Sizzling Romance #90
Taehyung merasa pantatnya pasti sudah terkikis habis karena perjalanan yang begitu jauh dari Kuta Selatan, ke Ubud dan ke Kintamani. Pantatnya tidak lagi terasa seperti pantat—apakah kalimat itu masuk akal?
Namun dia sama sekali tidak mengeluh karena perjalanan di dalam Land Rover milik Seokjin yang harum dan bersih terasa sangat menyenangkan. Perjalanannya dari Kuta menuju Ubud juga tidak kalah menyenangkannya kecuali bagian mereka terjebak macet fatal yang menyebalkan dan kata Yugyeom:
“Selamat datang di Ubud dan lalu-lintasnya.” yang sama sekali tidak membantu.
Jalanan Ubud begitu kecil dan begitu ramai oleh wisatawan, warung-warung, restoran, pepohonan sehingga mudah sekali menyiptakan kemacetan yang menyebalkan. Namun syukurlah mereka menjauhi jantung Ubud menuju ke kediaman Seokjin di Sayan yang lebih meneduhkan.
Setibanya di sana, Jimin sudah siap berangkat sehingga mau tidak mau pantat Taehyung harus bekerja keras lagi untuk perjalanan selanjutnya.
Mereka tiba di Kintamani selepas makan siang (terima kasih pada Yugyeom yang mengajak Taehyung berangkat pukul setengah tujuh pagi sehingga mereka bisa tiba di Ubud lebih awal untuk melanjutkan perjalanan) dan Seokjin merupakan orang paling kharismatik, paling menenangkan dan paling mengayomi yang pernah Taehyung jumpai.
Membuatnya tersengat rasa iri jika saja dia bisa bekerja di bawah kepimpiman orang semenakjubkan Seokjin seperti Jimin.
“Baiklah, aku akan memecat pastry chef-ku dan mencurimu dari Jeongguk, bagaimana?” Sahut Seokjin dari kursi depan, mengemudi dengan mulus sepanjang jalan yang dipenuhi jajaran pohon saat Taehyung mengutarakan keinginannya pindah ke Four Season Sayan saja.
“Tapi aku tidak ingin ribut dengan Jeongguk.” Tambah Seokjin kemudian, tertawa ceria. “Dia berkemauan keras. Menurutmu bagaimana lagi caranya dia bisa mencurimu dari Yoongi? Tentu karena Yoongi kalah berdebat dengannya.
“Dia menelepon GM Bintan, membeberkan wedding sales report Bali lalu dengan penuh tekad mempresentasikan betapa Bali lebih membutuhkan pastry chef dibandingkan Bintan yang wedding sales-nya lebih rendah.
“Dan begitulah kenapa kau dipindahkan. In short, what Jeongguk wants, Jeongguk gets.”
Tahyung menyandarkan diri di kursi mengerang karena sejak tadi pembicaraan tidak juga lepas dari Jeongguk, menatap ke langit cerah Bali yang dipayungi awan-awan besar yang nampak empuk. Membuat cuaca menjadi tidak terlalu panas namun dengan angin daratan tinggi yang mengigit.
Sepanjang perjalanan, ada banyak bebungaan liar yang anehnya tumbuh subur dan melambai ceria pada Taehyung. Bunga bakung raksasa, amaryllis merah tebal yang berani, bunga terompet oranye, hydrangea ungu yang gendut, bunga matahari liar, marigold yang ditanam di kebun serta bunga kopi yang aromanya semerbak.
Banyak penjual buah-buahan juga di sepanjang jalan; ada talas, stroberi dan juga nangka—buah-buahan tropis yang nampak lezat dan baru saja dipetik. Dijajakan di pinggir jalan dalam toko-toko sederhana yang kecil dari kayu.
Taehyung menurunkan kaca jendelanya, membiarkan udara sejuk memasuki mobil. Merasakan suhu dingin mengigit hidungnya ditemani hangatnya sinar matahari. Suasana yang menakjubkan, pemandangan lepas ke Gunung Batur dan danau yang membentang di hadapannya membuat Taehyung tidak sedikit pun menyesali perjalanan hari ini walaupun pantatnya terasa ngilu.
Mereka berhenti di sebuah kafe baru yang besar dan nampak ramai, terletak di Jalan Raya Penelokan, Kintamai. Bagian depannya nampak biasa saja, Taehyung sering menemukan tempat-tempat seperti ini di Jakarta dulu dan bertanya-tanya kenapa mereka pergi ke tempat yang biasa saja jika Bali punya banyak sekali tempat untuk dikunjungi?
