Apollo #191

Disclaimer: The copyrights for PERKEMAHAN BLASTERAN and all the OCs belong to Rick Riordan and only present as supporting details in this story. Also, I intentionally modified some of the details to suit my story. Ty.

*

Natan duduk di meja Apollo, bersama adik-adik kabin Radit yang duduk di sisinya, menikmati makan malam mereka yang lezat sementara Radit sedang beranjak ke api persembahan, menuang potongan daging terbaik dari piringnya seraya mengatakan, “Untuk Ayah, Apollo.” dengan khidmat. Natan tadi melakukannya atas dasar sopan santun saja walaupun dia tidak tahu kepada dewa siapa dia harus menyerahkan persembahannya.

Tapi dia akhirnya memutuskan, “Untuk Apollo.” saat dagingnya mendesis terbakar dalam api yang berkobar dengan aroma lezat dan asapnya membumbung ke angkasa dan berharap Apollo suka Wagyu well-done.

Ini makan malam kedua Natan di Perkemahan, dan dia mulai memiliki teman-teman baru yang ramah. Para dryad dan naiad menyukainya, mereka selalu meminta Natan datang ke kebun stroberi dan membantu mereka panen. Natan suka membagikan cerita-cerita lucu yang diketahuinya, berusaha keras menejermahkan punch line guyonannya dalam bahasa Inggris dengan baik.

Radit kembali ke meja makan, duduk di sisinya dengan piring makanannya dan menyadari Natan belum menyentuh makanannya. “Kau tidak lapar?” Tanyanya, meraih sendok dan mulai makan dengan khidmat, memindahkan isi piring ke mulutnya dengan gerakan ringkas yang rapi.

Natan menatap makanannya, steik dan sayuran rebus dengan mashed potato di sisinya. “Aku ingin singkong keju.” Keluhnya dan Radit tersedak tawa di sisinya. “Cimol bumbu kacang, kentang bego, Teh Poci, penyetan...” Dia memotong dagingnya, menyuapnya dengan mata menerawang.

Radit menyeka mulutnya, tertawa serak saat meraih gelasnya dan meneguk isinya untuk menenangkan diri sebelum menoleh ke kekasihnya yang sedang makan dengan gaya merajuk berlebihan.

“Nanti kita pulang, akan kubelikan seluruh makanan itu untukmu.” Dia menarik ekor man bun Natan main-main dan kekasihnya mengerucutkan bibirnya menyebalkan, jadi Radit memukul pelan bibirnya dan Natan mendelik jenaka padanya.

“Besok kita akan bertemu Oracle, semoga dia bisa memberitahu kita sedikit tentang masa depanmu.” Radit mengusap rambut Natan lalu membiarkan tangannya meluncur ke pangkuan Natan dan membelai pahanya dengan hangat.

“Dia akan memberiku puisi tentang takdirku dan semacamnya, 'kan?”

“Yep.”

“Aku benci menganalisis puisi.”

“Kelas Poetry-mu dapat apa?”

“C.”

“Menjelaskan segalanya.”

“Begitulah.”

“Jangan lupa, rimanya A-A-B-B.”

“Sial. I'm fucked up, then.”

Radit tertawa, lepas dan ceria. Dia sungguh menyukai selera humor Natan yang sehat dan selalu membuat hatinya jauh lebih ringan. Dia menyubit paha Natan gemas dan membuat kekasihnya yang sedang tertawa bersamanya mengaduh lalu mencoba menarik tangan Radit lepas dari pahanya dengan setengah jengkel dan setengah geli.

“Kau favoritku di dunia ini.” Radit nyengir, menyubit pipi Natan dan kekasihnya mengerang keras, langsung menyambar pipinya—menyubit sama kerasnya hingga keduanya mengaduh.

Beberapa anak di meja sebelah dan teman kabin Radit, menoleh karena suara mereka. Terkekeh kecil melihat pertunjukan kecil itu dan beberapa anak Aphrodite yang memang lemah sekali pada hal-hal semacam itu langsung memberikan ekspresi Aww gemas dan mungkin juga langsung merancang ide dan alur fanfiction tentang Radit-Natan yang panjangnya 20,000 kata.

