Sizzling Romance #228


Alarm Taehyung berbunyi dengan keras dan menuntut.

Dia mengumpat, mengerang keras saat dia akhirnya membuka matanya—menatap langit-langit kamar yang temaram oleh langit yang mulai menggeliat kebiruan. Dia mengerjap, disorientasi sebelum tangannya bergerak di sisi ranjang dan sejenak kebingungan karena dia tidur sendirian.

Dia menoleh, menatap ruang kosong di sisinya dan terserang kepanikan sesaat yang membuatnya pening.

Ke mana Jeongguk??

Dia membuka mulut untuk memanggilnya sebelum kesadaran menghampiri otaknya yang lambat. Teringat tangisannya yang hebat, berguling di kamar mandi dan rasa sesak yang membuatnya bergidik ngeri.

You want a baby?

Taehyung mengerang keras, kepalanya berdenyut mengerikan dan dia menutup wajahnya dengan kedua lengannya; berusaha kembali lelap agar tidak memikirkan apa pun yang semalam menyiksa otaknya.

Kapan dia pindah ke kamar? Dia tidak ingat.

Dia bahkan tidak ingat saat dia mandi, tersedu-sedu membersihkan diri ingin segera merangkak ke atas ranjang dan menyelimuti kepalanya yang berdenging oleh rasa takut. Dia mengeringkan tubuhnya, masih menangis seperti bayi dan beranjak ke kamar tamu di lantai dua, terseok-seok menyeret tubuhnya.

Dia tidak menemukan Jeongguk dan dia senang karena Jeongguk setidaknya menuruti kehendaknya untuk menjaga jarak dan menghormati keinginan Taehyung.

Taehyung mengerang, kepalanya berdentam-dentam. Seluruh tubuhnya sakit dan matanya terasa bengkak serta panas. Dia mendesah, membawa dirinya duduk di ranjang dan mendesis saat darah turun dari kepalanya.

Tangannya yang buta bergerak di kasur, meraih ponselnya dan mematikan alarm yang berdering. Dia mengusap wajahnya, merasakan tekstur kulitnya yang bengkak dan lembab. Matanya terasa pedas sekali saat dipejamkan dan dia yakin dia nampak seperti zombi hari ini.

Dia menyugar rambutnya, menyingkap selimut dan mendudukkan diri di pinggir ranjang. Kakinya menyentuh lantai yang dingin. Penyejuk ruangan berdengung dan Taehyung sejenak kebingungan; memangnya semalam dia menyalakan penyejuk?

Lalu mendesah; Jeongguk. Pasti pemuda itu masuk ke kamarnya setelah dia terlelap untuk memastikan segalanya nyaman untuknya.

Tapi setidaknya dia tidak menemui Taehyung saat dia sadar. Dia menatap jendela yang tertutup, mendengar suara ayam di kejauhan yang mulai berkokok membangunkan semua orang. Dia melirik jam di ponselnya, pukul lima pagi.

Apakah Taehyung sudah baik-baik saja hari ini? Siapkah dia mendengarkan penjelasan Jeongguk?

Jawabannya?

Dia menatap kedua telapak tangannya yang terkulai di atas kedua pahanya; merasa kecil, lelah dan layu. Bolehkah dia tidak bekerja hari ini? Dia ingin berguling kembali ke kasur dan memejamkan mata—tidak ingin menghadapi siapa pun atau bahkan berpura-pura dia baik-baik saja.

Dia terlalu lelah.

Taehyung meraih ponselnya, ingin mengabari Jeongguk bahwa dia akan izin bekerja hari ini saat suara ketukan lembut terdengar dari pintu kamarnya. Dia menoleh, kaget. Walaupun dia tahu satu-satunya orang yang akan mengetuk pintunya di rumah ini adalah Jeongguk.

Ketukan terdengar lagi, sebelum hening. Kemudian Taehyung mendengar suara langkah kaki Jeongguk menjauh lalu menuruni tangga.

