Sizzling Romance #225
⚠️tw: angst. anxiety.
Mereka bersidiam di dalam mobil, Taehyung berusaha membangun percakapan namun rasa insecure yang menggelayutinya membuatnya lemah.
Ini pertama kalinya dia benar-benar merasakan perasaan ini; seperti monster yang merayap ke tubuhnya, menaiki bahunya dan mencengkram kepalanya dengan rasa nyeri yang mustahil disembuhkan hanya dengan obat sakit kepala.
Dia akhirnya memutar radio, membiarkan lagu-lagu berbahasa Bali yang tidak dipahaminya mengisi kesunyian—dia memejamkan mata, berpura-pura tidur agar Jeongguk tidak bertanya apa pun padanya.
Namun toh, saat akhirnya mereka memasuki wilayah Kuta yang ramai dan mulai macet, dia membuka suara, “Aku malam ini pulang ke kosan.” Katanya, berusaha menghalau cengkeraman rasa takut di otaknya yang berdenyut.
Mengerikan sekali rasanya.
Bagaimana monster itu menggelayuti bahu Taehyung dengan perasaan berat yang menghimpitnya; menghisap napas dan logikanya. Dia merasa gelisah, takut, mual dan lemah.
Jangan biarkan pikiran itu menguat, Taehyung. Pikirnya seraya berusaha mempertahankan akal sehatnya, namun dia tidak bisa.
Pikiran negatif itu terlanjur membanjiri setiap sudut otaknya, menggerogotinya tanpa ampun seperti belatung. Membuatnya busuk karena pikiran yang salah—karena ketakutan dan rasa tidak percaya diri yang asing.
Taehyung terjebak dalam keadaan lemah dan sekarang dimakan hidup-hidup oleh emosinya sendiri. Dia ingin berbaring dan menangis, atau melakukan apa saja agar sakit di kepalanya lenyap.
Mungkin menghantamkan kepalanya ke dinding jika itu bisa membantu karena perasaan ini benar-benar mencekiknya, menekannya dan menghimpitnya. Seperti Taehyung sedang terjepit di dalam dua benda yang saling menekan dan Taehyung tidak bisa meloloskan diri.
Jeongguk menghela napas dalam remang lampu jalanan yang menyusup ke dalam mobil mereka, dia mengulurkan tangannya untuk mengecilkan volume radio dan membuat suasana nyaman untuk mengobrol.
Dan itu mengirimkan perasaan anxious lain ke tubuh Taehyung. Monster yang menggelayut di bahunya, mencengkeram kepalanya dengan lebih kuat—tertawa di telinga Taehyung hingga rasanya berdenging.
“Ada yang ingin kautanyakan padaku?” Tanyanya lembut, sama sekali tidak menuntut atau mendesak, hanya bertanya.
Taehyung menghela napas dalam-dalam, haruskah dia mengkonfrontasi Jeongguk sekarang? Dengan kepala berdenyut karena perasaan anxious? Dia tidak siap, dia tidak yakin dia bisa melakukannya.
“Mungkin tidak sekarang.” Katanya lemah, sementara kepalanya semakin berdenyut.
Tolong jangan bertanya sekarang, aku tidak bisa berpikir! Dia ingin meneriakkan itu pada Jeongguk namun dia hanya mengeluarkan suara berdeguk lemah.
Asam lambungnya bergolak dan ginjalnya terasa nyeri karena otaknya yang malang berada di bawah tekanan stres yang luar biasa. Dia mulai merasa tubuhnya panas-dingin, telapak tangannya basah dan napasnya berubah pendek-pendek.
Dia harus berbaring.
Jeongguk meliriknya, menghela napas lalu membelok ke arah rumahnya. Taehyung mengerang keras, terganggu.
“Aku bilang, aku pulang ke kosan saja. Tidakkah kau mendengarku?” Tanyanya dengan suara meninggi, gemetar oleh takut dan stres.
