eclairedelange

i write.

Apollo #219

Aku akan mewujud di hadapanmu.

Begitu kata Zeus tadi, tapi Natan tidak yakin bagaimana yang dimaksudnya dengan 'mewujud'. Apakah dia akan muncul begitu saja dari ruang kosong atau...?

Natan meraih jaket dan kunci mobilnya lalu bergegas menuruni tangga kosannya menuju mobilnya yang terparkir di halaman kosan. Dia menyapa beberapa teman kosnya yang baru saja pulang dengan ramah lalu menekan tombol unlock mobilnya.

Tidak ada yang terjadi.

Natan berhenti, dia menunduk menatap remote kecil mobilnya lalu menekan tombol unlock sekali lagi seraya mengarahkannya ke mobilnya yang terparkir beberapa meter darinya.

Tetap tidak ada yang terjadi.

Maka dia bergegas menghampiri mobilnya untuk mengecek apakah dia sudah mengunci mobilnya tadi pagi setelah kembali dari kontrakan Radit dan mengutuk kelalaiannya. Dia tadi pulang dengan keadaan setengah mengantuk dan tidak benar-benar awas dengan hal-hal di sekitarnya sehingga dia pasti lupa menekan tombol kunci sebelum naik ke kamarnya untuk melanjutkan tidur setelah sarapan.

Dia sedang bergegas saat pintu penumpang tiba-tiba terbuka dan Natan yang terkejut berhenti, kakinya yang kikuk oleh perintah mendadak itu tersandung temannya sendiri dan Natan terhuyung ke depan.

Namun orang di mobil bergegas menyelipkan tubuhnya keluar dan menangkapnya dengan kedua lengannya yang terasa keras dan kuat. Natan mengerjap, separo dirinya yang kaget karena hampir terjerembab mendesah lega sementara sisanya yang menyadari tangan asing itu langsung memaksa otaknya yang baru saja memproses rasa kaget tadi untuk memasang mode defensif.

Otaknya yang malang berdenyut karena perintah beruntun itu.

Maka reaksi yang keluar adalah Natan yang melongo lalu mendongak, berpandangan dengan ayahnya, Zeus sang Penguasa Langit dan Raja Para Dewa yang sekarang berdiri dengan balutan polo shirt dan celana jins.

“Bagaimana... Bagaimana Ayah di sini??” Tanya Natan, bergegas mundur dari jangkauan Zeus seolah dewa itu memancarkan sinar radiasi yang berbahaya.

“Aku mewujud.” Katanya dengan nada tentu saja yang membuat Natan sebal. Dia menatap Zeus dengan mata memicing. “Kau ingin makan apa?” Tanya Zeus kemudian dengan santai, menyugar rambutnya dengan gaya playboy kelas kakap yang patut diacungi jempol.

“Apollo benar.” Keluhnya kemudian dengan hidung berkerut. “Tempat ini bau sekali.” Dia memandang ke sekitar. “Bagaimana kau bisa tahan hidup di tempat ini?”

Natan mengernyit. Dia selalu tidak paham bagaimana para Dewa selalu menganggap tempat tinggal mereka bau dan tidak menyenangkan? Padahal menurut Natan tidak ada bau yang terlalu menganggu.

Bukan salah Natan, 'kan, jika mereka tinggal di Istana Olimpus yang tiap jam dipel dan disemprotkan parfum desainer mahal yang mungkin dipilih Aphrodite sendiri.

“Ayo makan.” Ajak Zeus kemudian menghampiri mobil Natan dan langsung mempersilakan dirinya sendiri masuk ke kursi penumpang, kemudian menjulurkan kepalanya dan berseru. “Ayo, Nak!”

Natan bergegas menghampiri pintu pengemudi, membukanya dan mendudukan dirinya di atas jok. Dia memasukkan kunci dan memasang sabuk pengamannya. “Mobilku, 'kan, terkunci?” Tanyanya masih dengan keheranan.

Zeus bersedekap di tempatnya dengan sabuk pengaman terpasang kencang di tubuhnya. “Jika kaupikir benda semacam kunci buatan manusia itu bisa menahanku, kau pasti bodoh sekali.” Dia memutar bola matanya.

“Baik, baik.” Gerutu Natan, men-starter mobilnya yang berderum lembut. “Tidak perlu sombong. Ayah hanya kebetulan berbakat menjadi pencuri.”

Mereka berkendara dalam diam. Sebenarnya Natan tidak yakin ke mana dia harus membawa ayahnya. Namun karena ayahnya tidak mau junk food maka Natan membelok ke tempat yang pasti cocok dengan keseluruhan penampilan manusia yang dipilih Zeus.

Dia membelok ke Royal Ambarrukmo.

Memarkir mobilnya di parkiran outdoor agar dekat, dia kemudian memimpin ayahnya ke Punika Deli—salah satu dari patissier terbaik di Yogyakarta menurut seleranya. Dia selalu datang kemari tiap kali merasa suntuk dan butuh sesuatu yang manis.

Natan diizinkan memilih kue mana pun yang diinginkannya—memang semenyenangkan itu saat berada dirantau dan orangtua berkunjung. Rasanya seperti memiliki ATM berjalan yang siap menggesek kartunya kapan saja Natan menunjuk apa yang diinginkannya. Walaupun ini kali pertama orangtua Natan mendatanginya.

Mereka kemudian duduk di salah satu kursi di sudut ruangan, mencoba mencari lokasi paling privat yang bisa mereka temukan. Natan kemudian menghela napas, berusaha menenangkan dirinya agar tidak kembali mengamuk seperti terakhir kali bertemu.

Zeus nampak luar biasa dengan tubuh sehatnya, rambut gelapnya yang disisir rapi dengan beberapa helai putih yang membuatnya semakin terlihat bijaksana dan tampan (Natan curiga dia sengaja memunculkan beberapa helai rambut putih agar nampak keren). Dia menyesap kopinya dengan tenang dan mendecap, menyukai rasanya.

“Jadi,” kata Natan saat Zeus meletakkan cangkirnya kembali ke tatakannya dengan suara denting lembut. “Ayah dan Ibu...?”

Zeus menatapnya sejenak, nampak bingung dan ragu-ragu. “Kau yakin mau mendengar cerita ini sekarang?”

Natan menatapnya. “Aku sudah dibohongi 20 tahun, Ayah. Tentu saja sekarang.”

Zeus mengamatinya lebih lama lagi, mengkuru emosi yang nampak di permukaan wajah Natan sebelum akhirnya mendesah, menyerah. “Aku bertemu Oseanita saat dia melakukan perjalanan bisnis ke Empire State Building, menghadiri konfrensi internasional. Aku menyamar sebagai salah satu peserta dan mencoba merayunya. Dia tidak tahu aku Zeus, tentu saja.”

Oseanita.

Nama ibu Natan, Oseanita.

“Setelah malam itu, kami tidak bertemu lagi tapi aku meninggalkan nomor telepon untuknya seperti seorang gentleman karena aku harus mengurus anakku.

“Dan dia menghubungiku beberapa bulan kemudian. Mengabariku bahwa dia hamil. Lalu menjelaskan bahwa sebagai orang Indonesia dia tidak bisa melahirkanmu...” Zeus berhenti, mencari kata-kata yang tepat lalu melanjutkan. “Begitu saja. Dia harus menikah sebelumnya.”

Zeus berhenti sejenak lagi, nampak tidak terlalu nyaman menceritakan semua ini pada Natan yang menatapnya dengan wajah kencang penuh tekad. “Pernikahan menakutiku.” Dia mengendikan bahu, masih cukup beradab untuk nampak malu dan rikuh karena mengakui kelemahannya.

“Jadi aku bersikap bajingan dengan menghindarinya. Mengawasinya menikahi sahabatnya yang setuju untuk menjadi kedok atas anak itu dan mereka berpisah segera setelah kau lahir.

“Oseanita tidak suka dikekang. Aku selalu tahu itu. Dia perempuan mandiri yang hebat, tidak suka diatur dan ditahan untuk melakukan apa yang diinginkannya. Maka dia kembali menghubungiku, menyerahkan anak itu padaku sebelum lenyap sepenuhnya. Menolak mengurusnya—mu.”

Zeus melirik Natan yang menatap kosong ke arahnya.

Ini pertama kalinya dia mendengar kisah ini. Dan bahkan pertama kalinya dia mendengar nama ibunya. Neneknya/Hestia tidak pernah mau menyebutkan nama ibunya atau ayahnya. Natan hanya tahu setiap bulan rekeningnya akan terisi uang yang cukup banyak untuk digunakannya selama satu tahun untuk hidup.

Sejak SMA, neneknya/Hestia sudah menyemangatinya untuk sekolah keluar daerah. Maka Natan berangkat ke Yogyakarta, kota terdekat dan diterima bersekolah di salah satu SMA negeri. Lalu melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta. Dia jarang pulang dan selalu merasa bersalah karena terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk menemani neneknya.

Sekarang dia tahu, setiap kali dia berangkat ke Yogyakarta mungkin neneknya akan pulang ke Olympus.

Dan segala kekhawatirannya selama ini ternyata sama sekali tidak berguna karena neneknya sehat walafiat dan selalu berbahagia. Tidak kesepian, tidak sakit-sakitan.

Entah kenapa fakta itu membuatnya jengkel.

“Jadi,” Zeus melanjutkan setelah berdeham. “Aku meminta Hestia untuk menyamar menjadi nenekmu dan mengurusmu. Berusaha agar Hera tidak menemukanmu. Aku menyembunyikanmu di tempat teraman yang bisa kutemukan. Aku melihat bagaimana R menjalani hidupnya dengan lebih normal daripada demigod lain yang bergabung di Perkemahan.

“Sehingga aku merasa Indonesia akan jadi tempat yang sempurna. Dan lihat dirimu. Kau berusia dua puluh tahun dan sama sekali tidak tergores oleh makhluk baik dan tidak ditemukan Hera. Sebelum Moirai memutuskan untuk bermain denganmu.”

Keduanya bersidiam. Natan tidak tahu apa yang harus dikatakannya atau apa yang harus dirasakannya sekarang. Maka dia berdiri, mendorong kursinya dengan bagian belakang kakinya lalu bangkit.

“Maaf, aku harus ke toilet.” Katanya kering. Dia tidak mengenali suaranya sendiri di telinganya saat dia berbalik dan melangkah ke arah lorong lobi Royal Ambarrukmo yang beraroma lembut parfum dan buket bunga segar di hadapannya.

Dia berbelok ke kamar mandi lobi dan berhenti di depan wastafel. Menatap wajahnya sendiri, matanya yang gelap dan berkilau oleh rasa sakit. Ketidakpahaman. Kebingungan dan rasa dikhianati yang bercokol di hatinya seperti tumor ganas—melahap sisa-sisa rasa percayanya yang tipis dengan beringas.

Nyaris seperti ada jutaan belatung yang sedang menggerogoti hatinya.

Dia menyentuh dadanya, mencoba bernapas dengan mulutnya karena hidungnya terasa begitu menyiksa dengan aroma parfum kamar mandi yang menyengat cupingnya. Setiap tarikan napas terasa begitu berat dan menyesakkan.

Menolak mengurusnya—mu.

Oseanita tidak suka dikekang.

Maka dia kembali menghubungiku, menyerahkan anak itu padaku sebelum lenyap sepenuhnya.

Menolak mengurusmu.

Natan hanya sebuah beban. Sesuatu yang tidak diharapkan ibunya. Sesuatu yang langsung bergegas disingkirkan dari jalannya begitu dia bisa. Natan bahkan tidak tahu wajah ibunya sama sekali.

Jika Zeus tidak berbelas kasih padanya, apakah Natan masih hidup sekarang? Jika dia juga bersikap tidak peduli padanya, apakah Natan masih bisa menikmati kemewahan bernama 'hidup' ini?

Walaupun sebenarnya hidup tidak lagi terasa seperti prospek yang menarik dengan keadaan compang-camping semacam ini. Natan tidak bisa merasakan dirinya sendiri dalam genggamannya—dia merasa seolah melihat seluruh hidupnya, seluruh identitasnya, hal-hal yang berusaha dibangunnya menjadi Jonathan meluruh seperti pasir yang merembes dari sela-sela jemarinya.

Mustahil untuk digenggam.

Natan tersesat. Natan sendirian. Tidak diinginkan, bahkan oleh orangtuanya—oleh ibu kandungnya.

Dia hidup dari belas kasihan Zeus, belas kasih Hestia.

Dan Natan benci dikasihani.

Natan benci orangtua yang bersikap tidak bertanggung jawab pada perbuatan mereka sendiri. Menganggap anak-anak adalah beban yang menyulitkan namun tidak pernah bisa mengontrol diri untuk tidak bercinta.

Menurut mereka, anak-anak muncul dari apa? Kaktus?

“Jonathan.”

Natan mengerjap, menatap ke pintu yang terbuka dan menemukan Zeus menatapnya dengan ekspresi paling sendu dan paling bersalah yang Natan sendiri tidak sangka akan terbit di wajahnya.

Dia selalu percaya Zeus adalah dewa congkak berhati dingin. Bukan tipe ayah penyayang yang akan mengurus anaknya dengan penuh kasih seperti ini.

Zeus menyelipkan tubuhnya ke dalam toilet lalu meraih Natan dalam pelukannya. Aroma tubuh Zeus seperti hari sebelum hujan—aroma hangat aneh yang menenangkan. Aroma yang membuat Natan merasa malas dan langsung memilih untuk bergelung di kasur dengan selimut serta segelas teh. Langit mendung, angin kencang...

Aroma sesaat sebelum hujan yang menenangkan. Sendu dan melodramatis.

Natan membalas pelukannya, melepaskan beban yang menjepit hatinya. Merongrongnya dengan perih yang membuatnya kebas. Dia menyusup ke pelukan Zeus semakin dalam dan merasakan bagian dirinya yang lemah dan kecil—gemetar mencoba mencari kehangatan dan perlindungan.

“Maafkan aku.” Bisik Zeus, kali ini tulus. “Maafkan aku.”

Dan langit bergemuruh, seolah merespon emosi yang terbit di hati Zeus. Langit mulai menggelap, hujan akan segera terbit. Semuanya karena Natan memeluk Zeus, memeluk ayah kandungnya dan menumpahkan segala kelemahan, ketakutan, trauma dan kesedihannya di bahu bidang ayahnya.

Hal yang tidak pernah dilakukan Natan sama sekali hingga hari ini.

Hatinya pedih, Natan tidak yakin dia akan sembuh. Namun setidaknya dia bisa mencoba—perlahan, setapak demi setapak. Natan akan kembali bangkit karena dia mampu.

Zeus mungkin bukanlah ayah terbaik yang bisa Natan dapatkan di dunia ini, tapi untuk saat ini Zeus sudah lebih dari cukup.

*

Apollo #204

Disclaimer: The copyrights for PERKEMAHAN BLASTERAN and all the OCs belong to Rick Riordan and only present as supporting details in this story. Also, I intentionally modified some of the details to suit my story. Ty.

*

“Sayang, dryad tidak bisa meninggalkan pohonnya.” Kata Radit dengan suara pelan.

“Mereka tidak bisa berjalan-jalan bebas tanpa pohon mereka. Hidup mereka terikat pada pohon mereka. Jadi jika temanmu mengatakan bahwa seseorang menginjak pohonnya, maka dia sepatutnya sudah mati. Apalagi berjalan dari ladang stroberi ke kabin pekemah. Tidak mungkin.”

Natan mengerjap, menatap Radit dengan tatapan terpana dan rasa terkejut yang menguasai seluruh dirinya. Dia baru saja menjelaskan kisah bagaimana dia bisa bangkit meninggalkan ranjang dan melewati perbatasan Perkemahan selain karena dia tidak tahu bahwa setelah menuruni bukit tempat pohon Thalia dan Peleus, dia sudah berada di luar Perkemahan dan makhluk baik bisa mencium aromanya.

Lalu, siapa yang...? “Lalu siapa yang semalam menghampiriku? Dia nampak persis seperti dryad!” Protesnya, merasa berat oleh perasaan bersalah karena membuat seluruh pekemah bersiaga di perbatasan menunggu serangan susulan.

Chiron mondar-mandir, sepatu kudanya berkelotakan di lantai saat dia berpikir. “Aku yakin pengirim Kampe yang menyamar sebagai dryad dan berusaha untuk menarikmu keluar dari Perkemahan. Dia tahu kau sangat akrab dengan para dryad dan satir, maka dia memilih bentuk itu untuk mewujud di hadapanmu.”

“Dengan kata lain,” Chiron menatap Natan, memasang ekspresi yang terdiri atas campuran rasa kesal dan maklum yang aneh. “Dia yang menghampirimu semalam mungkin saja seorang dewa.”

Dia kemudian berdeham, kikuk lalu berbisik. “Dan jika Zeus baru saja mengklaimmu, kurasa kita semua tahu siapa yang cukup licik melakukan ini.” Dia menatap Radit penuh makna dan pemuda itu berdecak keras dengan jengkel.

”'Murkanya langit.'” Bisik Natan, mengerjap. “Maksudmu, Hera, 'kan?”

“Jangan sebut namanya.” Radit bergegas memperingatkannya dan Natan menutup mulutnya. “Dia selalu membenci anak-anak Zeus. Aku tidak akan kaget lagi jika memang dialah dalang dari semua huru-hara ini. Dia memang selalu begitu—dengan Herakles, dengan Percy. Menyebalkan.”

“Tetap saja.” Chiron memijat pelipisnya. “Mengirim makhluk Tartarus untuk anak yang bahkan tidak paham jati dirinya siapa sangat keterlaluan.” Dia menatap Natan yang gemetar dengan penuh kasih. “Jonathan tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Jika saja dia tidak bertemu R, apakah dia akan selamat?”

“Namun yang membuatku penasaran,” dia menatap Natan. “Bagaimana bisa kau hidup di luar sana dengan begitu banyak makhluk baik yang berkeliaran tanpa tersentuh sedikit pun? Bagaimana caranya Zeus menyembunyikanmu?”

Natan menggeleng, sungguh tidak paham apa yang sedang terjadi padanya.

Sedetik dia adalah Jonathan, manusia biasa yang kebetulan bisa melihat menembus Kabut dan detik berikutnya dia adalah Jonathan putra Zeus, salah satu dari beberapa demigod paling kuat di kelasnya. Demigod yang seharusnya tidak pernah hidup lagi setelah perjanjian para Tiga Dewa Besar untuk tidak memiliki anak setelah Perang Dunia Kedua.

Mereka bertiga terdiam, memikirkan kemungkinan-kemungkinan dengan resah sementara di luar sana semua pekemah sedang sibuk mempersiapkan diri menghadapi serangan susulan dari Kampe and the gang. Konselor-konselor meneriakkan perintah dengan suara kelotak alat-alat perang yang dipindah, dibawa dari gudang senjata.

“Halo!”

Mereka semua terkejut saat suara ceria itu memecah keheningan mereka.

Radit bahkan terjengkang di tempatnya karena seseorang memasuki ruangan Natan tanpa suara dan langsung menyapa mereka semua ramah. Dan saat ketiganya menoleh ke pintu, mereka menemukan dewa yang mewujud dengan setelan perak yang berkilauan. Ada dua ekor ular hijau kecil yang menyembul dari saku depan jasnya, mendesis-desis dan mengerling Natan dengan tertarik.

Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan perkamen yang digulung dengan rapi. “Ada pesan untuk Jonathan.” Katanya kemudian, mengulurkan benda itu ke Natan yang menatapnya terpana.

Mereka semua diam. Tangan pembawa pesan itu menggantung di udara dengans surat yang tidak kunjung jua diambil.

Hermes mulai jengkel dan dia berdecak keras. “Ambil suratnya, Nak. Aku sibuk.”

“Lihat anak-anak zaman sekarang, George.” Kata satu ular di sakunya dan memutar bola matanya jengkel. Ular di sisinya mengangguk. “Tidak punya sopan santun.” Tambahnya setuju.

“Tidak bilang halo.” Kata ular satunya lagi.

“Tidak membalas salam.” Ular lainnya mengangguk setuju.

“Tidak sopan.”

“Ya. Tidak sopan.”

“Diam.” Keluh Hermes, menyurukkan kedua kepala ular itu ke dalam sakunya. Keduanya menjerit marah. “Harusnya kalian kusetel di mode getar saja tadi.” Tambahnya bergumam praktis ke dirinya sendiri sebelum mendongak pada kliennya.

“Ayahmu mengundangmu ke Olympus. Untuk makan malam.” Hermes memutar bola matanya seolah ide itu adalah hal yang sangat konyol, sebuah lelucon abad ini dari Zeus. “Berdoalah ibu tirimu tidak melempar alat makan ke wajahmu.”

“Eh, Hermes?” Kata Chiron dengan sopan ke dewa yang berdiri di sisinya. “Kurasa hal-hal semacam itu sebaiknya tidak diceritakan kepada Jonathan.”

“Setidaknya dia tahu apa yang akan dihadapinya.” Hermes mengedikkan bahunya dengan ringan lalu karena surat di tangannya tidak juga diambil, dia melangkah maju ke arah Natan yang berjengit menjauhinya karena takut.

Lalu meringis saat luka di dadanya tertarik oleh gerakan itu. Radit bergegas merangkulnya, membelai lengan atasnya berharap gerakan itu bisa mengurangi rasa sakit Natan yang sekarang menyentuh ringan balutan perbannya dan meringis.

“Datang saja ke Olympus. Lihat apa yang Zeus ingin katakan padamu.” Hermes kemudian tersenyum, menyunggingkan senyuman menarik yang ramah. “Mungkin akan jadi awal yang baik atau malah buruk entahlah.” Secepat kemunculannya, senyuman Hermes lenyap.

Dua ekor ular di sakunya kembali menyembul.

“Bilang halo.” Kata ular satunya, mendelik pada Natan yang mengerjap.

“Halo.” Sahut Natan seketika itu juga walaupun separo hatinya merasa bingung kenapa dia harus menyapa dua ekor ular hijau mungil di saku Hermes.

“Halo, George.” Koreksi ular itu, jengkel.

“Halo, George.” Ulang Natan dengan patuh dan ular itu nampak senang, dia mendengus dan mengangkat kepalanya beberapa senti ke atas.

“Dan Martha.” Protes ular satunya, iri.

“Dan Martha. Halo.” Natan mengangguk.

“Aku suka dia.” Kata George kemudian, mengangguk-angguk puas. “Penurut. Tidak seperti semua anak-anak Zeus yang lainnya.”

“Congkak.” Sahut Martha setuju. “Selalu berkepala besar dan tidak mau menyapa ular. Untuk apa mereka menyapa Caduceus? Kami, 'kan, hanya bertugas menyatat surel yang masuk.”

“Tidak penting.”

“Tidak penting.”

“Diam.” Hermes mendesah keras, kembali menyusupkan kedua ular itu ke dalam sakunya lalu mengancingkannya dengan rapat.

Dia kemudian kembali mendongak, fokus pada Natan yang menatapnya kebingungan. “Jadi, Jonathan.” Katanya mundur kembali ke pintu masuk. “Baca saja suratnya dan datanglah ke Olympus. Aku harus bergegas. Dan jangan lupa mengenakan... entahlah, mantel Anti-Kemarahan Ibu Tiri mungkin? Semoga beruntung!”

Lalu dia lenyap.

“Kau tidak bisa muncul mengatakan 'hei, coba tebak! Ibu tirimu benci sekali padamu!' dan 'semoga beruntung!' lalu lenyap begitu saja.” Radit menggerutu sebal begitu Hermes tidak lagi nampak dalam pandangan mereka.

Chiron menatap gulungan perkamen di pangkuan Natan dan menatap pemuda yang sekarang masih merasa disorientasi. “Bukalah, Nak. Lihat apa yang Zeus inginkan darimu.” Dia mengangguk, memberi semangat pada Natan.

Natan menatap Chiron lalu Radit lalu menunduk ke perkamen di pangkuannya. Benda itu terasa berat dan panas. Dia mengulurkan tangan, sejenak ragu-ragu—takut benda itu akan melukai tangannya sebelum akhirnya meraihnya. Dia mengenggam perkamen itu dalam tangannya, menghela napas dalam-dalam lalu membuka gulungannya.

Hanya tiga kata, jelas Zeus tidak suka basa-basi dilakukan melalui surat karena potensi Hermes akan membacanya diam-diam saat mengantarnya lalu dia akan jadi bahan bualan karena bersikap melodramatis pada anaknya.

Pulanglah ke Olympus.—Z.

*

Natan memasuki lobi Empire State Building dengan perasaan campur-aduk. Dia merasa tegang, seperti saat dia pertama kali ditemani neneknya mencari SIM A untuk mengendarai mobilnya seperti yang diinginkan ayahnya. Dia berjalan diapit Radit dan Chiron yang entah nampak seperti siapa di balik kacamata fana, mungkin lelaki tinggi besar seperti Hagrid. Kehadiran kedua orang itu membuatnya sedikit lebih tenang.

Ini pertama kalinya Natan berwisata ke gedung pencakar langit itu namun dia tidak memiliki waktu untuk berwisata, berkeliling untuk mengagumi tempat itu karena Raja Para Dewa menunggunya untuk makan malam. Mereka berhenti di depan lift dan memijit tombol segitiga naik dan menunggu.

Saat pintu terbuka, mereka disambut oleh penjaga lift yang menatap mereka. “Lantai berapa?” Tanyanya ramah.

Chiron menatapnya. “Lantai 600.” Katanya tenang sementara pintu lift menutup dengan perlahan.

Penjaga itu tertawa ceria. “Tidak ada lantai 600 di sini, Pak.” Katanya nyaris seperti hafalan yang sudah bertahun-tahun dikatakannya pada semua orang. “Mungkin Anda salah gedung.”