Dia mendesah, merasa bingung.

Tubuhnya nyeri antara kelelahan karena semalaman menangis dan juga merindukan Jeongguk. Terbangun sendirian tanpa lengan Jeongguk melingkar di pinggangnya atau kecupan lembut di pelipisnya dan bahkan aroma napas Jeongguk yang asam terasa asing—membuat Taehyung bertanya-tanya, sejak kapan dia mulai merasa begitu familier dengan keberadaan Jeongguk?

Taehyung akhirnya menuruni ranjang, meregangkan tubuhnya sebelum membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Dia mendesah sekali lagi, merasa senang karena Jeongguk walaupun tahu pintunya tidak terkunci, tetapi dia tidak mendesak masuk.

Dia membuka pintu dan menyadari aroma tebal telur, mentega dan bubuk kayu manis sudah memenuhi udara. Dia menuruni tangga, menemukan Jeongguk dengan celana training dan kaus dalam tipis sedang memunggunginya, membalik French toast di atas frying pan.

Aroma butter memenuhi udara, membuat Taehyung menghela napas dalam-dalam. Dia suka aroma ini. Kadang Jeongguk membuat panekuk, kadang roti bakar, kadang scrambled egg dengan Italian seasoning. Kemudian mereka akan duduk sarapan bersama sebelum bersiap berangkat kerja.

Taehyung berhenti di anak tangga terakhir, mengamati Jeongguk yang sedang memasak dan menjerang air untuk teh paginya. Di atas konter dapur sudah ada segelas tinggi jus berwarna jingga yang entah campuran pepaya dengan sayuran apa Taehyung menyerah berusaha memahami tujuan jus itu.

Jus sinting, begitu Taehyung selalu menyebutnya tiap kali Jeongguk memasukkan potongan buah dan sayur ke dalam blender dan Jeongguk akan tertawa.

Mengingatnya membuat seluruh tubuhnya sekarang terasa nyeri karena merindukan Jeongguk, merindukan aroma tubuhnya yang menempel di tubuhnya setiap mereka bangun tidur.

Kecupan lembut di pelipisnya saat alarm mati, tawa serak Jeongguk saat Taehyung menolak bangun, pelukannya saat mereka berdua terlalu malas untuk bangun; betapa manis semuanya terasa dan sekarang rusak dalam semalam karena ketakutan Taehyung.

Bagaimana jika sebenarnya Jeongguk tidak menginginkan bayi dan puas hanya dengan Divya? Dan Taehyung tidak tahu karena dia tidak bertanya.

Taehyung melangkah tanpa suara, menghampiri Jeongguk yang mencelupkan potongan roti ke dalam adonan telur dengan bubuk kayu manis. Dia menyelipkan lap di karet celananya, siap diambil jika dia harus clear up.

Dia langsung menjulurkan tangan, merengkuh pinggang Jeongguk dan menyusupkan wajahnya di ceruk leher Jeongguk yang terkesirap kecil karena pelukan mendadaknya. Namun dia langsung tersenyum dan menepuk tangan Taehyung di atas perutnya.

“Hai.” Sapanya parau. “Kau sudah baikan?”

Taehyung mengangguk, menghirup aroma tubuh Jeongguk banyak-banyak hingga kepalanya pening namun kali ini dengan alasan yang sangat berbeda. Dia mengeratkan pelukannya hingga Jeongguk tertawa kecil, membalik French toast-nya yang harum.

“Kau mau sarapan?”

Taehyung mengangguk. Dia kemudian menarik wajahnya, “Cium aku?” Bisiknya.

Jeongguk tidak membuang-buang waktu, dia membalik dirinya dalam pelukan Taehyung dan langsung menangkup wajah Taehyung dengan kedua belah telapak tangannya yang hangat dan beraroma tajam butter dan cinnamon lalu mencium bibirnya.

Taehyung langsung mabuk oleh ciuman itu.

