Sizzling Romance #104
Seokjin benar, Jeonggi tidak semirip itu dengan Jeongguk.
Dia lebih tembam, lebih manis dan menyenangkan. Auranya berbeda 180 derajat dibandingkan Jeongguk yang pendiam. Dia cerewet, ceria dan meledak-ledak. Rambutnya panjang dengan bias pirang stroberi tipis alami yang pasti didapatkannya dari orangtuanya, matanya lentik dan ada tahi lalat menggemaskan di sudut matanya, berjejer tiga membentuk semacam rasi bintang.
Senyumannya menular, tawanya renyah dan Taehyung yakin siapa saja yang bertemu dengannya akan seketika jatuh cinta pada sikapnya. Dan Jeongguk di sana, berdiri di dekat adiknya seperti semacam serigala penjaga yang memberikan kontras menarik pada sikap keduanya.
“Oh. Kau sudah datang.” Kata Jeongguk saat membukakan pintu dengan kaus tanpa lengan tipis dan celana pendek kumal, rambutnya diikat berantakan dengan beberapa anak rambut meleleh di sisi wajahnya—baru bangun.
Aroma tubuhnya membuat Taehyung sedikit mabuk; keringat, selapis parfum, aroma ranjang yang hangat...
“Saya tidak mau menyusahkan Chef lagi.” Taehyung tersenyum, melambaikan kantung plastik di tangannya. “Jadi saya berangkat sendiri dan membeli bahan-bahan yang mungkin dibutuhkan di supermarket yang saya lewati.”
“Oh.” Jeongguk dengan wajah ngantuknya menatap plastik di tangan Taehyung namun sebelum sempat mengatakan apa pun, sebuah suara lain terdengar dari dalam.
“Siapa, Wik?” Suaranya menggemaskan, semanis madu yang meleleh. Hangat dan menenangkan.
“Tamumu.” Kata Jeongguk kemudian dan terdengar suara tekesirap ceria dari dalam sebagai balasannya dan Taehyung melongok melewati bahu Jeongguk yang memenuhi pintu masuk dan bertatapan untuk pertama kalinya dengan Jeonggi.
“Hai, Kak!” Sapa Jeonggi ceria, tergopoh-gopoh menghampiri Taehyung yang membawa dua kantung belanja di tangannya. Dia nampak bersinar dengan perut membuncit dan pipi tembam yang lucu.
Namun hal yang membuat ngeri adalah betapa besar perutnya dan dia nyaris tidak bisa melihat kakinya sendiri saat melangkah. Sekarang Taehyung paham kenapa Jeongguk bersikap sangat overprotektif pada Jeonggi. Dia nampak rapuh dan siap terguling kapan saja seperti bola.
Sebenarnya Taehyung ingin protes karena Jeonggi berjanji padanya Jeongguk tidak akan ada di rumah Sanur hari itu sehingga dia setuju untuk mampir tapi saat berhenti di depan rumah dan melihat Rubicon Jeongguk terparkir di halaman, harapan Taehyung pupus sudah.
“Jangan lari.” Keluh Taehyung, menjatuhkan kedua plastiknya di lantai rumah Jeonggi dan bergegas mengulurkan tangan, ingin meraihnya agar tidak tersandung kakinya sendiri dan terguling berbarengan dengan Jeongguk yang juga (persis seperti kata Seokjin) bergerak sedetik setelah adiknya bergerak.
Mungkin itulah ikatan kembar mereka jika bukan wajah.
Jeonggi nyengir, dia menggunakan bandana di kepalanya untuk menyeka anak-anak rambutnya. Senyumannya seketika menular sehingga Taehyung tidak bisa tidak tersenyum lebar.
“Kata dokter malah harus rajin-rajin olahraga supaya kepala bayinya turun.” Dia kemudian melirik kantung plastik malang yang sekarang teronggok di lantai.
“Lho, Kak Tae sudah belanja?” Tanyanya separo protes dengan suara menggemaskan yang membuat Taehyung bertanya-tanya apakah benar gadis ini sebentar lagi menjadi ibu, seorang PPAT dan sudah menikah tiga tahun?
