Sizzling Romance #52

“Silakan duduk.”

Taehyung mengangguk dan mendudukkan diri di kursi yang ada di depan meja Jeongguk.

Ruangan Jeongguk tidak terlalu besar namun pas dan terasa bebas. Ada satu meja kayu jati ukuran sedang dengan laptop terbuka di atasnya, satu buku yang nampak gendut (yang sepertinya adalah agenda Jeongguk) di sisinya dan satu rak besi dengan empat laci untuk menyimpan dokumen-dokumen.

Ada papan raksasa di dinding belakang kepala Jeongguk terisi dengan catatan KPI per kitchen, BEO (Banquet Event Order) selama satu minggudan coret-coretan Jeongguk yang tidak bisa dibaca Taehyung.

Mejanya rapi, ada gelas di atas meja yang sudah kosong namun aroma kopi tercium dari dalamnya. Di tempat lain yang kosong, ada tumpukan dokumen yang sedang dipelajarinya dan Taehyung menyadarinya sebagai menu wedding minggu depan.

“Jadi,” Jeongguk duduk di kursinya yang berderit—menatap Taehyung dengan tatapannya yang biasa. “Kau sudah mengecek Pastry?”

Taehyung mengangguk. “Saya sudah berkenalan dengan tim saya, membahas peraturan-peraturan yang saya ingin mereka terapkan di bawah kepimpinan saya dan juga mengoreksi standar makanan mereka.” Dia kemudian membuka buku catatannya untuk membaca hal-hal yang ingin dilaporkannya kepada Jeongguk.

Wedding cake yang Anda maksud sudah berjalan 50 persen. Base cake sudah siap dan disimpan di dalam lemari es. Sekarang kami sedang mengerjakan brush stroke dan krim-krim mawar untuk dekorasinya.” Taehyung membaca dari catatannya sementara Jeongguk duduk di hadapannya dengan tenang.

Kedua siku Jeongguk ditumpukan di atas meja mendengarkan Taehyung dengan fokus sepenuhnya ke pastry chef-nya yang sedang menunduk membaca catatan di bukunya dengan seksama.

“Lalu,” lanjut Taehyung. “Besok kami akan mengerjakan base cake terakhir tingkat keempat dan menyelesaikan dekorasinya sebelum hari Sabtu nanti dirangkai.” Taehyung mengangguk dan mendongak, bertemu mata dengan Jeongguk.

Matanya begitu jernih, begitu dalam dan menyejukkan.

“Untuk sampel kue Rabu besok, saya sudah meminta salah satu commis untuk membuatkan base cake-nya dalam ukuran kecil diameter 10 senti untuk dicicipi bersama mempelai dan keluarga. Seharusnya sore ini sudah selesai.”

Jeongguk menatapnya. “Trims.” Katanya, sangat mengapresiasi bantuan dan kesigapan Taehyung dalam menangani masalah di Pastry.

“Lalu untuk standarisasi yang kaukatakan tadi pagi, apa saja yang sudah dilakukan?” Tanya Jeongguk.

Taehyung mengangguk. “Saya sudah mengajari mereka mengecek croissant base yang benar dan bagaimana menguleninya agar tidak bantet saat di panggang. Lalu saya juga sudah minta batch baru croissant disiapkan, saya cek sendiri lalu saya minta seluruh croissant di restoran ditarik dan diganti yang baru.”

“Ya. Saya lihat yang baru. Mereka semua sempurna.” Dia mengangguk setuju. Dia memang sedang di Bambu saat batch croissant baru di bawa naik oleh salah satu FB Captain lalu diletakkan di display—beberapa tamu langsung menyadari kecantikan pastry-pastry itu dan mengambilnya.

“Untuk kedepannya saya akan memastikan semua pastry sesuai dengan standar saya sebelum keluar ke restoran.” Taehyung menambahkan, dia membuka catatannya lagi.

“Lalu saya akan melaksanakan training untuk SC, CDP dan DCDP saya mengenai standar pastry yang saya inginkan sehingga quality control bisa dijaga bersama.”

Jeongguk menatapnya, sekarang nampak kagum dengan tulus. “Sekarang saya paham kenapa Yoongi menolak melepaskanmu.” Katanya.

Taehyung mendongak, mata mereka bertemu.

