Sizzling Romance #186

“Hai.”

“Hai.”

Taehyung menatap Jeongguk di balik kemudi, baru saja menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya. Dia memasang sabuk pengaman dan mendesah, mengantuk karena kurang tidur dan butuh segera mandi agar sarafnya bangun.

Dia akan memesan cappuccino nanti, sudah dua hari ini dia kurang tidur dan efeknya mulai akan terasa. Malam ini dia harus menjauh dari Jeongguk, apa pun yang terjadi.

Taehyung membuka mulut untuk bicara saat tangan Jeongguk meraih dagunya, memaksanya untuk menoleh dan mencium bibirnya yang terbuka dengan suara keras hingga Taehyung merasa dia bisa saja menjerit karena kaget.

“Untuk apa itu?” Tanyanya terpana setelah Jeongguk menarik wajahnya.

Alih-alih menjawab, Jeongguk mendaratkan satu ciuman lagi.

“Entah?” Bisiknya. “Karena kau nampak luar biasa hari ini?”

“Hmm.” Bibir Taehyung tertarik membentuk senyuman. “Begitu?”

Satu ciuman lainnya. “Yep.”

“Berhenti.”

“Tidak.” Satu ciuman lagi. “Aku bilang aku akan menciummu setiap jam.”

Jam. Bukan menit.”

Satu ciuman. “Masa'? Aku salah bilang berarti.” Satu ciuman lagi. “Maksudku, tiap menit.”

Taehyung tertawa ceria, mendorong wajah Jeongguk menjauh darinya dengan delikan penuh canda yang mengundang senyuman dari Jeongguk.

“Kau menyebalkan.” Keluh Taehyung, berdebar karena Jeongguk sungguh tidak peduli pada keadaan sekitar mereka untuk melakukan PDA dan dia merasa wajahnya memanas hingga ke telinganya.

Mungkin karena inilah pertama kalinya Jeongguk akhirnya melakukan sesuatu yang disenanginya maka dia tidak segan-segan melewati segala batas normal yang fana di hadapannya; menerjang semuanya.

Taehyung tidak bisa bilang dia tidak senang, sungguh.

“Aku sudah curiga dengan Bogum semenjak hari pertama aku memperkenalkanmu.” Kata Jeongguk saat mobil melaju membelah lalu lintas yang dipadati anak sekolahan dengan seragam mereka menuju Banyan Tree Ungasan.

Taehyung menatap lurus ke jalanan, “Dan kau sudah bersikap teritorial padaku saat itu?” Tanyanya, mengerling Jeongguk penuh godaan dan Jeongguk menyunggingkan senyumannya.

“Aku sudah merasa overprotektif padamu di hari aku melakukan presentasi di depan General Manager Banyan Tree Bintan tentang bagaimana Banyan Tree Bali lebih membutuhkanmu daripada mereka.” Dia memasukkan persneling lalu meraih tangan Taehyung, meremasnya.

“Lalu saat aku pertama kali menghubungimu, aku sudah merasakan ketertarikan padamu. Maksudku,” dia menoleh pada Taehyung sejenak sebelum kembali memfokuskan tatapannya pada jalanan. “Tidakkah kau melihat dirimu sendiri? Kau luar biasa.”

“Hal yang sama akan kukatakan padamu. Tanpa ragu.” Sahut Taehyung seketika itu juga dan Jeongguk sejenak diam, rahangnya mengencang dan kali ini, Taehyung tahu karena dia malu.

“Kau nampak jauh lebih memesona saat bertemu langsung.” Kata Jeongguk dan Taehyung menyadari telinganya memerah. Dia tahu, Jeongguk mengerahkan semua keberaniannya untuk mengatakan itu.

“Tapi aku tidak ingin merusak hubungan profesionalitas kita dan tidak yakin apakah kau akan tertarik juga padaku, jadi, kurasa aku... bersikap sedikit agak terlalu bajingan di hari pertama.” Dia menggaruk pelipisnya perlahan, menolak menatap Taehyung.

Ingatan Taehyung melayang ke hari pertama mereka bertemu; sikap diam Jeongguk, dingin dan sedikit kasar. Bagaimana Taehyung mengutarakan keberatannya pada sikap itu dan ekspresi kaget Jeongguk yang murni.

Tidak, dia tidak bersikap bajingan.

Malah, dia teramat sangat memesona hingga Taehyung ingin merangkak ke pangkuannya dan menciumnya saat itu juga.

“Tidak.” Kata Taehyung ringan dan Jeongguk meliriknya. “Kau tidak bersikap bajingan. Kau memesona.”