Radit meraih perkamen dari Zeus di tangan Natan dan membuka benda itu di depan wajah penjaganya, membiarkannya membaca isi surat itu dan melihat siapa yang menandatanganinya. “Kami butuh bertemu Zeus.”

Penjaga itu menatap surat di tangan Radit dan berdecak. “Bagaimana aku tahu kalian tidak memalsukan benda itu hanya agar aku mengizinkan kalian naik?” Dia bersedekap, menatap ketiga orang itu dengan jengkel.

“Wah. Bagaimana, ya?” Tanya Radit kemudian, menurunkan perkamen itu dari wajah penjaga lift Olympus. “Kau tentunya tidak ingin dua orang demigod yang salah satunya adalah putra Zeus dan satu sentaur senior nongkrong di lobi Empire State Building, 'kan? Bayangkan seberapa banyak makhluk baik yang menginginkan putra Zeus.” Dia tersenyum ramah dan cemerlang.

“Lagi pula,” tambahnya dengan suara manis yang membuat Natan harus menyubit pahanya sendiri agar tidak terbahak-bahak. “Apakah kau yakin kau siap menghadapi kemarahan Zeus saat tahu anaknya tidak diizinkan naik?”

Wajah penjaga itu langsung pucat dan namun dia tetap kukuh pada pendiriannya. “Jika ini ternyata tipuan...,” ancamnya dengan mata memicing penuh curiga pada Radit.

“Tidak ada yang ditipu.” Radit memutar bola matanya jengkel. “Pencet saja angka 600-nya, Bung. Zeus menunggu kami untuk makan malam. Dan tidak ada satu pun dari kita yang ingin membuatnya menunggu, 'kan?”

Penjaga itu menatap mereka, masih curiga sebelum akhirnya membuka kotak kecil yang tersembunyi di papan kendali lift dan menekan tombol kecil dengan angka 600 yang berwarna emas. Lift langsung bergerak naik dengan lembut dan Natan merasa perutnya baru saja diaduk-aduk. Musik mendayu-dayu terdengar dari pengeras suara sebagai pengantar mereka menaiki lift menuju lantai 600—Gunung Olympus.

Dia akan bertemu ayahnya.

Rahasia tua terbongkar jua, Sang anak berjumpa orangtuanya. Namun murkanya langit, Pun harus diselami.

Apakah ini yang dimaksud oleh ramalan tentang sang anak yang berjumpa dengan orangtuanya? Serta rahasia tua? Lalu kenapa Langit harus marah? Bukankah Natan adalah anaknya? Kenapa Zeus, sebagai pemilik Langit harus murka?

Natan menatap layar kecil di atas pintu lift, mengamati bagaimana angka-angka muncul dan lenyap seraya mereka beranjak naik. Radit berdiri di sisinya, menggenggam tangannya dengan hangat. Menyelipkan jemarinya ke dalam jemari Natan dan mengaitkannya erat. Ibu jarinya mengusap bagian sisi tangannya dengan gerakan melingkar yang lembut dan intim.

Banyak sekali pertanyaan yang Natan ingin dapatkan jawabannya dari Zeus. Tentang ibunya, tentang ayah manusianya, tentang mengapa dia tidak tahu bahwa dia demigod sama sekali, neneknya yang tidak paham apa pun, tentang masa kecilnya yang menyedihkan—khususnya ini. Lalu juga siapa yang mengirim Kampe untuk meresahkan hidupnya?

Dan sebaiknya Zeus—ayahnya punya jawaban yang bagus untuk itu.

Lift berdenting dan Natan terkesirap. Penjaga lift menatap mereka bertiga, masih gusar karena ancaman Radit barusan namun, toh, tetap membiarkan pintu lift terbuka dengan perlahan.

“Lantai 600, Olympus.” Katanya, mundur dari pintu mempersilakan ketiga tamunya untuk keluar dari lift.

Mereka bergegas keluar dan Chiron mengangguk ramah padanya sebelum pemuda itu menekan tombol turun. Mereka berdiri di sebuah hallway yang besar, megah dan berwarna putih, saking luasnya Natan tidak bisa melihat ujung ruangan itu. Di hadapan mereka ada sebuah pintu ganda jati berat yang diisi ukiran-ukiran yang disepuh emas.

“Dia fana, ya?” Tanya Natan menoleh ke lift yang menutup dan dari layar kecil di atasnya, bergerak turun. “Penjaga lift maksudku.”

Radit mengangguk. “Bagaimana kau bisa tahu?” Tanyanya.

“Dia tidak bisa melihat Chiron.” Kata Natan menatap Chiron yang berdiri di sisinya, tubuh kudanya berkilau sehat. “Jika dia seorang demigod, dia seharusnya bisa melihat tubuh sentaur Chiron dan mengizinkan kita naik, 'kan?”

“Betul juga.” Radit nyengir. “Mungkin para Dewa tidak mau mengambil risiko makhluk baik mencium aromanya sehingga dia mempekerjakan manusia fana untuk memijit tombol 600 dan menakuti semua orang tentang lantai 600 yang tidak pernah ada.”

“Mari.” Ajak Chiron melangkah ke pintu ganda jati itu.

“Kita menekan bel? Atau pengetuk pintu?” Tanya Natan saat mereka berhenti di depan pintu, dia mendongak menatap pintu raksasa itu dan ragu apakah kepalan tangan kecilnya bisa mengetuk benda itu dengan cukup kuat sehingga tuan rumah mendengarnya.

Sebelum mereka memutuskan mana yang lebih sopan, pintu itu terbuka dan cengiran lebar Apollo menyambut mereka.

“Oh, Athena benar! Dikau sudah tiba. Kami melakukan suit siapa yang membukakan pintu untukmu dan aku kalah, jadi, yah, begitulah. Tapi aku tidak keberatan kok!” Tambahnya, menelengkan wajah ke arah dalam rumah, sengaja agar orang di dalam mendengarnya.

Dia kemudian mundur dari pintu. “Silakan masuk, semua sudah menunggumu di meja makan. Dikau bukan vegetarian atau vegan, 'kan, Jonathan? Kami sedang makan daging domba. Dikau punya alergi khusus? Gluten free, paleo? Aphrodite sedang menjalankan banyak sekali diet, dikau mungkin bisa makan dengannya.”

Natan yang berjalan di sisi Apollo mendadak jengah. Dia akan muncul di aula makan para dewa Yunani sebagai anak yang seharusnya tidak pernah ada. Anak yang selama ini dirahasiakan Zeus dari semua orang dan Natan tidak terlalu yakin bagaimana dia harus menyikapi hal itu.

Apollo dengan pakaian kasualnya yang necis melangkah di sisinya, merangkul Natan dengan akrab dan bersenandung kecil. Jemari tangan kirinya yang bebas bergerak-gerak mengikuti irama lagu yang dinyanyikannya.

“Aku juga anak Zeus,” hiburnya ceria. “Dia bukan ayah yang buruk, kok. Tenang saja. Genit, tapi tidak seheboh apa yang dikau baca di buku-buku. Manusia gemar melebih-lebihkan.” Dia mengedip pada Natan, senyuman persekongkolan yang membuat Natan sedikit-banyak merasa tenang dan diterima.

Mereka melangkah melewati lorong panjang dan Sembilan Muse yang sedang memainkan lagu mendayu-dayu yang membuat Natan merasa mengantuk di sisi air mancur yang memiliki air pelangi yang cantik. Mereka melewati main hall sebelum Apollo membelok ke kanan dan mereka berhenti di pintu lain.

Apollo mengetuk pintunya. “Ayah, anakmu datang.” Katanya lalu mendorong pintu terbuka.

Natan menahan napasnya. Dia merasakan genggaman tangan Radit mengencang di sisinya sebelum dia akhirnya berani mendongak.

Ruang makan raksasa dengan langit-langit tinggi dari pualam yang diberi lukisan-lukisan cantik dengan teknik cat air yang menarik. Ada pilar-pilar raksasa kekuningan yang menyangga setiap jendela yang terbuka memamerkan pemandangan awan yang tak terbatas. Di meja ada semua orang—semua dewa Yunani dalam wujud manusia mereka.

Dewa pertama yang dikenalinya adalah Pak D yang duduk di sudut dengan wajah memberengut permanen, bayi besar yang mustahil di senangkan. Lalu di sisinya, duduk seorang gadis dengan rambut keemasan paling tebal, paling berkilau dan paling indah yang pernah Natan lihat. Matanya berwarna merah muda kerang, dia menggunakan sundress mini menggemaskan dan make-up-nya sempurna dengan cat eye yang cemerlang.

Natan tidak bisa berhenti memandanginya.

“Kau sebaiknya tidak menatap Aphrodite lama-lama.” Bisik Radit di sisinya dan Natan mengerjap lalu menoleh ke arahnya. “Yep, dia memang seksi sekali tapi Ares sangat overprotektif pada miliknya.”

Maka Natan bergegas mengalihkan pandangan dari Aphrodite, menyapukan pandangan ke arah meja makan lagi. Ada perempuan muda yang menggunakan setelan kasual yang rapi dan tajam dengan rambut kelabu yang diikat naik dengan mata serupa awan badai, tulang pipi tajam dan dagu yang meruncing—dia pasti Athena.

Di sisinya ada gadis muda belia yang nampak sangar dengan rambut keperakan yang digerai cantik. Jalinan rambut dibentuk menjadi mahkota di kepalanya dan dia tersenyum ramah pada Natan dan melambai kecil. Dari wujudnya, Natan merasa dia pasti Artemis.

Ares nampak seperti bajingan tengik dengan bekas luka keren di alisnya, mata yang berkobar seperti api dan otot yang menyembul di baju ketatnya. Duduk di seberang Aphrodite sementara Hephaestus yang wajahnya tercoreng oli duduk di sisi istrinya. Nampak muram dan selalu terganggu, sangat kontras dengan Aphrodite yang begitu cantik dan rupawan.

Dan setelah menahan diri untuk tidak menatap, Natan akhirnya mengarahkan pandangannya ke kepala meja makan dimana Tiga Dewa Besar duduk. Dia langsung bertatapan dengan lelaki kurus yang memiliki kantung mata berat seolah dia menghabiskan hidupnya untuk begadang menyelesaikan laporan dengan rambut agak berminyak yang disisir klimis, maka dia pastilah Hades.

Sementara Poseidon dia nampak seperti playboy kelas kakap. Dengan cengiran lebar, tubuh berpostur sempurna dengan bahu bidang dan rambut gondrong yang diikat membentuk man-bun berantakan dan kemeja pantainya yang memamerkan separo dadanya. Kulitnya terbakar matahari, nampak begitu seksi dengan warna tan yang sempurna.

Dan Natan akhirnya memberanikan diri menatap pemimpin makan malam dan seseorang yang duduk di sisi kanannya.

Ayahnya, Zeus.

Dia nampak seperti pria normal di usia prima lima puluh tahun. Rambutnya dicukur dan disisir rapi, nampak paling rapi dibandingkan kedua saudaranya. Dia mengenakan kemeja merah marun yang memeluk tubuhnya yang kekar dengan sempurna. Matanya berkilauan seperti langit cerah dan memiliki kerlip yang berpendar samar seperti langit malam, seperti Venus yang terbit terlalu awal.

Saat mata mereka bertemu, Zeus menyunggingkan senyuman hangat yang membuat Natan paham bagaimana caranya dia bisa mengencani semua perempuan itu.

Dia tampan sekali, bukan berarti Natan bias karena dia adalah ayahnya. Seperti Brad Pitt, mungkin juga Johnny Depp. Mungkin perpaduan mereka berdua karena dia nampak seperti lelaki paruh baya yang akan semakin tampan bersamaan dengan bertambahnya usia.

“Jonathan.” Katanya dengan suara yang begitu lega seolah dia sudah menunggu Natan terlalu lama dan cemas mungkin saja terjadi sesuatu pada anaknya di jalan. Dia mendorong kursinya mundur dengan lutut lalu berdiri, merentangkan tangannya. “Kemari, Nak.”

Natan mengerjap.

Nak.

NAK.

Dia ingin muntah.

Dan dia melakukan kesalahan dengan melirik dewi di sisi Zeus.

Mata Hera merupakan mata paling indah yang pernah ditatap Natan. Tulang pipinya begitu tinggi dan runcing, rambut hitam legamnya nampak seperti baru saja di-blow-dry permanen membentuk per-per raksasa yang cantik memantul di bahunya kapan pun dia bergerak. Dia memiliki ekspresi antagonis yang begitu natural dengan bibir sensual proporsional, hidung runcing dan keseluruhan dirinya meneriakkan keindahan.

Tidak salah jika Zeus memilihnya.

Jika saja wajah cantiknya diimbangi dengan perilaku yang tidak psikopat, mungkin Natan akan senang memiliki ibu tiri sekelas supermodel mengalahkan Gigi Hadid.

Dia bahkan lebih cantik dari Aphrodite. Dia jenis kecantikan eksotis yang membuatmu termangu-mangu sedangkan kecantikan Aphrodite jenis kecantikan standar yang membuat siapa saja terpesona, namun hanya orang-orang khusus yang akan terpesona pada Hera.

Natan mundur selangkah secara naluriah di bawah tatapan Hera. Dan semua orang di meja menyadari itu, bahkan Zeus.

Dia berdecak lalu menoleh pada istrinya. “Kita sudah membicarakan ini, oke?” Katanya memperingati Hera yang mendengus lalu mengibaskan rambutnya ke balik bahu dan memalingkan wajah. “Berhenti merajuk.” Keluhnya lalu kembali menatap Natan.

Sementara yang ditatap sedang berusaha menyembunyikan diri di balik bahu Radit.

“Hera sudah berjanji dia akan bersikap baik.” Kata Zeus, suaranya berat dan empuk. Seperti bapaknya seseorang yang hangat dan ceria. “Kemarilah.” Dia menatap Natan lagi, tersenyum membujuk.

Karena Natan tidak juga beranjak, maka Zeus keluar dari balik kursi dan meja makan lalu melangkah menghampiri rombongan di pintu. Aroma parfumnya memabukkan—lembut dan menenangkan, nyaris seperti lilin aromaterapi favorit Natan padahal dia bahkan tidak suka lilin aromaterapi.

Natan menolak menghampiri Zeus, bersikap kekanakan dengan merajuk pada ayah biologis yang baru ditemuinya setelah dua puluh tahun. “Siapa yang mengirim Kampe padaku?” Tanyanya langsung tanpa repot untuk berbasa-basi.

Dia butuh jawaban.

Zeus menatapnya, seluruh dewa di meja makan juga menatapnya dan Natan merasa wajahnya berubah panas karena perhatian itu. Natan benci perhatian, simpati dan segala emosi yang berhubungan dengan rasa kasihan.

“Hera.” Zeus mendesah, seperti menghadapi seorang bayi yang mengambek dan dia harus membujuk anaknya sekolah segera sebelum bus penjemputnya tiba. “Jadi singkat katanya, Hera menemukanmu dan bersikap... dramatis.” Dia mendesah berat.

Dramatis.

Natan baru tahu bahwa meletakkan hidup seorang fana di tangan kematian termasuk sikap dramatis bagi para dewa.

“Ha ha ha, lucu sekali! Lihat, manusia berusaha bertahan hidup!”

Natan membuka mulut, emosi bergolak di dasar perutnya. Dia tidak suka diposisikan seperti itu, dia tidak suka permaianan dewa yang licik ini. Jika Hera benci karena Zeus bereproduksi, kenapa dia tidak menonjok wajah Zeus saja alih-alih mengirimkan makhluk seram untuk mengacaukan kehidupan Natan?

Tidak adil!

Namun matanya menangkap seorang yang berdiri di sudut ruangan. Dia langsung menoleh kaget. Dia tidak mungkin tidak mengenali wajah itu dan dia terlalu dialihkan oleh keindahan ragawi para dewa untuk memerhatikan perempuan di sudut ruangan itu.

Wajah hangat, senyum ramahnya dan Natan bahkan bisa mendengar suaranya saat ini tanpa dia mengucapkan apa pun. Sudah berapa lama Natan tidak bertemu dengannya? Dan bagaimana bisa dia ada di sini?

Dia melongo, kaget. “Oma?” Bisiknya pecah pada perempuan itu. “Apa yang... Oma lakukan di sini?”

Zeus menoleh ke perempuan di sudut ruangan dan menghembuskan napas. “Ah, ya.” Dia menggaruk kepalanya, nampak kikuk dan bersalah seperti sebagaimana dia seharusnya saat menatap Natan, meringis.

Dia berusaha nampak seperti ayah yang keren di depan anaknya, Natan tahu itu dan dia menghargainya tapi Natan sungguh tidak tahu bagaimana harus bersikap dengan segala ini.

“Yah, dia... Hestia.” Zeus berdeham. “Dia, yah, menjadi nenekmu selama ini dan melindungimu agar Hera tidak menemukanmu.”

Natan terkesirap dengan suara keras.

Neneknya? Hestia?

HESTIA?

HESTIA??

Kegilaan macam apa ini?!

Dia menatap neneknya/Hestia yang sekarang tersenyum lembut. Dia bahkan mengenakan pakaian favoritnya; sweter rajutan merah muda pudar dan celana kain hangat dengan syal di lehernya. Lalu perlahan, tubuh neneknya meninggi dan merekah seperti sekuntum bunga menjadi seorang dewi langsing yang tersenyum cermelang seperti bintang Timur.

Rambutnya kemerahan, bergelung dibentuk menjadi cepol rendah yang memperlihatkan betapa anggunnya dia dan dia menghampiri Natan.

“Natan.” Sapanya lembut dengan bahasa Indonesia dan nada paling lembut yang selalu neneknya gunakan saat Natan pulang dengan tangisan di wajahnya, setelah menjadi bahan olok-olok teman-temannya karena tidak memiliki orangtua.

Nada yang selalu menenangkan Natan. Nada yang selalu membuai Natan hingga lelap dengan jejak air mata di pipinya.

Natan menatap Hestia/neneknya lalu menatap Zeus yang berdiri menjulang di hadapannya. Lalu menatap Radit di sisinya yang sama bingungnya lalu menatap Apollo yang bersandar di dinding, mengunyah permen karet.

Inilah mengapa Natan tidak mau percaya siapa pun. Tidak mau.

Sekarang bahkan neneknya pun ternyata bukanlah orang yang selama ini dipikirkannya. Neneknya ternyata selama ini berbohong, menutupi rahasia besar yang Natan tidak ketahui dan jika saja Hera tidak bersikap menyebalkan dengan mengirim Kampe ke Natan, akankah dia mengetahui ini semua?

Atau dia akan hidup selamanya dalam ketidaktahuan?

Di bawah tatapan rasa kasihan dan simpati orang-orang sekitarnya. Anak yang ditinggal kedua orangtuanya, tidak diinginkan. Dibuang dan disingkirkan seperti mainan bekas yang sudah tidak lagi menarik.

Lalu sekarang tiba-tiba dia adalah anak salah satu dari Tiga Dewa Besar Yunani, Sang Penguasa Langit. Dan neneknya ternyata salah satu dari para Dewa Yunani, Hestia.

Bayangkan betapa peningnya kepala Natan saat ini.

Lalu siapa yang dia bisa percayai? Tidak neneknya, tidak kedua orangtuanya, tidak juga Radit.

Siapa?

Siapa yang bisa Natan percaya di dunia sinting ini jika semua orang mendadak berubah. Mendadak bukan lagi mereka yang dulu Natan sayangi, bukan mereka yang dulu memeluk Natan dengan hangat. Sekarang mereka berubah menjadi orang asing.

Bahkan Oma.

Nenek yang selama ini disayangi Natan seperti dirinya sendiri. Satu-satunya tempat ke mana Natan bisa pulang untuk rasa nyaman. Mercusuar yang selalu membantunya pulang, yang menambatkan Natan tetap di Bumi. Natan tidak butuh kedua orangtuanya, yang penting Oma selalu ada di sisinya.

Tapi sekarang, Oma bukanlah Oma. Bukan lagi, Oma-nya.

Dia seorang dewi Yunani, Hestia yang bertahun-tahun melakukan penyamaran menjadi manusia demi melindungi Natan dari Hera atas perintah Zeus.

“Aku mendengar tentang anak Apollo yang memilih untuk tinggal di Indonesia,” Zeus mulai bicara karena Natan tidak juga mau menatapnya dan dia memilih menjelaskan sebelum keadaan semakin runyam.

“Memilih Indonesia karena buruknya sistem pembuangan sampah dan mengamati dari sini bagaimana R bisa memiliki kehidupan yang normal dan tidak terjamah sama sekali oleh kehidupan Yunani.

“Lalu aku berpikir aku mungkin bisa mengungsikan Jonathan ke sana. Melindunginya dari Hera, menyembunyikannya dari takdirnya dan berharap dia bisa memiliki kehidupan yang normal.” Tambahnya. “Aku mencoba sekuat tenaga untuk menjagamu menjauh dari segala urusan Yunani ini, aku meminta Hestia menyamar menjadi nenekmu dan melindungimu dengan Kabut tebal agar tidak ada yang menemukanmu.”

“Namun aku seharusnya tahu, Moirai selalu suka bermain dengan takdir seseorang.” Zeus mendesah, nampak lelah dengan semua omong kosong yang sayangnya dilakukannya sendiri. “Dia membuat takdirmu dan takdir R bertemu. Lalu kau menyadari bahwa kau bisa melihat menembus Kabut dan yah, begitulah Hera menemukanmu.”

Dia melirik istri abadinya yang sekarang menyuap Caesar salad-nya dengan cuek, masih ngambek karena kedatangan Natan. “Dia yang mengirim Kampe padamu.” Katanya dengan nada meminta maaf yang nyaris tulus dan membuat Natan tersentuh.

Nyaris.

“Lalu menyamar menjadi dryad agar kau keluar dari Perkemahan sehingga Kampe bisa menyerangmu.”

Radit mendesis di sisi Natan, seperti singa yang terganggu saat teritorinya didekati. Dia menatap Zeus kesal lalu melempar tatapan jengkel pada Hera yang masih menolak menatap mereka semua. Namun sebenci apa pun Radit pada Hera dan Zeus, dia tidak mengatakannya. Alih-alih, dia mempererat genggaman tangannya pada tangan Natan.

Namun Jonathan bukanlah Raditya.

“Licik sekali.” Komentar Natan, begitu saja. Bahkan tanpa benar-benar memikirkannya. Seluruh ruangan terkesirap keras mendengar nada itu, Hera mendongak dari saladnya dengan bibir terbuka, kaget.

Hati Natan sungguh terluka saat ini untuk sekadar memikirkan akibat dari kata-katanya. Dia kejar-kejar makhluk yang dia tidak kenal apa. Tiba-tiba semua orang yang dipercayainya (dalam kasus ini hanya neneknya) ternyata bukan orang yang selama ini dikenalnya. Lalu dia ternyata anak Zeus. Dia juga hampir mati dicengkram Kampe jika saja Radit tidak menyelamatkannya dengan obat-obatan.

Lalu semuanya untuk apa? Untuk apa Natan menghadapi semua ketakutan, teror dan trauma itu?

Hanya sebagai pelampiasan seorang istri yang cemburu.

Natan sungguh tidak habis pikir.

“Saya tidak minta dilahirkan.” Kata Natan lantang, menatap Hera lurus tepat di matanya tanpa takut dia akan dilenyapkan menjadi abu. Sudah tidak ada gunanya lagi dia hidup, Natan tidak pernah merasa kesepian seperti saat ini.

Neneknya bukan lagi neneknya. Orangtuanya pergi. Dan dia bahkan tidak bisa mencerna bahwa Zeus adalah ayah biologisnya.

Natan merasa sendirian, sangat sendirian untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Seperti sebuah sekoci mungil yang terombang-ambing di atas lautan yang jauh dari segala daratan, Natan tidak melihat jalan untuk kembali dan menyelamatkan dirinya.

Dia melepaskan tangan Radit yang mencoba menahannya, tapi dia mengibaskan tangan itu. Dia mundur, dari semua orang yang menatapnya.

“Jika Anda marah, marahlah pada Zeus. Jangan melampiskan amarah Anda pada anak-anak yang tidak tahu apa pun. Zeus yang menghadirkan saya, Zeus yang memilih untuk menjadikan saya ada. Lalu kenapa kemarahan Anda harus diarahkan kepada saya?

“Karena Anda tidak cukup kuat untuk melawan suami abadi Anda? Sehingga menyakiti fana adalah kegiatan paling menyenangkan yang Anda bisa lakukan?” Tanya Natan lantang, sama sekali tidak ada ketakutan di nada suaranya. Suara itu bergaung di ruang makan, memantul di setiap sudutnya dan kembali ke arahnya.

Semua orang menatapnya, bahkan Zeus yang terpana di tempatnya.

“Wow.” Komentar Athena di kursinya berbisik, terpana pada keberanian Natan dan diam-diam, Ares mengangkat ponselnya, mengarahkan kameranya yang merekam ke Natan untuk bahan hiburan saat Hera menyebalkan. Dia akan menggunakan ini untuk blackmailing Hera suatu hari nanti.

“Saya benci sekali orangtua yang selalu melampiaskan kemarahan mereka pada anak-anak mereka saat mereka tidak bisa melampiaskannya pada pasangan mereka. Seolah-olah anak hanyalah objek untuk disakiti hanya karena mirip ayahnya-lah, mirip ibunya-lah. Saya benci orang-orangtua yang tidak pernah bisa bertanggung jawab atas anak yang mereka hadirkan.

“Membuat anak-anak merasa mereka hanyalah beban yang harus mereka tanggung padahal anak-anak sama sekali tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Kalian yang menghadirkan mereka, maka bertanggung jawablah atas hidup mereka.

