Apollo #245

*

Hestia bisa saja menjerit tapi toh dia membekap mulutnya sendiri menatap siapa yang berdiri di depan apartemen pribadinya di Olympus dengan wajah mendung yang begitu hebat. Dia kemudian berhasil mengendalikan dirinya, menyentuh dadanya yang berdebar kacau karena kaget dan menatap dewa agung yang berdiri di ambang pintu.

Hestia baru saja selesai mandi dan mengeringkan rambutnya saat pintu kamarnya diketuk, saat dia membukanya Zeus berdiri di sana nampak merana. Dengan buntalan kain mungil di tangannya yang kikuk; mata Hestia mengawasi buntalan itu dengan alis berkerut curiga.

“Tuanku, Zeus.” Katanya. “Apa yang membawa Tuan kemari?”

Zeus melirik lorong kamar sebelum menutup pintu kamar Hestia dan membuat dewi itu mundur selangkah dengan ketakutan. Menghabiskan hidup abadinya menjadi rebutan para dewa selalu membuatnya siaga terhadap tipu daya dan muslihat apalagi Zeus. Namun dia percaya Zeus akan melindunginya seperti bagaimana dia menengahi Poseidon dan Apollo yang memperebutkannya jutaan tahun lalu.

Dia menatap Zeus yang nampak muram. Dia jarang kelihatan senang tetapi bukan berarti kesedihan adalah emosi yang wajar terpampang di wajahnya. Maka Hestia mengerjap, memfokuskan dirinya pada pembicaraan mereka karena apa pun yang akan dikatakan Zeus pastilah penting.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” Tanyanya perlahan.

Zeus mendesah, memijat kepalanya dengan jemarinya. “Hestia, maukah kau membantuku?” Tanyanya, matanya berkabung seperti langit sebelum badai besar—gelap, mengancam dan seolah menahan jutaan liter air hujan yang siap jatuh kapan saja.

Zeus sedang terluka dan merana.

Raja Para Dewa tidak akan meminta bantuan jika dia tidak benar-benar terjebak. Dia mampu menghadapi Typhon sendirian, apa kiranya hal yang membuatnya mendatangi dewi seperti Hestia meminta pertolongan?

Hestia mulai merasa dia sebaiknya melakukan sesuatu untuk membantu Raja Para Dewa ini sebagai balasan atas setiap perlindungannya pada Hestia selama ini.

“Apa yang bisa saya bantu untuk Anda, Tuan?” Tanyanya perlahan.

Dan untuk membuatnya kaget, Zeus kemudian menguraikan buntalan kain biru di tangannya dengan lembut dan berhati-hati, yang sulit dilakukannya dengan jemarinya yang besar dan kasar sebagai seorang dewa.

Dan sebelum Hestia sempat bertanya, buntalan itu menangis.

Tidak sulit bagi Hestia untuk menyadari apa bantuan yang diinginkan Zeus dengan bayi yang menangis di tangannya dan dia yang begitu besar serta kikuk untuk mengurus manusia mungil yang lemah.

“Tolong.” Bisik Zeus, membuai buntalan itu di tangannya—nampak rikuh karena buntalan bayi itu bahkan tidak sebesar lengannya.

Benda itu terlihat ringkih dalam genggaman Zeus yang besar dan Hestia langsung merasakan dorongan untuk meraihnya, mengamankannya sehingga Zeus tidak bisa tidak sengaja meremukkan bayi itu.

Bayi itu merengek.

“Itu...?” Bisik Hestia, kebingungan namun kedua lengannya melakukan hal di luar kekuasaannya dengan terjulur untuk meraih buntalan kain lembut berwarna biru muda itu.

Zeus langsung meletakkan benda itu di cerukan lengan Hestia, nampak lega dia tidak harus menggenggam benda lembut itu di tangannya yang besar dan kasar. Dia menunduk, menatap wajah di balik kain lembut yang membungkusnya dengan sendu.

“Ibunya tidak menginginkannya.” Bisik Zeus masih tidak melepaskan tatapan dari bayi itu. “Dan aku tidak mungkin membawanya ke Perkemahan tanpa membuat Hera mengubahnya menjadi rumput.”