Jeongguk menarik rem tangan saat mereka berhenti di lampu merah terakhir sebelum mencondongkan tubuhnya, mendaratkan satu ciuman di bibir Taehyung.

Di dalam mobil.

Yang sedang berhenti di lampu merah.

Sinting!

Taehyung mengerjap. “Kau sudah gila, ya?”

Jeongguk menatapnya, terpesona. “Mungkin?” Balasnya dengan suara parau yang mengirimkan jutaan rasa menggelitik ke permukaan kulit Taehyung. “Kau membuatku sinting.”

Sial. Kenapa dia harus mengeluarkan suara Seksi Jeongguk No. 1 sekarang dan bukannya semalam??

“Kau memang cenderung bersikap overportektif pada apa pun yang kausukai?” Tanya Taehyung kemudian saat mereka mulai memasuki jalanan sepi menuju Banyan Tree, mengalihkan kepala bayi besarnya dari ciuman yang berpotensi membuat Taehyung menepikan mobil di jalanan sepi dan mengajaknya bercinta di jok belakang.

Jeongguk menatap lurus ke depan saat dia mengatakannya, “Aku tidak memiliki banyak sesuatu atau seseorang yang kusukai.” Katanya, jernih dan lugas. Membuat jantung Taehyung mencelos karena kekuatan kata-kata itu. “Maka, ya. Aku cenderung melakukannya.”

Dia menoleh, tersenyum lembut pada Taehyung yang tersanjung dan terpesona.

Mereka memasuki wilayah Banyan dan Security yang menjaga di gerbang depan menyapa mereka dengan ceria—nyaris terlalu ceria hingga Taehyung yakin ada sesuatu yang tersebar di antara mereka semua tanpa dia ketahui.

“Selamat bekerja, Chef!” Seru Security sebelum membiarkan mobil memasuki wilayah Banyan dan meluncur ke parkiran mobil. “Jangan lupa makan siang!”

Jeongguk memarkir mobilnya dengan mulus lalu mematikan mesinnya. Dia melepas sabuk pengamannya dan menarik rem tangan. Lalu dia menoleh ke Taehyung yang baru saja melepas sabuk pengamannya.

“Jangan cium!” Kata Taehyung seketika, mendelik geli sebelum Jeongguk sempat melakukan apa pun. “Ini sudah diwilayah hotel, aku tidak mau mendapatkan surat teguran di bulan ketigaku bekerja.”

Jeongguk tersenyum kecil. “Kau yang minta?”

“Tidak begini, oke?”

“Baiklah, kau menang.” Jeongguk mengedikkan bahu, langsung menyerah. “Kuberikan apa saja untukmu.”

Taehyung tersenyum lebar, senang.

Mereka menuruni mobil, berjalan berdampingan dengan tangan bersentuhan menuju arah pintu masuk karyawan. Jeongguk mengenakan pakaiannya yang biasa: celana pendek dan kaus hitam polos.

Mereka semalam berbincang hingga pukul tiga pagi sebelum terlelap di sofa masih dengan kepala Jeongguk di pangkuan Taehyung dan terbangun karena jeritan alarm ponsel Taehyung pukul setengah enam pagi. Pening dan kurang tidur namun bahagia, Jeongguk memutuskan dia akan mandi di hotel saja dan Taehyung memutuskan hal yang sama.

Taehyung minta diantar ke kosan untuk mengambil pakaian dalam dan alat mandi dengan Jeongguk menunggu di parkiran kosan saat prahara CDP Butcher terjadi. Kejengkelan Taehyung lenyap pada ciuman pertama dan dia selalu tahu bahwa dia pintar memisahkan emosinya.

Pekerjaan akan tetap menjadi pekerjaan dan kehidupan pribadi tidak layak dicampur-adukkan dengan pekerjaan.

“Selamat pagi, Chef!” Sapa Security di balik meja jaga di sisi mesin pemindai sidik jari. “Berangkat bersama lagi hari ini?”

Taehyung harus berusaha mengabaikan penekanan yang disengaja pada kata “lagi” di kalimatnya dan betapa lebar penuh godaan senyuman di bibirnya terasa.

Jeongguk mengangguk, sudah kembali ke mode Executive Head Chef-nya yang dingin dan tidak tersentuh. “Kebetulan saja.” Katanya dengan nada yang tidak bisa diganggu gugat, seperti mengatakan bukan urusanmu sebelum bergegas memasuki pintu khusus karyawan.

Taehyung melemparkan senyuman ramah pada Security yang nampaknya sudah terbiasa dengan sikap Jeongguk untuk bahkan tersinggung pada nadanya. Bergegas menyusulnya sebelum ditanyai macam-macam, meniru langkah dan tindakan Jeongguk. Mereka mengambil seragam (sendiri karena anak Housekeeping yang berjaga sedang dibantukan di Laundry) lalu pergi ke loker.

