Sizzling Romance #213

*Virtual Tour: On Google Earth View sets the navigation from Penelokan, Kintamani to Trunyan. enjoy! x


Taehyung melompat turun dari Rubicon Jeongguk saat mereka akhirnya berhenti di tanah lapang, tempat jalanan besar berhenti.

Mereka tadi menuruni jalanan menuju arah Gunung Batur yang berliku dan licin oleh sisa-sisa pasir karena banyak truk-truk pengangkut pasir yang berpapasan dengan mereka dan beberapa dari mereka yang menurunkan muatan tepat di jalan belokan berbahaya sebelum tanjakan menuju Penelokan.

Indahnya Indonesia, pikir Taehyung getir saat mereka menuruni jalan dan melihat sebuah truk besar dengan dua orang pengangkut pasir sedang menyekop muatannya untuk ditinggal menumpuk di badan jalan.

Mereka meluncur terus mengikuti jalan, pemandangan danau yang nampak begitu dekat membuat Taehyung menurunkan jendelanya; membiarkan angin dan debu menampar wajahnya saat dia menikmati sejuknya hawa Kintamani yang mengigit hidungnya.

Jalanan menjadi rusak beberapa meter sebelum mereka tiba di ujung jalan dan mobil membelok ke arah kanan dengan papan penunjuk “Desa Trunyan”. Mereka melewati Pura Desa yang besar dengan beringin rindang yang membuat Taehyung tersenyum karena perasaan nyaman saat melihatnya.

Karena jalanan di depan mereka mengecil dan menyempit, Jeongguk memarkir mobilnya di halaman pura lain yang besar dan menelepon seseorang. Taehyung duduk di kursi penumpang, dengan pintu terbuka dan Jeongguk berdiri di bawahnya, sedang mengunyah potongan celery dengan hummus buatan Jeongguk.

“Kita akan naik apa dari sini?” Tanya Taehyung, mengunyah batang sayuran berair itu dengan suara garing yang menyenangkan. Ternyata rasa snack Jeongguk yang sangat sehat itu tidak buruk juga.

Jeongguk mengerlingnya dan Taehyung seketika menyadarinya.

“Tidak...” Katanya, mendadak kehilangan nafsu makan. Apakah mereka akan menaiki monster sial seperti yang digunakan Jeongguk saat mereka pergi ke kebun stroberi....?

Demi Tuhan...

“Ya.” Sahut Jeongguk, terhibur dengan ekspresi Taehyung. “Karena jalannya kecil dan ekstrim, jadi aku minta mereka memberikanku trail untuk hari ini.”

Taehyung berhenti mengunyah camilannya, kehilangan minat.

“Dan aku juga minta mereka memberimu helm.” Tambah Jeongguk seolah hanya dengan mengatakan itu dia bisa menjamin Taehyung tidak terlempar dari motor sialan itu dan mematahkan tulang lehernya.

“Apa salahnya dengan motor bebek? Matic?” Protes Taehyung, menutup kotak bekal mereka dan memasukannya ke tas makanan yang dibawa Jeongguk tadi.

“Jalannya ekstrim.” Ulang Jeongguk dengan sabar seperti seorang guru yang menjelaskan kepada muridnya bahwa 1+1=2 dan itu absolut. “Motor trail akan membuat perjalanan lebih menyenangkan.”

Menyenangkan.” Taehyung mendengus, jelas menyadari bahwa cara mereka menikmati adrenalin sangatlah berbeda.

“Kau akan menyukainya.” Jeongguk mendongak, menatapnya dengan senyuman cerah di bibirnya—rambutnya berhamburan karena angin yang bertiup dan dia nampak indah sekali, walaupun tempat itu beraroma amis ikan yang tidak diapresiasi Taehyung sama sekali (tapi mau bagaimana lagi, pesisir danau memang begitu).

Jantung Taehyung selama sedetik berhenti berdetak karena senyuman itu sebelum dia berhasil membalas senyuman Jeongguk. “Baiklah.” Katanya, menyimpan camilan mereka yang akan ditinggalkan di sini.

Mereka tadi sudah mampir untuk makan di restoran yang kata Jeongguk enak dan dulu jadi favoritnya sebelum memutuskan untuk menjadi vegetarian. Menunya nasi campur babi dan walaupun Jeongguk tidak makan (dia makan spaghetti pesto-nya), Taehyung menyukai rasanya.

