Sizzling Romance #120

“Kenapa tidak diangkat?”

Taehyung mematikan dering ponselnya dan mendorong benda itu menjauh darinya, menyelipkannya ke dalam saku celananya karena Jimin terus-terusan meneleponnya dan membuat Jeongguk mendongak dari set menu dadakan yang harus diceknya.

“Tidak penting.” Kata Taehyung seketika, meraih kembali sendoknya dan mulai menyuap makanannya—terlalu lapar untuk sekadar merasa malu makan di sisi Jeongguk.

Mereka makan di salah satu bistro kafe di Legian yang cukup ramai. Gemerlap lampu dan neon papan nama membuat Taehyung merasa senang karena akhirnya berjalan-jalan ke tempat yang bukan tempat kerja dan kosannya.

Jeongguk memarkir mobilnya agak jauh dari sana karena macet yang mengular. Dan juga mengajak Taehyung untuk menikmati suasana malam dengan berjalan kaki.

Seolah mereka belum cukup lelah karena seharian mondar-mandir mengurus wedding.

“Jalan-jalan malam untuk meregangkan kaki sedikit. Kau tidak keberatan?”

Tapi, tentu saja tidak.

Apa saja agar bisa lebih lama bersama Jeongguk.

Dan berjalan bersisian dengan Jeongguk di trotoar yang sempit dan ramai ternyata lebih menyenangkan dari apa yang Taehyung pikirkan.

Sesekali, Jeongguk harus mundur berjalan di belakang Taehyung saat mereka berpapasan dengan tamu lain. Atau bahkan turun ke badan jalan.

Dia mengambil posisi yang dekat dengan jalan raya, memosisikan Taehyung di bagian dalam yang aman sebagai gestur kecil melindungi yang membuat Taehyung terenyuh karena dia seorang lelaki sehat dan dewasa yang jelas tahu caranya berjalan di trotoar tanpa perlu dilindungi semacam itu.

Namun, toh, dia menyukainya.

Legian selalu ramai. Semakin malam, semakin ramai. Para wisatawan mulai tumpah ke jalanan dari kamar-kamar penginapan mereka, duduk di bar-bar dan restoran menikmati kehidupan malam Bali yang megah.

Aroma makanan dan bir tercium di udara bersama aroma daging bakar dan juga lalu-lintas.

Taehyung berjalan di atas trotoar dengan Jeongguk di sisinya, di badan jalan sehingga tinggi mereka berbeda beberapa senti.

Malam cerah, bulan bersinar bulat sempurna menggantung di langit seperti mata yang mengawasi mereka. Jalanan di sisi Jeongguk ramai dan di sekitar mereka juga terasa riuh oleh obrolan manusia dan denting alat makan.

Jeongguk memasuki bistro pertama yang menarik perhatiannya dan memesan menu vegetarian sementara Taehyung langsung mencari menu karbohidrat pertama yang ditemukannya dengan sebotol bir karena siapa yang menghabiskan malam di Bali tanpa bir?

Jeongguk.

Karena dia memesan jus kiwi-brokoli yang membuat hidung Taehyung mengeryit.

Mungkin dia harus membiasakan diri dengan makanan Jeongguk yang seperti kelinci; semuanya hijau dan terkadang dalam kombinasi aneh.

Kiwi dan brokoli? Sungguh?

Butuh usaha keras bagi Taehyung untuk menahan diri agar tidak melemparkan gurauan bahwa lelaki vegetarian cenderung memiliki kualitas sperma yang tidak sehat.

Tapi, apa yang dilakukan Jeongguk dengan spermanya jelas bukan urusan Taehyung.

Belum.

“Menelepon terus. Mungkin saja penting.” Jeongguk melirik ponsel Taehyung sebelum menatapnya. “Diangkat saja tidak apa-apa.”

“Sungguh.” Tukas Taehyung, menjejalkan makanan ke mulutnya dan lambungnya menangis menerima makanan padat. “Tidak penting. Itu cuma Jimin.”

