eclairedelange

i write.

ps. unedited bcs im tired, sorry hehe


“Halo, Kesayangan Tio!”

Jeonggi mendongak kaget, dia sedang menunduk memberi ASI Divya yang matanya sekarang terbuka sempurna saat Taehyung mendorong pintu ruang inapnya dengan seruan keras.

Taehyung tertawa kecil , “Maaf, maaf, apakah aku mengangetkanmu?” Dia melepas jaket yang digunakannya saat berkendara tadi, meletakkannya di atas sofa.

Beranjak ke sisi ranjang Jeonggi dan mengecup pipinya sayang seraya meletakkan kantung kertas yang terisi kontainer Jeongguk—di dalamnya ada kue bronis yang masih hangat.

“Tidak apa-apa, aku pikir siapa.” Desah Jeonggi tertawa kecil, kembali menunduk, menekan-nekan payudaranya agar air susunya mengalir keluar dengan lancar. Dia meringis, mengeluarkan suara napas tajam yang membuat Taehyung menoleh.

“Kenapa?” Tanyanya, berhenti di depan pintu kamar mandi hendak mencuci tangan.

Jeonggi mengernyit, berusaha keras menahan erangannya. “Divya menyedot putingku terlalu keras.” Keluhnya lalu mendesis menahan sakit seperti sedang kepedasan.

Taehyung meringis, tidak sungguh-sungguh memahami bagaimana rasanya tapi dari ekspresi Jeonggi yang berkerut menahan sakit itu pasti sangat menyiksa. Dia bergegas mencuci tangannya dengan sabun sebelum keluar, ingin menemani Jeonggi yang sekarang berwajah lucu karena menahan sakit.

“Ke mana suamimu?” Tanya Taehyung.

Jeonggi menghela napas tajam, menahan sakit di payudaranya sementara Divya minum dengan rakus di pelukannya. “Ada urusan ke tempat kerja, kataku tadi tidak apa-apa karena tahu Kak Tae akan datang.” Dia menekan bagian atas payudaranya, menatap Taehyung dengan wajah berkerut menahan sakit.

Taehyung mengulurkan tangan, mengusap lengan atasnya dengan lembut—berusaha membantu mengurangi rasa sakit yang dirasakan Jeonggi. Divya kemudian melepaskan puting Jeonggi dan Taehyung menatap dengan ngeri saat melihat bercak kemerahan dan ujungnya yang pecah.

Namun Jeonggi tidak nampak terganggu, dia menyeka tetesan ASI dari ujungnya dengan tangan. “Masih lapar?” Tanyanya lembut. “Sudah?” Dia kemudian mengulurkan telunjuknya ke bibir Divya, mengecek apakah bayi itu masih ingin minum—jika dia masih menyedot jari Jeonggi, berarti dia masih lapar.

Divya tidak bereaksi pada jari Jeonggi, jadi dia memasukkan kembali payudaranya ke dalam pakaiannya. Tidak sama sekali mengecek putingnya yang luka dan Taehyung menghela napas; perempuan memang makhluk paling kuat di dunia ini.

“Kak Tae, boleh tolong gendong sebentar?” Tanya Jeonggi kemudian dan Taehyung bergegas mengulurkan tangan, membentuk buaian dan menerima buntalan menggemaskan yang sekarang menguap kecil.

“Sayang Tio,” gumam Taehyung menatap Divya yang balas menatapnya dengan matanya yang berkilau—nampak seperti mata Jeongguk dan Jeonggi sementara sisa wajahnya adalah wajah Arya.

Jeonggi membenahi pakaiannya, menekan payudaranya dengan telapak tangan dan mengusapnya dengan gerakan melingkar. “Berdenyut,” katanya setengah mengeluh dan setengahnya lagi geli.

“Makan bronis saja dulu, aku yang akan menggendong Divya.” Kata Taehyung, menimang Divya yang menguap kecil lagi; bibirnya terbuka membentuk O mungil yang menggemaskan dan matanya tertutup. “Tidur saja jika kau mengantuk.” Goda Taehyung lembut dan Divya menatapnya.

Seringkali Taehyung berpikir bagaimana anak itu tidak menangis saat digendong begitu banyak orang. Dia diam, tidak menuntut, tidak rewel dan begitu menggemaskan. Kata Jeonggi, mungkin karena dia sering mendengar suara Jeongguk dan Taehyung semenjak dalam kandungan sehingga dia tahu mereka adalah keluarga.

Taehyung mengecup keningnya dengan gemas, “Cepat besar, yaa! Nanti Tio ajak jalan-jalan!” Dia berdendang, bergerak ke kanan dan ke kiri dengan lembut, membuai Divya sementara ibunya membongkar kantung kertas dan mengeluarkan kontainer yang berat dan hangat.

Dia membuka tutupnya dan mendesah, menemukan beberapa potong bronis cokelat dengan remahan Oreo yang melimpah. Dia meraih sepotong, menggigitnya. “Astaga.” Desahnya saat merasakan tekstur makanannya.

Bronis itu meleleh dalam mulutnya, luarnya renyah namun bagian dalamnya begitu lembut dan kenyal—gooey dengan cokelat yang meleleh, potongan besar cokelat hitam yang utuh di dalamnya, remahan Oreo di permukaannya... Rasa manisnya, walaupun terisi begitu banyak cokelat tetap pas, tidak membuatnya mual karena pahit yang meledak dari potongan-potongan cokelat hitam di dalamnya.

Dia menjejalkan sepotong ke mulutnya.

Taehyung tersenyum simpul. “Kau suka?” Godanya saat Jeonggi menjejalkan potongan kedua ke mulutnya.

“Tentu saja suka!” Katanya, mendesah saat ledakan rasa di mulutnya membuatnya mabuk. “Ini enak sekali!” Dia meraih potongan ketiga, menjilat remahan Oreo di permukaannya dan Taehyung terkekeh melihatnya.

“Aku harus sering-sering menantang Pastry Chef Senior dan meragukan kemampuannya agar aku mendapatkan banyak makanan enak.” Dia tersenyum lebar, mengigit potongan bronisnya dan mendesah, senang.

“Tidak perlu menantangku, cukup sebutkan saja aku akan membuatkannya.” Dia menimang Divya yang kembali menguap—bibirnya mendecap-decap kecil setelah kuapannya berakhir. “Sepertinya dia lapar lagi?” Tanya Taehyung, menghampiri Jeonggi yang bergegas menyingkirkan bronisnya.

Taehyung merunduk, membiarkan Jeonggi melihat wajah anaknya. Dia mengulurkan telunjuknya yang sudah dilap tisu dan mengecek apakah Divya meresponsnya namun bayi itu bergeming, matanya terpejam.

“Dia mengantuk.” Jeonggi terkekeh dan Taehyung memindahkan bayi itu ke pelukan Jeonggi sebelum menyingkirkan makanannya, dia berinisiatif menyuapi Jeonggi makanannya.

“Trims, Kak!” Jeonggi tersenyum, membuka mulut dan menerima suapan dari Taehyung.

Dia meninabobokan Divya di pelukannya, sesekali mengecek bibirnya dengan telunjuk jikalau tiba-tiba bayinya haus dan perlu diberi ASI. Staf rumah sakit kemudian datang membawakan makan siang Jeonggi.

“Halo, Ibu.” Sapanya ramah, “Ini makanan siangnya, ya.” Dia meletakkan nampan makanan di atas meja dan mengambil gelas minum yang datang dengan cemilan siang Jeonggi. “Ini saya ambil lagi.” Katanya tersenyum.

“Silakan, Mbak.” Sahut Jeonggi ramah. “Terima kasih.”

“Kembali kasih.” Staf itu kemudian berpamitan dan keluar, lalu mendorong troli makanannya menjauh ke kamar sebelah.

“Kau mau makan? Kusuapi?” Tanya Taehyung, menilai menu makanan yang diberikan untuk Jeonggi—ada sup makaroni bening, sepotong ayam, rolade dan nasi. Ada sebuah pisang juga untuk melengkapinya.

“Nanti saja.” Kata Jeonggi, mendendangkan nada random yang merdu untuk Divya yang sekarang mulai terlelap. “Kak Tae sudah makan?” Tanyanya berbisik dan Taehyung mengangguk.

Tadi sebelum berangkat dia sempat membuat roti isi dengan telur dan mayonais. Ingin sekali menambahkan ham atau bacon tapi Jeongguk belum membeli daging untuk Taehyung, jadi dia mencatat akan membeli beberapa sepulangnya dari sini. Tapi Taehyung tahu Jeongguk tidak suka bau amis daging, jadi dia akan berusaha membeli stok yang hanya cukup untuk beberapa hari daripada kulkas berbau amis.

“Sudah tidur.” Bisik Jeonggi, mengusap kening anaknya dari keringat tipis dan tertawa tanpa suara. Divya terlelap di pelukannya, bibirnya terkuak menggemaskan dan dia mendengkur lembut.

Hati Taehyung terasa hangat melihatnya. Sejenak terserang perasaan bersalah karena sempat membenci Divya hanya karena dia terlahir, hanya karena Jeongguk begitu memuja dan mencintainya. Dia merasa malu sekali pada sikapnya sendiri.

“Divya, anak Mama.” Dendang Jeonggi lembut, mengecup kening anaknya dan tersenyum. “Aku sudah ingin mendandaninya, memakaikannya gaun lucu, bando bunga-bunga.” Jeonggi tersenyum lebar lalu teringat sesuatu.

“Oh!” Dia kemudian menoleh ke meja di sisinya, ke arah ponselnya. “Divya tadi pagi melakukan sesi foto new born, Kak mau lihat??”

Taehyung langsung mengangguk, meraih ponsel Jeonggi dan membiarkannya menempelkan sidik jari di bagian pemindainya, membuka kuncinya. “Cari saja di Gallery.” Katanya. “Semua bokep sudah kusembunyikan, kok.” Tambahnya dan Taehyung tersedak tawa.

“Tapi belum foto jernihnya karena mereka sedang mengeditnya, besok akan kukirimkan ke Kak Tae jika sudah kuterima. Itu hanya semacam sneak peak-nya.” Jeonggi tersenyum lebar saat Taehyung menggeser gambar-gambar di ponsel.

“Dia lucu sekali.” Taehyung mendesah, menatap foto-foto Divya dan berhenti sebelum tiba di foto pribadi milik Jeonggi dan meletakkan ponselnya kembali. “Dia akan jadi anak yang manis.”

Jeonggi menatap anaknya dengan sendu, penuh kelembutan dan kasih sayang. “Dicintai begitu banyak orang dan memiliki paman-paman tukang masak yang keren.” Dia tersenyum lebar pada Taehyung yang tertawa kecil.

“Jadi,” katanya setelah membaringkan Divya di ranjangnya. “Apa yang membuat Wik terlambat bekerja hari ini? Tidak mungkin bangun kesiangan karena Wik itu, apa pun yang terjadi, semalam apa pun dia tidur, dia akan bangun pukul empat pagi untuk boxing.”

Taehyung nyaris menjatuhkan gelas yang digesernya untuk memberi tempat bagi kontainer bronis yang dibawanya. Dia memang tidak bisa berbohong pada Jeonggi, firasat ibu muda itu tentang kakaknya tidak bisa ditipu sama sekali.

Karena memang, Jeongguk memang selalu terbangun pukul empat pagi tidak pernah terlambat. Namun semenjak Taehyung menginap, dia tidak pernah melihat Jeongguk berolahraga. Dia akan menyusupkan kepalanya ke rambut Taehyung dan kembali terlelap.

Mungkin itulah kenapa mereka jadi lebih mudah lelah belakangan ini saat bekerja; Taehyung mengingatkan dirinya sendiri untuk mulai lari pagi lagi saat libur untuk menjaga staminanya. Dia sudah terlalu lama terlena karena tidur bersama Jeongguk, terlalu malas untuk beranjak dari hangat pelukannya tiap pagi.

Jeonggi tersenyum lebar, hingga matanya membentuk bulan sabit dan pangkal hidungnya mengerut. “Jadi?” Tanyanya, tidak menyerah.

Taehyung mendesah, tidak bisa menghindari Jeonggi lagi. “Jadi,” dia menggaruk pelipisnya, tidak yakin bagaimana harus memulainya. “Semalam aku mendengarkan pembicaraan kakakmu dengan ibumu tentang....” Dia melirik Divya yang terlelap.

Jeonggi menatapnya, tersenyum menenangkan. “Jika menurut Kakak terlalu personal, tidak usah, Kak.” Dia tersenyum, menepuk tangan Taehyung lembut, menyemangatinya.

Taehyung meringis, memutuskan untuk melewati detail itu. “Yah, intinya kami salah paham dan menghabiskan semalaman untuk saling mendiamkan satu sama lain dengan begitu bodoh—aku maksudnya yang bodoh.” Dia mengeluh. “Lalu pagi ini kami berbaikan dan...”

“Dan?”

“Akhirnya dia memintaku jadi pacarnya.”

I KNOW IT!”

“Sssh!!”

Jeonggi langsung menutup mulutnya, mereka berdua langsung menoleh panik ke Divya yang mulai merengek kecil. Kaget dengan suara teriakan Jeonggi yang begitu keras. Wajahnya mengerut, mulutnya terbuka dan Taehyung tahu mereka sudah membangunkannya.

Divya menarik napas...,

Jeonggi meringis, “Jangan... Jangan bangun...” Gumamnya dengan lemah, menggigit bibir bawahnya.

Dan menangis.

Meraung dan begitu keras hingga Jeonggi mengerang panjang. Taehyung tertawa, terhibur oleh ibu-anak itu. Dia bergegas menghampiri ranjang Divya, bayi itu menangis keras sekali hingga Taehyung takut dia muntah.

Taehyung menyelipkan kedua tangannya ke bawah selimut Divya dan meraihnya. Membuainya dengan lembut, mencoba menenangkannya. “Maafkan kami, Sayang.” Bisiknya lembut sementara Divya menjerit. “Kaget, ya? Maaf, maaf.”

Namun karena Divya tidak kunjung berhenti, akhirnya dia tertawa dan menyerahkannya kepada ibunya yang meringis, mulai menyingkap pakaian rumah sakitnya untuk menyusui Divya.

Taehyung melihat gestur itu sebagai tanda bahwa Jeonggi menganggapnya keluarga karena dia tidak segan untuk memberi ASI anaknya di depan Taehyung. Tidak nampak terganggu sama sekali saat payudaranya terpampang di udara dengan Taehyung berdiri di hadapannya.

Dan Taehyung sendiri pun tidak menatapnya sebagai sesuatu yang tidak senonoh sama sekali. Dia melihatnya sebagai tanda kasih sayang, pengorbanan dan perjuangan Jeonggi sebagai seorang ibu; menahan rasa sakit, mengabaikan rasa malu dan semuanya demi anaknya.

“Maaf, Sayang, maaf.” Bisik Jeonggi terkekeh kecil. “Mama mengagetkanmu, ya?” Dia kemudian menimang-nimang anaknya dengan lembut, mencoba menyelipkan putingnya yang babak belur (Taehyung masih meringis saat melihat lukanya) ke bibir Divya namun anak itu menolaknya.

“Tidak mau susu?” Tanyanya lembut. “Baiklah, jadi kau mau menangis saja?” Dia memasukkan kembali payudaranya ke dalam pakaiannya. “Oke. Ayo menangis.” Dia tertawa kecil, mengecup wajah anaknya.

Namun Divya yang sebenarnya masih mengantuk, akhirnya berangsur-angsur kembali diam. Terisak kecil sebelum akhirnya kembali terlelap. Dan Jeonggi mendesah panjang, senang. Lalu mendongak ke Taehyung yang mengamati mereka.

“Itu tidak sakit?” Tanya Taehyung, melirik payudara Jeonggi dengan sopan.

Jeonggi mengerjap. “Apa?” Tanyanya.

“Putingmu pecah dan berdarah.” Kata Taehyung, meringis. Dan benda itu masih harus tetap digunakan untuk memberi makan Divya.

“Sakit, tentu saja.” Jeonggi tertawa kecil. “Tadi pagi malah berdarah.” Dia mengusap payudaranya. “Tapi, mau bagaimana lagi?” Dia tersenyum. “Kata Mama, aku sebaiknya tidak berteriak atau 'memarahinya' jika Divya menyedot terlalu keras. Nada tinggi itu akan membuatnya takut dan merasa dia melakukan hal yang salah dengan makan.

“Jika sakit tahan saja, katanya.” Jeonggi meringis tapi kemudian tersenyum lebar. “Jadi aku berusaha menahannya. Takut Divya akan menganggapku tidak suka saat dia makan dan malah menolak makan. Sakit sedikit tidak apa-apa.”

Taehyung menatap ibu muda di hadapannya, mendendangkan lagu lembut untuk anaknya dan semakin terkagum-kagum pada perempuan yang begitu kuat. Jika mereka tidak ada di dunia ini, mungkinkan anak-anak tumbuh dengan perasaan simpati dan kasih sayang?

Karena sepertinya pertumbuhan emosi anak sangat bergantung pada ibunya yang penyabar dan telaten. Dan itulah mengapa Taehyung tidak yakin dia bisa menjadi orang tua yang baik dan memilih mundur dari peran itu.

“Jadi, sekarang Kak Tae akan tinggal bersama Wik?” Tanya Jeonggi kemudian, mengusap wajah anaknya yang terlelap. “Maksudku,” dia menambahkan dengan nada menyebalkan yang membuat Taehyung tersenyum lebar.

“Aku tahu sih, sekarang kalian tinggal bersama tapi setidaknya bereskan saja kosan Kakak. Untuk apa membayar kosan?”

Taehyung tertawa, tidak ada gunanya lagi menyembunyikan apa pun dari Jeonggi. “Mungkin.” Katanya. “Aku akan membereskan kosanku. Membawa barang-barangku yang tidak banyak ke rumah.”

Jeonggi tersenyum, nampak luar biasa senang. “You have no idea,” bisiknya lirih. “How you help our family by making my brother happy.” Dia tersenyum dan Taehyung mencondongkan tubuh, mengecup pipinya sayang.

“Aku selalu penasaran mengapa dia bersikap begitu overprotektif padaku. Melajang seperti biksu, menolak berkencan hanya untuk menjagaku hingga ke taraf yang sinting.” Jeonggi menatap anaknya.

“Setidaknya sekarang dia tidak begitu lagi.” Dia mendesah, menatap Taehyung penuh kasih hingga sejenak Taehyung merasa dia seolah sedang menatap ke mata Jeongguk; ekspresi mereka begitu mirip.

Belum lagi binar mata mereka saat menatap Taehyung, hingga dia mendesah, “Kembar.” Pikirnya terenyuh.

Mungkin dia akan meminta Jeongguk menjelaskan pada Jeonggi mengapa dia melakukan segalanya. Jeonggi sudah dewasa, sudah menjadi seorang ibu dan umurnya sebentarlagi 37 tahun. Dia layak mengetahui yang sebenarnya, layak diberi tahu tentang memori kelam yang dihapus otaknya sendiri sebagai semua sistem pertahanan diri.

“Aku senang sekali.” Dia tersenyum lembut. “Terima kasih, Kak Taehyung.”

Taehyung berdiri, merengkuhnya dalam pelukannya yang longgar dan Jeonggi tertawa serak—menangis. “My pleasure.” Bisiknya, mengecup puncak kepala Jeonggi. “Mencintai kakakmu tidak sesulit itu, kok.”

“Kau tidak perlu berterima kasih, karena aku melakukannya atas kehendakku sendiri.” Taehyung menumpukan pipinya di puncak kepala Jeonggi, merasakan kasih sayang yang berlimpah untuk kedua saudara itu; seolah hatinya membengkak menjadi dua kali lipat untuk mencintai keduanya dengan porsi yang sama.

“Mencintai kalian itu tidak sulit.” Bisiknya, menyadari betapa benarnya kalimat itu terasa.

“Sama sekali tidak.”

*


Alarm Taehyung berbunyi dengan keras dan menuntut.

Dia mengumpat, mengerang keras saat dia akhirnya membuka matanya—menatap langit-langit kamar yang temaram oleh langit yang mulai menggeliat kebiruan. Dia mengerjap, disorientasi sebelum tangannya bergerak di sisi ranjang dan sejenak kebingungan karena dia tidur sendirian.

Dia menoleh, menatap ruang kosong di sisinya dan terserang kepanikan sesaat yang membuatnya pening.

Ke mana Jeongguk??

Dia membuka mulut untuk memanggilnya sebelum kesadaran menghampiri otaknya yang lambat. Teringat tangisannya yang hebat, berguling di kamar mandi dan rasa sesak yang membuatnya bergidik ngeri.

You want a baby?

Taehyung mengerang keras, kepalanya berdenyut mengerikan dan dia menutup wajahnya dengan kedua lengannya; berusaha kembali lelap agar tidak memikirkan apa pun yang semalam menyiksa otaknya.

Kapan dia pindah ke kamar? Dia tidak ingat.

Dia bahkan tidak ingat saat dia mandi, tersedu-sedu membersihkan diri ingin segera merangkak ke atas ranjang dan menyelimuti kepalanya yang berdenging oleh rasa takut. Dia mengeringkan tubuhnya, masih menangis seperti bayi dan beranjak ke kamar tamu di lantai dua, terseok-seok menyeret tubuhnya.

Dia tidak menemukan Jeongguk dan dia senang karena Jeongguk setidaknya menuruti kehendaknya untuk menjaga jarak dan menghormati keinginan Taehyung.

Taehyung mengerang, kepalanya berdentam-dentam. Seluruh tubuhnya sakit dan matanya terasa bengkak serta panas. Dia mendesah, membawa dirinya duduk di ranjang dan mendesis saat darah turun dari kepalanya.

Tangannya yang buta bergerak di kasur, meraih ponselnya dan mematikan alarm yang berdering. Dia mengusap wajahnya, merasakan tekstur kulitnya yang bengkak dan lembab. Matanya terasa pedas sekali saat dipejamkan dan dia yakin dia nampak seperti zombi hari ini.

Dia menyugar rambutnya, menyingkap selimut dan mendudukkan diri di pinggir ranjang. Kakinya menyentuh lantai yang dingin. Penyejuk ruangan berdengung dan Taehyung sejenak kebingungan; memangnya semalam dia menyalakan penyejuk?

Lalu mendesah; Jeongguk. Pasti pemuda itu masuk ke kamarnya setelah dia terlelap untuk memastikan segalanya nyaman untuknya.

Tapi setidaknya dia tidak menemui Taehyung saat dia sadar. Dia menatap jendela yang tertutup, mendengar suara ayam di kejauhan yang mulai berkokok membangunkan semua orang. Dia melirik jam di ponselnya, pukul lima pagi.

Apakah Taehyung sudah baik-baik saja hari ini? Siapkah dia mendengarkan penjelasan Jeongguk?

Jawabannya?

Dia menatap kedua telapak tangannya yang terkulai di atas kedua pahanya; merasa kecil, lelah dan layu. Bolehkah dia tidak bekerja hari ini? Dia ingin berguling kembali ke kasur dan memejamkan mata—tidak ingin menghadapi siapa pun atau bahkan berpura-pura dia baik-baik saja.

Dia terlalu lelah.

Taehyung meraih ponselnya, ingin mengabari Jeongguk bahwa dia akan izin bekerja hari ini saat suara ketukan lembut terdengar dari pintu kamarnya. Dia menoleh, kaget. Walaupun dia tahu satu-satunya orang yang akan mengetuk pintunya di rumah ini adalah Jeongguk.

Ketukan terdengar lagi, sebelum hening. Kemudian Taehyung mendengar suara langkah kaki Jeongguk menjauh lalu menuruni tangga.

Dia mendesah, merasa bingung.

Tubuhnya nyeri antara kelelahan karena semalaman menangis dan juga merindukan Jeongguk. Terbangun sendirian tanpa lengan Jeongguk melingkar di pinggangnya atau kecupan lembut di pelipisnya dan bahkan aroma napas Jeongguk yang asam terasa asing—membuat Taehyung bertanya-tanya, sejak kapan dia mulai merasa begitu familier dengan keberadaan Jeongguk?

Taehyung akhirnya menuruni ranjang, meregangkan tubuhnya sebelum membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Dia mendesah sekali lagi, merasa senang karena Jeongguk walaupun tahu pintunya tidak terkunci, tetapi dia tidak mendesak masuk.