Bumbu-bumbu Bali selalu berhasil membuat lidah Taehyung mendecap-decap kesenangan. Tajam, kuat dan intens. Membuat lidahnya terus mencari setelah selesai makan, merindukan rasa-rasa eksotis yang meledak di rongga mulutnya itu.

Dan setelah menyelesaikan wisata mereka ke Trunyan, Jeongguk mengajak Taehyung piknik di suatu tempat yang masih dirahasiakannya.

Panjang umur karena kemudian motor mereka datang dan Taehyung mendesah keras saat trail yang jauh lebih sangar dan galak datang dari kejauhan ditemani motor-motor trail lain yang sama tidak sopannya.

Jeongguk menyambut mereka, bertukar salaman hangat pada semuanya. “Apa kabar?” Tanyanya dalam bahasa Bali kasar yang membuat Taehyung tersenyum karena logatnya yang kental dan tebal.

“Baik, baik!” Balas pemimpin grup itu tersenyum lebar dengan bahasa Bali yang logatnya sedikit berbeda dengan Jeongguk. “Kau sendiri bagaimana? Terakhir kali bertemu kau masih belum sesibuk sekarang! Aku kaget sekali saat kau meneleponku minggu lalu meminta ditemani ke Trunyan.”

Jeongguk mengulaskan senyuman tipis. “Temanku,” dia mengedikkan dagu ke Taehyung yang melompat turun dari mobil lalu menyalami semuanya dengan hangat. “Baru di Bali dan penasaran dengan Trunyan.”

Pemimpin rombongan itu menyalami Taehyung terakhir, erat dan hangat. “Halo.” Sapanya dengan bahasa Indonesia bernoda logat Bali. “Saya Tanu.” Dia tersenyum lebar—dia memiliki postur tubuh tinggi berisi dengan kulit sawo matang, seperti seorang petualang sejati dan garis wajah Bali yang tajam.

“Halo.” Balas Taehyung. “Taehyung.” Dia tersenyum ramah sebelum melepaskan tangannya.

“Sudah pernah tahu Trunyan?” Tanya Tanu pada Taehyung, basa-basi ramah yang membuat Taehyung hangat karena merasa diterima.

“Belum.” Katanya jujur. “Tapi teman saya menceritakan garis besarnya.”

Tanu mengangguk. “Di kuburan kami, ada sebuah pohon taru menyan besar yang membuat pembusukan mayat tidak tercium busuk sama sekali.” Dia tersenyum. “Dan karena desa kami terletak di sisi danau, maka kami mengungsikan pemakaman ke tanah lain yang jauh dari desa.”

“Nanti kau juga akan melihat kuburan bayi kami.” Tambah Tanu saat mereka masing-masing mulai menaiki sepeda motor mereka dan Taehyung sekali lagi, tidak mendapatkan helm sama sekali karena “Jaraknya dekat kok!”.

“Kau tahu tidak?” Gerutu Taehyung saat duduk di jok belakang, kedua tangannya beristirahat santai di kedua paha Jeongguk yang mengetes sepeda motornya yang menggeram di bawah mereka.

“Apa?” Tanya Jeongguk melirik dari spionnya.

“Kata mereka jaraknya dekat, jadi kita tidak pakai helm.” Taehyung memulai sementara dua motor lain di sisi mereka juga meraung saat dinyalakan.

“Ya. Lalu?” Balas Jeongguk, sekarang menolehkan kepalanya untuk menatap Taehyung yang menelengkan wajahnya agar mereka bertatapan.

“Percuma dekat,” dia tersenyum lebar, “Kalau tidak jadian.”

Jeongguk kemudian menghadiahinya dengan suara tawa lepas yang membuat perut Taehyung dipenuhi kupu-kupu yang mengepakkan sayap mereka dengan ceria sementara mereka meluncur di jalanan desa yang sepi di atas motor trail.

“Itu sindiran?” Tanya Jeongguk setelah tawa langkanya reda.

Taehyung mengedikkan bahu walaupun dia tahu Jeongguk tidak akan melihatnya, “Kurang tahu, ya. Tergantung bagaimana Chef menangkapnya saja.”