Setiap kali mata mereka bertemu, Taehyung selalu merasakan sensasi aneh yang menggelitik di dasar perutnya. Bola mata gelap Jeongguk seolah menariknya untuk menyelami jernih permukaannya, masuk ke dalam dan memahaminya.

Terlalu menggoda dan sulit sekali untuk diabaikan. Seperti ada benturan energi yang membuat punggung Taehyung gemetar.

Antara takut pada Jeongguk.

Atau ingin membelainya, membuatnya mendengkur senang seperti seekor singa alpa yang diberi makan.

Taehyung tidak paham bagian mana yang terasa lebih kuat saat ini. Keduanya terasa seperti dua ekor binatang liar yang saling menerkam berusaha saling mendominasi dan membuat kepala Taehyung nyeri.

“Kau efisien.” Jeongguk memujinya tulus. “Paham apa yang harus kaukerjakan untuk memperbaiki masalahnya. Tahu di bagian mana yang harus dibereskan dan tahu apa yang bisa dilakukan untuk membereskannya. Saya suka.”

Taehyung tersenyum dengan penuh percaya diri padanya; paham bahwa dia memang pantas mendapatkan pujian dari kinerjanya yang baik. “Terima kasih, Chef.” Katanya.

Mata mereka bertautan dan ruangan disekitar mereka terasa mengecil dan terus mengecil hingga menyisakan hanya cukup ruang untuk keduanya dan tatapan mata mereka. Tidak ada hal lain yang saraf Taehyung rasakan selain kehadiran Jeongguk; aroma tubuhnya, desir napasnya, tatapan matanya, bentuk wajahnya dan bahkan debaran jantungnya.

Kesibukan dapur mempersiapkan makan siang dan pesanan a la carte tidak terdengar sama sekali saat keduanya sibuk saling menelanjangi dengan tatapan mata mereka. Teriakan para CDP dan DCDP, orderan makanan yang masuk dan teriakan “Service!” sama sekali lenyap ditelan tatapan mereka.

Taehyung mungkin saja sudah menyondongkan tubuhnya, berusaha menghirup aroma tubuh Jeongguk lebih jelas lagi atau mencium bibirnya saat chef muda itu berdeham dan mundur, menyandarkan punggungnya lebih dalam ke kursi. Keduanya sejenak kikuk dan saling menjaga jarak dengan rikuh.

“Untuk training-nya,” katanya kering dan Taehyung mengerjap, merasakan tubuhnya meremang. “Kapan akan dilaksanakan? Jangan lupa untuk menyiapkan presensi siapa saja yang hadir lalu diserahkan ke saya sebagai catatan.”

“Secepatnya, Chef. Mungkin karena saat ini kita sedang fokus ke wedding, setelahnya saya akan langsung merancang training-nya.” Sahut Taehyung lugas. “Saya memberikan training yang sama pada anak buah saya di Bintan dan mempraktikannya dengan baik sehingga standar makanan bisa dipastikan bersama.”

Jeongguk mengangguk, nampak sangat puas dengan perencanaan Taehyung yang visioner. “Saya berharap banyak padamu, Taehyung.” Katanya tenang.

Dia lalu teringat sesuatu secara mendadak hingga Taehyung ikut kaget. “Oh. Saya belum membicarakan KPI-mu, ya?” Katanya lalu berdiri, meraih dokumen di salah satu laci lemari yang berderak dan kembali ke meja.

Taehyung menggeleng dan menatap lembaran kertas yang diberikan Jeongguk. Key Performance Index milik Taehyung dan poin-poin penilaiannya, yang diayakin tidak akan berbeda jauh dengan KPI-nya yang lalu di Bintan karena mereka di bawah manajemen yang sama.

“Kau akan membuat KPI untuk departemenmu dibantu Yugyeom tentu saja.” Kata Jeongguk menyerahkan kertas itu ke Taehyung yang membacanya dengan saksama. “Dan saya yang menghitung KPI-mu sebagai atasanmu.”

“Targetnya tidak sulit.” Jeongguk mengerling kertas di tangan Taehyung. “Hanya standarisasi pastry, kepemimpinanmu yang ditunjukkan dengan kualitas dan kuantitas makanan yang dihasilkan dan presensi anak-anakmu. Semua sesuai yang sudah kauketahui di Bintan dulu, benar? Tidak berbeda seharusnya.”

Taehyung mengangguk. Memang sama persis. “Sama, Chef.”

