Sizzling Romance #63
Ada yang aneh.
Taehyung tahu ada yang aneh. Karena tiba-tiba saja di hari Taehyung menelepon Jeongguk hanya untuk mendapati teleponnya dimatikan secara sepihak, Jeongguk mulai menjaga jarak aman darinya.
Terakhir kali mereka mengobrol adalah pagi keesokan harinya saat Jeongguk menjemputnya. Itu pun hanya sebatas “selamat pagi” dan “selamat bekerja” lalu setelahnya, Jeongguk tidak menganggap Taehyung ada sama sekali.
Bahkan ketika food testing pun, Jeongguk tidak nampak antusias sama sekali dengan keberadaan mempelai dan juga Taehyung. Dia bicara seperlunya, menjawab ketika ditanya dan selebihnya hanya diam. Taehyung berusaha mengulik informasi ini dari Security yang mengonfirmasi kecurigaannya.
“Chef memang begitu.” Kata Security yang ditemui Taehyung saat pulang sedang berpatroli di parkiran motor karyawan. “Memang jarang bicara. Sukanya diam. Tidak suka kontak dengan banyak manusia. Jadi terkenalnya memang dingin dan pendiam.” Lalu dia menambahkan dengan geli. “Cewek-cewek, 'kan, biasanya suka yang begitu, ya?”
Apakah mungkin Taehyung bersikap terlalu frontal padahal Jeongguk sama sekali tidak memandangnya lebih dari sekadar bawahan? Dia mulai merasa keputusannya untuk menelepon Jeongguk adalah sebuah kesalahan.
Dia yakin sekali Jeongguk punya perasaan padanya, setidaknya perasaan fisik yang sama jika hati mereka berbeda. Namun mungkin Taehyung salah menerjemahkan sinyal yang didapatkannya. Dan hubungan mereka yang rapuh menjadi korbannya.
Taehyung memarkir motornya di parkiran karyawan, mengingatkan dirinya sendiri untuk mengajak Hoseok ke dealer motor membeli motor baru (dia sudah mengecek rekening tabungannya dan memutuskan mengambil sedikit untuk motor tidak akan membuatnya rugi) karena jika dipikir-pikir menyewa motor menyedot banyak sekali uang dibandingkan memiliki motor sendiri. Pengeluarannya jadi ganda; selain membayar sewa, dia juga harus membeli bensin.
Menyebalkan.
Taehyung juga sudah berjanji akan bertemu Jimin Sabtu depan untuk berkenalan dengan Seokjin karena Yoongi sudah menerornya—sungguh menerornya untuk bertemu Seokjin jadi Taehyung mengiyakan, bergegas mengosongkan hari Sabtu-nya untuk berangkat ke Ubud.
Mungkin naik motor sendiri dengan Google Maps meneriakan arahan di earphone seraya menikmati Bali dalam kesendirian. Terasa menyenangkan dan penuh adrenalin. Dia akan mendiskusikan ini dengan Jimin nanti malam.
Dia bergegas melangkah ke bagian karyawan, menyapa Security dan bergegas mengambil seragamnya. Ini pukul sebelas pagi, semalam Jeongguk mengingatkan dengan galak di grup tentang bersikap on time hari ini, maka Taehyung tiba dua jam sebelum waktu yang ditentukan.
Satu hal lagi yang berbeda dari Jeongguk sekarang.
Dia nampak uring-uringan, mudah marah dan selalu dalam mood yang tidak baik. Hal kecil akan membuatnya marah. Dapur menjadi seperti neraka dan tidak ada yang berani bicara saat Jeongguk muncul di section mereka untuk mengecek kinerja.
“Dia memang aslinya begitu.” Kata Yugyeom saat Taehyung iseng bertanya saat jam makan siang dan Jeongguk sedang berdiri di balik meja EDR, mengawasi menu makanan karyawan sebelum berbalik dan pergi.
“Biasakan saja, Chef.” Yugyeom mengendikkan bahu dan kembali makan sementara Taehyung melihat ke arah Jeongguk berlalu dengan sedikit resah.
Was it something he did or was it not?
