Apollo #175

*

Disclaimer: Whichever part of Percy Jackson Series you may find in the story are not mine. The copyrights belong to Rick Riordan and only present as the supporting details to the story. Ty.

*

Tangan itu mengguncang tubuh Natan dengan lembut—menyentuh lengannya dan mencoba menarik Natan naik dari kedalaman palung lelap yang sejak tadi menenggelamkannya.

”... Natan? Sayang? Ayo, bangun.”

Natan mengerang panjang dan malas, menggeliat di kasur memeluk bantal gulinya lalu kembali tenggelam dalam tidur lelap yang menyenangkan.

Namun tangan itu tidak mau berhenti. Natan mengerang saat tubuhnya kembali diguncangkan dengan lembut, membangunkannya. Memaksa kesadaran kembali dan otaknya terbangun.

Natan jengkel.

Dia mendesis dan menapik tangan itu sebelum berbalik, mencoba kembali lelap.

Terdengar suara desah panjang. “Kau harus bangun, Natan. Jika kita ingin naik Kereta Matahari maka kita harus bangun sebelum subuh.”

Mata Natan terbuka: Kereta Matahari??

Dia langsung duduk di kasur dan mengumpat saat darah turun dari kepalanya. Otaknya yang malang menyalakan seluruh tombol aktif pada tubuhnya dengan panik hingga seluruh organ, saraf dan ototnya mengerang keras—nyeri.

“Maafkan aku.” Radit duduk di ujung kasur, sudah mengenakan pakaian lengkap dengan tas ransel siap di sudut kamar. Dia juga telah menyiapkan tas Natan. “Kita bisa tidur lagi di Perkemahan nanti. Ayo, bersiaplah.”

Dan Natan sedang berpikir dia harus melakukan apa terlebih dahulu saat tiba-tiba saja, pintu kamar Radit menjeblak terbuka dengan suara keras dan seorang supermodel kelas dunia memasuki ruangan.

Dewa Apollo selalu memiliki cara dramatisnya sendiri untuk memasuki ruangan. Jika mungkin dia pasti sudah menambahkan serbuk keemasan, burung dara dan kelopak mawar. Namun, syukurlah dia memutuskan untuk tidak bersikap extra hari ini.

Dia mengenakan kemeja longgar Zara bercorak yang manis berwarna tanah, celana jins Levis pudar yang membalut kaki jenjangnya dengan sempurna, rambut keemasan gondrongnya yang diikat membentuk man-bun menggemaskan dan kacamata menggantung di kerah kemejanya.

He's the hottest god alive.

“Halo, Anak-anak. Ayo, bergegas! Jadwal matahari itu ketat dan aku tidak ingin terlambat.” Dia menatap Radit yang mendesah panjang, nampak pening dengan kelakuan ayahnya lalu menoleh ke Natan dan tersenyum manis.

“Ah. Selamat pagi, Jonathan?”

Natan mengerjap. Dia sedang bersila di atas ranjang Radit dengan celana bokser dan kaus singlet lusuh setelah semalaman memeluk Radit hingga lelap dan berhadapan dengan Dewa Apollo yang selera fasionnya menyilaukan nampak seperti baru saja keluar dari peragaan busana.

“Anu, selamat pagi, Om.” Sahut Natan kikuk, merona hingga ke batas rambutnya. “Aku kesiangan. Boleh minta waktu untuk sikat gigi?”

Dan tanpa menunggu jawaban, dia melompat lalu berlari keluar kamar menuju kamar mandi di ujung lorong kamar Arjuna dan Dirga yang tertutup rapat dengan suara gedebak-gedebuk nyaring.

“Hati-hati, Sayang! Kita tidak punya cukup waktu untuk kepala bocor dan UGD!” Seru Apollo dari kamar.

Natan melirik jam dan dia menyadari ini pukul satu pagi. Diam-diam mengutuk Radit kenapa tidak memberikannya informasi bahwa Kereta Matahari berarti mereka harus bangun pagi mengejar terbitnya matahari.

Natan membasuh wajahnya, menyikat giginya dengan terburu-buru dan baru menyadari bahwa dia menggunakan sikat gigi Radit setelah meludahkan busa pasta gigi ke lantai. Mengerang, dia bergegas berkumur-kumur. Tidak ada waktu untuk mengurus itu sekarang.

Matahari sedang menunggunya untuk terbit—secara harfiah dan fakta itu membuatnya mulas.

Dia mengelap wajahnya dan rambutnya yang separo basah lalu bergegas berlari ke kamar Radit dan melihat Apollo sedang bersandar di jendela Radit dan berbicara serius dengan anaknya.

Saat mereka berdiri berhadapan, Radit nampak jauh lebih dewasa lebih karena Apollo memilih wujud 17 tahunnya tiap kali memunculkan diri sebagai manusia. Menurut Radit, jika manusia fana dan bahkan demigod melihat wujud dewatanya, mereka akan menguap karena tidak kuasa menahan kekuatannya.

“Tidak jauh beda kurasa.” Kata Radit saat Natan bertanya apakah wujud dewata Apollo menyerupai wujud fananya.

Apollo menoleh ke arahnya, melambai ramah dengan senyuman lebar di bibirnya sementara Natan bergegas menyambar celana jinsnya dan kemeja.

Dia benci karena harus bepergian tanpa sempat berdandan apalagi ketika dia akan pergi ke tempat yang mengisi posisi #1 di Daftar Destinasi Bulan Madu Terbaik versi Jonathan.