Melirik Jeongguk yang berdiri di sisinya seperti bodyguard yang menatapnya penuh sayang membuat Taehyung sedikit-banyak paham dari mana sikap manja itu terbit. Siapa yang bisa tidak manja saat memiliki kakak overprotektif yang pasti akan memindahkan gunung untuknya jika dia mau.
“Iya.” Taehyung tertawa lirih. “Sekalian lewat tadi. Biar tidak menyusahkan siapa-siapa.”
“Padahal aku ingin belanja bareng.” Keluh Jeonggi menatap plastik itu seolah bisa membakarnya dengan tatapannya sebelum menambahkan dengan ceria, “Tapi, ya sudah. Ayo, kita masak!” Ajaknya. “Maaf rumahnya berantakan. Aku malas sekali.” Dia mengeluh dan Taehyung bergegas meraih kantung plastiknya sebelum Jeongguk meraihnya.
“Suamimu ke mana?” Tanya Taehyung ringan dan Jeongguk mengikuti adiknya, tidak banyak bicara hanya seperti bulan yang berotasi mengelilingi bumi secara protektif.
“Pergi ke Nusa Penida.” Senyuman terdengar di kalimat Jeonggi. “Dia punya bisnis boat, Kak, menyebrangkan wisatawan. Nusa Penida sedang naik daun, 'kan, jadi bisnis sedang ramai. Paling ramai saat akhir pekan, jadi Wik Gguk selalu datang setiap akhir pekan.”
Rumah Jeonggi berdiri cukup dekat dengan jalan besar dengan halaman yang cukup untuk satu mobil. Kebun sayuran kecil yang sempat dilirik Taehyung saat memasuki halaman dan suasana asri yang menenangkan. Bagian dalamnya terbuka dan terang, sinar matahari memasuki ruangan tanpa kesulitan dan ada pintu ke halaman belakang yang mungil tempat kandang dua ekor kelinci anggora cokelat muda menatap Taehyung melalui celah jeruji dan jendela; telinga dan hidungnya bergerak-gerak, penasaran.
Dia kemudian menoleh, tangannya menyangga punggungnya. Nampak kepayahan dan Taehyung merasakan hatinya nyeri. Begini dia masih ingin berbelanja? Mondar-mandir mengelilingi supermarket dengan perut buncit dan dirinya yang kepayahan?
“Jadi, begitulah.” Jeonggi tersenyum lebar, hingga membentuk kerutan menggemaskan di pangkal hidungnya. “Kita akan membuat apa hari ini?” Tanyanya sementara Jeongguk beranjak ke halaman belakang, mengeluarkan si kelinci untuk bermain di halaman.
Dia berdiri di sisi kandang, satu tangannya masuk ke dalam kausnya menggaruk perutnya dan tangan lainnya mengacak rambutnya sendiri seraya menguap lebar tanpa malu mengawasi si kelinci yang melompat-lompat ceria bersamaan.
“Jangan jauh-jauh, ya.” Kata Jeongguk pada para kelinci seraya menguap dan mengusap wajahnya yang mengantuk. Dia mengerang keras sebelum menggerakkan tubuhnya seolah Taehyung tidak berdiri di sana, nyaris pingsan.
“Bagaimana jika kau duduk dulu?” Tanya Taehyung kemudian, berhasil mengalihkan tatapannya dari Jeongguk ke Jeonggi yang bersandar di konter dapur rumahnya, kepayahan.
“Hamil menyebalkan.” Keluhnya, nampak sungguh membutuhkan duduk. Dia kemudian beranjak ke sofa, membenamkan diri ke sana dan mendesah panjang. “Bayinya besar sekali.” Dia membelai perutnya. “Anggap rumah sendiri saja, Kak!”
Taehyung tersenyum lalu memasuki konter dapur, mulai menata belanjaannya di atas meja. “Mungkin karena kau banyak mengonsumsi karbohidrat dari gula? Kudengar itu bisa membuat bayi menjadi gendut.”
Jeonggi mendongak dari sofa. “Sungguh?” Tanyanya, nampak terkejut. “Aku baru tahu.” Dia kembali meleleh ke sofa, nampak lelah. “Tapi tidak apa-apa, yang penting sehat, ya, Sayang.” Dia menepuk perut buncitnya lalu tertawa.
“Kak, sini! Dia gerak!” Katanya terkekeh ceria.