Hestia menatap Zeus. Otaknya bekerja dan menyadari bahwa bayi ini adalah demigod—satu dari tiga demigod yang seharusnya tidak lagi boleh dilahirkan. Zeus, Poseidon dan Hades sudah bersumpah mereka tidak akan menyiptakan demigod-demigod yang terlalu kuat.

Tapi mau bagaimana lagi, mereka tidak bersumpah demi sungai Styx. Dan Hestia bahkan ragu Styx bisa melakukan sesuatu pada Zeus.

Hestia melakukan kesalahan dengan menunduk, menatap seraut wajah mungil di dalam balutan kain halus itu dan langsung jatuh cinta. Bayi itu mungkin baru berusia satu bulan dengan kulit yang masih dihiasi ruam-ruam merah, kening yang berbintik dan ubun-ubunnya yang berdenyut lembek. Dia masih butuh perhatian yang luar biasa dari ibunya.

Bagaimana seseorang tega melepaskan diri dari bayi yang masih begitu lemah bahkan untuk mengangkat tangannya sendiri?

Hestia mendesah, hatinya langsung hangat oleh rasa cinta yang membuncah. Dia langsung menimang bayi itu dengan lembut, mengayunkannya dan membuatnya nyaman dalam pelukannya. Dia merunduk, menghirup aroma minyak telon dan bedak bayi yang kuat dari permukaan kulitnya dan tersenyum kecil.

“Lalu apa yang akan Tuan lakukan padanya?” Tanya Hestia, menyeka kain lembut dari wajah bayi itu dan mendongak menatap Zeus yang menunduk menatap bayi di pelukan Hestia—seperti seorang ayah yang merana karena paham dia tidak bisa menyentuh bayi itu tanpa meremukkannya.

Kedua tangan Zeus terkepal di sisinya. Dia menatap Hestia dengan matanya yang terluka. “Aku sudah menyiapkan segalanya untuk Jonathan, tapi aku butuh seseorang untuk membantuku mengurusnya. Karena... dia masih begitu mungil.”

Jonathan.

Hestia menunduk ke bayi di tangannya. “Namanya indah sekali.” Bisiknya lembut, tengah telunjuknya dia membelai pipinya yang tembam dan tersenyum saat bayi itu merespon sentuhannya dengan bibir yang terbuka memamerkan gusinya yang merah jambu.

“Maukah kau...” Zeus menatap Hestia yang masih sibuk mengagumi keindahan fisik bayi di pelukannya. “Maukah kau menjadi neneknya? Menemaninya hingga cukup dewasa untuk hidup sendiri? Agar Hera tidak menemukannya.”

Hestia mendongak dari Jonathan di pelukannya, menatap Zeus yang wajahnya berkerut-kerut hebat oleh kesedihan, patah hati dan penolakan.

Tidak banyak dewa dan makhluk fana yang melihat duka di wajah Zeus yang congkak dan angkuh. Namun Hestia melihatnya; luka yang berdarah. Dan korban yang merengek di pelukannya, bahkan belum bisa membuka matanya dengan sempurna.

Bayi ini akan mati jika tidak ada yang mengurusnya. Dan mengingat sejarah Zeus dan bayi (satunya melibatkan kehamilan di paha dan lainnya melibatkan tengkorak yang dibuka), Hestia memilih untuk setuju.

“Tuanku,” katanya dengan Jonathan menggeliat di pelukannya. “Saya akan melakukannya.”

Dan ekspresi wajah Zeus berubah, seperti langit cerah setelah malam badai—matahari yang terbit, embun-embun yang menetes di dedaunan dan sinar-sinarnya yang menembus awan-awan kelabu.

Senyuman Zeus nyaris seindah sinar itu.

Dan dimulailah petualangan Hestia menjadi seorang nenek bagi demigod paling kuat.

*

Hestia baru saja membaringkan Jonathan di ranjang kecilnya, mendesah karena cinta yang semakin hari semakin tumbuh liar di hatinya. Menjerat organnya seperti tanaman ivy dan membuatnya sesak. Bukan berarti Hestia keberatan; dia merasakan cintanya untuk Jonathan tumbuh dan tumbuh terus setiap hari bersama tiap tarika napas Jonathan, tiap debar jantung mungilnya dan tiap rengekan dan tangisnya yang menyakitkan telinga.