Tapi mau bagaimana lagi. Dia menyambar ikat rambut dan menguncir rambutnya yang setengah basah lalu berdiri merapikan pakaiannya. Menyemprotkan banyak parfum ke ketiaknya—berharap para satir dan dryad tidak punya penciuman yang tajam dan anak-anak Kabin Apollo tidak keberatan dengan sedikit bau badan.

“Siap.” Natan berdiri, menyambar waist bag-nya yang selalu terisi dompet, kunci mobil dan ponselnya.

“Ayo.” Katanya kering, berdebar karena dia akan menunggangi Kereta Paling Keren Se-Dunia.

“Oh. Kau sudah?” Tanya Radit, dia menegakkan tubuh dan merapikan pakaiannya. Meraih tali tas ranselnya dengan tangan kanan, menyampirkan benda itu ke bahunya sebelum meraih tas Natan dengan tangannya yang bebas dan menyerahkannya ke Natan yang menerimanya dengan penuh syukur.

“Baiklah. Ayo, berangkat.” Apollo memimpin mereka keluar ruangan.

“Kenapa Arjuna dan Dirga tidak bangun?” Tanya Natan melirik dua pintu yang tertutup—dia yakin dia begitu berisik saat tadi mempersiapkan diri dan belum lagi benturan pintu yang dibuka Apollo.

“Hanya sedikit kekuatan dewata yang membuat tidur mereka sedikit lebih lelap malam ini.” Apollo melambaikan tangan dengan santai dan merogoh sakunya.

“Dikau benar, R.” Keluhnya saat mendorong pintu depan terbuka dan Radit mempersilakan Natan keluar sebelum mengunci pintunya.

“Biasanya memang begitu.” Sahut Radit mengunci pintu kontrakan dengan suara klik ganda yang nyaring. “Sekarang karena apa?”

Apollo bersungut-sungut dengan hidung agungnya mengerut jijik. “Tempat ini bau sekali.” Keluhnya. “Dikau memilih tinggal di tempat sampah sungguhan.”

Radit tertawa. “Sudah kubilang. Tempat ini melindungiku.” Katanya lalu menoleh pada kekasihnya yang membeku di sisinya. “Sayang?” Tanyanya cemas karena wajah Natan berubah pias dan tegang.

Natan menatap kendaraan di depannya dengan ragu, jantungnya berdebar begitu kencang hingga telinga dan rusuknya sakit. “Ini... Kereta Matahari?” Bisiknya.

Di luar suasana begitu damai dan tenang. Hanya ada satu-dua kendaraan yang melintas di jalan besar dan sisanya hanya terdengar derik jangkrik, kucing liar yang bertengkar heboh dan desau angin malam yang menyusup ke celah-celah angin.

Kedamaian yang nyaris mencekam. Namun di halaman kontrakan dan menutup seluruh akses jalan kampung ke jalan besar, terparkir Maserati GranCabrio convertible warna gelap yang mengilat. Lambang trisula Maserati berkilau di bawah cahaya lampu murahan kontrakan.

“Oh. Ini.” Kata Apollo kalem seolah mobil mewah bukanlah hal yang mengesankan sama sekali. “Biasanya aku menggunakan Aventador tapi karena hari ini akan ada kalian berdua jadi aku menggantinya dengan convertible ini. Supaya kalian nyaman.

Let's go, hop in!” Kata Apollo ceria. “Kita harus segera terbit.” Dia melirik Rolex emas di pergelangan tangannya. Lalu menyadari sesuatu saat Radit melempar tasnya ke bagian belakang mobil.

“Ah. Jonathan?” Panggilnya lembut, nyaris mendayu-dayu pada Natan yang sedang mengamati mobil di hadapannya dengan tatapan berbinar.

Otaknya hanya bisa memikirkan “NAIK KERETA MATAHARI WIIIIIIIIII!!!!!” saat dia mengerjap, mencoba memahami apa yang dikatakan Apollo.

“Ya?” Tanyanya dengan nada melongo.

Apollo nyengir—jenis cengiran playboy kelas kakap yang akan membuat siapa saja meleleh dan mendengking menyedihkan di kakinya. “Dikau sudah memiliki SIM?” Tanyanya.

Radit, yang sudah duduk dengan nyaman di belakang dengan satu earphone menyumpal telinganya mendesah. “Ayah, tidak.”

Ayahnya menoleh, jengkel. “Bukankah itu semua keputusan Jonathan?” Dia mendelik pada Radit.

“Ayah yang bilang jadwal kita ketat?” Ulang Radit sebal.

“Diam sebelum kuubah dikau jadi pohon laurel.” Katanya lalu menoleh lagi pada Natan yang mengerjap, masih berusaha memproses kenyataan bahwa dia akan mengendarai Kereta Matahari terbang ke Amerika secara ilegal tanpa visa dan paspor.

Tidak yakin mana yang lebih menegangkan dan menakutkan.

Mungkin ke Amerika tanpa paspor dan visa.

Tapi sekarang, senyuman lebar Apollo dan matanya yang berkobar seperti badai matahari nampak lebih menyeramkan daripada potensi masuk penjara sebagai turis ilegal.

“Jadi, Jonathan,” katanya seolah sedang menyanyikan pujian untuk para dewa—begitu merdu, memabukkan, semanis madu yang menetes.

“Apakah dikau tertarik mencoba mengendarai Kereta Matahari?”

*