Dia membuka pintu dan menyadari aroma tebal telur, mentega dan bubuk kayu manis sudah memenuhi udara. Dia menuruni tangga, menemukan Jeongguk dengan celana training dan kaus dalam tipis sedang memunggunginya, membalik French toast di atas frying pan.

Aroma butter memenuhi udara, membuat Taehyung menghela napas dalam-dalam. Dia suka aroma ini. Kadang Jeongguk membuat panekuk, kadang roti bakar, kadang scrambled egg dengan Italian seasoning. Kemudian mereka akan duduk sarapan bersama sebelum bersiap berangkat kerja.

Taehyung berhenti di anak tangga terakhir, mengamati Jeongguk yang sedang memasak dan menjerang air untuk teh paginya. Di atas konter dapur sudah ada segelas tinggi jus berwarna jingga yang entah campuran pepaya dengan sayuran apa Taehyung menyerah berusaha memahami tujuan jus itu.

Jus sinting, begitu Taehyung selalu menyebutnya tiap kali Jeongguk memasukkan potongan buah dan sayur ke dalam blender dan Jeongguk akan tertawa.

Mengingatnya membuat seluruh tubuhnya sekarang terasa nyeri karena merindukan Jeongguk, merindukan aroma tubuhnya yang menempel di tubuhnya setiap mereka bangun tidur.

Kecupan lembut di pelipisnya saat alarm mati, tawa serak Jeongguk saat Taehyung menolak bangun, pelukannya saat mereka berdua terlalu malas untuk bangun; betapa manis semuanya terasa dan sekarang rusak dalam semalam karena ketakutan Taehyung.

Bagaimana jika sebenarnya Jeongguk tidak menginginkan bayi dan puas hanya dengan Divya? Dan Taehyung tidak tahu karena dia tidak bertanya.

Taehyung melangkah tanpa suara, menghampiri Jeongguk yang mencelupkan potongan roti ke dalam adonan telur dengan bubuk kayu manis. Dia menyelipkan lap di karet celananya, siap diambil jika dia harus clear up.

Dia langsung menjulurkan tangan, merengkuh pinggang Jeongguk dan menyusupkan wajahnya di ceruk leher Jeongguk yang terkesirap kecil karena pelukan mendadaknya. Namun dia langsung tersenyum dan menepuk tangan Taehyung di atas perutnya.

“Hai.” Sapanya parau. “Kau sudah baikan?”

Taehyung mengangguk, menghirup aroma tubuh Jeongguk banyak-banyak hingga kepalanya pening namun kali ini dengan alasan yang sangat berbeda. Dia mengeratkan pelukannya hingga Jeongguk tertawa kecil, membalik French toast-nya yang harum.

“Kau mau sarapan?”

Taehyung mengangguk. Dia kemudian menarik wajahnya, “Cium aku?” Bisiknya.

Jeongguk tidak membuang-buang waktu, dia membalik dirinya dalam pelukan Taehyung dan langsung menangkup wajah Taehyung dengan kedua belah telapak tangannya yang hangat dan beraroma tajam butter dan cinnamon lalu mencium bibirnya.

Taehyung langsung mabuk oleh ciuman itu.

Terasa sangat luar biasa. Tubuhnya gemetar, kali ini karena rindu yang ditahannya sejak semalam. Dia merangkulkan kedua lengannya di leher Jeongguk, menariknya lebih dekat lagi. Menyecap rasa Jeongguk di mulutnya yang asam setelah tidur semalaman.

Jeongguk menarik wajahnya, menatap ke mata Taehyung dan mengernyit. “Kau nampak mengerikan.” Bisiknya, lalu mengecup kedua kelopak mata Taehyung dengan lembut. “Kau ingin di rumah saja hari ini?”

Taehyung menatapnya, merasakan tangan Jeongguk membelai pipinya dengan ibu jari—menimangnya seperti sebongkah permata berharga yang harus diperlakukan dengan penuh perhatian.

“Boleh?” Tanyanya.

“Hari ini tidak ada BEO yang penting, hanya reservasi untuk di bawah 50 pax jadi kurasa tidak apa-apa. Yugyeom bisa handle.” Jeongguk mengecup keningnya sebelum berbalik ke toast-nya.

“Kau istirahat saja di rumah. Lagi pula jika kau memaksakan diri untuk bekerja juga aku yakin kau hanya akan berakhir mengacau.”

Taehyung tersenyum, dia menguraikan tangannya hendak melepaskan diri namun Jeongguk menangkap tangannya. Menariknya kembali memeluk pinggang rampingnya dengan erat hingga tubuh Taehyung menghantam punggungnya dengan lembut karena momentum itu.

“Jangan dilepas.” Bisiknya, membawa sebelah tangan Taehyung ke wajahnya lalu mengecup telapak tangannya dengan lembut.

Taehyung tersenyum, dia merindukan Jeongguk. Sungguh sangat merindukannya. Maka dia mengeratkan pelukannya, mengistirahatkan dagunya di bahu Jeongguk. “Clingy.” Bisiknya.

Jeongguk mengistirahatkan kepalanya di atas kepala Taehyung seraya memasak. “Tidak apa-apa.” Katanya. “Maki saja aku, lebih baik daripada aku harus tidur sendirian dan terbangun tanpamu.”

Taehyung memejamkan mata, membiarkan kalimat Jeongguk membelai permukaan kulitnya—membelai seluruh egoismenya yang sekarang ketakutan karena pembicaraan Jeongguk dan ibunya, menenangkan rasa insecure-nya yang bergolak seperti sepanci santan yang dididihkan.

Mereka bersidiam sementara Jeongguk mulai menumpuk beberapa toast harum dan kecokelatan di atas piring. Taehyung bertahan di posisinya, memeluk Jeongguk dengan kepala diistirahatkan di bahu Jeongguk yang kuat.

“Kau mau membicarakan yang semalam?” Tanya Jeongguk lembut, mematikan kompor dan membereskan sisa pekerjaannya dengan Taehyung masih bergelayut di tubuhnya—tidak nampak kesulitan sama sekali.

Siapkah Taehyung?

Dia mengeratkan pelukannya pada Jeongguk, tidak siap jika ternyata Jeongguk menjawab seperti apa yang ditakutkannya. Namun dia menyadari dia tidak bisa begini lama-lama, dia harus mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan menghadapi semuanya.

“Boleh.” Katanya kemudian, menemukan kekuatannya kembali. Menemukan rasa percaya dirinya yang rapuh—sekarang merekah mekar seperti setangkai bunga. Menyuntikkan perasaan utuh yang berdenyar di seluruh aliran darahnya.

Taehyung harus menghadapi ini.

Mereka kemudian duduk di konter dapur, sepiring toast tersaji di antara mereka, namun tidak ada yang menyentuhnya. Jeongguk meminum jusnya dengan tenang sementara Taehyung menyeduh daun teh di dalam cangkir. Dia menyukai teh daun dengan bunga melati sungguhan daripada teh-teh kemasan lain.

Dia menyukai kepekatan aroma dan rasa teh yang masih berbentuk daun kering. Padahal harga teh itu sangat murah, tapi rasanya autentik dan kental. Dia menuang sejumput daun teh kering sebelum menyenduhnya—teh tubruk tidak pernah salah. Dia menambahkan sebutir gula batu ke tehnya, mengaduknya sebelum bergabung dengan Jeongguk di konter.

Sinar matahari perlahan beranjak naik, semburat jingga mulai menyeruak di langit yang kebiruan. Aroma pagi di rumah Jeongguk sudah terasa begitu akrab dengan Taehyung sekarang.

“Maaf,” mulai Taehyung, menangkupkan telapak tangannya di gelas teh yang hangat—merasakan suhu dan menghirup aromanya yang harum. Beberapa daun yang mengembang oleh panas mulai beranjak naik, mengambang di permukaan gelas.

“Aku semalam bersikap tidak baik dengan menghindarimu.”

“Tidak apa-apa.” Jeongguk menjawab, tersenyum hangat pada Taehyung; menyemangatinya. “Aku tahu kau butuh waktu untuk sendiri sama seperti aku yang membutuhkan penjelasan, setidaknya sedikit saja tentang kesalahan apa yang kulakukan.”

Taehyung menatap kuncup melati kering yang sekarang mulai merekah karena air panas, membuka kelopaknya yang menguncup. “Aku...” Bisiknya.

Taehyung, kau harus melakukannya. Pikirnya getir sebelum menghela napas dan menatap Jeongguk, “Aku mendengar pembicaraanmu dengan ibumu.”

Itu dia.

Keluar sudah ketakutan yang selama ini mencengkeram otak belakang Taehyung. Sekarang, setelah dia mengucapkan hal itu keras-keras, dia merasa jauh lebih baik. Menemukan kekuatan dan keberanian seolah disuntikkan ke pembuluh darahnya seperti morfim—membuatnya seketika tenang dan rileks.

Jeongguk menatapnya, “Pembicaraan yang mana?” Tanyanya.

“Di balkon kamar Jeonggi.”

Wajah Jeongguk sejenak kosong saat dia memikirkan pembicaraan yang dimaksud Taehyung lalu pemahaman melintasi wajahnya serupa bintang jatuh dan matanya mendadak berkilau oleh rasa senang yang ganjil.

“Ah.” Katanya lembut. “Kau mendengar yang itu?” Tanyanya tersenyum lembut. “Bagaimana menurutmu?”

Taehyung mengerjap, alisnya berkerut. Kenapa dia nampak begitu senang? “Bagaimana menurut... ku?” Ulangnya, kebingungan dan mendengar nadanya yang bingung, Jeongguk mengerjap—nampak sama bingungnya.

“Tunggu.” Kata Jeongguk, nampak menyadari di bagian mana mereka berselisih paham. “Seberapa banyak yang kaudengar kemarin?”

Taehyung mengerjap, “Hanya...” Dia menelan ludah, “Hanya bagian awal. Atau entahlah, mungkin itu pertengahan?”

Jeongguk menatapnya, memberikannya tatapan yang selama ini menyihir Taehyung; pandangannya yang dalam dan mengintimidasi, membuat Taehyung lemah dan telanjang.

“Apa yang kaudengar?” Tanyanya, lembut dan setengah mendesak.

Taehyung menatapnya, membuka mulutnya perlahan; berusaha membuat dirinya sendiri mengucapkan kalimat yang semalaman ini mencengkeram kepalanya, membuatnya pening, membuatnya merasa tidak layak—begitu kecil dan hina.

Nyaris membenci semua orang, bahkan si Mungil Divya yang sama sekali tidak paham apa pun.

“Aku dengar...” Dia membuka mulutnya, memaksa pita suara dan lidahnya bekerja sama untuk membentuk kalimat itu, meludahkannya. “Ibumu menanyakan apakah...”

Jeongguk menatapnya tenang, menunggu hingga Taehyung siap mengatakannya; tidak mendesak atau memburunya sama sekali.

”... Apakah kau menginginkan bayi.”

Akhirnya.

Kalimat itu lepas dari bibir Taehyung dan beban tak kasat mata yang selama ini menggelayutinya terasa diangkat naik. Monster yang sejak semalam merong-rongnya, mencengkeram tubuhnya dan tertawa di telinganya; sekarang diam.

Diam karena Taehyung berhasil membungkamnya dengan rasa percaya dirinya yang kembali bangkit, memegang kendali atas otaknya dan seluruh sistem tubuhnya yang sempat kocar-kacir karena stres.

Jeongguk menatapnya, mereka diam sejenak. “Dan...?” Tanyanya, seolah sedang menunggu Taehyung mengatakan kelanjutan kalimatnya.

Taehyung mengerjap. “Hanya itu.” Katanya, bingung.

“Hanya itu?” Ulang Jeongguk, nyaris terdengar geli sekarang dan Taehyung semakin malu.

“Ya.” Dia mengangguk.

“Kau tidak mendengar apa yang kukatakan setelahnya? Dan bahkan kenapa Mama menanyakan itu?”

Taehyung mulai merasa bodoh saat rasa malu menyeruak dalam tubuhnya, membuat wajahnya menghangat. Sudah kubilang! Teriak Taehyung ke kepalanya sendiri yang sekarang termangu-mangu.

“Sudah kubilang, itu bukan apa-apa!” Raung Taehyung dalam kepalanya, melepaskan monster yang sejak semalam menggelayutinya menjauh darinya—monster itu terguling dari tubuhnya dan Taehyung menendangnya menjauh seraya meludahkan makian ke arahnya.

Jeongguk tersenyum, dia menuruni kursi barnya dan melangkah ke arah Taehyung. Merengkuhnya ke dalam pelukannya yang hangat, aroma keringat Jeongguk membuat Taehyung meleleh; seperti sepotong cokelat yang dipanaskan.

Dia menyerah dalam pelukan Jeongguk, melingkarkan kedua tangannya di pinggul Jeongguk dan merasakan saat pemuda itu mengecup puncak kepalanya. Membelai punggungnya hangat dan lembut.

“Aku boleh menceritakan apa yang aku dan Mama bicarakan saat itu?” Tanyanya lembut, menggoyangkan tubuh Taehyung lembut seakan meninabobokan Taehyung yang mendengarkan detak jantung Jeongguk yang lembut: dug-dug-dug....

Taehyung mengangguk, “Please.” Bisiknya.


”... You want a baby?”

Jeongguk menatap ibunya yang sedang mengupas mangga dengan sorot terganggu. “Why so suddenly?” Tanyanya, tidak paham ke mana arah pembicaraan ibunya.

Ibunya nampak memikirkan kalimatnya dengan perlahan sebelum bicara, “I see how you see Divya.” Katanya dengan nada lembut yang membuat Jeongguk semakin mengerutkan alisnya.

“And then?” Tanya Jeongguk, masih belum paham.

Ibunya meletakkan pisau dan mangganya, lalu menatap Jeongguk—nampak khawatir. “Kau kelihatan sangat mencintai anak itu.”

“Tentu saja. Dia, 'kan, keponakanku.” Balas Jeongguk seketika, mulai merasa ibunya sedang melakukan hal konyol khas orang tua dengan bersikap penuh rahasia dan menanyakan hal-hal yang sudah jelas.

“Mama takut, kau berubah pikiran tentang orientasi seksualmu, lalu menciptakan masalah antara dirimu dan Taehyung.” Kata ibunya kemudian dan Jeongguk menoleh, sekarang nampak kaget.

“Mama tidak ingin... terjadi sesuatu pada kalian.” Tambah ibunya buru-buru sebelum Jeongguk sempat mengatakan apa pun. “Kau nampak... terpesona dengan Divya, Mama nyaris yakin kau sekarang sedang meragukan dirimu dan menginginkan anak kandungmu sendiri.

“I'm so sorry for questioning your sexual orientation after years, I really am. You know never in my life I questioned your life choices, that's all yours. But I'm just... worried.” Ibunya menatap Jeongguk, garis-garis kecemasan terbit di permukaan wajahnya.

“Anak manis, Taehyung itu. Mama sayang padanya seperti Mama menyayangimu dan Jeonggi. Mama takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di antara kalian; konflik tentang ini yang mengancam hubungan kalian. You both deserve to be loved the fullest.”

“Of course I want a baby.” Kata Jeongguk kemudian, membuat ibunya terkesirap kecil; jantungnya terasa mencelos ke lantai—hal yang ditakutkannya terjadi.

Dia terlanjur menyayangi Taehyung, melihat bagaimana putra sulungnya nampak begitu hidup saat mulai mengenal Taehyung di hidupnya. Bagaimana dia nampak begitu rileks, begitu lepas dengan hidupnya.

Wima belum pernah melihat anaknya menjalani harinya dengan perasaan rileks dan nyaman setelah kejadian Jeonggi, nampak nyaris kembali menjadi Jeongguk-nya dulu; sosok yang sudah lama mati, dibunuh oleh Jeongguk sendiri.

Menemukan Taehyung adalah sebuah jawaban dari setiap doa Wima yang tiap malam memohon agar Jeongguk dapat menikmati hidupnya lebih baik dan berhenti menghukum dirinya.

“But,” tambah Jeongguk kemudian sebelum ibunya sempat memproses kata-katanya barusan. “I want Taehyung more than anything else in this world. And no, it never come to my mind that I'm questioning my sexual orientation.

“That's my identity. Why would I question my own identity?”

Ibu Jeongguk merileks, tubuhnya melemas karena ketegangan yang diangkat dari bahunya. “You love him?” Tanyanya.

“More than everything I ever know.” Balas Jeongguk dengan tegas, tanpa sedikit pun keraguan dalam suaranya.

“Please do me a favor, will you, Mom?” Tanyanya kemudian dan Wima mendongak, menatap putranya dengan lembut—sekarang tenang karena mereka akan baik-baik saja.

“Anything.” Sahutnya dengan nada yang sama seperti apa yang digunakan Jeongguk saat mendeklarasikan cintanya pada Taehyung.

“Please, do not ever question my loving for Taehyung.”


“And... Would you be my boyfriend?”

Taehyung terpana, dia menatap Jeongguk yang berdiri di hadapannya dengan otak yang macet. “Apa?” Tanyanya, berbisik pecah.

Apa katanya barusan??

“Jadi pacarku.” Jeongguk meraih tangannya, mengenggamnya dalam kedua telapak tangannya lalu mengecupnya; memejamkan mata seolah sedang menyembah dewa yang memberikannya kehidupan.

“Aku mungkin bukan lelaki paling sempurna yang mungkin kautemui, aku punya banyak kekurangan; bekas luka, trauma dan segalanya. Tapi aku ingin berusaha menjadi seseorang yang akan membahagiakanmu.

“Aku pernah hidup tanpamu sebelum ini. Dan aku sungguh tidak tertarik lagi untuk kembali ke kehidupan lamaku. Kau membuatku merasa hidup ini jauh lebih menyenangkan, aku merasa aku sanggup untuk menghadapi apa pun selama ada kau di sisiku.

“Tidak pernah sebelumnya di dalam kehidupanku ini aku menginginkan sesuatu seperti aku menginginkanmu. Seperti aku menginginkanmu berada dalam pelukanku, menjadi milikku dan mengklaimmu—tidak ada yang boleh memilikimu sebagaimana aku memilikimu.”

Jeongguk membuka matanya, menatap Taehyung dari balik bulu matanya yang panjang. “Tapi, aku adalah bajingan congkak yang overprotektif pada setiap orang yang disayanginya. Aku mungkin akan membuatmu kesulitan bergerak dan bernapas karena sifatku.

“Belum lagi bagaimana aku harus tetap menjaga profesionalitasku di tempat kerja. Memarahimu itu berat tapi aku harus melakukannya, aku ingin kau bisa memahami posisiku—memahami posisi kita sebagai rekan kerja. Dan—”

“Cukup.” Sela Taehyung, kesal mendengarkan pidato Jeongguk yang begitu panjang dan memusingkan—hal-hal yang sudah dipahaminya. “Cium saja aku sekarang. Cepat.”

Jeongguk tidak menyia-nyiakan sedetik pun saat dia merengkuh Taehyung dan menciumnya begitu kuat hingga Taehyung melenguh oleh ciumannya. Lidahnya menyelip ke dalam mulut Taehyung, membelai geliginya dan membelit lidah Taehyung—menari bersamanya.

Kepala Taehyung terasa ingin lepas saat lidah Jeongguk merangsek semakin dalam, meraih lidahnya lalu menghisapnya lembut. Dia berdenyut, gairah membakar bagian dasar perutnya dan membuat tubuhnya bereaksi.

Jeongguk melepas ciumannya, terengah. “Can we have a quick sex?” Tanyanya parau, “I have a problem.”

Taehyung tertawa serak, “I have that problem too.” Dia menempelkan keningnya pada Jeongguk, memejamkan matanya sementara bagian dirinya yang berada di antara kedua kakinya berdenyut.

“Dan, tentu saja.” Katanya parau sementara Jeongguk menciumi seluruh wajahnya dengan lembut dan bergairah hingga seluruh tubuh Taehyung meremang. “Tentu saja aku mau jadi kekasihmu. Aku pikir kau takkan pernah bertanya.”

Jeongguk mendenguskan senyuman, “Tentu saja aku akan bertanya. Hubungan apa pun tetap membutuhkan kejelasan di dalamnya. Aku tidak bisa mengajakmu berhubungan tanpa status, tanpa memberikanmu kejelasan dan melabelinya sebagai hubungan dewasa.” Dia menyentuh pipi Taehyung lembut.

“Malah menurutku,” bisiknya kemudian dengan napasnya menerpa wajah Taehyung. “Hubungan dewasalah yang seharusnya diisi dengan kejelasan. Jalani saja tidak perlu status karena kita sama-sama paham bagiku adalah hal yang akan diucapkan seorang pengecut yang tidak mau berkomitmen.

“Menguntungkannya untuk kabur kapan saja darimu dan aku jelas bukan cecunguk pengecut; jika aku menginginkanmu, maka aku akan memintamu menjadi milikku.”

Jeongguk kembali mencium bibirnya; lebih kasar, lebih menuntut. Tubuh Taehyung gemetar saat Jeongguk mengangkatnya, dengan mudah dan dia melingkarkan kedua kakinya ke pinggang Jeongguk; menolak melepaskan ciuman mereka.

Di luar sana, matahari mulai terbit dan French toast di meja mulai mendingin tapi di kamar Jeongguk saat ini, sesuatu yang panas membara sedang terbuka.

You have approximately 40 minutes.” Taehyung terkekeh serak saat Jeongguk melemparnya ke ranjang lalu merangkak ke atasnya, menaunginya dengan tatapan terpesona yang selalu membuat Taehyung merona hingga jari-jari kakinya mengerut.

“Potong gaji karena terlambat tidak terdengar begitu buruk, kok.” Kata Jeongguk sebelum membenamkan ciuman ke leher Taehyung yang tawanya langsung berubah menjadi desahan panjang penuh kenikmatan.

You're mine, Taehyung.” Bisik Jeongguk di kulitnya lalu menggigit lembut hingga Taehyung tercekik napasnya sendiri.

You're mine and I'm all yours.”

*

⚠️tw: angst. anxiety.


Mereka bersidiam di dalam mobil, Taehyung berusaha membangun percakapan namun rasa insecure yang menggelayutinya membuatnya lemah.

Ini pertama kalinya dia benar-benar merasakan perasaan ini; seperti monster yang merayap ke tubuhnya, menaiki bahunya dan mencengkram kepalanya dengan rasa nyeri yang mustahil disembuhkan hanya dengan obat sakit kepala.

Dia akhirnya memutar radio, membiarkan lagu-lagu berbahasa Bali yang tidak dipahaminya mengisi kesunyian—dia memejamkan mata, berpura-pura tidur agar Jeongguk tidak bertanya apa pun padanya.

Namun toh, saat akhirnya mereka memasuki wilayah Kuta yang ramai dan mulai macet, dia membuka suara, “Aku malam ini pulang ke kosan.” Katanya, berusaha menghalau cengkeraman rasa takut di otaknya yang berdenyut.

Mengerikan sekali rasanya.

Bagaimana monster itu menggelayuti bahu Taehyung dengan perasaan berat yang menghimpitnya; menghisap napas dan logikanya. Dia merasa gelisah, takut, mual dan lemah.

Jangan biarkan pikiran itu menguat, Taehyung. Pikirnya seraya berusaha mempertahankan akal sehatnya, namun dia tidak bisa.

Pikiran negatif itu terlanjur membanjiri setiap sudut otaknya, menggerogotinya tanpa ampun seperti belatung. Membuatnya busuk karena pikiran yang salah—karena ketakutan dan rasa tidak percaya diri yang asing.

Taehyung terjebak dalam keadaan lemah dan sekarang dimakan hidup-hidup oleh emosinya sendiri. Dia ingin berbaring dan menangis, atau melakukan apa saja agar sakit di kepalanya lenyap.

Mungkin menghantamkan kepalanya ke dinding jika itu bisa membantu karena perasaan ini benar-benar mencekiknya, menekannya dan menghimpitnya. Seperti Taehyung sedang terjepit di dalam dua benda yang saling menekan dan Taehyung tidak bisa meloloskan diri.

