Sizzling Romance #174
“Taehyung.”
Taehyung yang sedang duduk di dekat pos Security dengan earphone menyumpal kedua telingannya membuka matanya dan bertemu Jeongguk yang nampak segar dengan wajah lembab.
“Maaf aku tadi menyempatkan diri menyuci wajahku.” Dia menghampiri Taehyung dan tubuhnya beraroma seperti rempah dan makanan yang hangat.
Chef senior itu berdiri di dekatnya, menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Matanya sedikit liar dengan wajah tertekuk, nampak sangat terganggu oleh sesuatu yang Taehyung tidak pahami apa.
“Hai.” Taehyung tersenyum, melepas salah satu earphone-nya dan bergegas berdiri. “Karena aku sungguh harus membawa motorku kembali, bagaimana jika kita bertemu di kosku? Akan kubuatkan teh lalu kau bisa cerita.”
Jeongguk menatapnya, sejenak ragu sebelum mengangguk dan berlalu. Taehyung mendesah, sudah mulai hafal jika Jeongguk bersikap seperti itu maka ada sesuatu yang sangat menganggu pikirannya dan Taehyung tidak sabar untuk mencari tahu apa namun dia memilih untuk membiarkan hingga Jeongguk sendiri yang memilih untuk bercerita.
Berpamitan pada Security, Taehyung bergegas mengejar Jeongguk ke arah parkiran mobil sebelum berseru. “Ketemu di kos!” Dan berlari ke parkiran motor karyawan tanpa menunggu jawaban Jeongguk.
Dia mengeluarkan motornya yang tadi dipanaskan karena sudah dua hari tidak menyala. Taehyung sedang mengetes gasnya saat Rubicon perak berhenti di depan parkiran motor karyawan dan menunggu tanpa suara.
Taehyung tersenyum kecil sebelum dia menaiki motornya, menurunkannya dari parkiran motor dan meluncur di jalanan menjauh dari Banyan Tree Ungasan. Rubicon Jeongguk mengikutinya dari belakang, membantu Taehyung menyinari jalanan di depannya.
Dan ini membuat perasaan Taehyung sedikit lebih tenang melewati jalanan antah-berantah yang harus dilewatinya setiap pulang bekerja; sepi dan hanya ada padang tandus sejauh mata memandang. Derum dan cahaya lampu Rubicon Jeongguk sangat membantu menenangkan hatinya.
Saat bergabung dengan jalan raya, Taehyung langsung kehilangan Jeongguk karena mobilnya terjebak kemacetan jam pulang kantor sementara motor Taeyung meluncur dengan mulus menyelip di antara mobil-mobil yang berhenti.
Sehingga dia tiba lebih dahulu di kosannya dan bergegas mandi, dia ingin menemani Jeongguk dengan fokus maka dia harus mempersiapkan kenyamanannya sendiri. Dia baru saja selesai mandi, sedang mengelap tubuhnya yang lembab saat ponselnya berdering.
Jeongguk.
Dia mengangkatnya, “Halo?” Sapanya. “Masuk saja, lurus. Kamarku di ujung, sisi bagian kanan.” Katanya, bergegas melempar handuknya ke ranjang, meraih pakaian dari lemarinya.
“Kita...” Bisik Jeongguk lembut hingga membuat tubuh Taehyung berdesir karena ini pertama kalinya Jeongguk menggunakan nada selembut dan sepelan itu pada Taehyung.
“Bagaimana jika kita ke rumahku saja?”
Rumah Jeongguk berada di perumahan yang rapi. Ukurannya minimalis dengan dua lantai. Di bagian balkon atasnya ditanam likuanyu yang menjulur turun, membentuk tirai tebal yang cantik dan ujung-ujungnya dipotong rapi. Ada taman mungil di bagian depannya, terisi beberapa pot tumbuhan yang nampak segar dan pohon kamboja kuning yang harumnya semerbak.
