Sumatra Chocolate Eclair.

KookV One-Scene


Jeongguk yang sejak tadi menunduk di atas mesin kasir mencoba untuk memasukkan login info-nya untuk pergantian shift setelah Jimin pergi untuk makan siang mendongak saat pintu Starbucks tempatnya bekerja terbuka dengan suara derit keras (ingatkan Jeongguk untuk memberitahu Store Manager mereka tentang melumasi engsel pintu store setelah ini) dan tersenyum lebar saat mendapati siapa yang baru saja memasuki tempatnya bekerja.

“Selamat datang!” Serunya dengan hati berdebar, melirik layar mesin kasir dengan sedikit jengkel karena tidak juga berhasil masuk dengan username dan password-nya yang biasa.

Dia lalu menoleh ke Hoseok, yang hari ini mendapat shift di bar dengan sebal. “Hosiki, aku tidak bisa login, lagi. Tolong!” Keluhnya sementara beberapa pelanggan mulai mengantri di depannya.

Hoseok yang sedang sibuk menakar frappuccino di blender menoleh. “Kau pakai saja punyaku dulu. Nanti kuminta Namjoon mengecek login info-mu setelah dia istirahat.” Katanya lalu kembali fokus dengan takaran minuman di hadapannya.

Jam makan siang adalah jam paling sibuk di Starbucks apalagi mengingat bahwa di sebelah Hartono Mall tempat mereka bekerja, berdiri Marriot Yogyakarta Hotel yang juga berarti banyak tamu mereka yang menghabiskan waktu ke Starbucks (bukan salah Jeongguk jika kopi mereka begitu mengerikan sehingga bahkan karyawan Marriot datang kemari saat istirahat) untuk segelas kopi yang menyegarkan.

Jeongguk bergegas menggeser tubuhnya ke mesin kasir satunya dan langsung memproses login info Hoseok dengan cekatan karena tidak ingin antrian panjang menjadi kasus untuknya. Dia harus meminta Namjoon mentransfer ini ke akunnya nanti dan mungkin membuat login info baru karena dia selalu gagal masuk dengan mereka belakangan ini. Setelah komputer menyala dan siap digunakan, dia menoleh pada pelanggan pertama di hadapannya.

“Halo, selamat siang! Ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya ramah melirik ke lelaki keempat yang berdiri di antrian, di depan show case mereka sedang menatap jejeran kue dan pastry yang tersedia hari itu dengan serius.

Pelanggan reguler mereka. Hari ini dia mengenakan kaus T-Shirt sederhana dengan luaran kemeja flanel dan membawa tas yang nampak berat dengan laptop. Jeongguk sering mendapatinya duduk di sudut ruangan, dekat jendela dengan laptop menyala dan earphone menyumpal kedua telinganya. Menunduk ke layar dengan tatapan serius namun Jeongguk tidak pernah berani untuk bertanya atau menyapanya.

Dia selalu di sana sejak pagi hingga selepas senja—kadang Jeongguk bertemu dengannya saat dia pulang opening shift atau saat datang untuk middle shift atau bahkan saat dia masuk untuk closing shift, kecuali hari Sabtu dan Minggu.

Hal paling bagus yang pernah Jeongguk katakan padanya hanya ketika Jeongguk mendapat giliran cleaning store saat dia melangkah ke arah meja pemuda itu, jantungnya berdebar dengan membawa wadah abu-abu tempat meletakkan gelas-gelas plastik kosong dan lap hijau untuk meja lalu berdeham:

“Boleh saya bereskan piringnya, Kak?” Tanya, melemparkan senyuman sejuta watt-nya yang paling ceria pada pemuda itu.

Dan pemuda itu hanya mengerjap, bahkan tidak melepaskan salah satu earphone sialannya saat mengangguk pada Jeongguk. “Oh, ya. Silakan.” Dia tersenyum sambil lalu. “Terima kasih, Kak.” Lalu kembali menunduk seolah bertatapan lebih lama dari satu menit dengan Jeongguk bisa membuatnya tertular penyakit serius.