Jeongguk menghela napas dalam remang lampu jalanan yang menyusup ke dalam mobil mereka, dia mengulurkan tangannya untuk mengecilkan volume radio dan membuat suasana nyaman untuk mengobrol.

Dan itu mengirimkan perasaan anxious lain ke tubuh Taehyung. Monster yang menggelayut di bahunya, mencengkeram kepalanya dengan lebih kuat—tertawa di telinga Taehyung hingga rasanya berdenging.

“Ada yang ingin kautanyakan padaku?” Tanyanya lembut, sama sekali tidak menuntut atau mendesak, hanya bertanya.

Taehyung menghela napas dalam-dalam, haruskah dia mengkonfrontasi Jeongguk sekarang? Dengan kepala berdenyut karena perasaan anxious? Dia tidak siap, dia tidak yakin dia bisa melakukannya.

“Mungkin tidak sekarang.” Katanya lemah, sementara kepalanya semakin berdenyut.

Tolong jangan bertanya sekarang, aku tidak bisa berpikir! Dia ingin meneriakkan itu pada Jeongguk namun dia hanya mengeluarkan suara berdeguk lemah.

Asam lambungnya bergolak dan ginjalnya terasa nyeri karena otaknya yang malang berada di bawah tekanan stres yang luar biasa. Dia mulai merasa tubuhnya panas-dingin, telapak tangannya basah dan napasnya berubah pendek-pendek.

Dia harus berbaring.

Jeongguk meliriknya, menghela napas lalu membelok ke arah rumahnya. Taehyung mengerang keras, terganggu.

“Aku bilang, aku pulang ke kosan saja. Tidakkah kau mendengarku?” Tanyanya dengan suara meninggi, gemetar oleh takut dan stres.

Dia sungguh ingin sendirian, mengasihani dirinya sendiri dan menangis. Tidak ingin ditemani Jeongguk, tidak ingin menatap matanya dan menyadari bahwa dia mungkin tidak bisa memberikan hal yang diinginkan Jeongguk.

“Kau kelihatan stres,” kata Jeongguk kalem saat mereka berhenti di depan rumahnya. “Aku akan menyiapkanmu air hangat dan teh sebelum tidur. Kau tidak harus tidur bersamaku, akan kusiapkan kamar tamu jika kau tidak ingin.

“Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian dengan kondisi seperti ini.” Dia kemudian menoleh, menatap Taehyung dengan tatapan lembut yang menghanyutkan hingga Taehyung nyaris pecah dalam tangisan histeris.

“Aku tidak bisa.” Ulangnya, tegas dan tidak bisa didebat.

Terlalu banyak emosi yang ditampungnya sekarang, dia tidak bisa lagi menahannya. Dia seperti selembar kertas yang basah, siap robek kapan saja.

“Tolong,” bisik Jeongguk, mengendurkan semua harga dirnya untuk memohon dengan nada yang membuat Taehyung terkejut.

“Jika kau memang tidak ingin bicara padaku, entah karena apa yang kulakukan, setidaknya biarkan aku menjagamu. Tidak perlu secara langsung, aku hanya butuh meyakinkan diri bahwa kau baik-baik saja.

“Malam ini saja.”

Akhirnya Taehyung setuju. Mereka bersidiam selama beranjak dari mobil ke dalam rumah. Jeongguk menyalakan lampu sementara Taehyung melangkah ke kamar mandi, dia ingin meringkuk di bathtub—menangis dengan air menghujani kepalanya agar dingin.

“Tidak, tunggu.” Kata Jeongguk lembut, dia melangkah mendahului Taehyung ke kamar mandi. “Ambillah pakaianku di lemari untukmu, tunggu sampai bathtub terisi air hangat sebelum mandi.”

Taehyung menelan ludah, layakkah dia menerima perlakuan ini sekarang?

Saat ketakutan suatu hari nanti Jeongguk bisa saja berubah pikiran dan membuangnya? Siapa yang harus Taehyung salahkan sekarang?

Divya? Karena dia lahir dan membuat Jeongguk jatuh cinta?

Jeonggi? Karena dia adik perempuan Jeongguk dan dia punya rahim, dia bisa hamil dan segalanya yang Taehyung tidak bisa?

Atau Taehyung?

Karena telah jatuh cinta, dengan tidak sopan, kepada lelaki yang seharusnya tidak usah bersinggungan dengan kehidupan pribadi Taehyung sama sekali.

Jeongguk berbahaya—begitu tampan dan menggoda hingga dia sangat berbahaya. Seharusnya Taehyung paham, setiap makhluk yang berparas menarik selalu beracun.

Binatang, tumbuhan.

Bahkan manusia.

Seharusnya mereka tetap bersikap profesional. Seharusnya Taehyung tidak mengiyakan ajakan Jeongguk. Seharusnya dia menolak saja. Hubungan mereka sekarang pasti baik-baik saja, rekan kerja yang solid.

Tidak akan ada perasaan yang merusak.

Tidak akan terjadi hal semacam ini.

Taehyung mengangguk kaku, dia melangkah ke kamar Jeongguk. Menghirup aromanya yang kental seperti keringat dan parfum Jeongguk, membuka lemarinya dan meraih kaus pertama yang ditemukannya.

Dia sudah melakukan ini setiap hari sejak menginap di rumah Jeongguk, dia hanya membawa pakaian dalamnya sendiri dan beberapa potong baju yang sekarang teronggok di keranjang rotan di sisi mesin cuci.

Dia mendengar suara air mengucur dari kamar mandi, Jeongguk serius tentang menyiapkan mandi untuknya. Hatinya berdesir; setengah senang dan selebihnya semakin takut. Monster tadi sekarang merambatkan tangannya yang panjang dan berkuku ke hatinya, mencengkeramnya—meremasnya hingga Taehyung sesak.

Taehyung duduk di ranjang, meremas dadanya yang sesak. Dia ingin menangis, dia kebingungan. Dia pusing sekali.

“Kalau ada yang tidak kaupahami, tanyakan pada Jeongguk.”

Taehyung menunduk, menatap telapak tangannya. Dia tahu—dia tahu dia harus bertanya. Tapi bagaimana jika jawabannya tidak seperti apa yang diharapkannya? Bagaimana jika jawabannya 'ya'?

Bagaimana jika....?

Dada Taehyung sesak, dia berusaha menghirup napas dengan mulutnya yang terbuka seperti ikan yang ditarik ke permukaan; menggelepar berusaha bernapas dengan insangnya namun tidak juga berhasil.

Taehyung pengecut, dia tidak berani menghadapi ketakutannya sendiri. Dia tidak berani menghadapi kenyataan yang akan didapatkannya jika dia bertanya sekarang pada Jeongguk.

Dia belum siap jika dia harus kehilangan Jeongguk bahkan sebelum dia benar-benar memilikinya.

Aku selalu milikmu.

Taehyung meremas dadanya semakin kuat, berusaha bernapas. Benarkah? Benarkah dia milik Taehyung?

Kenapa rasanya seperti sedang menggenggam pasir? Sekuat apa pun Taehyung mengepalkan tangannya, butiran lembut itu terus merembes dari sela-sela jemarinya. Dia berusaha menangkapnya, berusaha menahannya namun tidak bisa. Jemarinya kurang kuat—Taehyung kurang kuat.

Wajah Jeongguk yang terpesona saat menatap wajah Divya untuk pertama kalinya meremas perut dan kepala Taehyung. Membuatnya terkesirap keras karena kaget bagaimana kekuatan ingatan bisa membuat seluruh tubuhnya benar-benar nyeri.

“Taehyung?”

Dia terjengkang dan menoleh, lupa menghapus air mata yang meleleh di wajahnya karena kaget. Langsung berhadapan dengan wajah Jeongguk yang berdiri di depan pintu, ekspresinya berubah menjadi begitu horor saat menyadari air mata Taehyung.

Jeongguk menatap Taehyung dengan ketakutan nyata di wajahnya, dia melangkah sedikit—tangannya terjulur secara naluriah, berusaha meraih Taehyung namun dia berhenti.

“Kenapa...?” Bisiknya lemah, suaranya pecah. Wajahnya pucat pasi, dia nampak seperti seekor bayi burung yang kemerahan. Lemah dan terekspos, baru saja memecahkan cangkangnya dan kebingungan.

“Taehyung?” bisiknya dengan suara nyaris menangis yang membuat kepala Taehyung semakin nyeri dan pusing. “Did I hurt you? Did I?” Tanyanya, gemetaran, nyaris meracau hingga Taehyung ingin menjeritkan tangisannya.

What did I do?? Please, please....” Ujung suara Jeongguk gemetar, seperti sedang menahan tangis. “Tolong, jangan menangis...” Dia mendekat lagi dan Taehyung mendesis seperti seekor kucing yang terganggu.

Dia tidak ingin Jeongguk mendekat ke arahnya, suaranya membuat kepala Taehyung semakin sakit. Dia butuh sendirian, dia butuh menjauh dari Jeongguk. Kepalanya terasa akan pecah karena memikirkan ketakutannya sendiri.

Jangan mendekat! Dia ingin memaki Jeongguk, dia takut dia akan melakukan hal yang pasti disesalinya nanti. Dia ingin menonjok sesuatu, seseorang...

Dia ingin melampiaskan rasa frustasi dan marah yang bercokol di kepalanya ini. Dia harus, dia butuh melampiaskannya.

“Pukul aku,” kata Jeongguk, gemetar. Matanya berkilau oleh kesedihan yang membuat Taehyung sesak. Dia nampak seperti anak kecil, gemetar karena takut dia baru saja melukai orang tuanya karena sikapnya di sekolah.

“Apa saja. Teriaki aku dengan makian. Tendang perutku. Tinju saja aku—apa saja, tapi tolong... Tolong. Jangan menangis.

I can't take it.” Bisiknya, seluruh tubuhnya gemetaran sekarang sama seperti Taehyung. “I can't take your crying...”

Taehyung berdiri, dia tidak bisa mendengarkan ini lagi tanpa hancur berantakan.

“Tidak sekarang,” katanya gemetar, “Tolong. Jangan sekarang.” Bisiknya pada Jeongguk yang pias. “Tolong, Jeongguk.”

Dia bergegas melangkah melewati Jeongguk yang berdiri diam, menundukkan kepalanya dan memejamkan mata. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya, berusaha untuk tidak meraih Taehyung dan menahannya.

Mereka paham, mereka butuh sendirian sejenak. Mereka paham ada yang salah di antara mereka yang harus segera diselesaikan.

Mungkin Taehyung memang butuh sendirian sejenak.

Dia melangkah ke kamar mandi tamu, membuka pintunya dan mendapati Jeongguk sudah menyiapkan air hangat yang nyaman dengan lilin aromaterapi yang dibawa Taehyung ke sini beberapa hari lalu untuk melepaskan penatnya bekerja.

Apinya yang kecil bergoyang sementara kran air terbuka kecil, memberikan suara gemericik yang membelai saraf Taehyung yang tegang. Taehyung menutup pintu di belakangnya, menguncinya agar Jeongguk tidak bisa menemukannya lalu menyandarkan punggungnya di sana dan membekap wajahnya—mulai menangis.

Di kamarnya, Jeongguk juga mulai menyerah pada pertahanan dirinya. Dia membuka mulutnya, berusaha bernapas saat dia meledak dalam tangisan tanpa suara. Karena dia tidak paham apa yang dilakukannya hingga Taehyung menangis.

Dan Taehyung karena ketakutannya sendiri pada kenyataan yang terbentang di hadapannya.

Taehyung membenci dirinya sendiri karena tidak berani bertanya, menyebabkan percikan drama yang sebenarnya sama sekali tidak diperlukan. Namun hatinya yang pengecut tidak berani menghadapinya.

Bagaimana jika...?

Taehyung memukul dadanya, berusaha mengenyahkan sakit yang bercokol di sana sementara air mata terus meleleh di pipinya. Kuat, berkali-kali hingga dia tersedak tangisnya sendiri. Dia merasa bodoh, merasa tidak berguna dan pengecut sekali.

Dia hanya perlu menghampiri Jeongguk dan bertanya, “Aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan ibumu, maaf. Kau ingin anak kandung?” Dan mendengarkan penjelasan Jeongguk dan mereka bisa mendiskusikannya dengan kepala dingin.

Namun malam ini, Taehyung menyerah pada sisi dirinya yang lemah dan takut.

Dia menyerah dalam cengkeraman rasa insecure yang meracuni kepalanya. Dia terlalu lelah untuk melawan, terlalu lelah untuk berusaha menghalau pikiran negatifnya yang terus membesar karena dia memberikannya makan—membiarkannya merajalela.

Dia terlalu lelah, lelah sekali dan dia terlanjur membiarkan dirinya termakan seluruh pikiran negatifnya yang subur memberiak di kepalanya. Beranak-pinak dengan cepat memakan otaknya.

Taehyung terbaring di lantai kamar mandi, meringkuk membentuk bola—berusaha menelan tangisannya kembali.

You want a baby?

Bagaimana jika...?

*


Taehyung mendorong pintu ruang rawat Jeonggi dan langsung bertatapan dengan Jeonggi yang baru saja membenahi pakaiannya setelah memberi ASI untuk anaknya, Arya berdiri di sisinya sedang menggendong buntalan kain menggemaskan yang tertidur.

Jeongguk menyusul di sisinya, dia menyapa Arya hangat dan bergegas ke kamar mandi karena sejak di mobil tadi dia sudah menahan buang air kecil. Walaupun Taehyung memaksanya untuk berhenti saja di SPBU untuk buang air kecil, dia menolak dan mengatakan akan melakukannya di kamar Jeonggi saja.

“Ya, terserah.” Kata Taehyung akhirnya, menyadari jika berdebat dengan Jeongguk tidak akan menghasilkan apa pun. “Itu, 'kan, kantung kemihmu.”

“Hai, Tio!” Sapa Jeonggi ceria, walaupun dia baru saja melahirkan dengan bekas jahitan basah di perutnya dan masih menggunakan kateter untuk buang air kecil, namun dia tetap nampak segar dan sehat.

Rambutnya disisir rapi, naik diikat agar tidak mengganggunya saat memberi ASI. Dan karena baru saja melahirkan, sekarang tubuhnya nampak sedikit menggelambir dengan sisa-sisa kulit dan lemak yang merenggang selama dia hamil. Selebihnya, dia tetap terlihat cantik dan sempurna.

“Hai, Sayang.” Sapa Taehyung, meletakkan kantung-kantung yang dibawanya di atas meja di sisi ranjang Jeonggi lalu mencondongkan tubuh ke arahnya, mencium pipinya sebelum menghampiri wastafel untuk mencuci tangan sebelum mengambil bayi.

“Kau sudah makan?” Tanyanya pada Arya yang masih menimang anaknya dengan ceria, membisikkan lagu dengan lembut ke telinganya dan membuat si bayi tersenyum kecil.

“Belum.” Arya mendongak menatap Taehyung dari tempat duduknya di sofa. “Baru saja akan menyuap saat suster datang membawa bayinya, jadi aku membantu Jeonggi dulu.”

“Makanlah, biar aku yang menggendongnya.” Tawar Taehyung pada Arya yang nampak bersyukur atas tawaran itu, dia membentuk buaian dengan lengannya siap menerima bayi yang diserahkan Arya padanya.

Taehyung dengan perlahan menyokong buntalan di tangannya, memosisikan tangannya sedemikian rupa agar menyangga bagian tengkuk si bayi. Bayi itu menggeliat, bibirnya terbuka—menyadari dirinya dipindahkan dan sebelah matanya yang belum terbuka sempurna, mengintip. Mengecek siapa yang menggendongnya.

“Halo, Sayang.” Bisik Taehyung lembut, menggunakan tangannya yang bebas untuk menyentuh pipinya dan bibir bayi itu kembali terbuka, merespons sentuhan Taehyung.

“Kau sudah jadi mengurus aktanya?” Tanya Taehyung, menyadari jika sekarang si bayi sudah memiliki anting mungil di telinganya.

“Sudah,” Arya nampak sangat senang karena bisa beristirahat sambil makan. “Tadi sekalian kuurus dengan tindik telinganya.”

Taehyung mendesah, mendengarnya. Dia benci sekali proses tindik untuk bayi perempuan itu. “Did you cry, Princess? Did it hurt?” Tanyanya pada si bayi yang sebelah matanya masih menatap Taehyung tertarik.

“Menangisnya tidak lama.” Kata Arya, setelah sejak tadi diam menyuap makanannya dengan khidmat karena kelaparan. Dia harus bersiap, pikir Taehyung karena setelah ini mereka akan menghadapi banyak sekali malam-malam panjang kurang tidur.

“Dia tertidur setelah minum ASI dan dipindahkan ke ruangan bayi lagi.” Arya kembali menunduk ke makan siangnya.

Taehyung tersenyum. “Good girl,” bisiknya lembut, mengecup ujung hidung si bayi dengan gemas. “You're so brave.” Tambahnya, tersenyum lebar dan terkekeh saat si bayi menggeliat akibat ciumannya.

Jeongguk kemudian datang ke sisinya setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, “Giliranku.” Katanya, mengulurkan tangan dan Taehyung menatapnya sebal.

“Aku baru menggendongnya lima menit!” Protesnya mendesis agar si bayi tidak terganggu dengan suaranya.

Namun kelopak mata bayi itu bergetar, bola matanya bergerak menatap orang yang ada di atasnya, penasaran. Dia pintar sekali karena tidak menangis dan menjerit-jerit. Kata Arya, semalam saat dia baru lahir dia hanya menangis sebentar sebelum tenang dan terlelap.

She's chillin'.” Kata Arya serius dan Taehyung tertawa terbahak-bahak.

Jeongguk menatapnya jengkel karena tidak diberikan apa yang diinginkannya. “Giliranku.” Ulangnya, kali ini lebih menuntut.

“Kau menyebalkan sekali, kau tahu.” Gerutu Taehyung namun tak ayal menyerahkan bayinya ke Jeongguk yang sudah membentuk buaian kikuk dengan kedua lengannya.

“Pelan-pelan. Sangga tengkuknya.” Bisik Taehyung saat menyerahkan bayinya.

Jeongguk menerima buntalan itu dengan lembut, memposisikan bayinya dengan kikuk di lengannya sebelum akhirnya mendesah. Taehyung membenahi posisinya dengan lembut, agar si bayi dan Jeongguk nyaman sebelum perlahan melepasnya. Bayi itu mengeluarkan suara kecil meresponsnya dan Taehyung tersenyum.

“Oke?” Tanyanya pada Jeongguk yang masih bergerak-gerak, mencari posisi yang nyaman untuk menggendong bayinya.

“Oke.” Kata Jeongguk akhirnya setelah dia nyaman.

“Tidak akan lama.” Taehyung tersenyum. “Kau mengedip dan mendadak, dia sudah berlarian ke sana kemari. Tidak membutuhkanmu lagi.” Dia menatap Jeongguk yang menunduk, menyeka selimut dari wajah si bayi dan menatapnya penuh sayang.

Sementara Jeongguk menimang-nimang keponakannya sebagai hobi baru selain melempari orang dengan wajan, Taehyung beranjak ke sisi Jeonggi. Mengeluarkan anggur merah segar yang mereka beli tadi sebelum kemari, dibungkus dalam plastik wrap yang berembun.

“Kau mau anggur?” Tanyanya.

Jeonggi menggeleng, tersenyum. “Boleh minta donatnya saja?”

Taehyung terkekeh, “Baiklah.” Dia membungkuk, meraih kantung di lantai dan menarik kontainer keluar dari sana, dia membuka tutupnya. Meletakkan benda itu di atas pangkuan Jeonggi dan membiarkannya mengamati isinya.

Jeonggi mulai mengambil sepotong, mengigitnya dan tersenyum senang karena tekstur donat yang diberikan Taehyung terasa lembut, empuk dan lezat sekali. Tidak berminyak dan manisnya pas.

“Kalian sudah menentukan namanya?” Tanya Taehyung, duduk di sisi Jeonggi yang mengunyah donat keduanya.

“Sudah,” Jeonggi mengangkat sepotong donat bersalut gula merah, mengangguk hingga beberapa anak rambut meluruh ke sisi wajahnya dan dia menyekanya.

“Namanya Divya.”

“Divya.” Ulang Taehyung, mengetes nama itu di lidahnya dan menyukainya. “Artinya?”

“Div dalam bahasa Sanskerta artinya 'cahaya'.” Arya menjawab, menyelesaikan makanannya. “Divya Callista.” Dia menambahkan seraya mengikat kantung sampah yang berisik.

“Callista itu bahasa Yunani, artinya 'yang tercantik'. Jadi arti namanya adalah Cahaya Paling Cantik.” Jeonggi menatap anaknya yang sekarang dalam gendongan Jeongguk yang asyik mengobrol dengan si bayi, mengabaikan semua orang di sekitarnya.

“Divya Callista.” Taehyung tersenyum, hatinya menghangat saat mendengarkan arti nama itu. Mengingat bagaimana semua orang langsung jatuh dalam pesona wajah bulatnya yang menggemaskan, Taehyung yakin nama itu cocok sekali untuknya.

Semalam, semua orang berkumpul di sini menunggui Jeonggi yang teler dan mabuk karena obat bius. Saat Jeongguk dan Taehyung tiba, Arya sedang menimang bayinya sementara Jeonggi terbaring di ranjang, nampak kacau dan mabuk. Dia tersenyum dengan kelopak mata bergetar menahan kantuk.

“H'ai, Kak.” Sapanya mengantuk dan Jeongguk langsung menghampirinya, menyeka rambutnya dan mengecup keningnya sayang. “Bau.” Keluh Jeonggi dan menghalau wajah kakaknya dari wajahnya dengan lemah.

Ayah dan ibu si Kembar menunggui juga di dalam, ruangan penuh saat Yugyeom bergabung tapi semuanya bersuka cita menyambut kehadiran Tukang Sundul yang sudah sejak lama dinantikan. Dia digendong ayahnya, lalu neneknya, lalu kakeknya, lalu kedua pamannya; diciumi, dicintai dan diperlakukan seperti sebuah permata.

“Kak ingin dipanggil apa?” Tanya Jeonggi yang masih berusaha mempertahankan kesadarannya walaupun Arya disisinya sudah membujuknya untuk tidur.

Taehyung menatap bayi merah di tangannya, mengamati bentuk wajahnya dan hidungnya yang mengerut saat dia tidak menyukai sesuatu dan bibirya yang terkuak montok.

“Bagaimana jika 'Tio'? Artinya 'paman' dalam bahasa Spanyol.” Katanya lalu menambahkan, “Tidak ada alasan yang spefisik. Aku hanya suka mendengarnya. Tio.”

Jeonggi tersenyum, kelopak matanya bergetar seperti sayap kupu-kupu saat dia berusaha melawan morfim yang sedang bekerja melumpuhkan semua sarafnya agar dia bisa istirahat.

“Tio.” Katanya, setuju.

“Sekarang istirahat,” Taehyung terkekeh, “Kita bisa bicarakan itu besok.”

Sekarang Jeonggi nampak lebih segar, sudah mandi dan menyisir rambutnya. Dia bahkan menggunakan riasan tipis di wajahnya, kelihatan rileks walaupun masih harus menahan sakit dari jahitan di perut bawahnya.

Infus menancap di punggung tangan kanannya dengan satu slang yang disambungkan ke mesin penyuntik morfim yang bergerak otomatis memberikan dosis penghilang rasa sakit secara konsisten ke infusnya.

Taehyung menatap Jeongguk yang sekarang menggoyangkan lengannya dengan lembut, menatap bayi di pelukannya dengan pandangan memuja yang absolut. Sementara di sisinya Arya membantu Jeonggi membuang isi pispotnya yang penuh, Taehyung sejenak diserang rasa tidak percaya diri yang beracun.

Dia melihat seberapa Jeongguk sangat mencintai bayi itu, Divya. Dan menatap cinta yang melimpah di matanya, otot wajahnya yang mengendur menjadi tatapan yang lembut. Dia belum pernah melihat Jeongguk berekspresi semacam itu.

Dan dia ingin sekali memberikan kebahagiaan itu pada Jeongguk; menatap ekspresi itu selamanya. Melihat ekspresi itu diberikan kepada... entahlah, anak kandung mereka, mungkin?

