Sizzling Romance #201
“Sudah semuanya?”
Taehyung mengangguk, dia memutar tubuhnya ke belakang dan meraih kantung-kantung spunbound tas belanja yang tadi dia dan Jeongguk masukkan ke dalam setelah berbelanja di supermarket yang mereka lewati menuju rumah Jeonggi.
Taehyung baru tahu bahwa di Bali, mereka tidak diperkenankan menggunakan tas plastik untuk membawa belanjaan sehingga dia bersyukur Jeongguk ternyata sudah siap sedia dengan kantung-kantung belanja di mobilnya.
“Itulah pentingnya membawa orang lokal.” Katanya congkak dan Taehyung ingin sekali mencucuk hidungnya karena jengkel.
Tapi, toh, dia berterima kasih karena Jeongguk membawa tas belanjanya.
Taehyung berencana mengajak Jeonggi membuat fruit fool dan fruitcake setelah semalaman Taehyung menonton reality show Inggris, lalu merasa terinspirasi untuk membuat makanan tradisional Inggris.
Mereka menuruni Rubicon bersamaan dan Jeongguk bergegas membantu Taehyung menutup pintu mobilnya karena kedua tangan Taehyung penuh dengan kantung belanjaan. Dia belum sempat mengucapkan terima kasih saat pintu depan rumah Jeonggi terbuka dan dia berhadapan dengan Wima, ibu si kembar.
“Taehyung.” Sapa ibu Jeongguk dengan senyuman lebar di bibirnya. “Kita bertemu lagi.” Dia bergegas menuruni undakan, meraih Taehyung dan mengecup kedua pipinya dengan suara keras, sedangkan yang dicium terdiam di tempat—kagok dan bingung.
Jeongguk berdiri di sisinya, tersenyum tipis dan entah bagaimana terasa puas dengan interaksi ibunya dan Taehyung.
“What are you doing?” Tanyanya kemudian pada putra sulungnya yang berdiri di sisi Taehyung. “Help him with the grocery. Where's your manner?”
Jeongguk menatap ibunya, sebal. “Alright, alright. I'm doing it.” Sahutnya setengah menggerutu lalu merunduk, meraih beberapa kantung di tangan Taehyung yang sebenarnya tidak berat-berat amat.
“Tidak apa-apa, kubawa sendiri saja.” Sahut Taehyung namun mendesah saat Jeongguk meraih semua kantung belanja mereka, ngambek karena ditegur ibunya yang nampak senang sekarang bisa merangkul Taehyung tanpa ganjalan tas belanja.
Mereka memasuki ruangan dan Taehyung langsung melihat ayah Jeongguk duduk di sofa dengan lelaki paruh baya yang mungkin sekitar 2-3 tahun lebih tua dari Jeongguk yang baru pertama kali dilihat Taehyung.
“Arya,” kata ibu Jeongguk di sisinya. “Kenalkan ini Taehyung. Taehyung, ini Arya, suami Jeonggi.”
Arya, suami Jeonggi, tersenyum ramah padanya. Nampak rapi dan licin, serta berpembawaan humoris dengan garis wajah yang menegaskan betapa dia menghabiskan hidupnya untuk tersenyum lebar pada semua orang.
“Halo,” sapanya bergegas menghampiri Taehyung dan mengulurkan tangannya yang besar, kekar dan kasar ke Taehyung. “Arya, suami Anggi.”
Taehyung menjabatnya dengan senyuman di bibirnya, menyukai jabatan tangannya yang kuat, hangat dan penuh percaya diri. “Halo, saya Taehyung.” Dia sejenak bimbang lalu menambahkan, “Teman Jeongguk.”
Jeongguk yang sedang membereskan belanjaan di dapur mendengarnya, dia menoleh dan mendenguskan senyuman tipis seolah mengatakan, “Sungguh?” dengan nada paling mencemooh. Taehyung balas mendelik.
Memangnya siapa yang tidak juga mengajak Taehyung pacaran?
Semalam saat mereka berbaring di ranjang bersisian dan tidak memiliki tenaga untuk melakukan apa pun selain mandi dan makan karena ternyata wedding yang mereka siapkan, jauh lebih ramai dari yang mereka duga—tambahan pax melonjak tinggi, Jeongguk yang membentak semua orang, makanan-makanan yang harus di-push hingga batas maksimal....
“Aku ingin muntah.” Keluh Taehyung saat mereka akhirnya bersandar di dalam mobil Jeongguk, siap pulang dengan kaki gemetar setelah servis dan seluruh tubuhnya tremor.
Jeongguk sama sekali tidak berkata-kata saat mereka berkendara pulang, Taehyung terlelap di sisinya.
Sudah seminggu mereka habis diterjang servis gila-gilaan yang membuat kepala Jeongguk sakit. Reservasi mendadak dengan pax di atas lima puluh dengan menu fine dining yang diterima FBM dan DOSM tanpa berkonsultasi padanya berhasil membuat Jeongguk memecahkan beberapa piring di Main Kitchen karena amarah.
Syukurlah piring, bukan kepala FBM.
