Sizzling Romance #112 ps. tolong dengarkan lagunya sambil membaca: Could I Love You Any More – Renee Dominique. ty! x
*
“Chop, chop, chop!”
Taehyung mendesah sedikit frustasi, menatap anak buahnya yang sekarang sibuk menarik loyang-loyang raksasa dari oven dengan belasan mini eclair yang baru matang.
Aroma mentega dan putih telur menyeruak memenuhi pastry section saat loyang ditarik keluar dan membuat Taehyung menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan kepalanya yang pening karena beberapa jam lalu Jeongguk memasuki ruangan dan melempar bom yang meledak; membuat semua section kalang-kabut.
Suasana dapur sedang tidak baik saat ini. Semua orang sedang dipaksa berlari, dipecuti agar bergerak lebih cepat dari apa yang mereka bisa lakukan. Tidak ada yang bicara, semuanya nampak tegang dan terganggu. Kesalahan sedikit saja akan membuat seseorang meledak, bahkan Namjoon yang selama ini setenang Buddha nampak mengerutkan alis dengan ekspresi tegang seperti karet yang akan putus.
“Can we push it?” Desaknya sekali lagi, melirik jam dinding di atas pintu masuk Pastry Section dan mulai berdebar, resepsi pernikahan akan dilaksanakan sebentar lagi namun mereka kekurangan eclair karena penambahan jumlah tamu yang tidak disangka-sangka.
Jeongguk mengamuk di hot kitchen karenanya dan memaki Food and Beverage Manager (FBM) serta Wedding Sales yang menerima penambahan itu begitu saja tanpa mengonfirmasi ketersediaan menu di kitchen dalam bahasa Bali yang walaupun Taehyung sama sekali bukan orang Bali, dia tahu betapa murkanya Jeongguk.
Tidak ada yang berani menganggu Jeongguk sekarang, dia di tengah pusaran dapur. Sedang turun tangan mempersiapkan menu sendiri dibantu semua sous chef-nya yang dipaksa masuk satu jam setelah konfirmasi jumlah pax yang ditambah.
Jeongguk nampak seperti seekor singa lapar, alisnya berkerut dan wajahnya sama sekali tidak nampak baik. Mustahil ditenangkan saat kedua tangannya bekerja dengan efisien, dia mungkin sama sekali tidak bernapas saat bekerja karena betapa cepat dan cekatannya dia menggunakan kedua tangannya.
Fokusnya menakjubkan bahkan Taehyung sendiri terpana melihatnya.
Yugyeom mengangguk, “Dia senjata pamungkas kami.” Katanya seraya menyelup eclair-eclair ke dalam cokelat leleh sebelum didinginkan.
“Dia mungkin nampak diam dan tidak mau turun tangan memasak, membuat pekerjaan executive head chef nampak begitu mudah. Namun jika dia melakukannya maka dia melakukan yang terbaik, mengalahkan semua orang.
“Mari katakan saja, dia menjadi kepala dari enam dapur bukan tanpa alasan, 'kan.” Yugyeom melempar senyuman kecil tanpa mendongak ke Taehyung yang sedang menatap Jeongguk yang mengamuk.
“Benar.” Sahut Taehyung setuju setelah melihat bagaimana Jeongguk menyelesaikan pekerjaan nyaris semua orang sendirian dengan makian yang terus keluar dari mulutnya.
Namun amukannya berhasil membuat semua makanan naik dengan tepat waktu, semua protein, semua kondimen dan semua saus naik dengan tepat waktu. Dia mendesak semua orang, membentak semua orang, mengambil alih semua pekerjaan yang dianggapnya terlalu lambat sambil meludahkan racun ke orang-orang.
“Taehyung!” Raung singa itu ke dalam pastry dan membuat Taehyung terlonjak kaget.
“Ya, Chef!?” Balasnya seketika itu juga, refleks dan menoleh ke Jeongguk yang berdiri diambang pintu, menyapukan tatapan ke seluruh pastry dengan jengkel dan terganggu.
“Can we push it?!” Tanyanya lagi, matanya berkilau membuat siapa saja yang berpandangan dengannya seketika mundur dari medan pertarungan daripada dicabik-cabik.
“Yes, Chef!” Balas Taehyung, mengangguk sebelum menoleh ke anak buahnya yang sekarang mencoba tetap waras dengan tekanan dari segala arah. “Kalian dengar?” Tanyanya ke seluruh ruangan.
“Ya, Chef!” Sahut mereka serentak, kembali memaksa diri mereka bekerja lebih cepat lagi.