“Dan berhenti melampiaskan kemarahan Anda pada suami Anda kepada anak-anaknya. Herakles, Jason dan Thalia sudah mengalami semuanya dan saya tidak mau berada di posisi yang sama lagi.” Natan kemudian menggertakkan giginya dan berbalik, pergi dari aula makan itu.

“Natan!” Radit langsung bergegas berbalik dan mengejarnya.

Suara langkah kaki Natan terdengar menggema di lantai marmer dan aula yang kosong. Natan melangkah dan terus melangkah, mengacuhkan Radit yang berlari mengejarnya. Hidupnya jungkir-balik. Sekarang Natan tidak memiliki siapa pun untuk pulang; tidak orangtuanya, tidak juga neneknya.

Natan sendirian.

Hatinya terasa nyeri, sakit yang melumpuhkan dan membuat dadanya terasa panas. Dia mempercepat langkahnya, berpikir bagaimana dia bisa pulang ke Indonesia saat ini juga. Kabur dari semuanya. Dia tidak mau berada di sini lagi. Matanya terasa panas dan menyengat, dia membiarkan air mata pertama meleleh dari sudut matanya.

Lalu kedua....

Ketiga...

Dan Natan mulai terisak seraya melangkah marah menjauhi istana Olympus.

“Natan, tunggu!” Radit berlari mengejarnya dan berhasil menangkap tangan Natan saat pemuda itu menekan tombol lift dengan kepalan tangannya. Benda itu menyala dan Natan mengumpat karena lift itu naik dengan terlalu lambat.

“Natan, ayo tenang dulu.” Mohon Radit tersengal berusaha mengejarnya. “Jangan begini, ya? Tolong. Kau punya aku, oke? Kau punya aku.” Bisiknya dalam bahasa Indonesia dan membuat Natan semakin bergetar—dia rindu kosannya, dia rindu mobilnya, dia rindu Yogi dan Indra.

Dia rindu kehidupan normalnya sebelum ini semua terjadi.

Pintu lift terbuka dan Natan bergegas memasuki lift tempat penjaga lift tadi menatap Natan dengan tatapan kebingungan karena dia menangis. Radit di sisinya mendelik, apa saja agar dia tidak bertanya.

Tepat saat pintu lift mulai menutup, Apollo berlari dari dalam aula dengan wajah sebal namun langsung mengubahnya jadi ceria saat bertemu pandang dengan Natan dan Radit. Dia langsung menyelipkan tubuhnya ke dalam lift, di antara Natan dan Radit membuat penjaga lift kaget.

“Zeus memintaku untuk mengantarmu pulang sementara dia membereskan Hera.” Dia mengedipkan sebelah matanya pada Natan dengan senyuman persekongkolan di bibirnya.

“Yah,” Apollo berkata lagi sementara lift bergerak turun. “Hubungan ayah dan anak memang tidak selamanya sekeren hubunganku dan R, benar?” Dia menatap Natan yang terisak lalu merangkulnya hangat.

“Zeus sayang padamu, Nak.” Katanya mengusap bahu Natan yang berguncang oleh tangis. “Dikau hanya butuh waktu untuk mencerna semua informasi ini. Jadi, mari kita pulang.”

Dia lalu menoleh pada Radit yang balas menatapnya sebal. “Dan jangan lupa R,” dia menatap Radit yang sekarang berdiri di sudut lift. “Dia ini pamanmu.” Dia menunjuk Natan dengan ibu jarinya, mengunyah permen karet dengan suara cak-cak-cak basah yang menjijikkan.

“Bersikaplah yang sopan padanya.”

“AYAAAH??”

“Duh. Jangan berteriak.”

*

Apollo #200

Disclaimer: The copyrights for PERKEMAHAN BLASTERAN and all the OCs belong to Rick Riordan and only present as supporting details in this story. Also, I intentionally modified some of the details to suit my story. Ty.

*

”... nathan? Jonathan! Pst! Pst!”

Natan mengerutkan alisnya lalu mengerang. Suara ketukan terdengar dari jendela di sisi ranjang tambahan Radit. Semakin keras dan semakin cepat, begitu mendesak. Natan mendesah panjang lalu memaksa matanya terbuka karena jika dia tetap mengabaikan ini, maka jendela itu mungkin akan dihantam hingga pecah.

Kabin Apollo gelap. Mereka rasanya baru saja tidur beberapa jam lalu dan Natan sekarang dipaksa untuk membuka mata. Dia mengerang kecil dan serak, kepalanya berdentam-dentam akibat kantuk lalu menarik tubuhnya duduk di ranjang, menoleh ke jendela dan menemukan seorang dryad stroberi sedang menatapnya dari balik jendela.

Dia menggunakan mahkota bunga stroberi yang semerbak dan pakaian dari sulur tumbuhan stroberi. Di wajahnya nampak teror yang membuat perut Natan mencelos.

Semenjak dia tiba di Perkemahan, dia selalu lebih suka bergaul dengan dryad dan satir karena mereka tidak pernah menatap Natan dengan tatapan kasihan, bisik-bisik penasaran atau tatapan penuh harapan seperti apa yang semua orang selalu lakukan padanya.

Natan selalu merasa berada di sekitar mereka selalu membuatnya lebih tenang. Membantu mereka panen, berdendang bersama alunan seruling para satir yang menumbuhkan stroberi dan bertukar guyonan selalu terasa lebih menyenangkan daripada harus berlatih menghunus Stygian-nya.

“Perry?” Bisik Natan pada dryad di jendela. “Ada apa?” Dia bergegas melempar selimutnya ke pinggir dan menuruni ranjang, menatap Radit yang terlelap agar tidak membangunkannya. Dia melangkah dengan ujung kakinya ke jendela yang tidak bisa dibuka namun dia bisa mendengar suara dryad itu samar-samar.

Dryad itu menatapnya dengan mata yang berkilau ketakutan. “Kau harus menolong kami!” Bisiknya dengan suara gemetar. “Seseorang merusak kebun stroberi! Merusakku!” Dia kemudian menangkupkan wajahnya ke kedua tangannya, tersedu-sedu.

Kantuk Natan lenyap seketika dan dia langsung siaga. Manusia-manusia sinting perusak alam! “Diam di sana.” Bisiknya, memberi tanda untuk dryad itu menunggu di sana dengan telapak tangan lalu meraih hoodie-nya. Dia menggunakan pakaian itu lalu bergegas keluar dari kabin sambil mengawasi setiap ranjang—agar tidak ada yang terganggu.

Saat dia menutup pintu kabin dengan perlahan, berusaha agar tidak menimbulkan suara sekecilpun dan dryad itu sudah menunggunya di depan. Dia tersedu-sedu, ketakutan dan kebingungan. Maka Natan meraih bahunya dan merangkulnya lembut.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa.” Bisiknya di tengah gelapnya malam. Dia menatap ke sekitar, mencari siapa yang berjaga namun tidak ada. Maka dia kemudian langsung bergegas melangkah bersama dryad di pelukannya ke ladang stroberi.

“Apa yang mereka lakukan padamu?” Tanyanya seraya bergegas melangkah dalam keheningan yang dirusak oleh suara langkah kaki Natan yang tergesa.

“Mereka menginjak-injaknya!” Keluh dryad itu lirih, gemetar oleh rasa takut dan kebingungan. “Lalu kabur ke semenanjung! Kau harus mengejarnya, Jonathan!”

Natan menatap arah yang ditunjuk dryad itu dan mengerutkan alisnya. “Memangnya siapa yang melakukannya? Pekemah juga?” Tanyanya menoleh pada dryad di sisinya.

“Aku tidak tahu!” Sedu dryad itu, membekap wajahnya. “Mereka merusak tumbuhannya lalu kabur!” Dia kemudian menjatuhkan diri ke tanah, terisak-isak dan Natan tidak bisa mengabaikannya.

Dia menoleh ke jajaran kabin pekemah, memikirkan pedangnya yang sekarang tersimpan di gudang persenjataan tapi dia yakin Leo pasti mengunci tempat itu sebelum tidur. Dan seberbahaya apa, sih, orang yang memilih menyerang dryad malang? Seharusnya Natan bisa menyelesaikannya dengan beberapa tendangan Taekwondo.

Maka Natan menatap dryad yang sedang menangis di tanah dan mengepalkan tangannya. “Tenang saja, Perry. Aku akan memberi mereka pelajaran.” Katanya lalu tanpa menunggu jawaban, dia bergegas melangkah ke semenanjung.

Dia menatap lepas pantai dari atas bukit tempatnya berdiri. Dengan mata telanjang, berusaha menemukan sebentuk manusia yang mungkin baru saja merusak pohon Perry dan membuatnya sedih. Natan benci sekali tingkah semacam ini.

Kenapa mereka menganggu makhluk yang sama sekali tidak berbahaya? Mereka hanya tumbuh dan berbunga lalu berbuah. Memberikan keuntungan bagi manusia dan apa yang mereka lakukan sebagai balasan? Merusaknya demi kesenangan. Memotong tangkainya, menginjaknya hingga mata, memangkasnya. Atau pada kasus-kasus ekstrim, membakar mereka semua hingga rata dengan tanah.

Natan mulai berpikir mungkin keputusan Zeus untuk menghukum Prometheus karena memberikan api dan ilmu pengetahuan ke manusia itu benar.

Mereka tidak memanfaatkan hal itu dengan terlalu baik sejauh ini.

Natan melangkah menuruni bukit, menuju garis lepas pantai untuk mencari manusia yang menganggu Perry. Suasana pantai malam itu sepi dan lumayan mencekam, dengan desir ombak yang lembut serta langit yang mendung tanpa bintang. Natan menyelupkan kakinya ke dalam pasir yang lembut, menatap ke sana kemari mencoba menemukan siapa lawannya kali ini.

Tapi dia tidak perlu menunggu atau mencari terlalu lama karena kemudian terdengar suara kepakan sayap besar yang menerbangkan pasir pantai berhamburan seperti badai padang pasir.

Natan berhenti bergerak sementara rambut dan pakaiannya berhamburan, pasir-pasir yang terbang meluruh di tubuhnya dan masuk ke mulutnya, dia meludah ke pasir sementara suara kepak sayap itu semakin keras dan dekat dengannya.

Natan menoleh ke balik bahunya dengan tubuh gemetar—kaget dan takut.

Dan dia berharapan langsung dengan mimpi buruknya, Kampe.

*

Radit terbangun dengan kaget.

Dia langsung duduk di ranjangnya dengan debar jantung yang memekakkan telinga lalu menoleh hanya untuk mendapati kasur Natan kosong. Dia merinding dan langsung diserang firasat buruk yang membuatnya mual. Dalam mimpinya barusan dia melihat Natan sedang dilempar ke pasir dari ketinggian dan suara teriakan serak Natan yang terasa begitu nyata menyusup ke dalam pori-porinya hingga dia merasa tubuhnya baru saja disiram dengan air es.

“Bangsat.” Ludahnya dengan penuh amarah.

Dan hidup bertahun-tahun sebagai demigod, dia tahu mimpi bukan lagi sekadar bunga tidur yang tidak penting. Itu adalah sebuah pengliatan. Maka dia melempar selimutnya, menyambar penanya di meja dan menghambur keluar tanpa sedikit pun memelankan suaranya. Beberapa anak kabin Apollo terbangun karena suara langkah kaki Radit dan menoleh bingung.

Radit mendorong pintu kabin dengan kepalan tangannya, pintu berderit nyaring dan dia merasakan Will terbangun dari tidurnya.

“R?!” Dia mendengar seruan Will dari balik punggungnya namun dia tidak berhenti, dia terus berlari ke arah perbatasan Perkemahan.

“Pacarku!” Balasnya tanpa menoleh, dia menekan ujung penanya dan membuat benda itu memanjang, melenting menjadi busur panah keperakan yang agung. Radit meraih sebatang anak panah dari kantung yang tergantung di belakang punggungnya dan memasangnya di busur.

Dia mulai berlari, membelah halaman Perkemahan menuju bukit. Dia lupa untuk memberitahu Natan agar tidak berkeliaran melewati garis perbatasan. Dia lupa Natan terlalu ceroboh untuk ini dan dia sama sekali belum paham tentang perkemahan.

Jika dia benar melangkah melewati perbatasan maka habislah sudah!

Radit berlari semakin kencang, memaksa kedua kakinya untuk berlari melawan angin malam yang dingin dan rasa takut yang berdenyar di seluruh permukaan kulitnya. Dia tidak bisa mengenyahkan mimpi yang baru saja dialaminya; kengerian di wajah Natan akan bersemayam di kepalanya seumur hidup.

Radit kembali mengumpat.

“R!”

Dia menoleh dan melihat Will berlari ke arahnya dengan pedang Stygian Natan yang berkilauan diikuti beberapa pekemah lain dan juga Chiron dengan wajah masih penuh dengan bekas bantal. Mereka semua sudah membawa senjata mereka masing-masing meskipun masih dalam balutan piyama mereka karena tidak ada cukup waktu untuk mengenakan zirah mereka dan Radit bersyukur dia membawa Natan ke Perkemahan.

Bayangkan jika ini terjadi di Indonesia dan Radit harus menghadapi Kampe sendirian.

Radit mendaki bukit perbatasan Perkemahan dan langsung menemukannya.

Kampe terbang beberapa kaki di atas pasir pantai yang berhamburan karena kepakan sayap kelelawarnya, ekor kalajengkingnya mengibas dan kepalanya menoleh saat mendengar kedatangan para pekemah.

Dia menyerigai, marah dan terganggu.

Dan yang membuat Radit mual, salah satu kakinya mencengkram Natan yang terkulai dalam kungkungan kakinya, nampak antara tidak sadar atau....

Radit tidak mau memikirkannya. Luka menyeruak di dadanya membuatnya merasa kebas dan mual. Dia tidak berhenti saat dia mengangkat busurnya, membidik anak panahnya dengan kekuatan amarah, kejengkelan dan kebencian atas rasa gagal yang pahit.

“Untuk Apollo!” Serunya lalu melepaskan anak panah itu, berharap ayahnya mendengar apa yang sedang dihadapinya, sakit yang sedang ditahannya dan kepalanya yang berdenyut oleh berjuta kemungkinan.

Anak panah itu bersinar, diberkati Apollo yang nampaknya mendengar doa anaknya lalu berkilau. Meluncur membelah angin malam menuju Kampe yang mendesis marah. Namun mudah bagi makhluk itu untuk terbang menghindari anak panah Radit yang meluncur lenyap dalam kegelapan.

Sayapnya mengibas keras dan meniupkan angin ke arah pekemah yang berteriak serentak karena kaget oleh angin itu. Semuanya seketika merunduk, melindungi wajah mereka dengan lipatan siku mereka hingga Kampe berhenti. Will berdiri di sisi Radit dengan piyama lucunya dan panah yang siap di tangannya, serta Chiron di sisi satunya dengan panah yang juga siaga.

“Kabin Apollo!” Serunya memimpin adik-adik kabinnya.

Kampe merasa terganggu oleh suara itu dan mendesis keras, dia menyerigai lebar. Mengepakkan sayapnya antara marah dan terganggu, mencoba mengenyahkan para pekemah yang menganggunya. Radit kembali meraih sebatang anak panah, memasang benda itu ke busurnya yang berdenyut dan mulai membidik.

“Semuanya membidik!” Seru Will lagi, melakukan hal yang sama dengan senjatanya. “Kita akan menembaknya berbarengan! Semuanya, persiapkan panah kalian!”

Radit membidik sementara Kampe berteriak-teriak marah. Cengkraman kakinya pada tubuh Natan yang tidak sadarkan diri mengencang dan Radit semakin mual.

Apakah kekasihnya baik-baik saja? Dia meninggalkan kamar bahkan tanpa pedangnya. Dia mungkin langsung pingsan dalam satu sabetan cambuk Kampe yang mengerikan dengan racun menetes-netes dari permukaannya.

“Hati-hati dengan cambuk dan ekornya, Anak-anak!” Seru Chiron maju selangkah, memosisikan dirinya di depan semua pekemah.

Sesungguhnya, tidak ada yang cukup optimis menghadapi Kampe karena 1) dia terbang, sulit sekali melawan makhluk baik yang bisa menghindari senjatamu dengan mudah, 2) dia punya dua benda beracun di tangannya yaitu ekor dan cambuknya, 3) Tartarus tidak punya fasilitas kamar mandi umum jadi bau tubuh Kampe benar-benar memuakkan dan 4) ada Natan di kakinya, hal itu membuat para pekemah ragu untuk membidik karena jika Kampe menghindari serangan mereka dan sial, maka Natan yang terkena.

Radit tetap di tempatnya, berdiri tegak dengan anak panah terbidik ke arah Kampe. Mengunci sasarannya dan menarik otot perutnya, menahan napasnya sebelum berdoa dengan keras di kepalanya, memanggil Apollo sebelum kembali melepaskan anak panah yang kali ini berdesing nyaring mengagetkan semua pekemah.

Namun mereka merespon kekagetan itu dengan melepas semua anak panah mereka. Hujan anak panah meluncur ke arah Kampe yang berteriak nyaring. Dia menghindari semua anak panah itu dengan terbang lebih tinggi. Tubuh Natan bergoyang di cengkramannya dan Radit bisa melihat wajah Natan pucat pasi.

Perutnya bergolak.

“Chiron!” Serunya dengan suara pecah. “Jonathan!” Dia gemetar, tidak bisa mengenali suaranya kembali. Tubuh Natan bergoyang di kaki Kampe, nampak seperti boneka kain perca.

Will terus memimpin adik-adik kabinnya untuk menembakkan lebih banyak anak panah ke arah Kampe yang menghindarinya dengan cekatan. Nyaris mulai terhibur dengan hujan panah itu, dia menyerigai lebar dan mengibaskan sayap kelelawarnya dengan senang. Seolah berpikir semuanya ditujukan untuk menghiburnya.

Tepat saat mereka mulai kehilangan harapan karena setiap hujan anak panah yang diarahkan ke Kampe selalu berhasil dihindari makhluk itu, terdengar suara gemuruh yang membuat semuanya menoleh—bahkan Kampe.

Dari kejauhan, nampak sesuatu terbang ke arah mereka. Peleus memutuskan untuk bergabung ke dalam pesta.

Dia mendenguskan api, mengepakkan sayapnya dengan marah ke arah Kampe. Ukuran Peleus nyaris sama besarnya dengan Kampe dan dia bisa menyemburkan api. Di atas lehernya ada Leo yang sedang nyengir, melambai dengan ceria sementara rambutnya berhamburan.

“Hai, Guys!” Serunya ceria dari atas tubuh Peleus. “Maaf terlambat, ya?!”

Kampe mendesis, menyerigai dan menyabetkan cambuknya. Peleus menghindarinya dengan cekatan, semakin marah saat dia meludahkan api ke arah Kampe. Makhluk itu terlambat menghindarinya, api menyambar ujung sayap kanannya dan membakarnya hingga dia berteriak nyaring membelah keheningan malam.

“LEO! BISAKAH KAU MENGATUR ARAH API PELEUS?” Raung Radit, gemetar dengan tangan Chiron di bahunya, menahannya agar tidak berlari menyongsong Kampe untuk mencoba menyelamatkan kekasihnya. “PACARKU DI KAKINYA, TOLONG!?”

“Wah, maaf, Bung! Akan kucoba!” Balas Leo, menepuk leher Peleus dan berteriak kaget saat naga itu membelok menghindari lecutan cambuk Kampe yang berteriak marah.

“Perlukah kita terus menembaknya?” Tanya Will pada Chiron yang mengamati Peleus dan Kampe.

“Terlalu berisiko.” Sahut Chiron, menatap Natan yang terkulai di kakinya. “Kalian bisa saja mengenai Jonathan di kakinya. Kurasa ini memang bagian Peleus dengan Jonathan menjadi taruhannya.” Dia nampak gelisah.

Kampe menjerit gusar, dia mengepakkan sayapnya lebih tinggi dan mencoba menghindari Peleus namun naga itu tidak berhenti. Dia ikut terbang lebih tinggi dan menyemburkan api. Semburannya mengarah tepat ke Jonathan dan Radit meraung, dia menepis tangan Chiron dan berlari seperti orang kesetanan setelah melempar busurnya ke tanah, mengulurkan tangannya berusaha menangkap Natan.

Namun sepertinya serangan itu sudah diperhitungkan karena ujung api Peleus menyambar persis bagian kaki Kampe yang berarti 1) bagus karena dia melepaskan Natan dari cengkramannya sehingga Peleus dan pekemah bisa menghabisinya namun juga berarti 2) Natan jatuh dari ketinggian kira-kira lima belas meter.

Radit meraung keras hingga tenggorokannya terasa nyeri oleh suara itu saat dia menghambur di pasir pantai, mendongak ke atas berusaha menyelamatkan Natan yang terkulai terjun bebas dari kaki Kampe. Dia sudah putus asa, ingin mengutuk dirinya sendiri karena lalai menjaga Natan. Namun dari balik tubuhnya, Chiron berderap lebih cepat darinya dengan kaki-kaki kudanya yang tangkas dan langsung menangkap Natan dengan tubuh kudanya.

Natan mendarat di tubuh Chiron dengan suara gedebuk keras dan erangan Chiron menerima beban itu. Dan begitu Natan mendarat dengan selamat di tubuh Chiron, Will langsung meresponnya.

“Semuanya, sekarang!” Serunya dengan suara alfa yang bergetar. Seketika itu juga hujan anak panah dan semburan api Peleus tidak lagi berbelas kasih pada Kampe yang memekik keras memekakkan telinga mengepakkan sayap raksasanya dengan marah.

“Jangan berhenti!” Seru Will, memasang anak panah lagi dan menembakkan gelombang anak panah ke arah Kampe bersamaan dengan semburan api Peleus yang berkobar dengan suara gemuruh.

Mereka terus menyerang tanpa henti, anak-anak panah terus beterbangan ke arah Kampe seperti gelombang pasang bersama api panas Peleus yang mendesis keras—tidak cukup kuat untuk membunuhnya, tentu saja. Tapi setidaknya serangan itu bisa memukul Kampe mundur.

Kampe mulai terdesak, dia mendesis pada pekemah lalu memilih untuk menyelamatkan dirinya. Dia terbang menjauh dari Perkemahan dengan marah, separo sayap kanannya gosong karena api Peleus dan dia berdarah karena beberapa anak panah menancap di tubuhnya. Dia memekik-mekik marah seraya terbang menjauh.

Namun semuanya tidak sempat menikmati kemenangan itu karena mereka bergegas menghampiri Natan yang terbaring di punggung Chiron, telungkup setelah Radit membaliknya agar lebih nyaman. Leo mengembalikan Peleus ke pohon Thalia di mana anak Kabin Hephaestus dan Ares bersiaga untuk menjaga Bulu Domba Emas mereka sebagai pengganti Peleus.

“R, kita bawa dia ke Rumah Besar.” Kata Chiron sementara Radit berdiri di sisinya, gemetar menyeka rambut dari wajah Natan yang sepucat seprai. Tidak ada yang berani menyentuh leher atau mencari tanda kehidupannya karena Radit nampak seperti telur di ujung tanduk.

Dia siap hancur kapan saja.

Chiron berderap menaiki bukit perbatasan Perkemahan sementara semua pekemah mundur setelah bertarung melawan Kampe. Semua senjata dibereskan, Leo berlari dari pintu masuk dengan anak-anak Hephaestus dan Ares yang siaga dengan baju zirah dan senjata.

Anak-anak Athena sedang bersiaga di jajaran kabin—seluruh isi Perkemahan sedang tumpah ruah di halaman dengan baju zirah siaga dan alat perang di tangan mereka.

Hanya anak-anak Apollo yang bertarung dalam balutan piyama mereka karena langsung menyusul setelah Radit begitu saja sementara sisa pekemah kabin lain sempat menggunakan zirah mereka.

Radit bahkan hanya mengenakan kaus kutang dan celana pendek tipis saat bertarung melawan Kampe dengan busurnya yang sekarang ada di dalam saku celananya dalam bentuk pena.

Seluruh anak-anak diminta untuk bersiaga, siapa tahu Kampe memutuskan untuk membalaskan dendam atas kekalahannya. Anak-anak Apollo diberikan waktu untuk mengenakan zirahnya. Kabin Ares mulai bersiaga dengan baju zirah dan tombak mereka yang mengerikan bersama kabin Athena.

Konselor-konselor kabin memimpin adik-adik mereka membentuk garis perlindungan di seluruh penjuru perbatasan Perkemahan sementara Radit, Will dan Chiron membawa Natan ke Rumah Besar.

Chiron menekuk kaki kudanya, merunduk sehingga Radit bisa memindahkan Natan ke atas kasur di mana dia kemudian berbaring. Radit menatap wajah pucat Natan dan memberanikan diri untuk menyentuh bagian pergelangan dalam tangan kirinya. Denyut nadi Natan begitu samar, nyaris tidak ada jika saja Radit tidak menahan napasnya untuk mendengarkannya.

Radit menyingkap kaus Natan dan ketiganya terkesirap dengan suara keras. Luka kebiruan melintang di tubuh Natan dari ujung bahu hingga ke tulang pinggulnya. Dari bentuknya, itu pasti cambukan Kampe yang tidak melukainya permukaan kulitnya namun menyerang organ dalamnya. Hal ini menjelaskan betapa lemah napas dan denyut jantung Natan.

Terlambat sedikit saja maka Natan akan habis.

“Dia lemah sekali.” Radit berkata pada Chiron tanpa mendongak sama sekali. “Chiron, berikan aku nektar.”

“R, kita—.”

“Kita coba, Chiron.”