And speaking of the devil,
Dia berpapasan dengan Jeongguk di pintu depan loker. “Oh, halo, Chef!” Sapanya ramah, tidak menyangka akan bertemu Jeongguk juga pada jam segini. Pikirnya chef itu akan tiba nanti pukul satu seperti yang dikatakannya.
Jeongguk mengangguk, rahangnya kencang sebelum berlalu dari sana tanpa bicara seraya memasang topi chef-nya, mengabaikan Taehyung yang menghela napas dan mengendikkan bahu.
Baiklah jika memang begitu, mungkin Taehyung yang salah membaca sinyal yang diberikan Jeongguk padahal sejak awal mereka bertemu Jeongguk sudah menggambar garis tebal hubungan profesionalitas mereka dan membatasi interaksi Taehyung bersamanya di luar pekerjaan.
Jika Jeongguk ingin bersikap profesional, maka Taehyung akan bersikap profesional.
Taehyung mulai mengutuki dirinya sendiri karena menelepon Jeongguk malam itu saat memasuki Pastry yang beraroma tajam mentega hangat, vanila dan juga pastry hangat yang merekah. Semua commis dan helper-nya sedang bekerja mempersiapkan camilan-camilan kecil cantik yang akan dihidangkan untuk para tamu di infinity pool.
Kue pengantin yang mereka kerjakan sekarang berdiri di tengah ruangan, megah dengan base champagne cake yang dihiasi banyak brush stroke cantik, bunga-bunga dari krim dan krim artistik. Taehyung sendiri yang menghiasnya dibantu dengan CDP-nya yang ternyata sangat berbakat menghias kue—tangannya yang terampil mengerjakan mawar-mawar mungil dari krim dengan begitu cepat dan rapi.
Sekarang berloyang-loyang mawar dari krim yang sudah dibekukan berjajar di sisi meja, siap digunakan untuk menghias kue. Taehyung memasuki ruangan dan semuanya bergegas menyapanya dengan ramah, mereka menyayangi dan menghormati Taehyung sebagai atasan mereka karena dia selalu tahu caranya untuk berkomunikasi dengan tepat tanpa menyinggung perasaan seseorang.
Taehyung mengikat tali apron di balik punggungnya. “Semua sudah siap?” Tanyanya pada CDP-nya yang tersembunyi di balik tingginya kue pengantin yang mereka kerjakan sejak kemarin.
CDP-nya mendongak. “Sedikit lagi, Chef. Tinggal menghias sisi kiri dan menambahkan mawarnya, maka semuanya beres.” Dia mengenggam spatula kue di kedua tangannya; satu terisi mawar krim beku dan satunya digunakan untuk menyendok mawar itu untuk diletakkan di kue.
Kuenya nampak spektakuler dengan empat tingkat raksasa. Champagne cake-nya begitu harum saat kemarin Taehyung mengeceknya. Sekarang setelah mereka dihias, benda itu nampak seperti seorang ratu yang berkilauan oleh keindahan. Taehyung menatapnya dengan puas.
“Tolong minta Marketing yang stand-by hari ini ke dapur untuk foto.” Katanya pada salah satu commis yang bergegas menelepon Marketing. “Kita punya banyak bahan untuk exposure di Instagram.”
Taehyung mengambil posisinya di sebelah CDP-nya, menatap wilayah kue yang kosong dan meraih spatulanya sendiri dan Yugyeom mendorong senampan mawar krim ke arahnya.
Pastry selalu terasa dingin, sejuk dan menyenangkan. Ritme kerja mereka sangat jauh berbeda dengan hot kitchen yang selalu penuh teriakan dan desis api panas dengan orang-orang yang berlalu-lalang. Pastry terasa lebih tenang, mendayu-dayu dan lembut. Suhu yang lebih rendah karena menjaga kesegaran kue-kue rapuh menjadi salah satu sumber utama ketenangan jiwa tim Taehyung.
Bayangkan bekerja delapan jam di depan api raksasa yang mendesis, meniupkan hawa panas ke wajahmu lalu bandingkan dengan bekerja di ruangan yang berpenyejuk, beraroma mentega leleh dan vanila.
