Sizzling Romance #235

ps. unedited bcs im tired, sorry hehe


“Halo, Kesayangan Tio!”

Jeonggi mendongak kaget, dia sedang menunduk memberi ASI Divya yang matanya sekarang terbuka sempurna saat Taehyung mendorong pintu ruang inapnya dengan seruan keras.

Taehyung tertawa kecil , “Maaf, maaf, apakah aku mengangetkanmu?” Dia melepas jaket yang digunakannya saat berkendara tadi, meletakkannya di atas sofa.

Beranjak ke sisi ranjang Jeonggi dan mengecup pipinya sayang seraya meletakkan kantung kertas yang terisi kontainer Jeongguk—di dalamnya ada kue bronis yang masih hangat.

“Tidak apa-apa, aku pikir siapa.” Desah Jeonggi tertawa kecil, kembali menunduk, menekan-nekan payudaranya agar air susunya mengalir keluar dengan lancar. Dia meringis, mengeluarkan suara napas tajam yang membuat Taehyung menoleh.

“Kenapa?” Tanyanya, berhenti di depan pintu kamar mandi hendak mencuci tangan.

Jeonggi mengernyit, berusaha keras menahan erangannya. “Divya menyedot putingku terlalu keras.” Keluhnya lalu mendesis menahan sakit seperti sedang kepedasan.

Taehyung meringis, tidak sungguh-sungguh memahami bagaimana rasanya tapi dari ekspresi Jeonggi yang berkerut menahan sakit itu pasti sangat menyiksa. Dia bergegas mencuci tangannya dengan sabun sebelum keluar, ingin menemani Jeonggi yang sekarang berwajah lucu karena menahan sakit.

“Ke mana suamimu?” Tanya Taehyung.

Jeonggi menghela napas tajam, menahan sakit di payudaranya sementara Divya minum dengan rakus di pelukannya. “Ada urusan ke tempat kerja, kataku tadi tidak apa-apa karena tahu Kak Tae akan datang.” Dia menekan bagian atas payudaranya, menatap Taehyung dengan wajah berkerut menahan sakit.

Taehyung mengulurkan tangan, mengusap lengan atasnya dengan lembut—berusaha membantu mengurangi rasa sakit yang dirasakan Jeonggi. Divya kemudian melepaskan puting Jeonggi dan Taehyung menatap dengan ngeri saat melihat bercak kemerahan dan ujungnya yang pecah.

Namun Jeonggi tidak nampak terganggu, dia menyeka tetesan ASI dari ujungnya dengan tangan. “Masih lapar?” Tanyanya lembut. “Sudah?” Dia kemudian mengulurkan telunjuknya ke bibir Divya, mengecek apakah bayi itu masih ingin minum—jika dia masih menyedot jari Jeonggi, berarti dia masih lapar.

Divya tidak bereaksi pada jari Jeonggi, jadi dia memasukkan kembali payudaranya ke dalam pakaiannya. Tidak sama sekali mengecek putingnya yang luka dan Taehyung menghela napas; perempuan memang makhluk paling kuat di dunia ini.

“Kak Tae, boleh tolong gendong sebentar?” Tanya Jeonggi kemudian dan Taehyung bergegas mengulurkan tangan, membentuk buaian dan menerima buntalan menggemaskan yang sekarang menguap kecil.

“Sayang Tio,” gumam Taehyung menatap Divya yang balas menatapnya dengan matanya yang berkilau—nampak seperti mata Jeongguk dan Jeonggi sementara sisa wajahnya adalah wajah Arya.

Jeonggi membenahi pakaiannya, menekan payudaranya dengan telapak tangan dan mengusapnya dengan gerakan melingkar. “Berdenyut,” katanya setengah mengeluh dan setengahnya lagi geli.

“Makan bronis saja dulu, aku yang akan menggendong Divya.” Kata Taehyung, menimang Divya yang menguap kecil lagi; bibirnya terbuka membentuk O mungil yang menggemaskan dan matanya tertutup. “Tidur saja jika kau mengantuk.” Goda Taehyung lembut dan Divya menatapnya.