Jeongguk mendenguskan senyuman lebar, namun tidak menjawab.

Desa itu ramah dengan rumah-rumah berjajar rapi, jalanan yang bersih dan aroma pedesaan yang khas. Jalanan perlahan semakin dan semakin mengecil hingga akhirnya mereka tiba di jalan yang berada di pinggir tebing, dengan bukit di sisi kanan dan pemandangan lepas Danau Batur di sisi kiri.

Jalan mereka hanya cukup untuk satu mobil, itulah kenapa Jeongguk memilih menggunakan motor karen Rubicon akan membuat jalanan itu penuh. Taehyung menahan napasnya saat mereka melaju menembus jalan kecil yang menghadap langsung ke danau lepas walaupun setengah hatinya takut mereka tergelincir dan terjun bebas ke arah kiri.

Pepohonan besar dan rindang menaungi perjalanan mereka dengan angin keras yang beraroma tipis amis ikan air tawar yang sekarang mulai terasa normal di hidung Taehyung. Ada kebun-kebun kol yang ditanam miring sesuai bentuk tanah desa di beberapa tempat; nampak basah sehabis disiram. Selang-selang plastik dijulurkan dari danau, airnya diangkat naik dengan pompa-pompa yang berdengung.

Ada kebun bawang merah yang daunnya beriak saat tertiup angin. Bunga-bunga bogenvil yang bergoyang tertiup angin dengan warna-warna semarak musim kemarau: merah, oranye, merah jambu dan putih. Tumbuh dalam batang-batang raksasa yang rimbun.

Taehyung menyeka rambutnya, tersenyum saat menikmati perjalanan mereka walaupun di bawah teriknya matahari yang menyengat. Jeongguk mengemudi dengan tenang, mengikuti teman-temannya membelah pemukiman demi pemukiman.

“Haloo!” Sapa Taehyung bersemangat, menjulurkan tangannya tiap menemui anjing peliharaan warga di jalan dan tertawa saat anjing itu menyalak, mengejar mereka dengan gonggongan nyaring.

“Jangan begitu!” Seru Jeongguk dari depan, namun Taehyung bisa mendengar secercah nada humor dalam suaranya. “Nanti mereka mengigit tanganmu!”

“Tidak!” Tukas Taehyung ceria. “Mereka baik!”

“Terserah kau.” Balas Jeongguk dengan senyuman di dalam suaranya.

Mereka membelok, ke arah jalan kecil lain dengan pemandangan danau yang jauh lebih menakjubkan; lepas dan luas serta langit yang cerah tanpa awan. Ada rumah-rumah kecil yang dibangun di pinggir danau dengan pelampung-pelampung jala yang mengambang di sekitarnya.

“Itu apa?” Tanya Taehyung, mendekatkan wajahnya ke Jeongguk seraya menunjuk ke rumah kecil yang mereka lewati.

“Tempat nelayan mengambil hasil jala.” Sahut Jeongguk, menunjuk dengan matanya perahu sederhana yang ditambat di sisinya. “Untuk istirahat.”

Taehyung mengangguk, “Ooh!” Katanya, mengamati rumah itu dan menoleh saat mereka melewatinya. “Selain ikan, mereka punya apa lagi?”

Jeongguk melepas satu tangannya, melambai ke arah kebun-kebun di tanah landai perbukitan; kol-kol gendut segar, pohon bawang merah yang subur dan rimbun. “Bawang merah karena lokasinya cocok.”

Taehyung meraih ponselnya, berusaha mengabadikan pemandangan di depannya dan itu membuat Jeongguk berdecak sebal. “Nanti jatuh!” Katanya, dengan nada memperingati yang keras.

“Tidak,” balas Taehyung ceria. “Kau tidak akan membiarkanku jatuh, 'kan.”

“Tentu saja tidak.” Sahut Jeongguk seketika dan Taehyung tersenyum semakin lebar. “Tapi jika kau terguling, aku juga akan terguling. Jika aku jatuh, bagaimana aku bisa menahanmu agar tidak jatuh?”

Taehyung tertawa, berhasil mengambil beberapa gambar sebelum menyimpan kembali ponselnya—agar atasannya tidak mengomel.

“Siap, Chef.” Katanya ceria lalu melingkarkan kedua lengannya di pinggang Jeongguk hingga chef senior itu terkesirap kaget dan motor mereka oleng.