“Jimin?” Ulang Jeongguk perlahan. “Temanmu yang di Sayan?”

“Yep.” Taehyung mengangguk, menusukan garpunya ke tomat di sisi makanan dan menyuapnya. Mengunyah sayuran itu dengan senang hati.

“Oh.” Hanya itu yang dikatakan Jeongguk dan dia kemudian kembali menunduk ke kertas yang sedang dikerjakannya sejak tadi

Keduanya diam, menikmati makanan dan atmosfir menyenangkan kehidupan malam Bali. Di hadapan mereka ada kafe yang penuh, tamu-tamu sedang menikmati waktu berkualitas mereka dengan teman-teman terdekat.

Taehyung menjejalkan makanan ke mulutnya, nyaris tidak berhenti untuk bernapas dan baru menyadari bahwa Jeongguk sedang menatapnya setelah suapan terakhir (pamungkas dengan telur mata sapi yang sengaja disisakannya untuk terakhir).

Sendoknya berhenti, dia menatap Jeongguk. “Apa?” Tanyanya.

Sudut bibir Jeongguk tertarik; senyuman tipis mahalnya. “Pesan saja lagi jika kau masih lapar.” Katanya, membereskan kertas di hadapannya. “Kau belum makan sebelum in-charge, ya?”

Taehyung menyuap sisa acar dan irisan mentimunnya seraya menggeleng. “Hanya roti karena buru-buru setelah kau memberitahuku tentang tambahan pax.”

Membicarakan itu membuat kening Jeongguk berkerut tidak suka dan Taehyung menutup mulutnya, menyadari bahwa dia baru saja membawa topik yang salah.

“Hari ini menyebalkan.” Keluh Jeongguk kemudian, menyesap jus anehnya dan mendecap, nampak sangat menyukai rasanya.

“FBM tadi membicarakan tentang revenue yang didapatkan dari wedding-nya.” Taehyung menyelesaikan makannya, mendorong piring menjauh darinya dan meraih botol birnya.

“Siapa yang tidak suka revenue besar? Tapi tidak dengam cara itu.” Jeongguk masih nampak getir dengan penambahan pax tadi yang membuat seluruh dapur kocar-kacir.

Mereka terpaksa meminta commis-commis mereka untuk overtime dan Jeongguk tidak terlalu suka melakukannya; menahan orang yang sudah lelah seharian bekerja untuk bekerja lebih lama.

“Sudah, sudah.” Taehyung tersenyum, membelokkan percakapan mereka dari hal yang membuat Jeongguk kesal. “Sudah berlalu. Kita menyelesaikannya dengan baik, 'kan.” Dia meletakkan botol birnya di atas meja.

Jeongguk meliriknya, menyapukan tatapan ke wajahnya hingga dasar perut Taehyung terasa menggelepar seperti ikan yang diangkat naik ke permukaan.

Setelah kedekatan aneh yang terjalin antara mereka sepulang Taehyung dari Sanur beberapa pekan lalu, Taehyung menyadari banyak hal yang berubah dari Jeongguk.

Dia jadi lebih tenang dan mendebarkan, lebih misterius. Namun terkadang menjadi begitu manis dan menggemaskan dengan tingkah kikuk dan clueless-nya.

Mungkin benar kata Jimin, Jeongguk berubah menjadi ramah pada Taehyung hanya karena Jeonggi suka padanya.

Jeongguk akan menyukai siapa saja yang Jeonggi sukai: semacam beli satu gratis satu.

Saudara kembar itu memiliki selera dan ketertarikan yang sama terhadap benda dan orang.

Mungkin sekarang Jeongguk sedang bersikap ramah padanya hanya agar Taehyung tidak menjauh dan Jeonggi sedih.

Karena jujur saja, Taehyung sama sekali tidak paham apa yang ada di kepala Jeongguk sekarang.

Dia juga tidak memiliki keberanian untuk bertanya pada Jeonggi tanpa dianggap naksir kakaknya dan membawa banyak masalah lagi dalam hubungan mereka yang sekarang terasa seperti sayap kupu-kupu.

