat, aroma lembut pastry dan parfum para tamu.

Beginilah mungkin jika kebahagiaan bisa dihirup dan memiliki aroma.

Seven billion people in the world, finding you is like a miracle.

Entah musik lagu yang lembut, atau histeria pernikahan yang mengungkung Taehyung saat ini atau memang hanya karena dia sedang jatuh cinta maka seluruh dunia terasa lembut, merah jambu dan mendebarkan...

Entah apa, Taehyung tidak paham.

Only this wonder remains: could I love you any more?

Namun lirik lagu itu menyusup ke setiap inci kulitnya, membuat hatinya terasa hangat. Dia mendesah, merasa pening karena perasaan baru yang belum pernah sama sekali dirasakannya sebelumnya. Jantungnya berdebar, seluruh dirinya terasa hangat hanya dengan memikirkan Jeongguk, hanya dengan menyadari kehadirannya di sekitar Taehyung.

Slowly, softly: love's unfolding.

Dia merasa dia pasti sudah sinting. Dia sebentar lagi berusia empat puluh dan sekarang berdiri di ruangan resepsi yang meriah, berdebar karena jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Sesuatu yang tidak pernah dipikirkannya akan benar-benar terjadi padanya. Banyak tempat kerja yang sudah dijajakinya, banyak atasan dan rekan kerja yang dikenalnya, dia punya banyak sekali teman; namun tidak satu pun dari mereka yang bisa mengguncangkan hatinya seperti ini.

Jatuh cinta yang membuat seluruh dirinya bahagia, hangat, lengkap dan utuh. Bukan lagi jatuh cinta masa remaja yang meletup-letup luar biasa seperti kembang api; tapi sebuah perasaan yang terasa seperti gemuruh air samudera.

Nampak tenang, namun begitu kuat untuk mengguncangkan permukaan.

Mungkin hari pertama Bintan tidak memesankannya concierge adalah awal mula takdir sehingga Jeongguk terpaksa harus menjemputnya. Mereka terpaksa bertemu, duduk bersebelahan dan mengobrol.

Mungkin itu juga takdir bagaimana Taehyung untuk pertama kalinya lupa bersikap detail dengan menyatat alamat kosan barunya sehingga dia harus menelepon lagi.

Mungkin semua itu adalah jalinan takdir yang sudah dibentuk dengan rapi, sedemikian rupa sehingga tidak ada kata terlambat dalam timing Tuhan. Semuanya tepat waktu; bertemu Jeongguk dan segala hal yang terjadi di hidup Taehyung belakangan ini adalah takdir.

Could this love be true?

Dia tidak bisa menahan dirinya sendiri dan mendongak sekali lagi, menoleh ke arah Jeongguk hanya untuk menyadari head chef-nya juga sedang menatapnya, wajahnya nampak tenang dan steril dari emosi. Matanya berkilau, mengunci mata Taehyung dalam pesonanya.

Namjoon di depannya, membicarakan sesuatu dengan serius namun seluruh dunia menciut. Seperti hari pertama Taehyung duduk berdua dengannya di dalam ruangan Jeongguk; seluruh dunia mengecil, menciut menjadi hanya mereka berdua.

Seluruhnya pudar, menyisakan tatapan mereka. Menyisakan mata dan wajah Jeongguk memenuhi seluruh pandangan Taehyung. Tidak ada lagi yang tersisa selain itu.

You dance?” Bibir Jeongguk bergerak dan Taehyung harus memicingkan mata agar bisa membaca gerakan mulutnya dari jarak sejauh itu. Jeongguk melirik pengantin yang sedang berputar di tengah ruangan, dalam genggaman masing-masing dan tertawa ceria.

Taehyung ikut melirik ke arah mata Jeongguk dan menyadari maksud pertanyaannya. Dia tersenyum, menggeleng kecil. Apakah dia bisa menari? Tidak yakin.

Not really.” Sahutnya dengan gerakan bibir seraya menambahkan gelengan lembut, “You?”

Mata Jeongguk berkilau oleh humor tipis yang membuat jantung Taehyung berdebar sementara Namjoon di sisinya masih membicarakan sesuatu dibantu Jackson, namun Jeongguk sama sekali tidak mendengarkan apa yang mereka katakan hingga Taehyung harus menyubit pahanya sendiri agar tidak tertawa.

Sejak kapan mereka memiliki ikatan ini? Berbicara tanpa benar-benar berbicara dan berkomunikasi tanpa suara? Sejak kapan Taehyung jadi begitu ahli membaca gerakan mulut Jeongguk dan sebaliknya?

Probably with you.” Katanya dan Taehyung tidak bisa menahan dirinya sendiri dan hatinya yang berdesir oleh perasaan cinta tersenyum lebar, seperti orang bodoh.

Dan sejak kapan Jeongguk mulai bersikap flirty padanya?

Could I love you anymore?

Lalu perlahan, seperti sebuah mawar yang merekah, bibir Jeongguk terkembang membentuk senyuman lembut yang mendebarkan.

Senyuman hangat, penuh kasih dan menenangkan yang sama seperti yang dilemparkannya ke Jeonggi tiap kali mereka bertatapan.

Dan senyuman itu hanya untuk Taehyung.

Could I love you anymore?

*

Sizzling Romance #104

Seokjin benar, Jeonggi tidak semirip itu dengan Jeongguk.

Dia lebih tembam, lebih manis dan menyenangkan. Auranya berbeda 180 derajat dibandingkan Jeongguk yang pendiam. Dia cerewet, ceria dan meledak-ledak. Rambutnya panjang dengan bias pirang stroberi tipis alami yang pasti didapatkannya dari orangtuanya, matanya lentik dan ada tahi lalat menggemaskan di sudut matanya, berjejer tiga membentuk semacam rasi bintang.

Senyumannya menular, tawanya renyah dan Taehyung yakin siapa saja yang bertemu dengannya akan seketika jatuh cinta pada sikapnya. Dan Jeongguk di sana, berdiri di dekat adiknya seperti semacam serigala penjaga yang memberikan kontras menarik pada sikap keduanya.

“Oh. Kau sudah datang.” Kata Jeongguk saat membukakan pintu dengan kaus tanpa lengan tipis dan celana pendek kumal, rambutnya diikat berantakan dengan beberapa anak rambut meleleh di sisi wajahnya—baru bangun.

Aroma tubuhnya membuat Taehyung sedikit mabuk; keringat, selapis parfum, aroma ranjang yang hangat...

“Saya tidak mau menyusahkan Chef lagi.” Taehyung tersenyum, melambaikan kantung plastik di tangannya. “Jadi saya berangkat sendiri dan membeli bahan-bahan yang mungkin dibutuhkan di supermarket yang saya lewati.”

“Oh.” Jeongguk dengan wajah ngantuknya menatap plastik di tangan Taehyung namun sebelum sempat mengatakan apa pun, sebuah suara lain terdengar dari dalam.

“Siapa, Wik?” Suaranya menggemaskan, semanis madu yang meleleh. Hangat dan menenangkan.

“Tamumu.” Kata Jeongguk kemudian dan terdengar suara tekesirap ceria dari dalam sebagai balasannya dan Taehyung melongok melewati bahu Jeongguk yang memenuhi pintu masuk dan bertatapan untuk pertama kalinya dengan Jeonggi.

“Hai, Kak!” Sapa Jeonggi ceria, tergopoh-gopoh menghampiri Taehyung yang membawa dua kantung belanja di tangannya. Dia nampak bersinar dengan perut membuncit dan pipi tembam yang lucu.

Namun hal yang membuat ngeri adalah betapa besar perutnya dan dia nyaris tidak bisa melihat kakinya sendiri saat melangkah. Sekarang Taehyung paham kenapa Jeongguk bersikap sangat overprotektif pada Jeonggi. Dia nampak rapuh dan siap terguling kapan saja seperti bola.

Sebenarnya Taehyung ingin protes karena Jeonggi berjanji padanya Jeongguk tidak akan ada di rumah Sanur hari itu sehingga dia setuju untuk mampir tapi saat berhenti di depan rumah dan melihat Rubicon Jeongguk terparkir di halaman, harapan Taehyung pupus sudah.

“Jangan lari.” Keluh Taehyung, menjatuhkan kedua plastiknya di lantai rumah Jeonggi dan bergegas mengulurkan tangan, ingin meraihnya agar tidak tersandung kakinya sendiri dan terguling berbarengan dengan Jeongguk yang juga (persis seperti kata Seokjin) bergerak sedetik setelah adiknya bergerak.

Mungkin itulah ikatan kembar mereka jika bukan wajah.

Jeonggi nyengir, dia menggunakan bandana di kepalanya untuk menyeka anak-anak rambutnya. Senyumannya seketika menular sehingga Taehyung tidak bisa tidak tersenyum lebar.

“Kata dokter malah harus rajin-rajin olahraga supaya kepala bayinya turun.” Dia kemudian melirik kantung plastik malang yang sekarang teronggok di lantai.

“Lho, Kak Tae sudah belanja?” Tanyanya separo protes dengan suara menggemaskan yang membuat Taehyung bertanya-tanya apakah benar gadis ini sebentar lagi menjadi ibu, seorang PPAT dan sudah menikah tiga tahun?

Melirik Jeongguk yang berdiri di sisinya seperti bodyguard yang menatapnya penuh sayang membuat Taehyung sedikit-banyak paham dari mana sikap manja itu terbit. Siapa yang bisa tidak manja saat memiliki kakak overprotektif yang pasti akan memindahkan gunung untuknya jika dia mau.

“Iya.” Taehyung tertawa lirih. “Sekalian lewat tadi. Biar tidak menyusahkan siapa-siapa.”

“Padahal aku ingin belanja bareng.” Keluh Jeonggi menatap plastik itu seolah bisa membakarnya dengan tatapannya sebelum menambahkan dengan ceria, “Tapi, ya sudah. Ayo, kita masak!” Ajaknya. “Maaf rumahnya berantakan. Aku malas sekali.” Dia mengeluh dan Taehyung bergegas meraih kantung plastiknya sebelum Jeongguk meraihnya.

“Suamimu ke mana?” Tanya Taehyung ringan dan Jeongguk mengikuti adiknya, tidak banyak bicara hanya seperti bulan yang berotasi mengelilingi bumi secara protektif.

“Pergi ke Nusa Penida.” Senyuman terdengar di kalimat Jeonggi. “Dia punya bisnis boat, Kak, menyebrangkan wisatawan. Nusa Penida sedang naik daun, 'kan, jadi bisnis sedang ramai. Paling ramai saat akhir pekan, jadi Wik Gguk selalu datang setiap akhir pekan.”

Rumah Jeonggi berdiri cukup dekat dengan jalan besar dengan halaman yang cukup untuk satu mobil. Kebun sayuran kecil yang sempat dilirik Taehyung saat memasuki halaman dan suasana asri yang menenangkan. Bagian dalamnya terbuka dan terang, sinar matahari memasuki ruangan tanpa kesulitan dan ada pintu ke halaman belakang yang mungil tempat kandang dua ekor kelinci anggora cokelat muda menatap Taehyung melalui celah jeruji dan jendela; telinga dan hidungnya bergerak-gerak, penasaran.

Dia kemudian menoleh, tangannya menyangga punggungnya. Nampak kepayahan dan Taehyung merasakan hatinya nyeri. Begini dia masih ingin berbelanja? Mondar-mandir mengelilingi supermarket dengan perut buncit dan dirinya yang kepayahan?

“Jadi, begitulah.” Jeonggi tersenyum lebar, hingga membentuk kerutan menggemaskan di pangkal hidungnya. “Kita akan membuat apa hari ini?” Tanyanya sementara Jeongguk beranjak ke halaman belakang, mengeluarkan si kelinci untuk bermain di halaman.

Dia berdiri di sisi kandang, satu tangannya masuk ke dalam kausnya menggaruk perutnya dan tangan lainnya mengacak rambutnya sendiri seraya menguap lebar tanpa malu mengawasi si kelinci yang melompat-lompat ceria bersamaan.

“Jangan jauh-jauh, ya.” Kata Jeongguk pada para kelinci seraya menguap dan mengusap wajahnya yang mengantuk. Dia mengerang keras sebelum menggerakkan tubuhnya seolah Taehyung tidak berdiri di sana, nyaris pingsan.

“Bagaimana jika kau duduk dulu?” Tanya Taehyung kemudian, berhasil mengalihkan tatapannya dari Jeongguk ke Jeonggi yang bersandar di konter dapur rumahnya, kepayahan.

“Hamil menyebalkan.” Keluhnya, nampak sungguh membutuhkan duduk. Dia kemudian beranjak ke sofa, membenamkan diri ke sana dan mendesah panjang. “Bayinya besar sekali.” Dia membelai perutnya. “Anggap rumah sendiri saja, Kak!”

Taehyung tersenyum lalu memasuki konter dapur, mulai menata belanjaannya di atas meja. “Mungkin karena kau banyak mengonsumsi karbohidrat dari gula? Kudengar itu bisa membuat bayi menjadi gendut.”

Jeonggi mendongak dari sofa. “Sungguh?” Tanyanya, nampak terkejut. “Aku baru tahu.” Dia kembali meleleh ke sofa, nampak lelah. “Tapi tidak apa-apa, yang penting sehat, ya, Sayang.” Dia menepuk perut buncitnya lalu tertawa.

“Kak, sini! Dia gerak!” Katanya terkekeh ceria.

Taehyung, tidak bisa menahan dirinya sendiri, bergegas keluar dari konter menghampiri Jeonggi yang sedang tersenyum lebar menyentuh perutnya yang buncit dan berjongkok di sisinya.

“Mana, mana?” Tanyanya dan Jeonggi terkikik, dia meraih tangan Taehyung dan meletakkannya di bagian perutnya yang tadi ditendang bayinya.