Seringkali Taehyung berpikir bagaimana anak itu tidak menangis saat digendong begitu banyak orang. Dia diam, tidak menuntut, tidak rewel dan begitu menggemaskan. Kata Jeonggi, mungkin karena dia sering mendengar suara Jeongguk dan Taehyung semenjak dalam kandungan sehingga dia tahu mereka adalah keluarga.

Taehyung mengecup keningnya dengan gemas, “Cepat besar, yaa! Nanti Tio ajak jalan-jalan!” Dia berdendang, bergerak ke kanan dan ke kiri dengan lembut, membuai Divya sementara ibunya membongkar kantung kertas dan mengeluarkan kontainer yang berat dan hangat.

Dia membuka tutupnya dan mendesah, menemukan beberapa potong bronis cokelat dengan remahan Oreo yang melimpah. Dia meraih sepotong, menggigitnya. “Astaga.” Desahnya saat merasakan tekstur makanannya.

Bronis itu meleleh dalam mulutnya, luarnya renyah namun bagian dalamnya begitu lembut dan kenyal—gooey dengan cokelat yang meleleh, potongan besar cokelat hitam yang utuh di dalamnya, remahan Oreo di permukaannya... Rasa manisnya, walaupun terisi begitu banyak cokelat tetap pas, tidak membuatnya mual karena pahit yang meledak dari potongan-potongan cokelat hitam di dalamnya.

Dia menjejalkan sepotong ke mulutnya.

Taehyung tersenyum simpul. “Kau suka?” Godanya saat Jeonggi menjejalkan potongan kedua ke mulutnya.

“Tentu saja suka!” Katanya, mendesah saat ledakan rasa di mulutnya membuatnya mabuk. “Ini enak sekali!” Dia meraih potongan ketiga, menjilat remahan Oreo di permukaannya dan Taehyung terkekeh melihatnya.

“Aku harus sering-sering menantang Pastry Chef Senior dan meragukan kemampuannya agar aku mendapatkan banyak makanan enak.” Dia tersenyum lebar, mengigit potongan bronisnya dan mendesah, senang.

“Tidak perlu menantangku, cukup sebutkan saja aku akan membuatkannya.” Dia menimang Divya yang kembali menguap—bibirnya mendecap-decap kecil setelah kuapannya berakhir. “Sepertinya dia lapar lagi?” Tanya Taehyung, menghampiri Jeonggi yang bergegas menyingkirkan bronisnya.

Taehyung merunduk, membiarkan Jeonggi melihat wajah anaknya. Dia mengulurkan telunjuknya yang sudah dilap tisu dan mengecek apakah Divya meresponsnya namun bayi itu bergeming, matanya terpejam.

“Dia mengantuk.” Jeonggi terkekeh dan Taehyung memindahkan bayi itu ke pelukan Jeonggi sebelum menyingkirkan makanannya, dia berinisiatif menyuapi Jeonggi makanannya.

“Trims, Kak!” Jeonggi tersenyum, membuka mulut dan menerima suapan dari Taehyung.

Dia meninabobokan Divya di pelukannya, sesekali mengecek bibirnya dengan telunjuk jikalau tiba-tiba bayinya haus dan perlu diberi ASI. Staf rumah sakit kemudian datang membawakan makan siang Jeonggi.

“Halo, Ibu.” Sapanya ramah, “Ini makanan siangnya, ya.” Dia meletakkan nampan makanan di atas meja dan mengambil gelas minum yang datang dengan cemilan siang Jeonggi. “Ini saya ambil lagi.” Katanya tersenyum.

“Silakan, Mbak.” Sahut Jeonggi ramah. “Terima kasih.”

“Kembali kasih.” Staf itu kemudian berpamitan dan keluar, lalu mendorong troli makanannya menjauh ke kamar sebelah.

“Kau mau makan? Kusuapi?” Tanya Taehyung, menilai menu makanan yang diberikan untuk Jeonggi—ada sup makaroni bening, sepotong ayam, rolade dan nasi. Ada sebuah pisang juga untuk melengkapinya.

