Apollo #219
Aku akan mewujud di hadapanmu.
Begitu kata Zeus tadi, tapi Natan tidak yakin bagaimana yang dimaksudnya dengan 'mewujud'. Apakah dia akan muncul begitu saja dari ruang kosong atau...?
Natan meraih jaket dan kunci mobilnya lalu bergegas menuruni tangga kosannya menuju mobilnya yang terparkir di halaman kosan. Dia menyapa beberapa teman kosnya yang baru saja pulang dengan ramah lalu menekan tombol unlock mobilnya.
Tidak ada yang terjadi.
Natan berhenti, dia menunduk menatap remote kecil mobilnya lalu menekan tombol unlock sekali lagi seraya mengarahkannya ke mobilnya yang terparkir beberapa meter darinya.
Tetap tidak ada yang terjadi.
Maka dia bergegas menghampiri mobilnya untuk mengecek apakah dia sudah mengunci mobilnya tadi pagi setelah kembali dari kontrakan Radit dan mengutuk kelalaiannya. Dia tadi pulang dengan keadaan setengah mengantuk dan tidak benar-benar awas dengan hal-hal di sekitarnya sehingga dia pasti lupa menekan tombol kunci sebelum naik ke kamarnya untuk melanjutkan tidur setelah sarapan.
Dia sedang bergegas saat pintu penumpang tiba-tiba terbuka dan Natan yang terkejut berhenti, kakinya yang kikuk oleh perintah mendadak itu tersandung temannya sendiri dan Natan terhuyung ke depan.
Namun orang di mobil bergegas menyelipkan tubuhnya keluar dan menangkapnya dengan kedua lengannya yang terasa keras dan kuat. Natan mengerjap, separo dirinya yang kaget karena hampir terjerembab mendesah lega sementara sisanya yang menyadari tangan asing itu langsung memaksa otaknya yang baru saja memproses rasa kaget tadi untuk memasang mode defensif.
Otaknya yang malang berdenyut karena perintah beruntun itu.
Maka reaksi yang keluar adalah Natan yang melongo lalu mendongak, berpandangan dengan ayahnya, Zeus sang Penguasa Langit dan Raja Para Dewa yang sekarang berdiri dengan balutan polo shirt dan celana jins.
“Bagaimana... Bagaimana Ayah di sini??” Tanya Natan, bergegas mundur dari jangkauan Zeus seolah dewa itu memancarkan sinar radiasi yang berbahaya.
“Aku mewujud.” Katanya dengan nada tentu saja yang membuat Natan sebal. Dia menatap Zeus dengan mata memicing. “Kau ingin makan apa?” Tanya Zeus kemudian dengan santai, menyugar rambutnya dengan gaya playboy kelas kakap yang patut diacungi jempol.
“Apollo benar.” Keluhnya kemudian dengan hidung berkerut. “Tempat ini bau sekali.” Dia memandang ke sekitar. “Bagaimana kau bisa tahan hidup di tempat ini?”
Natan mengernyit. Dia selalu tidak paham bagaimana para Dewa selalu menganggap tempat tinggal mereka bau dan tidak menyenangkan? Padahal menurut Natan tidak ada bau yang terlalu menganggu.
Bukan salah Natan, 'kan, jika mereka tinggal di Istana Olimpus yang tiap jam dipel dan disemprotkan parfum desainer mahal yang mungkin dipilih Aphrodite sendiri.
“Ayo makan.” Ajak Zeus kemudian menghampiri mobil Natan dan langsung mempersilakan dirinya sendiri masuk ke kursi penumpang, kemudian menjulurkan kepalanya dan berseru. “Ayo, Nak!”
Natan bergegas menghampiri pintu pengemudi, membukanya dan mendudukan dirinya di atas jok. Dia memasukkan kunci dan memasang sabuk pengamannya. “Mobilku, 'kan, terkunci?” Tanyanya masih dengan keheranan.
Zeus bersedekap di tempatnya dengan sabuk pengaman terpasang kencang di tubuhnya. “Jika kaupikir benda semacam kunci buatan manusia itu bisa menahanku, kau pasti bodoh sekali.” Dia memutar bola matanya.
“Baik, baik.” Gerutu Natan, men-starter mobilnya yang berderum lembut. “Tidak perlu sombong. Ayah hanya kebetulan berbakat menjadi pencuri.”
Mereka berkendara dalam diam. Sebenarnya Natan tidak yakin ke mana dia harus membawa ayahnya. Namun karena ayahnya tidak mau junk food maka Natan membelok ke tempat yang pasti cocok dengan keseluruhan penampilan manusia yang dipilih Zeus.
Dia membelok ke Royal Ambarrukmo.
Memarkir mobilnya di parkiran outdoor agar dekat, dia kemudian memimpin ayahnya ke Punika Deli—salah satu dari patissier terbaik di Yogyakarta menurut seleranya. Dia selalu datang kemari tiap kali merasa suntuk dan butuh sesuatu yang manis.
