Apollo #177

*

Disclaimer: The copyrights for PERKEMAHAN BLASTERAN and its supporting details belong to Rick Riordan and only present as the supporting details to the story. Ty.

*

Natan mendudukan dirinya di kursi pengemudi Maserati Apollo. Dia baru saja menjangkau bagian sisi kursi untuk mengatur posisi kursi saat benda itu mendadak bergerak sendiri dan menyesuaikan kebutuhannya. Kursinya sedikit mundur karena kaki Natan lebih panjang dari Apollo dan dia menatap ke depan.

Kereta Matahari ternyata canggih juga.

“Jadi, Nak.” Kata Apollo di sisinya—aroma dewa itu begitu menakjubkan. Seperti dedaunan segar, matahari terik dan secercah bunga mekar. Aroma yang akan kautemukan saat berlibur ke gunung.

Aroma kebebasan yang nikmat.

“Ini adalah matahari.” Apollo menepuk roda kemudi di hadapan Natan, persis di logo trisula Maserati-nya. “Dikau harus menaikkannya perlahan agar tidak membakar hutan atau perumahan penduduk karena terlalu dekat. Dan tidak juga terlalu tinggi atau dikau akan membuat Indonesia mengalami musim salju.

“Tidak boleh juga terlalu cepat. Kita tidak ingin pukul 11 siang datang tiba-tiba, benar?”

Natan menatap Apollo, wajahnya mulai pucat. “Bagaimana jika aku tidak ma—”

“Tidak.” Tukas Apollo kalem namun tegas. “Dikau sudah duduk di balik kemudi, maka matahari adalah milikmu.”

Matahari adalah milikmu.

We gon easy this time, alright.” Dia lalu melambaikan tangan dengan lembut seperti penari.

Natan berharap dia memasang tanda “AWAS: SEDANG BELAJAR” di bagian kaca depan sehingga Hermes tidak akan menabraknya saat kebetulan berpapasan di langit.

“Ayah, kurasa sebaiknya Ayah saja yang mengemudi.” Kata Radit dari belakang, nampak cemas saat bertemu pandang dengan Natan yang ketakutan lewat kaca spion tengah.

“Tidak apa-apa!” Seru Apollo ceria. “Ini lebih mudah dari mengendarai mobilmu, kok! Ayo, nyalakan mesinnya.”

Natan melirik Radit lagi—ingin muntah. Dia memutar kunci dan menyalakan mesin yang menderum halus, memasukkan perseneling lalu mulai menginjak kopling perlahan dan menarik kemudinya. Ajaibnya, kemudinya tidak hanya diputar sebagaimana mobil lainnya namun juga dapat ditarik sesuai dengan derajat kenaikannya seperti kemudi pesawat terbang.

Dan semakin membuat perut Natan mulas karena dia jelas tidak punya surat izin mengemudikan pesawat sama sekali.

“Baiklah. Hanya beberapa derajat ke Timur, tidak perlu buru-bu—”

Suara ceria Apollo lenyap saat Kereta Matahari melompat dibawah genggaman Natan dan membuat semburat oranye menyeruak di langit dan sebagai efeknya, ayam-ayam, para binatang kecil dengan daya sensor matahari luar biasa itu mulai berkokok bersahut-sahutan. Nampak kaget dan bingung kenapa matahari datang lebih awal hari ini tapi toh mereka melakukan tugasnya tanpa banyak basa-basi.

Radit mengerang. “Ini baru pukul setengah 2 pagi dan matahari sudah hampir terbit!” Erangnya dan seekor ayam berkokok nyaring lagi. “Bisakah kita tidak bermain-main dengan matahari, Ayah??”

Calm and steady, Young Man.” Apollo nyengir walaupun nampak gelisah. “Angkat kakimu dari pedal gas, jangan diinjak terlalu kuat. Kemudi jangan ditarik terlalu kuat. Rileks. Tarik napas. Calm and steady, OK?”