Terasa sangat luar biasa. Tubuhnya gemetar, kali ini karena rindu yang ditahannya sejak semalam. Dia merangkulkan kedua lengannya di leher Jeongguk, menariknya lebih dekat lagi. Menyecap rasa Jeongguk di mulutnya yang asam setelah tidur semalaman.

Jeongguk menarik wajahnya, menatap ke mata Taehyung dan mengernyit. “Kau nampak mengerikan.” Bisiknya, lalu mengecup kedua kelopak mata Taehyung dengan lembut. “Kau ingin di rumah saja hari ini?”

Taehyung menatapnya, merasakan tangan Jeongguk membelai pipinya dengan ibu jari—menimangnya seperti sebongkah permata berharga yang harus diperlakukan dengan penuh perhatian.

“Boleh?” Tanyanya.

“Hari ini tidak ada BEO yang penting, hanya reservasi untuk di bawah 50 pax jadi kurasa tidak apa-apa. Yugyeom bisa handle.” Jeongguk mengecup keningnya sebelum berbalik ke toast-nya.

“Kau istirahat saja di rumah. Lagi pula jika kau memaksakan diri untuk bekerja juga aku yakin kau hanya akan berakhir mengacau.”

Taehyung tersenyum, dia menguraikan tangannya hendak melepaskan diri namun Jeongguk menangkap tangannya. Menariknya kembali memeluk pinggang rampingnya dengan erat hingga tubuh Taehyung menghantam punggungnya dengan lembut karena momentum itu.

“Jangan dilepas.” Bisiknya, membawa sebelah tangan Taehyung ke wajahnya lalu mengecup telapak tangannya dengan lembut.

Taehyung tersenyum, dia merindukan Jeongguk. Sungguh sangat merindukannya. Maka dia mengeratkan pelukannya, mengistirahatkan dagunya di bahu Jeongguk. “Clingy.” Bisiknya.

Jeongguk mengistirahatkan kepalanya di atas kepala Taehyung seraya memasak. “Tidak apa-apa.” Katanya. “Maki saja aku, lebih baik daripada aku harus tidur sendirian dan terbangun tanpamu.”

Taehyung memejamkan mata, membiarkan kalimat Jeongguk membelai permukaan kulitnya—membelai seluruh egoismenya yang sekarang ketakutan karena pembicaraan Jeongguk dan ibunya, menenangkan rasa insecure-nya yang bergolak seperti sepanci santan yang dididihkan.

Mereka bersidiam sementara Jeongguk mulai menumpuk beberapa toast harum dan kecokelatan di atas piring. Taehyung bertahan di posisinya, memeluk Jeongguk dengan kepala diistirahatkan di bahu Jeongguk yang kuat.

“Kau mau membicarakan yang semalam?” Tanya Jeongguk lembut, mematikan kompor dan membereskan sisa pekerjaannya dengan Taehyung masih bergelayut di tubuhnya—tidak nampak kesulitan sama sekali.

Siapkah Taehyung?

Dia mengeratkan pelukannya pada Jeongguk, tidak siap jika ternyata Jeongguk menjawab seperti apa yang ditakutkannya. Namun dia menyadari dia tidak bisa begini lama-lama, dia harus mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan menghadapi semuanya.

“Boleh.” Katanya kemudian, menemukan kekuatannya kembali. Menemukan rasa percaya dirinya yang rapuh—sekarang merekah mekar seperti setangkai bunga. Menyuntikkan perasaan utuh yang berdenyar di seluruh aliran darahnya.

Taehyung harus menghadapi ini.

Mereka kemudian duduk di konter dapur, sepiring toast tersaji di antara mereka, namun tidak ada yang menyentuhnya. Jeongguk meminum jusnya dengan tenang sementara Taehyung menyeduh daun teh di dalam cangkir. Dia menyukai teh daun dengan bunga melati sungguhan daripada teh-teh kemasan lain.

