Sizziling Romance #136 ps. jika ingin melihat perjalanan mereka, silakan setel Gmaps kalian mode satelit dari Kuta Selatan menuju Kebun Raya Bedugul lalu setel Google Earth view di Kebun Raya. It's worthy! ty!
*
“Hai, maaf aku terlambat!”
Jeongguk yang sedang menunduk ke ponselnya mendongak, menarik sudut bibirnya sedikit sebelum menyimpan ponselnya ke saku dan membenahi duduknya.
Aroma mobil pekat seperti aroma tubuh Jeongguk; secercah sabun mandi, parfum maskulin yang tidak mengigit seperti selapis aroma cokelat, aroma parfum mobil yang lembut dan aroma tubuh Jeongguk yang khas. Aroma keringatnya.
Taehyung memanjat naik ke kursi penumpang. Berlari dari kamarnya menuju keluar dan menemukan Rubicon Jeongguk sudah terparkir di sudut parkiran kosan dan mengutuk karena teringat pemuda itu menunggunya nyaris satu jam lebih.
Salah Taehyung juga sebenarnya. Jeongguk sudah tertidur pukul sebelas atau setengah dua belas malam namun Taehyung tidak ingin mematikan sambungan. Alih-alih dia mendengarkan deru napas lembut Jeongguk di seberang sana melalui earphone-nya, tersenyum lebar seperti orang bodoh.
Jeongguk punya kebiasaan menggumam saat tidur, mengeluarkan suara-suara lucu dan Taehyung harus membekap mulutnya keras-keras agar tidak tertawa saat mendengarnya pertama kali. Hanya suara kecil samar, namun begitu menggemaskan hingga hatinya terasa hangat dan sesak.
Jatuh cinta terasa sesinting ini, Taehyung baru tahu.
Hingga akhirnya dia tidak tahan lagi menahan kantuk, menatap tidak ikhlas ke layar ponselnya sebelum mematikan sambungan dan mengirimkan pesan ke Jeongguk. Dia memeluk bantalnya, memejamkan mata dengan senyuman lebar yang menyakiti pipinya.
Sekarang dia nampak segar dengan kemeja cokelat yang menggantung pas di tubuhnya dengan dua kancing teratasnya dibuka, memamerkan tulang belikatnya yang mendebarkan. Wajahnya halus, ada ruam merah di beberapa bagian dan Taehyung menyadari dia baru saja bercukur.
Rambutnya disisir rapi, memamerkan keningnya yang tinggi dan dia terlihat hangat dan lembut. Ekspresi wajahnya rileks, paling rileks sejak sekian lama Taehyung mengenalnya. Dia nampak nyaris... antisipatif dengan perjalanan ini.
“Tidak masalah.” Katanya dengan ringan seolah menunggu selama satu jam bukanlah hal yang sulit baginya, dia memasang sabuk pengaman yang tadi dilepasnya. “Tolong sabuk pengamanmu.”
Taehyung mengangguk dan memasangnya, Jeongguk baru memalingkan wajah darinya saat dia sudah melihat sabuk pengaman Taehyung terpasang dengan suara klik keras.
“Sudah sarapan?” Tanya Taehyung, membenahi duduknya setelah memasang sabuk pengaman. “Aku belum menyuci kotak bekalmu jadi mungkin aku kembalikan besok, oke?”
Jeongguk mengangguk, menyalakan mesin mobilnya yang menggeram lembut di bawah mereka. “Tidak masalah.” Katanya lagi sebelum memasang sein dan bergabung ke jalan raya yang mulai ramai.
Perjalanan mereka melewati bagian tengah pulau Bali (setidaknya begitu yang dibaca Taehyung di peta digitalnya karena Jeongguk menolak membacanya karena dia sudah sering mengambil jalan itu jika pulang ke rumah orangtuanya), Taehyung sangat menyadari saat mereka perlahan meninggalkan perkotaan persis seperti perjalanannya dengan Seokjin.
Saat perlahan pemukiman penduduk semakin jarang dan melonggar, persawahan dengan terasering rapi membentang sejauh mata memandang, itulah saatnya Taehyung menurunkan jendela.
Dia menoleh ke Jeongguk yang mengemudi dengan satu tangan, bersandar dalam di kursinya; menikmati perjalanan. “Aku boleh buka jendela?” Tanyanya.