“Baiklah kalau begitu.” Jeongguk meraih sebatang pulpen dan menyerahkannya pada Taehyung. “Silakan tanda tangani bahwa kau sudah diberikan penjelasan tentang KPI-mu.”

Taehyung mengangguk, meraih pulpen yang diberikan Jeongguk dan menandatangani dokumen itu sebelum nenyerahkannya pada Jeongguk yang juga menandatanganinya.

“Oh, ya, Chef.” Kata Taehyung kemudian setelah Jeongguk menyimpan dokumennya. “Food testing besok Rabu pukul berapa dan di mana, ya? Saya belum terima detailnya.”

Jeongguk mengecek kalender mungil di mejanya yang penuh coretan dalam tulisan tangannya yang kecil-kecil berantakan. “Rabu besok lunch time di JU-MA-NA jadi mungkin kau harus turun makan ke EDR lebih awal sebelum bergabung dengan mereka.”

“Oke, Chef.” Taehyung mengangguk, menyatat jadwal itu di agendanya yang selalu dibawanya ke mana-mana sebagai pengganti otak yang penuh dengan resep makanan.

“Lalu hari Minggu kau bisa in-charge, 'kan?” Tanya Jeongguk tanpa mengalihkan pandangannya dari kalender yang sedang diamatinya. “Untuk wedding. Nanti akan ada saya dan Namjoon juga.”

Taehyung mengangguk. “Tentu saja, Chef. Selalu bisa.” Dia kemudian menulis jadwal itu juga. “Wedding pukul berapa dan di mana?”

“Pukul 3 sore. Di infinity pool.” Jeongguk mengalihkan pandangannya dari kalender dan kembali menatap mata Taehyung lekat-lekat. “Nanti minta saja Security mengantarmu atau mungkin nanti saya tunggu saja dan kita ke sana bersama.”

Taehyung mulai merasa rikuh dan tidak nyaman, sehingga dia memutuskan dia harus segera keluar dari ruangan ini sebelum akal sehatnya terjungkal dan dia menjulurkan tubuhnya ke arah Jeongguk untuk menciumnya.

Atau membiarkan Jeongguk mengagahinya di meja. Apa saja yang bisa membat otaknya berhenti berdering nyaring seperti ini.

“Baiklah, Chef. Jika itu saja, saya akan kembali ke Pastry.”

Jeongguk mengerjap lalu menggeleng. “Tidak. Di sini saja, sebentar lagi kita akan briefing team.” Dia melirik jam dinding di atas jendela 2 arah yang digunakannya untuk memantau dapur.

Taehyung kembali duduk, mulai merasa sangat tidak nyaman karena berada di ruangan yang sama berdua saja dengan Jeongguk

Dia pernah punya banyak atasan dari yang paling tampan hingga yang paling galak. Namun tidak ada yang membuatnya merasa terintimidasi sebagaimana Jeongguk melakukannya. Dia mulai mengutuki teman-temannya yang sejak hari pertama dia tiba selalu mencoba menjodoh-jodohkannya dengan Jeongguk.

Dia tidak suka digoda dan dijodoh-jodohkan semacam itu karena hanya akan membuat hubungan menjadi kikuk dan menyuapi kepalanya dengan hal-hal tidak etis tentang atasannya.

Seperti bagaimana dia jadi sering mengamati pembuluh darah di lengan bawah Jeongguk yang menonjol.

Mungkin itulah alasan kenapa dia jadi sulit menatap Jeongguk secara profesional.

Jeongguk and Taehyung sitting under the tree; k-i-s-s-i-n-g...

Atau mungkin senyuman Jeongguk di hari pertama mereka bertemu.

Atau mungkin sikap dinginnya yang membuat Taehyung penasaran.

Atau mungkin itu hanya karena dia Jeongguk.

Apa pun itu, Taehyung yakin ada sesuatu yang salah dengannya karena ini pertama kalinya dia memandang atasannya dengan cara yang tidak begitu nyaman.

Sejak awal, dia sudah berpikir atasannya pastilah pria tua yang sudah menikah. Galak dan dingin. Pendiam dan serius seperti apa yang diketahuinya dari teman-temannya. Atau mungkin juga chef muda seperti Yoongi yang selalu menganggap Taehyung sebagai adiknya, bersikap lembut dan sangat suportif padanya selama empat tahun bekerja sama.