Mereka berdua selalu pulang dengan keadaan lelah, kaki dan punggung yang bergetar sakit. Sekali, Jeongguk tidak sanggup mengendarai mobilnya pulang dan memutuskan untuk menginap di kosan Taehyung, langsung tertidur tanpa mandi dan membuat seprai Taehyung seperti Jeongguk (yang diam-diam dihirupnya dalam-dalam dengan senang).
Namun selebihnya, Jeongguk memutuskan Taehyung sebaiknya tidur di rumahnya saja. Seperti malam ini, setelah menyelesaikan wedding dengan 1,500 pax undangan.
“Malam yang sinting.” Kata Jeongguk muram dan seluruh timnya setuju, terlalu lelah untuk merayakan keberhasilan mereka memberi makan 1,500 mulut.
Taehyung berbaring di atas lengan Jeongguk yang menciumi pelipisnya malas, di dalam kamar Jeongguk yang remang-remang. Tempat itu mulai terasa sangat familier dengan Taehyung—nyaris terasa seperti kamarnya sendiri.
Di bawah selimut, kaki mereka saling membelit dan Taehyung senang karena itu membuatnya hangat.
“Ayo pacaran.” Katanya dengan lugas karena dia tahu apa yang diinginkannya.
Alih-alih menjawab, Jeongguk menghirup aroma sampo Taehyung dengan lembut lalu tersenyum dengan wajah masih terbenam di rambut Taehyung. Napasnya terasa menggelitik kulit kepala dan leher Taehyung.
“Tidak, belum saatnya.” Bisiknya serak karena suaranya habis digunakan untuk meneriaki wajah semua orang yang bergerak terlalu lambat di bawah pengawasannya. “Aku tidak akan ke mana-mana, tenang saja. Aku akan selalu jadi milikmu.”
Dan sebelum Taehyung sempat mendebat, yang sebenarnya juga tidak terlalu ingin dilakukannya karena dia sangat lelah, Jeongguk merunduk—mencium bibirnya dengan begitu lembut dan penuh kasih. Membuat Taehyung terbuai.
Mereka terlelap seketika itu juga dengan bibir bersentuhan, di atas ranjang Jeongguk yang aromanya pekat seperti tubuhnya, di bawah selimut lembut yang hangat.
Lalu paginya, Taehyung terbangun dalam pelukan Jeongguk yang hangat dan aroma keringatnya menempel di setiap inci tubuhnya hingga dia tidak ingin mandi, tidak ingin membasuh aroma itu dari kulitnya.
Tetapi dia akhirnya mandi, membasuh diri dengan sabun Jeongguk dan merasa lebih baik saat keluar dan menemukan Jeongguk sedang membuat french toast untuk sarapan mereka sebelum berangkat ke Sanur.
“Teman.” Ulang Arya tertarik lalu melirik kakak iparnya yang sedang membongkar belanjaan. “Baiklah.” Dia mengangguk lalu mengedikkan dagunya ke sofa. “Ayo duduk, Anggi sedang mandi.”
Dan seolah dipanggil, seseorang berseru dari kejauhan. “Kak Taehyung!” Seru Jeonggi ceria, dia bergegas keluar dari kamarnya dengan rambut masih setengah basah mengenakan dress ibu hamil yang longgar dan menggemaskan.
Dia nampak seperti bola yang digunakan untuk yoga, bulat dan lucu sekali hingga Taehyung tidak bisa menahan diri untuk tidak balas memeluknya dengan hangat. Aroma Jeonggi seperti minyak kayu putih, losion dan bedak; menyenangkan sekali.
Taehyung langsung menyentuh bagian belakang punggung Jeonggi, agar sigap menangkapnya saat dia terhuyung karena perutnya. Calon ibu yang sedang hamil tua itu mendesah keras saat melepaskan pelukannya, membelai perutnya yang buncit lalu menepuknya sayang.
“Kita akan masak apa?” Tanyanya ceria, “Mum brought us some lunch we are not going to eat because we're having lunch out today while the boys have to stay at home.” Dia tersenyum lebar, nampak cemerlang dan superior seperti kakaknya.
“What?” Sambar Jeongguk, defensif dan tidak terima hingga nyaris nampak lucu jika saja wajahnya tidak begitu galak. “What's the reason?”
“Nothing's special.” Balas Jeonggi kalem, sekarang menempel pada Taehyung seperti seekor kucing gendut yang menggemaskan. “Hanya ingin pergi keluar bersama Kak Taehyung dan Mama.”
“Aku ikut.”
“Boys stay at home. Don't you hear that?”
“Fuck it. I'm in.”
“Fuck you. No.”
“Twins, language.” Tegur ayahnya dari sofa, bersandar menonton televisi yang menayangkan berita dalam negeri dan kericuhan demo.
“He starts it!” Sahut Jeonggi dan Jeongguk mendelik dari tempatnya, tidak terima dan membuka mulut untuk mengatakan sesuatu saat ayahnya berdeham keras, menatap keduanya memperingati.
