Sizzling Romance #220
Taehyung mendorong pintu ruang rawat Jeonggi dan langsung bertatapan dengan Jeonggi yang baru saja membenahi pakaiannya setelah memberi ASI untuk anaknya, Arya berdiri di sisinya sedang menggendong buntalan kain menggemaskan yang tertidur.
Jeongguk menyusul di sisinya, dia menyapa Arya hangat dan bergegas ke kamar mandi karena sejak di mobil tadi dia sudah menahan buang air kecil. Walaupun Taehyung memaksanya untuk berhenti saja di SPBU untuk buang air kecil, dia menolak dan mengatakan akan melakukannya di kamar Jeonggi saja.
“Ya, terserah.” Kata Taehyung akhirnya, menyadari jika berdebat dengan Jeongguk tidak akan menghasilkan apa pun. “Itu, 'kan, kantung kemihmu.”
“Hai, Tio!” Sapa Jeonggi ceria, walaupun dia baru saja melahirkan dengan bekas jahitan basah di perutnya dan masih menggunakan kateter untuk buang air kecil, namun dia tetap nampak segar dan sehat.
Rambutnya disisir rapi, naik diikat agar tidak mengganggunya saat memberi ASI. Dan karena baru saja melahirkan, sekarang tubuhnya nampak sedikit menggelambir dengan sisa-sisa kulit dan lemak yang merenggang selama dia hamil. Selebihnya, dia tetap terlihat cantik dan sempurna.
“Hai, Sayang.” Sapa Taehyung, meletakkan kantung-kantung yang dibawanya di atas meja di sisi ranjang Jeonggi lalu mencondongkan tubuh ke arahnya, mencium pipinya sebelum menghampiri wastafel untuk mencuci tangan sebelum mengambil bayi.
“Kau sudah makan?” Tanyanya pada Arya yang masih menimang anaknya dengan ceria, membisikkan lagu dengan lembut ke telinganya dan membuat si bayi tersenyum kecil.
“Belum.” Arya mendongak menatap Taehyung dari tempat duduknya di sofa. “Baru saja akan menyuap saat suster datang membawa bayinya, jadi aku membantu Jeonggi dulu.”
“Makanlah, biar aku yang menggendongnya.” Tawar Taehyung pada Arya yang nampak bersyukur atas tawaran itu, dia membentuk buaian dengan lengannya siap menerima bayi yang diserahkan Arya padanya.
Taehyung dengan perlahan menyokong buntalan di tangannya, memosisikan tangannya sedemikian rupa agar menyangga bagian tengkuk si bayi. Bayi itu menggeliat, bibirnya terbuka—menyadari dirinya dipindahkan dan sebelah matanya yang belum terbuka sempurna, mengintip. Mengecek siapa yang menggendongnya.
“Halo, Sayang.” Bisik Taehyung lembut, menggunakan tangannya yang bebas untuk menyentuh pipinya dan bibir bayi itu kembali terbuka, merespons sentuhan Taehyung.
“Kau sudah jadi mengurus aktanya?” Tanya Taehyung, menyadari jika sekarang si bayi sudah memiliki anting mungil di telinganya.
“Sudah,” Arya nampak sangat senang karena bisa beristirahat sambil makan. “Tadi sekalian kuurus dengan tindik telinganya.”
Taehyung mendesah, mendengarnya. Dia benci sekali proses tindik untuk bayi perempuan itu. “Did you cry, Princess? Did it hurt?” Tanyanya pada si bayi yang sebelah matanya masih menatap Taehyung tertarik.
“Menangisnya tidak lama.” Kata Arya, setelah sejak tadi diam menyuap makanannya dengan khidmat karena kelaparan. Dia harus bersiap, pikir Taehyung karena setelah ini mereka akan menghadapi banyak sekali malam-malam panjang kurang tidur.
“Dia tertidur setelah minum ASI dan dipindahkan ke ruangan bayi lagi.” Arya kembali menunduk ke makan siangnya.
Taehyung tersenyum. “Good girl,” bisiknya lembut, mengecup ujung hidung si bayi dengan gemas. “You're so brave.” Tambahnya, tersenyum lebar dan terkekeh saat si bayi menggeliat akibat ciumannya.
Jeongguk kemudian datang ke sisinya setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, “Giliranku.” Katanya, mengulurkan tangan dan Taehyung menatapnya sebal.