Calm and steady. Ulang Natan di kepalanya yang berdenging karena ketegangan yang meleleh di tubuhnya, mengubah tiap ototnya menjadi agar-agar. Dia sedang mengendarai matahari, dia-lah yang menerbitkan matahari hari itu.

MENGERIKAN!

Bisakah Natan membatalkan perjalanan ini dan kembali bergelung di kasurnya?

Apollo mengulurkan tangan ke roda kemudi, aroma dewatanya bahkan jauh lebih menakjubkan saat rambutnya berada persis di depan wajah Natan. Dia menggenggam tangan Natan di atas kemudi dan mulai mengarahkannya dengan lembut.

Hanya gerakan kecil yang nyaris tidak dirasakan Natan dan Kereta Matahari menaiki langit dengan perlahan. Tenang dan stabil, menarik semburat oranye ke langit malam yang pekat. Perlahan seperti bath bomb yang mencair dalam air hangat.

“Tenang. Tenang.” Apollo nyengir dengan selapis keringat di keningnya (Dewa bisa berkeringat??). “Sekarang dikau hanya perlu menaikkannya perlahan, oke? Jangan tegang. Easy and steady.

Natan duduk tegang di kursinya yang sekarang terasa panas dan menegangkan. Dia menyentuh kemudi dengan lembut, berusaha agar tidak melakukan hal bodoh yang dapat menyebabkan siang lebih cepat, danau atau hutan yang terbakar dan musim salju di daerah tropis.

Apollo mengamatinya selama sepuluh menit dalam ketegangan sebelum menghembuskan napas nyaring dan Radit mengerang keras, menjatuhkan diri ke sandaran kursi dengan lega.

Matahari terbang dengan stabil dan tenang di atas langit. Menerangi dunia di bawahnya dan sesuai dengan waktu yang tertera di jam tangan Radit.

“Baiklah!” Kata Apollo ceria. “Karena dikau sudah handal, saatnya memutar musik. Dikau suka My Chemical Romance atau Green Day?” Apollo menjulurkan torsonya ke audio mobil, mengutak-atiknya seraya bersiul ceria.

Natan bahkan tidak berani meliriknya. Dia tidak pernah mengemudi dengan seserius ini. Bahkan ketika mengemudikan mobilnya sendiri di jalanan. Tapi, cara mengemudinya dengan Honda Civic-nya jelas tidak akan membuat danau kering, musim salju atau kebakaran hutan. Dia menatap lurus ke depan, mencoba berkonsentrasi pada kemudinya.

“Dikau tegang sekali, Nak.” Kata Apollo lalu menjulurkan tangan dan memijit satu tombol dan membuat lampu merah berkedip terang. “Nah. Sekarang Kereta Matahari dalam mode auto-pilot, dikau bisa meregangkan punggungmu sedikit.”

Natan menatap kemudi yang bergerak halus sendiri, tahu kemana harus bergerak dan seberapa cepat. Jadi dia menurunkan tangannya perlahan dan menelan ludah.

“Kau mau snack bar?” Tanya Radit dari belakang, terdengar cemas. “Kau nampak seperti penderita sembelit.”

Natan berdeham dan menggeleng. “Aku belum lapar.” Cicitnya tegang, kedua tangannya di letakkan di pangkuannya—bersiaga untuk menyambar kemudi jika terjadi sesuatu.

Perjalanan menggunakan Kereta Matahari terbukti jauh lebih nyaman dari penerbangan sipil. Dengan Apollo bersandar santai di kursinya mendengarkan Kill the DJ dari Green Day keras-keras dan Natan yang duduk di balik kemudi seperti tahanan, mereka tiba di Amerika saat matahari tenggelam di bagian sisi Bumi lain, yang berarti pagi di Amerika.

“Baik. Sekarang pendaratan.” Katanya nyengir, menurunkan kaki dari bagian kaca depan convertible-nya dan bersiap. “Dikau bisa menerbangkan pesawat?”

