Apollo 1-3
*
Natan duduk di kursi di sisi Radit dengan kaki ditumpangkan ke atas dasbor, menikmati perjalanan panjang mereka meninggalkan hiruk-pikuk kota Yogyakarta menuju arah Gunung Kidul yang mulai agak padat karena mengawali akhir pekan sebagai jalan akses satu-satunya Gunung Kidul-Yogyakarta.
Musik diputar dengan keras di mobil sewaan mereka karena begitu mengetahui ke mana mereka akan pergi, Natan sendiri yang memutuskan mereka harus menyewa mobil yang lebih ringkas daripada sedannya yang rendah dan panjang.
Radit duduk di kursi pengemudi, dengan tangan di roda kemudi menikmati perjalanan panjang mereka melepaskan diri dari kota yang melelahkan. Jalanan panjang Gunung Kidul yang perlahan mulai semakin sepi oleh perumahan penduduk yang padat, hingga akhirnya diapit oleh pepohonan rindang yang menenangkan.
Radit tidak butuh Google Maps, dia sudah pergi ke tempat ini berkali-kali sepanjang hidupnya bersama teman-temannya jadi dia sudah hafal jalanan itu dengan baik. Di jok belakang, matras dan tenda sewaan mereka sudah ditumpuk dengan rapi bersama sekantung plastik makanan ringan dan instan yang dibeli Natan, kompor dan alat-alat masak.
Tas mereka dijejalkan di bagasi belakang yang kecil, hanya terisi sedikit baju yang terpenting hanyalah pakaian dalam dan handuk.
Radit sengaja memilih berangkat hari Kamis sore dan membolos di hari Jumat daripada harus berangkat di hari Jumat lalu berebut tempat kemah dengan orang lain yang juga berpikiran sama ingin menghabiskan akhir pekan mereka di pantai. Dia juga mempertimbangkan fasilitas toilet; berangkat Senin, maka semua toilet akan tutup dan membuat mereka kesulitan untuk makan dan mandi.
Namun hari Kamis, dengan pertimbangan sebentar lagi akhir pekan, beberapa pedagang pasti sudah kembali untuk mempersiapkan diri menyambut akhir pekan.
Sepi namun tetap praktis.
Setidaknya begitulah Radit berharap sementara mobil meluncur di jalanan mulus sekarang mulai memasuki kota Wonosari yang agak padat. Natan menikmati perjalanan mereka sembari bernyanyi mengikuti musik yang mengalun di audio, sesekali menganggu Radit yang mengemudi hingga akhirnya mereka tiba di tujuan mereka.
Pantai Jungwok.
Bukan pantai terbaik yang pernah didatangi Radit, dia punya daftar panjang pantai-pantai lain yang lebih cantik dan tersembunyi, jauh dari jamahan pariwisata namun untuk kemah mereka kali ini Radit memilih pantai landai yang terkenal.
Alasan keamanan.
Radit memarkir mobilnya di tempat yang aman, di bawah pohon rindang yang akan meneduhkan mobil mereka jika hujan sebelum akhirnya menoleh ke kekasihnya yang sekarang nampak seperti bocah taman kanak-kanak yang mendapatkan lilin mainan baru.
Mereka berdua keluar dari mobil, langsung merasakan angin laut yang kuat, lengket dan asin di kulit mereka. Natan mengenakan kaus tanpa lengan di bawah kemejanya yang sekarang diikatkan di pinggang, rambutnya meriap di tengkuknya dengan kacamata bertengger di hidungnya yang indah.
Kulitnya yang putih pucat terpapar sinar matahari dan Radit tersenyum melihat senyuman lebar di bibirnya.
“Ayo, turunkan barang-barangnya.” Ajak Radit menutup pintu mobil dengan tangannya.
Natan menghela napas dalam-dalam dengan tangan terentang dan mata terpejam sebelum berbalik, melempar senyuman paling cerah yang membuat hati Radit tersentuh lalu berlari ke arahnya.
Mereka membawa barang-barang mereka dalam satu kali angkut. Tenda, matras dan tas-tas dibawa Radit sementara camilan dan alat masak dibawa Natan.
Kemudian mereka memilih untuk mendirikan tenda di tanah landai di bawah pohon. Radit membersihkan sekitarnya agar tidak ada benjolan di matras mereka nanti lalu mendirikan tenda dibantu Natan.