Benar kata Yugyeom, jaraknya sangat dekat dengan kosan Taehyung. Hanya melewati satu pom bensin dan mereka berbelok ke kompleks perumahannya. Bahkan Taehyung kaget karena jaraknya yang begitu dekat.
Lampu teras menyala, ada seperangkat kursi rotan di sana dan rak sepatu diletakkan di sisi kanan teras; Taehyung mengenali beberapa sepatu yang pernah digunakan Jeongguk.
Saat mereka tiba, Jeongguk turun dari mobilnya yang menyala dan membuka gembok gerbangnya yang berdentang keras. Dia mendorongnya terbuka sebelum memasukkan mobilnya ke dalam garasi dengan cara mundur. Taehyung turun tepat sebelum mobil sepenuhnya memasuki garasi dan menunggu Jeongguk di teras rumahnya.
Mobil berderum sekitar lima menit sebelum akhirnya mati dan keheningan mendadak membuat telinga Taehyung agak berdenging.
Kompleks perumahan itu tidak terlalu ramai, tidak banyak anak-anak atau ibu-ibu yang berkumpul di jalanan. Mungkin karena ini pukul enam sore, semua orang pasti sedang berada di rumahnya masing-masing menikmati waktu bersama keluarga.
Suara Adzan terdengar sayup-sayup di kejauhan bersamaan dengan suara Puja Tri Sandya umat Hindu yang juga diputar di pura perumahaan itu. Suaranya saling tumpang-tindih di udara namun entah bagaimana, membuat Taehyung merasa sedang bernostalgia.
Suara ini sudah terasa sangat akrab dengan kesehariannya di Bali selama ini.
Jeongguk keluar dari garasi, menarik pintunya tertutup dengan kedua lengannya yang padat, menguncinya sebelum memilah anak kunci untuk membuka pintu depan. Taehyung mengekor saat Jeongguk menaiki undakan ke arah pintu.
Dia menyelipkan anak kunci yang bergemiricing ke pintu lalu membukanya dengan suara klik! ganda. Jeongguk mendorongnya terbuka dan Taehyung langsung mendapati dirinya dipeluk oleh aroma tubuh Jeongguk yang sangat tebal dan kental di udara.
Taehyung menghela napas dalam-dalam, memenuhi paru-parunya dengan aroma Jeongguk yang terasa memabukkan.
“Maaf berantakan.” Kata Jeongguk, menekan saklar lampu dan menerangi ruang tengah rumahnya.
Ada televisi dan seperangkat sofa di bagian kanan dan dapur mungil yang nampak lengkap di sudutnya—terlalu lengkap untuk ukuran dapur yang tidak terlalu besar. Jeongguk punya microwave, air-fryer, kompor yang menyatu dengan oven tanam, beberapa frying pan standar dapur profesional, jejeran herbs dan bumbu dalam toples-toples kaca mungil berlabel dan bahkan knife sets yang berada di konter dapur. Sekeranjang buah tropis diletakkan di sudut konter.
Rumah itu memiliki taman kecil lagi di belakang, penerangannya remang-remang jadi Taehyung tidak terlalu bisa melihat isinya selain siluet palem-palem montok yang ditanam di bagian sudut.
Di atas meja ruang televisi, ada gelas yang tidak sempat dibereskan dan piring kotor. Jeongguk yang menyadari itu bergegas mengambilnya, meletakkanya di tempat cuci piring.
“Silakan ambil makanan atau minuman di kulkas.” Katanya, sekarang nampak sedikit kikuk karena mungkin inilah pertama kalinya dia membawa orang selain Yugyeom ke rumahnya. “Tapi aku hanya punya buah dan sayuran.”
Taehyung tersenyum. “Tidak masalah.” Katanya. “Silakan mengganti bajumu atau mandi, aku akan menunggu di sini.” Dia melangkah ke sofa, mendudukkan dirinya di salah satunya dan mendesah saat merasakan empuknya per-per dan busa di dalamnya.