“Twins, stop it.” Katanya dengan nada memperingati yang keras dan baik Jeonggi serta Jeongguk langsung diam walaupun mata mereka masih memancarkan emosi yang memercik dan Taehyung yakin mereka akan melanjutkannya nanti saat ayahnya tidak melihat.
Arya di sisi Taehyung terkekeh sebelum merendahkan kepalanya ke Taehyung. “Mereka selalu begitu.” Katanya lalu mendesah, penuh sayang menatap Jeonggi yang sekarang nampak seperti penderita wasir karena sebal ke kakaknya yang balas mendelik.
“Bayangkan hidup dengan mereka puluhan tahun.” Keluh ibu si Kembar di sisi Taehyung sebelum menambahkan, “Kata Jeonggi, kau akan membuatkan kami kue? Kue apa?”
Taehyung mengangguk. “Fruitcake dan fruit fool.” Dia bergegas menuju dapur, kedua perempuan di sisinya bergegas mengekornya. “Kami membeli banyak stroberi di Bedugul kemarin, dan syukurnya masih segar jadi bisa untuk fruit fool. Dan saya juga sudah beli banyak candied dried fruit untuk fruitcake.”
Dia membuka tutup kontainer Jeongguk yang diklaim kedap udara dan menjaga makanan lebih tahan lama, membiarkan keduanya mengamati stroberi-stroberi ranum yang dipilihnya minggu lalu bersama Jeongguk. Ada beberapa yang setengah busuk dan sudah dipotong Jeongguk untuk jusnya setiap pagi sebelum berangkat bekerja.
Karena terakhir kali dia memasak di dapur Jeonggi dia tidak mengenakan apron dan tidak menyukainya, dia merogoh salah satu kantung dan menarik apron Jeongguk yang dibawanya dari rumah tadi.
Jeonggi mengenali apron itu dan langsung mengumumkan penemuannya tanpa membuang-buang waktu. “Itu apron yang Mummy belikan ketika Wik masuk sekolah chef, 'kan?” Tanyanya dengan suara keras, sengaja agar semua orang mendengarnya.
Taehyung mendesah, si Kembar ini memang benar-benar, pikirnya namun dia hanya tertawa, “Aku meminjam milik kakakmu karena aku tidak punya apron di sini.”
Yang adalah bohong karena Taehyung punya, hanya saja benda itu ada di sudut lemari kosannya sementara mereka tadi berangkat dari rumah Jeongguk. Dan sudah lima hari Taehyung tidak tidur di kamarnya.
“Oh,” ibu Jeongguk mengamati dari konter, menonton anak perempuannya menyibukkan diri di dapur dengan Taehyung. “Dia menjemputmu, ya?”
Taehyung berdeham, “Iya, Tante.” Katanya melirik Jeongguk yang sekarang beranjak ke ruang keluarga, bergabung dengan ayahnya dan Arya.
Sang ibu dan Jeonggi bertukar pandangan. Jeonggi tersenyum lebar dan ibunya langsung menyadari senyuman itu karena dia sendiri mencium aroma sabun mandi Jeongguk dari tubuh Taehyung. Itulah alasan dia langsung memeluk Taehyung, mengecek apakah dia menginap di rumah Jeongguk atau tidak.
“Kita membuat fruit fool dulu, ya.” Kata Taehyung, membuka kabinet di atas kompor Jeonggi dan membiarkan kucing menggemaskan itu tertatih-tatih duduk di konter bersama ibunya.
Taehyung membawa sauce pan dan memanaskannya di kompor seraya mencuci ulang stroberi bersih di kontainer dan meniriskannya. Lalu saat sauce pan sudah memanas, dia memasukkan stroberi dan gula ke dalamnya dan membiarkan gula itu meleleh menjadi saus karamel menempel di permukaan stroberi.
Dengan lembut, dia menghancurkan buah-buahan itu dengan bagian belakang garpu. “Sebenarnya mirip dengan sorbet,” kata Taehyung pada penontonnya yang mengamati dengan tertarik, ibu Jeongguk berpindah ke sisinya untuk menonton lebih serius.
“Dengan campuran double cream dan yogurt.” Taehyung tersenyum, membiarkan ibu Jeongguk menghancurkan stroberi yang mulai lunak sementara dia mengambil mangkuk.
Ibu Jeongguk mengaduk-aduk selai stroberi di sauce pan dengan garpu secara perlahan sementara Taehyung dengan cekatan menuang double cream dan gula serta yogurt ke dalam mangkuk sebelum mengocoknya dengan mixer hingga mengembang lembut, sebelum menambahkan air mawar (yang mereka cari hingga nyaris berkeliling Denpasar dan Jeongguk nyaris frustasi sampai akhirnya menemukan sebotol di toko yang disarankan Jimin) ke dalam adonannya.
Taehyung tersenyum, aroma air mawar selalu membuatnya tenang. Dia mengaduk adonan itu dengan spatula, lembut mengetes teksturnya lalu mendengus puas sebelum menoleh ke selainya yang mulai menggelegak.
“Sudah, Tante.” Taehyung tersenyum, dengan lembut mengambil alih sauce pan dari ibu Jeongguk dan menyingkirkannya agar dingin sebelum dicampurkan ke adonan cream yang dikerjakannya.