Atau saat dia membawa nampan terisi gelas-gelas shot mungil Starbucks yang terisi sampel minuman baru yang dia kerjakan dan berhenti di depannya lalu mengatakan; “Halo, Kak! Kami punya sampel minuman baru, mungkin Kakak berkenan mencicipi?” Dengan senyum lebar terbaiknya, rambut disisir rapi dan kolonye yang baru disemprotkannya di ruang karyawan tadi.

Namun pemuda itu menatapnya dengan risih lalu bergegas menggeleng dan mematahkan hati Jeongguk yang malang, menginjak-injak harapannya untuk bisa mengobrol. “Tidak perlu, Kak, terima kasih.” Katanya lalu kembali menunduk ke layar laptopnya.

Jeongguk benci diabaikan.

Dia selalu menjadi idola di Starbucks Hartono Mall. Anak-anak kuliahan dan anak-anak SMA selalu datang kemari dan bertanya pada rekan-rekan kerjanya tentang Jeongguk. Terkadang malah ketika Jeongguk sedang beristirahat di belakang (nonton Youtube dan makan bekal makanan), Namjoon akan melongok ke dalam sana dengan wajah sebal berkata:

“Mereka tidak mau jika bukan kau baristanya.”

Hal itu membuat hidung Jeongguk mengembang penuh rasa bangga. Dia selalu mendapati anak-anak itu menyapanya ceria saat dia kembali ke store sehabis makan dalam balutan pakaian serba-hitam tanpa apron kebanggaan Coffee Master-nya.

Jeongguk akan melepas sebelah earphone-nya dan tersenyum lebar. “Halo.” Sapanya. “Sudah lama?” Sebelum bergegas pamit untuk kembali ke shift-nya.

Bahkan saat Jeongguk melakukan regular coffee testing-nya pun, pengunjung favoritnya itu sama sekali tidak mendongak sama sekali dari layar laptopnya. Dia hanya melirik sejenak lalu kembali bekerja, tidak memedulikan sekitarnya. Jeongguk kesal, sangat tidak suka diabaikan—apalagi oleh pengunjung favoritnya.

Dan hari ini dia bertekad dan bersumpah, dia harus mendapatkan nomor pemuda itu. Apa pun yang terjadi.

“Halo, Kak! Apa kabar?” Sapanya kemudian saat akhirnya giliran pemuda itu tiba. Dia meraih Sharpay-nya dan bersiap menerima pesanan pemuda itu. Aroma parfum pemuda itu begitu menyenangkan; aroma maskulin halus yang membuat Jeongguk mabuk dengan secercah aroma cokelat yang pekat. “Ada yang bisa saya bantu?”

Pemuda itu menatapnya sejenak, mengerjap lalu tersenyum kecil. “Halo juga, Kak,” sapanya dengan suara berat yang seksi hingga Jeongguk rasanya ingin suara itu membelai seluruh tubuhnya. “Saya mau yang biasa.”

Jeongguk tersenyum lebar, merasa bangga bahwa dia selalu ingat pesanan biasa pemuda ini. “Grande Signature Hot Chocolate dengan whip cream, ya, Kak?” Dia meraih gelas plastik kertas untuk minuman hangat Starbucks yang berwarna putih dan memasang cup sleeve di permukaannya lalu menuliskan kode pesanan pemuda itu di sana.

“Atas nama siapa, Kak, maaf?” Tanya Jeongguk ramah setelah menulis kode minuman untuk Signature Hot Chocolate di gelas kertas tahan panas itu; bertanya walaupun dia sebenarnya tahu nama pemuda itu, menghafalkannya seolah itu adalah mantra.

“Taehyung.”

Taehyung. “Kak Taehyung, ya.” Dia melemparkan senyuman playboy-nya yang menakjubkan ke arah pemuda itu, Taehyung yang menatapnya dengan tatapan datar yang membuat Jeongguk gemas.

