Apollo #190

Disclaimer: The copyrights for PERKEMAHAN BLASTERAN belong to Rick Riordan and only present as supporting details in this story. Also, I intentionally modified some of the details to suit my story. Ty.

*

Natan mendesah berat saat dia menyadari bahwa teman-temannya berusaha menghubunginya namun dia tidak bisa membalasnya. Notifikasi Whatsapp mereka membanjiri ponsel Natan begitu dia menyalakan ponselnya namun dia tidak sempat membalasnya karena Radit menyadari ponselnya dan langsung meminta Natan untuk mematikannya serta menyimpannya kembali ke bagian terdalam tasnya setelah dibungkus kain.

“Kita tidak di Indonesia.” Katanya dengan kacamata hitam bergagang tipis menggantung di hidung bangirnya yang pasti didapatkannya dari Apollo. “Dan pusat Yunani sedang berada di Amerika, kemungkinan sinyal ponselmu menarik perhatian makhluk baik sangat besar.”

Dia melirik sekitar dengan perasaan cemas dan anxious membuat Natan seketika merasa bersalah. Dia mengingatkan diri untuk mengembalikan ponsel itu ke Apollo nanti karena dewa tentu boleh menggenggam ponsel karena mereka, 'kan, yah, dewa.

Jadi Natan kembali ke makan siangnya. Sebenarnya mereka bisa saja makan di Perkemahan namun Radit bersikeras ingin membawa Natan berkeliling karena ini pertama kalinya Natan datang ke Amerika meskipun sebagai pendatang ilegal. Mereka tidak pergi jauh-jauh, hanya ke Subway beberapa blok dari Perkemahan berjalan kaki menikmati matahari musim panas yang menyengat.

Natan memutuskan untuk menggunakan celana pendek dan kaus tanpa lengan untuk menyerap banyak vitamin D yang lebih cenderung menyebabkan kanker kulit daripada tan yang seksi. Namun dia senang dia memutuskan menggunakan pakaian itu karena hawa panas benar-benar menyiksa.

Mereka duduk di salah satu kursi di sisi jendela, penyejuk ruangan meniupkan hawa sejuk ke seluruh ruangan di atas kepala Natan dan dia senang karena saat Radit tadi memilih tempat duduk ini dia langsung mendudukkan diri di seberang kursi sehingga Natan terpaksa duduk di kursi lainnya.

Dan kursi itu yang terbaik karena penyejuk ruangan berada persis di atas kepala Natan.

Gestur kecil yang membuat Natan mendongak, menatap Radit yang sibuk membuka bungkusan makanan mereka dan merasakan hatinya berdesir hangat. Natan asing dengan perasaan itu—perasaan aman aneh yang terasa begitu rapuh seperti kelopak mawar yang akan remuk dalam genggamannya. Dan ketika dia menyadari emosi baru yang asing di hatinya, sistemnya akan segera mengubur emosi itu dalam-dalam.

Mengancamnya dengan kilatan ingatan tentang pandangan orang-orang, gunjingan mereka tentang orangtua Natan, tentang bagaimana ibunya hamil sebelum menikah dan meninggalkan anaknya dengan orangtua suaminya. Tidak bertanggung jawab, Natan anak yang kurang kasih sayang.

Tatapan mereka yang selalu membuat Natan muak; simpati, belas kasihan palsu, cemooh.

Dia benci sekali.

“Pantaslah dia bersikap begitu, dia, 'kan, hanya diurus neneknya.”

“Memang anak-anak yang tidak diurus ibu kandungnya pasti begitu.”

Natan memejamkan mata lalu menghela napas dalam-dalam, menyingkirkan semua bayangan itu ke sudut tergelap kepalanya. Menendangnya hingga jatuh berguling ke kegelapan, berharap mereka lenyap dan tidak kembali.

“Kenapa kita tidak makan di Perkemahan?” Tanyanya, meraih makanannya lagi dan membuka mulut—menjejalkan kombinasi roti, sayuran segar dan daging kalkun yang lezat.

Rasa gurih, segar dan manis daging meledak dalam mulutnya dan dia mendesah seperti manusia yang baru saja makan makanan setelah sekian tahun tidak makan sesuatu. Dia mengunyah dengan bahagia—mengapresiasi setiap ledakan rasa di lidahnya tiap giginya menemukan makanan. Rasa segar-pahit selada di sisi satu, manis roti, gurih daging....

Seperti kembang api yang menakjubkan.

“Ini lezat sekali!” Keluh Natan, mengerang lalu mencoba menjejalkan lebih banyak makanan ke dalam mulutnya. Berusaha menuruti keinginan perutnya yang menuntut lebih banyak makanan lagi; lebih banyak lagi, lebih lagi.

Radit nyengir. “Aku selalu kemari tiap harus ke Perkemahan.” Dia menyuap makanannya dan mengunyah dengan lahap—kunyahan Radit adalah jenis yang membuatmu ingin ikut mengunyah. Tegas, lahap dan besar. Nafsu makan Radit sama sehatnya dengan Natan. “Mereka punya roti isi terbaik di Amerika.”