“Terasa?” Tanya Jeonggi, mendongak menatap Taehyung dengan senyuman lebar dan Taehyung terkesirap tanpa suara saat telapak tangannya merasakan bayi Jeonggi menggeliat dengan perlahan di dalam sana, sikunya menyodok perut Jeonggi dan membuatnya menyembul.

“Itu....” Taehyung mengerjap, takjub dan ngeri bagaimana bisa ada kehidupan di dalam perut seseorang dan bergerak. Di bawah telapak tangannya, kulit perut Jeonggi terasa setipis tisu seolah dengan gerakan keras sedikit benda itu akan robek.

“Sakit, tidak?” Tanyanya pada Jeonggi yang tertawa.

“Tidak, sama sekali. Rasanya malah geli.” Dia tersenyum lalu membelai perutnya dan mengizinkan Taehyung tetap menyentuh perutnya. “Kadang malam-malam gatal karena kulit perutnya kencang, 'kan? Jadi enak kalau dipakaikan minyak dan diusap-usap.”

Taehyung masih takjub saat menyentuh perut Jeonggi. Kehidupannya minim perempuan, dia selalu bekerja dengan lelaki dan perempuan lajang. Berhadapan dengan perempuan hamil yang bisa disentuhnya membuat Taehyung takjub.

Dia merasakan betapa kencang kulit perut Jeonggi dan ngeri sendiri bagaimana jika perut itu meledak? Bagaimana jika sedikit sundulan saja akan membuatnya robek?

“Kak baru pernah bertemu orang hamil, ya?” Jeonggi tersenyum, membelai perutnya dan Taehyung masih berlutut di sisinya, takjub membelai perutnya. “Aneh, ya?”

Taehyung mengangguk. “Rasanya tipis sekali.” Dia mengernyit, ngeri.

Ada sesuatu tentang Jeonggi yang membuat Taehyung ingin sekali melindunginya. Ingin menjaganya, ingin selalu di sisinya dan memastikan dia baik-baik saja. Memanjakannya dan membuatnya senang—membuatnya mendengkur senang seperti seekor singa yang kenyang.

Persis apa yang dirasakannya pada Jeongguk.

Dan mungkin Taehyung sungguh terlambat menyadari bahwa dia tidak seharusnya bertemu Jeonggi karena sekarang hatinya tertambat pada kedua saudara itu dan tidak yakin bagaimana menyikapi cinta ini.

He's fucked up. Big time.

“Tapi aku ingin tetap memasak. Ayo, kita buat apa?” Tanya Jeonggi ceria sebelum mengayunkan kakinya yang gendut dengan ceria dan Taehyung tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak tertawa.

“Tarte tatin.” Kata Taehyung, menegakkan tubuh dan menarik tangannya dari perut Jeonggi. “Atau upside-down pie.” Tambahnya tersenyum. “Aku lihat-lihat dulu alat-alat memasakmu, ya?” Katanya beranjak ke dapur dan mulai mengecek seluruh alat yang mungkin dibutuhkannya saat Jeongguk memasuki ruangan kembali.

Dia beraroma matahari yang hangat, rumput yang baru dipotong dan amis kelinci. Dia menguap lebar setelah memasukkan kelinci kembali ke kandang dan memberi mereka seikat kangkung untuk dimakan. Saat Taehyung melirik, kedua kelinci itu menatapnya mengunyah kangkung dengan khidmat—mungkin menyadari ada orang asing selain ketiga tuannya.

Wik mandi dulu, ya.” Kata Jeongguk pada adiknya dengan suara serak dan berat. “Akan berangkat lebih awal. Kau, 'kan, sudah ditemani Taehyung di rumah.”

Jeonggi menatap kakaknya tidak suka dan saat melakukannya dia nampak mirip sekali dengan Jeongguk. “Katanya kau akan berangkat jam 11 nanti, ini baru jam setengah sepuluh. Kenapa, sih, buru-buru?”

Jeongguk memutar bola matanya sebelum berlalu dari sana ke kamarnya untuk mandi dan Jeonggi menatapnya sebal sebelum beranjak bangkit dan menghampiri Taehyung yang sedang menata bahan-bahan yang akan digunakannya.

“Karena kita tidak punya waktu untuk membuat pastry base, jadi aku membeli pastry base jadi yang aku suka.” Dia melambaikan pastry base kemasan yang dibelinya—tidak terlalu enak, tapi setidaknya yang terbaik dari kelasnya.

“Cuci tanganmu.” Kata Taehyung lembut dan Jeonggi bergegas menuju bak cuci, menyuci tangannya dengan senang sebelum kembali ke sisi Taehyung yang sekarang menggulung lengan panjang sweter cokelatnya.

Mereka mulai bekerja dengan Jeonggi duduk di salah satu kursi konter setiap sepuluh menit. Jeongguk bergabung di ruang keluarga, menonton televisi dalam balutan kaus hitam longgar dan celana pendek tipis sementara Taehyung dan Jeonggi sibuk di dapur.

Taehyung menghamparkan puff pasrty base di atas meja yang sudah dibersihkan, lalu meletakkan loyang di posisi telungkup di atasnya. Dengan Jeonggi menekan loyangnya, dia mulai memotong puff pastry base itu sesuai dengan ukuran loyang.

Dia menyiapkan ini karena jika dikerjakan setelah isian, maka karamel di apel akan mengeras dan tidak enak saat dipanggang nanti. Bekerja dengan karamel, berarti berpacu dengan waktu karena benda itu cepat sekali membeku kembali dan sulit untuk diolah. Dia menusuk-nusuk base itu dengan garpu agar tidak memerangkap udara di dalamnya dan menggelembung saat dipanggang.

Dengan bantuan Jeonggi, dia memotong buah-buah apel Granny Smith yang dibelinya tadi. Menyucinya, membuang bijinya sebelum membaginya menjadi empat. Lalu Taehyung menuang satu cup gula pasir ke wajan anti-lengket dan memanaskannya.

“Hati-hati, itu bisa membakar tanganmu.” Katanya saat Jeonggi mengaduk karamel yang menggelegak mengancam di atas wajan. “Karamel adalah benda paling membahayakan di pastry.”

Kemudian dia menambahkan mentega dan vanila. Aromanya harum, gurih dan manis membuat Jeonggi tersenyum lebar. Menilik dari keinginan bayinya yang adalah karbohidrat kompleks, aroma karamel yang meleleh bersama mentega dan vanila tentulah menjadi aroma yang sangat menyenangkan untuknya.

Dia terus-menerus menarik napas dengan ceria. Menikmati aroma gula yang memenuhi ruangan dan bahkan Jeongguk mendongak dari tontonanya di televisi. Namun saat Taehyung memasukkan apel-apel segar ke dalam larutan karamelnya, Jeongguk sudah muncul dengan pakaian rapi.

“Maaf, Taehyung. Saya tinggal sebentar.” Katanya dengan aroma parfum maskulin yang mendesak mundur aroma makanan dan apel segar. Mengungkung Taehyung dalam sensasi mendebarkan. “Saya kembali sebelum sore, jadi kau tidak harus lama-lama.” Dia mengangguk sebelum menoleh ke adiknya, menyentil keningnya dan tersenyum.

Senyuman paling hangat, paling penuh kasih dan paling mendebarkan yang pernah Taehyung lihat hingga dia sejenak berhenti bekerja dan menatap Jeongguk seperti orang bodoh.

Bagaimana rasanya jika Taehyung yang dianugerahi senyuman itu setiap hari?

Tapi apakah ada kesempatan untuk Taehyung?

Setelah mengakui pada dirinya sendiri bahwa dia menyukai Jeongguk, hatinya kerap bersikap tidak sopan tiap kali mereka bertemu. Berdebar jauh lebih kuat dan kencang, merona tiap kali Jeongguk menatapnya dan itu membuatnya sedikit tidak nyaman.

Apakah memang begini rasanya jatuh cinta?

Taehyung, seorang executive pastry chef resor bintang lima yang sukses di usia ke-36 tahun, baru tahu bahwa jatuh cinta bisa membuatnya jadi tidak karuan seperti ini. Dia mulai mengutuki jam kerjanya yang sinting dan minimnya perhatian ke orang-orang di sekitarnya.

Kecuali Jeongguk.

Yang pada saat pertama, sudah mencuri seluruh perhatian seluruh saraf dan indranya. Membuatnya lemah dan bertekuk lutut di detik yang sama. Jadi dia yakin, Jeongguk tidak boleh dilepaskan karena bertemu lelaki seperti ini—lelaki yang menumbuhkan perasaan aneh yang sejak awal tidak diyakini Taehyung akan sanggup dirasakannya, tidak akan terjadi dua kali.

“Jangan aneh-aneh.” Katanya pada Jeonggi yang menjulurkan lidah.

Lalu Jeongguk berlalu, derum Rubicon-nya terdengar lembut disusul suara gerbang yang dibuka dan ditutup sebelum hening. Dan Taehyung kemudian teringat masakannya yang nyaris saja gosong.

Dia bergegas mengangkat karamelnya dari atas kompor sebelum kemudian beralih ke puff pastry base-nya.

“Nah, sekarang.” Taehyung meraih apel mereka dan meletakkanya di sisi loyang. “Kita tata mereka di bawah.” Dia meraih dua sendok dan menggunakannya untuk menata apel di bagian bawah loyang.

“Bukan base-nya dulu?” Tanya Jeonggi penasaran di sisinya setelah memanaskan oven seperti yang diminta Taehyung.

“That's why it's called upside-down.” Taehyung tersenyum, menata apel-apel yang berkilau oleh karamel di dalam loyang, menuang sisa karamelnya yang harum ke dalamnya sebelum kemudian membawa base ke atas loyang.

Dia menyelimuti apel-apelnya dengan perlahan sebelum dengan bagian ujung pisau, menyelipkan ujung-ujung base ke bawah apel-apelnya. Dia kemudian berdiri, “Nah, tinggal dipanggang selama 40 menit suhunya 190 derajat.”

Jeonggi membuatkan mereka teh seraya menunggu tarte tatin mereka matang lalu keduanya duduk di teras belakang dengan kedua kelinci Jeonggi dilepaskan kembali. Keduanya berlompatan di halaman, mengendus kaki Taehyung sebelum kembali berlari menjauh.

“Kak Tae orang asli mana?” Tanya Jeonggi dengan secangkir teh chai yang berempah di tangannya.

“Aku?” Ulang Taehyung tersenyum. “Jawa-Dayak. Ayahku orang Dayak. Tapi aku lahir dan besar di Jakarta, jadi jangan tanya aku apa pun tentang bahasa Jawa.”

Jeonggi tertawa ceria. “Orang Dayak, ya.” Komentarnya tertarik. “Pantas saja Kak Tae menarik, ganteng. Gen suku Dayak, 'kan, khas.” Pujinya tulus nyaris seperti anak kecil dan Taehyung tersenyum menerima pujian itu. “Orangtua sehat, Kak?”

“Sehat.” Taehyung mengangguk. “Di Jakarta keduanya. Berdua saja, bulan madu lagi. Aku anak tunggal.” Dia menatap ke kedua kelinci yang sedang bermain bersama; memikirkan harapannya sejak dulu untuk memiliki saudara yang bisa diajaknya bertengkar, bisa dikata-katai.

Seperti Jeongguk dan Jeonggi.

“Kalian?” Tanya Taehyung kemudian, menyesap tehnya. “Orangtua sehat?”

Jeonggi mengangguk. “Ayah kami orang Amerika-Korea, tinggal di Bali sudah lumayan lama. Sekarang mereka di rumah Tabanan, dekat Jatiluwih. Sama. Bulan madu juga,” dia nyengir dan Taehyung langsung membalas senyumannya. “Karena aku sudah menikah dan Wik juga sudah sukses sendiri.”

“Setiap mampir pulang ke rumah, Wik selalu jadi sasaran ejekan karena dari semua cucu-cucu di keluarga Mama, dia sendiri yang belum menikah.” Jeonggi terkekeh, menyesap tehnya.

Taehyung mengenggam gelasnya sedikit lebih erat—haruskah? “Memangnya Chef tidak pernah berkencan?” Tanyanya ringan walaupun jantungnya berdebar-debar menyakiti rusuknya dan dia merasa mual karena tegang.

Apakah Jeonggi akan curiga Taehyung sedang mencari info tentang kakaknya? Atau bahkan curiga Taehyung jatuh cinta pada kakaknya?

“Pernah.” Jeonggi menjawab dengan kalem, tidak curiga maka Taehyung menghembuskan napasnya di bawah tehnya. “Cuma dua kali mungkin, ya? Satunya ketika sekolah chef, lalu satu lagi dua tahun lalu.”

Taehyung menegang, menanti Jeonggi melanjutkan ceritanya. Namun ibu hamil tua itu menatap kelincinya dan memanggil mereka dengan ceria. Salah satu menoleh, telinganya bergerak sebelum melompat ke arah Jeonggi. Dia meletakkan cangkirnya, meraup seekor ke pangkuannya.

“Dua tahun lalu?” Akhirnya Taehyung memberanikan diri bertanya.

Jeonggi mengagguk. “Kejadiannya sama seperti Kak sekarang.” Dia tersenyum. “Chef baru, kepala Bambu Restaurant. Kisahnya sama juga, dia suka pada Wik lalu mencoba mendekatinya. Lalu mereka sering jalan bareng lalu sudah. Selesai. Tidak pernah melangkah lebih jauh dari sekadar makan malam bareng.”

“Lalu sous chef ini mengundurkan diri dan tidak tahu ada di mana.” Jeonggi menambahkan lalu mengendikkan bahu. “Wik selalu begitu.” Katanya meringis seraya memangku kelincinya di atas perut buncitnya dan saudaranya menatap iri dari kaki Jeonggi.