Taehyung mulai bekerja, menghias kue di hadapannya dengan serius. Memindahkan semua kondimen di nampan ke atas permukaan kue yang lembut oleh krim. Mempelai perempuan sangat menyukai champagne cake yang mereka buat, menghabiskan sisa kuenya saat food testing dan secara personal memuji Taehyung yang menerimanya dengan rendah hati.
Taehyung lebih suka mengerjakan kue pernikahan yang besar ini daripada kue-kue kecil yang akan mereka bawa naik dalam tiga jam karena menunduk ke makanan mungil itu kadang membuat Taehyung mual, maka dia menyerahkan itu pada Yugyeom.
Dia fokus pada pekerjaannya hingga tidak menyadari saat Jeongguk memasuki ruangan, mengecek kerja mereka. Semua timnya seketika menegang, tidak berani mengeluarkan suara lebih dari yang mereka perlukan dan atmosfir berubah menjadi berat dan tidak nyaman.
Sementara Taehyung dan CDP-nya yang fokus tidak menyadari apa yang terjadi.
”... Naik?”
Taehyung masih sibuk membenahi mawar krim di tangannya.
”... Chef?”
“Chef.”
Taehyung mengerjap dan menoleh, menemukan Jeongguk menatapnya dingin dan mendesah. “Maaf, Chef. Saya tidak dengar.” Katanya meminta maaf, menurunkan kedua spatulanya. “Ada yang bisa saya bantu?”
Jeongguk mengangguk. “Jam berapa bisa dibawa naik?” Dia mengerling kue pengantin di bawah tangan Taehyung yang sekarang nampak semarak dan megah karena sudah mendekati 95% selesai.
“Segera setelah Pemberkatan.” Kata Taehyung tegas. “Saya meminimalisir kue terpapar sinar karena akan membuat krimnya basi lebih cepat. Jadi saya akan membawa kuenya sendiri bersama Yugyeom tepat sebelum Pemberkatan selesai, lalu langsung mengembalikannya ke dapur setelah potong kue oleh pengantin untuk dipotong-potong dan disajikan saat Resepsi.”
Jeongguk mengangguk-angguk, puas sebelum mengamati loyang-loyang terisi pastry yang akan naik untuk lunch group di Bambu. Lalu tidak menemukan hal lain untuk dilakukan, Jeongguk akhirnya beranjak pergi dari sana tanpa mengatakan apa-apa lagi dan sontak seluruh dapur menghebuskan napas.
Taehyung mendengarnya, mendongak dari krim mawarnya dan tertawa kecil. “Setegang itu, ya, kalian?” Katanya sebelum kembali merunduk ke kuenya.
“Dia sedang seperti macan yang sakit gigi, Chef.” Keluh CDP-nya di sisinya. “Kemarin saya dengar anak trainee JU-MA-NA menangis di chiller setelah dibentak Chef Jeongguk karena salah. Chef Namjoon berhasil membujuknya keluar setelah satu jam terisak di dalam sana.”
Taehyung meringis mendengarnya. Anak malang, pikirnya bersimpati.
“Tidak ada yang mau berurusan dengannya belakangan ini.” Tambah CDP-nya menunduk ke atas kue, merapikan olesan krimnya. “Semua kitchen mengencangkan ikat pinggang, tidak boleh ada kesalahan karena salah setitik maka dia akan mengamuk.”
“Bukannya dia memang selalu begitu?” Tanya Taehyung dengan kasual, memasang mawar krim di kuenya dengan lembut. “Maksudku, mengomel tentang standar dan tetek-bengeknya.”
“Memang.” CDP-nya mengangguk, meraih nampan mawar selanjutnya. “Tapi tidak pernah semenyebalkan ini, Chef. Dia akhirnya ditolak gebetannya itu mungkin.” CDP-nya memberengut pada kue di hadapannya.
Taehyung mengerjap, jantungnya berdebar mendengarnya dan tangannya berhenti bekerja dengan otomatis: Gebetan?
Namun sebelum dia sempat bertanya lebih jauh tentang gebetan yang dimaksud anak Marketing datang dengan kamera mirrorless-nya untuk mengambil foto persiapan pernikahan itu.
Setelahnya, pertanyaan tentang gebetan Jeongguk lenyap sama sekali dari kepala Taehyung saat dia mengomando anak-anaknya untuk mempersiapkan pernikahan. Kue-kue mungil menggemaskan dengan warna-warni pastel menarik disajikan di meja-meja panjang dengan minuman, didampingi standing bouquet raksasa yang harum.