Dia menyukai kepekatan aroma dan rasa teh yang masih berbentuk daun kering. Padahal harga teh itu sangat murah, tapi rasanya autentik dan kental. Dia menuang sejumput daun teh kering sebelum menyenduhnya—teh tubruk tidak pernah salah. Dia menambahkan sebutir gula batu ke tehnya, mengaduknya sebelum bergabung dengan Jeongguk di konter.

Sinar matahari perlahan beranjak naik, semburat jingga mulai menyeruak di langit yang kebiruan. Aroma pagi di rumah Jeongguk sudah terasa begitu akrab dengan Taehyung sekarang.

“Maaf,” mulai Taehyung, menangkupkan telapak tangannya di gelas teh yang hangat—merasakan suhu dan menghirup aromanya yang harum. Beberapa daun yang mengembang oleh panas mulai beranjak naik, mengambang di permukaan gelas.

“Aku semalam bersikap tidak baik dengan menghindarimu.”

“Tidak apa-apa.” Jeongguk menjawab, tersenyum hangat pada Taehyung; menyemangatinya. “Aku tahu kau butuh waktu untuk sendiri sama seperti aku yang membutuhkan penjelasan, setidaknya sedikit saja tentang kesalahan apa yang kulakukan.”

Taehyung menatap kuncup melati kering yang sekarang mulai merekah karena air panas, membuka kelopaknya yang menguncup. “Aku...” Bisiknya.

Taehyung, kau harus melakukannya. Pikirnya getir sebelum menghela napas dan menatap Jeongguk, “Aku mendengar pembicaraanmu dengan ibumu.”

Itu dia.

Keluar sudah ketakutan yang selama ini mencengkeram otak belakang Taehyung. Sekarang, setelah dia mengucapkan hal itu keras-keras, dia merasa jauh lebih baik. Menemukan kekuatan dan keberanian seolah disuntikkan ke pembuluh darahnya seperti morfim—membuatnya seketika tenang dan rileks.

Jeongguk menatapnya, “Pembicaraan yang mana?” Tanyanya.

“Di balkon kamar Jeonggi.”

Wajah Jeongguk sejenak kosong saat dia memikirkan pembicaraan yang dimaksud Taehyung lalu pemahaman melintasi wajahnya serupa bintang jatuh dan matanya mendadak berkilau oleh rasa senang yang ganjil.

“Ah.” Katanya lembut. “Kau mendengar yang itu?” Tanyanya tersenyum lembut. “Bagaimana menurutmu?”

Taehyung mengerjap, alisnya berkerut. Kenapa dia nampak begitu senang? “Bagaimana menurut... ku?” Ulangnya, kebingungan dan mendengar nadanya yang bingung, Jeongguk mengerjap—nampak sama bingungnya.

“Tunggu.” Kata Jeongguk, nampak menyadari di bagian mana mereka berselisih paham. “Seberapa banyak yang kaudengar kemarin?”

Taehyung mengerjap, “Hanya...” Dia menelan ludah, “Hanya bagian awal. Atau entahlah, mungkin itu pertengahan?”

Jeongguk menatapnya, memberikannya tatapan yang selama ini menyihir Taehyung; pandangannya yang dalam dan mengintimidasi, membuat Taehyung lemah dan telanjang.

“Apa yang kaudengar?” Tanyanya, lembut dan setengah mendesak.

Taehyung menatapnya, membuka mulutnya perlahan; berusaha membuat dirinya sendiri mengucapkan kalimat yang semalaman ini mencengkeram kepalanya, membuatnya pening, membuatnya merasa tidak layak—begitu kecil dan hina.

Nyaris membenci semua orang, bahkan si Mungil Divya yang sama sekali tidak paham apa pun.

“Aku dengar...” Dia membuka mulutnya, memaksa pita suara dan lidahnya bekerja sama untuk membentuk kalimat itu, meludahkannya. “Ibumu menanyakan apakah...”