Jeongguk mengangguk, dia mengulurkan tangannya yang bebas dan mematikan air conditioner mobil dan menekan tombol kendali di pintunya sehingga jendela di sisi Taehyung turun.
Angin langsung menghantam wajah Taehyung dan dia tersenyum. Dia menikmati perjalanan itu semaksimal mungkin, berkendara menjauhi kota tempatnya bekerja berjibaku bersama lalu-lintas yang padat dan aroma bahan bakar, menjauh mencari suasana yang lebih hijau dan sejuk.
Dia menoleh, untuk mengatakan pada Jeongguk apakah dia boleh memutar musik dan seketika menyesalinya.
Jeongguk sedang menumpangkan satu sikunya ke jendela yang terbuka, rambutnya berkibar di sisi wajahnya sementara tangannya yang lain memegang roda kendali dengan rileks. Wajahnya nampak damai dan tenang, matanya berkilau oleh perasaan nyaman yang aneh.
Dia nampak seindah dewa kuno dan Taehyung mustahil mengabaikan keindahan ragawinya apalagi saat mereka duduk di dalam mobil yang membelah jalanan kecil dengan persawahan di sekitarnya.
“Aku sengaja memilih jalan yang agak memutar,” katanya kemudian membuat Taehyung tersentak karena sejak tadi mengamati Jeongguk tanpa berkedip. Jadi dia bergegas memalingkan pandangan. “Pemandangannya lebih menyejukkan daripada jalan utama yang biasa.”
Dia menoleh, melemparkan senyuman tipisnya tanpa aba-aba dan membuat Taehyung nyaris saja mati oleh serangan jantung seraya menambahkan, “Kuharap kau suka?”
Taehyung membalas senyumannya, dengan hati hangat yang membuncah dan membuatnya pening oleh terlalu banyak adrenalin. Rasanya seperti dia baru saja menyelesaikan servis panjang dan adrenalin membanjiri tiap pembuluh darahnya, dia pening.
“Suka, tentu.” Katanya dengan jantung berdebar; berusaha keras nampak tenang dan kalem dengan seluruh organ dalamnya yang sedang terguncang. “Terima kasih sudah sangat perhatian.”
Jeongguk menyeka rambutnya. “Kembali kasih.” Dia kembali menatap jalanan dan Taehyung memalingkan wajah, takut Jeongguk menyadari wajahnya yang terasa panas dan pipinya yang nyeri karena senyumannya.
“Kau mau memutar musik?” Tanya Jeongguk, menjulurkan tubuh ke perangkat audio mobilnya dan menekan beberapa tombol. “Masukkan saja kabel dataku yang ada di dasbor di depanmu atau flash-disk-mu.”
Taehyung langsung menerimanya dengan senang hati. Dia menarik kabel data yang disimpan Jeongguk dan langsung menyambungkan ponselnya ke perangkat itu sementara angin semilir membelai wajahnya yang mulai terasa tebal dan lengket oleh kotoran namun dia tidak keberatan sama sekali.
Dengan lagu dari playlist Spotify Taehyung mengalun, mobil Jeongguk melaju membelah jalanan hingga akhirnya mereka tiba di jalanan yang mulai agak menanjak dan suhu mulai turun walaupun matahari masih terasa mengigit.
Taehyung suka sekali suhu ini. Dingin dan matahari yang panas. Dia mendongak ke langit yang cerah dan tersenyum; menikmati sekali perjalan yang sedang dilewatinya. Jeongguk di sisinya menggumamkan lagu di bawah napasnya, nyaris tidak terdengar dan Taehyung senang mendengarnya; berarti dia juga menikmatinya.
Jalanan menuju Bedugul menanjak dan di kanan-kiri Taehyung sekarang bebungaan tropis mengedip padanya, melambai menyapanya. Pemandangan lembah hijau berkabut lepas memanjakan matanya yang lelah menatap gemerlap perkotaan. Bunga-bunga lonceng berayun di tangkainya terkena angin pegunungan, orang-orang berlalu-lalang dengan jaket dan topi di kepala mereka.
Matahari sudah mulai naik, tapi hawa dingin masih terasa mengigit. Taehyung suka perasaan itu; hawa sejuk yang berhembus sementara matahari bersinar agak terik.
Taehyung agak mengigil oleh perubahan suhu Bedugul dan dalam hati mulai merapalkan kutukan yang melibatkan bisul bernanah dan sembelit berkepanjangan pada Jimin karena menyuruhnya menggunakan kemeja tipis karena akan panas.