Anak-anak servis mondar-mandir membawa kursi dan persiapannya. Bunga-bunga yang dibentuk menjadi altar menghadirkan aroma lembut yang menenangkan dengan secercah aroma lautan yang asin. Pemandangan lepas pantai Melasti akan menjadi latar yang luar biasa di foto pernikahan ini karena anak Marketing sudah mulai mengambil banyak sekali foto untuk bank foto mereka.
Jeongguk di sana, di sudut berdiri bersama Namjoon yang siaga di sisinya persis seperti bulan yang berotasi mengelilingi bumi. Mengawasi dengan mata elangnya yang dingin sementara Taehyung berjibaku bersama anak-anak timnya mempersiapkan pastry.
Saat tamu mulai berdatangan, semua anak pastry mundur kembali ke dapur menyisakan Taehyung dan Yugyeom yang berdiri di dekat Jeongguk mengawasi acara.
Pernikahan itu berjalan lancar dan menakjubkan, Taehyung tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak ikut bertepuk tangan saat keduanya selesai mengucapkan wedding vow sebelum mengangguk pada Yugyeom dan berlari ke Pastry untuk mengeluarkan kue pengantin.
Hal itu bisa saja dilakukan oleh anak servis namun Taehyung merasa maha karyanya harus diawasi. Dan dia berjalan cepat di belakang anak-anaknya yang mendorong troli kue ke arah lokasi pernikahan saat kedua mempelai sibuk berciuman dan berhasil menyelipkan kue persis sebelum mereka turun dari altar untuk memotong kue.
“Kerja bagus.” Puji Jeongguk saat Taehyung kembali ke sisinya, terengah-engah karena berlari dan tegang.
“Trims, Chef.” Sahut Taehyung mengangguk tegang, selama pernikahan belum kelar seluruh sarafnya akan tetap di posisi siaga.
Acara berjalan mulus ke Resepsi di JU-MA-NA. Sisa kue pengantin sekarang sudah dipotong-potong dan disajikan di meja. Makanan-makanan fine dining disajikan serentak oleh anak servis. Semua tamu makan dengan ceria, suara denting sendok dan piring, obrolan rendah, musik mendayu-dayu dan tawa membuat Taehyung merasa hangat.
Dia berdiri di sana, di sisi Jeongguk mengawasi jalannya acara sementara Namjoon turun ke dapur untuk mengecek makanan untuk dinner di Bambu. Taehyung melirik atasannya yang menatap lurus ke acara tanpa ekspresi, kedua tangannya berada di belakang punggungnya.
“Chef.” Panggil Taehyung setelah sarafnya yang malang mulai terasa agak rileks karena acara sudah akan selesai, merasa dia sebaiknya bertanya langsung pada Jeonggk alih-alih menebak-nebak apa yang mungkin salah dilakukannya selama ini.
Dia tidak suka hidup dalam ketidaktahuan, dia diberikan mulut dan pikiran untuk digunakan maka saat ada sesuatu yang tidak disukainya, Taehyung akan bersikap sangat vokal tentang itu.
Atau mungkin bertanya tentang siapa gebetan Jeongguk yang disebutkan CDP-nya tadi. Menyadari bahwa sebelum Taehyung pindah ke Banyan Tree Bali, chef muda berbakat seperti Jeongguk pasti dilirik banyak sekali orang.
Tentu dia memiliki banyak orang yang menunggu untuk dilirik, 'kan?
Memikirkan kata gebetan membuat Taehyung mulas—bagaimana jika dia kenal orang itu? Bagaimana jika selama ini Taehyung ternyata akrab dan bersikap baik padanya? Hal itu membuatnya risih.
Walaupun dia tidak paham kenapa berteman dengan gebetan Jeongguk membuatnya tidak nyaman. Mereka, 'kan, hanya teman bekerja. Rekan bekerja. Atasan dan bawahan. Seperti yang Jeongguk sudah katakan padanya.
Taehyung mungkin harus lebih berhati-hati lagi dalam bersikap di depan atasannya.
