Sizzling Romance #145

”... Jatuh!”

Taehyung yang sedang menunduk ke layar ponselnya, mendongak ke arah Jeongguk dan menyadari ekspresi chef senior itu nampak kaget dan khawatir, menjulurkan tangan akan meraih Taehyung—ekspresi aneh yang membuat Taehyung terenyuh namun sebelum dia sempat mengapresiasi tatapan atau gestur itu, kakinya terjerumus.

Tubuhnya seketika oleng ke depan karena satu kakinya kehilangan pijakan dan kaki satunya serta otak Taehyung sama sekali tidak siap untuk mengantisipasi momentum itu sehingga alarm di kepalanya berdering: “JATUH!” dengan keras dan seluruh tubuhnya membeku karena kaget.

Namun Jeongguk berseru dalam bahasa Bali, menyambar lengannya dengan kuat persis sebelum Taehyung terjerembab di tanah becek pasar Candi Kuning yang sedang mereka kunjungi. Plastik yang Taehyung genggam (penuh dengan buah-buahan segar dan sayuran serta keripik daun bayam) jatuh ke tanah dengan suara gemeresak keras.

Beberapa orang ikut berseru karena kaget mendengar suara Jeongguk dan Taehyung merasa dirinya ditarik ke arah Jeongguk. Tubuhnya melayang, menubruk tubuh Jeongguk yang bidang dan kuat, tangannya mengenggam tubuh Taehyung kuat. Hidungnya langsung dibanjiri oleh aroma tubuh Jeongguk yang bahkan jauh lebih menyesakkan dari dekat.

“Sudah kubilang.” Kata Jeongguk dengan sedikit jengkel dan khawatir, sedetik kemudian mendorong Taehyung untuk menegakkan tubuh menjauh darinya. “Kau berjalan dengan matamu menempel di ponsel dan tidak melihat lubang di jalan.”

Taehyung yang limbung karena 1) nyaris mempermalukan dirinya sendiri, 2) mematahkan hidungnya karena bersikap bodoh dan 3) baru saja menyandarkan tubuh di tubuh Jeongguk menoleh dengan linglung, mendapati lubang besar di tempatnya tadi berdiri dan hanya untuk membuat dirinya semakin menyedihkan, dia menunduk.

Melihat sepatunya yang kotor oleh air berlumpur yang baunya jelas tidak manusiawi.

Dia mengerang.

Jeongguk mendenguskan senyuman, kejengkelannya luntur. “Sudah kubilang.” Ulangnya dengan menyebalkan dan Taehyung ingin sekali memukul rahangnya atau mencium bibirnya—satu dari dua hal tadi jelas adalah serangan impulsif gila tapi Taehyung tidak terlalu memikirkannya.

“Diam.” Balas Taehyung, mulai merogoh tas selempang kecilnya dan mengeluarkan tisu yang selalu dibawanya. Dia menyambar beberapa lembar lalu mengelap kakinya sementara Jeongguk meraih kantung plastiknya yang berceceran dan membawanya.

Menyadari dia tidak bisa lagi menyelamatkannya, Taehyung mendesah. Melempar tisu yang basah oleh kotoran yang dibentuknya menjadi bola ke tempat sampah sebelum menerima belanjaannya.

“Kita akan ke mana?” Tanyanya saat mereka berjalan menuju mobil mereka yang terparkir di dekat ATM BRI, di sisi gedung ATM ada toko tanaman.

Taehyung lagi-lagi terpana dengan warna-warna bunga itu. Krisan, gerbera, anggrek dan bunga-bunga lain yang tidak dikenalnya namun berwarna cerah semarak membuatnya otomatis tersenyum.

Dia ingin tinggal di sini, dengan halaman penuh bunga yang menyapanya setiap hari dan hawa dingin yang membuatnya malas. Meringkuk di balik selimut dan menyesap thick choud berempah.