Dia punya perhitungan dengan Jimin nanti.
Nanti setelah kencannya hari ini berakhir.
Namun Jeongguk tidak nampak terganggu dengan suhu itu, dia menikmati perjalanan dengan sangat santai walaupun suhu mulai mengigit ujung hidung Taehyung namun cahaya matahari yang menyinari permukaan membuat rasa dingin itu sedikit terobati.
Tanaman-tanaman di sekitar sana tumbuh dengan subur. Daunnya hijau cerah, bunganya berwarna-warni menyolok mata; semuanya nampak indah. Bunga-bunga mawar liar dengan kelopak-kelopak gendut yang merekah sempurna berayun di tangkainya, suara obrolan orang-orang, pohon-pohon jeruk yang berbuah di sisi jalan dengan pohon-pohon pendek bunga marigold besar-besar yang cerah dan gendut sebagai pagarnya.
Pohon-pohon bunga hydrangea biru dan ungu yang merekah ditanam liar hingga Taehyung mendesah. Dulu saat dia bekerja di Bintan, bunga itu mahal sekali per tangkainya. Dan di sini, mereka menanamnya di kebun dan tumbuh subur serta liar. Diinjak-injak anjing liar yang mengonggong ceria bercanda dengan temannya.
Taehyung tersenyum lebar.
Dan Jeongguk menyadarinya dari spion tengah mobil, dia juga tersenyum. “Kau suka?”
Taehyung tertawa kecil. “Tentu saja aku suka!” Katanya sedikit terlalu histeris oleh adrenalin di tubuhnya tapi peduli setan, dia senang dan dia akan menunjukkannya. “Ini menakjubkan! Lihat semua bunga-bunga itu, bagaimana mereka bisa tumbuh sesehat itu??”
Jeongguk tersenyum kecil. “Hawa dingin dan sinar matahari.” Sahutnya melirik satu pohon mawar yang berbunga dengan lebat saat mobil memelan karena kemacetan di jalan tanjakan utama yang curam menuju Bedugul.
“Kombinasi yang tidak mungkin didapatkan di kota besar.” Tambahnya pada Taehyung yang sekarang nampak seperti seekor anjing kecil yang menjulurkan kepalanya ke luar jendela, menikmati cahaya matahari yang hangat dan angin yang sejuk.
“Awas kepalamu.” Kata Jeongguk mengingatkan, mengganti tangannya yang berada di roda kemudi dan menarik pakaian Taehyung dengan mata melirik bergantian ke Taehyung dan jalanan di depannya. “Bahaya.”
Taehyung merasakan hentakan itu dan menarik tubuhnya mundur. “Maaf, terlalu senang.” Dia melemparkan senyuman lebar pada Jeongguk, merasa konyol karena bersikap seperti anak kecil di depan Jeongguk.
Pembelaan dirinya? Tidak ada.
Dia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri di titik ini. Semua hal yang dilakukannya, semua perasaan yang dirasakannya, semua reaksi tubuhnya adalah hal baru yang asing untuknya.
Dia bukan lagi Taehyung yang lama, dia merasa seperti baru saja lahir kembali dalam balutan selimut hangat yang harum memabukkan bernama cinta.
Jeongguk mengangguk. “Understanable.” Katanya. “Nanti saat kita tiba di tujuan, akan kubiarkan kau melakukan apa pun yang kauinginkan. Jangan di jalanan.” Dia memasukkan perseneling, menginjak gas untuk melewati tanjakan curam naik.
Mobil berderum saat berusaha menundukkan jalan tanjakan itu dan Taehyung mengagumi keterampilan Jeongguk di balik roda kemudi karena mobil naik dengan mulus tanpa masalah dan saat Taehyung menoleh ke luar jendela, dia tersenyum lebar menikmati pemandangan kota dari ketinggian.
Dia akan berterima kasih pada Seokjin nanti karena telah menyarankan destinasi ini.
Kemudian mereka mulai memasuki jalanan yang dipenuhi dengan penjual buah-buahan yang membuat Taehyung tersenyum lebar. Stroberi-stroberi yang dipajang di atas meja begitu ranum, merah dan besar sehingga dia tergoda untuk berhenti dan membelinya.
“Tidak usah.” Kata Jeongguk seolah bisa membaca pikirannya, masih fokus mengemudi. “Aku sudah revervasi wisata petik stroberi tidak jauh dari sini, kau boleh petik sebanyak apa pun stroberi yang kauinginkan sampai mabuk. Tidak akan ada yang melarangmu.”