“Hm.” Sahut Jeongguk bahkan tidak menoleh sama sekali, rahangnya kencang dan Taehyung sejenak mundur, bolehkah dia melakukannya? Atau itu hanya akan membuat anak-anak harus merasakan akibatnya?
“Tidak, Chef. Tidak apa-apa.” Katanya kemudian, tidak berani mengetes kesabaran Jeongguk dan memikirkan bagaimana anak-anak Main Kitchen harus menerima amarah itu setiap hari. “Jangan lupa minum air putih.”
Jeongguk diam dan Taehyung menganggapnya sebagai jawaban positif.
Semua tamu menikmati makanan mereka hingga tetes terakhir, piring-piring dibereskan dan semua tamu perlahan meninggalkan tempat. Anak-anak FBS mulai melakukan clear up dengan cepat dan efisien—menyingkirkan semua piring kotor, merapikan meja dan memasukkan kursi.
Piring-piring kotor ditumpuk, sisa makanan dibuang. Troli-troli penuh piring dan gelas kotor dibawa turun melalui lift barang ke Steward untuk dicuci dan dikeringkan. Suara dentingnya terdengar menggema saat anak-anak berusaha bekerja secepat mungkin untuk mengembalikan set-up awal restoran yang diubah demi mengakomodir keperluan wedding.
JU-MA-NA dibuka kembali untuk tamu dan semua chef yang bertugas hari itu kemudian dikumpulkan di Main Kitchen untuk evaluasi. Jeongguk berdiri di depan dapur, dengan tim yang berdiri di sekitarnya dengan wajah lelah namun puas, termasuk Taehyung yang akan sangat senang jika bisa mandi air hangat, makan sesuatu yang manis lalu tidur setelah ini.
“Terima kasih atas kerja keras kalian hari ini.” Kata Jeongguk dengan suara empuk dan logat Bali-nya yang selalu membuat Taehyung mendesah. “Saya pribadi mengapresiasi bantuan kalian hari ini sehingga wedding berjalan dengan lancar.”
“Terima kasih juga Tim Pastry untuk kesigapannya dalam menyajikan kue pengantinnya tepat waktu. Juga anak-anak servis dan semua yang bekerja sama hari ini.” Dia mengangguk. “Untuk evaluasi, mungkin dari saya tidak ada.”
“Menu makan malam hari ini nyaris tidak ada cacat. Semuanya sempurna, mungkin hanya kejadian tadi pagi karena semua ikan salah potong dan harus diulang. Tapi tidak apa-apa, ikannya akan digunakan untuk breakfast besok pagi.” Tambahnya mengangguk pada tim Butcher yang nampak tegang.
“Service ran smoothly tonight, thank you so much.” Dia mengangguk, melemparkan tatapan ke seluruh timnya penuh apresiasi. “Saya akan menginfokan kalian semua jika pengantinnya sudah memberikan GCC tentang hari ini.”
Dia kemudian menoleh ke Namjoon dan Taehyung. “Ada yang ingin ditambahkan?”
Namjoon menggeleng. “Tidak ada dari saya, Chef.”
Taehyung mengangguk dan Jeongguk mempersilakannya bicara. “Saya hanya akan mengoreksi nampan kedua eclair mini yang muncul sebelum Pemberkatan. Permukaan lapisan cokelatnya sedikit berkeringat karena perubahan suhu saat dikeluarkan dari chiller. Belum dibiarkan di suhu ruangan cukup lama sehingga suhunya normal dan sudah harus dihidangkan, evaluasi untuk time management di Pastry.
“Tapi, saya sudah meminta batch itu ditarik dan diganti dengan yang baru sebelum tamu sempat menyadarinya. Jadi, besok Senin saya akan melaksanakan training tentang ini.” Tambahnya dan Jeongguk mengangguk.
“Terima kasih, Chef.” Jeongguk menatapnya sekilas sebelum kembali menatap timnya. “Ada lagi?”
“Cukup, Chef.”
Jeongguk kembali mengangguk. “Baiklah, Tim.” Katanya meninggikan suaranya menarik perhatian semua orang. “Sekarang silakan pulang, jangan lupa ambil jatah makan kalian dulu di EDR. Selamat malam.”