Chiron sejenak menatap Radit, diam dan menimbang-nimbang sebelum akhirnya mendesah dan meraih teko di kamarnya yang terisi nektar. Dia menyerahkan benda itu ke Radit yang menerimanya tanpa sedikit pun memalingkan pandangannya dari Natan yang terbaring di atas ranjang dengan napas yang nyaris tidak kentara.

Radit menyelipkan tangannya di tengkuk Natan, mengangkatnya sedikit untuk membuka jalur tenggorokannya sebelum menuang minuman dewata itu sedikit ke mulut Natan. Dia mendengar Natan meneguk dengan suara lemah lalu tubuhnya gemetar.

“Belati, Will. Kau punya?” Tanyanya kering dan Will menyadari apa yang akan dilakukan Radit pada lukanya.

Will ragu sejenak. “Kau yakin, R?”

Radit mengangguk. “Kita harus mengeluarkan racunnya dan mengobatinya, 'kan?” Sahutnya dengan suara yang terasa asing di telinganya sendiri.

“Tapi dia fana... Menurutmu pengobatan ini akan bekerja padanya?” Tanya Will lagi, lebih pada menanyakan akal sehat Radit.

“Will.” Tukas Radit gemetar, nyaris meledak oleh rasa frustasi. “Tolong.”

Will menatap Chiron, menunggu persetujuan dan Chiron mengangguk tegang. Walaupun mereka semua tahu jika ternyata Natan bukanlah seorang demigod maka pengobatan ini malah akan membahayakan dirinya. Will meraih belati dari sarung di pinggangnya dan menyerahkan sebuah kantung serut kulit ke tangan Radit.

Mengobati dan menyembuhkan selalu membuat Radit tertekan. Dia tidak mau berdiri di sana, mencoba menyelamatkan kehidupan seseorang dengan sepenuh tenaga namun gagal. Dia tidak suka harapan, dia tidak suka saat orang-orang berharap padanya dia bisa menyembuhkan mereka dan Radit takut dia tidak bisa.

Dia benci harus memberitahu orang lain saat keluarga yang mereka sayangi meninggal maka dia melepaskan berkat pengobatannya, membiarkan Will melakukannya sendiri kecuali jika dia memang dibutuhkan seperti saat Perang Manhattan kemarin.

Radit menerima belati berat itu dan mendesah. Dia menatap luka di tubuh Natan dan menghela napas. “Ini akan sakit.” Bisiknya dalam bahasa Indonesia pada Natan yang mulai bernapas dengan lebih lembut. “Tolong tahan sebentar.”

Dia menyelipkan ujung belati ke kulit Natan yang terasa setipis kertas dengan suara robek kecil dan darah terbit dari permukaannya, pertemuan ujung belati dan kulit Natan. Dengan lembut, ditariknya belati itu hingga membentuk garis panjang dan darah kebiruan yang tidak sehat mulai terbit.

“Racun.” Komentar Chiron terdengar tegang dan gelisah.

Radit langsung menyeka darah itu dengan kain bersih yang dijulurkan Will padanya sebelum membuka kantung serut kulitnya dan mengeluarkan tube kecil terisi pasta perak. Dia memijit tube itu dan meneteskannya ke atas luka Natan. Benda itu mendesis saat bertemu dengan kulit Natan.

Radit menyenandungkan kata-kata Yunani Kuno dengan lembut—himne untuk Apollo sebagai dewa penyembuhan. Dia memejamkan mata dengan satu tangan menutup luka Natan dan kepalanya berdenyut mengerikan. Dia sudah nyaris melupakan himne yang harus dinyanyikannya saat melakukan pengobatan karena terlalu lama menolak berkat ini.

Dia merasakan luka Natan menghangat dan napas kekasihnya mulai semakin kuat. Debar jantungnya mulai terasa dan dia bisa merasakan organ vital Natan mulai bekerja kembali. Dia menarik tangannya dengan gemetar, seluruh tulangnya terasa meleleh—ini kali kedua dia melakukan pengobatan dan rasanya seperti seseorang memenggal kepalanya. Semua ruangan berputar.

Dia berdiri dan terhuyung, bersyukur Will langsung menangkapnya.

“Dia nampak lebih baik.” Chiron berkomentar dengan gelisah.

Radit menoleh ke ranjang dan melihat rona samar mulai terbit di wajah Natan. Napasnya mulai kuat dan terdengar lagi sementara luka di dadanya mendesis sebagai reaksi racun dan obat Yunani yang diberikan Radit. Will langsung menyambar perban dan mulai membalut luka itu sementara Radit terhuyung ke kursi, terbatuk-batuk kelelahan.

“Kita tetap butuh obat-obatan fana.” Kata Will setelah mengecek luka Natan dan membalutnya. “Mungkin lebih banyak kain kasa juga untuk diganti secara rutin karena racunnya lumayan banyak.”

“Penghilang rasa sakit.” Tambah Radit persis sebelum Will menghambur keluar meminta seseorang untuk membeli obat-obatan fana. Will mengangguk sebelum bergegas keluar masih dengan piyama matahari dan busur yang berkelotakan.

Chiron menatap Natan yang sekarang tertidur lebih nyenyak, napasnya teratur dan detak jantungnya terdengar kuat dan bersih. “Dia pulih dengan obat-obatan Yunani.” Bisik Chiron dengan nada takjub yang aneh.

Radit mendengus seperti keledai yang masih dipaksa untuk melangkah bahkan setelah mulutnya berbuih kelelahan. Dia menyandar semakin dalam ke kursinya, keringat tipis terbit di keningnya, matanya terpejam berusaha mempertahankan akal sehatnya karena rasa lelah.

Kemudian suara erangan yang sangat akrab dengan telinga Radit terdengar.

Apa?!

Matanya terbuka dan dia langsung melihat wajah Chiron yang terkesirap. Dia menoleh ke ranjang, menemukan Natan membuka matanya dengan erangan keras. Dia menyentuh kepalanya dengan tangan yang pucat dan gemetaran, nampak seperti balita yang kebingungan dengan sekitarnya.

“R?” Bisiknya gemetaran.

Radit bergegas mendorong lelahnya menjauh dan bangkit dari kursinya untuk menghampiri Natan yang wajahnya berkerut, berusaha melihat apa yang terjadi pada perutnya.

“Hei, Sayang.” Bisik Radit duduk di kepala ranjang, di sisi Natan. “Jangan bergerak dulu. Perutmu luka.”

Natan meringis mendengar kalimat terakhir Radit dan mendesah. Radit memijat tangannya dengan lembut. “Haus.” Bisiknya. “Aku boleh minta minum?”

Radit melirik Chiron yang balas menatapnya. Mereka berdua bertukar pandangan sejenak sebelum Radit meraih teko nektar di meja, meraih salah satu dari gelas yang disediakan di sisinya. Membaliknya sebelum menuang isi teko ke dalam gelas. Tidak banyak karena benda itu tidak terlalu ramah pada tubuh demigod, apalagi fana.

Dia mengangsurkan gelas itu ke Natan yang menangkat lehernya sedikit, berusaha membuat air turun ke jalur yang benar. Radit mendekatkan bibir gelas ke bibir Natan yang kering dan pecah-pecah. Lalu memiringkan gelasnya hingga isinya meluncur ke bibir Natan.

Minuman keemasan itu menetes ke bibir Natan, seteguk. Lalu Radit menarik gelas dan Natan mendecap-decap dengan puas, seperti baru saja minum satu liter air dingin yang segar.

Mereka menatap Natan dengan napas yang ditahan, mencoba menanti efek apa yang disebabkan minuman dewata itu pada tubuh Natan. Namun pemuda itu mendesah panjang dan lega.

“Apa yang terjadi padaku?” Tanyanya disorientasi. “Aku hanya ingat seorang dryad meminta bantuanku karena pohonnya diinjak-injak dan aku tidak ingat lagi.” Keluhnya memegangi kepalanya yang berdentam-dentam.

Seluruh tubuhnya terasa sakit seolah dia baru saja terjun bebas dari ketinggian dan mendarat di sesuatu yang keras—punggung kuda?

Radit memutar tubuhnya menghadap meja di sisi ranjang Natan. “Itu pertanyaanku.” Katanya mendorong teko nektar menjauh, memberi tempat untuk gelas yang tadi digunakan Natan. “Apa yang kaulakukan di luar sana pada mal—?”

“R! Lihat itu!”

Seruan Chiron yang tiba-tiba membuat Radit terkejut dan gelas terlepas dari tangannya. Benda itu menggelinding dari tangan Radit di atas meja, cairan keemasan nektar tumpah di permukaan meja sebelum gelas itu terjatuh ke lantai dan pecah berantakan dengan suara nyaring yang membuat Radit berjengit.

Radit menoleh ke Chiron sudah akan membuka mulut untuk mengeluh saat dia menyadari bahwa sentaur senior itu sedang menatap Natan dengan tatapan kaget yang sangat murni dan nyaris asing karena Chiron tidak pernah memasang ekspresi semacam itu—wajahnya pucat dan matanya melebar dengan cara yang belum pernah Radit lihat.

Chiron diserang rasa syok yang hebat. Rasa terkejut, takut dan kebingungan.

Maka Radit bergegas menoleh ke arah kekasihnya yang masih berbaring lalu terkesirap keras. Jantungnya terasa berhenti berdebar saat melihatnya. Dia secara naluriah menarik tubuhnya menjauh dari Natan yang menatap mereka berdua dengan kebingungan. Bibirnya terbuka, hendak bertanya namun Radit memotongnya dengan seruan kaget yang tinggi.

Karena sekarang di atas kepala Natan ada sesuatu yang berpendar—semakin lama, semakin terang. Begitu menyilaukan hingga Radit dan Chiron mundur dari ranjang Natan akibat cahaya itu. Pendar itu menerangi kamar Natan nyaris seperti matahari mungil.

Lambang Zeus.

*

Apollo #199

Disclaimer: The copyrights for PERKEMAHAN BLASTERAN and all the OCs belong to Rick Riordan and only present as supporting details in this story. Also, I intentionally modified some of the details to suit my story. Ty.

*

Natan menatap dirinya sendiri di cermin dan mendesah, merasa masih mengantuk dan matanya pedas. Dia terbangun tengah malam tadi karena seorang pekemah tidak sengaja menutup pintu kabin dengan terlalu kuat saat akan ke toilet dan tidak bisa kembali tidur.

Radit di sisinya masih terlelap dengan damai, nampak lelah dengan wajah yang sedikit lusuh dan napasnya yang berat serta berbunyi. Natan menatapnya dan merasa bersalah—apakah Radit lelah karena mengurusnya? Natan merasa benar-benar tidak nyaman ketika dia harus menyusahkan orang lain demi kepentingannya sendiri.

Hari ini mereka akan bertemu Oracle Delphi, saat-saat yang menentukan segalanya menurut Radit. Kenapa Natan tidak bertemu Delphi di hari pertama kedatangannya? Karena Rachel tidak ada di Perkemahan. Dia hanya akan datang pada beberapa hari saat dia merasa arwah Delphi memiliki sesuatu untuk dikatakan.

Seperti hari ini.

Dan Natan tidak bisa memutuskan apakah dia tersanjung atau takut pada fakta bahwa Oracle Delphi yang super-sibuk, menyempatkan diri untuk datang demi memberikannya visi tentang nasib buruknya.

Mungkin sebaiknya tersanjung saja agar suasana hati Natan lebih baik.

“Halo, Jonathan.” Sapa Chiron saat mereka tiba di Rumah Besar, Pak D sedang duduk di ruangannya dengan sekaleng Diet Coke dan wajah bayinya memberengut sebal—selalu seperti itu sejauh pengliatan Natan.

Sama seperti Radit yang selalu dipanggil R (mungkin karena Raditya terdengar aneh dalam pelafalan lidah Inggris), Natan selalu mendapati dirinya dipanggil dengan nama lengkapnya. Walaupun sesungguhnya Natan tidak pernah tahu siapa yang memberikannya nama itu—ayahkah, ibukah? Dan dia tidak pernah cukup peduli tentang itu.

“Halo, Chiron.” Balas Natan mencoba menenangkan jantungnya yang melompat-lompat dalam rongga rusuknya yang malang.

“Kau punya janji dengan Oracle, ya?” Chiron tersenyum hangat padanya, ekor kudanya mengibas dengan ramah. “Silakan naik saja ke loteng, sayangnya R harus tetap di sini bersamaku. Ini hanya antara kau dan Delphi. Rachel sudah di atas sejak pagi, membereskan barang-barang.”

Natan menoleh pada Radit yang berdiri di sisinya, mulai merasa gelisah. “Bagaimana jika aku tidak bisa menghafalkan puisinya jadi kita tidak bisa menganalisisnya?” Tanyanya dengan mulut kering.

“Jika ada yang memberitahumu tentang betapa buruknya masa depanmu, kau cenderung akan mengingatnya.” Chiron menjawab sebelum Radit sempat menemukan kata-kata untuk menenangkannya dan Natan tidak yakin apakah itu dimaksudkan untuk menghibur Natan atau apa. “Dia hanya jago menakut-nakutimu.” Dia menepuk bahu Natan dan meremasnya akrab.

Radit akhirnya mengangguk, meremas tangan Natan dan menatapnya. Memberi semangat dan berusaha mentransfer keberaniannya ke Natan yang sekarang merasa mungkin dia tidak benar-benar serius tentang keinginannya untuk hidup di dunia mitologi Yunani ini jika itu berarti dia dikejar-kejar makhluk Tartarus.

Natan akhirnya menyerah, dia menghela napas dalam-dalam lalu mulai beranjak ke tangga kurus yang menuju ke loteng Rumah Besar. Dia memanjat tangga itu dan kepalnya menyembul ke dalam loteng yang nampak agak lebih ceria dengan aroma tajam cat minyak dan seorang gadis nyentrik dengan rambut fizzy sedang berdiri di tengah ruangan.

“Oh, hai!” Sapanya ceria, suaranya tinggi dan menarik. “Kau pasti Jonathan!”

Natan memanjat naik dari lubang dan berdiri di sisi tangga dengan kikuk. “Hai, Rachel.” Balasnya, tidak yakin harus memanggilnya sebagai Rachel atau Delphi. “Kabar baik?”

Rachel sedang tersenyum lebar, baru saja membuka mulut untuk membalas sapaan ramah Natan saat tiba-tiba saja dia terkesirap keras dan kolaps. Natan tersentak, dia mundur dua langkah dari Rachel dan sudah akan berteriak memanggil Chiron dan Radit, namun dia berhenti ketika mulut Rachel terbuka. Matanya berubah bersinar dan uap hijau tipis mulai menguar dari seluruh ruangan entah dari mana asalnya.

Natan mundur lagi, semakin menjauh dari tubuh Rachel yang perlahan bangkit dan saat dia bicara, suaranya ada tiga. Menggema dengan cara seperti yang dilakukan pengeras suara Dolby sesaat sebelum film di bioskop dimulai hanya saja, Dolby terdengar jauh lebih ramah.

“Putra Dewa Matahari.” Kata tiga Rachel berbarengan, wajahnya pucat dengan mata putih tanpa ekspresi dan Natan yang ketakutan di sudut ruangan, tidak yakin apa yang harus dilakukannya.

Kegelapan yang mengancam akan diangkat, Namun kehilangan pun harus dicecap. Hari baru, terbitnya mentari, Yang pergi, kembali.

Rahasia tua terbongkar jua, Sang anak berjumpa orangtuanya. Namun murkanya langit, Pun harus diselami.

Natan menatapnya terpana saat perlahan kabut hijau mulai menipis dan lenyap, lalu Rachel mengerjap—kembali menjadi dirinya sendiri.

Keheningan jatuh di antara mereka dan Natan tidak tahu apa yang harus dilakukannya setelah mendengar tiga Rachel tadi berbicara berbarengan (Natan bahkan tidak sempat menyatat puisinya! Sekarang bagaimana dia harus menganalisisnya??).

Mereka berpandangan dan Rachel mendesah panjang, seolah hal itu sudah sering terjadi.

“Oke, aku melakukannya lagi, ya?” Dia memijat pelipisnya dengan jemari panjangnya yang penuh noda cat yang nampaknya tidak bisa lenyap.

Natan bergeming sebelum, “Y-ya?” Tanyanya ragu pada maksud Rachel.

“Memberitahu orang-orang bagaimana mereka mati.”

Natan langsung pucat. “Uh-oh. Y-yah, kurasa begitu.” Bisiknya, mencicit. Tubuhnya terasa dingin mendengar bagaimana mudahnya Rachel mengatakan kata M itu.

“Tenang saja, biasanya tidak seburuk itu, kok.” Rachel menyunggingkan senyuman briliannya mencoba menghibur Natan dengan cara yang sangat diapresiasi Natan kecuali bahwa bayangan Rachel saat menjadi Delphi akan terus melekat di bagian belakang kepalanya seperti tumor.

Belum lagi suara gema itu, memantul ke seluruh ruangan dan membuat tubuh Natan terasa gemetar. Ada kekuatan tak kasat mata yang menguasai Rachel dan seluruh ruangan itu dan Natan harus tunduk pada kekuatan itu, apa pun yang terjadi. Dan dia tidak terlalu menyukai perasaan itu, perasaan lemah dan ditekan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendaknya.

“Baiklah.” Rachel menatapnya, nampak lelah sekali seolah mengucapkan ramalan tadi menghabiskan seluruh energinya. “Jika kau sudah mendengarnya, berarti kurasa urusan kita sudah selesai.”

Dan itu berarti Natan harus pergi dari sana. Maka dia bergegas turun dari loteng, bertemu mata dengan Radit yang sedang duduk di sofa dengan Chiron berdiri di sisinya. Keduanya langsung berdiri saat melihat Natan, Radit langsung menghampirinya dengan wajah cemas.

“Bagaimana?” Tanya Chiron, antisipatif. “Apa kata Delphi?”

Natan menatap Radit lalu menatap mata Chiron yang sebening mata kuda dengan bulu mata panjang yang merunduk. “Aku... Kurasa aku tidak terlalu ingat detailnya, maaf. Tapi semacam, ” Natan menggaruk pelipisnya, berusaha mengingat puisi yang dibacakan kagebunshin Rachel tadi.

“Kegelapan yang akan hilang. Lalu seseorang bertemu orangtuanya, langit marah dan... Sesuatu tentang pergi dan kembali?” Natan menatap keduanya, berusaha memohon bantuan namun dia menyadari bahwa hanya dialah yang mendengar ramalan itu, bahkan Rachel pun tidak akan bisa membantunya saat ini.

Sial.

Chiron dan Radit menatapnya serius dan Natan mulai merasa perutnya mulas. “Kau tidak mengingat persisnya bagaimana?” Tanya Chiron perlahan.

Natan mengerjap, menatap Radit meminta bantuan. Apakah dia dalam masalah? “Eh, tidak. Maafkan aku.” Dia menggaruk pelipisnya lagi. “Apakah itu gawat?”

Keduanya bertukar pandangan dengan resah dan Natan merasa ulu hatinya seperti baru saja dijotos. Dia mulai merasa bahwa itu pasti fatal. Chiron mengibaskan ekornya dengan gelisah lalu menatap Natan, mencoba nampak tetap tenang namun gagal.

“Jonathan.” Katanya perlahan, nampak berusaha mencari kata-kata yang tidak akan melukai Natan. “Ramalan Oracle itu tidak selalu bermakna sebenarnya. Ada banyak implikasi dalam bait-baitnya, jadi kurasa kita sebaiknya tahu seperti apa persisnya semua bait disampaikan untuk mencari makna sebenarnya.”

Radit menatap kekasihnya yang nampak linglung sekarang, berusaha mengingat puisi yang didengarnya tadi. Namun dengan pengalaman Radit bertemu Oracle beberapa kali (bahkan saat bentuknya masih mumi menyedihkan), Radit tidak heran Natan melupakan seluruh larik puisinya karena pengalaman bertemu Oracle sama sekali tidak menyenangkan.

Kau cenderung ingin bergegas melupakannya saja. Namun Natan terjebak, dia harus mengingat pertemuan itu dengan begitu kuat hingga dia mengingat larik dari puisi yang adalah takdirnya. Radit merasa bersalah, namun tidak ada cara lain.

Natan harus mengingatnya, untuk keselamatan bersama.

Namun Radit juga tidak ingin memaksa kekasihnya untuk bicara walaupun dia ingin sekali. Jadi dia memilih mengeluarkan pedang Natan dan menunjukkannya pada Chiron.

“Sementara Jonathan mengingat,” katanya meletakkan besi Stygian itu di atas meja. “Bisakah kau memberitahu kami kenapa Stygian memilihnya sebagai tuan?”

Chiron mengalihkan pandangan dari Natan yang sekarang nampak berusaha kuat untuk mengingat ramalan yang diberikan Oracle padanya dengan kening berkerut, mata dipejamkan dan selapis keringat tipis mulai terbit di keningnya.

Chiron meraih pedang itu dari meja dan mengamatinya, membiaskan cahaya matahari ke bilahnya dan menatap Natan.

“Apollo yakin dia fana biasa.” Kata Chiron sekarang menatap Radit.

“Menurutku dia pasti demigod.” Balas Radit dan Natan menoleh, kaget. “Bahkan di antara para demigod sekali pun, jarang sekali ada Stygian yang tunduk pada mereka kecuali anak-anak Hades atau mereka yang berhubungan dengan Dunia Bawah. Besi ini berbeda. Kau setuju padaku, 'kan?”

Chiron diam, dia mengamati pedang keunguan di tangannya yang begitu mengancam karena tebasan pedang itu tidak hanya bisa melukai monster dan fana, Stygian juga bisa melukai sesama demigod, bahkan dewa. Karena besi itu ditempa di Dunia Bawah dan didinginkan di air sungai Styx yang dikeramatkan oleh nyaris seluruh entitas Yunani.

Besi yang sama merupakan bahan pembuatan sabit Kronos yang digunakan Zeus untuk menyincangnya setelah membebaskan semua kakaknya dari perutnya. Benda itu berbahaya—sangat berbahaya.

“Siapa menurutmu?” Tanya Chiron, meletakkan kembali bilah pedang Natan di atas meja seolah jika menyentuhnya lebih lama lagi, tangannya akan terbakar asam keras yang meleleh dari sana.

Radit menatapnya sejenak, berpikir lalu mengendikkan bahu. “Hades?”

“Karena Stygian?”

Radit mengangguk.

Chiron menatap Natan yang sekarang balas menatap mereka dengan matanya yang berkilau oleh rasa kaget dan terpana oleh arah pembicaraan mereka. Dia mengamati sejenak Natan dan proporsi tubuhnya dengan sopan, ekor kudanya mengibas gelisah.

“Dia juga jadi favorit para dryad.” Tambah Radit kemudian dengan perlahan. “Maksudku, Persephone? Demeter?”

Chiron menatap Radit. “Hades merupakan yang paling taat tentang sumpahnya dengan Poseidon dan Zeus sebelum Perang Dunia Kedua dan Persephone adalah satu-satunya istrinya. Nico di Angelo adalah keturunan demigod terakhir Hades. Anak para Tiga Dewa Besar terlalu kuat.” Dia menghela napas.

“Aku pribadi tidak yakin dia anak Hades. Dia setia.” Chiron menatap Stygian di atas meja lalu menatap Natan yang menatap mereka, nampak pucat.

“Mungkin itulah arti larik 'seseorang bertemu orangtuanya'? Jonathan diklaim oleh salah satu dewa?” Tanya Radit lalu bergegas menambahkan dengan wajah merona. “Atau dewi.”

“Terlalu awal untuk menyimpulkan seperti itu.” Chiron mengibaskan ekornya gelisah lagi. “Makna ramalan tidak selalu tentang siapa yang mendengarkan lamaran itu, beberapa bisa saja terjadi kepada orang lain yang dekat dengannya.”

Natan mengerjap. “Rachel menyebut 'putra Dewa Matahari' sebagai pembukanya.” Katanya, mendadak teringat kalimat pertama Oracle yang menggaung di seluruh ruangan seperti tiupan sangkakala.

Radit dan Chiron menoleh padanya, nyaris seragam. Kali ini, wajah Radit berubah pucat. “Apa?” Tanyanya.

“Dia menyebut 'putra Dewa Matahari' sebagai pembukanya.” Ulangnya.

“Iya. Aku dengar, kok!”

“Lalu kenapa kau—?”

“Maksudku bukan apa yang begitu tapi—ah, sudahlah!”

Natan mengerjap. “Kenapa aku salah lagi?”

“Berarti bisa jadi ramalan itu untukmu, R.” Chiron menyela pertengkaran kekanakan mereka dengan suaranya yang dalam. Keduanya menoleh pada Chiron sekarang.

“Atau setidaknya menyinggungmu karena dia menyebutkan Apollo sebagai pembukanya.”

Radit masih belum menyerah, “Atau Natan ternyata adalah anak Apollo juga.”

Chiron mendesah melihat perjuangan Radit meyakinkan mereka semua bahwa Natan adalah demigod. “Jika memang begitu, kenapa dia mengambil terlalu banyak waktu untuk mengklaim anaknya? Para dewa sudah bersumpah pada Annabeth untuk mengakui semua anak-anak mereka setelah Perang Manhattan. Kau tahu itu.”

“Memangnya jika aku memang anak Apollo juga, aku masih boleh pacaran denganmu? Bukankah itu berarti incest?” Tanya Natan, tidak bisa menahan dirinya sendiri.

“Hubungan darah di Yunani, Jonathan,” sahut Chiron nampak seperti butuh obat sakit kepala saat itu juga (Memangnya sentaur bisa sakit kepala??) namun dia masih tetap tersenyum pada Natan. “Sesuatu yang kompleks. Tidak bisa dilihat dengan cara seperti itu. Mereka tidak melihat ikatan darah seperti manusia.”