Namun saat dia bertatapan langsung dengan binatang dingin itu, Taehyung langsung merasa ini bukanlah apa yang dipikirkannya.

Chef Jeongguk bukanlah atasan yang dibayangkannya.

Dan bukan berarti Taehyung tidak suka....

“Bagaimana menurutmu tentang Yugyeom?” Tanya Jeongguk kemudian dan Taehyung mengerjap, kembali ke masa sekarang. “Dia bisa diajak bekerja?”

Taehyung mengangguk. “Sangat baik. Mungkin agak kurang di bagian quality control dan manajemen tim, tapi saya yakin bisa melakukan sesuatu tentang itu.”

Jeongguk mengangguk paham lalu keduanya bersidiam, tidak menemukan hal untuk dibicarakan dan merasa keheningan sangat menenangkan. Taehyung berdoa dalam hati agar Namjoon atau siapa saja bergegas muncul menyelamatkan mereka dari kondisi ini karena jantung Taehyung terasa seperti ingin meledak.

Dan tepat sebelum Taehyung kehilangan kewarasannya, Namjoon (SYUKURLAH!) mengetuk pintu dan membukanya. Lalu kaget menemukan mereka berdua di meja. Mereka bertiga bertatapan sejenak selama sepersekian detik sebelum Namjoon akhirnya menemukan suaranya kembali.

“Oh, Chef. Maaf menganggu.” Katanya tidak enak, takut telah menganggu sebuah diskusi penting yang serius. “Apakah kalian sedang berdiskusi?” Tanyanya.

Jeongguk mengibaskan tangannya sebagai gestur bahwa intrupsi Namjoon bukanlah hal besar. “Sudah selesai.” Katanya kalem. “Ada apa?”

Namjoon menatap keduanya lalu tersenyum. “Briefing, Chef.”

“Oh. Oke.” Jeongguk langsung berdiri dan Taehyung bergegas menyusulnya. Jeongguk melangkah keluar dari balik mejanya, mengibaskan apron dan melicinkan seragamnya sebelum memasuki Main Kitchen.

Di luar, di Main Kitchen sekarang terisi para commis, helper, CDP dan DCDP serta semua sous chef di Banyan Tree dari semua section kecuali mereka yang sedang in-charge karena pesanan tamu harus tetap dikerjakan.

Mereka tidak selalu melaksanakan briefing siang karena memberi makan tamu jauh lebih penting daripada duduk mengobrol namun Jeongguk (menurut Namjoon) selalu menyempatkan setidaknya 2 kali seminggu untuk bertatap muka dengan semua timnya.

Atau saat dia menemukan hal yang tidak dia sukai. Namun hari ini khusus karena ada Taehyung.

“Selamat siang.” Sapa Jeongguk dan semuanya sontak menjawab dengan suara riuh-rendah 'siang, Chef' dengan berbagai macam nada.

Mata-mata mereka mengamati Taheyung yang berdiri di sisi Jeongguk dengan seragam yang masih sedikit kebesaran dengan penasaran. Melihat seorang chef muda langsing yang nampak menarik, tampan dan membuat seragam chef mereka yang biasa saja jadi sekeren pakaian runway mungkin bukanlah hal yang sering mereka lihat di dapur.

“Hari ini saya akan memperkenalkan Pastry Chef baru kita, Taehyung.” Dia menoleh pada Taehyung yang mengangguk pada semuanya. “Mulai sekarang setiap urusan pastry agar dilaporkan langsung ke Taehyung, bukan lagi ke Yugyeom.”

“Siap, Chef.” Sahut mereka semua nyaris membeo. Beberapa mengamati Taehyung dengan tertarik, beberapa dengan kagum dan sisanya berbisik-bisik menilai seberapa galaknya kira-kira chef baru mereka nanti dari skala 1 sampai Jeongguk.

Jeongguk menoleh ke Taehyung. “Silakan, Chef.” Katanya mempersilakan Taehyung memperkenalkan diri.

Taehyung mengangguk. “Selamat siang semuanya,” katanya dan menerima gumam serentak sebagai jawaban. “Saya Taehyung, pastry chef baru kalian. Sebelumnya saya bekerja di Banyan Tree Bintan di posisi yang sama. Mohon bantuannya selama saya bekerja di sini sebagai atasan kalian. Mari saling memberi feedback mengenai satu sama lain.”

Dia kemudian diam sebelum tersenyum dan menambahkan, “Ada pertanyaan?”