“Dia menyukai seseorang lalu takut duluan apa yang mungkin terjadi. Terlalu memikirkan banyak risiko seolah dia merasa dia tidak berhak bahagia. Sibuk mengurusku yang sudah menikah dan akan punya anak sejak dulu, tidak berusaha untuk membuat dirinya sendiri bahagia.

“Kadang harus dipaksa dulu untuk mengambil waktu demi dirinya sendiri. Makanya Dad senang ketika akhirnya dia berteman dengan Seokjin dan Yoongi karena akhirnya Wik jadi punya agenda untuk bermain memuaskan dirinya sendiri; melepaskan diri dari aku dan keluarga.

“Kami selalu mendukung tiap kali dia pergi ke pulau-pulau lain, ke luar negeri; melakukan apa yang dia sukai. Karena sulit sekali untuk dia akhirnya melakukan itu, terlalu sayang pada keluarga. Mengambil terlalu banyak tanggung jawab yang sebenarnya tidak perlu dia ambil.

“Seperti menemaniku saat akhir pekan. Dia tidak harus melakukannya, kok. Aku bisa cari sitter atau Mama bisa datang, tapi dia menolak semuanya. Katanya itu tugas dia.” Jeonggi mengerang lalu menoleh pada Taehyung, meringis.

“Butuh waktu sampai dia sendiri menyadari perasaannya sendiri, menyadari kebutuhannya sendiri karena dia sibuk menguburnya dengan perasaan orang lain. Semacam, kalau Anggi senang dia senang. Tidak memikirkan sama sekali apakah dia senang? Tanpa digantungkan pada orang lain?

“Dia takut pada perasaan orang. Takut ekspektasi orang pada dirinya sendiri. Takut dia tidak bisa membuat orang lain sebahagia apa yang orang itu lakukan. Takut, takut, takut. Maka dia mundur, menghindari setiap konflik yang melibatkan perasaan. Hasilnya? Jomblo.

“Jadi, yah. Begitulah.” Jeonggi tersenyum lebar. “Maaf jadi kemana-mana.” Dia meringis, menggaruk telinga kelincinya yang memejamkan mata.

Taehyung belum sempat menanggapi ceria Jeonggi saat oven berdenting dan dia disibukkan dengan mengurus tarte tatin-nya yang membuat Jeonggi bersorak senang. Mereka mendiamkannya selama satu jam seraya menemani Jeonggi melakukan senam hamil ditemani instruktur yang ramah, makan siang bersama membuat wraps sebelum memotong kue mereka dan memakannya dengan satu skup es krim di depan televisi.

Jeonggi tertidur di sofa, kekenyangan saat Jeongguk pulang.

“Oh. Kau belum pulang.” Katanya pada Taehyung seraya melonggarkan kerah kemejanya yang menyekik, dia membuka kancing teratas kemejanya dan dia beraroma seperti keringat, parfum dan lalu-lintas.

“Saya terima banyak foto tentang kegiatan kalian hari ini.” Jeongguk menatapnya, memberikannya tatapan itu dan membuat Taehyung berdenyar. Seluruh tubuhnya merespon tatapan itu dengan cara yang sangat membingungkan. “Terima kasih sudah menemani Anggi.”

Bola mata Jeongguk menembusnya, menguliti seluruh dirinya dan membuat Taehyung merasa kecil dan telanjang. Dia bisa saja gemetar di sana, di atas sofa dengan kepala Jeonggi di bahunya dan Jeongguk berdiri di hadapannya, menjulang serupa raja dewa muda yang memesona.

“Jika kau ingin pulang, tidak apa-apa. Saya akan menemani Jeonggi sampai suaminya pulang. Kami sudah cukup merepotkan.” Dia kemudian menambahkan dengan nada ramah yang tidak menyentuh wajahnya.

Taehyung mengangguk, merasa berlama-lama di sekitar Jeongguk mungkin tidak sehat untuk akal sehatnya. Dia perlahan memindahkan kepala Jeonggi dari bahunya dan Jeongguk bergegas menghampirinya, merunduk membantunya menyingkirkan adiknya dari tubuh Taehyung.

Dan aroma tubuh Jeongguk menghantam indra penciumannya seperti banjir bah.

Jeongguk berdiri di sana dengan wajah nyaris sepuluh senti dekatnya dengan wajahnya, dia bahkan bisa melihat tahi lalat di bawah bibir Jeongguk. Garis wajahnya, satu jerawat mungil di dekat hidungnya dan bahkan jambang tipis yang menghampar di atas bibir dan dagunya. Berpikir dengan bodoh, Jeongguk harus bercukur pagi besok.

Taehyung limbung, dia bergegas memindahkan beban tubuh Jeonggi ke Jeongguk sebelum melompat bangun dan membenahi pakaiannya sementara Jeongguk membaringkan adiknya di sofa yang berderit menerima beban tubuhnya, menyelipkan bantal di bawah kepala adiknya sebelum mengantar Taehyung ke depan.

“Terima kasih banyak.” Kata Jeongguk saat melepas Taehyung yang sudah duduk di atas motornya dengan helm terpasang di kepalanya. “Terima kasih banyak sudah menemani Anggi. Padahal kau bisa saja menolaknya.”

Taehyung melemparkan senyuman terbaiknya ke Jeongguk. “Anggi teman saya juga, Chef.” Katanya. “Jadi saya tidak keberatan menemaninya seharian.”

Jeongguk menatapnya lalu sudut bibirnya tertarik sedikit, membentuk senyuman separo yang samar. Taehyung menatapnya, menunggu. Kedua chef itu berpandangan sejenak sebelum Jeongguk berdeham kecil dan mengatakan:

“Tolong, di luar jam kerja, panggil saja Jeongguk.”

Jantung Taehyung berhenti berdetak selama satu detik sebelum menonjok rusuknya dengan kuat.

“Jeongguk.” Katanya, mengetes nama itu di bibir dan lidahnya, mendapati nama itu terasa seperti garam andaliman.

Pedas dan eksotis, membuat lidahnya kaget namun kemudian mencari-cari dengan bingung; menginginkan lebih. Merengek untuk Taehyung menyebutkannya lagi, mendecapnya, menyecapnya.

Dan itulah yang Taehyung lakukan sepanjang jalan dari Sanur kembali ke Kuta. Mendendangkan nama Jeongguk di bibirnya, mengetesnya dengan lembut. Tersenyum lebar walaupun saat terjebak macet menuju Kuta.

“Tolong, di luar jam kerja, panggil saja Jeongguk.”

Dia senang sekali.

*

Sizzling Romance #90

Taehyung merasa pantatnya pasti sudah terkikis habis karena perjalanan yang begitu jauh dari Kuta Selatan, ke Ubud dan ke Kintamani. Pantatnya tidak lagi terasa seperti pantat—apakah kalimat itu masuk akal?

Namun dia sama sekali tidak mengeluh karena perjalanan di dalam Land Rover milik Seokjin yang harum dan bersih terasa sangat menyenangkan. Perjalanannya dari Kuta menuju Ubud juga tidak kalah menyenangkannya kecuali bagian mereka terjebak macet fatal yang menyebalkan dan kata Yugyeom:

“Selamat datang di Ubud dan lalu-lintasnya.” yang sama sekali tidak membantu.

Jalanan Ubud begitu kecil dan begitu ramai oleh wisatawan, warung-warung, restoran, pepohonan sehingga mudah sekali menyiptakan kemacetan yang menyebalkan. Namun syukurlah mereka menjauhi jantung Ubud menuju ke kediaman Seokjin di Sayan yang lebih meneduhkan.

Setibanya di sana, Jimin sudah siap berangkat sehingga mau tidak mau pantat Taehyung harus bekerja keras lagi untuk perjalanan selanjutnya.

Mereka tiba di Kintamani selepas makan siang (terima kasih pada Yugyeom yang mengajak Taehyung berangkat pukul setengah tujuh pagi sehingga mereka bisa tiba di Ubud lebih awal untuk melanjutkan perjalanan) dan Seokjin merupakan orang paling kharismatik, paling menenangkan dan paling mengayomi yang pernah Taehyung jumpai.

Membuatnya tersengat rasa iri jika saja dia bisa bekerja di bawah kepimpiman orang semenakjubkan Seokjin seperti Jimin.

“Baiklah, aku akan memecat pastry chef-ku dan mencurimu dari Jeongguk, bagaimana?” Sahut Seokjin dari kursi depan, mengemudi dengan mulus sepanjang jalan yang dipenuhi jajaran pohon saat Taehyung mengutarakan keinginannya pindah ke Four Season Sayan saja.

“Tapi aku tidak ingin ribut dengan Jeongguk.” Tambah Seokjin kemudian, tertawa ceria. “Dia berkemauan keras. Menurutmu bagaimana lagi caranya dia bisa mencurimu dari Yoongi? Tentu karena Yoongi kalah berdebat dengannya.

“Dia menelepon GM Bintan, membeberkan wedding sales report Bali lalu dengan penuh tekad mempresentasikan betapa Bali lebih membutuhkan pastry chef dibandingkan Bintan yang wedding sales-nya lebih rendah.

“Dan begitulah kenapa kau dipindahkan. In short, what Jeongguk wants, Jeongguk gets.”

Tahyung menyandarkan diri di kursi mengerang karena sejak tadi pembicaraan tidak juga lepas dari Jeongguk, menatap ke langit cerah Bali yang dipayungi awan-awan besar yang nampak empuk. Membuat cuaca menjadi tidak terlalu panas namun dengan angin daratan tinggi yang mengigit.

Sepanjang perjalanan, ada banyak bebungaan liar yang anehnya tumbuh subur dan melambai ceria pada Taehyung. Bunga bakung raksasa, amaryllis merah tebal yang berani, bunga terompet oranye, hydrangea ungu yang gendut, bunga matahari liar, marigold yang ditanam di kebun serta bunga kopi yang aromanya semerbak.

Banyak penjual buah-buahan juga di sepanjang jalan; ada talas, stroberi dan juga nangka—buah-buahan tropis yang nampak lezat dan baru saja dipetik. Dijajakan di pinggir jalan dalam toko-toko sederhana yang kecil dari kayu.

Taehyung menurunkan kaca jendelanya, membiarkan udara sejuk memasuki mobil. Merasakan suhu dingin mengigit hidungnya ditemani hangatnya sinar matahari. Suasana yang menakjubkan, pemandangan lepas ke Gunung Batur dan danau yang membentang di hadapannya membuat Taehyung tidak sedikit pun menyesali perjalanan hari ini walaupun pantatnya terasa ngilu.

Mereka berhenti di sebuah kafe baru yang besar dan nampak ramai, terletak di Jalan Raya Penelokan, Kintamai. Bagian depannya nampak biasa saja, Taehyung sering menemukan tempat-tempat seperti ini di Jakarta dulu dan bertanya-tanya kenapa mereka pergi ke tempat yang biasa saja jika Bali punya banyak sekali tempat untuk dikunjungi?

Semuanya terjawab begitu mereka memasuki tempatnya dan tiba di balkonnya, diantar menuju meja yang sudah dipesan Seokjin.

Pemandangan yang membentang di hadapannya terasa begitu magis dan mendebarkan. Lembah yang hijau pekat segar, langit biru tak pertepi. Gunung yang menjulang, danau di sisinya, hijau pepohonan, hawa sejuk yang bertiup serta matahari yang bersembunyi di balik awan tebal dan suhu dingin membuat seluruh tubuh Taehyung mendadak merasakan hal baru yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.

Bali memang memiliki sihirnya sendiri untuk membuat siapa saja bertekuk lutut pada pesona pulaunya—pada pemandangan alamnya yang menakjubkan, pada penduduknya yang ramah, pada budayanya yang sakral dan kental.

Taehyung mulai merasa benar dengan memutuskan menerima transfer yang dilakukan Banyan Tree untuknya.

Dia bersandar di sisi pembatas kaca, menatap lepas ke pemandangan menakjubkan di hadapannya sementara teman-temannya mulai memesan makanan.

“Kau suka?” Tanya Seokjin, tertawa serak di tempat duduknya dengan buku menu di tangannya. “Tentu saja kau suka. Ini pertama kalinya kau pergi ke tempat selain dapur dan kosanmu, 'kan?”

Taehyung mengangguk, tidak menoleh. Dia memejamkan mata, menikmati hawa sejuk dan sinar matahari hangat yang membelai permukaan wajahnya. Sensasi berlawanan yang membuat bulu kuduknya meremang sebagai respon namun dia sangat menikmatinya.

Kelopak matanya bergetar menikmati cahaya matahari yang melimpah. Tempat ini begitu menakjubkan, kenapa dia tidak sering-sering mengambil libur dan pergi ke Bali?

“Masih banyak tempat-tempat magis di Bali yang harus kaudatangi.” Seokjin mengangguk saat Taehyung berbalik, bersandar di pembatas yang kokoh—masih enggan untuk melepaskan cahaya matahari yang hangat dan mengigit walaupun ini sudah siang. “Mungkin kapan-kapan. Dengan rekan yang berbeda.”

Dia berdeham keras, dengan sengaja dan Taehyung menatapnya jengkel.

“Sungguh.” Katanya, bergabung dengan teman-temannya di meja beberapa meter dari balkon. “Memangnya hanya dia lelaki lajang di seantero Bali ini?” Tanyanya mendudukkan diri di sisi Jimin yang sibuk memilih menu.

“Yah, memang tidak.” Seokjin menggulung lengan kemejanya dan menyandarkan diri lebih dalam di bean-bag tempatnya duduk. “Tapi potensi terkuat, 'kan, memang satu orang.”

“Jangan begitu, Chef.” Jimin menjawab kalem, membalik buku menu perlahan. “Nanti ngambek.”