Hestia menikmati perannya sebagai ibu untuk Jonathan. Bayi manis yang lugu, tersenyum lebar memamerkan gigi barunya yang gatal sebelum memasukkan tangan ke mulutnya dan mengunyahnya dengan liur menetes ke mana-mana.

Dia menumpukan kedua lengannya di pinggiran ranjang, menatap Jonathan yang baru saja genap 1 tahun kemarin. Giginya mulai tumbuh dengan menggemaskan, rambutnya memanjang dan dia sehat sekali.

Hestia mengganti ASI yang seharusnya didapatkannya dari ibunya dengan susu kambing seperti bagaimana mereka membesarkan Zeus berjuta tahun lalu dan berharap dengan tulus ibu kandung Jonathan sedang teriksa dengan payudara bengkak dan nyeri karena tidak menyusui putranya di mana pun dia berada karena dia layak mendapatkan rasa sakit itu.

Sekarang Jonathan sudah bisa makan MPASI. Buah-buahan lunak, bubur bayi dan susu formula. Hestia mulai merasa pekerjaannya sedikit meringan, setidaknya dia tidak harus mengurus susu kambing lagi.

Dalam rahasia ini, Zeus sudah menyumpah Hermes menjadi kurir barang-barang ajaib yang mungkin dibutuhkan Jontahan (contoh: susu kambing) dan Hermes melakukan sumpah demi sungai Styx demi menjaga kerahasiaan ini walaupun dia mengeluh karena mencari susu kambing murni itu sulit sekali.

“Harganya mahal sekali!” Keluhnya namun tidak melepaskan Jonathan dari pelukannya, menimangnya dengan ceria. “Kau tahu seberapa sulit aku mendapatkannya, Hestia??”

Hestia memutar bola matanya. “Ya, ya. Terima kasih, Hermes. Tolong letakkan Jonathan, dia tidak suka jika ada orang dewasa yang menaikkan suara di depannya.”

“Oh?” Hermes mengerjap kaget oleh fakta itu, kemudian menunduk pada bayi yang menatapnya penasaran dengan kedua bola matanya yang bulat dan bening. “Maafkan aku, Sayang.” Bisiknya lembut lalu menyapukan hidungnya pada pipi Jonathan yang terkikik ceria. “Demi Styx, dia lucu sekali.”

Zeus memberikan Hestia rumah di sudut Indonesia, rumah mungil yang terpencil dengan jalan raya di hadapannya. Taman yang indah dan akses menuju tempat perbelanjaan yang mudah. Hestia sudah menghabiskan banyak waktu di sini, mengurus Jonathan yang semakin hari semakin cerewet.

Sehat dan menggemaskan, mustahil untuk tidak jatuh cinta pada wajah bulat dan gigi kelincinya.

Hestia sedang mendendangkan lagu lembut, meninabobokan Jonathan mungil di atas ranjang saat ketukan terdengar dari pintu depannya. Dia mendongak, menoleh ke arah ruang tengah dan mendesah. Dia berdiri, menyeka pakaiannya dan mempersiapkan diri.

Jika ini manusia iseng, dia akan mengubahnya menjadi pohon mangga yang berbuah ranum sepanjang tahun.

Dia melangkah ke pintu, mengintip dari jendela di sisinya dan terkesirap melihat siapa yang berdiri di teras rumahnya. Hestia bergegas membuka selot dan kunci ganda pintunya dengan suara gemericing anak kunci. Menyentakkan benda itu terbuka dan berhadapan dengan Zeus.

“Tuanku!” Bisiknya kaget. “Kenapa Anda...?”

“Aku harus melihat putraku.” Sahut Zeus, beraroma tajam seperti awan badai yang beringas hingga reaksi pertama Hestia adalah mundur dari hadapannya dan membiarkan Zeus memasuki ruangan.

“Tapi, Hera...?” Bisik Hestia kemudian, mengunci pintu rumahnya setelah memastikan tidak ada manusia yang melihat Zeus memasuki ruangan. “Anda meletakkan Jonathan dalam bahaya jika Anda muncul di sini, Tuan. Segala usaha kita akan sia—!”

“Hestia, tolong.”