Sembari menunggu adonannya dingin, dia meraih mangkuk lain dan mulai membuat adonan basah untuk fruitcake-nya. Dia meraih loyang panjang dan kertas baking, menyerahkannya ke Jeonggi di konter.
“Boleh dibantu mengguntingnya sesuai ukuran loyang, Sayang?” Tanyanya lembut dan Jeonggi tersenyum cerah, meraih gunting di rak dan mulai mengerjakannya dengan kedua tangan montoknya.
Ibu si Kembar menyadari nada itu sebelum melirik ke Jeongguk yang balas menatapnya, alisnya naik sebelah dan ibunya menelengkan wajah seolah bicara “seriously?” dan Jeongguk memalingkan wajah.
Taehyung mengecek belanjaannya di dapur dan mengerutkan alis, dia menelengkan kepalanya ke arah ruang tamu tanpa menoleh untuk memanggil Jeongguk yang tadi membereskan belanjaan.
Dan sialnya, dia kecepolosan.
“Wik,” katanya dengan suara lantang tanpa menyadari apa yang dilakukannya hingga semua orang menoleh, “Sour cream-ku?”
Semuanya diam dan karena semuanya diam, Taehyung akhirnya menoleh. Tidak sabaran ke Jeongguk yang menatapnya dengan wajah campuran antara terpana, kaget dan malu serta sedikit geli.
Taehyung mengerjap, menyadari atmosfer yang aneh di sekitarnya. “Sour cream?” Ulangnya, ragu. Memangnya apa yang salah dengan sour cream?
Jeonggi yang tersenyum lebar, jemari montoknya bergerak di atas loyang yang dipegangnya. “Sana Wik, beri tahu Kak Taehyung di mana sour cream-nya.” Dia tersenyum lebar hingga pipinya membentuk sebulat bakpao dengan kerutan menggemaskan di pangkal hidungnya.
Taehyung yakin kegemarannya pada gula berkontribusi aktif pada penambahan berat badannya, semoga setelah dia melahirkan kecanduannya pada gula dan karbohidrat kompleks bisa diredam dan disudahi.
Saat Jeongguk berdiri di sisinya, Taehyung berbisik bingung. “Apa yang salah dari ucapanku?” Tanyanya sementara Jeongguk membongkar tas belanja untuk mencarikannya sour cream.
Rahang Jeongguk mengencang menahan senyuman lebarnya, “Kau memanggilku 'Wik'.”
Wajah Taehyung langsung pucat. “Berengsek.” Bisiknya dengan kepala berdenyut—ternyata dia sudah memanggil Jeongguk dengan panggilan itu di luar kuasanya sendiri.
Sejak kapan dia menjadi nyaman dengan panggilan itu?
Joengguk tersenyum. “Kau menggemaskan.” Katanya lalu memberikan sour cream pada Taehyung. “Ini, Yang Mulia.” Tambahnya, mengerling sebelum beranjak dari dapur kembali ke ruang tamu, mengabaikan ibunya yang menatap mereka penasaran.
Taehyung menebalkan wajahnya, berpura-pura tidak ada yang terjadi saat menuang sour cream dan baking soda ke dalam adonan. Di sisinya, ibu Jeongguk menonton dengan tertarik dan jantung Taehyung berdebar begitu nyaring hingga rusuknya nyeri.
“Bahasa Bali-mu bagus juga,” puji ibu Jeongguk lembut, tersenyum. Tentu saja menyindir pelafalan wik Taehyung yang sempurna. “Sering mengobrol dengan teman-teman kerja, ya?”
Taehyung mengangguk, berusaha nampak tenang saat menjawab. “Lumayan banyak diajari.” Dia tersenyum. “Yugyeom itu second layer saya.” Dia mengaduk adonan di mangkuk dan ibu Jeongguk mengulurkan tangan. “Jadi kami sering belajar bahasa Bali sederhana.”
Yang lagi adalah bohong karena semua bahasa Bali-nya diajari Jeongguk.
Tapi ibu Jeongguk tidak perlu tahu, 'kan?
Taehyung memberikan mangkuk itu pada ibu Jeongguk sebelum meraih mangkuk lain untuk membuat adonan kering. Dia menuang almon, kismis, cranberry dan kurma kering ke dalam mangkuk, menambahkan ¼ cup tepung mokaf karena ayah Jeongguk ternyata melakukan diet gluten free jadi Taehyung memilih tepung selain tepung terigu.
Dia kemudian mengaduk buah-buahan kering itu dengan tepung, mengayaknya lembut sebelum menyingkirkannya. Dia mengecek krim yang dikerjakan ibu Jeongguk dan tersenyum.
“Terima kasih, Tante.” Katanya lembut lalu di mangkuk kedua mulai mencampur butter dan gula lalu memberikannya pada ibu Jeongguk. “Silakan di-mixer, Tante.”