Dan itu membuat Taehyung mendesak semua orang di section-nya untuk bergerak lebih cepat lagi seolah hal itu memungkinkan. Dia turun tangan, mengerjakan hal-hal yang juga dianggapnya lambat.
Entah sudah berapa ratus mini eclair yang diceknya, sudah berapa ratus bite-size cake yang dilihatnya, berapa loyang base yang diawasinya dan Taehyung mulai merasakan hentakan adrenalin di dalam darahnya.
Dia menyukai dunia ini, menyukai setiap cambukan yang dilemparkan waktu dan keadaan padanya. Dia menyukai bagaimana dia harus menekan dirinya sendiri, melawan batas diri dan zona nyamannya untuk mewujudkan kemustahilan menjadi ada.
Taehyung bahkan tidak merasa lapar sama sekali setelah terakhir hanya menjejalkan sepotong roti sebelum bergegas mengganti seragamnya di loker siang tadi.
Semua kepala section hari ini seperti digantung di tiang pancung. Sedikit saja kesalahan di section mereka maka mereka akan mendapatkan amukan Jeongguk yang sama sekali tidak segan memaki mereka dengan kata mana pun yang dimilikinya.
Semua pasrty dijejerkan di loyang, dibawa naik oleh anak-anak servis untuk dijejerkan di JU-MA-NA, tempat resepsi akan dilaksanakan.
Pastry yang bisanya lebih kalem dalam food flow sekarang seperti kesetanan, tidak ada anak-anak Taehyung yang sempat bercanda seperti biasanya; mereka semua menunduk ke bagian mereka menyurahkan semua perhatian mereka pada makanan yang mereka kerjakan.
Jeongguk yang membuat semua menu naik dengan sempurna. Mempertahankan food flow mereka dengan sama sempurnanya sebelum bergegas menghambur ke restoran bersama Namjoon yang tergopoh-gopoh mengikutinya untuk mengecek makanan.
Menyadarinya, Taehyung menatap seluruh anak-anaknya dan mengangguk pada Yugyeom yang balas mengangguk—sebuah komunikasi tanpa suara yang sudah mereka bangun sebagai tim sebagai tanda bahwa Yugyeom harus menggantikannya karena Taehyung harus menyusul Jeongguk.
Taehyung kemudian mengejar Jeongguk, jika raja mereka turun maka seluruh menteri tertingginya harus turun. Dia sudah belajar itu setelah satu bulan lebih bekerja dengan Jeongguk.
Karena kali pertama (dan terakhir) Taehyung tidak datang ke restoran saat Jeongguk mengecek makanan, dia berakhir mendapatkan teguran keras yang membuatnya pening.
Maka dia belajar, kapan Jeongguk bergerak dia harus bergerak. Persis seperti Namjoon.
JU-MA-NA terlihat bersih mengilat, cantik dengan makanan-makanan ditata dengan sempurna. Kue-kue buatan dapur berkilauan seperti permata-permata kecil yang berkilauan. Anak-anak servis bergerak dengan anggun dan cekatan, tersenyum ramah pada tamu-tamu yang berdatangan.
Suasana mendayu-dayu dengan lagu lembut diputar sayup-sayup menemani acara. Sangat berbeda dengan umpatan dan makian Jeongguk serta semua section head di belakang sana, di dapur yang mengebul demi mempersiapkan semuanya.
Namun tidak bisa dipungkiri, melihat semua tamu nampak nyaman dan tenang membuat hati Taehyung ringan. Setidaknya ini berarti tidak akan ada GCC negatif, berarti juga tidak akan ada teguran dari General Manager yang berarti tidak ada amukan Jeongguk.
Seperti efek domino.
Jeongguk nampak lebih tenang setelah acara berjalan dengan lancar di pertengahan; bahunya mulai merileks perlahan saat acara bergulir perlahan menuju akhir. Dia berdiri di sudut, mengawasi setiap orang seperti seekor burung hering lapar yang siap menyambar siapa saja yang melakukan kesalahan.
Taehyung menyempatkan diri mengecek makanan setiap kali dia sempat sebelum kembali mundur ke sudut tempatnya mengawasi bersama FBM yang membuatnya jengkel, tapi dia terkenal dengan kemampuannya untuk bersikap palsu sehingga dia tersenyum saat FBM menceritakan betapa besar revenue yang mereka dapatkan dari resepsi ini.
Dia memercayakan section pada Yugyeom karena semua yang vital sudah naik mereka hanya mempersiapkan pastry untuk makan malam di Bambu dan persiapan untuk breakfast besok pagi sehingga bisa diserahkannya pada Yugyeom, CDP dan DCDP-nya.