Taehyung suka anak-anak, suka sekali. Namun hanya bagian kecil dari dirinya, sedangkan yang lain terlalu sibuk mengejar karir. Sibuk berpindah-pindah kerja, sibuk mengejar sesuatu yang sekarang mulai disadarinya adalah kefanaan.

Sebenarnya dia terburu-buru mengejar apa? Terburu-buru mencari apa? Siapa yang memaksanya terburu-buru selama ini?

Sekarang saat dia berhenti untuk berpikir, apakah dia menginginkan seorang anak? Bayi mungil yang akan berceloteh ceria padanya? Memanggilnya ayah? Seorang bayi perempuan cantik yang akan menjadi putri di hidupnya, permata yang berkilau.

Pernahkah Taehyung benar-benar memikirkannya?

Taehyung menyukai anak-anak, tapi dia tidak pernah merasa dia memiliki cukup kesabaran dan ketenangan untuk membesarkan mereka—khususnya secara emosional. Tidak yakin dia bisa menjadi seorang ayah yang baik. Tidak ingin mengorbankan seorang manusia tidak bersalah dalam ketidakmampuannya dalam mendidik.

Terlalu mahal harganya.

Taehyung berhenti saat dia menyadari pikirannya sudah membuat otaknya sakit, dia mendorong pikiran itu menjauh dari kepalanya—tidak mengizinkannya meracuni kepala Taehyung sama sekali.

Jika Jeongguk memilihnya, memilih menjadi seorang homoseksual, dia pasti tahu apa yang dia lewatkan. Apa yang diinginkannya dan tidak diinginkannya.

Menyadari dirinya sedang diamati, Jeongguk mendongak dari Divya di pelukannya dan menatap Taehyung yang duduk menyilangkan kaki di kursi di sisi Jeonggi yang sekarang berbaring, menonton televisi—senang karena ada banyak orang yang bisa menggendong Divya sehingga dia bisa beristirahat.

“Apa?” Tanya Jeongguk dengan gerakan bibirnya, bahasa yang selalu mereka gunakan tiap kali mereka harus berkomunikasi jarak jauh—yang berarti sering, di setiap wedding, lunch dan/atau dinner group yang mereka kerjakan.

Sekarang, keduanya sudah bisa berkomunikasi tanpa perlu berusaha. Sekali pandang, Taehyung tahu apa yang dikatakan Jeongguk dan begitu pula sebaliknya.

“Tidak.” Taehyung menggeleng dengan senyuman tipis di bibirnya. “You're whipped.” Dia mengerling Divya yang bergerak di buaian Jeongguk dan pamannya bergegas menunduk, mengecek apa yang si bayi inginkan.

Lalu dia kembali mendongak, tersenyum pada Taehyung. “You too.” Katanya tanpa suara.

Taehyung tersenyum.

Lalu pintu ruangan Jeonggi terbuka dan kedua orang tua si Kembar memasuki ruangan dengan berisik, membuat suasana menghangat karena celotehan mereka dan aroma lalu lintas yang menempel di tubuh mereka. Ibu Jeongguk membawa makanan yang aromanya langsung membuat Taehyung teringat bahwa dia belum makan sama sekali.

“Halo, Sayang.” Sapa ibu Jeongguk, mengecup Jeonggi dan menghadiahkan satu ciuman juga untuk Taehyung yang langsung berpindah, membiarkannya duduk di kursi.

“Kalian sudah makan?” Tanyanya menepuk pipi Taehyung sayang. “Makanlah, makan. Berikan Divya pada kakeknya.”

Ayah Jeongguk sudah berada di sisi Jeongguk, tersenyum lebar. “C'mere, Little Darling, now it's time for you and Granpa.” Katanya, meraih Divya dari gendongan Jeongguk dan Taehyung berpikir dengan geli, Divya tidak pernah diletakkan.

Dia pasti akan menjadi anak yang sangat manja dan harus diperhatikan terus-terusan. Tapi dia juga yakin, Jeonggi akan jadi ibu yang luar biasa dalam membesarkan Divya, tidak hanya secara fisik tapi juga secara emosional.

Taehyung duduk di sofa di bawah televisi, di sisinya ayah Jeongguk sedang menimang Divya sementara Arya berbaring di kasur penunggu—memejamkan mata sejenak mumpung ada banyak orang yang akan menggendong Divya dan membantu Jeonggi saat dibutuhkan.

Ayah Jeongguk tidak juga lelah menggendong Divya yang terlelap dengan bibir terbuka, bulu matanya lentik dan hidungnya mungil sekali dengan bintik-bitik kemerahan khas bayi yang menyebar di atasnya. Aroma tubuhnya seperti produk bayi yang membuat Taehyung kecanduan.

Jeongguk dan ibunya duduk di balkon, mengupas mangga untuk Jeonggi sembari mencari udara segar karena si bayi nyaman dengan kakeknya dan Jeonggi bisa istirahat.

Bosan karena ayah Jeongguk tidak juga lelah dan tidak menemukan apa pun untuk dilakukan, Taehyung akhirnya bangkit, hendak bergabung dengan ibu dan Jeongguk saat percakapan mereka tertiup angin samar-samar ke telinganya.

Taehyung berhenti di pintu yang terbuka mengarah ke balkon yang gemuruh oleh angin malam yang bertiup, namun suara ibu Jeongguk cukup untuk didengar.

Khususnya bagian yang didengarnya.

... You want a baby?” Tanya ibu Jeongguk lembut dan membuat jantung Taehyung mencelos.

Dia menyuarakan ketakutan Taehyung barusan.

Mengucapkan dengan suara keras hal yang berusaha tidak dipikirkan Taehyung. Hal yang membuat percaya diri Taehyung jatuh ke level terendah dan dia tidak pernah mengalami itu sebelumnya.

Dia selalu sempurna, bintang di kelasnya, berbakat dan dicari semua orang. Taehyung bisa menundukkan apa saja, dia bisa melakukan apa saja. Namun jika dihadapkan dengan garis takdir dan fakta biologis antara lelaki dan perempuan, Taehyung paham dia tidak bisa melakukan apa pun.

Dia mundur dari pintu, tidak ingin mendengar jawaban Jeongguk sama sekali.

Taehyung takut dan dia bersikap pengecut.

Dia tidak mau menghadapi ketakutannya sendiri. Dia tidak mau mendengar jika Jeongguk ternyata menginginkan bayi, mungkin saja berubah pikiran tentang orientasi seksualnya sekarang setelah dia memeluk Divya di tangannya, merasakan betapa berharganya bayi itu.

Dan memutuskan, dia mungkin menginginkan anaknya sendiri.

Namun Taehyung tidak kabur dari sana walaupun seluruh dirinya memaksanya untuk begitu, menjauh dari Jeongguk dan menjauh dari keluarganya yang sekarang terasa tidak lagi menyenangkan.

Dia merasa mual karena rasa takut, dia tidak berani menatap Jeongguk sama sekali sepanjang sisa malam itu. Takut mendapatkan jawaban di wajahnya, takut menghadapi ketakutannya sendiri.

Taehyung memutuskan untuk duduk di sisi ranjang Jeonggi, memunggungi semua orang seraya memijat kaki Jeonggi yang masih bengkak karena sisa-sisa kehamilan. Dan ibu muda itu menyadari ekspresi wajahnya.

“Kak?” Tanyanya berbisik, setelah sejak tadi sibuk menjejalkan butiran anggur merah ke mulutnya. “Kau baik?”

Taehyung mengerjap, baru menyadari bahwa dia melamun. “Baik.” Sahutnya, mendesah dan tersenyum pada Jeonggi. “Kau mau anggur lagi?”

Jeonggi menatapnya, menilai dengan perlahan dan Taehyung berusaha keras mendorong semua rasa anxious-nya mundur agar tidak terpampang di wajahnya. Jeonggi amat sensitif dengan perubahan emosi, dia tahu itu.

“Tidak.” Katanya kemudian membuat Taehyung lega. “Ini cukup.” Dia tersenyum sebelum kembali menunduk, meraup beberapa butir anggur dan mulai mengunyahnya lagi.

“Aku harus diet.” Keluhnya kemudian dan Taehyung bersyukur dia mengalihkan pikiran Taehyung dari pembicaraan Jeongguk dan ibunya. “Semuanya menggelambir, menjijikkan.”

Taehyung tertawa, tawanya terasa kering dan menyiksa. “Tidak, kau cantik.” Hiburnya. “Setelah ini kau masih harus menyusui dan itu tugas yang berat sekali, tolong jangan menyiksa dirimu dulu dengan diet, ya? Anakmu butuh ASI yang berkualitas agar tumbuh sehat.”

Jeonggi mendesah, menyentuh badannya sendiri. “Kata Wik Arya,” katanya. “Saat lahir yang pertama keluar adalah air. Banyak sekali air. Kata dokter, itulah yang membuatku jadi begitu gendut. Divya itu kembar air.

“Air ketubanku banyak sekali.” Jeonggi menyentuh perutnya, merasakan lemak-lemak sisa kehamilan yang membuatnya mengernyit tidak suka dan Taehyung terkekeh kecil.

“Gampang.” Taehyung menepuk kakinya hangat. “Kita akan diet setelah ini, oke? Sekarang kita fokus pada menghasilkan ASI yang berkualitas untuk Divya.”

Jeonggi menatapnya, mengamati wajah dan ekspresi Taehyung dengan penuh perhatian. “Kak Tae orang baik.” Katanya kemudian membuat alis Taehyung baik. “Baik sekali.” Tambahnya.

“Semoga hidup Kak Taehyung selalu dipenuhi kebahagiaan.” Ucapnya tulus hingga Taehyung merinding oleh kekuatan dan sayang yang dicurahkan Jeonggi pada kata-katanya.

You want a baby?

Hidup Taehyung selalu membahagiakan, namun sepertinya hari ini tidak terlalu membahagiakan.

*

*Virtual Tour: On Google Earth View sets the navigation from Penelokan, Kintamani to Trunyan. enjoy! x


Taehyung melompat turun dari Rubicon Jeongguk saat mereka akhirnya berhenti di tanah lapang, tempat jalanan besar berhenti.

Mereka tadi menuruni jalanan menuju arah Gunung Batur yang berliku dan licin oleh sisa-sisa pasir karena banyak truk-truk pengangkut pasir yang berpapasan dengan mereka dan beberapa dari mereka yang menurunkan muatan tepat di jalan belokan berbahaya sebelum tanjakan menuju Penelokan.

Indahnya Indonesia, pikir Taehyung getir saat mereka menuruni jalan dan melihat sebuah truk besar dengan dua orang pengangkut pasir sedang menyekop muatannya untuk ditinggal menumpuk di badan jalan.

Mereka meluncur terus mengikuti jalan, pemandangan danau yang nampak begitu dekat membuat Taehyung menurunkan jendelanya; membiarkan angin dan debu menampar wajahnya saat dia menikmati sejuknya hawa Kintamani yang mengigit hidungnya.

Jalanan menjadi rusak beberapa meter sebelum mereka tiba di ujung jalan dan mobil membelok ke arah kanan dengan papan penunjuk “Desa Trunyan”. Mereka melewati Pura Desa yang besar dengan beringin rindang yang membuat Taehyung tersenyum karena perasaan nyaman saat melihatnya.

Karena jalanan di depan mereka mengecil dan menyempit, Jeongguk memarkir mobilnya di halaman pura lain yang besar dan menelepon seseorang. Taehyung duduk di kursi penumpang, dengan pintu terbuka dan Jeongguk berdiri di bawahnya, sedang mengunyah potongan celery dengan hummus buatan Jeongguk.

“Kita akan naik apa dari sini?” Tanya Taehyung, mengunyah batang sayuran berair itu dengan suara garing yang menyenangkan. Ternyata rasa snack Jeongguk yang sangat sehat itu tidak buruk juga.

Jeongguk mengerlingnya dan Taehyung seketika menyadarinya.

“Tidak...” Katanya, mendadak kehilangan nafsu makan. Apakah mereka akan menaiki monster sial seperti yang digunakan Jeongguk saat mereka pergi ke kebun stroberi....?

Demi Tuhan...

“Ya.” Sahut Jeongguk, terhibur dengan ekspresi Taehyung. “Karena jalannya kecil dan ekstrim, jadi aku minta mereka memberikanku trail untuk hari ini.”

Taehyung berhenti mengunyah camilannya, kehilangan minat.

“Dan aku juga minta mereka memberimu helm.” Tambah Jeongguk seolah hanya dengan mengatakan itu dia bisa menjamin Taehyung tidak terlempar dari motor sialan itu dan mematahkan tulang lehernya.

“Apa salahnya dengan motor bebek? Matic?” Protes Taehyung, menutup kotak bekal mereka dan memasukannya ke tas makanan yang dibawa Jeongguk tadi.

“Jalannya ekstrim.” Ulang Jeongguk dengan sabar seperti seorang guru yang menjelaskan kepada muridnya bahwa 1+1=2 dan itu absolut. “Motor trail akan membuat perjalanan lebih menyenangkan.”

Menyenangkan.” Taehyung mendengus, jelas menyadari bahwa cara mereka menikmati adrenalin sangatlah berbeda.

“Kau akan menyukainya.” Jeongguk mendongak, menatapnya dengan senyuman cerah di bibirnya—rambutnya berhamburan karena angin yang bertiup dan dia nampak indah sekali, walaupun tempat itu beraroma amis ikan yang tidak diapresiasi Taehyung sama sekali (tapi mau bagaimana lagi, pesisir danau memang begitu).

Jantung Taehyung selama sedetik berhenti berdetak karena senyuman itu sebelum dia berhasil membalas senyuman Jeongguk. “Baiklah.” Katanya, menyimpan camilan mereka yang akan ditinggalkan di sini.

Mereka tadi sudah mampir untuk makan di restoran yang kata Jeongguk enak dan dulu jadi favoritnya sebelum memutuskan untuk menjadi vegetarian. Menunya nasi campur babi dan walaupun Jeongguk tidak makan (dia makan spaghetti pesto-nya), Taehyung menyukai rasanya.

Bumbu-bumbu Bali selalu berhasil membuat lidah Taehyung mendecap-decap kesenangan. Tajam, kuat dan intens. Membuat lidahnya terus mencari setelah selesai makan, merindukan rasa-rasa eksotis yang meledak di rongga mulutnya itu.

Dan setelah menyelesaikan wisata mereka ke Trunyan, Jeongguk mengajak Taehyung piknik di suatu tempat yang masih dirahasiakannya.

Panjang umur karena kemudian motor mereka datang dan Taehyung mendesah keras saat trail yang jauh lebih sangar dan galak datang dari kejauhan ditemani motor-motor trail lain yang sama tidak sopannya.

Jeongguk menyambut mereka, bertukar salaman hangat pada semuanya. “Apa kabar?” Tanyanya dalam bahasa Bali kasar yang membuat Taehyung tersenyum karena logatnya yang kental dan tebal.

“Baik, baik!” Balas pemimpin grup itu tersenyum lebar dengan bahasa Bali yang logatnya sedikit berbeda dengan Jeongguk. “Kau sendiri bagaimana? Terakhir kali bertemu kau masih belum sesibuk sekarang! Aku kaget sekali saat kau meneleponku minggu lalu meminta ditemani ke Trunyan.”

Jeongguk mengulaskan senyuman tipis. “Temanku,” dia mengedikkan dagu ke Taehyung yang melompat turun dari mobil lalu menyalami semuanya dengan hangat. “Baru di Bali dan penasaran dengan Trunyan.”

Pemimpin rombongan itu menyalami Taehyung terakhir, erat dan hangat. “Halo.” Sapanya dengan bahasa Indonesia bernoda logat Bali. “Saya Tanu.” Dia tersenyum lebar—dia memiliki postur tubuh tinggi berisi dengan kulit sawo matang, seperti seorang petualang sejati dan garis wajah Bali yang tajam.

“Halo.” Balas Taehyung. “Taehyung.” Dia tersenyum ramah sebelum melepaskan tangannya.

“Sudah pernah tahu Trunyan?” Tanya Tanu pada Taehyung, basa-basi ramah yang membuat Taehyung hangat karena merasa diterima.

“Belum.” Katanya jujur. “Tapi teman saya menceritakan garis besarnya.”

Tanu mengangguk. “Di kuburan kami, ada sebuah pohon taru menyan besar yang membuat pembusukan mayat tidak tercium busuk sama sekali.” Dia tersenyum. “Dan karena desa kami terletak di sisi danau, maka kami mengungsikan pemakaman ke tanah lain yang jauh dari desa.”

“Nanti kau juga akan melihat kuburan bayi kami.” Tambah Tanu saat mereka masing-masing mulai menaiki sepeda motor mereka dan Taehyung sekali lagi, tidak mendapatkan helm sama sekali karena “Jaraknya dekat kok!”.

“Kau tahu tidak?” Gerutu Taehyung saat duduk di jok belakang, kedua tangannya beristirahat santai di kedua paha Jeongguk yang mengetes sepeda motornya yang menggeram di bawah mereka.

“Apa?” Tanya Jeongguk melirik dari spionnya.

“Kata mereka jaraknya dekat, jadi kita tidak pakai helm.” Taehyung memulai sementara dua motor lain di sisi mereka juga meraung saat dinyalakan.

“Ya. Lalu?” Balas Jeongguk, sekarang menolehkan kepalanya untuk menatap Taehyung yang menelengkan wajahnya agar mereka bertatapan.

“Percuma dekat,” dia tersenyum lebar, “Kalau tidak jadian.”

Jeongguk kemudian menghadiahinya dengan suara tawa lepas yang membuat perut Taehyung dipenuhi kupu-kupu yang mengepakkan sayap mereka dengan ceria sementara mereka meluncur di jalanan desa yang sepi di atas motor trail.

“Itu sindiran?” Tanya Jeongguk setelah tawa langkanya reda.

Taehyung mengedikkan bahu walaupun dia tahu Jeongguk tidak akan melihatnya, “Kurang tahu, ya. Tergantung bagaimana Chef menangkapnya saja.”

Jeongguk mendenguskan senyuman lebar, namun tidak menjawab.

Desa itu ramah dengan rumah-rumah berjajar rapi, jalanan yang bersih dan aroma pedesaan yang khas. Jalanan perlahan semakin dan semakin mengecil hingga akhirnya mereka tiba di jalan yang berada di pinggir tebing, dengan bukit di sisi kanan dan pemandangan lepas Danau Batur di sisi kiri.

Jalan mereka hanya cukup untuk satu mobil, itulah kenapa Jeongguk memilih menggunakan motor karen Rubicon akan membuat jalanan itu penuh. Taehyung menahan napasnya saat mereka melaju menembus jalan kecil yang menghadap langsung ke danau lepas walaupun setengah hatinya takut mereka tergelincir dan terjun bebas ke arah kiri.

Pepohonan besar dan rindang menaungi perjalanan mereka dengan angin keras yang beraroma tipis amis ikan air tawar yang sekarang mulai terasa normal di hidung Taehyung. Ada kebun-kebun kol yang ditanam miring sesuai bentuk tanah desa di beberapa tempat; nampak basah sehabis disiram. Selang-selang plastik dijulurkan dari danau, airnya diangkat naik dengan pompa-pompa yang berdengung.

Ada kebun bawang merah yang daunnya beriak saat tertiup angin. Bunga-bunga bogenvil yang bergoyang tertiup angin dengan warna-warna semarak musim kemarau: merah, oranye, merah jambu dan putih. Tumbuh dalam batang-batang raksasa yang rimbun.

Taehyung menyeka rambutnya, tersenyum saat menikmati perjalanan mereka walaupun di bawah teriknya matahari yang menyengat. Jeongguk mengemudi dengan tenang, mengikuti teman-temannya membelah pemukiman demi pemukiman.

“Haloo!” Sapa Taehyung bersemangat, menjulurkan tangannya tiap menemui anjing peliharaan warga di jalan dan tertawa saat anjing itu menyalak, mengejar mereka dengan gonggongan nyaring.

“Jangan begitu!” Seru Jeongguk dari depan, namun Taehyung bisa mendengar secercah nada humor dalam suaranya. “Nanti mereka mengigit tanganmu!”

“Tidak!” Tukas Taehyung ceria. “Mereka baik!”

“Terserah kau.” Balas Jeongguk dengan senyuman di dalam suaranya.

Mereka membelok, ke arah jalan kecil lain dengan pemandangan danau yang jauh lebih menakjubkan; lepas dan luas serta langit yang cerah tanpa awan. Ada rumah-rumah kecil yang dibangun di pinggir danau dengan pelampung-pelampung jala yang mengambang di sekitarnya.

“Itu apa?” Tanya Taehyung, mendekatkan wajahnya ke Jeongguk seraya menunjuk ke rumah kecil yang mereka lewati.

“Tempat nelayan mengambil hasil jala.” Sahut Jeongguk, menunjuk dengan matanya perahu sederhana yang ditambat di sisinya. “Untuk istirahat.”

Taehyung mengangguk, “Ooh!” Katanya, mengamati rumah itu dan menoleh saat mereka melewatinya. “Selain ikan, mereka punya apa lagi?”

Jeongguk melepas satu tangannya, melambai ke arah kebun-kebun di tanah landai perbukitan; kol-kol gendut segar, pohon bawang merah yang subur dan rimbun. “Bawang merah karena lokasinya cocok.”

Taehyung meraih ponselnya, berusaha mengabadikan pemandangan di depannya dan itu membuat Jeongguk berdecak sebal. “Nanti jatuh!” Katanya, dengan nada memperingati yang keras.

“Tidak,” balas Taehyung ceria. “Kau tidak akan membiarkanku jatuh, 'kan.”

“Tentu saja tidak.” Sahut Jeongguk seketika dan Taehyung tersenyum semakin lebar. “Tapi jika kau terguling, aku juga akan terguling. Jika aku jatuh, bagaimana aku bisa menahanmu agar tidak jatuh?”

Taehyung tertawa, berhasil mengambil beberapa gambar sebelum menyimpan kembali ponselnya—agar atasannya tidak mengomel.

“Siap, Chef.” Katanya ceria lalu melingkarkan kedua lengannya di pinggang Jeongguk hingga chef senior itu terkesirap kaget dan motor mereka oleng.

Keduanya berseru tertahan berbarengan dan Taehyung otomatis memeluk Jeongguk semakin erat. Jeongguk berhasil menahan kepala motor, dia membelokkan arah kepala motor ke tebing yang lebih aman daripada meluncur bebas ke danau dan menjejak kakinya kuat-kuat di tanah agar mereka tidak terguling.

Ketiga teman-teman Jeongguk menoleh dari motor mereka, memastikan mereka baik-baik saja. “Kau oke?!” Seru Tanu, menepuk bahu temannya untuk menepi.

“HATI-HATI!” Seru Taehyung, jantungnya nyaris saja jatuh ke tanah karena kaget setelah mereka berdiri dengan stabil di tengah jalan; motornya berhenti melintang di tengah jalan.

Jeongguk menoleh pada Taehyung yang kaget tapi geli. “Jangan begitu!” Katanya dengan gusar dan Taehyung tertawa, adrenalin membanjiri seluruh aliran darahnya hingga dia merasa sinting karena tertawa saat Jeongguk nampak marah.

Namun toh akhirnya Jeongguk menyerah dan ikut mendenguskan tawa karena melihat tawa lepas Taehyung di hadapannya. “Jangan begitu. Aku kaget.” Keluhnya, kali ini menegur dengan nada lebih tenang.

“Maaf, maaf!” Taehyung tersengal oleh tawanya sendiri. “Aku tidak tahu reaksimu akan seperti itu.”

“Tentu saja begitu!” Balas Jeongguk, telinganya memerah karena malu.

Mereka tidak sempat menyelesaikan pertengkaran mereka karena Tanu turun dari motornya, “Kau oke?” Dia berlari menghampiri mereka dan Jeongguk mengangguk padanya.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa.” Katanya, “Tadi ada kadal yang lewat dan aku kaget.” Bohongnya dengan mulus dan Taehyung tertawa kecil mendengarnya.

Setelah meyakinkan Tanu bahwa mereka baik-baik saja, mereka melanjutkan perjalanan menembus jalanan desa yang rindang. Taehyung bersikap baik dengan tidak melakukan hal-hal aneh yang bisa membuat mereka terjun bebas ke danau.