Jeongguk diam sejenak di depan kulkas, nampak bingung sebelum meraih gagang pintu kulkas. Mengambil sebotol jus organik miliknya dan melangkah ke arah Taehyung, meletakkannya di meja. Taehyung menatap botol itu, jus buah naga ungu lalu mendongak pada Jeongguk.
“Trims.” Dia tersenyum, meraih botol itu dan membukanya.
Jeongguk menatapnya sekali lagi, nampak menerawang dan linglung hingga Taehyung merasa hatinya nyeri. Apa pun yang menganggu Jeongguk, hal itu pasti sangat serius hingga dia benar-benar tersesat di dalamnya.
Taehyung mendesah, dia memberanikan diri meraih tangan Jeongguk yang terasa dingin oleh suhu dan pemuda itu tersentak kaget karena sentuhannya dan refleks Taehyung langsung melepaskan genggamannya.
“Maaf!” Dia meringis, menjauhkan tangannya seolah benda itu bisa membakar Jeongguk. “Apakah aku membuatmu tidak nyaman?”
Jeongguk mengerjap, menatap tangannya lalu menatap Taehyung. “Tidak, aku hanya kaget.” Sahutnya lirih, nampak kecil dan ringkih hingga sejenak Taehyung berpikir haruskah dia pulang saja jika Jeongguk ternyata tidak ingin ditemani?
“Jika kau sedang ingin sendirian,” Taehyung tersenyum, memilih kata-kata yang akan diucapkannya dengan penuh perhatian dan menjaga nadanya tetap lembut agar Jeongguk tidak merasa terintimidasi.
“Aku akan pulang saja. Aku tidak ingin memaksamu menceritakan apa pun jika kau tidak ingin dan belum siap.”
Jeongguk tidak menjawab, dia masih nampak berdebat dengan dirinya sendiri, menjulang di sisi sofa yang diduduki Taehyung. Dia menunggu dua menit sebelum akhirnya berdiri. Tidak apa-apa jika Jeongguk belum bisa mengatakan apa pun.
“Tidak apa-apa, sungguh.” Taehyung tersenyum lembut. “Tidurlah, oke? Ketemu besok di hotel?”
Jeongguk menatapnya, wajahnya berkerut-kerut dan setiap kerutannya mengirimkan tusukan ke hati Taehyung. Dia nampak lemah, terekspos dan kelelahan. Sangat berbeda dengan Jeongguk yang setiap hari ditemui Taehyung; dia seperti seorang bayi yang telanjang. Lemah dan ringkih.
Taehyung ingin memeluknya, tapi tidak yakin Jeongguk dapat menangguhkan kontak fisik menilik dari bagaimana caranya menjalani kehidupan sosial.
Namun Taehyung merasa tidak ada salahnya mencoba.
“Kau...” Dia menatap mata Jeongguk yang nampak berkilat oleh rasa takut dan lelah yang membuat Taehyung kebingungan; apakah tidak apa-apa jika dia meninggalkan Jeongguk sendirian?
“Mau kupeluk?” Tanyanya kemudian, tidak tahan lagi. “Satu pelukan tidak akan menyakiti siapa pun.” Tambahnya, merentangkan kedua lengannya mengundang Jeongguk untuk masuk ke dalamnya.
“Mungkin akan membuatmu merasa lebih baik.” Taehyung kembali berbisik, mencoba meyakinkan Jeongguk yang nampak seperti singa yang sedang terluka.
Di luar dugaan, Jeongguk tanpa aba-aba melangkah ke arahnya dan merengkuh Taehyung dalam pelukannya yang luar biasa hangat. Kedua lengannya membekap Taehyung dengan kuat hingga dia terkesirap, Jeongguk mengubur wajahnya di cerukan leher Taehyung dan menghela napas dalam-dalam.
Seluruh tubuh Taehyung berdenyar oleh sentuhannya.