“Hera secara garis darah adalah kakak Zeus, tapi mereka menikah.”

“Benar juga. Berarti tidak incest, ya?”

“Kau baru saja diberitahu bahwa kau mungkin mati tapi kau malah meributkan apakah berpacaran denganku berarti incest??” Sela Radit nyaris seolah sedang mempertanyakan akal sehat Natan.

Natan mengendikkan bahu, masih cukup beradab untuk nampak malu karena kata-katanya. “Maaf, priority shifting.”

Chiron tersenyum. “Setidaknya kau tidak terlalu tegang menghadapi semua ini.” Dia kemudian meraih pedang Stygian di meja dan menyerahkannya pada Natan. “Bagaimana jika sembari kau mengingat larik puisi yang kau dengarkan dari Oracle, kau melatih kemampuanmu dengan pedang barumu?”

“Dan tenang saja.” Tambah Chiron saat Natan meraih gagang pedangnya dan merasakan bagaimana benda itu berdenyut dalam genggamannya. “Stygian tidak membuatmu seketika adalah orang jahat. Kau hanya harus lebih berhati-hati dengan bilahnya.

“Dia bisa melukai siapa saja, tanpa batasan. Bahkan Titan sekalipun.”

Natan menatap bilah pedangnya, kali ini dengan lebih serius dan merasakan sedikit aura intimidasi pedang itu membuatnya risih. Namun anehnya, di saat yang bersamaan dia juga merasa kuat. Pedang itu membuatnya merasa percaya diri dan aman.

Tidak ada entitas yang tidak bisa dilukainya dengan pedang itu.

Maka tidak akan ada siapa pun yang berani macam-macam dengannya begitu dia berhasil menguasai manuver-manuver pedang itu, 'kan?

Fakta itu membuat Natan jauh lebih tenang.

“Dia bisa melukai Kampe?” Tanyanya, mendongak ke Chiron yang mengernyit—nampak tidak setuju dengan cara Natan menyebutkan nama makhluk Tartarus itu seolah dia hanyalah kecoa terbang.

“Tentu saja bisa.” Katanya.

Natan kembali menatap pedangnya. “Keren.” Bisiknya lalu mendongak ke Radit.

“Ayo berlatih.” Tambahnya, kali ini penuh tekad. “Kita punya monster yang harus dikalahkan dan ramalan yang harus dihadapi. Siapa pun yang murka nantinya, aku siap.”

*

KookV One-Scene


Jeongguk yang sejak tadi menunduk di atas mesin kasir mencoba untuk memasukkan login info-nya untuk pergantian shift setelah Jimin pergi untuk makan siang mendongak saat pintu Starbucks tempatnya bekerja terbuka dengan suara derit keras (ingatkan Jeongguk untuk memberitahu Store Manager mereka tentang melumasi engsel pintu store setelah ini) dan tersenyum lebar saat mendapati siapa yang baru saja memasuki tempatnya bekerja.

“Selamat datang!” Serunya dengan hati berdebar, melirik layar mesin kasir dengan sedikit jengkel karena tidak juga berhasil masuk dengan username dan password-nya yang biasa.

Dia lalu menoleh ke Hoseok, yang hari ini mendapat shift di bar dengan sebal. “Hosiki, aku tidak bisa login, lagi. Tolong!” Keluhnya sementara beberapa pelanggan mulai mengantri di depannya.

Hoseok yang sedang sibuk menakar frappuccino di blender menoleh. “Kau pakai saja punyaku dulu. Nanti kuminta Namjoon mengecek login info-mu setelah dia istirahat.” Katanya lalu kembali fokus dengan takaran minuman di hadapannya.

Jam makan siang adalah jam paling sibuk di Starbucks apalagi mengingat bahwa di sebelah Hartono Mall tempat mereka bekerja, berdiri Marriot Yogyakarta Hotel yang juga berarti banyak tamu mereka yang menghabiskan waktu ke Starbucks (bukan salah Jeongguk jika kopi mereka begitu mengerikan sehingga bahkan karyawan Marriot datang kemari saat istirahat) untuk segelas kopi yang menyegarkan.

Jeongguk bergegas menggeser tubuhnya ke mesin kasir satunya dan langsung memproses login info Hoseok dengan cekatan karena tidak ingin antrian panjang menjadi kasus untuknya. Dia harus meminta Namjoon mentransfer ini ke akunnya nanti dan mungkin membuat login info baru karena dia selalu gagal masuk dengan mereka belakangan ini. Setelah komputer menyala dan siap digunakan, dia menoleh pada pelanggan pertama di hadapannya.

“Halo, selamat siang! Ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya ramah melirik ke lelaki keempat yang berdiri di antrian, di depan show case mereka sedang menatap jejeran kue dan pastry yang tersedia hari itu dengan serius.

Pelanggan reguler mereka. Hari ini dia mengenakan kaus T-Shirt sederhana dengan luaran kemeja flanel dan membawa tas yang nampak berat dengan laptop. Jeongguk sering mendapatinya duduk di sudut ruangan, dekat jendela dengan laptop menyala dan earphone menyumpal kedua telinganya. Menunduk ke layar dengan tatapan serius namun Jeongguk tidak pernah berani untuk bertanya atau menyapanya.

Dia selalu di sana sejak pagi hingga selepas senja—kadang Jeongguk bertemu dengannya saat dia pulang opening shift atau saat datang untuk middle shift atau bahkan saat dia masuk untuk closing shift, kecuali hari Sabtu dan Minggu.

Hal paling bagus yang pernah Jeongguk katakan padanya hanya ketika Jeongguk mendapat giliran cleaning store saat dia melangkah ke arah meja pemuda itu, jantungnya berdebar dengan membawa wadah abu-abu tempat meletakkan gelas-gelas plastik kosong dan lap hijau untuk meja lalu berdeham:

“Boleh saya bereskan piringnya, Kak?” Tanya, melemparkan senyuman sejuta watt-nya yang paling ceria pada pemuda itu.

Dan pemuda itu hanya mengerjap, bahkan tidak melepaskan salah satu earphone sialannya saat mengangguk pada Jeongguk. “Oh, ya. Silakan.” Dia tersenyum sambil lalu. “Terima kasih, Kak.” Lalu kembali menunduk seolah bertatapan lebih lama dari satu menit dengan Jeongguk bisa membuatnya tertular penyakit serius.

Atau saat dia membawa nampan terisi gelas-gelas shot mungil Starbucks yang terisi sampel minuman baru yang dia kerjakan dan berhenti di depannya lalu mengatakan; “Halo, Kak! Kami punya sampel minuman baru, mungkin Kakak berkenan mencicipi?” Dengan senyum lebar terbaiknya, rambut disisir rapi dan kolonye yang baru disemprotkannya di ruang karyawan tadi.

Namun pemuda itu menatapnya dengan risih lalu bergegas menggeleng dan mematahkan hati Jeongguk yang malang, menginjak-injak harapannya untuk bisa mengobrol. “Tidak perlu, Kak, terima kasih.” Katanya lalu kembali menunduk ke layar laptopnya.

Jeongguk benci diabaikan.

Dia selalu menjadi idola di Starbucks Hartono Mall. Anak-anak kuliahan dan anak-anak SMA selalu datang kemari dan bertanya pada rekan-rekan kerjanya tentang Jeongguk. Terkadang malah ketika Jeongguk sedang beristirahat di belakang (nonton Youtube dan makan bekal makanan), Namjoon akan melongok ke dalam sana dengan wajah sebal berkata:

“Mereka tidak mau jika bukan kau baristanya.”

Hal itu membuat hidung Jeongguk mengembang penuh rasa bangga. Dia selalu mendapati anak-anak itu menyapanya ceria saat dia kembali ke store sehabis makan dalam balutan pakaian serba-hitam tanpa apron kebanggaan Coffee Master-nya.

Jeongguk akan melepas sebelah earphone-nya dan tersenyum lebar. “Halo.” Sapanya. “Sudah lama?” Sebelum bergegas pamit untuk kembali ke shift-nya.

Bahkan saat Jeongguk melakukan regular coffee testing-nya pun, pengunjung favoritnya itu sama sekali tidak mendongak sama sekali dari layar laptopnya. Dia hanya melirik sejenak lalu kembali bekerja, tidak memedulikan sekitarnya. Jeongguk kesal, sangat tidak suka diabaikan—apalagi oleh pengunjung favoritnya.

Dan hari ini dia bertekad dan bersumpah, dia harus mendapatkan nomor pemuda itu. Apa pun yang terjadi.

“Halo, Kak! Apa kabar?” Sapanya kemudian saat akhirnya giliran pemuda itu tiba. Dia meraih Sharpay-nya dan bersiap menerima pesanan pemuda itu. Aroma parfum pemuda itu begitu menyenangkan; aroma maskulin halus yang membuat Jeongguk mabuk dengan secercah aroma cokelat yang pekat. “Ada yang bisa saya bantu?”

Pemuda itu menatapnya sejenak, mengerjap lalu tersenyum kecil. “Halo juga, Kak,” sapanya dengan suara berat yang seksi hingga Jeongguk rasanya ingin suara itu membelai seluruh tubuhnya. “Saya mau yang biasa.”

Jeongguk tersenyum lebar, merasa bangga bahwa dia selalu ingat pesanan biasa pemuda ini. “Grande Signature Hot Chocolate dengan whip cream, ya, Kak?” Dia meraih gelas plastik kertas untuk minuman hangat Starbucks yang berwarna putih dan memasang cup sleeve di permukaannya lalu menuliskan kode pesanan pemuda itu di sana.

“Atas nama siapa, Kak, maaf?” Tanya Jeongguk ramah setelah menulis kode minuman untuk Signature Hot Chocolate di gelas kertas tahan panas itu; bertanya walaupun dia sebenarnya tahu nama pemuda itu, menghafalkannya seolah itu adalah mantra.

“Taehyung.”

Taehyung. “Kak Taehyung, ya.” Dia melemparkan senyuman playboy-nya yang menakjubkan ke arah pemuda itu, Taehyung yang menatapnya dengan tatapan datar yang membuat Jeongguk gemas.

Ayolah! Aku ini tampan! Pikirnya gusar namun tetap tersenyum lebar seraya menulis nama Taehyung di gelas minumannya. Dia lalu meletakkan cup itu di meja bar untuk dikerjakan Hoseok setelah pesanan selanjutnya lalu menutup Sharpay-nya dan kembali mendongak ke pelanggannya.

“Ada tambahan lain, Kak? Makanan, mungkin?”

Taehyung, pelanggan reguler mereka itu sekarang nampak rileks karena Jeongguk ingat pesanan biasanya. “Apakah kalian kebetulan punya Sumatran Chocolate Eclair? Atau sedang kosong, ya?” Dia menoleh ke show case. “Saya lihat tidak ada.”

Jeongguk ikut menjulurkan torsonya mundur, mengecek isi show case dan menyadari bahwa Jimin belum mengisi ulang show case sebelum pergi makan dengan Namjoon tadi. Dia menggerutu dalam hati. Krim eclair-nya akan basi jika tidak segera masuk kulkas dan dia tentu yakin Jimin tidak suka jika gajinya dipotong sesuai harga semua eclair basi itu.

“Sebentar, ya, Kak, saya cek dahulu.” Katanya lalu meletakkan pulpennya di atas meja kasir lalu pergi ke microwave tempat beberapa kotak plastik yang digunakan suplayer mereka membawa makanan dan menemukan eclair yang dimaksud sedang berkeringat karena suhu ruangan.

Sebentar lagi eclair itu pasti wafat, begitu pula gaji Jimin bulan ini.

Dia berdecak, mengingatkan diri untuk menendang pantat Jimin sebelum bergegas kembali ke mesin kasir. “Ada, Kak. Belum kami display saja.” Dia tersenyum penuh permohonan maaf pada pelanggan rupawan di hadapannya. “Ingin sekalian dihangatkan?”

Taehyung nampak lega mendapati makanan yang diinginkannya ternyata ada. Wajahnya begitu indah hingga Jeongguk harus menahan diri untuk tidak mendesah seperti orang bodoh yang sedang mabuk kepayang. “Boleh.” Katanya lalu mengeluarkan dompet.

Jeongguk mengangguk dengan senyumn di bibirnya lalu bergegas mundur ke arah microwave. Dia menyambar sarung tangan plastik, memasukkan jemarinya ke dalam sarung tangan dan penjepit makanan.

Jeongguk kemudian meraih piring dan melapisinya dengan kertas makanan sebelum membuka tutup wadah plastik putih makanan. Dia menjempit satu eclair dan meletakkannya di atas kertas makanan, menjepit eclair itu bersamaan dengan kertasnya dan memasukkannya ke dalam microwave.

Dia menyetel suhu dan timer microwave, menunggu sejenak hingga benda itu berdenting tanda telah selesai lalu bergegas mengeluarkan eclair yang sekarang meleleh dan nampak lezat dari dalam microwave yang hangat.

Jeongguk bisa membayangkan bagaimana lelehan cokelatnya saat benda itu dipotong dan bagaimana berantakannya Taehyung saat mencoba menyuapnya—remahan pastry yang renyah, cokelat yang meleleh. Tidak bisa dihindari.

Dia meletakkannya di atas piring, menarik lepas kertas makanannya dan meletakkan sendok-pisau kue di sisi piring. Jeongguk melepaskan sarung tangan plastiknya, mengembalikan penjepit makanan ke tempatnya lalu membawa piring itu ke meja kasir.

Dia menyerahkannya ke Taehyung melewati bagian atas komputer kasir dan Taehyung menerimanya dengan ceria—nyaris seperti anak-anak yang mendapat kue kesukaannya sebelum makan malam. Jeongguk ingin menangis.

“Silakan, Kak.” Katanya ceria sebelum mengelap tangannya di apron lalu kembali ke mesin kasir.

Jeongguk kemudian menginput pesanan pemuda itu ke dalam mesin kasir seraya meyuarakan pesanannya untuk mengeceknya. “Baik, saya ulangi pesanan Kakak, ya. Satu grande Signature Hot Chocolate extra whip cream dan satu Sumatran Eclair dihangatkan, ya, Kak.” Katanya dan pemuda di hadapannya mengangguk, menarik Starbucks Card-nya keluar.

“Totalnya delapan puluh ribu, Kak. Pembayarannya cash atau?” Tanyanya mendongak dari layar dan tersenyum mendapati Starbucks Card edisi Seattle yang gelap diserahkan ke arahnya.

“Oke, Starbucks Card, ya, Kak!” Dia lalu menginput nomor kartu itu sebelum melakukan satu kali swipe dan memasukkan kartu ke komputer dan memproses pembayarannya.

“Terima kasih, Kak Taehyung.” Katanya ceria, menarik lepas Starbucks Card Taehyung, merobek nota dari mesin penyetaknya dan mengembalikannya ke Taehyung. “Mohon ditunggu pesanannya dan selamat hari Selasa!” Dia melemparkan senyuman terbaiknya lagi.

Dan kali ini, Taehyung membalasnya. “Terima kasih, Mas—?” dia melirik name tag Jeongguk yang dipasang di atas tali apron hitam Coffee Master-nya dan menatap matanya lagi. “Jeongguk.”

Jantung Jeongguk nyaris saja melompat keluar dari tulang rusuknya saat pemuda itu menyebutkan namanya dengan suaranya yang empuk. Dia belum sempat memproses apa-apa karena otaknya yang macet saat Taehyung kemudian meraih piringnya dan bergegas pergi dari depan meja. Melangkah ke meja kesukaannya di sudut ruangan, meninggalkan Jeongguk kehabisan napas karena terpesona.

Jeongguk menyuri pandang ke arahnya seraya melayani pembeli yang memasuki store tanpa henti. Berusaha bersikap ramah walaupun perhatiannya terbelah ke pemuda yang sekarang sedang mulai mengeluarkan laptopnya, bersiap untuk tenggelam dalam kegiatan apa pun yang sedang dilakukannya.

Dia baru saja selesai melayani pembeli terakhir dan baru saja akan meminta pada Hoseok agar dia saja yang mengerjakan pesanan Taehyung saat dia menyadari temannya itu sudah selesai mengerjakan hot chocolate yang dimaksud dan membawanya ke konter pengambilan.

Jeongguk berusaha menghentikan Hoseok agar tidak membaca nama yang ditulisnya di cup namun terlambat karena pemuda itu sudah menarik napas dalam-dalam dan berteriak nyaring hingga seluruh isi store menoleh.

“Untuk Kak Taehyung! Grande Signature Hot Chocolate extra whip cream. Hai, Kak! Boleh minta nomor Whatsapp-nya, tidak?”

Meresponnya, seluruh store meledak dalam tawa terkekeh yang serentak. Beberapa mendapati hal itu sebagai hiburan murni sementara beberapa menatap mereka dengan tatapan setengah menilai dengan jijik lalu bergunjing tentang betapa tidak pantas dan noraknya kelakuan itu.

Hoseok berhenti, nampak kaget saat menyadari kata-kata itu keluar dari mulutnya sebelum menunduk ke cup yang digenggamnya untuk memastikan bahwa dia tidak salah membaca sebelum menoleh ke Jeongguk dengan tatapan tidak percaya.

“Jeongguk...?” Bisiknya tidak habis pikir, dia seperti siap untuk memukul kepala Jeongguk dengan salah satu blender frappuccino dan memblender otaknya sekalian atau menenggelamkannya ke ember pel mereka.

Jeongguk belum sempat membela diri, dia baru membuka mulut untuk minta maaf saat mereka menyadari Taehyung sudah berdiri di depan konter, wajahnya merah dan dia nampak rikuh dengan perhatian seluruh store. Ada beberapa yang bahkan sudah menaikkan kamera, mengarahkannya ke konter untuk merekam kejadian itu dan pasti akan menjadi trending di TikTok dalam beberapa jam.

“Halo.” Kata Taehyung nyaris berbisik. “Itu pesanan saya.”

Hoseok menatap Jeongguk seolah mengatakan “Awas kau setelah ini!” lalu tersenyum lebar dengan bibirnya yang berbentuk hati menggemaskan penuh permintaan maaf pada Taehyung. “Halo, Kak Taehyung. Maaf, ya! Selamat menikmati!”

Taehyung menerima gelas minumannya, mengangguk kecil lalu meraih selembar tisu. Namun alih-alih pergi, dia bertahan di sana hingga Jeongguk dan Hoseok menahan napasnya bersamaan, mengantisipasi hal-hal buruk.

Sejenak, dia nampak kikuk dan berpikir sebelum merogoh sakunya, menarik keluar sebatang pulpen dan menulis sesuatu di atas tisunya. Beberapa orang mulai berbisik-bisik cekikikan dan mereka yang merekam sedang membekap mulut agar tidak tertawa, merusak video mereka.

Jeongguk bisa mendengar seluruh store sedang berbisik-bisik membicarakan mereka. Bahkan pelanggan yang sedang duduk di smoking area pun menoleh ke dalam melalui jendela-jendela raksasa store, mengamati dengan tertarik—khususnya para perempuan.

Dia kemudian menutup pulpennya dan melangkah ke arah kasir dengan minuman di tangan satunya. Dia meremas tisu di tangannya dengan kencang seolah hidupnya bergantung pada selembar tisu itu. Dia merona dan Jeongguk juga menyadari betapa panas wajahnya saat ini karena Hoseok mengucapkan pesannya keras-keras hingga seluruh store tahu.

Keduanya nampak seperti kepiting rebus sekarang, terima kasih banyak kepada Hoseok.

Taehyung berhenti di depan mesin kasir dan Jeongguk tidak yakin apa yang harus dilakukannya. Jantungnya berdebar kacau balau.

“Oh, h-halo, Kak.” Katanya ragu, jantungnya berdebar begitu keras hingga telinganya berdenging. “Ada yang bisa saya bantu?”

Taehyung menatapnya dengan matanya yang berkilauan dan Jeongguk harus menahan dirinya sendiri agar tidak menjatuhkan diri ke lantai, bergelung membentuk bola dan menangis karena Taehyung nampak begitu menggemaskan, seperti anak anjing yang lucu.

Dia mengulurkan tisu yang berada dalam genggaman tangannya pada Jeongguk, berusaha keras mempertahankan wajahnya yang merah tetap mendongak menatap Jeongguk yang sekarang sama malunya. Jeongguk menatap buntalan tisu di tangan Taehyung dan menerimanya.

“Terima kasih.” Kata Taehyung, berbisik lalu mundur dan pergi dari sana. Tidak kuasa menerima semua perhatian dan kamera yang dihadapkan ke arahnya.

Jeongguk menelan ludah, menunduk ke buntalan tisu di telapak tangannya lalu membukanya perlahan, lalu melicinkannya dengan jantung yang terasa menyodok tenggorokannya dengan rasa tegang. Di atas tisu kusut itu, ada serangkaian tulisan tangan yang berantakan.

Sederet nomor dan pesan:

Halo, Mas Jeongguk. Ini nomor Whatsapp saya. Lain kali jika ingin berkenalan, hampiri saja saya ke meja, Mas. Jangan begitu. Soalnya saya malu. – Taehyung.

PS. Saya juga sebenarnya tidak tahu bagaimana caranya berkenalan. Jadi, maaf jika saya kelihatan jutek.

HA! LIHAT ITU!

Jeongguk baru saja memenangkan lotere satu milyar!

*

Apollo #191

Disclaimer: The copyrights for PERKEMAHAN BLASTERAN and all the OCs belong to Rick Riordan and only present as supporting details in this story. Also, I intentionally modified some of the details to suit my story. Ty.

*

Natan duduk di meja Apollo, bersama adik-adik kabin Radit yang duduk di sisinya, menikmati makan malam mereka yang lezat sementara Radit sedang beranjak ke api persembahan, menuang potongan daging terbaik dari piringnya seraya mengatakan, “Untuk Ayah, Apollo.” dengan khidmat. Natan tadi melakukannya atas dasar sopan santun saja walaupun dia tidak tahu kepada dewa siapa dia harus menyerahkan persembahannya.

Tapi dia akhirnya memutuskan, “Untuk Apollo.” saat dagingnya mendesis terbakar dalam api yang berkobar dengan aroma lezat dan asapnya membumbung ke angkasa dan berharap Apollo suka Wagyu well-done.

Ini makan malam kedua Natan di Perkemahan, dan dia mulai memiliki teman-teman baru yang ramah. Para dryad dan naiad menyukainya, mereka selalu meminta Natan datang ke kebun stroberi dan membantu mereka panen. Natan suka membagikan cerita-cerita lucu yang diketahuinya, berusaha keras menejermahkan punch line guyonannya dalam bahasa Inggris dengan baik.

Radit kembali ke meja makan, duduk di sisinya dengan piring makanannya dan menyadari Natan belum menyentuh makanannya. “Kau tidak lapar?” Tanyanya, meraih sendok dan mulai makan dengan khidmat, memindahkan isi piring ke mulutnya dengan gerakan ringkas yang rapi.

Natan menatap makanannya, steik dan sayuran rebus dengan mashed potato di sisinya. “Aku ingin singkong keju.” Keluhnya dan Radit tersedak tawa di sisinya. “Cimol bumbu kacang, kentang bego, Teh Poci, penyetan...” Dia memotong dagingnya, menyuapnya dengan mata menerawang.

Radit menyeka mulutnya, tertawa serak saat meraih gelasnya dan meneguk isinya untuk menenangkan diri sebelum menoleh ke kekasihnya yang sedang makan dengan gaya merajuk berlebihan.

“Nanti kita pulang, akan kubelikan seluruh makanan itu untukmu.” Dia menarik ekor man bun Natan main-main dan kekasihnya mengerucutkan bibirnya menyebalkan, jadi Radit memukul pelan bibirnya dan Natan mendelik jenaka padanya.

“Besok kita akan bertemu Oracle, semoga dia bisa memberitahu kita sedikit tentang masa depanmu.” Radit mengusap rambut Natan lalu membiarkan tangannya meluncur ke pangkuan Natan dan membelai pahanya dengan hangat.

“Dia akan memberiku puisi tentang takdirku dan semacamnya, 'kan?”

“Yep.”

“Aku benci menganalisis puisi.”

“Kelas Poetry-mu dapat apa?”

“C.”

“Menjelaskan segalanya.”

“Begitulah.”

“Jangan lupa, rimanya A-A-B-B.”

“Sial. I'm fucked up, then.”

Radit tertawa, lepas dan ceria. Dia sungguh menyukai selera humor Natan yang sehat dan selalu membuat hatinya jauh lebih ringan. Dia menyubit paha Natan gemas dan membuat kekasihnya yang sedang tertawa bersamanya mengaduh lalu mencoba menarik tangan Radit lepas dari pahanya dengan setengah jengkel dan setengah geli.

“Kau favoritku di dunia ini.” Radit nyengir, menyubit pipi Natan dan kekasihnya mengerang keras, langsung menyambar pipinya—menyubit sama kerasnya hingga keduanya mengaduh.

Beberapa anak di meja sebelah dan teman kabin Radit, menoleh karena suara mereka. Terkekeh kecil melihat pertunjukan kecil itu dan beberapa anak Aphrodite yang memang lemah sekali pada hal-hal semacam itu langsung memberikan ekspresi Aww gemas dan mungkin juga langsung merancang ide dan alur fanfiction tentang Radit-Natan yang panjangnya 20,000 kata.

“Kau juga favoritku di dunia ini.” Balas Natan, tersenyum cemerlang dan Radit merasa hatinya baru saja ditembus panah asmara Eros.

“Habiskan makanmu.”

“Siap, Kapten!”

Radit tersenyum semakin lebar.