Ibu Jeongguk menerimanya, menyalakan mixer dan mengaduk adonan itu dengan perlahan. “Kau akrab dengan Yugyeom juga?” Tanyanya saat Taehyung memarut kulit lemon untuk dicampur ke dalam adonan itu.
“Ya.” Taehyung mengagguk. “Salah satu dari beberapa teman pertama saya di Bali.” Dia kemudian memecahkan telur, memasukannya ke adonan sementara ibu Jeongguk terus mengaduknya hingga tercampur sempurna.
“Apa alasanmu pindah bekerja ke Bali?” Tanya ibu Jeongguk saat Taehyung menggunakan pisaunya untuk mengambil parutan kulit lemon dan menuangnya ke adonan mereka.
“Saya dipindahkan, Tante.” Taehyung tertawa kecil sambil bekerja, dengan lap yang tergantung di celananya, dia mengelap konter yang kotor oleh sisa-sisa tepung sebelum mengelap tangannya di apron dan meraih adonan krimnya.
“Banyan Tree Bali meminta saya untuk dipindahkan dari Bintan karena mereka lebih membutuhkan saya daripada Bintan.” Dia kemudian meminta ibu Jeongguk berhenti mengaduk adonan dan dengan spatula mulai menyendok krimnya, menyampurkannya ke dalam adonan itu.
“Begitu saja?” Tanya ibu Jeongguk saat Taehyung menuang adonan dried fruits-nya ke dalam adonan basahnya.
Taehyung berdeham, “Jeongguk melakukan presentasi di depan General Manager tentang bagaimana Bali lebih membutuhkan executive pastry chef daripada Bintan.” Katanya, tidak berani mendongak menatap Jeongguk yang sekarang pasti mengerang.
Taehyung akan mendapat hukuman setelah ini dan dia sangat menantikan itu. Dia suka menganggu Jeongguk; suka menariknya keluar dari zona nyaman, suka membuatnya terekspos secara emosional.
Suka melihatnya malu dan gugup.
Karena dia nampak seperti seekor anjing mungil yang mendengking-dengking ingin dipeluk.
Ibu Jeongguk mengangguk-angguk paham. “What he wants, he gets.” Katanya dan Taehyung tertawa serak saat mengaduk adonannya dengan perlahan agar semuanya tercampur.
“Ternyata mudah.” Komentar Jeonggi saat Taehyung menuang adonan ke dalam loyang setelah memanaskan oven. “Kupikir karena ini makanan Inggris, akan sulit secara teknik dan semacamnya.”
Taehyung tersenyum. “Ini makanan tradisional sebelum penjajahan Prancis pada teknik memasak di seluruh dunia.” Dia tertawa kecil, merapikan permukaan adonannya sebelum mengenakan sarung tangan memanggang dan memasukannya ke oven.
Dia lalu menyampurkan krim dan selai stroberinya, menuangnya ke atas loyang lain dan memasukannya ke dalam lemari es setelah menambahkan parutan kelapa yang akan menambahkan tekstur renyah dan gurih di dalamnya.
Taehyung kemudian menyudahi memasaknya dengan mencuci tangan dan mengelapnya hingga kering. Membereskan meja dapur, menyapu lantainya karena kebiasaannya yang dibawa setelah bertahun-tahun menjadi chef sebelum bergabung dengan keluarga Jeongguk di ruang keluarga seraya menunggu kuenya matang.
“Baiklah.” Jeonggi tersenyum lebar saat Taehyung muncul dari pintu belakang. “Kami akan jalan-jalan dulu.” Dia bangkit dan Arya bergegas membantunya berdiri, Jeonggi mendesah keras saat akhirnya berdiri di atas kedua kakinya.
“Lalu kuenya?” Tanya ayahnya, bersandar di kursi dengan lengan ditumpangkan di atas sandaran punggung.
”'Kan, ada Wik.” Jeonggi nyengir, meraih tasnya di atas sofa dan menatap Taehyung. “Ayo, Kak! Kita lihat-lihat baju bayi!”
“Telepon kalau ada apa-apa, ya?” Arya menambahkan saat dia mengecup pelipis istrinya sayang dan membelai perutnya dengan hangat, gestur yang membuat Taehyung merinding dan sedikit cemburu.
Dia melirik Jeongguk yang bersandar di sofa, menonton televisi. Tidakkah Jeongguk ingin memiliki anak?
Seolah menyadari tatapannya, Jeongguk menoleh dan mata mereka bertemu. Alisnya naik sebelah seolah bertanya, “Kenapa?”
Taehyung menggeleng, tersenyum sebelum menoleh kembali ke ibu dan adik Jeongguk yang sudah bersiap.
“Will that be okay?” Tanya ayahnya, menatap Jeonggi dengan ketidaksetujuan nyata di wajahnya. “Your due is near. Better not taking any heavy activity for a while.”
“It's just walking around, it'd be fine.” Sahut ibu Jeongguk menepuk perut Jeonggi lembut. “Kami akan kembali dalam dua jam.”
Ayah Jeongguk menatap mereka sejenak sebelum mengangguk, “Alright.” Lalu kembali menonton televisi. “Siapa yang menyetir?”
Taehyung mengerjap.