Taehyung, tidak bisa menahan dirinya sendiri, bergegas keluar dari konter menghampiri Jeonggi yang sedang tersenyum lebar menyentuh perutnya yang buncit dan berjongkok di sisinya.
“Mana, mana?” Tanyanya dan Jeonggi terkikik, dia meraih tangan Taehyung dan meletakkannya di bagian perutnya yang tadi ditendang bayinya.
“Terasa?” Tanya Jeonggi, mendongak menatap Taehyung dengan senyuman lebar dan Taehyung terkesirap tanpa suara saat telapak tangannya merasakan bayi Jeonggi menggeliat dengan perlahan di dalam sana, sikunya menyodok perut Jeonggi dan membuatnya menyembul.
“Itu....” Taehyung mengerjap, takjub dan ngeri bagaimana bisa ada kehidupan di dalam perut seseorang dan bergerak. Di bawah telapak tangannya, kulit perut Jeonggi terasa setipis tisu seolah dengan gerakan keras sedikit benda itu akan robek.
“Sakit, tidak?” Tanyanya pada Jeonggi yang tertawa.
“Tidak, sama sekali. Rasanya malah geli.” Dia tersenyum lalu membelai perutnya dan mengizinkan Taehyung tetap menyentuh perutnya. “Kadang malam-malam gatal karena kulit perutnya kencang, 'kan? Jadi enak kalau dipakaikan minyak dan diusap-usap.”
Taehyung masih takjub saat menyentuh perut Jeonggi. Kehidupannya minim perempuan, dia selalu bekerja dengan lelaki dan perempuan lajang. Berhadapan dengan perempuan hamil yang bisa disentuhnya membuat Taehyung takjub.
Dia merasakan betapa kencang kulit perut Jeonggi dan ngeri sendiri bagaimana jika perut itu meledak? Bagaimana jika sedikit sundulan saja akan membuatnya robek?
“Kak baru pernah bertemu orang hamil, ya?” Jeonggi tersenyum, membelai perutnya dan Taehyung masih berlutut di sisinya, takjub membelai perutnya. “Aneh, ya?”
Taehyung mengangguk. “Rasanya tipis sekali.” Dia mengernyit, ngeri.
Ada sesuatu tentang Jeonggi yang membuat Taehyung ingin sekali melindunginya. Ingin menjaganya, ingin selalu di sisinya dan memastikan dia baik-baik saja. Memanjakannya dan membuatnya senang—membuatnya mendengkur senang seperti seekor singa yang kenyang.
Persis apa yang dirasakannya pada Jeongguk.
Dan mungkin Taehyung sungguh terlambat menyadari bahwa dia tidak seharusnya bertemu Jeonggi karena sekarang hatinya tertambat pada kedua saudara itu dan tidak yakin bagaimana menyikapi cinta ini.
He's fucked up. Big time.
“Tapi aku ingin tetap memasak. Ayo, kita buat apa?” Tanya Jeonggi ceria sebelum mengayunkan kakinya yang gendut dengan ceria dan Taehyung tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak tertawa.
“Tarte tatin.” Kata Taehyung, menegakkan tubuh dan menarik tangannya dari perut Jeonggi. “Atau upside-down pie.” Tambahnya tersenyum. “Aku lihat-lihat dulu alat-alat memasakmu, ya?” Katanya beranjak ke dapur dan mulai mengecek seluruh alat yang mungkin dibutuhkannya saat Jeongguk memasuki ruangan kembali.
Dia beraroma matahari yang hangat, rumput yang baru dipotong dan amis kelinci. Dia menguap lebar setelah memasukkan kelinci kembali ke kandang dan memberi mereka seikat kangkung untuk dimakan. Saat Taehyung melirik, kedua kelinci itu menatapnya mengunyah kangkung dengan khidmat—mungkin menyadari ada orang asing selain ketiga tuannya.
“Wik mandi dulu, ya.” Kata Jeongguk pada adiknya dengan suara serak dan berat. “Akan berangkat lebih awal. Kau, 'kan, sudah ditemani Taehyung di rumah.”
Jeonggi menatap kakaknya tidak suka dan saat melakukannya dia nampak mirip sekali dengan Jeongguk. “Katanya kau akan berangkat jam 11 nanti, ini baru jam setengah sepuluh. Kenapa, sih, buru-buru?”