“Nanti saja.” Kata Jeonggi, mendendangkan nada random yang merdu untuk Divya yang sekarang mulai terlelap. “Kak Tae sudah makan?” Tanyanya berbisik dan Taehyung mengangguk.

Tadi sebelum berangkat dia sempat membuat roti isi dengan telur dan mayonais. Ingin sekali menambahkan ham atau bacon tapi Jeongguk belum membeli daging untuk Taehyung, jadi dia mencatat akan membeli beberapa sepulangnya dari sini. Tapi Taehyung tahu Jeongguk tidak suka bau amis daging, jadi dia akan berusaha membeli stok yang hanya cukup untuk beberapa hari daripada kulkas berbau amis.

“Sudah tidur.” Bisik Jeonggi, mengusap kening anaknya dari keringat tipis dan tertawa tanpa suara. Divya terlelap di pelukannya, bibirnya terkuak menggemaskan dan dia mendengkur lembut.

Hati Taehyung terasa hangat melihatnya. Sejenak terserang perasaan bersalah karena sempat membenci Divya hanya karena dia terlahir, hanya karena Jeongguk begitu memuja dan mencintainya. Dia merasa malu sekali pada sikapnya sendiri.

“Divya, anak Mama.” Dendang Jeonggi lembut, mengecup kening anaknya dan tersenyum. “Aku sudah ingin mendandaninya, memakaikannya gaun lucu, bando bunga-bunga.” Jeonggi tersenyum lebar lalu teringat sesuatu.

“Oh!” Dia kemudian menoleh ke meja di sisinya, ke arah ponselnya. “Divya tadi pagi melakukan sesi foto new born, Kak mau lihat??”

Taehyung langsung mengangguk, meraih ponsel Jeonggi dan membiarkannya menempelkan sidik jari di bagian pemindainya, membuka kuncinya. “Cari saja di Gallery.” Katanya. “Semua bokep sudah kusembunyikan, kok.” Tambahnya dan Taehyung tersedak tawa.

“Tapi belum foto jernihnya karena mereka sedang mengeditnya, besok akan kukirimkan ke Kak Tae jika sudah kuterima. Itu hanya semacam sneak peak-nya.” Jeonggi tersenyum lebar saat Taehyung menggeser gambar-gambar di ponsel.

“Dia lucu sekali.” Taehyung mendesah, menatap foto-foto Divya dan berhenti sebelum tiba di foto pribadi milik Jeonggi dan meletakkan ponselnya kembali. “Dia akan jadi anak yang manis.”

Jeonggi menatap anaknya dengan sendu, penuh kelembutan dan kasih sayang. “Dicintai begitu banyak orang dan memiliki paman-paman tukang masak yang keren.” Dia tersenyum lebar pada Taehyung yang tertawa kecil.

“Jadi,” katanya setelah membaringkan Divya di ranjangnya. “Apa yang membuat Wik terlambat bekerja hari ini? Tidak mungkin bangun kesiangan karena Wik itu, apa pun yang terjadi, semalam apa pun dia tidur, dia akan bangun pukul empat pagi untuk boxing.”

Taehyung nyaris menjatuhkan gelas yang digesernya untuk memberi tempat bagi kontainer bronis yang dibawanya. Dia memang tidak bisa berbohong pada Jeonggi, firasat ibu muda itu tentang kakaknya tidak bisa ditipu sama sekali.

Karena memang, Jeongguk memang selalu terbangun pukul empat pagi tidak pernah terlambat. Namun semenjak Taehyung menginap, dia tidak pernah melihat Jeongguk berolahraga. Dia akan menyusupkan kepalanya ke rambut Taehyung dan kembali terlelap.

Mungkin itulah kenapa mereka jadi lebih mudah lelah belakangan ini saat bekerja; Taehyung mengingatkan dirinya sendiri untuk mulai lari pagi lagi saat libur untuk menjaga staminanya. Dia sudah terlalu lama terlena karena tidur bersama Jeongguk, terlalu malas untuk beranjak dari hangat pelukannya tiap pagi.

Jeonggi tersenyum lebar, hingga matanya membentuk bulan sabit dan pangkal hidungnya mengerut. “Jadi?” Tanyanya, tidak menyerah.