Indah, menarik dan menyenangkan. Namun rapuh.

Satu sentuhan yang salah maka hubungan mereka pasti remuk. Dan Taehyung tidak mau itu terjadi, maka dia berusaha keras mengikuti permainan Jeongguk. Mengikuti alur dan keinginannya, tidak mencari tahu lebih dari apa yang Jeongguk tunjukan padanya.

Dia seperti sedang berbaring di atas papan kayu dan mengalir mengikuti arus sungai yang membawanya, entah ke mana.

Arus itu adalah Jeongguk.

Apa saja agar hubungan ini tetap di tangannya, agar Jeongguk tetap menatapnya sebagai teman dan tidak lagi menjauhinya seperti dulu.

“Benar.” Katanya, tersenyum kecil lalu meraih garpunya dan mulai menusuk lembaran sayuran, menyuapnya dan mengunyah dengan suara renyah yang lezat.

“Apa yang kaulakukan besok Minggu?” Tanya Taehyung ringan, meneguk birnya sekali lagi seraya berpikir dia mungkin harus memesan kentang goreng.

“Biasa.” Jeongguk menjawab kalem. “Menemani Anggi di Sanur.”

Lalu menambahkan setelah diam, “Kau ingin ikut?”

Taehyung menggeleng, dia sudah merencanakan diri akan menjelajah Bali. Kemarin dia bertanya antara Hoseok dan Jimin siapa yang libur namun sayangnya keduanya bekerja sehingga Taehyung akhirnya merencakan perjalanannya sendiri.

Perjalanan ke Kintamani kemarin membuatnya penasaran, ingin mengeksplor lebih lagi tempat sejuk itu dan atas saran Seokjin dia akan pergi ke Bedugul.

Dia sudah mengecek peta digitalnya dan mempersiapkan motornya dalam kondisi prima untuk perjalanan jauh.

“Aku akan menjelajah.” Katanya dengan dagu terangkat dan hidung mengembang bangga, tidak sabar ingin segera melaju di jalanan menikmati perjalanannya.

Alis Jeongguk naik sebelah. “Ke mana dan dengan siapa?” Tanyanya.

“Ke Bedugul? Begitukah menyebut namanya? Dan naik motor sendirian.” Dia tersenyum, melambaikan tangan ke pelayan untuk memesan camilan.

“Tolong potato wedges dan sebotol bir lagi, ya. Dalam botol saja jangan dituang ke gelas.” Dia kemudian kembali menatap Jeongguk yang nampak sedang berpikir.

“Ya. Bedugul.” Katanya menerawang, seperti sedang berada di dunia lain. “Ada danau Beratan di sana. Kau bisa mampir ke sana. Lalu ada kebun raya dan pasar sayuran segar.”

“Sungguh?” Taehyung menjawab dengan ceria lalu meraih ponselnya, menutup semua pesan dari Jimin dan mulai menyatat. “Kebun Raya? Dan Danau Beratan?” Katanya sambil menyatat.

“Lalu apa lagi yang bisa kulihat di sana?” Desaknya lagi, mendongak dari ponsel ke Jeongguk yang nampak berpikir.

“Kau bisa piknik di kebun raya. Banyak yang begitu.” Jeongguk mengangguk, menyuap saladnya lagi.

Taehyung menyatatnya dengan senang hati. “Aku akan berangkat pagi untuk menjajal semuanya.” Lalu dia menatap planner wisatanya dengan sangat antisipatif.

“Jika aku berangkat dari sini dan ingin ke Bedugul dan Kintamani, apakah itu jauh?” Tanyanya, menatap Jeongguk yang masih menatap menerawang dengan alis berkerut.

“Jauh.” Jeongguk mengangguk. “Sekitar satu jam lebih dengan kendaraan.”

Taehyung mengangguk. “Tidak jauh kok. Hanya satu jam.” Dia kemudian melingkari Kintamani di ponselnya: dia akan ke sana. “Aku penasaran dengan Desa Trunyan. Mungkin aku bisa mampir ke sana juga jika ada waktu.”