Ayolah! Aku ini tampan! Pikirnya gusar namun tetap tersenyum lebar seraya menulis nama Taehyung di gelas minumannya. Dia lalu meletakkan cup itu di meja bar untuk dikerjakan Hoseok setelah pesanan selanjutnya lalu menutup Sharpay-nya dan kembali mendongak ke pelanggannya.

“Ada tambahan lain, Kak? Makanan, mungkin?”

Taehyung, pelanggan reguler mereka itu sekarang nampak rileks karena Jeongguk ingat pesanan biasanya. “Apakah kalian kebetulan punya Sumatran Chocolate Eclair? Atau sedang kosong, ya?” Dia menoleh ke show case. “Saya lihat tidak ada.”

Jeongguk ikut menjulurkan torsonya mundur, mengecek isi show case dan menyadari bahwa Jimin belum mengisi ulang show case sebelum pergi makan dengan Namjoon tadi. Dia menggerutu dalam hati. Krim eclair-nya akan basi jika tidak segera masuk kulkas dan dia tentu yakin Jimin tidak suka jika gajinya dipotong sesuai harga semua eclair basi itu.

“Sebentar, ya, Kak, saya cek dahulu.” Katanya lalu meletakkan pulpennya di atas meja kasir lalu pergi ke microwave tempat beberapa kotak plastik yang digunakan suplayer mereka membawa makanan dan menemukan eclair yang dimaksud sedang berkeringat karena suhu ruangan.

Sebentar lagi eclair itu pasti wafat, begitu pula gaji Jimin bulan ini.

Dia berdecak, mengingatkan diri untuk menendang pantat Jimin sebelum bergegas kembali ke mesin kasir. “Ada, Kak. Belum kami display saja.” Dia tersenyum penuh permohonan maaf pada pelanggan rupawan di hadapannya. “Ingin sekalian dihangatkan?”

Taehyung nampak lega mendapati makanan yang diinginkannya ternyata ada. Wajahnya begitu indah hingga Jeongguk harus menahan diri untuk tidak mendesah seperti orang bodoh yang sedang mabuk kepayang. “Boleh.” Katanya lalu mengeluarkan dompet.

Jeongguk mengangguk dengan senyumn di bibirnya lalu bergegas mundur ke arah microwave. Dia menyambar sarung tangan plastik, memasukkan jemarinya ke dalam sarung tangan dan penjepit makanan.

Jeongguk kemudian meraih piring dan melapisinya dengan kertas makanan sebelum membuka tutup wadah plastik putih makanan. Dia menjempit satu eclair dan meletakkannya di atas kertas makanan, menjepit eclair itu bersamaan dengan kertasnya dan memasukkannya ke dalam microwave.

Dia menyetel suhu dan timer microwave, menunggu sejenak hingga benda itu berdenting tanda telah selesai lalu bergegas mengeluarkan eclair yang sekarang meleleh dan nampak lezat dari dalam microwave yang hangat.

Jeongguk bisa membayangkan bagaimana lelehan cokelatnya saat benda itu dipotong dan bagaimana berantakannya Taehyung saat mencoba menyuapnya—remahan pastry yang renyah, cokelat yang meleleh. Tidak bisa dihindari.

Dia meletakkannya di atas piring, menarik lepas kertas makanannya dan meletakkan sendok-pisau kue di sisi piring. Jeongguk melepaskan sarung tangan plastiknya, mengembalikan penjepit makanan ke tempatnya lalu membawa piring itu ke meja kasir.

Dia menyerahkannya ke Taehyung melewati bagian atas komputer kasir dan Taehyung menerimanya dengan ceria—nyaris seperti anak-anak yang mendapat kue kesukaannya sebelum makan malam. Jeongguk ingin menangis.

“Silakan, Kak.” Katanya ceria sebelum mengelap tangannya di apron lalu kembali ke mesin kasir.