Keduanya berseru tertahan berbarengan dan Taehyung otomatis memeluk Jeongguk semakin erat. Jeongguk berhasil menahan kepala motor, dia membelokkan arah kepala motor ke tebing yang lebih aman daripada meluncur bebas ke danau dan menjejak kakinya kuat-kuat di tanah agar mereka tidak terguling.

Ketiga teman-teman Jeongguk menoleh dari motor mereka, memastikan mereka baik-baik saja. “Kau oke?!” Seru Tanu, menepuk bahu temannya untuk menepi.

“HATI-HATI!” Seru Taehyung, jantungnya nyaris saja jatuh ke tanah karena kaget setelah mereka berdiri dengan stabil di tengah jalan; motornya berhenti melintang di tengah jalan.

Jeongguk menoleh pada Taehyung yang kaget tapi geli. “Jangan begitu!” Katanya dengan gusar dan Taehyung tertawa, adrenalin membanjiri seluruh aliran darahnya hingga dia merasa sinting karena tertawa saat Jeongguk nampak marah.

Namun toh akhirnya Jeongguk menyerah dan ikut mendenguskan tawa karena melihat tawa lepas Taehyung di hadapannya. “Jangan begitu. Aku kaget.” Keluhnya, kali ini menegur dengan nada lebih tenang.

“Maaf, maaf!” Taehyung tersengal oleh tawanya sendiri. “Aku tidak tahu reaksimu akan seperti itu.”

“Tentu saja begitu!” Balas Jeongguk, telinganya memerah karena malu.

Mereka tidak sempat menyelesaikan pertengkaran mereka karena Tanu turun dari motornya, “Kau oke?” Dia berlari menghampiri mereka dan Jeongguk mengangguk padanya.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa.” Katanya, “Tadi ada kadal yang lewat dan aku kaget.” Bohongnya dengan mulus dan Taehyung tertawa kecil mendengarnya.

Setelah meyakinkan Tanu bahwa mereka baik-baik saja, mereka melanjutkan perjalanan menembus jalanan desa yang rindang. Taehyung bersikap baik dengan tidak melakukan hal-hal aneh yang bisa membuat mereka terjun bebas ke danau.

Melewati banyak perbukitan, jalanan sempit dan ladang bawang merah akhirnya mereka berhenti di tanah lapang dengan pemukiman yang sekarang aroma amis ikan bahkan semakin menusuk hingga Taehyung mengernyit.

Mereka memarkir motor di lapangan voli yang terisi gerabah yang sedang dijemur di atas kain-kain terpal berwarna mentereng. Ayam-ayam sedang berada di pinggirnya, mengais-kais gerabah dan mematuki makanan dengan suara berdeguk-deguk mereka. Matanya mengamati kedatangan motor-motor sebelum kembali mematuki gerabah.

Taehyung turun dari motor, mengamati pemukiman yang sedikit lebih padat. Beberapa anak berlarian di depan rumah yang dihiasi bunga-bunga krisan yang bermekaran. Ada pura kecil di setiap halaman penduduk dengan beberapa rumah masih menggunakan atap ilalang yang gemerisik.

Aroma amis ikan membuat kepala Taehyung sedikit pusing. Dia tidak terlalu suka aroma menyengat, maka dari itu dia bekerja di Pastry yang segalanya serba lembut dan menenangkan. Tidak seperti di Butcher atau hot kitchen.

Taehyung beranjak ke jalan yang membelah pemukiman dan menemukan bahwa jalan itu berakhir ke sebuah dermaga yang ternyata ramai. Dia bergegas melangkah, ingin mencari tahu apa yang bisa dilihatnya di ujung jalan.

Namun sebelum dia sempat menemukan apa yang bisa dilihatnya di dermaga, tangan Jeongguk menangkap tangannya.

Dia menoleh dan Jeongguk tersenyum. “Pelan-pelan.” Katanya.

Taehyung mendesah, “Baiklah.”

Tanu memimpin mereka melewati jalananan pemukiman. Melewati rumah-rumah penduduk, keranjang-keranjang ikan segar yang baru diangkat, beberapa ibu-ibu yang sedang duduk membuat sesuatu dari janur.