Jeongguk memutar bola matanya sebelum berlalu dari sana ke kamarnya untuk mandi dan Jeonggi menatapnya sebal sebelum beranjak bangkit dan menghampiri Taehyung yang sedang menata bahan-bahan yang akan digunakannya.
“Karena kita tidak punya waktu untuk membuat pastry base, jadi aku membeli pastry base jadi yang aku suka.” Dia melambaikan pastry base kemasan yang dibelinya—tidak terlalu enak, tapi setidaknya yang terbaik dari kelasnya.
“Cuci tanganmu.” Kata Taehyung lembut dan Jeonggi bergegas menuju bak cuci, menyuci tangannya dengan senang sebelum kembali ke sisi Taehyung yang sekarang menggulung lengan panjang sweter cokelatnya.
Mereka mulai bekerja dengan Jeonggi duduk di salah satu kursi konter setiap sepuluh menit. Jeongguk bergabung di ruang keluarga, menonton televisi dalam balutan kaus hitam longgar dan celana pendek tipis sementara Taehyung dan Jeonggi sibuk di dapur.
Taehyung menghamparkan puff pasrty base di atas meja yang sudah dibersihkan, lalu meletakkan loyang di posisi telungkup di atasnya. Dengan Jeonggi menekan loyangnya, dia mulai memotong puff pastry base itu sesuai dengan ukuran loyang.
Dia menyiapkan ini karena jika dikerjakan setelah isian, maka karamel di apel akan mengeras dan tidak enak saat dipanggang nanti. Bekerja dengan karamel, berarti berpacu dengan waktu karena benda itu cepat sekali membeku kembali dan sulit untuk diolah. Dia menusuk-nusuk base itu dengan garpu agar tidak memerangkap udara di dalamnya dan menggelembung saat dipanggang.
Dengan bantuan Jeonggi, dia memotong buah-buah apel Granny Smith yang dibelinya tadi. Menyucinya, membuang bijinya sebelum membaginya menjadi empat. Lalu Taehyung menuang satu cup gula pasir ke wajan anti-lengket dan memanaskannya.
“Hati-hati, itu bisa membakar tanganmu.” Katanya saat Jeonggi mengaduk karamel yang menggelegak mengancam di atas wajan. “Karamel adalah benda paling membahayakan di pastry.”
Kemudian dia menambahkan mentega dan vanila. Aromanya harum, gurih dan manis membuat Jeonggi tersenyum lebar. Menilik dari keinginan bayinya yang adalah karbohidrat kompleks, aroma karamel yang meleleh bersama mentega dan vanila tentulah menjadi aroma yang sangat menyenangkan untuknya.
Dia terus-menerus menarik napas dengan ceria. Menikmati aroma gula yang memenuhi ruangan dan bahkan Jeongguk mendongak dari tontonanya di televisi. Namun saat Taehyung memasukkan apel-apel segar ke dalam larutan karamelnya, Jeongguk sudah muncul dengan pakaian rapi.
“Maaf, Taehyung. Saya tinggal sebentar.” Katanya dengan aroma parfum maskulin yang mendesak mundur aroma makanan dan apel segar. Mengungkung Taehyung dalam sensasi mendebarkan. “Saya kembali sebelum sore, jadi kau tidak harus lama-lama.” Dia mengangguk sebelum menoleh ke adiknya, menyentil keningnya dan tersenyum.
Senyuman paling hangat, paling penuh kasih dan paling mendebarkan yang pernah Taehyung lihat hingga dia sejenak berhenti bekerja dan menatap Jeongguk seperti orang bodoh.
Bagaimana rasanya jika Taehyung yang dianugerahi senyuman itu setiap hari?
Tapi apakah ada kesempatan untuk Taehyung?
Setelah mengakui pada dirinya sendiri bahwa dia menyukai Jeongguk, hatinya kerap bersikap tidak sopan tiap kali mereka bertemu. Berdebar jauh lebih kuat dan kencang, merona tiap kali Jeongguk menatapnya dan itu membuatnya sedikit tidak nyaman.
Apakah memang begini rasanya jatuh cinta?