Melewati banyak perbukitan, jalanan sempit dan ladang bawang merah akhirnya mereka berhenti di tanah lapang dengan pemukiman yang sekarang aroma amis ikan bahkan semakin menusuk hingga Taehyung mengernyit.

Mereka memarkir motor di lapangan voli yang terisi gerabah yang sedang dijemur di atas kain-kain terpal berwarna mentereng. Ayam-ayam sedang berada di pinggirnya, mengais-kais gerabah dan mematuki makanan dengan suara berdeguk-deguk mereka. Matanya mengamati kedatangan motor-motor sebelum kembali mematuki gerabah.

Taehyung turun dari motor, mengamati pemukiman yang sedikit lebih padat. Beberapa anak berlarian di depan rumah yang dihiasi bunga-bunga krisan yang bermekaran. Ada pura kecil di setiap halaman penduduk dengan beberapa rumah masih menggunakan atap ilalang yang gemerisik.

Aroma amis ikan membuat kepala Taehyung sedikit pusing. Dia tidak terlalu suka aroma menyengat, maka dari itu dia bekerja di Pastry yang segalanya serba lembut dan menenangkan. Tidak seperti di Butcher atau hot kitchen.

Taehyung beranjak ke jalan yang membelah pemukiman dan menemukan bahwa jalan itu berakhir ke sebuah dermaga yang ternyata ramai. Dia bergegas melangkah, ingin mencari tahu apa yang bisa dilihatnya di ujung jalan.

Namun sebelum dia sempat menemukan apa yang bisa dilihatnya di dermaga, tangan Jeongguk menangkap tangannya.

Dia menoleh dan Jeongguk tersenyum. “Pelan-pelan.” Katanya.

Taehyung mendesah, “Baiklah.”

Tanu memimpin mereka melewati jalananan pemukiman. Melewati rumah-rumah penduduk, keranjang-keranjang ikan segar yang baru diangkat, beberapa ibu-ibu yang sedang duduk membuat sesuatu dari janur.

“Mereka membuat canang.” Kata Jeongguk saat Taehyung mengamati dua orang gadis yang duduk di teras dengan senampan bunga segar, tertawa sambil menata sedikit-sedikit bunga di atas wadah cantik dari janur. “Untuk persembahan umat Hindu setiap hari.”

Taehyung menggumamkan “ooh” panjang, masih mengamati bagaimana bebungaan itu nampak segar dan cerah. Dan bagaimana mereka nampak sangat menikmati kegiatan sederhana itu sambil bercengkerama.

Di tengah jalan, Taehyung berhenti. Menemukan persembahan yang sama seperti yang sedang mereka kerjakan. Dia mengambil gambarnya; menyukai bagaimana kombinasi warna bebungaan di atasnya nampak begitu ceria dan semarak.

Dia menegakkan tubuhnya dan menoleh, beradu pandang dengan Jeongguk yang tersenyum. “Maaf,” kata Taehyung meringis dan Jeongguk menggeleng, tidak masalah.

Mereka berhenti di dermaga yang ramai, Taehyung bersiul takjub melihat banyaknya wisatawan yang berkunjung ke tempat ini untuk melihat kuburan. Mereka semua sedang menggunakan pelampung dan siap naik ke perahu-perahu yang menunggu mereka untuk mengantarkan mereka ke Kuburan Desa Trunyan.

“Tunggu di sini dulu,” kata Jeongguk meminta Taehyung menyingkir berteduh di bawah atap sebuah warung sementara dia dan Tanu pergi ke arah perahu kecil yang terisi seorang supir.

Taehyung mengamati keadaan di sekitarnya, mengamati orang-orang yang berceloteh dengan semangat. Angin danau bertiup keras ke wajahnya, aroma amis ikan tercium samar-samar di tempat ini dan pemandangan lepas ke arah permukaan danau yang dibingkai oleh jajaran bebukitan yang hijau membuatnya senang.

“Ayo.” Ajak Jeongguk, berdiri di depannya.

Dia menarik lepas karet hitam tipis di pergelangan tangannya dengan gigi, membiarkannya menggantung di bibirnya sementara kedua tangannya naik, mengumpulkan rambutnya untuk diikat.

Tangan kirinya menggenggam rambut yang dikumpulkannya di atas tengkuk, lalu dengan tangan kanannya dia meraih karet di bibirnya dan menguncir rambutnya sebelum menoleh dan mendapati Taehyung mengamatinya.

“Apa?” Tanyanya.

Taehyung menggeleng. “Kau indah.”

Alis Jeongguk naik sebelah. “Kau sudah lihat dirimu sendiri?” Tanyanya.

Taehyung merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya. Mengecek wajahnya sendiri di layarnya yang gelap lalu mendongak. “Masih tampan.” Sahutnya.

Jeongguk tersenyum kecil, tangannya terangkat dan menepuk kepala Taehyung sayang sekali sebelum menurunkan tangannya. “Ayo, naik ke perahunya dan kita menyeberang.”

Perahu mereka terbuat dari kayu, dengan badan yang rendah sehingga saat terisi manusia, permukaan air danau nyaris menyentuh bagian ujung badan perahu sehingga Taehyung bisa dengan mudah mencelupkan jemarinya ke air danau yang kehijauan dan dingin.

Dia tersenyum, menatap wajahnya sendiri di air setelah duduk dengan nyaman di perahu dan Jeongguk menyusulnya, duduk di depannya. Perahu bergoyang-goyang lembut oleh ombak danau yang disebabkan oleh angin, menghamburkan rambut Taehyung hingga melecut wajahnya sendiri.

Dia merogoh sakunya, mengeluarkan headband dan mengenakannya sebagai menyeka rambut agar tidak menusuk matanya, memberikan udara untuk keningnya yang lembab oleh keringat.

“Kita tidak pakai pelampung?” Tanya Taehyung, mulai bertanya-tanya kenapa tiap kali dia bepergian dengan Jeongguk dia tidak pernah diberikan standar keselamatan sama sekali—helm? Pelampung?

“Jangan bilang karena dekat.” Taehyung mendelik pada Jeongguk yang mengedikkan bahunya, “Memang dekat.” Katanya kalem dan Taehyung mengerang keras.

“Kau bisa berenang, 'kan?” Tambahnya.

“Tentu saja, bisa. Tapi, bukan itu masalahnya!”

Perahu kemudian membelah danau yang tenang dengan bantuan mesin yang dikendalikan di bagian hilir. Taehyung menoleh ke depan, ke arah tujuan mereka dengan senang. Rambutnya berhamburan walaupun sudah dibantu dengan headband, Jeongguk berpindah lebih dekat ke sisinya.

Air beriak saat perahu membelahnya, menyiprati bagian sisi Taehyung yang sama sekali tidak keberatan karenanya. Perbukitan nampak jauh lebih hijau dan rindang, angin yang sejuk berhembus menghantam wajah Taehyung yang terasa tebal oleh debu dan kotoran setelah bermotor tadi.

Rambut Jeongguk yang diikat kencang tadi sekarang mulai melonggar karena angin yang menariknya, tanganya yang bebas menyeka anak rambut yang melecut wajahnya sementara tangan kanannya memegang sisi perahu dekat dengan tangan Taehyung—seolah siap menangkapnya kapan saja.

“Di sana itu,” Tanu yang duduk di hilir kemudian bersuara. Taehyung dan Jeongguk menoleh ke arahnya dan dia sedang menunjuk bukit di kejauhan yang nampak landai. “Adalah makam untuk bayi-bayi. Baik yang meninggal karena sakit atau keguguran. Sengaja dipisahkan karena kami percaya, jiwa mereka masih suci dan tidak untuk digabungkan dengan makam umum.”

“Suci?” Ulang Taehyung dan Jeongguk mengangguk.

“Dalam kepercayaan agama Hindu, mereka sangat percaya renkarnasi. Jadi, kehidupanmu sekarang ini adalah karma yang dibayarkan dari kehidupan sebelumnya. Setelah kau meninggal,” Jeongguk menjelaskan sementara Tanu di belakangnya mengangguk-angguk, setuju.

“Tubuhmu dibakar habis. Lalu arwahmu akan disucikan untuk dikembalikan ke leluhurmu, tempat tertinggi sehingga nantinya kau bisa lahir kembali.” Dia menatap Taehyung yang masih berusaha mencerna informasi yang didapatkannya itu.

“Dan bayi-bayi,” sela Tanu dan Taehyung menoleh ke arahnya. “Dianggap sebagai leluhur yang masih suci, belum ternoda oleh keduniawian sehingga kami memisahkan makamnya.” Tambah Tanu dengan senyuman ramah di bibirnya.

“Semacam bayi itu lebih tinggi kastanya dari orangtuanya karena mereka dianggap baru saja kembali dari surga. Masih suci dan bersih.” Jeongguk berkata dan Taehyung mengangguk-angguk, memikirkan konsep adat Hindu yang baru didengarnya.

“Maka dari itu makamnya berada di atas bukit?” Tanya Taehyung kemudian, berteriak menghalau suara dengung mesin perahu untuk bertanya pada Tanu.

“Betul sekali.” Tanu menjawab dengan senang. “Lokasinya lebih tinggi dari makam untuk orang tua.”

Taehyung mengangguk-angguk paham. Sebagai orang yang tumbuh besar sebagai pendatang di Jakarta, lalu bergegas hengkang dari sana untuk bekerja berpindah-pindah, belum pernah sebuah budaya benar-benar menarik minat Taehyung untuk belajar.

Dia kemudian teringat canang tadi, pura kecil di setiap rumah dengan pintu-pintu kecil yang dihiasi kelepai berwarna hitam-merah-putih yang bersih. Sisa-sisa persembahan.

“Bali itu sakral.” Jeongguk menambahkan, tersenyum padanya. “Kau akan baik-baik saja selama kau menghormati setiap norma adat yang berlaku.”

“Itulah daya tariknya,” Taehyung terkekeh, kembali menatap ke depan—ke permukaan danau yang bergolak ringan dan mulai melihat dermaga kecil di kejauhan dengan dedaunan rimbun yang melingkupinya.

“Kesakralan pulau ini.” Dia menatap kuburan Desa Trunyan yang perlahan mendekat dan mesin perahu yang memelan untuk berhenti, “Magis.”

“Benar kata Yugyeom,” Taehyung menoleh, menatap Jeongguk yang balas menatapnya. “Be ready to fall in love.”

You do?” Tanya Jeongguk saat perahu mulai memelan dan menepi untuk bersandar di dermaga kayu yang berlumut tipis.

I do.” Balas Taehyung, lugas.

Mereka memasuki kawasan makam yang sama sekali tidak menyeramkan seperti apa yang dikatakan Jimin. Tanu memimpin mereka, menjelaskan dengan ramah pada Taehyung yang sungguh tertarik pada penjelasannya. Pohon taru menyan yang dimaksud berdiri tepat di tengah makam, satu akarnya sebesar tubuh Taehyung dan menguarkan aroma khas yang lembut.

Tidak ada aroma jenazah seperti yang ditakutkan Taehyung, aromanya hanya seperti aroma apak lembab oleh lumut. Tengkorak-tengkorak dijajarkan di beberapa bagian dan Taehyung tidak sudi mendekat—takut karena kepala itu dulu pernah bernama dan bernyawa.

Sebaiknya dia tidak menganggunya.

“Lalu apakah di Trunyan tidak mengenal upacara Ngaben?” Tanya Taehyung saat mereka berdiri di bawah pohon taru menyan yang rindang, mengamati tutup-tutup anyaman berbentuk segitiga yang di dalamnya terisi mayat yang sudah hampir habis membusuk.

“Inilah Ngaben kami.” Jelas Tanu pada Taehyung yang mendengarkan sementara Jeongguk yang sudah paham, berkeliling.

“Tapi hanya mereka yang meninggal secara wajar dengan status sudah berumah tangga, lajang yang masih bujang dan perawan atau balita yang sudah tanggal gigi susunya yang dimakamkan dengan cara ini, Mepasah. Kondisi mayatnya pun harus utuh dan sempurna.

“Untuk mereka yang meninggal dengan kondisi tubuh tidak lengkap atau meninggal secara tidak wajar seperti penyakit dan bunuh diri, tidak dimakamkan dengan cara ini. Melainkan dikembumikan, dikubur seperti biasa dan lokasi makamnya juga berbeda.”

Taehyung menatap kuburan-kuburan di depannya, mengamati wisatawan yang mengambil gambar di beberapa tempat dan bahkan berswafoto dengan jajaran tengkorak yang berlumut. Dia menatap dengan ngeri—membayangkan bagaimana belulang itu saat masih hidup.

“Tidak seburuk itu.” Cetus Taehyung saat mereka akhirnya kembali ke mobil yang beraroma apak karena kepanasan, melambai penuh terima kasih pada Tanu yang melaju kembali.

“Tapi adat mereka unik juga.” Dia memanjat naik ke kursi penumpang dan mengernyit karena aroma mobil jadi apak dan sedikit amis. “Itu adat yang berbeda dengan Bali pada umumnya, 'kan?”

“Memang.” Jeongguk menyalakan penyejuk ruangan, berharap aroma apak segera lenyap. “Oleh karena itu mereka terkenal tidak hanya di area domestik, tapi juga internasional.

“Menurut sejarah, katanya mereka malah sengaja melakukan penguburan semacam itu agar aroma pohon taru menyannya tidak terlalu kuat dan mengundang banyak raja yang ingin merebut dan menguasai wilayah mereka.”

“Jadi sengaja membiarkan mayat menyerap aroma itu?”

“Yap.”

“Sepertinya aku tidak ingin makan siang.”

Jeongguk tertawa kecil, “Kau belum lapar?” Tanyanya.

Taehyung menggeleng. “Selera makanku lenyap saat melihat orang-orang berswafoto dengan tengkorak.” Dia bergidik. “Mereka tidak takut sama sekali, sungguh.”

Jeongguk tersenyum, mulai memasang sabuk pengamannya. Taehyung mengikuti jejaknya dengan segera, karena hanya di mobil inilah dia mendapat standar keselamatan yang layak.

“Tapi kau tetap ingin pergi ke tempat pikniknya, tidak?” Tanya Jeongguk saat mobil bergulir perlahan menjauh dari tempatnya diparkir tadi, melewati jalan yang mulus.

“Tentu.” Taehyung mengangguk. “Siapa tahu kemudian aku tidak lagi mual.” Dia tersenyum.

Jeongguk balas tersenyum, mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Taehyung di atas pangkuannya dan meremasnya lembut sebelum kembali memegang persneling. Ponsel Jeongguk kemudian berdering nyaring dari sakunya.

Dia mendesah, meminggirkan mobilnya di jalanan dan merogoh sakunya. Dia menatap nama yang tertera di layar ponselnya lalu mengangkatnya, “Yes, Dad?” Sapanya dengan aksen Amerika kasar yang membuat Taehyung tersenyum.

Wajah Jeongguk berubah dan Taehyung mengerjap.

“Apa?” Desaknya, seketika merasa takut sesuatu terjadi pada Jeonggi yang sedang hamil tua. “Siapa? Kenapa?” Taehyung mencondongkan tubuhnya ke Jeongguk, berusaha menguping dengung suara ayah Jeongguk di telepon.

I'm in Kintamani. So it probably takes me around 1 hour. OK, text me the room number. I'll see you there.” Katanya, lalu mematikan sambungan dan melempar ponselnya ke bagian depan mobil.

“Apa?” Tanya Taehyung lagi, mendesak nyaris gila.

“Jeonggi melahirkan. Satu minggu lebih cepat dari perkiraan dan sudah pecah air ketuban.” Rahang Jeongguk mengencang saat dia memasang sein dan mengecek jalanan di belakang mobil sebelum meluncur ke jalan.

“Maafkan aku,” katanya melirik Taehyung, penuh permohonan maaf yang tidak perlu sama sekali. “Kita harus kembali ke Denpasar.”

Taehyung terenyak di kursinya. Jeonggi melahirkan.

Melahirkan!

Ledakan rasa semangat tiba-tiba terasa di perutnya, membuat ujung-ujung jemarinya kebas dan dia ingin sekali berteriak. Membayangkan dia akhirnya (mungkin) dia memeluk bayi mungil yang selama ini menyundulnya tiap kali menyentuh perut Jeonggi, membayangkan wajah mungil yang nampak cantik dan humoris seperit kedua orang tuanya....

“Tentu saja kita kembali!” Katanya, gemetar oleh semangat. “Mengetahui jenis kelamin bayi Jeonggi lebih penting daripada piknik sial. Mengemudilah secepat apa yang kau bisa.”

Jeongguk menoleh ke arahnya, kaget dan terpana sebelum kembali menatap jalan raya dan tertawa. “Baiklah. Tolong suapi aku makanan kalau begitu karena aku lapar sekali.”

Taehyung tertawa, dia membalik badannya ke belakang. Meraih tas makanan mereka dan membuka zipper-nya, dia mengeluarkan kontainer yang terisi avocado whole wheat sandwich milik Jeongguk. Dia membuka tutupnya, meraih sepotong chips dan menyuapi Jeongguk yang membuka mulutnya seraya berkonsentrasi dengan jalanan.

Saat meluncur di jalanan kembali ke Denpasar, Taehyung memotong sandwich itu dengan tangannya setelah mengelapnya dengan tisu basah. Memastikan tiap potongan seukuran dengan suapan Jeongguk sebelum menyuapinya.

“Enak.” Kata Jeongguk setelah menelan suapan kesekian dari Taehyung yang sibuk membentuk sandwich-sandwich mungil dari potongan-potongan yang dibuatnya.

“Tentu saja enak. Kau yang masak.” Taehyung menumpuk potongan roti dengan isian alpukat sebelum membawanya ke mulut Jeongguk dengan tangan kiri terbuka di bawahnya, menahan remahan roti.

“Tidak.” Jeongguk membuka mulutnya, menerima suapan Taehyung dan mengunyah dengan nikmat sebelum menelannya. “Karena kau yang menyuapiku.”

“Mulai, deh.”

“Kau tidak suka dipuji, ya?”

“Itu namanya gombal.”

“Itu pujian. Fuck people for making compliment seems like they want something in return.”

“Diam. Fokus saja mengemudi.”

“Cium aku.”

Taehyung mendelik. “Kau tahu tidak kau sedang mengemudi?”

“Bisa kok.” Sahut Jeongguk, ngeyel.

“Tidak.”

“Ya sudah, nanti.”

Taehyung mendesah, “Ya, Berengsek. Ya.”

Jeongguk tersenyum, puas pada dirinya sendiri.

*


“Sudah semuanya?”

Taehyung mengangguk, dia memutar tubuhnya ke belakang dan meraih kantung-kantung spunbound tas belanja yang tadi dia dan Jeongguk masukkan ke dalam setelah berbelanja di supermarket yang mereka lewati menuju rumah Jeonggi.

Taehyung baru tahu bahwa di Bali, mereka tidak diperkenankan menggunakan tas plastik untuk membawa belanjaan sehingga dia bersyukur Jeongguk ternyata sudah siap sedia dengan kantung-kantung belanja di mobilnya.

“Itulah pentingnya membawa orang lokal.” Katanya congkak dan Taehyung ingin sekali mencucuk hidungnya karena jengkel.

Tapi, toh, dia berterima kasih karena Jeongguk membawa tas belanjanya.

Taehyung berencana mengajak Jeonggi membuat fruit fool dan fruitcake setelah semalaman Taehyung menonton reality show Inggris, lalu merasa terinspirasi untuk membuat makanan tradisional Inggris.

Mereka menuruni Rubicon bersamaan dan Jeongguk bergegas membantu Taehyung menutup pintu mobilnya karena kedua tangan Taehyung penuh dengan kantung belanjaan. Dia belum sempat mengucapkan terima kasih saat pintu depan rumah Jeonggi terbuka dan dia berhadapan dengan Wima, ibu si kembar.

“Taehyung.” Sapa ibu Jeongguk dengan senyuman lebar di bibirnya. “Kita bertemu lagi.” Dia bergegas menuruni undakan, meraih Taehyung dan mengecup kedua pipinya dengan suara keras, sedangkan yang dicium terdiam di tempat—kagok dan bingung.

Jeongguk berdiri di sisinya, tersenyum tipis dan entah bagaimana terasa puas dengan interaksi ibunya dan Taehyung.

What are you doing?” Tanyanya kemudian pada putra sulungnya yang berdiri di sisi Taehyung. “Help him with the grocery. Where's your manner?”

Jeongguk menatap ibunya, sebal. “Alright, alright. I'm doing it.” Sahutnya setengah menggerutu lalu merunduk, meraih beberapa kantung di tangan Taehyung yang sebenarnya tidak berat-berat amat.

“Tidak apa-apa, kubawa sendiri saja.” Sahut Taehyung namun mendesah saat Jeongguk meraih semua kantung belanja mereka, ngambek karena ditegur ibunya yang nampak senang sekarang bisa merangkul Taehyung tanpa ganjalan tas belanja.

Mereka memasuki ruangan dan Taehyung langsung melihat ayah Jeongguk duduk di sofa dengan lelaki paruh baya yang mungkin sekitar 2-3 tahun lebih tua dari Jeongguk yang baru pertama kali dilihat Taehyung.

“Arya,” kata ibu Jeongguk di sisinya. “Kenalkan ini Taehyung. Taehyung, ini Arya, suami Jeonggi.”

Arya, suami Jeonggi, tersenyum ramah padanya. Nampak rapi dan licin, serta berpembawaan humoris dengan garis wajah yang menegaskan betapa dia menghabiskan hidupnya untuk tersenyum lebar pada semua orang.

“Halo,” sapanya bergegas menghampiri Taehyung dan mengulurkan tangannya yang besar, kekar dan kasar ke Taehyung. “Arya, suami Anggi.”

Taehyung menjabatnya dengan senyuman di bibirnya, menyukai jabatan tangannya yang kuat, hangat dan penuh percaya diri. “Halo, saya Taehyung.” Dia sejenak bimbang lalu menambahkan, “Teman Jeongguk.”

Jeongguk yang sedang membereskan belanjaan di dapur mendengarnya, dia menoleh dan mendenguskan senyuman tipis seolah mengatakan, “Sungguh?” dengan nada paling mencemooh. Taehyung balas mendelik.

Memangnya siapa yang tidak juga mengajak Taehyung pacaran?

Semalam saat mereka berbaring di ranjang bersisian dan tidak memiliki tenaga untuk melakukan apa pun selain mandi dan makan karena ternyata wedding yang mereka siapkan, jauh lebih ramai dari yang mereka duga—tambahan pax melonjak tinggi, Jeongguk yang membentak semua orang, makanan-makanan yang harus di-push hingga batas maksimal....

“Aku ingin muntah.” Keluh Taehyung saat mereka akhirnya bersandar di dalam mobil Jeongguk, siap pulang dengan kaki gemetar setelah servis dan seluruh tubuhnya tremor.

Jeongguk sama sekali tidak berkata-kata saat mereka berkendara pulang, Taehyung terlelap di sisinya.

Sudah seminggu mereka habis diterjang servis gila-gilaan yang membuat kepala Jeongguk sakit. Reservasi mendadak dengan pax di atas lima puluh dengan menu fine dining yang diterima FBM dan DOSM tanpa berkonsultasi padanya berhasil membuat Jeongguk memecahkan beberapa piring di Main Kitchen karena amarah.

Syukurlah piring, bukan kepala FBM.

Mereka berdua selalu pulang dengan keadaan lelah, kaki dan punggung yang bergetar sakit. Sekali, Jeongguk tidak sanggup mengendarai mobilnya pulang dan memutuskan untuk menginap di kosan Taehyung, langsung tertidur tanpa mandi dan membuat seprai Taehyung seperti Jeongguk (yang diam-diam dihirupnya dalam-dalam dengan senang).

Namun selebihnya, Jeongguk memutuskan Taehyung sebaiknya tidur di rumahnya saja. Seperti malam ini, setelah menyelesaikan wedding dengan 1,500 pax undangan.

“Malam yang sinting.” Kata Jeongguk muram dan seluruh timnya setuju, terlalu lelah untuk merayakan keberhasilan mereka memberi makan 1,500 mulut.

Taehyung berbaring di atas lengan Jeongguk yang menciumi pelipisnya malas, di dalam kamar Jeongguk yang remang-remang. Tempat itu mulai terasa sangat familier dengan Taehyung—nyaris terasa seperti kamarnya sendiri.