Taehyung mengerang, memutar bola matanya sebal dan bersandar di kursinya. Dia mengeluarkan ponselnya dan mengambil beberapa foto tempat favoritnya itu untuk dipamerkan ke Hoseok nanti.

“Bagaimana rasanya bekerja dengan Jeongguk?” Tanya Seokjin setelah mereka semua memesan makanan.

Taehyung mengendikkan bahu. “Lebih menyenangkan bekerja dengan Yoongi, jujur saja. Yoongi tidak terlalu sering marah-marah atau bersikap seperti orang ambeien, maaf Yugyeom.” Dia mengangguk pada Yugyeom yang tertawa mendengar pembandingannya.

“Tapi, timku solid. Anak-anak aktif yang suka bekerja, mau bergerak maju dan mudah diajak berkomunikasi. Efisien dan menyenangkan. Aku suka. Jadi tidak apa-apa. Toh, dalam hidup tidak semuanya sesuai dengan apa yang kita harapkan.”

“Memang.” Seokjin tersenyum.

“Lalu Chef sendiri?” Balas Taehyung kemudian, sudah menahan diri untuk menanyakan ini setidaknya sejak baru membuka mata pagi ini. “Sejak kapan pacaran dengan Chef Yoongi? Kapan kalian bahkan bertemu?”

Seokjin berpura-pura berpikir sejenak dengan dramatis hingga Taehyung nyaris saja melempar sepatunya ke wajah chef muda kharismatik itu namun akhirnya dia tertawa serak dan menjawab: “Kami memang sering bertemu, kok.” Dia kemudian terkekeh. “Aku, Yoongi dan Jeongguk; kami trio kwek-kwek.”

“Jadi, jika kukatakan Jeongguk adalah pemuda baik dan bertanggung jawab, maka itu valid.” Dia menambahkan, mengerling Taehyung yang mengerang. “Jadi, kami sering berlibur bersama. Aku dan Jeongguk ke Bintan, Yoongi ke Bali atau kami bertiga ke Sumbawa. Suka travelling ala backpacker.”

Yugyeom mengangguk. “Cuti tahunan, 'kan? Aku ingat dia selalu pergi seminggu mengambil long leave. Pulang-pulang dia nampak seperti gelandangan yang kucel dan menjijikkan.”

Seokjin tertawa, terhibur. “Itu namanya, kami menikmati hidup.” Klaimnya ceria. “Tapi itu sebelum Jeonggi hamil karena Jeongguk tidak mau meninggalkan Bali saat adiknya sedang hamil.” Tambahnya. “Tahun ini, aku hanya akan pergi ke Raja Ampat dengan Yoongi.”

“Sekalian bulan madu?” Sela Taehyung dan Jimin terkekeh.

Seokjin memutar bola matanya. “Ada alam indah membentang di hadapanmu dan kau memilih untuk bercinta? Yang benar saja.”

“Ada yang dinamakan multi-tasking, Chef.” Sahut Taehyung lugas dan Seokjin tertawa serak, nampak sangat terhibur. “Kau tetap bisa bercinta dan menikmati alam indah yang membentang di hadapanmu.” Dia mengangguk, nyaris meyakinkan seperti seorang sales.

“Lalu, ya, begitu.” Lanjut Seokjin setelah tertawa. “Jeongguk anaknya jauh lebih pendiam, jadi aku dan Yoongi yang lebih sering berbagi cerita. Duduk berdua setelah Jeongguk tidur, yang selalu begitu dan aku merasa kenapa tidak dengan Yoongi saja? Dia jauh lebih baik dari Jeongguk.” Dia mengerling Taehyung yang membalasnya dengan malas dan terkekeh.

“Yah. Jadi. Begitulah.” Kata Seokjin, mengendikkan bahunya ringan seolah hal itu bukan hal yang besar saat makanan mereka tiba.

Aroma makanan menyadarkan Taehyung betapa laparnya dia sehingga dia bersyukur dia memesan burger dan kentang goreng dan mulai melirik showcase di bar yang terisi keik-keik lucu yang ingin dicobanya.

“Kapan?” Tanya Taehyung, mempersilakan pelayan menyajikan makanan mereka di meja. “Aku baru meninggalkan Bintan setidaknya dua minggu dan terakhir kalinya aku tahu, Chef Yoongi masih sendiri.”

“Minggu lalu, kok.” Sahut Seokjin kalem.

“DAN KATANYA ITU BERITA LAMA?” Seru Jimin dan Taehyung berbarengan.

“Jangan berteriak. Kalian membuatku malu.” Keluh Seokjin melirik sekitarnya, ke orang-orang yang menoleh kaget ke meja mereka karena Jimin dan Taehyung memutuskan untuk bersikap dramatis.

Keduanya menutup mulut mereka dan cukup beradab untuk nampak malu karena kelepasan. Yugyeom terkekeh di kursinya, mulai memakan makanannya dengan khidmat seolah ketiga chef di depannya sama sekali bukan temannya.

“Sebenarnya yang membulatkan tekadku itu malah Jeongguk, yang menyadarkanku bahwa mungkin selama ini aku memang naksir Yoongi namun tidak terlalu menyadarinya karena kami begitu dekat seperti saudara.” Seokjin terkekeh, meraih sepotong onion ring dan menyelupnya ke dalam saus tartar di piring sebelum mengunyahnya.

“Katanya, 'memangnya kau yakin kau tidak naksir Yoongi?' dan aku memikirkannya. Ya memang, sih, dibandingkan Jeongguk aku jelas akan memilih Yoongi—maaf, Taehyung.”

“Kenapa juga harus minta maaf padaku??” Sahut Taehyung, mendelik sebal dan Seokjin tersenyum lebar.

“Jadi aku memutuskan, kenapa tidak coba saja? Jadi, aku mulai meneleponnya tiap malam, lalu mengobrol hal-hal kecil. Merencanakan liburan tanpa Jeongguk dan ternyata rasanya nyaman. Apalagi Jeongguk memang sedang tidak ingin meninggalkan Jeonggi sendirian—padahal anak itu sudah menikah, demi Tuhan. Jadi, ya sudah.

“Saatnya Jeongguk cari pasangan baru alih-alih terus-terusan menganggu kehidupan rumah tangga adiknya.” Seokjin menjejalkan sepotong onion ring lain ke mulutnya dan mengunyah dengan ceria. “Bagaimana denganmu?” Tanyanya ringan pada Taehyung. “Kau tertarik padanya?”

“Pada siapa?” Tanya Taehyung, berpura-pura bodoh dan meraih burger di piringnya, menyuapnya dengan lahap—rasanya lumayan, dagingnya lembut dan juicy, rotinya lezat dan sayurannya renyah.

“Jeongguk-lah, siapa lagi?” Jimin menjawab untuknya. “Dia sekarang sudah akrab dengan Jeonggi. Sering telepon malam-malam dan akan membuat kue bersama seperti saudara kandung.”

Seokjin menatapnya dengan wajah menggoda yang menyebalkan. “Jika Jeonggi suka padamu, maka selamat. Jeongguk akan sangat menyukaimu.” Dia terkekeh dan Taehyung mendengus keras. “Semacam diskon 'beli satu, gratis satu.'”

“Dia sangat overprotektif pada adiknya, dalam konteks yang baik, tentu. Selalu menemaninya dan bahkan mengizinkannya menikah duluan. Seolah jika kau menyakiti Jeonggi, maka dia akan tersakiti dua kali lipat. Begitu juga jika Jeonggi senang.

“Jadi jika Jeonggi memasuki hidupmu, kau juga harus siap Jeongguk memasuki hidupmu. Karena mereka itu kembar dan, kau tahu, 'kan, anak kembar cenderung tertarik pada hal yang sama?” Seokjin melambaikan sepotong onion ring dan menyuapnya.

“Pakaian yang sama.” Lanjutnya setelah mengunyah makanannya. “Sepatu yang sama. Buku yang sama. Makanan yang sama. Orang yang sama.” Dia tersenyum menggoda pada Taehyung yang mendelik, namun tidak ayal merasa berdebar oleh fakta baru yang dikatakan Seokjin.

“Dan, kau tahu, 'kan, anak kembar cenderung tertarik pada hal yang sama?”

Mungkin itulah mengapa sekarang Jeongguk nampak lebih lembut padanya? Bicara dengan lebih sopan dan sedikit (sedikiiiiiiiiit) lebih hangat padanya? Karena Jeonggi menyukainya?

Bukan karena dia menyukai Taehyung?

“Walaupun tidak terlalu mirip, ikatan darah mereka kuat.” Suara Seokjin menampar Taehyung kembali ke bumi dan dia menoleh ke seniornya yang sedang makan seraya bicara. “Kau harus melihat mereka bersama—gerakan mereka sinkron, nyaris seperti bumi dan bulan. Jeonggi bergerak, maka Jeongguk bergerak.

“Jadi bersiaplah.” Seokjin kembali tersenyum membuat jantung Taehyung sedetik terasa berhenti berdetak sebelum melonjak seperti seekor kuda, memukul rusuknya.

“Dan sungguh, Jeongguk tidak seburuk apa yang kaupikirkan. Sering kali orang menyalahartikan sikapnya dengan congkak dan sombong, padahal dia sebenarnya hanya malu dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.” Seokjin melirik Yugyeom yang tertawa, “Benar, 'kan?” Tanyanya dan Yugyeom mengangguk.

“Socially awkward, mungkin lebih tepatnya.” Yugyeom tertawa serak, mengonfirmasi kata-kata Seokjin. “Dia tidak tahu caranya merespon manusia, percakapan semacam ini membuatnya risih. Terlalu blak-blakan sehingga terkadang orang tersinggung karena sikapnya, jadi dia memilih untuk diam. Meminimalisir interaksinya dengan manusia.”

Seokjin mengangguk dan saat dia kembali bicara, Taehyung bisa melihat sayang yang dalam di matanya untuk Jeongguk, “Dia memang manusia berdarah dingin yang pendiam dan judes, aku tahu.

“Tapi dia hangat dan penyayang jauh di dalam sana, kau hanya perlu tahu bagian mana yang harus disentuh.”

*

Sizzling Romance #63

Ada yang aneh.

Taehyung tahu ada yang aneh. Karena tiba-tiba saja di hari Taehyung menelepon Jeongguk hanya untuk mendapati teleponnya dimatikan secara sepihak, Jeongguk mulai menjaga jarak aman darinya.

Terakhir kali mereka mengobrol adalah pagi keesokan harinya saat Jeongguk menjemputnya. Itu pun hanya sebatas “selamat pagi” dan “selamat bekerja” lalu setelahnya, Jeongguk tidak menganggap Taehyung ada sama sekali.

Bahkan ketika food testing pun, Jeongguk tidak nampak antusias sama sekali dengan keberadaan mempelai dan juga Taehyung. Dia bicara seperlunya, menjawab ketika ditanya dan selebihnya hanya diam. Taehyung berusaha mengulik informasi ini dari Security yang mengonfirmasi kecurigaannya.

“Chef memang begitu.” Kata Security yang ditemui Taehyung saat pulang sedang berpatroli di parkiran motor karyawan. “Memang jarang bicara. Sukanya diam. Tidak suka kontak dengan banyak manusia. Jadi terkenalnya memang dingin dan pendiam.” Lalu dia menambahkan dengan geli. “Cewek-cewek, 'kan, biasanya suka yang begitu, ya?”

Apakah mungkin Taehyung bersikap terlalu frontal padahal Jeongguk sama sekali tidak memandangnya lebih dari sekadar bawahan? Dia mulai merasa keputusannya untuk menelepon Jeongguk adalah sebuah kesalahan.

Dia yakin sekali Jeongguk punya perasaan padanya, setidaknya perasaan fisik yang sama jika hati mereka berbeda. Namun mungkin Taehyung salah menerjemahkan sinyal yang didapatkannya. Dan hubungan mereka yang rapuh menjadi korbannya.

Taehyung memarkir motornya di parkiran karyawan, mengingatkan dirinya sendiri untuk mengajak Hoseok ke dealer motor membeli motor baru (dia sudah mengecek rekening tabungannya dan memutuskan mengambil sedikit untuk motor tidak akan membuatnya rugi) karena jika dipikir-pikir menyewa motor menyedot banyak sekali uang dibandingkan memiliki motor sendiri. Pengeluarannya jadi ganda; selain membayar sewa, dia juga harus membeli bensin.

Menyebalkan.

Taehyung juga sudah berjanji akan bertemu Jimin Sabtu depan untuk berkenalan dengan Seokjin karena Yoongi sudah menerornya—sungguh menerornya untuk bertemu Seokjin jadi Taehyung mengiyakan, bergegas mengosongkan hari Sabtu-nya untuk berangkat ke Ubud.

Mungkin naik motor sendiri dengan Google Maps meneriakan arahan di earphone seraya menikmati Bali dalam kesendirian. Terasa menyenangkan dan penuh adrenalin. Dia akan mendiskusikan ini dengan Jimin nanti malam.

Dia bergegas melangkah ke bagian karyawan, menyapa Security dan bergegas mengambil seragamnya. Ini pukul sebelas pagi, semalam Jeongguk mengingatkan dengan galak di grup tentang bersikap on time hari ini, maka Taehyung tiba dua jam sebelum waktu yang ditentukan.

Satu hal lagi yang berbeda dari Jeongguk sekarang.

Dia nampak uring-uringan, mudah marah dan selalu dalam mood yang tidak baik. Hal kecil akan membuatnya marah. Dapur menjadi seperti neraka dan tidak ada yang berani bicara saat Jeongguk muncul di section mereka untuk mengecek kinerja.

“Dia memang aslinya begitu.” Kata Yugyeom saat Taehyung iseng bertanya saat jam makan siang dan Jeongguk sedang berdiri di balik meja EDR, mengawasi menu makanan karyawan sebelum berbalik dan pergi.