“Kau juga favoritku di dunia ini.” Balas Natan, tersenyum cemerlang dan Radit merasa hatinya baru saja ditembus panah asmara Eros.

“Habiskan makanmu.”

“Siap, Kapten!”

Radit tersenyum semakin lebar.

Setelah mendengarkan kata-kata bijak dari Pak D (“Yeah, kita sudah makan. Terima kasih para dewa atas makanannya. Sekarang tidur. Jangan berkeliaran dan menyusahkanku. Aku benci pekerjaanku. Selamat malam.”), para demigod mulai membubarkan diri dari Paviliun Makan menuju jejeran Kabin mereka dengan atmosfir yang jauh lebih hangat karena perut mereka kenyang dan mereka akan tidur.

Radit memiliki kasur tambahan di sisi ranjangnya, menempel ke jendela sementara Natan menggunakan ranjangnya. Barang mereka dijadikan satu di lemari Radit sehingga seringkali mereka bertukar pakaian karena salah mengambil dan karena ukuran mereka lumayan mirip (kecuali bahwa Natan menggemari pakaian oversize dan tubuh kurus Radit tidak menolong sama sekali), mereka memutuskan untuk menggunakannya saja.

Mereka berbaring di ranjang setelah membersihkan diri dan kaki. Menghela napas panjang berbarengan sementara Will di ujung ruangan berdiri di dekat pintu, mengecek semua anggota kabin dan meletakkan tangannya di saklar lampu.

“Aku akan mematikan lampunya.” Katanya dalam balutan piyamanya yang menggemaskan dengan matahari-matahari mungil di seluruh permukaannya yang selalu membuat Natan tersenyum kecil dan berpikir, apakah itu hadiah dari Nico?

“Oke, Will.” Sahut beberapa pekemah yang sedang membenahi posisinya di ranjang.

“Yang akan membaca, silakan menggunakan lampu baca dan tolong jangan terlalu terang.” Tambahnya lalu mematikan lampu. “Selamat malam semuanya.”

“Malam, Will.”

Natan berbaring di ranjangnya sementara Radit di sisinya bergerak-gerak sebelum mendesah, menemukan posisi nyaman dan mulai bernapas teratur. Dia melirik ruangan, menyadari satu pekemah sedang duduk bersandar di kepala ranjang dengan lampu baca mungil yang dijepitkan di atas bukunya, satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu selain jendela.

Dia besok akan bertemu Oracle Delphi, akan mendengarkan takdirnya dibacakan dalam bentuk puisi kuno berima yang Natan yakin tidak akan dapat difahaminya hanya dengan satu kali baca.

Apakah Oracle akan mengatakannya dengan gaya Shakespeare? Apakah Natan boleh menyatatnya untuk dianalisis kemudian dengan teori dan Oxford Advance Learner Dictionary seperti yang dilakukannya di kelas Poetry? Atau Natan harus mencari tahu artinya sendiri dan berusaha untuk tidak terbunuh di saat yang bersamaan?

Tadi setelah kembali dari Subway, Radit mengajaknya ke Armory Perkemahan dan diizinkan untuk memilih senjata mana yang terasa mantap di tangannya. Leo Valdez, putra terbaik Hepaestus sendiri (Natan berhenti bernapas menatap pemuda di hadapannya yang nampak sangat hot dengan noda oli di wajahnya, pakaian yang bernoda dan ujung-ujung rambutnya yang gosong dan cengiran lebar jenaka di wajahnya) yang menemaninya.

“Kau punya dasar bela diri?” Tanyanya ramah, seperti pramuniaga toko pakaian yang menawarkan diri untuk membantu pelanggannya menemukan pakaian terbaik yang cocok dengan mereka.

Natan mengangguk. “Taekwondo.” Katanya. “Sabuk hitam.”

