Apollo #204
Disclaimer: The copyrights for PERKEMAHAN BLASTERAN and all the OCs belong to Rick Riordan and only present as supporting details in this story. Also, I intentionally modified some of the details to suit my story. Ty.
*
“Sayang, dryad tidak bisa meninggalkan pohonnya.” Kata Radit dengan suara pelan.
“Mereka tidak bisa berjalan-jalan bebas tanpa pohon mereka. Hidup mereka terikat pada pohon mereka. Jadi jika temanmu mengatakan bahwa seseorang menginjak pohonnya, maka dia sepatutnya sudah mati. Apalagi berjalan dari ladang stroberi ke kabin pekemah. Tidak mungkin.”
Natan mengerjap, menatap Radit dengan tatapan terpana dan rasa terkejut yang menguasai seluruh dirinya. Dia baru saja menjelaskan kisah bagaimana dia bisa bangkit meninggalkan ranjang dan melewati perbatasan Perkemahan selain karena dia tidak tahu bahwa setelah menuruni bukit tempat pohon Thalia dan Peleus, dia sudah berada di luar Perkemahan dan makhluk baik bisa mencium aromanya.
Lalu, siapa yang...? “Lalu siapa yang semalam menghampiriku? Dia nampak persis seperti dryad!” Protesnya, merasa berat oleh perasaan bersalah karena membuat seluruh pekemah bersiaga di perbatasan menunggu serangan susulan.
Chiron mondar-mandir, sepatu kudanya berkelotakan di lantai saat dia berpikir. “Aku yakin pengirim Kampe yang menyamar sebagai dryad dan berusaha untuk menarikmu keluar dari Perkemahan. Dia tahu kau sangat akrab dengan para dryad dan satir, maka dia memilih bentuk itu untuk mewujud di hadapanmu.”
“Dengan kata lain,” Chiron menatap Natan, memasang ekspresi yang terdiri atas campuran rasa kesal dan maklum yang aneh. “Dia yang menghampirimu semalam mungkin saja seorang dewa.”
Dia kemudian berdeham, kikuk lalu berbisik. “Dan jika Zeus baru saja mengklaimmu, kurasa kita semua tahu siapa yang cukup licik melakukan ini.” Dia menatap Radit penuh makna dan pemuda itu berdecak keras dengan jengkel.
”'Murkanya langit.'” Bisik Natan, mengerjap. “Maksudmu, Hera, 'kan?”
“Jangan sebut namanya.” Radit bergegas memperingatkannya dan Natan menutup mulutnya. “Dia selalu membenci anak-anak Zeus. Aku tidak akan kaget lagi jika memang dialah dalang dari semua huru-hara ini. Dia memang selalu begitu—dengan Herakles, dengan Percy. Menyebalkan.”
“Tetap saja.” Chiron memijat pelipisnya. “Mengirim makhluk Tartarus untuk anak yang bahkan tidak paham jati dirinya siapa sangat keterlaluan.” Dia menatap Natan yang gemetar dengan penuh kasih. “Jonathan tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Jika saja dia tidak bertemu R, apakah dia akan selamat?”
“Namun yang membuatku penasaran,” dia menatap Natan. “Bagaimana bisa kau hidup di luar sana dengan begitu banyak makhluk baik yang berkeliaran tanpa tersentuh sedikit pun? Bagaimana caranya Zeus menyembunyikanmu?”
Natan menggeleng, sungguh tidak paham apa yang sedang terjadi padanya.
Sedetik dia adalah Jonathan, manusia biasa yang kebetulan bisa melihat menembus Kabut dan detik berikutnya dia adalah Jonathan putra Zeus, salah satu dari beberapa demigod paling kuat di kelasnya. Demigod yang seharusnya tidak pernah hidup lagi setelah perjanjian para Tiga Dewa Besar untuk tidak memiliki anak setelah Perang Dunia Kedua.
Mereka bertiga terdiam, memikirkan kemungkinan-kemungkinan dengan resah sementara di luar sana semua pekemah sedang sibuk mempersiapkan diri menghadapi serangan susulan dari Kampe and the gang. Konselor-konselor meneriakkan perintah dengan suara kelotak alat-alat perang yang dipindah, dibawa dari gudang senjata.
“Halo!”
Mereka semua terkejut saat suara ceria itu memecah keheningan mereka.
Radit bahkan terjengkang di tempatnya karena seseorang memasuki ruangan Natan tanpa suara dan langsung menyapa mereka semua ramah. Dan saat ketiganya menoleh ke pintu, mereka menemukan dewa yang mewujud dengan setelan perak yang berkilauan. Ada dua ekor ular hijau kecil yang menyembul dari saku depan jasnya, mendesis-desis dan mengerling Natan dengan tertarik.
Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan perkamen yang digulung dengan rapi. “Ada pesan untuk Jonathan.” Katanya kemudian, mengulurkan benda itu ke Natan yang menatapnya terpana.
Mereka semua diam. Tangan pembawa pesan itu menggantung di udara dengans surat yang tidak kunjung jua diambil.
Hermes mulai jengkel dan dia berdecak keras. “Ambil suratnya, Nak. Aku sibuk.”