Semua saraf dan organnya berdenyut menggila karena aroma tubuh Jeongguk tercium begitu luar biasa di cuping hidungnya. Taehyung membalas pelukannya, menumpukan dagunya di bahu Jeongguk dan memejamkan mata.
Ini bukan pelukan hiburan pertama yang diberikan Taehyung pada seseorang, namun hanya pelukan ini yang dapat membuat Taehyung merasakan tiap sakit, letih dan gundah Jeongguk nyaris seperti dirinya sendirilah yang mengalaminya.
Mungkin Taehyung telah jatuh ke neraka lebih dalam dari apa yang dipikirkannya.
Telapak tangannya membelai punggung Jeongguk perlahan. “You've done great today.” Bisiknya lembut disela deru napas Jeongguk di lehernya.
Telapak tangan Jeongguk menempel di punggungnya, sekarang terasa hangat dan perlahan terasa membakar kulit Taehyung menembus lapisan kain pakaiannya. Mereka bersidiam selama beberapa saat, Taehyung membiarkan Jeongguk melumer dalam pelukannya dan memberikannya waktu hingga dia siap untuk mengatakan apa pun.
Dekapannya pada Taehyung tidak mengendur, malah semakin erat hingga Taehyung sejenak kehabisan napas namun dia tertawa kecil dan membelai punggung Jeongguk lebih hangat lagi.
Dengan sedih menyadari mungkin selama ini Jeongguk tidak pernah dipeluk. Tidak pernah ditanya apakah dia baik-baik saja. Tidak pernah menunjukkan pada siapa saja betapa lelahnya dia.
Taehyung menatap seluruh ruangan dengan sendu.
Mungkin setiap hari, Jeongguk akan pulang ke rumah yang kosong dengan lelah mendera fisik dan mentalnya, tidak menemukan siapa pun untuk diajak berbagi dan bicara. Apalagi sekarang setelah adiknya menikah dan sudah akan memiliki anak, Yugyeom yang sibuk dan kedua orangtuanya yang jauh.
Memikirkannya membuat pelukan Taehyung mengerat. Seolah dia ingin memeluk tiap bagian diri Jeongguk yang lelah dan berhamburan, menyatukannya menjadi utuh kembali; menjadi Jeongguk yang sempurna lagi.
Taehyung paham kesendirian itu. Dia paham bagaimana rasanya kembali ke kamar dan merasa sendirian; lelah namun tidak ada yang bisa diajak berbagi. Lelah yang tidak akan sembuh hanya dengan tidur. Karena yang lelah, bukanlah fisik mereka.
Namun hati dan pikiran mereka.
Taehyung juga paham bagaimana rasanya ketika menoleh, membutuhkan bantuan, tidak ada yang sedang meluangkan waktu untuknya. Taehyung paham rasanya sendirian ketika membutuhkan pertolongan, maka dia selalu berjanji pada dirinya sendiri kapan pun dia mampu dia akan menemani siapa pun yang membutuhkan bantuannya.
Taehyung paham apa yang dirasakan Jeongguk.
Apalagi setelah mendengar cerita dari ibunya tentang masa kecil si Kembar dan bagaimana Jeongguk menyikapi kecelakaan itu.
“Kau hangat.” Bisik Jeongguk teredam di lehernya dan Taehyung harus menahan dirinya sendiri agar tidak tertawa karena bagian leher adalah bagian paling sensitif dari tubuhnya. “Aromamu seperti vanila.”
“Yep. Itu aroma dasar seorang pastry chef. Tidak pernah mau hilang.” Sahut Taehyung lembut. “Bolehkah kita duduk? Kakiku pegal.”
Jeongguk mengerjap, lalu menguraikan pelukan mereka dan Taehyung langsung mengigil karena kehilangan suhu tubuh Jeongguk yang hangat. “Maaf.” Bisiknya serak dan parau.
“Tidak masalah.” Taehyung mendudukkan dirinya di sofa dan merentangkan tangannya. “Kemarilah. Free hug-nya masih berlaku, kok.” Tambahnya tersenyum menyemangati.