“Biasakan saja, Chef.” Yugyeom mengendikkan bahu dan kembali makan sementara Taehyung melihat ke arah Jeongguk berlalu dengan sedikit resah.

Was it something he did or was it not?

And speaking of the devil,

Dia berpapasan dengan Jeongguk di pintu depan loker. “Oh, halo, Chef!” Sapanya ramah, tidak menyangka akan bertemu Jeongguk juga pada jam segini. Pikirnya chef itu akan tiba nanti pukul satu seperti yang dikatakannya.

Jeongguk mengangguk, rahangnya kencang sebelum berlalu dari sana tanpa bicara seraya memasang topi chef-nya, mengabaikan Taehyung yang menghela napas dan mengendikkan bahu.

Baiklah jika memang begitu, mungkin Taehyung yang salah membaca sinyal yang diberikan Jeongguk padahal sejak awal mereka bertemu Jeongguk sudah menggambar garis tebal hubungan profesionalitas mereka dan membatasi interaksi Taehyung bersamanya di luar pekerjaan.

Jika Jeongguk ingin bersikap profesional, maka Taehyung akan bersikap profesional.

Taehyung mulai mengutuki dirinya sendiri karena menelepon Jeongguk malam itu saat memasuki Pastry yang beraroma tajam mentega hangat, vanila dan juga pastry hangat yang merekah. Semua commis dan helper-nya sedang bekerja mempersiapkan camilan-camilan kecil cantik yang akan dihidangkan untuk para tamu di infinity pool.

Kue pengantin yang mereka kerjakan sekarang berdiri di tengah ruangan, megah dengan base champagne cake yang dihiasi banyak brush stroke cantik, bunga-bunga dari krim dan krim artistik. Taehyung sendiri yang menghiasnya dibantu dengan CDP-nya yang ternyata sangat berbakat menghias kue—tangannya yang terampil mengerjakan mawar-mawar mungil dari krim dengan begitu cepat dan rapi.

Sekarang berloyang-loyang mawar dari krim yang sudah dibekukan berjajar di sisi meja, siap digunakan untuk menghias kue. Taehyung memasuki ruangan dan semuanya bergegas menyapanya dengan ramah, mereka menyayangi dan menghormati Taehyung sebagai atasan mereka karena dia selalu tahu caranya untuk berkomunikasi dengan tepat tanpa menyinggung perasaan seseorang.

Taehyung mengikat tali apron di balik punggungnya. “Semua sudah siap?” Tanyanya pada CDP-nya yang tersembunyi di balik tingginya kue pengantin yang mereka kerjakan sejak kemarin.

CDP-nya mendongak. “Sedikit lagi, Chef. Tinggal menghias sisi kiri dan menambahkan mawarnya, maka semuanya beres.” Dia mengenggam spatula kue di kedua tangannya; satu terisi mawar krim beku dan satunya digunakan untuk menyendok mawar itu untuk diletakkan di kue.

Kuenya nampak spektakuler dengan empat tingkat raksasa. Champagne cake-nya begitu harum saat kemarin Taehyung mengeceknya. Sekarang setelah mereka dihias, benda itu nampak seperti seorang ratu yang berkilauan oleh keindahan. Taehyung menatapnya dengan puas.

“Tolong minta Marketing yang stand-by hari ini ke dapur untuk foto.” Katanya pada salah satu commis yang bergegas menelepon Marketing. “Kita punya banyak bahan untuk exposure di Instagram.”

Taehyung mengambil posisinya di sebelah CDP-nya, menatap wilayah kue yang kosong dan meraih spatulanya sendiri dan Yugyeom mendorong senampan mawar krim ke arahnya.

Pastry selalu terasa dingin, sejuk dan menyenangkan. Ritme kerja mereka sangat jauh berbeda dengan hot kitchen yang selalu penuh teriakan dan desis api panas dengan orang-orang yang berlalu-lalang. Pastry terasa lebih tenang, mendayu-dayu dan lembut. Suhu yang lebih rendah karena menjaga kesegaran kue-kue rapuh menjadi salah satu sumber utama ketenangan jiwa tim Taehyung.

Bayangkan bekerja delapan jam di depan api raksasa yang mendesis, meniupkan hawa panas ke wajahmu lalu bandingkan dengan bekerja di ruangan yang berpenyejuk, beraroma mentega leleh dan vanila.

Taehyung mulai bekerja, menghias kue di hadapannya dengan serius. Memindahkan semua kondimen di nampan ke atas permukaan kue yang lembut oleh krim. Mempelai perempuan sangat menyukai champagne cake yang mereka buat, menghabiskan sisa kuenya saat food testing dan secara personal memuji Taehyung yang menerimanya dengan rendah hati.

Taehyung lebih suka mengerjakan kue pernikahan yang besar ini daripada kue-kue kecil yang akan mereka bawa naik dalam tiga jam karena menunduk ke makanan mungil itu kadang membuat Taehyung mual, maka dia menyerahkan itu pada Yugyeom.

Dia fokus pada pekerjaannya hingga tidak menyadari saat Jeongguk memasuki ruangan, mengecek kerja mereka. Semua timnya seketika menegang, tidak berani mengeluarkan suara lebih dari yang mereka perlukan dan atmosfir berubah menjadi berat dan tidak nyaman.

Sementara Taehyung dan CDP-nya yang fokus tidak menyadari apa yang terjadi.

”... Naik?”

Taehyung masih sibuk membenahi mawar krim di tangannya.

”... Chef?”

“Chef.”

Taehyung mengerjap dan menoleh, menemukan Jeongguk menatapnya dingin dan mendesah. “Maaf, Chef. Saya tidak dengar.” Katanya meminta maaf, menurunkan kedua spatulanya. “Ada yang bisa saya bantu?”

Jeongguk mengangguk. “Jam berapa bisa dibawa naik?” Dia mengerling kue pengantin di bawah tangan Taehyung yang sekarang nampak semarak dan megah karena sudah mendekati 95% selesai.

“Segera setelah Pemberkatan.” Kata Taehyung tegas. “Saya meminimalisir kue terpapar sinar karena akan membuat krimnya basi lebih cepat. Jadi saya akan membawa kuenya sendiri bersama Yugyeom tepat sebelum Pemberkatan selesai, lalu langsung mengembalikannya ke dapur setelah potong kue oleh pengantin untuk dipotong-potong dan disajikan saat Resepsi.”

Jeongguk mengangguk-angguk, puas sebelum mengamati loyang-loyang terisi pastry yang akan naik untuk lunch group di Bambu. Lalu tidak menemukan hal lain untuk dilakukan, Jeongguk akhirnya beranjak pergi dari sana tanpa mengatakan apa-apa lagi dan sontak seluruh dapur menghebuskan napas.

Taehyung mendengarnya, mendongak dari krim mawarnya dan tertawa kecil. “Setegang itu, ya, kalian?” Katanya sebelum kembali merunduk ke kuenya.

“Dia sedang seperti macan yang sakit gigi, Chef.” Keluh CDP-nya di sisinya. “Kemarin saya dengar anak trainee JU-MA-NA menangis di chiller setelah dibentak Chef Jeongguk karena salah. Chef Namjoon berhasil membujuknya keluar setelah satu jam terisak di dalam sana.”

Taehyung meringis mendengarnya. Anak malang, pikirnya bersimpati.

“Tidak ada yang mau berurusan dengannya belakangan ini.” Tambah CDP-nya menunduk ke atas kue, merapikan olesan krimnya. “Semua kitchen mengencangkan ikat pinggang, tidak boleh ada kesalahan karena salah setitik maka dia akan mengamuk.”

“Bukannya dia memang selalu begitu?” Tanya Taehyung dengan kasual, memasang mawar krim di kuenya dengan lembut. “Maksudku, mengomel tentang standar dan tetek-bengeknya.”

“Memang.” CDP-nya mengangguk, meraih nampan mawar selanjutnya. “Tapi tidak pernah semenyebalkan ini, Chef. Dia akhirnya ditolak gebetannya itu mungkin.” CDP-nya memberengut pada kue di hadapannya.

Taehyung mengerjap, jantungnya berdebar mendengarnya dan tangannya berhenti bekerja dengan otomatis: Gebetan?

Namun sebelum dia sempat bertanya lebih jauh tentang gebetan yang dimaksud anak Marketing datang dengan kamera mirrorless-nya untuk mengambil foto persiapan pernikahan itu.

Setelahnya, pertanyaan tentang gebetan Jeongguk lenyap sama sekali dari kepala Taehyung saat dia mengomando anak-anaknya untuk mempersiapkan pernikahan. Kue-kue mungil menggemaskan dengan warna-warni pastel menarik disajikan di meja-meja panjang dengan minuman, didampingi standing bouquet raksasa yang harum.

Anak-anak servis mondar-mandir membawa kursi dan persiapannya. Bunga-bunga yang dibentuk menjadi altar menghadirkan aroma lembut yang menenangkan dengan secercah aroma lautan yang asin. Pemandangan lepas pantai Melasti akan menjadi latar yang luar biasa di foto pernikahan ini karena anak Marketing sudah mulai mengambil banyak sekali foto untuk bank foto mereka.

Jeongguk di sana, di sudut berdiri bersama Namjoon yang siaga di sisinya persis seperti bulan yang berotasi mengelilingi bumi. Mengawasi dengan mata elangnya yang dingin sementara Taehyung berjibaku bersama anak-anak timnya mempersiapkan pastry.

Saat tamu mulai berdatangan, semua anak pastry mundur kembali ke dapur menyisakan Taehyung dan Yugyeom yang berdiri di dekat Jeongguk mengawasi acara.

Pernikahan itu berjalan lancar dan menakjubkan, Taehyung tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak ikut bertepuk tangan saat keduanya selesai mengucapkan wedding vow sebelum mengangguk pada Yugyeom dan berlari ke Pastry untuk mengeluarkan kue pengantin.

Hal itu bisa saja dilakukan oleh anak servis namun Taehyung merasa maha karyanya harus diawasi. Dan dia berjalan cepat di belakang anak-anaknya yang mendorong troli kue ke arah lokasi pernikahan saat kedua mempelai sibuk berciuman dan berhasil menyelipkan kue persis sebelum mereka turun dari altar untuk memotong kue.

“Kerja bagus.” Puji Jeongguk saat Taehyung kembali ke sisinya, terengah-engah karena berlari dan tegang.

“Trims, Chef.” Sahut Taehyung mengangguk tegang, selama pernikahan belum kelar seluruh sarafnya akan tetap di posisi siaga.

Acara berjalan mulus ke Resepsi di JU-MA-NA. Sisa kue pengantin sekarang sudah dipotong-potong dan disajikan di meja. Makanan-makanan fine dining disajikan serentak oleh anak servis. Semua tamu makan dengan ceria, suara denting sendok dan piring, obrolan rendah, musik mendayu-dayu dan tawa membuat Taehyung merasa hangat.

Dia berdiri di sana, di sisi Jeongguk mengawasi jalannya acara sementara Namjoon turun ke dapur untuk mengecek makanan untuk dinner di Bambu. Taehyung melirik atasannya yang menatap lurus ke acara tanpa ekspresi, kedua tangannya berada di belakang punggungnya.

“Chef.” Panggil Taehyung setelah sarafnya yang malang mulai terasa agak rileks karena acara sudah akan selesai, merasa dia sebaiknya bertanya langsung pada Jeonggk alih-alih menebak-nebak apa yang mungkin salah dilakukannya selama ini.

Dia tidak suka hidup dalam ketidaktahuan, dia diberikan mulut dan pikiran untuk digunakan maka saat ada sesuatu yang tidak disukainya, Taehyung akan bersikap sangat vokal tentang itu.

Atau mungkin bertanya tentang siapa gebetan Jeongguk yang disebutkan CDP-nya tadi. Menyadari bahwa sebelum Taehyung pindah ke Banyan Tree Bali, chef muda berbakat seperti Jeongguk pasti dilirik banyak sekali orang.

Tentu dia memiliki banyak orang yang menunggu untuk dilirik, 'kan?

Memikirkan kata gebetan membuat Taehyung mulas—bagaimana jika dia kenal orang itu? Bagaimana jika selama ini Taehyung ternyata akrab dan bersikap baik padanya? Hal itu membuatnya risih.

Walaupun dia tidak paham kenapa berteman dengan gebetan Jeongguk membuatnya tidak nyaman. Mereka, 'kan, hanya teman bekerja. Rekan bekerja. Atasan dan bawahan. Seperti yang Jeongguk sudah katakan padanya.

Taehyung mungkin harus lebih berhati-hati lagi dalam bersikap di depan atasannya.

“Hm.” Sahut Jeongguk bahkan tidak menoleh sama sekali, rahangnya kencang dan Taehyung sejenak mundur, bolehkah dia melakukannya? Atau itu hanya akan membuat anak-anak harus merasakan akibatnya?

“Tidak, Chef. Tidak apa-apa.” Katanya kemudian, tidak berani mengetes kesabaran Jeongguk dan memikirkan bagaimana anak-anak Main Kitchen harus menerima amarah itu setiap hari. “Jangan lupa minum air putih.”

Jeongguk diam dan Taehyung menganggapnya sebagai jawaban positif.

Semua tamu menikmati makanan mereka hingga tetes terakhir, piring-piring dibereskan dan semua tamu perlahan meninggalkan tempat. Anak-anak FBS mulai melakukan clear up dengan cepat dan efisien—menyingkirkan semua piring kotor, merapikan meja dan memasukkan kursi.