Dan itu adalah kalimat paling panjang yang pernah Taehyung dengar diucapkan Jeongguk selain makian karena pesanan terlambat atau kacau.
“Kau boleh petik sebanyak apa pun stroberi yang kauinginkan.”
Taehyung mengigit bagian dalam pipinya sendiri agar tidak tersenyum lebar. Bagaimana caranya dia bersikap tenang dengan hati yang melonjak-lonjak bahagia seperti ini?
Bagaimana caranya manusia di luar sana bertahan dengan kekasih mereka, menikah dan bahagia selamanya dengan perasaan seperti ini di dalam hati mereka? Tidakkah mereka lelah atau meledak karena perasaan ini? Hati Taehyung sekarang terasa begitu penuh dan membuncah, dia takut sekali dia akan meledak karena perasaan ini.
Apakah ini hanya terjadi padanya? Bagaimana cara mereka mengontrol diri?
Mengontrol agar tidak meraih kekasih mereka di mana saja mereka berada hanya untuk meyakinkan diri bahwa mereka nyata? Tidak menatap mereka seperti orang bodoh karena mereka nampak seindah mimpi yang bisa saja lenyap jika suatu saat mereka terbangun?
Tidak menjerit dan tidak tersenyum lebar seperti mesin mainan yang rusak?
Taehyung butuh diajari karena dia sama sekali tidak tahu caranya. Dia hanya ingin meraih Jeongguk, menyentuhnya cukup lama untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa pemuda itu nyata dan memang sudah menawarkan dirinya untuk menemani Taehyung sekarang.
Duduk di sisinya, mengemudi untuknya.
Memesankan tempat untuk menghibur Taehyung.
Menjemput Taehyung dan bahkan tidak menelepon Taehyung terus-menerus saat dia harus menunggu nyaris satu jam lebih lamanya di depan sana.
Apakah salah jika Taehyung mulai berharap Jeongguk juga memiliki perasaan untuknya? Perasaan yang sama?
Mobil kemudian muncul di jalanan yang ramai dan agak macet dengan pasar tumpah-ruah ke jalanan. Pohon bunga lonceng memayungi jalanan dengan bunga-bunga kuning yang bergoyang, aroma lembab yang menyejukkan indra penciuman, seluruh permukaan daun nampak basah oleh kabut yang meleleh dan suara riuh pasar dan warna-warninya yang menyihir Taehyung.
Pedagang menjajakan jualan mereka di pinggir jalan; ada terong-terong ungu mungil yang bertumpuk dalam keranjang kayu, paprika-paprika segar yang merona dan mengilat, berikat-ikat pokchoi yang sehijau zambrud, kol-kol raksasa bulat segar, brokoli, kembang kol, tomat-tomat segar, wortel...
Buah-buahan segar yang sudah dan belum pernah dilihat atau dicicipi Taehyung, pisang bertandan-tandan, keripik-keripik dalam bungkusan plastik bening dan stroberi-stroberi; lebih banyak lagi stroberi yang dikemas dalam kemasan plastik mika.
Mata Taehyung nyaris orgasme saat seluruh warna itu memanjakannya. Dia menatap ke semua arah yang bisa ditatapnya, mencoba mengabadikan semuanya dalam memorinya.
Setiap warna, setiap bentuk, setiap aroma dan rasa.
“Aku harus beli stroberinya.” Cetus Taehyung saat melewati pedagang stroberi ranum yang tersenyum padanya, menawarkan jualannya. “Apa pun katamu. Kita akan mampir ke pasar itu nanti, kau harus menurut padaku karena aku harus membeli buah-buahan itu.”
Jeongguk mendenguskan tawa kecil. “Baiklah, Yang Mulia.” Katanya setuju saat berbelok di pertigaan dengan tugu jagung raksasa Candi Kuning di tengahnya membuat Taehyung menahan napasnya, berusaha kuat tidak menyambar Jeongguk dan menciumnya di bibir saat itu juga.
“Nanti kalau begitu.” Tambahnya.
Jalanan mereka kemudian kecil dengan penjual tanaman di sisi-sisinya. Taehyung menoleh ke luar jendela, menikmati tiap anggrek dan mawar yang melambai ke arahnya, kelinci-kelinci lokal yang menoleh dari dalam kandang mereka.