Dia belum mengetes kemampuannya mengemudi lagi semenjak di Bali dan terlanjur dimanja Jeongguk dengan diantar jemput ke mana pun dia ingin pergi lalu sekarang dia menyadari dirinya adalah satu-satunya lelaki, sudah sewajarnya dia yang mengemudi.
“Taehyung can't drive, yet.” Jeongguk mengatakan dengan tegas, menyambar kesempatan itu. “And he can't take online taxi. So, I'll drive.” Dia bangkit, meraih dompet dan ponselnya di meja, menyelipkan keduanya di saku belakang celananya.
Taehyung menatapnya, tersentuh karena dia masih mengingat ketakutan konyol Taehyung tentang taksi. Sudah terjadi bertahun-tahun lalu saat Taehyung kecil memanjat naik ke kursi belakang taksi sementara ibunya sibuk menerima telepon di bandara yang ramai.
Dia tidak tahu apa-apa dan tidak menyadari apa pun saat supir taksi menutup pintunya, dia berpikir mungkin agar tidak ada yang tertabrak pintu itu. Terus menunggu dengan kalem sembari bermain PSP yang baru dibelikan ayahnya. Kemudian terdengar suara pintu dikunci dari pintu supir dan mobil melaju.
Tanpa ibunya.
Delapan jam paling mengerikan dalam hidup Taehyung yang tidak ingin diingatnya kembali. Sama sekali. Maka dari itu dia memilih untuk menjauhi taksi selama-lamanya kecuali ojek daring karena dia bisa menjerita atau melompat dari motor itu jika terancam.
Lebih baik patah tulang saja.
Jeonggi mengerjap, menoleh ke Taehyung yang mulai pucat. “Kakak tidak bisa naik taksi?” Tanyanya.
Taehyung meringis, “Maaf. Kenangan masa kecil.” Dia menggeleng, mengenyahkan ingatan saat dia menggedor-gedor jendela, berteriak hingga tenggorokannya sakit berusaha membuat orang-orang di sekitarnya menyadari bahwa dia sedang diculik.
“Jangan diingat.” Jeongguk berdiri di sisinya, aroma tubuhnya yang lembut dan menenangkan seketika itu juga menenangkan isi kepala Taehyung yang bergerak mengerikan melemparkan tiap detik kenangan mengerikan itu seperti film rusak.
Tangan Jeongguk menyentuh tangannya dan gerakan itu cukup untuk membuat Taehyung lebih tenang. Dia melirik Jeongguk yang menolak menatapnya dan menekan dorongan untuk mencondongkan tubuh untuk mengecup bibirnya sebagai ucapan terima kasih.
“Baiklah.” Keluh Jeonggi kemudian, menyadari dia tidak bisa membawa Taehyung tanpa membawa kakaknya juga. “Karena kaki dan perutku gendut sekali, aku tidak akan muat di balik kemudi. Mama tidak bisa jadi, terpaksa kami membawamu.” Dia memicingkan mata ke Jeongguk.
Tepat saat Jeonggi selesai bicara, oven berdenting dan Taehyung bergegas ke dapur mengeluarkan fruitcake-nya yang merekah dengan sempurna dan meletakkannya di atas konter. Bisa dimakan nanti atau kapan saja. Dia membiarkannya di konter untuk didinginkan dan mempersilakan Arya dan ayah Jeongguk mencicipinya nanti.
Mereka kemudian berangkat untuk jalan-jalan, meninggalkan Arya dan ayah Jeongguk yang sibuk berdiskusi masalah politik dengan akrab. Taehyung sejenak ragu apakah dia bisa mengobrol sekarab itu dengan ayah Jeongguk nanti? Mereka tidak memiliki ketertarikan yang sama dan itu mengirimkan rasa berat ke hati Taehyung.
“Jangan dipikirkan.” Kata Jeongguk lagi, rendah di sisinya saat mereka beranjak ke mobil Jeonggi (Ford Fiesta, Taehyung tersenyum saat ingatannya kembali ke hari pertama dia mendarat di Bali) karena Rubicon Jeongguk terlalu tinggi untuk Jeonggi.
“Tidak.” Katanya, mendongak dan tersenyum lebar pada Jeongguk. “Thank you for grounding me.” Tambahnya tulus, mengingat bagaimana sentuhan, suara dan aroma tubuh Jeongguk cukup untuk membuatnya kembali membumi dari traumanya.
Jeongguk tersenyum tipis. “Anytime.” Balasnya lembut. “You ground me too.”
“Ayo! Jangan pacaran!” Seru Jeonggi dari mobil dan Taehyung tertawa sebelum berlari kecil, menuju pintu penumpang sementara ibu Jeongguk mengisi kursi bagian depan.
Mereka menuju Mall Bali Galeria yang belum pernah di kunjungi Taehyung walaupun dia sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan pusat perbelanjaan. Namun menemani Jeonggi dan ibunya yang bersemangat memilih pakaian-pakain mungil gender-less di toko pakaian bayi membuatnya sedikit-banyak, senang.