“Aku baru menggendongnya lima menit!” Protesnya mendesis agar si bayi tidak terganggu dengan suaranya.
Namun kelopak mata bayi itu bergetar, bola matanya bergerak menatap orang yang ada di atasnya, penasaran. Dia pintar sekali karena tidak menangis dan menjerit-jerit. Kata Arya, semalam saat dia baru lahir dia hanya menangis sebentar sebelum tenang dan terlelap.
“She's chillin'.” Kata Arya serius dan Taehyung tertawa terbahak-bahak.
Jeongguk menatapnya jengkel karena tidak diberikan apa yang diinginkannya. “Giliranku.” Ulangnya, kali ini lebih menuntut.
“Kau menyebalkan sekali, kau tahu.” Gerutu Taehyung namun tak ayal menyerahkan bayinya ke Jeongguk yang sudah membentuk buaian kikuk dengan kedua lengannya.
“Pelan-pelan. Sangga tengkuknya.” Bisik Taehyung saat menyerahkan bayinya.
Jeongguk menerima buntalan itu dengan lembut, memposisikan bayinya dengan kikuk di lengannya sebelum akhirnya mendesah. Taehyung membenahi posisinya dengan lembut, agar si bayi dan Jeongguk nyaman sebelum perlahan melepasnya. Bayi itu mengeluarkan suara kecil meresponsnya dan Taehyung tersenyum.
“Oke?” Tanyanya pada Jeongguk yang masih bergerak-gerak, mencari posisi yang nyaman untuk menggendong bayinya.
“Oke.” Kata Jeongguk akhirnya setelah dia nyaman.
“Tidak akan lama.” Taehyung tersenyum. “Kau mengedip dan mendadak, dia sudah berlarian ke sana kemari. Tidak membutuhkanmu lagi.” Dia menatap Jeongguk yang menunduk, menyeka selimut dari wajah si bayi dan menatapnya penuh sayang.
Sementara Jeongguk menimang-nimang keponakannya sebagai hobi baru selain melempari orang dengan wajan, Taehyung beranjak ke sisi Jeonggi. Mengeluarkan anggur merah segar yang mereka beli tadi sebelum kemari, dibungkus dalam plastik wrap yang berembun.
“Kau mau anggur?” Tanyanya.
Jeonggi menggeleng, tersenyum. “Boleh minta donatnya saja?”
Taehyung terkekeh, “Baiklah.” Dia membungkuk, meraih kantung di lantai dan menarik kontainer keluar dari sana, dia membuka tutupnya. Meletakkan benda itu di atas pangkuan Jeonggi dan membiarkannya mengamati isinya.
Jeonggi mulai mengambil sepotong, mengigitnya dan tersenyum senang karena tekstur donat yang diberikan Taehyung terasa lembut, empuk dan lezat sekali. Tidak berminyak dan manisnya pas.
“Kalian sudah menentukan namanya?” Tanya Taehyung, duduk di sisi Jeonggi yang mengunyah donat keduanya.
“Sudah,” Jeonggi mengangkat sepotong donat bersalut gula merah, mengangguk hingga beberapa anak rambut meluruh ke sisi wajahnya dan dia menyekanya.
“Namanya Divya.”
“Divya.” Ulang Taehyung, mengetes nama itu di lidahnya dan menyukainya. “Artinya?”
“Div dalam bahasa Sanskerta artinya 'cahaya'.” Arya menjawab, menyelesaikan makanannya. “Divya Callista.” Dia menambahkan seraya mengikat kantung sampah yang berisik.
“Callista itu bahasa Yunani, artinya 'yang tercantik'. Jadi arti namanya adalah Cahaya Paling Cantik.” Jeonggi menatap anaknya yang sekarang dalam gendongan Jeongguk yang asyik mengobrol dengan si bayi, mengabaikan semua orang di sekitarnya.
“Divya Callista.” Taehyung tersenyum, hatinya menghangat saat mendengarkan arti nama itu. Mengingat bagaimana semua orang langsung jatuh dalam pesona wajah bulatnya yang menggemaskan, Taehyung yakin nama itu cocok sekali untuknya.
Semalam, semua orang berkumpul di sini menunggui Jeonggi yang teler dan mabuk karena obat bius. Saat Jeongguk dan Taehyung tiba, Arya sedang menimang bayinya sementara Jeonggi terbaring di ranjang, nampak kacau dan mabuk. Dia tersenyum dengan kelopak mata bergetar menahan kantuk.