“Lihat anak-anak zaman sekarang, George.” Kata satu ular di sakunya dan memutar bola matanya jengkel. Ular di sisinya mengangguk. “Tidak punya sopan santun.” Tambahnya setuju.
“Tidak bilang halo.” Kata ular satunya lagi.
“Tidak membalas salam.” Ular lainnya mengangguk setuju.
“Tidak sopan.”
“Ya. Tidak sopan.”
“Diam.” Keluh Hermes, menyurukkan kedua kepala ular itu ke dalam sakunya. Keduanya menjerit marah. “Harusnya kalian kusetel di mode getar saja tadi.” Tambahnya bergumam praktis ke dirinya sendiri sebelum mendongak pada kliennya.
“Ayahmu mengundangmu ke Olympus. Untuk makan malam.” Hermes memutar bola matanya seolah ide itu adalah hal yang sangat konyol, sebuah lelucon abad ini dari Zeus. “Berdoalah ibu tirimu tidak melempar alat makan ke wajahmu.”
“Eh, Hermes?” Kata Chiron dengan sopan ke dewa yang berdiri di sisinya. “Kurasa hal-hal semacam itu sebaiknya tidak diceritakan kepada Jonathan.”
“Setidaknya dia tahu apa yang akan dihadapinya.” Hermes mengedikkan bahunya dengan ringan lalu karena surat di tangannya tidak juga diambil, dia melangkah maju ke arah Natan yang berjengit menjauhinya karena takut.
Lalu meringis saat luka di dadanya tertarik oleh gerakan itu. Radit bergegas merangkulnya, membelai lengan atasnya berharap gerakan itu bisa mengurangi rasa sakit Natan yang sekarang menyentuh ringan balutan perbannya dan meringis.
“Datang saja ke Olympus. Lihat apa yang Zeus ingin katakan padamu.” Hermes kemudian tersenyum, menyunggingkan senyuman menarik yang ramah. “Mungkin akan jadi awal yang baik atau malah buruk entahlah.” Secepat kemunculannya, senyuman Hermes lenyap.
Dua ekor ular di sakunya kembali menyembul.
“Bilang halo.” Kata ular satunya, mendelik pada Natan yang mengerjap.
“Halo.” Sahut Natan seketika itu juga walaupun separo hatinya merasa bingung kenapa dia harus menyapa dua ekor ular hijau mungil di saku Hermes.
“Halo, George.” Koreksi ular itu, jengkel.
“Halo, George.” Ulang Natan dengan patuh dan ular itu nampak senang, dia mendengus dan mengangkat kepalanya beberapa senti ke atas.
“Dan Martha.” Protes ular satunya, iri.
“Dan Martha. Halo.” Natan mengangguk.
“Aku suka dia.” Kata George kemudian, mengangguk-angguk puas. “Penurut. Tidak seperti semua anak-anak Zeus yang lainnya.”
“Congkak.” Sahut Martha setuju. “Selalu berkepala besar dan tidak mau menyapa ular. Untuk apa mereka menyapa Caduceus? Kami, 'kan, hanya bertugas menyatat surel yang masuk.”
“Tidak penting.”
“Tidak penting.”
“Diam.” Hermes mendesah keras, kembali menyusupkan kedua ular itu ke dalam sakunya lalu mengancingkannya dengan rapat.
Dia kemudian kembali mendongak, fokus pada Natan yang menatapnya kebingungan. “Jadi, Jonathan.” Katanya mundur kembali ke pintu masuk. “Baca saja suratnya dan datanglah ke Olympus. Aku harus bergegas. Dan jangan lupa mengenakan... entahlah, mantel Anti-Kemarahan Ibu Tiri mungkin? Semoga beruntung!”
Lalu dia lenyap.
“Kau tidak bisa muncul mengatakan 'hei, coba tebak! Ibu tirimu benci sekali padamu!' dan 'semoga beruntung!' lalu lenyap begitu saja.” Radit menggerutu sebal begitu Hermes tidak lagi nampak dalam pandangan mereka.
Chiron menatap gulungan perkamen di pangkuan Natan dan menatap pemuda yang sekarang masih merasa disorientasi. “Bukalah, Nak. Lihat apa yang Zeus inginkan darimu.” Dia mengangguk, memberi semangat pada Natan.
Natan menatap Chiron lalu Radit lalu menunduk ke perkamen di pangkuannya. Benda itu terasa berat dan panas. Dia mengulurkan tangan, sejenak ragu-ragu—takut benda itu akan melukai tangannya sebelum akhirnya meraihnya. Dia mengenggam perkamen itu dalam tangannya, menghela napas dalam-dalam lalu membuka gulungannya.
Hanya tiga kata, jelas Zeus tidak suka basa-basi dilakukan melalui surat karena potensi Hermes akan membacanya diam-diam saat mengantarnya lalu dia akan jadi bahan bualan karena bersikap melodramatis pada anaknya.
Pulanglah ke Olympus.—Z.
*
Natan memasuki lobi Empire State Building dengan perasaan campur-aduk. Dia merasa tegang, seperti saat dia pertama kali ditemani neneknya mencari SIM A untuk mengendarai mobilnya seperti yang diinginkan ayahnya. Dia berjalan diapit Radit dan Chiron yang entah nampak seperti siapa di balik kacamata fana, mungkin lelaki tinggi besar seperti Hagrid. Kehadiran kedua orang itu membuatnya sedikit lebih tenang.