“Mereka membuat canang.” Kata Jeongguk saat Taehyung mengamati dua orang gadis yang duduk di teras dengan senampan bunga segar, tertawa sambil menata sedikit-sedikit bunga di atas wadah cantik dari janur. “Untuk persembahan umat Hindu setiap hari.”

Taehyung menggumamkan “ooh” panjang, masih mengamati bagaimana bebungaan itu nampak segar dan cerah. Dan bagaimana mereka nampak sangat menikmati kegiatan sederhana itu sambil bercengkerama.

Di tengah jalan, Taehyung berhenti. Menemukan persembahan yang sama seperti yang sedang mereka kerjakan. Dia mengambil gambarnya; menyukai bagaimana kombinasi warna bebungaan di atasnya nampak begitu ceria dan semarak.

Dia menegakkan tubuhnya dan menoleh, beradu pandang dengan Jeongguk yang tersenyum. “Maaf,” kata Taehyung meringis dan Jeongguk menggeleng, tidak masalah.

Mereka berhenti di dermaga yang ramai, Taehyung bersiul takjub melihat banyaknya wisatawan yang berkunjung ke tempat ini untuk melihat kuburan. Mereka semua sedang menggunakan pelampung dan siap naik ke perahu-perahu yang menunggu mereka untuk mengantarkan mereka ke Kuburan Desa Trunyan.

“Tunggu di sini dulu,” kata Jeongguk meminta Taehyung menyingkir berteduh di bawah atap sebuah warung sementara dia dan Tanu pergi ke arah perahu kecil yang terisi seorang supir.

Taehyung mengamati keadaan di sekitarnya, mengamati orang-orang yang berceloteh dengan semangat. Angin danau bertiup keras ke wajahnya, aroma amis ikan tercium samar-samar di tempat ini dan pemandangan lepas ke arah permukaan danau yang dibingkai oleh jajaran bebukitan yang hijau membuatnya senang.

“Ayo.” Ajak Jeongguk, berdiri di depannya.

Dia menarik lepas karet hitam tipis di pergelangan tangannya dengan gigi, membiarkannya menggantung di bibirnya sementara kedua tangannya naik, mengumpulkan rambutnya untuk diikat.

Tangan kirinya menggenggam rambut yang dikumpulkannya di atas tengkuk, lalu dengan tangan kanannya dia meraih karet di bibirnya dan menguncir rambutnya sebelum menoleh dan mendapati Taehyung mengamatinya.

“Apa?” Tanyanya.

Taehyung menggeleng. “Kau indah.”

Alis Jeongguk naik sebelah. “Kau sudah lihat dirimu sendiri?” Tanyanya.

Taehyung merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya. Mengecek wajahnya sendiri di layarnya yang gelap lalu mendongak. “Masih tampan.” Sahutnya.

Jeongguk tersenyum kecil, tangannya terangkat dan menepuk kepala Taehyung sayang sekali sebelum menurunkan tangannya. “Ayo, naik ke perahunya dan kita menyeberang.”

Perahu mereka terbuat dari kayu, dengan badan yang rendah sehingga saat terisi manusia, permukaan air danau nyaris menyentuh bagian ujung badan perahu sehingga Taehyung bisa dengan mudah mencelupkan jemarinya ke air danau yang kehijauan dan dingin.

Dia tersenyum, menatap wajahnya sendiri di air setelah duduk dengan nyaman di perahu dan Jeongguk menyusulnya, duduk di depannya. Perahu bergoyang-goyang lembut oleh ombak danau yang disebabkan oleh angin, menghamburkan rambut Taehyung hingga melecut wajahnya sendiri.

Dia merogoh sakunya, mengeluarkan headband dan mengenakannya sebagai menyeka rambut agar tidak menusuk matanya, memberikan udara untuk keningnya yang lembab oleh keringat.

“Kita tidak pakai pelampung?” Tanya Taehyung, mulai bertanya-tanya kenapa tiap kali dia bepergian dengan Jeongguk dia tidak pernah diberikan standar keselamatan sama sekali—helm? Pelampung?

“Jangan bilang karena dekat.” Taehyung mendelik pada Jeongguk yang mengedikkan bahunya, “Memang dekat.” Katanya kalem dan Taehyung mengerang keras.

“Kau bisa berenang, 'kan?” Tambahnya.