Natan diizinkan memilih kue mana pun yang diinginkannya—memang semenyenangkan itu saat berada dirantau dan orangtua berkunjung. Rasanya seperti memiliki ATM berjalan yang siap menggesek kartunya kapan saja Natan menunjuk apa yang diinginkannya. Walaupun ini kali pertama orangtua Natan mendatanginya.
Mereka kemudian duduk di salah satu kursi di sudut ruangan, mencoba mencari lokasi paling privat yang bisa mereka temukan. Natan kemudian menghela napas, berusaha menenangkan dirinya agar tidak kembali mengamuk seperti terakhir kali bertemu.
Zeus nampak luar biasa dengan tubuh sehatnya, rambut gelapnya yang disisir rapi dengan beberapa helai putih yang membuatnya semakin terlihat bijaksana dan tampan (Natan curiga dia sengaja memunculkan beberapa helai rambut putih agar nampak keren). Dia menyesap kopinya dengan tenang dan mendecap, menyukai rasanya.
“Jadi,” kata Natan saat Zeus meletakkan cangkirnya kembali ke tatakannya dengan suara denting lembut. “Ayah dan Ibu...?”
Zeus menatapnya sejenak, nampak bingung dan ragu-ragu. “Kau yakin mau mendengar cerita ini sekarang?”
Natan menatapnya. “Aku sudah dibohongi 20 tahun, Ayah. Tentu saja sekarang.”
Zeus mengamatinya lebih lama lagi, mengkuru emosi yang nampak di permukaan wajah Natan sebelum akhirnya mendesah, menyerah. “Aku bertemu Oseanita saat dia melakukan perjalanan bisnis ke Empire State Building, menghadiri konfrensi internasional. Aku menyamar sebagai salah satu peserta dan mencoba merayunya. Dia tidak tahu aku Zeus, tentu saja.”
Oseanita.
Nama ibu Natan, Oseanita.
“Setelah malam itu, kami tidak bertemu lagi tapi aku meninggalkan nomor telepon untuknya seperti seorang gentleman karena aku harus mengurus anakku.
“Dan dia menghubungiku beberapa bulan kemudian. Mengabariku bahwa dia hamil. Lalu menjelaskan bahwa sebagai orang Indonesia dia tidak bisa melahirkanmu...” Zeus berhenti, mencari kata-kata yang tepat lalu melanjutkan. “Begitu saja. Dia harus menikah sebelumnya.”
Zeus berhenti sejenak lagi, nampak tidak terlalu nyaman menceritakan semua ini pada Natan yang menatapnya dengan wajah kencang penuh tekad. “Pernikahan menakutiku.” Dia mengendikan bahu, masih cukup beradab untuk nampak malu dan rikuh karena mengakui kelemahannya.
“Jadi aku bersikap bajingan dengan menghindarinya. Mengawasinya menikahi sahabatnya yang setuju untuk menjadi kedok atas anak itu dan mereka berpisah segera setelah kau lahir.
“Oseanita tidak suka dikekang. Aku selalu tahu itu. Dia perempuan mandiri yang hebat, tidak suka diatur dan ditahan untuk melakukan apa yang diinginkannya. Maka dia kembali menghubungiku, menyerahkan anak itu padaku sebelum lenyap sepenuhnya. Menolak mengurusnya—mu.”
Zeus melirik Natan yang menatap kosong ke arahnya.
Ini pertama kalinya dia mendengar kisah ini. Dan bahkan pertama kalinya dia mendengar nama ibunya. Neneknya/Hestia tidak pernah mau menyebutkan nama ibunya atau ayahnya. Natan hanya tahu setiap bulan rekeningnya akan terisi uang yang cukup banyak untuk digunakannya selama satu tahun untuk hidup.
Sejak SMA, neneknya/Hestia sudah menyemangatinya untuk sekolah keluar daerah. Maka Natan berangkat ke Yogyakarta, kota terdekat dan diterima bersekolah di salah satu SMA negeri. Lalu melanjutkan kuliahnya di Yogyakarta. Dia jarang pulang dan selalu merasa bersalah karena terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu untuk menemani neneknya.
Sekarang dia tahu, setiap kali dia berangkat ke Yogyakarta mungkin neneknya akan pulang ke Olympus.
Dan segala kekhawatirannya selama ini ternyata sama sekali tidak berguna karena neneknya sehat walafiat dan selalu berbahagia. Tidak kesepian, tidak sakit-sakitan.
Entah kenapa fakta itu membuatnya jengkel.
“Jadi,” Zeus melanjutkan setelah berdeham. “Aku meminta Hestia untuk menyamar menjadi nenekmu dan mengurusmu. Berusaha agar Hera tidak menemukanmu. Aku menyembunyikanmu di tempat teraman yang bisa kutemukan. Aku melihat bagaimana R menjalani hidupnya dengan lebih normal daripada demigod lain yang bergabung di Perkemahan.
“Sehingga aku merasa Indonesia akan jadi tempat yang sempurna. Dan lihat dirimu. Kau berusia dua puluh tahun dan sama sekali tidak tergores oleh makhluk baik dan tidak ditemukan Hera. Sebelum Moirai memutuskan untuk bermain denganmu.”