Setelah tenda berdiri, hari masih terang jadi Natan memutuskan untuk membuat kopi untuk mereka berdua seraya duduk di pintu tenda yang dibuka menatap ke lautan lepas.
“Tidak ada sinyal.” Natan menjatuhkan ponselnya ke dalam tenda, ke atas matras mereka yang disandarkan ke dinding tenda dengan tas.
“Itulah tujuannya.” Radit menjawab. “Melepaskan diri dari internet.”
Natan duduk di sisinya, menumpukan dagunya di kedua lututnya yang ditekuk seraya menunggu air panas mereka.
Angin pantai berhembus lumayan kencang sehingga dia harus membangun benteng kecil dari kertas di sekitar sisi kompor kecil mereka dan menjaga api tetap kecil agar gas tidak cepat habis.
“Sudah lama sejak terakhir kali aku menikmati hari di alam. Tidak ada ponsel, tidak ada perkotaan. Langit malam yang cerah. Besok pagi kita naik ke sana,” Radit menunjuk bukit di arah Barat mereka.
“Mataharinya nampak menakjubkan dari sana.” Dia tersenyum lebar.
Natan mengangguk.
Kopi mereka jadi dan Natan menyerahkan gelas stainless satunya untuk Radit yang menerimanya seraya menggumamkan terima kasih.
Mereka duduk di atas pasir yang hangat dan lembut, menatap lepas ke lautan yang tenang. Beberapa warga lokal sedang memancing di pinggiran laut, membawa joran dan tempat untuk ikan dan gurita yang mereka dapatkan.
Aroma air laut yang asin serta ikan-ikan amis menempel di cuping hidung Natan seketika itu juga tapi dia tidak keberatan.
Dia menjulurkan tangan, meraih rumput laut kering yang terbawa hingga ke tempatnya dan mengamatinya.
“Kau pernah pergi kemah sebelumnya?” Tanya Radit menikmati kopinya.
Natan menggeleng. “Belum.” Dia tersenyum lebar, menyentuh tubuhnya yang terbuka dan merasa lengket. “Ini pertama kalinya. Dan aku merasa tidak sabar.”
Radit tersenyum. “Aku senang jika kau senang.” Dia mengulurkan tangan, menyisir rambut ikal Natan dan melilitkan jemarinya ke helai rambut Natan. Menjambaknya lembut.
Natan menatapnya, matanya mengerling sebelum tersenyum simpul.
Memikirkan bahwa nanti malam mereka tidur di dalam tenda kecil berdua saja tanpa penerangan dan di alam bebas yang tenang.
Natan sangat bersemangat.
“Bagaimana perasaanmu belakangan ini?” Tanya Radit perlahan, menjulurkan kaki mengikuti Natan yang sekarang kakinya digoyang-goyangkan dengan ceria di atas pasir.
“Baik.” Natan tersenyum, menyesap kopinya yang manis. “Terkadang saat aku tidak bisa tidur, aku minta Ayah datang.”
Radit mendesah. Dia sudah dua kali berpapasan dengan Zeus di lorong kamar mandi setelah meninabobokan anaknya dan kembali ke Olympus.
“Kenapa dia tidak kautemani saja?” Kata Zeus nyaris mengeluh seperti anak kecil pada Radit yang terkekeh.
“Pelukan seorang ayah dan pacar tentu saja berbeda.” Sahutnya kalem dan Zeus nampaknya paham karena dia mendesah sebelum mengangguk dan lenyap.
Dan biasanya jika Natan terbangun ketika Zeus sudah lenyap, dia akan masuk ke kamar Radit, menyusup ke dalam pelukan Radit yang terlelap sebelum kembali nyenyak.
Radit sudah sering mendapatinya begitu sehingga di kejadian kedua atau ketiga, Radit sama sekali tidak membuka mata dan hanya merentangkan lengannya, memberi ruang untuk Natan menyusup ke dalam pelukannya sebelum mengecup keningnya dan kembali lelap.
Aroma tubuh Natan sudah terasa seperti aroma tubuhnya sendiri. Pakaian mereka di laundri bersama, mereka berbagi parfum, berbagi losion—terkadang Radit mendongak karena berpikir dia baru saja mencium aroma tubuh Natan namun ternyata itu aroma tubuhnya sendiri.
“Maksudku, secara perasaanmu.” Radit meraih tangan Natan dan meremasnya. “Aku selalu tahu kau baik-baik saja, tapi apakah kau akhirnya sudah baik dengan fakta tentang kehidupan barumu? Tentang jati dirimu sebagai demigod.”