“Tentu saja, bisa. Tapi, bukan itu masalahnya!”

Perahu kemudian membelah danau yang tenang dengan bantuan mesin yang dikendalikan di bagian hilir. Taehyung menoleh ke depan, ke arah tujuan mereka dengan senang. Rambutnya berhamburan walaupun sudah dibantu dengan headband, Jeongguk berpindah lebih dekat ke sisinya.

Air beriak saat perahu membelahnya, menyiprati bagian sisi Taehyung yang sama sekali tidak keberatan karenanya. Perbukitan nampak jauh lebih hijau dan rindang, angin yang sejuk berhembus menghantam wajah Taehyung yang terasa tebal oleh debu dan kotoran setelah bermotor tadi.

Rambut Jeongguk yang diikat kencang tadi sekarang mulai melonggar karena angin yang menariknya, tanganya yang bebas menyeka anak rambut yang melecut wajahnya sementara tangan kanannya memegang sisi perahu dekat dengan tangan Taehyung—seolah siap menangkapnya kapan saja.

“Di sana itu,” Tanu yang duduk di hilir kemudian bersuara. Taehyung dan Jeongguk menoleh ke arahnya dan dia sedang menunjuk bukit di kejauhan yang nampak landai. “Adalah makam untuk bayi-bayi. Baik yang meninggal karena sakit atau keguguran. Sengaja dipisahkan karena kami percaya, jiwa mereka masih suci dan tidak untuk digabungkan dengan makam umum.”

“Suci?” Ulang Taehyung dan Jeongguk mengangguk.

“Dalam kepercayaan agama Hindu, mereka sangat percaya renkarnasi. Jadi, kehidupanmu sekarang ini adalah karma yang dibayarkan dari kehidupan sebelumnya. Setelah kau meninggal,” Jeongguk menjelaskan sementara Tanu di belakangnya mengangguk-angguk, setuju.

“Tubuhmu dibakar habis. Lalu arwahmu akan disucikan untuk dikembalikan ke leluhurmu, tempat tertinggi sehingga nantinya kau bisa lahir kembali.” Dia menatap Taehyung yang masih berusaha mencerna informasi yang didapatkannya itu.

“Dan bayi-bayi,” sela Tanu dan Taehyung menoleh ke arahnya. “Dianggap sebagai leluhur yang masih suci, belum ternoda oleh keduniawian sehingga kami memisahkan makamnya.” Tambah Tanu dengan senyuman ramah di bibirnya.

“Semacam bayi itu lebih tinggi kastanya dari orangtuanya karena mereka dianggap baru saja kembali dari surga. Masih suci dan bersih.” Jeongguk berkata dan Taehyung mengangguk-angguk, memikirkan konsep adat Hindu yang baru didengarnya.

“Maka dari itu makamnya berada di atas bukit?” Tanya Taehyung kemudian, berteriak menghalau suara dengung mesin perahu untuk bertanya pada Tanu.

“Betul sekali.” Tanu menjawab dengan senang. “Lokasinya lebih tinggi dari makam untuk orang tua.”

Taehyung mengangguk-angguk paham. Sebagai orang yang tumbuh besar sebagai pendatang di Jakarta, lalu bergegas hengkang dari sana untuk bekerja berpindah-pindah, belum pernah sebuah budaya benar-benar menarik minat Taehyung untuk belajar.

Dia kemudian teringat canang tadi, pura kecil di setiap rumah dengan pintu-pintu kecil yang dihiasi kelepai berwarna hitam-merah-putih yang bersih. Sisa-sisa persembahan.

“Bali itu sakral.” Jeongguk menambahkan, tersenyum padanya. “Kau akan baik-baik saja selama kau menghormati setiap norma adat yang berlaku.”

“Itulah daya tariknya,” Taehyung terkekeh, kembali menatap ke depan—ke permukaan danau yang bergolak ringan dan mulai melihat dermaga kecil di kejauhan dengan dedaunan rimbun yang melingkupinya.

“Kesakralan pulau ini.” Dia menatap kuburan Desa Trunyan yang perlahan mendekat dan mesin perahu yang memelan untuk berhenti, “Magis.”

“Benar kata Yugyeom,” Taehyung menoleh, menatap Jeongguk yang balas menatapnya. “Be ready to fall in love.”