Jeongguk mendorong pintu loker dan membiarkan Taehyung memasuki ruangan duluan. Taehyung mendesah, merogoh sakunya untuk mengeluarkan kunci lokernya yang dijadikan satu dengan kunci kosnya dan baru akan beranjak ke lokernya saat tangan Jeongguk menyambar tangannya.

Dia menyentakkan Taehyung hingga menghadapnya, menariknya ke arah Jeongguk lalu mencium bibirnya. Jeongguk menyandarkan tubuhnya di pintu, agar tidak ada yang memasuki loker.

Taehyung gemetar, dia menatap wajah Jeongguk yang memejamkan mata di hadapannya, merasakan bibirnya yang tebal, hangat dan lembab di bibirnya sebelum mendesah dan memejamkan matanya.

Dia mengulurkan tangan melewati bahu Jeongguk, meletakkannya di atas pintu—membantu Jeongguk menahannya agar tidak terbuka, sebelum membalas ciumannya lebih dalam lagi.

Taehyung menarik wajahnya sejenak, terengah. “Kau bajingan.” Sengalnya tersenyum separo—merasa penuh adrenalin. Jantungnya berdebar hingga membuat telinganya sejenak tuli. “Ini di tempat kerja!”

Jeongguk mengulurkan tangannya, meremas rambut Taehyung—menjambaknya lembut hingga perut Taehyung mengejang olehnya. Dia menengadahkan kepalanya sebagai reaksi atas gerakan itu dan Jeongguk melukiskan ciuman lembut ke lehernya sebelum mencium nadinya yang berdebar kesetanan.

“Kubilang setiap menit, 'kan?” Bisiknya dan Taehyung bisa sinting karena suaranya yang parau dan rendah.

“Bagaimana bisa kau berubah jadi binatang liar begini?” Bisik Taehyung rendah karena dia mendengar suara tawa dari luar pintu loker dan mulai takut seseorang mendorong pintu terbuka.

“Kau membuatku begini.” Jeongguk separo mengeluh, membenamkan wajah ke leher Taehyung dan menghirup aromanya dalam-dalam. “Dan memangnya aku akan bersikap baik hati setelah tiga puluh enam tahun hidup seperti biksu?”

“Baiklah, menyalahkanku. Oke.”

Jeongguk menatapnya, matanya nampak bersinar oleh rasa terpesona yang membuat Taehyung malu. Bagaimana bisa seseorang menatapnya seolah dia adalah anugerah dari langit yang akan menyelamatkan seluruh umat manusia?

Dia memuja Taehyung, nyaris seperti memuja Tuhan.

Tatapannya tidak pernah gagal membuat Taehyung merinding dan tersanjung. Belum pernah sekali pun dalam hidupnya Tehyung diperlakukan begitu agung, istimewa dan layak seperti ini.

Hanya Jeongguk dan selalu hanya dia.

Dia merunduk, mencium bibir Taehyung lagi. Lagi dan lagi dalam kecupan-kecupan kecil yang mendebarkan. “Aku tidak bisa berhenti,” bisiknya, menghujani wajah Taehyung dengan ciuman; bibirnya, pipinya, hidungnya, keningnya, ujung hidungnya, pelipisnya....

Taehyung tertawa di bawah ciumannya. “Kau harus berhenti sebelum kita saling menelanjangi dan dipecat, oke?” Katanya tersenyum lebar dan Jeongguk mengecup senyumannya.

“Aku tidak suka itu, tapi baiklah.”

Jeongguk tertawa, melepaskan Taehyung yang langsung bergegas menjauhinya sebelum kembali diserang dan Jeongguk bangkit dari pintu. Syukurlah karena tidak ada yang memasuki loker persis setelah mereka menjauh.

Namjoon memasuki loker saat Taehyung sedang mengeringkan rambutnya dan Jeongguk mandi di bilik. Dia menggantungkan seragamnya di cerukan lengannya, bersiul ceria mendendangkan nada lagu yang tidak familier di telinga Taehyung saat memasuki ruangan.

“Pagi, Namjoon!” Sapa Taehyung, nyaris terlalu bersemangat. Adrenalin mengalir di pembuluh darahnya dan membuatnya pening. Kepalanya seperti akan lepas dari lehernya.

Namjoon menyadarinya, dia mengerjap. Wajahnya sejenak kosong sebelum tersenyum membalas sapaan Taehyung. “Pagi, Chef.” Dia melangkah ke lokernya. “Saya akan bicara dengan Bogum hari ini mengenai masalah tadi.”