Jeongguk menatapnya tenang, menunggu hingga Taehyung siap mengatakannya; tidak mendesak atau memburunya sama sekali.

”... Apakah kau menginginkan bayi.”

Akhirnya.

Kalimat itu lepas dari bibir Taehyung dan beban tak kasat mata yang selama ini menggelayutinya terasa diangkat naik. Monster yang sejak semalam merong-rongnya, mencengkeram tubuhnya dan tertawa di telinganya; sekarang diam.

Diam karena Taehyung berhasil membungkamnya dengan rasa percaya dirinya yang kembali bangkit, memegang kendali atas otaknya dan seluruh sistem tubuhnya yang sempat kocar-kacir karena stres.

Jeongguk menatapnya, mereka diam sejenak. “Dan...?” Tanyanya, seolah sedang menunggu Taehyung mengatakan kelanjutan kalimatnya.

Taehyung mengerjap. “Hanya itu.” Katanya, bingung.

“Hanya itu?” Ulang Jeongguk, nyaris terdengar geli sekarang dan Taehyung semakin malu.

“Ya.” Dia mengangguk.

“Kau tidak mendengar apa yang kukatakan setelahnya? Dan bahkan kenapa Mama menanyakan itu?”

Taehyung mulai merasa bodoh saat rasa malu menyeruak dalam tubuhnya, membuat wajahnya menghangat. Sudah kubilang! Teriak Taehyung ke kepalanya sendiri yang sekarang termangu-mangu.

“Sudah kubilang, itu bukan apa-apa!” Raung Taehyung dalam kepalanya, melepaskan monster yang sejak semalam menggelayutinya menjauh darinya—monster itu terguling dari tubuhnya dan Taehyung menendangnya menjauh seraya meludahkan makian ke arahnya.

Jeongguk tersenyum, dia menuruni kursi barnya dan melangkah ke arah Taehyung. Merengkuhnya ke dalam pelukannya yang hangat, aroma keringat Jeongguk membuat Taehyung meleleh; seperti sepotong cokelat yang dipanaskan.

Dia menyerah dalam pelukan Jeongguk, melingkarkan kedua tangannya di pinggul Jeongguk dan merasakan saat pemuda itu mengecup puncak kepalanya. Membelai punggungnya hangat dan lembut.

“Aku boleh menceritakan apa yang aku dan Mama bicarakan saat itu?” Tanyanya lembut, menggoyangkan tubuh Taehyung lembut seakan meninabobokan Taehyung yang mendengarkan detak jantung Jeongguk yang lembut: dug-dug-dug....

Taehyung mengangguk, “Please.” Bisiknya.


”... You want a baby?”

Jeongguk menatap ibunya yang sedang mengupas mangga dengan sorot terganggu. “Why so suddenly?” Tanyanya, tidak paham ke mana arah pembicaraan ibunya.

Ibunya nampak memikirkan kalimatnya dengan perlahan sebelum bicara, “I see how you see Divya.” Katanya dengan nada lembut yang membuat Jeongguk semakin mengerutkan alisnya.

“And then?” Tanya Jeongguk, masih belum paham.

Ibunya meletakkan pisau dan mangganya, lalu menatap Jeongguk—nampak khawatir. “Kau kelihatan sangat mencintai anak itu.”

“Tentu saja. Dia, 'kan, keponakanku.” Balas Jeongguk seketika, mulai merasa ibunya sedang melakukan hal konyol khas orang tua dengan bersikap penuh rahasia dan menanyakan hal-hal yang sudah jelas.

“Mama takut, kau berubah pikiran tentang orientasi seksualmu, lalu menciptakan masalah antara dirimu dan Taehyung.” Kata ibunya kemudian dan Jeongguk menoleh, sekarang nampak kaget.

“Mama tidak ingin... terjadi sesuatu pada kalian.” Tambah ibunya buru-buru sebelum Jeongguk sempat mengatakan apa pun. “Kau nampak... terpesona dengan Divya, Mama nyaris yakin kau sekarang sedang meragukan dirimu dan menginginkan anak kandungmu sendiri.