Di bawah selimut, kaki mereka saling membelit dan Taehyung senang karena itu membuatnya hangat.

“Ayo pacaran.” Katanya dengan lugas karena dia tahu apa yang diinginkannya.

Alih-alih menjawab, Jeongguk menghirup aroma sampo Taehyung dengan lembut lalu tersenyum dengan wajah masih terbenam di rambut Taehyung. Napasnya terasa menggelitik kulit kepala dan leher Taehyung.

“Tidak, belum saatnya.” Bisiknya serak karena suaranya habis digunakan untuk meneriaki wajah semua orang yang bergerak terlalu lambat di bawah pengawasannya. “Aku tidak akan ke mana-mana, tenang saja. Aku akan selalu jadi milikmu.”

Dan sebelum Taehyung sempat mendebat, yang sebenarnya juga tidak terlalu ingin dilakukannya karena dia sangat lelah, Jeongguk merunduk—mencium bibirnya dengan begitu lembut dan penuh kasih. Membuat Taehyung terbuai.

Mereka terlelap seketika itu juga dengan bibir bersentuhan, di atas ranjang Jeongguk yang aromanya pekat seperti tubuhnya, di bawah selimut lembut yang hangat.

Lalu paginya, Taehyung terbangun dalam pelukan Jeongguk yang hangat dan aroma keringatnya menempel di setiap inci tubuhnya hingga dia tidak ingin mandi, tidak ingin membasuh aroma itu dari kulitnya.

Tetapi dia akhirnya mandi, membasuh diri dengan sabun Jeongguk dan merasa lebih baik saat keluar dan menemukan Jeongguk sedang membuat french toast untuk sarapan mereka sebelum berangkat ke Sanur.

“Teman.” Ulang Arya tertarik lalu melirik kakak iparnya yang sedang membongkar belanjaan. “Baiklah.” Dia mengangguk lalu mengedikkan dagunya ke sofa. “Ayo duduk, Anggi sedang mandi.”

Dan seolah dipanggil, seseorang berseru dari kejauhan. “Kak Taehyung!” Seru Jeonggi ceria, dia bergegas keluar dari kamarnya dengan rambut masih setengah basah mengenakan dress ibu hamil yang longgar dan menggemaskan.

Dia nampak seperti bola yang digunakan untuk yoga, bulat dan lucu sekali hingga Taehyung tidak bisa menahan diri untuk tidak balas memeluknya dengan hangat. Aroma Jeonggi seperti minyak kayu putih, losion dan bedak; menyenangkan sekali.

Taehyung langsung menyentuh bagian belakang punggung Jeonggi, agar sigap menangkapnya saat dia terhuyung karena perutnya. Calon ibu yang sedang hamil tua itu mendesah keras saat melepaskan pelukannya, membelai perutnya yang buncit lalu menepuknya sayang.

“Kita akan masak apa?” Tanyanya ceria, “Mum brought us some lunch we are not going to eat because we're having lunch out today while the boys have to stay at home.” Dia tersenyum lebar, nampak cemerlang dan superior seperti kakaknya.

What?” Sambar Jeongguk, defensif dan tidak terima hingga nyaris nampak lucu jika saja wajahnya tidak begitu galak. “What's the reason?”

Nothing's special.” Balas Jeonggi kalem, sekarang menempel pada Taehyung seperti seekor kucing gendut yang menggemaskan. “Hanya ingin pergi keluar bersama Kak Taehyung dan Mama.”

“Aku ikut.”

Boys stay at home. Don't you hear that?”

Fuck it. I'm in.”

Fuck you. No.”

Twins, language.” Tegur ayahnya dari sofa, bersandar menonton televisi yang menayangkan berita dalam negeri dan kericuhan demo.

He starts it!” Sahut Jeonggi dan Jeongguk mendelik dari tempatnya, tidak terima dan membuka mulut untuk mengatakan sesuatu saat ayahnya berdeham keras, menatap keduanya memperingati.

Twins, stop it.” Katanya dengan nada memperingati yang keras dan baik Jeonggi serta Jeongguk langsung diam walaupun mata mereka masih memancarkan emosi yang memercik dan Taehyung yakin mereka akan melanjutkannya nanti saat ayahnya tidak melihat.

Arya di sisi Taehyung terkekeh sebelum merendahkan kepalanya ke Taehyung. “Mereka selalu begitu.” Katanya lalu mendesah, penuh sayang menatap Jeonggi yang sekarang nampak seperti penderita wasir karena sebal ke kakaknya yang balas mendelik.

“Bayangkan hidup dengan mereka puluhan tahun.” Keluh ibu si Kembar di sisi Taehyung sebelum menambahkan, “Kata Jeonggi, kau akan membuatkan kami kue? Kue apa?”

Taehyung mengangguk. “Fruitcake dan fruit fool.” Dia bergegas menuju dapur, kedua perempuan di sisinya bergegas mengekornya. “Kami membeli banyak stroberi di Bedugul kemarin, dan syukurnya masih segar jadi bisa untuk fruit fool. Dan saya juga sudah beli banyak candied dried fruit untuk fruitcake.”

Dia membuka tutup kontainer Jeongguk yang diklaim kedap udara dan menjaga makanan lebih tahan lama, membiarkan keduanya mengamati stroberi-stroberi ranum yang dipilihnya minggu lalu bersama Jeongguk. Ada beberapa yang setengah busuk dan sudah dipotong Jeongguk untuk jusnya setiap pagi sebelum berangkat bekerja.

Karena terakhir kali dia memasak di dapur Jeonggi dia tidak mengenakan apron dan tidak menyukainya, dia merogoh salah satu kantung dan menarik apron Jeongguk yang dibawanya dari rumah tadi.

Jeonggi mengenali apron itu dan langsung mengumumkan penemuannya tanpa membuang-buang waktu. “Itu apron yang Mummy belikan ketika Wik masuk sekolah chef, 'kan?” Tanyanya dengan suara keras, sengaja agar semua orang mendengarnya.

Taehyung mendesah, si Kembar ini memang benar-benar, pikirnya namun dia hanya tertawa, “Aku meminjam milik kakakmu karena aku tidak punya apron di sini.”

Yang adalah bohong karena Taehyung punya, hanya saja benda itu ada di sudut lemari kosannya sementara mereka tadi berangkat dari rumah Jeongguk. Dan sudah lima hari Taehyung tidak tidur di kamarnya.

“Oh,” ibu Jeongguk mengamati dari konter, menonton anak perempuannya menyibukkan diri di dapur dengan Taehyung. “Dia menjemputmu, ya?”

Taehyung berdeham, “Iya, Tante.” Katanya melirik Jeongguk yang sekarang beranjak ke ruang keluarga, bergabung dengan ayahnya dan Arya.

Sang ibu dan Jeonggi bertukar pandangan. Jeonggi tersenyum lebar dan ibunya langsung menyadari senyuman itu karena dia sendiri mencium aroma sabun mandi Jeongguk dari tubuh Taehyung. Itulah alasan dia langsung memeluk Taehyung, mengecek apakah dia menginap di rumah Jeongguk atau tidak.

“Kita membuat fruit fool dulu, ya.” Kata Taehyung, membuka kabinet di atas kompor Jeonggi dan membiarkan kucing menggemaskan itu tertatih-tatih duduk di konter bersama ibunya.

Taehyung membawa sauce pan dan memanaskannya di kompor seraya mencuci ulang stroberi bersih di kontainer dan meniriskannya. Lalu saat sauce pan sudah memanas, dia memasukkan stroberi dan gula ke dalamnya dan membiarkan gula itu meleleh menjadi saus karamel menempel di permukaan stroberi.

Dengan lembut, dia menghancurkan buah-buahan itu dengan bagian belakang garpu. “Sebenarnya mirip dengan sorbet,” kata Taehyung pada penontonnya yang mengamati dengan tertarik, ibu Jeongguk berpindah ke sisinya untuk menonton lebih serius.

“Dengan campuran double cream dan yogurt.” Taehyung tersenyum, membiarkan ibu Jeongguk menghancurkan stroberi yang mulai lunak sementara dia mengambil mangkuk.

Ibu Jeongguk mengaduk-aduk selai stroberi di sauce pan dengan garpu secara perlahan sementara Taehyung dengan cekatan menuang double cream dan gula serta yogurt ke dalam mangkuk sebelum mengocoknya dengan mixer hingga mengembang lembut, sebelum menambahkan air mawar (yang mereka cari hingga nyaris berkeliling Denpasar dan Jeongguk nyaris frustasi sampai akhirnya menemukan sebotol di toko yang disarankan Jimin) ke dalam adonannya.

Taehyung tersenyum, aroma air mawar selalu membuatnya tenang. Dia mengaduk adonan itu dengan spatula, lembut mengetes teksturnya lalu mendengus puas sebelum menoleh ke selainya yang mulai menggelegak.

“Sudah, Tante.” Taehyung tersenyum, dengan lembut mengambil alih sauce pan dari ibu Jeongguk dan menyingkirkannya agar dingin sebelum dicampurkan ke adonan cream yang dikerjakannya.

Sembari menunggu adonannya dingin, dia meraih mangkuk lain dan mulai membuat adonan basah untuk fruitcake-nya. Dia meraih loyang panjang dan kertas baking, menyerahkannya ke Jeonggi di konter.

“Boleh dibantu mengguntingnya sesuai ukuran loyang, Sayang?” Tanyanya lembut dan Jeonggi tersenyum cerah, meraih gunting di rak dan mulai mengerjakannya dengan kedua tangan montoknya.

Ibu si Kembar menyadari nada itu sebelum melirik ke Jeongguk yang balas menatapnya, alisnya naik sebelah dan ibunya menelengkan wajah seolah bicara “seriously?” dan Jeongguk memalingkan wajah.

Taehyung mengecek belanjaannya di dapur dan mengerutkan alis, dia menelengkan kepalanya ke arah ruang tamu tanpa menoleh untuk memanggil Jeongguk yang tadi membereskan belanjaan.

Dan sialnya, dia kecepolosan.

“Wik,” katanya dengan suara lantang tanpa menyadari apa yang dilakukannya hingga semua orang menoleh, “Sour cream-ku?”

Semuanya diam dan karena semuanya diam, Taehyung akhirnya menoleh. Tidak sabaran ke Jeongguk yang menatapnya dengan wajah campuran antara terpana, kaget dan malu serta sedikit geli.

Taehyung mengerjap, menyadari atmosfer yang aneh di sekitarnya. “Sour cream?” Ulangnya, ragu. Memangnya apa yang salah dengan sour cream?

Jeonggi yang tersenyum lebar, jemari montoknya bergerak di atas loyang yang dipegangnya. “Sana Wik, beri tahu Kak Taehyung di mana sour cream-nya.” Dia tersenyum lebar hingga pipinya membentuk sebulat bakpao dengan kerutan menggemaskan di pangkal hidungnya.

Taehyung yakin kegemarannya pada gula berkontribusi aktif pada penambahan berat badannya, semoga setelah dia melahirkan kecanduannya pada gula dan karbohidrat kompleks bisa diredam dan disudahi.

Saat Jeongguk berdiri di sisinya, Taehyung berbisik bingung. “Apa yang salah dari ucapanku?” Tanyanya sementara Jeongguk membongkar tas belanja untuk mencarikannya sour cream.

Rahang Jeongguk mengencang menahan senyuman lebarnya, “Kau memanggilku 'Wik'.”

Wajah Taehyung langsung pucat. “Berengsek.” Bisiknya dengan kepala berdenyut—ternyata dia sudah memanggil Jeongguk dengan panggilan itu di luar kuasanya sendiri.

Sejak kapan dia menjadi nyaman dengan panggilan itu?

Joengguk tersenyum. “Kau menggemaskan.” Katanya lalu memberikan sour cream pada Taehyung. “Ini, Yang Mulia.” Tambahnya, mengerling sebelum beranjak dari dapur kembali ke ruang tamu, mengabaikan ibunya yang menatap mereka penasaran.

Taehyung menebalkan wajahnya, berpura-pura tidak ada yang terjadi saat menuang sour cream dan baking soda ke dalam adonan. Di sisinya, ibu Jeongguk menonton dengan tertarik dan jantung Taehyung berdebar begitu nyaring hingga rusuknya nyeri.

“Bahasa Bali-mu bagus juga,” puji ibu Jeongguk lembut, tersenyum. Tentu saja menyindir pelafalan wik Taehyung yang sempurna. “Sering mengobrol dengan teman-teman kerja, ya?”

Taehyung mengangguk, berusaha nampak tenang saat menjawab. “Lumayan banyak diajari.” Dia tersenyum. “Yugyeom itu second layer saya.” Dia mengaduk adonan di mangkuk dan ibu Jeongguk mengulurkan tangan. “Jadi kami sering belajar bahasa Bali sederhana.”

Yang lagi adalah bohong karena semua bahasa Bali-nya diajari Jeongguk.

Tapi ibu Jeongguk tidak perlu tahu, 'kan?

Taehyung memberikan mangkuk itu pada ibu Jeongguk sebelum meraih mangkuk lain untuk membuat adonan kering. Dia menuang almon, kismis, cranberry dan kurma kering ke dalam mangkuk, menambahkan ¼ cup tepung mokaf karena ayah Jeongguk ternyata melakukan diet gluten free jadi Taehyung memilih tepung selain tepung terigu.

Dia kemudian mengaduk buah-buahan kering itu dengan tepung, mengayaknya lembut sebelum menyingkirkannya. Dia mengecek krim yang dikerjakan ibu Jeongguk dan tersenyum.

“Terima kasih, Tante.” Katanya lembut lalu di mangkuk kedua mulai mencampur butter dan gula lalu memberikannya pada ibu Jeongguk. “Silakan di-mixer, Tante.”

Ibu Jeongguk menerimanya, menyalakan mixer dan mengaduk adonan itu dengan perlahan. “Kau akrab dengan Yugyeom juga?” Tanyanya saat Taehyung memarut kulit lemon untuk dicampur ke dalam adonan itu.

“Ya.” Taehyung mengagguk. “Salah satu dari beberapa teman pertama saya di Bali.” Dia kemudian memecahkan telur, memasukannya ke adonan sementara ibu Jeongguk terus mengaduknya hingga tercampur sempurna.

“Apa alasanmu pindah bekerja ke Bali?” Tanya ibu Jeongguk saat Taehyung menggunakan pisaunya untuk mengambil parutan kulit lemon dan menuangnya ke adonan mereka.

“Saya dipindahkan, Tante.” Taehyung tertawa kecil sambil bekerja, dengan lap yang tergantung di celananya, dia mengelap konter yang kotor oleh sisa-sisa tepung sebelum mengelap tangannya di apron dan meraih adonan krimnya.

“Banyan Tree Bali meminta saya untuk dipindahkan dari Bintan karena mereka lebih membutuhkan saya daripada Bintan.” Dia kemudian meminta ibu Jeongguk berhenti mengaduk adonan dan dengan spatula mulai menyendok krimnya, menyampurkannya ke dalam adonan itu.

“Begitu saja?” Tanya ibu Jeongguk saat Taehyung menuang adonan dried fruits-nya ke dalam adonan basahnya.

Taehyung berdeham, “Jeongguk melakukan presentasi di depan General Manager tentang bagaimana Bali lebih membutuhkan executive pastry chef daripada Bintan.” Katanya, tidak berani mendongak menatap Jeongguk yang sekarang pasti mengerang.

Taehyung akan mendapat hukuman setelah ini dan dia sangat menantikan itu. Dia suka menganggu Jeongguk; suka menariknya keluar dari zona nyaman, suka membuatnya terekspos secara emosional.

Suka melihatnya malu dan gugup.

Karena dia nampak seperti seekor anjing mungil yang mendengking-dengking ingin dipeluk.

Ibu Jeongguk mengangguk-angguk paham. “What he wants, he gets.” Katanya dan Taehyung tertawa serak saat mengaduk adonannya dengan perlahan agar semuanya tercampur.

“Ternyata mudah.” Komentar Jeonggi saat Taehyung menuang adonan ke dalam loyang setelah memanaskan oven. “Kupikir karena ini makanan Inggris, akan sulit secara teknik dan semacamnya.”

Taehyung tersenyum. “Ini makanan tradisional sebelum penjajahan Prancis pada teknik memasak di seluruh dunia.” Dia tertawa kecil, merapikan permukaan adonannya sebelum mengenakan sarung tangan memanggang dan memasukannya ke oven.

Dia lalu menyampurkan krim dan selai stroberinya, menuangnya ke atas loyang lain dan memasukannya ke dalam lemari es setelah menambahkan parutan kelapa yang akan menambahkan tekstur renyah dan gurih di dalamnya.

Taehyung kemudian menyudahi memasaknya dengan mencuci tangan dan mengelapnya hingga kering. Membereskan meja dapur, menyapu lantainya karena kebiasaannya yang dibawa setelah bertahun-tahun menjadi chef sebelum bergabung dengan keluarga Jeongguk di ruang keluarga seraya menunggu kuenya matang.

“Baiklah.” Jeonggi tersenyum lebar saat Taehyung muncul dari pintu belakang. “Kami akan jalan-jalan dulu.” Dia bangkit dan Arya bergegas membantunya berdiri, Jeonggi mendesah keras saat akhirnya berdiri di atas kedua kakinya.

“Lalu kuenya?” Tanya ayahnya, bersandar di kursi dengan lengan ditumpangkan di atas sandaran punggung.

”'Kan, ada Wik.” Jeonggi nyengir, meraih tasnya di atas sofa dan menatap Taehyung. “Ayo, Kak! Kita lihat-lihat baju bayi!”

“Telepon kalau ada apa-apa, ya?” Arya menambahkan saat dia mengecup pelipis istrinya sayang dan membelai perutnya dengan hangat, gestur yang membuat Taehyung merinding dan sedikit cemburu.

Dia melirik Jeongguk yang bersandar di sofa, menonton televisi. Tidakkah Jeongguk ingin memiliki anak?

Seolah menyadari tatapannya, Jeongguk menoleh dan mata mereka bertemu. Alisnya naik sebelah seolah bertanya, “Kenapa?”

Taehyung menggeleng, tersenyum sebelum menoleh kembali ke ibu dan adik Jeongguk yang sudah bersiap.

Will that be okay?” Tanya ayahnya, menatap Jeonggi dengan ketidaksetujuan nyata di wajahnya. “Your due is near. Better not taking any heavy activity for a while.”

It's just walking around, it'd be fine.” Sahut ibu Jeongguk menepuk perut Jeonggi lembut. “Kami akan kembali dalam dua jam.”

Ayah Jeongguk menatap mereka sejenak sebelum mengangguk, “Alright.” Lalu kembali menonton televisi. “Siapa yang menyetir?”

Taehyung mengerjap.

Dia belum mengetes kemampuannya mengemudi lagi semenjak di Bali dan terlanjur dimanja Jeongguk dengan diantar jemput ke mana pun dia ingin pergi lalu sekarang dia menyadari dirinya adalah satu-satunya lelaki, sudah sewajarnya dia yang mengemudi.

Taehyung can't drive, yet.” Jeongguk mengatakan dengan tegas, menyambar kesempatan itu. “And he can't take online taxi. So, I'll drive.” Dia bangkit, meraih dompet dan ponselnya di meja, menyelipkan keduanya di saku belakang celananya.

Taehyung menatapnya, tersentuh karena dia masih mengingat ketakutan konyol Taehyung tentang taksi. Sudah terjadi bertahun-tahun lalu saat Taehyung kecil memanjat naik ke kursi belakang taksi sementara ibunya sibuk menerima telepon di bandara yang ramai.

Dia tidak tahu apa-apa dan tidak menyadari apa pun saat supir taksi menutup pintunya, dia berpikir mungkin agar tidak ada yang tertabrak pintu itu. Terus menunggu dengan kalem sembari bermain PSP yang baru dibelikan ayahnya. Kemudian terdengar suara pintu dikunci dari pintu supir dan mobil melaju.

Tanpa ibunya.

Delapan jam paling mengerikan dalam hidup Taehyung yang tidak ingin diingatnya kembali. Sama sekali. Maka dari itu dia memilih untuk menjauhi taksi selama-lamanya kecuali ojek daring karena dia bisa menjerita atau melompat dari motor itu jika terancam.

Lebih baik patah tulang saja.

Jeonggi mengerjap, menoleh ke Taehyung yang mulai pucat. “Kakak tidak bisa naik taksi?” Tanyanya.

Taehyung meringis, “Maaf. Kenangan masa kecil.” Dia menggeleng, mengenyahkan ingatan saat dia menggedor-gedor jendela, berteriak hingga tenggorokannya sakit berusaha membuat orang-orang di sekitarnya menyadari bahwa dia sedang diculik.

“Jangan diingat.” Jeongguk berdiri di sisinya, aroma tubuhnya yang lembut dan menenangkan seketika itu juga menenangkan isi kepala Taehyung yang bergerak mengerikan melemparkan tiap detik kenangan mengerikan itu seperti film rusak.

Tangan Jeongguk menyentuh tangannya dan gerakan itu cukup untuk membuat Taehyung lebih tenang. Dia melirik Jeongguk yang menolak menatapnya dan menekan dorongan untuk mencondongkan tubuh untuk mengecup bibirnya sebagai ucapan terima kasih.

“Baiklah.” Keluh Jeonggi kemudian, menyadari dia tidak bisa membawa Taehyung tanpa membawa kakaknya juga. “Karena kaki dan perutku gendut sekali, aku tidak akan muat di balik kemudi. Mama tidak bisa jadi, terpaksa kami membawamu.” Dia memicingkan mata ke Jeongguk.

Tepat saat Jeonggi selesai bicara, oven berdenting dan Taehyung bergegas ke dapur mengeluarkan fruitcake-nya yang merekah dengan sempurna dan meletakkannya di atas konter. Bisa dimakan nanti atau kapan saja. Dia membiarkannya di konter untuk didinginkan dan mempersilakan Arya dan ayah Jeongguk mencicipinya nanti.

Mereka kemudian berangkat untuk jalan-jalan, meninggalkan Arya dan ayah Jeongguk yang sibuk berdiskusi masalah politik dengan akrab. Taehyung sejenak ragu apakah dia bisa mengobrol sekarab itu dengan ayah Jeongguk nanti? Mereka tidak memiliki ketertarikan yang sama dan itu mengirimkan rasa berat ke hati Taehyung.

“Jangan dipikirkan.” Kata Jeongguk lagi, rendah di sisinya saat mereka beranjak ke mobil Jeonggi (Ford Fiesta, Taehyung tersenyum saat ingatannya kembali ke hari pertama dia mendarat di Bali) karena Rubicon Jeongguk terlalu tinggi untuk Jeonggi.

“Tidak.” Katanya, mendongak dan tersenyum lebar pada Jeongguk. “Thank you for grounding me.” Tambahnya tulus, mengingat bagaimana sentuhan, suara dan aroma tubuh Jeongguk cukup untuk membuatnya kembali membumi dari traumanya.

Jeongguk tersenyum tipis. “Anytime.” Balasnya lembut. “You ground me too.”

“Ayo! Jangan pacaran!” Seru Jeonggi dari mobil dan Taehyung tertawa sebelum berlari kecil, menuju pintu penumpang sementara ibu Jeongguk mengisi kursi bagian depan.

Mereka menuju Mall Bali Galeria yang belum pernah di kunjungi Taehyung walaupun dia sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan pusat perbelanjaan. Namun menemani Jeonggi dan ibunya yang bersemangat memilih pakaian-pakain mungil gender-less di toko pakaian bayi membuatnya sedikit-banyak, senang.

Jeongguk menunggu di luar toko, bersandar di pembatas dengan ponsel di tangannya. Nampak setampan dan setenang dewa kuno, tidak memedulikan orang-orang yang mengamatinya karena dia mengenakan turtleneck hitam dengan celana jins pudar, rambutnya diikat longgar di atas tengkuknya.

Taehyung tidak bisa tidak menyadari gadis-gadis yang meliriknya tertarik, ada yang terang-terangan mengamatinya tapi Jeongguk sama sekali tidak memedulikan mereka.