Taehyung mengerjap, otaknya bergerak selamban sapi. “Masalah tadi?” Ulangnya sebelum teringat, menembus semua kabut gairah yang melingkupinya karena si bajingan Jeongguk. “Oh.” Katanya, merona tipis karena melupakannya. “Ya, trims.”

Namjoon menatapnya, menilai sejenak lalu perlahan mengatakan, “Saya minta maaf karena dia bersikap tidak sopan pada Anda, Chef.” Dia membuka pintu lokernya yang berdentang.

“Tidak, tidak masalah.” Taehyung menjawab, menyisir rambutnya yang setengah basah dan sebal karena setelah seharian bekerja dengan topi dan harnet, rambutnya pasti bau. “Saya hanya tidak suka dia mengontak saya lalu menanyakan hal pribadi yang bukan urusannya.”

Namjoon baru akan menjawab, saat suara gemericik air berhenti dan tirai mandi disingkap dengan keras—nyaris dramatis. Taehyung menoleh hanya untuk menyesalinya.

Jeongguk berdiri di depan bilik mandi, rambutnya lembab dan dia hanya mengenakan celana pendeknya. Titik-titik air menghiasi dada bidangnya yang telanjang sementara dia mengusap rambutnya dengan handuk dan membersit keras, mengenyahkan air dari telinganya. Kaus hitamnya disampirkan di bahunya yang lembab.

“Pagi, Namjoon.” Sapanya parau, wajahnya merona oleh perubahan suhu dari air hangat.

“Oh,” Namjoon mengerjap, kaget. “Pagi, Chef. Saya kira yang mandi Wonwoo.”

Jeongguk hanya menggumam samar sebelum beranjak ke lokernya dengan kaki telanjang. Dia mengeluarkan suara membersit keras beberapa kali, mencoba membersihkan air dari gendang telinganya. Taehyung sejenak ingin mengusir Namjoon, dia ingin mencium Jeongguk.

Sangat ingin hingga dia nyaris gila.

Jeongguk berdiri di sisinya, mengerling Taehyung yang sedang mengancingkan kemeja seragamnya. Aroma tubuh Jeongguk menakjubkan—seperti air hangat, sabun mandi dan keringatnya.

“Aku ingin menciummu.” Bisik Taehyung, lirih nyaris selirih angin namun Jeongguk menangkapnya.

Dia tersenyum kecil mengejek ke dalam lokernya yang terbuka. “Tadi aku sudah menciummu tapi kau menyuruhku berhenti.” Katanya, menarik keluar kaus dalam dan menyelipkan kedua lengan serta lehernya ke dalamnya.

“Bedebah sial.” Gerutu Taehyung, melirik Namjoon yang berada beberapa meter dari mereka, mendendangkan lagu dengan ceria.

Dia berdoa dalam hati Namjoon bergegas menyelesaikan seragamnya dan pergi dari sana. Berdoa dengan kuat dan penuh tekad sementara di sisinya Jeongguk mulai meraih kemejanya dan menyelipkan lengannya ke salah satu sisi; perlahan nyaris seolah sedang menggoda Taehyung.

Dan untuk menjawab doanya, Namjoon melangkah ke urinal di sudut ruangan. Memunggungi mereka untuk buang air kecil, bersiul nyaring. Taehyung langsung membuka pintu lokernya, menciptakan blind spot dari arah urinal dan memanfaatkan momentum itu untuk berbalik, menyambar tangan Jeongguk yang terkesirap kaget lalu menciumnya.

Tepat saat mereka berpisah, Namjoon menoleh. “Chef?” Tanyanya. “Anda oke?”

Jeongguk berdeham, mendelik pada Taehyung yang tersenyum lebar. “Oke. Tidak apa-apa.” Katanya parau. “Taehyung menginjak kaki saya.” Tambahnya, memanfaatkan pintu loker yang melindungi mereka untuk memelototi Taehyung yang sekarang tertawa tanpa suara—puas setelah membalaskan dendamnya.

“Maaf.” Taehyung tertawa kecil, nyaris seperti kesurupan karena adrenalin terasa begitu memusingkan di sistemnya. “Terlalu bersemangat untuk bekerja.” Tambahnya, menyisir rambutnya, memasang harnet dengan rapi lalu menyambar apron dan topinya.

Dia menutup pintu lokernya, tersenyum pada Namjoon yang menarik zipper celananya. Menatapnya heran karena Taehyung bersikap sangat ceria untuk ukuran chef yang baru saja mengamuk di grup koordinasi mereka beberapa saat lalu.