Dia lalu mendesah, “Besok akan jadi luar biasa.” Dia tersenyum pada Jeongguk. “Terima kasih atas informasinya.” Tambahnya.

Jeongguk mengangguk, diam sejenak sebelum meraih ponselnya. “Sebentar.” Katanya dan Taehyung mengangguk.

Jeongguk menunduk ke ponselnya, mengetik sesuatu dengan cepat dan Taehyung menoleh saat pelayan datang dengan pesanannya. Kentang goreng yang dipotong kasar dengan kulit yang masih menempel, seasoning yang pas dan tekstur yang tepat.

Lalu Jeongguk meletakkan ponselnya di meja, menghabiskan makanannya sementara di sisinya Taehyung menikmati suasana malam Legian yang semakin ramai seraya mengunyah karbohidrat keduanya.

Setelah bertengkar siapa yang membayar makanan mereka dan Taehyung kalah karena Jeongguk langsung menangkap tangannya, menjauhkannya dari tagihan dan menyelipkan kartu kreditnya dengan cekatan. Menutupnya dan menyerahkannya pada pelayan yang menatap mereka tertarik hanya dengan satu tangan.

Taehyung menatap tangan Jeongguk yang mencekal tangannya, merasakan hangat dan kasar permukaannya karena telah bertahun-tahun bekerja menjadi juru masak.

Jeongguk menarik tangannya setelah pelayan pergi. “Aku yang mengajak jadi aku yang bayar.” Katanya dengan nada yang tidak bisa didebat.

Taehyung mendengus, sudah menduga harga diri Jeongguk yang mahal akan mengatakan itu.

“Lain kali kita bagi tagihannya agar adil, oke?” Tukas Taehyung saat mereka kembali ke trotoar untuk berjalan kembali ke mobil Jeongguk.

Sekarang setelah kenyang, Taehyung mulai menyesali keputusan mereka untuk parkir agak jauh karena sekarang kelelahan mulai merembes di setiap sendi dan ototnya, membuatnya lemah dan ingin tidur saja.

Kepalanya berdenyut karena lelah dan terlambat makan, dia butuh cepat berbaring tapi mereka masih harus berjalan ke parkiran.

“Oke.” Kata Jeongguk dan dari nadanya, Taehyung tahu dia tidak akan membiarkan itu terjadi.

Namun Taehyung jelas juga tidak akan membiarkan itu tidak terjadi.

Jeongguk can try him.

Jalanan lebih ramai oleh pejalan kaki sekarang, lalu-lalang kendaraan bermotor mulai berkurang dan mereka tiba di mobil Jeongguk lebih cepat dari sebelumnya (syukurlah karena Taehyung takut dia ambruk di jalan karena lelah dan mengantuk).

Taehyung langsung memanjat naik ke kursi penumpang, kelelahan dan mengantuk karena perutnya sudah kenyang.

“Kau lelah.” Kata Jeongguk saat mulai menyalakan mobilnya dan bergabung dalam lalu-lintas menuju pulang.

Dia tidak bertanya, dia tahu Taehyung lelah begitu saja.

“Maaf.” Kata Taehyung bersandar di kursi, menguap tertahan. “Ternyata tidak makan sebelum bekerja membuatmu sangat payah.”

Jeongguk mengangguk dengan mata lurus ke jalan; memacu mobilnya sedikit lebih kencang di jalanan Kuta yang agak ramai. “Memang.” Sahutnya. “Kau harus istirahat jika besok akan berjalan-jalan jauh.”

Taehyung mengangguk, kepalanya berat sekali. Dia tidak akan mandi malam ini. Prioritasnya adalah tidur, peduli setan dengan mandi.

“Akan berangkat lebih siang sedikit.” Kata Taehyung, kembali menguap.

Mereka berhenti di depan kosan Taehyung dan pastry chef itu turun dari mobil Jeongguk. Dia berdiri di depan pintu masuk kosannya dan menatap Rubicon yang jendela pengemudinya turun dan Jeongguk sedang menatapnya.