Taehyung mendesah, tidak bisa menghindari Jeonggi lagi. “Jadi,” dia menggaruk pelipisnya, tidak yakin bagaimana harus memulainya. “Semalam aku mendengarkan pembicaraan kakakmu dengan ibumu tentang....” Dia melirik Divya yang terlelap.

Jeonggi menatapnya, tersenyum menenangkan. “Jika menurut Kakak terlalu personal, tidak usah, Kak.” Dia tersenyum, menepuk tangan Taehyung lembut, menyemangatinya.

Taehyung meringis, memutuskan untuk melewati detail itu. “Yah, intinya kami salah paham dan menghabiskan semalaman untuk saling mendiamkan satu sama lain dengan begitu bodoh—aku maksudnya yang bodoh.” Dia mengeluh. “Lalu pagi ini kami berbaikan dan...”

“Dan?”

“Akhirnya dia memintaku jadi pacarnya.”

I KNOW IT!”

“Sssh!!”

Jeonggi langsung menutup mulutnya, mereka berdua langsung menoleh panik ke Divya yang mulai merengek kecil. Kaget dengan suara teriakan Jeonggi yang begitu keras. Wajahnya mengerut, mulutnya terbuka dan Taehyung tahu mereka sudah membangunkannya.

Divya menarik napas...,

Jeonggi meringis, “Jangan... Jangan bangun...” Gumamnya dengan lemah, menggigit bibir bawahnya.

Dan menangis.

Meraung dan begitu keras hingga Jeonggi mengerang panjang. Taehyung tertawa, terhibur oleh ibu-anak itu. Dia bergegas menghampiri ranjang Divya, bayi itu menangis keras sekali hingga Taehyung takut dia muntah.

Taehyung menyelipkan kedua tangannya ke bawah selimut Divya dan meraihnya. Membuainya dengan lembut, mencoba menenangkannya. “Maafkan kami, Sayang.” Bisiknya lembut sementara Divya menjerit. “Kaget, ya? Maaf, maaf.”

Namun karena Divya tidak kunjung berhenti, akhirnya dia tertawa dan menyerahkannya kepada ibunya yang meringis, mulai menyingkap pakaian rumah sakitnya untuk menyusui Divya.

Taehyung melihat gestur itu sebagai tanda bahwa Jeonggi menganggapnya keluarga karena dia tidak segan untuk memberi ASI anaknya di depan Taehyung. Tidak nampak terganggu sama sekali saat payudaranya terpampang di udara dengan Taehyung berdiri di hadapannya.

Dan Taehyung sendiri pun tidak menatapnya sebagai sesuatu yang tidak senonoh sama sekali. Dia melihatnya sebagai tanda kasih sayang, pengorbanan dan perjuangan Jeonggi sebagai seorang ibu; menahan rasa sakit, mengabaikan rasa malu dan semuanya demi anaknya.

“Maaf, Sayang, maaf.” Bisik Jeonggi terkekeh kecil. “Mama mengagetkanmu, ya?” Dia kemudian menimang-nimang anaknya dengan lembut, mencoba menyelipkan putingnya yang babak belur (Taehyung masih meringis saat melihat lukanya) ke bibir Divya namun anak itu menolaknya.

“Tidak mau susu?” Tanyanya lembut. “Baiklah, jadi kau mau menangis saja?” Dia memasukkan kembali payudaranya ke dalam pakaiannya. “Oke. Ayo menangis.” Dia tertawa kecil, mengecup wajah anaknya.

Namun Divya yang sebenarnya masih mengantuk, akhirnya berangsur-angsur kembali diam. Terisak kecil sebelum akhirnya kembali terlelap. Dan Jeonggi mendesah panjang, senang. Lalu mendongak ke Taehyung yang mengamati mereka.

“Itu tidak sakit?” Tanya Taehyung, melirik payudara Jeonggi dengan sopan.

Jeonggi mengerjap. “Apa?” Tanyanya.

“Putingmu pecah dan berdarah.” Kata Taehyung, meringis. Dan benda itu masih harus tetap digunakan untuk memberi makan Divya.

