Sizzling Romance #152
Taehyung sungguh takjub pada betapa intens dan semaraknya semua warna yang ditemuinya hari ini. Semua tempat memiliki warnanya sendiri: merah, kuning, jingga dan selebihnya hijau zambrud yang menakjubkan.
Matanya dimanjakan pemandangan yang meneduhkan, warna-warni bebungaan dan suasana sejuk yang menenangkan. Lokasinya tidak jauh dari Kebun Raya, hingga Taehyung kaget saat mobil berhenti dan Jeongguk menyatakan mereka sudah sampai. Dia baru saja akan memejamkan mata untuk tidur sejenak, namun gagal.
Tempat itu ramai oleh wisatawan dan karena Jeongguk menang suit, Taehyung mau tidak mau menatap dengan jengkel tiap kali chef senior itu merogoh saku dan membayar tiket masuk mereka. Dan dia nampak sangat bangga atas kemenangan konyolnya itu, membuat Taehyung merasa hatinya lemah.
Jeongguk kemudian membimbing Taehyung melewati candi masuk dan bergabung dalam lautan manusia di dalam wilayah danau itu.
Pepohonan di tempat ini tumbuh dalam jarak-jarak yang lebih longgar, ada jalan setapak dari batu sikat yang rapi, tepian danau mengintip dari sudut yang langsung tertangkap mata Taehyung. Taman-tamannya lebih lapang dan terbuka, lebih rapi dan terawat—jenis taman yang mendapatkan sentuhan manusia secara konsisten tidak seperti kebun raya.
Ada pohon bunga merah muda yang menggantung seperti lonceng-lonceng kecil di sekitar pintu masuk, jemari Taehyung tidak tahan untuk tidak menyentuhnya, membuat kelopaknya menari dalam sentuhannya.
Jeongguk memasuki tempat itu, menghela napas dan nampak rileks. Suara-suara menggema dari seluruh ruang yang ada, anak-anak kecil berlarian (mereka selalu berlarian di mana saja), kursi-kursi beton yang diletakkan di beberapa tempat terisi wisatawan yang sedang duduk mengobrol atau makan.
“Ayo ke sana.” Jeongguk mengedikkan dagunya ke arah danau dan Taehyung mengikutinya. Mereka melangkah di jalan setapak yang dipagari pohon-pohon tinggi kurus yang berdesir oleh angin.
“Oh.” Kata Taehyung kemudian saat mereka tiba di lapangan luas dengan lebih banyak lagi bebungaan dalam berbagai warna yang semarak membentuk pagar rapi, sebagai pembatas ke arah danau.
“Kenapa?” Tanya Jeongguk, berhenti di sisi Taehyung menatap ke Pura Ulun Danu Beratan yang berdiri megah di hadapan mereka. “Kau sering melihat gambarnya, 'kan?” Jeongguk mengerling Taehyung yang mengangkat ponselnya, mengambil gambar.
“Ya.” Desahnya, terpana. “Baru kali ini aku melihatnya secara langsung. Kupikir itu hanya gambar digital hasil editing yang jago sekali. Maksudku, nyaris tidak nyata.” Dia mengambil gambar dengan ceria, akan pamer pada Yoongi nanti.
“Sentuhan editing digital berkontribusi pada betapa tidak nyatanya tempat itu terlihat.” Jeongguk berdiri, membiarkan Taehyung menjelajah beberapa meter mendekati tembok yang membatasi danau dan halaman pura.
“Tapi inilah aslinya.” Dia menyugar rambutnya, membiarkannya tergerai di tengkuknya sementara karet hitam mungilnya dilingkarkan di pergelangan tangannya. Rambutnya meriap saat terkena angin danau yang lumayan kencang.
“Tidak kalah cantik, kok.” Taehyung menoleh, tersenyum lebar. Dia sekarang berdiri di dekat pembatas, dekat dengan pura hanya terpisahkan danau dan tanaman rambat yang berbunga kuning mungil-mungil.