TENTU SAJA TIDAK!! Natan ingin menjerit pada Apollo tapi karena ketegangan di seluruh ototnya, alih-alih dia hanya mengerang keras. Pantat dan seluruh tubuhnya kesemutan karena dia nyaris tidak meregangkan tubuh selama perjalanan.

“Gampang. Tinggal lakukan sebagaimana dikau memarkir mobil tapi jangan sampai terlalu cepat.” Apollo menatapnya dari balik kacamata Rayban-nya yang mengilat.

Natan mengangguk, menyebut nama Tuhan dan mulai menurunkan Maserati-nya. Mereka menuruni lapisan awan dan Natan mulai melihat lembah damai yang ceria dengan ladang stroberi ranum yang penuh dengan para satir—manusia setengah kambing dan dryad—peri tumbuhan yang bekerja memanen stroberi.

Natan menelan ludah. Dia sungguh ada di Perkemahan Blasteran yang dipikirnya hanya imajinasi??

Seseorang harus menampar Natan hanya agar dia yakin dia tidak sedang bermimpi.

“Kau bisa melihat mereka semua?” Tanya Radit dari belakangnya.

Dia mengangguk perlahan. Dia bisa melihat gerbang Perkemahan dengan pohon Thalia raksasa dan Bulu Domba Emas berkilau di salah satu dahannya dengan Peleus berbaring lelap di bawahnya, mendenguskan api seraya mendengkur.

Dia melihat jejeran kabin-kabin Perkemahan yang membentuk setengah lingkaran. Rumah utama tempat Pak D dan Chiron tinggal, bahkan ruangan tempat Oracle menunggu tiap pahlawan untuk mengintip nasib mereka—yang tidak pernah baik dan positif.

Apakah itu berarti hal baik?

“Sudah kubilang dia ini spesial.” Apollo menepuk bahu Natan akrab dan Natan nyaris terantuk roda kemudi.

Mereka mendarat dengan mulus di depan gerbang Perkemahan. Apollo menjentikkan auto-pilot dan Kereta Matahari menderum halus, mulai beranjak naik dan melesat ke langit.

“Dia akan baik-baik saja.” Apollo mengangkat kacamatanya dan mengedip genit pada Natan. “Sementara itu, kita punya urusan dengan Oracle Delphi.”

Radit berdiri di sisi Natan dengan ransel tersandang di bahunya. “Kau siap?” Bisiknya lembut ke Natan yang mengenggam tali tasnya dengan kuat.

“Dikau pasti bisa memasukinya.” Apollo beranjak, memimpin mereka menuju gerbang dan menyapa Peleus dengan ramah.

Radit menatap kekasihnya. “Kau bisa?” Tanyanya, telapak tangannya menyentuh punggung Natan dan membuatnya terasa hangat. “Jika kau tidak bisa menembusnya tidak apa-apa, kita akan pulang.”

Natan mendongak, menatapnya skeptis nyaris ketakutan hingga Radit terenyuh. Dia meraih tangan Natan dan meremasnya lembut.

“Kau akan baik-baik saja.” Bisiknya menatap Natan hangat. “Di sana jauh lebih aman karena makhluk baik tidak bisa menembus perlindungan Bulu Domba Emas. Kampê tidak akan menemukanmu.”

Mendengar nama Kampê, Natan merinding dan ingin menangis. Dia menatap ke depan, Apollo sedang berdiri di dekat Peleus yang mengendusnya dan menepuk-nepuk hidungnya. Peleus mendengkur, nampak menyukai belaian itu.

“Anak Baik.” Katanya nyengir. “Dikau melakukan tugasmu dengan baik.”

“Ayah di sini, bersama kita.” Tambah Radit, mengeratkan genggaman tangannya.

Natan menghela napas dalam-dalam dengan mata terpejam lalu mengangguk. “Baiklah.” Katanya dengan suara yang agak gemetar. “Ayo kita masuk.”

Radit tersenyum, menolak melepaskan genggaman tangannya saat dia melangkah bersama Natan menaiki bukit menuju Apollo yang berdiri bersama Peleus di bawah pohon Thalia—memasuki Perkemahan Blasteran.

*