“Malam, Chef!” Seru semuanya serentak sebelum membubarkan diri.
Taehyung mendesah panjang. “Saya ingin mandi air hangat.” Keluhnya pada Namjoon yang berdiri di sisinya, executive sous chef itu tertawa serak.
“Anda suka berendam, Chef?” Tanyanya sopan.
Taehyung mengangguk, memijat tengkuknya yang terasa pegal setelah seharian menunduk mengerjakan kue. “Membuat otot-ototmu rileks, cobalah.” Katanya tersenyum. “Saya akan beli makan malam, mandi lalu tidur.”
“Setuju.” Namjoon mengangguk ramah. “Hari ini panjang, Chef. Jadi beristirahatlah lebih awal, besok Senin.”
“Menyebalkan.” Komentar Taehyung sebelum berpisah dengan Namjoon yang masih harus bekerja hingga pukul sebelas. “Sampai ketemu Senin!” Katanya ceria pada Namjoon yang balas melambai sebelum bergegas ke Bambu untuk mengecek dinner.
Taehyung melangkah sendirian di lorong menuju loker, melepas topi chef-nya yang terasa mencengkram kepalanya dan juga harnet yang menjaga rambutnya agar tidak mengontaminasi makanan.
Loker kosong saat dia masuk, maka Taehyung bergegas mengganti bajunya. Tidak sabar untuk segera pulang, mampir membeli nasi jinggo langganannya di perempatan dekat kosnya sebelum menelepon Jimin yang hari ini libur. Dia baru saja menutup lokernya, menguncinya dengan suara keras saat pintu loker terbuka dan Jeongguk memasuki ruangan dengan rambut tergerai di tengkuknya.
“Halo, Chef.” Sapa Taehyung ringan. “Saya duluan.” Dia meraup seragamnya yang bau keringat dan kue untuk diberikan ke Laundry dan menyampirkan tali tas di bahunya.
Jeongguk mengangguk. “Hati-hati di jalan.” Katanya dan Taehyung tersenyum.
“Pasti, Chef.” Dia mendorong pintu loker terbuka. “Selamat istirahat untuk Anda dan hati-hati di jalan juga.” Dia menelengkan kepalanya, melemparkan senyuman terbaiknya sebelum mendorong pintu dan keluar dari loker.
Sebaiknya dia tidak berlama-lama di sekitar Jeongguk sebelum dia mengatakan hal-hal yang mungkin akan disesalinya di kemudian hari. Dia meluncur ke Uniform, menjatuhkan seragam kotornya ke kantung binatu dan menempelkan sidik jarinya ke mesin pemindai yang menyatat jam kembalinya seragam.
“Trims, Ula!” Katanya pada anak Housekeeping yang bertugas di Uniform sebelum berlalu dari sana, meraih ponselnya dan akan mengirimkan pesan ke Jimin untuk memberitahu temannya bahwa dia akan menelepon sebentar lagi.
Taehyung bersiul saat melangkah menuju parkiran motor dan merogoh sakunya, mengeluarkan kunci motor. Melangkah ke motor sewaannya, Taehyung menyadari ada paper bag yang disangkutkan di bagian depan motornya.
Bingung, dia meraih benda itu dan mengintip isinya. Menemukan boks kue cokelat dan merasakan permukaannya yang hangat; baru matang. Alisnya berkerut. Dia mengeluarkan benda itu dari sana, merasakan bobotnya yang agak berat sebelum membukanya.
Aroma cokelat langsung menghambur ke indera penciumannya dan dia tersenyum saat menemukan brownies panggang dengan permukaan penuh lelehan cokelat balas menatapnya dari dalam boks.
“Wah.” Katanya ceria dan bersemangat karena mendapatkan hadiah kecil itu. Kebetulan sekali karena dia memang ingin makanan manis. Dia meletakkan boks itu di atas jok motornya dan merogoh ke dalam kantungnya, mencoba mencari kartu atau apa saja yang berisi identitas pemberinya.
Dia menemukannya. Sebuah kartu cokelat sederhana dengan tulisan tangan yang tidak dikenalinya. Hanya dua kata:
Semoga suka! — J.
Dia mengerjapkan mata.
... J?
*