Ini pertama kalinya Natan berwisata ke gedung pencakar langit itu namun dia tidak memiliki waktu untuk berwisata, berkeliling untuk mengagumi tempat itu karena Raja Para Dewa menunggunya untuk makan malam. Mereka berhenti di depan lift dan memijit tombol segitiga naik dan menunggu.
Saat pintu terbuka, mereka disambut oleh penjaga lift yang menatap mereka. “Lantai berapa?” Tanyanya ramah.
Chiron menatapnya. “Lantai 600.” Katanya tenang sementara pintu lift menutup dengan perlahan.
Penjaga itu tertawa ceria. “Tidak ada lantai 600 di sini, Pak.” Katanya nyaris seperti hafalan yang sudah bertahun-tahun dikatakannya pada semua orang. “Mungkin Anda salah gedung.”
Radit meraih perkamen dari Zeus di tangan Natan dan membuka benda itu di depan wajah penjaganya, membiarkannya membaca isi surat itu dan melihat siapa yang menandatanganinya. “Kami butuh bertemu Zeus.”
Penjaga itu menatap surat di tangan Radit dan berdecak. “Bagaimana aku tahu kalian tidak memalsukan benda itu hanya agar aku mengizinkan kalian naik?” Dia bersedekap, menatap ketiga orang itu dengan jengkel.
“Wah. Bagaimana, ya?” Tanya Radit kemudian, menurunkan perkamen itu dari wajah penjaga lift Olympus. “Kau tentunya tidak ingin dua orang demigod yang salah satunya adalah putra Zeus dan satu sentaur senior nongkrong di lobi Empire State Building, 'kan? Bayangkan seberapa banyak makhluk baik yang menginginkan putra Zeus.” Dia tersenyum ramah dan cemerlang.
“Lagi pula,” tambahnya dengan suara manis yang membuat Natan harus menyubit pahanya sendiri agar tidak terbahak-bahak. “Apakah kau yakin kau siap menghadapi kemarahan Zeus saat tahu anaknya tidak diizinkan naik?”
Wajah penjaga itu langsung pucat dan namun dia tetap kukuh pada pendiriannya. “Jika ini ternyata tipuan...,” ancamnya dengan mata memicing penuh curiga pada Radit.
“Tidak ada yang ditipu.” Radit memutar bola matanya jengkel. “Pencet saja angka 600-nya, Bung. Zeus menunggu kami untuk makan malam. Dan tidak ada satu pun dari kita yang ingin membuatnya menunggu, 'kan?”
Penjaga itu menatap mereka, masih curiga sebelum akhirnya membuka kotak kecil yang tersembunyi di papan kendali lift dan menekan tombol kecil dengan angka 600 yang berwarna emas. Lift langsung bergerak naik dengan lembut dan Natan merasa perutnya baru saja diaduk-aduk. Musik mendayu-dayu terdengar dari pengeras suara sebagai pengantar mereka menaiki lift menuju lantai 600—Gunung Olympus.
Dia akan bertemu ayahnya.
Rahasia tua terbongkar jua,
Sang anak berjumpa orangtuanya.
Namun murkanya langit,
Pun harus diselami.
Apakah ini yang dimaksud oleh ramalan tentang sang anak yang berjumpa dengan orangtuanya? Serta rahasia tua? Lalu kenapa Langit harus marah? Bukankah Natan adalah anaknya? Kenapa Zeus, sebagai pemilik Langit harus murka?
Natan menatap layar kecil di atas pintu lift, mengamati bagaimana angka-angka muncul dan lenyap seraya mereka beranjak naik. Radit berdiri di sisinya, menggenggam tangannya dengan hangat. Menyelipkan jemarinya ke dalam jemari Natan dan mengaitkannya erat. Ibu jarinya mengusap bagian sisi tangannya dengan gerakan melingkar yang lembut dan intim.
Banyak sekali pertanyaan yang Natan ingin dapatkan jawabannya dari Zeus. Tentang ibunya, tentang ayah manusianya, tentang mengapa dia tidak tahu bahwa dia demigod sama sekali, neneknya yang tidak paham apa pun, tentang masa kecilnya yang menyedihkan—khususnya ini. Lalu juga siapa yang mengirim Kampe untuk meresahkan hidupnya?
Dan sebaiknya Zeus—ayahnya punya jawaban yang bagus untuk itu.
Lift berdenting dan Natan terkesirap. Penjaga lift menatap mereka bertiga, masih gusar karena ancaman Radit barusan namun, toh, tetap membiarkan pintu lift terbuka dengan perlahan.
“Lantai 600, Olympus.” Katanya, mundur dari pintu mempersilakan ketiga tamunya untuk keluar dari lift.
Mereka bergegas keluar dan Chiron mengangguk ramah padanya sebelum pemuda itu menekan tombol turun. Mereka berdiri di sebuah hallway yang besar, megah dan berwarna putih, saking luasnya Natan tidak bisa melihat ujung ruangan itu. Di hadapan mereka ada sebuah pintu ganda jati berat yang diisi ukiran-ukiran yang disepuh emas.