“I'm so sorry for questioning your sexual orientation after years, I really am. You know never in my life I questioned your life choices, that's all yours. But I'm just... worried.” Ibunya menatap Jeongguk, garis-garis kecemasan terbit di permukaan wajahnya.

“Anak manis, Taehyung itu. Mama sayang padanya seperti Mama menyayangimu dan Jeonggi. Mama takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di antara kalian; konflik tentang ini yang mengancam hubungan kalian. You both deserve to be loved the fullest.”

“Of course I want a baby.” Kata Jeongguk kemudian, membuat ibunya terkesirap kecil; jantungnya terasa mencelos ke lantai—hal yang ditakutkannya terjadi.

Dia terlanjur menyayangi Taehyung, melihat bagaimana putra sulungnya nampak begitu hidup saat mulai mengenal Taehyung di hidupnya. Bagaimana dia nampak begitu rileks, begitu lepas dengan hidupnya.

Wima belum pernah melihat anaknya menjalani harinya dengan perasaan rileks dan nyaman setelah kejadian Jeonggi, nampak nyaris kembali menjadi Jeongguk-nya dulu; sosok yang sudah lama mati, dibunuh oleh Jeongguk sendiri.

Menemukan Taehyung adalah sebuah jawaban dari setiap doa Wima yang tiap malam memohon agar Jeongguk dapat menikmati hidupnya lebih baik dan berhenti menghukum dirinya.

“But,” tambah Jeongguk kemudian sebelum ibunya sempat memproses kata-katanya barusan. “I want Taehyung more than anything else in this world. And no, it never come to my mind that I'm questioning my sexual orientation.

“That's my identity. Why would I question my own identity?”

Ibu Jeongguk merileks, tubuhnya melemas karena ketegangan yang diangkat dari bahunya. “You love him?” Tanyanya.

“More than everything I ever know.” Balas Jeongguk dengan tegas, tanpa sedikit pun keraguan dalam suaranya.

“Please do me a favor, will you, Mom?” Tanyanya kemudian dan Wima mendongak, menatap putranya dengan lembut—sekarang tenang karena mereka akan baik-baik saja.

“Anything.” Sahutnya dengan nada yang sama seperti apa yang digunakan Jeongguk saat mendeklarasikan cintanya pada Taehyung.

“Please, do not ever question my loving for Taehyung.”


“And... Would you be my boyfriend?”

Taehyung terpana, dia menatap Jeongguk yang berdiri di hadapannya dengan otak yang macet. “Apa?” Tanyanya, berbisik pecah.

Apa katanya barusan??

“Jadi pacarku.” Jeongguk meraih tangannya, mengenggamnya dalam kedua telapak tangannya lalu mengecupnya; memejamkan mata seolah sedang menyembah dewa yang memberikannya kehidupan.

“Aku mungkin bukan lelaki paling sempurna yang mungkin kautemui, aku punya banyak kekurangan; bekas luka, trauma dan segalanya. Tapi aku ingin berusaha menjadi seseorang yang akan membahagiakanmu.

“Aku pernah hidup tanpamu sebelum ini. Dan aku sungguh tidak tertarik lagi untuk kembali ke kehidupan lamaku. Kau membuatku merasa hidup ini jauh lebih menyenangkan, aku merasa aku sanggup untuk menghadapi apa pun selama ada kau di sisiku.

“Tidak pernah sebelumnya di dalam kehidupanku ini aku menginginkan sesuatu seperti aku menginginkanmu. Seperti aku menginginkanmu berada dalam pelukanku, menjadi milikku dan mengklaimmu—tidak ada yang boleh memilikimu sebagaimana aku memilikimu.”