Dia sungguh ingin sendirian, mengasihani dirinya sendiri dan menangis. Tidak ingin ditemani Jeongguk, tidak ingin menatap matanya dan menyadari bahwa dia mungkin tidak bisa memberikan hal yang diinginkan Jeongguk.
“Kau kelihatan stres,” kata Jeongguk kalem saat mereka berhenti di depan rumahnya. “Aku akan menyiapkanmu air hangat dan teh sebelum tidur. Kau tidak harus tidur bersamaku, akan kusiapkan kamar tamu jika kau tidak ingin.
“Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian dengan kondisi seperti ini.” Dia kemudian menoleh, menatap Taehyung dengan tatapan lembut yang menghanyutkan hingga Taehyung nyaris pecah dalam tangisan histeris.
“Aku tidak bisa.” Ulangnya, tegas dan tidak bisa didebat.
Terlalu banyak emosi yang ditampungnya sekarang, dia tidak bisa lagi menahannya. Dia seperti selembar kertas yang basah, siap robek kapan saja.
“Tolong,” bisik Jeongguk, mengendurkan semua harga dirnya untuk memohon dengan nada yang membuat Taehyung terkejut.
“Jika kau memang tidak ingin bicara padaku, entah karena apa yang kulakukan, setidaknya biarkan aku menjagamu. Tidak perlu secara langsung, aku hanya butuh meyakinkan diri bahwa kau baik-baik saja.
“Malam ini saja.”
Akhirnya Taehyung setuju. Mereka bersidiam selama beranjak dari mobil ke dalam rumah. Jeongguk menyalakan lampu sementara Taehyung melangkah ke kamar mandi, dia ingin meringkuk di bathtub—menangis dengan air menghujani kepalanya agar dingin.
“Tidak, tunggu.” Kata Jeongguk lembut, dia melangkah mendahului Taehyung ke kamar mandi. “Ambillah pakaianku di lemari untukmu, tunggu sampai bathtub terisi air hangat sebelum mandi.”
Taehyung menelan ludah, layakkah dia menerima perlakuan ini sekarang?
Saat ketakutan suatu hari nanti Jeongguk bisa saja berubah pikiran dan membuangnya? Siapa yang harus Taehyung salahkan sekarang?
Divya? Karena dia lahir dan membuat Jeongguk jatuh cinta?
Jeonggi? Karena dia adik perempuan Jeongguk dan dia punya rahim, dia bisa hamil dan segalanya yang Taehyung tidak bisa?
Atau Taehyung?
Karena telah jatuh cinta, dengan tidak sopan, kepada lelaki yang seharusnya tidak usah bersinggungan dengan kehidupan pribadi Taehyung sama sekali.
Jeongguk berbahaya—begitu tampan dan menggoda hingga dia sangat berbahaya. Seharusnya Taehyung paham, setiap makhluk yang berparas menarik selalu beracun.
Binatang, tumbuhan.
Bahkan manusia.
Seharusnya mereka tetap bersikap profesional. Seharusnya Taehyung tidak mengiyakan ajakan Jeongguk. Seharusnya dia menolak saja. Hubungan mereka sekarang pasti baik-baik saja, rekan kerja yang solid.
Tidak akan ada perasaan yang merusak.
Tidak akan terjadi hal semacam ini.
Taehyung mengangguk kaku, dia melangkah ke kamar Jeongguk. Menghirup aromanya yang kental seperti keringat dan parfum Jeongguk, membuka lemarinya dan meraih kaus pertama yang ditemukannya.
Dia sudah melakukan ini setiap hari sejak menginap di rumah Jeongguk, dia hanya membawa pakaian dalamnya sendiri dan beberapa potong baju yang sekarang teronggok di keranjang rotan di sisi mesin cuci.
