VKook One-Scene: AUCE Tragedy question mark

*

Taehyung menghembuskan napas jengkel, menatap layar ponselnya dan teman-temannya yang sungguh sangat tidak bisa diandalkan. Bagaimana bisa mereka tidak melihat apa yang sedang Taehyung tawarkan padanya?

All you can eat.

Pay 1 for 2.

PAY ONE FOR TWO!

Di lihat dari mana pun, hal itu sangat menguntungkan. Makan sepuasnya, hanya bayar separo dari harga normal. Untuk dua orang pula. Kenapa bisa-bisanya mereka beralasan sibuk dan kenyang di saat-saat semacam ini??

Taehyung berdiri di depan lorong mall yang ramai, menatap standing banner yang dipasang di depan pintu masuk restoran all you can eat itu dengan sebal. Wajib berdua, begitu syaratnya. Tidak bisa sendiri. Taehyung menggerutu, dia menyugar rambutnya dan menyelipkan ponselnya ke saku.

Tidak bisa lagi mengandalkan teman-temannya. Dia berbalik, berjalan ke arah kedatangannya tadi seraya berpikir. Bagaimana caranya dia bisa makan enak, kenyang dan murah tanpa teman-temannya?

Bukannya Taehyung selalu butuh teman-temannya, sih, peduli setan. Hanya saja tulisan “wajib datang bersama teman atau pasangan” di bawah tulisan “PAY ONE FOR TWO” restoran AUCE itu membuat matanya sakit.

Haruskah Taehyung main Tinder sekarang? Mencari match untuk makan siang lalu menyudahi hubungan mereka? Tapi Taehyung sedang malas sekali merayu orang; dia lelah, jengkel dan lapar. Dia tidak sudi berpikir.

Taehyung melewati bagian depan restoran itu lagi, membaca standing banner itu untuk kesekian kalinya dan kembali mendesah lalu mendekati pelayan yang berdiri di dekat pintu dengan buku menu.

“Mbak, ini berlakunya berapa hari?” Tanyanya merana. Dia ingin sekali tapi tidak memiliki teman untuk makan bersama.

Pelayan itu menatapnya segan, seolah sejak tadi sudah memerhatikan Taehyung yang mondar-mandir di depan restoran seperti orang sembelit tapi tidak juga memutuskan untuk masuk atau tidak.

Mungkin juga menyadari Taehyung yang sejak tadi berusaha menghubungi teman-temannya untuk menemaninya makan AUCE. Namun bagusnya, mereka memutuskan untuk sok sibuk hari ini—saat Taehyung benar-benar butuh.

Hari ini Taehyung hanya berencana untuk pergi ke bioskop, menonton film yang sudah diincarnya sendirian karena tidak ada temannya yang punya selera sama dengannya lalusetelah filmnya berakhir, dia melewati restoran itu dan menemukan harta karun yang tentu saja tidak boleh dilewatkan.

Masalahnya Taehyung itu jomblo dan teman-temannya sibuk. Maka selesai sudah.

“Hari ini dan besok, Kak. Tapi kuotanya terbatas.” Dia tersenyum sopan, menunjuk standing banner itu, menjelaskan dengan ramah dan kesabaran level surga. “Per harinya hanya kami batasi 25 pasangan saja. Jadi, dalam dua hari hanya untuk sekitar 50 pasangan, Kak. Begitu.”

Kepala Taehyung semakin berdenyut. Dia harus segera menemukan pasangan!

Bukan pasangan yang itu, sih, tapi ya sudahlah sama saja.

“Kakak juga harus membawa pacar atau teman jika ingin mengambil promo ini, Kak. Tidak bisa sendirian.” Tambah pelayan itu tersenyum sopan, mengingatkan Taehyung sekali lagi betapa menyedihkannya dia saat ini karena dia lapar tapi sendirian.

“Hari ini baru sepuluh pasangan, Kak. Jadi masih bisa, kok.” Pelayan itu tersenyum. “Kalau semisalnya hari ini kuota 50 pasangannya terpenuhi, maka besok promonya tidak berlaku lagi.”

Terasa bagai petir di siang bolong dan Taehyung harus menahan diri agar tidak mengutuk Jimin dan Hoseok ke neraka jahanam. Bahkan mengutuk dirinya sendiri karena bersikap terlalu anti dengan sosialisasi sehingga teman terdekat yang dimilikinya hanya Jimin dan Hoseok.