Jeongguk membuka matanya, menatap Taehyung dari balik bulu matanya yang panjang. “Tapi, aku adalah bajingan congkak yang overprotektif pada setiap orang yang disayanginya. Aku mungkin akan membuatmu kesulitan bergerak dan bernapas karena sifatku.

“Belum lagi bagaimana aku harus tetap menjaga profesionalitasku di tempat kerja. Memarahimu itu berat tapi aku harus melakukannya, aku ingin kau bisa memahami posisiku—memahami posisi kita sebagai rekan kerja. Dan—”

“Cukup.” Sela Taehyung, kesal mendengarkan pidato Jeongguk yang begitu panjang dan memusingkan—hal-hal yang sudah dipahaminya. “Cium saja aku sekarang. Cepat.”

Jeongguk tidak menyia-nyiakan sedetik pun saat dia merengkuh Taehyung dan menciumnya begitu kuat hingga Taehyung melenguh oleh ciumannya. Lidahnya menyelip ke dalam mulut Taehyung, membelai geliginya dan membelit lidah Taehyung—menari bersamanya.

Kepala Taehyung terasa ingin lepas saat lidah Jeongguk merangsek semakin dalam, meraih lidahnya lalu menghisapnya lembut. Dia berdenyut, gairah membakar bagian dasar perutnya dan membuat tubuhnya bereaksi.

Jeongguk melepas ciumannya, terengah. “Can we have a quick sex?” Tanyanya parau, “I have a problem.”

Taehyung tertawa serak, “I have that problem too.” Dia menempelkan keningnya pada Jeongguk, memejamkan matanya sementara bagian dirinya yang berada di antara kedua kakinya berdenyut.

“Dan, tentu saja.” Katanya parau sementara Jeongguk menciumi seluruh wajahnya dengan lembut dan bergairah hingga seluruh tubuh Taehyung meremang. “Tentu saja aku mau jadi kekasihmu. Aku pikir kau takkan pernah bertanya.”

Jeongguk mendenguskan senyuman, “Tentu saja aku akan bertanya. Hubungan apa pun tetap membutuhkan kejelasan di dalamnya. Aku tidak bisa mengajakmu berhubungan tanpa status, tanpa memberikanmu kejelasan dan melabelinya sebagai hubungan dewasa.” Dia menyentuh pipi Taehyung lembut.

“Malah menurutku,” bisiknya kemudian dengan napasnya menerpa wajah Taehyung. “Hubungan dewasalah yang seharusnya diisi dengan kejelasan. Jalani saja tidak perlu status karena kita sama-sama paham bagiku adalah hal yang akan diucapkan seorang pengecut yang tidak mau berkomitmen.

“Menguntungkannya untuk kabur kapan saja darimu dan aku jelas bukan cecunguk pengecut; jika aku menginginkanmu, maka aku akan memintamu menjadi milikku.”

Jeongguk kembali mencium bibirnya; lebih kasar, lebih menuntut. Tubuh Taehyung gemetar saat Jeongguk mengangkatnya, dengan mudah dan dia melingkarkan kedua kakinya ke pinggang Jeongguk; menolak melepaskan ciuman mereka.

Di luar sana, matahari mulai terbit dan French toast di meja mulai mendingin tapi di kamar Jeongguk saat ini, sesuatu yang panas membara sedang terbuka.

You have approximately 40 minutes.” Taehyung terkekeh serak saat Jeongguk melemparnya ke ranjang lalu merangkak ke atasnya, menaunginya dengan tatapan terpesona yang selalu membuat Taehyung merona hingga jari-jari kakinya mengerut.

“Potong gaji karena terlambat tidak terdengar begitu buruk, kok.” Kata Jeongguk sebelum membenamkan ciuman ke leher Taehyung yang tawanya langsung berubah menjadi desahan panjang penuh kenikmatan.

You're mine, Taehyung.” Bisik Jeongguk di kulitnya lalu menggigit lembut hingga Taehyung tercekik napasnya sendiri.

You're mine and I'm all yours.”

*