Jeongguk tersenyum kecil walaupun senyuman itu tidak menyentuh matanya dan mendudukkan diri di sisi Taehyung. Sejenak kikuk karena tidak yakin pada apa yang diinginkannya, maka Taehyung menjulurkan tangan dan merengkuhnya ke dalam pelukannya.
Dan detik Jeongguk terbungkus nyaman dalam pelukannya, chef senior itu mendesah keras. Tubuhnya gemetar, seolah dia sangat membutuhkan pelukan itu. Seolah hidupnya bergantung pada sentuhan itu. Dan Taehyung mendesah kecil saat perlahan, helaan napas Jeongguk berubah menjadi tangisan lirih tanpa suara.
Bahunya berguncang saat dia terisak, berusaha kuat untuk menyembunyikan air mata dan meredam isakannya walaupun air matanya merembes ke kaus Taehyung dan membuatnya basah.
“Tidak apa-apa.” Bisik Taehyung lembut, membelai punggung bidang Jeongguk. “Lepaskan saja. Dilepaskan.”
Dan sambil terisak, Jeongguk kemudian menyeritakan semuanya. Bendungan yang selama ini dibangunnya, dijaganya kali ini runtuh, porak-poranda sehingga semua perasaannya yang selama ini ditahannya untuk dirinya sendiri menghantam Taehyung seperti banjir bah.
Taehyung merupakan tipe yang sangat vokal tentang perasaannya; jika dia suka, dia akan mengatakannya. Begitu pula jika dia tidak suka, semuanya terang-terangan. Kepada siapa saja—entah keluarga atau orang yang baru ditemuinya.
Sangat berbeda dengan Jeongguk yang jika dihadapkan dengan keluarganya, dia memilih untuk membotolkan semua emosinya hingga dia nyaris meledak.
Jeongguk menyeritakan kenangan tentang tenggelamnya Jeonggi dengan versi lebih kacau karena dia sedang menangis. Menyeritakan bagaimana dia merasa dia bertanggung jawab atas kejadian itu; dia yang menyebabkan Jeonggi tenggelam.
Dia yang mendorong Jeonggi ke sungai.
Dia tidak menjaga Jeonggi dengan baik. Dia kakak yang buruk dan berapa tahun pun menjadi kakak yang menjaga Jeonggi tidak akan bisa menggantikan hari itu; tidak bisa menyembuhkan luka di hati Jeongguk. Dia membuat Jeonggi trauma seumur hidup walaupun Jeonggi tidak menyadarinya sama sekali.
Hal yang membuat Jeongguk semakin frustasi dan memutuskan bahwa dia harus mengorbankan seluruh kebahagiaannya demi menjaga Jeonggi adalah saat mereka pergi belajar berenang dan Jeonggi tiba-tiba saja tenggelam. Begitu saja. Otaknya kram karena dia terserang trauma hebat yang dia sendiri tidak pahami sebabnya.
Sejak saat itu, Jeongguk melarang semua aktivitas air untuk Jeonggi.
Mengetatkan perlindungannya pada Jeonggi, menjaganya dari semua hal bahkan diri Jeonggi sendiri. Menimpakan tanggung jawab yang nyaris terlalu besar di bahunya, menekannya seperti langit menggencet Atlas di bawahnya.
Dan inilah pertama kalinya dan kepada Taehyung, Jeongguk mengeluh sepanjang usianya hidup sejak hari Jeonggi tenggelam.
Mengendurkan pertahanan dirinya, merendahkan tameng yang selama ini melindunginya dan melepas semua pakaiannya. Berdiri telanjang di depan Taehyung, membiarkan Taehyung menyentuhnya dan mengobati setiap carut-marut luka yang ada di sekujur tubuhnya.