Jeongguk kemudian menginput pesanan pemuda itu ke dalam mesin kasir seraya meyuarakan pesanannya untuk mengeceknya. “Baik, saya ulangi pesanan Kakak, ya. Satu grande Signature Hot Chocolate extra whip cream dan satu Sumatran Eclair dihangatkan, ya, Kak.” Katanya dan pemuda di hadapannya mengangguk, menarik Starbucks Card-nya keluar.

“Totalnya delapan puluh ribu, Kak. Pembayarannya cash atau?” Tanyanya mendongak dari layar dan tersenyum mendapati Starbucks Card edisi Seattle yang gelap diserahkan ke arahnya.

“Oke, Starbucks Card, ya, Kak!” Dia lalu menginput nomor kartu itu sebelum melakukan satu kali swipe dan memasukkan kartu ke komputer dan memproses pembayarannya.

“Terima kasih, Kak Taehyung.” Katanya ceria, menarik lepas Starbucks Card Taehyung, merobek nota dari mesin penyetaknya dan mengembalikannya ke Taehyung. “Mohon ditunggu pesanannya dan selamat hari Selasa!” Dia melemparkan senyuman terbaiknya lagi.

Dan kali ini, Taehyung membalasnya. “Terima kasih, Mas—?” dia melirik name tag Jeongguk yang dipasang di atas tali apron hitam Coffee Master-nya dan menatap matanya lagi. “Jeongguk.”

Jantung Jeongguk nyaris saja melompat keluar dari tulang rusuknya saat pemuda itu menyebutkan namanya dengan suaranya yang empuk. Dia belum sempat memproses apa-apa karena otaknya yang macet saat Taehyung kemudian meraih piringnya dan bergegas pergi dari depan meja. Melangkah ke meja kesukaannya di sudut ruangan, meninggalkan Jeongguk kehabisan napas karena terpesona.

Jeongguk menyuri pandang ke arahnya seraya melayani pembeli yang memasuki store tanpa henti. Berusaha bersikap ramah walaupun perhatiannya terbelah ke pemuda yang sekarang sedang mulai mengeluarkan laptopnya, bersiap untuk tenggelam dalam kegiatan apa pun yang sedang dilakukannya.

Dia baru saja selesai melayani pembeli terakhir dan baru saja akan meminta pada Hoseok agar dia saja yang mengerjakan pesanan Taehyung saat dia menyadari temannya itu sudah selesai mengerjakan hot chocolate yang dimaksud dan membawanya ke konter pengambilan.

Jeongguk berusaha menghentikan Hoseok agar tidak membaca nama yang ditulisnya di cup namun terlambat karena pemuda itu sudah menarik napas dalam-dalam dan berteriak nyaring hingga seluruh isi store menoleh.

“Untuk Kak Taehyung! Grande Signature Hot Chocolate extra whip cream. Hai, Kak! Boleh minta nomor Whatsapp-nya, tidak?”

Meresponnya, seluruh store meledak dalam tawa terkekeh yang serentak. Beberapa mendapati hal itu sebagai hiburan murni sementara beberapa menatap mereka dengan tatapan setengah menilai dengan jijik lalu bergunjing tentang betapa tidak pantas dan noraknya kelakuan itu.

Hoseok berhenti, nampak kaget saat menyadari kata-kata itu keluar dari mulutnya sebelum menunduk ke cup yang digenggamnya untuk memastikan bahwa dia tidak salah membaca sebelum menoleh ke Jeongguk dengan tatapan tidak percaya.

“Jeongguk...?” Bisiknya tidak habis pikir, dia seperti siap untuk memukul kepala Jeongguk dengan salah satu blender frappuccino dan memblender otaknya sekalian atau menenggelamkannya ke ember pel mereka.