Leo bersiul nyaring dan kagum. “Keren.” Pujinya dengan ketulusan yang begitu murni hingga Natan merona karena asing pada pujian lalu meraih sebatang pedang panjang yang berkilauan berwarna perak. “Kau mungkin akan suka pedang? Paling dasar dan umum, tapi dengan tendanganmu mungkin bisa. Ini perunggu langit.” Dia menyerahkan pedang itu.

Natan meraihnya dan terkesirap kaget saat merasakan beban pedang perunggu langit yang nampak sangat ringan saat digenggam Arnold Schwarzenegger ternyata terasa begitu... berat dan mengancam.

“Coba ayunkan, mungkin?” Saran Radit menatap Natan yang nampak kikuk.

Dan itu adalah saran yang buruk karena detik berikutnya, dia dan Leo langsung merunduk seketika itu juga saat bilah tajam pedang perunggu itu nyaris memotong putus kepala mereka akibat gerakan tangan Natan yang kikuk, hampir menjatuhkan pedangnya dalam percobaan untuk mengayunkannya seperti apa yang ditontonnya di film aksi.

“Aku bersyukur refleks demigod baik. Soalnya aku sungguh masih butuh kepalaku.” Kata Leo nyengir dan Natan yang merasa bersalah karena nyaris membunuh keduanya langsung meletakkan pedangnya di atas meja dengan perlahan.

Menjauh darinya seperti menjauhi virus yang menular.

“Kita lihat yang lain.” Katanya mengamati tempat persenjataan seraya bersenandung, seperti sedang melakukan window shopping untuk Natal.

Dia berhenti sejenak di depan jejeran pedang, lalu menoleh pada Natan mengmat-amatinya sejenak seperti seorang desainer kenamaan yang sedang memilih bahan pakaian apa yang cocok untuk kliennya sebelum akhirnya menarik pedang lain yang nampak bahkan jauh lebih berat dari pedang sebelumnya, berwarna gelap-keunguan yang lebih mengancam dan sebuah busur.

“Silakan coba keduanya.” Dia tersenyum lebar, menyerahkannya pada Natan yang menatap Radit, yang sekarang berpindah dari hadapannya ke sisinya karena trauma pada sabetan pedang.

“Mungkin busur dulu? Yang lebih aman.” Tawar Radit menyemangatinya dan Natan mendesah, dia meraih busur di tangan Leo dan menggenggamnya.

Benda itu terasa tepat seperti saat dia menggenggam busur Radit namun tidak... benar. Ada sesuatu di senjata itu yang bergolak, menolaknya dan saat dia mengangkat busurnya dia merasa begitu kikuk dan tidak suka. Benda itu menolaknya, Natan bisa merasakan kekuatannya. Seperti bayi yang merengek ingin kembali ke ibunya karena tidak suka digendong orang asing.

“Kurasa tidak?” Keluhnya, menurunkan busur itu dan mengembalikannya pada Leo yang mengangguk, sigap menerima busurnya dan menyerahkan pedang tadi. “Pedang lainnya...?”

Leo mengedikkan bahu, senyuman jenaka tidak pernah meninggalkan bibirnya. Dia nampak seperti anak yang bakal menjadi badut dalam pertemanan dan juga teman nongkrong yang asik. “Coba saja tidak ada salahnya, 'kan?”

Dia menyerahkan gagang pedang pada Natan yang menatap benda itu skeptis sebelum meraihnya. “Aku akan mundur dalam jarak yang aman sebelum kau mencoba menyabetkannya, oke? No offense!” Tambahnya nyengir, mundur beberapa meter dari Natan.

“It's okay. None taken.” Sahut Natan menatap pedang di tangannya dengan gelisah.

Radit juga diam-diam meniru gerakan Leo dengan melangkah menjauh dari Natan beberapa meter.

Natan menggenggam gagang pedangnya dengan lebih erat dan seketika alisnya naik. Pedang itu terasa benar di tangannya, tidak berat sama sekali. Seringan bulu dan dia juga bisa merasakan kekuatannya berdenyut di telapak tangannya. Dia bisa merasakan bagaimana dia harus menggerakkan pedang itu di tangannya dan dia mendongak.