Meskipun Jeonggi selalu berusaha mengusir Jeongguk, memintanya berbahagia dan melanjutkan hidup, Jeongguk selalu merasa dia tidak seharusnya berberbahagia. Dia tidak layak berbahagia setelah kejadian itu; Jeonggi-lah, sang korban, yang layak mendapatkan segala kebahagiaan di dunia ini.
Menurut Jeongguk menderita dan sendirian adalah satu-satunya cara untuk membayar kesalahannya.
Taehyung memejamkan matanya, mendengarkan dengan tenang setiap ucapan Jeongguk yang lirih dan tersedak oleh isakannya sendiri. Mereka bertahan di sana, di sofa ruang tengah di tengah keheningan rumah Jeongguk.
Taehyung tidak ingin memburu Jeongguk, dia membiarkan cokelat keras itu meleleh sendiri dalam suhu air mendidih. Dia hanya akan mengaduknya perlahan, memastikan tidak ada bagian yang gosong sementara air menggelegak di bawahnya.
Perlahan, cokelat itu mulai encer dan Taehyung menuangkan susu ke dalamnya agar adonannya tidak cepat membeku kembali. Dia ingin cokelat hangat ini tetap lumer dalam genggamannya, hingga dia berhasil menjadikannya sebuah kreasi cantik yang akan memukai semua orang.
Jeongguk boleh saja nampak sekeras karang di luar sana, namun Taehyung sungguh berharap dia bisa menjadi sesabar ombak yang perlahan dan secara konsisten dapat menggerusnya perlahan; meminta karang itu terbuka dan nyaman padanya.
Taehyung terus menemaninya, terus mendengarkan dengan tenang dan telaten hingga akhirnya Jeongguk bergeming. Kelelahan menangis hingga dia jatuh tertidur.
“Dasar monster,” bisik Taehyung lembut saat Jeongguk mulai mendengkur di pelukannya.
Dengan perlahan, dia memindahkan tubuh Jeongguk yang bersandar di bahunya ke sandaran kursi. Wajahnya nampak lelah dan sisa air mata mulai mengering di pipi dan sudut matanya. Taehyung meraih selembar tisu basah dan mulai mengelapnya dengan perlahan agar tidak membangunkan Jeongguk.
Setelahnya, Taehyung mengunci pintu depan. Memastikan semua pintu dan jendela terkunci, menutup tirai-tirai sebelum mendudukkan diri di sofa di sebelah Jeongguk dan memejamkan mata.
Dan terbangun dengan kepala Jeongguk di pangkuannya.
“Hei.” Sapa chef itu saat mata Taehyung terbuka; dia melirik jam dinding dan menyadari ini baru dini hari.
“Hei.” Balas Taehyung parau dan serak, lehernya nyeri karena dia tidur dengan posisi yang tidak nyaman. Begitu pula tulang punggungnya—menjadi tua ternyata membawa banyak sekali masalah khususnya pertulangan dan persendian.
Jeongguk nampak sangat nyaman di pangkuannya. “Kau boleh naik tidur di kamar tamu.” Katanya, namun tidak beranjak dari pangkuan Taehyung dan itu membuatnya tertawa.
“Hm. Begitu?” Tanya Taehyung lembut, menyisir rambut Jeongguk perlahan dengan jemarinya. “Lalu kenapa kau tidak bangun?”
Jeongguk memejamkan mata di bawah sentuhannya. “Aku tidak ingin bangun.” Bisiknya lirih dan gemetar.
“Lalu bagaimana caraku naik ke kamar tamu?”
“Itu hanya basa-basi. Kau harusnya menjawab: 'tidak, aku akan menemanimu di sini.'”
Taehyung tertawa serak. “Dan kenapa aku harus menjawab begitu?”
Mata Jeongguk terbuka, langsung menatap ke mata Taehyung. Mata itu sembab dan sedikit bengkak, warnanya masih merah pudar karena menangis dan kurang tidur. Namun kekuatan pandangan itu masih sama pada seluruh sistem di tubuh Taehyung.