Jeongguk menghampirinya, mereka berdiri berdampingan di sana. Menatap lepas ke danau yang tenang, perbukitan dengan awan tipis di permukaannya, suara-suara wisatawan dan aroma air tawar yang sedikit amis. Mereka tiba saat matahari sudah mulai turun sehingga suhu jadi agak lebih dingin, namun Taehyung tidak keberatan.
Dia memilih berdiri di bawah matahari yang bersinar temaram karena awan yang menutupinya, menghangatkan diri seperti seekor kucing yang mendengkur senang oleh suhu yang melingkupinya.
Dia menyadari betapa Jeongguk sangat mengapresiasi keheningan, tidak harus memikirkan apa yang mereka obrolkan. Dan Taehyung juga tidak pernah keberatan dengan itu, karena dia juga menikmati keheningan sama seperti Jeongguk.
“Lalu bagaimana caranya jika ingin beribadah ke sana?” Tanya Taehyung, menyeka rambutnya yang menghambur ke wajah karena angin danau, menoleh ke Jeongguk yang berdiri di sisinya.
“Menyeberang dengan perahu.” Jeongguk menunjuk perahu kayu kecil yang ditambatkan di sisi jalan keluar kecil. “Biasanya hanya beberapa orang, tidak semuanya. Sisanya akan berdoa di dalam sana,” Jeongguk menunjuk ke wilayah pura dengan dinding tinggi berlumut yang ditutup untuk wisatawan.
Taehyung menoleh ke bangunan di sisi lain tubuhnya dan mengangguk-angguk paham. Mereka menelusuri jalan setapak perlahan, membicarakan hal-hal remeh yang menarik perhatian mereka hingga akhirnya mereka tiba kembali ke tempat awal mereka memasuki kompleks pura.
Tidak banyak yang ternyata bisa mereka lakukan di sana selain duduk di balai panjang tempat orang-orang berkumpul, menatap lepas ke danau yang berombak lembut karena angin dengan sebotol air mineral dingin dengan kondensasi di permukaannya yang dibelikan Jeongguk (sekali lagi, karena Taehyung kalah suit dan kesempatan itu dimanfaatkan Jeongguk untuk benar-benar menghamburkan uang).
“Hari ini Jeonggi pergi senam ibu hamil.” Kata Taehyung memulai percakapan dengan ringan setelah diam sejenak, membiarkan Jeongguk meneguk habis minumannya karena dia nampak lelah dan haus.
“Ya, diantar suaminya.” Kata Jeongguk, menumpukan kedua sikunya di lututnya dengan kedua tangannya memegang botol minumnya yang sudah separo kosong.
Taehyung ragu sejenak sebelum kembali bersuara, “Kalian kembar beda sel telur, ya? Karena tidak terlalu identik.” Katanya perlahan, menilai Jeongguk yang menatap lurus, menilai ekspresinya saat Taehyung membawa topik personal naik ke permukaan.
Jeongguk mengangguk dan Taehyung menghembuskan napas, setidaknya dia tidak nampak jengkel. “Kami dekat.” Katanya kemudian, membuat Taehyung menoleh.
Matanya menerawang jauh ke danau lepas di hadapannya, ke permukaan air yang bergolak lembut, ke perbukitan hijau seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat dan intim.
“Yah,” dia kemudian menghembuskan napas. “Banyak yang terjadi saat kau masih kanak-kanak, ya, 'kan.” Dia menegakkan tubuh, menoleh ke Taehyung dan tersenyum tipis. “Aku menghabiskan hidupku menjaga Anggi, memastikan tidak ada orang yang menyakitinya.”
Mereka diam. Taehyung membiarkan kekuatan ucapan Jeongguk meresap ke permukaan kulitnya, menyadari seberapa besar arti Jeonggi baginya. Mereka memiliki satu sama lain, dekat dan akrab. Tidak banyak saudara lelaki-perempuan yang bisa sedekat itu.
“Tapi, toh, tetap ada hal-hal diluar kekuasaanku sebagai kakak.” Jeongguk menambahkan perlahan setelah diam lalu mengendikkan bahunya, bersandar di salah satu tiang penyangga balai yang mereka duduki.