Jeongguk menekan tombol kunci terbuka dan mobilnya mengedip meresponnya. “Kita akan naik motor dari sini.” Katanya membuka bagasi belakang yang terisi tikar lembab dan keranjang piknik kosong sisa mereka tadi, membuyarkan imajinasi Taehyung tepat saat dia tiba di bagian sedang membayangkan Jeongguk datang memeluknya dari belakang....

“Taruh saja belanjaanmu di sini.” Tambahnya membantu Taehyung memasukkan belanjaannya ke dalam bagasi mobil.

Taehyung mengerjap, kembali ke masa kini dan bergegas memasukkan belanjaan ke dalam bagasi dengan bantuan Jeongguk sebelum pemuda itu meraih pintu bagasi dan menutupnya dengan suara debum keras. Dia mengunci mobilnya kembali lalu merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel dan menekan beberapa tombol.

Lalu, demi Tuhan, berbicara dalam bahasa Bali yang sopan. “Halo, Swastyastu, Pak? Niki tiang sampun ring Pasar Candi Kuning. Nggih, tiang driki ngantos, nggih? Tiang ring malun ATM BRI.” Dia diam sejenak dan mengangguk pada apa yang dikatakan orang di seberang sana.

Nggih, sareng timpal tiang. Nggih, ten bakta tiang helm'e. Oh, kenten? Nggih, nggih. Suksma, Pak, suksma. Swastyastu.” Dia menurunkan ponselnya, mengetik sesuatu lalu menyimpan ponselnya.

“Kau tadi bilang apa?” Tanya Taehyung penasaran dan Jeongguk menyunggingkan senyuman tipisnya yang mahal.

“Aku bilang pada pemilik kebun untuk menjemput kita di sini karena lokasinya hanya bisa dicapai dengan sepeda motor. Meminta mereka membawakan helm juga karena aku tidak bawa.” Dia kemudian menggulung lengan kemejanya, memamerkan tatonya yang memenuhi lengan bawahnya.

Taehyung menatapnya, “Kita akan pergi ke mana?”

“Ke kebun stroberi.” Jeongguk menjawab dengan kalem. “Mereka supplier Banyan, tadi pagi aku menghubungi mereka dan menanyakan apakah aku boleh meminta satu sesi memetik stroberi. Kata mereka tidak apa-apa, kebetulan juga akan panen hari ini.”

“Jadi, kita akan sekalian membantu mereka panen, apakah tidak apa-apa?” Tanyanya kemudian, menatap Taehyung dalam-dalam.

Taehyung tersenyum lebar, selalu begitu tiap kali mata mereka bertemu dan hatinya akan membuncah hangat. Membuat seluruh tubuhnya berdenyar menakjubkan.

“Tentu saja tidak! Malah jauh dari apa yang kuharapkan.” Katanya bersemangat. “Kupikir kita hanya akan pergi ke wisata biasa? Bertemu banyak orang dan sebagainya.”

Jeongguk mengernyit, jelas tidak menyukai gagasan itu sama sekali. “Aku tidak mau.” Tukasnya membuat Taehyung geli karena dia masih sempat bersikap perfeksionis di saat seperti ini. “Terlalu banyak orang dan kualitas stroberi yang jelek, ukurannya kecil-kecil. Tidak, tidak. Aku ingin pengalaman ini berkesan untukmu.”

Aku ingin pengalaman ini berkesan untukmu.

Hati Taehyung kembali berdesir, kesekian kalinya hari ini sejak pagi Jeongguk menjemputnya. Begitu banyak hal yang terjadi hari ini. Begitu banyak obrolan yang mereka lalui saat duduk berdampingan di atas tikar menatap lepas ke langit dan rerumputan di Kebun Raya.

Makan siang mereka sederhana, hanya sandwich buatan Jeongguk, namun cukup. Taehyung merasa senang hanya dengan duduk di sisi Jeongguk, makan bersama dan membicarakan hal random semacam:

“Berapa mantan kekasih?” Taehyung: 1 orang Jeongguk: 0 orang

“Target menikah di usia?” Taehyung: saat dia siap. Jeongguk: saat dia siap.