Akhirnya, setelah membeli beberapa pakaian dan Taehyung membelikan sepasang sepatu menggemaskan serta overall biru pudar untuk bayi Jeonggi (tidak tahan untuk tidak menggesek kartu kreditnya sendiri saat melihatnya), mereka pergi untuk makan siang di Ta Wan.

Jeonggi nampak sangat kepayahan setelah berjalan-jalan, duduk bersandar di kursinya dan ibunya mengusap keringatnya dengan tisu sementara calon ibu muda itu terengah—nampak sangat tersiksa dengan keterbatasannya.

“Sebentar lagi kau akan keluar, Penyundul kecil.” Katanya membelai perutnya lalu menepuknya, nampak sangat bahagia saat pelayan membawakannya sebotol air dingin dan iced thai tea yang dipesannya.

“Perkiraanya tanggal berapa?” Tanya Taehyung menerima air putihnya dan berterima kasih. Tidak benar-benar menyadari bahwa sudah tiga bulan dia berada di Bali.

“Akhir bulan ini.” Kata Jeonggi, meneguk habis isi botolnya dan mendesah senang. Kantung-kantung belanja di sisinya berkeresak saat dia menyingkirkannya agar lebih leluasa duduk.

Taehyung mengernyit ngeri dan Jeongguk di sisinya mendesah keras karena dia juga sepertinya baru tahu perkiraan lahir Jeonggi. Alih-alih beristirahat, dia malah mondar-mandir berbelanja seperti induk semang.

“Lalu kau jalan-jalan?” Tanya Jeongguk yang lebih terdengar seperti, kau sinting, ya?.

“Aku harus bergerak agar bayinya mudah keluar.” Jeonggi mendelik sebal. “Kau, 'kan, tidak melahirkan, mana paham!”

Jeongguk mengernyit, tidak terima namun sebelum dia sempat menjawab ibunya berdeham keras dengan mata masih di ponselnya. Nampak sudah sangat terbiasa dengan pertengkaran semacam itu dan itu membuat Taehyung geli.

Twins, stop it.” Tegurnya dengan nada yang sama persis dengan nada yang digunakan ayahnya tadi dan Taehyung mengulum senyuman.

Apakah dia harus belajar menggunakan nada itu sebagai persiapan jika suatu hari Jeongguk dan Jeonggi memutuskan untuk saling mencaplok di depannya dan tidak ada orang tua mereka untuk menyelamatkan Taehyung?

Namun sepertinya nada itu sudah dipelajari selama bertahun-tahun menjadi orang tua si Kembar karena nada itu bekerja dengan sangat efisien pada keduanya yang sama-sama keras kepala. Walaupun mereka masih nampak siap saling mengigit, namun mereka diam.

Ajaib sekali bagaimana kehadiran kedua orang tua si Kembar mengubah interaksi keduanya jadi lebih hidup dan lebih menyenangkan. Taehyung juga menyadari betapa manjanya Jeongguk pada ibunya, menempel dengan sayang di sisinya saat berbelanja.

Maka Taehyung berpikir, “A kid will be forever a kid for their parents.”

Lalu dia teringat orang tuanya sendiri, memutuskan dia akan menelepon keduanya malam ini setelah seminggu mengabaikan semua panggilan dan pesan mereka karena kesibukannya.

Setelah makan, mereka kembali memutari mal sekali lagi karena Jeonggi ingin membeli sesuatu yang manis walaupun mereka punya makanan manis di rumah. Jeongguk sudah menawarkannya untuk kembali saja ke mobil dan dia yang akan membelikan keinginan Jeonggi tapi ibu muda itu menolaknya.

“Harus jalan-jalan.” Katanya ceria dan keras kepala, bergelayutan manja di lengan ibunya saat melangkah terseok-seok mengelilingi mal.

Taehyung mengedikkan bahu dan Jeongguk mendesah keras. Mereka berjalan bersisian, telapak tangan mereka bersentuhan tiap kali melangkah namun tidak ada yang berani untuk mengenggam tangan masing-masing.

Mungkin malu, mungkin juga gugup.

Entah apa, tapi tiap kali kulit mereka bersentuhan Taehyung tersenyum dan menoleh, mendapati Jeongguk juga sedang menatapnya dengan senyuman kecil di bibirnya. Terasa sudah lama sekali sejak mereka berjalan-jalan berdua dan Taehyung tidak sabar menunggu besok.

“Kita akan ke Trunyan besok??” Tanyanya saat mereka akhirnya pulang dari rumah Sanur, berpamitan dengan orang tua Jeongguk dan mendapatkan kontainer terisi kue kering. “Sungguh?!”

Jeongguk tersenyum. “Aku sudah janji padamu, 'kan?” Katanya kalem, memasang sein dan membelok ke kawasan rumahnya. “Janji harus ditepati.”

Taehyung tersenyum lebar, tidak sabar. Dia akan menikmati perjalanan jauh dengan Jeongguk lagi dan kali ini dengan hubungan mereka yang sudah melewati level malu-malu dan kikuk seperti minggu lalu.

Tentu saja dia tidak sabar pada kejutan apa yang akan diberikan Jeongguk padanya.

Jeongguk memarkir mobilnya, menarik rem tangan lalu melepas sabuk pengamannya sebelum menoleh ke Taehyung yang langsung merespons gerakan itu dengan mencondongkan tubuhnya—seperti besi yang tertarik oleh daya magnet.

Dia mendesah saat bibir Jeongguk menyentuh bibirnya.

Seluruh tubuhnya berdenyar oleh sentuhan itu, terasa begitu nikmat sekaligus mendebarkan. Sudah entah berapa kali ciuman yang mereka lakukan, perasaan itu tidak juga mati, alih-alih semakin menggila. Tangan Jeongguk meraih tengkuknya, meremasnya dengan tangannya yang hangat dan kasar karena bertahun-tahun bekerja menjadi juru masak.

Jeongguk menarik wajahnya, menempelkan kening mereka berdua di dalam garasi yang gelap. Napasnya membelai wajah Taehyung yang masih memejamkan mata.

“Aku sungguh mencintaimu.” Bisiknya lirih dan kekuatan ucapan itu membuat Taehyung nyaris meledak oleh perasaan bahagia. “Aku sungguh, sungguh mencintaimu.” Ulangnya lirih, nyaris seperti mantra yang harus diucapkan agar dia tetap hidup.

“Mendekapmu seerat ini tidak membuatku puas, aku ingin jauh lebih dekat lagi. Ingin memelukmu lebih hangat lagi, lebih lagi.” Bisiknya dengan mata terpejam dan Taehyung diam, mendengarkannya.

“Kau membuatku sinting.” Bisik Jeongguk lirih. “Membuatku sinting karena begitu menginginkanmu untuk diriku sendiri. Aku tidak pernah menginginkan apa pun sebelumnya, tidak.

“Lalu kau datang dan aku ingin, sangat ingin memilikimu untuk diriku sendiri. Aku cukup egois untuk itu. Untuk pertama kalinya bersikap egois atas keinginanku sendiri. Aku menginginkanmu. Aku tidak akan ada yang bisa menghalangiku mendapatkan apa yang ku—”

Taehyung menutupnya dengan ciuman lain, hatinya yang lemah tidak kuat mendengarkannya. Suara lirih Jeongguk, betapa serak dan indahnya suara itu. Tangannya yang hangat di tengkuk dan pinggul Taehyung; keseluruhan eksistensi Jeongguk yang berdenyut begitu dekat dengannya membuat akal sehatnya meleleh seperti potongan cokelat.

Dia begitu mencintai Jeongguk.

Sungguh mencintainya hingga seluruh tubuhnya nyeri.

Dia menarik lepas ciumannya dan menatap Jeongguk di bawah remangnya lampu garasi. Mata Jeongguk berbinar seperti bintang timur yang berkelip sebelum matahari menyingsing—menunjukkan arah yang benar pada Taehyung, menyelamatkannya dari ketersesatan.

“Aku juga mencintaimu.” Bisiknya serak, seluruh tubuhnya merinding dan gemetar merespons perkataannya sendiri—betapa benar dan absolutnya perasaan itu terasa di seluruh sistemnya sekarang.

“Sungguh, sungguh mencintaimu,” tambahnya nyaris menangis karena hatinya tidak sanggup lagi menahan semua gejolak yang dirasakannya—terlalu banyak hingga dia pening. “Hingga aku yakin, aku sudah gila.” Dia tertawa serak, air mata meleleh di pipinya.

Air mata sinting yang tidak diketahui Taehyung asalnya.

“Jangan menangis,” Jeongguk tersenyum kecil, mengusap air mata Taehyung dengan ibu jarinya. “Aku lebih suka menjadi gila bersamamu, daripada waras tanpamu.”

Taehyung tertawa dan cegukan oleh isakannya sendiri—kenapa dia menangis?? “Bajingan sial.” Katanya lalu terbatuk dan menangis semakin keras.

Dia sangat amat mencintai Jeongguk, dengan seluruh hati, jiwa dan tubuhnya. Seluruh organ, otot, aliran darah dan jantungnya berdebar untuk Jeongguk. Perasaan ini asing baginya, hingga reaksi tubuhnya yang kebingungan membuatnya menangis.

“Sayang.” Jeongguk tertawa lirih, meraih Taehyung dalam pelukannya dan Taehyung terisak di bahunya. Dia mengecup sisi kepala Taehyung dengan intim dan lama.

“Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu, sangat.”

Mereka kembali berciuman dengan jejak rasa asin dari air mata Taehyung.

*

“Hai.”

“Hai.”

Taehyung menatap Jeongguk di balik kemudi, baru saja menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya. Dia memasang sabuk pengaman dan mendesah, mengantuk karena kurang tidur dan butuh segera mandi agar sarafnya bangun.

Dia akan memesan cappuccino nanti, sudah dua hari ini dia kurang tidur dan efeknya mulai akan terasa. Malam ini dia harus menjauh dari Jeongguk, apa pun yang terjadi.

Taehyung membuka mulut untuk bicara saat tangan Jeongguk meraih dagunya, memaksanya untuk menoleh dan mencium bibirnya yang terbuka dengan suara keras hingga Taehyung merasa dia bisa saja menjerit karena kaget.

“Untuk apa itu?” Tanyanya terpana setelah Jeongguk menarik wajahnya.

Alih-alih menjawab, Jeongguk mendaratkan satu ciuman lagi.

“Entah?” Bisiknya. “Karena kau nampak luar biasa hari ini?”

“Hmm.” Bibir Taehyung tertarik membentuk senyuman. “Begitu?”

Satu ciuman lainnya. “Yep.”

“Berhenti.”

“Tidak.” Satu ciuman lagi. “Aku bilang aku akan menciummu setiap jam.”

Jam. Bukan menit.”

Satu ciuman. “Masa'? Aku salah bilang berarti.” Satu ciuman lagi. “Maksudku, tiap menit.”

Taehyung tertawa ceria, mendorong wajah Jeongguk menjauh darinya dengan delikan penuh canda yang mengundang senyuman dari Jeongguk.

“Kau menyebalkan.” Keluh Taehyung, berdebar karena Jeongguk sungguh tidak peduli pada keadaan sekitar mereka untuk melakukan PDA dan dia merasa wajahnya memanas hingga ke telinganya.

Mungkin karena inilah pertama kalinya Jeongguk akhirnya melakukan sesuatu yang disenanginya maka dia tidak segan-segan melewati segala batas normal yang fana di hadapannya; menerjang semuanya.

Taehyung tidak bisa bilang dia tidak senang, sungguh.

“Aku sudah curiga dengan Bogum semenjak hari pertama aku memperkenalkanmu.” Kata Jeongguk saat mobil melaju membelah lalu lintas yang dipadati anak sekolahan dengan seragam mereka menuju Banyan Tree Ungasan.

Taehyung menatap lurus ke jalanan, “Dan kau sudah bersikap teritorial padaku saat itu?” Tanyanya, mengerling Jeongguk penuh godaan dan Jeongguk menyunggingkan senyumannya.

“Aku sudah merasa overprotektif padamu di hari aku melakukan presentasi di depan General Manager Banyan Tree Bintan tentang bagaimana Banyan Tree Bali lebih membutuhkanmu daripada mereka.” Dia memasukkan persneling lalu meraih tangan Taehyung, meremasnya.

“Lalu saat aku pertama kali menghubungimu, aku sudah merasakan ketertarikan padamu. Maksudku,” dia menoleh pada Taehyung sejenak sebelum kembali memfokuskan tatapannya pada jalanan. “Tidakkah kau melihat dirimu sendiri? Kau luar biasa.”

“Hal yang sama akan kukatakan padamu. Tanpa ragu.” Sahut Taehyung seketika itu juga dan Jeongguk sejenak diam, rahangnya mengencang dan kali ini, Taehyung tahu karena dia malu.

“Kau nampak jauh lebih memesona saat bertemu langsung.” Kata Jeongguk dan Taehyung menyadari telinganya memerah. Dia tahu, Jeongguk mengerahkan semua keberaniannya untuk mengatakan itu.

“Tapi aku tidak ingin merusak hubungan profesionalitas kita dan tidak yakin apakah kau akan tertarik juga padaku, jadi, kurasa aku... bersikap sedikit agak terlalu bajingan di hari pertama.” Dia menggaruk pelipisnya perlahan, menolak menatap Taehyung.

Ingatan Taehyung melayang ke hari pertama mereka bertemu; sikap diam Jeongguk, dingin dan sedikit kasar. Bagaimana Taehyung mengutarakan keberatannya pada sikap itu dan ekspresi kaget Jeongguk yang murni.

Tidak, dia tidak bersikap bajingan.

Malah, dia teramat sangat memesona hingga Taehyung ingin merangkak ke pangkuannya dan menciumnya saat itu juga.

“Tidak.” Kata Taehyung ringan dan Jeongguk meliriknya. “Kau tidak bersikap bajingan. Kau memesona.”

Jeongguk menarik rem tangan saat mereka berhenti di lampu merah terakhir sebelum mencondongkan tubuhnya, mendaratkan satu ciuman di bibir Taehyung.

Di dalam mobil.

Yang sedang berhenti di lampu merah.

Sinting!

Taehyung mengerjap. “Kau sudah gila, ya?”

Jeongguk menatapnya, terpesona. “Mungkin?” Balasnya dengan suara parau yang mengirimkan jutaan rasa menggelitik ke permukaan kulit Taehyung. “Kau membuatku sinting.”

Sial. Kenapa dia harus mengeluarkan suara Seksi Jeongguk No. 1 sekarang dan bukannya semalam??

“Kau memang cenderung bersikap overportektif pada apa pun yang kausukai?” Tanya Taehyung kemudian saat mereka mulai memasuki jalanan sepi menuju Banyan Tree, mengalihkan kepala bayi besarnya dari ciuman yang berpotensi membuat Taehyung menepikan mobil di jalanan sepi dan mengajaknya bercinta di jok belakang.

Jeongguk menatap lurus ke depan saat dia mengatakannya, “Aku tidak memiliki banyak sesuatu atau seseorang yang kusukai.” Katanya, jernih dan lugas. Membuat jantung Taehyung mencelos karena kekuatan kata-kata itu. “Maka, ya. Aku cenderung melakukannya.”

Dia menoleh, tersenyum lembut pada Taehyung yang tersanjung dan terpesona.

Mereka memasuki wilayah Banyan dan Security yang menjaga di gerbang depan menyapa mereka dengan ceria—nyaris terlalu ceria hingga Taehyung yakin ada sesuatu yang tersebar di antara mereka semua tanpa dia ketahui.

“Selamat bekerja, Chef!” Seru Security sebelum membiarkan mobil memasuki wilayah Banyan dan meluncur ke parkiran mobil. “Jangan lupa makan siang!”

Jeongguk memarkir mobilnya dengan mulus lalu mematikan mesinnya. Dia melepas sabuk pengamannya dan menarik rem tangan. Lalu dia menoleh ke Taehyung yang baru saja melepas sabuk pengamannya.

“Jangan cium!” Kata Taehyung seketika, mendelik geli sebelum Jeongguk sempat melakukan apa pun. “Ini sudah diwilayah hotel, aku tidak mau mendapatkan surat teguran di bulan ketigaku bekerja.”

Jeongguk tersenyum kecil. “Kau yang minta?”

“Tidak begini, oke?”

“Baiklah, kau menang.” Jeongguk mengedikkan bahu, langsung menyerah. “Kuberikan apa saja untukmu.”

Taehyung tersenyum lebar, senang.

Mereka menuruni mobil, berjalan berdampingan dengan tangan bersentuhan menuju arah pintu masuk karyawan. Jeongguk mengenakan pakaiannya yang biasa: celana pendek dan kaus hitam polos.

Mereka semalam berbincang hingga pukul tiga pagi sebelum terlelap di sofa masih dengan kepala Jeongguk di pangkuan Taehyung dan terbangun karena jeritan alarm ponsel Taehyung pukul setengah enam pagi. Pening dan kurang tidur namun bahagia, Jeongguk memutuskan dia akan mandi di hotel saja dan Taehyung memutuskan hal yang sama.

Taehyung minta diantar ke kosan untuk mengambil pakaian dalam dan alat mandi dengan Jeongguk menunggu di parkiran kosan saat prahara CDP Butcher terjadi. Kejengkelan Taehyung lenyap pada ciuman pertama dan dia selalu tahu bahwa dia pintar memisahkan emosinya.

Pekerjaan akan tetap menjadi pekerjaan dan kehidupan pribadi tidak layak dicampur-adukkan dengan pekerjaan.

“Selamat pagi, Chef!” Sapa Security di balik meja jaga di sisi mesin pemindai sidik jari. “Berangkat bersama lagi hari ini?”

Taehyung harus berusaha mengabaikan penekanan yang disengaja pada kata “lagi” di kalimatnya dan betapa lebar penuh godaan senyuman di bibirnya terasa.

Jeongguk mengangguk, sudah kembali ke mode Executive Head Chef-nya yang dingin dan tidak tersentuh. “Kebetulan saja.” Katanya dengan nada yang tidak bisa diganggu gugat, seperti mengatakan bukan urusanmu sebelum bergegas memasuki pintu khusus karyawan.

Taehyung melemparkan senyuman ramah pada Security yang nampaknya sudah terbiasa dengan sikap Jeongguk untuk bahkan tersinggung pada nadanya. Bergegas menyusulnya sebelum ditanyai macam-macam, meniru langkah dan tindakan Jeongguk. Mereka mengambil seragam (sendiri karena anak Housekeeping yang berjaga sedang dibantukan di Laundry) lalu pergi ke loker.

Jeongguk mendorong pintu loker dan membiarkan Taehyung memasuki ruangan duluan. Taehyung mendesah, merogoh sakunya untuk mengeluarkan kunci lokernya yang dijadikan satu dengan kunci kosnya dan baru akan beranjak ke lokernya saat tangan Jeongguk menyambar tangannya.

Dia menyentakkan Taehyung hingga menghadapnya, menariknya ke arah Jeongguk lalu mencium bibirnya. Jeongguk menyandarkan tubuhnya di pintu, agar tidak ada yang memasuki loker.

Taehyung gemetar, dia menatap wajah Jeongguk yang memejamkan mata di hadapannya, merasakan bibirnya yang tebal, hangat dan lembab di bibirnya sebelum mendesah dan memejamkan matanya.

Dia mengulurkan tangan melewati bahu Jeongguk, meletakkannya di atas pintu—membantu Jeongguk menahannya agar tidak terbuka, sebelum membalas ciumannya lebih dalam lagi.

Taehyung menarik wajahnya sejenak, terengah. “Kau bajingan.” Sengalnya tersenyum separo—merasa penuh adrenalin. Jantungnya berdebar hingga membuat telinganya sejenak tuli. “Ini di tempat kerja!”

Jeongguk mengulurkan tangannya, meremas rambut Taehyung—menjambaknya lembut hingga perut Taehyung mengejang olehnya. Dia menengadahkan kepalanya sebagai reaksi atas gerakan itu dan Jeongguk melukiskan ciuman lembut ke lehernya sebelum mencium nadinya yang berdebar kesetanan.

“Kubilang setiap menit, 'kan?” Bisiknya dan Taehyung bisa sinting karena suaranya yang parau dan rendah.

“Bagaimana bisa kau berubah jadi binatang liar begini?” Bisik Taehyung rendah karena dia mendengar suara tawa dari luar pintu loker dan mulai takut seseorang mendorong pintu terbuka.

“Kau membuatku begini.” Jeongguk separo mengeluh, membenamkan wajah ke leher Taehyung dan menghirup aromanya dalam-dalam. “Dan memangnya aku akan bersikap baik hati setelah tiga puluh enam tahun hidup seperti biksu?”

“Baiklah, menyalahkanku. Oke.”

Jeongguk menatapnya, matanya nampak bersinar oleh rasa terpesona yang membuat Taehyung malu. Bagaimana bisa seseorang menatapnya seolah dia adalah anugerah dari langit yang akan menyelamatkan seluruh umat manusia?

Dia memuja Taehyung, nyaris seperti memuja Tuhan.

Tatapannya tidak pernah gagal membuat Taehyung merinding dan tersanjung. Belum pernah sekali pun dalam hidupnya Tehyung diperlakukan begitu agung, istimewa dan layak seperti ini.

Hanya Jeongguk dan selalu hanya dia.

Dia merunduk, mencium bibir Taehyung lagi. Lagi dan lagi dalam kecupan-kecupan kecil yang mendebarkan. “Aku tidak bisa berhenti,” bisiknya, menghujani wajah Taehyung dengan ciuman; bibirnya, pipinya, hidungnya, keningnya, ujung hidungnya, pelipisnya....

Taehyung tertawa di bawah ciumannya. “Kau harus berhenti sebelum kita saling menelanjangi dan dipecat, oke?” Katanya tersenyum lebar dan Jeongguk mengecup senyumannya.

“Aku tidak suka itu, tapi baiklah.”

Jeongguk tertawa, melepaskan Taehyung yang langsung bergegas menjauhinya sebelum kembali diserang dan Jeongguk bangkit dari pintu. Syukurlah karena tidak ada yang memasuki loker persis setelah mereka menjauh.

Namjoon memasuki loker saat Taehyung sedang mengeringkan rambutnya dan Jeongguk mandi di bilik. Dia menggantungkan seragamnya di cerukan lengannya, bersiul ceria mendendangkan nada lagu yang tidak familier di telinga Taehyung saat memasuki ruangan.

“Pagi, Namjoon!” Sapa Taehyung, nyaris terlalu bersemangat. Adrenalin mengalir di pembuluh darahnya dan membuatnya pening. Kepalanya seperti akan lepas dari lehernya.

Namjoon menyadarinya, dia mengerjap. Wajahnya sejenak kosong sebelum tersenyum membalas sapaan Taehyung. “Pagi, Chef.” Dia melangkah ke lokernya. “Saya akan bicara dengan Bogum hari ini mengenai masalah tadi.”

Taehyung mengerjap, otaknya bergerak selamban sapi. “Masalah tadi?” Ulangnya sebelum teringat, menembus semua kabut gairah yang melingkupinya karena si bajingan Jeongguk. “Oh.” Katanya, merona tipis karena melupakannya. “Ya, trims.”

Namjoon menatapnya, menilai sejenak lalu perlahan mengatakan, “Saya minta maaf karena dia bersikap tidak sopan pada Anda, Chef.” Dia membuka pintu lokernya yang berdentang.

“Tidak, tidak masalah.” Taehyung menjawab, menyisir rambutnya yang setengah basah dan sebal karena setelah seharian bekerja dengan topi dan harnet, rambutnya pasti bau. “Saya hanya tidak suka dia mengontak saya lalu menanyakan hal pribadi yang bukan urusannya.”

Namjoon baru akan menjawab, saat suara gemericik air berhenti dan tirai mandi disingkap dengan keras—nyaris dramatis. Taehyung menoleh hanya untuk menyesalinya.

Jeongguk berdiri di depan bilik mandi, rambutnya lembab dan dia hanya mengenakan celana pendeknya. Titik-titik air menghiasi dada bidangnya yang telanjang sementara dia mengusap rambutnya dengan handuk dan membersit keras, mengenyahkan air dari telinganya. Kaus hitamnya disampirkan di bahunya yang lembab.

“Pagi, Namjoon.” Sapanya parau, wajahnya merona oleh perubahan suhu dari air hangat.