Natan mengangguk setuju, menjejalkan potongan roti lain ke dalam mulutnya. “Aku boleh pesan lagi tidak?” Tanyanya dengan mulut penuh dan Radit terkekeh.

“Silakan.” Katanya ceria. “Tapi habiskan dulu makananmu.”

Natan mengangguk dengan kedua pipi menggelembung terisi makanan yang terasa seperti popping boba. Meledak-ledak dengan rasa manis-gurih yang seimbang. Radit mengamatinya dengan senyuman lebar di bibirnya dan hati yang hangat.

Dia menumpukan sikunya di meja dan memanggu dagunya, mengamati Natan yang menjejalkan makanan ke mulutnya seperti mesin penghancur. Nampak begitu menggemaskan dengan senyuman lebar dan mata yang berkilau. Dia nyaris kelihatan seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Namun itu juga membuat Radit memutar otak tentang kenapa Natan bisa terlibat sejauh ini dengan dunianya sekarang?

Siapa Natan?

Apollo meyakinkan mereka semua bahwa orangtua Natan manusia biasa dan tidak ada sedikit pun jejak dewata pada mereka namun entah bagaimana Radit tetap merasa ada kejanggalan dalam diri Natan. Dia tidak mungkin seperti Rachel, 'kan?

Rachel tidak menarik perhatian makhluk baik karena aromanya. Dia fana, makhluk baik tidak mengenalinya. Dia sering bergaul dengan Percy dan Annabeth namun makhluk baik nampak tidak tertarik padanya. Seolah dia hanya fana biasa yang kebetulan bisa menembus Kabut dan meh, makhluk baik tidak tertarik.

Sedangkan Natan....

Kampe menghampirinya. Moirai memberitahu visi tentang masa depannya di Perkemahan yang melibatkan Radit (mari berasumsi bahwa itu Radit karena putra Apollo yang dikenal Natan hanya Radit). Menurut Radit itu agak terlalu berlebihan bagi fana biasa yang “kebetulan” bisa melihat menembus Kabut.

Dia istimewa, Radit setuju dengan Apollo dan dalam satu minggu ini mereka harus menemukan alasan keistimewaan itu serta siapa yang mengirim Kampe untuk mengancam Natan.

Pemuda manis, Natan. Pikir Radit saat mengamati Natan menghabiskan makanannya.

Dengan sifatnya yang periang, senyuman lebarnya dan bagaimana dia selalu berhasil membuat satu ruangan tertawa bersamanya, dia adalah matahari mini yang bersinar menyilaukan. Hanya butuh kurang dari delapan jam bagi Natan untuk menjadi orang favorit di Kabin Apollo.

Semua adik-adik Radit menyukainya. Mereka tertawa bersama Natan, makan bersamanya, berlatih bersamanya dan bahkan mengobrol dengannya sebelum tidur dan Natan selalu menikmati perhatian itu. Dia menyukainya.

Dia pergi ke ladang stroberi sore itu saat Radit berlatih dan ketika Radit menghampirinya untuk mandi dan bersiap untuk makan malam, dia sedang membantu dryad memanen stroberi.

Menceritakan guyonan pada mereka, membuat suasana panen jauh lebih bersinar dan stroberi-stroberi panen mereka lebih merah serta ranum dari biasanya karena para dryad stroberi tertawa bergemericing karena Natan.

Radit memutuskan untuk mengamatinya dari jauh selama beberapa saat. Bagaimana Natan berdendang mengikuti permaian seruling para satir dan meliuk di antara pepohonan stroberi dan dryad-dryad mungil yang tertawa. Dia begitu natural, begitu indah dan hangat.

Hati Radit terasa nyaris meledak oleh perasaan sayang yang dirasakannya untuk Natan. Dia memeluk kekasihnya saat mereka melangkah menuju kabin, mendekapnya erat ke dadanya. Natan terkekeh, dibalik suara debar jantung mereka yang seirama. Denyut basah dan kuat jantung Natan membuat Radit tenang.

Suara yang membuat hidup Radit jauh lebih baik. Maka dia bersumpah dia akan menjaga suara debar itu tetap terdengar. Natan tetap hidup, tetap tersenyum padanya dan tetap membagi kasihnya untuk Radit.

“Hei.”

Natan mendongak dari kesibukannya membuka pembungkus Subway keduanya. “Ya?” Tanyanya dengan mata berkilau penasaran dan Radit tidak tahan untuk tidak mengulurkan tangan dan menyentil hidungnya hingga Natan mengeluh kecil.

“Aku mencintaimu.”

Natan berhenti sejenak, lalu tersenyum lebar—begitu menyilaukan hingga Radit merasa hatinya baru saja lebur bersama senyuman itu. “Aku juga mencintaimu.” Sahutnya.

Setelah menghabiskan roti isinya, mereka keluar dari Subway. Kembali ke jalanan yang lumayan hiruk-pikuk dan berjalan di sisi jalan, kembali menuju Perkemahan. Langit Amerika berwarna biru permen dengan awan tipis yang sama sekali tidak membantu untuk menyaring sinar matahari yang menyengat. Di sekitar mereka, orang-orang menggunakan pakaian musim panas mereka yang terlonggar dan tersejuk, kacamata hitam dan topi. Namun tetap saja aroma keringat mereka membuat Natan bergidik.