“Nanti saja, Chef di belakang. Agar lebih personal.” Kata CDP Butcher dengan berani walaupun ada Jeongguk yang berdiri di depan ruangan seperti singa dan beberapa mendenguskan tawa ceria.

Jeongguk melemparkan tatapan dingin pada mereka dan semuanya seketika diam.

Namun Taehyung tersenyum, sudah terbiasa menerima godaan semacam itu tiap kali memperkenalkan diri. “Baiklah. Jangan segan untuk menyapa saya jika kebetulan berpapasan, ya.” Dia kemudian mundur ke sisi Jeongguk lagi. “Terima kasih.”

Semuanya memggumamkan kesiapan dan balasan samar-samar.

Jeongguk kembali mengambil posisi. “Hari ini saya mengecek breakfast dan menemukan beberapa makanan yang tidak sesuai standar.” Mulainya dan semua chef dalam timnya seketika mengencangkan ikat pinggang mendengar nada suaranya yang terganggu.

“Selain croissant yang setahu saya sudah ditarik dan diganti dengan batch baru.” Dia menatap timnya satu per satu dengan tatapan yang sama mengintimidasinya dengan yang digunakannya pada Taehyung.

“Telur rebus di menu Telur Bumbu Bali beberapa pecah dan kuning telurnya keluar dan pasti akan merusak rasa sausnya, mengubah teksturnya jadi menjijikkan.

“Tidak ada tamu yang mau mengambil telur pecah dengan bagian kuningnya ke mana-mana. Dan saya lihat malah ada 2 telur yang hanya cangkang putihnya saja. Jika makanan tidak akan ada yang mengambil, itu berarti food waste dan saya tidak suka food waste.

“Tolong untuk menjaga kondisi makanan agar tidak rusak saat dihidangkan dan diperhatikan kualitasnya lagi, Jackson.” Katanya dan Jackson di sebelah Namjoon mengangguk.

“Siap, Chef.” Katanya kering, jelas tidak suka ditegur oleh executive head chef-nya.

“Lalu Sauteed Long Beans hari ini kualitasnya buruk sekali.” Dia berdecak keras dan membuat beberapa anak Kitchen tersentak kecil dengan nadanya. Alis Jeongguk berkerut dalam dan dia nampak benar-benar terganggu dan marah.

Jeongguk memang manusia minim emosi yang dingin dan pendiam, namun emosi kesal, jengkel dan marah nampak begitu mengejutkan di wajahnya. Dia terlihat seperti binatang eksotis yang menantang untuk ditundukkan.

“Kalian ini sebenarnya mau memberi makan manusia atau binatang? Panjang potongannya tidak sama dan tidak rapi, beberapa bagian bahkan saya lihat masih menyisakan bagian pinggir buncis yang seharusnya dikupas atau ujung-ujungnya. Menjijikkan.

“Jika itu saya, saya tidak akan mau makan makanan seperti itu. Kita ini resor bintang lima. Apa semalam anak-anak malam digantikan juru masak warteg jadi makanan yang muncul untuk breakfast hari ini juga kualitas warteg?”

Suara Jeongguk yang keras menjangkau ke seluruh ruangan dengan mudah dan dari tatapan anak-anak sepertinya mereka tidak suka jika Jeongguk sendiri yang mengecek breakfast.

“Tolong sebelum pulang nanti saya di-share menu buffet breakfast untuk besok.” Kata Jeongguk kemudian ke Jackson yang mengangguk mengiyakan. “Dan jangan lupa untuk selalu mengecek kualitas prep sebelum dimasak dan dibawa naik ke restoran.”

“Siap, Chef.” Jackson mengangguk, wajahnya sepat sekali dan Taehyung yakin setelah ini kitchen Bambu akan dihantam badai.

“Saya tidak perlu bicara tentang croissant lagi, ya? Karena sudah ditindaklanjuti dengan cekatan dan saya benci memikirkan food waste-nya. Tolong efisiensi bekerja untuk meminimalisir makanan yang terbuang, Tim.” Dia menambahkan dengan nada sedikit frustasi yang membuat Taehyung yakin masalah food waste ini bukanlah masalah anyar di dapur Banyan Tree.

“Perlu saya sendiri yang memasak semuanya?” Tanyanya kemudian dengan suara dingin penuh ancaman, semua timnya diam dan bergerak-gerak gelisah menyikapi kemarahan Jeongguk.