Semuanya terjawab begitu mereka memasuki tempatnya dan tiba di balkonnya, diantar menuju meja yang sudah dipesan Seokjin.
Pemandangan yang membentang di hadapannya terasa begitu magis dan mendebarkan. Lembah yang hijau pekat segar, langit biru tak pertepi. Gunung yang menjulang, danau di sisinya, hijau pepohonan, hawa sejuk yang bertiup serta matahari yang bersembunyi di balik awan tebal dan suhu dingin membuat seluruh tubuh Taehyung mendadak merasakan hal baru yang belum pernah dirasakannya sebelumnya.
Bali memang memiliki sihirnya sendiri untuk membuat siapa saja bertekuk lutut pada pesona pulaunya—pada pemandangan alamnya yang menakjubkan, pada penduduknya yang ramah, pada budayanya yang sakral dan kental.
Taehyung mulai merasa benar dengan memutuskan menerima transfer yang dilakukan Banyan Tree untuknya.
Dia bersandar di sisi pembatas kaca, menatap lepas ke pemandangan menakjubkan di hadapannya sementara teman-temannya mulai memesan makanan.
“Kau suka?” Tanya Seokjin, tertawa serak di tempat duduknya dengan buku menu di tangannya. “Tentu saja kau suka. Ini pertama kalinya kau pergi ke tempat selain dapur dan kosanmu, 'kan?”
Taehyung mengangguk, tidak menoleh. Dia memejamkan mata, menikmati hawa sejuk dan sinar matahari hangat yang membelai permukaan wajahnya. Sensasi berlawanan yang membuat bulu kuduknya meremang sebagai respon namun dia sangat menikmatinya.
Kelopak matanya bergetar menikmati cahaya matahari yang melimpah. Tempat ini begitu menakjubkan, kenapa dia tidak sering-sering mengambil libur dan pergi ke Bali?
“Masih banyak tempat-tempat magis di Bali yang harus kaudatangi.” Seokjin mengangguk saat Taehyung berbalik, bersandar di pembatas yang kokoh—masih enggan untuk melepaskan cahaya matahari yang hangat dan mengigit walaupun ini sudah siang. “Mungkin kapan-kapan. Dengan rekan yang berbeda.”
Dia berdeham keras, dengan sengaja dan Taehyung menatapnya jengkel.
“Sungguh.” Katanya, bergabung dengan teman-temannya di meja beberapa meter dari balkon. “Memangnya hanya dia lelaki lajang di seantero Bali ini?” Tanyanya mendudukkan diri di sisi Jimin yang sibuk memilih menu.
“Yah, memang tidak.” Seokjin menggulung lengan kemejanya dan menyandarkan diri lebih dalam di bean-bag tempatnya duduk. “Tapi potensi terkuat, 'kan, memang satu orang.”
“Jangan begitu, Chef.” Jimin menjawab kalem, membalik buku menu perlahan. “Nanti ngambek.”
Taehyung mengerang, memutar bola matanya sebal dan bersandar di kursinya. Dia mengeluarkan ponselnya dan mengambil beberapa foto tempat favoritnya itu untuk dipamerkan ke Hoseok nanti.
“Bagaimana rasanya bekerja dengan Jeongguk?” Tanya Seokjin setelah mereka semua memesan makanan.
Taehyung mengendikkan bahu. “Lebih menyenangkan bekerja dengan Yoongi, jujur saja. Yoongi tidak terlalu sering marah-marah atau bersikap seperti orang ambeien, maaf Yugyeom.” Dia mengangguk pada Yugyeom yang tertawa mendengar pembandingannya.
“Tapi, timku solid. Anak-anak aktif yang suka bekerja, mau bergerak maju dan mudah diajak berkomunikasi. Efisien dan menyenangkan. Aku suka. Jadi tidak apa-apa. Toh, dalam hidup tidak semuanya sesuai dengan apa yang kita harapkan.”
“Memang.” Seokjin tersenyum.
“Lalu Chef sendiri?” Balas Taehyung kemudian, sudah menahan diri untuk menanyakan ini setidaknya sejak baru membuka mata pagi ini. “Sejak kapan pacaran dengan Chef Yoongi? Kapan kalian bahkan bertemu?”