Piring-piring kotor ditumpuk, sisa makanan dibuang. Troli-troli penuh piring dan gelas kotor dibawa turun melalui lift barang ke Steward untuk dicuci dan dikeringkan. Suara dentingnya terdengar menggema saat anak-anak berusaha bekerja secepat mungkin untuk mengembalikan set-up awal restoran yang diubah demi mengakomodir keperluan wedding.

JU-MA-NA dibuka kembali untuk tamu dan semua chef yang bertugas hari itu kemudian dikumpulkan di Main Kitchen untuk evaluasi. Jeongguk berdiri di depan dapur, dengan tim yang berdiri di sekitarnya dengan wajah lelah namun puas, termasuk Taehyung yang akan sangat senang jika bisa mandi air hangat, makan sesuatu yang manis lalu tidur setelah ini.

“Terima kasih atas kerja keras kalian hari ini.” Kata Jeongguk dengan suara empuk dan logat Bali-nya yang selalu membuat Taehyung mendesah. “Saya pribadi mengapresiasi bantuan kalian hari ini sehingga wedding berjalan dengan lancar.”

“Terima kasih juga Tim Pastry untuk kesigapannya dalam menyajikan kue pengantinnya tepat waktu. Juga anak-anak servis dan semua yang bekerja sama hari ini.” Dia mengangguk. “Untuk evaluasi, mungkin dari saya tidak ada.”

“Menu makan malam hari ini nyaris tidak ada cacat. Semuanya sempurna, mungkin hanya kejadian tadi pagi karena semua ikan salah potong dan harus diulang. Tapi tidak apa-apa, ikannya akan digunakan untuk breakfast besok pagi.” Tambahnya mengangguk pada tim Butcher yang nampak tegang.

“Service ran smoothly tonight, thank you so much.” Dia mengangguk, melemparkan tatapan ke seluruh timnya penuh apresiasi. “Saya akan menginfokan kalian semua jika pengantinnya sudah memberikan GCC tentang hari ini.”

Dia kemudian menoleh ke Namjoon dan Taehyung. “Ada yang ingin ditambahkan?”

Namjoon menggeleng. “Tidak ada dari saya, Chef.”

Taehyung mengangguk dan Jeongguk mempersilakannya bicara. “Saya hanya akan mengoreksi nampan kedua eclair mini yang muncul sebelum Pemberkatan. Permukaan lapisan cokelatnya sedikit berkeringat karena perubahan suhu saat dikeluarkan dari chiller. Belum dibiarkan di suhu ruangan cukup lama sehingga suhunya normal dan sudah harus dihidangkan, evaluasi untuk time management di Pastry.

“Tapi, saya sudah meminta batch itu ditarik dan diganti dengan yang baru sebelum tamu sempat menyadarinya. Jadi, besok Senin saya akan melaksanakan training tentang ini.” Tambahnya dan Jeongguk mengangguk.

“Terima kasih, Chef.” Jeongguk menatapnya sekilas sebelum kembali menatap timnya. “Ada lagi?”

“Cukup, Chef.”

Jeongguk kembali mengangguk. “Baiklah, Tim.” Katanya meninggikan suaranya menarik perhatian semua orang. “Sekarang silakan pulang, jangan lupa ambil jatah makan kalian dulu di EDR. Selamat malam.”

“Malam, Chef!” Seru semuanya serentak sebelum membubarkan diri.

Taehyung mendesah panjang. “Saya ingin mandi air hangat.” Keluhnya pada Namjoon yang berdiri di sisinya, executive sous chef itu tertawa serak.

“Anda suka berendam, Chef?” Tanyanya sopan.

Taehyung mengangguk, memijat tengkuknya yang terasa pegal setelah seharian menunduk mengerjakan kue. “Membuat otot-ototmu rileks, cobalah.” Katanya tersenyum. “Saya akan beli makan malam, mandi lalu tidur.”

“Setuju.” Namjoon mengangguk ramah. “Hari ini panjang, Chef. Jadi beristirahatlah lebih awal, besok Senin.”

“Menyebalkan.” Komentar Taehyung sebelum berpisah dengan Namjoon yang masih harus bekerja hingga pukul sebelas. “Sampai ketemu Senin!” Katanya ceria pada Namjoon yang balas melambai sebelum bergegas ke Bambu untuk mengecek dinner.

Taehyung melangkah sendirian di lorong menuju loker, melepas topi chef-nya yang terasa mencengkram kepalanya dan juga harnet yang menjaga rambutnya agar tidak mengontaminasi makanan.

Loker kosong saat dia masuk, maka Taehyung bergegas mengganti bajunya. Tidak sabar untuk segera pulang, mampir membeli nasi jinggo langganannya di perempatan dekat kosnya sebelum menelepon Jimin yang hari ini libur. Dia baru saja menutup lokernya, menguncinya dengan suara keras saat pintu loker terbuka dan Jeongguk memasuki ruangan dengan rambut tergerai di tengkuknya.

“Halo, Chef.” Sapa Taehyung ringan. “Saya duluan.” Dia meraup seragamnya yang bau keringat dan kue untuk diberikan ke Laundry dan menyampirkan tali tas di bahunya.

Jeongguk mengangguk. “Hati-hati di jalan.” Katanya dan Taehyung tersenyum.

“Pasti, Chef.” Dia mendorong pintu loker terbuka. “Selamat istirahat untuk Anda dan hati-hati di jalan juga.” Dia menelengkan kepalanya, melemparkan senyuman terbaiknya sebelum mendorong pintu dan keluar dari loker.

Sebaiknya dia tidak berlama-lama di sekitar Jeongguk sebelum dia mengatakan hal-hal yang mungkin akan disesalinya di kemudian hari. Dia meluncur ke Uniform, menjatuhkan seragam kotornya ke kantung binatu dan menempelkan sidik jarinya ke mesin pemindai yang menyatat jam kembalinya seragam.

“Trims, Ula!” Katanya pada anak Housekeeping yang bertugas di Uniform sebelum berlalu dari sana, meraih ponselnya dan akan mengirimkan pesan ke Jimin untuk memberitahu temannya bahwa dia akan menelepon sebentar lagi.

Taehyung bersiul saat melangkah menuju parkiran motor dan merogoh sakunya, mengeluarkan kunci motor. Melangkah ke motor sewaannya, Taehyung menyadari ada paper bag yang disangkutkan di bagian depan motornya.

Bingung, dia meraih benda itu dan mengintip isinya. Menemukan boks kue cokelat dan merasakan permukaannya yang hangat; baru matang. Alisnya berkerut. Dia mengeluarkan benda itu dari sana, merasakan bobotnya yang agak berat sebelum membukanya.

Aroma cokelat langsung menghambur ke indera penciumannya dan dia tersenyum saat menemukan brownies panggang dengan permukaan penuh lelehan cokelat balas menatapnya dari dalam boks.

“Wah.” Katanya ceria dan bersemangat karena mendapatkan hadiah kecil itu. Kebetulan sekali karena dia memang ingin makanan manis. Dia meletakkan boks itu di atas jok motornya dan merogoh ke dalam kantungnya, mencoba mencari kartu atau apa saja yang berisi identitas pemberinya.

Dia menemukannya. Sebuah kartu cokelat sederhana dengan tulisan tangan yang tidak dikenalinya. Hanya dua kata:

Semoga suka! — J.

Dia mengerjapkan mata.

... J?

*

Sizzling Romance #52

“Silakan duduk.”

Taehyung mengangguk dan mendudukkan diri di kursi yang ada di depan meja Jeongguk.

Ruangan Jeongguk tidak terlalu besar namun pas dan terasa bebas. Ada satu meja kayu jati ukuran sedang dengan laptop terbuka di atasnya, satu buku yang nampak gendut (yang sepertinya adalah agenda Jeongguk) di sisinya dan satu rak besi dengan empat laci untuk menyimpan dokumen-dokumen.

Ada papan raksasa di dinding belakang kepala Jeongguk terisi dengan catatan KPI per kitchen, BEO (Banquet Event Order) selama satu minggudan coret-coretan Jeongguk yang tidak bisa dibaca Taehyung.

Mejanya rapi, ada gelas di atas meja yang sudah kosong namun aroma kopi tercium dari dalamnya. Di tempat lain yang kosong, ada tumpukan dokumen yang sedang dipelajarinya dan Taehyung menyadarinya sebagai menu wedding minggu depan.

“Jadi,” Jeongguk duduk di kursinya yang berderit—menatap Taehyung dengan tatapannya yang biasa. “Kau sudah mengecek Pastry?”

Taehyung mengangguk. “Saya sudah berkenalan dengan tim saya, membahas peraturan-peraturan yang saya ingin mereka terapkan di bawah kepimpinan saya dan juga mengoreksi standar makanan mereka.” Dia kemudian membuka buku catatannya untuk membaca hal-hal yang ingin dilaporkannya kepada Jeongguk.

Wedding cake yang Anda maksud sudah berjalan 50 persen. Base cake sudah siap dan disimpan di dalam lemari es. Sekarang kami sedang mengerjakan brush stroke dan krim-krim mawar untuk dekorasinya.” Taehyung membaca dari catatannya sementara Jeongguk duduk di hadapannya dengan tenang.

Kedua siku Jeongguk ditumpukan di atas meja mendengarkan Taehyung dengan fokus sepenuhnya ke pastry chef-nya yang sedang menunduk membaca catatan di bukunya dengan seksama.

“Lalu,” lanjut Taehyung. “Besok kami akan mengerjakan base cake terakhir tingkat keempat dan menyelesaikan dekorasinya sebelum hari Sabtu nanti dirangkai.” Taehyung mengangguk dan mendongak, bertemu mata dengan Jeongguk.

Matanya begitu jernih, begitu dalam dan menyejukkan.

“Untuk sampel kue Rabu besok, saya sudah meminta salah satu commis untuk membuatkan base cake-nya dalam ukuran kecil diameter 10 senti untuk dicicipi bersama mempelai dan keluarga. Seharusnya sore ini sudah selesai.”

Jeongguk menatapnya. “Trims.” Katanya, sangat mengapresiasi bantuan dan kesigapan Taehyung dalam menangani masalah di Pastry.

“Lalu untuk standarisasi yang kaukatakan tadi pagi, apa saja yang sudah dilakukan?” Tanya Jeongguk.

Taehyung mengangguk. “Saya sudah mengajari mereka mengecek croissant base yang benar dan bagaimana menguleninya agar tidak bantet saat di panggang. Lalu saya juga sudah minta batch baru croissant disiapkan, saya cek sendiri lalu saya minta seluruh croissant di restoran ditarik dan diganti yang baru.”

“Ya. Saya lihat yang baru. Mereka semua sempurna.” Dia mengangguk setuju. Dia memang sedang di Bambu saat batch croissant baru di bawa naik oleh salah satu FB Captain lalu diletakkan di display—beberapa tamu langsung menyadari kecantikan pastry-pastry itu dan mengambilnya.

“Untuk kedepannya saya akan memastikan semua pastry sesuai dengan standar saya sebelum keluar ke restoran.” Taehyung menambahkan, dia membuka catatannya lagi.

“Lalu saya akan melaksanakan training untuk SC, CDP dan DCDP saya mengenai standar pastry yang saya inginkan sehingga quality control bisa dijaga bersama.”

Jeongguk menatapnya, sekarang nampak kagum dengan tulus. “Sekarang saya paham kenapa Yoongi menolak melepaskanmu.” Katanya.

Taehyung mendongak, mata mereka bertemu.

Setiap kali mata mereka bertemu, Taehyung selalu merasakan sensasi aneh yang menggelitik di dasar perutnya. Bola mata gelap Jeongguk seolah menariknya untuk menyelami jernih permukaannya, masuk ke dalam dan memahaminya.

Terlalu menggoda dan sulit sekali untuk diabaikan. Seperti ada benturan energi yang membuat punggung Taehyung gemetar.

Antara takut pada Jeongguk.

Atau ingin membelainya, membuatnya mendengkur senang seperti seekor singa alpa yang diberi makan.

Taehyung tidak paham bagian mana yang terasa lebih kuat saat ini. Keduanya terasa seperti dua ekor binatang liar yang saling menerkam berusaha saling mendominasi dan membuat kepala Taehyung nyeri.

“Kau efisien.” Jeongguk memujinya tulus. “Paham apa yang harus kaukerjakan untuk memperbaiki masalahnya. Tahu di bagian mana yang harus dibereskan dan tahu apa yang bisa dilakukan untuk membereskannya. Saya suka.”

Taehyung tersenyum dengan penuh percaya diri padanya; paham bahwa dia memang pantas mendapatkan pujian dari kinerjanya yang baik. “Terima kasih, Chef.” Katanya.

Mata mereka bertautan dan ruangan disekitar mereka terasa mengecil dan terus mengecil hingga menyisakan hanya cukup ruang untuk keduanya dan tatapan mata mereka. Tidak ada hal lain yang saraf Taehyung rasakan selain kehadiran Jeongguk; aroma tubuhnya, desir napasnya, tatapan matanya, bentuk wajahnya dan bahkan debaran jantungnya.

Kesibukan dapur mempersiapkan makan siang dan pesanan a la carte tidak terdengar sama sekali saat keduanya sibuk saling menelanjangi dengan tatapan mata mereka. Teriakan para CDP dan DCDP, orderan makanan yang masuk dan teriakan “Service!” sama sekali lenyap ditelan tatapan mereka.

Taehyung mungkin saja sudah menyondongkan tubuhnya, berusaha menghirup aroma tubuh Jeongguk lebih jelas lagi atau mencium bibirnya saat chef muda itu berdeham dan mundur, menyandarkan punggungnya lebih dalam ke kursi. Keduanya sejenak kikuk dan saling menjaga jarak dengan rikuh.

“Untuk training-nya,” katanya kering dan Taehyung mengerjap, merasakan tubuhnya meremang. “Kapan akan dilaksanakan? Jangan lupa untuk menyiapkan presensi siapa saja yang hadir lalu diserahkan ke saya sebagai catatan.”