Dia mendengar suara air mengucur dari kamar mandi, Jeongguk serius tentang menyiapkan mandi untuknya. Hatinya berdesir; setengah senang dan selebihnya semakin takut. Monster tadi sekarang merambatkan tangannya yang panjang dan berkuku ke hatinya, mencengkeramnya—meremasnya hingga Taehyung sesak.
Taehyung duduk di ranjang, meremas dadanya yang sesak. Dia ingin menangis, dia kebingungan. Dia pusing sekali.
“Kalau ada yang tidak kaupahami, tanyakan pada Jeongguk.”
Taehyung menunduk, menatap telapak tangannya. Dia tahu—dia tahu dia harus bertanya. Tapi bagaimana jika jawabannya tidak seperti apa yang diharapkannya? Bagaimana jika jawabannya 'ya'?
Bagaimana jika....?
Dada Taehyung sesak, dia berusaha menghirup napas dengan mulutnya yang terbuka seperti ikan yang ditarik ke permukaan; menggelepar berusaha bernapas dengan insangnya namun tidak juga berhasil.
Taehyung pengecut, dia tidak berani menghadapi ketakutannya sendiri. Dia tidak berani menghadapi kenyataan yang akan didapatkannya jika dia bertanya sekarang pada Jeongguk.
Dia belum siap jika dia harus kehilangan Jeongguk bahkan sebelum dia benar-benar memilikinya.
Aku selalu milikmu.
Taehyung meremas dadanya semakin kuat, berusaha bernapas. Benarkah? Benarkah dia milik Taehyung?
Kenapa rasanya seperti sedang menggenggam pasir? Sekuat apa pun Taehyung mengepalkan tangannya, butiran lembut itu terus merembes dari sela-sela jemarinya. Dia berusaha menangkapnya, berusaha menahannya namun tidak bisa. Jemarinya kurang kuat—Taehyung kurang kuat.
Wajah Jeongguk yang terpesona saat menatap wajah Divya untuk pertama kalinya meremas perut dan kepala Taehyung. Membuatnya terkesirap keras karena kaget bagaimana kekuatan ingatan bisa membuat seluruh tubuhnya benar-benar nyeri.
“Taehyung?”
Dia terjengkang dan menoleh, lupa menghapus air mata yang meleleh di wajahnya karena kaget. Langsung berhadapan dengan wajah Jeongguk yang berdiri di depan pintu, ekspresinya berubah menjadi begitu horor saat menyadari air mata Taehyung.
Jeongguk menatap Taehyung dengan ketakutan nyata di wajahnya, dia melangkah sedikit—tangannya terjulur secara naluriah, berusaha meraih Taehyung namun dia berhenti.
“Kenapa...?” Bisiknya lemah, suaranya pecah. Wajahnya pucat pasi, dia nampak seperti seekor bayi burung yang kemerahan. Lemah dan terekspos, baru saja memecahkan cangkangnya dan kebingungan.
“Taehyung?” bisiknya dengan suara nyaris menangis yang membuat kepala Taehyung semakin nyeri dan pusing. “Did I hurt you? Did I?” Tanyanya, gemetaran, nyaris meracau hingga Taehyung ingin menjeritkan tangisannya.
“What did I do?? Please, please....” Ujung suara Jeongguk gemetar, seperti sedang menahan tangis. “Tolong, jangan menangis...” Dia mendekat lagi dan Taehyung mendesis seperti seekor kucing yang terganggu.
Dia tidak ingin Jeongguk mendekat ke arahnya, suaranya membuat kepala Taehyung semakin sakit. Dia butuh sendirian, dia butuh menjauh dari Jeongguk. Kepalanya terasa akan pecah karena memikirkan ketakutannya sendiri.
Jangan mendekat! Dia ingin memaki Jeongguk, dia takut dia akan melakukan hal yang pasti disesalinya nanti. Dia ingin menonjok sesuatu, seseorang...