Jeongguk belum sempat membela diri, dia baru membuka mulut untuk minta maaf saat mereka menyadari Taehyung sudah berdiri di depan konter, wajahnya merah dan dia nampak rikuh dengan perhatian seluruh store. Ada beberapa yang bahkan sudah menaikkan kamera, mengarahkannya ke konter untuk merekam kejadian itu dan pasti akan menjadi trending di TikTok dalam beberapa jam.

“Halo.” Kata Taehyung nyaris berbisik. “Itu pesanan saya.”

Hoseok menatap Jeongguk seolah mengatakan “Awas kau setelah ini!” lalu tersenyum lebar dengan bibirnya yang berbentuk hati menggemaskan penuh permintaan maaf pada Taehyung. “Halo, Kak Taehyung. Maaf, ya! Selamat menikmati!”

Taehyung menerima gelas minumannya, mengangguk kecil lalu meraih selembar tisu. Namun alih-alih pergi, dia bertahan di sana hingga Jeongguk dan Hoseok menahan napasnya bersamaan, mengantisipasi hal-hal buruk.

Sejenak, dia nampak kikuk dan berpikir sebelum merogoh sakunya, menarik keluar sebatang pulpen dan menulis sesuatu di atas tisunya. Beberapa orang mulai berbisik-bisik cekikikan dan mereka yang merekam sedang membekap mulut agar tidak tertawa, merusak video mereka.

Jeongguk bisa mendengar seluruh store sedang berbisik-bisik membicarakan mereka. Bahkan pelanggan yang sedang duduk di smoking area pun menoleh ke dalam melalui jendela-jendela raksasa store, mengamati dengan tertarik—khususnya para perempuan.

Dia kemudian menutup pulpennya dan melangkah ke arah kasir dengan minuman di tangan satunya. Dia meremas tisu di tangannya dengan kencang seolah hidupnya bergantung pada selembar tisu itu. Dia merona dan Jeongguk juga menyadari betapa panas wajahnya saat ini karena Hoseok mengucapkan pesannya keras-keras hingga seluruh store tahu.

Keduanya nampak seperti kepiting rebus sekarang, terima kasih banyak kepada Hoseok.

Taehyung berhenti di depan mesin kasir dan Jeongguk tidak yakin apa yang harus dilakukannya. Jantungnya berdebar kacau balau.

“Oh, h-halo, Kak.” Katanya ragu, jantungnya berdebar begitu keras hingga telinganya berdenging. “Ada yang bisa saya bantu?”

Taehyung menatapnya dengan matanya yang berkilauan dan Jeongguk harus menahan dirinya sendiri agar tidak menjatuhkan diri ke lantai, bergelung membentuk bola dan menangis karena Taehyung nampak begitu menggemaskan, seperti anak anjing yang lucu.

Dia mengulurkan tisu yang berada dalam genggaman tangannya pada Jeongguk, berusaha keras mempertahankan wajahnya yang merah tetap mendongak menatap Jeongguk yang sekarang sama malunya. Jeongguk menatap buntalan tisu di tangan Taehyung dan menerimanya.

“Terima kasih.” Kata Taehyung, berbisik lalu mundur dan pergi dari sana. Tidak kuasa menerima semua perhatian dan kamera yang dihadapkan ke arahnya.

Jeongguk menelan ludah, menunduk ke buntalan tisu di telapak tangannya lalu membukanya perlahan, lalu melicinkannya dengan jantung yang terasa menyodok tenggorokannya dengan rasa tegang. Di atas tisu kusut itu, ada serangkaian tulisan tangan yang berantakan.

Sederet nomor dan pesan:

Halo, Mas Jeongguk. Ini nomor Whatsapp saya. Lain kali jika ingin berkenalan, hampiri saja saya ke meja, Mas. Jangan begitu. Soalnya saya malu. – Taehyung.

PS. Saya juga sebenarnya tidak tahu bagaimana caranya berkenalan. Jadi, maaf jika saya kelihatan jutek.

HA! LIHAT ITU!

Jeongguk baru saja memenangkan lotere satu milyar!

*