“Sudah come out ke orangtua tentang homoseksualitas?” Taehyung: sudah. Jeongguk: sudah.

“Kenapa tetap sendirian?” Taehyung: sibuk berkarir. Jeongguk: sibuk berkarir.

Dan Taehyung menyadari dirinya terlalu banyak tertawa hingga kepalanya terasa begitu ringan oleh adrenalin. Jeongguk di sisinya tidak tertawa, namun senyumannya semakin dan semakin rileks, membuatnya nampak seperti manusia yang baru.

Bagaimana senyuman itu merubah keseluruhan bentuk dan ekspresi wajah Jeongguk menjadi lebih mendebarkan dan menenangkan. Dia menikmati waktu mereka dan sekarang, otot-otot wajahnya nampak lebih rileks saat tersenyum.

“Nah, itu dia.” Jeongguk berkata, menyelipkan ponselnya ke saku saat dua orang di atas sepeda motor berbeda menghampiri mereka; satunya adalah sepeda motor bebek tua sementara satunya sepeda motor anak muda yang canggih dan membua Taehyung anxious.

Satunya adalah pria paruh baya yang ramah dan di sisinya ada anaknya yang masih muda. Jeongguk dan keduanya berbicara dengan bahasa Bali halus yang membuat Taehyung harus diam menunggu sebelum Jeongguk menoleh.

“Ayo.” Dia melambaikan kunci di tangannya dan menghampiri motor anak pemilik kebun itu yang adalah Kawasaki KLX yang mengilap, motor yang sejak tadi membuat Taehyung anxious.

Taehyung berhenti bernapas memikirkannya; Jeongguk dalam balutan kemeja, celana jins dan boots akan menaiki motor trail yang tinggi dan membonceng Taehyung?

Hari ini sungguh hari yang magis.

Jeongguk melempar kakinya menaiki motor itu, yang pas sekali dengan tinggi tubuhnya sebelum menyelipkan kunci ke lubang starter sementara si pemuda tadi menaiki motor satunya membonceng ayahnya.

Dia mengenggam motor itu di tangannya dengan mantap, postur tubuhnya yang tinggi dan tegap membuatnya nampak seperti salah satu model iklan rokok, yang dianggap sebagai lambang maskulinitas absolut.

Dengan rambut gondrong yang diikat membentuk ekor mungil di kepalanya, kemeja yang dua kancingnya terbuka dan lengannya tergulung. Sedang mengendarai motor trail yang nyaris nampak seolah diciptakan khusus untuknya.

Jeongguk menyalakan mesin motor sebelum menoleh, “Ayo.” Katanya menyunggingkan senyuman separonya yang tipis.

Taehyung mengerjap dan bergegas menghampiri motor. “Kita tidak pakai helm?” Tanyanya menaiki bagian belakang motor dan berdebar karena betapa sempitnya bagian jok motor model itu sehingga tubuh mereka nyaris menempel.

Tidak yakin, Taehyung meletakkan kedua tangannya di bahu Jeongguk dengan kikuk.

“Tidak.” Kata Jeongguk tanpa menoleh, rileks walaupun kepalanya terpapar angin dan berpotensi bocor saat mereka jatuh. “Kata mereka dekat.”

Dan yang dimaksud dekat adalah tiga puluh menit lamanya perjalanan dengan kepala Jeongguk di depan wajah Taehyung. Anak-anak rambut Jeongguk berkibar saat dia memacu motor di bawah tubuhnya. Jalanan yang mereka lalui adalah jalanan desa yang ramah.

Motor mereka terasa seperti binatang liar, kuda yang mendengus-dengus marah saat dipacu dan Taehyung sangat benci perasaan itu. Maka dia mengenggam bahu Jeongguk jauh lebih erat.