Nampak berpikir keras seolah Taehyung adalah sederet soal Matematika yang dibencinya namun harus segera diselesaikan.

“Terima kasih hari ini.” Taehyung tersenyum tulus. “Terima kasih sudah mengantar pulang.”

Jeongguk tidak menjawab, dia hanya diam di sana dengan mesin mobil menyala. Matanya masih menerawang dan dia nampak sedang berada dalam dilema yang berat. Membuat Taehyung bertanya-tanya.

“Ada yang ketinggalan?” Tanyanya penasaran karena biasanya Jeongguk akan segera pergi setelah mengantarnya.

Jeongguk menatapnya, matanya mengunci mata Taehyung dengan erat. Membuat jantungnya berdebar lebih liar dan Taehyung mengutuk tatapan Jeongguk yang selalu melakukan itu pada seluruh tubuh dan organnya.

Dia kemudian berbalik, merogoh sesuatu dari kursi belakang sebelum melompat turun. Melangkah ke arah Taehyung yang masih bingung dan menyerahkan tas spunbound hitam polos pada Taehyung.

Taehyung menatap benda itu, bingung namun tak ayal meraihnya dari tangan Jeongguk yang terulur. Dia membukanya dan menemukan kotak bekal di dalamnya.

Hatinya seketika itu juga berdesir.

“Ingin kuberikan tadi, tapi tidak sempat karena hectic. Sudah dingin jelas, tapi siapa tahu kau lapar nanti malam.” Kata Jeongguk dengan perlahan, menolak menatap Taehyung dan nampak sangat tidak nyaman sekarang.

Taehyung merasakan berat kotak bekal itu di tangannya dan hatinya terasa hangat dan membuncah oleh rasa senang.

Bolehkah dia berharap? Sedikit saja? Bahwa Jeongguk juga menyukainya?

“Dan,” Jeongguk memulai kembali, menggaruk tengkuknya dan Taehyung mendongak dari bekalnya—tidak sabar ingin membukanya dan menyicipi masakan Jeongguk.

“Motormu, 'kan, di hotel karena hari ini kau pulang denganku....”

Seketika gelembung bahagia Taehyung meletus dan meleleh di kakinya saat dia menyadari bahwa dia meninggalkan motornya di hotel dengan bodohnya.

Lalu bagaimana besok dia akan berangkat jalan-jalan?

Bodoh.

Taehyung mengerang dalam hati. Bisakah dia ke hotel dengan ojek daring? Mereka mau mengantar Taehyung walaupun sejauh itu jika Taehyung membayar, 'kan?

Dan di tengah kepanikan otak Taehyung, Jeongguk kembali bersuara—menarik Taehyung kembali ke bumi dari kepalanya yang panik memikirkan solusi agar dia tetap bisa jalan-jalan besok.

Sayang sekali semua rencana yang dibuatnya!

” ... Aku sudah bilang Jeonggi aku tidak akan ke rumah besok,” mulainya perlahan dan Taehyung menahan napas.

Apakah dia akan mengatakan sesuatu seperti apa yang dipikirkan Taehyung?

“Jadi...” Dia menggaruk tengkuknya, nampak tidak nyaman; mungkin inilah kali pertama dia memutuskan bahwa dia menginginkan sesuatu dan merasa asing pada perasaan itu.

“Dia menolak semuanya dan merasa itu adalah tugasnya.”

Begitu kata Jeonggi tentang kunjungan Jeongguk setiap akhir pekan ke rumahnya. Jeonggi tidak akan kenapa-kenapa tanpa kakaknya satu hari, 'kan? Dia bisa mencari sitter atau bahkan mengajak ibunya datang ke rumah.

Ya, 'kan?

Apakah itu yang membuat Jeongguk nampak sedang berdebat hebat dengan dirinya sendiri sejak tadi?

Melepaskan adiknya,

“Apakah kau mau jika kutemani seharian besok?”

Untuk pergi dengan Taehyung?

*