Kesal mendengarkan FBM mereka yang nampaknya tidak akan berhenti bicara dalam waktu dekat, Taehyung melirik ke tempat Jeongguk dan jantungnya mencelos saat mereka bertemu pandang.
Hubungan mereka sekarang terasa aneh. Seperti fatamorgana; nyata namun tidak nyata. Jeongguk bersikap lembut padanya di luar jam kerja, memanggilnya 'Tae' seperti apa yang dilakukan adiknya. Dan Taehyung belajar untuk memanggilnya 'Jeongguk' seperti apa yang diinginkannya hingga fasih.
Mereka sering bertemu di depan, seraya absensi pulang dan berjalan berbarengan ke tempat parkir. Mengobrol kecil dan Taehyung mendapati hubungan ini jauh lebih menyenangkan daripada perjodohan panas teman-temannya.
Setelah Taehyung meminta mereka berhenti, semuanya diam dan tenang. Tidak ada yang mengulik hubungan mereka lagi, tidak ada yang menggoda Taehyung lagi menanyakan Jeongguk dan segala macamnya.
Membuatnya sangat nyaman.
Dan dia menyadari hal itu juga membuat Jeongguk nyaman.
Taehyung menaikkan alisnya, tersenyum kecil pada Jeongguk yang berwajah masam.
“Calm down, Tiger.” Godanya tanpa suara dan dia yakin Jeongguk menangkap kata-katanya karena chef itu menyunggingkan senyuman kecilnya yang mahal.
Jeongguk berdiri di sana, beberapa meter jauhnya dari Taehyung, terpisahkan meja display makanan dan orang-orang yang berlalu lalang.
Dia nampak setenang lautan dalam balutan seragam chef-nya yang bersih dan kencang tanpa noda walaupun setelah mengguncangkan dapur dengan amarah dan kehebatannya dalam memasak, topi di kepalanya menjulang dan ekspresi keras dengan kedua tangan di balik punggungnya.
Namun bahkan dengan jarak sejauh itu, Taehyung bisa merasakan kehadirannya di sisinya, begitu dekat hingga hidungnya yakin dia baru saja menyium aroma parfum Jeongguk.
Taehyung mengangkat tangannya ke dekat wajahnya, melakukan gerakan makan dan mengendikkan dagunya dengan senyuman kecil di bibirnya—hatinya yang berbunga-bunga dan bodoh menolak bersikap tenang tiap kali mereka bertatapan.
“Mau makan setelah ini?” Dia bertanya dengan gesturnya.
Mata Jeongguk mengunci tatapannya, dengan bibir membentuk senyuman tipis yang nyaris tidak terlihat jika saja Taehyung tidak sudah cukup lama belajar mengamati ekspresi di wajahnya.
Dia melambaikan tangannya yang ada di bawah dan Taehyung menangkap gerakan itu, dia menunjukkan telapak tangannya ke Taehyung, sebuah gestur untuk menunda percakapan mereka.
Sebelum kemudian menatap Taehyung sekali lagi, dengan intim dan hangat hingga tubuh Taehyung berdenyar nikmat lalu dia berpaling dan menatap Namjoon yang baru saja menghampirinya, melaporkan sesuatu.
Taehyung juga memalingkan wajah darinya, tersenyum. Merasa seperti gadis SMA yang sedang jatuh cinta pada kakak tingkatnya, menyuri pandang dan bertukar pesan rahasia di bawah meja karena mereka sedang backstreet.
Sunrise, time flies, feels like a dream; being close, inhaling, hard to believe
Lagu resepsi terdengar mendayu-dayu saat kedua mempelai sedang berdansa di tengah ruangan. Saling menatap dengan penuh cinta, senyuman lebar bodoh terpasang di wajah mereka sementara semua orang tertawa di sekitar mereka—melingkupi mereka dengan perasaan bahagia yang abadi.
Aroma bunga-bunga segar yang digunakan sebagai dekorasi tercium lembut; bunga mawar-mawar putih, garbera dan krisan yang sewarna pastel, kelopak-kelopak bakung yang merekah lembut. Tercampur dengan aroma masakan lezat, aroma lembut pastry dan parfum para tamu.
Beginilah mungkin jika kebahagiaan bisa dihirup dan memiliki aroma.
Seven billion people in the world, finding you is like a miracle.
Entah musik lagu yang lembut, atau histeria pernikahan yang mengungkung Taehyung saat ini atau memang hanya karena dia sedang jatuh cinta maka seluruh dunia terasa lembut, merah jambu dan mendebarkan...
Entah apa, Taehyung tidak paham.
Only this wonder remains: could I love you any more?