Seokjin berpura-pura berpikir sejenak dengan dramatis hingga Taehyung nyaris saja melempar sepatunya ke wajah chef muda kharismatik itu namun akhirnya dia tertawa serak dan menjawab: “Kami memang sering bertemu, kok.” Dia kemudian terkekeh. “Aku, Yoongi dan Jeongguk; kami trio kwek-kwek.”
“Jadi, jika kukatakan Jeongguk adalah pemuda baik dan bertanggung jawab, maka itu valid.” Dia menambahkan, mengerling Taehyung yang mengerang. “Jadi, kami sering berlibur bersama. Aku dan Jeongguk ke Bintan, Yoongi ke Bali atau kami bertiga ke Sumbawa. Suka travelling ala backpacker.”
Yugyeom mengangguk. “Cuti tahunan, 'kan? Aku ingat dia selalu pergi seminggu mengambil long leave. Pulang-pulang dia nampak seperti gelandangan yang kucel dan menjijikkan.”
Seokjin tertawa, terhibur. “Itu namanya, kami menikmati hidup.” Klaimnya ceria. “Tapi itu sebelum Jeonggi hamil karena Jeongguk tidak mau meninggalkan Bali saat adiknya sedang hamil.” Tambahnya. “Tahun ini, aku hanya akan pergi ke Raja Ampat dengan Yoongi.”
“Sekalian bulan madu?” Sela Taehyung dan Jimin terkekeh.
Seokjin memutar bola matanya. “Ada alam indah membentang di hadapanmu dan kau memilih untuk bercinta? Yang benar saja.”
“Ada yang dinamakan multi-tasking, Chef.” Sahut Taehyung lugas dan Seokjin tertawa serak, nampak sangat terhibur. “Kau tetap bisa bercinta dan menikmati alam indah yang membentang di hadapanmu.” Dia mengangguk, nyaris meyakinkan seperti seorang sales.
“Lalu, ya, begitu.” Lanjut Seokjin setelah tertawa. “Jeongguk anaknya jauh lebih pendiam, jadi aku dan Yoongi yang lebih sering berbagi cerita. Duduk berdua setelah Jeongguk tidur, yang selalu begitu dan aku merasa kenapa tidak dengan Yoongi saja? Dia jauh lebih baik dari Jeongguk.” Dia mengerling Taehyung yang membalasnya dengan malas dan terkekeh.
“Yah. Jadi. Begitulah.” Kata Seokjin, mengendikkan bahunya ringan seolah hal itu bukan hal yang besar saat makanan mereka tiba.
Aroma makanan menyadarkan Taehyung betapa laparnya dia sehingga dia bersyukur dia memesan burger dan kentang goreng dan mulai melirik showcase di bar yang terisi keik-keik lucu yang ingin dicobanya.
“Kapan?” Tanya Taehyung, mempersilakan pelayan menyajikan makanan mereka di meja. “Aku baru meninggalkan Bintan setidaknya dua minggu dan terakhir kalinya aku tahu, Chef Yoongi masih sendiri.”
“Minggu lalu, kok.” Sahut Seokjin kalem.
“DAN KATANYA ITU BERITA LAMA?” Seru Jimin dan Taehyung berbarengan.
“Jangan berteriak. Kalian membuatku malu.” Keluh Seokjin melirik sekitarnya, ke orang-orang yang menoleh kaget ke meja mereka karena Jimin dan Taehyung memutuskan untuk bersikap dramatis.
Keduanya menutup mulut mereka dan cukup beradab untuk nampak malu karena kelepasan. Yugyeom terkekeh di kursinya, mulai memakan makanannya dengan khidmat seolah ketiga chef di depannya sama sekali bukan temannya.
“Sebenarnya yang membulatkan tekadku itu malah Jeongguk, yang menyadarkanku bahwa mungkin selama ini aku memang naksir Yoongi namun tidak terlalu menyadarinya karena kami begitu dekat seperti saudara.” Seokjin terkekeh, meraih sepotong onion ring dan menyelupnya ke dalam saus tartar di piring sebelum mengunyahnya.
“Katanya, 'memangnya kau yakin kau tidak naksir Yoongi?' dan aku memikirkannya. Ya memang, sih, dibandingkan Jeongguk aku jelas akan memilih Yoongi—maaf, Taehyung.”
“Kenapa juga harus minta maaf padaku??” Sahut Taehyung, mendelik sebal dan Seokjin tersenyum lebar.