Dia ingin melampiaskan rasa frustasi dan marah yang bercokol di kepalanya ini. Dia harus, dia butuh melampiaskannya.
“Pukul aku,” kata Jeongguk, gemetar. Matanya berkilau oleh kesedihan yang membuat Taehyung sesak. Dia nampak seperti anak kecil, gemetar karena takut dia baru saja melukai orang tuanya karena sikapnya di sekolah.
“Apa saja. Teriaki aku dengan makian. Tendang perutku. Tinju saja aku—apa saja, tapi tolong... Tolong. Jangan menangis.
“I can't take it.” Bisiknya, seluruh tubuhnya gemetaran sekarang sama seperti Taehyung. “I can't take your crying...”
Taehyung berdiri, dia tidak bisa mendengarkan ini lagi tanpa hancur berantakan.
“Tidak sekarang,” katanya gemetar, “Tolong. Jangan sekarang.” Bisiknya pada Jeongguk yang pias. “Tolong, Jeongguk.”
Dia bergegas melangkah melewati Jeongguk yang berdiri diam, menundukkan kepalanya dan memejamkan mata. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya, berusaha untuk tidak meraih Taehyung dan menahannya.
Mereka paham, mereka butuh sendirian sejenak. Mereka paham ada yang salah di antara mereka yang harus segera diselesaikan.
Mungkin Taehyung memang butuh sendirian sejenak.
Dia melangkah ke kamar mandi tamu, membuka pintunya dan mendapati Jeongguk sudah menyiapkan air hangat yang nyaman dengan lilin aromaterapi yang dibawa Taehyung ke sini beberapa hari lalu untuk melepaskan penatnya bekerja.
Apinya yang kecil bergoyang sementara kran air terbuka kecil, memberikan suara gemericik yang membelai saraf Taehyung yang tegang. Taehyung menutup pintu di belakangnya, menguncinya agar Jeongguk tidak bisa menemukannya lalu menyandarkan punggungnya di sana dan membekap wajahnya—mulai menangis.
Di kamarnya, Jeongguk juga mulai menyerah pada pertahanan dirinya. Dia membuka mulutnya, berusaha bernapas saat dia meledak dalam tangisan tanpa suara. Karena dia tidak paham apa yang dilakukannya hingga Taehyung menangis.
Dan Taehyung karena ketakutannya sendiri pada kenyataan yang terbentang di hadapannya.
Taehyung membenci dirinya sendiri karena tidak berani bertanya, menyebabkan percikan drama yang sebenarnya sama sekali tidak diperlukan. Namun hatinya yang pengecut tidak berani menghadapinya.
Bagaimana jika...?
Taehyung memukul dadanya, berusaha mengenyahkan sakit yang bercokol di sana sementara air mata terus meleleh di pipinya. Kuat, berkali-kali hingga dia tersedak tangisnya sendiri. Dia merasa bodoh, merasa tidak berguna dan pengecut sekali.
Dia hanya perlu menghampiri Jeongguk dan bertanya, “Aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan ibumu, maaf. Kau ingin anak kandung?” Dan mendengarkan penjelasan Jeongguk dan mereka bisa mendiskusikannya dengan kepala dingin.
Namun malam ini, Taehyung menyerah pada sisi dirinya yang lemah dan takut.
Dia menyerah dalam cengkeraman rasa insecure yang meracuni kepalanya. Dia terlalu lelah untuk melawan, terlalu lelah untuk berusaha menghalau pikiran negatifnya yang terus membesar karena dia memberikannya makan—membiarkannya merajalela.
Dia terlalu lelah, lelah sekali dan dia terlanjur membiarkan dirinya termakan seluruh pikiran negatifnya yang subur memberiak di kepalanya. Beranak-pinak dengan cepat memakan otaknya.
Taehyung terbaring di lantai kamar mandi, meringkuk membentuk bola—berusaha menelan tangisannya kembali.
You want a baby?
Bagaimana jika...?
*