Hestia langsung menutup mulutnya. Zeus di hadapannya menepis kotoran di tubuhnya, mewujud dalam pakaian yang bersih dan lembut sebelum beranjak ke kamar Jonathan. Dewi itu bergegas menyusul Zeus ke kamar Jonathan yang sudah remang-remang karena bayi itu sudah kelelahan setelah belajar berdiri di keretanya yang berbisik dan jatuh tertidur beberapa jam lalu.

Zeus berdiri di sisi ranjang, kehadiran dan auranya begitu agung bahkan dalam wujud manusianya. Dia memenuhi ruangan itu dengan tubuhnya, citranya dan kuasanya sehingga Hestia mundur ke pintu., membiarkan Zeus berdiri di sisi anaknya.

Dia menunduk ke wajah Jonathan yang serupa bulan purnama. Zeus mengulurkan tangannya yang besar, dengan ujung kelingkingnya dia menyentuh pipi lembut Jonathan yang terasa seperti mentega meleleh.

Bayi itu berdecak lalu mengigau, merasakan sentuhan itu dan Zeus tersenyum.

“Dia sehat.” Hestia berbisik, tersenyum menatap permata yang mereka berdua kagumi di atas ranjang. Bersinar nyaris secerah matahari tiap kali dia tersenyum atau tertawa. Mengguncangkan langit seperti badai saat dia menangis.

“Ya.” Zeus menjawab, dia mendudukkan diri di kursi yang tadi digunakan Hestia lalu menumpukan dagunya di pinggiran ranjang. “Dia sehat sekali.” Dia masih menggunakan kelingkingnya untuk menganggu tidur Jonathan.

Bayi itu mengeluh samar, menangkap benda yang menganggunya lalu menggenggamnya erat. Menggenggam kelingking Zeus dalam tangan bayinya yang montok dan merah jambu.

Zeus tersenyum. “Jonathan,” bisiknya dengan nada takzim seolah sedang memuja sesuatu yang lebih hebat darinya. Dia menggoyang-goyangkan jemarinya yang digenggam Jonathan dengan lembut. “You're my world, you're my everything. I won't let anyone hurt you.”

Keheningan menyelimuti mereka, membiarkan keduanya mengagumi keindahan rapuh manusia setengah fana di ranjang yang mereka pandangi dengan napas tertahan seolah suara sekecil apa pun akan membuat Jonathan menguap.

“Hestia?” Bisik Zeus, masih menatap anaknya. Tidak melepaskan tatapannya sama sekali dari wajah Jonathan yang lelap di atas selimutnya.

“Ya, Tuanku?”

“Jika dia mulai berkencan, aku harus tahu siapa pacarnya.”

Hestia tertawa. “Baiklah, Tuan.” Katanya lalu menamahkan dengan iseng, “Tapi tidakkah Anda mengkhawatirkan hal yang 18 tahun terlalu cepat?”

“Waktu itu konsep yang tidak pasti, Hestia.” Zeus menatap Jonathan yang lelap kembali.

“Untuk seseorang seperti kita, satu kedipan matamu mungkin adalah sepuluh tahun Jonathan. Kita akan mendapatinya dewasa sebelum kita bahkan siap.”

*

Zeus benar.

Begitulah yang dipikirkan Hestia saat dia duduk di kursi orangtua di sekolah Jonathan. Menatap pemuda yang bersinar di jajaran wisudawan lulusan SMA negeri favorit yang menjadi pilihannya beberapa tahun silam.

Jonathan tumbuh seperti seorang Zeus muda; bersinar, lincah, jenaka dan tampan. Dia bisa membuat siapa saja jatuh cinta padanya hanya dengan tersenyum, melemparkan guyonan cerdas yang menyihir hati orang-orang. Dia menguasai ruangan dengan auranya yang nyaris seagung ayahnya.

Namun dia tidak tahu.

Hestia selalu memastikan Jonathan jauh dari identitas aslinya sebagai seorang demigod. Dia selalu berhasil menjauhkan Jonathan dari bahaya dan bersinggungan dengan hal-hal berbau Yunani. Hermes juga selalu membantunya untuk meniupkan Kabut lebih tebal bagi Jonathan tiap kali dia mungkin berpapasan dengan hal Yunani.