“Saya naik mengecek breakfast duluan, ya?” Pamitnya, memasang topinya dan meluruskannya di atas kepalanya.

Dia mengembangkan apronnya, memasangnya melingkari pinggang rampingnya dan mengikatnya kencang sebelum meraih safety shoes-nya. Dia duduk di atas kursi panjang, mengenakannya dengan sesekali melirik Jeongguk yang sedang mengenakan pakaiannya.

Taehyung berdiri, menyapukan tangannya di atas seragamnya untuk melincinkannya sebelum pamit pada kedua rekan kerjanya. “Ketemu di restoran.” Katanya ceria sebelum mendorong pintu loker terbuka.

Melangkah ke Security untuk presensi masuk dengan senyuman lebar di bibirnya yang masih terasa kebas, lembab dan geli akibat ciuman mereka tadi. Taehyung mabuk dan dia tidak yakin apakah mabuk itu dikarenakan ciuman mereka atau karena dia kurang tidur.

Sepertinya yang pertama.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama karena saat dia mendorong pintu ke arah Security, dia bertemu dengan Bogum. Kebahagiaannya meledak seperti balon sabun yang langsung memercik ke tanah.

“Selamat pagi, Chef.” Sapa CDP itu dengan sedikit segan karena bertemu dengan Taehyung persis setelah membuat kekacauan.

Taehyung menghela napas, mencoba menata hatinya agar tidak jengkel dan tersenyum tipis. “Pagi, Bogum.” Sapanya dengan nada netral—setidaknya menurut Taehyung.

Bogum sejenak ragu-ragu sebelum menggaruk kepalanya. “Saya minta maaf, Chef.”

Alis Taehyung terangkat. “Untuk?” Tanyanya, walaupun dia sudah tahu tapi dia ingin Bogum mengucapkannya, menyadari bahwa yang dilakukannya memang salah.

Dan dia menunggu saat Bogum sejenak nampak kikuk, menyusun kata-kata di dalam kepalanya untuk mengucapkan maaf dan mengutarakan penyesalannya. Taehyung nyaris bisa mendengarnya berusaha mengalahkan egoismenya sendiri, merendahkan diri untuk meminta maaf.

“Karena telah menanyakan hal yang bersifat personal pada Anda.” Katanya kemudian dengan perlahan. Dia menjaga tatapannya tetap di bawah dan Taehyung mengapresiasi itu.

Dan dia memutuskan tidak ada hal yang perlu dipermasalahkan lagi. Dia melangkah ke mesin pemindai sidik jari dan menekan jempolnya ke atas sensor hingga benda itu berbunyi, tanda dia mengenali sidik jari Taehyung. Bogum masih berdiri di sana, menunggu.

“Tidak apa-apa.” Katanya kemudian, sepatunya menciptakan suara keras di tanah yang dijejaknya karena solnya yang tebal. “Kau sudah paham salahmu dan buatku itu cukup.” Dia tersenyum pada Bogum.

Bogum menatapnya, membalas senyumannya dengan ramah. “Terima kasih, Chef.” Katanya mengangguk sebelum bergegas melangkah ke arah pintu karyawan untuk mengambil seragam.

Dia mengulurkan tangan untuk meraih gagang pint, hendak menariknya terbuka dan tersentak saat pintu dibuka dari dalam terlebih dahulu. Jeongguk melangkah keluar, nampak dua kali lebih mengintimidasi, rahangnya keras dan matanya dingin. Sangat berbeda dengan Jeongguk yang pagi tadi terkekeh bersama Taehyung, menghujaninya dengan ciuman dan pujian.

Dia sekarang adalah Chef Jeongguk, chef senior yang terkenal dingin dan pendiam.

Bogum menunduk, mengangguk padanya. Karena dia tahu Jeongguk dan Taehyung memiliki hubungan, mungkin dia sekarang menyadari jika dia menganggu Taehyung maka dia juga menganggu Jeongguk.

“Pagi, Chef.” Sapanya dengan suara kecil.

“Ya.” Balas Jeongguk sekenanya sebelum melangkah menjauhi pintu menuju mesin presensi, melewati Taehyung yang tersenyum kecil. Jeongguk bisa saja bajingan profesional yang congkak, tapi dia baru saja bersikap kekanakan dengan menolak membalas sapaan Bogum.

Jeongguk memindai sidik jarinya, lalu menoleh pada Taehyung. “Tunggu apa lagi?” Tanyanya dingin dan Taehyung mendenguskan senyuman. “Cek eclair sialmu.”

Taehyung tersenyum. “Baik, Chef.” Sahutnya.

*