“Dia fana, ya?” Tanya Natan menoleh ke lift yang menutup dan dari layar kecil di atasnya, bergerak turun. “Penjaga lift maksudku.”
Radit mengangguk. “Bagaimana kau bisa tahu?” Tanyanya.
“Dia tidak bisa melihat Chiron.” Kata Natan menatap Chiron yang berdiri di sisinya, tubuh kudanya berkilau sehat. “Jika dia seorang demigod, dia seharusnya bisa melihat tubuh sentaur Chiron dan mengizinkan kita naik, 'kan?”
“Betul juga.” Radit nyengir. “Mungkin para Dewa tidak mau mengambil risiko makhluk baik mencium aromanya sehingga dia mempekerjakan manusia fana untuk memijit tombol 600 dan menakuti semua orang tentang lantai 600 yang tidak pernah ada.”
“Mari.” Ajak Chiron melangkah ke pintu ganda jati itu.
“Kita menekan bel? Atau pengetuk pintu?” Tanya Natan saat mereka berhenti di depan pintu, dia mendongak menatap pintu raksasa itu dan ragu apakah kepalan tangan kecilnya bisa mengetuk benda itu dengan cukup kuat sehingga tuan rumah mendengarnya.
Sebelum mereka memutuskan mana yang lebih sopan, pintu itu terbuka dan cengiran lebar Apollo menyambut mereka.
“Oh, Athena benar! Dikau sudah tiba. Kami melakukan suit siapa yang membukakan pintu untukmu dan aku kalah, jadi, yah, begitulah. Tapi aku tidak keberatan kok!” Tambahnya, menelengkan wajah ke arah dalam rumah, sengaja agar orang di dalam mendengarnya.
Dia kemudian mundur dari pintu. “Silakan masuk, semua sudah menunggumu di meja makan. Dikau bukan vegetarian atau vegan, 'kan, Jonathan? Kami sedang makan daging domba. Dikau punya alergi khusus? Gluten free, paleo? Aphrodite sedang menjalankan banyak sekali diet, dikau mungkin bisa makan dengannya.”
Natan yang berjalan di sisi Apollo mendadak jengah. Dia akan muncul di aula makan para dewa Yunani sebagai anak yang seharusnya tidak pernah ada. Anak yang selama ini dirahasiakan Zeus dari semua orang dan Natan tidak terlalu yakin bagaimana dia harus menyikapi hal itu.
Apollo dengan pakaian kasualnya yang necis melangkah di sisinya, merangkul Natan dengan akrab dan bersenandung kecil. Jemari tangan kirinya yang bebas bergerak-gerak mengikuti irama lagu yang dinyanyikannya.
“Aku juga anak Zeus,” hiburnya ceria. “Dia bukan ayah yang buruk, kok. Tenang saja. Genit, tapi tidak seheboh apa yang dikau baca di buku-buku. Manusia gemar melebih-lebihkan.” Dia mengedip pada Natan, senyuman persekongkolan yang membuat Natan sedikit-banyak merasa tenang dan diterima.
Mereka melangkah melewati lorong panjang dan Sembilan Muse yang sedang memainkan lagu mendayu-dayu yang membuat Natan merasa mengantuk di sisi air mancur yang memiliki air pelangi yang cantik. Mereka melewati main hall sebelum Apollo membelok ke kanan dan mereka berhenti di pintu lain.
Apollo mengetuk pintunya. “Ayah, anakmu datang.” Katanya lalu mendorong pintu terbuka.
Natan menahan napasnya. Dia merasakan genggaman tangan Radit mengencang di sisinya sebelum dia akhirnya berani mendongak.
Ruang makan raksasa dengan langit-langit tinggi dari pualam yang diberi lukisan-lukisan cantik dengan teknik cat air yang menarik. Ada pilar-pilar raksasa kekuningan yang menyangga setiap jendela yang terbuka memamerkan pemandangan awan yang tak terbatas. Di meja ada semua orang—semua dewa Yunani dalam wujud manusia mereka.
Dewa pertama yang dikenalinya adalah Pak D yang duduk di sudut dengan wajah memberengut permanen, bayi besar yang mustahil di senangkan. Lalu di sisinya, duduk seorang gadis dengan rambut keemasan paling tebal, paling berkilau dan paling indah yang pernah Natan lihat. Matanya berwarna merah muda kerang, dia menggunakan sundress mini menggemaskan dan make-up-nya sempurna dengan cat eye yang cemerlang.
Natan tidak bisa berhenti memandanginya.
“Kau sebaiknya tidak menatap Aphrodite lama-lama.” Bisik Radit di sisinya dan Natan mengerjap lalu menoleh ke arahnya. “Yep, dia memang seksi sekali tapi Ares sangat overprotektif pada miliknya.”
Maka Natan bergegas mengalihkan pandangan dari Aphrodite, menyapukan pandangan ke arah meja makan lagi. Ada perempuan muda yang menggunakan setelan kasual yang rapi dan tajam dengan rambut kelabu yang diikat naik dengan mata serupa awan badai, tulang pipi tajam dan dagu yang meruncing—dia pasti Athena.