Seperti perhitungan Zeus, hidup di Indonesia membuat aroma tubuh Jonathan samar. Dia putra Zeus, aroma tubuhnya seharusnya jauh lebih legit bagi para monster namun dengan buruknya sistem pembuangan sampah di negara ini, Jonathan hanya beraroma seperti manusia biasa.

Hestia sendiri sering mengalami kesulitan karena tertipu aroma sampah basah dan menyangka ada monster yang sedang mengintai rumah mereka, sudah memakai wujud abadinya namun ternyata hanya menemukan sekantung sampah busuk yang menyebalkan.

Dia tidak bisa tidak memikirkan fakta bahwa dia tahu ada seorang demigod juga di Indonesia ini (setidaknya yang dia ketahui dan kenal).

Putra Apollo, Raditya. Pemuda menarik yang sopan sekali padanya setiap mereka bertemu di Perkemahan. Dia selalu memanggil Hestia bibi, mempersembahkan sepotong makanan juga untuknya sebelum makan setelah mempersembahkan untuk ayahnya. Dia tangkas, selalu melakukan perintah-perintah Hera dan Aphrodite yang bosan dengan baik.

Jika ada yang bisa menjaga Jonathan, Raditya-lah orangnya.

Tetapi Hestia tidak menyuarakan pikirannya ini pada Zeus. Mengingat seberapa banyak usaha Zeus untuk menjauhkan Jonathan dari kehidupan Yunani-nya, mungkin menjodohkannya dengan demigod bukanlah hal yang sangat diinginkan Zeus.

Apalagi putra Apollo yang selama ini selalu jadi duri dalam daging baginya (“Ayah kau tahu tidak sekarang mereka punya yang namanya celana jins? Kau sangat tidak bergaya.” Dan Hestia yakin hanya butuh beberapa waktu saja sebelum Apollo dilempar ke Bumi seperti Dionysus.)

Belum lagi keadaan Olympus sedang tidak baik belakangan ini karena Kronos yang berusaha bangkit kembali dan kemunculan putra Poseidon, Hades dan Zeus yang lain membuat semua orang merasa dikhianati. Dan menilik usia putra Poseidon yang jauh lebih muda, Hestia yakin Jonathan sebaiknya disembunyikan dari kekacauan itu—dijauhkan dari Ramalan Besar.

Hestia mengusir Jonathan menjauh darinya dengan memintanya bersekolah di luar kabupaten tempat mereka bersembunyi. Berharap hal itu bisa menjauhkan Jonathan dari aroma tubuhnya sebagai dewi dan memberikannya waktu untuk pulang ke Olympus membantu saudara-saudaranya menghadapi amukan Kronos.

Sekarang mereka sedang membenahi diri, Perkemahan sedang membenahi diri dan Zeus disibukkan dengan pembangunan ulang istana untuk memikirkan anaknya. Maka Hestia memutuskan masalah perjodohan mungkin bisa ditunda.

Jonathan menaiki podium, menerima ijazah dan tanda mata kelulusannya dan tersenyum lebar saat namanya dipanggil. Dia menemukan mata Hestia di kerumunan dan tersenyum semakin lebar.

Bayi mungil yang merengek setiap malam, membuat Hestia kurang tidur dan kelelahan (mengejutkan karena dia seorang dewi) kini sudah berdiri di atas kakinya sendiri; muda, vital dan cemerlang. Zeus muda yang tangkas dan menarik. Dia bisa membuat siapa saja berlutut di kakinya karena pesonannya yang menyilaukan.

Hestia melambaikan ciuman ke arahnya dan Jonathan tertawa.

Dia senang dia memutuskan untuk membantu Zeus mengurus anak ini. Karena dia tumbuh menjadi seseorang yang menakjubkan, berhati hangat dan menyenangkan.

Hestia sudah melakukan yang terbaik.

*

“Aku tidak kenal siapa ibumu, maaf. Aku bahkan tidak tahu wajahnya.” Kata Hestia pada Jonathan dewasa yang sekarang duduk di hadapannya, menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

“Zeus tidak memberitahuku siapa dia.”

Suasana rumah hening kecuali suara Radit yang sedang mandi di kamar mandi seraya bernyanyi lembut. Natan mendengarkan cerita Hestia dengan tenang, mencerna semua masa kecilnya yang aneh perlahan.