“H'ai, Kak.” Sapanya mengantuk dan Jeongguk langsung menghampirinya, menyeka rambutnya dan mengecup keningnya sayang. “Bau.” Keluh Jeonggi dan menghalau wajah kakaknya dari wajahnya dengan lemah.
Ayah dan ibu si Kembar menunggui juga di dalam, ruangan penuh saat Yugyeom bergabung tapi semuanya bersuka cita menyambut kehadiran Tukang Sundul yang sudah sejak lama dinantikan. Dia digendong ayahnya, lalu neneknya, lalu kakeknya, lalu kedua pamannya; diciumi, dicintai dan diperlakukan seperti sebuah permata.
“Kak ingin dipanggil apa?” Tanya Jeonggi yang masih berusaha mempertahankan kesadarannya walaupun Arya disisinya sudah membujuknya untuk tidur.
Taehyung menatap bayi merah di tangannya, mengamati bentuk wajahnya dan hidungnya yang mengerut saat dia tidak menyukai sesuatu dan bibirya yang terkuak montok.
“Bagaimana jika 'Tio'? Artinya 'paman' dalam bahasa Spanyol.” Katanya lalu menambahkan, “Tidak ada alasan yang spefisik. Aku hanya suka mendengarnya. Tio.”
Jeonggi tersenyum, kelopak matanya bergetar seperti sayap kupu-kupu saat dia berusaha melawan morfim yang sedang bekerja melumpuhkan semua sarafnya agar dia bisa istirahat.
“Tio.” Katanya, setuju.
“Sekarang istirahat,” Taehyung terkekeh, “Kita bisa bicarakan itu besok.”
Sekarang Jeonggi nampak lebih segar, sudah mandi dan menyisir rambutnya. Dia bahkan menggunakan riasan tipis di wajahnya, kelihatan rileks walaupun masih harus menahan sakit dari jahitan di perut bawahnya.
Infus menancap di punggung tangan kanannya dengan satu slang yang disambungkan ke mesin penyuntik morfim yang bergerak otomatis memberikan dosis penghilang rasa sakit secara konsisten ke infusnya.
Taehyung menatap Jeongguk yang sekarang menggoyangkan lengannya dengan lembut, menatap bayi di pelukannya dengan pandangan memuja yang absolut. Sementara di sisinya Arya membantu Jeonggi membuang isi pispotnya yang penuh, Taehyung sejenak diserang rasa tidak percaya diri yang beracun.
Dia melihat seberapa Jeongguk sangat mencintai bayi itu, Divya. Dan menatap cinta yang melimpah di matanya, otot wajahnya yang mengendur menjadi tatapan yang lembut. Dia belum pernah melihat Jeongguk berekspresi semacam itu.
Dan dia ingin sekali memberikan kebahagiaan itu pada Jeongguk; menatap ekspresi itu selamanya. Melihat ekspresi itu diberikan kepada... entahlah, anak kandung mereka, mungkin?
Taehyung suka anak-anak, suka sekali. Namun hanya bagian kecil dari dirinya, sedangkan yang lain terlalu sibuk mengejar karir. Sibuk berpindah-pindah kerja, sibuk mengejar sesuatu yang sekarang mulai disadarinya adalah kefanaan.
Sebenarnya dia terburu-buru mengejar apa? Terburu-buru mencari apa? Siapa yang memaksanya terburu-buru selama ini?
Sekarang saat dia berhenti untuk berpikir, apakah dia menginginkan seorang anak? Bayi mungil yang akan berceloteh ceria padanya? Memanggilnya ayah? Seorang bayi perempuan cantik yang akan menjadi putri di hidupnya, permata yang berkilau.
Pernahkah Taehyung benar-benar memikirkannya?
Taehyung menyukai anak-anak, tapi dia tidak pernah merasa dia memiliki cukup kesabaran dan ketenangan untuk membesarkan mereka—khususnya secara emosional. Tidak yakin dia bisa menjadi seorang ayah yang baik. Tidak ingin mengorbankan seorang manusia tidak bersalah dalam ketidakmampuannya dalam mendidik.
Terlalu mahal harganya.
Taehyung berhenti saat dia menyadari pikirannya sudah membuat otaknya sakit, dia mendorong pikiran itu menjauh dari kepalanya—tidak mengizinkannya meracuni kepala Taehyung sama sekali.