Dia meraih tangan Taehyung yang menyisiri rambutnya lalu mengecup bagian dalam pergelangan tangannya, tepat di denyut nadi Taehyung yang langsung melonjak kaget oleh sentuhan itu.
Bibir Jeongguk terasa lembut dan hangat, mengirimkan rasa tergelitik aneh di dasar perutnya. Chef itu memejamkan mata, dengan bibir di pergelangan tangan Taehyung.
Lama dan dalam. Terasa begitu intim hingga Taehyung gemetar di bawah ciumannya dan kepalanya mulai terasa pening.
Kemudian Jeongguk membuka mata, melepas ciumannya dengan perlahan. Dia nampak indah dan sendu, seperti sayap capung yang tipis, indah namun rapuh. Dan sebelum Taehyung sempat mengatakan apa pun untuk menggodanya, Jeongguk mengulurkan tangan dan menjulurkan lehernya.
Dia meraih tengkuk Taehyung, memaksanya merunduk dan mencium bibirnya.
Ini kali kedua Jeongguk menyiumnya dan sensasinya tetap sama.
Sesuatu terasa meledak di dalam tubuh Taehyung detik bibir mereka bertemu. Lembut, basah dan hangat. Jeongguk menyiumnya dengan perlahan; seperti menyicipi makanan mewah yang dimasak secara artisan.
Seperti menikmati foie grass—membiarkan hati angsa yang lembut itu lumer dalam hangatnya rongga mulutnya.
Dia mendecap Taehyung, menyecapnya dengan perlahan; menikmati setiap detik yang digunakannya.
Dan Taehyung bergetar dalam ciumannya. Tangannya menyentuh wajah Jeongguk, merasakan permukaannya di atas semua jemarinya. Leher dan punggungnya yang menjerit nyeri diabaikan. Semua organ, saraf dan otot Taehyung hanya berfokus pada bibir Jeongguk di bibirnya.
Dia tidak menyangka, cinta di usianya yang sekarang bisa memberikannya ledakan kembang api dan jutaan kupu-kupu yang mengepak di bagian dasar perutnya. Membuatnya terasa melayang oleh adrenalin dan kebahagiaan. Hingga dia yakin dia akan meledak.
Taehyung dulu pasti mengencani orang-orang yang salah.
Tidak ada yang bisa memberikannya perasaan seperti ini, membuatnya merasa seperti ini; membuatnya tersesat dalam tubuhnya sendiri karena tiap sentuhan menyiptakan perasaan baru yang tidak pernah dirasakan Taehyung sebelumnya.
Karena saat dia berada digenggaman Jeongguk, dia berubah menjadi manusia yang utuh dan baru. Perjalanan panjangnya menembus hutan hujan yang tropis yang liar dan tidak terjamah, terbayarkan dengan harta karun yang indah.
Seperti Taehyung menyingkap semak terakhir, menemukan Jeongguk yang sendirian di dalam sana—menamengi diri dengan semak belukar berduri berharap tidak akan ada yang berusaha menjejakkan kaki ke dalam perlindungannya.
Atau menemukannya.
Namun Taehyung terus melangkah, terus menyingkap tiap semak-belukar yang menghalanginya. Berusaha menundukkan hutan liar itu di bawah kakinya, hingga akhirnya Jeongguk melonggarkan perlindungannya; mengizinkan Taehyung untuk menemukannya.
“I found you.” Bisik Taehyung lirih saat Jeongguk menguraikan ciumannya. Mereka bertatapan dalam dengan jantung berdebar keras hingga telinga Taehyung berdenging karenanya.
Keduanya terpesona pada satu sama lain, seolah sedang menatap mimpi yang akan lenyap jika mereka membuka mata. Taehyung menyentuh wajah Jeongguk bersamaan dengan tangan Jeongguk menyentuh wajahnya; saling menakup wajah dengan tangan mereka.
Taehyung bersandar dalam sentuhan Jeongguk di pipinya dan Jeongguk melakukan hal yang sama.
“And you're safe with me.”
*