“Saya, sih, tidak apa-apa. Tapi jika saya sendiri yang mengerjakan semuanya, untuk apa kalian semua digaji?”

Uh-oh.

Ini hari pertama Taehyung bekerja dan dia sudah menyaksikan amukan Jeongguk.

“Tolong selalu mengecek standar makanan. Selalu memerhatikan detailnya. Mereka semua bayar mahal untuk makan di sini, jangan sampai kita memberikan makanan yang cocoknya dimakan di warteg alih-alih hotel bintang lima.” Tandasnya semakin dingin seperti belahan es.

“Do I make myself clear?”

Yes, Chef!”

“Good.” Jeongguk menyapukan tatapan ke seluruh ruangan dan tidak ada satu pun anak buahnya yang berani menatap matanya.

“Besok akan saya cek lagi. Jika masih seperti itu, maka ada yang harus saya lakukan untuk tim Bambu.” Katanya dingin dan kekuatan ancaman itu membuat semua orang menegakkan tubuh dan Jackson nampak siap untuk melempar wajan.

Setelahnya, dia membubarkan semua timnya dan meminta mereka kembali bekerja. Taehyung kembali ke Pastry bersama Yugyeom yang mendesah.

“Dia memang sering begitu?” Tanya Taehyung saat mereka melewati lorong menuju Pastry—buru-buru pergi sebelum harus menyaksikan amukan Jackson ke tim Bambu Restaurant.

“Tidak selalu.” Yugyeom menggeleng. “Tapi memang hari ini breakfast kacau. Saya dengar dari SMM, Bapak GM sendiri yang menegur Chef karena kualitas breakfast hari ini di morning briefing. Lalu ada guest comment card kemarin yang juga mengkritik makanan in room dining yang ternyata salah menu.

“Yah. Hari ini agak kacau.” Yugyeom mendesah, tersenyum lemah. “Anda sepertinya sedang sial karena tiba di hari semuanya sedang kacau dan mood Chef pasti tidak bagus.”

Taehyung memikirkan pembicaraan mereka di ruangannya tadi dan memutuskan bahwa Jeongguk tidak terlalu buruk saat suasana hatinya jelek.

“Yah. Jika kau bilang begitu, croissant tadi juga bukan yang terbaik.” Katanya mendorong pintu Pastry terbuka dan semua commis-nya mengangguk segan pada Taehyung.

“Saya juga akan mengecek semua base untuk pastry breakfast besok.” Katanya dengan suara keras pada timnya yang menatapnya berdiri di depan dapur; sudah mendengar amukan Jeongguk dari commis yang tadi bergabung di briefing.

“Kalian tidak suka, 'kan, dimaki Chef Jeongguk karena kualitas makanan yang kalian hasilkan?” Tanyanya dan timnya sontak menggeleng; memangnya siapa yang mau dicaci-maki seperti itu di depan forum? “Nah. Saya juga tidak.” Kata Taehyung lagi dengan serius.

“Jadi mari bekerja sama.” Tambahnya dan semua timnya menatapnya, kali ini dengan rasa hormat yang jauh lebih tinggi. “Tidak boleh ada satu croissant pun yang melewati pintu itu,” Taehyung mengucapkannya perlahan dengan penuh tekanan, menunjuk pintu tempat makanan keluar dari dapur ke restoran. “Tanpa melewati pengecekan saya atau Yugyeom. Paham?”

“Paham, Chef!”

“Lebih baik saya yang mencaci-maki kalian dibandingkan guest comment card atau Chef Jeongguk.” Tambahnya dan semua timnya mengangguk, sangat setuju.

“Good.” Katanya mengangguk setelah mereka mencapai kesepakatan. “Minggu depan saya akan melaksanakan training food standard untuk semuanya sehingga kita memilili konsep standar yang sama untuk dikerjakan. Saya harap partisipasi kalian semua. Khususnya SC, CDP dan DCDP.”

“Noted, Chef.” Sahut timnya dengan serentak.

“Baiklah.” Taehyung mendesah, senang sudah bisa menemukan ritme bekerja dengan tim barunya walaupun harus menghadapi amukan Jeongguk. “Kembali bekerja. Saya akan mengecek persiapan wedding.” Dia memberi tanda pada Yugyeom untuk mengikutinya.

“Baik, Chef!” Sahut timnya.