Jeongguk menunggu di luar toko, bersandar di pembatas dengan ponsel di tangannya. Nampak setampan dan setenang dewa kuno, tidak memedulikan orang-orang yang mengamatinya karena dia mengenakan turtleneck hitam dengan celana jins pudar, rambutnya diikat longgar di atas tengkuknya.
Taehyung tidak bisa tidak menyadari gadis-gadis yang meliriknya tertarik, ada yang terang-terangan mengamatinya tapi Jeongguk sama sekali tidak memedulikan mereka.
Akhirnya, setelah membeli beberapa pakaian dan Taehyung membelikan sepasang sepatu menggemaskan serta overall biru pudar untuk bayi Jeonggi (tidak tahan untuk tidak menggesek kartu kreditnya sendiri saat melihatnya), mereka pergi untuk makan siang di Ta Wan.
Jeonggi nampak sangat kepayahan setelah berjalan-jalan, duduk bersandar di kursinya dan ibunya mengusap keringatnya dengan tisu sementara calon ibu muda itu terengah—nampak sangat tersiksa dengan keterbatasannya.
“Sebentar lagi kau akan keluar, Penyundul kecil.” Katanya membelai perutnya lalu menepuknya, nampak sangat bahagia saat pelayan membawakannya sebotol air dingin dan iced thai tea yang dipesannya.
“Perkiraanya tanggal berapa?” Tanya Taehyung menerima air putihnya dan berterima kasih. Tidak benar-benar menyadari bahwa sudah tiga bulan dia berada di Bali.
“Akhir bulan ini.” Kata Jeonggi, meneguk habis isi botolnya dan mendesah senang. Kantung-kantung belanja di sisinya berkeresak saat dia menyingkirkannya agar lebih leluasa duduk.
Taehyung mengernyit ngeri dan Jeongguk di sisinya mendesah keras karena dia juga sepertinya baru tahu perkiraan lahir Jeonggi. Alih-alih beristirahat, dia malah mondar-mandir berbelanja seperti induk semang.
“Lalu kau jalan-jalan?” Tanya Jeongguk yang lebih terdengar seperti, kau sinting, ya?.
“Aku harus bergerak agar bayinya mudah keluar.” Jeonggi mendelik sebal. “Kau, 'kan, tidak melahirkan, mana paham!”
Jeongguk mengernyit, tidak terima namun sebelum dia sempat menjawab ibunya berdeham keras dengan mata masih di ponselnya. Nampak sudah sangat terbiasa dengan pertengkaran semacam itu dan itu membuat Taehyung geli.
“Twins, stop it.” Tegurnya dengan nada yang sama persis dengan nada yang digunakan ayahnya tadi dan Taehyung mengulum senyuman.
Apakah dia harus belajar menggunakan nada itu sebagai persiapan jika suatu hari Jeongguk dan Jeonggi memutuskan untuk saling mencaplok di depannya dan tidak ada orang tua mereka untuk menyelamatkan Taehyung?
Namun sepertinya nada itu sudah dipelajari selama bertahun-tahun menjadi orang tua si Kembar karena nada itu bekerja dengan sangat efisien pada keduanya yang sama-sama keras kepala. Walaupun mereka masih nampak siap saling mengigit, namun mereka diam.
Ajaib sekali bagaimana kehadiran kedua orang tua si Kembar mengubah interaksi keduanya jadi lebih hidup dan lebih menyenangkan. Taehyung juga menyadari betapa manjanya Jeongguk pada ibunya, menempel dengan sayang di sisinya saat berbelanja.
Maka Taehyung berpikir, “A kid will be forever a kid for their parents.”
Lalu dia teringat orang tuanya sendiri, memutuskan dia akan menelepon keduanya malam ini setelah seminggu mengabaikan semua panggilan dan pesan mereka karena kesibukannya.
Setelah makan, mereka kembali memutari mal sekali lagi karena Jeonggi ingin membeli sesuatu yang manis walaupun mereka punya makanan manis di rumah. Jeongguk sudah menawarkannya untuk kembali saja ke mobil dan dia yang akan membelikan keinginan Jeonggi tapi ibu muda itu menolaknya.
“Harus jalan-jalan.” Katanya ceria dan keras kepala, bergelayutan manja di lengan ibunya saat melangkah terseok-seok mengelilingi mal.
Taehyung mengedikkan bahu dan Jeongguk mendesah keras. Mereka berjalan bersisian, telapak tangan mereka bersentuhan tiap kali melangkah namun tidak ada yang berani untuk mengenggam tangan masing-masing.
Mungkin malu, mungkin juga gugup.
Entah apa, tapi tiap kali kulit mereka bersentuhan Taehyung tersenyum dan menoleh, mendapati Jeongguk juga sedang menatapnya dengan senyuman kecil di bibirnya. Terasa sudah lama sekali sejak mereka berjalan-jalan berdua dan Taehyung tidak sabar menunggu besok.
“Kita akan ke Trunyan besok??” Tanyanya saat mereka akhirnya pulang dari rumah Sanur, berpamitan dengan orang tua Jeongguk dan mendapatkan kontainer terisi kue kering. “Sungguh?!”