“Kau makan saja sendirian, tidak perlu AUCE kenapa, sih?” Kata Jimin tadi di telepon, sebal karena Taehyung merengek padanya untuk datang ke mall menemaninya makan AUCE tidak penting. “Aku sibuk.” Tambah Jimin seperti seorang bajingan tengik dan tulen.

“Jimin! Ini pay 1 for 2! Bagian mana yang tidak kaupahami?” Sahut Taehyung membuat beberapa orang menoleh ke arahnya dengan bingung karena Taehyung mondar-mandir di lorong dengan telepon menempel di telinganya dan marah-marah pada orang di seberang sambungan.

“Aku sibuk.” Sahut Jimin kemudian dengan menyebalkan dan Taehyung berteriak tanpa suara dengan jengkel. “Bagian mana yang tidak kaupahami?”

Dia kemudian memutuskan sambungan teleponnya dan mengumpat jengkel sebelum mencoba menghubungi Hoseok serta mendapatkan hasil yang sama—nihil.

“Iya, ya, Mbak.” Taehyung cengengesan. “Saya kembali besok saja, deh. Belum ada temannya.” Dia kemudian berterima kasih dan berlalu dari sana, menyelipkan kedua tangannya ke saku celana—berpikir keras bagaimana caranya mendapatkan diskon yang diinginkannya.

Dia menatap ke penjuru mall, bersandar di pembatas dan menoleh ke lantai di bawahnya. Berpikir tentang siapa yang bisa diajaknya makan bareng saat ini dan lebih diutamakan bukan Jimin atau Hoseok. Dan itu berarti tidak ada karena Taehyung hanya punya dua teman. Dia menatap mall yang penuh sambil lalu, tidak terlalu fokus.

Matanya memang agak kabur karena tidak mengenakan kacamatanya, namun dia tidak pernah gagal menemukan pemuda manis yang lucu.

Dia mengerjap saat menemukannya; memfokuskan pandangannya, memicingkan mata mencoba menatap lebih jelas saat dia menemukan seorang lelaki sedang berdiri di depan etalase The Executive dengan tas belanja terkait di sikunya dan dia sedang menikmati segelas minuman sambil melakukan window shopping.

Lelaki itu menggunakan celana jins longgar, kaus hitam besar dan rambut yang disisir rapi. Nampak menikmati waktu berkualitasnya dan sama sekali tidak terganggu oleh fakta dia sedang berjalan sendiri. Taehyung suka itu karena dia juga selalu menikmati kesendiriannya dengan baik. Melakukan sesuatu yang menyenangkan dengan dirinya sendiri.

Ganteng juga, pikir Taehyung sambil lalu, mengalihkan pandangannya dari lantai di bawahnya dan kembali memikirkan cara untuk mendapatkan pasangan (untuk makan AUCE, tentu saja).

Saat itulah pemikiran brilian itu menghampiri kepalanya.

Taehyung langsung berbalik begitu saja mengikuti instingnya, berlari ke arah eskalator dan menuruninya setengah berlari. Melompati dua-dua anak tangga yang berjalan, menyelip di antara orang-orang yang berdiri di anak tangganya menunggu hingga tiba ke bawah seraya menggumamkan permisi tanpa benar-benar memaknainya.

Dia mendarat di lantai tiga, lalu berlari ke arah The Executive dan menemukan punggung lelaki itu berjalan menjauh dengan santai, sangat menikmati waktunya sendiri seraya menyesap minuman di tangannya dengan nyaman dan damai.

Kedamaian yang akan dirusak Taehyung, sebentar lagi.

“To kill two birds with a stone.” Pikir Taehyung saat dia mempercepat langkahnya untuk mengejar lelaki itu, menyelip di antara orang-orang yang berdecak kesal karena Taehyung.

“Hei, halo! Kau!” Serunya saat sudah dekat, beberapa orang menoleh karena panggilan itu namun mata Taehyung terkunci pada pemuda yang sekarang berhenti di depan Polo, tidak terganggu oleh panggilan Taehyung.

“Hei, kau! Kau yang ganteng dengan baju hitam kebesaran di depan Polo; haloooo?!” Katanya kemudian membuat beberapa orang mulai terkekeh dan orang lainnya menatapnya terganggu.