*

“Oh. Kau sudah di sini.”

Taehyung tersenyum pada Jeongguk yang baru memasuki loker dalam balutan seragamnya dan menarik lepas topi dan harnet di rambutnya yang lembab. Dia menggoyangkan rambutnya dan mendesah, nampak senang bisa membiarkan rambutnya bernapas.

“Maaf saya mengecek dinner grup di JU-MA-NA dulu sebelum pulang karena menunya sama dengan breakfast hari ini.” Dia meraih kunci loker dan membukanya, mempersilakan Taehyung mengambil pakaiannya.

“Tidak masalah, Chef.” Katanya tersenyum, meraih tasnya yang terisi pakaian dan memindahkannya ke loker di sebelah kanan Jeongguk yang terbuka dan kosong, lokernya.

Jeongguk mengangguk, membuka seragamnya dengan kalem dan Taehyung bergegas mengalihkan pandangan. Mengutuk kadar percaya diri Jeongguk yang pastilah besar sekali karena bisa dengan begitu tenang melepas pakaiannya.

“Kau langsung pulang?” Tanya Jeongguk melepas kemeja chef-nya dan Taehyung menahan diri agar tidak melirik ke cermin yang memantulkan bayangan tubuh Jeongguk.

Bodoh! Pikir Taehyung jengkel.

“Ya, Chef.” Katanya mulai membuka seragamnya juga. “Ada sukulen yang harus saya rawat.” Tambahnya, merasa sedikit lebih bersemangat karena memikirkan dua tanaman baru untuk dirawat sedang menunggunya.

Jeongguk mengangguk. “Kau ingin saya mengikutimu dari belakang lagi?” Tanyanya.

Taehyung mengerjap. Lagi? “Lagi?” Tanyanya bingung dan heran. Memangnya kapan Jeongguk mengantarnya dari belakang?

Jeongguk mengangguk, meraih kaus hitam yang tadi digunakannya dan menyelipkan kepalanya ke dalam lubang lehernya. “Seperti tadi saat saya mengantarmu ke parkiran.”

Oh.

“Oh.” Taehyung tersenyum lega mendengarnya. “Tidak perlu repot-repot, Chef. Saya sudah hafal jalannya.”

Jeongguk mengangguk. “Baiklah.” Katanya lalu menyugar rambutnya dan meraih seragam yang baru tadi digunakannya. “Saya tunggu di depan.” Katanya lalu tanpa menunggu persetujuan Taehyung, dia beranjak keluar untuk mengembalikan seragam ke Uniform.

Maka mau tidak mau, Taehyung bertemu dengannya di depan pintu keluar karyawan, berdiri dengan tegak rambutnya yang disisir ke belakang dan sedang menunduk di ponselnya. Namun sebelum melangkah ke arah parkiran karyawan, Taehyung menyempatkan diri pergi ke Security tempat tadi dia memindai sidik jari sebelum berganti baju dan pulang.

“Pak, maaf. Saya mau mengambil titipan Namjoon untuk Taehyung?” Tanyanya ramah pada Security yang bertugas.

“Oh, ini, Chef.” Sahut Security itu, sudah mengenal Taehyung lalu menarik dari balik meja sebuah kardus yang membuat jantung Taehyung mencelos dengan jengkel.

Kardus itu terisi dua pot sukulen yang lumayan besar, potnya terbuat dari tanah dan nampak sangat berat. Dan Taehyung yakin bagian depan motornya sama sekali tidak akan muat menampung keduanya.

Ingatannya melayang ke diskusi rahasia keempat sous chef itu di Bebek Tepi Sawah beberapa hari lalu dan mulai merasa dia mungkin harus memberikan peringatan pada mereka mengenai hal-hal semacam ini; menjodohkannya dengan Jeongguk, menjebaknya menghabiskan waktu dengan Jeongguk.

Hal-hal itu.

“Wow.” Komentar Jeongguk di balik bahunya, menyelipkan ponsel ke sakunya dan berjalan mendekat. Berdiri di sisi Taehyung dengan aroma pekat rempah dan keringatnya yang membuat Taehyung sakaw. “Kau yakin bisa membawa keduanya di motormu?”

Taehyung ingin menjerit karena perasaan frustasi yang membengkak di jantungnya, tentu saja tidak. Dan memang itulah tujuan setan-setan kecil itu!