“Oh,” Namjoon mengerjap, kaget. “Pagi, Chef. Saya kira yang mandi Wonwoo.”

Jeongguk hanya menggumam samar sebelum beranjak ke lokernya dengan kaki telanjang. Dia mengeluarkan suara membersit keras beberapa kali, mencoba membersihkan air dari gendang telinganya. Taehyung sejenak ingin mengusir Namjoon, dia ingin mencium Jeongguk.

Sangat ingin hingga dia nyaris gila.

Jeongguk berdiri di sisinya, mengerling Taehyung yang sedang mengancingkan kemeja seragamnya. Aroma tubuh Jeongguk menakjubkan—seperti air hangat, sabun mandi dan keringatnya.

“Aku ingin menciummu.” Bisik Taehyung, lirih nyaris selirih angin namun Jeongguk menangkapnya.

Dia tersenyum kecil mengejek ke dalam lokernya yang terbuka. “Tadi aku sudah menciummu tapi kau menyuruhku berhenti.” Katanya, menarik keluar kaus dalam dan menyelipkan kedua lengan serta lehernya ke dalamnya.

“Bedebah sial.” Gerutu Taehyung, melirik Namjoon yang berada beberapa meter dari mereka, mendendangkan lagu dengan ceria.

Dia berdoa dalam hati Namjoon bergegas menyelesaikan seragamnya dan pergi dari sana. Berdoa dengan kuat dan penuh tekad sementara di sisinya Jeongguk mulai meraih kemejanya dan menyelipkan lengannya ke salah satu sisi; perlahan nyaris seolah sedang menggoda Taehyung.

Dan untuk menjawab doanya, Namjoon melangkah ke urinal di sudut ruangan. Memunggungi mereka untuk buang air kecil, bersiul nyaring. Taehyung langsung membuka pintu lokernya, menciptakan blind spot dari arah urinal dan memanfaatkan momentum itu untuk berbalik, menyambar tangan Jeongguk yang terkesirap kaget lalu menciumnya.

Tepat saat mereka berpisah, Namjoon menoleh. “Chef?” Tanyanya. “Anda oke?”

Jeongguk berdeham, mendelik pada Taehyung yang tersenyum lebar. “Oke. Tidak apa-apa.” Katanya parau. “Taehyung menginjak kaki saya.” Tambahnya, memanfaatkan pintu loker yang melindungi mereka untuk memelototi Taehyung yang sekarang tertawa tanpa suara—puas setelah membalaskan dendamnya.

“Maaf.” Taehyung tertawa kecil, nyaris seperti kesurupan karena adrenalin terasa begitu memusingkan di sistemnya. “Terlalu bersemangat untuk bekerja.” Tambahnya, menyisir rambutnya, memasang harnet dengan rapi lalu menyambar apron dan topinya.

Dia menutup pintu lokernya, tersenyum pada Namjoon yang menarik zipper celananya. Menatapnya heran karena Taehyung bersikap sangat ceria untuk ukuran chef yang baru saja mengamuk di grup koordinasi mereka beberapa saat lalu.

“Saya naik mengecek breakfast duluan, ya?” Pamitnya, memasang topinya dan meluruskannya di atas kepalanya.

Dia mengembangkan apronnya, memasangnya melingkari pinggang rampingnya dan mengikatnya kencang sebelum meraih safety shoes-nya. Dia duduk di atas kursi panjang, mengenakannya dengan sesekali melirik Jeongguk yang sedang mengenakan pakaiannya.

Taehyung berdiri, menyapukan tangannya di atas seragamnya untuk melincinkannya sebelum pamit pada kedua rekan kerjanya. “Ketemu di restoran.” Katanya ceria sebelum mendorong pintu loker terbuka.

Melangkah ke Security untuk presensi masuk dengan senyuman lebar di bibirnya yang masih terasa kebas, lembab dan geli akibat ciuman mereka tadi. Taehyung mabuk dan dia tidak yakin apakah mabuk itu dikarenakan ciuman mereka atau karena dia kurang tidur.

Sepertinya yang pertama.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena saat dia mendorong pintu ke arah Security, dia bertemu dengan Bogum. Kebahagiaannya meledak seperti balon sabun yang langsung memercik ke tanah.

“Selamat pagi, Chef.” Sapa CDP itu dengan sedikit segan karena bertemu dengan Taehyung persis setelah membuat kekacauan.

Taehyung menghela napas, mencoba menata hatinya agar tidak jengkel dan tersenyum tipis. “Pagi, Bogum.” Sapanya dengan nada netral—setidaknya menurut Taehyung.

Bogum sejenak ragu-ragu sebelum menggaruk kepalanya. “Saya minta maaf, Chef.”

Alis Taehyung terangkat. “Untuk?” Tanyanya, walaupun dia sudah tahu tapi dia ingin Bogum mengucapkannya, menyadari bahwa yang dilakukannya memang salah.

Dan dia menunggu saat Bogum sejenak nampak kikuk, menyusun kata-kata di dalam kepalanya untuk mengucapkan maaf dan mengutarakan penyesalannya. Taehyung nyaris bisa mendengarnya berusaha mengalahkan egoismenya sendiri, merendahkan diri untuk meminta maaf.

“Karena telah menanyakan hal yang bersifat personal pada Anda.” Katanya kemudian dengan perlahan. Dia menjaga tatapannya tetap di bawah dan Taehyung mengapresiasi itu.

Dan dia memutuskan tidak ada hal yang perlu dipermasalahkan lagi. Dia melangkah ke mesin pemindai sidik jari dan menekan jempolnya ke atas sensor hingga benda itu berbunyi, tanda dia mengenali sidik jari Taehyung. Bogum masih berdiri di sana, menunggu.

“Tidak apa-apa.” Katanya kemudian, sepatunya menciptakan suara keras di tanah yang dijejaknya karena solnya yang tebal. “Kau sudah paham salahmu dan buatku itu cukup.” Dia tersenyum pada Bogum.

Bogum menatapnya, membalas senyumannya dengan ramah. “Terima kasih, Chef.” Katanya mengangguk sebelum bergegas melangkah ke arah pintu karyawan untuk mengambil seragam.

Dia mengulurkan tangan untuk meraih gagang pint, hendak menariknya terbuka dan tersentak saat pintu dibuka dari dalam terlebih dahulu. Jeongguk melangkah keluar, nampak dua kali lebih mengintimidasi, rahangnya keras dan matanya dingin. Sangat berbeda dengan Jeongguk yang pagi tadi terkekeh bersama Taehyung, menghujaninya dengan ciuman dan pujian.

Dia sekarang adalah Chef Jeongguk, chef senior yang terkenal dingin dan pendiam.

Bogum menunduk, mengangguk padanya. Karena dia tahu Jeongguk dan Taehyung memiliki hubungan, mungkin dia sekarang menyadari jika dia menganggu Taehyung maka dia juga menganggu Jeongguk.

“Pagi, Chef.” Sapanya dengan suara kecil.

“Ya.” Balas Jeongguk sekenanya sebelum melangkah menjauhi pintu menuju mesin presensi, melewati Taehyung yang tersenyum kecil. Jeongguk bisa saja bajingan profesional yang congkak, tapi dia baru saja bersikap kekanakan dengan menolak membalas sapaan Bogum.

Jeongguk memindai sidik jarinya, lalu menoleh pada Taehyung. “Tunggu apa lagi?” Tanyanya dingin dan Taehyung mendenguskan senyuman. “Cek eclair sialmu.”

Taehyung tersenyum. “Baik, Chef.” Sahutnya.

*


“Taehyung.”

Taehyung yang sedang duduk di dekat pos Security dengan earphone menyumpal kedua telingannya membuka matanya dan bertemu Jeongguk yang nampak segar dengan wajah lembab.

“Maaf aku tadi menyempatkan diri menyuci wajahku.” Dia menghampiri Taehyung dan tubuhnya beraroma seperti rempah dan makanan yang hangat.

Chef senior itu berdiri di dekatnya, menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Matanya sedikit liar dengan wajah tertekuk, nampak sangat terganggu oleh sesuatu yang Taehyung tidak pahami apa.

“Hai.” Taehyung tersenyum, melepas salah satu earphone-nya dan bergegas berdiri. “Karena aku sungguh harus membawa motorku kembali, bagaimana jika kita bertemu di kosku? Akan kubuatkan teh lalu kau bisa cerita.”

Jeongguk menatapnya, sejenak ragu sebelum mengangguk dan berlalu. Taehyung mendesah, sudah mulai hafal jika Jeongguk bersikap seperti itu maka ada sesuatu yang sangat menganggu pikirannya dan Taehyung tidak sabar untuk mencari tahu apa namun dia memilih untuk membiarkan hingga Jeongguk sendiri yang memilih untuk bercerita.

Berpamitan pada Security, Taehyung bergegas mengejar Jeongguk ke arah parkiran mobil sebelum berseru. “Ketemu di kos!” Dan berlari ke parkiran motor karyawan tanpa menunggu jawaban Jeongguk.

Dia mengeluarkan motornya yang tadi dipanaskan karena sudah dua hari tidak menyala. Taehyung sedang mengetes gasnya saat Rubicon perak berhenti di depan parkiran motor karyawan dan menunggu tanpa suara.

Taehyung tersenyum kecil sebelum dia menaiki motornya, menurunkannya dari parkiran motor dan meluncur di jalanan menjauh dari Banyan Tree Ungasan. Rubicon Jeongguk mengikutinya dari belakang, membantu Taehyung menyinari jalanan di depannya.

Dan ini membuat perasaan Taehyung sedikit lebih tenang melewati jalanan antah-berantah yang harus dilewatinya setiap pulang bekerja; sepi dan hanya ada padang tandus sejauh mata memandang. Derum dan cahaya lampu Rubicon Jeongguk sangat membantu menenangkan hatinya.

Saat bergabung dengan jalan raya, Taehyung langsung kehilangan Jeongguk karena mobilnya terjebak kemacetan jam pulang kantor sementara motor Taeyung meluncur dengan mulus menyelip di antara mobil-mobil yang berhenti.

Sehingga dia tiba lebih dahulu di kosannya dan bergegas mandi, dia ingin menemani Jeongguk dengan fokus maka dia harus mempersiapkan kenyamanannya sendiri. Dia baru saja selesai mandi, sedang mengelap tubuhnya yang lembab saat ponselnya berdering.

Jeongguk.

Dia mengangkatnya, “Halo?” Sapanya. “Masuk saja, lurus. Kamarku di ujung, sisi bagian kanan.” Katanya, bergegas melempar handuknya ke ranjang, meraih pakaian dari lemarinya.

“Kita...” Bisik Jeongguk lembut hingga membuat tubuh Taehyung berdesir karena ini pertama kalinya Jeongguk menggunakan nada selembut dan sepelan itu pada Taehyung.

“Bagaimana jika kita ke rumahku saja?”


Rumah Jeongguk berada di perumahan yang rapi. Ukurannya minimalis dengan dua lantai. Di bagian balkon atasnya ditanam likuanyu yang menjulur turun, membentuk tirai tebal yang cantik dan ujung-ujungnya dipotong rapi. Ada taman mungil di bagian depannya, terisi beberapa pot tumbuhan yang nampak segar dan pohon kamboja kuning yang harumnya semerbak.

Benar kata Yugyeom, jaraknya sangat dekat dengan kosan Taehyung. Hanya melewati satu pom bensin dan mereka berbelok ke kompleks perumahannya. Bahkan Taehyung kaget karena jaraknya yang begitu dekat.

Lampu teras menyala, ada seperangkat kursi rotan di sana dan rak sepatu diletakkan di sisi kanan teras; Taehyung mengenali beberapa sepatu yang pernah digunakan Jeongguk.

Saat mereka tiba, Jeongguk turun dari mobilnya yang menyala dan membuka gembok gerbangnya yang berdentang keras. Dia mendorongnya terbuka sebelum memasukkan mobilnya ke dalam garasi dengan cara mundur. Taehyung turun tepat sebelum mobil sepenuhnya memasuki garasi dan menunggu Jeongguk di teras rumahnya.

Mobil berderum sekitar lima menit sebelum akhirnya mati dan keheningan mendadak membuat telinga Taehyung agak berdenging.

Kompleks perumahan itu tidak terlalu ramai, tidak banyak anak-anak atau ibu-ibu yang berkumpul di jalanan. Mungkin karena ini pukul enam sore, semua orang pasti sedang berada di rumahnya masing-masing menikmati waktu bersama keluarga.

Suara Adzan terdengar sayup-sayup di kejauhan bersamaan dengan suara Puja Tri Sandya umat Hindu yang juga diputar di pura perumahaan itu. Suaranya saling tumpang-tindih di udara namun entah bagaimana, membuat Taehyung merasa sedang bernostalgia.

Suara ini sudah terasa sangat akrab dengan kesehariannya di Bali selama ini.

Jeongguk keluar dari garasi, menarik pintunya tertutup dengan kedua lengannya yang padat, menguncinya sebelum memilah anak kunci untuk membuka pintu depan. Taehyung mengekor saat Jeongguk menaiki undakan ke arah pintu.

Dia menyelipkan anak kunci yang bergemiricing ke pintu lalu membukanya dengan suara klik! ganda. Jeongguk mendorongnya terbuka dan Taehyung langsung mendapati dirinya dipeluk oleh aroma tubuh Jeongguk yang sangat tebal dan kental di udara.

Taehyung menghela napas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan aroma Jeongguk yang terasa memabukkan.

“Maaf berantakan.” Kata Jeongguk, menekan saklar lampu dan menerangi ruang tengah rumahnya.

Ada televisi dan seperangkat sofa di bagian kanan dan dapur mungil yang nampak lengkap di sudutnya—terlalu lengkap untuk ukuran dapur yang tidak terlalu besar. Jeongguk punya microwave, air-fryer, kompor yang menyatu dengan oven tanam, beberapa frying pan standar dapur profesional, jejeran herbs dan bumbu dalam toples-toples kaca mungil berlabel dan bahkan knife sets yang berada di konter dapur. Sekeranjang buah tropis diletakkan di sudut konter.

Rumah itu memiliki taman kecil lagi di belakang, penerangannya remang-remang jadi Taehyung tidak terlalu bisa melihat isinya selain siluet palem-palem montok yang ditanam di bagian sudut.

Di atas meja ruang televisi, ada gelas yang tidak sempat dibereskan dan piring kotor. Jeongguk yang menyadari itu bergegas mengambilnya, meletakkanya di tempat cuci piring.

“Silakan ambil makanan atau minuman di kulkas.” Katanya, sekarang nampak sedikit kikuk karena mungkin inilah pertama kalinya dia membawa orang selain Yugyeom ke rumahnya. “Tapi aku hanya punya buah dan sayuran.”

Taehyung tersenyum. “Tidak masalah.” Katanya. “Silakan mengganti bajumu atau mandi, aku akan menunggu di sini.” Dia melangkah ke sofa, mendudukkan dirinya di salah satunya dan mendesah saat merasakan empuknya per-per dan busa di dalamnya.

Jeongguk diam sejenak di depan kulkas, nampak bingung sebelum meraih gagang pintu kulkas. Mengambil sebotol jus organik miliknya dan melangkah ke arah Taehyung, meletakkannya di meja. Taehyung menatap botol itu, jus buah naga ungu lalu mendongak pada Jeongguk.

“Trims.” Dia tersenyum, meraih botol itu dan membukanya.

Jeongguk menatapnya sekali lagi, nampak menerawang dan linglung hingga Taehyung merasa hatinya nyeri. Apa pun yang menganggu Jeongguk, hal itu pasti sangat serius hingga dia benar-benar tersesat di dalamnya.

Taehyung mendesah, dia memberanikan diri meraih tangan Jeongguk yang terasa dingin oleh suhu dan pemuda itu tersentak kaget karena sentuhannya dan refleks Taehyung langsung melepaskan genggamannya.

“Maaf!” Dia meringis, menjauhkan tangannya seolah benda itu bisa membakar Jeongguk. “Apakah aku membuatmu tidak nyaman?”

Jeongguk mengerjap, menatap tangannya lalu menatap Taehyung. “Tidak, aku hanya kaget.” Sahutnya lirih, nampak kecil dan ringkih hingga sejenak Taehyung berpikir haruskah dia pulang saja jika Jeongguk ternyata tidak ingin ditemani?

“Jika kau sedang ingin sendirian,” Taehyung tersenyum, memilih kata-kata yang akan diucapkannya dengan penuh perhatian dan menjaga nadanya tetap lembut agar Jeongguk tidak merasa terintimidasi.

“Aku akan pulang saja. Aku tidak ingin memaksamu menceritakan apa pun jika kau tidak ingin dan belum siap.”

Jeongguk tidak menjawab, dia masih nampak berdebat dengan dirinya sendiri, menjulang di sisi sofa yang diduduki Taehyung. Dia menunggu dua menit sebelum akhirnya berdiri. Tidak apa-apa jika Jeongguk belum bisa mengatakan apa pun.

“Tidak apa-apa, sungguh.” Taehyung tersenyum lembut. “Tidurlah, oke? Ketemu besok di hotel?”

Jeongguk menatapnya, wajahnya berkerut-kerut dan setiap kerutannya mengirimkan tusukan ke hati Taehyung. Dia nampak lemah, terekspos dan kelelahan. Sangat berbeda dengan Jeongguk yang setiap hari ditemui Taehyung; dia seperti seorang bayi yang telanjang. Lemah dan ringkih.

Taehyung ingin memeluknya, tapi tidak yakin Jeongguk dapat menangguhkan kontak fisik menilik dari bagaimana caranya menjalani kehidupan sosial.

Namun Taehyung merasa tidak ada salahnya mencoba.

“Kau...” Dia menatap mata Jeongguk yang nampak berkilat oleh rasa takut dan lelah yang membuat Taehyung kebingungan; apakah tidak apa-apa jika dia meninggalkan Jeongguk sendirian?

“Mau kupeluk?” Tanyanya kemudian, tidak tahan lagi. “Satu pelukan tidak akan menyakiti siapa pun.” Tambahnya, merentangkan kedua lengannya mengundang Jeongguk untuk masuk ke dalamnya.

“Mungkin akan membuatmu merasa lebih baik.” Taehyung kembali berbisik, mencoba meyakinkan Jeongguk yang nampak seperti singa yang sedang terluka.

Di luar dugaan, Jeongguk tanpa aba-aba melangkah ke arahnya dan merengkuh Taehyung dalam pelukannya yang luar biasa hangat. Kedua lengannya membekap Taehyung dengan kuat hingga dia terkesirap, Jeongguk mengubur wajahnya di cerukan leher Taehyung dan menghela napas dalam-dalam.

Seluruh tubuh Taehyung berdenyar oleh sentuhannya.

Semua saraf dan organnya berdenyut menggila karena aroma tubuh Jeongguk tercium begitu luar biasa di cuping hidungnya. Taehyung membalas pelukannya, menumpukan dagunya di bahu Jeongguk dan memejamkan mata.

Ini bukan pelukan hiburan pertama yang diberikan Taehyung pada seseorang, namun hanya pelukan ini yang dapat membuat Taehyung merasakan tiap sakit, letih dan gundah Jeongguk nyaris seperti dirinya sendirilah yang mengalaminya.

Mungkin Taehyung telah jatuh ke neraka lebih dalam dari apa yang dipikirkannya.

Telapak tangannya membelai punggung Jeongguk perlahan. “You've done great today.” Bisiknya lembut disela deru napas Jeongguk di lehernya.

Telapak tangan Jeongguk menempel di punggungnya, sekarang terasa hangat dan perlahan terasa membakar kulit Taehyung menembus lapisan kain pakaiannya. Mereka bersidiam selama beberapa saat, Taehyung membiarkan Jeongguk melumer dalam pelukannya dan memberikannya waktu hingga dia siap untuk mengatakan apa pun.

Dekapannya pada Taehyung tidak mengendur, malah semakin erat hingga Taehyung sejenak kehabisan napas namun dia tertawa kecil dan membelai punggung Jeongguk lebih hangat lagi.

Dengan sedih menyadari mungkin selama ini Jeongguk tidak pernah dipeluk. Tidak pernah ditanya apakah dia baik-baik saja. Tidak pernah menunjukkan pada siapa saja betapa lelahnya dia.

Taehyung menatap seluruh ruangan dengan sendu.

Mungkin setiap hari, Jeongguk akan pulang ke rumah yang kosong dengan lelah mendera fisik dan mentalnya, tidak menemukan siapa pun untuk diajak berbagi dan bicara. Apalagi sekarang setelah adiknya menikah dan sudah akan memiliki anak, Yugyeom yang sibuk dan kedua orangtuanya yang jauh.

Memikirkannya membuat pelukan Taehyung mengerat. Seolah dia ingin memeluk tiap bagian diri Jeongguk yang lelah dan berhamburan, menyatukannya menjadi utuh kembali; menjadi Jeongguk yang sempurna lagi.

Taehyung paham kesendirian itu. Dia paham bagaimana rasanya kembali ke kamar dan merasa sendirian; lelah namun tidak ada yang bisa diajak berbagi. Lelah yang tidak akan sembuh hanya dengan tidur. Karena yang lelah, bukanlah fisik mereka.

Namun hati dan pikiran mereka.

Taehyung juga paham bagaimana rasanya ketika menoleh, membutuhkan bantuan, tidak ada yang sedang meluangkan waktu untuknya. Taehyung paham rasanya sendirian ketika membutuhkan pertolongan, maka dia selalu berjanji pada dirinya sendiri kapan pun dia mampu dia akan menemani siapa pun yang membutuhkan bantuannya.

Taehyung paham apa yang dirasakan Jeongguk.

Apalagi setelah mendengar cerita dari ibunya tentang masa kecil si Kembar dan bagaimana Jeongguk menyikapi kecelakaan itu.

“Kau hangat.” Bisik Jeongguk teredam di lehernya dan Taehyung harus menahan dirinya sendiri agar tidak tertawa karena bagian leher adalah bagian paling sensitif dari tubuhnya. “Aromamu seperti vanila.”

“Yep. Itu aroma dasar seorang pastry chef. Tidak pernah mau hilang.” Sahut Taehyung lembut. “Bolehkah kita duduk? Kakiku pegal.”

Jeongguk mengerjap, lalu menguraikan pelukan mereka dan Taehyung langsung mengigil karena kehilangan suhu tubuh Jeongguk yang hangat. “Maaf.” Bisiknya serak dan parau.

“Tidak masalah.” Taehyung mendudukkan dirinya di sofa dan merentangkan tangannya. “Kemarilah. Free hug-nya masih berlaku, kok.” Tambahnya tersenyum menyemangati.

Jeongguk tersenyum kecil walaupun senyuman itu tidak menyentuh matanya dan mendudukkan diri di sisi Taehyung. Sejenak kikuk karena tidak yakin pada apa yang diinginkannya, maka Taehyung menjulurkan tangan dan merengkuhnya ke dalam pelukannya.

Dan detik Jeongguk terbungkus nyaman dalam pelukannya, chef senior itu mendesah keras. Tubuhnya gemetar, seolah dia sangat membutuhkan pelukan itu. Seolah hidupnya bergantung pada sentuhan itu. Dan Taehyung mendesah kecil saat perlahan, helaan napas Jeongguk berubah menjadi tangisan lirih tanpa suara.

Bahunya berguncang saat dia terisak, berusaha kuat untuk menyembunyikan air mata dan meredam isakannya walaupun air matanya merembes ke kaus Taehyung dan membuatnya basah.

“Tidak apa-apa.” Bisik Taehyung lembut, membelai punggung bidang Jeongguk. “Lepaskan saja. Dilepaskan.”

Dan sambil terisak, Jeongguk kemudian menyeritakan semuanya. Bendungan yang selama ini dibangunnya, dijaganya kali ini runtuh, porak-poranda sehingga semua perasaannya yang selama ini ditahannya untuk dirinya sendiri menghantam Taehyung seperti banjir bah.

Taehyung merupakan tipe yang sangat vokal tentang perasaannya; jika dia suka, dia akan mengatakannya. Begitu pula jika dia tidak suka, semuanya terang-terangan. Kepada siapa saja—entah keluarga atau orang yang baru ditemuinya.

Sangat berbeda dengan Jeongguk yang jika dihadapkan dengan keluarganya, dia memilih untuk membotol