“Sakit, tentu saja.” Jeonggi tertawa kecil. “Tadi pagi malah berdarah.” Dia mengusap payudaranya. “Tapi, mau bagaimana lagi?” Dia tersenyum. “Kata Mama, aku sebaiknya tidak berteriak atau 'memarahinya' jika Divya menyedot terlalu keras. Nada tinggi itu akan membuatnya takut dan merasa dia melakukan hal yang salah dengan makan.

“Jika sakit tahan saja, katanya.” Jeonggi meringis tapi kemudian tersenyum lebar. “Jadi aku berusaha menahannya. Takut Divya akan menganggapku tidak suka saat dia makan dan malah menolak makan. Sakit sedikit tidak apa-apa.”

Taehyung menatap ibu muda di hadapannya, mendendangkan lagu lembut untuk anaknya dan semakin terkagum-kagum pada perempuan yang begitu kuat. Jika mereka tidak ada di dunia ini, mungkinkan anak-anak tumbuh dengan perasaan simpati dan kasih sayang?

Karena sepertinya pertumbuhan emosi anak sangat bergantung pada ibunya yang penyabar dan telaten. Dan itulah mengapa Taehyung tidak yakin dia bisa menjadi orang tua yang baik dan memilih mundur dari peran itu.

“Jadi, sekarang Kak Tae akan tinggal bersama Wik?” Tanya Jeonggi kemudian, mengusap wajah anaknya yang terlelap. “Maksudku,” dia menambahkan dengan nada menyebalkan yang membuat Taehyung tersenyum lebar.

“Aku tahu sih, sekarang kalian tinggal bersama tapi setidaknya bereskan saja kosan Kakak. Untuk apa membayar kosan?”

Taehyung tertawa, tidak ada gunanya lagi menyembunyikan apa pun dari Jeonggi. “Mungkin.” Katanya. “Aku akan membereskan kosanku. Membawa barang-barangku yang tidak banyak ke rumah.”

Jeonggi tersenyum, nampak luar biasa senang. “You have no idea,” bisiknya lirih. “How you help our family by making my brother happy.” Dia tersenyum dan Taehyung mencondongkan tubuh, mengecup pipinya sayang.

“Aku selalu penasaran mengapa dia bersikap begitu overprotektif padaku. Melajang seperti biksu, menolak berkencan hanya untuk menjagaku hingga ke taraf yang sinting.” Jeonggi menatap anaknya.

“Setidaknya sekarang dia tidak begitu lagi.” Dia mendesah, menatap Taehyung penuh kasih hingga sejenak Taehyung merasa dia seolah sedang menatap ke mata Jeongguk; ekspresi mereka begitu mirip.

Belum lagi binar mata mereka saat menatap Taehyung, hingga dia mendesah, “Kembar.” Pikirnya terenyuh.

Mungkin dia akan meminta Jeongguk menjelaskan pada Jeonggi mengapa dia melakukan segalanya. Jeonggi sudah dewasa, sudah menjadi seorang ibu dan umurnya sebentarlagi 37 tahun. Dia layak mengetahui yang sebenarnya, layak diberi tahu tentang memori kelam yang dihapus otaknya sendiri sebagai semua sistem pertahanan diri.

“Aku senang sekali.” Dia tersenyum lembut. “Terima kasih, Kak Taehyung.”

Taehyung berdiri, merengkuhnya dalam pelukannya yang longgar dan Jeonggi tertawa serak—menangis. “My pleasure.” Bisiknya, mengecup puncak kepala Jeonggi. “Mencintai kakakmu tidak sesulit itu, kok.”

“Kau tidak perlu berterima kasih, karena aku melakukannya atas kehendakku sendiri.” Taehyung menumpukan pipinya di puncak kepala Jeonggi, merasakan kasih sayang yang berlimpah untuk kedua saudara itu; seolah hatinya membengkak menjadi dua kali lipat untuk mencintai keduanya dengan porsi yang sama.

“Mencintai kalian itu tidak sulit.” Bisiknya, menyadari betapa benarnya kalimat itu terasa.

“Sama sekali tidak.”

*