“Wow. Dia terasa... enak?” Katanya dengan heran, kebingungan dengan bahasa yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat mengenggam pedang itu lalu mengangkatnya dan mencoba menyabetkannya dengan perlahan. Gerakannya terasa kikuk, tapi setidaknya dia tidak mencoba memenggal seseorang.

Leo menatapnya lalu menatap pedang di tangannya. “Excellent choice, Sir.” Katanya sopan ala pramuniaga sungguhan dan Radit terkekeh. “Besi Stygian.” Dia menatap pedang yang sedang diayunkan Natan dengan rileks dan Natan nampak terhibur dengan betapa ringan pedang itu terasa di tangannya.

“Tidak banyak yang bisa menggenggam Stygian. Benda itu ditempa di Dunia Bawah dan didinginkan di sungai Styx.” Dia menatap Radit, serius kali ini. “R, pacarmu bukan anak Hades, 'kan?”

Radit menatapnya. “Bukan.”

Leo menatap Natan yang balas menatapnya, bingung. “Seharusnya hanya Hades sendiri dan anak-anaknya yang bisa menggunakan pedang itu. Tapi, kurasa kau istimewa. Seperti... yah, seperti pemilik Backbitter dulu.” Dia mengendikkan bahunya lalu nyengir.

Natan, sebagai penggila Percy Jackson Series tentu tahu siapa yang dimaksud Leo dan dengan tidak menyebutkan namanya saja membuat kedua demigod di sisinya nampak gelisah dan tidak nyaman sehingga Natan menatap pedangnya dan menelan ludah.

“Apakah itu berarti... aku juga terkutuk?”

“Apa?” Kata Leo seketika, kaget pada arah pikiran Natan dan lekas menggeleng. “Tentu saja tidak!” Dia terkekeh, menggaruk pelipisnya dan melirik Radit, meminta maaf.

“Nico menggunakan benda yang sama, apakah dia terkutuk? Oh, jangan sampai Will dengar itu.” Dia kemudian mengembangkan tangannya dan menatap Natan, mencoba menghiburnya. “Kau hanya harus lebih berhati-hati dengan benda itu. Besi Stygian dianggap berbahaya karena dia bisa melukai fana serta bisa memotong tomat dengan lebih presisi.”

Mau tidak mau, Natan tersenyum.

“Kau bisa mulai belajar menggunakannya besok. Aku akan menyimpannya di sini untukmu karena benda ini tidak bisa berubah menjadi pena seperti milik R atau Percy dan tidak bisa diselipkan di paha seperti belati Annabeth kecuali kau ingin pahamu terpotong.” Leo nyengir. “Kau akan menemukannya di sini, oke?”

Sekarang saat Natan akhirnya berhenti berpikir dan tidak lagi mendapatkan distraksi, pikirannya mulai bekerja. Fakta bahwa tubuhnya memilih besi Stygian sebagai senjatanya membuatnya rikuh.

“R, pacarmu bukan anak Hades, 'kan?” Kata Leo tadi dan itu membuat Natan berpikir.

Apakah dia anak Hades?

Apakah selama ini Natan adalah demigod? Lalu kenapa kehidupannya selama bertahun-tahun begitu nyaman tanpa masalah hingga dia akhirnya bertemu Radit dan Apollo? Jika dia memang demigod, maka itu menjelaskan kenapa dia bisa melihat menembus Kabut, bertemu Moirai dan dikejar-kejar Kampe.

Lalu, siapa kiranya orangtua dewanya?

Hades?

Atau...?

Ketakutan mulai merayapi punggungnya, seperti ratusan laba-laba kecil. Kaki-kaki berbulu mereka menggerayangi kulit Natan dan terasa begitu gatal hingga otaknya secara refleks memberikan sinyal pada tangannya untuk menggaruk punggungnya walaupun rasa gatal itu hanyalah imajinasi Natan.