Natan menatapnya. “Oh. Itu.” Bisiknya lalu menatap ke tebing di tengah laut yang dihantam ombak terus-menerus, menggerus sisi pinggirnya hingga compang-camping.
Dia menatap terus, mengamati bagaimana ombak merontokkan karang yang tegak dan kuat itu. Tidak kuat, namun konsisten dan berkelanjutan. Bahkan batu sekeras itu pun kalah oleh lautan.
Hestia memberitahu Natan jika dia ingin mampir ke rumah, dia harus memberi pesan pada Hestia dulu sehari sebelumnya jadi dia bisa meminta harpy untuk membereskan rumah dan dia memasakkan sesuatu untuk Natan.
Natan nampak senang dengan pengaturan itu namun entah bagaimana Radit masih merasa bahwa Natan masih berdebat dengan dirinya sendiri entah tentang apa. Dia tahu ada sesuatu yang menganggu Natan.
“Ada yang menganggumu?” Tanya Radit. “Tanyakan saja, siapa tahu aku bisa memberikanmu jawaban.”
Natan menatap lautan lepas sekali lagi sebelum mendesah, menunduk menatap kakinya sendiri. “Menurutmu...” Bisiknya.
“Ya?”
“Kenapa ibuku tidak menginginkanku?”
Radit diam. Natan juga diam.
Cahaya matahari dihembuskan bersama angin laut yang lembab, membuat wajah Radit terasa lengket dan tebal oleh percikan air yang terbawa angin. Dia menarik kakinya ke bawah atap tenda, mengusap permukaannya yang terasa panas.
Matahari mulai turun ke arah Barat, sinarnya tidak lagi terik namun karena mereka ada di pantai, hawanya tetap terasa tidak nyaman. Radit juga berencana membeli potongan kayu nanti, mereka akan membuat api unggun di depan tenda mereka—menyempurnakan pengalaman pertama Natan.
“Yang jelas, itu bukan salahmu.” Kata Radit kemudian, mengenggam tangannya semakin erat seperti berusaha menahan agar Natan tidak lebur bersama sakit di hatinya. “Terkadang, tidak semuanya berasal dari kesalahanmu sendiri. Dia menolakmu, itu tidak menunjukkan kualitasmu sebagai manusia tapi lebih ke kualitasnya sebagai orangtua.”
Natan diam.
“Dia meninggalkanmu begitu saja itu bukan berarti ada yang salah denganmu.” Radit memulai kembali dengan hati-hati. “Ada yang salah dengannya karena bersikap tidak hati-hati dengan dirinya sendiri dan menghadirkanmu lalu takut karena tidak siap.
“Sungguh, menurutku itu hanya menunjukkan siapa dia alih-alih siapa dirimu.”
Natan menatapnya, tersenyum kecil. “Mungkinkah.... Suatu hari nanti dia datang mencariku?”
Radit tersentuh.
Menyadari bahwa Natan ternyata masih berharap ibunya menginginkannya suatu hari nanti. Berharap ibunya akan menyesal telah membuangnya. Akan kembali untuk berbaikan dan Natan bisa memiliki konsep keluarga rapuh yang selama ini diam-diam terus diharapkannya.
Tidak bisa menahan dirinya, Radit merengkuh Natan dalam pelukannya. Memeluknya begitu erat, berharap luka berdarah di hatinya dapat Radit bantu tangguhkan sehingga tidak membunuh Natan. Tangannya membelai punggungnya sementara Natan menumpukan dagunya di bahu Radit, memejamkan mata dan mengaitkan jemarinya di belakang punggung Radit.
“Kau punya aku. Kau punya Zeus.” Bisik Radit di rambutnya yang harum. “Kau tidak sendirian lagi. Kau punya Hestia. Kami semua sayang padamu. Jika pun dia tidak kembali, kau tidak akan kesepian.”
Radit bisa merasakan senyuman Natan di bahunya, dia mengeratkan pelukannya pada Radit dan membenamkan wajahnya di bahu Radit sebelum menghela napas dalam-dalam dan tersenyum. Dia melepaskan diri dari pelukan Radit.
“Tidak boleh sedih, kita kemari untuk berlibur!”
Radit menatapnya, mengulurkan tangan dan menyentuh pipinya lalu mencubitnya lembut. “Aku sayang sekali padamu.”
Natan nyengir. “Aku lebih sayang padamu.”
*