Di sisinya ada gadis muda belia yang nampak sangar dengan rambut keperakan yang digerai cantik. Jalinan rambut dibentuk menjadi mahkota di kepalanya dan dia tersenyum ramah pada Natan dan melambai kecil. Dari wujudnya, Natan merasa dia pasti Artemis.
Ares nampak seperti bajingan tengik dengan bekas luka keren di alisnya, mata yang berkobar seperti api dan otot yang menyembul di baju ketatnya. Duduk di seberang Aphrodite sementara Hephaestus yang wajahnya tercoreng oli duduk di sisi istrinya. Nampak muram dan selalu terganggu, sangat kontras dengan Aphrodite yang begitu cantik dan rupawan.
Dan setelah menahan diri untuk tidak menatap, Natan akhirnya mengarahkan pandangannya ke kepala meja makan dimana Tiga Dewa Besar duduk. Dia langsung bertatapan dengan lelaki kurus yang memiliki kantung mata berat seolah dia menghabiskan hidupnya untuk begadang menyelesaikan laporan dengan rambut agak berminyak yang disisir klimis, maka dia pastilah Hades.
Sementara Poseidon dia nampak seperti playboy kelas kakap. Dengan cengiran lebar, tubuh berpostur sempurna dengan bahu bidang dan rambut gondrong yang diikat membentuk man-bun berantakan dan kemeja pantainya yang memamerkan separo dadanya. Kulitnya terbakar matahari, nampak begitu seksi dengan warna tan yang sempurna.
Dan Natan akhirnya memberanikan diri menatap pemimpin makan malam dan seseorang yang duduk di sisi kanannya.
Ayahnya, Zeus.
Dia nampak seperti pria normal di usia prima lima puluh tahun. Rambutnya dicukur dan disisir rapi, nampak paling rapi dibandingkan kedua saudaranya. Dia mengenakan kemeja merah marun yang memeluk tubuhnya yang kekar dengan sempurna. Matanya berkilauan seperti langit cerah dan memiliki kerlip yang berpendar samar seperti langit malam, seperti Venus yang terbit terlalu awal.
Saat mata mereka bertemu, Zeus menyunggingkan senyuman hangat yang membuat Natan paham bagaimana caranya dia bisa mengencani semua perempuan itu.
Dia tampan sekali, bukan berarti Natan bias karena dia adalah ayahnya. Seperti Brad Pitt, mungkin juga Johnny Depp. Mungkin perpaduan mereka berdua karena dia nampak seperti lelaki paruh baya yang akan semakin tampan bersamaan dengan bertambahnya usia.
“Jonathan.” Katanya dengan suara yang begitu lega seolah dia sudah menunggu Natan terlalu lama dan cemas mungkin saja terjadi sesuatu pada anaknya di jalan. Dia mendorong kursinya mundur dengan lutut lalu berdiri, merentangkan tangannya. “Kemari, Nak.”
Natan mengerjap.
Nak.
NAK.
Dia ingin muntah.
Dan dia melakukan kesalahan dengan melirik dewi di sisi Zeus.
Mata Hera merupakan mata paling indah yang pernah ditatap Natan. Tulang pipinya begitu tinggi dan runcing, rambut hitam legamnya nampak seperti baru saja di-blow-dry permanen membentuk per-per raksasa yang cantik memantul di bahunya kapan pun dia bergerak. Dia memiliki ekspresi antagonis yang begitu natural dengan bibir sensual proporsional, hidung runcing dan keseluruhan dirinya meneriakkan keindahan.
Tidak salah jika Zeus memilihnya.
Jika saja wajah cantiknya diimbangi dengan perilaku yang tidak psikopat, mungkin Natan akan senang memiliki ibu tiri sekelas supermodel mengalahkan Gigi Hadid.
Dia bahkan lebih cantik dari Aphrodite. Dia jenis kecantikan eksotis yang membuatmu termangu-mangu sedangkan kecantikan Aphrodite jenis kecantikan standar yang membuat siapa saja terpesona, namun hanya orang-orang khusus yang akan terpesona pada Hera.
Natan mundur selangkah secara naluriah di bawah tatapan Hera. Dan semua orang di meja menyadari itu, bahkan Zeus.
Dia berdecak lalu menoleh pada istrinya. “Kita sudah membicarakan ini, oke?” Katanya memperingati Hera yang mendengus lalu mengibaskan rambutnya ke balik bahu dan memalingkan wajah. “Berhenti merajuk.” Keluhnya lalu kembali menatap Natan.
Sementara yang ditatap sedang berusaha menyembunyikan diri di balik bahu Radit.
“Hera sudah berjanji dia akan bersikap baik.” Kata Zeus, suaranya berat dan empuk. Seperti bapaknya seseorang yang hangat dan ceria. “Kemarilah.” Dia menatap Natan lagi, tersenyum membujuk.
Karena Natan tidak juga beranjak, maka Zeus keluar dari balik kursi dan meja makan lalu melangkah menghampiri rombongan di pintu. Aroma parfumnya memabukkan—lembut dan menenangkan, nyaris seperti lilin aromaterapi favorit Natan padahal dia bahkan tidak suka lilin aromaterapi.