“Secepatnya, Chef. Mungkin karena saat ini kita sedang fokus ke wedding, setelahnya saya akan langsung merancang training-nya.” Sahut Taehyung lugas. “Saya memberikan training yang sama pada anak buah saya di Bintan dan mempraktikannya dengan baik sehingga standar makanan bisa dipastikan bersama.”

Jeongguk mengangguk, nampak sangat puas dengan perencanaan Taehyung yang visioner. “Saya berharap banyak padamu, Taehyung.” Katanya tenang.

Dia lalu teringat sesuatu secara mendadak hingga Taehyung ikut kaget. “Oh. Saya belum membicarakan KPI-mu, ya?” Katanya lalu berdiri, meraih dokumen di salah satu laci lemari yang berderak dan kembali ke meja.

Taehyung menggeleng dan menatap lembaran kertas yang diberikan Jeongguk. Key Performance Index milik Taehyung dan poin-poin penilaiannya, yang diayakin tidak akan berbeda jauh dengan KPI-nya yang lalu di Bintan karena mereka di bawah manajemen yang sama.

“Kau akan membuat KPI untuk departemenmu dibantu Yugyeom tentu saja.” Kata Jeongguk menyerahkan kertas itu ke Taehyung yang membacanya dengan saksama. “Dan saya yang menghitung KPI-mu sebagai atasanmu.”

“Targetnya tidak sulit.” Jeongguk mengerling kertas di tangan Taehyung. “Hanya standarisasi pastry, kepemimpinanmu yang ditunjukkan dengan kualitas dan kuantitas makanan yang dihasilkan dan presensi anak-anakmu. Semua sesuai yang sudah kauketahui di Bintan dulu, benar? Tidak berbeda seharusnya.”

Taehyung mengangguk. Memang sama persis. “Sama, Chef.”

“Baiklah kalau begitu.” Jeongguk meraih sebatang pulpen dan menyerahkannya pada Taehyung. “Silakan tanda tangani bahwa kau sudah diberikan penjelasan tentang KPI-mu.”

Taehyung mengangguk, meraih pulpen yang diberikan Jeongguk dan menandatangani dokumen itu sebelum nenyerahkannya pada Jeongguk yang juga menandatanganinya.

“Oh, ya, Chef.” Kata Taehyung kemudian setelah Jeongguk menyimpan dokumennya. “Food testing besok Rabu pukul berapa dan di mana, ya? Saya belum terima detailnya.”

Jeongguk mengecek kalender mungil di mejanya yang penuh coretan dalam tulisan tangannya yang kecil-kecil berantakan. “Rabu besok lunch time di JU-MA-NA jadi mungkin kau harus turun makan ke EDR lebih awal sebelum bergabung dengan mereka.”

“Oke, Chef.” Taehyung mengangguk, menyatat jadwal itu di agendanya yang selalu dibawanya ke mana-mana sebagai pengganti otak yang penuh dengan resep makanan.

“Lalu hari Minggu kau bisa in-charge, 'kan?” Tanya Jeongguk tanpa mengalihkan pandangannya dari kalender yang sedang diamatinya. “Untuk wedding. Nanti akan ada saya dan Namjoon juga.”

Taehyung mengangguk. “Tentu saja, Chef. Selalu bisa.” Dia kemudian menulis jadwal itu juga. “Wedding pukul berapa dan di mana?”

“Pukul 3 sore. Di infinity pool.” Jeongguk mengalihkan pandangannya dari kalender dan kembali menatap mata Taehyung lekat-lekat. “Nanti minta saja Security mengantarmu atau mungkin nanti saya tunggu saja dan kita ke sana bersama.”

Taehyung mulai merasa rikuh dan tidak nyaman, sehingga dia memutuskan dia harus segera keluar dari ruangan ini sebelum akal sehatnya terjungkal dan dia menjulurkan tubuhnya ke arah Jeongguk untuk menciumnya.

Atau membiarkan Jeongguk mengagahinya di meja. Apa saja yang bisa membat otaknya berhenti berdering nyaring seperti ini.

“Baiklah, Chef. Jika itu saja, saya akan kembali ke Pastry.”

Jeongguk mengerjap lalu menggeleng. “Tidak. Di sini saja, sebentar lagi kita akan briefing team.” Dia melirik jam dinding di atas jendela 2 arah yang digunakannya untuk memantau dapur.

Taehyung kembali duduk, mulai merasa sangat tidak nyaman karena berada di ruangan yang sama berdua saja dengan Jeongguk

Dia pernah punya banyak atasan dari yang paling tampan hingga yang paling galak. Namun tidak ada yang membuatnya merasa terintimidasi sebagaimana Jeongguk melakukannya. Dia mulai mengutuki teman-temannya yang sejak hari pertama dia tiba selalu mencoba menjodoh-jodohkannya dengan Jeongguk.

Dia tidak suka digoda dan dijodoh-jodohkan semacam itu karena hanya akan membuat hubungan menjadi kikuk dan menyuapi kepalanya dengan hal-hal tidak etis tentang atasannya.

Seperti bagaimana dia jadi sering mengamati pembuluh darah di lengan bawah Jeongguk yang menonjol.

Mungkin itulah alasan kenapa dia jadi sulit menatap Jeongguk secara profesional.

Jeongguk and Taehyung sitting under the tree; k-i-s-s-i-n-g...

Atau mungkin senyuman Jeongguk di hari pertama mereka bertemu.

Atau mungkin sikap dinginnya yang membuat Taehyung penasaran.

Atau mungkin itu hanya karena dia Jeongguk.

Apa pun itu, Taehyung yakin ada sesuatu yang salah dengannya karena ini pertama kalinya dia memandang atasannya dengan cara yang tidak begitu nyaman.

Sejak awal, dia sudah berpikir atasannya pastilah pria tua yang sudah menikah. Galak dan dingin. Pendiam dan serius seperti apa yang diketahuinya dari teman-temannya. Atau mungkin juga chef muda seperti Yoongi yang selalu menganggap Taehyung sebagai adiknya, bersikap lembut dan sangat suportif padanya selama empat tahun bekerja sama.

Namun saat dia bertatapan langsung dengan binatang dingin itu, Taehyung langsung merasa ini bukanlah apa yang dipikirkannya.

Chef Jeongguk bukanlah atasan yang dibayangkannya.

Dan bukan berarti Taehyung tidak suka....

“Bagaimana menurutmu tentang Yugyeom?” Tanya Jeongguk kemudian dan Taehyung mengerjap, kembali ke masa sekarang. “Dia bisa diajak bekerja?”

Taehyung mengangguk. “Sangat baik. Mungkin agak kurang di bagian quality control dan manajemen tim, tapi saya yakin bisa melakukan sesuatu tentang itu.”

Jeongguk mengangguk paham lalu keduanya bersidiam, tidak menemukan hal untuk dibicarakan dan merasa keheningan sangat menenangkan. Taehyung berdoa dalam hati agar Namjoon atau siapa saja bergegas muncul menyelamatkan mereka dari kondisi ini karena jantung Taehyung terasa seperti ingin meledak.

Dan tepat sebelum Taehyung kehilangan kewarasannya, Namjoon (SYUKURLAH!) mengetuk pintu dan membukanya. Lalu kaget menemukan mereka berdua di meja. Mereka bertiga bertatapan sejenak selama sepersekian detik sebelum Namjoon akhirnya menemukan suaranya kembali.

“Oh, Chef. Maaf menganggu.” Katanya tidak enak, takut telah menganggu sebuah diskusi penting yang serius. “Apakah kalian sedang berdiskusi?” Tanyanya.

Jeongguk mengibaskan tangannya sebagai gestur bahwa intrupsi Namjoon bukanlah hal besar. “Sudah selesai.” Katanya kalem. “Ada apa?”

Namjoon menatap keduanya lalu tersenyum. “Briefing, Chef.”

“Oh. Oke.” Jeongguk langsung berdiri dan Taehyung bergegas menyusulnya. Jeongguk melangkah keluar dari balik mejanya, mengibaskan apron dan melicinkan seragamnya sebelum memasuki Main Kitchen.

Di luar, di Main Kitchen sekarang terisi para commis, helper, CDP dan DCDP serta semua sous chef di Banyan Tree dari semua section kecuali mereka yang sedang in-charge karena pesanan tamu harus tetap dikerjakan.

Mereka tidak selalu melaksanakan briefing siang karena memberi makan tamu jauh lebih penting daripada duduk mengobrol namun Jeongguk (menurut Namjoon) selalu menyempatkan setidaknya 2 kali seminggu untuk bertatap muka dengan semua timnya.

Atau saat dia menemukan hal yang tidak dia sukai. Namun hari ini khusus karena ada Taehyung.

“Selamat siang.” Sapa Jeongguk dan semuanya sontak menjawab dengan suara riuh-rendah 'siang, Chef' dengan berbagai macam nada.

Mata-mata mereka mengamati Taheyung yang berdiri di sisi Jeongguk dengan seragam yang masih sedikit kebesaran dengan penasaran. Melihat seorang chef muda langsing yang nampak menarik, tampan dan membuat seragam chef mereka yang biasa saja jadi sekeren pakaian runway mungkin bukanlah hal yang sering mereka lihat di dapur.

“Hari ini saya akan memperkenalkan Pastry Chef baru kita, Taehyung.” Dia menoleh pada Taehyung yang mengangguk pada semuanya. “Mulai sekarang setiap urusan pastry agar dilaporkan langsung ke Taehyung, bukan lagi ke Yugyeom.”

“Siap, Chef.” Sahut mereka semua nyaris membeo. Beberapa mengamati Taehyung dengan tertarik, beberapa dengan kagum dan sisanya berbisik-bisik menilai seberapa galaknya kira-kira chef baru mereka nanti dari skala 1 sampai Jeongguk.

Jeongguk menoleh ke Taehyung. “Silakan, Chef.” Katanya mempersilakan Taehyung memperkenalkan diri.

Taehyung mengangguk. “Selamat siang semuanya,” katanya dan menerima gumam serentak sebagai jawaban. “Saya Taehyung, pastry chef baru kalian. Sebelumnya saya bekerja di Banyan Tree Bintan di posisi yang sama. Mohon bantuannya selama saya bekerja di sini sebagai atasan kalian. Mari saling memberi feedback mengenai satu sama lain.”

Dia kemudian diam sebelum tersenyum dan menambahkan, “Ada pertanyaan?”

“Nanti saja, Chef di belakang. Agar lebih personal.” Kata CDP Butcher dengan berani walaupun ada Jeongguk yang berdiri di depan ruangan seperti singa dan beberapa mendenguskan tawa ceria.

Jeongguk melemparkan tatapan dingin pada mereka dan semuanya seketika diam.

Namun Taehyung tersenyum, sudah terbiasa menerima godaan semacam itu tiap kali memperkenalkan diri. “Baiklah. Jangan segan untuk menyapa saya jika kebetulan berpapasan, ya.” Dia kemudian mundur ke sisi Jeongguk lagi. “Terima kasih.”

Semuanya memggumamkan kesiapan dan balasan samar-samar.

Jeongguk kembali mengambil posisi. “Hari ini saya mengecek breakfast dan menemukan beberapa makanan yang tidak sesuai standar.” Mulainya dan semua chef dalam timnya seketika mengencangkan ikat pinggang mendengar nada suaranya yang terganggu.

“Selain croissant yang setahu saya sudah ditarik dan diganti dengan batch baru.” Dia menatap timnya satu per satu dengan tatapan yang sama mengintimidasinya dengan yang digunakannya pada Taehyung.

“Telur rebus di menu Telur Bumbu Bali beberapa pecah dan kuning telurnya keluar dan pasti akan merusak rasa sausnya, mengubah teksturnya jadi menjijikkan.

“Tidak ada tamu yang mau mengambil telur pecah dengan bagian kuningnya ke mana-mana. Dan saya lihat malah ada 2 telur yang hanya cangkang putihnya saja. Jika makanan tidak akan ada yang mengambil, itu berarti food waste dan saya tidak suka food waste.

“Tolong untuk menjaga kondisi makanan agar tidak rusak saat dihidangkan dan diperhatikan kualitasnya lagi, Jackson.” Katanya dan Jackson di sebelah Namjoon mengangguk.

“Siap, Chef.” Katanya kering, jelas tidak suka ditegur oleh executive head chef-nya.

“Lalu Sauteed Long Beans hari ini kualitasnya buruk sekali.” Dia berdecak keras dan membuat beberapa anak Kitchen tersentak kecil dengan nadanya. Alis Jeongguk berkerut dalam dan dia nampak benar-benar terganggu dan marah.

Jeongguk memang manusia minim emosi yang dingin dan pendiam, namun emosi kesal, jengkel dan marah nampak begitu mengejutkan di wajahnya. Dia terlihat seperti binatang eksotis yang menantang untuk ditundukkan.

“Kalian ini sebenarnya mau memberi makan manusia atau binatang? Panjang potongannya tidak sama dan tidak rapi, beberapa bagian bahkan saya lihat masih menyisakan bagian pinggir buncis yang seharusnya dikupas atau ujung-ujungnya. Menjijikkan.

“Jika itu saya, saya tidak akan mau makan makanan seperti itu. Kita ini resor bintang lima. Apa semalam anak-anak malam digantikan juru masak warteg jadi makanan yang muncul untuk breakfast hari ini juga kualitas warteg?”

Suara Jeongguk yang keras menjangkau ke seluruh ruangan dengan mudah dan dari tatapan anak-anak sepertinya mereka tidak suka jika Jeongguk sendiri yang mengecek breakfast.