Jika Jeongguk memilihnya, memilih menjadi seorang homoseksual, dia pasti tahu apa yang dia lewatkan. Apa yang diinginkannya dan tidak diinginkannya.
Menyadari dirinya sedang diamati, Jeongguk mendongak dari Divya di pelukannya dan menatap Taehyung yang duduk menyilangkan kaki di kursi di sisi Jeonggi yang sekarang berbaring, menonton televisi—senang karena ada banyak orang yang bisa menggendong Divya sehingga dia bisa beristirahat.
“Apa?” Tanya Jeongguk dengan gerakan bibirnya, bahasa yang selalu mereka gunakan tiap kali mereka harus berkomunikasi jarak jauh—yang berarti sering, di setiap wedding, lunch dan/atau dinner group yang mereka kerjakan.
Sekarang, keduanya sudah bisa berkomunikasi tanpa perlu berusaha. Sekali pandang, Taehyung tahu apa yang dikatakan Jeongguk dan begitu pula sebaliknya.
“Tidak.” Taehyung menggeleng dengan senyuman tipis di bibirnya. “You're whipped.” Dia mengerling Divya yang bergerak di buaian Jeongguk dan pamannya bergegas menunduk, mengecek apa yang si bayi inginkan.
Lalu dia kembali mendongak, tersenyum pada Taehyung. “You too.” Katanya tanpa suara.
Taehyung tersenyum.
Lalu pintu ruangan Jeonggi terbuka dan kedua orang tua si Kembar memasuki ruangan dengan berisik, membuat suasana menghangat karena celotehan mereka dan aroma lalu lintas yang menempel di tubuh mereka. Ibu Jeongguk membawa makanan yang aromanya langsung membuat Taehyung teringat bahwa dia belum makan sama sekali.
“Halo, Sayang.” Sapa ibu Jeongguk, mengecup Jeonggi dan menghadiahkan satu ciuman juga untuk Taehyung yang langsung berpindah, membiarkannya duduk di kursi.
“Kalian sudah makan?” Tanyanya menepuk pipi Taehyung sayang. “Makanlah, makan. Berikan Divya pada kakeknya.”
Ayah Jeongguk sudah berada di sisi Jeongguk, tersenyum lebar. “C'mere, Little Darling, now it's time for you and Granpa.” Katanya, meraih Divya dari gendongan Jeongguk dan Taehyung berpikir dengan geli, Divya tidak pernah diletakkan.
Dia pasti akan menjadi anak yang sangat manja dan harus diperhatikan terus-terusan. Tapi dia juga yakin, Jeonggi akan jadi ibu yang luar biasa dalam membesarkan Divya, tidak hanya secara fisik tapi juga secara emosional.
Taehyung duduk di sofa di bawah televisi, di sisinya ayah Jeongguk sedang menimang Divya sementara Arya berbaring di kasur penunggu—memejamkan mata sejenak mumpung ada banyak orang yang akan menggendong Divya dan membantu Jeonggi saat dibutuhkan.
Ayah Jeongguk tidak juga lelah menggendong Divya yang terlelap dengan bibir terbuka, bulu matanya lentik dan hidungnya mungil sekali dengan bintik-bitik kemerahan khas bayi yang menyebar di atasnya. Aroma tubuhnya seperti produk bayi yang membuat Taehyung kecanduan.
Jeongguk dan ibunya duduk di balkon, mengupas mangga untuk Jeonggi sembari mencari udara segar karena si bayi nyaman dengan kakeknya dan Jeonggi bisa istirahat.
Bosan karena ayah Jeongguk tidak juga lelah dan tidak menemukan apa pun untuk dilakukan, Taehyung akhirnya bangkit, hendak bergabung dengan ibu dan Jeongguk saat percakapan mereka tertiup angin samar-samar ke telinganya.
Taehyung berhenti di pintu yang terbuka mengarah ke balkon yang gemuruh oleh angin malam yang bertiup, namun suara ibu Jeongguk cukup untuk didengar.
Khususnya bagian yang didengarnya.
“... You want a baby?” Tanya ibu Jeongguk lembut dan membuat jantung Taehyung mencelos.
Dia menyuarakan ketakutan Taehyung barusan.