Setelah mendengarkan kata-kata bijak dari Pak D (“Yeah, kita sudah makan. Terima kasih para dewa atas makanannya. Sekarang tidur. Jangan berkeliaran dan menyusahkanku. Aku benci pekerjaanku. Selamat malam.”), para demigod mulai membubarkan diri dari Paviliun Makan menuju jejeran Kabin mereka dengan atmosfir yang jauh lebih hangat karena perut mereka kenyang dan mereka akan tidur.

Radit memiliki kasur tambahan di sisi ranjangnya, menempel ke jendela sementara Natan menggunakan ranjangnya. Barang mereka dijadikan satu di lemari Radit sehingga seringkali mereka bertukar pakaian karena salah mengambil dan karena ukuran mereka lumayan mirip (kecuali bahwa Natan menggemari pakaian oversize dan tubuh kurus Radit tidak menolong sama sekali), mereka memutuskan untuk menggunakannya saja.

Mereka berbaring di ranjang setelah membersihkan diri dan kaki. Menghela napas panjang berbarengan sementara Will di ujung ruangan berdiri di dekat pintu, mengecek semua anggota kabin dan meletakkan tangannya di saklar lampu.

“Aku akan mematikan lampunya.” Katanya dalam balutan piyamanya yang menggemaskan dengan matahari-matahari mungil di seluruh permukaannya yang selalu membuat Natan tersenyum kecil dan berpikir, apakah itu hadiah dari Nico?

“Oke, Will.” Sahut beberapa pekemah yang sedang membenahi posisinya di ranjang.

“Yang akan membaca, silakan menggunakan lampu baca dan tolong jangan terlalu terang.” Tambahnya lalu mematikan lampu. “Selamat malam semuanya.”

“Malam, Will.”

Natan berbaring di ranjangnya sementara Radit di sisinya bergerak-gerak sebelum mendesah, menemukan posisi nyaman dan mulai bernapas teratur. Dia melirik ruangan, menyadari satu pekemah sedang duduk bersandar di kepala ranjang dengan lampu baca mungil yang dijepitkan di atas bukunya, satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu selain jendela.

Dia besok akan bertemu Oracle Delphi, akan mendengarkan takdirnya dibacakan dalam bentuk puisi kuno berima yang Natan yakin tidak akan dapat difahaminya hanya dengan satu kali baca.

Apakah Oracle akan mengatakannya dengan gaya Shakespeare? Apakah Natan boleh menyatatnya untuk dianalisis kemudian dengan teori dan Oxford Advance Learner Dictionary seperti yang dilakukannya di kelas Poetry? Atau Natan harus mencari tahu artinya sendiri dan berusaha untuk tidak terbunuh di saat yang bersamaan?

Tadi setelah kembali dari Subway, Radit mengajaknya ke Armory Perkemahan dan diizinkan untuk memilih senjata mana yang terasa mantap di tangannya. Leo Valdez, putra terbaik Hepaestus sendiri (Natan berhenti bernapas menatap pemuda di hadapannya yang nampak sangat hot dengan noda oli di wajahnya, pakaian yang bernoda dan ujung-ujung rambutnya yang gosong dan cengiran lebar jenaka di wajahnya) yang menemaninya.

“Kau punya dasar bela diri?” Tanyanya ramah, seperti pramuniaga toko pakaian yang menawarkan diri untuk membantu pelanggannya menemukan pakaian terbaik yang cocok dengan mereka.

Natan mengangguk. “Taekwondo.” Katanya. “Sabuk hitam.”

Leo bersiul nyaring dan kagum. “Keren.” Pujinya dengan ketulusan yang begitu murni hingga Natan merona karena asing pada pujian lalu meraih sebatang pedang panjang yang berkilauan berwarna perak. “Kau mungkin akan suka pedang? Paling dasar dan umum, tapi dengan tendanganmu mungkin bisa. Ini perunggu langit.” Dia menyerahkan pedang itu.

Natan meraihnya dan terkesirap kaget saat merasakan beban pedang perunggu langit yang nampak sangat ringan saat digenggam Arnold Schwarzenegger ternyata terasa begitu... berat dan mengancam.

“Coba ayunkan, mungkin?” Saran Radit menatap Natan yang nampak kikuk.

Dan itu adalah saran yang buruk karena detik berikutnya, dia dan Leo langsung merunduk seketika itu juga saat bilah tajam pedang perunggu itu nyaris memotong putus kepala mereka akibat gerakan tangan Natan yang kikuk, hampir menjatuhkan pedangnya dalam percobaan untuk mengayunkannya seperti apa yang ditontonnya di film aksi.

“Aku bersyukur refleks demigod baik. Soalnya aku sungguh masih butuh kepalaku.” Kata Leo nyengir dan Natan yang merasa bersalah karena nyaris membunuh keduanya langsung meletakkan pedangnya di atas meja dengan perlahan.

Menjauh darinya seperti menjauhi virus yang menular.

“Kita lihat yang lain.” Katanya mengamati tempat persenjataan seraya bersenandung, seperti sedang melakukan window shopping untuk Natal.

Dia berhenti sejenak di depan jejeran pedang, lalu menoleh pada Natan mengmat-amatinya sejenak seperti seorang desainer kenamaan yang sedang memilih bahan pakaian apa yang cocok untuk kliennya sebelum akhirnya menarik pedang lain yang nampak bahkan jauh lebih berat dari pedang sebelumnya, berwarna gelap-keunguan yang lebih mengancam dan sebuah busur.

“Silakan coba keduanya.” Dia tersenyum lebar, menyerahkannya pada Natan yang menatap Radit, yang sekarang berpindah dari hadapannya ke sisinya karena trauma pada sabetan pedang.

“Mungkin busur dulu? Yang lebih aman.” Tawar Radit menyemangatinya dan Natan mendesah, dia meraih busur di tangan Leo dan menggenggamnya.

Benda itu terasa tepat seperti saat dia menggenggam busur Radit namun tidak... benar. Ada sesuatu di senjata itu yang bergolak, menolaknya dan saat dia mengangkat busurnya dia merasa begitu kikuk dan tidak suka. Benda itu menolaknya, Natan bisa merasakan kekuatannya. Seperti bayi yang merengek ingin kembali ke ibunya karena tidak suka digendong orang asing.

“Kurasa tidak?” Keluhnya, menurunkan busur itu dan mengembalikannya pada Leo yang mengangguk, sigap menerima busurnya dan menyerahkan pedang tadi. “Pedang lainnya...?”

Leo mengedikkan bahu, senyuman jenaka tidak pernah meninggalkan bibirnya. Dia nampak seperti anak yang bakal menjadi badut dalam pertemanan dan juga teman nongkrong yang asik. “Coba saja tidak ada salahnya, 'kan?”

Dia menyerahkan gagang pedang pada Natan yang menatap benda itu skeptis sebelum meraihnya. “Aku akan mundur dalam jarak yang aman sebelum kau mencoba menyabetkannya, oke? No offense!” Tambahnya nyengir, mundur beberapa meter dari Natan.

“It's okay. None taken.” Sahut Natan menatap pedang di tangannya dengan gelisah.

Radit juga diam-diam meniru gerakan Leo dengan melangkah menjauh dari Natan beberapa meter.

Natan menggenggam gagang pedangnya dengan lebih erat dan seketika alisnya naik. Pedang itu terasa benar di tangannya, tidak berat sama sekali. Seringan bulu dan dia juga bisa merasakan kekuatannya berdenyut di telapak tangannya. Dia bisa merasakan bagaimana dia harus menggerakkan pedang itu di tangannya dan dia mendongak.

“Wow. Dia terasa... enak?” Katanya dengan heran, kebingungan dengan bahasa yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat mengenggam pedang itu lalu mengangkatnya dan mencoba menyabetkannya dengan perlahan. Gerakannya terasa kikuk, tapi setidaknya dia tidak mencoba memenggal seseorang.

Leo menatapnya lalu menatap pedang di tangannya. “Excellent choice, Sir.” Katanya sopan ala pramuniaga sungguhan dan Radit terkekeh. “Besi Stygian.” Dia menatap pedang yang sedang diayunkan Natan dengan rileks dan Natan nampak terhibur dengan betapa ringan pedang itu terasa di tangannya.

“Tidak banyak yang bisa menggenggam Stygian. Benda itu ditempa di Dunia Bawah dan didinginkan di sungai Styx.” Dia menatap Radit, serius kali ini. “R, pacarmu bukan anak Hades, 'kan?”

Radit menatapnya. “Bukan.”

Leo menatap Natan yang balas menatapnya, bingung. “Seharusnya hanya Hades sendiri dan anak-anaknya yang bisa menggunakan pedang itu. Tapi, kurasa kau istimewa. Seperti... yah, seperti pemilik Backbitter dulu.” Dia mengendikkan bahunya lalu nyengir.

Natan, sebagai penggila Percy Jackson Series tentu tahu siapa yang dimaksud Leo dan dengan tidak menyebutkan namanya saja membuat kedua demigod di sisinya nampak gelisah dan tidak nyaman sehingga Natan menatap pedangnya dan menelan ludah.

“Apakah itu berarti... aku juga terkutuk?”

“Apa?” Kata Leo seketika, kaget pada arah pikiran Natan dan lekas menggeleng. “Tentu saja tidak!” Dia terkekeh, menggaruk pelipisnya dan melirik Radit, meminta maaf.

“Nico menggunakan benda yang sama, apakah dia terkutuk? Oh, jangan sampai Will dengar itu.” Dia kemudian mengembangkan tangannya dan menatap Natan, mencoba menghiburnya. “Kau hanya harus lebih berhati-hati dengan benda itu. Besi Stygian dianggap berbahaya karena dia bisa melukai fana serta bisa memotong tomat dengan lebih presisi.”

Mau tidak mau, Natan tersenyum.

“Kau bisa mulai belajar menggunakannya besok. Aku akan menyimpannya di sini untukmu karena benda ini tidak bisa berubah menjadi pena seperti milik R atau Percy dan tidak bisa diselipkan di paha seperti belati Annabeth kecuali kau ingin pahamu terpotong.” Leo nyengir. “Kau akan menemukannya di sini, oke?”

Sekarang saat Natan akhirnya berhenti berpikir dan tidak lagi mendapatkan distraksi, pikirannya mulai bekerja. Fakta bahwa tubuhnya memilih besi Stygian sebagai senjatanya membuatnya rikuh.

“R, pacarmu bukan anak Hades, 'kan?” Kata Leo tadi dan itu membuat Natan berpikir.

Apakah dia anak Hades?

Apakah selama ini Natan adalah demigod? Lalu kenapa kehidupannya selama bertahun-tahun begitu nyaman tanpa masalah hingga dia akhirnya bertemu Radit dan Apollo? Jika dia memang demigod, maka itu menjelaskan kenapa dia bisa melihat menembus Kabut, bertemu Moirai dan dikejar-kejar Kampe.

Lalu, siapa kiranya orangtua dewanya?

Hades?

Atau...?

Ketakutan mulai merayapi punggungnya, seperti ratusan laba-laba kecil. Kaki-kaki berbulu mereka menggerayangi kulit Natan dan terasa begitu gatal hingga otaknya secara refleks memberikan sinyal pada tangannya untuk menggaruk punggungnya walaupun rasa gatal itu hanyalah imajinasi Natan.

Dan tangan Radit menangkap tangannya, meremasnya lembut lalu menariknya ke arah wajahnya untuk mendaratkan ciuman ke punggung tangannya.

“A penny for your thoughts?” Tanyanya berbisik, suaranya serak dan berat—Natan menyadari dengan perasaan bersalah bahwa Radit pastilah sudah tertidur tadi sebelum menyadari bahwa Natan masih berbaring di ranjang dengan mata nyalang, overthinking.

“Tidak banyak.” Kata Natan berbisik dan membalas remasan tangannya. “Hanya memikirkan pilihan senjataku yang... unik.” Tandasnya setelah sejenak berpikir.

Dalam gelap, Natan bisa merasakan tatapan Radit di wajahnya. “Sudah kuduga kau akan memikirkannya.” Katanya lalu dia bergerak di ranjangnya, berguling menyamping menatap Natan. “Tidak apa-apa.” Dia berbisik lembut.

“Itu hanya pedang, benda itu tidak mendefinisikan siapa kau sesungguhnya.”

Natan menatap langit-langit kamar mereka yang terbuat dari pualam indah sebelum menolehkan kepalanya, beradu pandang dengan mata Radit yang berkilauan. “Kau dengar kata Leo tadi? Benda itu biasanya hanya digunakan oleh putra Hades atau yang berhubungan dengan Dunia Bawah.”

“Tapi...” Radit nampak kikuk sejenak lalu menambahkan, “Putra Hermes pernah menggunakannya.”

“Kau lupa bahwa dia saat itu dirasuki... kakek buyutmu?” Balas Natan, memilih untuk menghindari menyebutkan nama itu juga mengikuti permainan Radit.

Radit diam sejenak, seolah baru saja teringat fakta penting itu. Namun dia cepat menguasai dirinya dengan menjawab, “Dia Titan dan tidak semua Titan jahat, kau tahu itu, 'kan?” Radit meremas tangannya semakin hangat. “Kebetulan saja kakek buyutku yang pahit dan menyebalkan.”

Natan menatap tangan mereka yang bertautan di atas ranjang, jemari mereka sulit dibedakan karena begitu eratnya kedua tangan itu bertautan. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh Natan, membuat ratusan laba-laba mungil tadi lenyap tergantikan rasa hangat yang membuai Natan hingga mulai mengantuk. Otaknya yang lelah mulai mematikan semua otot dan sarafnya, bersiap untuk beristirahat.

Mengejutkan bagaimana genggaman dan bisikan Radit membuatnya begitu damai dan nyaman. Setengah otaknya menjeritkan anxiety ke seluruh sistemnya, meminta mekanisme pertahanan dirinya untuk melempar kenangan menyakitkan ke otaknya agar dia melindungi diri dari emosi bernama nyaman dan percaya, namun karena dia terlalu mengantuk, mekanisme itu gagal.

Bayangan pahit itu tidak bisa ditayangkan seperti kaset rusak dan Natan menurut pada bagian otaknya yang lelah.

“Tolong, jangan berpikir macam-macam dulu, ya?” Bisik Radit lagi dalam kegelapan. “Kau sudah terlalu banyak menerima informasi dua hari ini. Kita akan bertemu Oracle sebelum memutuskan apa pun. Dan besok kita akan bertemu Chiron juga membawa senjatamu. Mungkin dia tahu sesuatu yang kita tidak tahu. Oke?”

Natan mengangguk walaupun dia ragu, tapi otaknya sudah mulai meredup—tidak ingin berpikir lagi karena rasa nyaman yang menjalar dari ujung-ujung jemarinya. “Baiklah.” Katanya.

“Mau aku nyanyikan nina bobo?”

Natan tersenyum kecil. “Mau.” Bisiknya.

Dan dalam iringan lagu 10,000 Hours yang dinyanyikan dengan suara serak dan berat Radit, Natan jatuh terlelap.

Bisikan Radit yang serak, “Sleep tigtht, Sayang.” adalah hal terakhir yang didengar Natan sebelum dia benar-benar tenggelam dalam lelap yang melumpuhkan.

*

Apollo #190

Disclaimer: The copyrights for PERKEMAHAN BLASTERAN belong to Rick Riordan and only present as supporting details in this story. Also, I intentionally modified some of the details to suit my story. Ty.

*

Natan mendesah berat saat dia menyadari bahwa teman-temannya berusaha menghubunginya namun dia tidak bisa membalasnya. Notifikasi Whatsapp mereka membanjiri ponsel Natan begitu dia menyalakan ponselnya namun dia tidak sempat membalasnya karena Radit menyadari ponselnya dan langsung meminta Natan untuk mematikannya serta menyimpannya kembali ke bagian terdalam tasnya setelah dibungkus kain.

“Kita tidak di Indonesia.” Katanya dengan kacamata hitam bergagang tipis menggantung di hidung bangirnya yang pasti didapatkannya dari Apollo. “Dan pusat Yunani sedang berada di Amerika, kemungkinan sinyal ponselmu menarik perhatian makhluk baik sangat besar.”

Dia melirik sekitar dengan perasaan cemas dan anxious membuat Natan seketika merasa bersalah. Dia mengingatkan diri untuk mengembalikan ponsel itu ke Apollo nanti karena dewa tentu boleh menggenggam ponsel karena mereka, 'kan, yah, dewa.

Jadi Natan kembali ke makan siangnya. Sebenarnya mereka bisa saja makan di Perkemahan namun Radit bersikeras ingin membawa Natan berkeliling karena ini pertama kalinya Natan datang ke Amerika meskipun sebagai pendatang ilegal. Mereka tidak pergi jauh-jauh, hanya ke Subway beberapa blok dari Perkemahan berjalan kaki menikmati matahari musim panas yang menyengat.

Natan memutuskan untuk menggunakan celana pendek dan kaus tanpa lengan untuk menyerap banyak vitamin D yang lebih cenderung menyebabkan kanker kulit daripada tan yang seksi. Namun dia senang dia memutuskan menggunakan pakaian itu karena hawa panas benar-benar menyiksa.

Mereka duduk di salah satu kursi di sisi jendela, penyejuk ruangan meniupkan hawa sejuk ke seluruh ruangan di atas kepala Natan dan dia senang karena saat Radit tadi memilih tempat duduk ini dia langsung mendudukkan diri di seberang kursi sehingga Natan terpaksa duduk di kursi lainnya.

Dan kursi itu yang terbaik karena penyejuk ruangan berada persis di atas kepala Natan.

Gestur kecil yang membuat Natan mendongak, menatap Radit yang sibuk membuka bungkusan makanan mereka dan merasakan hatinya berdesir hangat. Natan asing dengan perasaan itu—perasaan aman aneh yang terasa begitu rapuh seperti kelopak mawar yang akan remuk dalam genggamannya. Dan ketika dia menyadari emosi baru yang asing di hatinya, sistemnya akan segera mengubur emosi itu dalam-dalam.

Mengancamnya dengan kilatan ingatan tentang pandangan orang-orang, gunjingan mereka tentang orangtua Natan, tentang bagaimana ibunya hamil sebelum menikah dan meninggalkan anaknya dengan orangtua suaminya. Tidak bertanggung jawab, Natan anak yang kurang kasih sayang.

Tatapan mereka yang selalu membuat Natan muak; simpati, belas kasihan palsu, cemooh.

Dia benci sekali.

“Pantaslah dia bersikap begitu, dia, 'kan, hanya diurus neneknya.”

“Memang anak-anak yang tidak diurus ibu kandungnya pasti begitu.”

Natan memejamkan mata lalu menghela napas dalam-dalam, menyingkirkan semua bayangan itu ke sudut tergelap kepalanya. Menendangnya hingga jatuh berguling ke kegelapan, berharap mereka lenyap dan tidak kembali.

“Kenapa kita tidak makan di Perkemahan?” Tanyanya, meraih makanannya lagi dan membuka mulut—menjejalkan kombinasi roti, sayuran segar dan daging kalkun yang lezat.

Rasa gurih, segar dan manis daging meledak dalam mulutnya dan dia mendesah seperti manusia yang baru saja makan makanan setelah sekian tahun tidak makan sesuatu. Dia mengunyah dengan bahagia—mengapresiasi setiap ledakan rasa di lidahnya tiap giginya menemukan makanan. Rasa segar-pahit selada di sisi satu, manis roti, gurih daging....

Seperti kembang api yang menakjubkan.

“Ini lezat sekali!” Keluh Natan, mengerang lalu mencoba menjejalkan lebih banyak makanan ke dalam mulutnya. Berusaha menuruti keinginan perutnya yang menuntut lebih banyak makanan lagi; lebih banyak lagi, lebih lagi.

Radit nyengir. “Aku selalu kemari tiap harus ke Perkemahan.” Dia menyuap makanannya dan mengunyah dengan lahap—kunyahan Radit adalah jenis yang membuatmu ingin ikut mengunyah. Tegas, lahap dan besar. Nafsu makan Radit sama sehatnya dengan Natan. “Mereka punya roti isi terbaik di Amerika.”

Natan mengangguk setuju, menjejalkan potongan roti lain ke dalam mulutnya. “Aku boleh pesan lagi tidak?” Tanyanya dengan mulut penuh dan Radit terkekeh.

“Silakan.” Katanya ceria. “Tapi habiskan dulu makananmu.”

Natan mengangguk dengan kedua pipi menggelembung terisi makanan yang terasa seperti popping boba. Meledak-ledak dengan rasa manis-gurih yang seimbang. Radit mengamatinya dengan senyuman lebar di bibirnya dan hati yang hangat.

Dia menumpukan sikunya di meja dan memanggu dagunya, mengamati Natan yang menjejalkan makanan ke mulutnya seperti mesin penghancur. Nampak begitu menggemaskan dengan senyuman lebar dan mata yang berkilau. Dia nyaris kelihatan seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Namun itu juga membuat Radit memutar otak tentang kenapa Natan bisa terlibat sejauh ini dengan dunianya sekarang?

Siapa Natan?

Apollo meyakinkan mereka semua bahwa orangtua Natan manusia biasa dan tidak ada sedikit pun jejak dewata pada mereka namun entah bagaimana Radit tetap merasa ada kejanggalan dalam diri Natan. Dia tidak mungkin seperti Rachel, 'kan?

Rachel tidak menarik perhatian makhluk baik karena aromanya. Dia fana, makhluk baik tidak mengenalinya. Dia sering bergaul dengan Percy dan Annabeth namun makhluk baik nampak tidak tertarik padanya. Seolah dia hanya fana biasa yang kebetulan bisa menembus Kabut dan meh, makhluk baik tidak tertarik.

Sedangkan Natan....

Kampe menghampirinya. Moirai memberitahu visi tentang masa depannya di Perkemahan yang melibatkan Radit (mari berasumsi bahwa itu Radit karena putra Apollo yang dikenal Natan hanya Radit). Menurut Radit itu agak terlalu berlebihan bagi fana biasa yang “kebetulan” bisa melihat menembus Kabut.

Dia istimewa, Radit setuju dengan Apollo dan dalam satu minggu ini mereka harus menemukan alasan keistimewaan itu serta siapa yang mengirim Kampe untuk mengancam Natan.

Pemuda manis, Natan. Pikir Radit saat mengamati Natan menghabiskan makanannya.

Dengan sifatnya yang periang, senyuman lebarnya dan bagaimana dia selalu berhasil membuat satu ruangan tertawa bersamanya, dia adalah matahari mini yang bersinar menyilaukan. Hanya butuh kurang dari delapan jam bagi Natan untuk menjadi orang favorit di Kabin Apollo.

Semua adik-adik Radit menyukainya. Mereka tertawa bersama Natan, makan bersamanya, berlatih bersamanya dan bahkan mengobrol dengannya sebelum tidur dan Natan selalu menikmati perhatian itu. Dia menyukainya.

Dia pergi ke ladang stroberi sore itu saat Radit berlatih dan ketika Radit menghampirinya untuk mandi dan bersiap untuk makan malam, dia sedang membantu dryad memanen stroberi.

Menceritakan guyonan pada mereka, membuat suasana panen jauh lebih bersinar dan stroberi-stroberi panen mereka lebih merah serta ranum dari biasanya karena para dryad stroberi tertawa bergemericing karena Natan.

Radit memutuskan untuk mengamatinya dari jauh selama beberapa saat. Bagaimana Natan berdendang mengikuti permaian seruling para satir dan meliuk di antara pepohonan stroberi dan dryad-dryad mungil yang tertawa. Dia begitu natural, begitu indah dan hangat.

Hati Radit terasa nyaris meledak oleh perasaan sayang yang dirasakannya untuk Natan. Dia memeluk kekasihnya saat mereka melangkah menuju kabin, mendekapnya erat ke dadanya. Natan terkekeh, dibalik suara debar jantung mereka yang seirama. Denyut basah dan kuat jantung Natan membuat Radit tenang.

Suara yang membuat hidup Radit jauh lebih baik. Maka dia bersumpah dia akan menjaga suara debar itu tetap terdengar. Natan tetap hidup, tetap tersenyum padanya dan tetap membagi kasihnya untuk Radit.

“Hei.”

Natan mendongak dari kesibukannya membuka pembungkus Subway keduanya. “Ya?” Tanyanya dengan mata berkilau penasaran dan Radit tidak tahan untuk tidak mengulurkan tangan dan menyentil hidungnya hingga Natan mengeluh kecil.

“Aku mencintaimu.”

Natan berhenti sejenak, lalu tersenyum lebar—begitu menyilaukan hingga Radit merasa hatinya baru saja lebur bersama senyuman itu. “Aku juga mencintaimu.” Sahutnya.

Setelah menghabiskan roti isinya, mereka keluar dari Subway. Kembali ke jalanan yang lumayan hiruk-pikuk dan berjalan di sisi jalan, kembali menuju Perkemahan. Langit Amerika berwarna biru permen dengan awan tipis yang sama sekali tidak membantu untuk menyaring sinar matahari yang menyengat. Di sekitar mereka, orang-orang menggunakan pakaian musim panas mereka yang terlonggar dan tersejuk, kacamata hitam dan topi. Namun tetap saja aroma keringat mereka membuat Natan bergidik.

Ternyata mereka benar tentang aroma tubuh bule Amerika.

“Karena mereka lebih sering makan junk food.” Kata Radit saat Natan mengeluh tentang aroma itu. “Makanan itu merusak tubuhmu dengan cara yang tidak bisa kaubayangkan. Aroma tubuh itu salah satunya.” Lalu dia mengendikkan bahu. “Tapi, apa pun yang berlebihan itu memang tidak baik, 'kan?”

Natan tertawa. “Benar.” Dia mengangguk setuju, menyugar rambutnya yang digerai dan setengah diikat naik membentuk man-bun ikal. Dia melirik matahari yang berkilauan, memikirkan apa yang sedang dilakukan Apollo di atas sana.