Lebih banyak bebungaan, lebih banyak kebun kopi dan jeruk yang dilihat Taehyung. Lebih banyak lembah dan daun yang hijau merekah seperti zambrud-zambrud mungil yang melambai saat ditiup angin.

Aromanya menakjubkan; secercah bunga kopi, udara sejuk dan dedaunan. Taehyung di belakang Jeongguk, kedua tangannya mengenggam bahu Jeogguk dengan kepala lebih tinggi darinya, menikmati angin yang menampar wajahnya.

Menikmati perjalanan itu dengan jantung yang berdentam-dentam entah oleh adrenalin atau dekatnya posisi tubuhnya dengan Jeongguk yang ajaibnya mengemudikan motor dengan sama terampilnya dengan mobilnya. Dia tidak nampak kikuk dengan motor di bawahnya, mulus dan lancar.

Minusnya menaiki motor, selain segala angin dan warna yang bisa dinikmati Taehyung, mereka harus berteriak saat bicara.

“Masih jauh, tidak?!” Seru Taehyung di sela deru angin dan suara sepeda motor di sekitar mereka.

“Apa?!” Balas Jeongguk, berteriak, melirik Taehyung dari spion kecil motornya.

“Masih jauh, tidak?!” Ulang Taehyung lebih keras lagi, nyaris tertawa histeris karena begitu banyak adrenalin di aliran darahnya saat ini.

Matahari Bedugul menyembul dari balik awan, membuat kulit Taehyung terasa hangat disengat cahayanya namun juga sejuk oleh angin perjalanan mereka. Menyepuh seluruh permukaan dengan warna kuning terang.

Ini pertama kalinya Taehyung berkendara di atas motor trail yang melaju di jalanan desa yang ramah, di tempat yang asing sepenuhnya untuk Taehyung. Rasanya pergi ke bagian dunia lain yang jauh lebih menenangkan, membuat seluruh sarafnya yang lelah dan jenuh kembali bangkit.

Dia jatuh cinta pada Bali.

“Tidak tahu!” Sahut Jeongguk dan Taehyung bisa mendengar senyuman dalam suaranya. “Kenapa?!”

“Pantatku nyeri!” Taehyung mengeluh karena sekarang pantatnya sungguh berdenyut setelah duduk di jok yang kecil dan keras—anak-anak muda dengan kegemaran mereka memodifikasi motor dari nyaman ke menyiksa sungguh membingungkan Taehyung.

Dan seolah menjawab doa Taehyung, motor di depan mereka membelok dan si bapak menoleh ke mereka. Melambai meminta mereka mengikutinya ke gang kecil dari tanah yang membuat Taehyung harus mengencangkan pegangannya pada bahu Jeongguk.

Jalan itu kecil diapit oleh ladang hydrangea yang semarak berbunga dengan pohon-pohon jeruk yang berbuah lebat. Tiap melewati rumah, seekor anjing menyalak pada mereka dan Taehyung tersenyum, berseru: “Halo!” pada mereka dan membuat mereka semakin menyalak.

“Jangan begitu!” Seru Jeongguk geli setelah anjing ketiga menyalak dan nyaris mengejar mereka karena defensif pada sapaan Taehyung yang mungkin dalam bahasa mereka berarti Ayo ribut!. “Kau membuat mereka marah!”

Taehyung membalas dengan tidak terima, “Aku hanya bersikap sopan, oke?!”

Dan sial bagi Taehyung karena saat Jeongguk memutuskan untuk tertawa, Taehyung sedang duduk di belakangnya, berusaha mempertahankan diri agar tidak terlempar dari jok motor sehingga dia hanya bisa merasakan tubuh Jeongguk yang berguncang tanpa bisa melihat ekspresinya.

“Tolong!” Serunya pada Jeongguk setelah tawa pemuda itu reda. Mereka sedang menanjak dengan lembah mengancam di sisi kanan mereka dan Taehyung takut mereka terguling ke jurang.