Mengucapkan dengan suara keras hal yang berusaha tidak dipikirkan Taehyung. Hal yang membuat percaya diri Taehyung jatuh ke level terendah dan dia tidak pernah mengalami itu sebelumnya.
Dia selalu sempurna, bintang di kelasnya, berbakat dan dicari semua orang. Taehyung bisa menundukkan apa saja, dia bisa melakukan apa saja. Namun jika dihadapkan dengan garis takdir dan fakta biologis antara lelaki dan perempuan, Taehyung paham dia tidak bisa melakukan apa pun.
Dia mundur dari pintu, tidak ingin mendengar jawaban Jeongguk sama sekali.
Taehyung takut dan dia bersikap pengecut.
Dia tidak mau menghadapi ketakutannya sendiri. Dia tidak mau mendengar jika Jeongguk ternyata menginginkan bayi, mungkin saja berubah pikiran tentang orientasi seksualnya sekarang setelah dia memeluk Divya di tangannya, merasakan betapa berharganya bayi itu.
Dan memutuskan, dia mungkin menginginkan anaknya sendiri.
Namun Taehyung tidak kabur dari sana walaupun seluruh dirinya memaksanya untuk begitu, menjauh dari Jeongguk dan menjauh dari keluarganya yang sekarang terasa tidak lagi menyenangkan.
Dia merasa mual karena rasa takut, dia tidak berani menatap Jeongguk sama sekali sepanjang sisa malam itu. Takut mendapatkan jawaban di wajahnya, takut menghadapi ketakutannya sendiri.
Taehyung memutuskan untuk duduk di sisi ranjang Jeonggi, memunggungi semua orang seraya memijat kaki Jeonggi yang masih bengkak karena sisa-sisa kehamilan. Dan ibu muda itu menyadari ekspresi wajahnya.
“Kak?” Tanyanya berbisik, setelah sejak tadi sibuk menjejalkan butiran anggur merah ke mulutnya. “Kau baik?”
Taehyung mengerjap, baru menyadari bahwa dia melamun. “Baik.” Sahutnya, mendesah dan tersenyum pada Jeonggi. “Kau mau anggur lagi?”
Jeonggi menatapnya, menilai dengan perlahan dan Taehyung berusaha keras mendorong semua rasa anxious-nya mundur agar tidak terpampang di wajahnya. Jeonggi amat sensitif dengan perubahan emosi, dia tahu itu.
“Tidak.” Katanya kemudian membuat Taehyung lega. “Ini cukup.” Dia tersenyum sebelum kembali menunduk, meraup beberapa butir anggur dan mulai mengunyahnya lagi.
“Aku harus diet.” Keluhnya kemudian dan Taehyung bersyukur dia mengalihkan pikiran Taehyung dari pembicaraan Jeongguk dan ibunya. “Semuanya menggelambir, menjijikkan.”
Taehyung tertawa, tawanya terasa kering dan menyiksa. “Tidak, kau cantik.” Hiburnya. “Setelah ini kau masih harus menyusui dan itu tugas yang berat sekali, tolong jangan menyiksa dirimu dulu dengan diet, ya? Anakmu butuh ASI yang berkualitas agar tumbuh sehat.”
Jeonggi mendesah, menyentuh badannya sendiri. “Kata Wik Arya,” katanya. “Saat lahir yang pertama keluar adalah air. Banyak sekali air. Kata dokter, itulah yang membuatku jadi begitu gendut. Divya itu kembar air.
“Air ketubanku banyak sekali.” Jeonggi menyentuh perutnya, merasakan lemak-lemak sisa kehamilan yang membuatnya mengernyit tidak suka dan Taehyung terkekeh kecil.
“Gampang.” Taehyung menepuk kakinya hangat. “Kita akan diet setelah ini, oke? Sekarang kita fokus pada menghasilkan ASI yang berkualitas untuk Divya.”
Jeonggi menatapnya, mengamati wajah dan ekspresi Taehyung dengan penuh perhatian. “Kak Tae orang baik.” Katanya kemudian membuat alis Taehyung baik. “Baik sekali.” Tambahnya.
“Semoga hidup Kak Taehyung selalu dipenuhi kebahagiaan.” Ucapnya tulus hingga Taehyung merinding oleh kekuatan dan sayang yang dicurahkan Jeonggi pada kata-katanya.
You want a baby?
Hidup Taehyung selalu membahagiakan, namun sepertinya hari ini tidak terlalu membahagiakan.
*