Berita baiknya, pemuda itu menoleh.

Wajahnya lebih menakjubkan dari apa yang Taehyung kira. Dari atas sana dengan mata minus Taehyung tanpa kacamata yang tidak suka dipakainya, wajahnya hanya nampak samar-samar. Namun sekarang saat berdiri dua meter darinya—dia nampak luar biasa ganteng.

“Oh. Halo. Saya?” Tanyanya kebingungan dan emosi itu membuat wajahnya yang indah bahkan semakin menakjubkan.

“Oh, wow.” Kata Taehyung tanpa bisa menahan diri, berhenti dua meter darinya dengan napas terengah karena mengejarnya dari jauh. “Wow. Kau jauh lebih ganteng dari dekat.” Pujinya tulus, namun sepertinya bukan kalimat yang cocok diucapkan pada pertemuan pertama.

Karena pemuda itu mengerjap, wajahnya berkerut antara kaget dan takut karena dipuji tampan oleh orang aneh yang berlari-lari dari jauh demi menghampirinya. Dia melirik sekitarnya dengan kikuk, beberapa orang mengamati mereka—tertarik, terhibur dan juga menilai dengan sebal.

Taehyung menghela napas, menenangkan napasnya yang terengah-engah berdiri di depan pemuda asing itu yang sekarang mundur selangkah dengan ragu-ragu karena takut. Matanya melirik ke sekitar, berusaha mencari keamanan untuk membantunya jika Taehyung ternyata berniat macam-macam.

Taehyung kemudian menegakkan tubuhnya, menyugar rambutnya yang terasa kacau karena tadi berlari menembus orang dan menyunggingkan senyuman lebar terbaiknya yang membuat pemuda di hadapannya mengerjap, nampak berubah pikiran.

“Halo, iya. Kau.” Dia maju, mengulurkan tangan dengan penuh percay diri: Demi AUCE, Taehyung. Demi AUCE! “Kenalkan, Taehyung.”

Pemuda itu menatap tangannya, kebingungan sementara beberapa gadis di sekitar mereka mulai cekikikan seraya mengarahkan kamera pada Taehyung dan pemuda asing itu.

Sejenak pemuda itu ragu, sebelum akhirnya menjabat tangan Taehyung namun dengan mata masih melirik mencoba menjadi security. Jabatan tangannya hangat dan kuat walaupun Taehyung orang asing dan dia suka itu—dia suka jabatan tangan yang kuat dan hangat.

“Jeongguk.” Katanya lirih, mengerjap. Sangat berlawanan dengan jabatan tangannya yang hangat, mantap dan kuat. “Maaf, tapi ada kepentingan apa, ya?”

Taehyung tersenyum. “I kind of watching you a bit from upstairs and realizing that you're alone?” Sahutnya dan Jeongguk, pemuda itu mengerutkan alisnya—mungkin sekarang berpikir bahwa Taehyung semacam pengutit tidak tahu diri yang mengamati orang-orang dari kejauhan.

“Yah, begitulah.” Sahut Jeongguk, sekarang nampak positif akan berteriak memanggil keamanan karena ketakutan. “Ada apa, ya?”

“Aku tidak bermaksud buruk, sungguh.” Taehyung memamerkan kedua tangannya di dada, pose menyerah dan Jeongguk menatapnya masih dengan alis berkerut. “Hanya...,” Taehyung menggaruk tengkuknya, sejenak kikuk.

Kemudian teringat standing banner AUCE di atas, teringat ultimantum pelayan yang mengatakan promo bisa saja berakhir hari ini, teringat bahwa dia kelaparan dan membulatkan tekadnya.

Dia menarik napas dan menghembuskannya dengan cepat, tidak mengizinkan dirinya sendiri berpikir: “Kau tertarik makan AUCE bersamaku?”

Jeongguk menatapnya, kaget dengan mulut terbuka—sungguh tidak menyangka pembicaraan mereka akan mengarah ke sana. “... AUCE?” Ulangnya, ragu-ragu dan semakin kebingungan.