Taehyung, seorang executive pastry chef resor bintang lima yang sukses di usia ke-36 tahun, baru tahu bahwa jatuh cinta bisa membuatnya jadi tidak karuan seperti ini. Dia mulai mengutuki jam kerjanya yang sinting dan minimnya perhatian ke orang-orang di sekitarnya.
Kecuali Jeongguk.
Yang pada saat pertama, sudah mencuri seluruh perhatian seluruh saraf dan indranya. Membuatnya lemah dan bertekuk lutut di detik yang sama. Jadi dia yakin, Jeongguk tidak boleh dilepaskan karena bertemu lelaki seperti ini—lelaki yang menumbuhkan perasaan aneh yang sejak awal tidak diyakini Taehyung akan sanggup dirasakannya, tidak akan terjadi dua kali.
“Jangan aneh-aneh.” Katanya pada Jeonggi yang menjulurkan lidah.
Lalu Jeongguk berlalu, derum Rubicon-nya terdengar lembut disusul suara gerbang yang dibuka dan ditutup sebelum hening. Dan Taehyung kemudian teringat masakannya yang nyaris saja gosong.
Dia bergegas mengangkat karamelnya dari atas kompor sebelum kemudian beralih ke puff pastry base-nya.
“Nah, sekarang.” Taehyung meraih apel mereka dan meletakkanya di sisi loyang. “Kita tata mereka di bawah.” Dia meraih dua sendok dan menggunakannya untuk menata apel di bagian bawah loyang.
“Bukan base-nya dulu?” Tanya Jeonggi penasaran di sisinya setelah memanaskan oven seperti yang diminta Taehyung.
“That's why it's called upside-down.” Taehyung tersenyum, menata apel-apel yang berkilau oleh karamel di dalam loyang, menuang sisa karamelnya yang harum ke dalamnya sebelum kemudian membawa base ke atas loyang.
Dia menyelimuti apel-apelnya dengan perlahan sebelum dengan bagian ujung pisau, menyelipkan ujung-ujung base ke bawah apel-apelnya. Dia kemudian berdiri, “Nah, tinggal dipanggang selama 40 menit suhunya 190 derajat.”
Jeonggi membuatkan mereka teh seraya menunggu tarte tatin mereka matang lalu keduanya duduk di teras belakang dengan kedua kelinci Jeonggi dilepaskan kembali. Keduanya berlompatan di halaman, mengendus kaki Taehyung sebelum kembali berlari menjauh.
“Kak Tae orang asli mana?” Tanya Jeonggi dengan secangkir teh chai yang berempah di tangannya.
“Aku?” Ulang Taehyung tersenyum. “Jawa-Dayak. Ayahku orang Dayak. Tapi aku lahir dan besar di Jakarta, jadi jangan tanya aku apa pun tentang bahasa Jawa.”
Jeonggi tertawa ceria. “Orang Dayak, ya.” Komentarnya tertarik. “Pantas saja Kak Tae menarik, ganteng. Gen suku Dayak, 'kan, khas.” Pujinya tulus nyaris seperti anak kecil dan Taehyung tersenyum menerima pujian itu. “Orangtua sehat, Kak?”
“Sehat.” Taehyung mengangguk. “Di Jakarta keduanya. Berdua saja, bulan madu lagi. Aku anak tunggal.” Dia menatap ke kedua kelinci yang sedang bermain bersama; memikirkan harapannya sejak dulu untuk memiliki saudara yang bisa diajaknya bertengkar, bisa dikata-katai.
Seperti Jeongguk dan Jeonggi.
“Kalian?” Tanya Taehyung kemudian, menyesap tehnya. “Orangtua sehat?”
Jeonggi mengangguk. “Ayah kami orang Amerika-Korea, tinggal di Bali sudah lumayan lama. Sekarang mereka di rumah Tabanan, dekat Jatiluwih. Sama. Bulan madu juga,” dia nyengir dan Taehyung langsung membalas senyumannya. “Karena aku sudah menikah dan Wik juga sudah sukses sendiri.”
“Setiap mampir pulang ke rumah, Wik selalu jadi sasaran ejekan karena dari semua cucu-cucu di keluarga Mama, dia sendiri yang belum menikah.” Jeonggi terkekeh, menyesap tehnya.