“Jadi aku memutuskan, kenapa tidak coba saja? Jadi, aku mulai meneleponnya tiap malam, lalu mengobrol hal-hal kecil. Merencanakan liburan tanpa Jeongguk dan ternyata rasanya nyaman. Apalagi Jeongguk memang sedang tidak ingin meninggalkan Jeonggi sendirian—padahal anak itu sudah menikah, demi Tuhan. Jadi, ya sudah.
“Saatnya Jeongguk cari pasangan baru alih-alih terus-terusan menganggu kehidupan rumah tangga adiknya.” Seokjin menjejalkan sepotong onion ring lain ke mulutnya dan mengunyah dengan ceria. “Bagaimana denganmu?” Tanyanya ringan pada Taehyung. “Kau tertarik padanya?”
“Pada siapa?” Tanya Taehyung, berpura-pura bodoh dan meraih burger di piringnya, menyuapnya dengan lahap—rasanya lumayan, dagingnya lembut dan juicy, rotinya lezat dan sayurannya renyah.
“Jeongguk-lah, siapa lagi?” Jimin menjawab untuknya. “Dia sekarang sudah akrab dengan Jeonggi. Sering telepon malam-malam dan akan membuat kue bersama seperti saudara kandung.”
Seokjin menatapnya dengan wajah menggoda yang menyebalkan. “Jika Jeonggi suka padamu, maka selamat. Jeongguk akan sangat menyukaimu.” Dia terkekeh dan Taehyung mendengus keras. “Semacam diskon 'beli satu, gratis satu.'”
“Dia sangat overprotektif pada adiknya, dalam konteks yang baik, tentu. Selalu menemaninya dan bahkan mengizinkannya menikah duluan. Seolah jika kau menyakiti Jeonggi, maka dia akan tersakiti dua kali lipat. Begitu juga jika Jeonggi senang.
“Jadi jika Jeonggi memasuki hidupmu, kau juga harus siap Jeongguk memasuki hidupmu. Karena mereka itu kembar dan, kau tahu, 'kan, anak kembar cenderung tertarik pada hal yang sama?” Seokjin melambaikan sepotong onion ring dan menyuapnya.
“Pakaian yang sama.” Lanjutnya setelah mengunyah makanannya. “Sepatu yang sama. Buku yang sama. Makanan yang sama. Orang yang sama.” Dia tersenyum menggoda pada Taehyung yang mendelik, namun tidak ayal merasa berdebar oleh fakta baru yang dikatakan Seokjin.
“Dan, kau tahu, 'kan, anak kembar cenderung tertarik pada hal yang sama?”
Mungkin itulah mengapa sekarang Jeongguk nampak lebih lembut padanya? Bicara dengan lebih sopan dan sedikit (sedikiiiiiiiiit) lebih hangat padanya? Karena Jeonggi menyukainya?
Bukan karena dia menyukai Taehyung?
“Walaupun tidak terlalu mirip, ikatan darah mereka kuat.” Suara Seokjin menampar Taehyung kembali ke bumi dan dia menoleh ke seniornya yang sedang makan seraya bicara. “Kau harus melihat mereka bersama—gerakan mereka sinkron, nyaris seperti bumi dan bulan. Jeonggi bergerak, maka Jeongguk bergerak.
“Jadi bersiaplah.” Seokjin kembali tersenyum membuat jantung Taehyung sedetik terasa berhenti berdetak sebelum melonjak seperti seekor kuda, memukul rusuknya.
“Dan sungguh, Jeongguk tidak seburuk apa yang kaupikirkan. Sering kali orang menyalahartikan sikapnya dengan congkak dan sombong, padahal dia sebenarnya hanya malu dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.” Seokjin melirik Yugyeom yang tertawa, “Benar, 'kan?” Tanyanya dan Yugyeom mengangguk.
“Socially awkward, mungkin lebih tepatnya.” Yugyeom tertawa serak, mengonfirmasi kata-kata Seokjin. “Dia tidak tahu caranya merespon manusia, percakapan semacam ini membuatnya risih. Terlalu blak-blakan sehingga terkadang orang tersinggung karena sikapnya, jadi dia memilih untuk diam. Meminimalisir interaksinya dengan manusia.”
Seokjin mengangguk dan saat dia kembali bicara, Taehyung bisa melihat sayang yang dalam di matanya untuk Jeongguk, “Dia memang manusia berdarah dingin yang pendiam dan judes, aku tahu.
“Tapi dia hangat dan penyayang jauh di dalam sana, kau hanya perlu tahu bagian mana yang harus disentuh.”
*