Wajah Taehyung merona. “Jadi,” dia tersendat. “Mereka punya promo pay 1 for 2 dan aku tidak punya pasangan karena teman-temanku sibuk semua. Kebetulan aku datang ke sini sendirian dan tadi aku melihatmu dari atas dan berpikir sekilas kau itu...,” dia menelan ludah. “Tipeku.” Bisiknya lirih, malu.

“Jadi, kupikir kenapa tidak mengajakmu makan sekalian. Aku yang bayar, tentu saja. Perut kenyang dan kita punya kenalan baru. Mungkin bisa menjadi teman atau... Apa saja yang mungkin bisa terjadi. Aku sangat terbuka untuk... beberapa kemungkinan.”

Taehyung mulai meracau dan dia akan mempermalukan dirinya sendiri jika terus bicara.

“Yah, begitulah.” Katanya, menghentikan kalimatnya sebelum dia nampak semakin menyedihkan di depan pemuda menarik itu, melirik Jeongguk yang berdiri di depannya dengan wajah kebingungan.

“Sebentar.” Kata pemuda itu, Jeongguk, sekarang mulai geli; emosi itu terbit di wajahnya seperti sekuntum mawar yang merekah, matahari terbit. “Kau berlari dari lantai empat, mengejarku hingga ke sini hanya untuk... mengajakku makan AUCE yang sedang promo?”

Terdengar konyol, sungguh tapi memang begitu. “Kurasa begitu. Ya. Benar.”

Jeongguk menatapnya, senyuman mulai bermain di bibirnya dan mendadak dia kemudian tertawa, serak dan basah. Nampak benar-benar geli pada tingkah Taehyung sebelum menghela napas, menenangkan diri dan menatapnya—wajahnya merah oleh humor dan senyuman lebar bermain di bibirnya.

Ada tahi lalat di bagian bawah bibirnya, Taehyung baru menyadarinya. Ada bekas luka menganggu juga di pipinya. Dan dia punya gigi kelinci samar yang manis.

Wow. Semakin diperhatikan, Jeongguk ini nampak semakin menarik.

Kemudian pemuda itu mengangkat tangan kirinya dan menatap jam tangannya, gestur itu seketika memukul Taehyung mundur. Penolakan yang terasa diteriakkan gestur sederhana itu membuat hati Taehyung nyeri. Dia mungkin menghampiri Jeongguk untuk iseng belaka tapi saat melihatnya dari dekat, Taehyung tidak bisa memungkiri bahwa dia berharap mereka setidaknya bisa bertukar Instagram atau nomor Whatsapp setelah ini.

Namun, ini positif. Dia pasti akan menolak ajakan Taehyung (selamat tinggal AUCE dan calon gebetan, pikir Taehyung merana), Taehyung yakin.

Memangnya orang waras mana yang mau menerima ajakan makan dari orang asing yang tidak jelas? Apalagi dengan wajah sekelas dewa Yunani yang tampan dan semenarik ini, dia pasti akan—

“Aku punya waktu. Dan kebetulan belum makan juga. Jadi, ayo. Kutemani kau makan AUCE.”

—Menolak Taehyung.

APA?!

Taehyung mengerjap, seolah baru saja ditonjok di ulu hati. “Apa?” Tanyanya.

Jeongguk tersenyum hingga pipinya menumpuk di bagian bawah matanya dan kerutan lucu terbit di pangkal hidungnya seperti kelinci—dia menggemaskan sekali hingga Taehyung bersyukur dia sudah berlari untuk mengejarnya tadi.

“Ayo, kita makan AUCE pay 1 for 2 ini.” Katanya ramah. “Sekalian mungkin membahas beberapa prospek hubungan setelah ini yang mungkin... menarik juga untukku.” Senyumannya semakin lebar, memamerkan deretan giginya yang bersih.

Oh.

Wow.

Ini sungguh sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui.

“Kau mau makan denganku?” Ulang Taehyung, disorientasi.

Jeongguk terkekeh. “Kurasa aku baru saja mengatakan itu; ya. Ayo, makan.” Katanya lalu mendekat ke Taehyung, meraih tangannya dengan akrab. Aroma parfumnya meledak di penciuman Taehyung saat pakaiannya bergesekan dengan kulitnya; seperti selapis aroma maskulin, cokelat pekat dan pengharum pakaian yang lembut.

“Tunjukkan padaku di mana restorannya.”

Tuhan pasti sayang sekali pada Taehyung!

*