“Apa?! Kenapa?!”

“Nanti saat kita tiba, ulang tawamu! Aku harus melihatnya sendiri!”

“Tidak mau!”

“Menyebalkan!”

Mereka kemudian tiba di tempatnya. Tanah lapang yang terisi tenda-tenda yang menahan panas matahari di dalamnya, beberapa orang sedang bekerjadi sana; memindahkan keranjang-keranjang kosong yang siap diisi stroberi. Bergerombol di bawah sebuah rumah kecil tanpa dinding, menggunakan pakaian berkebun yang hangat dan nyaman, topi rajutan dan sarung tangan.

Lokasinya di atas pegunungan, dengan rimbun pepohonan dan pemandangan lembah hijauh di sisi kanannya. Kabut terbit walaupun sudah siang hari, mengigit kulit Taehyung yang terbuka namun dia bisa menahannya. Asap putih muncul dari bibir Taehyung saat napasnya menghambur keluar, melayang di hadapannya seolah mereka sedang berada di musim dingin Eropa.

Kabut yang sama melayang di bebukitan di belakang mereka, membentuk selendang tipis yang cantik menyembunyikan wajah-wajah bumi yang berkilau hijau.

Jeongguk meluncur masuk dan memarkir motornya, Taehyung akhirnya mendesah saat dia turun dari motor dan mengusap pantatnya yang terasa nyeri. Jeongguk mengembalikan kunci motor ke anak si pemilik dan menyugar rambutnya, mengikatnya ulang karena berantakan oleh angin tadi.

Beberapa petani menoleh pada mereka, penasaran. Namun si pemilik menjelaskan bahwa mereka ingin bergabung dalam panen mereka dan semuanya langsung tersenyum ramah seolah mereka berdua adalah saudara mereka yang lama hilang.

Mereka berkenalan dengan ramah, Taehyung mendapati mereka sangat terbuka pada Jeongguk dan Taehyung. Nyaris bersemangat untuk bergegas mengajak mereka memetik stroberi.

Lumayan, mungkin begitu pikir mereka. Dua pekerja tambahan gratis.

“Ayo, ayo!” Kata seorang ibu dengan ceria langsung memberikan keranjang kecil pada Taehyung. “Petik yang banyak, ya, jangan malu-malu.” Katanya ramah.

Di dalam tenda stroberi, semua pohonnya sedang berbuah. Stroberi-stroberi besar merah manyala seperti mirah yang melambai ke arah Taehyung; bergoyang lembut seperti hiasan pohon Natal.

Bahkan jauh lebih cantik dari semua stroberi yang dilihat Taehyung di jalan tadi. Semua petani mulai bekerja memetik stroberi sambil bicara dalam bahasa Bali berlogat kental sementara Jeongguk di sisinya menunggu Taehyung.

“Silakan. Petik sesukamu.” Katanya, menyugar rambutnya sekali lagi. “Bawalah sebanyak apa yang keranjangmu cukup.” Dia menambahkan.

“Stroberi mereka yang terbaik.” Dia meraih satu stroberi yang paling dekat dengannya, memetiknya dan menjatuhkannya ke keranjang Taehyung. Lalu tersenyum.

Dan Taehyung mabuk, sangat mabuk.

Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini, terlalu banyak senyuman, terlalu banyak kejutan dan hal-hal yang menyenangkan hingga Taehyung tidak ingin hari ini berakhir. Dia ingin terus di sini, selamanya.

Dalam suasana ini, dalam rasa bahagia ini.

Memetik stroberi ternyata sangat menyenangkan. Taehyung memenuhi keranjangnya dalam waktu singkat, memetik yang tercantik dan terbesar dari setiap pohonnya. Mengambil gambar untuk dipamerkan ke Jimin setelah sinyal kembali, mengagumi keindahan pepohonan dan ranumnya buah-buah itu.