Ternyata mereka benar tentang aroma tubuh bule Amerika.

“Karena mereka lebih sering makan junk food.” Kata Radit saat Natan mengeluh tentang aroma itu. “Makanan itu merusak tubuhmu dengan cara yang tidak bisa kaubayangkan. Aroma tubuh itu salah satunya.” Lalu dia mengendikkan bahu. “Tapi, apa pun yang berlebihan itu memang tidak baik, 'kan?”

Natan tertawa. “Benar.” Dia mengangguk setuju, menyugar rambutnya yang digerai dan setengah diikat naik membentuk man-bun ikal. Dia melirik matahari yang berkilauan, memikirkan apa yang sedang dilakukan Apollo di atas sana.

“Mendengarkan musik.” Radit mengangguk meyakinkan dan Natan tertawa. “Dia selalu melakukannya. Tidak ada polisi di sana, jadi dia bebas melakukan apa saja semaunya.”

“Kegiatan apa yang kaugemari di Perkemahan?” Tanya Natan saat mereka membelok ke blok selanjutnya.

“Makan.” Sahut Radit dan Natan tertawa lepas. “Aku tidak terlalu suka di Perkemahan, jujur saja.” Desahnya, menyugar rambutnya. Rahangnya yang tajam dan mengagumkan nampak semakin tegas dengan gaya rambut itu.

“Aku tidak suka dengan peraturannya. Aku tidak suka merasa... diingatkan bahwa aku berbeda, mungkin?” Radit mengendikkan bahunya ringan. “Dengan aku berada di Indonesia dengan teman-temanku, dekat dengan keluarga manusiaku; rasanya lebih... normal.

Natan berhenti dan Radit otomatis juga berhenti beberapa meter di depannya. Natan menatapnya melalui kacamata hitamnya dan mendesah panjang hingga Radit mengerutkan kening.

“Kenapa? Perutmu sakit?”

“Kau ini setengah manusia.”

Radit mengerjap. “Yah, secara teknis begitu, sih?” Katanya, menggaruk pelipisnya tidak yakin.

“Setengah manusia!” Erang Natan lagi dan Radit mengernyit kaget. Kemudian kekasihnya menghampirinya, menggelayuti lengannya dengan lengket. “Kau ini setengah manusia, kau dengar aku?”

Radit, masih belum memahami guyonan atau poin yang ingin dikatakan Natan mengerutkan alisnya. “Ya, memang! Lalu kenapa?”

Natan mengerang. “Setengah manusia!” Ulangnya lagi, mulai frustasi karena tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata dan betapa lemot-nya Radit tidak memahaminya. “Dan setengahnya dewata!”

Radit mengerjap. “Oh.” Katanya saat menyadari maksud Natan dan tertawa, mengusap rambut Natan sayang lalu mengecup puncak kepalanya. “Benar juga. Aku belum pernah memikirkannya dengan cara itu.” Dia nyengir lebar dan Natan membalasnya, merangkul bahunya dengan akrab.

“Dan aku milikmu.” Tambahnya ceria, menumpukan kepalanya di atas kepala Natan dan memejamkan mata seraya mereka berjalan berdampingan di atas trotoar yang panas. “Selamanya.”

Natan diam sejenak sebelum meraih tangannya dan menyelipkan jemarinya ke antara jemari Radit lalu menggenggamnya erat. “Selamanya.” Bisiknya.

Mungkin terlalu awal bagi mereka untuk mengucapkan kata 'selamanya' saat masa depan terbentang di hadapan mereka dengan penuh ketidakpastian. Kejaran makhluk baik dan juga bayang-bayang takdir buruk (namun sekian tahun menjadi demigod, Radit sudah paham bahwa menjadi demigod berarti bernasib sial sepanjang hidup dan Percy bisa mengklarifikasi kebenaran itu) yang menghantui mereka.

“Bagaimana menurutmu tentang mengencani blasteran dewa?” Guraunya ceria dengan lengan melingkar di bahu Natan dengan erat. “Kau suka?”

Natan nyengir. “Lebih dari suka jika saja tidak ada sipir tahanan monster yang berusaha membunuhku.”

“Itu bonusnya.” Radit lalu mengaduh saat Natan memukul pelan bagian belakang kepalanya dan dia tertawa. “Baiklah, tantangan.”

“Seolah mendapatkan restu ayah dewamu belum merupakan tantangan saja.” Balas Natan, memutar bola matanya.

“Lho, dia, 'kan, sudah merestuimu??”

Namun setidaknya hari ini, di musim panas normal di Amerika dengan tangan Natan yang lengket oleh saus Subway dan keringat dalam genggaman tangannya, aroma rambut Natan yang manis dan menenangkan memenuhi paru-parunya, Radit memiliki Natan.

Dia tidak peduli apa yang terjadi esok, setidaknya hari ini—saat ini, dia sedang menggenggam Natan dalam pelukannya.

*