Natan menolak menghampiri Zeus, bersikap kekanakan dengan merajuk pada ayah biologis yang baru ditemuinya setelah dua puluh tahun. “Siapa yang mengirim Kampe padaku?” Tanyanya langsung tanpa repot untuk berbasa-basi.
Dia butuh jawaban.
Zeus menatapnya, seluruh dewa di meja makan juga menatapnya dan Natan merasa wajahnya berubah panas karena perhatian itu. Natan benci perhatian, simpati dan segala emosi yang berhubungan dengan rasa kasihan.
“Hera.” Zeus mendesah, seperti menghadapi seorang bayi yang mengambek dan dia harus membujuk anaknya sekolah segera sebelum bus penjemputnya tiba. “Jadi singkat katanya, Hera menemukanmu dan bersikap... dramatis.” Dia mendesah berat.
Dramatis.
Natan baru tahu bahwa meletakkan hidup seorang fana di tangan kematian termasuk sikap dramatis bagi para dewa.
“Ha ha ha, lucu sekali! Lihat, manusia berusaha bertahan hidup!”
Natan membuka mulut, emosi bergolak di dasar perutnya. Dia tidak suka diposisikan seperti itu, dia tidak suka permaianan dewa yang licik ini. Jika Hera benci karena Zeus bereproduksi, kenapa dia tidak menonjok wajah Zeus saja alih-alih mengirimkan makhluk seram untuk mengacaukan kehidupan Natan?
Tidak adil!
Namun matanya menangkap seorang yang berdiri di sudut ruangan. Dia langsung menoleh kaget. Dia tidak mungkin tidak mengenali wajah itu dan dia terlalu dialihkan oleh keindahan ragawi para dewa untuk memerhatikan perempuan di sudut ruangan itu.
Wajah hangat, senyum ramahnya dan Natan bahkan bisa mendengar suaranya saat ini tanpa dia mengucapkan apa pun. Sudah berapa lama Natan tidak bertemu dengannya? Dan bagaimana bisa dia ada di sini?
Dia melongo, kaget. “Oma?” Bisiknya pecah pada perempuan itu. “Apa yang... Oma lakukan di sini?”
Zeus menoleh ke perempuan di sudut ruangan dan menghembuskan napas. “Ah, ya.” Dia menggaruk kepalanya, nampak kikuk dan bersalah seperti sebagaimana dia seharusnya saat menatap Natan, meringis.
Dia berusaha nampak seperti ayah yang keren di depan anaknya, Natan tahu itu dan dia menghargainya tapi Natan sungguh tidak tahu bagaimana harus bersikap dengan segala ini.
“Yah, dia... Hestia.” Zeus berdeham. “Dia, yah, menjadi nenekmu selama ini dan melindungimu agar Hera tidak menemukanmu.”
Natan terkesirap dengan suara keras.
Neneknya? Hestia?
HESTIA?
HESTIA??
Kegilaan macam apa ini?!
Dia menatap neneknya/Hestia yang sekarang tersenyum lembut. Dia bahkan mengenakan pakaian favoritnya; sweter rajutan merah muda pudar dan celana kain hangat dengan syal di lehernya. Lalu perlahan, tubuh neneknya meninggi dan merekah seperti sekuntum bunga menjadi seorang dewi langsing yang tersenyum cermelang seperti bintang Timur.
Rambutnya kemerahan, bergelung dibentuk menjadi cepol rendah yang memperlihatkan betapa anggunnya dia dan dia menghampiri Natan.
“Natan.” Sapanya lembut dengan bahasa Indonesia dan nada paling lembut yang selalu neneknya gunakan saat Natan pulang dengan tangisan di wajahnya, setelah menjadi bahan olok-olok teman-temannya karena tidak memiliki orangtua.
Nada yang selalu menenangkan Natan. Nada yang selalu membuai Natan hingga lelap dengan jejak air mata di pipinya.
Natan menatap Hestia/neneknya lalu menatap Zeus yang berdiri menjulang di hadapannya. Lalu menatap Radit di sisinya yang sama bingungnya lalu menatap Apollo yang bersandar di dinding, mengunyah permen karet.
Inilah mengapa Natan tidak mau percaya siapa pun. Tidak mau.
Sekarang bahkan neneknya pun ternyata bukanlah orang yang selama ini dipikirkannya. Neneknya ternyata selama ini berbohong, menutupi rahasia besar yang Natan tidak ketahui dan jika saja Hera tidak bersikap menyebalkan dengan mengirim Kampe ke Natan, akankah dia mengetahui ini semua?
Atau dia akan hidup selamanya dalam ketidaktahuan?
Di bawah tatapan rasa kasihan dan simpati orang-orang sekitarnya. Anak yang ditinggal kedua orangtuanya, tidak diinginkan. Dibuang dan disingkirkan seperti mainan bekas yang sudah tidak lagi menarik.
Lalu sekarang tiba-tiba dia adalah anak salah satu dari Tiga Dewa Besar Yunani, Sang Penguasa Langit. Dan neneknya ternyata salah satu dari para Dewa Yunani, Hestia.
Bayangkan betapa peningnya kepala Natan saat ini.