Kemudian dia memutuskan untuk membantu para petani yang ramah menyambut bantuannya. Mereka mengajari banyak hal tentang stroberi ke Taehyung; teknik memetiknya, perawatan tanamannya, bagaimana mereka memulai bisnis ini hingga akhirnya menjadi suplayer hotel-hotel besar.

Taehyung mendapati dirinya tertawa dalam obrolan mereka, tersenyum lebar dan hangat dengan keramahan mereka. Stroberi mereka, persis seperti yang dikatakan Jeongguk, adalah yang terbaik. Mutunya pas dan Taehyung gatal ingin mengolahnya menjadi sesuatu yang lezat.

Mungkin sesuatu untuk Jeongguk sebagai ucapan terima kasih atas hari ini.

Namun untuk itu, dia butuh dapur yang memadai. Dan yang terpikirkan hanyalah dapur Jeonggi dan dia menyatat di kepalanya untuk membuat janji memasak dengan Jeonggi tanpa memberi tahu kakaknya.

Taehyung mengeluarkan ponselnya, akan mengambil gambar segenggam stroberi ranum di telapak tangannya saat sudut matanya menangkap Jeongguk yang bekerja di seberang kebun, terhalang beberapa petak tanaman stroberi yang sudah selesai dipanen.

Dia kemudian tersenyum.

Memanfaatkan sisa adrenalin dan histeria hari ini yang memompa percaya diri hingga batas maksimal di tubuhnya, dia mengangkat kameranya lalu berseru pada Jeongguk yang memilih buah stroberi.

“Gguk, lihat kemari!”

Jeongguk mengerjap, mendongak dari stroberinya dan menyadari kamera itu lalu dengan ajaib mengulaskan senyuman kikuk yang menggemaskan dan memamerkan stroberi di tangannya. Taehyung bergegas mengabadikan momen itu dan tertawa.

Keduanya bertukar senyuman lebar.

Mereka membawa pulang dua setengah kilo stroberi ranum hasil petikan Taehyung dan Jeongguk, menyerahkan sisanya pada petani yang akan menjualnya sebelum Jeongguk membayarnya karena dia menang suit, permainan yang disarankan Taehyung dan membuatnya kalah.

“Setidaknya sekarang biarkan aku yang bayar.” Keluh Taehyung saat Jeongguk dengan cepat sudah menarik dompetnya keluar.

“Tidak.” Katanya, menarik beberapa lembar uang dari dalamnya.

“Ayo bermain adil!” Cegah Taehyung, menemukan keberanian untuk menepis tangan Jeongguk dari dompetnya. “Kita suit!”

Jeongguk menatapnya seolah sepasang tangan baru saja tumbuh dari leher Taehyung. “Are you 5?” Tanyanya.

“Cepat.” Desak Taehyung, tidak mau kalah. “Yang menang boleh membayar hari ini sampai pulang. Setuju?”

Mata Jeongguk berkilat kompetitif walaupun dia sendiri yang tadi mengatakan kalau suit adalah hal untuk anak kecil.

Taehyung merasa dia mungkin baru saja membangunkan singa tidur saat mengajak bajingan paling kompetitif untuk beradu suit tapi dia harus memenangkan ini.

Petani yang menonton mereka sambil minum kopi tubruk dan makan pisang goreng tersenyum lebar, mendapat hiburan sambil istirahat.

“Kita suit lima kali.” Kata Jeongguk, mulai menanggapi hal ini dengan serius dan Taehyung nyaris terbahak karena tekadnya. “That's how Balinese do it.”

“Oke.” Kata Taehyung, mengambil ancang-ancang.

Jeongguk menatapnya, “Satu, dua, tiga: SUIT!” Serunya.