“Bagaimana denganmu? Kau punya saudara?” Tanyanya membuat Taehyung sejenak kaget karena Jeongguk akhirnya melemparkan pertanyaan pribadi setelah berjam-jam mereka bersama untuk pertama kalinya.
Sejak tadi, hanya Taehyung yang berusaha membuat pertanyaan-pertanyaan kasual dan memosisikan dirinya sebagai teman yang perhatian alih-alih seseorang yang penasaran tentang hidup Jeongguk.
Namun ini kali pertama Jeongguk menyuarakan pertanyaan itu, persis dengan nada seseorang yang penasaran—bukan lagi pertanyaan sopan basa-basi.
Apakah ini berarti dia juga menghapuskan garis tebal profesionalitas yang digambarnya di hari pertama mereka bertemu?
Taehyung berdebar, namun menekan perasaannya sendiri. Harapan adalah akar dari segala rasa sakit, dia sudah belajar. Maka dia berusaha menekan harapannya sendiri agar tidak terluka karena dirinya sendiri.
“Aku anak tunggal.” Taehyung meringis. “Makanya butuh perjuangan saat aku akhirnya mengakui orientasi seksualku pada kedua orangtuaku. Dan memutuskan berangkat bekerja ke pulau terpencil demi menghindari konflik berkepanjangan dengan keluarga besarku.”
Jeongguk mengangguk perlahan. “Pulau Moyo?” Tebaknya dan Taehyung tersenyum, senang Jeongguk mengingat kisah perjalanan karirnya melewati banyak resor terpencil yang memberikannya keleluasaan bergerak dari pengawasa orangtuanya.
“Amanwana, ya.” Sahut Taehyung, menyeka rambutnya. “Mungkin sebuah tindakan yang tidak bertanggung jawab dengan kabur pergi bekerja ke pulau terpencil begitu tapi aku takut jika aku tetap di rumah berdekatan dengan mereka dalam kondisi konflik, aku akan melakukan hal-hal yang akan kusesali di kemudian hari.”
Jeongguk diam sejenak sebelum kembali mengangguk, “Setuju.” Katanya menerawang, seperti sedang tenggelam dalam kenangannya sendiri yang tidak dipahami Taehyung. “Kadang, kabur sejenak untuk menenangkan pikiran adalah pilihan terbaik dalam menghadapi emosi.”
Kemudian dia mendadak berdiri, hingga Taehyung mendongak kaget. Chef itu menoleh ke arahnya, sejenak nampak menimang-nimang banyak hal sebelum tersenyum kecil.
“Kita... berteman, 'kan?” Tanyanya tiba-tiba membuat Taehyung mengerjap kebingungan.
“Tentu saja.” Sahutnya ragu, apa yang diinginkan Jeongguk? Kenapa dia tiba-tiba memukul mundur Taehyung lagi setelah seharian ini mereka begitu dekat dan akrab?
Lambatlaun, berdinamika dengan Jeongguk membuat Taehyung sedikit kewalahan pada sikapnya.
Dia bisa begitu rileks, namun detik berikutnya begitu tegang dan penuh rahasia. Dia bisa terbuka, namun kemudian menutup semua pintu yang terbuka dan menarik diri dari semua orang.
Taehyung harus sungguh berhati-hati dalam meladeni Jeongguk agar tidak menyinggung tempat sensitif yang membuatnya menarik diri seperti seekor kura-kura yang bersembunyi, membentengi dirinya.
Jadi sekarang, dia benar-benar memikirkan setiap langkah dan ucapan yang akan dikeluarkannya karena Jeongguk nampak sedang kebingungan, ragu pada entah apa yang dipikirkannya sejak tadi setelah membalas pesan di Whatsapp-nya sebelum memasuki Danau Beratan.
“Kau... tertarik makan belut?” Tawarnya kemudian, tawaran yang sama sekali tidak disangka Taehyung.