Lalu mereka memasuki wilayah Kebun Raya yang ramai dengan mobil dan bis. Jeongguk merogoh sakunya, mengeluarkan dompet jauh lebih cepat dari Taehyung dan membayar tiket masuk mereka. Bergegas berjalan sebelum Taehyung sempat memikirkan apa yang terjadi.
“Kau akan selalu melakukannya, 'kan.” Katanya sebal dengan mata memicing.
Jeongguk tersenyum tipis. “Hanya jika aku bisa.” Lalu dia mengerling Taehyung dengan jenaka. “Yang berarti selalu. Karena kau lambat sekali untuk ukuran seorang chef.”
Taehyung kembali tersenyum lebar. Jeongguk melemparkan guyonan padanya? Dia pasti sudah menyelamatkan satu negara di kehidupan sebelumnya sehingga bisa membuat Jeongguk tersenyum seperti itu.
“Kau sudah tahu di mana saja kau harus merogoh dompet dan aku tidak, oke? Jangan bawa Balinese superiority-mu kemari.” Balas Taehyung sementara mobil melaju memasuki Kebun Raya yang ramai.
“Kau hanya lambat.” Sahut Jeongguk. “Dan tidak mau mengakui kekalahanmu.”
“Kau curang.” Balas Taehyung.
Dia hanya mendengus kecil dan Taehyung tersenyum simpul. “Mari kita cari lokasi.” Gumam Jeongguk kemudian, menjalankan mobilnya di jalanan kebun raya yang luas.
Sejauh mata memandang, hanya ada pohon-pohon raksasa yang meneduhkan. Rerumputan hijau dan bersih menghampar di sepanjang ruang kosong. Aromanya sejuk sekali dan Taehyung menghela napas dalam-dalam, menikmati suasana itu.
Bunga-bunga gerbera berwarna pastel ditanam berjajar di pembatas jalan masuk-keluar kebun raya dan Taehyung menatapnya dengan ceria. Ada air mancur di tengah persimpangan jalan dengan patung raksasa dan lebih banyak gerbera berwarna cerah ditanam di sana.
Mobil diparkir berjajar di badan jalan, menyisakan cukup ruang untuk mobil-mobil lain melewati jalanan di sisinya. Tempat itu sejuk, luas dan terbuka. Langit biru cerah membentang di atasnya, hamparan rumput hijau dan pepohonan raksasa di bawahnya.
Sempurna sekali.
Jeongguk membelok, dia mengemudi terus ke atas sebelum berhenti di sisi jalan ke arah tanah lapang yang hangat dengan pemandangan lepas danau. Ada banyak keluarga yang menghamparkan tikar di atas rerumputan, menikmati makan siang dengan keluarga seraya bercengkrama.
Anak-anak bermain di sekitar mereka, menjerit dan berlarian dengan bola di tangan mereka. Tertawa ceria, suaranya menggema dan memantul ke telinga Taehyung.
“Yah.” Keluhnya saat menyadari mereka tidak memiliki persiapan sama sekali. “Seharusnya kita bisa piknik juga hari ini. Aku bangun kesiangan dan kita tidak mampir ke mana pun tadi.” Katanya menatap iri ke keluarga yang sedang menikmati waktunya.
Apakah masih sempat jika mereka mampir di pasar tadi membeli beberapa buah dan makanan?
“Hm.” Begitu jawaban Jeongguk saat dia memasang rem tangan dan menyabut kunci dari lubang starter. “Ayo, turun.” Katanya lalu membuka pintu di sisinya.
Taehyung bergegas menyusulnya, masih sedikit jengkel karena dia tidak tahu dia benar-benar bisa melakukan piknik di sana dan nampak sangat menyenangkan. Tahu begitu dia bisa meminta tikar dan membeli makan di mini market atau pasar yang mereka lewati tadi.
Dia berdiri di sisi jalan bagian dalam yang terdekat dengan tanah lapang. Menatap pemandangan yang membentang di hadapannya, danau di kejauhan nampak tenang dengan bukit rendah membingkainya. Nyaris seperti gambar dari buku cerita anak-anak dengan pepohonan rimbun, udara sejuk dan matahari yang menghangatkan tubuhnya.
Jeongguk membanting pintu bagasi mobilnya menutup dan Taehyung menoleh, hanya untuk mendapati pemuda itu sedang mengepit tikar di bawah ketiak kanannya dan menenteng keranjang piknik di tangannya. Tangan kirinya yang bebas digunakan untuk memijit tombol kunci di remote mobilnya yang berkedip meresponnya.