Taehyung mengenggam gelasnya sedikit lebih erat—haruskah? “Memangnya Chef tidak pernah berkencan?” Tanyanya ringan walaupun jantungnya berdebar-debar menyakiti rusuknya dan dia merasa mual karena tegang.
Apakah Jeonggi akan curiga Taehyung sedang mencari info tentang kakaknya? Atau bahkan curiga Taehyung jatuh cinta pada kakaknya?
“Pernah.” Jeonggi menjawab dengan kalem, tidak curiga maka Taehyung menghembuskan napasnya di bawah tehnya. “Cuma dua kali mungkin, ya? Satunya ketika sekolah chef, lalu satu lagi dua tahun lalu.”
Taehyung menegang, menanti Jeonggi melanjutkan ceritanya. Namun ibu hamil tua itu menatap kelincinya dan memanggil mereka dengan ceria. Salah satu menoleh, telinganya bergerak sebelum melompat ke arah Jeonggi. Dia meletakkan cangkirnya, meraup seekor ke pangkuannya.
“Dua tahun lalu?” Akhirnya Taehyung memberanikan diri bertanya.
Jeonggi mengagguk. “Kejadiannya sama seperti Kak sekarang.” Dia tersenyum. “Chef baru, kepala Bambu Restaurant. Kisahnya sama juga, dia suka pada Wik lalu mencoba mendekatinya. Lalu mereka sering jalan bareng lalu sudah. Selesai. Tidak pernah melangkah lebih jauh dari sekadar makan malam bareng.”
“Lalu sous chef ini mengundurkan diri dan tidak tahu ada di mana.” Jeonggi menambahkan lalu mengendikkan bahu. “Wik selalu begitu.” Katanya meringis seraya memangku kelincinya di atas perut buncitnya dan saudaranya menatap iri dari kaki Jeonggi.
“Dia menyukai seseorang lalu takut duluan apa yang mungkin terjadi. Terlalu memikirkan banyak risiko seolah dia merasa dia tidak berhak bahagia. Sibuk mengurusku yang sudah menikah dan akan punya anak sejak dulu, tidak berusaha untuk membuat dirinya sendiri bahagia.
“Kadang harus dipaksa dulu untuk mengambil waktu demi dirinya sendiri. Makanya Dad senang ketika akhirnya dia berteman dengan Seokjin dan Yoongi karena akhirnya Wik jadi punya agenda untuk bermain memuaskan dirinya sendiri; melepaskan diri dari aku dan keluarga.
“Kami selalu mendukung tiap kali dia pergi ke pulau-pulau lain, ke luar negeri; melakukan apa yang dia sukai. Karena sulit sekali untuk dia akhirnya melakukan itu, terlalu sayang pada keluarga. Mengambil terlalu banyak tanggung jawab yang sebenarnya tidak perlu dia ambil.
“Seperti menemaniku saat akhir pekan. Dia tidak harus melakukannya, kok. Aku bisa cari sitter atau Mama bisa datang, tapi dia menolak semuanya. Katanya itu tugas dia.” Jeonggi mengerang lalu menoleh pada Taehyung, meringis.
“Butuh waktu sampai dia sendiri menyadari perasaannya sendiri, menyadari kebutuhannya sendiri karena dia sibuk menguburnya dengan perasaan orang lain. Semacam, kalau Anggi senang dia senang. Tidak memikirkan sama sekali apakah dia senang? Tanpa digantungkan pada orang lain?
“Dia takut pada perasaan orang. Takut ekspektasi orang pada dirinya sendiri. Takut dia tidak bisa membuat orang lain sebahagia apa yang orang itu lakukan. Takut, takut, takut. Maka dia mundur, menghindari setiap konflik yang melibatkan perasaan. Hasilnya? Jomblo.
“Jadi, yah. Begitulah.” Jeonggi tersenyum lebar. “Maaf jadi kemana-mana.” Dia meringis, menggaruk telinga kelincinya yang memejamkan mata.
Taehyung belum sempat menanggapi ceria Jeonggi saat oven berdenting dan dia disibukkan dengan mengurus tarte tatin-nya yang membuat Jeonggi bersorak senang. Mereka mendiamkannya selama satu jam seraya menemani Jeonggi melakukan senam hamil ditemani instruktur yang ramah, makan siang bersama membuat wraps sebelum memotong kue mereka dan memakannya dengan satu skup es krim di depan televisi.