Keduanya bersidiam. Natan tidak tahu apa yang harus dikatakannya atau apa yang harus dirasakannya sekarang. Maka dia berdiri, mendorong kursinya dengan bagian belakang kakinya lalu bangkit.
“Maaf, aku harus ke toilet.” Katanya kering. Dia tidak mengenali suaranya sendiri di telinganya saat dia berbalik dan melangkah ke arah lorong lobi Royal Ambarrukmo yang beraroma lembut parfum dan buket bunga segar di hadapannya.
Dia berbelok ke kamar mandi lobi dan berhenti di depan wastafel. Menatap wajahnya sendiri, matanya yang gelap dan berkilau oleh rasa sakit. Ketidakpahaman. Kebingungan dan rasa dikhianati yang bercokol di hatinya seperti tumor ganas—melahap sisa-sisa rasa percayanya yang tipis dengan beringas.
Nyaris seperti ada jutaan belatung yang sedang menggerogoti hatinya.
Dia menyentuh dadanya, mencoba bernapas dengan mulutnya karena hidungnya terasa begitu menyiksa dengan aroma parfum kamar mandi yang menyengat cupingnya. Setiap tarikan napas terasa begitu berat dan menyesakkan.
Menolak mengurusnya—mu.
Oseanita tidak suka dikekang.
Maka dia kembali menghubungiku, menyerahkan anak itu padaku sebelum lenyap sepenuhnya.
Menolak mengurusmu.
Natan hanya sebuah beban. Sesuatu yang tidak diharapkan ibunya. Sesuatu yang langsung bergegas disingkirkan dari jalannya begitu dia bisa. Natan bahkan tidak tahu wajah ibunya sama sekali.
Jika Zeus tidak berbelas kasih padanya, apakah Natan masih hidup sekarang? Jika dia juga bersikap tidak peduli padanya, apakah Natan masih bisa menikmati kemewahan bernama 'hidup' ini?
Walaupun sebenarnya hidup tidak lagi terasa seperti prospek yang menarik dengan keadaan compang-camping semacam ini. Natan tidak bisa merasakan dirinya sendiri dalam genggamannya—dia merasa seolah melihat seluruh hidupnya, seluruh identitasnya, hal-hal yang berusaha dibangunnya menjadi Jonathan meluruh seperti pasir yang merembes dari sela-sela jemarinya.
Mustahil untuk digenggam.
Natan tersesat. Natan sendirian. Tidak diinginkan, bahkan oleh orangtuanya—oleh ibu kandungnya.
Dia hidup dari belas kasihan Zeus, belas kasih Hestia.
Dan Natan benci dikasihani.
Natan benci orangtua yang bersikap tidak bertanggung jawab pada perbuatan mereka sendiri. Menganggap anak-anak adalah beban yang menyulitkan namun tidak pernah bisa mengontrol diri untuk tidak bercinta.
Menurut mereka, anak-anak muncul dari apa? Kaktus?
“Jonathan.”
Natan mengerjap, menatap ke pintu yang terbuka dan menemukan Zeus menatapnya dengan ekspresi paling sendu dan paling bersalah yang Natan sendiri tidak sangka akan terbit di wajahnya.
Dia selalu percaya Zeus adalah dewa congkak berhati dingin. Bukan tipe ayah penyayang yang akan mengurus anaknya dengan penuh kasih seperti ini.
Zeus menyelipkan tubuhnya ke dalam toilet lalu meraih Natan dalam pelukannya. Aroma tubuh Zeus seperti hari sebelum hujan—aroma hangat aneh yang menenangkan. Aroma yang membuat Natan merasa malas dan langsung memilih untuk bergelung di kasur dengan selimut serta segelas teh. Langit mendung, angin kencang...
Aroma sesaat sebelum hujan yang menenangkan. Sendu dan melodramatis.
Natan membalas pelukannya, melepaskan beban yang menjepit hatinya. Merongrongnya dengan perih yang membuatnya kebas. Dia menyusup ke pelukan Zeus semakin dalam dan merasakan bagian dirinya yang lemah dan kecil—gemetar mencoba mencari kehangatan dan perlindungan.
“Maafkan aku.” Bisik Zeus, kali ini tulus. “Maafkan aku.”
Dan langit bergemuruh, seolah merespon emosi yang terbit di hati Zeus. Langit mulai menggelap, hujan akan segera terbit. Semuanya karena Natan memeluk Zeus, memeluk ayah kandungnya dan menumpahkan segala kelemahan, ketakutan, trauma dan kesedihannya di bahu bidang ayahnya.
Hal yang tidak pernah dilakukan Natan sama sekali hingga hari ini.
Hatinya pedih, Natan tidak yakin dia akan sembuh. Namun setidaknya dia bisa mencoba—perlahan, setapak demi setapak. Natan akan kembali bangkit karena dia mampu.
Zeus mungkin bukanlah ayah terbaik yang bisa Natan dapatkan di dunia ini, tapi untuk saat ini Zeus sudah lebih dari cukup.
*