“Mendengarkan musik.” Radit mengangguk meyakinkan dan Natan tertawa. “Dia selalu melakukannya. Tidak ada polisi di sana, jadi dia bebas melakukan apa saja semaunya.”

“Kegiatan apa yang kaugemari di Perkemahan?” Tanya Natan saat mereka membelok ke blok selanjutnya.

“Makan.” Sahut Radit dan Natan tertawa lepas. “Aku tidak terlalu suka di Perkemahan, jujur saja.” Desahnya, menyugar rambutnya. Rahangnya yang tajam dan mengagumkan nampak semakin tegas dengan gaya rambut itu.

“Aku tidak suka dengan peraturannya. Aku tidak suka merasa... diingatkan bahwa aku berbeda, mungkin?” Radit mengendikkan bahunya ringan. “Dengan aku berada di Indonesia dengan teman-temanku, dekat dengan keluarga manusiaku; rasanya lebih... normal.

Natan berhenti dan Radit otomatis juga berhenti beberapa meter di depannya. Natan menatapnya melalui kacamata hitamnya dan mendesah panjang hingga Radit mengerutkan kening.

“Kenapa? Perutmu sakit?”

“Kau ini setengah manusia.”

Radit mengerjap. “Yah, secara teknis begitu, sih?” Katanya, menggaruk pelipisnya tidak yakin.

“Setengah manusia!” Erang Natan lagi dan Radit mengernyit kaget. Kemudian kekasihnya menghampirinya, menggelayuti lengannya dengan lengket. “Kau ini setengah manusia, kau dengar aku?”

Radit, masih belum memahami guyonan atau poin yang ingin dikatakan Natan mengerutkan alisnya. “Ya, memang! Lalu kenapa?”

Natan mengerang. “Setengah manusia!” Ulangnya lagi, mulai frustasi karena tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata dan betapa lemot-nya Radit tidak memahaminya. “Dan setengahnya dewata!”

Radit mengerjap. “Oh.” Katanya saat menyadari maksud Natan dan tertawa, mengusap rambut Natan sayang lalu mengecup puncak kepalanya. “Benar juga. Aku belum pernah memikirkannya dengan cara itu.” Dia nyengir lebar dan Natan membalasnya, merangkul bahunya dengan akrab.

“Dan aku milikmu.” Tambahnya ceria, menumpukan kepalanya di atas kepala Natan dan memejamkan mata seraya mereka berjalan berdampingan di atas trotoar yang panas. “Selamanya.”

Natan diam sejenak sebelum meraih tangannya dan menyelipkan jemarinya ke antara jemari Radit lalu menggenggamnya erat. “Selamanya.” Bisiknya.

Mungkin terlalu awal bagi mereka untuk mengucapkan kata 'selamanya' saat masa depan terbentang di hadapan mereka dengan penuh ketidakpastian. Kejaran makhluk baik dan juga bayang-bayang takdir buruk (namun sekian tahun menjadi demigod, Radit sudah paham bahwa menjadi demigod berarti bernasib sial sepanjang hidup dan Percy bisa mengklarifikasi kebenaran itu) yang menghantui mereka.

“Bagaimana menurutmu tentang mengencani blasteran dewa?” Guraunya ceria dengan lengan melingkar di bahu Natan dengan erat. “Kau suka?”

Natan nyengir. “Lebih dari suka jika saja tidak ada sipir tahanan monster yang berusaha membunuhku.”

“Itu bonusnya.” Radit lalu mengaduh saat Natan memukul pelan bagian belakang kepalanya dan dia tertawa. “Baiklah, tantangan.”

“Seolah mendapatkan restu ayah dewamu belum merupakan tantangan saja.” Balas Natan, memutar bola matanya.

“Lho, dia, 'kan, sudah merestuimu??”

Namun setidaknya hari ini, di musim panas normal di Amerika dengan tangan Natan yang lengket oleh saus Subway dan keringat dalam genggaman tangannya, aroma rambut Natan yang manis dan menenangkan memenuhi paru-parunya, Radit memiliki Natan.

Dia tidak peduli apa yang terjadi esok, setidaknya hari ini—saat ini, dia sedang menggenggam Natan dalam pelukannya.

*

Apollo #182

*

Disclaimer: The copyrights for PERKEMAHAN BLASTERAN belong to Rick Riordan and only present as supporting details in this story. Also, I intentionally modified some of the details to suit my story. Ty.

*

Natan menatap kedua lelaki di hadapannya dengan terpana.

Pak Dionysus duduk dengan kemeja Hawaii berwarna cerah andalannya yang sangat bertolak belakang dengan ekspresi yang digunakannya di wajah. Dia memberengut permanen, seperti bayi yang mainannya diambil menatap Apollo yang sedang duduk dengan kaki terbuka lebar dan cengiran superiornya. Sementara Natan duduk diapit Radit dan Chiron di kedua sisinya.

Dia melirik sentaur itu dengan otak berputar: bolehkah dia menyentuh tubuh kudanya? Hanya agar Natan yakin dia tidak sedang bermimpi. Atau hal itu akan membuat Chiron tersinggung?

Dan karena ponsel tidak diperkenankan di Perkemahan, jadi sebelum menuruni Maserati Apollo tadi, Natan meninggalkan ponselnya di laci dasbor setelah Apollo meyakinkannya bahwa Maserati-nya sudah dilengkapi alarm anti-maling dan menilik fakta bahwa mobil itu melayang di angkasa, Natan mungkin bisa percaya bahwa ponselnya akan baik-baik saja.

Padahal Natan ingin mengambil banyak gambar sebagai kenang-kenangan.

“Aku boleh minta atau membeli kaus Perkemahan, tidak? Aku butuh cinderamata.” Bisik Natan saat mereka menuruni bukit menuju rumah utama untuk bertemu Pak D.

Radit terkekeh. “Kau boleh ambil punyaku, nanti aku bisa minta yang baru.” Dia meremas tangan Natan hangat.

“Jadi maksudmu,” Pak D menatap Natan, sama sekali tidak tertarik dan Natan memaklumi kegetirannya karena dihukum mengawasi segerombol anak nakal yang suka membuat kekacauan, Natan juga tentu tidak mengapresiasi itu. “Aku harus menerima bocah fana ini di sini untuk sementara waktu?”

“Dia dikejar-kejar Kampe, Sob.” Tambah Apollo kalem. “Dan dia bertemu Moirai. Diberitahu semacam, 'hei, kau tahu, kau bakal mati. Aku tahu, keren, 'kan?'.”

Alis Dionysus naik sebelah dan sekarang menatap Natan dengan kebencian yang semakin kental, mungkin berpikir Bagus, tambahan anak bermasalah yang dikejar makhluk Tartarus. Keren. Selamat Natal dan Tahun Baru!

“Kau siapa?”

Natan mengerjap, sejenak bengong hingga Radit menyikutnya di rusuk untuk memberitahunya bahwa Dionysus sedang bicara padanya. “Uh, oh, saya?” Tanyanya menunjuk dirinya sendiri.

“Siapa lagi?”

“Oh.” Natan menelan ludah, gugup. Apakah jika dia salah bicara Dionysus akan mengubahnya jadi sulur anggur? Atau membuatnya gila? “Saya Jonathan.” Katanya dengan suara pelan. Tidak yakin apa jawaban dari pertanyaan Dionysus.

“Orangtua dewamu siapa?”

Natan mengerjap. “Tidak ada.”

Alis Dionysus berkerut. “Tidak ada?”

“Tidak ada.”

“Sudah dicek belum?”

Natan mengangguk. “Sudah.”

“Yakin?”

Natan mengerjap. “Yakin.”

Dionysus menatap Apollo. “Kau membawakanku masalah.” Keluhnya dan Apollo tersenyum semakin lebar. “Bagaimana fana dapat melihat menembus Kabut?” Dia keliatan siap mengubah Natan jadi sulur anggur agar tidak menyusahkan.

“Dia fana kedua,” Apollo melambaikan tangan kalem. “Oracle-ku sekarang juga fana. Dan dia tidak menyusahkan siapa-siapa.”

“Memang Orcle-mu datang kemari dikejar-kejar makhluk Tartarus?”

“Ya tidak.”

”'Tuh, paham.”

Natan mengulum bibirnya dan mengigit bagian dalam pipinya—apa saja agar tidak tertawa mengamati interaksi kedua dewa di hadapannya. Dia selalu berpikir dewa pastilah sangat serius, tampan, alis berkerut seperti penderita wasir dan berkharisma.

Siapa sangka ternyata mereka amat... manusiawi.

“Manusia pada dasarnya meniru sifat dewata.” Chiron merendahkan suaranya dan Natan mengerjap, menoleh ke padanya kaget diajak bicara—menyadari dengan rona tipis di wajahnya bahwa dia baru saja menyuarakan pikirannya. “Merefleksikan sifat mereka dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, tidak perlu kaget. Mereka memang begini tapi tetap saja, mereka bisa mengubahmu jadi uap.”

Natan mengerjap dan mengangguk. Bolehkah dia menyentuh surai ekor Chiron? Atau itu hanya akan membuatnya ditendang di wajah?

“Aku akan menampungnya satu minggu. Tidak lebih. Mereka harus membereskan urusan dengan Oracle dan makhluk Tartarus itu dalam tujuh hari, aku tidak akan memberikan kelonggaran.” Dionysus menandaskan Diet Coke di tangannya dalam satu tegukan panjang. “Siapa tau ayah atau ibu dewatanya tiba-tiba ingat mereka punya anak lalu mengklaimnya.”

Apollo mengendikkan bahu. “Aku sudah mengecek kedua orangtuanya. Mereka fana. Sibuk dan kaya raya.” Dia melirik Natan lalu mengedipkan sebelah matanya, menghibur Natan karena pembicaraan tentang orangtuanya.

“Yah, siapa tahu.” Dionysus mengendikkan bahunya, cuek. “Dia akan tinggal di Kabin Hermes?”

“Kabinku.” Apollo menaikkan kacamata hitamnya. “Dengan R. Aku akan mengantarnya ke sana.”

“Tamu istimewa.” Komentar Dionysus kalem dan menatapnya. “Kau mungkin akan terkejut jika suatu hari nanti ada lambang dewa yang melayang di kepalamu, Nak. Semoga bukan Zeus. Aku lelah dengan anak Zeus.”

Langit bergemuruh padahal di luar cuaca sedang cerah dan terik.

Dionysus mendengus. “Dia selalu mendengarnya.” Dia meraih kaleng Diet Coke selanjutnya dan membuka kalengnya, meneguk isinya lalu menyadari jika tamunya belum juga beranjak.

“Kau mau apa lagi?” Dia mendelik pada Natan. “Sana ke kabinmu!”

Natan dan Radit langsung berdiri, nyaris seragam dan Chiron berderap mengantar mereka ke kabin Apollo.

“Aku kembali setelah ini.” Kata Apollo lalu bergegas menyusul keduanya keluar.

“Kau tahu?” Balas Dionysus, memutar kursinya memunggungi Apollo, merajuk seraya meraih kemasan Pop-Tart di sisinya dan mulai mengunyah. “Terserah kau saja.”

Cuaca Perkemahan cerah dan menyenangkan. Aroma ladang stroberi membuat Natan tenang. Dia menghela napas dalam-dalam, menikmati aroma musim panas yang kering. Sangat berbeda dengan udara Indonesia yang cenderung lembab dan berat, udara musim panas di luar negeri jauh lebih kering.

Natan diajak melewati lapangan berlatih menuju jejeran kabin yang membentuk lingkaran setelah Annabeth mendesain ulang dan memberikan kabin-kabin bagi dewa-dewi lain untuk menampung anak-anak mereka sehingga para demigod tidak lagi harus berjejalan di kabin Hermes bertanya-tanya siapa orangtua mereka.

Mereka berhenti di depan kabin Apollo dengan lambang matahari di atas pintunya. Apollo menaikkan kacamatanya dan mendorong pintunya, para demigod yang sedang bersantai di dalam terkesirap saat melihat Apollo.

“Di mana Will?” Tanya Apollo tersenyum lebar dan menyilaukan.

Seseorang melongok dari belakang. “Oh, Ayah!” Serunya, bergegas menghampiri tamu yang berdiri di depan pintu dan Natan menghela napas.

“Dia cakep.” Bisik Natan dalam bahasa Indonesia pada Radit yang sama sekali tidak mengapresiasi komentar itu dari ekpresi wajahnya yang seperti menahan hajat buang air besar. “Kau lebih cakep.” Tambah Natan, nyengir.

“Halo, R!” Sapa Will, senyumannya menular—secerah matahari. Hal yang disadari Natan dari anak-anak Apollo, mereka seperti memiliki aura matahari yang hangat. Ceria, terbuka dan menyenangkan. Entah senyumannya, entah matanya. “Kau bawa pacarmu?”

Radit terkekeh. “Yap. Jonathan.” Dia membiarkan Natan menyambut high-five yang diberikan Will padanya. “Dan dia juga penggemar Percy.”

Will tertawa. “Semua penggemar Percy diterima di sini. Sayangnya dia sedang kuliah dan tidak ada di Perkemahan. Jika kau ingin tanda tangan, kau harus menunggunya kembali.”

Natan menatap tangannya lalu menatap Will yang sedang tersenyum lebar padanya. Apakah dia bermimpi? Pertama dia bertemu dewa Yunani kuno, lalu dia bertemu makhluk Tartarus, lalu memasuki Perkemahan Blasteran, lalu bertemu sentaur, lalu bertemu Dionysus yang sama masamnya seperti yang dibacanya di buku (yang ternyata BUKAN fiksi????) dan sekarang dia baru saja bertukar tos dengan Will Solace.

Will. Solace.

Besok siapa? Dia akan bertemu Hades?

“Oh, oke.” Sahutnya, nyaris linglung. Dia mendongak menatap Radit yang tersenyum lalu merangkulnya akrab.

“Yah, selamat datang di duniaku, Jonathan. Semoga kau betah.” Dia tersenyum lebar lalu mengecup pelipis Natan dengan lembut. “Dan semoga tidak ada makhluk Tartarus sejauh mata memandang.”

Will berhenti, “Apa?” Tanyanya seolah meragukan kewarasannya sendiri lalu mengerjap saat pemahaman melintas di otaknya. “Sebentar.” Dia mengerjap. “Dia bukan demigod?”

“Bukan.” Sahut Apollo, bersedekap. Berdiri di sisi Will, dia nampak jauh lebih muda dan bersinar karena keabadian dewatanya. “Dia fana, sejauh yang kuketahui. Tapi entah bagaimana dia bisa melihat menembus Kabut, bertemu Moirai dan dikejar-kejar Kampe.”

Will bersiul panjang lalu menatap Natan yang ingin menangis. “Bung.” Katanya tidak habis pikir. “Kau pasti menghabiskan seluruh kesialanmu untuk ini. Dan karena kita bicara tentang demigod, jadi sial mungkin adalah nama tengah kami semua.” Dia nyengir, menyemangati Natan.

Natan mencoba menganggap itu sebagai pujian dan semangat, maka dia tersenyum lemah.

“Jadi dia akan di sini selama seminggu sesuai perintah Pak D untuk bertemu Oracle dan membereskan masalahnya. Apollo meminta Jonathan ditempatkan di kabinnya.” Chiron menjelaskan.

“Oh, tentu saja!” Will mengangguk ceria. “Kau bisa tidur di sebelah R, nanti kucarikan matras tambahan. Tenang saja, para harpy akan senang melakukannya.”

“Mungkin kau bisa mengajarinya beberapa hal tentang bertarung.” Apollo menambahkan. “Akan jadi berguna untuknya di masa depan jika seseorang memutuskan mengirim makhluk Tartarus lain untuknya.”

“Ayah.” Keluh Radit dan Will bersamaan, nyaris seperti saudara kembar dan Chiron di sisi mereka mengeluarkan suara tertawa yang terdengar seperti ringkik halus kuda.

Alis Apollo berkerut, tidak suka anak-anaknya melakukan itu. “Apa? Aku tidak salah kok.”

Radit mendesah panjang. “Baiklah. Kurasa kau ingin beristirahat dulu? Sebentar lagi makan siang. Kau bisa pakai ranjangku dulu menunggu Will menyiapkan kasurmu.”

“Baiklah jika begitu.” Chiron tersenyum. “Kapan pun kau siap, kami akan membantumu di sasana berlatih.” Dia menepuk bahu Natan akrab dan meremasnya hangat. “Kau aman di sini, kami semua adalah saudaramu dan kami akan melindungimu.”

Natan menatapnya, entah bagaimana merasa ingin menangis. Hatinya terasa hangat dan benda itu tidak pernah melakukannya selama dia hidup kecuali saat dia pulang untuk merayakan Paskah dan Natal bersama neneknya. Remasan lembut tangan Chiron yang besar, kasar dan kapalan membuatnya rileks—seperti suntikan morfim yang membuatnya tenang.

Tapi juga membuatnya merasa terancam.

“Aku akan meninggalkanmu bersama anak-anakku.” Apollo nyengir. “Aku harus mengurus tagihanmu selama tinggal di sini,” dia mengedip menggoda Natan lalu menurunkan kacamatanya lagi. “Sampai ketemu, Jonathan. Tetaplah hidup!”

Setelah Apollo dan Chiron meninggalkan kabin, Will bergegas pergi untuk mencari kepala harpy meminta tambahan matras untuk Natan. Kasur Radit ada di ujung ruangan, tepat di sisi jendela—posisi yang sangat strategis. Cahaya matahari menari memasuki ruangan saat Radit membimbing Natan ke kasurnya. Dia meletakkan tasnya di lantai dan Natan menirunya.

“Kau oke? Jetlag?” Tanya Radit, mendudukkan dirinya di kasur dan Natan kembali menirunya. Lembutnya kasur, harum seprai yang baru dicuci membuatnya seketika mengantuk.

“Kau?” Tanya Natan, suaranya mulai perlahan redup dan Radit terkekeh.

“Aku sudah tidur di mobil tadi dan aku sudah terbiasa dengan perjalanan seperti ini. Gantilah bajumu lalu silakan beristirahat.” Katanya dan Natan mengangguk, dia meraih ranselnya mengeluarkan pakaian dan membawanya ke kamar mandi.

Dia mengganti bajunya dalam diam. Menatap refleksi wajahnya sendiri di cermin, nampak lelah dan kuyu. Kurang tidur, perjalanan panjang melintasi zona waktu serta informasi baru yang selama ini dianggapnya hanya mitologi baru saja menjadi nyata. Dia memasukkan kedua lengannya ke lengan baju dan meloloskan kepalanya melalui leher baju. Baju baru yang harum membuatnya jauh lebih nyaman dan saat dia keluar, dia menemukan Radit sedang bicara pada adik-adik kabinnya, membelakangi Natan.

“Mohon bantuannya untuk membuat Jonathan merasa nyaman, ya?” Katanya pada adik-adiknya yang mengangguk lalu kemudian diam saat mereka melihat Natan dan Radit menoleh.

“Oh, kau sudah selesai berganti baju.” Kata Radit lalu adik-adik kabinnya bergegas keluar, mengerjakan hal-hal lain selain bersantai di kabin dan Natan sejenak merasa rikuh karena mereka meninggalkan Natan seolah dia berpenyakit namun juga senang mendapatkan sedikit privasi.

Ini tempat yang baru, asing dan membingungkan. Natan tidak yakin bagaimana harus menyikapi segalanya dan setengah hatinya ingin kembali saja ke Indonesia lalu melupakan ini semua—bahkan melupakan fakta bahwa Radit adalah demigod. Dia merasa anxious di tempat ini. Semua orang baik padanya namun dia tetap merasa takut dan rikuh—seolah dia tidak seharusnya berada di sini.

Seolah dia adalah seorang penyusup di acara keluarga seseorang.

Seperti seorang tamu yang tidak diundang.

“Apakah ini baik-baik saja?” Tanya Natan berbisik saat Radit membimbingnya kembali ke ranjangnya. “Aku merasa seperti penyusup.”

“Mereka malu.” Kata Radit tersenyum menenangkan, menepuk-nepuk punggung Natan lembut. “Tidak banyak manusia fana yang datang kemari diantar dewa, apalagi dewa itu ayah mereka. Kau istimewa dan mereka nampaknya agak tertekan dengan fakta itu. Tapi mereka akan bersikap baik padamu, tenang saja. Kami bukan anak-anak Ares, kami lebih beradab.”

Natan tersenyum lemah mendengar lelucon itu. Dia mendudukkan diri di ranjang dan mendesah panjang merasakan empuknya kasur. “Aku hanya... masih bingung.” Katanya perlahan dalam bahasa Indonesia agar tidak ada yang mencuri dengar.

“Maksudku, ini semua sebelumnya hanyalah mitologi. Tidak nyata. Bagian dari fiksi dan kemudian tiba-tiba saja semuanya nyata dan aku terjebak di dalamnya. Rasanya seperti dalam cerita fantasi. Memusingkan.”

Radit merangkulnya. “Tentu saja kau butuh waktu untuk memproses semuanya. Bahwa mereka yang kauanggap fiksi ternyata hidup. Ternyata sungguhan ada.”

“Percy wajahnya tidak seperti Logan Lerman, 'kan?”

Radit tertawa. “Tentu saja tidak. Dia punya aura santai seperti surfer, seseorang yang menghabiskan banyak waktu di lautan. Dan punya gurat wajah yang dewasa karena pengalamannya menjadi mainan kunyah para dewa dan Titan.” Dia tertawa kecil lalu menyerongkan tubuhnya, menatap Natan dan menggenggam kedua bahunya.

“Jika semua ini terlalu sulit bagimu untuk diterima sebagaimana adanya, anggap saja begini.” Dia tersenyum lembut. “Kau sedang memasuki buku fiksi favoritmu dan menjadi pemeran utamanya. Kau harus menyelamatkan dirimu sendiri untuk menyelesaikan permainan. Seperti film Jumanji.

“Tapi bedanya, kau memiliki banyak sekutu yang akan membantumu. Melindungimu karena kau adalah keluarga. Abaikan kata-kata Pak D, dia memang selalu begitu.”

Natan menatap Radit yang tersenyum lebar. “Maukah kau melakukannya? Percaya pada kami? Jadi kau bisa menyelesaikan permainannya dan keluar dari sini?”

Hening sejenak dan Radit mengamati perubahan wajah Natan. Dia merasakan emosi yang dirasakan Natan—bagaimana tiba-tiba hal yang semula dipercaya sebagai fiksi adalah hal nyata yang benar-benar berdenyut hidup dan kau sekarang menjadi bagian di dalamnya.

Dibayangkan tentu akan menyenangkan, namun saat kau terlibat sungguhan di dalamnya dan terancam mati dalam prosesnya—mungkin kesenangan itu harus dikaji ulang. Sama seperti: kematian akan terasa berbeda jika dipikirkan dalam kondisi bahagia, duduk di kursi empuk dengan pakaian nyaman dan perut kenyang.

“Inilah mungkin satu-satunya cara yang bisa kupikirkan untuk melindungimu. Karena aku sendiri tidak sanggup menghadapi makhluk baik sendirian.” Radit menambahkan. “Aku butuh bantuan teman-temanku. Dia kuat, Nat. Apa lagi alasan para Titan menjadikannya sipir tahanan di Tartarus?”

“Baiklah.” Bisik Natan kemudian, walaupun belum sepenuhnya menerima bahwa dia sedang terlibat dalam 'masalah' yang dia sendiri tidak bisa hadapi karena ini berurusan dengan makhluk mitologi yang baru dipercayai Natan setidaknya 48 jam lalu keberadaan dan eksistensinya.

“R?”

“Ya, Sayang?”

“Apakah jika aku tidak bisa melihat menembus Kabut, aku tidak akan mengalami ini semua?”

Radit diam. Mereka bertatapan dalam keheningan yang berat karena mereka berdua tahu jawabannya namun sama-sama takut untuk menerima kenyataannya. Menolak kenyataan yang mereka harus hadapi sekarang. Radit akhirnya merengkuh Natan ke dalam pelukannya, meletakkan dagunya di atas kepala Natan yang menyelipkan wajahnya ke ceruk leher Radit—di mana nadinya berdenyut dan aroma keringatnya yang maskulin menyengat indera penciumannya.

“Maaf.” Bisik Radit lembut di rambut Natan, menghujaninya dengan ciuman-ciuman kecil. “Maaf, maaf.”

Dia menghela napas, “Aku seharusnya tidak mendekatimu. Aku seharusnya tidak jatuh cinta padamu. Aku seharusnya menjauh darimu sehingga kau tidak akan terseret ke dalam masalah ini.” Bisiknya gemetar.

“Jika saja aku tetap di posisiku menjadi kakak tingkat yang tidak pernah bertemu denganmu, membiarkan jalan kita tidak pernah bertemu, kau tidak mungkin di sini.

“Terancam makhluk jahat yang entah dikirim siapa dan harus membiarkan hidupmu dipertaruhkan seperti sebutir telur di ujung tanduk.

“Aku seharusnya tetap menghindarimu. Tetap menjauh dari orbitmu. Membiarkan hidup kita tetap tidak bersinggungan—maka kau sekarang pasti sedang menikmati hidup yang damai bersama teman-temanmu seperti biasa.

“Maafkan aku.” Bisik Radit. “Aku membawamu ke masalah ini.”

Natan ingin sekali menenangkan Radit, ingin sekali mengatakan bahwa ini bukan salahnya sama sekali karena dia tidak punya kuasa atas hal ini. Tidak ada yang salah bahwa bagaimana Natan ternyata dapat melihat menembus Kabut. Tapi hatinya menolak, dia ingin memiliki kambing hitam—seseorang yang bisa disalahkan atas keadaannya sekarang.

Dan Radit baru saja mengorbankan diri untuk mengambil beban itu darinya.