You do?” Tanya Jeongguk saat perahu mulai memelan dan menepi untuk bersandar di dermaga kayu yang berlumut tipis.

I do.” Balas Taehyung, lugas.

Mereka memasuki kawasan makam yang sama sekali tidak menyeramkan seperti apa yang dikatakan Jimin. Tanu memimpin mereka, menjelaskan dengan ramah pada Taehyung yang sungguh tertarik pada penjelasannya. Pohon taru menyan yang dimaksud berdiri tepat di tengah makam, satu akarnya sebesar tubuh Taehyung dan menguarkan aroma khas yang lembut.

Tidak ada aroma jenazah seperti yang ditakutkan Taehyung, aromanya hanya seperti aroma apak lembab oleh lumut. Tengkorak-tengkorak dijajarkan di beberapa bagian dan Taehyung tidak sudi mendekat—takut karena kepala itu dulu pernah bernama dan bernyawa.

Sebaiknya dia tidak menganggunya.

“Lalu apakah di Trunyan tidak mengenal upacara Ngaben?” Tanya Taehyung saat mereka berdiri di bawah pohon taru menyan yang rindang, mengamati tutup-tutup anyaman berbentuk segitiga yang di dalamnya terisi mayat yang sudah hampir habis membusuk.

“Inilah Ngaben kami.” Jelas Tanu pada Taehyung yang mendengarkan sementara Jeongguk yang sudah paham, berkeliling.

“Tapi hanya mereka yang meninggal secara wajar dengan status sudah berumah tangga, lajang yang masih bujang dan perawan atau balita yang sudah tanggal gigi susunya yang dimakamkan dengan cara ini, Mepasah. Kondisi mayatnya pun harus utuh dan sempurna.

“Untuk mereka yang meninggal dengan kondisi tubuh tidak lengkap atau meninggal secara tidak wajar seperti penyakit dan bunuh diri, tidak dimakamkan dengan cara ini. Melainkan dikembumikan, dikubur seperti biasa dan lokasi makamnya juga berbeda.”

Taehyung menatap kuburan-kuburan di depannya, mengamati wisatawan yang mengambil gambar di beberapa tempat dan bahkan berswafoto dengan jajaran tengkorak yang berlumut. Dia menatap dengan ngeri—membayangkan bagaimana belulang itu saat masih hidup.

“Tidak seburuk itu.” Cetus Taehyung saat mereka akhirnya kembali ke mobil yang beraroma apak karena kepanasan, melambai penuh terima kasih pada Tanu yang melaju kembali.

“Tapi adat mereka unik juga.” Dia memanjat naik ke kursi penumpang dan mengernyit karena aroma mobil jadi apak dan sedikit amis. “Itu adat yang berbeda dengan Bali pada umumnya, 'kan?”

“Memang.” Jeongguk menyalakan penyejuk ruangan, berharap aroma apak segera lenyap. “Oleh karena itu mereka terkenal tidak hanya di area domestik, tapi juga internasional.

“Menurut sejarah, katanya mereka malah sengaja melakukan penguburan semacam itu agar aroma pohon taru menyannya tidak terlalu kuat dan mengundang banyak raja yang ingin merebut dan menguasai wilayah mereka.”

“Jadi sengaja membiarkan mayat menyerap aroma itu?”

“Yap.”

“Sepertinya aku tidak ingin makan siang.”

Jeongguk tertawa kecil, “Kau belum lapar?” Tanyanya.

Taehyung menggeleng. “Selera makanku lenyap saat melihat orang-orang berswafoto dengan tengkorak.” Dia bergidik. “Mereka tidak takut sama sekali, sungguh.”

Jeongguk tersenyum, mulai memasang sabuk pengamannya. Taehyung mengikuti jejaknya dengan segera, karena hanya di mobil inilah dia mendapat standar keselamatan yang layak.

“Tapi kau tetap ingin pergi ke tempat pikniknya, tidak?” Tanya Jeongguk saat mobil bergulir perlahan menjauh dari tempatnya diparkir tadi, melewati jalan yang mulus.

“Tentu.” Taehyung mengangguk. “Siapa tahu kemudian aku tidak lagi mual.” Dia tersenyum.