Dan tangan Radit menangkap tangannya, meremasnya lembut lalu menariknya ke arah wajahnya untuk mendaratkan ciuman ke punggung tangannya.

“A penny for your thoughts?” Tanyanya berbisik, suaranya serak dan berat—Natan menyadari dengan perasaan bersalah bahwa Radit pastilah sudah tertidur tadi sebelum menyadari bahwa Natan masih berbaring di ranjang dengan mata nyalang, overthinking.

“Tidak banyak.” Kata Natan berbisik dan membalas remasan tangannya. “Hanya memikirkan pilihan senjataku yang... unik.” Tandasnya setelah sejenak berpikir.

Dalam gelap, Natan bisa merasakan tatapan Radit di wajahnya. “Sudah kuduga kau akan memikirkannya.” Katanya lalu dia bergerak di ranjangnya, berguling menyamping menatap Natan. “Tidak apa-apa.” Dia berbisik lembut.

“Itu hanya pedang, benda itu tidak mendefinisikan siapa kau sesungguhnya.”

Natan menatap langit-langit kamar mereka yang terbuat dari pualam indah sebelum menolehkan kepalanya, beradu pandang dengan mata Radit yang berkilauan. “Kau dengar kata Leo tadi? Benda itu biasanya hanya digunakan oleh putra Hades atau yang berhubungan dengan Dunia Bawah.”

“Tapi...” Radit nampak kikuk sejenak lalu menambahkan, “Putra Hermes pernah menggunakannya.”

“Kau lupa bahwa dia saat itu dirasuki... kakek buyutmu?” Balas Natan, memilih untuk menghindari menyebutkan nama itu juga mengikuti permainan Radit.

Radit diam sejenak, seolah baru saja teringat fakta penting itu. Namun dia cepat menguasai dirinya dengan menjawab, “Dia Titan dan tidak semua Titan jahat, kau tahu itu, 'kan?” Radit meremas tangannya semakin hangat. “Kebetulan saja kakek buyutku yang pahit dan menyebalkan.”

Natan menatap tangan mereka yang bertautan di atas ranjang, jemari mereka sulit dibedakan karena begitu eratnya kedua tangan itu bertautan. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuh Natan, membuat ratusan laba-laba mungil tadi lenyap tergantikan rasa hangat yang membuai Natan hingga mulai mengantuk. Otaknya yang lelah mulai mematikan semua otot dan sarafnya, bersiap untuk beristirahat.

Mengejutkan bagaimana genggaman dan bisikan Radit membuatnya begitu damai dan nyaman. Setengah otaknya menjeritkan anxiety ke seluruh sistemnya, meminta mekanisme pertahanan dirinya untuk melempar kenangan menyakitkan ke otaknya agar dia melindungi diri dari emosi bernama nyaman dan percaya, namun karena dia terlalu mengantuk, mekanisme itu gagal.

Bayangan pahit itu tidak bisa ditayangkan seperti kaset rusak dan Natan menurut pada bagian otaknya yang lelah.

“Tolong, jangan berpikir macam-macam dulu, ya?” Bisik Radit lagi dalam kegelapan. “Kau sudah terlalu banyak menerima informasi dua hari ini. Kita akan bertemu Oracle sebelum memutuskan apa pun. Dan besok kita akan bertemu Chiron juga membawa senjatamu. Mungkin dia tahu sesuatu yang kita tidak tahu. Oke?”

Natan mengangguk walaupun dia ragu, tapi otaknya sudah mulai meredup—tidak ingin berpikir lagi karena rasa nyaman yang menjalar dari ujung-ujung jemarinya. “Baiklah.” Katanya.

“Mau aku nyanyikan nina bobo?”

Natan tersenyum kecil. “Mau.” Bisiknya.

Dan dalam iringan lagu 10,000 Hours yang dinyanyikan dengan suara serak dan berat Radit, Natan jatuh terlelap.

Bisikan Radit yang serak, “Sleep tigtht, Sayang.” adalah hal terakhir yang didengar Natan sebelum dia benar-benar tenggelam dalam lelap yang melumpuhkan.

*