Taehyung kehabisan kata-kata. Dia baru mengatakan pada Jeongguk dia akan berwisata malam hari sebelum berangkat dan bajingan seksi itu sudah menyiapkan begitu banyak hal.
Memasak makanan piknik mereka, menyiapkan peralatan dan bahkan mereservasi wisata petik stroberi!
Taehyung sungguh tidak tahu lagi harus mengatakan apa selain dia sudah jatuh sangat dan begitu dalam pada perasaan cinta yang tidak bisa ditampungnya lagi.
Jika Jeongguk tidak merasakan hal yang sama, maka Taehyung akan mengajukan pengunduran diri dari Banyan Tree pergi bekerja ke pulau terpencil berusaha melupakan Jeongguk seumur hidupnya, menyoret Bali dari daftar destinasi wisatanya selamanya.
Karena profesionalisme Taehyung pun memiliki batasnya. Dan mantan gebetan sama sekali tidak masuk dalam hal yang bisa ditoleransi profesionalisme apalagi jika Taehyung telah diperlakukan semanis ini.
“Kau mau piknik?” Tanyanya tersenyum dan membuat Taehyung menahan napasnya karena senyuman itu begitu lepas dan rileks, Jeongguk nyaris nampak seperti anak kecil yang terlalu bersemangat.
Rambutnya tergerai, beberapa anak rambut jatuh di keningnya. Dia berdiri di sana, beberapa meter dari Taehyung dengan kemeja halus, celana jins dan sepatu boots tinggi, wajahnya merona oleh udara dingin dan senyuman menakjubkan bermain di bibirnya.
“Maka ayo piknik.”
Taehyung mulai bertanya-tanya, kenapa hatinya yang malang tidak juga meledak oleh perasaan cinta yang melumpuhkan ini? Sebegitu kuatnya-kah hatinya yang lama tidak merasa ini menangguhkan perasaan asing yang sekarang tumpah-ruah ke seluruh sistemnya?
Meracuni tiap sel, tiap saraf dan organ dalamnya. Membuatnya mustahil untuk bersikap tenang dan mengendalikan ekspresinya. Mengendalikan otot-otot wajahnya yang selalu saja tertarik membentuk senyuman lebar bodoh tiap kali dia berdekatan dengan Jeongguk.
Benar kata Yoongi beberapa tahun silam saat Taehyung mengutarakan keinginannya untuk melajang selamanya dan mulai muak pada tekanan keluarganya agar dia segera mencari pasangan hidupnya.
Mengakui diri sebagai seorang homoseksual pada keluarganya tidak membuat tekanan itu melunak, setelah satu tahun yang berat karena Taehyung melemparkan bom ke orangtuanya, akhirnya mereka menerimanya.
Berat dan sulit, tentu saja. Taehyung anak tunggal. Lelaki satu-satunya. Namun sekarang ibunya sudah mulai kembali centil menanyai siapa kekasihnya, setiap kali mereka berkomunikasi melalui video call dan secara harfiah, di setiap kesempatan.
Taehyung akhirnya muak dan memutuskan dia tidak butuh pasangan selama dia memiliki pekerjaan yang mapan dan uang. Dia bisa hidup sendiri, dia mandiri dan kuat. Untuk apa pasangan?
“Suatu hari, kau akan menemukan seseorang yang membuatmu ingin menikah. Ingin memiliki hidup stabil yang menyenangkan. Ingin bertemu dengannya setiap saat, ketika bangun dan sebelum tidur.” Kata Yoongi, tersenyum pada Taehyung seolah mengejek kenaifannya atas hidup.
Dan sekarang, saat dia bertemu mata dengan Jeongguk dia menyadarinya. Seperti dihantam kekuatan tak kasat mata yang membuatnya lemah. Seperti ditonjok di bagian ulu hati dan Taehyung jatuh di atas lututnya, tidak memiliki tenaga untuk bangkit lagi.
Dia jatuh cinta.
Dan dia ingin memiliki hidup stabil yang menyenangkan. Ingin melihat Jeongguk setiap saat; ketika terbangun dan sebelum tidur. Kapan saja matanya berkedip, dia ingin Jeongguk ada dalam pandangannya.
Karena Jeongguk adalah neraka pribadinya dan Taehyung dengan senang hati melompat ke dalamnya, merengkuh kematiannya sendiri.
*