Jeongguk balas tersenyum, mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Taehyung di atas pangkuannya dan meremasnya lembut sebelum kembali memegang persneling. Ponsel Jeongguk kemudian berdering nyaring dari sakunya.

Dia mendesah, meminggirkan mobilnya di jalanan dan merogoh sakunya. Dia menatap nama yang tertera di layar ponselnya lalu mengangkatnya, “Yes, Dad?” Sapanya dengan aksen Amerika kasar yang membuat Taehyung tersenyum.

Wajah Jeongguk berubah dan Taehyung mengerjap.

“Apa?” Desaknya, seketika merasa takut sesuatu terjadi pada Jeonggi yang sedang hamil tua. “Siapa? Kenapa?” Taehyung mencondongkan tubuhnya ke Jeongguk, berusaha menguping dengung suara ayah Jeongguk di telepon.

I'm in Kintamani. So it probably takes me around 1 hour. OK, text me the room number. I'll see you there.” Katanya, lalu mematikan sambungan dan melempar ponselnya ke bagian depan mobil.

“Apa?” Tanya Taehyung lagi, mendesak nyaris gila.

“Jeonggi melahirkan. Satu minggu lebih cepat dari perkiraan dan sudah pecah air ketuban.” Rahang Jeongguk mengencang saat dia memasang sein dan mengecek jalanan di belakang mobil sebelum meluncur ke jalan.

“Maafkan aku,” katanya melirik Taehyung, penuh permohonan maaf yang tidak perlu sama sekali. “Kita harus kembali ke Denpasar.”

Taehyung terenyak di kursinya. Jeonggi melahirkan.

Melahirkan!

Ledakan rasa semangat tiba-tiba terasa di perutnya, membuat ujung-ujung jemarinya kebas dan dia ingin sekali berteriak. Membayangkan dia akhirnya (mungkin) dia memeluk bayi mungil yang selama ini menyundulnya tiap kali menyentuh perut Jeonggi, membayangkan wajah mungil yang nampak cantik dan humoris seperit kedua orang tuanya....

“Tentu saja kita kembali!” Katanya, gemetar oleh semangat. “Mengetahui jenis kelamin bayi Jeonggi lebih penting daripada piknik sial. Mengemudilah secepat apa yang kau bisa.”

Jeongguk menoleh ke arahnya, kaget dan terpana sebelum kembali menatap jalan raya dan tertawa. “Baiklah. Tolong suapi aku makanan kalau begitu karena aku lapar sekali.”

Taehyung tertawa, dia membalik badannya ke belakang. Meraih tas makanan mereka dan membuka zipper-nya, dia mengeluarkan kontainer yang terisi avocado whole wheat sandwich milik Jeongguk. Dia membuka tutupnya, meraih sepotong chips dan menyuapi Jeongguk yang membuka mulutnya seraya berkonsentrasi dengan jalanan.

Saat meluncur di jalanan kembali ke Denpasar, Taehyung memotong sandwich itu dengan tangannya setelah mengelapnya dengan tisu basah. Memastikan tiap potongan seukuran dengan suapan Jeongguk sebelum menyuapinya.

“Enak.” Kata Jeongguk setelah menelan suapan kesekian dari Taehyung yang sibuk membentuk sandwich-sandwich mungil dari potongan-potongan yang dibuatnya.

“Tentu saja enak. Kau yang masak.” Taehyung menumpuk potongan roti dengan isian alpukat sebelum membawanya ke mulut Jeongguk dengan tangan kiri terbuka di bawahnya, menahan remahan roti.

“Tidak.” Jeongguk membuka mulutnya, menerima suapan Taehyung dan mengunyah dengan nikmat sebelum menelannya. “Karena kau yang menyuapiku.”

“Mulai, deh.”

“Kau tidak suka dipuji, ya?”

“Itu namanya gombal.”

“Itu pujian. Fuck people for making compliment seems like they want something in return.”

“Diam. Fokus saja mengemudi.”

“Cium aku.”

Taehyung mendelik. “Kau tahu tidak kau sedang mengemudi?”

“Bisa kok.” Sahut Jeongguk, ngeyel.

“Tidak.”

“Ya sudah, nanti.”

Taehyung mendesah, “Ya, Berengsek. Ya.”

Jeongguk tersenyum, puas pada dirinya sendiri.

*