Tapi dia tidak bisa marah karena sukulen yang diberikan Namjoon nampak lucu dan menenangkan. Dua bayi mungil menggemaskan yang harus dijaga dan dirawat Taehyung. Jadi dia menghela napas dalam-dalam dan meraih kardusnya.

“Mungkin saya akan bawa satu dulu hari ini dan besok satunya.” Katanya menyesal lalu menatap Security yang ramah tadi. “Saya boleh titip satu di sini dulu, Pak?” Tanyanya.

“Boleh, Chef, boleh. Nanti saya sampaikan pada shift berikutnya.” Security itu mengangguk dan menerima kembali kardus Taehyung sementara chef muda itu meraih satu pot sukulen yang akan dibawanya pulang.

“Kau bawa saja keduanya.” Kata Jeongguk kemudian, setelah diam beberapa saat memikirkan solusi yang tidak terlalu diapresiasi Taehyung.

Taehyung mendesah. Tidak lagi. Pikirnya sebal. “Tidak apa-apa, Chef. Saya bawa besok saja.” Tolaknya dengan tegas, tersenyum pada Jeongguk yang menatapnya dengan alis berkerut—tidak memahami penolakannya.

“Pulang saja dengan saya.” Tukas Jeongguk sedikit memaksa seperti bayi yang merengek saat ibunya tidak memberikan apa yang diinginkannya. “Besok saya antar lagi. Motormu ditinggal di sini saja, aman.”

Ya Tuhan....

“Tidak, Chef.” Tolak Taehyung meletakkan sukulennya dan mendorong kardus itu ke Security yang mengamati mereka tertarik. “Saya tidak mau merepotkan Anda lagi.”

Namun alih-alih berdebat, Jeongguk meraih kardus di tangan Security yang masih menatap mereka tertarik juga sukulen di tangan Taehyung dengan mulus dan tanpa benar-benar berusaha. Tanpa bicara lagi, dia beranjak dari sana meninggalkan Taehyung yang ingin menjerit atau memukul sesuatu karena frustasi.

Jeongguk melangkah dengan satu sukulen di pelukannya dan satu kardus di tangannya yang lain. Melangkah menjauh dengan langkah panjangnya yang khas dan sama sekali tidak repot-repot untuk menoleh untuk mengecek apakah Taehyung mengikutinya karena dia harus melakukannya.

“Dia memang begitu, Pak?” Tanyanya lemah pada Security yang mengulum senyuman; tidak sabar menyebar gosip baru tentang executive head chef dan pastry chef baru mereka.

“Kalau beliau bilang iya, turuti saja, Chef. Nanti ribut.” Security itu terkekeh. “Hati-ati di jalan, Chef. Motornya sudah dikunci stang, 'kan? Aman kok.”

Taehyung mendesah, tidak menemukan cara lain untuk menolaknya. Dia kemudian berpamitan dengan Security itu sebelum berlari mengejar Jeongguk yang sudah lenyap menuju parkiran mobil karyawan.

Berusaha keras tidak menyumpahi chef muda yang sekarang berdiri di sisi mobilnya, sedang meletakkan sukulen Taehyung di kursi penumpang belakang dengan hati-hati agar tidak tumpah ke joknya. Menoleh, menemukan Taehyung terengah-engah mengejarnya.

“Tidak boleh berdebat. Saya lelah.” Katanya lalu memanjat naik ke kursi penumpang sehingga Taehyung mengerang frustasi lalu bergegas berlari memutari bagian depan mobil dan menaiki sisi penumpang.

“Bedebah sial,” pikir Taehyung saat menatap Jeongguk melalui pantulan bayangannya di jendela depan mobilnya.

“Bedebah sial yang kebetulan seksi, panas dan menggoda.” Tambahnya dengan merana saat Jeongguk menginjak gas mobil yang berderum menuju pintu keluar Banyan Tree Bali.

*

SMM: Sales & Marketing Manager

Guest Comment Card (GCC): kartu yg wajib diisi tamu sebelum check out tentang hal apa yg mereka suka dan tidak suka di hotel itu. Feedback tamu ini sangat penting bagi hotel dan kadang didewakan.

Banquet Event Order (BEO): detail pesanan acara dari grup di hotel isinya tanggal acara, lokasi ruangan, menu makanan dan paket, set-up meeting, jumlah peserta, dll yg dikirim ke kepala departemen bersangkutan utk disiapkan.