Maka Natan diam. Membiarkan permintaan maaf Radit membuat hatinya yang egois, takut dan kebingungan untuk menenangkan diri—ini bukan salahmu, ini bukan salahmu. Radit yang membuka gerbang itu, Radit yang membuat Natan paham bahwa dia berbeda.

Semua karena Radit.

Tapi, “Aku mencintaimu.” Bisiknya, rapuh seperti sayap kupu-kupu yang halus. Remuk saat digenggam terlalu kuat. Begitu mencintaimu hingga aku takut, hatiku tidak akan sanggup menanggungnya.

Begitulah yang dirasakan Natan. Hidupnya terombang-ambing, dia bisa mati kapan saja. Dikejar makhluk yang dia tidak tahu caranya menghadapi dan dia tidak bisa hadapi sendiri.

Bergantung ke orang lain yang baru dikenalnya untuk bertahan hidup bukanlah perasaan yang sering dirasakan Natan dalam hidupnya. Dia tidak mau mencintai siapa pun lagi selain dirinya sendiri dan neneknya. Cinta membuatnya takut—perasaan itu begitu kuat dan tidak jelas. Tidak bisa Natan genggam dan kendalikan. Bagaimana jika Radit akhirnya bosan lalu meninggalkannya?

Dia tidak mau mengandalkan siapa pun atas hidupnya—semua orang yang diandalkannya pergi. Ibunya, ayahnya. Dia hanya punya neneknya dan dia juga tahu, suatu hari nanti neneknya akan pergi meninggalkannya juga.

Lalu Natan punya siapa untuk diandalkan?

Maka dia belajar dengan keras untuk mengandalkan dirinya sendiri. Tidak mau menerima pertolongan siapa pun. Menutupi takut, sepi dan risaunya akan masa depan yang menakutkan dengan bersikap ceria pada semua orang.

Fake it, until it becomes real.

Begitu Natan selalu mengingatkan dirinya sendiri kapan pun dia merasa takut dan tidak bahagia. Maka dia berpura-pura bahagia, berpura-pura baik-baik saja—berharap suatu hari nanti perasaan bahagia itu menjadi nyata. Memenuhi setiap ceruk dirinya yang kosong dengan perasaan penuh yang damai dan hangat.

Dan sudah dua puluh tahun Natan berusaha, hatinya tidak juga penuh.

“Sayangku,” Radit berbisik di rambutnya. “Aku juga mencintaimu. Dengan sepenuh hatiku. Aku tidak akan membiarkan apa pun menyakitimu, tidak juga dirimu sendiri.

“Bersandarlah padaku saat kau lelah. Aku akan membantumu berlari. Kau tidak harus menghadapinya sendirian, ya?”

Lalu saat Natan meletakkan seluruh hidupnya di tangan Radit dan dia juga pergi seperti ibu dan ayahnya, apa yang tersisa di diri Natan untuk dirinya sendiri? Dia tidak mau merangkak lagi, dia tidak mau tertatih-tatih berusaha bangkit lagi.

Dia tidak mau.

Dan Natan cukup egois untuk itu.

Maka dia mengangguk, berbohong membiarkan Radit memercayai bahwa Natan akan mengandalkannya sementara di dalam hatinya—Natan tidak mau. Dan tidak akan pernah mengandalkan siapa pun selain dirinya sendiri.

Dengan begitu, dia tidak akan ditinggalkan siapa pun. Tidak akan mengalami kehilangan dan kecacatan fungsi saat dia harus kembali belajar percaya. Kembali belajar hidup.

Natan baik-baik saja dengan dirinya sendiri.

Dan Radit tidak perlu tahu itu.

*

Apollo #177

*

Disclaimer: The copyrights for PERKEMAHAN BLASTERAN and its supporting details belong to Rick Riordan and only present as the supporting details to the story. Ty.

*

Natan mendudukan dirinya di kursi pengemudi Maserati Apollo. Dia baru saja menjangkau bagian sisi kursi untuk mengatur posisi kursi saat benda itu mendadak bergerak sendiri dan menyesuaikan kebutuhannya. Kursinya sedikit mundur karena kaki Natan lebih panjang dari Apollo dan dia menatap ke depan.

Kereta Matahari ternyata canggih juga.

“Jadi, Nak.” Kata Apollo di sisinya—aroma dewa itu begitu menakjubkan. Seperti dedaunan segar, matahari terik dan secercah bunga mekar. Aroma yang akan kautemukan saat berlibur ke gunung.

Aroma kebebasan yang nikmat.

“Ini adalah matahari.” Apollo menepuk roda kemudi di hadapan Natan, persis di logo trisula Maserati-nya. “Dikau harus menaikkannya perlahan agar tidak membakar hutan atau perumahan penduduk karena terlalu dekat. Dan tidak juga terlalu tinggi atau dikau akan membuat Indonesia mengalami musim salju.

“Tidak boleh juga terlalu cepat. Kita tidak ingin pukul 11 siang datang tiba-tiba, benar?”

Natan menatap Apollo, wajahnya mulai pucat. “Bagaimana jika aku tidak ma—”

“Tidak.” Tukas Apollo kalem namun tegas. “Dikau sudah duduk di balik kemudi, maka matahari adalah milikmu.”

Matahari adalah milikmu.

We gon easy this time, alright.” Dia lalu melambaikan tangan dengan lembut seperti penari.

Natan berharap dia memasang tanda “AWAS: SEDANG BELAJAR” di bagian kaca depan sehingga Hermes tidak akan menabraknya saat kebetulan berpapasan di langit.

“Ayah, kurasa sebaiknya Ayah saja yang mengemudi.” Kata Radit dari belakang, nampak cemas saat bertemu pandang dengan Natan yang ketakutan lewat kaca spion tengah.

“Tidak apa-apa!” Seru Apollo ceria. “Ini lebih mudah dari mengendarai mobilmu, kok! Ayo, nyalakan mesinnya.”

Natan melirik Radit lagi—ingin muntah. Dia memutar kunci dan menyalakan mesin yang menderum halus, memasukkan perseneling lalu mulai menginjak kopling perlahan dan menarik kemudinya. Ajaibnya, kemudinya tidak hanya diputar sebagaimana mobil lainnya namun juga dapat ditarik sesuai dengan derajat kenaikannya seperti kemudi pesawat terbang.

Dan semakin membuat perut Natan mulas karena dia jelas tidak punya surat izin mengemudikan pesawat sama sekali.

“Baiklah. Hanya beberapa derajat ke Timur, tidak perlu buru-bu—”

Suara ceria Apollo lenyap saat Kereta Matahari melompat dibawah genggaman Natan dan membuat semburat oranye menyeruak di langit dan sebagai efeknya, ayam-ayam, para binatang kecil dengan daya sensor matahari luar biasa itu mulai berkokok bersahut-sahutan. Nampak kaget dan bingung kenapa matahari datang lebih awal hari ini tapi toh mereka melakukan tugasnya tanpa banyak basa-basi.

Radit mengerang. “Ini baru pukul setengah 2 pagi dan matahari sudah hampir terbit!” Erangnya dan seekor ayam berkokok nyaring lagi. “Bisakah kita tidak bermain-main dengan matahari, Ayah??”

Calm and steady, Young Man.” Apollo nyengir walaupun nampak gelisah. “Angkat kakimu dari pedal gas, jangan diinjak terlalu kuat. Kemudi jangan ditarik terlalu kuat. Rileks. Tarik napas. Calm and steady, OK?”

Calm and steady. Ulang Natan di kepalanya yang berdenging karena ketegangan yang meleleh di tubuhnya, mengubah tiap ototnya menjadi agar-agar. Dia sedang mengendarai matahari, dia-lah yang menerbitkan matahari hari itu.

MENGERIKAN!

Bisakah Natan membatalkan perjalanan ini dan kembali bergelung di kasurnya?

Apollo mengulurkan tangan ke roda kemudi, aroma dewatanya bahkan jauh lebih menakjubkan saat rambutnya berada persis di depan wajah Natan. Dia menggenggam tangan Natan di atas kemudi dan mulai mengarahkannya dengan lembut.

Hanya gerakan kecil yang nyaris tidak dirasakan Natan dan Kereta Matahari menaiki langit dengan perlahan. Tenang dan stabil, menarik semburat oranye ke langit malam yang pekat. Perlahan seperti bath bomb yang mencair dalam air hangat.

“Tenang. Tenang.” Apollo nyengir dengan selapis keringat di keningnya (Dewa bisa berkeringat??). “Sekarang dikau hanya perlu menaikkannya perlahan, oke? Jangan tegang. Easy and steady.

Natan duduk tegang di kursinya yang sekarang terasa panas dan menegangkan. Dia menyentuh kemudi dengan lembut, berusaha agar tidak melakukan hal bodoh yang dapat menyebabkan siang lebih cepat, danau atau hutan yang terbakar dan musim salju di daerah tropis.

Apollo mengamatinya selama sepuluh menit dalam ketegangan sebelum menghembuskan napas nyaring dan Radit mengerang keras, menjatuhkan diri ke sandaran kursi dengan lega.

Matahari terbang dengan stabil dan tenang di atas langit. Menerangi dunia di bawahnya dan sesuai dengan waktu yang tertera di jam tangan Radit.

“Baiklah!” Kata Apollo ceria. “Karena dikau sudah handal, saatnya memutar musik. Dikau suka My Chemical Romance atau Green Day?” Apollo menjulurkan torsonya ke audio mobil, mengutak-atiknya seraya bersiul ceria.

Natan bahkan tidak berani meliriknya. Dia tidak pernah mengemudi dengan seserius ini. Bahkan ketika mengemudikan mobilnya sendiri di jalanan. Tapi, cara mengemudinya dengan Honda Civic-nya jelas tidak akan membuat danau kering, musim salju atau kebakaran hutan. Dia menatap lurus ke depan, mencoba berkonsentrasi pada kemudinya.

“Dikau tegang sekali, Nak.” Kata Apollo lalu menjulurkan tangan dan memijit satu tombol dan membuat lampu merah berkedip terang. “Nah. Sekarang Kereta Matahari dalam mode auto-pilot, dikau bisa meregangkan punggungmu sedikit.”

Natan menatap kemudi yang bergerak halus sendiri, tahu kemana harus bergerak dan seberapa cepat. Jadi dia menurunkan tangannya perlahan dan menelan ludah.

“Kau mau snack bar?” Tanya Radit dari belakang, terdengar cemas. “Kau nampak seperti penderita sembelit.”

Natan berdeham dan menggeleng. “Aku belum lapar.” Cicitnya tegang, kedua tangannya di letakkan di pangkuannya—bersiaga untuk menyambar kemudi jika terjadi sesuatu.

Perjalanan menggunakan Kereta Matahari terbukti jauh lebih nyaman dari penerbangan sipil. Dengan Apollo bersandar santai di kursinya mendengarkan Kill the DJ dari Green Day keras-keras dan Natan yang duduk di balik kemudi seperti tahanan, mereka tiba di Amerika saat matahari tenggelam di bagian sisi Bumi lain, yang berarti pagi di Amerika.

“Baik. Sekarang pendaratan.” Katanya nyengir, menurunkan kaki dari bagian kaca depan convertible-nya dan bersiap. “Dikau bisa menerbangkan pesawat?”

TENTU SAJA TIDAK!! Natan ingin menjerit pada Apollo tapi karena ketegangan di seluruh ototnya, alih-alih dia hanya mengerang keras. Pantat dan seluruh tubuhnya kesemutan karena dia nyaris tidak meregangkan tubuh selama perjalanan.

“Gampang. Tinggal lakukan sebagaimana dikau memarkir mobil tapi jangan sampai terlalu cepat.” Apollo menatapnya dari balik kacamata Rayban-nya yang mengilat.

Natan mengangguk, menyebut nama Tuhan dan mulai menurunkan Maserati-nya. Mereka menuruni lapisan awan dan Natan mulai melihat lembah damai yang ceria dengan ladang stroberi ranum yang penuh dengan para satir—manusia setengah kambing dan dryad—peri tumbuhan yang bekerja memanen stroberi.

Natan menelan ludah. Dia sungguh ada di Perkemahan Blasteran yang dipikirnya hanya imajinasi??

Seseorang harus menampar Natan hanya agar dia yakin dia tidak sedang bermimpi.

“Kau bisa melihat mereka semua?” Tanya Radit dari belakangnya.

Dia mengangguk perlahan. Dia bisa melihat gerbang Perkemahan dengan pohon Thalia raksasa dan Bulu Domba Emas berkilau di salah satu dahannya dengan Peleus berbaring lelap di bawahnya, mendenguskan api seraya mendengkur.

Dia melihat jejeran kabin-kabin Perkemahan yang membentuk setengah lingkaran. Rumah utama tempat Pak D dan Chiron tinggal, bahkan ruangan tempat Oracle menunggu tiap pahlawan untuk mengintip nasib mereka—yang tidak pernah baik dan positif.

Apakah itu berarti hal baik?

“Sudah kubilang dia ini spesial.” Apollo menepuk bahu Natan akrab dan Natan nyaris terantuk roda kemudi.

Mereka mendarat dengan mulus di depan gerbang Perkemahan. Apollo menjentikkan auto-pilot dan Kereta Matahari menderum halus, mulai beranjak naik dan melesat ke langit.

“Dia akan baik-baik saja.” Apollo mengangkat kacamatanya dan mengedip genit pada Natan. “Sementara itu, kita punya urusan dengan Oracle Delphi.”

Radit berdiri di sisi Natan dengan ransel tersandang di bahunya. “Kau siap?” Bisiknya lembut ke Natan yang mengenggam tali tasnya dengan kuat.

“Dikau pasti bisa memasukinya.” Apollo beranjak, memimpin mereka menuju gerbang dan menyapa Peleus dengan ramah.

Radit menatap kekasihnya. “Kau bisa?” Tanyanya, telapak tangannya menyentuh punggung Natan dan membuatnya terasa hangat. “Jika kau tidak bisa menembusnya tidak apa-apa, kita akan pulang.”

Natan mendongak, menatapnya skeptis nyaris ketakutan hingga Radit terenyuh. Dia meraih tangan Natan dan meremasnya lembut.

“Kau akan baik-baik saja.” Bisiknya menatap Natan hangat. “Di sana jauh lebih aman karena makhluk baik tidak bisa menembus perlindungan Bulu Domba Emas. Kampê tidak akan menemukanmu.”

Mendengar nama Kampê, Natan merinding dan ingin menangis. Dia menatap ke depan, Apollo sedang berdiri di dekat Peleus yang mengendusnya dan menepuk-nepuk hidungnya. Peleus mendengkur, nampak menyukai belaian itu.

“Anak Baik.” Katanya nyengir. “Dikau melakukan tugasmu dengan baik.”

“Ayah di sini, bersama kita.” Tambah Radit, mengeratkan genggaman tangannya.

Natan menghela napas dalam-dalam dengan mata terpejam lalu mengangguk. “Baiklah.” Katanya dengan suara yang agak gemetar. “Ayo kita masuk.”

Radit tersenyum, menolak melepaskan genggaman tangannya saat dia melangkah bersama Natan menaiki bukit menuju Apollo yang berdiri bersama Peleus di bawah pohon Thalia—memasuki Perkemahan Blasteran.

*

Apollo #175

*

Disclaimer: Whichever part of Percy Jackson Series you may find in the story are not mine. The copyrights belong to Rick Riordan and only present as the supporting details to the story. Ty.

*

Tangan itu mengguncang tubuh Natan dengan lembut—menyentuh lengannya dan mencoba menarik Natan naik dari kedalaman palung lelap yang sejak tadi menenggelamkannya.

”... Natan? Sayang? Ayo, bangun.”

Natan mengerang panjang dan malas, menggeliat di kasur memeluk bantal gulinya lalu kembali tenggelam dalam tidur lelap yang menyenangkan.

Namun tangan itu tidak mau berhenti. Natan mengerang saat tubuhnya kembali diguncangkan dengan lembut, membangunkannya. Memaksa kesadaran kembali dan otaknya terbangun.

Natan jengkel.

Dia mendesis dan menapik tangan itu sebelum berbalik, mencoba kembali lelap.

Terdengar suara desah panjang. “Kau harus bangun, Natan. Jika kita ingin naik Kereta Matahari maka kita harus bangun sebelum subuh.”

Mata Natan terbuka: Kereta Matahari??

Dia langsung duduk di kasur dan mengumpat saat darah turun dari kepalanya. Otaknya yang malang menyalakan seluruh tombol aktif pada tubuhnya dengan panik hingga seluruh organ, saraf dan ototnya mengerang keras—nyeri.

“Maafkan aku.” Radit duduk di ujung kasur, sudah mengenakan pakaian lengkap dengan tas ransel siap di sudut kamar. Dia juga telah menyiapkan tas Natan. “Kita bisa tidur lagi di Perkemahan nanti. Ayo, bersiaplah.”

Dan Natan sedang berpikir dia harus melakukan apa terlebih dahulu saat tiba-tiba saja, pintu kamar Radit menjeblak terbuka dengan suara keras dan seorang supermodel kelas dunia memasuki ruangan.

Dewa Apollo selalu memiliki cara dramatisnya sendiri untuk memasuki ruangan. Jika mungkin dia pasti sudah menambahkan serbuk keemasan, burung dara dan kelopak mawar. Namun, syukurlah dia memutuskan untuk tidak bersikap extra hari ini.

Dia mengenakan kemeja longgar Zara bercorak yang manis berwarna tanah, celana jins Levis pudar yang membalut kaki jenjangnya dengan sempurna, rambut keemasan gondrongnya yang diikat membentuk man-bun menggemaskan dan kacamata menggantung di kerah kemejanya.

He's the hottest god alive.

“Halo, Anak-anak. Ayo, bergegas! Jadwal matahari itu ketat dan aku tidak ingin terlambat.” Dia menatap Radit yang mendesah panjang, nampak pening dengan kelakuan ayahnya lalu menoleh ke Natan dan tersenyum manis.

“Ah. Selamat pagi, Jonathan?”

Natan mengerjap. Dia sedang bersila di atas ranjang Radit dengan celana bokser dan kaus singlet lusuh setelah semalaman memeluk Radit hingga lelap dan berhadapan dengan Dewa Apollo yang selera fasionnya menyilaukan nampak seperti baru saja keluar dari peragaan busana.

“Anu, selamat pagi, Om.” Sahut Natan kikuk, merona hingga ke batas rambutnya. “Aku kesiangan. Boleh minta waktu untuk sikat gigi?”

Dan tanpa menunggu jawaban, dia melompat lalu berlari keluar kamar menuju kamar mandi di ujung lorong kamar Arjuna dan Dirga yang tertutup rapat dengan suara gedebak-gedebuk nyaring.

“Hati-hati, Sayang! Kita tidak punya cukup waktu untuk kepala bocor dan UGD!” Seru Apollo dari kamar.

Natan melirik jam dan dia menyadari ini pukul satu pagi. Diam-diam mengutuk Radit kenapa tidak memberikannya informasi bahwa Kereta Matahari berarti mereka harus bangun pagi mengejar terbitnya matahari.

Natan membasuh wajahnya, menyikat giginya dengan terburu-buru dan baru menyadari bahwa dia menggunakan sikat gigi Radit setelah meludahkan busa pasta gigi ke lantai. Mengerang, dia bergegas berkumur-kumur. Tidak ada waktu untuk mengurus itu sekarang.

Matahari sedang menunggunya untuk terbit—secara harfiah dan fakta itu membuatnya mulas.

Dia mengelap wajahnya dan rambutnya yang separo basah lalu bergegas berlari ke kamar Radit dan melihat Apollo sedang bersandar di jendela Radit dan berbicara serius dengan anaknya.

Saat mereka berdiri berhadapan, Radit nampak jauh lebih dewasa lebih karena Apollo memilih wujud 17 tahunnya tiap kali memunculkan diri sebagai manusia. Menurut Radit, jika manusia fana dan bahkan demigod melihat wujud dewatanya, mereka akan menguap karena tidak kuasa menahan kekuatannya.

“Tidak jauh beda kurasa.” Kata Radit saat Natan bertanya apakah wujud dewata Apollo menyerupai wujud fananya.

Apollo menoleh ke arahnya, melambai ramah dengan senyuman lebar di bibirnya sementara Natan bergegas menyambar celana jinsnya dan kemeja.

Dia benci karena harus bepergian tanpa sempat berdandan apalagi ketika dia akan pergi ke tempat yang mengisi posisi #1 di Daftar Destinasi Bulan Madu Terbaik versi Jonathan.

Tapi mau bagaimana lagi. Dia menyambar ikat rambut dan menguncir rambutnya yang setengah basah lalu berdiri merapikan pakaiannya. Menyemprotkan banyak parfum ke ketiaknya—berharap para satir dan dryad tidak punya penciuman yang tajam dan anak-anak Kabin Apollo tidak keberatan dengan sedikit bau badan.

“Siap.” Natan berdiri, menyambar waist bag-nya yang selalu terisi dompet, kunci mobil dan ponselnya.

“Ayo.” Katanya kering, berdebar karena dia akan menunggangi Kereta Paling Keren Se-Dunia.

“Oh. Kau sudah?” Tanya Radit, dia menegakkan tubuh dan merapikan pakaiannya. Meraih tali tas ranselnya dengan tangan kanan, menyampirkan benda itu ke bahunya sebelum meraih tas Natan dengan tangannya yang bebas dan menyerahkannya ke Natan yang menerimanya dengan penuh syukur.

“Baiklah. Ayo, berangkat.” Apollo memimpin mereka keluar ruangan.

“Kenapa Arjuna dan Dirga tidak bangun?” Tanya Natan melirik dua pintu yang tertutup—dia yakin dia begitu berisik saat tadi mempersiapkan diri dan belum lagi benturan pintu yang dibuka Apollo.

“Hanya sedikit kekuatan dewata yang membuat tidur mereka sedikit lebih lelap malam ini.” Apollo melambaikan tangan dengan santai dan merogoh sakunya.

“Dikau benar, R.” Keluhnya saat mendorong pintu depan terbuka dan Radit mempersilakan Natan keluar sebelum mengunci pintunya.

“Biasanya memang begitu.” Sahut Radit mengunci pintu kontrakan dengan suara klik ganda yang nyaring. “Sekarang karena apa?”

Apollo bersungut-sungut dengan hidung agungnya mengerut jijik. “Tempat ini bau sekali.” Keluhnya. “Dikau memilih tinggal di tempat sampah sungguhan.”

Radit tertawa. “Sudah kubilang. Tempat ini melindungiku.” Katanya lalu menoleh pada kekasihnya yang membeku di sisinya. “Sayang?” Tanyanya cemas karena wajah Natan berubah pias dan tegang.

Natan menatap kendaraan di depannya dengan ragu, jantungnya berdebar begitu kencang hingga telinga dan rusuknya sakit. “Ini... Kereta Matahari?” Bisiknya.

Di luar suasana begitu damai dan tenang. Hanya ada satu-dua kendaraan yang melintas di jalan besar dan sisanya hanya terdengar derik jangkrik, kucing liar yang bertengkar heboh dan desau angin malam yang menyusup ke celah-celah angin.

Kedamaian yang nyaris mencekam. Namun di halaman kontrakan dan menutup seluruh akses jalan kampung ke jalan besar, terparkir Maserati GranCabrio convertible warna gelap yang mengilat. Lambang trisula Maserati berkilau di bawah cahaya lampu murahan kontrakan.

“Oh. Ini.” Kata Apollo kalem seolah mobil mewah bukanlah hal yang mengesankan sama sekali. “Biasanya aku menggunakan Aventador tapi karena hari ini akan ada kalian berdua jadi aku menggantinya dengan convertible ini. Supaya kalian nyaman.

Let's go, hop in!” Kata Apollo ceria. “Kita harus segera terbit.” Dia melirik Rolex emas di pergelangan tangannya. Lalu menyadari sesuatu saat Radit melempar tasnya ke bagian belakang mobil.

“Ah. Jonathan?” Panggilnya lembut, nyaris mendayu-dayu pada Natan yang sedang mengamati mobil di hadapannya dengan tatapan berbinar.

Otaknya hanya bisa memikirkan “NAIK KERETA MATAHARI WIIIIIIIIII!!!!!” saat dia mengerjap, mencoba memahami apa yang dikatakan Apollo.

“Ya?” Tanyanya dengan nada melongo.

Apollo nyengir—jenis cengiran playboy kelas kakap yang akan membuat siapa saja meleleh dan mendengking menyedihkan di kakinya. “Dikau sudah memiliki SIM?” Tanyanya.

Radit, yang sudah duduk dengan nyaman di belakang dengan satu earphone menyumpal telinganya mendesah. “Ayah, tidak.”

Ayahnya menoleh, jengkel. “Bukankah itu semua keputusan Jonathan?” Dia mendelik pada Radit.

“Ayah yang bilang jadwal kita ketat?” Ulang Radit sebal.

“Diam sebelum kuubah dikau jadi pohon laurel.” Katanya lalu menoleh lagi pada Natan yang mengerjap, masih berusaha memproses kenyataan bahwa dia akan mengendarai Kereta Matahari terbang ke Amerika secara ilegal tanpa visa dan paspor.

Tidak yakin mana yang lebih menegangkan dan menakutkan.

Mungkin ke Amerika tanpa paspor dan visa.

Tapi sekarang, senyuman lebar Apollo dan matanya yang berkobar seperti badai matahari nampak lebih menyeramkan daripada potensi masuk penjara sebagai turis ilegal.

“Jadi, Jonathan,” katanya seolah sedang menyanyikan pujian untuk para dewa—begitu merdu, memabukkan, semanis madu yang menetes.

“Apakah dikau tertarik mencoba mengendarai Kereta Matahari?”

*