Jeonggi tertidur di sofa, kekenyangan saat Jeongguk pulang.
“Oh. Kau belum pulang.” Katanya pada Taehyung seraya melonggarkan kerah kemejanya yang menyekik, dia membuka kancing teratas kemejanya dan dia beraroma seperti keringat, parfum dan lalu-lintas.
“Saya terima banyak foto tentang kegiatan kalian hari ini.” Jeongguk menatapnya, memberikannya tatapan itu dan membuat Taehyung berdenyar. Seluruh tubuhnya merespon tatapan itu dengan cara yang sangat membingungkan. “Terima kasih sudah menemani Anggi.”
Bola mata Jeongguk menembusnya, menguliti seluruh dirinya dan membuat Taehyung merasa kecil dan telanjang. Dia bisa saja gemetar di sana, di atas sofa dengan kepala Jeonggi di bahunya dan Jeongguk berdiri di hadapannya, menjulang serupa raja dewa muda yang memesona.
“Jika kau ingin pulang, tidak apa-apa. Saya akan menemani Jeonggi sampai suaminya pulang. Kami sudah cukup merepotkan.” Dia kemudian menambahkan dengan nada ramah yang tidak menyentuh wajahnya.
Taehyung mengangguk, merasa berlama-lama di sekitar Jeongguk mungkin tidak sehat untuk akal sehatnya. Dia perlahan memindahkan kepala Jeonggi dari bahunya dan Jeongguk bergegas menghampirinya, merunduk membantunya menyingkirkan adiknya dari tubuh Taehyung.
Dan aroma tubuh Jeongguk menghantam indra penciumannya seperti banjir bah.
Jeongguk berdiri di sana dengan wajah nyaris sepuluh senti dekatnya dengan wajahnya, dia bahkan bisa melihat tahi lalat di bawah bibir Jeongguk. Garis wajahnya, satu jerawat mungil di dekat hidungnya dan bahkan jambang tipis yang menghampar di atas bibir dan dagunya. Berpikir dengan bodoh, Jeongguk harus bercukur pagi besok.
Taehyung limbung, dia bergegas memindahkan beban tubuh Jeonggi ke Jeongguk sebelum melompat bangun dan membenahi pakaiannya sementara Jeongguk membaringkan adiknya di sofa yang berderit menerima beban tubuhnya, menyelipkan bantal di bawah kepala adiknya sebelum mengantar Taehyung ke depan.
“Terima kasih banyak.” Kata Jeongguk saat melepas Taehyung yang sudah duduk di atas motornya dengan helm terpasang di kepalanya. “Terima kasih banyak sudah menemani Anggi. Padahal kau bisa saja menolaknya.”
Taehyung melemparkan senyuman terbaiknya ke Jeongguk. “Anggi teman saya juga, Chef.” Katanya. “Jadi saya tidak keberatan menemaninya seharian.”
Jeongguk menatapnya lalu sudut bibirnya tertarik sedikit, membentuk senyuman separo yang samar. Taehyung menatapnya, menunggu. Kedua chef itu berpandangan sejenak sebelum Jeongguk berdeham kecil dan mengatakan:
“Tolong, di luar jam kerja, panggil saja Jeongguk.”
Jantung Taehyung berhenti berdetak selama satu detik sebelum menonjok rusuknya dengan kuat.
“Jeongguk.” Katanya, mengetes nama itu di bibir dan lidahnya, mendapati nama itu terasa seperti garam andaliman.
Pedas dan eksotis, membuat lidahnya kaget namun kemudian mencari-cari dengan bingung; menginginkan lebih. Merengek untuk Taehyung menyebutkannya lagi, mendecapnya, menyecapnya.
Dan itulah yang Taehyung lakukan sepanjang jalan dari Sanur kembali ke Kuta. Mendendangkan nama Jeongguk di bibirnya, mengetesnya dengan lembut. Tersenyum lebar walaupun saat terjebak macet menuju Kuta.
“Tolong, di luar jam kerja, panggil saja Jeongguk.”
Dia senang sekali.
*