Memikirkan bagaimana bisa Zeus sungguh meluangkan banyak waktunya untuk mengurusnya, turun ke Bumi untuk menjenguknya. Memberkatinya dengan perlindungan yang membuatnya tetap terjaga dari kesibukan demigod di Perkemahan Blasteran.

Tentu saja tidak ada yang tahu siapa ibunya kecuali Zeus. Dan dia selalu menjaga Natan jauh-jauh dari ibu kandungnya. Natan mendapati dirinya bersyukur Zeus melakukannya karena dia tidak yakin apa yang harus dilakukannya jika bertemu perempuan yang adalah ibu kandungnya dan juga orang yang menyingkirkannya secepat apa yang dia mampu.

Seperti membuang bungkus makanan.

Natan yakin dia tidak ingin bertemu ibunya jika begitu.

“Dia menyayangimu. Zeus.” Hestia meraih tangan Natan, meletakkannya di telapak tangannya lalu meremasnya. “Kau bayi kami.” Dia menatap Natan lembut.

“Kau selalu menangis tiap kali dia pergi padahal kau selalu tidur saat dia datang. Kapan saja dia melangkah keluar dari pintu, kau akan menjerit dengan seluruh udara di paru-parumu yang mungil.”

“Instingmu mungkin sudah menyadarinya sebelum dirimu sendiri.” Hestia tersenyum. “Hera tidak perlu dipikirkan,” tambahnya kemudian. “Zeus sudah memintanya bersumpah untuk tidak menganggu siapa-siapa lagi dan menghukumnya. Jadi kurasa, kuasa Zeus cukup kuat untuk menahannya.

“Dan Ares sudah memiliki video saat kau mengatainya persis di depan mangkuk saladnya dan siap mengunggahnya kapan saja Hera bertingkah. Jadi, kau aman.” Hestia tertawa serak.

“Kenapa?” Bisik Natan kemudian dan Hestia berhenti tertawa.

“Ya, Sayang?” Tanyanya menatap Natan penuh kasih.

“Kenapa Anda... berkenan melakukannya? Menjadi manusia yang terbatas untuk mengurus saya?”

Hestia menatap wajah Natan, menatap setiap lekuk dan gurat usia yang terbit di permukaannya seiring dengan perkembangan Natan menjadi seorang pemuda yang beranjak dewasa.

Separo hatinya tidak ikhlas melihatnya, dia ingin Natan tetap menjadi bayi mungil yang merengek di pelukannya. Di dalam balutan kain biru lembut pertama kali Zeus membawanya ke hadapannya. Jemari mungilnya yang menangkap tangan Hestia lalu mengenggam kelingkingnya dengan erat tiap kali Hestia menyuapinya dengan makanan dan susu.

“Pertama kali Zeus membawamu,” Hestia tersenyum. “Kau sudah mencuri hatiku. Cinta itulah yang membuatku berani, membuatku bahagia dan kuat. Kau membuatku berani, bahagia dan kuat.

“Tidak sulit untuk jatuh cinta padamu,” dia tertawa lalu melirik Radit yang keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepalanya yang basah.

“Kau bisa tanya Raditya.” Kata Hestia.

Radit mendongak, “Anda memanggil saya?” Tanyanya menatap Hestia dan Natan yang duduk berhadapan dengan aura pekat yang menyatakan bahwa mereka baru saja membicarakan hal berat.

“Tidak sulit untuk jatuh cinta pada Jonathan, benar?” Hestia berbisik dengan lembut, dengan nada takzim yang membuat Radit merinding.

Radit tertawa, teringat bagaimana dirinya saat pertama kali bertemu Natan dan langsung terjun bebas dalam pesonanya tanpa report-repot bersikap malu. Bagaimana hatinya memberat saat dia menyadari dia mungkin kehilangan Natan saat pemuda itu jatuh dari cengkraman Kampe mendarat di punggung Chiron dan ketakutan itu membuat punggungnya terasa seperti disiram air dingin.

Tentu saja tidak sulit jatuh cinta pada pemuda seperti Jonthan. Siapa yang bisa menolak kharisma putra Zeus-nya yang menyihir?

“Sama sekali tidak.” Sahutnya setuju.

*