Lalu siapa yang dia bisa percayai? Tidak neneknya, tidak kedua orangtuanya, tidak juga Radit.
Siapa?
Siapa yang bisa Natan percaya di dunia sinting ini jika semua orang mendadak berubah. Mendadak bukan lagi mereka yang dulu Natan sayangi, bukan mereka yang dulu memeluk Natan dengan hangat. Sekarang mereka berubah menjadi orang asing.
Bahkan Oma.
Nenek yang selama ini disayangi Natan seperti dirinya sendiri. Satu-satunya tempat ke mana Natan bisa pulang untuk rasa nyaman. Mercusuar yang selalu membantunya pulang, yang menambatkan Natan tetap di Bumi. Natan tidak butuh kedua orangtuanya, yang penting Oma selalu ada di sisinya.
Tapi sekarang, Oma bukanlah Oma. Bukan lagi, Oma-nya.
Dia seorang dewi Yunani, Hestia yang bertahun-tahun melakukan penyamaran menjadi manusia demi melindungi Natan dari Hera atas perintah Zeus.
“Aku mendengar tentang anak Apollo yang memilih untuk tinggal di Indonesia,” Zeus mulai bicara karena Natan tidak juga mau menatapnya dan dia memilih menjelaskan sebelum keadaan semakin runyam.
“Memilih Indonesia karena buruknya sistem pembuangan sampah dan mengamati dari sini bagaimana R bisa memiliki kehidupan yang normal dan tidak terjamah sama sekali oleh kehidupan Yunani.
“Lalu aku berpikir aku mungkin bisa mengungsikan Jonathan ke sana. Melindunginya dari Hera, menyembunyikannya dari takdirnya dan berharap dia bisa memiliki kehidupan yang normal.” Tambahnya. “Aku mencoba sekuat tenaga untuk menjagamu menjauh dari segala urusan Yunani ini, aku meminta Hestia menyamar menjadi nenekmu dan melindungimu dengan Kabut tebal agar tidak ada yang menemukanmu.”
“Namun aku seharusnya tahu, Moirai selalu suka bermain dengan takdir seseorang.” Zeus mendesah, nampak lelah dengan semua omong kosong yang sayangnya dilakukannya sendiri. “Dia membuat takdirmu dan takdir R bertemu. Lalu kau menyadari bahwa kau bisa melihat menembus Kabut dan yah, begitulah Hera menemukanmu.”
Dia melirik istri abadinya yang sekarang menyuap Caesar salad-nya dengan cuek, masih ngambek karena kedatangan Natan. “Dia yang mengirim Kampe padamu.” Katanya dengan nada meminta maaf yang nyaris tulus dan membuat Natan tersentuh.
Nyaris.
“Lalu menyamar menjadi dryad agar kau keluar dari Perkemahan sehingga Kampe bisa menyerangmu.”
Radit mendesis di sisi Natan, seperti singa yang terganggu saat teritorinya didekati. Dia menatap Zeus kesal lalu melempar tatapan jengkel pada Hera yang masih menolak menatap mereka semua. Namun sebenci apa pun Radit pada Hera dan Zeus, dia tidak mengatakannya. Alih-alih, dia mempererat genggaman tangannya pada tangan Natan.
Namun Jonathan bukanlah Raditya.
“Licik sekali.” Komentar Natan, begitu saja. Bahkan tanpa benar-benar memikirkannya. Seluruh ruangan terkesirap keras mendengar nada itu, Hera mendongak dari saladnya dengan bibir terbuka, kaget.
Hati Natan sungguh terluka saat ini untuk sekadar memikirkan akibat dari kata-katanya. Dia kejar-kejar makhluk yang dia tidak kenal apa. Tiba-tiba semua orang yang dipercayainya (dalam kasus ini hanya neneknya) ternyata bukan orang yang selama ini dikenalnya. Lalu dia ternyata anak Zeus. Dia juga hampir mati dicengkram Kampe jika saja Radit tidak menyelamatkannya dengan obat-obatan.
Lalu semuanya untuk apa? Untuk apa Natan menghadapi semua ketakutan, teror dan trauma itu?
Hanya sebagai pelampiasan seorang istri yang cemburu.
Natan sungguh tidak habis pikir.
“Saya tidak minta dilahirkan.” Kata Natan lantang, menatap Hera lurus tepat di matanya tanpa takut dia akan dilenyapkan menjadi abu. Sudah tidak ada gunanya lagi dia hidup, Natan tidak pernah merasa kesepian seperti saat ini.
Neneknya bukan lagi neneknya. Orangtuanya pergi. Dan dia bahkan tidak bisa mencerna bahwa Zeus adalah ayah biologisnya.
Natan merasa sendirian, sangat sendirian untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Seperti sebuah sekoci mungil yang terombang-ambing di atas lautan yang jauh dari segala daratan, Natan tidak melihat jalan untuk kembali dan menyelamatkan dirinya.
Dia melepaskan tangan Radit yang mencoba menahannya, tapi dia mengibaskan tangan itu. Dia mundur, dari semua orang yang menatapnya.
“Jika Anda marah, marahlah pada Zeus. Jangan melampiskan amarah Anda pada anak-anak yang tidak tahu apa pun. Zeus yang menghadirkan saya, Zeus yang memilih untuk menjadikan saya ada. Lalu kenapa kemarahan Anda harus diarahkan kepada saya?