Jeongguk tersenyum. “Aku sudah janji padamu, 'kan?” Katanya kalem, memasang sein dan membelok ke kawasan rumahnya. “Janji harus ditepati.”
Taehyung tersenyum lebar, tidak sabar. Dia akan menikmati perjalanan jauh dengan Jeongguk lagi dan kali ini dengan hubungan mereka yang sudah melewati level malu-malu dan kikuk seperti minggu lalu.
Tentu saja dia tidak sabar pada kejutan apa yang akan diberikan Jeongguk padanya.
Jeongguk memarkir mobilnya, menarik rem tangan lalu melepas sabuk pengamannya sebelum menoleh ke Taehyung yang langsung merespons gerakan itu dengan mencondongkan tubuhnya—seperti besi yang tertarik oleh daya magnet.
Dia mendesah saat bibir Jeongguk menyentuh bibirnya.
Seluruh tubuhnya berdenyar oleh sentuhan itu, terasa begitu nikmat sekaligus mendebarkan. Sudah entah berapa kali ciuman yang mereka lakukan, perasaan itu tidak juga mati, alih-alih semakin menggila. Tangan Jeongguk meraih tengkuknya, meremasnya dengan tangannya yang hangat dan kasar karena bertahun-tahun bekerja menjadi juru masak.
Jeongguk menarik wajahnya, menempelkan kening mereka berdua di dalam garasi yang gelap. Napasnya membelai wajah Taehyung yang masih memejamkan mata.
“Aku sungguh mencintaimu.” Bisiknya lirih dan kekuatan ucapan itu membuat Taehyung nyaris meledak oleh perasaan bahagia. “Aku sungguh, sungguh mencintaimu.” Ulangnya lirih, nyaris seperti mantra yang harus diucapkan agar dia tetap hidup.
“Mendekapmu seerat ini tidak membuatku puas, aku ingin jauh lebih dekat lagi. Ingin memelukmu lebih hangat lagi, lebih lagi.” Bisiknya dengan mata terpejam dan Taehyung diam, mendengarkannya.
“Kau membuatku sinting.” Bisik Jeongguk lirih. “Membuatku sinting karena begitu menginginkanmu untuk diriku sendiri. Aku tidak pernah menginginkan apa pun sebelumnya, tidak.
“Lalu kau datang dan aku ingin, sangat ingin memilikimu untuk diriku sendiri. Aku cukup egois untuk itu. Untuk pertama kalinya bersikap egois atas keinginanku sendiri. Aku menginginkanmu. Aku tidak akan ada yang bisa menghalangiku mendapatkan apa yang ku—”
Taehyung menutupnya dengan ciuman lain, hatinya yang lemah tidak kuat mendengarkannya. Suara lirih Jeongguk, betapa serak dan indahnya suara itu. Tangannya yang hangat di tengkuk dan pinggul Taehyung; keseluruhan eksistensi Jeongguk yang berdenyut begitu dekat dengannya membuat akal sehatnya meleleh seperti potongan cokelat.
Dia begitu mencintai Jeongguk.
Sungguh mencintainya hingga seluruh tubuhnya nyeri.
Dia menarik lepas ciumannya dan menatap Jeongguk di bawah remangnya lampu garasi. Mata Jeongguk berbinar seperti bintang timur yang berkelip sebelum matahari menyingsing—menunjukkan arah yang benar pada Taehyung, menyelamatkannya dari ketersesatan.
“Aku juga mencintaimu.” Bisiknya serak, seluruh tubuhnya merinding dan gemetar merespons perkataannya sendiri—betapa benar dan absolutnya perasaan itu terasa di seluruh sistemnya sekarang.
“Sungguh, sungguh mencintaimu,” tambahnya nyaris menangis karena hatinya tidak sanggup lagi menahan semua gejolak yang dirasakannya—terlalu banyak hingga dia pening. “Hingga aku yakin, aku sudah gila.” Dia tertawa serak, air mata meleleh di pipinya.
Air mata sinting yang tidak diketahui Taehyung asalnya.
“Jangan menangis,” Jeongguk tersenyum kecil, mengusap air mata Taehyung dengan ibu jarinya. “Aku lebih suka menjadi gila bersamamu, daripada waras tanpamu.”
Taehyung tertawa dan cegukan oleh isakannya sendiri—kenapa dia menangis?? “Bajingan sial.” Katanya lalu terbatuk dan menangis semakin keras.
Dia sangat amat mencintai Jeongguk, dengan seluruh hati, jiwa dan tubuhnya. Seluruh organ, otot, aliran darah dan jantungnya berdebar untuk Jeongguk. Perasaan ini asing baginya, hingga reaksi tubuhnya yang kebingungan membuatnya menangis.
“Sayang.” Jeongguk tertawa lirih, meraih Taehyung dalam pelukannya dan Taehyung terisak di bahunya. Dia mengecup sisi kepala Taehyung dengan intim dan lama.
“Aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu, sangat.”
Mereka kembali berciuman dengan jejak rasa asin dari air mata Taehyung.
*