Ronde satu: Jeongguk: Batu Taehyung: Gunting

Ronde dua: Jeongguk: Gunting Taehyung: Kertas

Ronde tiga:* Jeongguk: Batu Taehyung: Kertas

Ronde empat: Jeongguk: Gunting Taehyung: Gunting

Ronde lima: Jeongguk: Kertas Taehyung: Batu

Ronde tambahan: Jeongguk: Batu Taehyung: Gunting

Dan Taehyung menatap dengan jengkel saat Jeongguk mendengus seolah mengatakan “sudah kubilang aku akan menang” seraya membayar belanjaan mereka dengan hidung terkembang bangga.

Are you 5 katanya, tapi coba lihat siapa yang terobsesi menang?

Kemudian, mereka diantar kembali ke pasar Candi Kuning setelah duduk menikmati secangkir kopi tubruk kental dan pisang goreng yang membuat Taehyung ingin menangis karena terasa begitu sederhana dan lezat.

Perjalanan kembali terasa lebih singkat dari perjalanan menuju ke kebun. Taehyung tahu-tahu saja mendapati mereka sudah tiba di depan mobil Jeongguk dan harus berpisah dengan pemilik kebun yang ramah itu.

Taehyung berjanji akan kembali lagi suatu hari nanti sebelum melambai ceria kepada mereka yang lenyap di pintu keluar pasar sebelum berbalik, ke arah mobil Jeongguk. Mereka memasuki mobil yang sejuk oleh udara di luar dan mendesah, membanting pintu tertutup bersamaan.

“Kau senang?” Tanya Jeongguk seraya membenahi kursi dan tempat duduknya, bersiap untuk mengemudi.

“Sangat!” Kata Taehyung terengah oleh rasa bahagia yang membanjiri seluruh dirinya dan pipinya nyeri oleh senyuman, merona karena adrenalin. “Kau?”

“Senang.” Balas Jeongguk kalem lalu melirik jam tangannya, “Sudah pukul tiga sore. Aku tidak yakin tentang Kintamani dan Trunyan karena itu agak jauh.”

Dia menatap Taehyung. “Bagaimana kalau kita undur ke minggu depan?”

Perjalanan menjelajah Bali lain dengan Jeongguk?

“Tentu saja!” Taehyung tersenyum, jantungnya berdebar antisipatif.

“Jika kau tidak keberatan?” Tambahnya kemudian setelah terdiam, teringat jabatan mereka dan mungkin saja mereka punya reservasi grup hari itu.

Bekerja sebagai hotelier sejak lama membuat keduanya menyadari sepenuhnya bahwa hari libur terkadang adalah sebuah kefanaan yang bisa saja lenyap seketika itu juga jika ada reservasi mendadak dalam pax besar yang harus mereka urus.

Mungkin itu juga alasan kenapa mereka tidak juga memiliki kekasih. Di akhir pekan saat mereka seharusnya mencari kekasih dengan nongkrong menikmati hari libur, mereka harus mengerjakan pesanan tamu. Bergumul di dapur dengan panasnya api dan dinginnya ruangan pastry.

Berlari-lari dengan pesanan, mengecek ratusan makanan; bekerja dan terus bekerja. Lalu terlambat, saat mereka mendongak, mereka sudah berusia tiga puluh tahun lebih.

“Sama sekali tidak.” Jeongguk mengangguk, memasang sabuk pengamannya. “Tolong sabuk pengamanmu.” Katanya, menunggu hingga Taehyung memasangnya sebelum menyalakan mesin mobilnya.

“Ke mana kita sekarang?” Tanya Taehyung ceria, nyaris seperti anak kecil.

“Tujuan terakhir hari ini sebelum kita makan sore dan pulang,” Jeongguk menurunkan jendela seraya memutar roda kemudi memutar mobilnya dan menyerahkan lembar uang ke tukang parkir yang membantunya.

Dia menatap Taehyung, sudut bibirnya ditarik membentuk senyuman tipis: “Danau Beratan.”

*

*Kalo di tempatku, batu ketemu kertas yang menang kertas huhuhu