“Karena Anda tidak cukup kuat untuk melawan suami abadi Anda? Sehingga menyakiti fana adalah kegiatan paling menyenangkan yang Anda bisa lakukan?” Tanya Natan lantang, sama sekali tidak ada ketakutan di nada suaranya. Suara itu bergaung di ruang makan, memantul di setiap sudutnya dan kembali ke arahnya.
Semua orang menatapnya, bahkan Zeus yang terpana di tempatnya.
“Wow.” Komentar Athena di kursinya berbisik, terpana pada keberanian Natan dan diam-diam, Ares mengangkat ponselnya, mengarahkan kameranya yang merekam ke Natan untuk bahan hiburan saat Hera menyebalkan. Dia akan menggunakan ini untuk blackmailing Hera suatu hari nanti.
“Saya benci sekali orangtua yang selalu melampiaskan kemarahan mereka pada anak-anak mereka saat mereka tidak bisa melampiaskannya pada pasangan mereka. Seolah-olah anak hanyalah objek untuk disakiti hanya karena mirip ayahnya-lah, mirip ibunya-lah. Saya benci orang-orangtua yang tidak pernah bisa bertanggung jawab atas anak yang mereka hadirkan.
“Membuat anak-anak merasa mereka hanyalah beban yang harus mereka tanggung padahal anak-anak sama sekali tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Kalian yang menghadirkan mereka, maka bertanggung jawablah atas hidup mereka.
“Dan berhenti melampiaskan kemarahan Anda pada suami Anda kepada anak-anaknya. Herakles, Jason dan Thalia sudah mengalami semuanya dan saya tidak mau berada di posisi yang sama lagi.” Natan kemudian menggertakkan giginya dan berbalik, pergi dari aula makan itu.
“Natan!” Radit langsung bergegas berbalik dan mengejarnya.
Suara langkah kaki Natan terdengar menggema di lantai marmer dan aula yang kosong. Natan melangkah dan terus melangkah, mengacuhkan Radit yang berlari mengejarnya. Hidupnya jungkir-balik. Sekarang Natan tidak memiliki siapa pun untuk pulang; tidak orangtuanya, tidak juga neneknya.
Natan sendirian.
Hatinya terasa nyeri, sakit yang melumpuhkan dan membuat dadanya terasa panas. Dia mempercepat langkahnya, berpikir bagaimana dia bisa pulang ke Indonesia saat ini juga. Kabur dari semuanya. Dia tidak mau berada di sini lagi. Matanya terasa panas dan menyengat, dia membiarkan air mata pertama meleleh dari sudut matanya.
Lalu kedua....
Ketiga...
Dan Natan mulai terisak seraya melangkah marah menjauhi istana Olympus.
“Natan, tunggu!” Radit berlari mengejarnya dan berhasil menangkap tangan Natan saat pemuda itu menekan tombol lift dengan kepalan tangannya. Benda itu menyala dan Natan mengumpat karena lift itu naik dengan terlalu lambat.
“Natan, ayo tenang dulu.” Mohon Radit tersengal berusaha mengejarnya. “Jangan begini, ya? Tolong. Kau punya aku, oke? Kau punya aku.” Bisiknya dalam bahasa Indonesia dan membuat Natan semakin bergetar—dia rindu kosannya, dia rindu mobilnya, dia rindu Yogi dan Indra.
Dia rindu kehidupan normalnya sebelum ini semua terjadi.
Pintu lift terbuka dan Natan bergegas memasuki lift tempat penjaga lift tadi menatap Natan dengan tatapan kebingungan karena dia menangis. Radit di sisinya mendelik, apa saja agar dia tidak bertanya.
Tepat saat pintu lift mulai menutup, Apollo berlari dari dalam aula dengan wajah sebal namun langsung mengubahnya jadi ceria saat bertemu pandang dengan Natan dan Radit. Dia langsung menyelipkan tubuhnya ke dalam lift, di antara Natan dan Radit membuat penjaga lift kaget.
“Zeus memintaku untuk mengantarmu pulang sementara dia membereskan Hera.” Dia mengedipkan sebelah matanya pada Natan dengan senyuman persekongkolan di bibirnya.
“Yah,” Apollo berkata lagi sementara lift bergerak turun. “Hubungan ayah dan anak memang tidak selamanya sekeren hubunganku dan R, benar?” Dia menatap Natan yang terisak lalu merangkulnya hangat.
“Zeus sayang padamu, Nak.” Katanya mengusap bahu Natan yang berguncang oleh tangis. “Dikau hanya butuh waktu untuk mencerna semua informasi ini. Jadi, mari kita pulang.”
Dia lalu menoleh pada Radit yang balas menatapnya sebal. “Dan jangan lupa R,” dia menatap Radit yang sekarang berdiri di sudut lift. “Dia ini pamanmu.” Dia menunjuk Natan dengan ibu jarinya, mengunyah permen karet dengan suara cak-cak-cak basah yang menjijikkan.
“Bersikaplah yang sopan padanya.”
“AYAAAH??”
“Duh. Jangan berteriak.”
*