“Tolong sebelum pulang nanti saya di-share menu buffet breakfast untuk besok.” Kata Jeongguk kemudian ke Jackson yang mengangguk mengiyakan. “Dan jangan lupa untuk selalu mengecek kualitas prep sebelum dimasak dan dibawa naik ke restoran.”

“Siap, Chef.” Jackson mengangguk, wajahnya sepat sekali dan Taehyung yakin setelah ini kitchen Bambu akan dihantam badai.

“Saya tidak perlu bicara tentang croissant lagi, ya? Karena sudah ditindaklanjuti dengan cekatan dan saya benci memikirkan food waste-nya. Tolong efisiensi bekerja untuk meminimalisir makanan yang terbuang, Tim.” Dia menambahkan dengan nada sedikit frustasi yang membuat Taehyung yakin masalah food waste ini bukanlah masalah anyar di dapur Banyan Tree.

“Perlu saya sendiri yang memasak semuanya?” Tanyanya kemudian dengan suara dingin penuh ancaman, semua timnya diam dan bergerak-gerak gelisah menyikapi kemarahan Jeongguk.

“Saya, sih, tidak apa-apa. Tapi jika saya sendiri yang mengerjakan semuanya, untuk apa kalian semua digaji?”

Uh-oh.

Ini hari pertama Taehyung bekerja dan dia sudah menyaksikan amukan Jeongguk.

“Tolong selalu mengecek standar makanan. Selalu memerhatikan detailnya. Mereka semua bayar mahal untuk makan di sini, jangan sampai kita memberikan makanan yang cocoknya dimakan di warteg alih-alih hotel bintang lima.” Tandasnya semakin dingin seperti belahan es.

“Do I make myself clear?”

Yes, Chef!”

“Good.” Jeongguk menyapukan tatapan ke seluruh ruangan dan tidak ada satu pun anak buahnya yang berani menatap matanya.

“Besok akan saya cek lagi. Jika masih seperti itu, maka ada yang harus saya lakukan untuk tim Bambu.” Katanya dingin dan kekuatan ancaman itu membuat semua orang menegakkan tubuh dan Jackson nampak siap untuk melempar wajan.

Setelahnya, dia membubarkan semua timnya dan meminta mereka kembali bekerja. Taehyung kembali ke Pastry bersama Yugyeom yang mendesah.

“Dia memang sering begitu?” Tanya Taehyung saat mereka melewati lorong menuju Pastry—buru-buru pergi sebelum harus menyaksikan amukan Jackson ke tim Bambu Restaurant.

“Tidak selalu.” Yugyeom menggeleng. “Tapi memang hari ini breakfast kacau. Saya dengar dari SMM, Bapak GM sendiri yang menegur Chef karena kualitas breakfast hari ini di morning briefing. Lalu ada guest comment card kemarin yang juga mengkritik makanan in room dining yang ternyata salah menu.

“Yah. Hari ini agak kacau.” Yugyeom mendesah, tersenyum lemah. “Anda sepertinya sedang sial karena tiba di hari semuanya sedang kacau dan mood Chef pasti tidak bagus.”

Taehyung memikirkan pembicaraan mereka di ruangannya tadi dan memutuskan bahwa Jeongguk tidak terlalu buruk saat suasana hatinya jelek.

“Yah. Jika kau bilang begitu, croissant tadi juga bukan yang terbaik.” Katanya mendorong pintu Pastry terbuka dan semua commis-nya mengangguk segan pada Taehyung.

“Saya juga akan mengecek semua base untuk pastry breakfast besok.” Katanya dengan suara keras pada timnya yang menatapnya berdiri di depan dapur; sudah mendengar amukan Jeongguk dari commis yang tadi bergabung di briefing.

“Kalian tidak suka, 'kan, dimaki Chef Jeongguk karena kualitas makanan yang kalian hasilkan?” Tanyanya dan timnya sontak menggeleng; memangnya siapa yang mau dicaci-maki seperti itu di depan forum? “Nah. Saya juga tidak.” Kata Taehyung lagi dengan serius.

“Jadi mari bekerja sama.” Tambahnya dan semua timnya menatapnya, kali ini dengan rasa hormat yang jauh lebih tinggi. “Tidak boleh ada satu croissant pun yang melewati pintu itu,” Taehyung mengucapkannya perlahan dengan penuh tekanan, menunjuk pintu tempat makanan keluar dari dapur ke restoran. “Tanpa melewati pengecekan saya atau Yugyeom. Paham?”

“Paham, Chef!”

“Lebih baik saya yang mencaci-maki kalian dibandingkan guest comment card atau Chef Jeongguk.” Tambahnya dan semua timnya mengangguk, sangat setuju.

“Good.” Katanya mengangguk setelah mereka mencapai kesepakatan. “Minggu depan saya akan melaksanakan training food standard untuk semuanya sehingga kita memilili konsep standar yang sama untuk dikerjakan. Saya harap partisipasi kalian semua. Khususnya SC, CDP dan DCDP.”

“Noted, Chef.” Sahut timnya dengan serentak.

“Baiklah.” Taehyung mendesah, senang sudah bisa menemukan ritme bekerja dengan tim barunya walaupun harus menghadapi amukan Jeongguk. “Kembali bekerja. Saya akan mengecek persiapan wedding.” Dia memberi tanda pada Yugyeom untuk mengikutinya.

“Baik, Chef!” Sahut timnya.

*

“Oh. Kau sudah di sini.”

Taehyung tersenyum pada Jeongguk yang baru memasuki loker dalam balutan seragamnya dan menarik lepas topi dan harnet di rambutnya yang lembab. Dia menggoyangkan rambutnya dan mendesah, nampak senang bisa membiarkan rambutnya bernapas.

“Maaf saya mengecek dinner grup di JU-MA-NA dulu sebelum pulang karena menunya sama dengan breakfast hari ini.” Dia meraih kunci loker dan membukanya, mempersilakan Taehyung mengambil pakaiannya.

“Tidak masalah, Chef.” Katanya tersenyum, meraih tasnya yang terisi pakaian dan memindahkannya ke loker di sebelah kanan Jeongguk yang terbuka dan kosong, lokernya.

Jeongguk mengangguk, membuka seragamnya dengan kalem dan Taehyung bergegas mengalihkan pandangan. Mengutuk kadar percaya diri Jeongguk yang pastilah besar sekali karena bisa dengan begitu tenang melepas pakaiannya.

“Kau langsung pulang?” Tanya Jeongguk melepas kemeja chef-nya dan Taehyung menahan diri agar tidak melirik ke cermin yang memantulkan bayangan tubuh Jeongguk.

Bodoh! Pikir Taehyung jengkel.

“Ya, Chef.” Katanya mulai membuka seragamnya juga. “Ada sukulen yang harus saya rawat.” Tambahnya, merasa sedikit lebih bersemangat karena memikirkan dua tanaman baru untuk dirawat sedang menunggunya.

Jeongguk mengangguk. “Kau ingin saya mengikutimu dari belakang lagi?” Tanyanya.

Taehyung mengerjap. Lagi? “Lagi?” Tanyanya bingung dan heran. Memangnya kapan Jeongguk mengantarnya dari belakang?

Jeongguk mengangguk, meraih kaus hitam yang tadi digunakannya dan menyelipkan kepalanya ke dalam lubang lehernya. “Seperti tadi saat saya mengantarmu ke parkiran.”

Oh.

“Oh.” Taehyung tersenyum lega mendengarnya. “Tidak perlu repot-repot, Chef. Saya sudah hafal jalannya.”

Jeongguk mengangguk. “Baiklah.” Katanya lalu menyugar rambutnya dan meraih seragam yang baru tadi digunakannya. “Saya tunggu di depan.” Katanya lalu tanpa menunggu persetujuan Taehyung, dia beranjak keluar untuk mengembalikan seragam ke Uniform.

Maka mau tidak mau, Taehyung bertemu dengannya di depan pintu keluar karyawan, berdiri dengan tegak rambutnya yang disisir ke belakang dan sedang menunduk di ponselnya. Namun sebelum melangkah ke arah parkiran karyawan, Taehyung menyempatkan diri pergi ke Security tempat tadi dia memindai sidik jari sebelum berganti baju dan pulang.

“Pak, maaf. Saya mau mengambil titipan Namjoon untuk Taehyung?” Tanyanya ramah pada Security yang bertugas.

“Oh, ini, Chef.” Sahut Security itu, sudah mengenal Taehyung lalu menarik dari balik meja sebuah kardus yang membuat jantung Taehyung mencelos dengan jengkel.

Kardus itu terisi dua pot sukulen yang lumayan besar, potnya terbuat dari tanah dan nampak sangat berat. Dan Taehyung yakin bagian depan motornya sama sekali tidak akan muat menampung keduanya.

Ingatannya melayang ke diskusi rahasia keempat sous chef itu di Bebek Tepi Sawah beberapa hari lalu dan mulai merasa dia mungkin harus memberikan peringatan pada mereka mengenai hal-hal semacam ini; menjodohkannya dengan Jeongguk, menjebaknya menghabiskan waktu dengan Jeongguk.

Hal-hal itu.

“Wow.” Komentar Jeongguk di balik bahunya, menyelipkan ponsel ke sakunya dan berjalan mendekat. Berdiri di sisi Taehyung dengan aroma pekat rempah dan keringatnya yang membuat Taehyung sakaw. “Kau yakin bisa membawa keduanya di motormu?”

Taehyung ingin menjerit karena perasaan frustasi yang membengkak di jantungnya, tentu saja tidak. Dan memang itulah tujuan setan-setan kecil itu!

Tapi dia tidak bisa marah karena sukulen yang diberikan Namjoon nampak lucu dan menenangkan. Dua bayi mungil menggemaskan yang harus dijaga dan dirawat Taehyung. Jadi dia menghela napas dalam-dalam dan meraih kardusnya.

“Mungkin saya akan bawa satu dulu hari ini dan besok satunya.” Katanya menyesal lalu menatap Security yang ramah tadi. “Saya boleh titip satu di sini dulu, Pak?” Tanyanya.

“Boleh, Chef, boleh. Nanti saya sampaikan pada shift berikutnya.” Security itu mengangguk dan menerima kembali kardus Taehyung sementara chef muda itu meraih satu pot sukulen yang akan dibawanya pulang.

“Kau bawa saja keduanya.” Kata Jeongguk kemudian, setelah diam beberapa saat memikirkan solusi yang tidak terlalu diapresiasi Taehyung.

Taehyung mendesah. Tidak lagi. Pikirnya sebal. “Tidak apa-apa, Chef. Saya bawa besok saja.” Tolaknya dengan tegas, tersenyum pada Jeongguk yang menatapnya dengan alis berkerut—tidak memahami penolakannya.

“Pulang saja dengan saya.” Tukas Jeongguk sedikit memaksa seperti bayi yang merengek saat ibunya tidak memberikan apa yang diinginkannya. “Besok saya antar lagi. Motormu ditinggal di sini saja, aman.”

Ya Tuhan....

“Tidak, Chef.” Tolak Taehyung meletakkan sukulennya dan mendorong kardus itu ke Security yang mengamati mereka tertarik. “Saya tidak mau merepotkan Anda lagi.”

Namun alih-alih berdebat, Jeongguk meraih kardus di tangan Security yang masih menatap mereka tertarik juga sukulen di tangan Taehyung dengan mulus dan tanpa benar-benar berusaha. Tanpa bicara lagi, dia beranjak dari sana meninggalkan Taehyung yang ingin menjerit atau memukul sesuatu karena frustasi.

Jeongguk melangkah dengan satu sukulen di pelukannya dan satu kardus di tangannya yang lain. Melangkah menjauh dengan langkah panjangnya yang khas dan sama sekali tidak repot-repot untuk menoleh untuk mengecek apakah Taehyung mengikutinya karena dia harus melakukannya.

“Dia memang begitu, Pak?” Tanyanya lemah pada Security yang mengulum senyuman; tidak sabar menyebar gosip baru tentang executive head chef dan pastry chef baru mereka.

“Kalau beliau bilang iya, turuti saja, Chef. Nanti ribut.” Security itu terkekeh. “Hati-ati di jalan, Chef. Motornya sudah dikunci stang, 'kan? Aman kok.”

Taehyung mendesah, tidak menemukan cara lain untuk menolaknya. Dia kemudian berpamitan dengan Security itu sebelum berlari mengejar Jeongguk yang sudah lenyap menuju parkiran mobil karyawan.

Berusaha keras tidak menyumpahi chef muda yang sekarang berdiri di sisi mobilnya, sedang meletakkan sukulen Taehyung di kursi penumpang belakang dengan hati-hati agar tidak tumpah ke joknya. Menoleh, menemukan Taehyung terengah-engah mengejarnya.

“Tidak boleh berdebat. Saya lelah.” Katanya lalu memanjat naik ke kursi penumpang sehingga Taehyung mengerang frustasi lalu bergegas berlari memutari bagian depan mobil dan menaiki sisi penumpang.

“Bedebah sial,” pikir Taehyung saat menatap Jeongguk melalui pantulan bayangannya di jendela depan mobilnya.

“Bedebah sial yang kebetulan seksi, panas dan menggoda.” Tambahnya dengan merana saat Jeongguk menginjak gas mobil yang berderum menuju pintu keluar Banyan Tree Bali.

*

SMM: Sales & Marketing Manager

Guest Comment Card (GCC): kartu yg wajib diisi tamu sebelum check out tentang hal apa yg mereka suka dan tidak suka di hotel itu. Feedback tamu ini sangat penting bagi hotel dan kadang didewakan.

Banquet Event Order (BEO): detail pesanan acara dari grup di hotel isinya tanggal acara, lokasi ruangan, menu makanan dan paket, set-up meeting, jumlah peserta, dll yg dikirim ke kepala departemen bersangkutan utk disiapkan.