Namun lirik lagu itu menyusup ke setiap inci kulitnya, membuat hatinya terasa hangat. Dia mendesah, merasa pening karena perasaan baru yang belum pernah sama sekali dirasakannya sebelumnya. Jantungnya berdebar, seluruh dirinya terasa hangat hanya dengan memikirkan Jeongguk, hanya dengan menyadari kehadirannya di sekitar Taehyung.
Slowly, softly: love's unfolding.
Dia merasa dia pasti sudah sinting. Dia sebentar lagi berusia empat puluh dan sekarang berdiri di ruangan resepsi yang meriah, berdebar karena jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Sesuatu yang tidak pernah dipikirkannya akan benar-benar terjadi padanya. Banyak tempat kerja yang sudah dijajakinya, banyak atasan dan rekan kerja yang dikenalnya, dia punya banyak sekali teman; namun tidak satu pun dari mereka yang bisa mengguncangkan hatinya seperti ini.
Jatuh cinta yang membuat seluruh dirinya bahagia, hangat, lengkap dan utuh. Bukan lagi jatuh cinta masa remaja yang meletup-letup luar biasa seperti kembang api; tapi sebuah perasaan yang terasa seperti gemuruh air samudera.
Nampak tenang, namun begitu kuat untuk mengguncangkan permukaan.
Mungkin hari pertama Bintan tidak memesankannya concierge adalah awal mula takdir sehingga Jeongguk terpaksa harus menjemputnya. Mereka terpaksa bertemu, duduk bersebelahan dan mengobrol.
Mungkin itu juga takdir bagaimana Taehyung untuk pertama kalinya lupa bersikap detail dengan menyatat alamat kosan barunya sehingga dia harus menelepon lagi.
Mungkin semua itu adalah jalinan takdir yang sudah dibentuk dengan rapi, sedemikian rupa sehingga tidak ada kata terlambat dalam timing Tuhan. Semuanya tepat waktu; bertemu Jeongguk dan segala hal yang terjadi di hidup Taehyung belakangan ini adalah takdir.
Could this love be true?
Dia tidak bisa menahan dirinya sendiri dan mendongak sekali lagi, menoleh ke arah Jeongguk hanya untuk menyadari head chef-nya juga sedang menatapnya, wajahnya nampak tenang dan steril dari emosi. Matanya berkilau, mengunci mata Taehyung dalam pesonanya.
Namjoon di depannya, membicarakan sesuatu dengan serius namun seluruh dunia menciut. Seperti hari pertama Taehyung duduk berdua dengannya di dalam ruangan Jeongguk; seluruh dunia mengecil, menciut menjadi hanya mereka berdua.
Seluruhnya pudar, menyisakan tatapan mereka. Menyisakan mata dan wajah Jeongguk memenuhi seluruh pandangan Taehyung. Tidak ada lagi yang tersisa selain itu.
“You dance?” Bibir Jeongguk bergerak dan Taehyung harus memicingkan mata agar bisa membaca gerakan mulutnya dari jarak sejauh itu. Jeongguk melirik pengantin yang sedang berputar di tengah ruangan, dalam genggaman masing-masing dan tertawa ceria.
Taehyung ikut melirik ke arah mata Jeongguk dan menyadari maksud pertanyaannya. Dia tersenyum, menggeleng kecil. Apakah dia bisa menari? Tidak yakin.
“Not really.” Sahutnya dengan gerakan bibir seraya menambahkan gelengan lembut, “You?”
Mata Jeongguk berkilau oleh humor tipis yang membuat jantung Taehyung berdebar sementara Namjoon di sisinya masih membicarakan sesuatu dibantu Jackson, namun Jeongguk sama sekali tidak mendengarkan apa yang mereka katakan hingga Taehyung harus menyubit pahanya sendiri agar tidak tertawa.
Sejak kapan mereka memiliki ikatan ini? Berbicara tanpa benar-benar berbicara dan berkomunikasi tanpa suara? Sejak kapan Taehyung jadi begitu ahli membaca gerakan mulut Jeongguk dan sebaliknya?
“Probably with you.” Katanya dan Taehyung tidak bisa menahan dirinya sendiri dan hatinya yang berdesir oleh perasaan cinta tersenyum lebar, seperti orang bodoh.
Dan sejak kapan Jeongguk mulai bersikap flirty padanya?
Could I love you anymore?
Lalu perlahan, seperti sebuah mawar yang merekah, bibir Jeongguk terkembang membentuk senyuman lembut yang mendebarkan.
Senyuman hangat, penuh kasih dan menenangkan yang sama seperti yang dilemparkannya ke Jeonggi tiap kali mereka bertatapan.
Dan senyuman itu hanya untuk Taehyung.
Could I love you anymore?
*