Apa katanya? “Belut?” Ulangnya, bingung. “Belut air tawar, 'kan? Hidup di sawah? Aku belum pernah mencoba makan olahannya, sih.”
Jeongguk mengangguk, nampak bingung lagi sebelum melanjutkan, “Kau ingin coba makan, mungkin?”
Taehyung mengerjap, ke mana arah pembicaraan ini? “Tentu saja.” Katanya perlahan dan mengangguk, “Kau punya rekomendasi tempat makan belut yang lezat di sekitar sini, I suppose?”
Jeongguk menggaruk pelipisnya, “Sekitar empat puluh menit. Apakah kau keberatan?” Tanyanya, menunduk menatap Taehyung yang masih duduk di balai sementara Jeongguk menjulang di hadapannya, setampan dewa muda.
“Tidak.” Taehyung berdiri, memutuskan untuk mengikuti permainan Jeongguk sebelum dia berubah pikiran. “Kau yang mengemudi, 'kan, aku hanya duduk. Jadi tidak masalah sama sekali. Lagi pula, aku belum terlalu lapar.”
Jeongguk menatapnya, dan seperti biasa tatapannya menelanjangi Taehyung. Terasa menembus setiap lapisan fana yang digunakan Taehyung saat ini; bola matanya gelap, jernih dan berkilau seperti dalamnya lautan.
Jantung Taehyung berdebar, tatapan mata itu tidak pernah tidak melakukan sesuatu pada diri Taehyung. Membuat Taehyung merasa dirinya kecil dan lemah, namun di satu sisi juga nampak begitu rapuh hingga Taehyung merasa ingin merengkuh Jeongguk dalam pelukannya.
Jeongguk adalah orang paling misterius yang tidak tertebak yang pernah Taehyung jumpai, jadi jika Taehyung ingin mempertahankan hubungan mereka senyaman ini, dia harus pintar membaca sikap dan gestur Jeongguk.
Kapan dia harus mundur, kapan dia harus maju. Karena Jeongguk terkadang bahkan mungkin tidak menyadari dia sedang bersikap defensif pada orang atau membentengi diri.
Mengenal Jeongguk terasa seperti menjelajahi tempat eksotis yang belum terjamah. Banyak kejutan, banyak hal-hal baru yang ditemukan Taehyung dalam perjalanannya dalam menyelami Jeongguk. Terkadang matahari bersinar cerah, angin berhembus sejuk namun tidak jarang juga langit berubah mendung dan gerimis turun.
Atau kadang berkabut tebal hingga Taehyung memutuskan untuk berhenti, menanti setidaknya matahari menyembul sebelum kembali melangkah. Kadang Taehyung terpeleset, lupa mengamati ke mana kakinya melangkah dan menyebabkan kakinya terluka. Maka dia berhenti, mengobatinya sebelum menunggu cuaca kembali stabil sebelum melangkah.
Dia tidak bisa bilang dia tidak menikmati perjalanannya.
“Baiklah jika begitu,” Jeongguk berdeham. “Karena tidak banyak yang bisa kita lakukan di sini, jadi mari kita cari makan lalu kembali ke Kuta.”
Taehyung tersenyum. Nampaknya, cuaca sedang cerah di hutan tropis Jeongguk hari ini. “Baiklah, ayo kita makan belut.”
Mereka berjalan berdampingan ke tempat parkir, Jeongguk mengetik sesuatu di ponselnya dengan cepat lalu tersentak kecil dan mengumpat saat ponselnya berdering tanda telepon masuk.
Sebelum Taehyung sempat menoleh, dia sudah mematikan deringnya; mengetik pesan dengan cepat dan mengirimnya. Lalu menyelipkan ponselnya ke saku celana, mengabaikannya.
“Kau suka belut?” Tanya Taehyung saat mereka memasuki mobil Jeongguk yang agak hangat karena sinar matahari sore.
Jeongguk mengangguk. “Khususnya masakan di tempat ini.” Katanya tersenyum kecil. “Kuharap kau juga suka.”
Taehyung tersenyum lebar. “Mari kita lihat.”
*